Indonesia merupakan negara kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke yang dilalui garis khatulistiwa, sehingga memiliki iklim tropis.
Kondisi ini menyebabkan iklim di Indonesia memiliki suhu yang cukup tinggi sepanjang tahun dan kelembaban udara yang relatif tinggi sehingga menjadikan wilayah Indonesia sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan yang sangat beragam dan berlimpah. Selain itu, Indonesia memiliki beragam jenis kandungan mineral dan bahan tambang yang tersimpan di dalam dan di permukaan bumi nusantara. Di lain pihak, tata guna lahan dan penutupan lahan juga berubah sangat cepat dalam merespon perubahan perekonomian, kependudukan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, khususnya setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998 dan pasca diberlakukannya otonomi daerah. Dengan dalih reformasi memberikan peluang yang sangat luas pada pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, dan juga kemajuan dalam bidang komunikasi sehingga membuka hambatan-hambatan yang selama ini mengekang, terutama pada masa orde baru. Konektivitas antara faktor biofisik/ekologis, sosial, ekonomi, dan faktor budaya spiritual di dalam bentang lahan adalah suatu hal utama untuk mendukung keamanan dan kenyamanan kehidupan bermasyarakat secara luas. Oleh karena itu, struktur fungsi lahan dan perubahan fungsi lahan secara keseluruhan baik skala mikro maupun makro harus dipahami secara mendalam oleh semua pihak agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ketidakpahaman dalam mengelola perubahan fungsi lahan memberikan sumbangan yang besar terhadap laju kerusakan hutan dan lahan. Menurut Word Bank (2002), laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1,8 juta hektar per tahun. (Geist dan Lambin 2002, diacu dalam Arifin et al. 2009: 48-49) dan Hairiah et al. (2003) menjelaskan bahwa pendorong utama terjadinya kerusakan kawasan hutan menjadi lahan kritis adalah terjadi konversi kawasan hutan menjadi lahan pertanian, pertambangan, transmigrasi dan perkebunan, serta pembakaran lahan yang tidak terkendali.
Dampak dari laju kerusakan hutan yang terus bertambah, menyebabkan lahan kritis juga bertambah. Berdasarkan data Ditjen BP-DAS dan Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, luas lahan kritis di Indonesia sampai dengan tahun 2006 mencapai 30,2 juta hektar, 3,3 persen terdapat di Provinsi Jawa Tengah, sedangkan di Kabupaten Pati seluas 48.956 hektar (BP DAS Pemali Jratum 2009) yang sebagian besar terletak pada Pegunungan Kendeng.
Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kondisi tersebut adalah melakukan gerakan rehabilitasi lahan (Gerhan) dengan sistem agroforestri.
Kegiatan tersebut kurang mendapat respon yang positif dari masyarakat karena, kegiatan tersebut lebih mengutamakan hal-hal bersifat teknis dan administrasi.
Kartodiharjo (2006) menyatakan bahwa pelaksanaan Gerhan dapat berhasil dengan baik apabila kegiatan tersebut menyentuh secara langsung hajat masyarakat dan melibatkan masyarakat setempat. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa keterlibatan masyarakat di sekitar hutan dapat menjamin keberhasilan pengelolaan lahan kritis yang ditunjukkan dengan meningkatkan kinerjanya.
Menurut perspektif manajemen, meningkatkan kinerja petani tidak terlepas dari kemampuan, kesempatan dan motivasi. Ketiga hal tersebut harus ada dan berjalan secara seimbang, karena jika salah satunya tidak terpenuhi mustahil akan mencapai kinerja (performance) yang tinggi (Robbins 2003). Selain itu, perlu adanya karakteristik individu petani yang kuat dan didukung oleh penyuluh yang berkompeten. Keberadaan penyuluh dalam pengelolaan lahan kritis sangat dibutuhkan (Friday et al. 2000), karena dapat membantu petani untuk mengenal dan memecahkan permasalahannya, khususnya dalam penerapan teknologi yang tepat untuk mengelola lahan kritis. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Pati yang mempunyai lahan kritis di Pegunungan Kendeng telah menempatkan Penyuluh Kehutanan dan Perkebunan (SK. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Nomor: 826.4/98/2009).
Masalah Penelitian
Salah satu cara untuk mengatasi lahan kritis adalah dengan menerapkan inovasi pengelolaan lahan yang tepat, antara lain melalui inovasi sistem agroforestri. Sistem agroforestri memberikan berbagai manfaat antara lain:
mengembalikan kesuburan tanah, mencegah banjir, tanah longsor, menyerap air dan menyediakan alternatif bahan pangan (von Moydell 1986).
Penerapan sistem agroforestri yang dilakukan oleh petani sekitar hutan dapat berhasil dengan baik tergantung dari motivasi, kesempatan dan kemampuan petani. Oleh karena itu, tumbuhnya etos kerja petani ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, sebab dengan pengetahuan yang dimilikinya, petani akan dapat membaca peluang dan menciptakan kesempatan, sehingga dapat mengelola lahannya dengan tepat dan memberikan hasil yang optimal. Kondisi ini akan berhasil dengan baik, apabila petani memiliki motivasi yang kuat dan mampu menjaga motivasinya agar tidak cepat luntur jika mengalami kegagalan.
Upaya untuk dapat menjaga motivasi, menciptakan kesempatan, dan meningkatkan kemampuan dalam penerapan sistem agroforestri tersebut, memerlukan karakteristik individu petani yang kuat dan didukung oleh penyuluh yang berkompeten agar dapat membangkitkan dan mendampingi petani sehingga petani menjadi mandiri, berdaya dan tidak tergantung pada orang lain.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini berfokus pada masalah:
(1) Sejauhmana tingkat kinerja petani sekitar hutan dan pengaruhnya terhadap keberlanjutan dalam penerapan sistem agroforestri serta faktor-faktor penentu kinerja petani sekitar hutan di Pegunungan Kendeng?
(2) Sejauhmana dukungan penyuluhan berpengaruh pada faktor-faktor penentu tingkat kinerja petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri di Pegunungan Kendeng?
(3) Bagaimanakah strategi penyuluhan yang tepat bagi upaya meningkatkan kinerja petani dalam penerapan sistem agroforestri di Pegunungan Kendeng?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan pembatasan permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk:
(1) Menganalisis tingkat kinerja petani sekitar hutan dan pengaruhnya terhadap keberlanjutan dalam penerapan sistem agroforestri serta faktor-faktor penentu tingkat kinerja petani sekitar hutan di Pegunungan Kendeng.
(2) Menganalisis dukungan penyuluhan yang berpengaruh pada faktor-faktor penentu kinerja petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri di Pegunungan Kendeng.
(3) Menyusun strategi penyuluhan yang tepat bagi upaya meningkatkan kinerja petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri di Pegunungan Kendeng.
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kegunaan secara akademis (keilmuan) dan praktis:
(1) Kegunaan secara akademis/keilmuan, yaitu:
(a) Memperkaya kajian tentang kinerja petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri di lahan kritis, khususnya yang berhubungan dengan motivasi petani, kesempatan yang tersedia bagi petani dan kemampuan petani sekitar hutan.
(b) Memberikan informasi kepada para peneliti bidang sosial agar dapat melakukan penyempurnaan demi kemajuan ilmu pengetahuan tentang kinerja petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri.
(2) Kegunaan secara praktis yaitu: memberikan masukan atau informasi kepada Kementerian Kehutanan, Pemerintah Daerah Kabupaten Pati dan pihak lain yang terkait, dalam menyusun kebijakan penyuluhan yang berhubungan dengan kinerja petani sekitar hutan, khususnya dalam penerapan sistem agroforestri harus memperhatikan kemampuan dan pengetahuan lokal yang ada di daerah atau bersifat adaptif dan proses pelaksanaannya dilakukan secara kemitraan atau kolaboratif dengan lembaga-lembaga lokal.
(a) Nilai kebaruan atau novelty, yaitu:
(a) Tingkat kinerja petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, motivasi dan kesempatan, tetapi juga perlu memperhatikan lingkungan petani.
(b) Pada kegiatan yang telah ditekuni petani secara turun temurun seperti penerapan sistem agroforestri, dukungan penyuluhan tidak berpengaruh secara langsung meningkatkan kemampuan petani tetapi berpengaruh secara langsung membangkitkan motivasi dan
memberikan kesempatan petani. Meskipun demikian, untuk generasi muda keturunan petani dan para pendatang dukungan penyuluhan dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan petani.
Definisi Istilah
(1) Agroforestri adalah sistem penggunaan lahan dan teknologi, di mana tanaman keras berkayu ditanam bersamaaan dengan tanaman semusim, dan atau ternak, dengan tujuan tertentu, dengan spasial atau berurutan yang di dalamnya terjadi interaksi-interaksi ekologi dan ekonomi antara berbagai komponen yang bersangkutan, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, kelestarian alam dan lingkungan (Nair 2003).
(2) Insentif adalah bantuan yang berasal dari pemerintah yang diperuntukkan bagi masyarakat yang melakukan pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri dalam bentuk peringanan atau pembebasan pajak, pendidikan dan pelatihan, serta penyediaan infrastruktur (incentive nonmonetary).
(3) Institusi lokal adalah suatu kesatuan (entity) nilai-nilai, norma-norma, adat istiadat, dan peraturan-peraturan atau kesepakatan kolektif yang berlaku dalam masyarakat, termasuk organisasi (non formal atau informal) sebagai wadah yang berfungsi secara sosial, ekonomi, administrasi yang berlaku secara fungsional maupun struktural dalam mengelola lahan kritis dengan sistem agroforestri.
(4) Kelembagaan penyuluhan adalah suatu institusi yang melaksanakan kegiatan penyuluhan yang dilakukan penyuluh pegawai negeri sipil (PNS), penyuluh swasta dan penyuluh swadaya, baik yang berada di tingkat pusat, provinsi, kabupaten, maupun di tingkat desa.
(5) Kemampuan petani sekitar hutan adalah daya upaya yang dimiliki seseorang yang merupakan perpaduan antara pengetahuan (knowledge), wawasan dan keterampilan (skill) yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan.
(6) Kepemimpinan lokal adalah pengaruh yang dimiliki oleh pemimpin lokal sehingga masyarakat setempat secara sukarela mematuhi, meneladani, mencontoh dan menjalankan semua anjuran yang diberikannya.
(7) Kesempatan petani sekitar hutan adalah kondisi atau situasi yang dapat dimanfaatkan oleh petani sekitar hutan untuk meningkatkan kinerjanya sehingga mendapatkan hasil yang optimal.
(8) Kinerja petani sekitar hutan adalah tingkat prestasi atau keberhasilan petani sekitar hutan secara keseluruhan selama periode tertentu dalam penerapan sistem agroforestri di lahan kritis.
(9) Kompetensi adalah karakteristik seseorang yang didasarkan pada perilaku yang mengembangkan motif, kepribadian, konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan dan keahlian yang dapat digunakan untuk unjuk kinerja yang unggul (Palan 2007; Spencer dan Spencer 1993).
(10) Lahan kritis adalah lahan yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, seperti lahan kosong tidak produktif, lahan yang kemiringannya di atas 15 persen, lahan dengan penutupan vegetasi kurang dari 25 persen, lahan tambang yang tidak direklamasi, dan lahan rawan bencana (Dephut 2009).
(11) Masyarakat sekitar hutan adalah sekumpulan atau segolongan individu yang mempunyai adat istiadat, budaya, norma, sanksi dan kedudukan individu yang berada di perdesaan yang saling berhubungan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam mengelola lahan yang ada di sekitar hutan.
(12) Motivasi petani sekitar hutan adalah dorongan yang berasal dari dalam maupun dari luar individu petani untuk meningkatkan kinerjanya dalam penerapan sistem agroforestri di lahan kritis.
(13) Penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya, sebagai usaha untuk meningkatkan produktivitas, efesiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup (Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006).
(14) Pemimpin lokal adalah pemimpin yang terdapat di desa seperti Kepala Desa dan perangkatnya, guru, pegawai, pesiunan, kelompok tani, mantan perangkat desa dan orang yang dituakan.
(15) Sistem pasar adalah unsur-unsur yang berhubungan dengan arus jual beli yang dilakukan oleh masyarakat khususnya dalam memasarkan hasil penerapan sistem agroforestri.
(16) Strategi penyuluhan adalah langkah-langkah taktis yang diperlukan dalam melaksanakan penyuluhan agar tujuan penyuluhan berhasil sesuai rencana.