1
1.1 Latar Belakang
Di era globalisasi permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan intervensi semua pihak secara bersama dan terkoordinasi. Akan tetapi penanganannya selama ini cenderung parsial dan tidak berkelanjutan. Peran dunia usaha dan masyarakat pada umumnya juga belum optimal. Kerelawanan sosial dalam kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber pentingpemberdayaan dan pemecahan akar permasalahan kemiskinan juga mulai luntur. Untuk itu diperlukan perubahan yang bersifat sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan kemiskinan (Pedoman Umum PNPM, 2008).
Dalam menanggapi segala hal masyarakat semakin kritis untuk menuntut adanya transparansi pada berbagai aspek kehidupan. Ketentuan transparansi tidak hanya berlaku pada sektor komersial melainkan juga pada sektor publik. Transparansi bermakna tersedianya informasi yang cukup akurat, dan tepat waktu tentang kebijakan publik, dan proses pembentukannya (Bastian, 2014).
aktivitasnya, memenuhi kebutuhan kasnya, memenuhi kewajibannya dan komitmennya menyediakan informasi secara keseluruhan yang berguna dalam mengevaluasi kinerja entitas yang menyangkut biaya jasa, efisiensi, pencapaian tujuan dan pengelolaan anggaran (Bastian, 2010).
Pelaksanaan PNPM Mandiri tahun 2007 dimulai dengan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) sebagai dasar pengembangan pemberdayaan masyarakat diperdesaan beserta program pendukungnya seperti: PNPM Generasi, Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) sebagai dasar bagi pengembangan pemberdayaan masyarakat diperkotaan, dan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK) untuk pengembangan daerah tertinggal, pasca bencana, dan konflik. Mulai tahun 2008 PNPM Mandiri diperluas dengan melibatkan Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) untuk mengintegrasikan pusat – pusat pertumbuhan ekonomi dengan daerah disekitarnya. PNPM Mandiri diperkuat dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh berbagai departemen/sektor dan pemerintah daerah. Pelaksanaan PNPM Mandiri 2008 juga akan diperioritaskan pada desa–desa tertinggal dengan program pendukungnya Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM)
Dasar hukum pelaksanaan PNPM Mandiri mengacu pada landasan konstitusional UUD 1945 beserta amandemennya, landasan idiil Pancasila, dan peraturan perundang-undangan tentang Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Selaku Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan No: 25/KEP/MENKO/KESRA/VII/2007 tentang Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM MANDIRI). Serta landasan khusus pelaksanaan PNPM Mandiri daerah yang disusun kemudian. Peraturan perundang-undangan khususnya terkait sistem pemerintahan, perencanaan keuangan negara, dan kebijakan penanggulangan kemiskinan yaitu Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan.
Dengan pengintegrasian berbagai program pemberdayaan masyarakat ke dalam kerangka kebijakan PNPM Mandiri, lingkup pembangunan diharapkan dapat diperluas hingga ke daerah-daerah terpencil dan terisolir. Pelaksanaan PNPM Mandiri didasarkan pada indikator keberhasilan yang terukur akan membantu untuk mewujudkan pencapaian target. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri membangun masyarakat melalui penguatan lembaga lokal yang salah satunya adalah Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa yang terletak di kelurahan Cepu.
jaminan kendaraan. Pelaksanaan pemberian kredit yang dilakukan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa memiliki beberapa tahapan prosedur diantaranya pengajuan pinjaman, pemeriksaan berkas, survei, putusan pinjaman, realisasi pinjaman dan tahapan terakhir ialah pembayaran pinjaman. Dalam melakukan pengajuan kredit, peminjam harus mengikuti prosedur yang telah ditentukan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa.
Peran Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) adalah mewadahi aspirasi masyarakat dengan cara melibatkan masyarakat agar proaktif dalam proses pengambilan keputusan dalam program pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan di wilayahnya dan memperjuangkan dipenuhinya kebutuhan dasar, sosial, ekonomi dansarana prasarana dasar serta lingkungan bagi masyarakat miskin. Dalam jangka panjang Badan Keswadayaan Masayarakat (BKM) membangun modal sosial dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan serta menggalang solidaritas serta kesatuan sosial sesama warga agara saling bekerjasama demi kebaikan dan akan memperkuat keswadayaan warga masyarakat.
Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa kelurahan Cepu memperoleh dana dari pemerintah melalui APBN dan APBD. Pemerintah atau Kementerian Sosial menyalurkan dana kepada Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang digunakan untuk pembangunan sosial dan pelayanan peminjaman bergulir, pelayanan pinjaman bergulir diberikan melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa Kelurahan Cepu Kabupaten Blora.
kelurahan Cepu merupakan salah satu organisasi sektor publik yang memiliki tujuan untuk memberdayakan masyarakat Kelurahan Cepu terutama masyarakat miskin dalam upaya penganggulangan kemiskinan melalui pengembangan kapasitas, penyediaan sumberdaya dan membudayakan kemitraan yang sinergis antara masyarakat dengan pelaku-pelaku pembangunan lokal lainnya. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa Kelurahan Cepu setiap tahunnya membuat rencana kegiatan operasional untuk menghimpun dana dan menyalurkan kembali ke masyarakat.
Dalam hal ini masyarakat percaya untuk menyimpan dan meminjam dana di Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa Kelurahan Cepu. Risiko yang akan dihadapi oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa Cepu adalah tidak lancarnya pembayaran kredit disebut (non perfoming loan) atau kredit macet. Kredit macet terjadi akibat pihak masyarakat yang meminjam tidak dapat membayar lunas hutang kreditnya atau pihak masyarakat tidak mampu membayar kredit tepat pada waktunya (Dandiwijaya,Lukman, 2001).
Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) mempunyai hak untuk memaksa langsung masyarakat untuk melunasi hutangnya. Jalan keluarnya yaitu memberikan pengarahan untuk membayar secara mencicil hutang dan apabila si peminjam meninggal maka hutang tersebut akan diwariskan kepada pewaris sesuai yang telah ditulis diperjanjian awal.
perjanjian yang didalamnya terdapat perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajiaban.
Tabel 1.1 Kredit Macet Tahun Jumlah Peminjam Tingkat Tunggakan (NPL) 2013 489 orang 16,95 % 2014 455 orang 17,61% 2015 412 orang 18,75
Kredit macet yang terjadi di Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dari tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Kondisi ini disebabkan masih banyaknya kekurangan/kekeliruan dalam pelaksanaan prosedur. Akan tetapi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) belum secara khusus mengidentifikasi penyebab terjadinya kenaikan kredit macet. Dari penjelasan pra survei dengan bapak Agus Cahyo Wibowo pada tanggal 9 Oktober 2015 diketahui alasan peminjam tidak melakukan kewajiban karena ketidaktersediaan dana untuk membayar dan sebagian lagi karena meninggal dunia.
Untuk kasus meninggal dunia sudah diantisipasi dengan surat perjanjian, bahwa kewajiban pada BKM menjadi tanggungjawab ahli warisnya. Sedangkan untuk peminjaman yang macet karena tidak ada dana, dimungkinkan adanya kesalahan prosedur pemberian kredit. Sehingga dalam penelitian ini akan difokuskan pada analisis prosedur pemberian kredit di Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).
profitabilitas, tingkat perputaran kredit memperlemah hubungan antara pertumbuhan kredit terhadap profitabilitas LPD di kabupaten Badung 2011-2013.
Penelitian berbeda dilakukan oleh Suardita dan Putri (2015). Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut menunjukan bahwa tingkat kecukupan modal dan tingkat penyaluran kredit berpengaruh positif terhadap profitabilitas.
Penelitian serupa diungkapkan oleh Sari (2013). Hasil yang didapatkan oleh peneliti dalam penelitian adalah penelitian menunjukan bahwa DPK, CAR, NPL, dan BI memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penyaluran kredit di indonesia.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Yasa dan Jati (2013). Hasil yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu mengemukakan struktur pengendalian internal kredit berpengaruh negatif dan signifikan pada kredit bermasalah di BPR di Kabupaten Buleleng, sedangkan untuk jenis-jenis, prosedur umum pengendalian internal dan kolektibilitas kredit tidak berpengaruh signifikan.
ini berdampak pada pembayaran angsuran kredit yang tidak semua debitur membayar tepat waktu sehingga terjadi peningkatan tunggakan disetiap tahunnya.
Berdasarkan uraian diatas mengenai pelaksanaan prosedur pemberian kredit yang berdampak pada meningkatnya tunggakan disetiap tahun, maka penulis tertarik mengambil judul “ANALISIS PELAKSANAAN PROSEDUR PEMBERIAN
KREDIT PADA BADAN KESWADAYAAN MASYARAKAT (BKM) MAKMUR SENTOSA KELURAHAN CEPU KABUPATEN BLORA”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, permasalahan yang dapat ditemukan yaitu bagaimana pelaksanaan prosedur pemberian kredit pada Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa sudah dijalankan sesuai ketentuan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalis pelaksanaan prosedur pemberian kredit pada Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa sudah dijalankan sesuai ketentuan.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa
Dapat digunakan sebagai masukan dan bahan koreksi meningkatkan kinerja Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Sentosa diperiode berikutnya.
2. Bagi Akademis
3. Bagi Penulis
Dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan dan referensi untuk meneliti pada bidang yang sama.
4. Bagi Pembaca
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan laporan
Bab II : Tinjauan Pustaka
Bab ini menjelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan pembahasan tentang prosedur peminjaman di Badan Kewadayaan Masyarakat (BKM) yang digunakan sebagai landasan dalam menganalisis masalah.
Bab III : Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan tentang metode penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian, berisikan jenis data, sumber data, cara pengumpulan data, serta teknik analisa data.
Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini berisi tentang deskripsi dari obyek yang diteliti, analisis data, serta pembahasan hasil analisis data.
Bab V : Kesimpulan dan Saran