• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Deskriptif, uji Normalitas, uji peringkat Wilcoxon dan Manova.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Deskriptif, uji Normalitas, uji peringkat Wilcoxon dan Manova."

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A Penelitian terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Aji Nugroho (2010) dengan judul Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Perusahaan Sebelum dan Sesudah Merger dengan objek yang diteliti perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2002-2003 dan diperoleh sampel sebanyak 5 dari 24 perusahaan.

Hasil dari penelitian yang dilakukan secara parsial menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan pada variabel rasio-rasio keuangan yang digunakan pasca merger dan akuisisi. Adapun alat ukur yang digunakan adalah Statistik Deskriptif, uji Normalitas, uji peringkat Wilcoxon dan Manova.

Pada tahun yang sama, penelitian berbeda dilakukan oleh Lizti Nadya Nilam (2010) dengan judul Analisis Tingkat Perbedaan Abnormal return dan Rasio Keuangan Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi, objek penelitian ini adalah perusahaan LQ-45 yang terdaftar di BEI menghasilkan 12 sampel yang diteliti menggunakan uji Peringkat Wilcoxon dan Manova dengan hasil menunjukan tidak terdapat perbedaan yang signifikan abnormal return saham dan dengan rasio keuangan sebelum dan sesudah akuisisi.

Penelitian lain yang digunakan sebagai tinjauan adalah Fairuz Angger Wibowo (2012) dengan judul peneliltian Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Akuisisi. Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2004-2010. Hasil analisis yang dilakukan rasio menunjukan tidak ada perbedaan yang cukup signifikan selama

(2)

9

kurun waktu enam tahun. Penelitian ini menggunakan Statistik Deskriptif, Wilcoxon Signed Ranks Test, dan Manova.

Pada tahun 2016, dilakukan penelitian oleh Neddy Sihombing dengan judul penelitian Analisis Pengaruh Pengunguman Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Keuangan dan Abnormal Return Saham perusahaan yang Terdaftar di BEI Periode 2011. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa lima dari tujuh rasio keuangan CR, TATO, DER, ROI dan EPS yang diuji secara parsial menunjukkan perbedaan secara signifikan, sedangkan Untuk AR dan CAR juga menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah melakukan merger dan akuisisi. Penelitian ini menggunakan Statistik Deskriptif, Wilcoxon Signed Ranks Test, dan Manova.

Pada tahun yang sama, kembali diteliti penelitian yang sama oleh Nur Syilvia Aprilia. Dengan judul Perbandingan Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Akuisisi Pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2008 – 2014. Hasil penelitian kali menunjukan hal yang berbeda, enam dari delapan rasio menunjukan perbedaan yang signifikan yaitu Current Ratio, Net Profit Margin, Return On Asset, Return On Equity, Total Asset Turnover, Fixed Assets Turnover, Earning Per Share, dan Price Earning Ratio. Kedua rasio keuangan yang tidak mempunyai perbedaan secara signifikan yaitu Debt To Equity Ratio, dan Debt To Total Asset. Teknik analisis yang digunakan adalah Analisis statistik ini menggunakan uji Paired Sample T-Test.

(3)

10 B Teori dan Kajian Pustaka

B.1 Landasan Teori

B.1.1. Signaling Theory

Signaling Theory merupakan sinyal-sinyal informasi yang dibutuhkan oleh investor untuk mempertimbangkan dan menentukan apakah para investor akan menanamkan sahamnya atau tidak pada perusahaan yang bersangkutan Suwardjono (2005). Dimana perusahaan memiliki dorogan untuk mengungkapkan informasi baik berupa informasi keuangan maupun informasi non keuangan serta pengungkapan suatu kejadian secara sukarela. Mengutip dalam Nilam dan Utomo (2010) meninjau Kep 22/ PM/ 1991, tertanggal 19 April 1991 tentang keterbukaan informasi yang harus diumumkan kepada publik (public disclosure) paling lambat 2 hari setelah keputusan atau terjadinya peristiwa yang mungkin mempengaruhi harga saham, antara lain:

1. Penggabungan usaha (merger), pembelian saham (acquisition), usaha patungan.

2. Pemecahan saham atau pembayaran deviden saham (stock deviden).

3. Pendapatan dan deviden yang luar biasa sifatanya, dll.

Pihak manajemen mengambil upaya berupa pemecahan saham yang dilakukan dengan memandang hal ini bisa memberikan potensi yang baik dimasa mendatang melalui pengiriman sinyal ke pasar dan memberikan reaksi yang positif Wistawan dan Widanaputra (2013). Suatu pengungkapan informasi yang diberikan pihak perusahaan kepada pasar merupakan

(4)

11

informasi yang positif, dengan tujuan menarik minat investor. Dengan adanya suatu sinyal atau pengungkapan dipasar emiten para investor memilah informasi serta menganalisis suatu informai baik (good news) atau informasi yang buruk (bad news) Dewi dan Rahyuda (2014).

B.1.2. Penggabungan Usaha

Penggabungan usaha merupakan salah satu strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengembangkan perusahaan.

Ikatan Akuntan Indonesia dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia Nomor 12 (PSAK No.22) mendefinisikan penggabungan badan usaha sebagai bentuk penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan perusahaan lain ataupun memperoleh kendali atas aktiva dan operasi perusahaan lain (Indonesia, 2012). Jenis penggabungan usaha dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengambilalih (Akuisisi) dan penyatuan pemilikan (Merger). Pengertian penggabungan usaha (business combination) secara umum adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan perusahaan lain atau memperoleh kendali atas aktiva dan operasi perusahaan lain.

(5)

12 B.1.3. Akuisisi

Akusisi dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah acqustion atau

“take over” yang berarti sebuah perusahaan mengambilalih kontrol modal (saham) atas perusahaan lain (one company taking over controlling interest in another company).Menurut (Fuady, 2014) akuisisi adalah satu komponen dari tiga serangkaian perbuatan hukum, yaitu merger, konsolidasi dan akuisisi. Penyatuan kepentingan memiliki makna yang sama dengan terminologi dan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Indonesia) No.22 mendefinisikan akuisisi sebagai suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan yaitu pengakuisisi sehingga akan mengakibatkan berpindahnya kendali atas perusahaan yang diambilalih tersebut. Adapun yang dimaksud tersebut oleh perusahaan tersebut adalah;

1. Kekuatan untuk mengatur kebijakan dan kendali atas operasi

2. Mengangkat dan memberhentikan manajemen dan mengelola sumberdaya

3. Mendapat hak atas suara mayoritas direksi

pernyatuan kepentingan dengan suatu penggabungan usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama-sama menyatukan kendali atas seluruh, atau secara efektif seluruh aktiva neto dan operasi perusahaan yang bergabung tersebut dan selanjutnya memikul bersama segala risiko dan manfaat yang melekat pada entitas gabungan, sehingga tidak ada pihak yang dapat diidentifikasikan sebagai perusahaan pengakuisisi. Biasanya perusahaan pengakuisisi memliki ukuran yang lebih

(6)

13

besar dibandingkan dengan perusahaan terakuisisi (Nugroho dan Sofian, 2010)

Menurut Pasal 1 Angka 3 PP 57/2010, Akuisisi adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk mengambilalih saham badan usaha yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas badan usaha tersebut. Menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Pasal 1 Angka 11, pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan untuk mengambil alih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut.

Dari beberapa defenisi pengambilalihan yang telah dijabarkan diatas, maka unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam pengambilalihan adalah sebagai berikut :

1. Adanya suatu perbuatan hukum yang dilakukan terhadap perusahaan;

2. Pelaku pengambilalihan dapat dilakukan oleh badan hukum maupun perseorangan;

3. Menyebabkan beralihnya pengendalian atas badan usaha yg diambil alih.

B.1.4. Klasifikasi Akuisisi

1. Klasifikasi Akuisisi Dari Jenis Usaha

Klasifikasi akuisisi menurut (Fuady, 2014) dilihat dari jenis usaha perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam transaksi akuisisi, dilihat dari jenis usaha maka akuisisi dapat digolongkan sebagai berikut:

(7)

14 a. Akuisisi Horisontal

Akuisisi horisontal adalah akuisisi antara dua atau lebih perusahaan yang bergerak dalam industri yang sama. Sebelum terjadi merger perusahaan-perusahaan ini bersaing satu sama lain dalam pasar atau industri yang sama. Salah satu tujuan utama adalah untuk mengurangi persaingan atau untuk meningkatkan efisiensi melalui penggabungan aktivitas produksi, pemasaran, distribusi, riset dan pengembangan dan fasilitas administrasi. Dampak dari akuisisi horisontal ini adalah semakin terkonsentrasinya struktur pasar pada industri tersebut. Apabila hanya terdapat sedikit pelaku usaha, maka struktur pasar bisa mengarah pada bentuk oligopoli, bahkan akan mengarah pada monopoli.

b. Akuisisi Vertikal

Akuisisi vertikal adalah integrasi yang melibatkan perusahaan yang bergerak dalam tahapan-tahapan proses produksi atau operasi.

akuisisi tipe ini dilakukan jika perusahaan yang berada pada industri hulu memasuki industri hilir atau sebaliknya. Akuisisi vertikal dilakukan oleh perusahaan yang bermaksud untuk mengintegrasikan usahanya terhadap pemasok dan pengguna produk dalam rangka stabilisasi pasokan dan pengguna. Tidak semua perusahaan memiliki bidang usaha yang lengkap mulai dari penyediaan input sampai pemasaran. Untuk menjamin bahwa pasokan input berjalan dengan lancar maka perusahaan tersebut bisa mengakuisisi atau merger dengan pemasok. akuisisi vertikal ini dibagi dalam dua bentuk yaitu integrasi ke belakang atau ke bawah (backward

(8)

15

/downward integration) dan integrasi ke depan atau ke atas (forward/

upward integration).

c. Akuisisi Konglomerat

Akuisisi Konglomerat adalah mengambilalih dua atau lebih perusahaan yang masing-masing bergerak dalam industri yang tidak terkait. akuisisi konglomerat terjadi apabila sebuah perusahaan berusaha mendiversifikasi bidang bisnisnya dengan memasuki bidang bisnis yang berbeda sama sekali dengan bisnis semula. Apabila akuisisi konglomerat ini dilakukan secara terus menerus oleh perusahaan, maka terbentuklah sebuah konglomerasi. Sebuah konglomerasi memiliki bidang bisnis yang sangat beragam dalam industri yang berbeda.

Sistem pengambilalihan yang diatas berdasarkan dari jenis usaha perseroan yang dikaitkan dengan pemasaran. Namun jika dilihat dari segi subjek yang melakukan pengambilalihan atau akuisisi maka akuisisi dapat dibedakan atas:

1 Pengambilalihan Eksternal yakni merupakan pengambilalihan yang terjadi dalam dua Perseroan atau lebih dan tidak berada dalam1 (satu) holding company.

2 Pengambilalihan Internal adalah Pengambilalihan dimana baik Perseroan yang diambilalih maupun Perseroan yang akan diambilalih berada dalam 1 (Satu) holding company.

(9)

16

2. Klasifikasi Akuisisi Dari Objek Transaksi

Klasifikasi dilihat berdasarkan obyek yang diakuisisi menurut (Fuady, 2014) dibedakan atas akuisisi saham akuisisi aset yaitu:

a. Akuisisi Saham

Akuisisi saham adalah pengambilalihan saham perusahaan target oleh perusahaan, yang mengakibatkan penguasaan mayoritas atas saham perusahaan target oleh perusahaan pengakuisisi, dan akan membawa ke arah penguasaan manejemen dan jalannya perseroan.

Akuisisi saham merupakan bentuk yang paling umum dilakukan oleh perusahaan baik dengan cara membeli seluruh atau sebagian yang beredar.

b. Akuisisi Aset

Akuisisi aset adalah mengambilalih seluruh atau sebagian aktiva dan passiva perusahaan target oleh perusahan perusahaan pengakuisisi, dengan atau tanpa mengambil seluruh kewajiban perusahaan target terhadap pihak ketiga. Akuisisi ini biasanya dilakukan apabila perusahaan pengakuisisi kesulitan dalam menghitung beberapa jumlah utang dan piutang perusahaan target yang harus ditanggungnya, atau jika perusahaan pengakuisisi menghindar dari kewajiban membayar utang, atau jika utang piutang perusahaan target sangat tidak jelas tercantum dalam pembukuan perusahaan.

(10)

17 B.1.5. Motif Akuisisi

Menurut (Moin, 2010) akuisisi yang dilakukan perusahaan didasari oleh berbagai macam alasan sebagai berikut:

a. Motif Ekonomi

Esensi tujuan perusahaan dalam perspektif manajemen keuangan adalah seberapa besar perusahaan mampu menciptakan nilai (value creation) bagi perusahaan dan bagi pemegang saham. Merger dan akuisisi memiliki motif ekonomi yang tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencapai peningkatan nilai tersebut.

b. Motif Sinergi

Sinergi merupakan nilai keseluruhan perusahaan setelah merger dan akuisisi yang lebih besar daripada penjumlahan nilai masing-masing perusahaan sebelum merger dan akuisisi. Sinergi dihasilkan melalui kombinasi aktivitas secara simultan dari kekuatan atau lebih elemen-elemen perusahaan yang bergabung sedemikian rupa sehingga gabungan aktivitas tersebut menghasilkan efek yang lebih besar dibandingkan dengan penjumlahan aktivitas-aktivitas perusahaan jika mereka bekerja sendiri.

Mengutip dari (Wibowo dan Mahfud, 2012) berbagai macam bentuk sinergi yang dihasilkan melalui akuisisi adalah sebagai berikut;

(11)

18 a Sinergi Operasi

Sinergi operasi terjadi ketika perusahaan hasil kombinasi mencapai efisiensi biaya. Efisiensi ini dicapai dengan cara pemanfaatan secara optimal sumberdaya perusahaan. Sehingga dengan adanya merger ataupun akuisisi yang dilakukan perusahaan maka diharapakan perusahaan dapat memasarkan produknya hingga kapasitas penuh.

b Sinergi Finansial

Sinergi finansial dihasilkan ketika perusahaan hasil merger dan akuisisi memiliki struktur modal yang kuat dan mampu mengakses sumber- sumber dana dari luar secara lebih mudah sehingga biaya modal perusahaan semakin menurun.

c Sinergi Manajerial

Sinergi manajerial dihasilkan ketika terjadi transfer kapabilitas manajerial dan Kemampuan serta sumberdaya yang berkualitas dari perusahaan yang satu ke perusahaan lain.

d Sinergi Teknologi

Sinergi teknologi bisa dicapai dengan memadukan keunggulan teknik sehingga saling memetik manfaat.

e Sinergi Pemasaran

Perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi akan memperoleh manfaat dari semakin luas dan terbukanya produk, bertambahnya lini produk yang dipasarkan, dan semakin banyak konsumen yang bisa dijangkau.

(12)

19 c. Motif Diversifikasi

Diversifikasi adalah strategi pemberagaman bisnis yang bisa dilakukan melalui merger dan akuisisi. Diversifikasi dimaksud untuk mendukung aktivitas bisnis dan operasi perusahaan untuk mengamankan posisi bersaing. Akan tetapi jika melakukan diversifikasi yang semakin jauh dari bisnis semula, maka perusahaan tidak lagi berada pada koridor yang mendukung kompetensi inti.

d. Motif Non-Ekonomi

Aktivitas merger dan akuisisi terkadang dilakukan bukan untuk kepentingan ekonomi saja tetapi juga untuk kepentingan yang bersifat non-ekonomi, seperti prestise dan ambisi. Motif non-ekonomi bisa berasal dari manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan.

B.1.6. Manfaat Akuisisi

Dilakukannya akuisisi oleh perusahaan tidak lepas dari manfaat yang akan di dapatkan. Sebagian besar perusahaan memutuskan untuk melakukan akuisisi agar memperoleh produk atau jasa pelengkap, yaitu produk atau jasa yang dihubungkan dengan suatu teknologi dan konsumen yang sama (Fitriasari, 2016). Adapun menurut (Moin, 2010) mengatakan bahwa akuisisi dilakukan tidak terlepas dari manfaat yang akan didapatkan yaitu:

1. Mendapatkan cashflow dengan cepat, karena produk dan pasar sudah jelas.

(13)

20

2. Memperoleh kemudahan dana/pembiayaan, karena kreditur lebih percaya dengan perusahaan yang telah berdiri dan mapan.

3. Memperoleh karyawan yang telah berpengalaman.

4. Memperoleh sistem operasional dan administratif yang mapan.

5. Mengurangi resiko kegagalan bisnis, karena tidak harus mencari konsumen baru.

6. Menghemat waktu untuk memasuki bisnis baru.

7. Memperoleh infrastruktur untuk mencapai pertumbuhan yang lebih cepat.

8. Merupakan investasi yang menguntungkan.

9. Memperoleh kendali atas perusahaan lain.

10. Menguasai pasokan bahan baku dan bahan penolong.

11. Melakukan diversifikasi usaha.

12. Memperbesar ukuran perusahaan.

13. Memperkecil risiko usaha.

14. Memperoleh teknologi baru milik perusahaan lain.

B.1.7. Langkah-Langkah Akuisisi

(Hamungkasi dan Satrio, 2017) mengutip dari (Moin, 2003) bahwa tahapan-tahapan dalam proses akuisisisi tergantung dari karakteristik atau kriteria akuisisi serta kompleksitas permasalahan yang akan dihadapi. Ada beberapa tahapan yang dilakukan ketika melakukan akuisisi yaitu;

1) Identifikasi Awal

(14)

21

pada tahapan paling awal ini perusahaan mencari dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin perusahaan-perusahaan yang potensial untuk diakuisisi. Identifikasi ini tidak terlepas dari motivasi perusahaan dan akan menentukan perusahaan yang seperti apa yang dijadikan target akuisisi.

2) Screening

screening adalah proses menyaring sekaligus memilih mana diantara calon target tersebut yang paling layak diakuisisi. Proses screening ini tidak dilakukan apabila perusahaan hanya mengidentifikasi satu calon perusahaan target. Sebaliknya apabila terdapat dua atau lebih calon dan hanya satu calon yang akan dipilih, maka proses screening ini perlu dilakukan.

3) Penawaran Formal,

ada tahap ini dilakukan kesepakatan akuisisi antara kedua belah pihak dan pembicaraan tentang harga yang akan disepakati. Sebelum pihak manajemen target memutuskan untuk menyetujui atau menolak penawaran.

4) Due Diligence

due diligence atau uji tuntas adalah investigasi yang menyeluruh dan mendalam terhadap berbagai aspek perusahaan target. Uji tuntas ini dimaksudkan untuk memberikan informasi sedetail mungkin tentang kondisi perusahaan target dilihat dari semua aspek. Disamping itu uji tuntas juga dimaksudkan untuk mengurangi atau menghindari

(15)

22

kesulitan-kesulitan yang bisa menyebabkan kegagalan akuisisi. Uji tuntas ini dilakukan terhadap aspek hukum, keuangan, organisasi dan sumber daya manusia, pemasaran, teknologi dan produksi.

5) Negosiasi atau Deal

terdapat dua pihak pada perusahaan target yang harus memberikan persetujuan agar proses akuisisi berjalan normal yaitu manajemen dan pemegang saham. Ketika kedua belah pihak ini setuju dengan syarat- syarat yang disepakati antara pengakuisisi dengan target, selanjutnya mereka mendatangi nota kesepakatan sebagai kelanjutan dari deal mereka.

6) Closing

jika negosiasi mencapai deal berarti persetujuan formal akuisisi telah terlaksana dan selanjutnya dilakukan closing. Closing adalah penutupan transaksi akuisisi. Pada akuisisi, closing berarti diserahkannya pembayaran oleh pengakuisisi kepada pemegang saham perusahaan yang diakuisisi. Pada tahap ini semua penyerahan dokumen yang terkait dengan akuisisi telah selesai.

7) Integrasi

integrasi berarti tahap dimulainya “kehidupan baru” setelah perusahaan melakukan penggabungan bisnis sebagai salah satu kesatuan entitas ekonomi. Perusahaan pengakuisisi mulai melaksanakan perencanaan strategi yang telah disusun sebelumnya.

(16)

23 B.2. Kinerja Keuangan

B.2.1. Pengertian Kinerja Keuangan

Pengertian kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), Kinerja diartikan sebagai “sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja (tentang peralatan)”. Kinerja merupakan analisis data serta pengendalian bagi perusahaan. Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan diatas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain (Adipratama dan Widyarti, 2012) Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan di atas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain.

Menurut (Fahmi, 2012) Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Menurut (Munawir, 2010) menyatakan tujuan dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan adalah:

1. Mengetahui tingkat likuiditas

Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat ditagih.

(17)

24 2. Mengetahui tingkat leverage

Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Mengetahui tingkat rentabilitas

Rentabilitas atau sering disebut dengan profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

4. Mengetahui tingkat stabilitas

Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk

B.2.2. Analisis Kinerja Keuangan

Analisis terhadap kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap review data, menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi terhadap keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu. Analisis kinerja keuangan perusahaan dari periode tertentu yang diukur menggunakan suatu rasio. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Menurut (Fahmi, 2012) rasio disebut sebagai perbandingan dengan jumlah dari satu jumlah dengan jumlah yang lainnya kemudian

(18)

25

dilihat perbandingannya dengan harapan nantinya akan ditemukan jawaban yang selanjutnya itu menjadi bahan kajian untuk dianalisis dan diputuskan.

Dengan menggunakan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari suatu period ke periode berikutnya. Menurut (Kasmir et al., 2012) analisis rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan membagi satu angka dengan angka lainnya.

Sedangkan menurut (Christiano et al., 2015) mengutip dari (Munawir, 2004) menyatakan bahwa analisis rasio keuangan adalah suatu teknik analisis untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau lapora laba rugi secara individual atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. Menurut (Fahmi, 2011) terdapat 5 (lima) tahapan yang dilakukan dalam menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum yaitu;

1. Melakukan review terhadap laporan keuangan

Pada tahap ini dilakukan penelusuran dan review pada laporan keuangan untuk memastikan apakah laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan standar yang berlaku umum dalam dunia akuntansi sehingga hasil dapat dipertanggung jawabkan.

2. Melakukan perhitungan penerapan metode

Tahapan ini dilakukan penyesuaian kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan tersebut akan

(19)

26

memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan analisis yang diinginkan.

3. Melakukan perbandingan terhadap hasil yang diperoleh

Adapun perbandingan yang dilakukan yaitu membandingkan kinerja keuangan perusahaan satu dengan lainnya, atau membandingan kinerja keuangan menurut periode perusahaan. Metode yang paling umum dipergunakan untuk perbandingan ini ada dua yaitu;

a. Time series analysis, yaitu membandingkan secara antar waktu atau antar periode, dengan tujuan itu nantinya akan terlihat secara grafik.

b. Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis yang dilakukan secara bersamaan.

4. Melakukan penafsiran terhadap permasalahan

berbagai permasalahan yang ditemukan pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan perusahaan adalah setelah dilakukan ketiga tahap tersebut selanjutnya dilakukan penafsiran untuk melihat apa-apa saja permasalahan dan kendala-kendala yang dialami perusahaan tersebut 5. Mencari dan memberikan pemecah masalah

permasalahan yang ditemukan pada tahap terakhir ini setelah ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi maka dicarikan

(20)

27

solusi guna memberikan suatu input atau masukan agar apa yang menjadi kendala dan hambatan selama ini dapat terselesaikan.

B.2.3. Metode Analisis Kinerja Keuangan

Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan yang melakukan akuisisi pada penelitian ini diukur menunggunakan 5 (lima) rasio keuangan yang meliputi rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, dan rasio likuiditas.

a. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio profitabilias menurut (Kasmir, 2014) menyatakan rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu. Rasio ini juga memberikan ukuran tingfkat efektivitas manajemen suatu perusahaan yang ditunjukkan dari laba yang dihasilkan dari pendapatan investasi. Rasio-rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Net Profit Margin, Return on Assets dan Return on Equity

b. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas merupakan rasio dari kondisi keuangan yang digunakan untuk menunjukkan besarnya hutang perusahaan dibanding dengan asset yang dimiliki perusahaan. Menurut (Kasmir, 2014) rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh

(21)

28

mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Semakin besar rasio ini mencerminkan bahwa perusahaan memiliki kewajiban yang semakin besar. Rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt to Equity Ratio dan Debt to Total Assets.

c. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif manajemen perusahaan mengelola aktivanya. Menurut (Kasmir, 2014) rasio aktivitas untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan atau rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari hari. Dengan kata lain rasio ini mengukur seberapa besar kecepatan aset-aset perusahaan dikelola dalam rangka menjalankan bisnisnya. Rasio aktivitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Total Assets Turnover (TATO)

d. Rasio Nilai Pasar

Rasio nilai pasar mengukur seberapa besar nilai pasar saham perusahaan dibanding dengan nilai buku. Menurut (IAI, 2012) Rasio yang memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor) atau para pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan nilai buku saham. rasio ini mengukur bagaimana nilai perusahaan saat ini dan dimasa yang akan datang dibandingkan dengan nilai perusahaan di masa lalu. Pada sudut pandang investor, apabila sebuah perusahaan memiliki nilai-nilai yang tinggi pada rasio ini maka semakin baik prospek

(22)

29

perusahaan (Nugroho dan Sofian, 2010). Rasio pasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah Earning Per Share

e. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang-hutang jangka pendek yang segera jatuh tempo. Menurut (Kasmir, 2014) rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Menurut (Hamungkasi dan Satrio, 2017) fungsi rasio ini untuk menunjukkan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Current Ratio (CR)

B.3. Return Saham

Menurut (Fahmi, 2011) saham merupakan tanda bukti penyertaan kepemilikan modal atau dana pada suatu perusahaan, kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegangnya, persediaan yang siap untuk dijual. Harga saham adalah nilai suatu saham yang mencerminkan kekayaan perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut, dimana perubahaan atau fluktuasinya sangat ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar bursa (Nurjannah, 2014). Sedangkan menurut (Jogiyanto, 2015) return saham didefinisikan sebagai perubahan

(23)

30

nilai antara periode t+1 dengan periode t ditambah pendapatan-pendapatan lain yang terjadi selama periode t tersebut. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi saham yang terdiri dari;

1). Yield, komponen return yang mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara periodik dari suatu investasi. Yield hanya berupa angka nol (0) dan positif (+).

2). Capital gain (loss, komponen return yang merupakan kenaikan (penurunan) harga suatu keuntungan (kerugian) bagi investor. Capital gain berupa angka minus (-), nol (0) dan positif (+). Secara sistematika return suatu investasi dapat ditulis sebagai berikut: Return total = yield + capital gain (lost).

B.3.1. Abnormal return

Menurut (Jogiyanto, 2015) abnormal return merupakan kelebihan dari imbal hasil yang sesungguhnya (actual return) terhadap imbal hasil normal. Imbal hasil normal merupakan imbal hasil ekspektasi (expected return) atau imbal hasil yang diharapkan oleh investor. Return ekspektasi adalah estimasi nilai investasi, termasuk perubahan harga dan pembayaran atau dividen, dihitung dari kurva distribusi probabilitas dari semua kemungkinan tingkat pengembalian (Widyaputra, 2006)

Dalam hal ini imbal hasil digambarkan sebagai keuntungan dari selisish tingkat pengembalian yang sesungguhnya atau kelebihan terhadap pengembalian normal. Selisih dari kedua return dapat berupa selisih positif

(24)

31

dan selisih negatif. Jika abnormal return positif maka actual return atau return yang sesungguhnya lebih besar dari return yang diharapkan oleh investor, begitu sebaliknya jika abnormal return bernilai negatif (Wistawan dan Widanaputra, 2013). Situasi ini akan mengakibatkan para investor tertarik untuk melakukan transaksi di sekitar periode pengumuman dengan harapan mendapatkan keuntungan di atas normal (Dewi dan Rahyuda, 2014) Untuk menghitung abnormal return terlebih dahulu mencari actual return dan expected return, adapun expected return menggunakan 3 (tiga) model diantaranya model yang disesuaikan dengan rata-rata (Mean Adjusted Model), model pasar (Market Model), model yang disesuaikan dengan pasar (Market Adjusted Model) menurut (Jogiyanto, 2000) dalam (Nilam dan Utomo, 2010)

i. Mean-adjusted Model

Model ini menganggap bahwa return ekspektasi bernilai konstan dan sama dengan rata-rata return realisasi sebelumnya pada periode estimasi. Dengan model rata-rata, return yang diharapkan dihitung dengan cara membagi return realisasi pada periode estimasi dengan lamanya periode estimasi.

ii. Market Model

Perhitungan return ekspektasi dengan model pasar ini dilakukan dengan dua tahap yaitu (1) membentuk model ekspektasi dengan data realisasi selama periode estimasi, dan (2) menggunakan model

(25)

32

ekspektasi ini untuk mengestimasi return ekspektasi selama periode window.

iii. Market-adjusted Model

Model ini menganggap bahwa penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return index pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan model ini tidak perlu menggunakan model pasar karena return saham-saham yang diestimasi adalah return index pasar.

B.3.2. Event Study

Studi peristiwa (event study) merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Studi Peristiwa (event study) merupakan metodologi yang ditemukan oleh Eugene Fama pada tahun 1969 yang tujuannya mengamati reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman (Wistawan dan Widanaputra, 2013). Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumuman dan dapat juga digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat (Jogiyanto, 2015). Menurut (Dewi dan Rahyuda, 2014) Event study merupakan sebuah penelitian yang menganalisis informasi yang telah dipublikasikan terhadap suatu peristiwa untuk pengumuman dari harga sekuritas. Apabila pengumuman mengandung informasi, maka pasar

(26)

33

diharapkan akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar (Chadilla, 2014).

C. Perumusan Hipotesis C. 1 Kerangka Konseptual

Akuisisi merupakan salah satu langkah yang ditempuh oleh perusahaan dengan tujuan investasi, efisiensi, dan ekspansi bisnis yang dimana perusahaan mengambil alih perusahaan lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keputusan perusahaan akuisitor dalam melakukan akuisisi dengan melihat perbandingan kinerja dan abnormal return sebelum dan sesudah dilakukan akuisisi. Setelah dilakukan akuisisi terdapat beberapa kemungkinan perubahan yang terjadi pada kinerja keuangan yang tercermin dalam rasio keuangan perusahaan. Penilaian kinerja pada penelitian ini menggunakan beberapa rasio seperti: rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio pasar, dan rasio likuiditas yang disesuaikan dengan penelitian terdahulu dan mencerminkan perbedaan sebelum dan sesudah akuisisi.

Keputusan akuisisi mempunyai pengaruh yang besar dalam memperbaiki kondisi perusahaan, peningkatan kinerja perusahaan, terutama penampilan financial perusahaan serta peningkatan kondisi dan posisi keuangan yang mengalami perubahan (Nilam dan Utomo, 2010).

Disamping itu dampak dari pengunguman akuisisi mendatangkan reaksi positif dari pasar dan berimbas pada naiknya permintaan saham.

(Widyaputra, 2006) mengatakan dengan naiknya permintaan saham akan

(27)

34

berpengaruh pada naiknya harga saham perusahaan di pasar modal dan nilai perusahaan (value of the firm) semakin meningkat yang pada akhirnya kinerja perusahaan juga meningkat. Dari beberapa uraian pemikiran diatas maka disederhanakan dalam bentuk kerangka konseptual sebagai berikut;

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Perusahaan Akuisitor

Sebelum Akuisisi Sesudah Akuisisi

Kinerja Keuangan

Net profit Margin (NPM), Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Debt to Equity (DER), Total Asset Turn Over (TATO), Earnings per Share (EPS), Current Ratio (CR)

Kinerja Keuangan

Net profit Margin (NPM), Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Debt to Equity (DER), Total Asset Turn Over (TATO), Earnings per Share (EPS), Current Ratio (CR)

Abnormal Return Abnormal Return

Sebelum Akuisisi Sesudah Akuisisi Perusahaan

Akuisitor

(28)

35 C. 2 Hipotesis

Hipotesis merupakan upaya mengungkapkan beberapa pernyataan dengan berbagai kemungkinan terhadap teori yang sudah ada diformulasikan sedemikian rupa dan diuji kebenarannya secara empiris (Ulum dan Juanda, 2016). Kegiatan akuisisi secara langsung berimbas pada pertambahan ukuran perusahaan dilihat dari aset, kewajiban, dan ekuitas perusahan yang telah tergabung menjadi satu kesatuan. Kinerja perusahaan setelah melakukan akuisisi seharusnya semakin baik dikarenakan ukuran perusahaan yang bertambah besar menghasilkan sinergi operasi yang lebih baik dan meningkatkan pendapatan. Analisis perbandingan kinerja keuangan dan abnormal return sebelum dan sesudah akuisisi berpacu pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Sihombing dan KAMAL, 2016) yang menunjukan hasil analisis perbandingan yang menunjukan perbedaan antara sebelum dan sesudah akuisisi.

Berdasarkan tinjauan pustaka, teori, dan beberapa penelitian terdahulu maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

H1 : Net Profit Margin berbeda antara sebelum dan sesudah akuisisi.

H2 : Return on Asset Ratio berbeda antara sebelum dan sesudah akuisisi.

H3 : Return on Equity Ratio berbeda antara sebelum dan sesudah akuisisi.

H4 : Debt to Equity Ratio berbeda antara sebelum dan sesudah akusisi.

H5 : Debt to Total Asset Ratio berbeda antara sebelum dan sesudah akuisisi.

H6 : Total Asset Turn Over Ratio berbeda antara sebelum dan sesudah akuisisi.

(29)

36

H7 : Earnings per Share berbeda antara sebelum dan sesudah akuisisi.

H8 : Current Ratio berbeda antara sebelum dan sesudah akuisisi.

H9 : Abnormal return berbeda antara sebelum dan sesudah akuisisi

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian normatif seringkali disebut sebagai penelitian yang objek kajiannya adalah dokumen perundang-undangan dan juga bahan-bahan kepustakaan, 12 untuk itu dalam

Minat beli ulang adalah perilaku pelanggan dimana pelanggan merespon postitif terhadap suatu produk atau jasadari suatu perusahaan dan berniat mengkonsumsi kembali

(2) Tarif jasa layanan di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam kontrak kerja sama antara

Eratnya keterkaitan lahan dengan kegiatan pertanian menyebabkan upaya perbaikan kesejahteraan petani tidak cukup hanya melalui perbaikan teknologi dan kelembagaan yang terkait

Dilaksanakan untuk pekerjaan jasa konsultansi (dengan nilai pekerjaan ≤ Rp200.000.000,00) yang lingkup, keluaran (output), waktu penugasan dan hal-hal lain

Pada pukul 10.00 WIB P datang ke kantor Yayasan Solopeduli untuk bertemu dengan Bapak Lutfi Hidayat, setelahnya bertemu dengan pengurus selaku Manager program

Dengan telah dilakukannya penelitian tentang pengaruh non performing financing dan financing to deposit ratio terhadap profitabilitas dengan Capital Adequacy Ratio

Perlakuan ekstrak daun ketapang, mahoni, dan kerai payung pada penelitian ini tidak berpengaruh secara nyata terhadap penghambatan berat kering dan kandungan