ABSTRAK
PT Micro Garment sebagai objek penelitian penulis merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pakaian jadi (garmen), yang memusatkan seluruh kegiatannya untuk memproduksi pakaian rajut. Produksi dilakukan berdasarkan pesanan, dimana tiap pesanan memiliki spesifikasi yang berbeda, baik dalam jumlah, ukuran maupun modelnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cara perusahaan dalam menghitung harga pokok produk dan untuk mengaplikasikan penerapan Job Order Costing dalam perusahaan. Metoda akumulasi biaya pesanan merupakan suatu metoda pengumpulan biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang memproduksi barang sesuai dengan spesifikasi pesanan dari pelanggan.
Perbedaan perhitungan biaya produksi yang ditetapkan perusahaan dibandingkan dengan yang diusulkan penulis menyebabkan selisih undercosted. Biaya produksi per unit yang ditetapkan perusahaan untuk produk KA-V-12 GG yaitu sebesar Rp 42.901,90 dan untuk KA-JDL-12 GG yaitu sebesar Rp 39.155,53 sedangkan yang diusulkan oleh penulis untuk KA-V-12 GG sebesar Rp 45.746,04 dan untuk KA-JDL-12 GG sebesar Rp 39.428,23. Hal ini dikarenakan dalam menghitung biaya produksinya perusahaan menetapkan biaya konversi sebesar 27,5% dari biaya bahan baku langsung, biaya operasi ditetapkan sebesar 10% dari biaya bahan baku langsung. Sedangkan pada pendekatan pengkosan pekerjaan (job-order costing), biaya-biaya yang dikonsumsi oleh tiap pesanannya dihitung menggunakan dasar alokasi yaitu jumlah unit yang diproduksi, jam kerja mesin, dan jam kerja bagian produksi.
Penghitungan biaya produksi dengan pendekatan pengkosan pekerjaan (job order costing) diterapkan pada perusahaan dengan mengelompokkan semua biaya termasuk dalam biaya produksi (biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya produksi tidak langsung). Untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung dapat ditelusuri secara langsung pada tiap pesanan. Sedangkan untuk biaya produksi tidak langsung dikelompokkan menjadi tiga pool dan dialokasikan pada tiap pesanan dengan menggunakan tiga dasar alokasi yaitu jumlah unit yang diproduksi, jam kerja mesin, dan jam kerja bagian produksi. Selain biaya produksi, biaya operasi (biaya pemasaran dan administrasi & umum) juga dibebankan pada tiap pesanan berdasarkan jumlah unit yang diproduksi. Biaya produksi dan biaya operasi digabungkan menjadi biaya produksi yang digunakan untuk menentukan harga pokok produk.
2.2.2 Unsur-unsur Biaya Produksi...
BAB III OBJEK DAN METODA PENELITIAN………...
3.2.1 Metoda penelitian yang digunakan...
3.2.2 Teknik Pengumpulan Data...
3.2.3 Analisis Data dan Langkah-langkah Penelitian...
3.2.3.1 Analisis Data...
3.2.3.2 Langkah-langkah Penelitian...
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...
4.1 Gambaran Umum Kegiatan Perusahaan...
Pengkosan Pekerjaan( Job Order Costing)...
4.3.2.1 Perhitungan Biaya Bahan Baku...
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Rerangka Pemikiran...
Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT Micro Garment...
Gambar 3.2 Proses Produksi Kegiatan Garmen... 11
68
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Tahapan Waktu Penyelesaian Penelitian...
Tabel 4.1 Pengelompokkan biaya menurut Perusahaan...
Tabel 4.2 Pengelompokan biaya berdasarkan fungsi operasi...
Tabel 4.3 Perhitungan Biaya Produksi Produk KA-V-12 GG
Menurut Perusahaan...
Tabel 4.4 Perhitungan Biaya Produksi Produk KA-JDL-12 GG
Menurut Perusahaan...
Tabel 4.5 Perhitungan Biaya Bahan Baku...
Tabel 4.6 Total Biaya Bahan Baku...
Tabel 4.7 Perhitungan Biaya Bahan Baku Produk KA-V-12 GG...
Tabel 4.8 Perhitungan Biaya Bahan Baku Produk KA-JDL-12 GG... .
Tabel 4.9 Perhitungan Biaya Tenaga kerja Produksi Langsung
Produk KA-V-12 GG...
Tabel 4.10 Perhitungan Biaya Tenaga kerja Produksi Langsung
Produk KA-JDL -12 GG...
Tabel 4.11 Pengelompokkan Biaya Produksi Tidak Langsung...
Tabel 4.12 Pembebanan Biaya dengan Dasar Alokasi Jam Kerja
Bagian Produksi...
Tabel 4.13 Pembebanan Biaya dengan Dasar Alokasi Jam Kerja Mesin ...
Tabel 4.14 Pembebanan Biaya dengan Dasar Alokasi Jumlah Unit Yang diproduksi...
Tabel 4.15 Pembebanan Biaya Overhead dengan Dasar Alokasi...
Tabel 4.17 Perhitungan Biaya Produksi Tiap Pesanan...
Tabel 4.18 Perhitungan Biaya Produksi Menurut Perusahaan...
Tabel 4.19 Perhitungan Biaya Produksi Menurut Perhitungan...
Tabel 4.20 Pembebanan Biaya Operasi...
Tabel 4.21 Perbandingan Biaya Produksi...
Tabel 5.1 Perbandingan Biaya Produksi... 111
112
113
114
116
Bab I Pendahuluan 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Penelitian
Kelancaran dan keberhasilan suatu perusahaan bergantung pada kemampuan
manajemen dalam mengambil keputusan. Agar operasi perusahaan dapat berjalan
dengan baik, maka manajemen memerlukan informasi yang dapat dipercaya
sebagai dasar pengambilan keputusan. Sejalan dengan semakin berkembangnya
volume perusahaan, maka manajemen dituntut untuk mampu mengatasi aneka
ragam masalah yang dihadapi.
Suatu manajemen yang baik tidak hanya mampu menjalankan fungsi-fungsi
manajerial, tetapi juga dituntut untuk mampu menghasilkan keputusan yang tepat.
Oleh karena itu, untuk mendapat keputusan yang tepat, manajer harus mampu
mengukur dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam
organisasinya.
Semakin berkembangnya suatu perusahaan yang diiringi dengan semakin
kompleksnya aktivitas yang dijalankan akan menuntut adanya pelaksanaan
aktivitas yang efektif dan efisien. Hal ini mengingat para manajer tidak dapat lagi
memonitor secara langsung aktivitas yang dijalankan oleh para bawahannya.
Namun di lain pihak, perusahaan harus mampu menghasilkan produk yang
berkualitas baik dengan harga jual yang wajar, sehingga produk yang dihasilkan
dapat bersaing di pasaran. Dalam keadaan ini perusahaan harus membuat suatu
Bab I Pendahuluan 2
untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu mendapatkan laba, atau jika terjadi
kerugian maka diusahakan kerugian tersebut dapat ditekan seminimal mungkin.
Persaingan yang cukup ketat ini memerlukan usaha untuk dapat
mempertahankan dan merebut pangsa pasar. Salah satu faktor yang harus
diperhatikan manajemen untuk dapat bertahan dan berkembang dalam industrinya
adalah dengan memperhatikan keinginan konsumen. Produk yang ditawarkan
kepada konsumen harus memiliki kualitas yang baik dan tentunya dengan harga
yang dapat dijangkau oleh konsumen. Untuk dapat menetapkan harga yang dapat
bersaing dan terjangkau oleh konsumen, manajemen harus melakukan perhitungan
yang akurat atas biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan proses produksi
barang tersebut. Manajemen harus mempunyai sistem penghitungan biaya yang
dapat menghasilkan informasi biaya yang relevan dalam proses penetapan harga
pokok produk.
Biaya yang telah dikeluarkan untuk suatu produk dapat diartikan sebagai
harga pokok dari produk itu sendiri. Dalam perusahaan industri yang
menghasilkan produk atas dasar pesanan, maka pengendalian produknya dapat
dilakukan dengan membandingkan antara standar cost dengan actual cost.
Pada perusahaan manufaktur, biaya produksi merupakan elemen biaya yang
penting. Maka perhitungan biaya produksi perlu dilakukan secara akurat.
Perhitungan biaya produksi akan tepat jika prosedur akumulasi biaya yang
digunakan juga tepat. Prosedur akumulasi biaya terdiri atas Process Costing, Job
Order Costing dan Operation Costing. Prosedur akumulasi biaya ini yang
Bab I Pendahuluan 3
Metode akumulasi biaya pesanan merupakan suatu metode pengumpulan
biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang memproduksi barang sesuai
dengan spesifikasi pesanan dari pelanggan. Pengertian Job Costing System
menurut Atkinson, Banker, Kaplan, dan Young (2001: 114) adalah:
“A job order costing system estimates the costs of manufacturing products for different jobs required for specific customer orders. It is applicable in organizations that treat each individual job as a single unit of output.”
Horngren, Foster dan Datar (2003: 98) mendefinisikan job order costing
sebagai berikut:
“...in this system, costs are assigned to a distinct unit, batch, or lot of product or service. A job is a task for which resources are expanded in bringing a distinct product or service to market. The product or service is often custom made such as an audit by accounting firm.”
Sedangkan menurut Horngren, Sundem dan Stratton (2002: 528), job order
costing adalah:
“Job order costing (or simply job costing) allocates costs to product that are readily identified by individual unit or batches, each of which requires varying degrees of attention and skill.”
Jadi, dapat disimpulkan bahwa metode akumulasi biaya pesanan ini
digunakan oleh perusahaan yang proses produksinya berdasarkan pesanan dan
produk yang dihasilkan sesuai dengan permintaan konsumen. Dimana setiap
pesanan memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik pada proses produksinya
maupun pada produk jadinya, maka biaya produksi antara satu pesanan dengan
pesanan lainnya dapat ditelusuri dan dibebankan pada setiap pesanan.
Prosedur akumulasi biaya yang digunakan untuk menghitung harga pokok
Bab I Pendahuluan 4
Job Order Costing method. Menurut kalkulasi biaya pesanan, biaya-biaya
diakumulasikan oleh barang pesanan atau barang atas spesifikasi pelanggan.
Metode ini digunakan pada saat produk yang dihasilkan dalam sebuah departemen
atau pusat biaya beraneka ragam, dan hal ini mensyaratkan kemungkinan
mengidentifikasikan secara fisik barang yang diproduksi dan membebankan
masing-masing barang dengan biayanya sendiri.
Untuk mencatat biaya-biaya yang timbul diperlukan adanya kartu-kartu
biaya untuk masing-masing produk yang dikenal dengan Job Order Cost Sheet
(Kartu Harga Pokok Pesanan). Kartu-kartu ini merupakan catatan tambahan yang
dikendalikan oleh perkiraan barang dalam proses yang harus ditangani secara
cermat untuk menghindari kesalahan dalam menghitung harga pokok
produksinya. Menurut Mulyadi (1999: 40-41), karakteristik perusahaan yang
produknya berdasarkan pesanan adalah sebagai berikut:
1. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus. Jika pesanan yang
satu selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan, kemudian mulai
dengan pesanan berikutnya.
2. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh
pemesan. Dengan demikian pesanan yang satu dapat berbeda dengan
pesanan yang lain.
3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi
persediaan di gudang.
Sedangkan karakteristik metode akumulasi biaya pesanan menurut Mulyadi
Bab I Pendahuluan 5
1. Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan
spesifikasi pemesan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok
produknya secara individual.
2. Biaya produksi harus digolongkan berdasarkan hubungannya dengan
produk menjadi dua kelompok berikut ini: biaya produksi langsung dan
biaya produksi tidak langsung.
3. Biaya produksi langsung terdiri dari bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung disebut dengan istilah
biaya overhead pabrik.
4. Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai harga pokok produk
pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan
biaya overhead pabrik diperhitungkan ke dalam harga pokok pesanan
berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.
Menyadari pentingnya perhitungan harga pokok bagi manajemen, maka
penulis tertarik untuk melakukan penelitian atas pembebanan unsur-unsur harga
pokok ke dalam setiap produk pesanan dengan menggunakan Job Order Costing
Method, sehingga dapat dihitung harga pokok produk dari setiap pesanan yang
dihasilkan. Adapun perusahaan yang penulis teliti merupakan perusahaan yang
bergerak di bidang garmen. PT Micro Garment melakukan proses produksinya
berdasarkan pesanan. Produk yang dihasilkan oleh PT Micro Garment yaitu
misalnya girl sweater dengan zipper dan slim cardigan dengan hood, maka
Bab I Pendahuluan 6
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka penulis merasa tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai penerapan metoda harga pokok pesanan dalam
menentukan harga pokok produk dengan mengambil judul: “PENDEKATAN
JOB ORDER COSTING METHOD DALAM MENENTUKAN HARGA
POKOK PRODUK (Studi Kasus Pada PT Micro Garment)”
1.2Identifikasi Masalah
Biaya produksi merupakan salah satu unsur penting dalam penetapan harga jual.
Oleh karena itu sangat diperlukan informasi yang tepat dan untuk memperoleh
informasi yang tepat perlu sistem akumulasi biaya produksi yang tepat. Sistem
akumulasi biaya yang akan digunakan bergantung pada karakteristik proses
produksi perusahaan. Pada PT Micro Garment yang menghasilkan produk yang
beragam sesuai pesanan dari pelanggan maka sistem akumulasi biaya yang paling
tepat adalah Job Order Costing. Berdasarkan uraian masalah tersebut, maka dapat
diidentifikasikan pokok-pokok masalahnya yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana perusahaan menghitung harga pokok produknya?
2. Bagaimana metoda Job Order Costing diterapkan dalam perusahaan?
1.3Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan cara perusahaan dalam menghitung harga pokok
produk.
Bab I Pendahuluan 7
1.4Kegunaan Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian ini, maka diharapkan akan diperoleh manfaat
bagi penulis sendiri maupun bagi perusahaan yang bersangkutan serta bagi para
pembaca. Adapun manfaat atau kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini berguna sebagai input berupa
informasi dalam menetapkan harga pokok produknya berdasarkan Job
Order Costing method yang diharapkan pula akan memudahkan
manajemen dalam mengendalikan biaya produksi dan menetapkan harga
jual di masa yang akan datang.
2. Bagi penulis, hasil dari penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan
dan mempraktekkan teori secara nyata khususnya untuk mengetahui secara
pasti sampai sejauh mana peranan Job Order Costing method berguna
dalam menetapkan harga pokok produk atas dasar pesanan.
3. Bagi pihak-pihak lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
untuk melakukan penelitian lebih mendalam.
1.5Rerangka Pemikiran
Tujuan perusahaan yaitu mendapatkan laba yang optimal, agar perusahaan dapat
bertahan hidup dan mengembangkan usahanya. Namun dengan kondisi persaingan
yang semakin ketat, usaha untuk mendapat laba menjadi lebih sulit. Oleh karena
itu, untuk memenangkan persaingan usaha, manajemen harus mampu membuat
Bab I Pendahuluan 8
manajemen mendapat informasi yang cukup, relevan dan tepat waktu. Informasi
ini bisa didapat baik dari dalam maupun luar perusahaan.
Dalam mengelola informasi tersebut, manajemen menggunakan Akuntansi
Biaya sebagai alat bantu untuk perencanaan dan pengendalian biaya sehingga
jalannya operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Akuntansi Biaya merupakan
alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis
serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya
(Supriyono, 1999: 12).
Pada perusahaan manufaktur, biaya produksi merupakan elemen biaya yang
penting. Maka perhitungan biaya produksi perlu dilakukan secara akurat.
Akuntansi Biaya dalam Akuntansi Manajemen berfungsi memberikan informasi
mengenai taksiran biaya yang akan terjadi dan yang sedang terjadi agar
manajemen dapat segera bertindak jika terjadi penyimpangan. Oleh karena itu,
informasi biaya yang diungkapkan pada pihak luar dan informasi biaya yang
akurat dan relevan dengan keputusan tertentu merupakan informasi yang penting
bagi manajemen untuk pengambilan keputusan perencanaan dan pengendalian
(Bambang Hariadi, 2002: 14). Perhitungan biaya produksi akan tepat jika
prosedur akumulasi biaya yang digunakan juga tepat. Prosedur akumulasi biaya
terdiri atas Process Costing, Job Order Costing dan Operation Costing. Prosedur
akumulasi biaya ini yang digunakan bergantung pada proses produksi yang
dilakukan oleh perusahaan tersebut (Mulyadi, 2000: 40).
PT Micro Garment merupakan perusahaan yang menghasilkan produknya
Bab I Pendahuluan 9
produksi terhadap pesanan tertentu, oleh karena itu prosedur akumulasi biaya
yang tepat digunakan adalah Job Order Costing. Horngren, Foster dan Datar
(2003: 98) mendefinisikan job order costing sebagai berikut:
“...in this system, costs are assigned to a distinct unit, batch, or lot of product or service. A job is a task for which resources are expanded in bringing a distinct product or service to market. The product or service is often custom made such as an audit by accounting firm.”
Dalam Job Order Costing, biaya produksi dikumpulkan untuk suatu pesanan
tertentu dan kemudian harga pokok produk yang dihasilkan dihitung dengan cara
membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan
produk yang dipesan. Metoda ini biasanya digunakan oleh perusahaan yang
berproduksi berdasarkan pesanan dan menghasilkan produk yang berbeda-beda.
(Mulyadi, 2000: 18).
Departemen produksi melaksanakan kegiatan produksi dengan menetapkan
objek kos terlebih dahulu, yaitu menetapkan produk apa yang akan dihasilkan
oleh perusahaan sehingga kelak dapat dihitung kos produksinya. Objek kos yang
menjadi pusat perhatian manajemen dan dilekatkan pada kos, biasanya menjadi
basis klasifikasi kos.
Biaya produksi ini terdiri dari biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak
langsung (indirect cost). Biaya langsung merupakan biaya yang terjadi akibat
adanya sesuatu yang dibiayai, terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung. Sebaliknya, biaya tidak langsung merupakan biaya yang terjadi tidak
harus disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai dan terdiri atas biaya overhead
Bab I Pendahuluan 10
yang dimasukkan dalam produksi, sedangkan biaya tenaga kerja langsung
merupakan biaya yang melekat pada atau berkaitan dengan tenaga kerja langsung.
Biaya overhead pabrik merupakan jumlah rupiah yang melekat pada fasilitas fisik
dan penunjang dalam memproduksi barang (Mulyadi, 2000: 14-16).
Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung ditentukan dengan
menghitung biaya yang sesungguhnya terjadi sedangkan biaya overhead pabrik
ditentukan dengan membebankan produk atau pekerjaan (job) pada suatu tarif
overhead, dimana pembebanannya biasanya ditentukan dengan mengalikan tarif
tersebut dengan jumlah produk yang dihasilkan.
Bon permintaan barang atau formulir permintaan barang (material
requisition) merupakan media untuk merunut aliran fisik dan biaya material yang
masuk proses pada saat terjadinya. Bila bagian produksi memerlukan barang,
pegawai bagian produksi akan menyiapkan formulir permintaan barang tersebut
rangkap tiga dan setelah ditandatangani oleh yang berwenang, formulir tersebut
dibawa ke gudang barang untuk mengeluarkan barang yang dibutuhkan.
Barang-barang yang diperlukan ini akan dihitung sebagai biaya bahan baku. Dalam
menentukan biaya tenaga kerja langsung, kartu jam pekerjaan dapat dihitung dan
dibebankan pada biaya produksi.
Tarif overhead ditentukan dengan cara membagi biaya taksiran total dengan
perata atau denominator yang merefleksikan tingkat penyerapan overhead. Perata
tersebut dikenal dengan istilah cost driver, yang digunakan sebagai dasar dari
alokasi biaya overhead yang akan dialokasikan. Dasar alokasi biaya yang dapat
Bab I Pendahuluan 11
jumlah mesin tenaga kerja, rupiah bahan baku, volume produksi, rupiah tenaga
kerja langsung. Taksiran overhead maupun tingkat aktivitas dapat didasarkan atas
data anggaran perusahaan dan pengalaman kegiatan sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk memilih PT Micro
Garment sebagai objek penelitian dalam penyusunan skripsi yang berjudul
”PENDEKATAN JOB ORDER COSTING METHOD DALAM
MENENTUKAN HARGA POKOK PRODUK (Studi Kasus Pada PT Micro Garment)”
Secara garis besar penerapan Job Order Costing dapat dijelaskan dalam
gambar berikut di bawah ini.
Gambar 1.1 Rerangka Pemikiran
Pembebanan = Tarif x Dasar Alokasi Biaya Tidak Langsung Biaya Langsung
Tarif Biaya Overhead = Biaya Taksiran Total Overhead Total Taksiran Dasar Alokasi Biaya
Tenaga Kerja Langsung Bahan Baku
Langsung
Bab I Pendahuluan 12
1.6 Metoda Penelitian
Metoda penelitian yang digunakan adalah metoda deskriptif analisis yang
bertujuan untuk menggambarkan objek penelitian sebenarnya dengan penelitian
lapangan (Field Research) dan penelitian kepustakaan (Library Research) guna
mengumpulkan data yang relevan dan kemudian disusun, diolah, dipelajari, dan
dianalisis lebih lanjut.
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Yaitu penelitian dengan mengadakan penelitian langsung ke perusahaan
yang dipilih sebagai objek penelitian dengan cara melakukan wawancara
langsung dengan pimpinan perusahaan dan staf perusahaan yang diberi
wewenang untuk memberikan keterangan sehubungan dengan data yang
diperlukan dalam penyusunan skripsi.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Yaitu penelitian dengan membaca literatur baik berupa buku-buku teks
maupun dokumen atau bahan-bahan lain yang dapat digunakan dalam
penyusunan skripsi.
1.7Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada PT Micro Garment, sebuah perusahaan pakaian jadi
yang berlokasi di daerah Majalaya dengan waktu penelitian yang dimulai pada
bulan Maret 2008 sampai dengan selesai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Bab I Pendahuluan 13
Tabel 1.1
Tahapan Waktu Penyelesaian Penelitian
No Kegiatan Feb Mar Apr Mei Juni Juli
1 Briefing Skripsi
2 Mengajukan proposal skripsi 3 Mengajukan permohonan
mengadakan penelitian kepada perusahaan dan dosen
pembimbing
4 Menetapkan kegunaan, latar belakang penelitian dan rerangka pemikiran
5 Menentukan tujuan penelitian, masalah yang akan diidentifikasi, dan analisis data yang akan digunakan dalam mengolah data 6 Mengidentifikasi sistem biaya
yang dianut perusahaan
7 Mengumpulkan data sejarah, struktur organisasi, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perusahaan serta teori-teori yang berhubungan dengan penelitian 8 Mengumpulkan data-data yang
Bab V Kesimpulan dan Saran
120
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada PT Micro
Garment, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Perhitungan yang dilakukan perusahaan dalam menentukan harga pokok
produk, perusahaan mengakumulasikan biaya bahan baku langsung, biaya
konversi dan biaya operasi. Biaya bahan baku langsung terdiri dari biaya
bahan baku dan biaya bahan pembantu, dimana biaya bahan pembantu
ditetapkan sebesar 7,5% dari biaya bahan baku. Untuk biaya konversi
ditetapkan sebesar 27,5% dari biaya bahan baku langsung, sedangkan
biaya operasi ditetapkan sebesar 10% dari biaya bahan baku langsung.
Perbandingan biaya produksi yang ditetapkan perusahaan dan menurut
penulis (job order costing) dapat dilihat pada tabel 5.1.
2. Dengan menggunakan metode job order costing (pengkosan pekerjaan)
dalam menghitung biaya produksi memiliki manfaat yaitu jika pekerjaan
pesanan menghasilkan sejumlah persediaan yang spesifik, maka metode
biaya produk pesanan dapat digunakan untuk menghitung biaya per unit
produk dalam rangka kalkulasi harga pokok persediaan. Selain itu, jika
pekerjaan dilaksanakan atas dasar spesifikasi dari pelanggan, maka metode
job order costing (pengkosan pekerjaan) dapat digunakan untuk
Bab V Kesimpulan dan Saran
121
diketahui sepanjang proses produksi, maka biaya ini dapat dibandingkan
dengan taksiran yang telah dibuat ketika pesanan tersebut diterima.
Dengan demikian metode pengkosan pekerjaan memberi kemungkinan
untuk mengendalikan biaya
3. Dari hasil perbandingan antara biaya produksi yang dihitung oleh
perusahaan dan yang diusulkan oleh penulis dengan menggunakan
pendekatan pengkosan pekerjaan (job-order costing), terdapat selisih
undercosted. Biaya produksi per unit yang ditetapkan perusahaan untuk
produk KA-V-12 GG yaitu sebesar Rp 42.901,90 dan yang diusulkan oleh
penulis sebesar Rp 45.746,04. Jadi terdapat undercosted sebesar Rp
2.844,14 sedangkan untuk produk KA-JDL-12 GG, biaya produksi per
unit yang ditetapkan perusahaan yaitu sebesar Rp 39.155,53 dan yang
diusulkan penulis yaitu sebesar Rp 39.428,23. Jadi terdapat undercosted
sebesar Rp 272,70. Selisih ini didapat, karena dalam menghitung biaya
produksinya perusahaan menggunakan cara alokasi yaitu dengan
menetapkan biaya konversi sebesar 27,5% dari biaya bahan baku
langsung, biaya operasi ditetapkan sebesar 10% dari biaya bahan baku
langsung. Alokasi menghasilkan pembebanan biaya yang tidak akurat,
karena cara pembebanan ini menggunakan basis yang bersifat taksiran.
Sedangkan pada pendekatan pengkosan pekerjaan (job-order costing),
biaya-biaya yang dikonsumsi oleh tiap pesanannya dihitung menggunakan
dasar alokasi yaitu jumlah unit yang diproduksi, jam kerja mesin, dan jam
Bab V Kesimpulan dan Saran
122
pendekatan pengkosan pekerjaan (job-order costing) lebih akurat
dibandingkan perhitungan yang dilakukan perusahaan. Kelebihan
perhitungan biaya produksi dengan metode job order costing yaitu karena
dengan cara driver tracing menghasilkan pembebanan biaya yang akurat,
karena pembebanan biaya ini menggunakan basis yang mencerminkan
hubungan sebab-akibat antara sumber daya dengan aktivitas.
Dengan informasi biaya yang akurat¸ maka perusahaan dapat mengambil
keputusan yang tepat. Terutama keputusan yang menyangkut keputusan
penetapan harga jual karena sangat mempengaruhi pendapatan dan
kelangsungan hidup perusahaan.
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mencoba untuk memberikan beberapa
saran yang diharapkan dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi perusahaan.
Adapun saran yang penulis ajukan adalah sebagai berikut :
1. Untuk pengelompokkan biaya produksi, sebaiknya biaya-biaya yang
berkaitan dengan kegiatan produksi dikelompokkan ke dalam biaya
produksi. Contohnya untuk biaya penyusutan mesin, sebaiknya
dikelompokkan dalam biaya produksi tidak langsung (biaya overhead)
karena manfaatnya digunakan oleh bagian produksi. Dan yang berkaitan
dengan kantor serta biaya-biaya digunakan oleh kantor, diklasifikasikan
ke dalam biaya operasi. Biaya operasi pun diklasifikasikan lagi menjadi
Bab V Kesimpulan dan Saran
123
pengelompokkan biaya yang jelas, perusahaan dapat mengetahui
biaya apa saja yang membutuhkan pengendalian, atau menekan
biaya-biaya yang terlalu besar.
2. Dalam melakukan perhitungan biaya produksi untuk keputusan penetapan
harga pokok produknya, sebaiknya perusahaan mengakumulasikan biaya
bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya produksi
tidak langsung untuk tiap pesanannya. Kemudian mengalokasikan biaya
operasi untuk menghitung biaya produksinya. Untuk biaya produksi tidak
langsung sebaiknya dialokasikan menggunakan dasar alokasi yang sesuai
untuk setiap jenis biaya, lalu mengelompokkan ke dalam pool-pool yang
homogen dan menghitung tarif per pool. Biaya produksi tidak langsung
dibebankan dengan mengalikan besarnya tarif tiap cost pool dengan
jumlah dasar alokasi yang dikonsumsi tiap pesanan. Perhitungan seperti ini
akan menghasilkan perhitungan yang lebih akurat.
Untuk pesanan selanjutnya, sebaiknya perusahaan menggunakan
perhitungan biaya produksi dengan pendekatan pengkosan pekerjaan (job
order costing) yang diusulkan penulis sebagai dasar penetapan harga
pokok produk karena dengan perhitungan biaya produksi tersebut yaitu
dengan cara driver tracing menghasilkan pembebanan biaya yang akurat,
karena pembebanan biaya ini menggunakan basis yang mencerminkan
Bab V Kesimpulan dan Saran
124
Tabel 5.1 PT Micro Garment
Tahun 2007
Perbandingan Biaya Produksi (dalam satuan Rupiah)
Jumlah Biaya produksi Selisih Biaya produksi per unit Selisih produk Perusahaan Diusulkan Overcosted Perusahaan Diusulkan Overcosted (unit) Tabel 4.17. Tabel 4.19 (Undercosted) Tabel 4.17. Tabel 4.19. (Undercosted)
[2] - [3] [5] - [6]
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]
KA-V-12
GG 115,584 4,958,773,688 4,958,889,272
-115,584
42,901.90
45,746.04 -2,844.14
KA-JDL-12 GG 71,568 2,802,282,615
2,802,354,183
-71,568
39,155.53
39,428.23 -272.70 TOTAL 187,152 7,761,056,303 7,761,243,455 -187,152 82,057.43 85,174.27 -3,116.84
DAFTAR PUSTAKA
1. Atkinson, A.A., Rajiv D. Banker, Robert D. Kaplan, and Mark S. Young.
2001. 3th edition. Management Accounting. Upper Saddle River, New
Jersey: Prentice Hall International, Inc.
2. Garrison, Ray H., Eric W. Noreen. 2003. Managerial Accounting. 10
th
edition. Boston: Irwin / Mc. Graw-Hill Co.
3. Hammer, L.H, William K. Carter, and Milton F. Usry. 2002. 13th edition.
Cost Accounting. Cincinnati, Ohio: Dame, a division of Thompson
Learning.
4. Hansen, Don. R dan Maryanne M. Mowen. 2003. 6th edition. Management
Accounting. Cincinnati, South Western Ohio: Thompson Learning.
5. Hansen, Don. R dan Maryanne M. Mowen. 2006. Akuntansi Manajemen.
Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.
6. Hilton, Ronald W. 2002. 5th edition. Managerial Accounting. Boston:
Irwin Mc. Graw. Hill Inc.
7. Horngren, Charles T., Gary L. Sundem, and William O. Stratton. 2002.
12
th
edition. Introduction to Management Accounting. New Jersey:
Prentice- Hall, International Inc.
8. Horngren, Charles T., George Foster, and Srikant M. Datar. 2003. Cost
Accounting: A Managerial Emphasis. 11th edition. New Jersey: Prentice-
Hall, International Inc.
9. IAI. 2000. Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Jakarta: Salemba Empat.
10.Kotler, Phillip. 2003.11th edition. Marketing Management. Upper Saddle
River, New Jersey: Prentice Hall International, Inc.
11.Matz, Adolph., Milton F. Usry, dan Lawrence H. Hammer. 1995.
Akuntansi Biaya: Perencanaan dan pengendalian. Jakarta: Penerbit
12.Mulyadi. 2000. Akuntansi Biaya. Yogyakarta: Aditya Media.
13.Polimeni, Ralph S., James A. Cashin. 1986. Akuntansi Biaya. Jilid 1.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
14.Polimeni, Ralph S., Frank G. Sabozzi, and Arthur H. Adelberg. 1986. Cost
Accounting: Concepts and Application for Managerial Decision Making.
New York: Mc Graw-Hill Co.
15.Suwardjono. 1989. Teori Akuntansi. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE
Yogyakarta.
16.Suwardjono. 2002. Akuntansi Pengantar. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE