1
BUPATI MANGGARAI
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
SALINAN
PERATURAN BUPATI MANGGARAI NOMOR 45 TAHUN 2018
TENTANG
STANDAR PELAYANAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU SATU PINTU DINAS PENANAMAN MODAL, KOPERASI, USAHA KECIL, MENENGAH
DAN TENAGA KERJA KABUPATEN MANGGARAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI MANGGARAI
Menimbang : a. bahwa dalam rangka efisiensi, efektifitas, kejelasan dan kelancaran penyelenggaraan pelayanan perizinan kepada masyarakat, sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu, perlu adanya penyederhanaan dan pengaturan pelayanan perizinan dan nonperizinan;
b. bahwa untuk mewujudkan kepastian tentang hak dan kewajiban semua pihak terkait dalam penyelenggaraan pelayanan perizinan sesuai dengan sistem dan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik terutama di bidang pelayanan publik, maka perlu diatur mengenai Standar Pelayanan (SP) Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Standar Pelayanan Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);
2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3851);
2
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724);
4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6215);
8. Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 221);
9. Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 210);
10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu;
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 138 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1956);
12. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik;
13. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Manggarai (Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Tahun 2016 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah kabupaten Manggarai Nomor 09);
14. Peraturan Bupati Manggarai Nomor 39 Tahun 2016 tentang
Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Pokok, Fungsi dan
Tata Kerja Dinas Kabupaten Manggarai.
3
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG STANDAR PELAYANAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU SATU PINTU BADAN PENANAMAN MODAL, KOPERASI, USAHA KECIL, MENENGAH DAN TENAGA KERJA KABUPATEN MANGGARAI.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah adalah Kabupaten Manggarai.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Manggarai.
3. Bupati adalah Bupati Manggarai.
4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai.
5. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Bupati dan DPRD Kabupaten Manggarai dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah; yang terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan dan Kelurahan dalam wilayah Kabupaten Manggarai.
6. Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai yang selanjutnya disebut DPMKUT adalah perangkat pemerintah daerah yang memiliki tugas pokok dan fungsi mengelola semua bentuk pelayanan perizinan dan non perizinan di daerah dengan sistem satu pintu.
7. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai.
8. Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu adalah kegiatan penyelenggaraan perizinan dan nonperizinan yang proses pengelolaannya (mulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap penerbitan dokumen) dilakukan secara terpadu dalam satu tempat dengan menganut prinsip kesederhanaan, transparansi, akuntabilitas dan menjamin kepastian biaya, waktu serta kejelasan prosedur.
9. Perizinan adalah suatu jenis pelayanan publik yang memberikan hak dan kewajiban tertentu kepada seseorang atau badan hukum untuk melakukan kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, sumber daya buatan, barang, sarana prasarana atau fasilitas tertentu yang mempunyai implikasi terhadap hak dan kewajiban pihak lain dalam arti luas.
10. Izin adalah dokumen yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah berdasarkan peraturan daerah atau peraturan lainnya yang merupakan bukti legalitas, menyatakan sah atau diperbolehkannya seseorang atau Badan untuk melakukan usaha atau kegiatan tertentu.
11. Non izin adalah pemberian legalitas kepada seseorang atau badan hukum dalam bentuk tanda daftar, rekomendasi, sertifikasi, fatwa atau lainnya.
12. Penyederhanaan pelayanan adalah upaya penyingkatan terhadap waktu, prosedur dan biaya pemberian perizinan dan non perizinan.
13. Standar Pelayanan adalah ukuran yang diberlakukan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima pelayanan perizinan serta sebagai acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai komitmen atau janji dari penyelenggara kepada masyarakat untuk memberikan pelayanan yang berkualitas.
14. Visi adalah pandangan masa depan, menyangkut kemana instansi pemerintah
harus dibawa dan diarahkan agar dapat bekerja secara konsisten dan tetap
eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif dalam kurun waktu tertentu.
4
15. Misi adalah suatu pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan oleh organisasi atau lembaga dalam rangka mewujudkan visi tersebut
16. Motto adalah kalimat, frasa, atau kata sebagai semboyan atau pedoman yang menggambarkan motivasi, semangat, dan tujuan dari suatu organisasi atau lembaga.
17. Maklumat Pelayanan adalah adalah pernyataan tertulis yang berisi keseluruhan rincian kewajiban dan janji yang terdapat dalam standar pelayanan.
18. Tim Teknis adalah kelompok kerja yang terdiri dari unsur-unsur satuan kerja perangkat daerah terkait yang mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan dalam memberikan rekomendasi mengenai diterima atau ditolaknya suatu permohonan perizinan.
19. Aparat penyelenggara pelayanan perizinan yang selanjutnya disebut aparat adalah para pejabat, pegawai dan setiap orang yang bekerja di dalam organisasi penyelenggara.
20. Masyarakat adalah seluruh pihak yang berkedudukan sebagai penerima manfaat dari pelayanan baik warga negara maupun penduduk sebagai orang- perseorangan maupun badan hukum.
21. Perizinan pararel adalah penyelenggaraan perizinan yang diberikan kepada pelaku usaha yang dilakukan sekaligus mencakup lebih dari satu jenis izin, yang diproses secara terpadu dan bersamaan.
22. Jenis Pelayanan adalah pelayanan-pelayanan yang dikelola oleh unit penyelenggara pelayanan.
23. Dasar Hukum adalah dasar penyelenggaraan pelayanan.
24. Waktu Penyelesaian adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh proses pelayanan
25. Prosedur pelayanan adalah aktivitas pelayanan dari awal sampai dengan akhir pemberian pelayanan.
26. Persyaratan adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pengurusan suatu jenis pelayanan.
27. Biaya pelayanan adalah biaya yang dikeluarkan oleh pemohon untuk memperoleh dokumen yang besarannya telah ditetapkan sesuai dengan peraturan daerah atau peraturan perundang-undangan lainnya.
28. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terhutang.
29. Pembinaan adalah upaya pengembangan, pemantapan, pemantauan, evaluasi, dan pemberian penghargaan kepada Perangkat Daerah yang dilakukan Bupati.
30. Pengawasan fungsional adalah penertiban atau pemeriksaan yang dilakukan oleh badan-badan pemeriksa teknis terhadap DPMKUT sesuai peraturan perundang-undangan.
31. Pengaduan Masyarakat adalah laporan dari masyarakat mengenai adanya indikasi terjadinya penyimpangan, korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh aparat pemerintah dan atau aparat pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan.
32. Sarana dan prasarana adalah fasilitas yang diperlukan dalam penyelenggaraan pelayanan.
BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2
(1) Maksud ditetapkannya Peraturan Bupati ini ialah:
a. terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan perizinan dan nonperizinan;
dan
5
b. memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan perizinan dan nonperizinan;
(2) Tujuan ditetapakannya Peraturan Bupati ini ialah:
a. terwujudnya pelayanan perizinan dan non perizinan yang cepat, mudah, transparan, pasti dan kejelasan prosedur;
b. terwujudnya hak-hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan perizinan dan non perizinan dari Pemerintah Daerah; dan
c. terwujudnya partisipasi dan ketaatan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pelayanan perizinan sesuai mekanisme yang berlaku.
BAB III
VISI, MISI, MOTTO, MAKLUMAT DAN PRINSIP PELAYANAN Pasal 3
(1) Standar Pelayanan (SP) sebagaimana tercantum dalam Lampiran merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pelayanan perizinan dan nonperizinan pada DPMKUT Kabupaten Manggarai yang memuat Visi, Misi, Motto dan Maklumat Pelayanan.
(2) Standar Pelayanan Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu diatur dan dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip pelayanan publik, yakni:
a. kesederhanaan;
b. kejelasan;
c. kepastian waktu;
d. akurasi;
e. keamanan dan kenyamanan;
f. tanggung jawab;
g. kelengkapan sarana dan prasarana;
h. kemudahan akses; dan
i. kedisiplinan, kesopanan dan keramahan.
BAB IV JENIS LAYANAN
Pasal 4
(1) Pelayanan perizinan meliputi pemberian perizinan baru, perubahan perizinan, perpanjangan/her-registrasi/daftar ulang perizinan dan pemberian salinan perizinan yang menjadi kewenangan Bupati.
(2) Jenis pelayanan perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perizinan yang dilimpahkan kepada DPMKUT dan diselenggarakan dengan pola pelayanan perizinan terpadu satu pintu yaitu:
a. Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
b. Rekomendasi Pembelian BBM Kebutuhan Khusus;
c. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
d. Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
e. Izin Usaha Industri (IUI);
f. Tanda Daftar Industri (TDI);
g. Izin Penjualan Minuman Beralkohol;
h. Izin Pengelolaan Usaha Tempat Penimbunan dan Penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas;
i. Tanda Daftar Gudang;
j. Izin Optikal;
k. Izin Toko Obat;
6
l. Izin Apotik;
m. Surat Izin Praktek Dokter;
n. Surat Izin Praktek Bidan;
o. Izin Lembaga Pelatihan Tenaga Kerja;
p. Izin Pendirian Lembaga Bursa Kerja (LBK)/Lembaga Penempatan Tenaga Kerja Swasta (LPTKS);
q. Izin Perpanjangan IMTA;
r. Izin Pendirian Lembaga Pelatihan Swasta;
s. Pendaftaran Penanaman Modal;
t. Izin Prinsip Penanaman Modal;
u. Izin Prinsip Perluasan Penanaman Modal;
v. Izin Prinsip Perubahan Penanaman Modal;
w. Izin Usaha/Izin Usaha Perluasan;
x. Izin Usaha Penggabungan Perusahaan Penanaman Modal (Merger);
y. Izin Usaha Perubahan.
z. Rekomendasi Hasil Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam;
aa. Izin Pembukaan Kantor Cabang/Cabang Pembantu/Kantor Kas Koperasi Simpan Pinjam;
bb. Izin Prinsip Lokasi/IPL;
cc. Izin Mendirikan Bangunan/IMB;
dd. Izin Usaha Jasa Kontruksi/IUJK;
ee. Izin Trayek Darat;
ff. Izin Perubahan Trayek;
gg. Kartu Pengawasan Izin Trayek;
hh. Izin Usaha Angkutan;
ii. Kartu Pengawasan Izin Usaha Angkutan;
jj. Rekomendasi Izin Pengumpulan Sumbangan Sosial;
kk. Rekomendasi Undian Gratis Berhadiah (UGB);
ll. Surat Tanda Pendaftaran (STP) Organisasi Sosial/Yayasan/LSM-UKS;
mm. Izin Usaha Perikanan (IUP);
nn. Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI);
oo. Surat Izin Kartu Tanda Pengenal Nelayan Andon;
pp. Surat Izin Pembelian/Pengumpul Hasil Laut;
qq. Izin Penelitian;
rr. Surat Keterangan Selesai Penelitian;
ss. Izin Usaha Tanaman Pangan dan Hortikultura; dan
tt. Izin Pengawasan dan Pengendalian Alat dan Mesin Pertanian.
(3) Jenis pelayanan perizinan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2) diklasifikasikan atas:
a. Jenis perizinan dan nonperizinan yang harus membutuhkan survey teknis dan dipungut retribusi, terdiri dari:
1. Izin Usaha Industri (IUI);
2. Tanda Daftar Industri (TDI);
3. Tanda Daftar Gudang;
4. Izin Prinsip Lokasi/IPL; dan 5. Izin Mendirikan Bangunan/IMB.
b. Jenis perizinan dan nonperizinan yang harus membutuhkan survey teknis dan tanpa dipungut retribusi, terdiri dari:
1. Rekomendasi Pembelian BBM Kebutuhan Khusus;
2. Izin Pengelolaan Usaha Tempat Penimbunan dan Penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas;
3. Izin Optikal;
4. Izin Toko Obat;
5. Izin Apotik;
6. Surat Izin Praktek Dokter;
7
7. Surat Izin Praktek Bidan;
8. Izin Lembaga Pelatihan Tenaga Kerja;
9. Izin Pendirian Lembaga Bursa Kerja (LBK)/Lembaga Penempatan Tenaga Kerja Swasta (LPTKS);
10. Izin Pendirian Lembaga Pelatihan Swasta;
11. Izin Usaha/Izin Usaha Perluasan;
12. Izin Usaha Penggabungan Perusahaan Penanaman Modal (Merger);
13. Izin Usaha Perubahan.
14. Rekomendasi Hasil Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam;
15. Izin Pembukaan Kantor Cabang/Cabang Pembantu/Kantor Kas Koperasi Simpan Pinjam;
16. Surat Tanda Pendaftaran (STP) Organisasi Sosial/Yayasan/LSM-UKS;
dan
17. Izin Pengawasan dan Pengendalian Alat dan Mesin Pertanian.
c. Jenis perizinan dan nonperizinan yang tanpa membutuhkan survei teknis dan dipungut retribusi terdiri dari:
1. Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
2. Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
3. Izin Penjualan Minuman Beralkohol;
4. Izin Perpanjangan IMTA;
5. Izin Trayek Darat;
6. Izin Perubahan Trayek;
7. Kartu Pengawasan Izin Trayek;
8. Izin Usaha Angkutan;
9. Kartu Pengawasan Izin Usaha Angkutan; dan
10. Rekomendasi Izin Pengumpulan Sumbangan Sosial.
d. Jenis perizinan dan nonperizinan yang tanpa membutuhkan survei teknis dan tanpa dipungut retribusi, terdiri dari:
1. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
2. Pendaftaran Penanaman Modal;
3. Izin Prinsip Penanaman Modal;
4. Izin Prinsip Perluasan Penanaman Modal;
5. Izin Prinsip Perubahan Penanaman Modal;
6. Izin Usaha Jasa Kontruksi/IUJK;
7. Rekomendasi Undian Gratis Berhadiah (UGB);
8. Izin Usaha Perikanan (IUP);
9. Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI);
10. Surat Izin Kartu Tanda Pengenal Nelayan Andon;
11. Izin Penelitian;
12. Surat Keterangan Selesai Penelitian;
13. Surat Izin Pembelian/Pengumpul Hasil Laut; dan 14. Izin Usaha Tanaman Pangan dan Hortikultura.
(4) Dalam rangka meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi, dan akuntabilitas penyelenggaraan pelayanan perizinan kepada masyarakat, maka jenis-jenis perizinan dan nonperizian sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2) diatur dalam bentuk Standar Pelayanan Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan dan nonperizinan, sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(5) Jenis-jenis Standar Pelayanan (SP) sebagaimana dimaksudkan pada ayat (4) meliputi:
a. Standar Pelayanan Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
b. Standar Pelayanan Rekomendasi Pembelian BBM Kebutuhan Khusus;
c. Standar Pelayanan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
d. Standar Pelayanan Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
e. Standar Pelayanan Izin Usaha Industri (IUI);
f. Standar Pelayanan Tanda Daftar Industri (TDI);
8
g. Standar Pelayanan Izin Penjualan Minuman Beralkohol;
h. Standar Pelayanan Izin Pengelolaan Usaha Tempat Penimbunan dan Penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas;
i. Standar Pelayanan Tanda Daftar Gudang;
j. Standar Pelayanan Izin Optikal;
k. Standar Pelayanan Izin Toko Obat;
l. Standar Pelayanan Izin Apotik;
m. Standar Pelayanan Surat Izin Praktek Dokter;
n. Standar Pelayanan Surat Izin Praktek Bidan;
o. Izin Lembaga Pelatihan Tenaga Kerja;
p. Standar Pelayanan Izin Pendirian Lembaga Bursa Kerja (LBK)/Lembaga Penempatan Tenaga Kerja Swasta (LPTKS);
q. Standar Pelayanan Izin Perpanjangan IMTA;
r. Standar Pelayanan Izin Pendirian Lembaga Pelatihan Swasta;
s. Standar Pelayanan Pendaftaran Penanaman Modal;
t. Standar Pelayanan Izin Prinsip Penanaman Modal;
u. Standar Pelayanan Izin Prinsip Perluasan Penanaman Modal;
v. Standar Pelayanan Izin Prinsip Perubahan Penanaman Modal;
w. Standar Pelayanan Izin Usaha/Izin Usaha Perluasan;
x. Standar Pelayanan Izin Usaha Penggabungan Perusahaan Penanaman Modal (Merger);
y. Standar Pelayanan Izin Usaha Perubahan.
z. Standar Pelayanan Rekomendasi Hasil Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam;
aa. Standar Pelayanan Izin Pembukaan Kantor Cabang/Cabang Pembantu/Kantor Kas Koperasi Simpan Pinjam;
bb. Standar Pelayanan Izin Prinsip Lokasi/IPL;
cc. Standar Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan/IMB;
dd. Standar Pelayanan Izin Usaha Jasa Kontruksi/IUJK;
ee. Standar Pelayanan Izin Trayek Darat;
ff. Standar Pelayanan Izin Perubahan Trayek;
gg. Standar Pelayanan Kartu Pengawasan Izin Trayek;
hh. Standar Pelayanan Izin Usaha Angkutan;
ii. Standar Pelayanan Kartu Pengawasan Izin Usaha Angkutan;
jj. Standar Pelayanan Rekomendasi Izin Pengumpulan Sumbangan Sosial;
kk. Standar Pelayanan Rekomendasi Undian Gratis Berhadiah (UGB);
ll. Standar Pelayanan Surat Tanda Pendaftaran (STP) Organisasi Sosial/Yayasan/LSM-UKS;
mm. Standar Pelayanan Izin Usaha Perikanan (IUP);
nn. Standar Pelayanan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI);
oo. Standar Pelayanan Surat Izin Kartu Tanda Pengenal Nelayan Andon;
pp. Standar Pelayanan Surat Izin Pembelian/Pengumpul Hasil Laut;
qq. Standar Pelayanan Izin Penelitian;
rr. Standar Pelayanan Surat Keterangan Selesai Penelitian;
ss. Standar Pelayanan Izin Usaha Tanaman Pangan dan Hortikultura; dan tt. Standar Pelayanan Izin Pengawasan dan Pengendalian Alat dan Mesin
Pertanian.
(6) Proses penyelenggaraan pelayanan perizinan dilakukan untuk satu jenis perizinan tertentu atau beberapa perizinan yang berkaitan secara paralel.
(7) Pelayanan beberapa perizinan secara pararel sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. satu permohonan berlaku untuk segala jenis perizinan yang dimohon;
b. satu proses pemeriksaan dan peninjauan lapangan dilakukan untuk kepentingan semua jenis perizinan yang dimohon; dan
c. setiap kelengkapan persyaratan digunakan untuk jenis perizinan yang
dimohon.
9
BAB V
PROSEDUR PELAYANAN PERIZINAN DAN NONPERIZINAN Bagian Pertama
Mekanisme Pelayanan Pasal 5
Mekanisme pelayanan perizinan dan nonperizinan yang dilaksanakan DPMKUT selaku penyelenggara pelayanan perizinan terpadu satu pintu melalui tahapan sebagai berikut:
a. pemohon/warga masyarakat yang membutuhkan pelayanan perizinan dan nonperizinan menuju Loket Informasi untuk mencari Informasi Pelayanan yang dibutuhkan dan mengambil formulir Permohonan;
b. Petugas menerima dan melayani pemohon/warga masyarakat yang membutuhkan pelayanan perizinan dan nonperizinan dengan ramah dan sopan:
1. Apabila pemohon/warga masyarakat masih dalam tahap mencari informasi, maka petugas informasi (customer service) memberikan penjelasan tentang persyaratan dan prosedur pengajuan permohonan pelayanan perizinan dan nonperizinan sesuai dengan regulasi yang berlaku;
2. Apabila pemohon/warga masyarakat tersebut telah siap mengajukan proses perizinan, maka:
a) Petugas Loket Penerimaan/Pendaftaran memberikan formulir permohonan sesuai dengan keinginan pemohon serta memberikan penjelasan teknis pengisian dan memandu pengisiannya;
b) Pemohon/warga masyarakat mengisi formulir permohonan sesuai dengan regulasi yang berlaku; dan
c) Apabila formulir telah diisi dengan lengkap dan benar sesuai dengan regulasi yang belaku, maka pemohon menyerahkan berkas permohonan ke loket pendaftaran dengan melampirkan persyaratan yang telah ditentukan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
c. Petugas Loket Pendaftaran melakukan:
1. menerima pemohon/warga masyarakat dengan ramah dan sopan yang telah membawa berkas permohonan;
2. mengecek formulir yang telah diisi oleh pemohon, kelengkapan persyaratan administrasi dan teknis yang harus dilampirkan sesuai dengan regulasi yang berlaku;
3. apabila berkas permohonan izin/nonizin telah memenuhi persyaratan sesuai dengan regulasi yang berlaku, maka petugas loket pendaftaran:
a) memberikan paraf pada blangko check list yang berisi mengenai persyaratan perizinan sesuai dengan kelengkapan persyaratan permohonan dan ketentuan persyaratan yang berlaku dan blangko
check list kartu kendali proses penerbitan perizinan dan perizinan;b) mencatat setiap penerimaan berkas permohonan ke dalam buku register pendaftaran permohonan izin, antara lain nama pemohon, jenis perizinan dan nomor register penerimaan berkas;
c) meminta kepada pemohon untuk mengisi nama, nomor telepon
contact person dan paraf;d) melakukan pengisian data dalam aplikasi;
e) melakukan pencetakan kode perizinan;
f) menjelaskan apabila berkas telah selesai akan dikonfirmasikan
kepada contact person, mengingatkan untuk membawa identitas diri
dalam blangko check list tanda terima pada saat pengambilan nanti;
10
g) apabila berkas permohonan izin/nonizin tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan regulasi yang berlaku, maka petugas loket penerimaan/pendaftaran mengembalikan berkas permohonan untuk dilengkapi, dengan penjelasan alasan penolakan exmp. permohonan;
dan
h) menyerahkan berkas permohonan izin/nonizin yang dinyatakan lengkap sesuai dengan regulasi yang berlaku kepada Kepala Seksi Verifikasi.
4. Kepala Dinas mengendali dan mengkoordinasikan dengan membubuhkan paraf (fiat proses) pada blangko check list kartu kendali proses penerbitan periizinan dan memerintahkan Kepala Seksi Verifikasi dan Kepala Seksi Pemrosesan untuk memperoses penerbitan permohonan perizinan dan nonperizinan yang telah lengkap, valid dan memenuhi persyaratan; dan 5. Petugas dalam memberikan penjelasan harus memperhatikan kepuasan
pemahaman konsumen dan antrian konsumen yang berikutnya.
d. Pejabat bagian verifikasi melakukan validasi dan verifikasi berkaitan keakurasian data serta menetapkan apakah perizinan dapat langsung diterbitkan atau harus melalui pemeriksaan teknis terlebih dahulu dengan persetujuan Kepala Dinas;
e. apabila berkas permohonan izin/nonizin dinyatakan valid dan benar sesuai dengan persyaratan regulasi yang berlaku, maka:
1. petugas verfikasi memberikan paraf pada blangko check list kartu kendali proses penerbitan perizinan dan nonperizinan;
2. mencatat setiap penerimaan berkas permohonan yang dinyatakan valid dan benar ke dalam buku register, yang berisikan antara lain yakni nama pemohon, jenis perizinan dan nomor register permohonan yang telah diverifikasi; dan
3. mencetak tanda terima permohonan serta menyampaikan tanda terima kepada pemohon.
f. apabila berkas permohonan izin/nonizin dinyatakan tidak valid dan benar sesuai dengan regulasi yang berlaku, maka Kepala Seksi Verfikasi mengembalikan berkas permohonan kepada petugas loket penerimaan/pendaftaran untuk dikembalikan kepada pemohon, dengan penjelasan alasan penolakan berkas permohonan;
g. Kepala Seksi Verifikasi menyerahkan berkas permohonan izin/nonizin yang dinyatakan valid dan benar sesuai dengan regulasi yang berlaku kepada Kepala Dinas untuk diparaf (fiat proses);
h. setelah berkas permohonan izin/nonizin diparaf (fiat proses) oleh Kepala Dinas, maka Kepala Seksi Verifikasi menentukan dan memisahkan dokumen yang membutuhkan kajian teknis dan yang tidak perlu membutuhkan kajian teknis.
1. Jika permohonan Izin membutuhkan kajian teknis, maka kepala seksi Verifikasi:
a) berkoordinasi dengan instansi untuk meminta informasi nama yang akan menjadi tim teknis untuk melakukan pemeriksaan teknis dan melakukan penjadwalan pemeriksaan lapangan;
b) hasil pemeriksaan teknis yang dilakukan oleh tim teknis dituangkan dalam berita acara pemeriksaan dan rekomendasi apakah perizinan dapat diizinkan atau tidak dan atau diizinkan dengan pemenuhan persyaratan tertentu.
c) memeriksa kelengkapan dan kebenaran hasil survei teknis/kajian faktual lapangan dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Lapangan dan Rekomendasi;
d) memastikan permohonan perizinan yang layak dan tidak layak
sesuai dengan hasil survey teknis/kajian faktual lapangan;
11
e) jika hasil rekomendasi tim teknis menyatakan bahwa perizinan ditolak karena tidak sesuai dengan standar teknis pelayanan dan masih memerlukan penyesuaian persyaratan teknis maka:
1) Petugas menyampaikan kepada pemohon bahwa perizinan yang dimohon ditolak;
2) membuat Surat Penolakan atas permohonan perizinan yang tidak memenuhi standart teknis, dan diteruskan kepada petugas administrasi untuk dilakukan Penomoran dan pengarsipan; dan 3) Petugas administrasi meneruskan surat penolakan kepada petugas pengambilan berkas untuk disampaiakan kepada pemohon.
2. Permohonan Izin yang tidak membutuhkan kajian teknis, maka kepala seksi verifikasi menyerahkan berkas izin/nonizin kepada Kepala Seksi Pemrosesan untuk diterbitkankan perizinannya.
i. Jika hasil rekomendasi tim teknis menyatakan bahwa perizinan dinyatakan layak untuk diterbitkan maka permohonan dilanjutkan kepada petugas pemrosesan;
j. Kepala Seksi Pemrosesan melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. menerima berkas permohonan perizinan dan nonperizinan yang telah lengkap, valid dan memenuhi persyaratan, baik secara administratif maupun teknis;
2. mengagendakan dan memberikan Penomoran atas berkas permohonan perizinan dan nonperizinan yang telah lengkap, valid dan memenuhi persyaratan admnistratif dan teknis;
3. memerintahkan petugas pemrosesan untuk meng-entry data dan mencetak surat izin atas berkas permohonan perizinan dan nonperizinan yang telah lengkap, valid dan memenuhi persyaratan;
4. menerima, memeriksa dan meneruskan format izin dan SKRD dengan membubuhkan paraf pada format izin, SKRD dan blangko check list kartu kendali proses penerbitan perizinan dan nonperizinan.
k. Petugas bagian pemrosesan menyerahkan berkas permohonan dan dokumen izin yang telah diterbitkan dan diparaf kepada Kepala Bidang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu;
l. Tugas Kepala Bidang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu yaitu:
1. menerima berkas permohonan perizinan dan nonperizinan yang telah lengkap, valid dan memenuhi persyaratan;
2. memeriksa format izin dan SKRD dengan membubuhkan paraf pada format izin, SKRD dan blangko check list kartu kendali proses penerbitan perizinan dan nonperizinan;
3. apabila format izin dan SKRD tidak valid dan benar, baik dari aspek pengetikan dokumen maupun kelengkapan persyaratan permohonan, dikembalikan kepada Kepala Seksi Pemrosesan untuk diproses ulang; dan 4. meneruskan format izin dan SKRD kepada Sekretaris/Kepala Dinas untuk
diparaf/ditandatangani.
m. Kepala Dinas menerima, memeriksa dan menandatangani format izin dan SKRD serta membubuhkan paraf pada format izin, SKRD dan blangko check list kartu kendali proses penerbitan perizinan dan nonperizinan serta menyerahkan berkas dokumen perizinan dan nonperizinan ke petugas loket penyerahan;
n. Apabila format izin dan SKRD tidak valid dan benar, baik dari aspek pengetikan dokumen maupun kelengkapan persyaratan permohonan, maka dikembalikan kepada Kepala Bidang Pelayanan Perizinan Terpadus Satu Pintu untuk diproses ulang;
o. Petugas Loket Penyerahan menerima dokumen perizinan yang telah
ditandatangani disertai perincian biaya yang dikenakan (apabila dikenakan
biaya), menginformasikan kepada pemohon bahwa surat izin telah selesai dan
ketetapan tentang retribusi yang harus dibayarkan;
12
p. Tata cara penyerahan surat izin oleh petugas loket penyerahan kepada Pemohon dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Pemohon menunjukkan dan menyerahkan blangko check list tanda terima pengurusan perizinan/nonperizinan kepada Petugas Loket Penyerahan;
2. Petugas Loket Penyerahan menerima pemohon dengan sikap sopan dan ramah, meminta blangko check list tanda terima dan meregistrasi dokumen perizinan/nonperizinan yang telah diserahkan;
3. Petugas menyerahkan dokumen perizinan/non perizinan kepada pemohon dengan meminta untuk tandatangan dibuku register pengambilan;
4. apabila atas pelayanan yang dilakukan dikenakan biaya/retribusi, maka petugas memberitahukan kepada pemohon besarnya biaya yang harus dibayar dan mempersilakan pemohon membayar ke Bank Pembangunan Daerah (BPD);
5. setelah selesai melakukan pembayaran di BPD, maka dengan menunjukan tanda bukti lunas dan menyampaikan bukti pembayaran retribusi kepada petugas penyerahan dokumen, petugas menyerahkan dokumen perizinan/non perizinan dengan meminta untuk tandatangan di buku register pengambilan; dan
6. setelah dokumen perizinan/nonperizinan telah diserahkan dan diterima oleh pemohon, maka petugas loket penyerahan juga menyerahkan Formulir Survey Kepuasan Masyarakat (SKM) untuk menilai kinerja pelayanan petugas perizinan dan nonperizinan.
q. Petugas pengapsipan dokumen melakukan pengadministrasian dan pengarsipan perizinan yang telah ditandatangani oleh Kepala Dinas dan diteruskan kepada petugas penyerahan dokumen.
Pasal 6
(1) Penyempurnaan persyaratan teknis dari hasil pemeriksaan dan atau peninjauan lapangan atas objek perizinan dan non perizinan dilakukan oleh pemohon.
(2) Laporan atau rekomendasi hasil pemeriksaan dan atau peninjauan lapangan berikut besarnya biaya dibuat oleh Tim Teknis kemudian diserahkan ke DMPKUT dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan dan Rekomendasi.
(3) Proses perizinan dan non perizinan dilaksanakan paling lama 8 (delapan) hari kerja terhitung mulai permohonan diterima secara lengkap dan benar.
(4) Kuasa Pemohon yang mewakili pemohon, harus menunjukan Surat Kuasa di atas kertas bermeterai Rp.6000 dengan melampirkan foto copy KTP-El terbaru dari yang menerima kuasa dan bukan pegawai di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Manggarai.
Pasal 7
Mekanisme pelayanan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilaksanakan untuk pemberian perizinan baru dan perubahan serta yang harus membutuhkan survei teknis ataupun tanpa survei teknis dan yang harus dipungut retribusi ataupun yang tanpa pemungutan retribusi.
Pasal 8
Terhadap permohonan perpanjangan dan pemberian salinan perizinan, mekanisme
pelayanan perizinan sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 dengan meniadakan
ketentuan huruf g, huruf h, huruf i, huruf j dan huruf k.
13
Pasal 9
Bagan alur mekanisme pelayanan perizinan baru, perizinan perubahan, perizinan perpanjangan dan salinan yang harus membutuhkan survey teknis dan dipungut retribusi pada DPMKUT, sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
Pasal 10
Bagan alur mekanisme pelayanan perizinan baru, perizinan perubahan, perizinan perpanjangan dan salinan yang harus membutuhkan survey teknis dan tanpa dipungut retribusi pada DPMKUT, sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
Pasal 11
Bagan alur mekanisme pelayanan perizinan baru, perizinan perubahan, perizinan perpanjangan dan salinan yang tanpa membutuhkan survei teknis dan dipungut retribusi pada DPMKUT, sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
Pasal 12
Bagan alur mekanisme pelayanan perizinan baru, perizinan perubahan, perizinan perpanjangan dan salinan yang tanpa membutuhkan survei teknis dan tanpa dipungut retribusi pada DPMKUT, sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
Pasal 13
Persyaratan, prosedur, jangka waktu penyelesaian dan besarnya biaya yang diperlukan untuk proses perizinan diatur berdasarkan SP sebagaimana tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
Bagian Kedua Penolakan
Pasal 14
(1)
Permohonan izin yang tidak memenuhi persyaratan, tidak sesuai dengan ketentuan atau persyaratan tidak lengkap dan tidak benar, maka permohonan izinnya ditolak.
(2)
Permohonan izin yang berdasarkan hasil koordinasi dan atau penelitian lapangan masih memerlukan penambahan atau perbaikan persyaratan maka permohonan izinnya ditolak dengan catatan harus melengkapi kelengkapan yang kurang.
(3)
Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), diberitahukan
kepada pemohon dan disertai alasan yang jelas selambat-lambatnya 1 (satu)
hari setelah penetapan penolakan.
14
Bagian Ketiga
Permohonan Salinan Perizinan Pasal 15
Dalam hal mendapatkan salinan Surat Izin yang hilang atau rusak, pemilik izin wajib mengajukan permohonan tertulis kepada Kepala DPMKUT dengan melengkapi persyaratan sebagai berikut:
a.
foto copy KTP-El pemegang izin;b. laporan kehilangan dari kepolisian (untuk dokumen yang hilang); dan c. menyerahkan dokumen yang rusak (untuk dokumen yang rusak).
BAB V
TATA HUBUNGAN KERJA DAN KOORDINASI Pasal 16
(1) Koordinasi antara DPMKUT dengan Perangkat Daerah teknis dalam pemrosesan izin dilakukan melalui pembentukan Tim Teknis yang terdiri dari perwakilan unsur Perangkat Daerah yang memiliki kompetensi di bidangnya dan ditetapkan oleh Bupati.
(2) Tim Teknis dikoordinasi oleh Kepala DPMKUT dan bekerja sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan dalam standar pelayanan.
(3) Tim Teknis diberikan kewenangan untuk mengambil keputusan dalam memberikan rekomendasi mengenai diterima atau ditolaknya suatu permohonan izin melalui pimpian Perangkat Daerah.
(4) DPMKUT memberikan laporan kegiatan perizinan setiap satu bulan kepada Kepala Perangkat Daerah teknis terkait yang berkaitan dengan pengendalian, pengawasan, dan pembinaan perizinan oleh Perangkat Daerah Teknis.
(5) Kepala Perangkat Daerah teknis terkait wajib menyampaikan hasil pembinaan, pengawasan, pengendalian sekaligus rekomendasi tindakan yang diperlukan terhadap pelanggaran perizinan kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai dengan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas sebagai bahan tindak lanjut.
BAB VI
STANDAR PELAYANAN Bagian Pertama
Persyaratan Pasal 17
(1)
Persyaratan perizinan terdiri dari persyaratan administratif dan persyaratan teknis.
(2)
Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk mengetahui dokumen :
a. identitas pemohon;
b. legalitas kegiatan usaha; dan
c. hak atas tempat usaha yang digunakan.
(3)
Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari:
a. tanda bukti identitas pemohon;
b. tanda bukti Nomor Pokok Wajib Pajak pemohon;
c. tanda bukti dokumen yang menunjukkan status legalitas usaha;
d. tanda bukti dokumen status kepemilikan tanah; dan
e. tanda bukti bukti pembayaran PBB tahun terakhir.
15
(4)
Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) yaitu dokumen yang digunakan untuk menilai aspek teknis yang terkait dengan jenis perizinan dan nonperizinan yang diminta.
(5)
Persyaratan yang diminta hanya yang sesuai dengan kebutuhan teknis dan pengendalian perizinan dan nonperizinan.
Bagian Kedua Waktu Pasal 18
(1) Jangka waktu penyelesaian proses perizinan maksimal antara 3 (tiga) sampai dengan 8 (delapan) hari kerja.
(2) DPMKUT menyelesaikan proses perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhitung sejak dokumen permohonan dinyatakan lengkap.
Bagian Ketiga Biaya Pasal 19
Besarnya biaya atau tarif retribusi atas penerbitan izin dan non izin ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Keempat Sarana dan Prasarana
Pasal 20
Sarana dan prasarana pelayanan yang harus tersedia adalah:
a. gedung kantor yang memadai;
b. ruang tunggu yang nyaman;
c. meubelair;
d. penyejuk ruangan/AC;
e. bahan bacaan atau televisi;
f. areal parkir yang memadai;
g. toilet yang bersih;
h. tempat sampah; dan
i. tempat pelayanan yang selalu bersih.
Pasal 21
Penataan tata ruang sesuai dengan alur perizinan dan nonperizinan serta membedakan antara area pelayanan (front office) dengan area pemrosesan (back
office).Pasal 22 Sarana informasi yang harus disediakan:
a. papan informasi tentang jenis-jenis layanan, prosedur, biaya, persyaratan dan waktu penyelesaian;
b. brosur-brosur tentang perizinan dan nonperizinan;
c. stiker petunjuk atau himbauan;
d. papan petunjuk;
e. komputer sebagai media informasi bagi masyarakat;
f. website perizinan dan Email perizinan;
g. Ruang dan Meja Informasi;
16
h. Ruang Loket Pendaftaran;
i. Ruang Loket Penyerahan Dokumen perizinan;
j. Ruang Pengaduan;
k. Ruang Tunggu;
l. Ruang Arsip;
m. Ruang Tamu (Kursi dan Meja);
n. Ruang Keamanan;
o. Tempat Parkir yang Luas;
p. Toilet/Kamar Mandi;
q. Televisi, CCTV, danWifi;
r. Telephone/Handphone;
s. Touchscreen SKM; dan
t. Sarana dan prasarana penunjang pelayanan publik lainnya.
Bagian Kelima
Sikap dan Perilaku Petugas Pemberi Pelayanan Pasal 23
Petugas dalam memberikan pelayanan berperilaku sebagai berikut:
a. adil dan tidak diskriminatif;
b. peduli, telaten, teliti, dan cermat;
c. hormat, ramah, dan tidak melecehkan;
d. bersikap tegas dan handal serta tidak memberikan keputusan yang berlarut- larut;
e. bersikap independen;
f. tidak memberikan proses yang berbelit-belit;
g. patuh pada perintah atasan yang sah dan wajar;
h. menjunjung tinggi nilai-nilai dan integritas serta reputasi penyelenggara demi menjaga kehormatan lembaga penyelenggara di setiap waktu dan tempat;
i. tidak membocorkan informasi atau dokumen yang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan wajib dirahasiakan;
j. terbuka dan mengambil langkah yang tepat untuk menghindari benturan kepentingan;
k. tidak menyalahgunakan sarana dan prasarana pelayanan;
l. tidak memberikan informasi yang salah atau menyesatkan dalam menanggapi permintaan informasi;
m. tidak menyalahgunakan informasi, jabatan dan atau kewenangan yang dimiliki;
n. profesional dan tidak menyimpang dari prosedur; dan
o. Penampilan rapi, sopan, menarik, simpatik dan memiliki seragam khusus.
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 24
(1) Pembinaan atas penyelenggaraan pelayanan perizinan terpadu satu pintu dilakukan oleh Bupati dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan mutu pelayanan perizinan.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi pengembangan sistem, sumber daya manusia, dan koordinasi antar Perangkat Daerah.
(3) Pembinaan teknis administratif dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai, meliputi tata hubungan kerja, evaluasi dan pelaporan.
(4) Pembinaan teknis operasional dilaksanakan oleh masing-masing Kepala
Perangkat Daerah sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan kewenangan.
17
Pasal 25
(1) Pengawasan terhadap proses penyelenggaraan pelayanan perizinan terpadu satu pintu dilakukan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya.
(2) Pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan perizinan dan nonperizinan dilakukan oleh Perangkat Daerah teknis sesuai dengan bidang tugasnya.
Pasal 26
(1) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan secara teknis operasional, Kepala Dinas Perangkat Daerah Teknis dapat mengambil tindakan administratif terhadap pelanggaran atas regulasi yang mengatur proses penerbitan perizinan dan nonperizinan.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa teguran lisan, peringatan lisan, tertulis sampai dengan pencabutan izin atau pembatalan izin.
(3) Dinas PMKUT dapat mencabut izin atau membatalkan izin usaha perorangan atau berbadan hukum atas dasar rekomendasi dari Dinas Teknis Perangkat Daerah setelah ditemukan alasan pencabutan atau pembatalan izin seperti:
a) persyaratan yang menjadi dasar diberikannya izin usaha terbukti tidak benar;
b) pelaksanaan kegiatan usaha bertentangan dengan rencana usaha yang ditetapkan dalam dokumen izin sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku;
c) penggunaan wewenang oleh organ administrasi untuk tujuan lain dari pada untuk tujuan-tujuan yang dimaksudkan dengan pemberian kewenangan itu;
d) dalam mempertimbangkan kepentingan-kepentingan yang bersangkutan sepantasnya tidak mengambil keputusan itu (larangan kesewenang- wenangan);
e) putusan oleh organ administrasi bertentangan dengan suatu asas umum pemerintahan yang layak/baik yang hidup dalam kesadaran hukum masyarakat; dan
f) alasan lain sesuai dengan jenis izin dan peraturan perundang-undangan yang belaku atas izin yang tersebut.
BAB VIII
PENGELOLAAN PENGADUAN, SARAN DAN MASUKAN Pasal 27
(1) Masyarakat dapat menyampaikan keluhan atau pengaduan, saran dan masukan mengenai penyelenggaraan pelayanan perizinan kepada penyelenggara.
(2) Pengaduan dapat dilakukan melalui loket pengaduan, baik secara lisan, tulisan atau media lain yang disediakan oleh DPMKUT.
(3) Penyelenggara wajib menyiapkan sarana yang layak dalam pelaksanaan pengelolaan pengaduan, saran dan masukan.
(4) Penyelenggara wajib mengelola setiap pengaduan, saran dan masukan yang berasal dari masyarakat.
(5) Apabila pengaduan masyarakat dilakukan secara langsung, maka petugas
pengaduan menerima dengan ramah dan sopan serta mencatat pengaduan
yang diajukan dan memberikan penjelasan dan tata cara penyelesaian/jalan
keluar atas permasalahan yang diadukan oleh masyarakat baik secara
18
langsung dengan datang ke Kantor Dinas PMKUT maupun tidak langsung seperti melalui telepon, SMS, surat dan sebagainya.
(6) Apabila pengaduan masyarakat dilakukan secara tidak langsung seperti melalui telepon, SMS, surat dan sebagainya, maka petugas pengaduan mencatat pengaduan yang diajukan, mengkaji persoalan dan memberikan penjelasan dan tata cara penyelesaian/jalan keluar atas permasalahan yang diadukan oleh masyarakat.
(7) Pengaduan yang disampaikan harus direspon dan ditindak lanjuti selambat- lambatnya 5 (lima) hari kerja.
(8) Mekanisme Penanganan Pengaduan sebagaimana tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
BAB IX
SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT Pasal 28
(1) Kepala Dinas wajib melakukan evaluasi atau penilaian kinerja penyelenggaraan pelayanan perizinan secara periodik minimal 6 (enam) bulan sekali.
(2) Untuk melaksanakan penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB X PELAPORAN
Pasal 29
(1)
Kepala Dinas memberikan laporan kegiatan perizinan setiap bulan kepada Kepala Perangkat Daerah teknis terkait.
(2)
Kepala Dinas membuat laporan secara tertulis setiap bulan kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai tentang pelaksanaan penyelenggaraan perizinan.
BAB XI KETENTUAN LAIN
Pasal 30
Bupati menunjuk pejabat yang berwenang menandatangani perizinan, apabila Kepala Dinas berhalangan, maka dalam rangka menjaga kelancaran pelayanan perizinan.
Pasal 31
Hal-hal lain yang belum cukup diatur dalam Peraturan Bupati ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaan akan ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Bupati.
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 32
Dengan ditetapkannya Peraturan Bupati ini, maka Peraturan Bupati Manggarai
Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu
19
Pintu Di Kabupaten Manggarai (Berita Daerah Kabupaten Manggarai Tahun 2010 No. 4 Seri E No. 1), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 33
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Manggarai.
Ditetapkan di Ruteng
pada tanggal 10 Oktober 2018 BUPATI MANGGARAI,
TTD
DENO KAMELUS Diundangkan di Ruteng
pada tanggal 10 Oktober 2018
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI, TTD
MANSELTUS MITAK
BERITA DAERAH KABUPATEN MANGGARAI TAHUN 2018 NOMOR 46.
Salinan sesuai dengan aslinya, KEPALA BAGIAN HUKUM,
BOUR MAXIMUS, SH PEMBINA Tk.I
NIP.19630224 199003 1 006
20
PENJELASAN ATAS
PERATURAN BUPATI MANGGARAI NOMOR 45 TAHUN 2018
TENTANG
STANDAR PELAYANAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU SATU PINTU DINAS PENANAMAN MODAL, KOPERASI, USAHA KECIL, MENENGAH
DAN TENAGA KERJA KABUPATEN MANGGARAI
I. UMUM
Good governance sudah menjadi kebutuhan yang tak terelakkan,
termasuk dalam hal pelayanan perizinan dan nonperizinan. Pemerintah wajib menerapkan regulasi-regulasi yang pasti dan transparan untuk menjalankan roda pemerintahan, termasuk pengelolaan pelayanan perizinan dan nonperizinan dunia usaha. Untuk menerapkan prinsip good governance itulah, Pemerintah Republik Indonesia umumnya dan Pemerintah Kabupaten Manggarai khususnya melakukan reformasi bidang pengelolaan pelayanan perizinan dan nonperizinan dunia usaha.
Penyelenggaraan pemerintahan saat ini bukan lagi semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemerintah Kabupaten Manggarai sangat mendorong dan menekankan 3 (tiga) komponen domain pembangunan yakni Pemerintah, dunia usaha dan civil society. Meskipun demikian, peran pemerintah tentunya masih sangat dibutuhkan terkait dengan penyediaan pelayanan publik. Pada dasarnya, pelayanan publik mencakupi 3 (tiga) aspek, yaitu pelayanan barang, jasa, dan administratif.
Wujud pelayanan administratif antara lain ialah layanan berbagai perizinan, baik yang bersifat nonperizinan maupun perizinan. Perizinan merupakan salah satu aspek penting dalam pelayanan publik, terutama dalam konteks kegiatan usaha. Proses perizinan, khususnya perizinan usaha, secara langsung akan berpengaruh terhadap keinginan dan keputusan calon pengusaha maupun investor untuk menanamkan modalnya. Demikan pula sebaliknya, jika proses perizinan tidak efisien, berbelit-belit, dan tidak transparan baik dalam hal waktu, biaya, maupun prosedur akan berdampak terhadap menurunnya keinginan orang untuk mengurus perizinan usaha, dan mereka mencari tempat investasi lain yang prosesnya lebih jelas, pasti dan transparan. Hal ini tentu saja selanjutnya akan berdampak terhadap ketersediaan lapangan kerja dan masalah-masalah ketenagakerjaan lainnya.
Secara umum persoalan yang selalu melilit pelayanan perizinan antara lain ialah:
1. Aspek Standar Pelayanan: Standar pelayanan merupakan ukuran kualitas kinerja yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan tugas dan kewenangannya, yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima pelayanan, dipublikasikan kepada masyarakat sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan, realistis karena merupakan jaminan bahwa janji/komitmen yang dibuat dapat dipenuhi, jelas dan mudah dimengerti oleh para pemberi dan penerima pelayanan.
2. Aspek Birokrasi Pelayanan yang lamban dan berbelit-belit: Pada satu sisi,
Pemerintah mengharapkan adanya pertumbuhan ekonomi dan investasi
dengan pesat, baik dari segi kwantitas (jumlah investor dan perusahaan)
maupun kualitas (tingkat atau besarnya modal berusaha); sedangkan
pada sisi lain, banyaknya keluhan dari para pengguna jasa bahwa kinerja
organisasi public merupakan sumber kelambanan, pungli, inefektivitas
dan inefisiensi. Citra organisasi public dalam pelayanan kepentingan
masyarakat pada umumnya amat buruk jika dibandingkan dengan
organisasi private. Karenanya tidaklah mengherankan kalau organisasi
21
private seringkali dijadikan sebagai alternatif pilihan kebijakan untuk
menyelesaikan berbagai persoalan dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
3. Aspek Biaya dan waktu: IFC (2007) melaporkan bahwa untuk mengurus perizinan di Indonesia dibutuhkan waktu yang yang relatif lama (97 hari) dan biaya yang relatif tinggi yakni mencapai 3 - 10% dari modal usaha.
Para investor menginginkan penurunan berbagai pungutan yang tumpang tindih dan transparansi biaya perizinan. Model reformasi birokrasi peizinan yang telah teruji dan memiliki dampak positif ialah pelembagaan sistem pelayanan terpadu satu pintu (One Stop Service system) yang berkarakter efektif, efisien, kepastian waktu dan biaya melalui pelayanan primanya.
4. Aspek SDM: Ketimpangan kompetensi dalam pelayanan perizinan usaha dari sisi SDM turut memengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pelayanan perizinan. Keterbatasan jumlah dan kualitas SDM akan mempengaruhi kinerja organisasi secara umum. Hal ini tidak lepas dari
political will dari kepala daerah untuk mereformasi pelayanan perizinanusaha sebagai katub masuknya investasi ke daerah.
5. Aspek Koordinatif: Koordinasi merupakan hal yang sederhana tetapi tidak mudah dilaksanakan atau koordinasi merupakan hal yang gampang- gampang susah. Koordinasi merupakan starting point bagi efisiensi dan efektifitas dalam hal berinvestasi.
Semua problem di atas memiliki andil untuk mengebiri proses reformasi perizinan usaha. Permasalahan yang satu dan lainnya saling terkait, dan tidak dapat dipisahkan. Identifikasi permasalahan ini akan memberikan resistensi yang semakin besar bagi pemberi layanan jika tidak diperbaiki.
Dampaknya mengakibatkan menurunnya kepercayaan dunia usaha pada satu daerah dan pelayanan perizinan usaha sebagai salah satu gerbang investasi daerah justru menjadi beban bagi penyelenggaraan pelayanan.
Pelayanan prima merupakan pelayanan yang dapat memenuhi harapan dan atau keinginan pelanggan. Dalam konteks ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai cq. Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja kabupaten Manggarai berupaya mereposisi peran pemerintah melalui transformasi sikap dan mental yang berlandas pada paradigma reinventing entrepreneurship government dan debirokratisasi yang lebih FOKUS, TERUKUR DAN TUNTAS, terutama dalam pelayanan publik bidang perizinan dan nonperizinan berdasarkan visi, misi, motto dan maklumatnya. Dengan demikian keluhan masyarakat yakni ketidakpastian persyaratan, ketidakpastian biaya, ketidakpastain waktu dan birokrasi yang berbelit-belit akan teratasi dan terwujudlah kepuasan masyarakat atas pelayanan perizinan dan nonperizin.
Berdasarkan Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Penanaman
Modal, Koperasi, Usah Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten
Manggarai sesuai dengan Peraturan Bupati Manggarai No. 39 Tahun 2016
tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja
Dinas Daerah Kapaten Manggarai, pelayanan perizinan dan nonperizinan
merupakan salah satu bidang dari unit Perangkat Daerah ini. Ada pun
Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usah
Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai, sebagai berikut:
22
BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENANAMAN MODAL, KOPERASI, UKM DAN TENAGA KERJA KABUPATEN MANGGARAI
(1) (2)
II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
1. Visi. Berpedoman pada Visi dan Misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Manggarai Tahun 2016-2021, terutama misi I yakni Meningkatkan Perekonomian Manggarai dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia didukung pembangunan infrastruktur yang berkualitas, tantangan dan keterbatasan yang dihadapi
KEPALA DINAS
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
SEKERTARIS
KASUBAG PERENCANAAN,
EVALUASI &
PELAPORAN
KASUBAG KEUANGA
N
BIDANG PM
BIDANG PPTSP
BIDANG PELALTIHAN
& PERLUASAN KESEMPATAN KERJA
………
KASUBAG UMUM &
KEPEGAWAI AN
BIDANG PERLINDUNGAN
TENAGA KERJA
BIDANG KOPERASI & UKM
SEKSI PENGEMB
ANGAN PM SEKSI PENGEND ALIAN PM SEKSI PROMOSI
BIDANG VERIFIKA
SI
BIDANG PEMROSE
SAN
BIDANG PENANGA
NAN PENGAND
UAN
SEKSI ADVOKASI
SEKSI JAMINAN
SOSIAL TENAGA
KERJA SEKSI HU-
BUNGAN INDUSTRIAL
SEKSI KELEMBAGAAN
SEKSI PEMBER- DAYAAN KOPE- RASI & UKM
SEKSI PEMBI- NAAN & PENGA-
WASAN KOPERASI DAN
UKM SEKSI PELA-
TIHAN TENAGA
KERJA
SEKSI PELA- YANAN TENA-GA
KERJA SEKSI PENEM- PATAN &
PE- NGELOLAA
N INFORMASI
PASAR KERJA
UPT
23
Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai, maka visi Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai Tahun 2016-2021 yakni:
TERWUJUDNYA KUALITAS IKLIM PENANAMAN MODAL, PELAYANAN PERIZINAN DAN NONPERIZINAN, PENGELOLAAN KOPERASI, USAHA KECIL,
MENENGAH DAN KETENAGAKERJAAAN KABUPATEN MANGGARAI TAHUN 2016-2021
Visi Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja di atas merupakan satu kesatuan dan bagian integral sebagai jabaran secara berjenjang dari Visi Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Manggarai Tahun 2016-2020 yakni MANGGARAI YANG MAJU, MAKMUR, SEJAHTERA, ADIL, MERATA DAN DIRIDHOI TUHAN YANG MAHA ESA.
2. MISI. Visi Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja di atas dijabarkan dalam misi-misi , yakni:
1) meningkatkan pelayanan perizinan dan nonperizinan yang efektif dan efisien dengan prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi, simplikasi, keamanan dan kepastian;
2) meningkatkan iklim investasi yang kondusif dan kerjasama di bidang modal;
3) meningkatkan kinerja pengurus koperasi dan UKM;
4) menguatkan modal sendiri (simpanan pokok,simpanan wajib dan simpanan sukarela);
5) menciptakan usaha baru secara profesional di bidang koperasi dan UKM;
6) peningkatan Kesempatan Kerja, Kompetensi dan Produktivitas Tenaga Kerja;
7) meningkatkan Perlindungan Tenaga Kerja.
8) meningkatkan pengawasan, Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja.
3. MOTTO. Berdasarkan visi dan misi di atas, maka spirit dalam pelayanan perizinan dan nonperizinan Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai yakni MANTAP (Melayani Dengan Transparan dan Pasti).
4. JANJI/MAKLUMAT LAYANAN PERIZINAN DAN NONPERIZINAN. Untuk mewujudkan etos kerja Aparatur pelayanan perizinan dan nonperizinan terpadu satu pintu Dinas Penanaman Modal, Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Manggarai, maka Janji/Maklumat layanannya berbunyi sebagai berikut:
JANJI/MAKLUMAT PELAYANAN
Kami berupaya dengan sungguh-sungguh untuk:
1. Memberikan layanan dengan Cepat, Mudah Dan Transparan;
2. Menyiapkan petugas yang berpenampilan rapi, berdedikasi dan siap melayani; memiliki Empati, Rasa Peduli, Disiplin, Inovatif dan Paradigma Fokus – Terukur dan Tuntas terhadap setiap proses penerbitan perizinan;
3. Tidak menyalahgunakan jabatan dan wewenang serta tidak melakukan
pungutan yang tidak sah dan tidak menerima pemberian/gratifikasi
dalam bentuk apapun dalam proses penerbitan perizinan;
24
4. Menyiapkan ruang dan fasilitas yang nyaman dan bertata baik;
5. Merespons dengan cepat terhadap permohon perizinan;
6. Bersedia menerima reward and punishment atas layanan yang diberikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
25
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal306
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
TAMBAHAN BERITA DAERAH KABUPATEN MANGGARAI NOMOR 046.
26
LAMPIRAN I: PERATURAN BUPATI MANGGARAI NOMOR 45 TAHUN 2018 TENTANG STANDAR PELAYANAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU SATU PINTU DINAS PENANAMAN MODAL, KOPERASI, USAHA KECIL, MENENGAH DAN TENAGA KERJA KABUPATEN MANGGARAI
SISTEM, MEKANISME DAN PROSEDUR PELAYAN PERIZINAN DENGAN SURVEY TEKNIS DAN BER-SKRD
PEMOHON
PELAYANAN BAGIAN PEMROSESAN DAN PENGOLAHAN
KABID KEPALA DINAS
LOKET PENYERAHAN
SKRD, SKM &
IZIN LOKET INFORMASI LOKET
PENERIMAAN &
PENDAFTARAN KASI VERIFIKASI TIM TEKNIS & KASI
VERIFIKASI KASI PEMROSESAN
YA TIDAK
TIDAK YA
YA TIDAK
TIDAK YA
YA
TIDAK TIDAK YA Mencari
Informasi
Memberikan Informasi &
Formulir
Menerima &
Mengisi Formulir &
Melengkapai Persyaratan
Menerima Formulir
& Memeriksa Kelengkapan
Berkas Permohonan
Verfikasi &
Mendata Berkas Permohonan
Lengkap Valid
Pemeriksaan Lapangan &
Pembahasan
BAP/Reko mendasi
Penerbitan &
Penomoran
Izin & SKRD Tanda
Tangan Menerima
Resi Tanda Terima/Surat
Penolakan
Menerina &
membayar SKRD di Bank,
Mengisi &
menerima SKM, Menerima Izin
Fiat Proses
Memeriks a Format
Izin &
SKRD
Menyerahkan Formulir SKM untuk disi, Izin
& SKRD Membuat
Tanda Terima/
Surat Penolakan