• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBAIKAN DESAIN KERJA PADA STASIUN PENGEPAKAN DI PT BAKRIE SUMATERA PLANTATION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERBAIKAN DESAIN KERJA PADA STASIUN PENGEPAKAN DI PT BAKRIE SUMATERA PLANTATION"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS SARJANA

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Penulisan Tugas Sarjana

Oleh Abdi Santoso NIM : 130403015

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

2 0 1 8

(2)
(3)
(4)

berkat dan rahmat-Nya yang dilimpahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Sarjana ini dengan baik.

Penulisan Tugas Sarjana ini adalah bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat akademis dalam menyelesaikan studi di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Tugas Sarjana ini juga merupakan sarana bagi penulis untuk melakukan penelitian terhadap permasalahan nyata yang ada di perusahaan. Tugas Sarjana ini berjudul “Perbaikan Desain Kerja pada Stasiun Pengepakan di PT.Bakrie Sumatera Plantation”.

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk melengkapi Tugas Sarjana ini. Akhir kata, penulis berharap agar Tugas Sarjana ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

Medan, Februari 2018

Penulis

(5)

dukungan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini dengan hati yang tulus penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kedua orang tua Penulis, Antono dan Suriani yang senantiasa memberikan doa dan nasehat, Abang dan kakak penulis Aan Andri Setiawan dan Fitri Maya Sari Dan Ayla Salsabila Rahma, serta seluruh keluarga besar yang telah memberi motivasi dalam penulisan penelitian ini.

2. Ibu Dr. Meilita Tryana Sembiring, ST. MT. selaku Ketua Departemen Teknik Industri Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Buchari, ST. MT selaku Seketaris Departemen Teknik Industri Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Abdul Rahim Matondang, MSIE Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan, motivasi, dan nasehat selama penyusunan Tugas Sarjana ini.

5. Bapak Bhudi Iskandar selaku manajer dan Bapak Adrianto selaku asisten di PT. Bakrie Sumatera Plantation yang telah memberikan bantuan selama penulis melakukan penelitian.

6. Seluruh dosen Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan pengajaran selama perkuliahan sebagai bekal untuk penulisan Tugas Sarjana ini.

(6)

Al-ayubi yang telah banyak membantu dan bekerja sama dengan penulis selama mengerjakan laporan tugas akhir.

9. Sahabat seperjuangan Robby A Sugara, Ridho Afif, Suryadi, Ahmad, Taufik, dan seluruh anggota grup Dakwa yang memberi masukan dan dukungan.

10. Semua teman angkatan 2013 (REPTIGS) serta abang kakak senior dan junior di Departemen Teknik Industri USU yang telah memberikan banyak masukan kepada penulis.

11. Seluruh staf dan karyawan Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara yang banyak membantu dan memberikan dukungan kepada penulis.

Kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaian laporan ini dan tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua

(7)

produksi karet khususnya SIR 10 dan SIR 10VK. Proses produksi SIR 10 /VK meliputi pencacahan 1.5 inci, pencucian crumb, pencacahan 2-3 mm, pengisian crumb ke dalam pan, pemanasan crumb menjadi ball crumb, pengepakan.

Permasalahan yang terjadi yaitu adanya keluhan dan beban kerja yang dimiliki operator dalam bekerja sehingga perlu dilakukan perbaikan desain kerja agar kondisi kerja menjadi lebih ergonomis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan perbaikan desain kerja untuk mengurangi keluhan operator pengepakan dengan penerapan ergonomi mikro. Hasil yang di dapatkan untuk beban kerja pada operator 1,3, dan 4 sebesar 414,22, dan operator 2 sebesar 408,20496. Semua operator tergolong pada kategori beban kerja berat. Penetapan data antropometri yang dilakukan adalah penetapan data antropometri rata-rata dengan persentil 50 untuk semua dimensi. Nilai perhitungan untuk dimensi TSB sebesar 102 cm, dan dimensi JT adalah 70. Alternatif yang di dapatkan untuk memecahkan masalah tersebut yaitu perbaikan desain kerja dengan perancangan alat agar mempermudah operator dalam bekeja

Keyword:Beban Kerja, Cardiovascular Load (%CVL), Antropometri

(8)

LEMBAR JUDUL... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH... iv

ABSTRAK... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

I PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang Masalah... I-1 1.2 Rumusan Masalah ... I-6 1.3 Tujuan Penelitian... I-6 1.4 Manfaat Penelitian... I-6 1.5 Batasan dan Asumsi Penelitian ... I-7 1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir ... I-8

(9)

II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN... II-1 2.1 Sejarah Perusahaan... II-1 2.2 Ruang Lingkup Bidang Usaha ... II-1 2.3 Lokasi Perusahaan... II-2 2.4 Dampak Sosial dan Ekonomi Terhadap Lingkungan... II-3 2.5 Uraian Proses Produksi ... II-3 2.6. Struktur Organisasi Manajemen... II-9 2.6.1. Struktur Organisasi Perusahaan... II-9 2.6.2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab ... II-9 2.7 Operator dan Jam Kerja Perusahaan ... II-15

III

LANDASAN TEORI

... III-1 3.1. Beban Kerja ... III-1 3.1.1 Penilaian Beban Kerja Fisik ... III-1 3.1.2 Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja. III-3 3.2. Standard Nodric Questionnaire (SNQ) ... III-4 3.3. Penentuan Waktu Kerja dan Waktu Istirahat ... III-6 3.3.1. Penilaian Beban Berdasarkan Jumlah Kebutuhan Kalori III-7

(10)

3.4 Pengukuran Antropometri ... III-8 3.4.1. Defenisi Antropometri... III-8 3.4.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengukuran

Antropometri ... III-8 3.4.3. Antropometri Statis ... III-10 3.4.4. Antropometri Dinamis... III-11

3.4.4.1 Prinsip-prinsip Penggunaan Data

Antropometri ... III-11 3.4.5. Langkah-langkah Penggunaan Antropometri dalam

Perancangan Produk ... III-13 3.4.6. Aplikasi Distribusi Normal Dalam Penetapan Data

Antropometri ... III-14

3.5. Uji Keseragaman ... III-15 3.5.1. Uji Kecukupan Data ... III-17

(11)

IV METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1 4.1 Tempat dan waktu penelitian ... IV-1 4.2 Objek Penelitian ... IV-1 4.3 Jenis Penelitian... IV-1 4.4 Variabel Penelitian ... IV-1 4.5 Kerangka Konseptual ... IV-3 4.6 Defenisi Operasional ... IV-4 4.7 Metode Pengumpulan Data ... IV-4 4.8 Metode Pengolahan Data ... IV-5 4.9 Rancangan Penelitian ... IV-5

V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA... V-1 5.1 Pengumpulan Data ... V-1 5.1.1. Data Denyut Nadi Operator... V-1 5.1.2. Data Standard Nodric Questionnaire (SNQ) Operaator .. V-3 5.1.4. Data Antropometri... V-5 5.2 Pengolahan Data... V-5 5.2.1. Penilaian SNQ ( Standard Nodric Questionare) ... V-5 5.2.2. Metode Cardiovascular Lord (%CVL) ... V-7

(12)

5.3. Perhitungan Antropometri... V-12 5.3.1 Perhitungan Nilai Rata-rata, Standart Deviasi, Nilai

Maksimum ... V-12

5.3.2 Uji Keseragaman Data... V-14 5.3.2.1 Uji Keseragaman Data Tinggi Siku Berdiri ... V-14 5.3.2.2 Uji Keseragaman jangkauan Tangan... V-17 5.3.2.3 Uji Kecukupan Data ... V-19 5.3.2.3.1Uji Kecukupan Data TSB... V-20 5.3.2.3.1Uji Kecukupan Data JT ... V-20 5.3.3 Uji Kenormalan dengan Kolmogorov-smirnov test... V-21 5.3.4 Penetapan Data Antropometri ... V-25

VI PEMBAHASAN HASIL... VI-1 6.1 Analisis Standard Nodric Questionare ... VI-1 6.2 Analisis Beban Kerja Operator ... VI-1 6.3 Usulan Rancangan Fasilitas kerja ... VI-1

(13)

VII KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1 7.1 Kesimpulan... VII-1 7.2 Saran... VII-1

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(14)

1.1 Data Operator Penimbangan ... I-3 2.1 Jumlah Operator di PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk... II-16 3.1 Kategori Kerja Berdasarkan Metabolisme, Respirasi, Suhu Tubuh

dan Denyut jantung ... III-2 3.2 Kategori Beban Kerja Sesuai Energi Kerja ... III-7 3.3 Tabel Persentil dan Cara Perhitungan Dalam Distribusi Normal .... III-15 5.1 Data Denyut Nadi Operator ... V-1 5.2 Data Rata-rata Denyut Nadi Operator... V-2 5.3 Rekpitulasi Standard Nodric Questionnaire... V-4 5.4 Dimensi Tubuh Operator ... V-5 5.5 Jumlah Operator yang Mengalami Keluhan Sakit ... V-6 5.6 Rekapitulasi Perhitungan %CVL Operator Pengepakan ... V-9 5.7 Rekapitulasi Nilai Konsumsi Energi Operator pengepakan ... V-11 5.8 Hasil Pengukuran Nilai Rata-rata, Standar Deviasi, dan Nilai

Maksimum dan Minimum... V-14 5.9 Uji Keseragaman Tinggi Siku Berdiri (TSB) ... V-15 5.10 Data Uji Keseragaman Tinggi Siku Berdiri (TSB)... V-16 5.11 Uji Keseragaman Jangkauan Tangan (JT) ... V-18 5.12 Data Uji Keseragaman Jangkauan Tangan (JT)... V-18

(15)

5.13 Rekapitulasi Hasil Uji Keseragaman ... V-19 5.14 Uji Kecukupan Data... V-21 5.15 Uji Normal Kolmogorov-Smirnov Tinggi Siku Berdiri (TSB) ... V-24 5.16 Normal Kolmogorov-Smirnov Jangkauan tangan (JT)... V-25

(16)

1.1 Keadaan Aktual pada Stasiun Pengepakan ... II-2 2.1 SIR 10 CV... II-1 2.2 Lokasi PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk... II-2 2.3 Proses Pencacahan Karet ... II-4 2.4 Tempat Pencucian ... II-4 2.5 Mesin Extruder ... II-5 2.6 Pengisian Pan ... II-6 2.7 Mesin Dryer ... II-7 2.8 Proses Pengepakan... II-8 2.9 Proses Pembungkusan... II-8 2.10 Struktur Organisasi PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk ... II-18 3.1 Standard Nodric Questionnaire... III-5 3.2 Kurva Distribusi Normal dengan Persentil 95-th... III-15 4.1 Kerangka Konseptual... IV-3 4.2 Langkah-langkah Proses Penelitian ... IV-7 5.1 Grafik Pengujian Tinggi Siku Berdiri... V-16 5.2 Grafik Pengujian Jangkauan Tangan ... V-19 6.1 Rancangan Usulan Fasilitas Kerja Operator Packing PT. Bakrie

Sumatera Plantation ... VI-2 6.2 Simulasi Meja Conveyor Pada Bagian Packing... VI-3

(17)
(18)

1.1 Latar Belakang

Mengoptimalkan desain sistem kerja salah satunya dapat menggunakan pendekatan microergonomic (ergonomi mikro). Manfaat dari desain kerja yang baik adalah dapat menurunkan potensi bahaya bagi para pekerja yaitu mulai dari cedera, penyakit, sampai kematian. Kerugian apabila tidak memperhatikan desain kerja adalah perusahaan harus mengeluarkan uang tunjangan kesehatan untuk pekerja yang mengalami bahaya (cedera, penyakit, dan kematian), proses produksi menjadi lebih lama dan perusahaan bisa saja tidak dapat memenuhi pesanan dengan tepat waktu.

PT. Bakrie Sumatera Plantation adalah industri yang bergerak dalam produksi karet khususnya SIR 10 dan SIR 10VK. Proses produksi SIR 10 /VK meliputi pencacahan 1.5 inci, pencucian crumb, pencacahan 2-3 mm, pengisian crumb ke dalam pan, pemanasan crumb menjadi ball crumb, pengepakan.

Berdasarkan hasil pengamatan awal diketahui bahwa terdapat stasiun kerja yang memiliki aspek-aspek desain kerja yang perlu diperbaiki pada bagian pengepakan yang terdiri dari beberapa tahap yang meliputi penempatan ballcrum (gumpalan karet yang sudah di panaskan dengan mesin driyer), penimbangan ballcrum seberat 15 kg dengan jarak 5 meter, pengepresan dengan menggunakan mesin press, pembungkusan dan pengepakan. Dari proses prngepakan tersebut

(19)

tersebut operator harus mengambil ballcrum (gumpalan karet yang sudah di panaskan dengan mesin driyer) seberat 15 kg dengan jarak 5 meter dari tempat penyimpanan sementara, sedangkan proses penimbangan ballcrum harus seberat 36 kg sehingga operator harus bolak-balik untuk mengambil ballcrum dengan jarak 5 meter. Dengan pengangkatan beban yang cukup berat akan mengakibatkan keluhan pada otot dan bekerja secara monoton. Dengan kondisi tersebut mengakibatkan operator menjadi mudah lelah sehingga perlu dilakukan desain kerja yang baik. Keadaan aktual pada stasiun pengepakan dapat dilihat pada ilustrasi berikut ini.

Gambar 1.1. Keadaan Aktual pada Stasiun Pengepakan

(20)

sakit pada bahu kiri dan kanan, sakit pada punggung, sakit pada pinggang dan bokong dan sakit pada beberapa bagian tubuh lainnya yang di sebabkan karena mengangkat ballcrum. Kemudian penelitian di lakukan dengan mengetahui faktor kelelahan dari operator yaitu mengetahui denyut nadi operator untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan operator saat bekerja. Kemudian penentuan klasifikasi beban kerja berdasarkan peningkatan denyut nadi maksimum karena adanya beban (cardiovascular load = %CVL) pada setiap kegiatan yang dilakukan oleh pekerja perlu diketahui. Hal ini diharapkan agar pekerja dapat melakukan pekerjaannya secara maksimal dalam jangka waktu yang cukup lama.Dari perhitungan %CVL yang didapat maka dapat diambil kesimpulan berdasarkan klasifikasi beban kerja yang telah ditetapkan, yaitu sebagai berikut:

Tabel 1.1. Data Operator Penimbangan

No Nama Jenis Kelamin Umur

(Tahun)

Denyut Nadi Operator (Denyut/Menit)

DNI DNK

1 Rahmansyah Laki-laki 52 73 130

2 Samudra Laki-laki 26 70 125

3 Paidi Laki-laki 35 71 128

4 Mariono Laki-laki 40 72 127

Klasifikasi beban kerja berdasarkan nilai konsumsi energi dengan satuan dalam Kkal/Jam, yaitu sebagai berikut:

(21)

2. Beban kerja sedang, untuk 201 – 350 Kkal/jam 3. Beban kerja berat, untuk diatas 350 Kkal/jam

Berdasarkan kondisi yang telah dipaparkan pada latar belakang, penelitian diupayakan untuk mengidentifikasi beban kerja yang dialami oleh pekerja pada stasiun penimbangan. Identifikasi dilakukan dengan mengkaji kebutuhan kalori operator dengan menggunakan Cardiovascular Load (% CVL). Operator melakukan kegiatan mengangkat beberapa kilogram Ballcrumb (gumpalan karet yang sudah di panaskan dengan mesin driyer) secara terus menerus. Oleh karena itu perlu diperhatikan bagaimana beban kerja fisik yang layak berdasarkan kategori beban cardiovascular load agar tidak terjadi kelelahan pada operator.

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk merancang sistem kerja seperti yang dilakukan oleh Sritomo Wignjosoebroto1Pada proses pembuatan dari ban bekas menjadi ban baru di vulkanisir ban yang dilakukan di bagian skiving, dimana stasiun kerja operator dalam melakukan aktifitas dijumpai beberapa kondisi kerja yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip ergonomi dan menurut pihak manajemen tingkat produktivitas kerja operator dibagian ini masih cukup rendah. Berdasarkan evaluasi ergonomi yang telah dilakukan terhadap redesain stasiun kerja antara lain analisa

1Sritomo Wignjosoebroto. 2014. Analisis Ergonomi Terhadap Rancangan Fasilitas Kerja Pada

Stasiun Kerja Dibagian Skiving Dengan Antropometri Orang Indonesia ( Studi Kasus Di Pabrik Vulkanisir Ban ). ITS: Surabaya

(22)

yang sebelum redesain tidak ergonomis. Hal ini ditunjukkan pada analisa physiological performance yang masih berada diatas standar Lehman ( 5,496 kcal / menit > 3,0 kcal / menit ), serta analisa subjektivitas yang masih menunjukkan tingkat keluhan rasa sakit oleh operator yang harus ditanggung oleh tubuh bagian kanan, terutama tangan, lengan. Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kondisi kerja sesudah redesain ini akan lebih baik dari pada kondisi kerja sebelum redesain, misalnya ukuran fasilitas kerja yang telah disesuaikan dengan antropometri, adanya kursi kerja, selain itu pengeluaran energi rata-rata operator pada kondisi sesudah redesain sudah lebih kecil dari sebelum redesain dan juga standar Lehman. Dan berdasarkan hasil penyebaran kuesioner sebelum dan sesudah redsain ternyata dapat dilihat adanya penurunan tingkat keluhan rasa sakit yang dialami oleh operator pada saat bekerja. Dengan bekerja pada stasiun kerja sesudah redesain produktivitas kerja operator turut meningkat.

Penelitian makro ergonomi juga dilakukan oleh Lusi Susanti2untuk perancangan konfigurasi tinggi setang, sadel, dan pedal sepeda yang ergonomis. Dengan menggunakan metode %CVL dan Konsumsi energi untuk perancangan konfigurasi tinggi setang hasil yang di peroleh adalah terdapat tiga ukuran sepeda sesuai dengan antropometri penggunanya, yaitu sepeda ukuran small

2Lusi Susanti. 2016. Perancangan konfigurasi tinggi setang, Sadel, danPedal sepeda yang ergonomis. niversitas Andalas, Padang

(23)

untuk pengendara dengan antropometri persentil sedang, dan sepeda ukuran largeuntuk pengendara dengan antropometri persentil besar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan permasalahan dengan beberapa keluhan dan beban kerja yang dimiliki operator dalam bekerja sehingga perlu dilakukan perbaikan desain kerja agar kondisi kerja menjadi lebih ergonomis.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan perbaikan desain kerja untuk mengurangi keluhan operator pengepakan dengan penerapan ergonomi mikro.

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

1. Menganalisis beban kerja yang di alami operator 2. Memberikan usulan perbaikan

(24)

1. Bagi Mahasiswa

a. Mendapatkan wawasan terutama mengenai perbaikan desain kerja di tempat kerja serta dapat memecahkan dan mencari solusi masalah dari sudut pandang akademis.

b. Memperoleh peluang untuk mencari solusi dari permasalahan di perusahaan dari sudut pandang akademis.

2. Bagi Perusahaan

a. Memberi masukan kepada pihak perusahaan terhadap upaya yang dapat dilakukan desain kerja yang di lakukan di tempat kerja agar kenyamanan lingkungan kerja dapat tetap dijaga

3. Bagi Departemen Teknik Industri

Memperoleh referensi untuk penelitian selanjutnya dalam mencari solusi terbaik trntang pengaplikasian desain kerja di tempat pekerja.

1.5 Batasan dan Asumsi Penelitian

Batasan masalah yang digunakan pada penelitian ini adalah :

1. Kuesioner yang disebarkan untuk melihat keluhan operator adalah Standard Nordic Questionnaire (SNQ).

(25)

3. Usulan rancangan perbaikan dilakukan tanpa mempertimbangkan biaya.

Asumsi dalam penelitian yang dilakukan sebagai berikut : 1. Operator bekerja secara normal.

2. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berada pada kondisi baik dan sesuai standar.

3. Tidak terjadi perubahan kebijakan manajemen selama penelitian.

4. Alat ukur yang digunakan dalam kondisi baik dan sesuai dengan standar.

1.6. Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Bab I Pendahuluan, menguraikan latar belakang permasalahan yang mendasari penelitian, perumusan permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian serta sistematika penulisan laporan penelitian.

Bab II Gambaran Umum Perusahaan, berisi ruang lingkup perusahaan, lokasi, struktur organisasi, tugas dan tanggung jawab, jumlah tenaga kerja , jam kerja karyawan, dan sistem pengupahan PT. Bakrie Sumatera Plantation.

Bab III Landasan Teori, berisi teori tentang Ergonomi, Kuesioner SNQ, Beban Kerja Fisik, Konsumsi Energi, dan Antropometri.

Bab IV Metodologi Penelitian, menguraikan tahap-tahap dalam penelitian yaitu tempat dan waktu penelitian, jenis penelitian, objek penelitian, kerangka konseptual penelitian, metode pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis pemecahan masalah.

(26)

antropomoteri.

Bab VI, Pemecahan Masalah, analisis desain kerja serta analisis pemecahan masalah.

Bab VII, Kesimpulan dan Saran, berisi tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis pemecahan masalah dan saran-saran yang bermanfaat bagi perusahaan.

(27)
(28)

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk adalah salah satu perusahaan perkebunan tertua di Indonesia. Pada tahun 1986, perusahaan ini diakui sisi oleh Bakrie and Brothers dan kemudian diganti namanya menjadi PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Tahun 1990 ditandai tonggak penting bagi perusahaan ketika itu berhasil tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES).

PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk. (PT. BSP) merupakan Perusahaan yang bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan karet. Bunut Rubber Factory merupakan pabrik bagian dari PT. BSP yang mengolah karet dari bahan baku berupa lateks menjadi Crumb Rubber.

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha

PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Bunut Rubber Factory Kisaran Sumatera Utara menghasilkan produk yaitu Crumb Rubber SIR 10 CV.

Gambar 2.1. SIR 10 CV

(29)

Saat ini PT. Bakrie Sumatra Plantation Tbk. juga sudah memperluas bidang usaha yaitu perkebunan dan pengolahan kelapa sawit.

2.3. Lokasi Perusahaan

Kantor pemasaran PT. Bakrie Sumatra Plantation Tbk berada di Jalan Ir.Juanda Kisaran, kabupaten Asahan Sumatera Utara dan kegiatan produksi (pengolahan karet) yang disebut Pabrik Bunut berlokasi di Kelurahan Bunut, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan. Lokasi pabrik ini terletak ditengah areal perkebunan yang berjarak 5 kilometer dari kota Kisaran, yang berada pada lintasan jalan raya trans Sumatera dan jalur kereta api. Tampilan lokasi PT. Bakrie Sumatra Plantation Tbk dilihat dari satelit dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Lokasi PT. Bakrie Sumatra Plantation Tbk

(30)

2.4. Dampak Sosial dan Ekonomi Terhadap Lingkungan

Dampak dari segi sosial pabrik khususnya pada lingkungan sekitar pabrik dapat dilihat dengan adanya suatu agenda program kegiatan sosial setiap tahun seperti dalam menyambut bulan ramadhan dengan membagikan bantuan berupa bingkisan sembako kepada panti asuhan, mesjid-mesjid untuk jama’ah yang berbuka puasa, kaum dhuafa serta memberikan hewan kurban saat idul adha.

Perusahaan juga memberikan bantuan duka cita bila ada keluarga masyarakat sekitar lingkungan perusahaan mendapat kemalangan (meninggal dunia).

Dampak dari segi ekonomi pada lingkungan pabrik dapat dilihat dengan adanya tempat penginapan dan warung yang menyediakan kebutuhan sehari-hari di sekitar lokasi pabrik. Hal ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung perusahaan tetap membantu pergerakkan perekonomian masyarakat di sekitar pabrik.

2.5. Uraian Proses Produksi

Berikut ini merupakan uraian proses pembuatan crumb rubber PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk secara lengkap adalah sebagai berikut:

1. Proses pencacahan karet dengan mesin preabreker

Proses awal untuk perubahan bentuk dari balok menjadi kecil kriting-kriting dengan mesin Preabreker. Mesin Preabreker dapat dilihat pada gambar 2.3.

(31)

Gambar 2.3. Proses Pencacahan Karet

Lateks yang telah dibekukan akan dibawa ke mesin preabreker dengan cara manual.

2. Proses pencucian

Proses pencucian adalah proses untuk membersihkan kotoran seperti memisahkan partikel yang tidak diinginkan seperti kulit pohon, serta batu kecil. Tempat pencucian dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4. Tempat Pencucian

(32)

Proses pencucian ini adalah dengan cara mengalirkan air dari mesin pompa air, yang kemudian secara otomatis crumb yang keluar dari mesin preabreker akan dibawa oleh elevator pada mesin extruder.

3. Proses Pencacahan

Pada proses pencacahan, bahan diperkecil ukurannya di mesin Extruder menjadi crumb. Bahan ini dijatuhkan ke bak penampungan yang dicampur air lalu dihisap menggunakan pompa Static Screen. Mesin Extruder dapat dilihat pada gambar 2.5.

Gambar 2.5. Mesin Extruder

4. Proses pemisahan air dari crumb

Proses pemisahan air dari crumb dengan menggunakan pompa statis kemudian crumb menuju ke pan sementara air kembali ke mesin pencacahan

(33)

sehingga tidak ada kotoran yang masuk ke dalam bak penampungan. Mesin pemisahan air dari crumb dapat dilihat pada gambar 2.6.

Gambar 2.6. Pengisian Pan

5. Proses Pegeringan

Proses pengeringan dilakukan terhadap crumb dengan menggunakan mesin pengering (dryer) selama 2 jam dengan suhu 1400C sampai warna crumb menjadi warna kecoklatan. Mesin pengeringan dapat dilihat pada Gambar 2.7.

(34)

Gambar 2.7. Mesin Dryer

Cara pengeringan menggunakan mesin dryer adalah cukup dengan memasukkan pan yang berisi crumb dan ditunggu selama 4,5 jam, secara otomatis pan yang berisi crumb kering akan keluar dari mesin dryer.

6. Proses Pengepakan

Setelah crumb keluar dari mesin dryer, terlebih dahulu didinginkan untuk mempermudah proses pengepakan.Proses pengepakan dimulai dari penampungan ball crumb dimana ada 10 crumb ball untuk setiap 1 pan yang beratnya masing- masing 15 kg. Pemotongan dilakukan karena untuk 1 bungkus produk harus seberat 36 kg. Langkah pertama ialah pengangkatan ballcrum ke tempat penimbangan. Langkah ke-2 adalah menimbang crumb ball, untuk memastikan crumb ball sudah seberat 36 kg. Langkah ke-3 adalah menge-press crumb ball yang sudah ditimbang. Langkah ke-4 adalah dengan membungkus crumb ball dengan menggunakan plastik bening dan plastik interlayer. Dapat di lihat pada gambar berikut.

(35)

Gambar 2.8. Proses Pengepakan

Langkah ke-5 adalah membungkus seluruh crumb ball yang totalnya 36 bungkus dengan menggunakan plastik jacket. Langkah kelima dapat dilihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Proses Pembungkusan

(36)

2.5.1. Struktur Organisasi Perusahaan

Struktur organisasi merupakan susunan yang terdiri dari fungsi-fungsi dan hubungan-hubungan yang menyatakan keseluruhan kegiatan untuk mencapai suatu sasaran.

Struktur organisasi pada PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk adalah berbentuk fungsional. Hubungan fungsional karena pembagian tugas juga dilakukan berdasarkan fungsi-fungsi yang membentuk hubungan fungsional.

Struktur organisasi PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk dapat dilihat pada gambar 2.1

2.5.2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab

Adapun uraian tugas dan tanggung jawab untuk masing-masing jabatan pada PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk.

1. Manager Bunut Rubber Factory

Manager Factory merupakan pimpinan tertinggi di pabrik yang mengelola kebijakan di pabrik, penanggungjawab utama atas tercapai tujuan perusahaan di pabrik.

Tugas dan Wewenang : a. Mengkoordinir tugas asisten.

b. Membuat laporan rutin mengenai keadaan pabrik secara keseluruhan setiap bulan.

c. seluruh kegiatan di pabrik dan distribusi.

d. Mengkoordinir tugas- Manager Factory mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Direktur Utama PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk.

2. Asisten Maintenance

(37)

Asisten General Maintenance adalah bertugas menangani segala kegiatan perawatan di pabrik khususnya yang berkaitan dengan mesin-mesin umum di dalam pabrik seperti mesin-mesin produksi.

Tugas dan Wewenang :

a. Mengawasi dan mengatur kegiatan karyawan-karyawan maintenance.

b. Menerima informasi tentang keadaan mesin dari asisten pengolahan.

c. Membuat laporan rutin setiap minggu mengenai keadaan mesin dan peralatan.

d. Perbaikan dan perawatan mesin-mesin produksi.

e. Melaksanakan tugas-tugas lainnya yang ditetapkan Manager Factory.

Asisten Maintenance mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Manager Factory.

3. Asisten Traksi & Auto Tecnical

Bagian ini bertugas menangani kegiatan engineering yang berkaitan dengan mesin-mesin transportasi untuk keperluan pabrikasi.

Tugas dan Wewenang :

a. Mengawasi pekerjaan-pekerjaan di bengkel Traksi & Auto Tecnical

b. Membuat laporan rutin mingguan mengenai keadaan di bengkel Traksi &

Auto Tecnical

c. Mengawasi peralatan-peralatan transportasi.

d. Menjalankan tugas-tugas lain yang diberikan Manager Factory.

Asisten Traksi & Auto Tecnical mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Manager Factory.

4. Asisten Pengolahan Block Skim Rubber (BSR)

(38)

khususnya di pengolahan Block Skim Rubber.

Tugas dan Wewenang :

a. Mengawasi pengolahan Block Skim Rubber.

b. Mengatur kegiatan yang ada di dalam pabrik Block Skim Rubber.

c. Membuat metode kerja yang baru dalam pabrik Block Skim Rubber untuk meningkatkan produktivitas.

d. Mengatur jadwal karyawan yang ada di pabrik Block Skim Rubber.

e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Manager Factory.

Asisten Pengolahan Block Skim Rubber mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Manager Factory.

5. Asisten Pengolahan Crumb Rubber

Asisten Pengolahan crumb rubber bertugas mengawasi kegiatan pabrik khususnya di pengolahan crumb rubber I (SIR3L dan SIR3CV) dan Crumb Rubber II (SIR10, SIR10VK, SIR20, dan SIR20VK).

Tugas dan Wewenang :

a. Mengawasi pengolahan crumb rubber

b. Mengatur kegiatan yang ada di dalam pabrik crumb rubber.

c. Membuat metode kerja yang baru dalam pabrik crumb rubber untuk meningkatkan produktivitas.

d. Mengatur jadwal karyawan yang ada di pabrik crumb rubber.

e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan manager factory.

(39)

Asisten pengolahan crumb rubber mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Manager Factory.

(40)

6. Asisten Laboratorium Mini

Laboratorium Mini adalah bagian laboratorium yang dibuat untuk menganalisis proses produksi untuk membantu Quality Control Department.

Tugas dan Wewenang :

a. Mengawasi mutu pengolahan pada masing-masing pengolahan.

b. Mengawasi dan mengatur kegiatan pemeriksaan produk, proses, dan pemeriksaan pada penimbangan.

c. Melakukan percobaan penentuan kadar karet kering pada bahan baku dan bahan jadi.

Asisten laboratorium mini mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Manager Factory.

7. Asisten Penerimaan dan Sortasi Bahan Baku

Asisten Penerimaan dan Sortasi Bahan Baku bertugas untuk membantu Manager Factory dalam menangani seluruh kegiatan penerimaan dan sortasi bahan baku.

Tugas dan Wewenang :

a. Mengatur jadwal penerimaan bahan baku.

b. Mengawasi penerimaan dan sortasi bahan baku, termasuk penimbangan.

c. Membuat laporan mingguan mengenai kegiatan penerimaan dan sortasi bahan baku.

d. Mengawasi karyawan yang bertugas pada penerimaan dan sortasi bahan baku.

e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Manager Factory.

(41)

Asisten Penerimaan dan Sortasi Bahan Baku mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Manager Factory.

8. Asisten Belawan Instalasi

Belawan Instalasi bertugas membantu Manager Factory dalam pendistribusian produk ke konsumen.

Tugas dan Wewenang :

a. Mengatur kegiatan yang ada di Belawan Instalasi.

b. Mengawasi karyawan-karyawan yang ada di Belawan Instalasi.

c. Membuat laporan mingguan mengenai kegiatan di Belawan Instalasi.

d. Mengawasi kegiatan pemasaran produk jadi.

e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Manager Factory.

Asisten Belawan Instalasi mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Manager Factory dalam menjalankan tugasnya.

9. Asisten Administrasi dan Security

Asisten Administrasi bertugas membantu Manager Factory dalam pekerjaan yang berkaitan dengan anggaran, administrasi, keuangan pada pabrik.

Tugas dan Wewenang :

a. Mengerjakan segala kegiatan ketatausahaan dan perencanaan kebutuhan teknik/pabrik.

b. Membuat laporan penjualan dan pembelian setiap akhir bulan.

c. Membuat surat jalan untuk barang yang hendak di kirim atau hasil produksi yang akan dipasarkan.

(42)

upah dan gaji karyawan serta pencatatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

e. Menyelenggarakan permintaan dana, permintaan barang dan permintaan lainnya, untuk diajukan ke kantor direksi.

f. Menyusun anggaran belanja untuk masa-masa tertentu.

g. Membuat pembayaran atas pembelian-pembelian yang telah dilakukan.

h. Membuat laporan keuangan kas periode mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan.

i. Membayar hak-hak pegawai sesuai dengan ketentuan perusahaan berdasarkan golongan pegawai.

j. Mengawasi kegiatan security di pabrik.

Asisten Administrasi dan Security mempertanggungjawabkan tugas dan wewenangnya kepada Manager Factory.

2.6 Operator dan Jam Kerja Perusahaan

Operator pada Pabrik Bunut (Bunut Rubber Factory) terbagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan staf dan non staf.

1. Staf

Staf adalah pegawai yang berkedudukan sebagai pemimpin seksi/bagian di setiap divisi/lokasi. Kedudukan yang termasuk staf meliputi manajer dan asisten.

2. Non staf

(43)

Karyawan non staf adalah karyawan yang bekerja sebagai pelaksana operasional dalam seluruh kegiatan dalam perusahaan. Karyawan non staf dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu:

a. HIP (High Indonesian Personal) merupakan operator yang bekerja di bagian administrasi dan merupakan operator bulanan.

b. Labour merupakan operator yang bertugas di bagian produksi, baik berhubungan langsung dengan produksi maupun tak langsung. Operator ini meliputi: krani, supir, mandor, mandor besar, dan kepala administrasi.

c. Casual Labour merupakan operator harian lepas, yang berarti operator yang diperlukan hanya jika ada kebutuhan yang mendesak.

Jumlah operator pada Pabrik Bunut (Bunut Rubber Factory) adalah sebanyak 576 orang, dengan perincian yang dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Jumlah Operator di PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk Operator Jumlah (orang)

Staf 9

HIP 271

Labour 225

Casual Labour 41

Jumlah 576

Sumber : PT. Bakrie Sumatera Plantations Tbk.

Jam kerja pada PT. BSP-Bunut Rubber Factory adalah delapan jam per hari.

Jam kerja pada waktu libur, apabila diperlukan, dihitung sebagai lembur. Untuk kelancaran proses produksi, pabrik Bunut membagi jam kerja atas dua shift untuk operator harian yaitu :

Shift I : Pukul 06.30 – 14.30 Shift II : Pukul 14.30 – 22.30

(44)

Jam kerja untuk manajer pabrik, staf, asisten, serta karyawan HIP adalah : Bekerja : Pukul 07.00– 12.00

Istirahat : Pukul 12.00 – 14.00 Bekerja : Pukul 14.00 – 16.00

(45)
(46)
(47)

3.1. Beban Kerja1

Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari. Pekerjaan di satu pihak mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan prestasi, sehingga mencapai kehidupan yang produktif sebagai salah satu tujuan hidup. Di pihak lain, dengan bekerja berarti tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain, bahwa setiap pekerja merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban mental.

Dari sudut pandang ergonomi menganalisis setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik dalam kemampuan fisik, kognitif, maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut.

Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkat keterampilan, kesegaran jasmani, usia dan ukuran tubuh dari pekerja yang bersangkutan.

3.1.1. Penilaian Beban Kerja Fisik

Penilaian beban kerja fisik dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif, yaitu metode penilaian langsung dan metode tidak langsung. Metode

1Tarwaka. 2004. Ergonomi untuk keselamatan, kesehatan kerja dan produktivitas. UNIBA:

(48)

expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja. Semakin berat beban kerja akan semakin banyak energi yang diperlukan atau dikonsumsi. Sedangkan metode pengukuran tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi selama kerja.

Salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menghitung nadi kerja, konsumsi oksigen, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pada batasan tertentu ventilasi paru, denyut jantung dan suhu tubuh mempunyai hubungan linear dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang dilakukan. Berikut adalah kategori beban kerja yang didasarkan pada metabolisme, respirasi suhu tubuh, dan denyut jantung menurut Christensen adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1. Kategori Kerja Berdasarkan Metabolisme, Respirasi, Suhu Tubuh dan Denyut Jantung

Kategori Beban

Kerja

Konsumsi Oksigen

(1/min)

Ventilasi Paru (1/min)

Suhu Rektal

(C)

Denyut Jantung (Denyut/min)

Ringan Sedang Berat Sangatberat Sangat berat sekali

0,5-1,0 1,0-1,5 1,5-2,0 2,0-2,5 2,5-3,0

11 – 20 20 - 31 31 - 43 43 - 56 60-100

37,5 37,5-38,0 38,0-38,5 38,5-39,0

>39,0

60-100 100-125 125-150 150-175

>175

Sumber: Christensen (1991:1699)

(49)

Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang tenaga kerja dapat digunakan untuk menentukan berapa lama seorang tenaga kerja dapat melakukan aktivitas pekerjaannya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan. Dimana semakin berat beban kerja, maka akan semakin pendek waktu kerja seseorang untuk bekerja tanpa kelelahan dan gangguan fisiologis yang berarti atau sebaliknya.

3.1.2. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja2

Penentuan klasifikasi beban kerja berdasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler (cardiovascular load = %CVL) yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

istirahat nadi

Denyut maksimum

nadi Denyut

istirahat) nadi

Denyut kerja

nadi (Denyut

%CVL 100

 

Dimana denyut nadi maksimum adalah (220-umur) untuk laki-laki dan (200-umur) untuk wanita. Dari perhitungan % CVL tersebut kemudian dibandingkan dengan klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut:

1. < 30 % = Tidak terjadi kelelahan 2. 30 s.d < 60 % = Diperlukan perbaikan 3. 60 s.d < 80 % = Kerja dalam waktu singkat 4. 80 s.d < 100 % = Diperlukan tindakan segera 5. > 100 % = Tidak diperbolehkan beraktivitas

(50)

cardiovasculair strain dapat diestimasi dengan menggunakan denyut nadi pemulihan atau dikenal dengan metode “Brouha“. Keuntungan dari metode ini adalah sama sekali tidak mengganggu atau menghentikan pekerjaan, karena pengukuran dilakukan tepat setelah subjek berhenti bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung pada akhir 30 detik pada menit pertama, kedua dan ketiga.

P1, P2, P3adalah rata-rata dari ketiga nilai tersebut dan dihubungkan dengan total cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Jika P1-P3≥ 10 atau P1, P2, P3seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal.

2. Jika rata-rata P1 yang tercatat ≤ 110, dan P1-P3 ≥ 10, maka beban kerja tidak berlebihan.

3. Jika P1-P3< 10, dan jika P3> 90, perlu redesain perbaikan.

3.2. Standard Nordic Questionnaire (SNQ)

Standard Nordic Questionnaire (SNQ) merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur keluhan-keluhan otot yang dialami oleh pekerja.

Melalui Standard Nordic Questionnaire seperti pada Gambar 3.2. dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak nyaman (agak sakit) sampai sangat sakit.

Dengan melihat dan menganalisis peta tubuh SNQ maka dapat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh pekerja.3

(51)

Gambar 3.1. Standard Nordic Questionnaire

(52)

3.3. Penentuan Waktu Kerja dan Waktu Istirahat4

Jika denyut nadi dipantau selama istirahat, kerja dan pemulihan maka waktu pemulihan untuk beristirahat meningkat sejalan dengan beban kerja. Dalam keadaan yang ekstrim, pekerja tidak mempunyai waktu istirahat yang cukup sehingga mengalami kelelahan yang kronis.

Murrel membuat metode untuk menentukan waktu istirahat sebagai kompensasi dari pekerjan fisik:

R = Istirahat yang dibutuhkan dalam menit T = Total waktu kerja dalam menit

W = Konsumsi energi rata-rata untuk bekerja dalam kkal/menit

S =Pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan dalam kkal/menit (biasanya 4 atau 5 kkal/menit)

Untuk menghindari kerugian pengukuran pekerja ketika bekerja, dapat digunakan perubahan tingkat denyut selama pemulihan.

5 , 1

) (

  W

S W R T

(53)

3.3.1. Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Jumlah Kebutuhan Kalori

Dalam penentuan konsumsi energi biasanya digunakan suatu bentuk hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung yaitu sebuah persamaan regresi kuadratis sebagai berikut:

E = 1,80411 – 0,0229038 X + 4,71733 x X2 Dimana:

E = Energi (Kkal/menit)

X = Kecepatan denyut jantung/nadi (denyut/menit)

Untuk mengetahui jumlah energi kerja yang dibutuhkan sesuai dengan beban kerjanya dapat dijelaskan dalam Tabel 2.2. sebagai berikut:

Tabel 3.2. Kategori Beban Kerja sesuai Energi Kerja

Beban Kerja Energi Kerja

Ringan 100 – 200 Kkal/jam

Sedang >200 – 350 Kkal/jam

Berat >350 – 500 Kkal/jam

(54)

3.4.1. Definisi Antropometri

Istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan

“metri” yang berarti ukuran. Secara definitif, antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia5. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, dan sebagainya) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia. Tempat kerja yang baik dalam artian sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia dapat diperoleh apabila ukuran-ukuran dari tempat kerja tersebut sesuai dengan dimensi tubuh manusia dan yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia dipelajari dalam antropometri.

3.4.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengukuran Antropometri

Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga sudah semestinya seorang perancang produk harus memperhatikan faktor-faktor tersebut yang antara lain adalah:

1. Umur

Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahirannya sampai

(55)

dengan umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian yang dilakukan oleh A.F.Roche dan G.H.Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21 tahun, sedangkan wanita 17 tahun. Meskipun ada sekitar 10% yang masih terus bertambah tinggi sampai usia 23 tahun (laki-laki) dan 21 tahun (wanita). Setelah itu, tidak akan terjadi lagi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi penurunan ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan.

2. Jenis Kelamin (Sex)

Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul dan sebagainya.

3. Suku Bangsa (Etnis)

Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnik akan memiliki karakteristik fisik yang akan berbeda satu dengan yang lainnya.

4. Posisi Tubuh

Sikap (postur) ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh.

Oleh sebab itu, posisi tubuh standar harus ditetapkan untuk survei pengukuran.

Dalam kaitan dengan posisi tubuh dikenal 2 cara pengukuran yaitu pengukuran dimensi struktur tubuh dan pengukuran dimensi fungsional tubuh.

5. Cacat Tubuh

(56)

antropometri ini diperlukan untuk perancangan produk bagi orang-orang cacat, misalnya kursi roda, kaki/tangan palsu, dan lain-lain.

6. Tebal/Tipisnya Pakaian yang Dikenakan

Faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda-beda dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian.

7. Kehamilan (Pregnancy)

Kondisi semacam ini jelas mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh (khusus perempuan). Hal tersebut jelas memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmentasi seperti ini.

3.4.3. Antropometri Statis (Struktural)

Istilah lain dari pengukuran tubuh dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna) dikenal dengan antropometri statis.

Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi/panjang lutut pada saat berdiri/duduk, panjang lengan dan sebagainya.

Ukuran dalam hal ini diambil dengan persentil tertentu seperti 5-th dan 95- th persentil. Contoh antropometri statis adalah posisi tubuh saat orang duduk di kursi.

(57)

3.4.4. Antropometri Dinamis (Fungsional)

Antropometri dinamis adalah pengukuran yang dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan. Hal pokok yang ditekankan dalam pengukuran dimensi fungsional tubuh ini adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Berbeda dengan antropometri statis yang mengukur tubuh dalam posisi tetap/statis, maka cara pengukuran kali ini dilakukan pada saat tubuh melakukan gerakan-gerakan kerja atau dalm posisi yang dinamis. Antropometri dinamis akan banyak diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas ataupun ruang kerja. Contoh antropometri dinamis adalah perancangan kursi mobil dimana di sini posisi tubuh pada saat melakukan gerakan mengoperasikan kemudi, tangkai pemindahan persneling, pedal dan juga jarak antara kepala dengan atap maupun dashboard harus menggunakan data antropometri dinamis.

3.4.4.1. Prinsip-prinsip Penggunaan Data Antropometri

Data antropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia dalam persentil tertentu akan sangat besar manfaatnya pada saat suatu rancangan produk ataupun fasilitas kerja akan dibuat. Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka prinsip-prinsip yang harus

(58)

dahulu. Seperti diuraikan berikut ini:

1. Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim Di sini rancangan produk dibuat agar memenuhi 2 sasaran produk, yaitu:

a. Bisa sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan rata-ratanya.

b. Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada).

Agar bisa memenuhi sasaran pokok tersebut maka ukuran yang diaplikasikan ditetapkan dengan cara:

a. Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya didasarkan pada nilai persentil yang terbesar seperti 90-th, 95-th atau 99-th persentil. Contoh konkrit pada kasus ini bisa dilihat pada penetapan ukuran minimal dari lebar dan tinggi dari pintu darurat.

b. Untuk dimensi maksimum yang harus ditetapkan diambil berdasarkan nilai persentil yang paling rendah yaitu 1-th, 5-th, 10-th persentil dari distribusi data antropometri yang ada. Hal ini diterapkan dalam penetapan jarak jangkau dari suatu mekanisme kontrol yang harus dioperasikan oleh seorang pekerja.

2. Prinsip perancangan produk yang bisa dioperasikan di antara rentang ukuran tertentu.

Di sini rancangan bisa diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh.

(59)

Contoh yang paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil yang mana dalam hal ini letaknya dapat digeser maju/mundur dari sudut sandarannya pun dapat berubah-ubah sesuai dengan yang diinginkan.

Dalam kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel, semacam ini maka data antropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th sampai 95-th persentil.

3. Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata-rata.

Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia.

Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini juga sedikit sekali mereka yang berada dalam ukuran rata-rata. Di sini produk dirancang dan dibuat untuk mereka yang berukuran sekitar rata-rata, sedangkan bagi mereka yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan tersendiri.

3.4.5. Langkah-langkah Penggunaan Antropometri dalam Perancangan Produk

Berikut langakah-langkah dalam penggunaan konsep antropometri dalam perancangan produk:

1. Terlebih dahulu ditetapkan bagian tubuh mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan.

2. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan.

3. Tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai produk tersebut.

4. Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti.

(60)

6. Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya tetapkan nilai ukurannya dari tabel antropometri yang sesuai.

3.4.6. Aplikasi Distribusi Normal dalam Penetapan Data Antropometri Data antropometri sangat diperlukan agar rancangan suatu produk dapat sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Ukuran tubuh yang diperlukan pada hakikatnya tidak sulit diperoleh dari pengukuran secara individual, seperti halnya yang dijumpai untuk produk yang dibuat berdasarkan pesanan (job order).

Situasi menjadi berubah jika lebih banyak lagi produk standar yang harus dibuat untuk dioperasikan oleh banyak orang. Permasalahan yang timbul adalah ukuran siapakah yang digunakan sebagai acuan untuk mewakili populasi yang ada. Karena pastinya ukuran setiap individu akan bervariasi satu dengan populasi yang menjadi target sasaran produk yang akan dirancang.

Agar permasalahan yang terdapat adanya variasi ukuran sebenarnya akan lebih mudah dipecahkan jika dapat merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan adjustabel dengan suatu rentang ukuran tertentu. Gambar 3.3. menjelaskan dalam anthropometi, angka persentil 95 th akan menggambarkan ukuran tubuh manusia yang terbesar dan persentil 5 th menggambarkan ukuran tubuh manusia yang terkecil.

(61)

Gambar 3.2. Kurva Distribusi Normal dengan Persentil 95-th

Tabel 3.4. menunjukkan pemakaian nilai-nilai persentil yang diaplikasikan dalam perhitungan data antropometri.

Tabel 3.3. Tabel Persentil dan Cara Perhitungan Dalam Distribusi Normal

3.5. Uji Keseragaman Data

Uji keseragaman data dimaksudkan untuk menentukan bahwa populasi data sampel yang digunakan memiliki penyeimbangan yang normal dari rata- ratanya pada tingkat kepercayaan/signifikansi tertentu6. Pengujian terhadap keseragaman data dilakukan untuk mengetahui apakah data-data yang diperoleh telah berada dalam keadaan yang terkendali atau belum. Suatu data yang berada di

6http://www.its.ac.id/personal/files/pub/2850-m_sritomo-ie-akalahRancanganVulkanisi Ban Persentil Perhitungan

1-st- 2.325X

2.5-th- 1.96X

5-th- 1.645X

10-th- 1.28X

50-th

90-th+ 1.28X

95-th+ 1.645X

97.5-th+ 1.96X

99-th+ 2.325X

(62)

Bawah) dapat dikatakan dalam keadaan terkendali, sebaliknya jika suatu data berada di luar BKA dan BKB, maka data tersebut dikatakan berada dalam keadaan tidak terkendali.

Nilai batas kontrol atas dan batas kontrol bawah dapat dihitung apabila nilai standar deviasi telah diketahui. Berikut ini merupakan rumus untuk menghitung standar deviasi dari suatu kumpulan data.

Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk menghitung BKA dan BKB dari suatu kumpulan data.

k x BKB

k x BKA

dimana :

σ = standar deviasi

= Data pengamatan

= Nilai rata-rata data N = banyak data BKA = batas kendali atas BKB = batas kendali bawah k = tingkat kepercayaan

Setelah nilai batas kontrol atas dan batas kontrol bawah diketahui, maka data harus diperiksa untuk mengetahui apakah seluruh nilai data berada di antara BKB dan BKA. Apabila terdapat data yang lebih kecil dari BKB ataupun data yang lebih besar dari BKA, maka data tersebut tidak boleh diikut sertakan dalam proses perhitungan (dieliminasi).

(63)

3.5.1. Uji Kecukupan Data

Perhitungan uji kecukupan data dimaksudkan untuk menentukan sampel minimum yang dapat diolah untuk proses selanjutnya. Uji kecukupan data ini dimaksudkan untuk menentukan apakah sampel data yang dikumpulkan sudah cukup atau belum. Uji ini memiliki lambang N dan N’.

Rumus umum :

dimana :

N’ = Jumlah pengamatan teoritis yang diperlukan N = Jumlah pengamatan aktual yang dilakukan Xi = Data pengamatan ( hasil pengukuran ) k = Tingkat kepercayaan

s = Tingkat ketelitian dalam bentuk persen (%)

Jika N (jumlah data yang telah diperoleh) lebih kecil jumlahnya dibandingkan dengan jumlah data yang dibutuhkan (N’) berarti data tidak cukup sehingga diperlukan penambahan data. Sebaliknya apabila N lebih besar daripada N’ berarti data telah cukup.

Tingkat signifikansi dinyatakan dalam persen dan dilambngkan dengan α.

Misalnya, ditetapkan tingkat signifikansi α = 5% atau α = 10%. Artinya, keputusan peneliti untuk menolak atau mendukung hipotesis nol memiliki probabilitas kesalahan sebesar 5% atau 10%. Dalam beberapa program statistik berbasis komputer, tingkat signifikansi selalu disertakan dan ditulis sebagai Sig.

(= significance), atau dalam program komputer lainnya ditulis ρ-value. Nilai Sig

(64)

Tingkat kesalahan ini digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan dalam pengujian hipotesis.

Tingkat kepercayaan pada dasarnya menunjukkan tingkat keterpercayaan sejauhmana statistik sampel dapat mengestimasi dengan benar parameter populasi dan/atau sejauhmana pengambilan keputusan mengenai hasil uji hipotesis nol diyakini kebenarannya. Dalam statistika, tingkat kepercayaan nilainya berkisar antara 0 sampai 100% dan dilambangkan oleh 1 – α. Secara konvensional, para peneliti dalam ilmu-ilmu sosial sering menetapkan tingkat kepercayaan berkisar antara 95% – 99%. Jika dikatakan tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%, ini berarti tingkat kepastian statistik sampel mengestimasi dengan benar parameter populasi adalah 95%, atau tingkat keyakinan untuk menolak atau mendukung hipotesis nol dengan benar adalah 95%.

(65)
(66)

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian yaitu pada pabrik PT. Bakrie Sumatera Plantation yang berlokasi di Jalan Lintas Sumatera, Kota Kisaran. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni 2017 sampai Februari 2018.

4.2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah operator pada stasiun pengepakan dan fasilitas kerja pada stasiun pengepakan pada PT. Bakrie Sumatera Plantation, Kisaran.

4.3. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini yaitu penelitian deskritif karena untuk mendeskripsikan permasalahan yang ada pada stasiun pengepakan pada PT.Bakrie Sumatera Plantation dan memberikan usulan perbaikan berupa perancangan alat. Berdasarkan analisis dan jenis data, penelitian ini termaksuk dalam penelitian gabungan karena penelitian ini menggunakan data yang bersifat kuantitatif dan kualitatif.

4.4. Variabel Penelitian

Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:

(67)

Variabel ini menggambarkan performa perusahaan yang akan dievaluasi.

2. Postur Kerja

Variabel ini menganalisis mengetahui postur tubuh operator 3. Beban Kerja

Variabel ini menganalisis mengetahui beban yang di angkat oleh operator.

4. Dimensi Antropometri

Variabel ini menyatakan dimensi/ukuran tubuh pekerja yang akan digunakan untuk merancang fasilitas kerja.

5. Desain Kerja

Variabel ini menganalisis ukuran rancangan yang akan di usulkan.

4.5. Kerangka Konseptual

Penelitian dapat dilaksanakan apabila tersedia sebuah rancangan kerangka konseptual yang baik sehingga langkah-langkah penelitian lebih sistematis.

Kerangka konseptual inilah yang merupakan landasan awal dalam melaksanakan penelitian. Kerangka konseptual penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.1. berikut:

(68)

Gambar 4.1. Kerangka Konseptual

4.6. Defenisi Operasional

Definisi operasional dari kerangka konseptual penelitian ialah:

1. Kelelahan, Kesejahteraan dan Kenyamanan Operator

Variabel ini menggambarkan performa perusahaan yang akan dievaluasi.

6. Beban Kerja

Variabel ini menganalisis mengetahui beban yang di angkat oleh operator.

7. Dimensi Antropometri

Variabel ini menyatakan dimensi/ukuran tubuh pekerja yang akan digunakan untuk merancang fasilitas kerja.

(69)

8. Desain Kerja

Variabel ini menganalisis ukuran rancangan yang akan di usulkan.

4.7. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data di Bakrie Sumatera Platation adalah sebagai berikut.

1. Data primer.

Data primer adalah data yang diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara. Data yang dikumpulkan adalah:

a. Data keluhan operator, data keluhan operator di peroleh dri pembagian kuisioner SNQ.

b. Data beban kerja dilakukan dengan menghitung denyut nadi operator pada saat istirahat dan pada saat bekerja

c. Data perusahaan diperoleh dengan meminta langsung data historis perusahaan kepada manajer perusahaan.

d. Data antopometri diperoleh dengan pengukuran dimensi tubuh operator bagian pengepakan

1. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang sudah tersedia oleh pihak perusahaan sehingga tidak perlu lagi digali secara langsung dari sumbernya. Adapun data sekunder yang dikumpulkan adalah:

a. Struktur Organisasi

Diperoleh dari dokumen PT.Bakrie Sumatera Plantation

(70)

4.8. Metode Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan setelah keseluruhan data yang dibutuhkan terkumpul, dimana rinciannya dapat dilihat sebagai berikut:

1. Mendefinisikan proses kerja dan analisis kerja, pada tahap ini diuraikan proses kerja pada stasiun kerja yang bermasalah dan menganalisis permasalahan yang terjadi dengan SNQ.

2. Menganalisis beban kerja operator dengan menggunakan nmetode %CVL dan konsumsi energi.

3. Mendesain ulang dan menggabungkan subsistem, pada tahap ini dilakukan perancangan produk sesuai dengan spesifikasi yang diperoleh pada tahap sebelumnya dengan prinsip antropometri.

4.9. Rancangan Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1. Identifikasi masalah

Identifikasi masalah dilakukan mengetahui kondisi awal perusahaan, proses produksi, dan studi literatur tentang metode pemecahan masalah dari jurnal internet dan teori pendukung lainnya.

3. Perumusan masalah

(71)

Perumusan masalah menjelaskan secara singkat dan detail tentang masalah yang akan dicari pemecahan masalahnya. Masalah yang terjadi adalah keluhan sakit dari operator, dan beban kerja pada .

4. Penetapan tujuan

Penetapan tujuan penelitian sebagai acuan mengarahkan dan menentukan tujuan penelitian, yaitu mengidentifikasi keluhan dari operator dan beban kerja operator.

5. Pengumpulan data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini diperoleh dari data primer dan data sekunder.

6. Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan setelah data primer dan sekunder dikumpulkan kemudian diolah mengikuti tahapan-tahapan berdasarkan studi literatur.

7. Analisa terhadap hasil pengolahan data.

8. Kesimpulan dan saran diberikan untuk penelitian.

Langkah-langkah proses penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2. berikut:

(72)

Gambar 4.2. Langkah-langkah Proses Penelitian

(73)
(74)

5.1. Pengumpulan Data

5.1.1. Data Demyut Nadi Operator

Pengukuran denyut nadi dilakukan terhadap 4 orang pekerja dengan mengambil data DNI dan DNK setelah melakukan aktivitas kerja mereka pada statiun pengepakan. Pekerja pada proses pengemasan melakukan pekerjaannya dalam waktu 2 jam.

Data denyut nadi setiap operator dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5.1. Data Denyut Nadi Operator

Hari Shift Nama Umur Jenis Kelamin DNI DNK

1

A Operator 1 52 Pria 73 130

B Operator 2 26 Pria 70 125

C Operator 3 35 Pria 71 128

D Operator 4 40 Pria 72 127

2

A Operator 1 52 Pria 74 140

B Operator 2 26 Pria 72 128

C Operator 3 35 Pria 70 132

D Operator 4 40 Pria 69 129

3

A Operator 1 52 Pria 74 135

B Operator 2 26 Pria 72 130

C Operator 3 35 Pria 68 131

D Operator 4 40 Pria 72 130

4

A Operator 1 52 Pria 75 130

B Operator 2 26 Pria 74 128

C Operator 3 35 Pria 69 137

D Operator 4 40 Pria 71 130

(75)

No. Nama Umur JenisKelamin DNI DNK

1 Rahmansyah 52 Pria 73 131

2 Samudra 26 Pria 72 130

3 Paidi 35 Pria 72 131

4 Mariono 40 Pria 73 131

(76)

membagi keluhan rasa sakit pada 27 bagian tubuh manusia menjadi 4 skala yaitu

“tidak sakit”, “agak sakit”, “sakit”, dan “sangat sakit”. Operator diminta untuk mengisi kuesioner SNQ dengan cara didampingi oleh peneliti yang bertugas menerangkan pertanyaan-pertanyaan di dalam kuesioner kepada operator.

Penjelasan kategori keluhan yang dirasakan operator saat bekerja adalah sebagai berikut:

1. Tidak sakit (skor 0), apabila operator tidak merasakan keluhan yang berarti terhadap bagian tubuh.

2. Rasa agak sakit (skor 1), apabila operator hanya merasakan rasa nyeri sesekali saja ataupun kesemutan.

3. Rasa sakit (skor 2), apabila operator sering merasakan rasa nyeri ataupun pegal terhadap bagian tubuh.

4. Rasa sangat sakit (skor 3), apabila operator mengalami rasa pegal dan nyeri yang lama (masih dirasakan walaupun pekerjaan sudah selesai).

Rekapitulasi hasil pengumpulan kuesioner SNQ operator pada bagian pengepakan di PT. Bakrie Sumatera Plantation dapat dilihat pada Tabel 5.4.

(77)

1 Rahmansyah 52 1 3 3 3 3 3 3 2 0 1 1 2 1 0 2 3 2 3 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1

2 Samudra 26 0 2 3 3 2 3 3 2 0 0 2 1 0 3 0 2 0 3 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0

3 Paidi 35 1 3 2 3 3 3 2 2 0 0 1 2 0 1 2 3 1 3 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0

4 Mariono 40 1 3 3 3 3 3 3 2 1 0 2 1 1 1 2 3 2 3 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1

Keterangan Tabel:

0. Sakit kaku di leher bagian atas 10. Sakit pada siku kiri 20. Sakit pada lutut kiri 1. Sakit kaku di leher bagian bawah 11. Sakit pada siku kanan 21. Sakit pada lutut kanan 2. Sakit di bahu kiri 12. Sakit pada lengan bawah kiri 22. Sakit pada betis kiri 3. Sakit di bahu kanan 13. Sakit pada lengan bawah kanan 23. Sakit pada betis kanan

4. Sakit lengan atas kiri 14. Sakit pada pergelangan tangan kiri 24. Sakit pada pergelangan kaki kiri 5. Sakit di punggung 15. Sakit pada pergelangan tangan kanan 25. Sakit pada pergelangan kaki kanan 6. Sakit lengan atas kanan 16. Sakit pada tangan kiri 26. Sakit pada kaki

7. Sakit pada pinggang 17. Sakit pada tangan kanan 27. Sakit pada kaki kanan 8. Sakit pada bokong 18. Sakit pada paha kiri

9. Sakit pada pantat 19. Sakit pada paha kanan

(78)

Jangkauan Tangan(JT). Berikut hasil pengukuran dimensi tubuh operator Tabel 5.4. Dimensi Tubuh Operator

Pekerja TSB JT

Operator 1 100,5 68,1

Operator 2 103,6 68,1

Operator 3 100 68,25

Operator 4 102,3 68,4

Operator 5 100,45 69,2

Operator 6 103,4 69,3

Operator 7 101,2 69,3

Operator 8 101,45 70,2 Operator 9 103,12 70,2 Operator 10 100,9 70,3 Operator 11 102,6 70,7 Operator 12 101,4 70,8 Operator 13 102,5 71,3 Operator 14 103,9 71,55

5.2. Pengolahan Data

5.2.1. Penilaian SNQ (Standard Nodric Questioner)

Berdasarkan identifikasi terhadap proses kerja yang ada pada perusahaan tersebut, maka dilakukan analisa kerja dengan menggunakan SNQ. Hasil penilaian SNQ dapat dilihat pada Lampiran .

Keluhan yang dirasakan oleh operator di stasiun packing didapatkan dari pengolahan kuesioner SNQ. Masing-masing operator mengalami keluhan yang

Referensi

Dokumen terkait

Perbaikan metode kerja baru dan rancangan fasilitas kerja yang baru akan dapat mengurangi keluhan dan resiko kerja, maka selanjutnya dilakukan pemberian penilaian postur kerja

pengertian kinerja diatas maka dapat disimpulkan kinerjaadalah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh karyawan dalam melaksanakan tugas

Khusus pada stasiun pengepakan telah ditemukan bahwa para operator bekerja memindahkan produk kapur pertanian dengan cara mengangkat secara manual sehingga cara kerja ini

Dengan telaah metode kerja, atau yang lazim disebut dengan istilah “ method analysis” , maka hal ini dimaksudkan untuk mempelajari prinsip-prinsip dan teknik- teknik

Pada penelitian ini peneliti menggunakan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% karena tujuan penelitian yaitu merancang fasilitas kerja yang ergonomis

Dari hasil-hasil gambaran di atas dapat diketahui bahwa ruang kerja pembuatan spare parts dan mesin-mesin screw press dan digester pada lantai produksi benar- benar

Analisa Beban Kerja dan Jumlah Tenaga Kerja yang Optimal pada Bagian Produksi dengan Pendekatan Metode Work

Sedangkan elemen kegiatan Operator A membantu operator B menaikkan produk ke punggung operator B (pemindahan dilakukan secara manual) dan pengangkatan produk