PENYAJIAN MAKANAN YANG MENARIK SEBAGAI INTERVENSI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA ANAK P DENGAN KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI:
KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH DI KELURAHAN S, DEPOK
KARYA ILMIAH AKHIR-NERS
EMI LISTIYANI 0906510804
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS
DEPOK
UNIVERSITAS INDONESIA
PENYAJIAN MAKANAN YANG MENARIK SEBAGAI INTERVENSI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA ANAK P DENGAN KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI:
KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH DI KELURAHAN S, DEPOK
KARYA ILMIAH AKHIR-NERS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners
EMI LISTIYANI 0906510804
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS
DEPOK
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Karya Ilmiah Akhir Ners ini adalah hasil saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun di rujuk
telah saya nyatakan benar
Nam : Emi Listiyani, S.Kep
NPM : 0906510804
Tanda Tangan :
Tanggal :
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Ilmiah Akhir Ners ini diajukan oleh:
Nama : Emi Listiyani, S.Kep
NPM : 0906510804
Program Studi : Ners
Judul Karya Ilmiah : Penyajian Makanan Yang Menarik sebagai Intervensi Asuhan Keperawatan Keluarga Anak P dengan Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh di Kelurahan S, Depok
Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners pada Program Studi Ners, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia
DEWAN PENGUJI
Pembimbing: Heny Permatasari, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom. ( )
Penguji : Hera Hastuti, M.Kep., Sp.Kep.Kom ( )
Ditetapkan di : Depok Tanggal : 14 Juli 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ners yang berjudul
”Penyajian Makanan Yang Menarik sebagai Intervensi Asuhan Keperawatan Keluarga Anak P dengan Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh di Kelurahan S, Kota Depok”. Penulisan karya ilmiah akhir ners ini dilakukan dalam rangka memenuhi mata ajar Karya Ilmiah Akhir Ners pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan karya ilmiah akhir ners ini, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan tulisan ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih pada:
1. Ibu Dra. Junaiti Sahar S.Kp., M.App.Sc., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
2. Ibu Fajar Tri Waluyanti S.Kp., M.Kep selaku koordinator mata ajar Karya Ilmiah Akhir Ners (KIA-N) dan seluruh staf pengajar mata ajar Tugas Akhir.
3. Ibu Henny Permatasari, S.Kp,, M.Kep., Sp.Kom. selaku pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan penulis dalam penulisan karya ilmiah akhir ners ini.
4. Ibu Poppy Fitriyani,S.Kp. M.Kep.,Sp.Kom. selaku koordinator PK-KKMP program profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
5. Segenap tim dosen FIK UI, khususnya keilmuan Keperawatan Komunitas yang telah membimbing dalam pelaksanaan praktik profesi ini.
6. dr. Anti selaku kepala Puskesmas Sukatani beserta staf puskesmas yang telah bekerja sama dengan kami selama praktik Praktik Klinik Keperawatan Masyarakat Perkotaan.
7. Ibu Kader RW 02 Kelurahan Sukatani yang telah membantu proses pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga sehingga dapat berjalan dengan lancar
8. Bapak Sohibun Hutabarat dan Ibu Kasmi selaku orang tua, Kakak saya Eko Purwanto yang penulis sayangi dan selalu mendoakan saya dan mendukung keberhasilan laporan penulisan baik secara moril maupun materil.
9. Teman-teman FIK angkatan 2009, terutama sahabat-sahabat saya Dila, Chandri, Lulu, Titin, Nindi, Yuli, Arif, Sinta, Fafa, Awi, Sule, Naila, Fura dan teman-teman FIK PKKMP peminatan Komunitas.
10. Keluarga Anak P, khususnya Bapak S dan Ibu N yang telah menerima mahasiswa dengan baik selama melakukan kunjungan keluarga dalam Praktik Klinik Keperawatan Masyarakat Perkotaan.
11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan kalian semua selama penulisan KIA-N ini.
Semoga segala kebaikan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan karya ilmiah akhir ners ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penyusunan penulisan di masa yang akan datang.
Depok, Juli 2014
Emi Listiyani, S.Kep
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademika Universitas Indonesia, saya yang bertandatangan dibawah ini:
Nama : Emi Listiyani, S.Kep
NPM : 0906510804
Program Studi : Ners
Fakultas : Ilmu Keperawatan Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir Ners
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-exclusive Royalty- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: ”Penyajian Makanan Yang Menarik sebagai Intervensi Asuhan Keperawatan Keluarga Anak P dengan Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh di Kelurahan S, Depok” beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan hak bebas royalti nonekslusif ini Universitas Indonesia bebas menyimpan, mengalihmedia/
formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap dicantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok Pada tanggal :
Yang Menyatakan
(Emi Listiyani, S.Kep )
ABSTRAK Nama : Emi Listiyani, S.Kep Program Studi : Ners
Judul : Penyajian Makanan yang Menarik sebagai Intervensi Asuhan Keperawatan Keluarga Anak P dengan Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh di Kelurahan S, Depok .
Pola pengasuhan anak berpengaruh terhadap timbulnya gizi kurang pada masyarakat perkotaan. Karya Ilmiah Akhir ini memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga yang dilaksanakan pada keluarga Anak P dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi pada anak balita. Implementasi yang telah dilakukan terdiri dari implementasi yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotor dengan pendekatan lima tugas kesehatan keluarga. Intervensi unggulan ialah penyajian makan yang menarik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nafsu makan dan berat badan pada balita kelolaan. Sehingga intervensi penyajian makanan yang menarik ini dapat digunakan oleh perawat komunitas/keluarga sebagai salah satu upaya menangani masalah gizi kurang pada masyarakat.
Kata kunci: Balita, Gizi Kurang, Penyajian Makanan
ABSTRACT Name : Emi Listiyani, S.Kep Study Program : Ners
Title : Interested Food Serving as A Family Nursing
Intervention to Ch. P with Imbalanced: Less than Body Requirments at Kelurahan S Depok
Parenting effect could give incidence of malnutrition in urban communities. This final assignment described the family nursing care process to Ch. P with nutrition imbalanced problem on toodler children. Implementation to the family was consisting of the cognitive, affective, and psychomotor that uses the five family health tasks. Nursing interventions that become the main intervention was interested food serving. The evaluation results of nursing care plan effective to made toddler gain weight. So the interested food serving could be used by the Community nurses as one of efforts in overcome less nutrion in society.
Keywords: Toddlers, Malnutrition, Food Serving
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN SAMPUL ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ……… ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Umum ... 6
1.3.2 Tujuan Khusus ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
1.4.1 Pendidikan Keperawatan ... 7
1.4.2 Pelayanan Keperawatan ... 7
1.4.3 Penelitian Selanjutnya ... 7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Keperawatan Perkotaan ... 8
2.1.1 Karakteristik Perkotaan ... 8
2.1.2 Dampak Perkotaan Terhadap Kesehatan Masyarakat ... 9
2.1.3 Teori dan Konsep Keperawatan Komunitas pada Kesehatan Masyarakat Perkotaan……… ... 10
2.1.4 Peran Perawat dalam Keperawatan Kesehatan Perkotaan 11 2.1.5 Masalah Gizi Kurang yang Terjadi di Perkotaan ... 12
2.2 Konsep Balita ... 13
2.2.1 Balita sbagai Agregat at Risk ... 13
2.2.2 Keluarga dengan Balita ... 16
2.2.3 Peran Perawat Keluarga ……… 17
2.3 Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Balita Gizi Kurang .... 18
2.3.1 Pengkajian Keluarga ... 18
2.3.2 Diagnosis Keperawatan ... 20
2.3.3 Perencanaan Intervensi Keperawatan ... 20
2.3.4 Implementasi Keperawatan ... 22
2.3.5 Evaluasi Keperawatan ... 22
BAB 3 LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA 3.1 Pengkajian Keperawatan Keluarga ... 24
3.2 Diagnosis Keperawatan ... 26
3.4 Implementasi Keperawatan ... 28
3.5 Evaluasi Keperawatan ... 29
BAB 4 ANALISIS SITUASI 4.1 Profil Lahan Praktik ... 34
4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep KKMP dan Konsep kasus terkait ... 36
4.3 Analisis Intervensi Penyusunan Menu Makanan Seimbang berdasarkan Triguna Makanan sebagai Intervesi Unggulan dengan Konsep dan Penelitian terkait ... 37
4.4 Alternatif Pemecahan yang dapat Dilakukan ... 40
BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 42
5.2 Saran ... 43
5.2.1 Untuk Puskesmas ... 43
5.2.2 Untuk Institusi Pendidikan ... 43
5.2.3 Untuk Perawat ... 43
5.2.4 Untuk Keluarga... 43
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pengkajian Keluarga Lampiran 2 Skoring Masalah
Lampiran 3 Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga Lampiran 4 Catatan Perkembangan
Lampiran 5 Evaluasi Sumatif
Lampiran 6 Evaluasi Tingkat Kemandirian Keluarga Lampiran 7 Tabel NCHS (Kemenkes, 2011)
1.1 Latar Belakang
Hasil kesepakatan global tahun 2000 berupa Millenium Development Goals (MDGs) yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan. Salah satu tujuan MDGs yang pertama adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Adapun target yang harus dicapai untuk mencapai tujuan tersebut yaitu menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015. Indonesia menggunakan dua indikator untuk mencapai target tersebut yaitu melalui persentase anak berusia di bawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk dan persentase anak-anak berusia 5 tahun (balita) yang mengalami gizi kurang. Kedua indikator tersebut memiliki angka prevalensi yang harus dicapai pada tahun 2015 yaitu penurunan prevalensi balita gizi buruk menjadi 3,6% dan gizi kurang menjadi 11,9%. Namun, prevalensi nasional balita gizi buruk hingga tahun 2010 adalah 4,9% dan gizi kurang adalah 13% (Bappenas, 2011). Pencapaian tersebut bila dibandingkan dengan target pencapaian masih belum tercapai.
Banyak faktor yang menjadi kendala sehingga target MDGs tersebut belum tercapai. Hasil dari Rapat Kerja Kesehatan Nasional Regional Barat tahun 2013 menyampaikan bahwa yang menjadi hambatan dalam pencapain target MDGs tujuan yang pertama tersebut antara lain keterampilan kader Posyandu kurang, belum terintegrasinya kegiatan yang fokus pada balita (BKB, PAUD, Posyandu), alat antropometri Posyandu belum standar, sistem informasi Posyandu kurang berjalan, kelembagaan Pokjanal Posyandu kurang berjalan, dan belum semua rumah sakit menerapkan Tata Laksana Gizi Buruk.
Pada tahun 2010, Indonesia masih memiliki banyak wilayah yang belum mencapai MDGs 2015 sebanyak 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. Jawa
barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang target angka prevalensi balita gizi buruk dan gizi kurang sudah tercapai yakni sebesar 13% dari target MDGs yaitu 15,5% pada tahun 2015 (Depkes RI, 2011). Dinas kesehatan Kota Depok (2010) mencatat 959 orang balita penderita gizi buruk pada tahun 2007.
Kelurahan Sukatani merupakan salah satu kelurahan yang berada di wilayah Depok. Berdasarkan hasil perhitungan kepada 111 keluarga dengan balita yang tercatat di posyandu wilayah RW 02 Sukatani, didapatkan data bahwa 13 balita (11,7%) status gizinya berada pada rentang garis merah (gizi buruk), 25 balita (22,5%) status gizi berada pada rentang garis kuning (gizi kurang), 65 balita (58,6%) status gizi berada pada rentang hijau (gizi normal) dan 8 balita (7,2%) status gizi berada pada rentang garis kuning (obesitas). Hasil wawancara dengan kader kesehatan RW 02 didapatkan informasi bahwa sebelumnya di RW 02 belum pernah dilakukan penyuluhan mengenai gizi seimbang atau gizi kurang.
Masalah gizi buruk dan gizi kurang menjadi hal yang harus diperhatikan karena keadaan gizi kurang dan buruk dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit, terutama penyakit infeksi yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan jaringan otak yang akan mengurangi kualitas sumber daya manusia Indonesia (Sihadi, 2000). Populasi yang rentan mengalami masalah gizi dan rawan penyakit adalah balita. Prevalensi jenis penyakit yang dialami oleh balita dan kondisi tubuh balita yang memiliki keterbatasan dalam sistem imun menyebabkan balita berada pada label populasi rentan (Fitriyani, 2009). Masalah gizi semakin lama semakin disadari sebagai salah satu faktor penghambat proses pembangunan nasional (Neldawati, 2006). Oleh karena itu perlu upaya untuk mengatasi masalah tersebut.
Negara-negara yang tergabung dalam PBB dalam sidang tahun 2010 telah sepakat bahwa untuk mencapai tujuan MDGs yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan perlu difokuskan pada upaya-upaya sebagai berikut: (1) Peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian secara simultan akan berdampak tidak saja pada penurunan kelaparan tetapi juga pada penurunan kematian ibu dan anak
melalui perbaikan gizi, serta peningkatan pendapatan keluarga dan pertumbuhan ekonomi. Terkait dengan upaya ini petani penggarap perlu akses langsung pada pupuk, bibit unggul, peralatan pertanian, irigasi air setempat, dan lumbung pasca panen; (2) Ketahanan pangan diarahkan pada pemerataan akses pangan yang beragam mengacu pada konsumsi makanan berbahan baku lokal dan kebutuhan gizi yang berbeda pada setiap kelompok masyarakat. Wilayah sangat rawan dan rawan pangan mendapat prioritas utama untuk distribusi pangan termasuk makanan pendamping ASI bagi keluarga miskin dan distribusi makanan berfortifikasi; (3) Paket intervensi dengan pendekatan pelayanan berkelanjutan difokuskan pada ibu pra-hamil, ibu hamil, bayi dan anak baduta (bawah dua tahun); (4) Implementasi program standar emas makanan bayi dengan inisiasi menyusu dini, pemberian ASI eksklusif sampai usia bayi 6 bulan, pemberian makanan pendamping ASI sejak anak berusia 6-24 bulan, baik pada kondisi stabil maupun dalam keadaan darurat akibat bencana (Bappenas, 2011).
Hasil pertemuan Surveilans Gizi mendapatkan kesepakatan dan rekomendasi dalam mempercepat capaian MDGs dalam hal tenaga pelaksana gizi, wawasan, sarana, pelayanan, pemberdayaan masyarakat, aspek legalitas, dan sistem informasi terkait kesehatan dan gizi (Depkes, 2014). Penanggulangan masalah gizi kurang pada balita memerlukan adanya program peningkatan kesehatan masyarakat, pendidikan (penyuluhan) kesehatan, dan perbaikan pada konsumsi.
Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan melakukan praktik keperawatan komunitas yang ditujukan kepada individu, keluarga, juga kelompok berisiko tinggi dengan cara melakukan pendekatan terhadap keluarga sebagai entry point kegiatan keperawatan komunitas.
Pelaksanaan pelayanan keperawatan komunitas di Indonesia selama ini menjadi tanggung jawab Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), sedangkan fokus pengembangan keperawatan masih berpusat pada rumah sakit sehingga sumber perawat di Puskesmas masih sangat minim (Huriah, 2006).
Keluarga merupakan salah satu faktor penentu status gizi balita karena memiliki peranan yang penting bagi peningkatan dan pengawasan status gizi balita.
Kemampuan keluarga dalam melaksanakan tugas kesehatan keluarga sangat diperlukan agar keluarga dapat menungkatkan status gizi balita di rumah.
Kontribusi asuhan keperawatan keluarga akan mendukung terciptanya kemandirian keluarga dalam meningkatkan status gizi balita (Hidayati, 2011).
Keluarga cenderung terlibat dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada setiap tahap sehat dan sakit pada setiap anggota keluarganya, sepeti mulai dari keadaan sehat hingga diagnosis, tindakan hingga penyembuhan. Keluarga mempunyai peranan dalam memenuhi nutrisi pada balita karena keluarga yang melakukan pemulihan sampai konsumsi pada anak (Widyatuti, 2001).
Pemahaman keluarga tentang tugas kesehatan keluarga sangat diperlukan agar keluarga bisa memenuhi kebutuhan balita secara tepat.
Berdasarkan hal tersebut, penulis melakukan asuhan keperawatan keluarga pada masyarakat perkotaan dalam mengelola keluarga dengan masalah gizi pada balita.
Praktik penulis diawali dengan mengumpulkan data balita di posyandu RW 02 Sukatani. Penulis mulai menilai status gizi dari setiap balita dan menentukan keluarga yang akan menjadi kelolaan yaitu keluarga dengan balita yang memiliki masalah gizi.
Asuhan keperawatan keluarga dilakukan pada keluarga Anak P selama tujuh minggu bertempat di RT 2 RW 02 Kelurahan Tapos, Depok. Keluarga Bapak S (39 tahun) dan Ibu N (37 tahun) memilki tiga orang anak yaitu An A (13 tahun), An Au (9 tahun) dan An P (21 bulan). Keluarga Bapak S merupakan keluarga nuclear family dan memiliki masalah kesehatan gizi kurang pada balita. An P merupakan entry point dalam asuhan keperawatan memiliki berat badan 7 kg, dan tinggi badan 77 cm. Status gizi An P berdasarkan tabel WHO-NCHS termasuk dalam kategori gizi kurang. Dilihat dari kartu menuju sehat, status gizi An P berada pada bawah garis merah (BGM) dimana termasuk dalam kategori peringatan gizi buruk. An P memiliki ciri-ciri fisik berbadan kurus, terlihat sering
menangis dan rewel. An P memiliki kesulitan untuk makan dan sejak kecil berat badannya susah untuk naik.
Implementasi yang telah dilakukan pada keluarga Anak P melalui pendidikan kesehatan dan pemberian informasi berpedoman pada tugas kesehatan keluarga terkait masalah kurang gizi pada balita dengan menjelaskan kepada keluarga tentang pengertian gizi seimbang, triguna makanan dan manfaatnya, penyebab, tanda-tanda masalah gizi, serta akibat gizi kurang. Mendiskusikan dengan keluarga mengenai perawatan anggota keluarga yang mempunyai masalah gizi, upaya yang dilakukan untuk mencegah masalah gizi, informasi mengenai triguna makanan dan demonstrasi pengelompokkan makanan sesuai triguna makanan, cara memilih dan mengolah makanan, berapa porsi makanan yang dibutuhkan, cara penyusunan menu dengan gizi seimbang berdasarkan triguna makanan, penyusunan jadwal makan, cemilan sehat dan cara menyajikan makanan yang menarik untuk balita.
Penulis memiliki intervensi unggulan dalam pemberian asuhan keperawatan keluarga dari beberapa implementasi yang telah dilakukan. Intervensi unggulan yang dipilih adalah penyajian makanan yang menarik. Implementasi mengenai prinsip penyajian makanan dipilih karena setelah dilakukan evaluasi terjadi peningkatan nafsu makan pada anak. Keluarga Anak P, khusunya Ibu N pun terlihat mulai menyajikan makanan dengan bentuk dan tempat yang menarik yang terdiri dari menu gizi seimbang berdasarkan triguna makanan. Tingkat kemandirian keluarga An. P saat ini berada pada tingkat kemandirian III.
1.2 Perumusan Masalah
Asupan nutrisi yang cukup sangat dibutuhkan anak usia balita karena sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Namun, makanan yang bergizi kurang dikonsumsi balita sehingga timbul masalah terutama dalam pemberian makan karena terjadinya kesulitan makan pada anak. Gizi buruk pada balita tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali dengan kenaikan berat badan
balita yang tidak cukup. Perubahan berat badan balita dari waktu ke waktu merupakan petunjuk awal perubahan status gizi balita. Keadaan ini dapat berakibat pada terganggunya atau pun terjadinya keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Hasil screening yang dilakukan melalui data posyandu pada 111 balita yang ada di RW 02 Sukatani, ditemukan balita dimana status gizinya berada pada rentang dibawah garis merah sebanyak 13 orang. Hal ini perlu diperhatikan oleh perawat komunitas terkait angka gizi kurang yang masih cukup tinggi dan pola asuh pemenuhan nutrisi pada balita dalam keluarga yang kurang baik.
Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa melakukan asuhan keperawatan keluarga untuk meningkatkan pengetahuan ibu terkait penyusunan dan penyajian menu makanan dengan gizi seimbang sebagai upaya meningkatkan status kesehatan keluarga, terutama status gizi pada balita. Intervensi mengenai penyajian makanan merupakan salah satu upaya dalam asuhan keperawatan keluarga yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang pentingnya tampilan makanan pada balita. Penyajian makanan yang menarik bertujuan agar keluarga bisa memenuhi asupan nutrisi dan kebutuhan gizi balita secara tepat.
1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum
Menggambarkan laporan hasil kegiatan praktek klinik keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan pada keluarga oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia di RW 02 kelurahan Sukatani, Tapos, Depok.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Menggambarkan hasil pengkajian keperawatan pada keluarga Anak P di RW 02 kelurahan Sukatani, Tapos, Depok.
1.3.2.2 Menggambarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada keluarga Anak P di RW 02 kelurahan Sukatani, Tapos, Depok.
1.3.2.3 Menggambarkan perencanaan/intervensi keperawatan berupa inovasi unggulan terkait penyajian makanan yang menarik pada keluarga Anak P di RW 02 kelurahan Sukatani, Tapos, Depok.
1.3.2.4 Menggambarkan implementasi keperawatan pada keluarga Ank P di RW 02 kelurahan Sukatani, Tapos, Depok.
1.3.2.5 Menggambarkan evaluasi keperawatan pada keluarga Anak P di RW 02 kelurahan Sukatani, Tapos, Depok.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Pendidikan Keperawatan
Menambah informasi dan pengembangan ilmu keperawatan di Fakultas Ilmu Keperawatan, khususnya mata ajar keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan dalam lingkup keluarga mengenai pentingnya pemenuhan asupan nutrisi dengan gizi yang seimbang pada balita selain melalui penyusunan menu makanan dengan gizi yang seimbang berdasarkan triguna makanan, juga bagaimana menyajikan makanan sehingga balita tertarik untuk makan.
1.4.2 Pelayanan Keperawatan
Penulisan ini dapat memberikan informasi dan sumbangan pemikiran bagi program perawat kesehatan masyarakat, khususnya pada program gizi balita di Puskesmas Kecamatan Sukatani dalam mengembangkan media promosi kesehatan tentang gizi pada balita dan penyuluhan pada keluarga dengan masalah gizi.
1.4.3 Penelitian Selanjutnya
Menjadikan hasil penulisan ini sebagai data dasar dalam mengembangkan penelitian keperawatan selanjutnya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya asupan nutrisi yang adekuat selain pengetahuan tentang triguna makanan sebagai dasar dalam penyusunan menu gizi seimbang, juga prinsip penyajian yang menarik pada keluarga dengan masalah gizi kurang pada balita.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi pembahasan mengenai kajian literatur meliputi konsep keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan, konsep balita, asuhan keperawatan keluarga dengan balita gizi kurang dan prinsip penyajian makanan pada balita.
2.1 Konsep Keperawatan Perkotaan 2.1.1 Karakteristik Perkotaan
Permukiman penduduk dengan jumlah kepadatan yang relatif tinggi dan bertempat tinggal dalam suatu wilayah geografis tertentu sering disebut kota. Kota dapat diartikan yang lain sebagai suatu daerah yang memiliki gejala pemusatan penduduk yang merupakan suatu perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis sosial, ekonomi, kultur, yang terdapat di daerah tersebut dengan adanya pengaruh timbal balik dengan daerah-daerah lainnya (Bintarto, 2000).
Perkotaan memiliki karakteristik yaitu besarnya peranan kelompok sekunder, anonimitas merupakan ciri kehidupan masyarakatnya, heterogen, mobilitas sosial tinggi, tergantung pada spesialisasi, hubungan antara orang satu dengan yang lain lebih didasarkan atas kepentingan daripada kedaerahan, lebih banyak tersedia lembaga atau fasilitas untuk mendapatkan barang dan pelayanan, serta lebih banyak mengubah lingkungan (Indrizal, 2006). Hal ini lah yang pada akhirnya menyebabkan banyak penduduk dari suatu negara berlomba untuk dapat bermukim di daerah perkotaan. Selain karena tersedianya fasilitas di daerah perkotaan lebih banyak, pendapatan perbulan yang jauh lebih besar juga menjadi daya tarik bagi banyak orang untuk melakukan perpindahan ke daerah perkotaan atau lebih dikenal dengan istilah urbanisasi.
2.1.2 Dampak Perkotaan Terhadap Kesehatan Masyarakat
Fenomena pertambahan jumlah penduduk yang terjadi di daerah perkotaan ini tentunya dapat menyebabkan permasalahan baru bagi setiap penduduk yang bermukim di dalamnya. Masalah-masalah yang mungkin timbul antara lain adalah bertambahnya jumlah pengangguran, degradasi lingkungan, kesenjangan ekonomi, sampai pada masalah-masalah kesehatan yang dapat menyerang setiap penduduknya. Dari banyaknya permasalahan yang timbul akibat fenomena pertambahan jumlah penduduk di daerah perkotaan ini, masalah kesehatan menjadi isu yang perlu mendapat perhatian khusus, sebab dapat mempengaruhi kualitas penduduk yang bermukim di daerah perkotaan tersebut.
Adapun permasalahan-permasalahan kesehatan yang sering timbul di daerah perkotaan baik akibat pertambahan jumlah penduduk yang cepat, budaya yang ada di daerah perkotaan, maupun faktor lainnya adalah seperti mewabahnya penyakit- penyakit menular (communicable diseases) dan penyakit tidak menular (noncommunicable disease). Sama halnya yang dikemukakan Hidayati (2009) bahwa dampak urbanisasi terhadap kesehatan dan lingkungan kota antara lain masih tingginya penyakit menular seperti malaria, diare, demam berdarah, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dermatitis, Tuberkulosis (TB) diiringi meningkatnya penyakit tidak menular seperti jantung, hipertensi, stroke dan diabetes, dan diikuti munculnya New Emerging Infectious Diseases, seperti Flu Burung dan juga pada masalah air bersih dan sanitasi lingkungan.
Selain itu, udara perkotaan banyak dipenuhi asap kendaraan bermotor, banyaknya pemukiman kumuh yang tidak sehat, minimnya sanitasi dan ketersediaan air bersih, dan lain-lain. Kondisi pemukiman yang tidak layak huni menyebabkan masyarakat perkotaan juga mudah terkena penyakit dan menularkan pada lingkungan sekitar. Selanjutnya masalah psikologis juga timbul dari masalah tersebut, yaitu kemungkinan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan anak pada masyarakat perkotaan tidak berkembang dengan semestinya.
2.1.3 Teori dan Konsep Keperawatan Komunitas pada Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Komunitas sebagai sistem sosial yang terbuka yang dikarakteristikkan oleh manusia yang berada pada satu tempat tiap waktunya yang memiliki beragam tujuan (Maurer, 2005). Sumber lain menyebutkan, komunitas merupakan sekelompok orang di suatu daerah tertentu dengan sistem sosial yang terorganisasi (Nies & McEwen, 2007). Dengan demikian komunitas merupakan kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.
Keperawatan kesehatan komunitas merupakan sintesis dari praktik keperawatan dan konsep kesehatan masyarakat yang diaplikasikan dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan populasi. Keperawatan kesehatan komunitas tidak terbatas hanya pada individu atau kelompok tertentu. Fokus perhatian keperawatan komunitas antara lain respon komunitas terhadap masalah-masalah kesehatan yang ada dan potensial. Perawat dapat membekali komunitas yang berisiko dengan kebutuhan pendidikan untuk menginformasikan dan membantu mengembangkan keterampilan, perilaku sehat, dan perubahan perilaku yang berhubungan dan berorientasi pada kesehatan.
Asuhan keperawatan komunitas berorientasi pada pemecahan masalah kesehatan dengan memberikan pelayanan keperawatan yang sesuai dengan respon kelompok orang tersebut. Asuhan keperawatan yang diberikan kepada komunitas bersifat dinamis dan dilakukan secara bertahap, serta berkelanjutan untuk mencapai kemandirian kelompok tersebut dalam menyelesaikan masalah kesehatannya.
Ciri-ciri yang mendasari pelayanan kesehatan komunitas adalah (Efendi, 2009):
(1) Merupakan perpaduan antara pelayanan keperawatan dengan kesehatan komunitas; (2) Adanya kesinambungan pelayanan kesehatan (continuity of care);
(3) Fokus pelayanan pada upaya peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) baik pada pencegahan tingkat pertama, kedua,
maupun ketiga; (4) Terjadi proses alih peran dari perawat kesehatan komunitas kepada klien (individu, keluarga, kelompok masyarakat) sehingga terjadi kemandirian; (5) Adanya kemitraan perawat kesehatan komunitas dengan masyarakat dalam upaya kemandirian klien, serta (6) Memerlukan kerjasama dengan tenaga kesehatan lain dan masyarakat.
Pelayanan keperawatan yang diberikan kepada kelompok orang yang berada di komunitas bergantung kepada jumlah orang dalam kelompok tersebut. Pemberian pelayanan kepada keluarga berfokus pada kebutuhan perawatan yang saat itu dibutuhkan. Dalam suatu kelompok orang, fokusnya adalah pendidikan kesehatan.
Jika sudah dalam lingkup yang lebih besar lagi, pemberian pelayanan keperawatan berfokus pada pencegahan penyebaran penyakit dan pengontrolan bahaya pada lingkungan (Nies & McEwen, 2007). Dalam hal ini perawat berperan sebagai pemimpin dalam komunitas, partisipan, dan juga penyedia pelayanan kesehatan.
Pelayanan keperawatan memberikan asuhan keperawatan dan juga melakukan pengaturan dan organisasi terkait kebutuhan untuk pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas dan optimal pada masyarakat. Hal tersebut juga melihat pada kebutuhan kesehatan yang harus dipenuhi komunitas, baik biologis, psikologis, dan sosial. Masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang secara langsung atau tidak langsung saling berhubungan, memiliki kebudayaan atau sistem norma yang membedakannya dengan kumpulan individu yang lain memenuhi berbagai kebutuhannya dari lingkungan sekitar, serta secara biologis tumbuh dan berkembang dalam wilayah yang sama. Masyarakat perkotaan merupakan komunitas yang tinggal di daerah perkotaan yang memiliki sistem norma dan saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari lingkungan.
2.1.4 Peran Perawat dalam Keperawatan Kesehatan Perkotaan
Ruang lingkup praktik keperawatan masyarakat meliputi: upaya-upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan
kesehatan dan pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakatnya (resosialisasi). Kegiatan praktik keperawatan komunitas yang dilakukan perawat sebagai berikut (1) Memberikan asuhan keperawatan langsung kepada individu, keluarga, kelompok khusus baik di rumah (home nursing), di sekolah (school health nursing), di perusahaan, di Posyandu, di Polindes dan di daerah binaan kesehatan masyarakat;
(2) Penyuluhan/pendidikan kesehatan masyarakat dalam rangka merubah perilaku individu, keluarga, kelompok dan masyarakat; (3) Konsultasi dan pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi (4) Bimbingan dan pembinaan sesuai dengan masalah yang mereka hadapi; (5) Melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut; (6) Penemuan kasus pada tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat; (7) Perawat sebagai penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan kesehatan; (8) Perawat melaksanakan asuhan keperawatan komuniti, melalui pengenalan masalah kesehatan masyarakat, perencanaan kesehatan, pelaksanaan dan penilaian kegiatan dengan menggunakan proses keperawatan sebagai suatu usaha pendekatan ilmiah keperawatan; (9) Perawat mengadakan koordinasi di berbagai kegiatan asuhan keperawatan komuniti; serta (10) Perawat mengadakan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dengan instansi terkait dan terakhir memberikan ketauladanan yang dapat dijadikan panutan oleh individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang berkaitan dengan keperawatan dan kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004).
2.1.5 Masalah Gizi Kurang yang Terjadi di Perkotaan
Risiko tinggi gizi kurang pada balita dapat disebabkan karena faktor risiko sosial ekonomi khususnya kemiskinan. Peningkatan kemiskinan dapat dilihat dari sudut pandang geografis dan ekonomi yang terjadi di wilayah perkotaan. Tingkat pendapatan di bawah garis kemiskinan dan rendahnya kesempatan memperoleh berbagai fasilitas kesejahteraan sosial akan mempersulit terpenuhinya berbagai keperluan pangan bergizi atau kemampuan untuk menangkis penyakit (United
Nations Declaration, 2000). Oleh karena itu, kemiskinan sangat berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian.
Sebuah studi positive deviance tahun 1990 diketahui bahwa pola pengasuhan anak berpengaruh terhadap timbulnya gizi buruk. Seperti yang kita ketahui, masyarakat perkotaan cenderung sibuk dengan aktivitasnya sehari-hari sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi pola asuh mereka. Pola pengasuhan ini berupa sikap dan perilaku ibu dalam hal kedekatannya dengan anak, terkait hal memberikan makan pada anak, merawat anak, kebersihan, memberi kasih sayang, dan sebagainya. Pola asuh ini juga berkaitan dengan kualitas dan kuantitas SDM dimana berkaitan dengan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan. Kurangnya informasi keluarga tentang nutrisi dan bagaimana mengatur nutrisi dengan gizi seimbang dapat menyebabkan kebiasaan makan anak menjadi tidak sehat.
2.2 Konsep Balita
2.2.1 Balita sebagai Agregat At Risk
Kelompok resiko adalah kumpulan orang yang lebih beresiko menderita suatu penyakit daripada yang lain (Stanhope & Lancaster, 2004). Allender dan Spradley (2005) mendefinisikan populasi resiko sebagai kumpulan orang yang berpeluang mengalami peningkatan masalah kesehatan karena beberapa faktor yang mempengaruhinya. Stanhope dan Lancaster (2004) menyebutkan bahwa faktor biologi, sosial ekonomi, gaya hidup dan peristiwa dalam kehidupan menempatkan balita sebagai kelompok beresiko. Adapun kotribusi faktor resiko tersebut terhadap munculnya masalah kesehatan adalah sebagai berikut:
2.2.2.1 Faktor Biologi dan Usia
Faktor biologi merupakan faktor genetik atau fisik yang berkontribusi terhadap timbulnya resiko tertentu yang mengancam kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004). Faktor genetic merupakan faktor gen yang diturunkan orangtua pada anaknya. Beberapa masalah kesehatan yang diturunkan secara genetic adalah diabetes melittus, penyakit jantung bawaan, kejiwaan dan sebagainya. Anak tidak dapat menghindari masalah kesehatan yang diturunkan secara genetic, namun
resiko masalah kesehatan akibat faktor genetic dapat diminimalisir dengan perilaku hidup sehat (Stanhope & Lancaster, 2004).
Berdasarkan periode usia perkembangan, masa kanak-kanak awal (satu sampai enam tahun) terbagi menjadi dua periode yaitu toddler (1 - 3 tahun) dan pra sekolah (3 - 6 tahun) (Potter & Perry, 2005). Namun, Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) menjelaskan bahwa balita kependekan dari anak di bawah lima tahun yaitu dari usia 12 sampai 59 bulan. Usia balita terjadi perkembangan yang dapat meningkatkan resiko terhadap terjadinya maslah kesehatan. Menurut Potter dan Perry (2003), pertunbuhan dan perkembangan pada balita dapat dilihat dari aspek fisik, kognitif dan psikososial.
Ditinjau dari aspek fisik, perubahan pada balita ditandai dengan pertumbuhan yang relative lambat dibarengi dengan perkembangan motorik yang pesat.
Perkembangan motorik tampak pada peningkatan koordinasi otot besar dan halus sehingga keterampilan balita berjalan, berlari dan melompat semakin baik. Pada usia ini anak senang memasukkan segala seuatu ke mulutnya sehingga terjadi peningkatan resiko keracunan dan masuknya mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang mengakibatkan anak memiliki resiko besar untuk mengalami masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004).
Ditinjau dari aspek kognitif, perkembangan balita tidak terlepas dari perkembangan moral. Balita belum memahami konsep salah dan benar. Perilaku yang ditampilkan berdasarkan apa yang disukai dan yang tidak disukai sehingga balita belum dapat menentukan apa saja kebutuhan yang penting untuk dipenuhi guna optimalisasi pertumbuhan dan perkembangannya (Potter & Perry, 2003).
Perkembangan aspek psikososial ditandai dengan peningkatan kemandirian. Balita senang mengatakan tidak pada segala sesuatu yang ditawarkan padanya.
Egosentris sangat menonjol menunjukkan perasaan otonomi berkembang pada usia ini.
2.2.2.2 Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya masalah kesehtan Stanhope dan Lancaster (2004) mendefinisikan lingkungan sebagai karakteristik orang-orang disekitar tempat tinggal beerta sumber dan fasilitas yang tersedia.
Lingkungan internal keluarga yang sehat merupakan system pendukung tercapainya kesehatan fisik dan psikologis bagi seluruh anggota keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Kondisi lingkungan ekstrenal yang tidak sehat seperti tingkat kriminalitas tinggi, polusi udara, kimia, suara, dan minimnya fasilitas kesehatan merupakan penyebab terjadinya masalah kesehatan pada keluarga (Stanhope & Lancaster, 2004). Pada usia balita terjadi peningkatan kemampuan sosialisasi dan ketertarikan dalam mengeksplorasi lingkungan, sehingga pada usia ini anak sudah memiliki teman dan aktivitas bermain (Whaley
& Wong, 1995). Paparan virus dan bakteri di lingkungan yang tidak sehat pada saat anak bermain dapat meningkatkan resiko anak mengalami masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004).
2.2.2.3 Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan faktor finansial yang memiliki keterkaitan secara langsung terhadap kemampuan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan. Anak usia balita memiliki ketergantungan penuh pada keluarga dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menghadapi masalah ekonomi lebih beresiko mengalami masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004)..
2.2.2.4 Faktor Gaya Hidup
Gaya hidup/ perilaku merupakan kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup yang bersiko akan berdampak pada terjadinya ancaman terhadap kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004). Apabila keluarga tidak emnerapkan dan memperkenalkan perilaku/ gaya hidup sehat sejak dini kan mengakibatkan resiko masalah kesehatan lebih besar bagi anak (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).
2.2.2.5 Faktor Peristiwa dalam Kehidupan
Kejadian dalam kehidupan merupakan suatu periode transisi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Kejadian dalam kehidpan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti pindah rumah tinggal, anggota keluarga meninggalkan rumah, kehilangan anggota keluarga dan ada anggota keluarga baru (Stanhope & Lancaster, 2004). Anak seringkali merasa terancam dan dapat lebih temperamen ketika terjadi peristiwa-peritiwa tersebut.
2.2.2 Keluarga dengan Balita
Keluarga adalah kumpulan orang-orang yang bergabung bersama diikat oleh perkawinan, darah, atau adopsi, dan lainnya yang berada dalam satu rumah (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Status sehat dan sakit para anggota keluarga saling mempengaruhi satu sama lain. Keluarga cenderung menjadi seorang reaktor terhadap masalah-masalah kesehatan dan menjadi aktor dalam menentukan masalah-masalah anggota keluarga. Keluarga cenderung terlibat dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada setiap tahap sehat sakit setiap anggota keluarga, seperti mulai dari keadaan sehat hingga diagnosa, tindakan penyembuhan (Hidayati, 2011).
Berdasarkan teori Duvall (1985 dalam Firedman et all, 2003) keluarga dengan balita termasuk dalam tahap perkembangan keluarga dengan anak baru lahir dan keluarga dengan anak pra sekolah. Tugas perkembangan keluarga tahapan keluarga dengan anak bayi baru lahir adalah (1) Memulai keluarga menjadi keluarga muda sebagai unit yang stabil (integrasikan bayi baru lahir sebagai bagian dari keluarga). (2) Rekonsiliasi konflik tugas perkembangan dan kebutuhan yang beragam dari setiap anggota keluarga. (3) Membantu kenyamanan hubungan pernikahan. (4) Memperluas hubungan dengan keluarga besar dengan peran orang tua dan kakek nenek.
Menurut Duvall (1985 dalam Friedman, Bowden, & Jones, 2003) tugas perkembangan keluarga dengan anak usia pra sekolah adalah (1) Pencapaian
kebutuhan anggota keluarga untuk rumah yang adekuat, ruangan, privasi, dan keamanan. (2) Mensosialisasikan anak-anak. (3) Mengintegrasikan keanggotaan anak baru dengan juga memenuhi kebutuhan anak lainnya. (4) Memelihara kesehatan dihubungkan dengan keluarga (perkawinan dan orang tua anak), keluarga besar, serta lingkungan. Berdasarkan tugas perkembangan tersebut tanggung jawab yang harus dilakukan keluarga adalah membentuk individu dalam keluarga menjadi lebih berpotensi.
Keluarga dengan balita merupakan kelompok yang kompleks yang terdiri dari orang tua dan anak-anak. Tahapan perkembangan keluarga berhubungan dengan pertumbuhan individu anggota keluarga dan memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangannya (Fitriyani, 2009). Keluarga harus menciptakan pola pemeliharaan kesehatan untuk mencapai kesehatan fisik, mental, dan sosial yang optimal. Balita merupakan masa dimana gizi yang adekuat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara pesat dan tidak dapat terulang (Potter & Perry, 2005).
2.2.3 Peran Perawat Keluarga
Perawat keluarga memiliki beberapa peran dalam membantu mengatasi masalah kesehatan yang ada di dalam keluarga. Asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan bertujuan untuk memberdayakan keluarga dalam pengambilan keputusan dan menangani persoalan yang penting untuk kesehatan atau kesejahteraan di dalam keluarga. Perawat keluarga perlu melakukan tahapan- tahapan mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi tindakan dalam proses penyelesaian masalah (Anderson & McFarlane, 2007).
Asuhan keperawatan keluarga yang diberikan dapat berupa upaya-upaya preventif dan promotif yang berupa pendidikan kesehatan mengenai masalah kesehatan yang ada dalam keluarga, dalam hal ini terkait masalah gizi kurang pada balita.
Perawat keluarga berperan sebagai edukator dalam memberikan pendidikan dan promosi kesehatan pada keluarga sebagai upaya menyelesaikan masalah gizi
kurang pada balita. Perawat keluarga dapat memberikan informasi kesehatan yang berkelanjutan dan memberikan saran kepada keluarga mencakup komunikasi terkait temuan masalah kesehatan dan cara mengatasinya. Tujuan pendidikan adalah mendukung dan mengubah perilaku tidak sehat, meskipun perubahan perilaku tidak secara langsung terlihat (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).
Perawat keluarga dapat memberikan bimbingan antisipatif pada keluarga mengenai masalah kesehatan yang bersifat potensial atau fase pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Perawat keluarga dapat berperan sebagai konsultan. Konseling adalah suatu proses untuk membantu keluarga dan anggota keluarganya dalam memperhatikan, menyelesaikan, dan mengatasi masalah dalam keluarga secara benar. Peran perawat sebagai konsultan sering kali memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan dalam keluarga. Perawat keluarga juga dapat berperan sebagai koordinator, perawat memastikan bahwa keluarga dapat melakukan duplikasi dari asuhan keperawatan yang telah diberikan (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).
2.3 Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Balita Gizi Kurang
Keluarga perlu dilibatkan perawat dalam pelaksanaan intervensi keperawatan keluarga pada balita dengan gizi kurang. Asuhan keperawatan komunitas dengan pendekatan keluarga dapat menurunkan risiko kesehatan dan meningkatkan kesehatan balita dengan gizi kurang. Menurut Hitchcock, Schubert dan Thomas (1999), intervensi keperawatan dapat dilakukan untuk mencegah masalah gizi kurang balita pada level pencegahan primer, dengan cara memberikan edukasi pada orang tua tentang nutrisi anak, melakukan kunjungan rumah, dan membantu keluarga dalam penyediaan makanan.
2.3.1 Pengkajian Keluarga
Sama halnya dengan asuhan keperawatan individu, asuhan keperawatan keluarga pun dimulai dengan tahap pengkajian. Pengkajian bertujuan untuk mengumpulkan data-data yang ada pada keluarga. Pengumpulan data dalam pengkajian dilakukan
melalui metode wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Menurut teori/model Family Centre Nursing Friedman (Friedman, Bowden, & Jones, 2003), pengkajian asuhan keperawatan keluarga meliputi 8 komponen pengkajian yaitu (1) Data umum : identitas kepala keluarga, komposisi anggota keluarga, genogram, tipe keluarga, suku bangsa, agama, status sosial ekonomi keluarga, (2) Aktifitas rekreasi keluarga: riwayat dan tahap perkembangan keluarga, tahap perkembangan keluarga saat ini, tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, riwayat keluarga inti, riwayat keluarga sebelumnya, (3) Lingkungan:
karakteristik rumah, karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal, mobilitas geografis keluarga, perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat, sistem pendukung keluarga, (4) Struktur keluarga: pola komunikasi keluarga, struktur kekuatan keluarga, struktur peran (formal dan informal), nilai dan norma keluarga, (5) Fungsi keluarga: fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi perawatan kesehatan, (6) Stres dan koping keluarga: stresor jangka panjang dan stresor jangka pendek serta kekuatan keluarga, respon keluarga terhadap stres, strategi koping yang digunakan, strategi adaptasi yang disfungsional, (7) Pemeriksaan fisik: tanggal pemeriksaan fisik dilakukan, pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota keluarga, aspek pemeriksaan fisik mulai dari vital sign, rambut, kepala, mata, mulut, THT, leher, thoraks, abdomen, ekstremitas atas dan bawah, sistem genetalia, kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik, (8) Harapan keluarga: terhadap masalah kesehatan keluarga, terhadap petugas kesehatan yang ada.
Pemeriksaan yang dilakukan berfokus pada pemeriksaan tanda dan gejala yang ditemukan pada balita dengan masalah gizi kurang. Menurut Arisman (2003), penilaian status gizi merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang yang diperoleh dari pemeriksaan klinis, penilaian antropometri, uji biokimiawi, dan pengkajian makanan. Penilaian klinis didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi yang dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
Pengukuran status gizi dengan antropometri merupakan penilaian untuk mengidentifikasi status gizi yang paling sering digunakan. Pengukuran antropometri yang sering digunakan antara lain umur, berat badan, tinggi badan, massa tubuh, lingkar/sirkumferensi (lingkar lengan atas, kepala, pinggang/perut, panggul, dan dada) dan tebal lipatan kulit. Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter yaitu Berat badan dibanding umur (BB/U), panjang atau tinggi badan berbanding umur (PB/U), dan berat badan berbanding panjang atau berat badan (BB/PB) menurut tabel NCHS (Kemenkes, 2011).
2.3.2 Diagnosis Keperawatan
Data-data hasil pengkajian kemudian dirumuskan melalui analisa data dan diangkat menjadi diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan adalah pernyataan yang menggunakan dan menggambarkan respon manusia (Potter &
Perry, 2005). Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang didapat pada pengkajian yang terdiri dari masalah keperawatan yang akan berhubungan dengan etiologi yang berasal dari pengkajian fungsi perawatan keluarga. NANDA (2012) menyebutkan bahwa perumusan diagnosa keluarga menggunakan diagnosa tunggal tanpa ada etiologi.
2.3.3 Perencanaan Intervensi Keperawatan
Perencanaan merupakan lanjutan proses keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang muncul melalui intervensi keperawatan pada keluarga. Perencanaan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk dilaporkan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).
Penyusunan perencanaan diawali dengan melakukan pembuatan tujuan dari asuhan keperawatan, tujuan yang dibuat terdiri tujuan umum dan tujuan khusus.
Perencanaan juga memuat kriteria hasil. Pembuatan kriteria hasil harus didasari
dengan prinsip SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic,dan Time- oriented) (Carpenito, 2000). Perencanaan asuhan keperawatan juga memuat tindakan yang sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat.
Salah satu intervensi yang dapat dilakukan yaitu penyajian makanan yang menarik untuk balita. Menurut Maharani (2009), menyatakan bahwa seorang ibu harus mengetahui berbagai hal yang terkait dengan perannya meliputi mengetahui makanan bergizi, jadwal makanan, cara mempersiapkan, cara menyajikan serta dalam mempersiapkan perlengkapan makannya. Seorang ibu harus mampu melatih makan pada anaknya dan sanggup mengantisipasi sewaktu anak susah makan. Penyajian makanan yang menarik bisa dilakukan dengan banyak cara diantaranya perhatikan dalam menyajikan makanan. Penyajian makanan yang menarik dapat merangsang keinginan anak untuk makan. Penyajian makanan yang menarik dapat dengan menggunakan perangkat makan yang menarik misalnya bergambar karakter kartun yang lucu dengan warna-warna yang menarik, variasi menu dan berikan perubahan rasa.
Menghidangkan makanan harus menarik, sehingga anak yang menyantapnya akan merasa senang, bahkan puas, sehingga meningkatkan selera dan gairah untuk makan. Hidangan harus dapat merangsang secara menarik sebanyak mungkin panca indera agar timbul selera dan nafsu makan (Sediaoetama, 2008). Senada dengan hal tersebut menurut Febry dan Marendra (2008) dalam Kodariah (2010) penyajian makanan pada anak harus diperhatikan, karena dapat mempengaruhi selera makan anak, baik penampilan, tekstur, warna, aroma, besar porsi dan pemilihan alat makan yang menarik. Bentuk potongan atau warna makanan sering dapat membangkitkan sikap anak untuk menyenangi suatu makanan yang sebelumnya tidak disenangi. Karena itu, tidak salah jika makanan anak diberi warna atau bentuk khusus yang menarik perhatian anak sehingga anak mau memakannya.
2.3.4 Implementasi Keperawatan
Tahap lanjutan dari asuhan keperawatan keluarga adalah proses implementasi, yaitu melaksanakan tahapan-tahapan intervesi yang telah dibuat. Implementasi yang dilakukan perawat generalis untuk mengatasi masalah gizi kurang pada balita menggunakan pendekatan lima tugas kesehatan keluarga menurut Maglaya (2009) yaitu menyebutkan bahwa lima tugas kesehatan keluarga terdiri dari mengenal masalah, memutuskan mengatasi masalah, merawat keluarga dengan masalah, memodifikasi lingkungan, dan memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Implementasi yang dilakukan dalam asuhan keperawatan keluarga dilakukan dengan memberikan edukasi pada orang tua tentang nutrisi pada anak, melakukan kunjungan rumah, dan membantu keluarga dalam penyediaan makanan.
Pemberian edukasi pada keluarga terkait nutrisi meliputi gizi seimbang, gizi kurang, dan prinsip penyajian makanan. Pemberian edukasi kepada orang tua merupakan hal yang penting yang dapat dilakukan perawat pada keluarga guna meningkatkan pengetahuan orangtua khususnya ibu mengenai gizi balita.
Pengetahuan orang tua khususnya ibu merupakan satu hal yang penting guna memperbaiki gizi balita. Peningkatkan pengetahuan ibu mengenai prinsip penyajian makanan merupakan salah satu cara edukasi yang dapat dilakukan.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap keluarga yaitu sumber daya keluarga, tingkat pendidikan keluarga, adat istiadat yang berlaku, respon dan penerimaan keluarga dan sarana dan prasarana yang ada pada keluarga.
2.3.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Evaluasi dilakukan untuk menilai apakah hasil yang diharapkan sudah terpenuhi, bukan untuk melaporkan intervensi keperawatan telah dilakukan (Potter & Perry, 2005).
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan antara hasil implementasi dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat tercapainya keberhasilan.
Evaluasi dalam keluarga menggunakan evaluasi subjektif, objektif, analisis dan perencanaan (SOAP), evaluasi sumatif, dan tingkat kemandirian keluarga.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2006) mengemukakan kemandirian keluarga yang beorientasi pada lima tugas kesehatan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya. Keluarga yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya dinilai dengan tingkat kemandirian keluarga. Tingkat kemandirian keluarga dievaluasi menggunakan 7 kriteria evaluasi yakni (a) keluarga menerima petugas kesehatan, (b) keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana, (c) keluarga menyatakan masalah kesehatan secara benar, (d) keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan sesuai dengan anjuran, (e) keluarga melaksanakan perawatan sederhana sesuai anjuran, (f) keluarga melakukan tindakan pencegahan secara aktif, (g) keluarga melaksanakan tindakan promotif secara aktif. Keluarga berada di tingkat kemandirian I apabila memenuhi kriteria 1 dan 2; tingkat kemandirian II apabila memenuhi kriteria 1 sampai dengan 5; tingkat kemandirian III apabila memenuhi kriteria 1 sampai dengan 6; dan tingkat kemandirian IV apabila keluarga memenuhi kriteria 1 sampai dengan 7.
BAB 3
LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA
3.1 Pengkajian Keperawatan Keluarga
Keluarga kelolaan utama mahasiswa adalah keluarga dari Bapak S (39 tahun) dan Ibu N (37 tahun) dengan tahap perkembangan keluarga dengan remaja. Keluarga Bapak S memiliki tiga orang anak yaitu An. A (13 tahun), An. Au (9 tahun) dan An. P (21 bulan). Keluarga Bapak S merupakan tipe keluarga nuclear family dimana di dalam satu rumah hanya terdapat satu keluarga inti, yaitu Bapak S, Ibu N, An. A, An. Au dan An. P. Keluarga Bapak S merupakan penduduk lama di RT 04 RW 02 Sukatani, Tapos, sebelumnya keluarga tinggal di daerah Jatinegara, Jakarta Timur.
Keluarga Bapak S menganut agama Islam. Baik Bapak S maupun Ibu N berasal dari suku Jawa, Bapak S dan Ibu N berasal dari Tegal. Bapak S dan Ibu N merantau ke Jakarta sejak menikah. Hasil pengkajian didapatkan bahwa pertemuan pertama antara Bapak S dan Ibu N adalah di Tegal. Keduanya kemudian berpacaran lalu memutuskan untuk menikah pada tahun 2000. Bapak S bekerja sebagai wiraswasta, yang sedang merintis usaha kacamata di pinggir jalan Jatinegara. Sedangkan Ibu N bekerja sebagai ibu rumah tangga sehari-harinya.
Penghasilan keluarga Bapak S tidak menentu, namun menurut Ibu N rata-rata dibawah Rp. 1.000.000,- per bulan. Ibu N mengatakan membantu keuangan keluarga dengan menjahit namun penghasilannya tidak menentu.
Hasil pengukuran BB An. P yang berjenis kelamin laki-laki pada tanggal 12 Mei 2014 adalah 7 kg dengan usianya 21 bulan, melalui kartu KMS An P berada di bawah garis merah dan termasuk dalam kategori gizi buruk. Setelah pengukuran TB yaitu 77 cm dan melihat melalui tabel antropometri An. P berada di bawah pecentil -3 SD dan termasuk dalam kategori gizi buruk. TB An P adalah 77 cm, dan dalam kategori normal untuk PB/U.
An. P lahir prematur dengan BB lahir 2750 gr, dan usia kehamilan 40 minggu.
Menurut Ibu N, sejak An. P sakit ISPA berat, BB An. P susah untuk naik karena males makan. Saat ini pun, BB An. S susah untuk naik, dari bulan sebelumnya BB tidak naik. Ibu N mengatakan An. P memiliki kesulitan untuk makan, dan lebih sering mengemil makanan cemilan. An. P memiliki nafsu makan yang kurang apabila makan nasi dan susu formula, namun bila makan biskuit cepat. Ibu N mengatakan An. P tidak menyukai makanan yang keras, sehingga setiap menyajikan makanan untuk An. P harus berkuah.
Ibu N mengatakan makanan yang dimakan An. P sama dengan menu makanan yang disajikan untuk keluarga lain. An. P memiliki porsi makan yang tidak menentu, terkadang banyak namun lebih sering sedikit dan sulit untuk makan. Ibu N biasanya memasak nasi, sayur, tempe. An. P dapat menghabiskan makan nasi dan lauk pauk 3 kali sehari, dengan porsi sekitar 10 suap takaran sendok teh dan memakan makanan selingan seperti biskuit yang selalu disiapkan Ibu N untuk An.
P. Ibu N mengaku An. P tidak menyukai minum susu formula namun An P masih minum ASI hingga saat ini.
Saat pertemuan pertama dan kedua, Ibu N mengatakan sudah menyadari akan kondisi An. P yang kurus. Menurut Ibu N, gangguan sulit makan pada An. P yang masih balita merupakan hal yang wajar. Hasil pengkajian inspeksi, An. P tampak kurus, rambut tipis dan pendek, serta kulit agak kusam. Ibu mengeluhkan An. P yang rewel. Saat kunjungan nampak An. P sedang pilek dan terlihat beberapa kali rewel.
Saat ditanya mengenai gizi kurang, keluarga Bapak S belum dapat menjelaskan pengertian, penyebab, tanda dan gejala, akibat, serta perawatan anak dengan gizi kurang. Keluarga Bapak S juga belum menyadari keadaan An. P sebagai suatu masalah pada awalnya sehingga belum melakukan apa-apa. Ibu N telah mendapatkan penjelasan terkait gizi kurang dan mengikuti kegiatan implementasi
yaitu penyuluhan terkait gizi seimbang, Keluarga Bapak S memutuskan untuk mengatasi masalah gizi kurang yang ada pada An. P.
Pada saat mahasiswa melakukan implementasi terkait menu gizi seimbang di Posyandu, Ibu N tidak datang karena mengatakan An. P sedang rewel sehingga ia males untuk membawa An. P pergi ke posyandu. Ibu N mengatakan memutuskan untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang ada pada An. P. Secara umum, keadaan rumah cukup tidak tertata rapih terutama pada bagian kamar tidur, tidak ada sirkulasi dan ventilasi pada kamar.
Jendela hanya ada di bagian depan rumah dan jarang dibuka. Bila hal ini terus dibiarkan tentu saja akan memudahkan terjadinya penyakit infeksi di rumah.
Pada saat kunjungan selanjutnya, mahasiswa menjelaskan terkait gizi seimbang dan triguna makanan kepada Ibu N. Saat evaluasi Ibu N dapat menyebutkan kembali penjelasan yang telah diberikan. Keluarga Bapak S selalu mendiskusikan setiap masalah yang ada si dalam keluarga secara bersama-sama. Komunikasi antara Bapak S dan Ibu N terlihat berjalan dengan baik ketika mahasiswa berkunjung. Stresor jangka pendek di dalam keluarga adalah masalah gizi kurang yang terjadi pada An. P. Stresor jangka panjang adalah masalah finansial.
3.2 Diagnosis Keperawatan
Hasil pengkajian keluarga yang dilakukan melalui metode wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosis keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An. P, ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada An P, dan gangguan integritas kulit pada An. P. Hasil skoring terhadap diagnosis tersebut, didapatkan bahwa diagnosis utama pada keluarga Bapak S ialah diagnosis ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An. P.
Definisi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik (NANDA, 2012).
Batasan karakteristik dalam penggunaan diagnosis ini diantara terdapat satu diantara tanda NANDA berikut, yaitu (a) berat badan kurang dari 20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk tinggi badan dan rangka tubuh, (b) asupan makanan kurang dari kebutuhan metabolik, baik kalori total maupun zat gizi tertentu, (c) kehilangan berat badan dengan asupan makanan yang adekuat, dan (d) melaporkan asupan makanan yang tidak adekuat kurang dari recommended daily allowed (RDA).
3.3 Perencanaan Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan yang akan dilakukan mahasiswa berpedoman pada lima tugas keluarga. Tujuan umum dari rencana keperawatan adalah setelah dilakukan pertemuan sebanyak 6 kali kunjungan, keluarga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi An P ditandai dengan peningkatan BB dan nafsu makan. (1) Tujuan khusus 1 setelah dilakukan kunjungan selama 1x45 menit keluarga mampu mengenal masalah gizi kurang dengan mampu menyebutkan definisi gizi seimbang, menyebutkan definisi gizi kurang, menyebutkan 4 dari 5 tanda gejala kurang gizi, menyebutkan 3 dari 4 penyebab kurang gizi, dan mengidentifikasi anggota keluarga dengan masalah kurang gizi. (2) Tujuan khusus 2 keluarga mampu memutuskan untuk merawat anggota keluarga dengan masalah kurang gizi;
keluarga mampu menyebutkan 2 dari 3 akibat kurang gizi, memutuskan untuk merawat anggota keluarga dengan masalah gizi dengan mengatakan mau merawat anggota keluarga dengan masalah gizi kurang. (3) Tujuan khusus 3 setelah dilakukan kunjungan selama 4x45 menit keluarga mampu merawat anggota keluarga dengan masalah gizi kurang dengan mampu menyebutkan 3 dari 4 cara mengatasi masalah gizi kurang, menyebutkan kembali definisi triguna makanan dan memberikan 2 contoh dari tiap komponen triguna makanan, menyusun jadwal menu seimbang dan mau menyediakan menu seimbang yang telah dijadwalkan, menyebutkan 3 dari 4 cara memilih bahan makanan, menyebutkan 3 dari 4 cara mengolah bahan makanan dengan baik, me-redemonstrasikan cara memilih dan mengolah bahan makanan, menyebutkan definisi cemilan sehat, tujuan cemilan sehat, 2 dari 3 manfaat cemilan sehat, 4 dari 7 contoh cemilan sehat dan 3 dari 4
contoh cemilan tidak sehat (4) Tujuan khusus 4 setelah dilakukan kunjungan selama 1x45 menit keluarga mampu memodifikasi dan memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk mengatasi gizi kurang dengan mampu menyebutkan 3 dari 4 cara menyajikan makanan yang menarik, menyebutkan 4 dari 5 prinsip cara mengatasi anak yang tidak bersedia makan, menyebutkan 3 dari 4 lingkungan yang mendukung untuk meningkatkan status gizi balita. (5) Tujuan khusus 5 keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan yang ada untuk meningkatkan gizi balita dengan mampu menyebutkan 3 dari 4 fasilitas kesehatan yang ada disekitar tempat tinggal, menyebutkan 1 dari 2 manfaat mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan, dan mengunjungi fasilitas kesehatan secara rutin.
3.4 Implementasi Keperawatan
Asuhan keperawatan keluarga dapat dikembangkan untuk mengatasi masalah kurang gizi pada balita. Keluarga memiliki peran penting dalam mengatasi masalah gizi kurang pada balita. Keluarga seharusnya dapat menyadari pentingnya pengetahuan tentang gizi, bagaimana mengelola makanan dengan baik, mengatur keuangan, menyediakan menu dengan gizi seimbang, menyediakan lingkungan yang mendukung, dan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat (Widyatuti, 2011).
Intervensi yang berpedoman pada tugas kesehatan keluarga meliputi lima tugas keluarga, dimana dalam kemampuan memberikan perawatan anggota keluarga yang mempunyai masalah kurang gizi pada balita, keluarga diberikan informasi mengenai cara merawat balita dengan memberikan pendidikan kesehatan terkait triguna makanan, cara memilih dan mengolah makanan, berapa banyak porsi makanan yang dibutuhkan, cara penyusunan menu dengan gizi seimbang, penyusunan jadwal makan anak serta cemilan sehat untuk balita.
Implementasi keperawatan terdiri dari menjelaskan kepada keluarga mengenai pengertian gizi seimbang, pengertian gizi kurang, penyebab gizi kurang, tanda dan gejala gizi kurang, serta akibat dari gizi kurang. Membantu keluarga untuk
mengidentifikasi anggota keluarga dengan gizi kurang. Memotivasi keluarga untuk memutuskan merawat anggota keluarga yang mengalami gizi kurang.
Mendiskusikan bersama keluarga cara mengatasi masalah gizi kurang, yaitu dengan memberikan informasi terkai triguna makanan, dan cara pemilihan bahan makanan berdasarkan triguna makanan, cara mengolah makanan yang benar, jumlah porsi makan sesuai dengan kebutuhan anak, penyusunan menu dengan gizi seimbang berdasarkan triguna makanan, penyusunan jadwal makan anak, dan cemilan sehat untuk anak. Memotivasi keluarga untuk menyediakan makanan dengan gizi seimbang dengan melakukan pengolahan makanan secara benar.
Mendiskusikan bersama keluarga mengenai modifikasi lingkungan yang dapat dilakukan keluarga, yaitu dengan memberikan tips mengatasi anak yang susah makan dan cara penyajian makanan untuk anak yang susah makan.
Mendiskusikan bersama keluarga mengenai manfaat fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di sekitar tempat tinggal, serta memotivasi keluarga untuk mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan terutama posyandu secara rutin setiap bulan.
Implementasi yang merupakan intervensi unggulan adalah penjelasan tentang salah satu modifikasi lingkungan yaitu penyajian makanan yang menarik untuk balita. Menurut Maharani (2009), menyatakan bahwa seorang ibu harus mengetahui berbagai hal yang terkait dengan perannya meliputi mengetahui makanan bergizi, jadwal makanan, cara mempersiapkan, cara menyajikan serta dalam mempersiapkan perlengkapan makannya. Penyajian makanan yang menarik dapat merangsang keinginan anak untuk makan. Penyajian makanan yang menarik bisa dilakukan dengan banyak cara diantaranya dengan menggunakan perangkat makan yang menarik misalnya bergambar karakter kartun yang lucu dengan warna-warna yang menarik, variasi menu dan berikan perubahan rasa.
3.5 Evaluasi Keperawatan
Intervensi keperawatan terkait intervensi unggulan yang telah dilakukan, kemudian dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dari intervensi