53
Fuad Mahbub Siraj
)DOVDIDK$JDPD8QLYHUVLWDV3DUDPDGLQD-DNDUWD IXDGBPDKEXEBVLUDM#\DKRRFRLG
Abstract: 0\VWLFLVP RU VX¿VP LV DQ DFWLYLW\ WKDW LV IRFXVHG RQ WKH HVRWHULF DVSHFW RI ,VODP ,W LV
WRWDOO\GLIIHUHQWIURPWKHRULHQWDWLRQRI¿TKDQGVKDUƯµDZKLFKDUHPRUHGLUHFWHGWRWKHH[RWHULFLQ
,VODP&RVPRORJ\LVWKHRULJLQRIWKHXQLYHUVHDQGWKHRFFXUUHQFHDQG,EQµ$UDEƯLVRQHRIWKHVX¿
ZKRGLVFXVVHGWKHLVVXHVRIXQLYHUVH,QWKHZRUNVRI,EQµ$UDEƯWKHWHUPRIµƗODP is translated by the :HVWHUQUHVHDUFKHUVZLWKFRVPRV7KHFRVPRVRUXQLYHUVHLVGH¿QHGDVHYHU\WKLQJRWKHUWKDQ$OODK
(PƗ VLZƗ$OODK RU DO+̔DTT ,EQ µ$UDEƯ¶V FRVPRORJ\ HVVHQWLDOO\ LV FDOOHG DV SURSKHWLF FRVPRORJ\
DSRVWROLF7KLVNQRZOHGJHLVDIRUPRINQRZOHGJHWKDWZDVWUDQVPLWWHGIURPWKH3URSKHWƖGDPWR
WKH3URSKHW0XK̡DPPDGKRZHYHULQJURXQGLQJLW,EQµ$UDEƯOLPLWHGLWWRWKHSURSKHWLFNQRZOHGJH
LQWKH4XU¶ƗQDQG+̔DGƯWK
Keywords: &RVPRORJ\VX¿VP,EQµ$UDEƯ
Abstraksi: 7DVDXIDWDXVX¿VPHDGDODKNHJLDWDQ\DQJOHELKGLWLWLNEHUDWNDQSDGDDVSHNHVRWHULN,VODP
,DEHUEHGDVDPDVHNDOLGDULRULHQWDVL¿TKGDQV\DULµDK\DQJOHELKPHQJDUDKNHSDGDHNVRWHULVPH
dalam Islam. .RVPRORJLLDODKDVDOXVXODODPVHPHVWDGDQSURVHVNHMDGLDQQ\DGDQ,EQµ$UDEƯDGDODK
VDODKVHRUDQJGDULNDODQJDQVX¿\DQJPHPELFDUDNDQSHUVRDODQDODPVHPHVWD'DODPNDU\D,EQ
µ$UDEƯ NDWD µƗODP GLWHUMHPDKNDQ ROHK SHQHOLWLSHQHOLWL %DUDW GHQJDQ cosmos. Kosmos atau alam GLGH¿QLVLNDQQ\DGHQJDQVHJDODVHVXDWXVHODLQ$OODKPƗVLZƗ$OODKDWDXDO+̔DTTKosmologi Ibn µ$UDEƯ SDGD GDVDUQ\D GLVHEXW NRVPRORJL SURIHWLN NHUDVXODQ 3HQJHWDKXDQ LQL PHUXSDNDQ VXDWX
EHQWXNSHQJHWDKXDQ\DQJGLWUDQVPLVLNDQPXODLGDUL1DELƖGDPDVVDPSDL1DEL0XK̡ammad saw.
7HWDSLGDODPPHPEXPLNDQQ\D,EQµ$UDEƯPHPEDWDVLQ\DKDQ\DSDGDSHQJHWDKXDQSURIHWLNGDODP
DO4XU¶ƗQGDQ+̔DGƯWV
Katakunci: Kosmologi, 6X¿,EQµ$UDEƯ Pendahuluan
Salah satu perkara penting yang banyak GLVHEXW GDODP DO4XU¶ƗQ DGDODK SHUVRDODQ
alam semesta. Ayat-ayat yang menyangkut alam semesta dan fenomenanya disebut ayat kawniyyah.1$\DW DO4XU¶ƗQ PHQJDMDN
manusia agar memerhatikan dan memikirkan tentang penciptaan alam semesta, karena di dalamnya terdapat tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah. Ayat-ayat kawniyyah EDQ\DN GLWHPXNDQ GDODP DO4XU¶ƗQ GDQ KDO
ini menunjukkan betapa pentingnya persoalan ini untuk diperhatikan oleh umat Islam.
$KPDG%DLTXQLPHQ\HEXWNDQGHQJDQDGDQ\D
ayat-ayat kawniyyah dan dorongan untuk
1 Quraish Shihab, 0HPEXPLNDQ DO4XU¶DQ -DNDUWD0L]DQ
memikirkannya maka muncullah di kalangan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai pengukuran. Dengan kegia-tan tersebut, ilmu tidak lagi bersifat kontem- platif belaka, seperti yang diterima umat Islam dari warisan Yunani, tapi mulai memiliki ciri empiris, sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. Metode ilmiah, berupa pengukuran yang teliti melalui observasi dan pertimbangan rasional mulai dikembangkan dan diterapkan, telah mengubah astrologi menjadi astronomi.2 Maka sejak abad ke- 12 M. muncul kajian tentang alam semesta
2 $KPDG %DLTXQL ³.RQVHS.RQVHS .RVPROR
JLV´ GDODP %XGK\ 0XQDZDU5DFKPDQ HG .RQWHN
tualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta:
3DUDPDGLQD
yang bersifat observasional di kalangan umat Islam. Kajian mereka sudah dapat disebut kosmologi, bukan astronomi atau astrologi.
'DODP DO4XU¶ƗQ WLGDN GLWHPXNDQ NHWH
rangan ayat secara rinci dan tegas yang menjelaskan bagaimana proses penciptaan alam beserta isinya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika terjadi perbedaan dan NHUDJDPDQ GDODP PHPDKDPLQ\D 1DPXQ
disepakati, dalam memahami proses pencip- taan alam bahwa Allah adalah .KƗOLT
(Pencipta) dan alam merupakan PDNKOnjT (ciptaan.) Dalam wacana kosmologi Islam, untuk sampai kepada kesepakatan yang terasa begitu sederhana itu, telah menimbulkan perdebatan intelektual yang tajam dan sengit GDQEDKNDQDGD\DQJGLWXGXKND¿UEHUNHQDDQ
dengan pendapat mereka mengenai pencip- taan.
Dalam memahami proses penciptaan alam, para pemikir Islam disibukkan oleh pertanyaan yang logis mengenai hubungan 7XKDQGDQDODP%DJDLPDQD7XKDQPHQFLS
takan alam ini? Apakah alam ini pada mulanya tidak ada kemudian Tuhan menciptakannya?
Apakah itu artinya, pada mulanya Tuhan
‘sendirian’ kemudian timbul keinginan menciptakan alam? Kenapa Tuhan ingin PHQFLSWDNDQDODP"%DJDLPDQDDODPPXQFXO
6H\\HG+RVVHLQ1DVU6FLHQFHDQG&LYLOL]DWLRQ
in Islam 1< 1HZ $PHULFDQ /LEUDU\
Kosmologi adalah ilmu yang memelajari alam semesta.
/LK)HOL[3LUDQLGDQ&KULVWLQH5RFKH0HQJHQDOAlam 6HPHVWD7KH8QLYHUVHIRU%HJLQQHUV terj. Andang L.
3DUVRQ %DQGXQJ 0L]DQ $GDSXQ$VWURORJL
adalah ramalan atau seni memahami peristiwa-peristiwa, dan karakter yang diduga memiliki pengaruh terhadap suatu kelompok masyarakat dan menceritakan masa depan mereka berdasarkan posisi matahari, bulan dan bintang-bintang. Sedangkan Astronomi adalah kajian ilmiah (VFLHQWLIƯF VWXG\) tentang matahari, bulan, dan bintang-bintang serta benda-benda angkasa lainnya. Lih.
Longman Group, /RQJPDQ'LFWLRQDU\RI&RQWHPSRUDU\
English *UHDW%ULWDLQ/RQJPDQ/LPLWHG*URXS
$O*KD]ƗOƯ 7DKƗIXW DO)DOƗVLIDK, ditahqiq 6XOD\PƗQ'XQ\Ɨ.DLUR'ƗUDO0DµƗULI.DXWVDU
$]KDUL 1RHU ,EQ DOµ$UDEƯ :DKGDW DO:XMXG GDODP
Perdebatan-DNDUWD3DUDPDGLQD
dari Tuhan? Kapan Tuhan menciptakan alam? Dari bahan apakah Tuhan menciptakan alam? Pertanyaan-pertanyaan ini akan semakin panjang bila terus dikejar dalam upaya mencari jawaban yang rinci tentang penciptaan alam. Jawaban untuk pertanyaan- pertanyaan di atas tidaklah mudah, karena suatu jawaban memiliki konsekuensi teolo- gis. Jika tidak cermat, akan merusak citra keesaaan Tuhan. Kita ambil contoh, jika pada mulanya alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam. Kata ‘mencipta’
ini akan menjadi perdebatan, kenapa baru muncul belakangan dan kemudian muncul GDULSHUEXDWDQ7XKDQ"%XNDQNDKLWXDUWLQ\D
terjadi perubahan pada diri Tuhan, yang pada mulanya tidak mencipta lalu berubah menjadi pencipta. Padahal, dalam prinsip tauhid, mustahil terjadi perubahan pada diri Tuhan. Jadi usaha memahami dan memberi penjelasan yang logis tentang hubungan Tuhan dan alam mengandung perspektif tauhid yang sangat tinggi.
0HQXUXW 6H\\HG +XVVHLQ 1DVU SULQVLS
kosmologi Islam ialah menetapkan keesaan Tuhan dan martabat wujud (JUDGXDWLRQ RI
Being \DQJ VHFDUD PHWD¿VLN PHQHJDVNDQ
bahwa realitas pada dasarnya hanya satu, namun secara kosmologis, alam yang dapat dirasa dan dipikirkan ini merupakan salah satu dari beragam wujud yang ada. Seluruh ilmu keislaman dan lebih khusus lagi kosmologi adalah untuk menunjukkan kesatuan dan saling keterkaitan dari segala eksistensi yang membawa kepada keesaan Ilahi.
Setidaknya terdapat tiga kelompok pemikir Muslim yang merumuskan konsep penciptaan alam semesta. Mereka adalah teolog, (Alam, menurut teolog, adalah segala
6H\\HG+RVVHLQ1DVU6FLHQFHDQG&LYLOL]DWLRQ
in Islam, 22.
/LK6LUDMXGGLQ=DUKonsep Penciptaan Alam GDODP3HPLNLUDQ,VODP6DLQVGDQ$O4XU¶DQ(Jakarta, 5DMDZDOL3HUV8UDLDQDJDNULQFLWHQWDQJSURVHV
penciptaan alam tidak ditemui dari kalangan teolog Islam. Dalam materi diskusi teolog memang dibicarakan hubungan Tuhan dan alam, tetapi fokus persoalannya
sesuatu selain Allah. Alam diciptakan Allah tidak berasal dari ‘sesuatu’ (DV\\Ɨ¶ Dµ\ƗQ
MDZƗKLU DµUƗG̟), tetapi diciptakan Allah dari tiada (FUHDWLR H[ QLKLOR DOƯMƗG PLQ
DO µDGDP) kemudian menjadi ada. Dengan NHNXDVDDQ1\D $OODK GDSDW PHQFLSWDNDQ
segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan FDUD1\D VHQGLUL .RQVHNXHQVL SHPDKDPDQ
seperti ini adalah alam baharu. Hal ini sesuai dengan semboyan mereka OƗ TDGƯP
LOOƗ $OOƗK Pendapat seperti ini umumnya dikemukakan oleh teolog dari kalangan Asy‘ariyyah) failasufGDQVX¿7HQWXVDQJDW
menarik meneliti kosmologi dari kalangan VX¿GDQVX¿\DQJPHQMDGLIRNXVSDGDWXOLVDQ
ini adalah Ibn ‘$UDEƯ Ibn ‘$UDEƯ PHPLOLNL SHPLNLUDQ \DQJ NKDV
tentang alam dan penciptaannya. Password yang diperkenalkannya adalah WDMDOOƯ 7DMDOOƯ merupakan istilah yang digunakan untuk menunjuk konsep VHOIPDQLIHVWDWLRQRI*RG8 Oleh karena itu untuk memahami pemikiran Ibn ‘$UDEƯ WHQWDQJ NRVPRORJL SHUOX
merujuk konsep WDMDOOƯ terlebih dahulu dan ia juga menggunakan metafora lain dalam mengekspresikan konsep kosmologisnya, seperti ID\G̟ WDNKDOOXO WD¶WVƯU LV\UƗT IDWK̡,
lebih diarahkan pada upaya manusia memahami keesaan 7XKDQGDQNHNXDVDDQ1\DGLDODP/LK+DUXQ1DVXWLRQ
7HRORJL ,VODP 6HMDUDK $QDOLVD GDQ 3HUEDQGLQJDQ
-DNDUWD8,3UHVV
Alam, menurut failasuf, adalah sekumpulan jawhar yang tersusun dari PƗGGDK (materi) dan s̞njUDK EHQWXN\DQJDGDGLEXPLGDQODQJLW%DJLIDLODVXIDODP
diciptakan Allah dari bahan yang sudah ada (DOƯMƗGPLQ
DOV\D\¶), bahwa dari tiada tidak mungkin bisa berubah menjadi ada, yang terjadi adalah ada berubah menjadi ada dalam bentuk (s̞njUDK) yang lain. Oleh karena itu para failasuf Islam berpendapat, bahwa alam berasal dari Tuhan, dan Tuhan langsung mencipta bersamaan dengan NHEHUDGDDQ1\D6LIDWPHQFLSWDDGDODKEDKDJLDQLQWULQVLN
pada Tuhan. Dengan demikian tidak ada tenggang atau jarak antara Tuhan dan penciptaan alam. Alam dilihat GDUL VHJL ]DPDQZDNWX DGDODK TDGLP yaitu WDTDGGXP
]DPƗQƯ GDKXOX GDUL VHJL ]DPDQ $GDSXQ GDUL VHJL
]DW DODP DGDODK +̔DGƯWV (baharu), karena ia diciptakan 7XKDQ/LK6LUDMXGGLQ=DUKonsep Penciptaan Alam,
GDQ
5H\QROG $ 1LFKROVRQ Studies in Islamic 0\VWLFLVP*UHDW%ULWLVK&XU]RQ3UHVV
s̞XGnjUWDQD]]XOdan z̡uhr. Sebelum kita melihat konsep kosmologi Ibn ‘$UDEƯ DGD EDLNQ\D
kita sedikit melihat selintas bagaimana esensi tasauf dalam Islam.
Esensi Tasauf
Prinsip asasi tasauf, yang dalam literatur
%DUDW GLVHEXW VX¿VP, adalah bahwa tidak DGD ZXMnjG KDNLNL NHFXDOL $OODK 'HQJDQ
demikian kalimat syahҝadat pertama, Asyhadu µDQOƗLOƗKDLOOƗ$OODK(Aku bersaksi bah- wa tidak ada Tuhan selain Allah), berarti OƗ PDZMnjGD LOOƗ $OODK (tidak ada wujud kecuali wujud Allah.) Sedangkan roh manu- sia, menurut tasauf, adalah anugerah Tuhan GDQ EHUDVDO GDUL URK1\D .DUHQD LWX LD
ingin berhubungan dengan sumber aslinya.
Perhubungan itu dapat mengambil bentuk DO
mah̡DEEDK DOPDµULIDK DO+̔XOnjO (DOQƗVnjW
Allah menunggal dengan DOOƗKnjW manusia) dan DOLWWLK̡ƗG (roh manusia manunggal dengan roh Allah.)10 Pendapat roh manusia EHUDVDOGDULURK1\DPHPDQJVHMDODQGHQJDQ
D\DWD\DWDO4XU¶ƗQ'LDQWDUDD\DWLWXDGDODK
Maka apabila Aku (Allah) telah menyempurnakan kejadiannya (manusia), dan telah meniupkan ke GDODPQ\DURK.XPDNDWXQGXNODKNDPXNHSDGD1\D
dengan bersujud (Q.s. al-HҐLMU GDQ 6ҚƗG
11
5njK̡Ư GDODP D\DW LQL EDJL NDXP VX¿
bukanlah berarti roh ciptaanKu atau roh FLSWDDQ $OODK VHEDJDL OD]LP DWDX ELDVD
diartikan, tetapi ia adalah betul-betul rohKu atau roh Allah.
7DVDXIDWDXVX¿VPHDGDODKNHJLDWDQ\DQJ
lebih dititikberatkan pada aspek esoterik Islam. Ia berbeda sama sekali dari orientasi
¿TKGDQV\DULµDK\DQJOHELKPHQJDUDKNHSDGD
eksoterisme dalam Islam. Kegiatan aspek ke dalam dari Islam ini lebih banyak dipengaruhi
7LWXV %XUFKDUGW $Q ,QWURGXFWLRQ WR 6XIƯ
Doctrine/DKRUH6+0XKDPPDG$VKUDI
10%DQG+DUXQ1DVXWLRQ)DOVDIDWGDQ0LVWLVLVPH
dalam Islam-DNDUWD%XODQ%LQWDQJ
11 7LWXV %XUFKDUGW $Q ,QWURGXFWLRQ WR 6XIƯ
Doctrine,
oleh perasaan (G]DZT) dan bersifat personal, bahkan dalam pengungkapkan ajarannya sering menggunakan kata kiasan (matsal) dan lambang (rasm.) Memahami ajaran tasauf ini harus dengan semangat metaforis atau tafsir batini. Kendatipun mereka memakai metode seperti ini, namun mereka tetap berpegang pada wahyu. Sedangkan aspek luar dari Islam lebih banyak dipengaruhi oleh rasio, atau setidak-tidaknya oleh rasio dan wahyu yang berbentuk syari‘ah.
7HODK GLVHEXWNDQ EDKZD WXMXDQ VX¿
adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Allah, sehingga ia dapat melihat Allah dengan mata hati bahkan rohnya dapat manunggal dengan roh Allah. Falsafat yang menjadi dasar tentang ini adalah
a. Allah bersifat rohani, maka yang dapat PHQGHNDWNDQGLULGHQJDQ1\DDGDODKURK
manusia bukan jasadnya.
b. Allah adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Allah untuk mendekat NHSDGD1\DDGDODKURK\DQJVXFL12
'DODPDMDUDQWDVDXIVHRUDQJVX¿GDODP
mendekatkan diri kepada Allah, bahkan sedekat mungkin, bukanlah dengan mudah begitu saja, akan tetapi ia harus menempuh jalan tertentu yang sulit dan panjang, dengan istilah penuh onak dan duri. Jalan ini disebut dengan PDTƗPƗW (jamak dari PDTƗP) atau station. Yang dimaksud dengan PDTƗPƗW
adalah displin kerohanian yang ditunjukkan VHVHRUDQJ VX¿ EHUXSD SHQJDODPDQSHQJD
laman yang dirasakan dan diperoleh melalui XVDKDXVDKD WHUWHQWX 8VDKD VX¿ VHSHUWL LQL
WHUXVPHQHUXVWDQSDKHQWL1DPXQGLVDPSLQJ
istilah PDTƗP atau stasion, terdapat pula istilah ah̡ZƗO(jamak dari h̡ƗO) Ia merupakan keadaan mental yang datang dengan sendi- ULQ\DNHWLNDVX¿PHQHPSXKPDTƗPtertentu.
Dengan kata lain, ia merupakan anugerah
$OODKNHSDGDVX¿WDQSDGLXVDKDNDQROHKQ\D
Selain itu berbeda dari PDTƗP K̡ƗO bersifat
12 Ibn al-‘AsҚƯUDO.ƗPLOIƯDO7ƗUƯNK%HLUXW'ƗU
DO)LNUO
Ibn al-‘AsҚƯUDO.ƗPLOIƯDO7ƗUƯNK
temporer; suatu saat ia datang tetapi di saat lain ia pergi. Istilah yang populer tentang ini ialah PDTƗP PXNƗVLE ZD K̡ƗO PXZƗKLE (PDTƗP permanen atau diusahakan, dan h̡ƗO temporal atau anugerah.) Dengan demikian VHWLDS VX¿ KDUXV EHUXVDKD XQWXN PHQFDSDL
PDTƗP tertentu, sehingga ia merasa telah terbuka hubungannya dengan Allah dan EHUDGD GL KDULEDDQ1\D 6HEDJDL LQGLNDWRU
bahwa ia telah berada dekat dengan Tuhan adalah ia menerima anugerah dan rahmat dari Allah dalam bentuk sikap mental tertentu (h̡ƗO) Dengan sikap mental pemberian Allah inilah ia telah mendapatkan suatu keyakinan bahwa ia benar-benar telah menjadikan Allah sebagai tumpuan harapannya.
Adapun jumlah PDTƗPƗW yang ditempuh ROHK SDUD VX¿ WHUQ\DWD EHUEHGDEHGD
WHUJDQWXQJ SDGD SHQJDODPDQ SULEDGL VX¿
\DQJEHUVDQJNXWDQ-DGLVHRUDQJVX¿EHUEHGD
jumlah PDTƗPƗWQ\D GDUL VX¿ \DQJ ODLQ
Karena itu, wajar dalam berbagai buku tasauf ditemukan aneka ragam PDTƗPƗW tersebut.
6HEDJDLFRQWRK$Enj1DVҚUDO6DUUƗMPHQ\HEXW
tujuh PDTƗPƗW, yakni WDZEDK ZDUƗ¶ ]XKG
IDTU V̞abr, tawakkul dan rid̟Ɨ¶ Sedangkan
$Enj %DNU 0XKҝDPPDG DO.DODEDG]Ư PHQJH
mukakan PDTƗPƗW yang lebih banyak yakni WDZEDK ]XKG IDTU WDZDG̟d̟X¶ WDTZƗ
tawakkul, rid̟Ɨ¶ PDK̡abbah dan PDµULIDK
Kendatipun jumlah PDTƗP masing-masing VX¿ EHUEHGD WHWDSL SDGD PDTƗP pertama mereka sama atau sepakat, yakni tawbah (taubat.)
Pengalaman-pengalaman kerohanian para VX¿GLPDNVXGGDSDWGLNHWDKXLGDULXFDSDQXFDSDQ
PHUHND 1DPXQ GL DQWDUD XFDSDQXFDSDQ LWX
yang diistilahkan syat́ah̡ƗW (mabuk kepayang), kadang-kadang ganjil kedengarannya. Kaum VX¿ GHQJDQ EDQ\DN EHULEDGDK WDXEDW GDQ
EHUG]LNLU PHUDVD PHQGDSDW NHEDKDJLDDQ 'L
+DUXQ 1DVXWLRQ )DOVDIDW GDQ 0LVWLVLVPH
dalam Islam,
$O.DODEDG]Ư $O7DµDUUXI OL 0DG]KDE $KO
DO7DV̞DZZXI (Kairo: al-Maktabah al-Kulliyyah al-
$]KDUL\\DK
antara mereka terdorong oleh maksud baik untuk berbagi kebahagiaan, mereka berusaha PHQMHODVNDQ SHQJDODPDQ NHVX¿DQ \DQJ
mereka rasakan kepada orang lain. Padahal pengalaman seperti itu tidak terwadahi oleh kata-kata dan tidak terpahami oleh masyarakat biasa. Akibatnya terjadilah kesalahpahaman yang meresahkan bahkan mereka dinilai telah menyimpang dari agama Islam.
Perlu pula dijelaskan bahwa tentang persoalan asal usul tasauf terdapat beberapa teori. Pada dasarnya teori-teori itu dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, teori yang menyatakan bahwa tasauf itu berasal dari agama lain, seperti Kristen, Hindu dan
%XGKD%DKNDDGDMXJD\DQJPHQJKXEXQJNDQ
dengan teori Plotinus dan falsafat mistik Pythagoras. Kedua, teori yang mengatakan tasauf berakar dan tumbuh dari ajaran Islam itu sendiri.
Teori pertama yang menganggap tasauf sebagai paham yang dimasukkan dari luar, tentu saja bukan tanpa alasan. Memang paham-paham yang terdapat pada agama- agama dan falsafat tersebut terkesan sama dengan paham yang terdapat dalam tasauf.
1DPXQVHEHQDUQ\DWLGDNODKGDSDWGLVDPDNDQ
melainkan kebetulan identik saja. Sebenarnya ajaran tasauf masih dalam kerangka ajaran ,VODP NDUHQD DO4XU¶ƗQ GDQ +ҐDGƯWV GDSDW
dijadikan sebagai dasar pengembangan ajaran tasauf. Di antara ayat-ayat dimaksud ialah VXUDWDO%DTDUDK³'DQDSDELODKDPED
KDPED.X EHUWDQ\D NHSDGDPX 0XK̡ammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.
+HQGDNODKPHUHNDLWXPHPHQXKLSHULQWDK Ku dan beriman kepadaKu. Agar mereka memeroleh kebenaran´ VXUDW DO%DTDUDK
³Dan milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap di sanalah ZDMDK $OODK 6XQJJXK $OODK 0DKDOXDV ODJL
/LK+DUXQ1DVXWLRQ)DOVDIDWGDQ0LVWLVLVPH
dalam Islam,
0DKD 0HQJHWDKXL´ VXUDW 4ƗI ³...
dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya´ VXUDW DO$QIƗO ³0DND
(sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang PHOHPSDU +DO GHPLNLDQ XQWXN PHPEHUL
NHPHQDQJDQ NHSDGD RUDQJRUDQJ PX¶PLQ
dengan kemenangan yang baik. Sungguh Allah 0DKD 0HQGHQJDU ODJL 0DKD 0HQJHWDKXL”
Adapun mengenai HҐDGƯWV GL DQWDUDQ\D
seperti “0DQ µDUDID QDIVDKX ID TDG µDUDID
rabbahu (Orang yang mengetahui dirinya, itulah orang yang mengetahui Tuhannya.)
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa andaikan paham mistisisme luar Islam itu tidak muncul, maka dalam Islam akan muncul sendiri ajaran tasauf. Akan tetapi perlu dipahami bahwa ajaran tasauf yang GLNHPEDQJNDQROHKSDUDVX¿DGDODKVHEDJDL
VXDWX SHQDIVLUDQ PHUHND WHUKDGDS DO4XU¶ƗQ
dan HҐDGƯWV .DUHQD LWX LD EHUVLIDW LMWLKDG
dan termasuk ke dalam kelompok ajaran DO
PXWDV\ƗELKƗW Dengan kata lain, ijtihad para VX¿ LQL EHUSHOXDQJ XQWXN VDODK GDQ EHQDU
sebagaimana halnya hasil ijtihad dalam disiplin ilmu-ilmu Islam lainnya.
Kosmologi Ibn ‘$UDEƯ
Kosmologi juga termasuk pembicaraan utama dalam tasauf. Pembicaraan disiplin ilmu ini, yang oleh Annemarie Schimmel
disebut mistisisme dalam Islam, pada bidang ini tidak kalah pentingnya dari para failasuf ,VODP .DXP VX¿ \DQJ PHPLOLNL SHPLNLUDQ
yang khas tentang ini, ialah Ibn ‘$UDEƯ
6X¿ EHVDU LQL PHQGDSDW
julukan kehormatan sebagai 4XẂEDO$ZOL\Ɨ¶
(Kutub para Wali), yang oleh pengikutnya digelari DO6\D\NK DO$NEDU (Guru yang Agung.)
Annemerie Schimmel, 0\VWLFDO'LPHQVLRQRI
Islam &KDSHO+LOO8QLYHUVLW\RI1RUWK&DUROLQH3UHVV
O
1XUFKROLVK0DGMLG³7DVDZXI/HWDNGDQ3HUDQ
Telah disebutkan bahwa kosmologi ialah asal usul alam semesta dan proses kejadiannya. Dalam karya Ibn ‘$UDEƯ NDWD
µƗODP diterjemahkan oleh peneliti-peneliti
%DUDW GHQJDQ cosmos. Kosmos atau alam GLGH¿QLVLNDQQ\D GHQJDQ VHJDOD VHVXDWX
selain Allah (PƗ VLZƗ $OODK) atau DO
+̔DTT.20'H¿QLVLLQLVDPDSHUVLVGHQJDQ\DQJ
dikemukakan oleh teolog Islam tradisionalis, yakni alam secara keseluruhan. Sebenarnya kata alam berasal dari bahasa Arab µƗODP, yang sama dengan akar kataµDOLPDµDOƗPDK
dan µLOP. Karenanya kata ini menunjukkan bahwa alam merupakan susunan pengetahuan, yang sekaligus sebagai tanda (alamat) dan sebagai petunjuk atas sesuatu selain dirinya.
Indikasi inilah yang diinginkan Ibn ‘$UDEƯ
untuk penyebutan selain Allah itu adalah alam.21 Akan tetapi terdapat perbedaan yang tajam tentang kosmologi antara Ibn
‘$UDEƯ GDQ NRVPRORJL PRGHUQ :LOOLDP
C. Chittick, sebagai sarjana yang paling otoritatif tentang pemikiran Ibn ‘$UDEƯXQWXN
]DPDQ VHNDUDQJ DGD EHQDUQ\D NHWLND LD
mengingatkan tentang hal ini. Perbedaan itu terletak dalam pendekatan yang digunakan.
Kosmologi modern berpretensi (imagine) menjadi seorang yang berada di luar alam.
3HQHOLWL LQJLQ PHQFDSDL RE\HNWL¿WDV WDSL
tanpa berusaha berada dalam alam.22
%DJL ,EQ µ$UDEƯ VHOXUXK SUHWHQVLQ\D
untuk diri QDIV MLZD peneliti. Pengetahuan yang obyektif harus digerakkan dari dalam diri. Pengetahuan mendalam tentang diri adalah sangat penting, karena pengetahuan yang benar dan yang dalam tentang alam
Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam,”
0DNDODK..$.OXE.DMLDQ$JDPD3DUDPDGLQD
21.
William C. Chittick, 7KH 6HOI'LVFORVXUH RI
*RG 3ULQFLSOHV RI ,EQ $Oµ$UDEƯ¶V &RVPRORJ\ 1<
681<
20 William C. Chittick, 7KH 6HOI'LVFORVXUH RI
*RG[L[
21 Ibn ‘$UDEƯ $O)XWnjK̡ƗW DO0DNNL\\DK Jilid II %HLUXW'ƗUDO6ҚDGUEDULV
22 Ibn ‘$UDEƯ $O)XWnjK̡ƗW DO0DNNL\\DK, Jilid II, [LL
tidak dapat diperoleh tanpa pengetahuan yang benar tentang diri sendiri terlebih dahulu.
Pendapat ini oleh Ibn ‘$UDEƯ GLGDVDUNDQ
pada HҐDGƯWV1DELVDZ\DQJEHUEXQ\L³0DQ
µDUDIDQDIVDKXIDTDGµDUDIDUDEEDKX´ (siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal 7XKDQ1\D 3HQJHWDKXDQ VHRUDQJ WHQWDQJ
diri atau jiwanya merupakan PXTDGGLPDK, sedangkan pengetahuan tentang Allah merupakan QDWƯMDK dari pengetahuannya tentang jiwanya sendiri. Tegasnya, seseorang WLGDN DNDQ PHQJHWDKXL NRQ¿JXUDVL UHDOLWDV
alam tanpa terlebih dahulu mengetahui dirinya sendiri. ,EQ µ$UDEƯ memandang jiwa atau diri bagaikan lautan tanpa batas.
Oleh karena itu kemampuan untuk mengukur dan mengeksplorasi kedalamannya tidak sama setiap orang, namun amat dibutuhkan hidayah Allah, karena bisa saja seseorang akan kehilangan wawasan diri yang tanpa batas itu. Padahal Allah telah memberi SHWXQMXN1\DGHQJDQEHUEDJDLPHWRGHPHODOXL
XWXVDQXWXVDQ DWDX UDVXO1\D 'DODP KDO LQL
NRVPRORJL,EQµ$UDEƯpada dasarnya disebut kosmologi profetik (kerasulan.) Pengetahuan ini merupakan suatu bentuk pengetahuan
\DQJGLWUDQVPLVLNDQPXODLGDUL1DELƖGDP
VDPSDL 1DEL 0XKҝammad. Tetapi dalam PHPEXPLNDQQ\D ,EQ µ$UDEƯ membatasinya hanya pada pengetahuan profetik dalam al- 4XU¶ƗQGDQ+ҐDGƯWV
6X¿ PHQHPSDWNDQ SHUDQ SHQJDODPDQ
langsung (experienced) dalam realitas Allah, yang disebut NDV\I, yaitu ketersingkapan tabir realitas (DO+̔DTTWKH5HDO dengan membuka tabir yang memisahkan subyek dari “Obyek.”
,EQ µ$UDEƯ menyebut orang yang mencapai tingkat NDV\I dengan ‘penyadar’ (muh̡DTTLT)
Ibn ‘$UDEƯ$O)XWnjK̡ƗWDO0DNNL\\DKjilid III,
Ibn ‘$UDEƯ $O)XWnjK̡ƗW DO0DNNL\\DK ,,
EDULVNH
Ibn ‘$UDEƯ$O)XWnjK̡ƗWDO0DNNL\\DK,9
Ibn ‘$UDEƯ Syajarah Kawn (Iskandarah:
0DNWDEDKDO6\DPUDOƯWW
Ibn al-‘$UDEƯ $O)XWnjK̡ƗW DO0DNNL\\DK
Walau demikian, kelihatannya pada sisi NDV\I ini terletak perbedaan yang tajam DQWDUDNDXPVX¿GDQNDXPUDVLRQDOLV,VODP
(failasuf Islam dan lainnya.) Mereka (kaum rasionalis Islam) memahami Allah sebagai sesuatu yang jauh, karena mereka melihat dari perspektif WDQ]ƯK VDMD %DKNDQ SDKDP
ini dapat menyebabkan orang ragu tentang keberadaan Allah, karena alam dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Sedangkan kaum VX¿\DQJPHQJDODPLNDV\I akan menemukan Allah hadir dan dekat dengan alam, bahkan roh pemberian Allah kepada manusia dapat menunggal dengan roh Allah kembali setelah rohani manusia bersih sebersih-bersihnya dan suci sesucinya dari noda dosa. Mereka melihat alam dan segala sesuatu di dalamnya sebagai WDMDOOƯ, ƗWVƗU atau ID\G̟ dari Allah.
Inilah yang dimaksud dengan perspektif WDV\EƯK. Ini pula akan menolong dalam PHQMHODVNDQ SHQHNDQDQ NDXP VX¿ \DQJ
ingin selalu merasakan kehadiran Allah dan NHWHUJDQWXQJDQDODPNHSDGD1\D,EQµ$UDEƯ
menegaskan bahwa petunjuk tentang DO+̔DTT ialah diri sendiri dan alam. Oleh sebab itu, NHGXGXNDQDODPGDODPSHPLNLUDQ,EQµ$UDEƯ
menempati posisi kunci. Seseorang tidak akan dapat mengenal Allah tanpa merujuk pada alam dan dirinya sendiri. Allah sendiri tidak akan menjadi obyek sesembahan (LOƗK) atau Allah tidak akan dikenal, sampai PD¶OnjK (pelengkap logis dari ,OƗK) dikenal melalui alam, atau Allah hanya dapat dikenal melalui alam sebagai maz̡har atau WDMDOOƯ- 1\D-DGLGHQJDQSDKDPLQLGDSDWGLQ\DWDNDQ
NRVPRORJL ,EQ µ$UDEƯ bersifat penting dan empiris, bahkan ia sangat menekankan segi empiris dengan menonjolkan pengetahuan dan pengalamannya sendiri dalam alam.
Perlu disadari, untuk menemukan kosmologi ,EQ µ$UDEƯ NLWD harus merujuk pada konsep WDMDOOƯ-nya, karena memang SDVVZRUGnya
Ibn al-‘$UDEƯ $O)XWnjK̡ƗW DO0DNNL\\DK IV,
Ibn ‘$UDEƯ Fus̞njV̞DO+̔ikam, HGLVL$(µ$IƯIƯ
%HLUXW'ƗUDO.LWƗEWW
adalah WDMDOOƯ tersebut. Istilah ini ia gunakan untuk menunjuk VHOIPDQLIHVWDWLRQRIJRG
Sebagaimana para failasuf Islam, Ibn µ$UDEƯ MXJD mengatakan bahwa asal usul alam semesta dari sesuatu yang sudah ada.
Untuk menselusuri hal ini perlu dipahami ajaran tasaufnya tentang wah̡GDK DOZXMnjG
Istilah wah̡GDKDOZXMnjG terdiri dari dua suku kata, yaitu wah̡dah dan DOZXMnjG :DK̡dah artinya yang satu, tunggal, esa atau kesatuan, sedangkan DOZXMnjG artinya ada. Jadi wah̡GDKDOZXMnjG adalah kesatuan eksistensi, kesatuan wujud, atau kesatuan penemuan.
Dengan demikian wah̡GDK DOZXMnjG berarti kesatuan wujud antara Tuhan dan alam yang beraneka ragam ini. Paham ini sejalan dengan pengertian wujud yang diinginkan ,EQ µ$UDEƯ yakni segala sesuatu yang ada, baik Tuhan maupun alam. Tegasnya wah̡dah DOZXMnjG bukan hanya kesatuan wujud, tetapi juga kesatuan keberadaan, eksistensial dan persepsi dalam tindakan. Kata wah̡dah selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Di kalangan ulama ada yang mengartikan wah̡dah sebagai sesuatu ]DW1\D \DQJ WLGDN GDSDW GLEDJLEDJL SDGD
bagian yang lebih kecil lagi. Selain itu kata wah̡dah digunakan pula oleh para failasuf ,VODP GDQ SDUD VX¿ VHEDJDL VXDWX NHVDWXDQ
antara materi dan roh, substansi (hakikat) dan forma (bentuk), antara yang tampak (lahir) dan yang batin, antara alam dan Allah, karena alam dari segi hakikatnya qadim dan berasal dari Allah.
Kata ZXMnjG biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan µEHLQJ¶ dan
‘existence.’ Di samping dua terjemahan itu, ada pula yang menambahkan dengan kata yang berbeda namun dengan makna terjemahan yang sama, yaitu ‘¿QGLQJ.’ Di dalam bahasa Arab, kata ZXMnjG merupakan bentuk mas̞dar dari wujida dan wajada, yang berasal dari
5H\QRORG $ 1LFKROVRQ Studies in Islamic 0\VWLFLVPH*UHDW%ULWLVK&XU]RQ3UHVV
Ibn ‘$UDEƯ$O)XWnjK̡ƗWDO0DNNL\\DK,,,
10.
akar kata ZMG. Kata ZXMnjG tidak hanya memunyai pengertian obyektif tetapi juga subyektif. Dalam pengertian obyektifnya, NDWDZXMnjGGHQJDQPDVҚdar dari wujida, yang berarti ‘ditemukan,’ yang dalam pengertian LQLODK NDWD ZXMnjG ELDVDQ\D GLWHUMHPDKNDQ
ke dalam bahasa Inggris dengan ‘EHLQJ¶ atau µH[LVWHQFH.’ Sedangkan dalam pengertian subyektifnya, kata ZXMnjG dengan mas̞dar dari wajada, berarti ‘menemukan.’ Dalam SHQJHUWLDQ \DQJ NHGXD LQL NDWD ZXMnjG
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan ‘¿QGLQJ.’
Kata ZXMnjG GLJXQDNDQ ROHK ,EQ µ$UDEƯ
untuk menyebut wujud Allah. Satu-satunya wujud adalah wujud Allah, tidak ada wujud selain wujud Allah. Ini berarti, apapun selain Allah tidak memunyai wujud. Jadi NDWD ZXMnjG WLGDN GDSDW GLEHULNDQ SDGD
segala sesuatu selain Allah. Ia menggunakan pengertian metamorfosis PDMƗ] untuk segala sesuatu selain Allah. Wujud yang ada di alam pada hakikatnya adalah wujud Allah yang dipinjamkan padanya. Hubungan antara Allah dan alam sering digambarkan dengan hubungan antara cahaya dan kegelapan.
Karena wujud hanya milik Allah, maka ‘adam (ketiadaan) adalah milik alam. Dengan kata lain, wujud adalah cahaya atau sesuai dengan prosedur (VXQDWXOOƗK), sedangkan µDGDP adalah kegelapan atau penyimpangan dari sunatullah.
,EQ µ$UDEƯ membedakan tiga kategori wujud secara ontologis. Pertama adalah wujud yang mesti ada, yang dalam bahasa DO)ƗUƗEƯGDQ,EQ6ƯQƗGLVHEXWVHEDJDLZƗMLE
DOZXMnjG, yakni wujud yang mesti ada dan adanya tanpa ada yang menciptakan. Ia mewujudkan segala sesuatu dan Ia adalah wujud absolut. Kedua adalah ‘yang ada GHQJDQ 7XKDQ¶ \DQJ EDJL DO)ƗUƗEƯ GDQ
,EQ 6ƯQƗ GLVHEXW GHQJDQ PXPNLQ DOZXMnjG, wujud yang bisa ada dan bisa pula tidak ada atau wujud yang mumkin LD DGDODK ZXMnjG
terikat atau terbatas (DOZXMnjGDOPXTD\\DG
,D EHUZXMXG KDQ\D NDUHQD$OODK .ODVL¿NDVL
LQL EDJL ,EQ µ$UDEƯ DGDODK alam material dan segala yang ada di dalamnya. Kategori terakhir adalah yang tidak bersifat wujud dan tidak pula bersifat tidak ada µDGDP, tidak bersifat h̡XGnjWV (baru) dan tidak pula TLGƗP GDKXOX ,D VHMDN D]DOL DGD EHUVDPD $OODK
dan alam. Secara ontologis ia adalah Allah dan alam, tetapi pada saat yang sama ia bukan Allah dan juga bukan alam (KXZDOƗKXZD
Dengan demikian, ia memunyai posisi tengah antara kategori pertama dan kategori kedua, antara Allah dan alam.
,EQ µ$UDEƯ menyebut dirinya salah satu as̞h̡ƗE DOWDMDOOƯ WKH FRPSDQLRQ RI VHOI
disclosure.) Pemahaman ini menurut Ibn µ$UDEƯ EHUDVDO GDUL 1DEL 0XKҝammad. Allah ber- WDMDOOƯ, dalam arti Allah mengubah GLUL1\D VHQGLUL NH GDODP EHUEDJDL EHQWXN
sesuai dengan ukuran lokus di mana WDMDOOƯ
terjadi. 7DMDOOƯ juga dalam arti penampakan wujud Allah yang tidak terbatas menjadi bentuk-bentuk tertentu, seperti berupa alam, yang oleh karenanya Allah senantiasa dirasakan hadir dalam segala sesuatu. Untuk melihat Allah dalam WDMDOOƯ1\DEHUDUWLPHOLKDW
pengaruh tanpa henti dan tanpa berulang. Ibn µ$UDEƯ menjelaskan implikasi pembaharuan penciptaan yang konstan (constant renewal RI FUHDWLRQ LQL EHUGDVDUNDQ ¿UPDQ $OODK
³0DNDDSDNDK.DPLOHWLKGHQJDQSHQFLSWDDQ
\DQJ SHUWDPD" 6HEHQDUQ\D PHUHND GDODP
UDJXUDJX WHQWDQJ SHQFLSWDDQ \DQJ EDUX´
4ƗI ,EQ µ$UDEƯ memahami ayat ini sebagai anugerah yang tanpa akhir (QHYHUHQGLQJ) dari Allah terhadap alam.
Konsekuensi dari pemahaman ini adalah bahwa alam mengalami regenerasi (kawn) dan pergantian (IDVƗG) terus menerus. Segala sesuatu di dalamnya muncul menjadi ada dan akhirnya lenyap. Sumbangan teoritis Ibn µ$UDEƯ LQL ialah regenerasi dan pergantian pada alam terjadi setiap waktu. Jika kita
William C. Chittick, 7KH 6HOI'LVFORXVXUH RI
*RG
Ibn ‘$UDEƯ$O)XWnjK̡ƗWDO0DNNL\\DK,9
kaitkan dengan kausalitas, maka regenerasi dan pergantian di alam tersebut bersifat tetap dan tidak akan berubah sesuai dengan hukum yang telah Allah ciptakan sendiri.
Dalam konteks penciptaan baru (kawn dan IDVƗG ,EQ µ$UDEƯ menyebut alam sebagai LPDJLQDVL NDUHQD DODP PHUXSDNDQ ÀXNWXDVL
yang tidak pernah berakhir, yang masing- masing memberikan imajinasi baru tentang wujud. Sebagai manifestasi dari 1DIV DO
5DK̡PƗQ, alam merupakan mimpi yang nyata atau imaginasi tanpa akhir (DONKD\\ƗO DO
mut́ODT)
Konsep WDMDOOƯ ,EQ µ$UDEƯ dipengaruhi ROHK SHPLNLUDQ HPDQDVL 3ORWLQXV 1DPXQ
terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Emanasi bersifat vertikal, karena melalui emanasi segala sesuatu mengalir dari Yang Satu (the One) secara vertikal dan gradual sehingga menjadi alam semesta yang serba ganda, sedangkan WDMDOOƯ bersifat YHUWLNDOKRUL]RQWDONDUHQDVHOXUXKIHQRPHQD
maknawi dan empiris muncul dan berubah sebagai manifestasi terus menerus dari DO
+̔DTT. Contoh yang biasa dikemukakan untuk WDMDOOƯ ialah seperti biji kacang, jika ditanam akan tumbuh ke atas (batang), ke samping (ranting-daun), dan ke bawah (akar.) Sekalipun demikian perlu ditegaskan, Ibn µ$UDEƯ PHPDNDL kata emanasi (ID\G̟) dalam pengertian penciptaan secara WDMDOOƯ, karena
$OODK0DKD3HQFLSWD\DQJGDODPDO4XU¶ƗQ
termasuk ajaran pokok (DOPXK̡NDPƗW yang tidak boleh dilanggar dan wajib diimani sepenuhnya.
7DMDOOƯ juga dipahami sebagai penying- kapan-penyingkapan diri Allah kepada PDNKOXT1\D 3HQ\LQJNDSDQSHQ\LQJNDSDQ
diri Allah itu berupa cahaya batiniah yang merasuk ke hati. 7DMDOOƯ merupakan tanda- tanda yang Allah tanamkan di dalam diri
Ibn ‘$UDEƯ$O)XWnjK̡ƗWDO0DNNL\\DK,,,
Yunasril Ali, 0DQXVLD &LWUD ,ODKL
3HQJHPEDQJDQ.RQVHS,QVDQ.DPLO,EQDOµ$UDEƯGDQ
DO-ƯOƯ-DNDUWD3DUDPDGLQD
manusia supaya Ia dapat disaksikan. 7DMDOOƯ
dapat pula dipahami sebagai manifestasi beberapa aspek tertentu dari Allah menjadi alam material yang diterima melalui pengalaman mistis. Jadi WDMDOOƯ bukan sekedar suatu pengalaman rohani tentang Allah tetapi juga merupakan penciptaan Allah terhadap alam semesta. Oleh karena itu, pengajaran ,EQµ$UDEƯWHQWDQJalam sebagai WDMDOOƯAllah erat kaitannya dengan pemahaman WDQ]ƯK
dan WDV\EƯK. Alam sebagai WDMDOOƯ Allah haruslah dipahami bahwa Dia menampakkan NHEHUDGDDQ GLUL1\D GL DODP 3HQDPSDNDQ
Allah dalam bentuk-bentuk alam haruslah GLSDKDPLGHQJDQSHQJHUWLDQSHQDPSDNDQ1\D
secara tidak langsung, yakni melalui bentuk- bentuk aktualitas alam. Dia menunjukkan NHEHUDGDDQ]DW, VLIDWVLIDWGDQSHUEXDWDQ1\D
sementara Dia sendiri tetap berada di ‘balik’
dari segala penampakan atau WDMDOOƯ1\DLWX
Jadi apapun bentuk alam adalah WDMDOOƯAllah yang tanpa henti, tapi bukan Allah, kendati memang Dia yang berada di balik segala VHVXDWXVHEDJDLDNLEDWGDULDNWL¿WDV1\D
Pemahaman di atas harus dilandasi dan diharmoniskan dengan prinsip WDQ]ƯK dan WDV\EƯK. Men-WDQ]ƯKkan Allah sekaligus men- WDV\EƯKNDQ1\D DGDODK XSD\D SHPDKDPDQ
yang benar dalam memahami Allah. Siapa yang men-WDV\EƯKkan Allah tanpa men- WDQ]LKNDQ1\D PHQXUXW ,EQ $UDEƯ PDND
orang itu adalah jahil (tidak mengenal Allah), sedangkan orang yang men-WDQ]ƯKNDQ1\D
tanpa men-WDV\EƯKNDQ1\D PDND RUDQJ LWX
baru mengenal Allah sebahagian. Orang yang sempurna pengenalan dan pemahamannya tentang Allah adalah orang yang berhasil mengharmoniskan pandangan WDQ]ƯK dan WDV\EƯK. Dengan kata lain, seseorang mesti men-WDQ]ƯK-kan yang WDQ]ƯK tetapi tidak melupakan yang WDV\EƯK dan men-WDV\EƯK
$EGXO $]LV 'DKODQ Penilaian Teologis atas 3DKDP :DKGDW DO:XMXG .HVDWXDQ :XMXG 7XKDQ
$ODP0DQXVLD GDODP 7DVDZXI 6\DPVXGGLQ 6XPDWUDQL
3DGDQJ,$,1,%3UHVV
Ibn al-‘$UDEƯFus̞njV̞DO+̔ikamGDQ
kan yang WDV\EƯKtetapi tidak melupakan yang WDQ]ƯK.
Jadi jelaslah, paham wah̡GDK DOZXMnjG
\DQJ GLDMDUNDQ ,EQ µ$UDEƯ WLGDN dapat GLLGHQWLNNDQ GHQJDQ SDQWHLVPH ,EQ µ$UDEƯ
memahami wah̡GDKDOZXMnjG dengan bertitik tolak bahwa Allah adalah wujud yang unik, mutlak, abadi, dan tidak terbatas. Tetapi Ia menjadi sumber dan asal-usul dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan alam semesta dengan fenomena yang beragam ini hanya sebagai bayang-bayang dari realitas hakiki yang berada di sebaliknya, yaitu Allah. Atas dasar inilah ajaran wah̡GDK DOZXMnjG Ibn µ$UDEƯWLGDNGDSDW disebut sebagai panteisme.
0HQXUXW ,EQ µ$UDEƯ $OODK menciptakan alam dalam dua tahapan: 1) 7DMDOOƯ ']ƗWƯ
(penampakan diri esensial)7DMDOOƯ6\XKnjGƯ
(penampakan diri secara empiris.) Urutan WDMDOOƯ dalam dua bentuk ini hanya terjadi dalam pemahaman dan nalar manusia.
Pada diri Allah hanya ada kesatuan WDMDOOƯ.
7DMDOOƯ pertama berbentuk penciptaan potensi. Sedangkan WDMDOOƯ kedua berbentuk penampakan diri dalam bentuk tertentu dan aktual.
7DMDOOƯ']ƗWƯdisebut juga dengan DO)D\G̟
DO$TGDV atau DO7DMDOOƯ DO*KD\EƯ adalah SURVHV\DQJEHUODQJVXQJGDODP]DW$OODKGDQ
XQWXN GLUL1\D VHQGLUL 0HVNL GLLVWLODKNDQ
dengan 7DMDOOƯ ']ƗWƯ sebagai tahap pertama, ]DW Allah bukanlah hasil WDMDOOƯ dari sesuatu apapun, tetapi Allah yang ber-WDMDOOƯ di alam.
7DMDOOƯ ']ƗWƯ atau DO)D\G̟ DO$TGDV atau aO7DMDOOƯDO*KD\EƯ berbentuk dua martabat, yaitu martabat ah̡adiyyah dan ZƗK̡idiyyah.
Pada martabat ah̡adiyyah ini Allah berada GDQ GDODP NHPXWODNDQ1\D VHQGLUL \DQJ
belum dapat dikenal dan dikaitkan dengan kualitas, identitas, sifat dan nama apapun.
Dalam kesendirian dan kemutlakan tersebut
$(µ$IƯIƯ)LOVDIDW0LVWLV,EQµ$UDEƯ(Jakarta:
*D\D0HGLD3UDWDPD
5H\QROG$1LFKROVRQ7KH,GHDRI3HUVRQDOLW\
LQ6XIƯVP1HZ'HOKL,GDUDKL$GDEL\DWL'HOOL
Ia ingin dikenal oleh yang lain, lalu Allah GHQJDQ LOPX1\D PHQJLQJDW WHQWDQJ ]DW1\D
VHQGLUL ,OPX1\D WHUVHEXW WHUDQJNXP
dalam Dµ\ƗQ WVƗELWDK (potensi yang akan mengaktual.) Lalu Dµ\ƗQWVƗELWDK merupakan ide-ide Allah tentang segenap potensi dan FLSWDDQ1\D :XMXG DWDX RE\HN LOPX1\D
dalam Dµ\ƗQWVƗELWDK itulah yang diaktualkan menjadi alam. Wujud pertama yang muncul dari penciptaan Allah ialah 1njU 0XKҝammad atau Akal Pertama. Wujud-wujud selanjutnya muncul melalui perantara 1njU 0XKҝammad atau Akal Pertama dan beberapa perantara lain sesudahnya. Dengan demikian Allah menciptakan alam bukan dari tidak ada, tetapi dari sesuatu yang telah ada, yang WHUGDSDW GDODP SHQJHWDKXDQ1\D WHQWDQJ
GLUL1\D VHQGLUL 3DQGDQJDQ ,EQ µ$UDEƯ
ini sama dengan pandangan para failasuf ,VODP 0HPDQJ SDUD IDLODVXI ,VODP GDQ VX¿
berpandangan bahwa penciptaan berlangsung VHMDN TLGDP DWDX D]DOL 'HQJDQ GHPLNLDQ
tidak ada rentangan waktu antara keberadaan Allah yang qadim dengan keberadaan alam yang diciptakan secara WDMDOOƯNDUHQD]DPDQ
sebagai edaran planet baru ada setelah adanya alam.
Dengan pemahaman seperti di atas maka alam, pada satu sisi, dapat dipandang qadim, dan pada sisi lain dapat pula dipandang muh̡dats atau h̡DGƯWV. Sebutan muh̡dats menunjukkan bahwa alam memang diciptakan, sedang sebutan qadim menunjukkan bahwa ia ada VHMDND]DOLGDQWLGDNSHUQDKWLGDNDGD'LOLKDW
dari segi waktu, alam adalah qadim, tetapi GLOLKDWGDULVHJL]DWLDDGDODKmuh̡dats karena keberadaannya Allah yang menciptakan.
Meski Allah dan alam sama-sama qadim, tetapi yang pertama adalah TDGƯP PXK̡dits (qadim yang mencipta), sedang yang kedua adalah TDGƯP muh̡dats (qadim yang diciptakan.) Konkretnya 7DMDOOƯ ']ƗWƯ atau DO)D\G̟ DO$TGDV atau DO7DMDOOƯ DO*KD\EƯ
$EGXO$]LV 'DKODQ Penilaian Teologis Atas 3DKDP:DKGDWDO:XMXG
sebagai berikut,
Tatkala (Allah) menghendaki adanya alam…
WHUMDGLODK GDUL NHKHQGDN1\D \DQJ VXFL LWX«VXDWX
KDNLNDW \DQJ GLVHEXW KDEƗ¶ .HPXGLDQ$OODK EHU
WDMDOOƯ GHQJDQ QnjU1\D SDGD KDEƗ¶ LWX \DQJ ROHK
SDUDIDLODVXIGLVHEXWDOKƗ\njOƗDONXOOƯ\DNQLDODP
semesta ini secara potensial dan serasi berada di GDODPQ\D6HJDODVHVXDWXGDODPKDEƗ¶LWXPHQHULPD
QnjU $OODK PHQXUXW SRWHQVL GDQ NHVLDSDQQ\D
masing-masing, seperti sudut-sudut sebuah rumah PHQHULPD VLQDU ODPSX \DQJ GHNDW NHSDGD QnjU
itu lebih terang dan lebih banyak menerimanya.
3HQHULPDQ\D\DQJSDOLQJGHNDWGLGDODPKDEƗ¶LWX
adalah hakikat Muhҝammad, yang wujudnya dari 1njU,ODKLLWXGDULKDEƗ¶GDQGDULUHDOLWDVXQLYHUVDO
3DGDWHPSDWODLQ,EQµ$UDEƯPHQMHODVNDQ
sebagai berikut,
.HWDKXLODK $OODK 7DµƗOƗ WHODK DGD VHEHOXP ,D
menjadikan makhluq, dan bukan (dengan arti) kedahuluan waktu. Ia adalah Yang Maha Tinggi GDQ 0DKD $JXQJ EHUDGD SDGD µDPƗ¶ \DQJ GL
bawahnya tidak ada hawa dan di atasnya pun tidak DGD ,D µDPƗ¶ LWXODK SHUPXODDQ PD]ҝhar Ilahi di PDQD,DPHQ\DWDNDQGLUL1\D'LGDODPQ\DµDPƗ¶ WHUSDQFDU 1njU ,ODKL«7DWNDOD µDPƗ¶ WHUFHOXS ROHK
1njU WHUMDGLODK SDGDQ\D FLWUD SDUD PDODLNDW \DQJ
terpesona (terhadap Allah), yang berada di atas alam material, tidak ada ‘arasy dan makhluq yang mendahului mereka. Tatkala Ia selesai menjadikan malaikat-malaikat itu, Ia pun ber- WDMDOOƯSDGDPHUHND7DMDOOƯWHUVHEXWPHPXQFXONDQ
suatu keghaiban, yang menjadi ruh mereka, yakni citra (para malaikat) itu. Kemudian Allah ber- WDMDOOƯ SDGD PHUHND GHQJDQ QDPD1\D DO-ƗPLO
(Yang Maha Indah), maka mereka pun merasa WHUSHVRQD GL GDODP NHPDKDDJXQJDQ1\D WHUKDGDS
NHPDKDLQGDKDQ1\D VHGDQJNDQ PHUHND WLGDN
menyadarinya. Tatkala Allah ingin menciptakan DODP WDGZƯQ GDQ WDVWѽƯU PDNVXGQ\D TDODP GDQ
Lawhҝ al-MahҝInj]ҝ) Ia pun menunjuk salah satu GDUL PDODLNDW \DQJ PHPHVRQDNDQ DOPDOƗ¶LNDK
DOPXKD\\DPnjQ \DQJ PHUXSDNDQ PDODLNDW
pertama yang muncul di antara para malaikat; nur (malaikat) itu disebut akal dan pena, dan Allah pun EHUWDMDOOƯSDGDQ\D$SD\DQJLQJLQGLFLSWDNDQ1\D
dari makhluq tanpa batas.
Dari kutipan di atas digambarkan ada dua cara terjadinya 7DMDOOƯ ']ƗWƯ. Cara pertama KDEƗ¶ sebagai permulaan WDMDOOƯ, tetapi pada FDUD NHGXD ,EQ µ$UDEƯ PHQHPSDWNDQ µDPƗ¶
Ibn al-‘$UDEƯ$O)XWnjK̡ƗWDO0DNNL\\DK
Ibn al-‘$UDEƯ$O)XWnjK̡ƗWDO0DNNL\\DK
sebagai permulaan WDMDOOƯ. Apakah sama antara KDEƗ¶ dan µDPƗ¶ 'DUL ,EQ µ$UDEƯ
sendiri belum ditemukan penjelasannya.
1DPXQ ELOD GLNDML OHELK MDXK DQWDUD µDPƗ¶
(awan tebal) dan KDEƗ¶ (kabut) memang berbeda. µ$PƗ¶, sebagaimana diungkapkan ,EQµ$UDEƯGLWHPSDWlain, tidak lebih adalah lambang atau manifestasi nafas Allah Yang Maha Pengasih, yang muncul pada martabat ah̡adiyyah. +DEƗ¶ merupakan peringkat terakhir dalam martabat ZƗK̡idiyyah dan merupakan materi prima (+\OH yang menjadi dasar alam material, tetapi belum memunyai wujud secara realitas. Dengan menempatkan µDPƗ¶ pada martabat ah̡adiyyah dan KDEƗ¶
pada martabat ZƗK̡idiyyah, maka kontradiksi tadi dapat dihilangkan.
Keberadaan Allah di balik µDPƗ¶ adalah tamsil keterhijaban Allah dari segala sesuatu, meskipun dari ‘sesuatu’ yang berasal dari GLUL1\DVHQGLUL0DQXVLDWLGDNDNDQVDQJJXS
memahami dan melihat Allah sebagaimana ,D DGD1\D 6HSHUWL KDOQ\D PDWDKDUL \DQJ
bersinar di balik awan. Cahaya murni matahari akan membutakan mata manusia jika kita memandangnya tanpa diselimuti oleh awan GDQ DWPRV¿U 0HODOXL PDUWDEDW ah̡adiyyah, Allah kini dikenal sebagai totalitas dari segala potensi yang berada di balik µDPƗ¶, yakni kabut tipis yang membatasi martabat ah̡adiyyah dan keserbagandaan makhluq. Pada VLVLODLQGDODPDO4XU¶ƗQPHPDQJGLEHGDNDQ
kata ah̡ad dari kata ZƗK̡id. Kata yang disebut pertama, dimaksudkan adalah tunggal, tidak dapat dibagi, sedangkan kata yang kedua berpotensi untuk berbeda, bertambah dan ODLQQ\D VXUDW DO,NKOƗVҚ.) Dengan kata lain, ah̡ad berarti satu yang tunggal yang tidak menggandung unsur kejamakan, sedangkan ZƗK̡id berarti satu yang mengandung unsur kejamakan.
7DMDOOƯ kedua adalah 7DMDOOƯ 6\XKnjGƯ disebut juga dengan DO)D\G̟ DO0XTDGGDV
Ibn al-‘$UDEƯ $O)XWnjK̡ƗW DO0DNNL\\DK II,
atau DO7DMDOOƯDO:XMnjGƯadalah penampakan diri Yang Esa dalam beraneka bentuk; dari alam ide pada alam yang dapat diindera (min DOµƗODPDOPDµTnjOLOƗDOµƗODPDOPDK̡VnjV Dalam WDMDOOƯbentuk kedua ini segala potensi berubah menjadi aktual bahkan bersifat empiris melalui Akal Pertama, dengan segala urutan-urutannya, yaitu alam arwah (tempat makhluq rohani), alam mitsal (alam barzakh), yaitu pembatas antara alam arwah dengan alam jasmaniah, dan alam DMVƗP
(alam jasmaniah, µƗODPDOV\DKƗGDK
7DMDOOƯ tetap berlangsung selamanya.
Orang yang menyadarinya hal ini akan menuju insan kamil (Arab: LQVƗQ NƗPLO
manusia sempurna.) Dalam diri insan kamil adalah ter-WDMDOOƯ segenap potensi Ilahiah, baik EHUXSD VLIDWVLIDW PDXSXQ QDPDQDPD1\D
sehingga perbuatannya akan mencerminkan akhlaq Allah. Usaha manusia mencapai kualitas insan kamil berarti memahami bahwa WDMDOOƯ Allah berlangsung tanpa henti. Orang yang telah mencapai martabat insan kamil, wawasannya bagaikan hidup di alam mitsal.
Dengan kata lain ia memiliki pengetahuan tentang rahasia-rahasia yang terselubung di balik alam materi.
Perlu dijelaskan lebih lanjut tiga alam di atas, yakni alam rohani, alam mitsal dan alam jasmani. Alam rohani disebut dengan DODµ\ƗQ DOWVƗELWDK atau entitas-entitas yang tetap. Alam ini tidak dipengaruhi ruang dan waktu dan juga tidak akan mengalami perubahan. Ia masih tersembunyi dalam pengetahuan Allah dan dikontraskan dengan alam jasmani. Perbedaannya terletak pada
‘tetap dan berubahnya.’ Alam rohani disebut esensi yang tidak berubah, karena mustahil pengetahuan Allah Yang Maha Sempurna berubah, sedangkan alam jasmani telah diberi sifat wujud (yang disebut PDZMnjG), maka ia ada konkret sebagai pengejawantahannya dan mengalami DONDZQ dan DOIDVƗG Akan tetapi dalam bahasa Arab kedua-duanya tetap disebut ZXMnjG
Alam rohani ini tidak dapat disamakan
GHQJDQIDOVDIDWLGHD3ODWR%DJL3ODWRVHJDOD
yang ada di alam ini adalah wujud bayangan dari alam idea. Dengan kata lain antara ada bayangan dengan alam idea tidak berbeda.
6HGDQJNDQ EDJL ,EQ µ$UDEƯ DODP VHPHVWD
merupakan hasil WDMDOOƯ Allah, dalam arti DVPƗ¶dan s̞LIƗWAllah ber-WDMDOOƯ pada aneka di alam dan hakikatnya yang ada ini adalah satu. Jadi pada hakikatnya DVPƗ¶ DOK̡XVQƗ tidak lain WDMDOOƯ (manifestasi) Allah dalam bentuk benda-benda konkret di alam. Itu pula sebab DVPƗ¶DOK̡XVQƗWLGDNGDSDWGLEDWDVL
nama, bahkan jumlahnya tidak bisa dihitung DWDX WLGDNEHUKLQJJD NDUHQD GDUL QDPD
itu akan punya ‘turunan’ sampai pada yang sekecil-kecilnya. Itu pula sebab ulama, VHSHUWL ,PƗP7LUPƯG]Ư PHQLODL +ҐDGƯWV \DQJ
GLULZD\DWNDQ $Enj +XUD\UDK WHQWDQJ DVPƗ¶
al-hҝXVQƗ QDPD DGDODK JKDUƯE (ganjil/
lemah.)
Alam mitsal (barzakh) yang juga disebut alam PDODNnjWyakni alam yang berada antara alam rohani dan alam jasmani. Karakter utama alam ini ialah yang murni materi dispiritualkan dan yang murni spiritual GLPDWHULNDQ6HEDJDLFRQWRKDO4XU¶ƗQNDOƗP
Allah yang asalnya murni spiritual di alam rohani ini bisa dilihat sebagai lambang berupa huruf dan suara yang oleh para nabi dan rasul dapat dipahami dengan jelas sehingga tidak ada keraguan sedikit pun. Demikian juga hasil amal manusia ketika hidup di dunia, maka pada alam rohani (barzakh) ini ia akan menampakkan dirinya berupa seorang yang menakutkan atau menyenangkan tergantung dari hasil amalnya. Dengan alam mitsal ini pula manusia dapat berkomunikasi dengan makhluk spiritual. Dialog di sini tidak dalam bentuk jasmani tetapi dalam bentuk rohani.
%HJLWX SXOD PHOLKDW GL VLQL WLGDN GHQJDQ
PDWDODKLUWHWDSLGHQJDQPDWDEDWLQ%DKNDQ
dengan mata batin, manusia dapat bertemu, melihat dan berdialog dengan orang-orang yang sudah meninggal. Paham ini sepertinya
$EGXO$]L]'DKODQPenilaian Teologis,
VHMDODQ GHQJDQ DO4XU¶ƗQ VHSHUWL VXUDW <Ɨ
6ƯQ³Pada hari ini Kami tutup mulut PHUHNDGDQEHUNDWDODKNHSDGD.DPLWDQJDQ
WDQJDQPHUHNDGDQPHPEHULNHVDNVLDQNDNL
kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” Juga surat FusҚsҚLODW
“'DQ PHUHND EHUNDWD NHSDGD NXOLW PHUHND
µ0HQJDSD NDPX PHQMDGL VDNVL WHUKDGDS
NDPL"¶ .XOLW PHUHND PHQMDZDE µ$OODK
menjadikan sesuatu pandai berbicara telah PHQMDGLNDQ NDPL SDQGDL SXOD EHUNDWD¶
'DQ 'LDODK \DQJ PHQFLSWDNDQ NDPX SDGD
kali pertama dan hanya kepadaNyalah kamu dikembalikan.´ 0DND ,EQ µ$UDEƯ
mengisahkan bahwa manusia yang berhasil memasuki alam mitsal mereka akan disambut oleh makhluq yang telah ditugaskan Allah serta memberikan jubah kehormatan sesuai dengan tingkat kesuciannya. Lalu mereka diajak berjalan-jalan di sana dan bahkan mereka dapat berbicara dengan benda-benda yang ada, termasuk juga dengan manusia lain yang berbeda bahasa. Tentu saja komunikasi yang dilakukan bukan dengan bahasa lahir tetapi bahasa batin.
Alam MDVPDQL PHPLOLNL ¿VLN DWDX MDVDG
(tubuh) baik yang berbentuk organik maupun inorganik. Alam ini disebut juga dunia, dalam arti alam terendah di bawah dari alam mitsal dan alam rohani. Alam jasmani juga memiliki tingkatan-tingkatan, seperti mineral, tumbuhan dan hewan. Masing- masingnya juga memiliki tingkatannya pula, seperti mineral yang terdiri dari batu-batuan dan logam-logaman yang juga terdapat pula derajat yang membedakan kualitas masing- masing, seperti logam kasar dan logam mulia (besi, tembaga, perak dan emas.) Emas juga, XPSDPDQ\D WHUGLUL SXOD NDUDW NDUDW
dan lainnya. Demikian juga batu-batuan, VHSHUWLEDWXNRUDO]DPUXGLQWDQSHUPDWDGDQ
lain-lainnya. Tapi tumbuh-tumbuhan secara umum lebih tinggi posisi dibandingkan dengan mineral. Tumbuhan memiliki daya yang tidak dimiliki mineral, seperti makan, WXPEXK GDQ EHUNHPEDQJ %HUEHGD GDUL
mineral, tumbuhan telah memiliki ciri-ciri kehidupan (QDIV Kemudian di atas tumbuhan ialah hewan, yang memiliki daya-daya lebih tinggi dari alam mineral dan tumbuhan, juga memiliki daya-daya tertentu yang tidak dimiliki oleh kedua alam dan makhluq sebelumnya, seperti daya gerak (berpindah tempat), indra lahir (penciuman dan lainnya) dan batin (DOK̡LVV DOPXV\WDUDN DONKD\\ƗO
DOPXWDNKD\\LODK DOZDKPL\DK dan DO
h̡Ɨ¿]̡ah.) Hewan juga telah memiliki nafsu syahwat dan marah. Dari semua makhluq itu, puncak alam jasmani ialah manusia. Ia memiliki semua daya yang ada pada alam di bawahnya (mineral, tumbuhan dan hewan), juga memiliki daya yang tidak dimiliki alam sebelumnya, seperti roh (daya nalar.) Daya ini berasal dari alam rohani, karenanya manusia dapat berkomunikasi dengan alam rohani.
Jadi manusia adalah makhluk dua dimensi ¿VLN GDQ URKDQL 0DQXVLD MXJD GLVHEXW
sebagai ‘mikrokosmos.’
%DJL SDUD VX¿ VHPXD DODP VHEDJDL
WDMDOOƯ Allah adalah cermin dari sifat dan DVPƗ¶1\D0DVLQJPDVLQJWLQJNDWHNVLVWHQVL
itu dipandang sebagai cermin sifat tertentu Tuhan. Tingkat mineral keindahan Tuhan terbatas, yang hanya tercermin dalam batuan dan logam mulia. Demikian pula tumbuhan keindahan Tuhan juga terbatas pada ribuan jenis bunga yang unik dan serasi. Jumlah WXPEXKDQ \DQJ WHUGDIWDU VHEDQ\DN
macam, dari tingkat terkecil yang bernama diatom, sampai pada tingkat yang terbesar di dunia disebut pohonVHTXLD. %HJLWXSXOD
hewan keindahan Tuhan juga terbatas pada EHUDQHND EHQWXN \DQJ WHUEDJL DWDV
MHQLVVHUDQJJDMHQLVLNDQMHQLV
EXUXQJ MHQLV PDPDOLD GDQ ODLQQ\D
6HGDQJNDQVLIDWGDQDVPƗ¶$OODK\DQJEHJLWX
lengkap tercermin pada manusia, karena
Marwah Daud Ibrahim, “Etika Ilmu dan Teknologi Masa Depan,” 8OXPXO4XU¶DQ1R-DQXDUL
0DUHWO
Marwah Daud Ibrahim, “Etika Ilmu dan 7HNQRORJL0DVD'HSDQ´
sebagai ‘mikrokosmos,’ maka pada manusia tercermin seluruh unsur kosmos.
Pada pihak lain, penciptaan Allah dengan amar DOWDNZƯQƯ NXQ dalam arti Allah meniupkan QDIDVDOUDK̡PƗQKata DOUDK̡PƗQ bermakna pemberian wujud berdasarkan belas kasih Allah pada segala sesuatu.
Karenanya penciptaan Allah berdasarkan rasa cinta Allah pada segala sesuatu. Dalam NRQWHNV LQL ,EQ µ$UDEƯ EHUSHJDQJ kepada h̡DGƯWV TXGVƯ \DQJ PHQMHODVNDQ ³Pada mulanya Aku adalah harta yang terpendam, kemudian Aku (cinta) ingin dikenal, maka Aku ciptakan alam semesta, sehingga mereka mengenalKu.” Harta yang terpendam (tersembunyi) itu adalah manifestasi seluruh wujud mungkin (PXPNLQ DOZXMnjG yang tercakup dalam nama-nama Tuhan. Ayat VXUDW DO$µUƗI EHUEXQ\L ³rahmatKu meliputi segala sesuatu,” dan surat al- TѽDOƗT EHUEXQ\L ³Sesungguhnya ilmu
$OODKEHQDUEHQDUPHOLSXWLVHJDODVHVXDWX”
dapat diartikan bahwa alam yang diberikan wujud ada keterkaitan dengan Sang Harta 7HUVHPEXQ\L VHEDJDL SHQJHWDKXDQ1\D
sebelum ia diwujudkan. Dengan kata lain alam yang diberi wujud sebelumnya adalah Sang Harta Tersembunyi yang ber-WDMDOOƯ PHQJHMDZDQWDKGHQJDQVLIDWGDQDVPƗ¶1\D
Dari ini juga dipahami WDQ]ƯK(Yang Satu, Yang tak berhingga) dan WDV\EƯK<DQJ%HUELODQJ
<DQJEHUKLQJJD$OODKHVDGDODP]DW1\DGDQ
EHUELODQJ GDODP SHQJHWDKXDQ1\D ,D DGDODK
esa dan sekaligus segalanya.
Dengan kata DOUDK̡PƗQ, seperti disebutkan, Allah menciptakan alam berdasarkan rasa cinta, dalam arti kebaikan.
$OODK0DKD%DLNPDNDVHJDOD\DQJGLFLSWDNDQ
$OODKDGDODKGDODPJHQJJDPDQNHEDLNDQ1\D
Dengan demikian berarti keburukan atau kejahatan adalah penyimpangan dari kebaikan atau sesuatu yang tidak memiliki
Uraian dari ketiga alam di atas (rohani, mitsal dan jasmani) disarikan dari Mulyadhi Kartanegara, 0HQ\HODPL /XEXN 7DVDZXI -DNDUWD (UODQJJD
dasar realitas. Jadi alam semesta adalah lokus keindahan dan obyek bagi cinta. Akar bagi VHOXUXK FLQWD VHPDWDPDWD DGDODK FLQWD1\D
Karena cinta inilah, Tuhan menghadapkan NHKHQGDN1\D SDGD QRQHNVLVWHQV 'DODP
GLUL1\DVHQGLULFLQWDGDQSHQFLSWD&LQWDLWX
WLGDNODLQDGDODKNHVHPSXUQDDQ1\D
Pemberian wujud dalam penciptaan yang WDNEHUKLQJJD,EQµ$UDEƯLQLGDSDWdilihat dari VLPEROLVPH KXUXI \DQJ EHUMXPODK \DQJ
dimulai dengan huruf h̡amzah dan diakhiri dengan huruf ZƗZX. 1) HҐDP]DK ORNXV EDJL
nama Tuhan DO%DGƯµ, penciptaan Akal Pertama (Pena Tertinggi) tanpa perantara, 2) $O+Ɨ¶, lokus bagi nama Tuhan DO%Ɨ¶LWV
penciptaan Jiwa Universal (lawh̡ mah̡Inj]̡) dari
$NDO 3HUWDPD $Oµ$\Q lokus bagi nama Tuhan DO%ƗẂin, penciptaan alam universal SDQDVNHULQJGLQJLQGDQEDVDK$O+̡Ɨ¶
lokus bagi nama Tuhan DO$NKƯU penciptaan 0DWHUL 3HUWDPD GHEX $O*KD\Q, lokus bagi nama Tuhan DO=̡ƗKLU penciptaan tubuh XQLYHUVDO$O.KƗ¶, lokus bagi nama Tuhan DO+̡DNƯP SHQFLSWDDQ %HQWXN 8QLYHUVDO
$O4ƗI lokus bagi nama Tuhan DO0XK̡ƯẂ, SHQFLSWDDQµ$UV\$O.ƗIlokus bagi nama Tuhan DO6\DNnjU, penciptaan Dua Pijakan GXD \DQJ EHUODZDQDQ $O-ƯP lokus bagi nama Tuhan DO*KƗQƯ penciptan Ruang Halus Hitam (ruang tanpa bintang), 10) $O
6\ƯQ lokus bagi nama Tuhan DO0XTWDGLU
SHQFLSWDDQ%LQWDQJ%LQWDQJ7HWDS$O<Ɨ¶
lokus bagi nama Tuhan DO5DEE penciptaan Langit Pertama, Saturnus, 12) $O'̟ƗG̟, lokus bagi nama Tuhan DOµ$OƯP, penciptaan Langit .HGXD <XSLWHU $O/ƗP, lokus bagi nama Tuhan DO4ƗKLU penciptaan Langit .HWLJD 0DUV $O1njQ lokus bagi nama Tuhan DO1njU penciptaan Langit Keempat 0DWDKDUL$O5Ɨ¶ lokus bagi nama Tuhan DO0XV̞awwir, penciptaan Langit Kelima
William C.Chittick, “Ibn ‘$UDEƯ GDQ
0DG]KDEQ\D´ GDODP 6H\\HG +RVVHLQ 1DVU HG
(QVLNORSHGL 7HPDWLV 6SLULWXDOLWDV ,VODP 0DQLIHVWDVL
WHUM7LP0L]DQ%DQGXQJ0L]DQFHW,KDO
9HQXVDO7ҐƗ¶lokus bagi nama TuhanDO
0XK̡V\Ưpenciptaan Langit Keenam Merkuri,
$O'ƗOlokus bagi nama Tuhan DO0XEƯQ
SHQFLSWDDQ/DQJLW.HWXMXK%XODQ$O7Ɨ¶
lokus bagi nama Tuhan DO4ƗELG̟, penciptaan DSL$O=D\ lokus bagi bagi nama Tuhan DO+Ґayy, penciptaan udara, 20)$O6ƯQlokus bagi nama Tuhan DO0XK̡\Ư penciptaan air, 21) $O6̞ƗGlokus bagi nama Tuhan DO0XPƯW
penciptaan tanah, 22) $O=̡Ɨ¶ lokus bagi nama Tuhan DOµ$]Ư]SHQFLSWDDQPLQHUDO
$O7VƗ¶ lokus bagi nama Tuhan DO5D]]ƗT
SHQFLSWDDQ 7XPEXKWXPEXKDQ $O']ƗO
lokus bagi nama Tuhan DO0X]ƯOpenciptaan KHZDQ $O)Ɨ¶ lokus bagi nama Tuhan DO4ƗZƯ SHQFLSWDDQ PDODLNDW $O%Ɨ¶
lokus bagi nama Tuhan DO/DẂƯI penciptaan MLQ $O0ƯP lokus bagi nama Tuhan DO
-ƗPLµ SHQFLSWDDQ PDQXVLD $O:ƗZX
lokus bagi nama Tuhan 5DIƯµ DO'DUDMƗW
penciptaan insan kamil. Perlu diingatkan, proses penciptaan alam secara WDMDOOƯ ini terkesan adanya tahapan-tahapan, namun tahapan-tahapan tersebut hanya sekedar urutan logika untuk mudah memahaminya.
Akan tetapi proses WDMDOOƯ itu berlangsung dalam kesatuan yang utuh.
.RQVHS NRVPRORJL ,EQ µ$UDEƯ LQL XQLN
dan maju, bahkan kalau dilihat dari segi ]DPDQQ\D SHPLNLUDQ LQL PHUXSDNDQ GD\D
NUHDVL \DQJ VDQJDW LVWLPHZD ,EQ µ$UDEƯ
bukanlah seorang saintis, namun ia mampu menciptakan konsep kosmologi yang begitu komplit dan sempurna, bahkan melebihi konsep pemikiran para failasuf Islam.
1DPXQ DODP VHPHVWD DGDODK PDVDODK ¿VLN
maka metode bahasannya harus sains dan teknologi, sedangkan penggunaan metode VSHNXODWLIVHSHUWL\DQJGLJXQDNDQ,EQµ$UDEƯ
(juga para failasuf Islam) tidak cocok dengan bidangnya, maka hasilnya akan rancu dan sulit dipertanggungjawabkan.
Adapun tentang hukum alam atau
Lih. Ibn ‘$UDEƯ$O)XWnjK̡ƗWDO0DNNL\\DKII,
GDQVHWHUXVQ\D
VXQDWXOODK SHQGDSDW VX¿ VDPD GHQJDQ
pendapat teolog Islam rasionalis dan para failasuf Islam, yaitu ia merupakan suatu keniscayaan atau kemestian yang tidak akan berubah dan menyimpang. Sebaliknya pendapatnya berbeda dari pendapat teolog Islam tradisionalis yang mengatakan bahwa hukum alam atau sunatullah tidak merupakan suatu keniscayaan melainkan hanya merupakan suatu kemungkinan atau kebiasaan alam dan dapat berubah tanpa diduga sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan. Kendatipun SHQGDSDW VX¿ WHQWDQJ LQL VXQDWXOODK VDPD
dengan pendapat para failasuf Islam dan para teolog Islam rasionalis, namun titik pijaknya berbeda. Failasuf Islam dan teolog Islam rasionalis berpijak dari rasio (µDTOL\\DK) VHPDWD VHGDQJNDQ NDXP VX¿ GL VDPSLQJ
berpijak pada rasio (µDTOL\\DK, juga berpijak pada rasa (G]DZTL\\DK dan kebersihan MLZD %DJL PHUHND \DQJ GLWRQMRONDQ DGDODK
beribadah kepada Allah dan jiwa yang bersih.
%DKNDQ SDGD \DQJ WHUDNKLU LQL OHELK EDQ\DN
pengaruhnya dibandingkan dengan yang pertama. Dengan banyak beribadah dan dengan jiwa yang bersih, maka terjadilah NHDNUDEDQDQWDUD$OODKGDQVX¿'HQJDQLVWLODK
ODLQVX¿PHQFLQWDL$OODKGDQFLQWDQ\DGLEDODV
ROHK $OODK DO0Ɨ¶LGDK ³yuh̡ibbuhum wa yuh̡LEEnjQDKX” (Allah mencintai mereka GDQ PHUHND PHQFLQWDL $OODK %DKNDQ VX¿
dengan Allah serasa berteman atau asyik- masyuk (µDV\ƯTPDµV\njT.) Telah disebutkan, XVDKDGDULVX¿\DQJEHUVLIDWSHUPDQHQDWDX
terus menerus itu disebut dengan PDTƗP, dan balasan dari Allah yang bersifat temporal atau sesaat itu, disebut dengan h̡ƗO
Simpulan
7DVDXIDWDXVX¿VPHDGDODKNHJLDWDQ\DQJ
lebih dititikberatkan pada aspek esoterik Islam. Ia berbeda sama sekali dari orientasi
¿TK GDQ V\DULµDK \DQJ OHELK PHQJDUDK
kepada eksoterisme dalam Islam. Kosmologi ialah asal-usul alam semesta dan proses NHMDGLDQQ\D 'DODP NDU\D ,EQ µ$UDEƯ NDWD
µƗODP diterjemahkan oleh peneliti-peneliti
%DUDW GHQJDQ .RVPRV .RVPRV DWDX DODP
GLGH¿QLVLNDQQ\DGHQJDQVHJDODVHVXDWXVHODLQ
Allah PƗVLZƗ$OODK atau DO+̡DTT Terdapat perbedaan yang tajam tentang kosmologi DQWDUD ,EQ µ$UDEƯ GDUL NRVPRORJL modern.
Perbedaan itu terletak dalam pendekatan yang digunakan. Kosmologi modern berpretensi (imagine) menjadi seorang yang berada di luar DODP 3HQHOLWL LQJLQ PHQFDSDL RE\HNWL¿WDV
tapi tanpa berusaha berada dalam alam.
%DJL ,EQ µ$UDEƯ VHOXUXK pretensinya untuk diri (QDIV, jiwa) peneliti. Pengetahuan yang obyektif harus digerakkan dari dalam diri.
Pengetahuan mendalam tentang diri adalah sangat penting, karena pengetahuan yang benar dan yang dalam tentang alam tidak dapat diperoleh tanpa pengetahuan yang benar tentang diri sendiri terlebih dahulu.
.RVPRORJL,EQµ$UDEƯSDGDGDVDUQ\Ddisebut kosmologi profetik (kerasulan). Pengetahuan ini merupakan suatu bentuk pengetahuan
\DQJ GLWUDQVPLVLNDQ PXODL GDUL 1DEL ƖGDP
VDPSDL 1DEL 0XKҝammad. Tetapi dalam PHPEXPLNDQQ\D ,EQ µ$UDEƯ PHPEDWDVLQ\D
hanya pada pengetahuan profetik dalam al- 4XU¶ƗQGDQ+ҐDGƯWV