Gambaran Peran Diri Pada Pasien Tuberkulosis Paru Dr. M.
Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor Tahun 2018
Abdul Hakim1), Camalia Suhertini Sahat2) E-mail : [email protected]
Prodi Keperawatan Bogor Poltekkes Kemenkes Bandung
ABSTRAK : TB paru masih merupakan masalah Kesehatan Masyarakat yang menjadi tantangan global. Prevalensi TB paru berdasarkan diagnosis sebesar 0,4% dari jumlah penduduk. Dampak psikologis hadir dalam penyakit apapun. Terganggunya konsep diri, komponen konsep diri diantaranya gambaran diri, ideal diri, Harga diri, identitas diri, dan peran diri. Pada pasien yang sedang dirawat di rumah sakit otomatis peran sosial pasien berubah menjadi peran sakit. Peran klien yang berubah yaitu, Peran dalam keluarga, peran dalam pekerjaan/sekolah, peran dalam berbagai kelompok. Oleh karena itu peneliti meneliti peran diri klien pasien Tuberkulosis paru. Design penelitian deskriptif.
Cara penelitian menggunakan purposive sampling dengan 95 responden. Data yang didapat melalui angket yang disebarkan kepada responden yang sesuai dengan kriteria dan menggunakan instrumen kuisioner. Hasil penelitian peran diri didapatkan dari 95 responden, lebih dari setengahnya memiliki peran diri negatif sebanyak 61 orang (64%) dan hampir setengahnya responden yang memiliki peran diri positif sebanyak 34 orang (36%). Hasil analisis didapatkan bahwa lebih dari setengahnya responden memiliki peran diri negatif namun dengan ditemukannya hampir setengahnya memiliki peran diri negatif, diharapkan petugas kesehatan terutama perawat dapat meningkatkan peran diri pasien tuberkulosis paru agar tidak terjadi dampak psikologis lainnya.
Kata Kunci : Peran Diri, Tuberkulosis Paru
The Description of the Role of the Patients of Tuberculosis in Hospital Dr.
M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor 2018
ABSTRACT : Pulmonary TB is still a public health problem that becomes a global challenge. Prevalence of pulmonary tuberculosis based on a diagnosis of 0.4% of the population. The psychological impact is present in any disease. Interruption of self- concept, self concept components such as self-image, self-ideal, Self-esteem, self identity, and self-role. In patients who are being hospitalized automatically the patient's social role is transformed into a sick role. The role of changing clients is, Role in family, role in work / school, role in various groups. Therefore researchers examined the role of the patient's self-patient pulmonary tuberculosis. Descriptive research design. The way of research using purposive sampling with 95 respondents. Data obtained through questionnaires distributed to respondents who fit the criteria and using questionnaire instruments. The results of self-study were obtained from 95 respondents, more than half had negative self-roles as many as 61 people (64%) and almost half of respondents who had positive self-role as many as 34 people (36%). The result of the analysis shows that more than half of the respondents have a negative self-role but with the discovery of almost half have a negative self-role, it is expected that health workers, especially nurses can improve the self-role of patients with pulmonary tuberculosis in order to avoid other psychological impact
Keywords :Role Self, Role Performance, Tuberculosis Pulmonary
Abdul Hakim1), Camelia Suhertini Sahat2) Gambaran Peran Diri Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan
Partowidigdo Cisarua Bogor Tahun 2018 PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) paru merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycrobacterium tubercolusis pada saluran pernafasan bagian bawah. Tuberkulosis paru sampai saat ini masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat dan secara global masih menjadi isu kesehatan global di semua negara ( WHO,2014)
TB paru masih merupakan masalah Kesehatan Masyarakat yang menjadi tantangan global. Indonesia merupakan negara pertama diantaranya negara- negara dengan beban penyakit TB paru yang tinggi di Wilayah Asia Tenggara yang berhasil mencapai target Millenium Development Goals (MDG) untuk TB paru pada tahun 2006, yaitu 70%
penemuan kasus baru BTA positif (Kemenkes,2011). Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi TB paru berdasarkan diagnosis sebesar 0,4% dari jumlah penduduk. Dengan kata lain, rata-rata tiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 400 orang yang di diagnosis kasus TB paru oleh tenaga kesehatan.
Khusus di Kota Bogor diperkirakan terdapat 4.042 penderita TBC dan baru 1.896 yang dilaporkan. Selain itu, tercatat ada 10 kelurahan di Kota Bogor yang menjadi kantor Tuberkulosis dengan jumlah kasus tertinggi yakni Kelurahan Tegal Gundil, Kedung Halang, Pasir Jaya, Pamoyanan, Mulyaharja, Cibadak, Pasir Kuda, Kedung Badak, Ciparigi dan Kebon Pedes.
Menurut data dari rekam medik Rumah sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor, di dapat data sebanyak 3.321 pasien penyakit dalam yang menjalani rawat jalan, dan prevalensi angka kejadian penyakit Tuberkulosis paru di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor pada tahun 2017 sebesar 42 %.
Gambaran klinis pasien tuberkulosis paru menurut (Corwin, 2009) adalah demam terutama di siang hari,keringat
malam,batuk/batuk berdahak, Malaise, batuk perulen produktif disertai nyeri dada pada infeksi aktif, hilangnya nafsu makan dan penurunan berat badan, penyakit TB paru yang di derita membuat pasien TB paru terbatasi hanya bisa di rumah saja dan menyebabkan ketidak puasan karena keadaannya, sehingga pasien dengan tuberkulosis paru dapat terganggu kondisi psikologisnya
Menurut ( Gorman, 2008) Dampak psikologis hadir dalam penyakit apapun.
Penyakit mengancam individu dan membangkitkan beragam emosi, seperti ketakutan, kesedihan, kemarahan, depresi, keputusasaan, dan kehilangan kendali. Setiap individu yang menghadapi penyakit merespons secara berbeda sesuai kepribadian, pengalaman hidup sebelumnya, dan gaya koping. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Ningsih (2008) penelitian tentang psikososial pada penyakit kronis menyimpulkan bahwa perubahan fungsi bagian tubuh pada penyakit kronis ataupun penurunan fungsi tubuh akan membuat penderita merasa tidak berdaya karena tidak dapat menjalankan perannya sehari-hari, mempunyai perasaan menjadi beban keluarga dan menjadi tidak seaktif dulu ketika belum mengalami penyakit kronis, hal ini akhirnya mempengaruhi peran diri seseorang. Setiap peran akan berhubungan dengan harapan-harapan tertentu. Apabila terjadi kegagalan untuk memenuhi harapan atas peran dapat menyebabkan penurunan harga diri atau terganggunya konsep diri seseorang ( Hidayat, 2009).
Menurut stuart (2013) konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan memengaruhi hubungannya dengan orang lain.
Termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan oranmg lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan
objek, tujuan serta keinginannya.
Konsep diri terdiri dari komponen komponen berikut, yaitu citra tubuh, ideal diri, harga diri, identitas diri dan peran diri
Salah satu komponen dalam konsep diri yaitu Peran diri, Peran menurut (Stuart, 2013) adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu diberbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran yang dijalani dan sesorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diambil adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu.
Menurut ( Stuart dan Sundeen, 1991 dalam keliat, 1992) ada lima factor yang mempengaruhi penyesuaian diri dengan peran, yaitu : Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran, Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran individu, Keseimbangan dan kesesuaian antara peran yang dilakukan, Keselarasan harapan dan kebudayaan dengan peran, Kesesuaian situasi/keadaan yang dapat mendukung pelaksanaan peran.
Pada pasien yang sedang dirawat di rumah sakit otomatis peran sosial pasien berubah menjadi peran sakit.
Peran klien yang berubah yaitu, Peran dalam keluarga, peran dalam pekerjaan/sekolah, peran dalam berbagai kelompok. Klien tidak dapat melakukan peran yang biasa dilakukan selama dirawat dirumah sakit. Atau setelah kembali dari rumah sakit, klien tidak mungkin melakukan perannya yang biasa. ( Friedman, 2010)
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sarwaswati (2016) dengan judul
“Konsep diri penderita TB paru di RS PKU Muhammaddiyah Gombong menunjukan hasil distribusi frekuensi responden berdasarkan peran diri presentase terbesar adalah penderita TB paru yang memiliki peran diri kurang yaitu sejumlah 17 orang (54.8%), kemudian penderita TB paru yang memiliki peran diri baik yaitu sejumlah 8 orang (25.8%), dan prosentase
responden terendah adalah penderita TB paru yang memiliki peran diri cukup yaitu sejumlah 6 orang (19.4%).
Bedasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Gombong di dapatkan distribusi frekuensi responden berdasarkan peran diri prosentase terbesar adalah penderita TB paru yang memiliki peran diri kurang yaitu sejumlah 17 orang (54.8%). Pada proses pengumpulan data ditemukan mayoritas responden memiliki peran diri yang kurang hal ini terjadi karena penderita TB paru merasa tidak dapat melakukan perannya dirumah maupun dimasyarakat dan merasa tidak dapat membahagiakan orang-orang yang disekelilingnya.
Pada penelitian ini yang dijadikan populasi adalah seluruh pasien penyakit dalam yang menajalani pengobatan di rumah sakit paru Dr, M.
Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor, Pada penelitian ini yang dijadikan sampel adalah seluruh pasien Tuberkulosis Paru yang menjalani pengobatan rawat jalan di rumah sakit paru Dr, M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif, dimana peneliti hanya mendapatkan gambaran peran diri pada pasien tuberkulosis paru di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor. Pada penelitian ini yang dijadikan populasi adalah seluruh pasien penyakit dalam yang menajalani pengobatan di rumah sakit paru Dr, M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor, dan sampelnya adalah seluruh pasien Tuberkulosis Paru yang menjalani pengobatan rawat jalan di rumah sakit paru Dr, M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor.
Kriteria sampel yang dibutuhkan secara inklusi yaitu pasien Tuberculosis Paru dalam perawatan rawat jalan,Pasien Tuberculosis paru yang bersedia menjadi responden, Pasien tuberkulosis paru yang menjalani
Succy Rahmawati1), Ida Farida2) Gambaran Tipe Kepribadian dan Gaya Hidup pada Pasien Resiko Penyakit Jantung Koroner di
Ruangan Poliklinik Jantung RS PMI Bogor Tahun 2017 pengobatan 1 – 6 bulan. Adapun kriteria
secara ekslusi yaitu responden yang keadaan umumnya sesak, lemah dan gelisah.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan teknik wawancara dengan bentuk pertanyaan yang terstruktur melalui kuesioner. Sumber data berasal dari data primer dan data sekunder. Adapun pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini terdiri dari penyuntingan data, pengkodean, memasukan data, tabulasi, kemudian pembersihan data.
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya.
Kemudian dilakukan pembetulan dan koreksi.
Analisa yang diigunakan peneliti adalah analisis univariat. Karakteristik yang dianalisis antara lain : umur, jenis kelamin,pendidkan, Budaya, Motivasi, dan lamanya pengobatan. Untuk variabel peran diri menggunakan skala Likert dan diinterpretasikan berdasarkan distribusi frekuensi nilai mean, kemudian dikategorikan peran diri positif dan peran diri negatif
HASIL a. Umur
Distribusi Responden Berdasarkan Usia pada Klien dengan TB paru di RSPG Cisarua Bogor, 2018 (n=94)
Karak teristik
Me an
Medi
an Modus Min Max
Usia 34 30 28 16 78
Berdasarkan tabel 1 menunjukan bahwa proporsi klien TB paru dalam peran diri pasien tuberkulosis paru di RSPG Cisarua Bogor distribusi usia
menunjukan bahwa nilai rata-rata usia responden adalah 34 tahun, nilai tengan dari distribusi usia respnden adalah 30 tahun, usia yang paling sering mengalami TB paru adalah 28 tahun dan nilai usia termuda 16 tahun sedangkan tertua berusia 78 tahun.
b. Jenis Kelamin
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin pada klien TB paru di RSPG Cisarua Bogor tahun 2018 (n=94)
Berdasarkan diagram 1, distribusi jenis kelamin menunjukan bahwa dari 94 responden lebih dari setengahnya berjenis kelamin laki-laki sebanyak 49 orang (52%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 45 orang (48%).
c. Pendidikan
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan pada Klien dengan TB Paru di RSPG Cisarua Bogor 2018 ( n=94)
Berdasarkan diagram 2, Distribusi pendidikan menunjukan bahwa dari 94 responden lebih dari
48% 52% Laki-laki
Perempuan
62
30
2 64%
34%
2%
setengahnya berpendidikan dasar sebanyak 62 orang (64%) hampir setengahnya berpendidikan menengah sebanyak 30 orang (34%), dan sebagian kecil berpendidikan perguruan tinggi sebanyak 2 orang (2%).
d. Motivasi
Distribusi Responden Berdasarkan Motivasi pada Klien dengan TB Paru di RSPG Cisarua Bogor 2018 ( n=94)
Berdasarkan diagram 3, Distribusi Motivasi menunjukan bahwa dari 94 responden seluruhnya ada motivasi sebanyak 94 orang (100%) dan tidak satupun tidak mempunyai motivas 0 orang (0%)
e. Suku
Distribusi Responden Berdasarkan Suku pada Klien dengan TB Paru di RSPG Cisarua Bogor 2018 ( n=94)
Berdasarkan diagram 4, Distribusi Suku menunjukan bahwa dari 94 responden sebagian kecil yang memiliki suku Jawa sebanyak 17 orang (18%) lebih dari setengahnya bersuku sunda sebanyak 66 orang (71%)
sebagian kecil bersuku Batak 2 orang (2%)
f. Lamanya Pengobatan
Distribusi Responden Berdasarkan Lamanya Pengobatan pada Klien dengan TB Paru di RSPG Cisarua Bogor 2018 ( n=94)
Berdasarkan diagram 5, Distribusi Lamanya Pengobatan menunjukan bahwa dari 94 responden sebagian kecil lama pengobatan 1 bulan sebanyak 11 orang (12%) lebih dari setengahnya dengan lamanya pengobatan 2 bulan sebanyak 56 orang (59%) dan sebagian kecil lamanya pengobatan selama 6 bulan sebanyak 1 orang (1%).
g. Peran Diri
Distribusi Responden Berdasarkan Peran Diri pada Klien dengan TB Paru di RSPG Cisarua Bogor 2018 ( n=94)
Berdasarkan diagram 6, distribusi Peran Diri menunjukan bahwa dari 94 responden lebih dari setengahnya memiliki peran diri negatif sebanyak 61 orang (64%) dan hampir setengahnya responden yang memiliki peran diri positif sebanyak 33 orang (36%).
100%
Motivasi ada
17
66
2 9
18%
71%
2% 9%
J A W A S U N D A B A T A K B E T A W I
1 2 3 4 6
11 55
16 11 1
12%
59%
17% 12%
1%
65%
35% Negatif
Positif
Succy Rahmawati1), Ida Farida2) Gambaran Tipe Kepribadian dan Gaya Hidup pada Pasien Resiko Penyakit Jantung Koroner di
Ruangan Poliklinik Jantung RS PMI Bogor Tahun 2017 PEMBAHASAN
a. Usia
Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa rata-rata resonden berada di usia 34 tahun hal ini sesuai dengan teori menurut Naga (2014) yang menyatakan bahwa Penyakit TB paru paling sering ditemukan pada usia muda atau usia produktif, yaitu 15-50 tahun. Dewasa ini, dengan terjadinya transisi demografi, menyebabkan usia harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi, pada usia lanjut, lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit TB paru.
Hal ini sejalan dengan penelitian menurut Made (2015) Pada usia Produktif mayoritas orang banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja, dimana tenaga banyak terkuras serta waktu istirahat kurang sehingga daya tahan tubuh menurun ditambah lagi dengan lingkungan kerja yang padat dan berhubungan dengan banyak orang yang kemunkinan sedang menderita TB.
Kondisi kerja seperti ini memudahkan seseorang pada usia produktif lebih berpulang terinfeksi TB.
Ketika daya tahan tubuh menurun, penyakit mudah masuk ke dalam tubuh menurut Wahid (2013) Port de’entri kuman mycrobacterium tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit, kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. faktor penentu keberhasilan pemaparan tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernafas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan.
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang
berbentuk batang dengan ukuran panjang 14/mm dan tebal 0,3-0,6/mm.
Sebagian besar kuman terdiri tas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik (Wahid,2013)
Tuberkulosis peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikrobakterium.
Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pada usia 1-3 tahun.
Sedangkan yang di sebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap hasil tersebut. Wahid (2013)
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob.
Sifat ini menunjukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigenya. Dalam hal ini bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari bagian lainya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.( Wahid, 2013 )
b. Jenis Kelamin
Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa lebih dari setengahnya berjenis kelamin laki-laki sebanyak 49 orang (52%). Hal ini sesuai dengan teori menurut WHO (dalam Naga,2014) yang menyatakan bahwa laki-laki sering disebut sebagai agen dari penyakit TB paru yang cukup tinggi, karena laki-laki yang lebih sering mengkonsumsi rokok dan minuman alkohol yang dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh seseorang.
Hal ini sejalan dengan Penelitian Fadilah (2015) yang mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena pada
umumnya seorang laki-laki dituntut bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama yang berusia produktif, bahkan terkadang masih ada yang bekerja meskipun sudah tua. Dibandingkan dengan seorang perempuan yang pada umumnya terinfeksi TB setelah persalinan akibat proses persalinan yang kurang bersih atau terinfeksi HIV yang mengakibatkan kekebalan tubuh menurun. Angka kejadian TB pada laki- laki cukup tinggi pada semua usia, tetapi pada perempuan angka kejadian TB cenderung menurun setelah melampaui usia subur. Selain itu, laki- laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB.
Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terinfeksi TB paru sebanyak 2,2 kali.
c. Pendidikan
Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa lebih dari setengahnya berpendidikan dasar sebanyak 62 orang (64%). Hal ini sesuai dengan teori menurut Naga (2014) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat dan pengetahuan penyakit TB paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai prilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu tingkat pendidikan seseorang akan mempengauhi terhadap jenis pekerjaan dan kondisi ekonomi.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Made (2015) yang menyatakan bahwa Pendidikan berhubungan dengan usia produktif.
Semakin besar resiko untuk menderita TB paru. Pendidikan berkaitan dengan pengetahuan yang nantinya berhubungan dengan upaya pencrian pengobatan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus
(predisposing) yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berprilaku sehat. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka penegtahuan tentang TB semakin baik sehingga pengendalian agar tidak tertular dan upaya pengobatan bila terinfeksi juga maksimal.
d. Motivasi
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa responden seluruhnya sebanyak 94 orang (100%) mempunyai Motivasi dari orang terdekat dan keluarga terdekat. Hal ini sesuai dengan teori menurut Amira (2015) yang menyatakan bahwa dukungan keluarga sangat menunjang keberhasilan pengobatan dengan cara selalu mengingatkan penderita agar minum obat, pengertian yang dalam terhadap penderita yang sedang sakit dan memberi semangat agar tetap rajin berobat.
Peran Diri
Dari hasil penelitian mengenai peran diri pasien tuberkulosis paru di dapatkan bahwa lebih dari setengahnya memiliki peran diri negatif sebanyak 61 orang (65%) dan hampir setengahnya responden yang memiliki peran diri positif sebanyak 33 orang (35%) dari 94 responden. Dapat dikatakan bahwa klien dengan tuberkulosis paru memiliki peran diri yang negatif atau tidak baik yang dapat memyebabkan gangguan psikososial lainnya. Namun, dalam hasil penelitianpun hampir setengahnya di dapatkan bahwa responden memiliki peran diri yang baik.
Hal ini sesuai dengan Teori menurut ( Gorman, 2008) Dampak psikologis hadir dalam penyakit apapun.
Penyakit mengancam individu dan membangkitkan beragam emosi, seperti ketakutan, kesedihan, kemarahan, depresi, keputusasaan, dan kehilangan kendali. Setiap individu yang menghadapi penyakit merespons secara berbeda sesuai kepribadian,
Succy Rahmawati1), Ida Farida2) Gambaran Tipe Kepribadian dan Gaya Hidup pada Pasien Resiko Penyakit Jantung Koroner di
Ruangan Poliklinik Jantung RS PMI Bogor Tahun 2017 pengalaman hidup sebelumnya, dan
gaya koping. Penyangkalan yang ekstrem, ketidakpatuhan, agresi, dan ancaman bunuh diri adalah beberapa tanggapan yang lebih maladaptif yang mungkin dihadapi perawat dalam merawat orang-orang yang sakit.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ningsih (2008) penelitian tentang psikososial pada penyakit kronis menyimpulkan bahwa perubahan fungsi bagian tubuh pada penyakit kronis ataupun penurunan fungsi tubuh akan membuat penderita merasa tidak berdaya karena tidak dapat menjalankan perannya sehari- hari, mempunyai perasaan menjadi beban keluarga dan menjadi tidak seaktif dulu ketika belum mengalami penyakit kronis, hal ini akhirnya mempengaruhi peran diri seseorang.
Setiap peran akan berhubungan dengan harapan-harapan tertentu. Apabila terjadi kegagalan untuk memenuhi harapan atas peran dapat menyebabkan penurunan harga diri atau terganggunya konsep diri seseorang ( Hidayat, 2009).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saraswati (2016) yang meyatakan bahwa ditemukan mayoritas responden memiliki peran diri yang kurang hal ini terjadi karena penderita TB paru merasa tidak dapat melakukan perannya dirumah maupun dimasyarakat dan merasa tidak dapat membahagiakan orang-orang yang disekelilingnya.
Peran diri negatif pada pasien tuberkulosis paru juga sesuai dengan teori menurut Aziz,A ( 2007 ) pada klien yang sedang di rawat di rumah sakit otomatis peran sosial klien berubah menjadi peran sakit, peran yang berubah adalah peran dalam keluarga, peran dalam pekerjaan/sekloah, peran dalam berbagai kelompok/masyarakat, klien tidak dapat melakukan pran yang biasa dilakukan selama di rawat di rumah sakit. Atau setelah kembali dari
rumah sakit, klien tidak mungkin melakukan perannya yang biasa.
Pada penelitian ini, saat dilakukan penelitian klien mengungkapkan peran dalam keluarga tidak dapat dilakukan sepenuhnya, seperti klien dengan tuberkulosis paru mengatakan bahwa klien jarang memberi solusi terhadap masalah keluarga dan sebagian besar kegiatan rutin klien selalu meminta bantuan pada orang lain. Hal ini dimungkinkan karena kondisi klien dengan tuberkulosis paru mengalami fisik yang lemah dan adanya anggapan bahwa penderita Tb paru merasa terdeskriminasi ataupun keluarga mendeskriminasi klien. Peran dalam pekerjaan juga tidak dapat dilakukan, klien mengungkapkan sejak menderita Tuberkulosis paru klien tidak dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Hal ini di mungkinkan karena penderita tuberkulosis mengalami kelemahan fisik ketika sudah bekerja, sehingga membuat penderita tuberkulosis tidak dapat bekerja dengan baik. Serta peran dalam kelompok/masyarakat juga tidak dapat dilakukan dengan baik hal ini dibuktikan klien mengatakan sering menghabiskan waktu dengan menyendiri, hal ini disebabkan karena enderita tuberkulosis sering merasa kurang percaya diri sehingga menyebabkan penderita merasa terdeskriminasi atau keluarga mendeskriminasi yang menyebabkan penderita sering menarik diri dan merasa malu untuk berkumpul atau bermasyarakat. Dari beberapa responden menyatakan menerima reaksi negatif dari orang sekitar seperti tatapan aneh, dan pernyataan- pernyataan yang tidak menyenangkan sehingga memilih untuk membatasi interaksi sosial.
Hal ini sesuai dengan teori Menurut Stuart and Sundeen (1991) Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri, peran diri, dan harga diri. Masalah konsep diri
dapat dicetuskan oleh faktor psikologis, namun yang penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. Selain itu dapat saja terjadi berbagai gangguang peran. Gangguan-gangguan peran yang terjadi tersebut dapat ditandai dengan tanda dan gejala, seperti : menungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan menampilkan peran, mengingari atau menghindari peran, kegagalan transisi epran, ketegangan peran, kemunduran pada tanggung jawab yang biasa dalam peran, proses berkabung yang tidak berfungsi.
Hasil ini juga sesuai dengan teori menurut Stuart dan Sundeen faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri dengan peran yaitu kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran atau tingkat pendidikan, konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran individu atau motivasi, Keselarasan harapan dan kebudayaan dengan peran atau suku, dan Kesesuaian situasi/keadaan yang dapat mendukung pelaksanaan peran atau lamanya pengobatan.
Motivasi dapat mendukung peran diri, hal ini sesuai dengan penelitian bahwa seluruhnya responden memiliki motivasi(100%) Dari hasil peran diri di dapatkan bahwa responden yang memiliki motivasi sebanyak 94 responden (100%) dan sesuai dengan teori menurut Suliswati (2005) Individu dikatakan mempunyai performa peran positif jika mampu untuk berperan aktif dalam lingkungan, sekaligus menunjukkan bahwa keberadaannya
sangat diperlukan oleh
lingkungan.Dukungan melalui kelompok sosial dan perawat dalam pendampingan interaksi sangat bermanfaat dalam mengatasi hal ini
Serta peran berubah karena beragam pasien, lamanya pengobatan pasien juga berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan teori Keliat (1992) yang menyatakan transisi sehat-sakit, Sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit.
Transisi ini mungkin dicetuskan oleh
kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan
SIMPULAN
1. Usia responden menunjukan bahwa rata-rata usia responden berada pada usia 34 tahun.
2. Jenis kelamin responden menunjukan lebih dari setengahnya berjenis kelamin laki-laki.
3. Pendidikan responden menunjukan lebih dari setengahnya berpendidikan dasar
4. Motivasi responden menunjukan seluruhnya memiliki motivasi 5. Budaya responden menunjukan
lebih dari setengahnya bersuku sunda.
6. Lamanya pengobatan responden menunjukan lebih dari setengahnya lama pengobatan 2 bulan.
7. Peran diri responden di RSPG Cisarua Bogor menunjukan bahwa lebih dari setengahnya memiliki peran diri negatif.
REKOMENDASI
Meningkatkan Peran diri klien TB paru dalam masalah keperawatan berbasis Psikososial. Rumah sakit perlu meningkatkan dorongan kepada klien serta memberikan ruang diskusi terhadap klien agar tidak terjadi masalah psikososial.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Alimul,Aziz( 2007).Pengantar kebutuhan dasar manusia, Jakarta: Salemba Medika
Arikunto. (2006) . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakrta:
Rineka Cipta.
Succy Rahmawati1), Ida Farida2) Gambaran Tipe Kepribadian dan Gaya Hidup pada Pasien Resiko Penyakit Jantung Koroner di
Ruangan Poliklinik Jantung RS PMI Bogor Tahun 2017 Azwar, saifuddin.2010. penyusunan
skala psikologi. Yogyakarta:
pustaka pelajar
Brunner & Suddart. ( 2015).
Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC
Corwin. Elizabeth J. (2009). Buku Saku Patofisiologi,ed.3.Jakarta:EGC Direja, S.H. A. (2011).Asuhan
keperawatanjiwa.Yogyakarta:
Nuha Medika
Fhadilah, debby (2015).Faktor-faktor resiko tuberkulosis.Jakarta: Ilmu Veteriner diakses pada tanggal 29-06-2018
(http://ilmuveteriner.com/faktor- faktor-resiko-kejadian-
tuberkulosis/amp)
Friedman, Marylin M. 2010. Buku ajar Keperawatan
Keluarga:Riset,Teori,&
Praktik,Ed.5. Jakarta:EGC
Gorman, Linda M. ( 2008)
“Physicososial Nursing For General Patient Care”. F.A Davis Company: Philadelphia
Hidayat A. Aziz Alimul. (2008). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.
Hidayat, A. A. (2009). Pengantar kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta:Salemba Medika
Keliat, B. A.,& Akemat.(2009).Model praktik keperawatan profesional jiwa. Jakarta:EGC
Keliat,Budi Ana. (2005) Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi II, Jakarta : EGC
Keliat,Budi Ana. 1992,Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC Keliat,Budi Ana.1999.Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC
Mauludy, muhammad fikri (2017) Diskriminasi Penderita TB masih terjadi. Bandung:Pikiran Rakyat diakses pada tanggal 17 – 11 – 2017 (http://www.pikiran- rakyat.com/bandung-
raya/2017/10/16/diskriminasi- penderita-tb-masih-terjadi- 411653)
Ningsih, E S. P. (2008). Pengalaman psikososial pasien dengan ulkus kaki diabetes dalam konteks asuhan keperawatan diabetes melitus. Depok : Universitas Indonesia.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010).
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: PT Rineka Cipta
---. (2012).
Metedologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma.
(2015). NANDA NIC-NOC.
Yogyakarta: MediAction
Nurjana, Made Agus (2015) “Faktor Resiko Terjadinya Tuberkulosis Paru Usia Produktif (15-49 Tahun) Di indonesian:Donggala:Neliti diakses pada tanggal 29-06-2018 (https://media.neliti.com>publicati ons)
Nuryanti, titik (dkk). Hubungan perubahan Peran Diri Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia yang Tinggal Di UPT PSLU Pasuruan Babat lamongan. Universitas Airlangga Surabaya
Purwanto, S., dan Riyadi.
(2009).Asuhan keperawatan jiwa.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Riyanto, Agus (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan.Yogyakarta: Nuha Medika
Rizqina, Marhamah (2009). Peran Keluarga dalam Merawat Penderita TB paru dan Konsep Diri Penderita TB Paru di Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Medan. Universitas Sumatra Utara diambil pada tanggal 17 – 11 – 2017 (https://id.123dok.com/document/
eqo524my-konsep-diri-penderita- tb-paru-di-balai-pengobatan- penyakit-paru-paru-bp4-
medan.html) balai-pengobatan- penyakit-paru-paru-bp4-
medan.html)
Saraswati, dkk. (2016). Konsep Diri Penderita TB paru Di RS PKU Muhammaddiyah Gombong.
Jurnal Ilmu Kesehatan Keperawatan. Vol.12 di unduh pada tangga 30 Maret 2018 (http://ejournal.stikesmuhgombon g.ac.id/index.php/JIKK/article/vie w/155)
Setiadi (2013). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Stuart, Gail W. (2013).Buku saku Keperawatan Jiwa ed.5.
Jakarta:EGC
Sumaryo.2004.Psikologi untuk keperawatan.Buku kedokteran EGC.Jakarta
Swarjana, I Ketut (2015). Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Yogyakarta:Andi Offset
Tarmini, Tastief ( 2017) .Gerakan Ketuk Pintu Dinkes Bogor Cegah Tuberkulosis Antara News, di akses pada tanggal 17 – 11 – 2017
(https://www.antaranews.com/beri ta/621320/gerakan-ketuk-pintu- dinkes-bogor-cegah-tuberkulosis ) Wahid, Abdul. 2013. Keperawatan Medikal Bedah, Asuhan Keperwatan Pada Gangguan Sistem Respirasi.Jakarta:Trans Info Media