• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

V-1

BAB V

ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

Bab ini menjelaskan tentang analisis dari hasil yang didapatkan dalam penelitian yang telah dilakukan. Analisis dilakukan terhadap kebutuhan penyandang tunadaksa kaki, rancangan fasilitas kerja, dan pengukuran kenyamanan kerja terhadap prototipe.

5.1 Analisis Kebutuhan Penyandang Tunadaksa Kaki

Kebutuhan rancangan fasilitas kerja terdiri dari dua tahap yaitu identifikasi awal dan forum group discussion untuk menentukan kebutuhan pengguna.

Identifikasi awal kebutuhan pengguna digunakan untuk mengetahui kriteria-kriteria awal yang dibutuhkan penyandang tunadaksa kaki berdasarkan studi literatur, wawancara, dan penyebaran kuesioner. Identifikasi awal kebutuhan pengguna menghasilkan 6 atribut dengan 16 kriteria. Pada atribut pengoperasian fasilitas kerja terdiri dari kriteria mudah digunakan, mampu menyesuaikan pengguna, dan pengoperasian dilakukan secara manual. Pada atribut pengaturan fasilitas kerja terdiri dari kriteria mudah dipasang, mudah dibongkar pasang, dapat digunakan pada semua jenis mesin obras. Pada atribut kenyamanan terdiri dari kriteria posisi fasilitas kerja yang tepat pada mesin obras, menggunakan usaha rendah dalam menggunakan fasilitas kerja, dan tidak menyebabkan rasa sakit. Pada atribut ketepatan material terdiri dari kriteria menggunakan bahan yang ringan, kuat, dan tahan lama. Pada atribut bentuk terdiri dari kriteria mempunyai bentuk yang sederhana dan tidak menghalangi komponen lain. Pada atribut sustainability terdiri dari kriteria mampu digunakan jangka panjang dan mudah dirawat.

Hasil dari atribut dan kriteria tersebut kemudian diuji dengan uji reliabilitas dan uji validitas. Uji reliabilitas menghasilkan nilai 𝛼 sebesar 0,958 > 0,497. Hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh data dalam penelitian reliabel atau terpercaya.

Hasil uji validitas menunjukkan 1 kriteria memiliki r hitung sebesar 0,597 yaitu pada kriteria dapat digunakan semua jenis mesin obras. Data dinyatakan valid apabila r hitung lebih besar dari 0,707, sehingga data pada kriteria tersebut tidak memenuhi syarat dan dihilangkan pada pengolahan data selanjutnya. commit to user commit to user

(2)

V-2

Setelah didapatkan 6 atibut dengan 15 kriteria, dilakukan penyusunan kuesioner berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut. Hasil dari kuesioner menunjukkan perbedaan angka pada setiap atribut yang diperoleh dari hasil rata- rata kriteria yang ada didalam atribut. Angka besar menunjukkan peranan yang lebih penting dibandingkan dengan angka kecil. Grafik hasil penyebaran kuesioner dapat dijelaskan pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1 Grafik Rata-Rata Kebutuhan Awal Pengguna

Penentuan kebutuhan pengguna dilakukan dengan forum group discussion untuk menyepakati apakah hasil dari kuesioner tersebut sudah tepat dan sesuai dengan kebutuhan penyandang tunadaksa kaki. Hasil keputusan forum group discussion menentukan 3 atribut yang memiliki nilai paling tinggi sebagai dasar perancangan fasilitas kerja yaitu kenyamanan dengan nilai sebesar 6,250, pengoperasian fasilitas kerja dengan nilai sebesar 6,083, dan ketepatan material dengan nilai sebesar 5,833. Ketiga atribut tersebut dipilih karena telah memenuhi seluruh kriteria yang ada pada kebutuhan awal pengguna.

Kriteria pada atribut kenyamanan terdiri dari posisi fasilitas kerja tepat pada mesin obras, menggunakan usaha rendah, dan tidak menyebabkan rasa sakit.

Kriteria posisi fasilitas kerja tepat pada mesin obras dipilih karena alat bantu sebelumnya tidak memiliki tempat yang spesifik pada mesin obras. Kriteria ini telah memenuhi kriteria bentuk yang sederhana dan tidak menghalangi komponen mesin

Pengoperasian Fasilitas Kerja

Pengaturan Fasilitas Kerja

Kenyamanan Ketepatan Material

Bentuk Sustainability

Series1 6,083 5,750 6,250 5,833 5,625 5,500

commit to user commit to user

(3)

V-3

obras pada atribut bentuk. Kriteria menggunakan usaha rendah dipilih karena dengan usaha yang rendah, penyandang tunadaksa kaki dapat menggerakkan fasilitas kerja dengan lebih nyaman. Kriteria tidak menyebabkan rasa sakit dipilih karena apabila fasilitas kerja yang akan dirancang menyebabkan rasa sakit pada bagian tubuh tertentu, maka akan menyebabkan ketidaknyamanan kerja.

Kriteria pada atribut pengoperasian fasilitas kerja terdiri dari mudah digunakan, mampu menyesuaikan pengguna, dan pengoperasikan secara manual.

Kriteria mudah digunakan diterapkan supaya penyandang tunadaksa kaki lebih cepat beradaptasi dan bisa menggunakan fasilitas kerja dengan baik. Kriteria ini telah memenuhi kriteria mudah dipasang dan dapat dibongkar pasang pada atribut pengaturan fasilitas kerja. Kriteria mampu menyesuaikan pengguna diterapkan karena penyandang tunadaksa kaki memiliki postur tubuh yang berbeda-beda.

Kriteria pengoperasian secara manual diterapkan untuk mengetahui apakah fasilitas kerja berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak pada semua jenis mesin obras.

Kriteria ini telah memenuhi kriteria bisa digunakan semua jenis mesin obras pada atribut pengaturan fasilitas kerja.

Kriteria pada atribut ketepatan material terdiri dari bahan yang ringan, kuat, dan tahan lama. Kriteria bahan yang ringan digunakan supaya penyandang tunadaksa kaki tidak merasa kesulitan dalam menggerakkan fasilitas kerja. Hal tersebut dikarenakan penyandang tunadaksa kaki mengalami kesulitan dalam menggerakkan tongkat yang disebabkan oleh bahan yang berat. Kriteria bahan yang kuat digunakan supaya fasilitas kerja tidak mudah rusak. Kriteria bahan yang tahan lama digunakan supaya fasilitas kerja dapat digunakan dalam jangka waktu lama dengan perawatan yang mudah. Kriteria ini telah memenuhi kriteria dapat digunakan jangka panjang dan mudah untuk dirawat pada atribut sustainability.

5.2 Analisis Hasil Rancangan Fasilitas Kerja

Berdasarkan kondisi penyandang tunadaksa kaki, dibutuhkan rancangan fasilitas kerja yang dapat mengakomodir perubahan fungsi dari anggota gerak bawah ke anggota gerak atas. Anggota gerak atas yang digunakan adalah siku tangan karena siku tangan dapat bergerak bebas tanpa menghalangi proses lain yang dilakukan pada saat pengobrasan. Siku tangan penyandang tunadaksa kaki memiliki gaya tekan dengan nilai rata-rata sebesar 8,63 kg. Dalam menggerakkan pedal commit to user commit to user

(4)

V-4

mesin obras, gaya tekan yang diperlukan lebih kecil yaitu sebesar 3,48 kg.

Pertimbangan ini menentukan siku tangan sebagai anggota gerak atas yang dapat mengakomodir gerakan pedal mesin obras.

Pada konsep perancangan fasilitas kerja yang dioperasikan dengan siku tangan, dibutuhkan data kebutuhan pengguna yang diolah menggunakan metode TRIZ. Hasil solusi metode TRIZ digunakan sebagai dasar perancangan fasilitas kerja. Solusi dipilih melalui forum group discussion untuk menentukan kriteria- kriteria rancangan yang dapat diaplikasikan pada fasilitas kerja. Konsep rancangan fasilitas kerja terdiri dari 3 komponen yaitu komponen rangka utama, rangka penggerak, dan bantalan.

Perancangan utama didasarkan pada solusi-solusi metode TRIZ. Solusi yang dipilih berdasarkan hasil diskusi dengan stakeholder adalah local quality, nested doll, dan segmentation. Local quality adalah membuat bagian komponen dengan kualitas dan fungsi yang paling sesuai dengan pengoperasiannya. Kualitas komponen yang digunakan untuk merancang fasilitas kerja mempengaruhi tingkat ketahanan dan kenyamanan dalam menggunakan fasilitas kerja. Material komponen yang digunakan adalah besi stainless steel karena besi tersebut merupakan besi yang memiliki kualitas tinggi dan tahan terhadap korosi. Rancangan alat bantu yang digunakan sebelumnya memiliki fungsi yang tidak sesuai untuk menggerakkan pedal mesin obras. Hal ini menyebabkan penyandang tunadaksa kaki mengalami kesulitan. Oleh karena itu, solusi local quality diterapkan supaya fasilitas kerja memiliki kualitas komponen yang baik dan dapat berfungsi sesuai dengan gerakan pedal mesin obras.

Nested doll adalah memasang rangka utama (komponen kecil) pada mesin obras (komponen besar). Solusi ini diterapkan karena mesin obras sudah memiliki banyak komponen dengan peranannya masing-masing. Oleh karena itu, fasilitas kerja harus dipasang pada suatu tempat yang tidak mengganggu komponen yang ada pada mesin obras. Komponen-komponen tersebut banyak yang diletakan di atas meja mesin obras. Oleh karena itu, rangka utama dipasang pada bagian bawah meja mesin obras yang memiliki ukuran lebih longgar dan mampu disesuaikan dengan kondisi yang ada dibawah meja mesin obras.

commit to user commit to user

(5)

V-5

Segmentation adalah membuat rangka utama yang mudah dibongkar pasang. Solusi ini diterapkan karena penyandang tunadaksa kaki tidak selalu mengoperasikan mesin obras dalam pelatihan keterampilan. Fasilitas kerja dapat dibongkar dan disimpan ke dalam kotak penyimpanan jika tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama, sehingga fasilitas kerja lebih tahan lama dan tidak mudah rusak. Ketika fasilitas kerja tersebut akan digunakan kembali, maka penyandang tunadaksa kaki dapat lebih mudah dalam memasang dan menyesuaikan dengan kebutuhannya. Dalam pemasangan rangka utama digunakan sekrup sebagai alat untuk memasang dan melepas fasilitas kerja dari meja mesin obras. Permukaan meja mesin obras terbuat dari kayu, sehingga sekrup dapat lebih mudah dipasang dan dilepas dengan menggunakan obeng.

Hasil rancangan rangka utama dipasang pada bawah meja mesin obras karena komponen-komponen mesin obras telah berada pada bagian atas meja, sehingga apabila rangka utama diletakkan diatas meja mesin obras maka akan mengganggu proses pengobrasan. Bentuk dari rangka utama berfungsi untuk menghindari blok mesin obras yang terletak pada bawah meja. Bentuk tersebut juga berfungsi sebagai landasan rangka penggerak dalam mendukung gerakan yang sama seperti pedal mesin obras. Bentuk dari rangka utama dapat dijelaskan pada Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Rangka Utama Pada Meja Mesin Obras

Perancangan rangka penggerak didasarkan pada solusi-solusi metode TRIZ.

Solusi yang dipilih berdasarkan hasil diskusi dengan stakeholder yaitu equipotentiality, mechanism substitution, segmentation, dan periodic action.

Equipotentiality adalah membatasi perubahan posisi rangka penggerak pada bidang yang potensial. Solusi ini diterapkan karena rancangan alat bantu yang digunakan commit to user commit to user

(6)

V-6

sebelumnya licin dan tidak sesuai dengan gerakan pedal mesin obras. Hal tersebut mengakibatkan hasil dari pengobrasan tidak maksimal. Oleh karena itu, gerakan yang dirancang pada rangka penggerak dibatasi pada sudut tertentu supaya gerakan komponen sederhana dan mampu menyesuaikan gerakan pada pedal mesin obras.

Mechanism substitution adalah mengubah komponen statis menjadi dinamis atau dapat digerakkan. Solusi ini diterapkan karena rancangan alat bantu yang digunakan sebelumnya bersifat statis. Hal ini mengakibatkan penyandang tunadaksa kaki mengalami kesulitan dalam mengoperasikan alat tersebut, sehingga hasil pengobrasan tidak sesuai dengan keinginan pengguna. Oleh karena itu, rangka penggerak dirancang supaya dapat digerakkan dengan gerakan yang berhubungan antara gerakan satu dengan yang lain. Gerakan berhubungan akan menjadikan tekanan lebih ringan sehingga dapat lebih mudah untuk digerakkan dan mendapatkan hasil pengobrasan yang sesuai dengan keinginan pengguna.

Segmentation pada rangka penggerak memiliki perbedaan arti dengan segmentation yang ada pada komponen rangka utama. Segmentation ini memiliki pengertian yaitu membuat rangka penggerak menjadi bagian yang independen.

Solusi ini diterapkan karena rangka penggerak membutuhkan beberapa bagian independen untuk menghubungkan dan menggerakkan antara pedal dengan siku tangan. Bagian independen akan membuat rangka penggerak lebih mudah digerakkan dan dapat disesuaikan dengan gerakan pedal mesin obras. Oleh karena itu, rangka penggerak dibagi menjadi beberapa bagian yang disesuaikan dengan fungsi pedal mesin obras. Periodic action adalah membuat komponen melakukan gerakan secara periodic atau berkala. Solusi ini diterapkan karena membutuhkan gerakan berkala pada saat pengoperasiannya. Gerakan secara berkala akan membuat rangka penggerak mampu menyesuaikan gerakan pedal mesin obras supaya hasil pengobrasan sesuai dengan keinginan pengguna.

Hasil rancangan rangka penggerak dipasang pada rangka utama untuk menghubungkan pedal mesin obras dengan siku penyandang tunadaksa kaki.

Rangka penggerak menggunakan besi as stainless steel berbentuk bulat yang diletakkan pada pedal yang disambungkan ke rangka utama supaya dapat dijangkau oleh siku tangan. Rangka penggerak dibagi menjadi dua komponen. Komponen pertama dihubungkan dengan pedal dan komponen kedua dihubungkan dengan commit to user commit to user

(7)

V-7

rangka utama. Kedua komponen tersebut berfungsi untuk menyesuaikan tinggi rangka penggerak yang terhubung dari pedal ke rangka utama. Bentuk dari rangka penggerak dapat dijelaskan pada Gambar 5.3.

Gambar 5.3 Rangka Penggerak Terhubung Dengan Rangka Utama

Perancangan bantalan didasarkan pada solusi-solusi metode TRIZ. Solusi yang dipilih berdasarkan hasil diskusi dengan stakeholder adalah parameter changes, dynamics, dan copying. Parameter Changes adalah perubahan tingkat fleksibilitas. Solusi ini diterapkan karena pegangan rancangan alat bantu yang digunakan sebelumnya kurang fleksibel, sangat kaku, dan keras. Hal ini menyebabkan penyandang tunadaksa kaki tidak nyaman dalam mengoperasikan mesin obras. Oleh karena itu, bantalan dirancang menggunakan bahan busa hati.

Busa hati dipilih karena busa tersebut bersifat fleksibel, memiliki permukaan yang lembut, dan tidak kaku. Maka penyandang tunadaksa kaki dapat mengoperasikan mesin obras dengan nyaman.

Dynamics adalah membuat komponen yang dapat disesuaikan (adjustable).

Solusi ini diterapkan karena rancangan alat bantu yang digunakan sebelumnya tidak dapat menyesuaikan posisi tinggi tangan penyandang tunadaksa kaki. Hal tersebut menyebabkan tongkat yang digunakan memiliki posisi yang tidak tepat, sehingga menyebabkan kesulitan dalam menggerakkan pedal. Oleh karena itu, bantalan dirancang untuk dapat menyesuaikan tinggi siku supaya lebih mudah dalam menggerakkan pedal.

2

1

commit to user commit to user

(8)

V-8

Copying adalah mengganti objek dengan salinan optik. Solusi tersebut diterapkan karena untuk merancang fasilitas kerja dapat dilakukan dengan menggunakan salinan optik berupa software Autodesk Inventor. Penggunaan salinan optik membuat perancangan fasilitas kerja menjadi lebih mudah dan efisien.

Software ini dapat mengukur posisi bantalan dan mensimulasikan letak bantalan yang sesuai tanpa harus membuat komponennya terlebih dahulu.

Hasil rancangan bantalan dipasang di rangka penggerak untuk menggerakkan rangka penggerak dan mengatur tinggi rendahnya posisi bantalan sesuai dengan tinggi siku penyandang tunadaksa kaki. Bantalan memiliki bentuk lingkaran dan terbuat dari bahan busa hati supaya penyandang tunadaksa kaki lebih nyaman dan meminimalisir rasa sakit pada saat menggunakan fasilitas kerja. Bentuk dari bantalan dapat dijelaskan pada Gambar 5.3.

Gambar 5.4 Bantalan Terhubung Dengan Rangka Penggerak

Hasil rancangan fasilitas kerja pada stasiun kerja mesin obras dapat dijelaskan pada Gambar 5.5.

Gambar 5.5 Rancangan Fasilitas Kerja Pada Stasiun Kerja Mesin Obras Rangka Penggerak Rangka Utama Bantalan

commit to user commit to user

(9)

V-9

5.3 Analisis Tingkat Kenyamanan Kerja Terhadap Prototipe Fasilitas Kerja Pengukuran tingkat kenyamanan kerja dilakukan dengan menggunakan kuesioner kenyamanan kerja. Kuesioner ditujukan terhadap stakeholder penelitian untuk mengetahui tingkat kenyamanan ketika menggunakan prototipe fasilitas kerja dibandingkan dengan alat bantu tongkat yang digunakan sebelumnya. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan uji statistik berupa uji independent sample t test dan uji paired sample t test. Syarat untuk pengukuran tersebut adalah uji normalitas data dan uji homogenitas.

Data pada alat bantu tongkat dan fasilitas kerja telah berdistribusi normal yang ditunjukkan pada Tabel 4.12 dan Tabel 4.13 serta data bersifat homogen yang ditunjukkan pada Tabel 4.14. Setelah data berdistribusi normal dan homogen, kemudian dilakukan uji independent sample t test. Hasil dari uji independent sample t test menunjukkan bahwa alat bantu tongkat dan fasilitas kerja mempunyai perbedaan perlakuan yang signifikan ditunjukkan pada Tabel 4.15. Hal tersebut disebabkan karena perlakuan pada saat menggunakan alat bantu tongkat tidak memenuhi kebutuhan pengguna, sehingga menimbulkan beberapa permasalahan.

Permasalahan yang terjadi seperti sakit pada ketiak, posisi tongkat yang tidak tepat, dan tidak dapat menyesuaikan gerakan pedal mesin obras. Fasilitas kerja yang dirancang dapat mengatasi permasalahan yang ada pada tongkat sehingga menghasilkan perbedaan perlakuan yang signifikan. Perlakuan menggunakan fasilitas kerja lebih baik dibandingkan dengan tongkat dibuktikan dengan nilai hasil kuesioner yang lebih tinggi dengan perbedaan yang signifikan dengan nilai sebesar 74. Total nilai pada fasilitas kerja sebesar 349 sedangkan pada alat bantu tongkat lebih kecil yaitu sebesar 275. Nilai yang lebih tinggi menunjukkan bahwa fasilitas kerja lebih nyaman digunakan dan sesuai dengan kebutuhan penyandang tunadaksa kaki. Langkah terakhir adalah melakukan uji paired sample t test. Hasil dari uji paired sample t test dapat dijelaskan pada Tabel 5.1.

commit to user commit to user

(10)

V-10

Tabel 5.1 Hasil Uji Paired Sample T Test Alat Bantu Tongkat dan Fasilitas Kerja

Nilai probabilitas pada variabel data alat bantu tongkat dan fasilitas kerja sebesar 0,001. Hal tersebut menunjukkan bahwa alat bantu tongkat dan fasilitas kerja memiliki perbedaan signifikan karena nilai signifikansinya kurang dari 0,05.

Perbedaan tersebut dapat dilihat dari perubahan yang terjadi dari alat bantu tongkat ke fasilitas kerja. Pada alat bantu tongkat yang menggunakan ketiak menyebabkan rasa sakit, sehingga anggota gerak tersebut diganti dengan siku tangan yang lebih nyaman digunakan. Akan tetapi, posisi bantalan yang terkadang tidak tepat pada siku tangan sehingga harus menyesuaikannya terlebih dahulu.

Perubahan yang signifikan terjadi karena material yang digunakan pada alat bantu tongkat yang menggunakan besi jenis biasa diganti dengan besi jenis stainless steel yang memiliki spesifikasi lebih baik. Akan tetapi, biaya yang dikeluarkan pada fasilitas kerja lebih besar dibandingkan dengan alat bantu tongkat. Perubahan juga terjadi pada struktur penyambungan komponen fasilitas kerja yang lebih rumit dibandingkan dengan alat bantu tongkat. Hal ini bertujuan menyesuaikan kebutuhan pengguna, sehingga fasilitas kerja penyandang tunadaksa kaki dapat mengoperasikan mesin obras sesuai dengan kebutuhannya. Berdasarkan perubahan yang terjadi, kenyamanan dalam penggunaan fasilitas kerja dapat meningkat. Hal ini dibuktikan berdasarkan rata-rata tingkat kenyamanan menggunakan alat bantu tongkat sebesar 45,833 dan fasilitas kerja sebesar 58,167, maka dapat dikatakan terdapat peningkatan kenyamanan kerja sebesar 26,91% pada saat menggunakan fasilitas kerja.

Kekurangan penelitian ini menurut penulis yaitu pengukuran tingkat kenyamanan kerja hanya berdasarkan data pada kuesioner. Kenyamanan kerja merupakan hal penting yang harus menjadi fokus dalam perancangan fasilitas kerja.

Fasilitas kerja yang tidak nyaman bisa mengakibatkan kecelakaan kerja, kualitas hasil pengobrasan yang tidak maksimal, dan pekerjaan pengobrasan memerlukan

Variabel N Rerata SD Beda

Rerata Nilai t Nilai p Alat bantu tongkat 6 45,833

4,367

12,333

(26,91%) -6,919 0.001 Fasilitas kerja 6 58,167

commit to user commit to user

(11)

V-11

waktu yang lama. Oleh karena itu, kenyamanan kerja berbanding lurus dengan peningkatan kinerja dan kualitas kerja. Pengukuran kenyamanan kerja dapat diukur dari perbandingan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kinerja dan kualitas kerja pada saat menggunakan tongkat dan fasilitas kerja. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kinerja dan kualitas kerja adalah waktu dalam menyelesaikan pekerjaan pengobrasan, kualitas dari hasil pengobrasan, dan waktu istirahat yang dibutuhkan pada saat mengoperasikan mesin obras. Ketiga faktor ini digunakan sebagai landasan pengukuran kenyamanan fasilitas kerja untuk penelitian selanjutnya.

commit to user commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat beberapa kesalahan pekerja seperti salah meletakkan jumlah buku sebelum dipotong, salah meletakkan isi cetakan buku ke dalam

Manfaat: meningkatkan kebutuhan oksigen dalam otot, merangsang paru-paru dan jantung juga kegiatan otot dan sendi, meningkatkan peredaran darah, meningkatkan

Warna hasil dari pengeringan menggunakan alat indirect passive solar dryer ini lebih bagus dibandingkan dengan pengeringan secara langsung yang menghasilkan warna yang

Proses yang dilakukan di stasiun ini adalah melakukan perakitan sol (assembly), segi kondisi awal di stasiun assembly sol sangat tidak teratur dalam penempatan

Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan yuridis sosiologis yaitu dengan melihat atau melakukan penelitian secara mendalam terkait

Ketiga alternatif tersebut yang terpilih sebagai solusi pengembangan sepatu kulit pada pemilihan konsep nantinya adalah alternatif 1 dengan nilai 10990.54 dimana sepatu

Oleh sebab itu, prosedur pemilihan bibit di Klaster Biofarmaka Karangayar mengadaptasi proses pemilihan bibit menurut Kemenristekdikti yaitu, pemilihan bibit secara

Mainan multifungsi sekaligus belajar dapat diartikan sebagai mainan yang dapat melatih kemampuan sensorik, motorik, dan kognitif sekaligus dalam satu mainan, kemudian sesuai