• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS 3.1 HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS 3.1 HASIL PENELITIAN"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

27 BAB III

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

3.1 HASIL PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian penulis menggunakan tiga penetapan mengenai dispensasi kawin. Penulis mengambil contoh penetapan dadi beberapa Pengadilan Agama. Ketiganya menyatakan ditolak dengan beberapa alasan yuridis. Dari ketiga putusan tersebut ditemukan fakta peradilan bahwa kasus ini ketiganya memiliki duduk perkara yang melibatkan kehamilan.

Berikut paparan ketiga permohonan dispensasi Perkawinan karena hamil.

Hasil penelitian yang penulis dapatkan :

a. Penetapan Pengadilan Agama Ambarawa No.67/Pdt.P/2020/PA.Amb

Dalam Penetapan Pengadilan Agama Ambarawa No.67/Pdt.P/2020/PA.Amb, kedua pemohon yang masing-masing berumur 36 tahun mengajukan dispensasi kawin untuk mengawinkan kedua anaknya. Pemohon mengajukan dispensasi kawin di Pengadilan Agama Ambarawa dikarenakan anaknya belum cukup umur untuk melangsungkan perkawinan karena anak laki-lakinya baru berumur 16 tahun lebih 8 bulan.

Penulis secara singkat akan menguraikan permohonan pemohon pada penetapan tersebut dimulai dari identitas para Pemohon, duduk perkara, pertimbangan hakim, dan amar putusan secara singkat dan jelas. Dalam penetapan ini dikarenakan sidang tertutup untuk umum maka nama pihak terkait digantikan dengan kata “pemohon”.

(2)

28

Tabel 2

Penetapan Pengadilan Agama Ambarawa No.67/Pdt.P/2020/PA.Amb

NO. UNSUR PENETAPAN

1. Para Pemohon

Nama : Pemohon I

Umur : 36 tahun, Agama Islam Pekerjaan : Karyawan Swasta Tempat tinggal di : Kabupaten Semarang, sebagai Pemohon I

Bersama-sama dengan:

Nama : Pemohon II

Umur : 36 tahun, Agama Islam Pekerjaan : Karyawan Swasta Tempat tinggal di : Kabupaten Semarang, sebagai Pemohon II

2. Duduk Perkara 1. Bahwa pemohon dalam surat permohonannya tertanggal 20 Februari 2020 yang telah didaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Wates dalam register perkara Nomor 67/Pdt.P/2020/PA.Amb.

telah mengemukakan bahwa Pemohon hendak mengawinkan anak kandung Pemohon yang akan dilaksanakan dan dicatatkan di hadapan Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang;

2. Bahwa syarat-syarat melaksanakan perkawinan tersebut baik menurut ketetntuan hukum Islam maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku telah terpenuhi, kecuali syarat usia bagi anak Pemohon belum mencapai 19 tahun, oleh

(3)

29

karena itu kehendak Pemohon telah ditolak oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang dengan Surat Nomor : 62/Kk.11.22.09/Pw.01/II/2020;

3. Bahwa perkawinan tersebut sangat mendesak untuk dilaksanakan karena keduanya telah lama kenal dan saling mencintai dan telah bertunangan sejak tanggal 01 Juni 2019 yang lalu dan hubungan mereka telah sedemikian eratnya.

4. Bahwa antara anak Pemohon dengan calon suaminya tersebut tidak ada larangan untuk melakukan perkawinan;

5. Bahwa anak Pemohon berstatus Perawan, dan telah akil baligh serta sudah siap untuk menjadi seorang istri dan/atau ibu rumah tangga. Begitupun calon suaminya sudah siap pula untuk menjadi seorang suami dan/atau kepala Keluarga serta telah bekerja sebagai Karyawan Swasta dengan penghasilan tetap setiap harinya sejumlah Rp. 80.000; (Delapan puluh ribu).

6. Bahwa keluarga Pemohon dan orang tua calon suami anak Pemohon telah merestui rencana perkawinan tersebut;

3. Pertimbangan Hukum Hakim

Menimbang, bahwa pada pokoknya alasan Pemohon mengajukan permohonan Dispensasi Kawin untuk anaknya dengan alasan:

1. Anak Pemohon tersebut hendak melangsungkan perkawinan tetapi umurnya belum mencapai 19 tahun, sehingga Kantor Urusan Agama Kecamatan Bergas

(4)

30

Kabupaten Semarang menolak untuk melaksanakannya;

2. Anak Pemohon dengan calon istrinya sudah menjalin cinta sedemikian eratnya, sehingga untuk melindungi hak anak yang akan dilahirkan nantinya serta untuk menghindari kemadhorotan berkelanjutan, maka keduanya harus segera dikawinkan agar sah secara hukum ;

Menimbang, bahwa permohonan Pemohon tersebut telah ternyata sesuai dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, sehingga dapat diterima untuk diperiksa lebih lanjut;

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan dan pengakuan Pemohon, anak Pemohon dan calon suami anak Pemohon, telah menjalin hubungan sedemikian eratnya, dan selama berhubungan telah melakukan hubungan layaknya suami istri, sehingga anak pemohon telah mengandung dan orang tua calon suami anak Pemohon ingin segera mengawinkan keduanya untuk menjaga nasab anak yang dikandung oleh calon istri anak Pemohon;

Menimbang, bahwa berdasarkan permohonan Pemohon, perkara ini masuk dalam lingkup bidang perkawinan, oleh karena itu sesuai ketentuan Pasal 49 huruf (a) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah dengan Undang-undang

(5)

31

Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009, perkara ini merupakan kewenangan Pengadilan Agama;

Menimbang, bahwa Pemohon adalah ayah kandung dari calon istri, maka berdasarkan hal tersebut menurut pendapat Majelis, Pemohon memiliki kedudukan hukum legal standing dalam perkara permohonan ini, sesuai ketentuan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo Pasal 98 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam;

Menimbang, berdasarkan Pasal 1 Undang- Undang No. 1 Tahun 1974, tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam dalam Pasal 3 menyebutkan bahwa perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan rahmah, dan untuk mencapai tujuan tersebut perlu kesiapan dari calon pengantin;

Menimbang, bahwa anak Pemohon masih termasuk anak (belum dewasa) sebagaimana tercantum pada Pasal 1 ayat (5) Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia jo. Pasal 1 ayat (1) Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang telah diubah dengan

(6)

32

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 karena sudah berusia 18 tahun 7 bulan (belum berusia 19 (Sembilan belas) tahun) namun dalam hal ini anak Pemohon akan dikawinkan, maka tetap harus mengikuti ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur bahwa batas usia minimal perkawinan untuk perempuan adalah 19 (sembilan belas) tahun;

Menimbang, bahwa anak Pemohon mempunyai hak asasi yang wajib dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara sesuai ketentuan Pasal 1 ayat (12) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014;

Menimbang, bahwa setiap orang tua atau walinya wajib memenuhi hak atas anaknya perlindungan dan dibesarkan, dipelihara, dirawat, dididik, diarahkan serta dibimbing kehidupannya sampai dewasa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (vide Pasal 52 dan Pasal 57 Undang- Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia);

Menimbang, bahwa Pemohon sebagai orang tua berkewajiban dan bertanggung-jawab untuk mengurus, memelihara, mendidik dan melindungi anak dan menumbuh-kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, minat dan

(7)

33

bakatnya serta mencegah perkawinan di usia anak-anak(dibaca: perkawinan di bawah usia minimal perkawinan)(vide: Pasal 26 ayat (1) angka (3) UU nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014);

Menimbang, berdasarkan hal-hal tersebut, majelis mempunyai pertimbangan bahwa : 1. Majelis tidak melihat ada upaya-upaya dari

Pemohon untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak sebagaimana Pasal 26 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 yang telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak;

2. Majelis tidak melihat upaya dari Pemohon untuk menguji kedewasaan anak dalam menghadapi perkawinan;

3. Majelis berpendapat bahwa berdasarkan Surat Keterangan dari Legal Rosources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) tertanggal 21 Februari 2020, tetapi untuk membangun sebuah rumah tangga, bukan hanya kesiapan psikologis semata, tetapi juga perlu kemampuan ekonomi dan sosial, termasuk didalamnya kemampuan religi, sehingga kelak dapat membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Hal ini tidak terdapat dalam diri calon suami;

(8)

34

Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan diatas, bahwa kehendak Pemohon mengawinkan anaknya karena calon suami anak Pemohon telah melakukan hubungan layaknya suami isteri seharusnya menjadi pelajaran bagi orangtua yang bertanggung jawab untuk mendidik dan melindungi anak dalam pertumbuhan dan pergaulannya dengan memberikan pemahaman yang benar kepada anaknya atas pergaulannya tersebut bukan dengan mengawinkan anaknya tersebut yang masih berumur 16 (enam belas) tahun 8 (delapan) bulan, tidak memenuhi batas minimal umur untuk melangsungkan perkawinan sebagaimana ketentuan perundang-undangan yang berlaku;

Menimbang, bahwa ditemukan fakta bahwa anak pemohon telah mengandung.

Menimbang, bahwa Undang-Undang perkawinan menganut Prinsip bahwa calon suami istri harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berpikir pada perceraian dan dapat mendapatkan keturunan yang baik dan sehat;

Menimbang, bahwa Penjelasan Umum UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan nomor 4 huruf (d) dinyatakan bahwa perkawinan berhubungan dengan masalah

(9)

35

kependudukan. Ternyata bahwa batas umur yang rendah bagi seorang pria dan atau wanita untuk kawin, mengakibatkan laju kelahiran yang tinggi. Oleh karena itu Undang-Undang mengatur batas umur kawin bagi pria maupun wanita;

4. Amar Putusan 1. Menolak permohonan Pemohon;

2. Membebankan kepada Pemohon untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp.

341.000,00 (tiga ratus empat puluh satu ribu rupiah);

5. Majelis Hakim 1. Nur Lailah Ahmad, S.H. sebagai Hakim Ketua Majelis,

2. Drs. H. Musthofa Kamal, M.H. serta Rashif Imany, S.H.I., M.S.I. masing- masing sebagai Hakim Anggota,

3. Ana Jatmikowati, S.Pd.I., M.H. sebagai Panitera Pengganti.

Bahwasanya pertimbangan hakim sebagai dasar untuk permohonan dispensasi di atas adalah aspek yuridis yang melekat dalam syarat perkawinan. Jadi dalam hal ini hakim memutus perkara tersebut dengan hati-hati yakni dengan meneliti dan meggunakan berbagai jalan antara lain dengan Undang-Undang, Hukum Islam Fiqih dan lain sebagainya yang bertujuan untuk memberikan kepastian hukum, memberikan rasa aman kepada kedua belah pihak keluarga. Dengan artian para hakim lebih mementingkan kemaslahatan.

(10)

36

b. Penetapan Pengadilan Agama Tulung Agung No.168/Pdt.P/2018/PA.TA

Pada penetapan Pengadilan Agama Tulung Agung No.168/Pdt.P/2018/PA.TA pemohon yang merupakan orang tua atau Ibu dari calon mempelai laki-laki, mengajukan dispensasi kawin untuk mengawinkan anak laki-lakinya yang berumur 13 tahun dengan seorang perempuan berusia 16 tahun. Dalam hal ini, penulis akan menguraikan permohonan pemohon pada penetapan tersebut dimulai dari identitas para Pemohon, duduk perkara, pertimbangan hakim, dan amar putusan secara singkat dan jelas. Dalam penetapan ini dikarenakan sidang tertutup untuk umum maka nama pihak terkait digantikan dengan kata “pemohon”.

Tabel 3

Penetapan Pengadilan Agama Tulung Agung No.168/Pdt.P/2018/PA.TA

NO. UNSUR PENETAPAN

1. Pemohon Nama : Pemohon Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Tempat tinggal di : Kabupaten Tulungagung, sebagai Pemohon

2. Duduk Perkara 1. Menimbang, bahwa Pemohon dengan surat permohonannya tertanggal 25 Mei 2018 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Tulung Agung No.168/Pdt.P/2018/PA.TA tanggal 25 Mei 2018, mengemukakan bahwa Pemohon hendak mengawinkan anak kandungnya, calon mempelai pria dan calon mempelai wanita yang akan dilaksanakan dan dicatatkan dihadapan pegawai pencatat nikah kantor urusan Agama Kabupaten Tulungagung;

2. Bahwa perkawinan tersebut sangat mendesak untuk dilangsungkan karena keduanya telah saling mengenal sejak November 2017 yang lalu dan hubungan mereka telah sedemikian

(11)

37 eratnya;

3. Bahwa antara anak Pemohon dengan calon suaminya tersebut tidak ada halangan untuk melakukan perkawinan, karena tidak mempunyai hubungan nasab/darah dan bukan saudara sepersusuan;

4. Bahwa dari hubungan tersebut calon pengantin perempuan telah hamil usia kurang lebih 26 minggu, calon mempelai laki-laki masih kelas 5 SD, namun telah akil baliq namun belum bekerja dan belum mempunyai penghasilan;

5. Bahwa oleh karena itu pihak keluarga kedua- belah pihak sudah sepakat untuk segera mengawinkan anak mereka;

3. Pertimbangan Hukum Hakim

Menimbang, bahwa permohonan para Pemohon pada pokoknya adalah mereka hendak mengawinkan anaknya, tetapi karena umurnya masih dibawah umur minimal untuk mengawinkan dan kehendak Pemohon tersebut telah ditolak oleh Pegawai Pencatat Nikah pada Kantor Urusan Agama setempat, maka untuk itu mereka memohon diberi dispensasi kawin untuk mengawinkan kedua anaknya;

Menimbang, bahwa kedua calon mempelai telah datang menghadap di persidangan dan telah memberikan keterangan sebagaimana tercantum dalam berita acara sidang yang untuk singkatnya dianggap sebagai telah dikutip dalam pertimbangan ini;

(12)

38

Menimbang, bahwa berdasar atas bukti-bukti dan hal-hal sebagaimana tersebut di atas, maka dapat diperoleh Fakta yang nyata, bahwa;

(1) Bahwa anak Pemohon calon mempelai wanita usianya saat ini adalah 16 tahun;

(2) Bahwa anak pemohon calon mempelai pria usianya saat ini 13 tahun ;

(3) Bahwa calon mempelai wanita saat ini hamil 26 minggu;

Menimbang, bahwa secara yuridis pihak laki-laki dan perempuan masih jauh dari usia kawin yang ditetapkan Undang-Undang Perkawinan Pasal 7 yaitu “perkawinan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.”;

Menimbang, bahwa tujuan perkawinan yang disebutkan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan:

“Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa;

Menimbang, bahwa dalam Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam, perkawinan menurut Hukum Islam adalah perkawinan atau akad yang sangat kuat atau miitsaqan ghaliidzan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah;

(13)

39

Menimbang, bahwa dalam Kompilasi Hukum Islam bahwa perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan rahmah. Dengan demikian maka pihak yang akan melangsungkan perkawinan diperlukan kedewasaan yang memadai;

Menimbang, bahwa berdasar atas pertimbangan dan bukti-bukti tersebut di atas, Majelis Hakim berkesimpulan bahwa permohonan Dispensasi kawin yang diajukan oleh para Pemohon tidak memenuhi ketentuan perundang-undangan, oleh sebab itu, permohonan Dispensasi para Pemohon tersebut harus ditolak ;

4. Amar Putusan 1. Menolak permohonan para Pemohon;

5. Majelis Hakim 1. Drs. Iskhaq, S.H. sebagai Hakim Ketua Majelis,

2. Drs. Sudjarwanto, S.H.,M.H. dan

Drs. H.Nuril Huda, M.H. masing-masing sebagai Hakim Anggota,

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa pertimbangan hakim dalam mengambil putusan dengan pertimbangan dari sisi maslahah ialah calon mempelai laki-laki dan perempuan sangat jauh dari usia kawin yang ditetapkan Undang-Undang. Adapun maslahah lainnya ialah pihak laki-laki dan perempuan dalam kasus tersebut belum matang baik dari segi jasmani maupun rohani. Dengan tidak melangsungkan perkawinan akan memberikan waktu bagi para pihak untuk sampai pada sifat kematangan.

Dalam pertimbangan hakim tersebut, dapat diperhatikan pada segi filosofis, segi sosiologis, dan segi maslahah. Diliat dari segi filosofis para pihak yaitu pihak laki-laki dan pihak perempuan belum mampu mencapai tujuan perkawinan untuk membentuk keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah. Segi sosiologis menurut

(14)

40

hakim, calon suami isteri itu belum matang jiwa dan raganya. Segi maslahah calon mempelai tidak akan mampu menanggung beban keluarga.

Dengan pertimbangan tersebut, menjadi pertimbangan hakim dalam menolak permohonan dispensasi kawin pemohon. Mengingat banyak aspek yang dapat dikembangkan dan diperbaiki kedepannya, jika tidak dilakukannya perkawinan.

c. Pentapan Pengadilan Agama Kediri No.229/Pdt.P/2018/PA.Kab.Kdr

Penulis akan menjabarkan data yang diperoleh dari penetapan Pengadilan Agama Kediri No 229/Pdt.P/2018/PA.Kab.Kdr. Dalam penetapan Pengadilan Agama tersebut terdapat 2 (dua) pemohon yaitu Pemohon I dan Pemohon II. Penulis secara singkat akan menguraikan permohonan pemohon pada penetapan tersebut dimulai dari identitas para Pemohon, duduk perkara, pertimbangan hakim, dan amar putusan secara singkat dan jelas. Dalam penetapan ini dikarenakan sidang tertutup untuk umum maka nama pihak terkait digantikan dengan kata “pemohon”.

Tabel 4

Penetapan Pengadilan Agama Kediri No 229/Pdt.P/2018/PA.Kab.Kdr

NO. UNSUR PENETAPAN

1. Para Pemohon Nama : Pemohon I

Umur : 39 tahun, Agama Islam Pekerjaan : Mekanik

Tempat tinggal di : Kabupaten Kediri, sebagai Pemohon I

Bersama-sama dengan:

Nama : Pemohon II

Umur : 36 tahun, Agama Islam Pekerjaan : Dagang

Tempat tinggal di : Kabupaten Kediri, sebagai Pemohon II

2. Duduk Perkara Bahwa Para Pemohon dengan surat permohonannya tertanggal 04 Mei 2018 yang terdaftar di

(15)

41

Kepaniteraan Pengadilan Agama Kab. Kediri Nomor 0229/Pdt.P/2018/PA.Kab.Kdr tanggal 04 Mei 2018, mengemukakan bahwa Para Pemohon hendak mengawinkan anak kandungnya, calon mempelai wanita dan calon mempelai pria yang akan dilaksanakan dan dicatatkan dihadapan Pegawai Pencatat Nikah pada Kantor Urusan Agama Kabupaten Kediri;

Bahwa syarat-syarat untuk melaksanakan perkawinan tersebut baik menurut ketentuan hukum Islam maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku telah terpenuhi kecuali syarat usia bagi anak Pemohon yang belum mencapai batas usia minimal untuk mengawinkan, karena anak Pemohon baru berusia 15 tahun, 9 bulan, dan karenanya maka maksud tersebut telah ditolak oleh Kantor Urusan Agama Kabupaten Kediri dengan Surat Nomor Nomor : B-48/Kua.13.33.17/Pw.01/5/2018 tanggal 04-05-2018;

Bahwa perkawinan tersebut sangat mendesak untuk dilangsungkan karena keduanya telah bertunangan sejak kurang lebih 2 bulan yang lalu dan hubungan mereka telah sedemikian eratnya, sehingga sangat dikhawatirkan akan terjadi perbuatan yang dilarang oleh agama jika mereka tidak segera dinikahkan;

Bahwa antara anak Pemohon dengan calon suaminya tersebut tidak ada halangan untuk melakukan perkawinan, karena tidak mempunyai hubungan nasab/darah dan bukan saudara sepersusuan;

Bahwa anak Pemohon berstatus perawan dan telah akil balig dan sudah siap untuk menjadi seorang istri yang baik, calon suaminya telah cukup umur dan

(16)

42

telah mempunyai penghasilan tetap sebesar Rp.

60.000,- (enam puluh ribu rupiah) untuk setiap harinya;

Bahwa oleh karena itu pihak keluarga kedua-belah pihak sudah sepakat untuk segera mengawinkan anak mereka untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan;

3. Pertimbangan Hukum Hakim

Menimbang, bahwa permohonan para Pemohon pada pokoknya adalah mereka hendak mengawinkan anaknya, tetapi karena umurnya masih dibawah umur minimal untuk mengawinkan dan kehendak Pemohon tersebut telah ditolak oleh Pegawai Pencatat Nikah pada Kantor Urusan Agama setempat, maka untuk itu mereka memohon diberi dispensasi kawin untuk mengawinkan anaknya dengan seorang laki-laki (calon suaminya).

Menimbang, bahwa kedua calon mempelai telah datang menghadap di persidangan dan telah memberikan keterangan sebagaimana tercantum dalam berita acara sidang yang untuk singkatnya dianggap sebagai telah dikutip dalam pertimbangan ini;

Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.1 sampai dengan P.4, Majelis Hakim berpendapat bahwa bukti-bukti tersebut adalah dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang untuk itu, telah dicocokkan dengan aslinya dan bermaterai cukup. Oleh karena itu bukti- bukti tersebut dapat diterima dan dinilai sebagai bukti yang sah menurut hukum;

(17)

43

Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P.3 maka penolakan Kantor Urusan Agama Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri cukup beralasan karena Anak Pemohon nyata-nyata masih dibawah umur minimal untuk melangsungkan perkawinan;

Menimbang, bahwa berdasar atas bukti-bukti dan hal-hal sebagaimana tersebut di atas, maka dapat diperoleh fakta yang nyata, bahwa;

(4) Bahwa anak Pemohon nama Calon Mempelai Wanita usianya saat ini adalah 15 tahun 8 bulan) ; (5) Bahwa calon suami Calon Mempelai Wanita Yang Bernama Calon Mempelai Pria Usianya Saat Ini 16 tahun ;

(6) Bahwa Anak Pemohon Nama Calon Mempelai Wanita Saat Ini Hamil 2 Bulan;

Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 perkawinan hanya diijinkan apabila pihak pria telah berumur 19 tahun dan pihak wanita telah berumur 16 tahun, sedangkan anak Pemohon yang bernama Calon Mempelai Wanita usianya saat ini 15 tahun 8 bulan (lahir tanggal 14 Juli 2002 ) dan menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 dirubah menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menentukan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, maka Calon Mempelai Wanita dalam hal ini masuk dalam katagori anak;

Menimbang, bahwa Pasal 1 (satu) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

(18)

44

menyebutkan bahwa perkawinan adalah suatu ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa).

Perkawinan adalah ikatan luhur, ikatan yang sangat kuat (mitsaqon gholidoh), ikatan yang sulit sekali untuk dipisahkan dan dalam jangka waktu yang lama sampai meninggal dunia, dan ini membutuhkan kesiapan mental, jiwa yang matang dan kedewasaan untuk menghadapi permasalahan- permasalahan yang selalu muncul dalam berumah tangga. Permasalahan-permasalahan ini tidak dapat dilalui oleh seseorang yang masih dalam katagori anak;

Menimbang, bahwa keadaan anak Pemohon yang saat ini hamil 2 bulan bukanlah sesuatu hal yang perlu dipertimbangkan karena bukan sebagai syarat suatu pernikahan

Menimbang, bahwa berdasar atas pertimbangan dan bukti-bukti tersebut di atas, Majelis Hakim berkesimpulan bahwa permohonan dispensasi kawin yang diajukan oleh para Pemohon tidak memenuhi ketentuan perundang-undangan, oleh sebab itu, permohonan Dispensasi para Pemohon tersebut harus ditolak ;

4. Amar Putusan 2. Menolak permohonan para Pemohon;

3. Membebankan kepadap para Pemohon untuk membayar biaya perkara yang hingga kini dihitung sebesar Rp. 331.000,- (tiga ratus tiga puluh satu ribu rupiah)

(19)

45

5. Majelis Hakim 3. Drs. MOCH ANWAR MUSADAD, M.H.

sebagai Hakim Ketua Majelis,

4. Drs. H. FARIHIN, S.H. dan Drs. H. IMAM ROSIDIN, M.H. masing-masing sebagai Hakim Anggota,

5. Dra. Hj. TITIK PURWANTINI, M.H. sebagai Panitera Pengganti.

Sama halnya dengan penetapan Pengadilan Agama yang telah dijelaskan sebelumnya di atas, dasar pertimbangan hakim dari sisi aspek yuridis sangat penting pada penetapan putusan tersebut. Hal ini mengingat bahwa aspek yuridis diartikan sebagai aspek yang harus diutamakan dan yang harus dituruti sesuai dengan Undang- undang yang berlaku.

Pertimbangan hakim adalah bahwa dasar permohonan pemohon yang menyatakan bahwa keadaan anak pemohon yang sedang hamil bukanlah merupakan syarat suatu perkawinan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan. Faktor lain juga yang menjadi pertimbangan hakim adalah bahwa umur dari anak pemohon tidak sesuai dengan syarat suatu perkawinan, hal tersebutlah yang mendorong putusan hakim dengan menetapkan bahwa permohonan dispensasi kawin yang diajukan oleh para Pemohon tidak memenuhi ketentuan perundang-undangan, oleh sebab itu, permohonan dispensasi para Pemohon tersebut harus ditolak.

Dalam hal ini aspek yuridis yang menjadi dasar atas pertimbangan dan penetapan hakim pada permohonan di atas. Aspek yuridis dinyatakan dengan pertimbangan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan.

(20)

46 3.2 ANALISIS

Pengajuan dispensasi perkawinan dilakukan oleh orang tua pihak yang akan melangsungkan perkawinan yang umurnya belum tercukupi. Dispensasi perkawinan diajukan oleh para pihak atau pemohon kepada Pengadilan Agama dimana pemohon tinggal. Dispensasi perkawinan dibuat dalam bentuk permohonan bukan gugatan, sebab hanya terdapat satu pihak saja yang disebut sebagai pemohon dan di dalamnya tidak ada sengketa, sehingga tidak ada lawan.

Banyak faktor penyebab pengajuan permohonan dispensasi perkawinan, jika dilihat dari ketiga penetapan Pengadilan Agama yang telah diuraikan di atas, diantaranya sebagai berikut:

(1) Hamil di luar kawin; (2) Faktor Pendidikan; dan (3) kekhawatiran orang tua.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, yaitu Penetapan Pengadilan Agama Ambarawa No.67/Pdt.P/2020/PA.Amb, Penetapan Pengadilan Agama Tulung Agung No.168/Pdt.P/2018/PA.TA, dan Penetapan Pengadilan Agama Kediri No.229/Pdt.P/2018/PA.Kab.Kdr, berdasarkan ketiga penetapan tersebut harapan pemohon tidak berbanding lurus dengan amar putusan yang ditetapkan oleh majelis hakim yang menyatakan bahwa permohonan pemohon ditolak. Adapun beberapa perspektif atas penolakan hakim untuk memberikan dispensasi kawin pada kasus hamil diluar kawin tersebut, adalah :

Dalam pertimbangannya, dasar hukum yang digunakan pada penetapan di atas adalah Undang-undang Perkawinan, dalam Undang-Undang Perkawinan dijelaskan mengenai batasan usia melakukan perkawinan, pengajuan dispensasi dan mengenai larangan perkawinan yaitu terdapat pada Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan. “Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun” sedangkan mengenai pengajuan dispensasi perkawinan yaitu terdapat pada Pasal 7 ayat (2) UU Perkawinan “Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) Pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita”. Larangan perkawinan dalam UU Perkawinan terdapat pada Pasal 8 sampai Pasal 11 UU Perkawinan.

Disamping pengaturan dalam UU Perkawinan , KHI juga mengatur tentang batas usia kawin sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (1) yang menyatakan “Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan yakni calon suami dan calon isteri sudah mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun” sedangkan untuk larangan perkawinan terdapat pada Pasal 39 sampai Pasal 44 KHI.

(21)

47

Menurut penulis negara telah memiliki regulasi untuk melindungi hak legitimasi bagi setiap pasangan baik laki-laki maupun perempuan yang belum cukup umur untuk mendapatkan haknya sebagai anak.dan melindungi hak anak luar kawinnya.

Penolakan dispensasi pada ketiga penetapan Pengadilan Agama tersebut adalah tepat.

Dikatakan tepat penolakan perkara ini telah sesuai dengan UU Perkawinan dan KHI. Jika melihat dampak yang cukup luas dari penolakan dispensasi tersebut. Dari segi psikologis dan social akan menimpa pihak laki-laki maupun perempuan atas penolakan permohonan dispensasi tersebut. Tidak hanya itu perkawinan di bawah umur dengan ketidaksiapan psikologis membuat semakin banyak pula perceraian akibat hal tersebut. Menurut laporan statistik Indonesia, jumlah kasus perceraian di tanah air mencapai 447.743 kasus pada 2021, meningkat 53,50% dibandingkan Tahun 2020 yang mencapai 291.677 kasus. Sebanyak 337.343 kasus atau 75.34% perceraian terjadi karena cerai gugat. Menurut data pertengkaran dan perselisihan menjadi faktor tertinggi pada 2021 yakni sebanyak 279.205 kasus. Sedangkan kasus faktor tertinggi lainnya karena faktor ekonomi. 36

Jika permohonan diterima, maka akan mendatangkan kesulitan dari sisi ekonomi. Laki- laki sebagai suami tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya, sebagaimana tuntutan pemenuhan kewajiban suami yang tercantum dalam Pasal 34 UU Perkawinan jo Pasal 80 KHI.

Dalam Pasal 80 KHI Kewajiban Suami adalah :

(1) Suami adalah pembimbing, terhadap isteri dan rumah tangganya, akan tetap mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami isteri bersama.

(2) Suami wajib melidungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya

(3) Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada isterinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.

(4) sesuai dengan penghasislannya suami menanggung : a. nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi isteri; b. biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi isteri dan anak; c. biaya pendididkan bagi anak.

(5) Kewajiban suami terhadap isterinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf a dan b di atas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari isterinya.

36 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/02/28/kasus-perceraian-meningkat-53-mayoritas-karena- pertengkaran diakses pada tanggal 25 maret 2022 pukul 01.25

(22)

48

(6) Isteri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf a dan b.

(7) Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (5) gugur apabila isteri nusyuz.

Dalam Pasal 80 ayat (2) dan (4) tersebut mewajibkan suami untuk memenuhi kebutuhan berumah tangga sesuai dengan kemampuannya dan menafkahi keluarganya. Oleh karena itu maka suami harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Namun karena suami dalam hal ini masih berada dibawah umur maka akan menyulitkan suami yang masih berada dibawah umur dalam mencari pekerjaan. Dalam Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang kemudian disebut dengan UU Ketenagakerjaan menyatakan bahwa yang boleh bekerja adalah mereka yang berusia minimal 18 tahun. Hal tersebut berarti melanggar UU Ketenagakerjaan. Apabila suami tidak bekerja maka suami tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Kondisi ini akan memicu terjadinya perceraian dikemudian hari. Dengan demikian jika dikabulkan permohonan dispensasi kawin tersebut akan menimbulkan kemadorotan untuk pasangan calon suami isteri tersebut.

Jika permohonan diterima, kedua calon orang tua harus siap secara psikologis dalam berumah tangga. Dalam Pasal 77 ayat (3) KHI Suami isteri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya; Dalam Pasal 34 ayat (2) Isteri wajib mengatur urusan rumah-tangga sebaik-baiknya. Oleh karena itu perempuan sebagai seorang istri memiliki andil yang besar dalam mengasuh dan memelihara anak anak mereka. Maka apabila seorang calon istri ataupun calon suami belum masak secara psikologisnya dikhawatirkan tidak akan dapat memenuhi kewajibannya sebagai orang tua. Dengan demikian jika dikabulkan permohonan tersebut akan menimbulkan kemadorotan untuk pasangan calon suami isteri tersebut37

Apabila dispensasi ditolak maka anak tidak akan kehilangan haknya dan tetap berada dalam naungan orang tua. hak yang akan hilang Ketika anak melangsungkan perkawinan adalah Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri anak akan dianggap dewasa setelah anak menikah.

Jika dilihat ulang pada ketiga penetapan ini memiliki kasus posisi yang sama yaitu anak pemohon sedang mengandung ketika pemeriksaan di pengadilan. Hal tersebut seakan mengabaikan fakta bahwa anak pemohon sedang mengandung, dimana hal ini berkaitan

37 Penetapan Nomor 67/Pdt.p/2020/PA.Amb.

(23)

49

dengan “keadaan mendesak” yang merupakan syarat dalam permohonan dispensasi kawin.

Dalam beberapa penetapan yang mengabulkan permohonan dispensasi kawin alasan dikabulkannya permohonan dispensasi kawin adalah untuk melindungi hak anak yang dikandung38. Namun hal ini tidaklah benar karena hak anak atas negara telah didapatkan ketika kelahiran anak tersebut dicatatkan, Hak yang didapatkan adalah hak identitas bagi anak yang dinyatakan tegas dalam Pasal 5 UU Perlindungan Anak, dalam pasal tersebut menyatakan

“Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan”

kelahiran anak tersebut hanya perlu didaftarkan atau dicatatkan dalam bentuk akte kelahiran.

Pencatatan ini bertujuan untuk menemukan asal usul dan identitas anak. Oleh karena itu baik anak tersebut dalam status anak luar kawin maupun anak sah akan mendapat perlindungan hukum yang sama dan anak luar kawin tetap mendapatkan haknya sebagai warga Negara Indonesia. Perlindungan hukum terhadap anak diluar perkawinan dapat dilihat dari beberapa regulasi di Indonesia.

Dalam hukum perdata, perlindungan hukum bagi anak luar kawin dapat dilihat dalam Ketentuan Pasal 43 UU Perkawinan Ayat (1) jo Pasal 100 KHI yang menyebutkan Anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Dengan demikian anak luar kawin memiliki hubungan dengan ibu dan keluarga ibunya sehingga hak anak untuk mendapat jaminan perlindungan, pemeliharaan serta pendidikan dari ibu maupun keluarga ibunya. Dengan demikian akan terpenuhinya hak anak oleh ibu dan keluarga ibunya. Dalam Pasal 50 ayat (1) UU Perkawinan jo Pasal 107 ayat (1) KHI menyatakan Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua, berada dibawah kekuasaan wali. Pasal ini dapat digunakan dan menjadikan dasar bagi ibu dan keluarga ibu untuk memiliki kewajiban atas perlidungan anak di luar perkawinan tersebut. Ibu sebagai wali mempunyai kewajiban untuk memelihara dan mendidik anaknya. Yang dimaksud memelihara adalah menjaga dan merawat baik-baik: mengusahakan dan menjaga, menyelamatkan;

melindungi; melepaskan dari bahaya39, dan yang dimaksud mendidik adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) soal akhlak dan kecerdasan40 sehingga pasal perwalian tersebut dapat digunakan.

38 Penetapan Nomor 65/Pdt.P/2021/PA.Btl.

39 Kbbi.

40 Ibid.

(24)

50

Dalam ketentuan Pasal 43 Ayat (1) UU Perkawinan hanya menyebutkan tentang hubungan keperdataannya saja, Dalam kedudukannya anak luar kawin telah mendapatkan perlindungan dari pemerintah perlindungan hukum yang dimaksudkan bahwa hak-hak keperdataan anak luar kawin telah dijamin kepastian dan perlindungan hukumnya terhadap hak-hak normatifnya seperti hak-hak keperdataan termasuk hak untuk mewarisi dari ayah biologisnya sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012.

Berdasarkan Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012, Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan menyatakan, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang dimaknai menghilangkan hubungan perdata dengan laki-laki yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya, sehingga ayat tersebut harus dibaca, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”;

Berdasarkan Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 dapat disimpulkan bahwa sekalipun anak tersebut dalam status luar kawin namun apabila terbukti bahwa laki laki tersebut memiliki hubungan darah dengan anak luar kawin maka laki laki tersebut memiliki kewajiban sebagai ayah biologisnya. Dimana dengan begitu laki laki sebagai ayah biologis anak luar kawin juga berkewajiban untuk mendidik dan memelihara anak luar kawin itu. Hal ini merupakan konsekwensi dari adanya hubungan hukum anak luar kawin dengan ayah biologisnya. Hal ini membuktikan bahwa tanpa adanya kedudukan sebagai anak sah, secara normative hukum di Indonesia telah memberikan perlindungan hukum pada anak luar kawin.

Anak secara umum tidak terkecuali anak luar kawin sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan makhluk sosial, sejak dalam kandungan telah mempunyai hak atas hidup dan merdeka serta berhak mendapatkan perlindungan baik dari orang tua, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Oleh karena itu, tidak ada setiap manusia atau pihak lain yang boleh merampas hak atas hidup dan merdeka tersebut.

Perlindungan hukum bagi anak dapat dilakukan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak serta berbagai kepentingan yang berhubungan

(25)

51

dengan kesejahteraan anak. Jadi perlindungan hukum bagi anak mencakup lingkup yang sangat luas.41

Dalam Pasal 55 UU Perkawinan jo. Pasal 103 KHI dinyatakan :

(1) Asal usul seorang anak hanya dapat dibuktikan dengan akte kelahiran yang authentik, yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang. Pasal 103 ayat (1) KHI, “Asal usul seorang anak hannya dapat dibuktiakn dengan akta kelahiran atau alat bukti lainnya”.

(2) Bila akte kelahiran tersebut dalam ayat (1) pasal ini tidak ada, maka pengadilan dapat mengeluarkan penetapan tentang asal-usul seorang anak setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti yang memenuhi syarat.

(3) Atas dasar ketentuan Pengadilan tersebut ayat (2) ini, maka instansi pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum Pengadilan yang bersangkutan mengeluarkan akte kelahiran bagi anak yang bersangkutan.

Apabila ketentuan ini dihubungkan maka anak dengan mudah akan mendapatkan akta kelahiran yang pertalian nasabnya dihubungan dengan ayah dan ibu yang melahirkannya dengan segala akibat hukumnya karena akta kelahirannya didasarkan alas hukum antara lain Akta Nikah orang tuanya. Adapun untuk anak hasil perzinaan, akta kelahirannya pertalian nasabnya hanya dihubungkan dengan ibunya dan tidak dapat diajukan permohonan asal usul anak karena kelahirannya tanpa adanya ikatan perkawinan

Hal ini sesuai dengan Pasal 27 ayat (1) UU Administrasi Kependudukan. Dalam pasal tersebut menyatakan Setiap kelahiran wajib dilaporkan oleh Penduduk kepada Instansi Pelaksana di tempat terjadinya peristiwa kelahiran

Akta kelahiran merupakan bagian identitas anak yang tidak dapat dipisahkan dari hak sipil dan hak politik warga negaranya. Kemudian pada Pasal 27 ayat (1) dan (2) yang menyatakan, ayat (1) “Identitas diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya”, dan ayat (2) berbunyi “identitas sebagaimana dimaksud ayat (1) dituangkan dalam akte kelahirann”.

Sementara itu UUD 1945 Pasal 28 D ayat (1) menyatakan bahwa“setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”. Selain itu UUD 1945 juga memberikan jaminan atas status kewarganegaraan sebagaimana diatur dalam 28 D ayat (4) yang menyatakan, “setiap orang berhak atas status kewarganegaraan”.

41 H.R.Abdussalam, Hukum Perlindungan Anak, PTIK, Jakarta, 2012, hal.2

(26)

52

Oleh karena itu Pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Kelahiran dan menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran sesuai dengan Pasal 27 ayat (2) UU Administrasi Kependudukan.

Dengan adanya frasa “setiap kelahiran wajib dilaporkan”, berarti kelahiran anak di luar kawin juga wajib untuk dilaporkan maksimal 60 hari sejak kelahiran, untuk kemudian dicatatkan pada Register Akta Kelahiran dan diterbitkan Kutipan Akta Kelahiran.

Akta kelahiran merupakan hak anak, bukan orang tua. Sehingga apa pun kondisi anak dan orang tuanya, apakah hanya ada ibu saja, atau keberadaan kedua orang tua tidak diketahui, anak tetap berhak mendapatkan akta kelahiran. Dalam hal anak lahir di luar perkawinan, tetap dapat dibuatkan akta kelahiran. Namun, dalam akta kelahiran tersebut hanya ada nama ibu saja.

Maka anak luar kawin tetap bisa memperoleh akta kelahiran meskipun tidak melampirkan persyaratan buku nikah/kutipan akta perkawinan.

Dalam UU Administrasi Kependudukan mengatur perihal: pencatatan pengakuan anak dan pencatatan pengesahan anak. Kedua aspek ini merupakan bentuk prosedural yang bersifat administratif yang bertolak dari arti pentingnya pencatatan, baik pencatatan pengakuan anak maupun pencatatan pengesahan anak.

Menurut Undang-Undang No.23 Tahun 2006, ditentukan bahwa pencatatan pengakuan anak (Pasal 49) bersambungan dengan pencatatan pengesahan anak (Pasal 50). Penjelasan atas Pasal 49 ayat (1) menjelaskan bahwa, yang dimaksud dengan “pengakuan anak” adalah pengakuan seorang ayah terhadap anaknya yang lahir di luar ikatan perkawinan sah atas persetujuan ibu kandung anak tersebut. Berdasarkan pada penjelasan Pasal 49 ayat (1) tersebut, maka pengakuan anak merupakan pengakuan terhadap anak di luar kawin menjadi anak sah sepanjang disetujui bersama kedua orang tuanya. Pengakuan anak dirumuskan sebagai suatu pernyataan, yang mengandung pengakuan. Bahwa yang bersangkutan adalah ayah dan ibu dari anak luar kawin yang diakui. Pengakuan diberikan kepada anak yang sudah dilahirkan. Dalam proses ini nama ayah dapat ditambahkan kedalam dokumen akta kelahiran apabila terdapat pengakuan dari ayahnya. Dalam proses pencatatan diperlukannya dokumen yang menyatakan bahwa ayah mengakui bahwa anak trsebut memang berasal dari darah dagingnya. Apabila kasus ini sudah pernah didaftarkan sebagai permohonan dispensasi namun ditolak oleh pengadilan. maka Salinan putusan dapat menjadi bukti hukum sebagai syarat menambahkan nama ayah pada akte kelahiran si anak. Hal ini dapat digunakan ketika ayah anak menyangkal hubungan nya dengan si anak. Dokumen ini dapat menjadi bukti dikarenakan putusan tersebut

(27)

53

mengandung pengakuan yang dilakukan secara sadar dan sudah disumpah bahwa akan menyatakan yang sebenar-benarnya dalam proses peradilannya.

Dengan demikian status anak diluar kawin tetap akan tercatat dalam catatan sipil dan sah anaknya. Karena setiap anak yang lahir diluar perkawinan maupun dalam perkawinan memiliki hak yang sama dimata hukum, hanya terdapat perbedaan proses dan tata cara dalam mendapatkan status anak dimuka pencatatan kependudukan.

Hemat penulis, penolakan permohonan dispensasi pada Penetapan Pengadilan Agama Ambarawa No.67/Pdt.P/2020/PA.Amb, Penetapan Pengadilan Agama Tulung Agung No.168/Pdt.P/2018/PA.TA, dan Pentapan Pengadilan Agama Kediri No.229/Pdt.P/2018/PA.Kab.Kdr , dengan penolak penetapan dispensasi kawin karena hamil ini yang membawa dampak besar bagi anak yang akan dikawinkan dan anak luar kawin, Pemerintah telah memberikan perlindungan untuk hak anak yang akan dikawinkan dan anak luar kawinnya. Karena sejatinya dispensasi perkawinan tidak menyelesaikan permasalahan.

Perkawinan di bawah umur akan menimbulkan masalah sosial, dan menimbulkan masalah hukum. Kenyataannya hal tersebut akan melahirkan setidaknya dua masalah hukum. Pertama, harmonisasi hukum antara sistem hukum yang satu dengan sistem hukum lain, dalam hal ini adalah UU Perkawinan dan UU Perlindungan Anak. UU Perkawinan seharusnya melindungi kepentingan anak yang akan dikawinkan tidak hanya mengenai anak yang dikandung. Apabila hanya anak yang dikandung saja yang dilindungi maka hak anak yang akan dikawinkan hilang.

Hal ini bertentangan dengan pertimbangan dalam UU Perlindungan Anak dimana seharusnya Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Oleh karena itu maka semua warga negara yang masih berstatus anak harus tetap dilindungi. Dalam UU Perkawinan batas usia kawin sesuai dengan UU Perlindungan Anak, namun dengan adanya pasal yang mengenai dispensasi kawin maka UU Perkawinan dan UU Perlindungan Anak menjadi saling tumpang tindih karena dalam UU Perkawinan membuat pengecualian terhadap usia perkawinan dengan dispensasi kawin tersebut yang dengan jelas melanggar usia anak dalam UU Perlidungan Anak. Kedua, tantangan terhadap legislasi hukum perkawinan di Indonesia terkait dengan perkawinan di bawah umur. Dari segi hukum positif di Indonesia perkawinan dibawah umur merupakan pelanggaran hak-hak anak. Melanggar hak anak untuk tumbuh dan berkembang, bersosialisasi, belajar, menikmati masa anak-anaknya. Ini tidak tepat karena secara psikologis usia ini adalah waktunya untuk bermain. Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan

(28)

54

berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. Dalam Pasal 26 ayat (1) huruf (c) UU Perlindungan Anak menyebutkan bahwa: Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk : (c ) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. Oleh karena itu, Perkawinan anak dibawah umur sudah tidak relevan dengan perundang undangan di Indonesia. Praktik perkawinan dibawah umur juga mengisyaratkan bahwa hukum perkawinan Indonesia nyaris seperti hukum yang ‘tak bergigi', karena begitu banyak terjadi pelanggaran terhadapnya tanpa dapat ditegakkan secara hukum. Dispensasi kawin menjadi alat yang dapat digunakan untuk melanggar peraturan perundang undangan terhadap anak di Indonesia.

Peran hakim dalam sistem peradilan lah yang paling penting dalam menyikapi permasalahan ini. Pertimbangan-pertimbangan hakim diharapkan dapat menyelaraskan atau mengharmoniskan sistem hukum yang satu dengan sistem hukum lain.

Referensi

Dokumen terkait

dispensasi kawin sebagaimana diatur Pasal 7 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan; Menimbang, bahwa dalil permohonan Pemohon pada pokoknya adalah Pemohon

Kecuali itu, menurut Pemohon Kasasi Putusan Pengadilan Tinggi juga mengandung kontradiksi dan kabur, karena di satu pihak menyatakan bahwa kerugian yang diderita

Memaksa Pemohon Kasasi untuk dapat menghilangkan kecanduan terhadap narkotika tanpa adanya upaya rehabilitasi medis dan sosial yang memadai merupakan bentuk

Menimbang, bahwa berdasarkan permohonan dan replik Pemohon, jawaban dan duplik Termohon, serta keterangan saksi-saksi keluarga Pemohon dan Termohon, maka fakta-fakta

Menimbang bahwa terhadap alasan kasasi yang diajukan Pemohon Kasasi/Penuntut Umum tersebut, Mahkamah Agung berpendapat: Bahwa alasan kasasi Penuntut Umum tidak

Bahwa permohonan Pemohon pada pokoknya memohon kepada Majelis Hakim agar memberi ijin kepada Pemohon untuk menikah lagi (berpoligami) dengan seorang perempuan

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta hukum dan ketentuan hukum tersebut di atas, permohonan Pemohon dinilai telah mempunyai alasan dan bukti yang cukup, terbukti

Analisis beberapa putusan mengabulkan permohonan Pemohon, mengenai dispensasi perkawinan dibawah umur oleh Hakim Pengadilan Agama dengan pertimbangan dan fakta-fakta hukum sebagai