ANALISIS MAKNA DAN FUNGSI VERBA MODORU DAN KAERU DALAM NOVEL NORWEI NO MORI KARYA HARUKI MURAKAMI
HARUKI MURAKAMI NI YORU “NORWEI NO MORI” TO IU SHOUSETSU NI OKERU MODORU TO KAERU NO KINOU TO IMI NO
BUNSEKI
SKRIPSI
Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Dalam
Bidang Ilmu Sastra Jepang Oleh:
FADILAH RIHADHATUL AISYAH
Nim: 130708056
DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
ANALISIS MAKNA DAN FUNGSI VERBA MODORU DAN KAERU DALAM NOVEL NORWEI NO MORI KARYA HARUKI MURAKAMI
HARUKI MURAKAMI NI YORU “NORWEI NO MORI” TO IU SHOUSETSU NI OKERU MODORU TO KAERU NO KINOU TO IMI NO
BUNSEKI
SKRIPSI
Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat
Ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang
Oleh :
FADILAH RIHADHATUL AISYAH NIM : 130708056
Pembimbing
Mhd. Pujiono, M.Hum, Ph.D NIP : 196910112002121001
DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
Disetujui Oleh : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan
Medan, 21 Agustus 2017 Departemen Sastra Jepang Ketua,
Prof.Hamzon Situmorang, M.S, Ph.D
NIP : 19580704 1984 12 1 001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur yang tak terhingga penulis haturkan kepada Allah SWT, atas segala rahmat, hidayah, dan ridho-Nya, sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai. Dan tak lupa pula shalawat beriring salam kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan syafa’at kepada seluruh umat manusia.
Skripsi yang berjudul “Analisis Makna dan Fungsi Verba Modoru dan Kaeru dalam Novel Norwei No Mori Karya Haruki Murakami” ini ditujukan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan program Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Dalam pelaksanaan penyelesaian studi dan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan moril maupun materil dari berbagai pihak.
Untuk itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M. S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang M.S,Ph.D, selaku Ketua Program Studi Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara
3. Bapak Mhd. Pujiono, M.Hum., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing I yang telah demikian banyak meluangkan waktu dan tenaga untuk membimbing penulis, memberikan pengarahan dengan sabar baik dalam hal penyusunan skripsi maupun hal lain di luar skripsi yang masih berhubungan dengan akademik.
4. Seluruh Bapak/Ibu dosen Departemen Sastra Jepang yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada penulis.
5. Orangtua tercinta, Ayahanda Firdaus yang selalu mendoakan penulis agar selalu sehat, memberikan nasehat, dukungan moral dan material yang tak terhingga sampai saat ini yang tidak akan mampu penulis balas kasih sayangnya sampai kapan pun dan Ibunda Rosmialis yang juga telah memberikan nasehat kepada penulis sehingga penulis dapat mencapai cita- cita yang penulis impikan hingga saat ini.
6. Kakak tercinta Fauziah Ulfa S.Pd yang telah memberikan semangat dan nasehat kepada penulis. Juga kepada adik – adik Fahira Khalisyah Risqullah, Fairus Hisanah Hubatullah dan Fatur Rahman yang telah mendukung dan memotivasi penulis untuk meyelesaikan skripsi ini.
7. Teman-teman terdekat di stambuk 2013, Nurhayati (Yati), Nurmawati (Mamak), Nur Atika Putri Siregar (Tika), Sinthia Mahdalina Lubis (Sinthia), Regina C.M Panggabean (Egik), Nur Asana Wardah (Una), Fauziah (Jiya), Indriyati (Indri), Henni dan Masyitoh (Macitoh) yang telah banyak meluangkan waktu untuk ada bersama penulis selama 4 tahun kuliah di Sastra Jepang dan juga kepada teman – teman lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis mendoakan supaya semua bisa sukses di kemudian hari dan tetap dapat menjalin komunikasi meskipun sudah tamat kuliah.
8. Seluruh teman – teman Aotake Angkatan 2013, senang bisa belajar, berorganisasi dan berkegiatan bersama selama 4 tahun.
9. Teman – teman terdekat penulis sejak SMK, Despita (Ides), Wina Maria, Dwi Hartania (Uwik), Khairani (Abang), Wita Widya Yanti (Wite) yang tetap solid hubungan kami sampai sekarang dan selalu memberikan motivasi pada penulis untuk segera wisuda.
10. Seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dalam susunan kalimatnya maupun proses analisisnya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan skripsi ini agar dapat menjadi skripsi yang lebih bermanfaat dan lebih sempurna.
Akhir kata, penulis berharap semoga kiranya skripsi ini dapat berguna dan memberi manfaat bagi penulis sendiri khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Medan,21 Agustus 2017 Penulis,
Fadilah Rihadhatul Aisyah 130708056
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 5
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ... 6
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12
1.6 Metode Penelitian ... 13
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MAKNA, FUNGSI, VERBA DAN STUDI SEMANTIK 2.1 Defenisi Makna ... 15
2.1.1 Pengertian Makna ... 15
2.1.2 Jenis – Jenis Makna ... 16
2.2 Defenisi Fungsi ... 18
2.2.1 Pengertian Fungsi ... 18
2.2.2 Jenis – Jenis Fungsi ... 19
2.3 Defenisi Verba ... 20
2.3.1 Pengertian Verba ... 20
2.3.2 Jenis – Jenis Verba ... 22
2.3.3 Fungsi Verba ... 27
2.4 Makna dan Fungsi Verba Modoru dan Kaeru ... 28
2.4.1 Verba Modoru ... 29
2.4.2 Verba Kaeru ... 32
2.5 Studi Semantik dalam Kajian Semantik ... 35
2.5.1 Defenisi Semantik ... 35
2.5.2 Manfaat Mempelajari Semantik ... 36
2.5.3 Kesinoniman ... 37
2.5.4 Pilihan Kata ... 40
BAB III ANALISIS MAKNA DAN FUNGSI VERBA MODORU DAN KAERU DALAM NOVEL NORWEI NO MORI 3.1 Analisis Makna dan Fungsi Modoru ... 42
3.2 Analisis Makna dan Fungsi Kaeru ... 53
3.3 Perbedaan dan Persamaan Nuansa Makna Verba Modoru dan Kaeru ... 60
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan... 69
4.2 Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap manusia memiliki bahasa untuk berkomunikasi. Menurut Sutedi, (2003:2) bahasa adalah alat untuk menyampaikan sesuatu ide, pikiran, hasrat, dan keinginan kepada orang lain. Hubungan interaksi antar manusia dapat berjalan dengan lancar karena adanya peranan bahasa sebagai alat komunikasi. Ketika kita menyampaikan ide, pikiran, hasrat, dan keinginan kepada seseorang baik secara lisan maupun tertulis, orang tersebut dapat menangkap apa yang kita maksud.
Karena ia mengerti makna yang dituangkan dalam bahasa tersebut. Jadi fungsi bahasa merupakan media untuk menyampaikan suatu makna kepada orang lain baik lisan maupun tulisan.
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak-gerik manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Dengan demikian, fungsi bahasa merupakan media untuk menyampaikan suatu makna kepada seseorang baik secara lisan maupun secara tertulis.
Berdasarkan fungsinya, bahasa dapat dikaji secara internal maupun eksternal. Yang dimaksud kajian secara internal adalah pengkajian itu hanya dilakukan terhadap struktur internal bahasa itu saja, yaitu struktur fonologis, morfologis, sintaksis dan semantik. Fonologi (on-inron) merupakan cabang linguistik yang mengkaji tentang lambang bunyi bahasa berdasarkan fungsinya.
Morfologi (keitairon) adalah cabang linguistik yang mengkaji tentang kata dan
proses pembentukannya. Sintaksis (tougoron) adalah cabang linguistik yang mengkaji tentang struktur dan unsur-unsur pembentuk kalimat. Dan cabang ilmu linguistik internal yang terakhir adalah semantik (imiron). Semantik merupakan salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang makna. Semantik memiliki peranan yang penting, karena bahasa yang digunakan dalam komunikasi tidak lain hanya untuk menyampaikan suatu makna. Ada pendapat yang menyatakan bahwa setiap jenis penelitian yang berhubungan dengan bahasa, apakah itu struktur kalimat, kosakata, ataupun bunyi-bunyi bahasa, pada hakikatnya tidak akan terlepas dari makna.
Makna suatu kata biasanya akan berkembang, karena dipengaruhi oleh konteks atau situasi dalam kalimatnya. Makna yang sama namun nuansa yang berbeda dalam kalimat berkaitan dengan relasi makna. Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lainnya (Chaer, 2007:297). Salah satu jenis relasi makna ini adalah menyangkut kesamaan makna (sinonim).
Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu ujaran dengan satuan ujaran yang lainnya (Chaer, 2007:267).
Walaupun ada kesamaan makna, namun nuansa maknanya tidak sepenuhnya sama, atau tidak sama persis. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, diantaranya penggunaannya dalam kalimat. Misalnya pada kata /modoru/ dan /kaeru/, kedua kata tersebut merupakan verba yang apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia memiliki makna yang sama yaitu “kembali‟. Akan tetapi, meskipun kedua kata tersebut bersinonim, namun hanya pada konteks tertentu saja, karena
tidak ada sinonim yang semuanya sama persis, dalam konteks atau situasi tertentu pasti akan ditemukan suatu perbedaannya meskipun kecil.
Sinonim dalam bahasa Jepang disebut Ruigigo ( 類 義 語 ) dan kadang disebut juga dengan istilah Dougi Kankei (同義関係) adalah dua buah kata atau lebih yang mempunyai salah satu imitokuchou (suatu fitur semantik yang terdapat dalam suatu makna kata) yang sama (Sutedi, 2008:124).
Sebagai contoh, pemakaian verba /modoru/ dan /kaeru/ adalah pada kalimat berikut :
1. サケという魚は、生まれた川から海に出て4,5年過ごし、また 生まれた川に戻ってきます。
Sake to iu sakana ha, umaretakawa kara umi ni dete 4,5 nen sugoshi, mata umaretakawa ni modottekimasu.
Ikan yang bernama ‘sake’ setelah lewat 4, 5 tahun keluar ke laut dari sungai tempat kelahirannya akan kembali lagi ke sungai tempat kelahirannya.
(Yone, 2001 : 76)
2. 見て。鳥が飛んでいくよ。北の国へ帰るんだね。
Mite. Tori ga tondeiku yo. Kita no kuni he kaerundane.
Lihat. Burung itu terbang menjauh. Pulang ke Negara bagian Utara ya.
(Yone, 2001 : 76)
3. A : あいにく、松本は出張しておりますが。
B :そうですか。いつごろお帰りになりますか。
A :明日の午後の予定です。
A : Ainiku, Matsumoto ha shucchoushiteorimasu ga.
B : Soudesuka. Itsu goro Okaerini narimasuka.
A : Asu no gogo no yotei desu.
A : Sayangnya, Tuan Matsumoto sedang Dinas ke luar kota.
B : Begitu ya. Kira-kira Kapan kembali?
A : Rencananya besok pagi.
(Yone, 2001 : 50)
Melihat ketiga contoh kalimat tersebut, dapat diketahui bahwa meskipun kedua verba tersebut memiliki persamaan makna yaitu sama-sama mengandung makna ‘kembali’, namun nuansa makna ‘kembali’ yang diberikan tiap-tiap verba di dalam kalimat berbeda.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai sinonim kata Modoru dan Kaeru yang memiliki pengertian yang sama sebagai verba, yaitu ‘kembali’, tetapi memiliki fungsi yang berbeda, yang selanjutnya akan penulis bahas dalam skripsi yang berjudul “Analisis Makna dan Fungsi Verba Modoru dan Kaeru dalam Novel Norwei no Mori Karya Haruki Murakami”.
1.2 Rumusan Masalah
Di dalam bahasa Jepang terdapat banyak sekali kata-kata yang memiliki persamaan makna (sinonim) atau dalam bahasa Jepang disebut 類義語(rugigo).
Baik itu kata kerja, kata sifat, ataupun kata benda. Penelitian ini mencoba menjelaskan mengenai fungsi dan makna dari verba Modoru dan Kaeru, yang sama-sama memiliki arti “kembali”, tetapi masing-masing memiliki persamaan
dan perbedaan, dan belum tentu dapat saling menggantikan. Hal inilah yang menyebabkan munculnya kesulitan bagi pembelajar bahasa Jepang untuk menggunakan atau menterjemahkan kalimat ke dalam bahasa Jepang dengan tepat, khususnya bagi kalimat yang memiliki unsur yang bersinonim di dalamnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan seperti berikut:
1. Bagaimanakah Makna dan Fungsi verba Modoru dan Kaeru dalam Novel Norwei no Mori Karya Haruki Murakami ?
2. Bagaimana persamaan dan perbedaan nuansa makna verba Modoru dan Kaeru dalam Novel Norwei no Mori Karya Haruki Murakami ?
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, maka penulis membuat ruang lingkup permasalahan. Hal ini dimaksudkan agar pembahasan masalah tidak terlalu melebar sehingga menyulitkan pembaca untuk memahami pokok permasalahan yang dibahas.
Penelitian ini difokuskan kepada pembahasan atau masalah yang berhubungan dengan makna dan fungsi dari verba modoru dan kaeru yang diambil dari cuplikan kalimat bahasa Jepang yang terdapat pada novel Norwei no Mori Karya Haruki Murakami. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1987 dalam bahasa Jepang dan telah banyak di terjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain. Novel ini terdiri dari 297 hal. Di dalam novel tersebut terdapat 29 kalimat yang mengandung verba modoru dan 15 kalimat yang mengandung verba kaeru.
Dari keseluruhan kalimat yang terdapat verba modoru dan kaeru dalam novel ini akan diambil 6 buah contoh kalimat modoru dan 4 buah contoh kalimat kaeru.
1.4 Tinjauan Pustaka Dan Kerangka Teori 1. Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian ini penulis ingin menganalisis makna dan fungsi dari verba modoru dan kaeru di dalam kalimat bahasa Jepang. Hal ini menyangkut bidang linguistik yaitu semantik. Untuk menghindari kesalahan dan kekaburan dalam mengintepretasikan makna dari kata-kata atau istilah yang digunakan dalam penelitian ini, penulis mencoba mendefenisikan beberapa istilah linguistik khususnya yang berkenaan dengan semantik. Ilmu linguistik adalah ilmu yang mengkaji tentang bahasa. Ilmu linguistik tidak hanya mengkaji sebuah bahasa tetapi juga seluk-beluk bahasa pada umumnya. Salah satu bidang kajian linguistik adalah semantik atau kajian makna. Kata semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani yaitu “sema” (kata benda) yang berarti tanda dan lambang. Kata kerjanya adalah “semaino” yang berarti menandakan atau melambangkan (Sutedi, 2003:114). Objek kajian semantik antara lain makna kata, relasi makna, makna frase, dan makna kalimat. Lalu objek kajian yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas adalah relasi makna khususnya adalah sinonim, karena dalam hal ini verba modoru dan kaeru merupakan kata-kata yang bersinonim.
Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya (Chaer, 1994:297).
Dua buah ujaran atau lebih yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama.
Ketidaksamaan ini terjadi karena berbagai faktor, antara lain yaitu faktor waktu,
faktor tempat atau wilayah, faktor keformalan, faktor sosial, faktor bidang kegiatan, dan faktor nuansa makna. Dalam bahasa Jepang sinonim disebut dengan ruigigo.
Penelitian mengenai makna dan fungsi verba bersinonim sebelumnya telah banyak dijadikan sebagai objek penelitian. (Aristia, 2015) menulis skripsi dengan judul Analisis fungsi dan makna nomina shourai dan mirai dalam kalimat bahasa Jepang. Hasil dari penelitian ini yang dilakukan oleh Aristia dapat disimpulkan bahwa nomina shourai memiliki makna ‘masa depan’ yang tenggang waktunya lebih singkat jika dibandingkan dengan mirai. Shourai merupakan masa depan yang menyangkut orang-orang, negara, dan lapisan masyarakat. Shourai digunakan untuk menyatakan prospek, yaitu harapan atau kemungkinan. Selain sebagai nomina, shourai juga dapat digunakan sebagai adverbia atau kata keterangan. Nomina mirai memiliki makna ‘masa depan’ yang bisa terasa lama namun bisa juga terasa singkat. Tetapi dibandingkan shourai, tenggang waktunya lebih lama. Selain itu mirai dapat menunjukkan masa depan sampai ke kehidupan setelah kematian, yaitu alam baka atau akhirat.
Hapsari (2014) dalam skripsinya yang berjudul ”Analisis Perbedaan Fungsi dan Makna Verba “Tsukau” dan “Mochiiru” dalam Majalah Nipponia”
menyimpulkan bahwa verba Tsukau memiliki fungsi (1) Menerangkan penggunaan benda mati untuk suatu hal, (2) Menerangkan penggunaan kemampuan atau keahlian seseorang terhadap suatu bidang pengetahuan, (3) Menerangkan penggunaan metode atau cara untuk melakukan sesuatu. Sedangkan verba Mochiiru memiliki fungsi (1) Menerangkan penggunaan benda mati secara efisien atau dengan tepat, (2) Menerangkan suatu kegiatan yang dilakukan dengan
mengandalkan perasaan, (3) Menerangkan suatu kegiatan yang dilakukan dengan menerima atau mengangkat pendapat atau pikiran dari seseorang.
Contoh dari dua skripsi di atas berkaitan dengan masalah yang akan penulis bahas sehingga dapat menjadi acuan dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis. Dalam penelitian ini penulis akan menjelaskan fungsi dan makna verba modoru dan kaeru yang memiliki makna sama tetapi memiliki nuansa makna yang berbeda.
2. Kerangka Teori
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan secara linguistik bidang semantik dan konsep sinonim. Dalam sebuah penelitian diperlukan landasan atau acuan berpikir untuk menganalisis dan memecahkan sebuah masalah. Oleh karenanya perlu disusun pokok-pokok pikiran yang dimuat oleh kerangka teori yang mendeskripsikan titik tolak penelitian yang akan diamati.
Kata semantik berasal dari bahasa Yunani, semainein, yaitu bermakna. Oleh karena itu semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau ilmu tentang arti (Chaer, 2002:2) Menurut Kridalaksana (2008:67), fungsi adalah: (1) beban makna suatu kesatuan bahasa; (2) hubungan antara satu satuan dengan unsur- unsur gramatikal, leksikal, atau kronologis dalam suatu deret satuan-satuan; (3) penggunaan bahasa untuk tujuan tertentu; (4) peran unsur dalam suatu ujaran dan hubungannya secara struktural dengan unsur lain; (5) peran sebuah unsur dalam satuan sintaksis yang lebih luas, misal, nomina yang berfungsi sebagai subjek atau objek.
Selain membahas fungsi, penulis juga membahas makna. Menurut Kridalaksana (2008:132), makna adalah: (1) maksud pembicaraan; (2) pengaruh
penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia; (3) hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya; (4) cara menggunakan lambang-lambang bahasa. Teori makna yang dipergunakan adalah teori kontekstual. Teori makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks dan makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yaitu waktu, tempat, dan lingkungan penggunaan bahasa itu (Chaer, 1994:290). Meskipun verba modoru dan kaeru merupakan sinonim yang sama, situasi di antara modoru dan kaeru tersebut berbeda dan kedua ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan sama.
Istilah sinonim berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Makna secara harfiahnya adalah nama lain untuk benda yang sama. Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya (Chaer, 1994:297). Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai faktor, yaitu faktor waktu, faktor tempat atau wilayah, faktor keformalan, faktor sosial, faktor kegiatan, dan faktor nuansa makna.
Sinonim verba modoru dan kaeru yang dibahas pada penelitian ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh Tian dkk (1998: 208). Tian dkk menyatakan bahwa:
戻る:もとの所.状態に移動する。進行方向を逆にして進む。返る。:も との所有者.本拠地.状態に移る。逆の方向に向く。人間や動物などに使 わると、「帰る」と表記するが、誰かが帰した.戻した結果を表すほか、
「国に帰る.鳥が巣に帰る.忘れ物を取って待ち合わせ場所に戻る.馬が 川で水を飲んで牧草地に戻る」など、自分の意志でする動作にも使われる。
「帰る」は自分の家や巣などの本拠地、「戻る」はもといた場所というの が基本的な違いになる。「かえす」「かえる」を参照。
Modoru : Moto no tokoro, joutai ni idousuru. Shinkouhoukou o gyaku ni shite susumu. Kaeru : moto no shoyuusha, honkyochi, Joutai ni utsuru. Gyaku no houkou ni muku. Ningen ya doubutsu nado ni tsukawareru to , [kaeru] to hyouki suru ga , dareka ga kaeshita, modoshita kekka o arawasu hoka, [ kuni ni kaeru, tori ga su ni kaeru, wasuremono o totte machiawase basho ni modoru, uma ga kawa de mizu o nonde bokusouchi ni modoru] nado, jibun no ishi de suru dousa ni mo tsukawareru. [kaeru] ha jibun no ie ya su nado no honkyochi, [modoru] ha moto ita basho to iu no ga kihonteki na chigai ni naru. [kaesu] [kaeru] o sanshou.
Modoru : Bergerak/berpindah pada situasi/keadaan dan tempat semula. Terus maju bergerak ke arah sebaliknya. Kaeru : berpindah ke situasi, markas dan pemilik semula. Berbelok ke arah sebaliknya. Kalau digunakan untuk hewan dan manusia, ditulis dengan [帰る] dan menunjukkan hasil siapa yang
kembali/pulang, [Kembali ke negara (pulang kampung), burung kembali ke sarang, kembali ke tempat janjian dan mengambil barang yang ketinggalan, kuda kembali ke padang rumput setelah minum air di sungai]dan sebagainya, juga dapat digunakan untuk bergerak melakukan kemauan diri sendiri. Kaeru adalah kembali ke markas seperti rumah sendiri atau sarang dan sebagainya , modoru adalah kembali ke tempat yang berada semula sehingga pada dasarnya menjadi berbeda. Mengacu ke [kembali] [mengembalikan] .
Menurut Hirose (2001:277) mengatakan bahwa: Kaeru is to go/come back, to go/come home. Kaeru is used when talking about returning to a place that has a feeling attached to it. For example, returning to aplace with loved ones or a place that has some nostalgic value or memory associated with motivation. If you‘re going back to aplace for fun or relaxation, for instance, it would be best to use kaeru.
Kaeru adalah kembali, pulang. Kaeru digunakan ketika kita berbicara tentang kembali ke tempat yang memiliki ikatan emosional atas tempat itu.
Contohnya, kembali ke tempat bersama orang yang dicintai atau ke tempat yang yang memiliki kenangan nostalgia atau ingatan yang berkaitan dengan motivasi.
Jika kita kembali ke suatu tempat untuk bersenang-senang atau relaksasi lebih baik menggunakan kaeru. Di saat penggunaan verba kaeru aktifitas kaeru tidak bisa terjadi secara alami (pelakunya selalu terlihat).
Hayashi (1986:2298) menyatakan bahwa verba modoru adalah : 戻るは:
①.家に帰る。帰宅する。「学校から戻る」
②.もとの場所。方向へ向かって逆に進む。引き返す.「故郷へ戻る」
「席に戻る」
③.もとの状態にかえる。旧に複す。「子供の頃に戻ったよう
Modoru ha :
1. Ie ni Kaeru. Kitakusuru. [Gakkou kara modoru]
2. Moto no basho. Houkou he mukatte gyaku ni susumu. Hikikaesu.
[Furusato he modoru] [Seki ni modoru]
3. Moto no joutai ni kaeru. Kyuu ni fukusu. [Kodomo no koro ni modottayou]
[Futari ha yori ga modottarashii]
Modoru adalah :
1. Pulang ke rumah. Pulang. [ Pulang dari sekolah]
2. Pergi menuju ke arah sebaliknya. Ke tempat semula. Kembali. [ Kembali ke kampung halaman] [ Kembali ke tempat duduk]
3. Kembali ke keadaan/situasi semula. Kembali ke masa lalu. [Seperti kembali ke masa anak-anak]
Konsep makna modoru dan kaeru di atas dijadikan acuan untuk pembahasan mengenai makna dan fungsi modoru dan kaeru. Berdasarkan kerangka teori di atas, maka penulis akan menginterpretasikan makna verba modoru dan kaeru dengan konteks kalimatnya, serta melihat ketepatan pemilihan kedua kata bersinonim tersebut dalam kalimat.
F. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui makna dan fungsi verba Modoru dan Kaeru dalam Novel Norwei no Mori Karya Haruki Murakami
2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan nuansa makna verba Modoru dan Kaeru dalam Novel Norwei no Mori Karya Haruki Murakami
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh berdasarkan tujuan penelitian diatas adalah:
1. Untuk dapat dijadikan masukan bagi pembelajar bahasa Jepang untuk memahami penggunaan verba Modoru dan Kaeru.
2. Untuk dapat dijadikan sebagai referensi bagi pembelajar bahasa Jepang untuk memahami makna dan fungsi verba Modoru dan Kaeru.
3. Untuk dijadikan acuan bagi penelitian bahasa Jepang mengenai kata bersinonim lainnya.
1.5 Metode Penelitian
Setiap penelitian pasti memerlukan suatu metode untuk mengkaji permasalahan yang akan dianalisis. Metode penelitian ini menjadi suatu bagian yang penting dan sangat mempengaruhi keberhasilan dari suatu penelitian.
Seorang peneliti harus menggunakan metode penelitian yang tepat agar keberhasilan penelitiannya dapat tercapai.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Menurut Isyandi (2003:13) penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Data-data yang diperoleh adalah melalui penelitian pustaka (Library Research). Dalam hal ini penulis mengumpulkan dan menganalisis buku-buku dan data-data yang
berhubungan dengan tata bahasa, baik itu buku berbahasa Jepang, maupun yang
berbahasa Indonesia, khususnya buku-buku yang relevan dengan pembahasan penelitian ini.
Langkah-langkah yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Mengumpulkan data berupa kalimat-kalimat yang memiliki kata modoru dan kaeru dari novel Norwei no Mori Karya Haruki Murakami
2. Menterjemahkan kalimat-kalimat tersebut ke dalam bahasa Indonesia.
3. Menganalisis makna dan fungsi kata modoru dan kaeru dalam kalimat- kalimat tersebut sesuai teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli.
4. Mencari persamaan dan perbedaan verba modoru dan kaeru tersebut 5. Merangkum hasil analisis ke dalam tabel.
6. Menarik kesimpulan dari data-data yang telah dianalisis.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG MAKNA, FUNGSI, VERBA DAN
STUDI SEMANTIK
2.1 Definisi Makna 2.1.1 Pengertian Makna
Makna merupakan salah satu kajian dalam semantik yang merupakan bagian terpenting dalam melakukan percakapan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (http://kbbi.web.id), defenisi makna yaitu :
1. Arti;
2. Maksud pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan
Sedangkan menurut Kridalaksana (2008:132), makna adalah:
1. Maksud pembicara;
2. Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
3. Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antar bahasa atau antar ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya;
4. Cara menggunakan lambang-lambang bahasa.
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa makna adalah arti atau maksud dari suatu tindak tutur.
2.1.2 Jenis-Jenis Makna
Menurut Chaer (2009:59), jenis atau tipe makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria atau sudut pandang, yaitu:
a. Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Contohnya kata tikus.
Makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Sedangkan makna gramatikalnya adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi.
b. Berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata atau leksem, dapat dibedakan menjadi makna refrensial dan makna non refrensial.
Makna refrensial adalah makna dari kata-kata yang mempunyai refren, yaitu sesuatu diluar bahasa yang diacu oleh kata itu. Contoh kata meja, dan kursi disebut makna refrensial karena kedua kata itu mempunyai refren yaitu sejenis perabot rumah tangga. Sedangkan kata-kata yang tidak mempunyai refren, maka kata itu disebut kata bermakna non refrensial. Contoh kata karena dan kata tetapi tidak mempunyai refren. Jadi dapat disimpulkan kata-kata yang termasuk kata penuh seperti meja dan kursi termasuk kata-kata yang bermakna refrensial, sedangkan yang termasuk kata tugas seperti preposisi, konjugasi, dan kata tugas lain adalah kata-kata yang bermakna non refrensial.
c. Berdasarkan ada tidaknya rasa pada sebuah kata atau leksem, dibedakan menjadi makna denotatif dan konotatif.
Makna denotatif pada dasarnya sama dengan makna refrensial, sebab makna denotative ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya karena sering disebut makna sebenarnya.
Sedangkan makna konotatif adalah makna tambahan pada suatu kata yang sifatnya memberi nilai rasa baik positif maupun negatif.
d. Berdasarkan ketetapan maknanya, makna dapat menjadi makna kata dan makna istilah.
Makna kata sering disebut sebagai makna yang bersifat umum, sedangkan makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Hal ini dilihat dari contoh dalam bidang kedokteran yakni kata tangan dan lengan, digunakan sebagai istilah untuk pengertian yang berbeda. Makna tangan adalah
‘pergelangan sampai ke jari-jari’, sedangkan makna lengan adalah
‘pergelangan sampai ke pangkal bahu’. Sebaliknya dalam bahasa umum tangan dan lengan diaggap bersinonim.
e. Berdasarkan kriteria atau sudut pandang lain, dibedakan menjadi makna asosiatif, idiomatik, kolokatif, dan sebagainya.
Makna asosiatif sesungguhnya sama dengan pelambang-pelambang yang digunakan oleh suatu masuarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain. Contohnya kata melati digunakan sebagai pelambang kesucian, kata
merah digunakan sebagai pelambang keberanian. Berbeda dengan makna idiomatik, kata idiom berarti satuan-satuan bahasa (bisa berupa kata, frase, maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contohnya frase menjual rumah bermakna ‘si pembeli menerima rumah dan si penjual menerima uang’, tetapi frase menjual gigi bukan bermakna ‘si pembeli menerima gigi dan penjual menerima uang’, tetapi bermakna ‘tertawa keras- keras’. Sehingga dapat disimpulkan bahwa makna idiomatik adalah makna sebuah satu bahasa yang menyimpang dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Sedangkan makna kolokatif berkenaan dengan makna kata dalam kaitannya dengan makna kata lain yang mempunyai tempat yang sama dalam sebuah frase. Contoh frase gadis itu cantik dan pria itu tampan. Kita tidak dapat menyatakan gadis itu tampan dan pria itu cantik, karena pada kedua kalimat itu maknanya tidak sama walaupun informasinya sama.
2.2 Defenisi Fungsi
2.2.1 Pengertian Fungsi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (http://kbbi.web.id), fungsi dalam istilah linguistik merupakan peran sebuah unsur bahasa dalam satuan sintaksis yang lebih luas (seperti verba berfungsi sebagai kata kerja).
Sedangkan menurut Kridalaksana (2008:67), fungsi adalah:
(1) Beban makna suatu kesatuan bahasa;
(2) Hubungan antara satu satuan dengan unsur-unsur gramatikal, leksikal, atau kronologis dalam suatu deret satu-satuan;
(3) Penggunaan bahasa untuk tujuan tertentu;
(4) Peran unsur dalam satu ujaran dan hubungannya secara struktural dengan unsur lain;
(5) Peran sebuah unsur dalam satuan sintaksis yang lebih luas, misal, nomina yang berfungsi sebagai subjek atau objek.
Dalam pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi merupakan suatu peranan dalam unsur sintaksis yang saling berhubungan dengan unsur lainnya seperti unsur gramatikal, leksikal, ataupun kronologis.
2.2.2 Jenis-Jenis Fungsi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (http://kbbi.web.id), jenis-jenis fungsi dibagi menjadi empat jenis, yaitu:
1. Fungsi Ekspresif
Penggunaan bahasa untuk menampakkan hal ihwal yang bersangkutan dengan pribadi pembicara.
2. Fungsi Fatis
Penggunaan bahasa untuk mengadakan atau memelihara kontak antara pembicara dan pendengar.
3. Fungsi Kognitif
Penggunaan bahasa untuk penalaran akal.
4. Fungsi Komunikatif
Penggunaan bahasa untuk penyampaian informasi antara pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca).
Sedangkan menurut Pangaribuan (2008:63), fungsi terdiri dari tiga jenis, yaitu:
1. Fungsi Ideasional
Fungsi yang dipresentasikan oleh unsur pengalaman dan pemikiran logis yang diungkapkan melalui teks, seperti siapa berperan apa, melakukan tindakan sosial apa, kepada siapa, di lokasi mana, dan lain-lain.
2. Fungsi Interpersonal
Fungsi yang menjelaskan bagaimana hubungan antar partisipan yang direalisasikan lewat bahasa melalui peran ungkapan, pilihan persona, modalitas ungkapan, dan lain-lain.
3. Fungsi Tekstual
Fungsi yang dilihat dari bagaimana keterpaduan makna direalisasikan melalui struktur informasi, kohesi, dan unsur-unsur lain yang menyatakan bagaimana bahasa itu melayani kepentingan partisipan.
2.3 Definisi Verba 2.3.1 Pengertian Verba
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993:1260), disebutkan bahwa verba adalah kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan yang disebut juga kata kerja.
Dalam bahasa Jepang verba disebut dengan doushi. Menurut Situmorang (2010: 9), makna doushi bila dilihat dari kanjinya yaitu :
動 : ugoku, dou : bergerak 詞 : kotoba, shi : kata
動詞 : doushi : kata yang bermakna gerakan
Situmorang (2010: 9) juga menjelaskan bahwa doushi memiliki ciri-ciri yaitu : a. Dapat berdiri sendiri
b. Berkonjugasi / mengalami perubahan bentuk
c. Bermakna sesuatu kegiatan, keberadaan, atau perubahan keadaan d. Dapat menjadi predikat dalam kalimat
Doushi adalah kata kerja yang berfungsi sebagai predikat dalam suatu kalimat, mengalami perubahan bentuk (katsuyou) dan bisa berdiri sendiri. Nomura dalam Dahidi dan Sudjianto (2004:149) menyebutkan pengertian verba atau doushi adalah salah satu kelas kata dalam bahasa Jepang, kelas kata ini dipakai untuk menyatakan aktifitas, keberadaan, atau keadaan sesuatu. Doushi dapat mengalami perubahan, dan dengan sendirinya dapat menjadi predikat.
Dari beberapa defenisi yang telah dikemukakan di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa verba (doushi) adalah salah satu kelas kata yang menyatakan aktifitas, keberadaan atau keadaan, mengalami perubahan (katsuyou), dapat berdiri sendiri dan bisa menjadi predikat dalam suatu kalimat.
2.3.2 Jenis-Jenis Verba
Menurut Sutedi (2003:47), verba dalam bahasa Jepang digolongkan ke dalam tiga kelompok berdasarkan bentuk konjugasinya.
1. Kelompok I
Kelompok ini disebut dengan 五段動詞 (godan-doushi), karena kelompok ini mengalami perubahan dalam lima deretan bunyi bahasa Jepang, yaitu (あ, い, う, え, お, ‘a-i-u-e-o’). Ciri-cirinya yaitu verba yang berakhiran (う, つ, る, ぶ, ぬ, む, く, ぐ, す, ‘u-tsu-ru-bu-nu-mu-ku-gu-su’).
Contoh :
a. 会う : a-u (bertemu) b. 待つ : ma-tsu (menunggu) c. 帰る : kae-ru (pulang) d. 飛ぶ : to-bu (terbang) e. 死ぬ : shi-nu (mati) f. 読む: yo-mu (membaca) g. 書く: ka-ku (menulis) h. 泳ぐ: oyo-gu (berenang) i. 話す: hana-su (berbicara)
2. Kelompok II
Kelompok ini disebut dengan 一 段 動 詞 (ichidan-doushi), karena perubahannya hanya pada satu deretan bunyi saja. Ciri utama dari verba ini adalah verba yang berakhiran (え-る‘e-ru’) yang disebut kami ichidan-doushi, dan verba yang berakhiran (い-る‘i-ru’) yang disebut shimo ichidan-doushi.
Contoh :
a. 出る d-eru (keluar) 食べる tab-eru (makan)
b. 見る m-iru (melihat) 起きる ok-iru (bangun)
3. Kelompok III
Verba kelompok ini merupakan verba yang perubahannya tidak beraturan, sehingga disebut 変格動詞 (henkaku-doushi) dan hanya terdiri dari dua verba berikut.
a. カ変動詞 (kahendoushi) Contoh : 来る kuru (datang) b. サ変動詞 (sahendoushi)
Contoh : する suru (melakukan)
Verba kelompok ini juga merupakan verba yang terbentuk dari kata benda + verba suru, 「名詞 ‘meishi’」+「する ‘suru’」, namun meishi yang dapat ditambahkan dengan verba suru disini hanyalah terbatas pada kata-kata yang bermakna gerak atau terdapat gerakan di dalamnya.
Contoh :
a. 勉強する benkyou suru (belajar) b. 食事する shokuji suru (makan) c. 買い物する kaimono suru (belanja)
Sementara Shimizu dalam Sudjianto (2004:150) mengklasifikasikan jenis doushi sebagai berikut :
1. Jidoushi (自動詞‘verba intransitif’)
Jidoushi merupakan verba yang tidak disertai dengan objek penderita. Jika dilihat dari huruf kanjinya, maka jidoushi dapat bermakna ‘kata yang bergerak sendiri’.
Contoh :
a. 起きる okiru (bangun) b. 閉まる shimaru (tertutup) c. 出る deru (keluar) 2. Tadoushi (他動詞‘verba transitif’)
Tadoushi merupakan verba yang memiliki objek penderita. Verba tadoushi merupakan kelompok doushi yang menyatakan arti mempengaruhi pihak lain, atau dengan kata lain ada gerakan dari subjek.
Contoh :
a. 起こす okosu (membangunkan) b. 閉める shimeru (menutup)
c. 出すdasu (mengeluarkan) 3. Shodoushi (所動詞)
Karena verba shodoushi merupakan kelompok doushi yang memasukkan pertimbangan pembicara, maka verba ini tidak dapat diubah ke dalam bentuk pasif dan kausatif.
Contoh :
a. 見える mieru (terlihat) b. 聞こえる kikoeru (terdengar)
Namun selain jenis-jenis doushi seperti di atas, Terada Takanao dalam Sudjianto (2004:150) menambahkan fukugou doushi, haseigo toshite no doushi dan hojo doushi sebagai jenis-jenis doushi.
1. Fukugou doushi (複合動詞)
Fukugou doushi adalah doushi yang terbentuk dari gabungan dua buah kata atau lebih. Gabungan kata tersebut secara keseluruhan dianggap sebagai satu kata.
Contoh :
a. 話し合う hanashi au berunding (doushi + doushi) b. 調査する chousa suru menyelidiki (meishi + doushi) c. 近寄る chikayoru mendekati (keiyoushi + doushi)
2. Haseigo toshite no doushi (派生語としての動詞)
Haseigo toshite no doushi merupakan verba yang memakai prefiks atau doushi yang terbentuk dari kelas kata lain dengan cara menambahkan sufiks.
Kata-kata tersebut secara keseluruhan dianggap sebagai satu kata.
Contoh :
a. さ迷う samayou (mondar-mandir) b. ぶん殴る bunnaguru (melayangkan tinju) c. 寒がる samugaru (merasa kedinginan)
2. Hojo doushi (補助動詞)
Hojo doushi adalah doushi yang menjadi bunsetsu tambahan. Verba ini menunjukkan keberadaan. Biasanya verba ini tidak muncul bersama dengan verba bantu –iru.
Contoh :
a. ある aru (ada ‘benda mati’) b. いる iru (ada ‘makhluk hidup’) c. もらう morau (menerima)
2.3.3 Fungsi Verba
Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya (sub bab 2.3.1
‘Pengertian Verba’), pada umumnya verba bahasa Jepang berfungsi sebagai predikat dalam sebuah kalimat, dan terletak di akhir kalimat.
Contoh :
1. 私はご飯を食べる。
Watashi wa gohan o taberu.
Saya makan nasi.
2. 友達と一緒に公園を散歩する。
Tomodachi to isshoni kouen o sanposuru.
Saya berjalan-jalan bersama teman di taman.
Verba berfungsi untuk membantu verba-verba yang ada pada bagian sebelumnya dan menjadi bagian dari predikat sebagaimana halnya fuzokugo (Sudjianto, 2004:151).
Contoh :
1. 私はチョコレートがある パンが大好きだ。
Watashi wa chokoreeto ga aru pan ga daisuki da.
Saya paling suka roti yang ada cokelatnya.
2. れは父が作った 料理だ。
Kore wa chichi ga tsukutta ryouri da.
Ini adalah masakan buatan ayah.
2.4 Makna dan Fungsi verba Modoru dan Kaeru Menurut Pakar Linguistik Bahasa Jepang
Modoru「戻る」dan kaeru「帰る」adalah kata yang termasuk ke dalam kelas kata verba atau kata kerja yang dalam gramatikal bahasa Jepang disebut doushi. Kata modoru dan kaeru memiliki makna “kembali ; pulang”. Berikut ini akan dijelaskan tentang makna kata modoru dan kaeru menurut beberapa pakar linguistik bahasa Jepang.
2.4.1 Verba Modoru
Verba modoru adalah kata yang termasuk ke dalam kelas kata kerja (verba) dalam bahasa Jepang. Berikut ini akan dipaparkan beberapa makna dan fungsi verba modoru menurut pakar dalam bahasa Jepang.
a. Matsui (2008: 471) menyatakan bahwa:
「戻る」は、人。動物や物が、もと存在した所に移動したり、もと の状態になったりする意。
[Modoru] ha hito. doubutsu ya mono ga, moto sonzaishita tokoro ni idoushitari, moto no joutai ni nattarisuru i.
[Modoru] memiliki arti orang, hewan atau benda yang berpindah dari tempat yang ada di awal dan menjadi ke keadaan semula.
Contoh :
体重計の計がもとに戻る。
Taijuukei no kei ga moto ni modoru.
Timbangan berat badan kembali ke semula b. Hayashi (1986: 2298) menyatakan bahwa:
戻る :1)家に帰る。帰宅する。2)もとの場所、方向へ向かっ て逆に進む。引き返す。 3)もとの状態にかえる。旧に複す。
Modoru : 1) Ie ni kaeru. 2) Moto no basho, houkou e mukatte gyaku ni susumu. Hikikaesu. 3) Moto no joutai ni kaeru. Kyuu ni fukusu.
Modoru : 1) Kembali ke rumah. 2) Bergerak ke arah sebaliknya menuju ke arah atau tempat semula. 3) Kembali ke keadaan semula. Kembali ke masa lalu.
Contoh :
故郷へ戻る。
Furusato e modoru.
Kembali ke kampung halaman.
c. Kindaichi dan Ikeda (1978: 1953) menyatakan bahwa:
戻る :1)もとの状態に返る。2)(なくしたりして)いったん 手もとを離れた所有者が手もとに返る。3)もとの所へ帰る。
Modoru : 1) Moto no joutai ni kaeru. 2) (Nakushitarishite) ittan te moto o hanareta shoyuusha ga te moto ni kaeru. 3) Moto no tokoro e kaeru.
Modoru : 1) Kembali ke keadaan semula. 2) (Kehilangan) Kembali ke tangan pemilik yang kehilangan. 3) Pulang ke tempat asal
d. Shinmura (1955: 2379) mengatakan bahwa modoru adalah:
戻る :1)ある場所からいったん移ったものが、もとへかえる。
あとへ引きかえす。2)以前の状態に復する。3)家へかえる。
Modoru : 1) Aru basho kara ittan usutta mono ga, moto e kaeru. Ato e hikikaesu. 2) Izen no joutai ni fukusuru. 3) Ie e kaeru.
Modoru : 1) Barang yang berpindah dari tempat yang ada kembali ke tempat semula. Mengembalikannya ke tempat sebelumya. 2) Kembali ke keadaan sebelumya. 3) Pulang ke rumah.
e. Matsura (1994 : 653) menyatakan bahwa verba modoru yaitu :
戻る Kembali ; pulang ;berbalik ; membalik. Kare wa chuushoku ni dete, mada modotte imasen (彼は昼食に出て、まだ戻っていません) Dia
belum kembali dari makan siang. Shokuyoku ga modori mashita (食欲が 戻りました) Nafsu makan saya telah kembali.
f. Tian dkk ( 1998 : 209) menyatakan bahwa :
戻る : もとの所、状態に移動する。進行方向を逆にして進む。
Modoru : Moto no tokoro, joutai ni idousuru. Shinkouhoukou wo gyaku ni susumu.
Modoru : Berpindah ke situasi dan tempat semula. Terus bergerak ke arah sebaliknya.
g. Hirose ( 2001 : 197) menyatakan bahwa :
戻る:1)一度移動したものや変化したものが、元の所に来たり、
元の状態になることです。2)一度通った所を、もと来た方向に進 むことです。
Modoru : 1) Ichido idoushita mono ya henkashita mono ga, moto no tokoro ni kitari, moto no joutai ni naru koto desu. 2) Ichido tootta tokoro o, moto kita houkou ni susumu koto desu.
Modoru : 1) Menunjukkan bahwa sesuatu yang bergerak atau mengalami perubahan kembali ke kondisi atau tempat semula. 2) Bergerak kembali ke tempat yang sudah terlewati.
Contoh :
盗まれた名画は無事美術館に戻った。
Nusumareta meiga wa buji bijutsukan ni modotta.
Lukisan yang telah di curi itu kembali ke museum seni dengan selamat.
Dari pernyataan para pakar linguistik bahasa Jepang diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa verba modoru berfungsi untuk menyatakan kembalinya seseorang, hewan maupun benda ke keadaan / situasi semula, ke tempat asal maupun ke tempat yang telah terlewati. Verba modoru berfokus pada proses tempat yang telah dilalui.
2.4.2 Verba Kaeru
Verba kaeru adalah kata yang termasuk ke dalam kelas kata kerja (verba) dalam bahasa Jepang. Berikut ini akan dipaparkan beberapa makna dan fungsi verba kaeru menurut pakar dalam bahasa Jepang.
a. Matsui (2008: 471) menyatakan bahwa:
「帰る」は人、動物が、本拠とする所や、もと所属していた所に行 く意。
“Kaeru” ha hito, doubutsu ga, honkyo to suru tokoro ya, moto shozoku shite ita tokoro iku i.
“Kaeru” bermakna orang dan hewan yang pergi ke tempat yang sebagai basis/markasnya dan ke tempat yang dia pemiliknya.
b. Hirose (2001: 196) menyatakan bahwa:
帰る :人間や動物が、元のところ、本来するべき場所に移動する ことです。バスや電車などの乗り物にも使います
Kaeru : Ningen ya doubutsu ga moto no tokoro, honrai suru beki basho ni idousuru koto desu. Basu ya densha nado no norimono ni mo tsukaimasu.
Kaeru juga digunakan ketika seseorang atau hewan yang kembali ke tempat asalnya, atau tempat yang dimilikinya. Juga bisa digunakan untuk bus, kereta api atau jenis kendaraan yang lain.
Contoh :
父の乗った船はあした長い航海を終えた帰ってくる。
Chichi no notta fune wa ashita nagai kookai o oeta kaettekuru.
Kapal yang dinaiki ayah akan kembali dari pelayaran panjang besok
c. Kindaichi dan Ikeda (1978: 300) menyatakan bahwa:
帰る :1)もといた所にもどる。2)自分の家(故郷、国)へい く。
Kaeru : 1) Moto ita tokoro ni modoru. 2) Jibun no ie (Furusato, Kuni) e iku.
Kaeru : 1) Kembali ke tempat semula. 2) Pergi ke rumah ( kampung halaman, negara).
Contoh :
小娘は何時かもう私の前の席に帰る。
Komusume wa nanjika mou watashi no mae no seki ni kaeru.
Gadis kecil itu kapan kembali ke tempat duduk di depan saya.
d. Matsura (1994 : 392) menyatakan bahwa verba kaeru yaitu :
帰る Pulang ; Kembali. Kaimono kara kaeru (買い物から帰る) Kembali dari berbelanja. Kare wa Nihon ni kaette kita. (彼は日本に帰って来た) Dia telah tiba kembali di Jepang. Kare wa sakini kaeri mashita. (彼は先に 帰りました) Dia sudah pulang duluan.
Dari pernyataan para pakar linguistik bahasa Jepang di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa verba kaeru berfungsi untuk menyatakan kembalinya seseorang, hewan ke tempat asal atau ke tempat semula. Verba kaeru berfokus pada tujuan tempat yang dituju.
2.5 Studi Semantik dalam Kajian Semantik 2.5.1 Definisi Semantik
Semantik (imiron) merupakan salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang makna. Semantik memiliki peranan yang penting karena bahasa yang digunakan dalam komunikasi tidak lain hanya untuk menyampaikan suatu makna.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa setiap jenis penelitian yang berhubungan dengan bahasa, apakah itu struktur kalimat, kosakata, ataupun bunyi-bunyi bahasa, pada hakikatnya tidak akan terlepas dari makna.
Menurut Griffiths (2006: 15), semantik adalah ilmu yang mempelajari makna kata dan makna kalimat yang maknanya dapat dilihat dari konteks penggunaan. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Saeed (1997: 3) bahwa semantik merupakan ilmu yang mempelajari tetang makna dari kata dan merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang makna komunikasi dalam bahasa.
Semantik dalam bahasa Jepang disebut dengan imiron. Sutedi (2003: 127) menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang makna. Ketika seseorang menyampaikan ide dan pikiran kepada lawan bicara, lalu lawan bicaranya bias memahami apa yang dimaksud karena ia bisa menangkap makna yang disampaikannya.
Dilihat dari definisi-definisi tentang semantik yang sudah dipaparkan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan tentang definisi semantik, yaitu semantik merupakan salah satu cabang/bagian dari ilmu linguistik yang mengkaji tentang makna, baik dari suatu kata, maupun kalimat dilihat dari penggunaannya dalam berkomunikasi menggunakan bahasa.
2.5.2 Manfaat Mempelajari Semantik
Manfaat yang dapat kita petik dari ilmu semantik sangat tergantung dalam bidang yang kita geluti dalam tugas kita sehari-hari (Chaer, 2007: 11). Bagi seorang wartawan, seorang reporter, atau orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persurat kabaran dan pemberitaan, mereka barangkali akan memperoleh manfaat praktis dari pengetahuan mengenai semantik. Pengetahuan semantik akan memudahkannya dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna yang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat umum.
Bagi yang berkecimpung dalam penelitian bahasa seperti yang belajar di Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya, ilmu semantik akan memberi bekal teoretis kepadanya untuk dapat menganalisis bahasa, atau bahasa-bahasa yang telah di pelajarinya. Sedangkan bagi guru atau calon guru, pengetahuan mengenai semantik, akan memberi manfaat teoretis dan praktis. Manfaat teoretis karena dia sebagai guru bahasa harus pula mempelajari dengan sungguh sungguh akan bahasa yang di ajarkannya. Teori-teori semantik ini akan menolongnya memahami lebih baik “rimba belantara rahasia” bahasa yang diajarkannya itu.
Sedangkan manfaat praktis akan berupa kemudahan bagi dirinya agar mengajarkan bahasa itu pada muridnya. Selain itu, manfaat praktis yang diperoleh dari mempelajari teori semantik adalah pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna dari suatu kata yang makna katanya berdekatan atau memiliki kemiripan arti.
2.5.3 Kesinoniman
Dalam setiap bahasa seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata dengan kata lainnya. Hal ini berkaitan dengan relasi makna. Salah satu relasi makna tersebut adalah kesamaan makna atau disebut dengan sinonim.
Apabila suatu kata memiliki makna yang hampir sama (mirip) dengan satu atau lebih kata yang lain, maka dapat dikatakan bahwa kata-kata tersebut memiliki hubungan atau relasi makna yang termasuk ke dalam sinonim. Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya (Chaer, 2007: 297). Akan tetapi meskipun
bersinonim, maknanya tidak akan persis sama. Hal ini dikarenakan tidak ada sinonim yang maknanya akan sama persis seratus persen. Dalam konteks tertentu, pasti akan ditemukan suatu perbedaannya meskipun kecil. Ketidaksamaan ini terjadi karena berbagai faktor, antara lain:
1) Faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Namun, kata hulubalang memiliki pengertian klasik sedangkan kata komandan tidak memiliki makna klasik.
2) Faktor tempat atau wilayah. Misalnya kata saya dan beta adalah dua kata yang bersinonim. Namun, kata saya dapat digunakan dimana saja, sedangkan kata beta hanya cocok untuk wilayah Indonesia bagian timur.
3) Faktor keformalan. Misalnya, kata uang dan duit adalahh kata yang bersinonoim. Namun, kata uang dapat digunakan dalam ragam formal dan tak formal, sedangkan kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.
4) Faktor sosial. Misalnya kata saya dan aku adalah dua buah kata yang bersinonim. Tetapi, kata saya dapat digunakan oleh siapa saja; sedangkan kata aku hanya dapat digunakan terhadap orang yang sebaya, yang dianggap akrab, atau kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.
5) Faktor bidang kegiatan. Umpamanya kata matahari dan surya adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kata matahari bisa digunakan dalam kegiatan apa saja, atau dapat digunakan secara umum; sedangkan kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus. Terutama ragam sastra.
6) Faktor nuansa makna. Umpamanya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau, dan mengintip adalah sejumlah kata yang bersinonim. Tetapi, antara yang satu dengan yang lainnya tidak selalu dapat dipertukarkan, karena masing-masing memiliki nuansa makna yang tidak sama. Kata melihat memiliki makna umum; kata melirik memiliki makna melihat dengan sudut mata; kata menonton memiliki makna melihat untuk kesenangan; kata meninjau memiliki makna melihat dari tempat jauh; dan kata mengintip memiliki makna melihat dari atau melalui celah sempit.
Dengan demikian, jelas kata menonton tidak dapat diganti dengan kata melirik karena memiliki nuansa makna yang berbeda, meskipun kedua kata itu dianggap bersinonim.
Sinonim dikenal dengan istilah 「類義語 ‘ruigigo’」dalam bahasa Jepang.
Iwabuchi dalam Sudjianto (1996: 114) ruigigo adalah beberapa kata yang memiliki bunyi ucapan yang berbeda namun memilki makna yang sangat mirip.
Jadi bentuk kata antara 「生徒」dan「学生」,「学ぶ」dan「習う」berbeda tapi artinya mirip. Kata-kata seperti inilah yang disebut ruigigo.
Sutedi (2003: 115) menyatakan bahwa perbedaan dari dua kata atau lebih yang memiliki relasi atau hubungan kesinoniman「類義関係 ‘ruigi-kankei’」
dapat ditemukan dengan cara melakukan analisis terhadap nuansa makna dari setiap kata tersebut. Misalnya pada kata agaru dan noboru yang kedua-duanya berarti ‘naik’, dapat ditemukan perbedaannya sebagai berikut.
のぼる:下から上へ或経路に焦点を合わせて移動する
Noboru : Shita kara ue e wakukeiro ni shouten o awasete idou suru
Noboru : berpindah dari bawah ke atas dengan fokus jalan yang dilalui
あがる:下から上へ到達点に焦点を合わせて移動する
Agaru : Shita kara ue e toutatsuten ni shouten o awasete idou suru Agaru : berpindah dari bawah ke atas dengan fokus tempat tujuan
Jadi, perbedaan verba agaru dan noboru terletak pada fokus 「 焦 点
‘shouten’」gerak tersebut. Verba agaru menekankan pada tempat tujuan「到達 点 ‘toutatsuten’」dalam arti tibanya di tempat tujuan tersebut (hasil), sedangkan noboru menekankan pada jalan yang dilalui「経路 ‘keiro’」dari gerak tersebut (proses).
2.5.4 Pilihan Kata
Kata-kata yang bersinonim ada yang dapat saling menggantikan ada pula yang tidak. Karena itu, kita harus memilihnya secara tepat dan seksama untuk menghindari kerancuan dalam menginterpretasikan maknanya. Hal ini berkaitan dengan pilihan kata atau diksi. Dalam bahasa Indonesia, kata diksi berasal dari kata dictionary (bahasa Inggris yang kata dasarnya adalah diction) yang berarti perihal pemilihan kata. Menurut Keraf (2006: 24) pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
Diksi atau pilihan kata harus berdasarkan tiga tolak ukur, yaitu ketepatan, kebenaran, dan kelaziman. Kata yang tepat adalah kata yang mempunyai makna
yang dapat mengungkapkan gagasan secara cermat sesuai dengan gagasan pemakai bahasa. Kata yang benar adalah kata yang diucapkan atau ditulis sesuai dengan bentuk yang benar, yaitu sesuai dengan kaidah kebahasaan. Kata yang lazim berarti bahwa kata yang dipakai adalah dalam bentuk yang sudah dibiasakan dan bukan merupakan bentuk yang dibuat-buat.
Berdasarkan konsep dari pilhan kata di atas, kata yang maknanya hampir sama atau yang disebut sinonim harus dapat dipilih dengan tepat sesuai dengan situasi dan konteks kalimatnya, agar gagasan yang terkandung di dalam makna kata tersebut dapat tersampaikan dengan baik.
BAB III
ANALISIS MAKNA DAN FUNGSI VERBA MODORU DAN KAERU DALAM NOVEL NORWEI NO MORI
Sebelumnya pada bab II penulis telah memaparkan mengenai verba modoru, dan kaeru. Dalam bab III ini penulis akan mencoba menganalisis makna
dan fungsi serta perbedaan nuansa makna verba modoru dan kaeru dalam novel Norwei no Mori karya Haruki Murakami, berdasarkan teori yang dikemukakan oleh beberapa pakar linguistik yang telah dipaparkan sebelumnya.
3.1 Analisis Makna dan Fungsi Verba Modoru
Contoh 1 :
僕は顔を上げて北海の上空に浮かんだ暗い雲を眺め、自分がこれまでの人 生の過程で失ってきた多くのもののことを考えた。失われた時間、死にあ るいは失っていった人々、もう戻ることのない想い。(Hal 8)
Boku wa kao o agete hokkai no joukuu ni ukanda kurai kumo o nagame, jibun ga kore made no jinsei no katei de ushinatte kita ooku no mono no koro o kangaeta.
Ushinawareta jikan, shi ni arui wa ushinatte itta hitobito, mou modoru koto no nai omoi.
“Aku mengangkat wajahku dan melihat awan gelap dari laut utara dan memikirkan banyak hal yang telah hilang dalam perjalanan hidupku selama ini.
Waktu yang telah hilang, orang – orang yang telah pergi dan meninggal, aku pikir tidak akan pernah kembali lagi”.
Analisis :
Penggunaan verba modoru di atas sudah tepat. Verba yang digarisbawahi memiliki makna “kembali”. Fungsinya untuk menyatakan kembali pada keadaan/situasi semula. Ditunjukkan pada kalimat “Ushinawareta jikan, shi ni arui wa ushinatte itta hitobito, mou modoru koto no nai omoi”. yang artinya
“Waktu yang telah hilang, orang – orang yang telah pergi dan meninggal, aku pikir tidak akan pernah kembali lagi”. Pada kalimat ini dijelaskan bahwa dia teringat akan sahabatnya yang telah meninggal karena bunuh diri. Dia berpikir bahwa masa – masa saat dia bersama sahabatnya tidak akan bisa terulang kembali.
Waktu – waktu yang telah mereka lewati bersama tidak akan bisa kembali,karena orang yang telah meninggal tidak akan bisa hidup lagi. Oleh karena itu, keadaan nya tidak bisa kembali seperti sebelumnya. Penggunaan verba modoru yang bermakna kembali pada kalimat di atas sudah tepat sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Hayashi (1986: 2298) yang nengatakan bahwa “modoru digunakan untuk menyatakan kembali pada keadaan semula. Kembali ke masa lalu”.
Contoh 2 :
毎朝六時に「君が代」を目覚し時計がわりにして彼は起床した。あのこれ みよがしの仰々しい国旗掲揚式もまるっきり役に立たないというわけでは ないのだ。そして服を着て洗面所に行って顔を洗う。顔を洗うのにすごく 長い時間がかかる。歯を一本一本取り外して洗っているんじゃないかとい う気がするくらいだ。部屋に戻ってくるとパンパンと音を立ててタオルの しわをきちんとのばしてスチームの上にかけて乾かし、歯ブラシと石鹸を 棚に戻す。(Hal 35)
Maiasa rokuji ni [Kimigayo] wo mezamashi tokei ga wari ni shite kare wa kishoushita. Ano koremiyogashi no gyougyoushii kokkikeiyoushiki mo marukki yaku ni tatanai to iu wake dewanai no da. Soshite fuku o kite senmenjo ni itte kao
o arau. Kao o arau no ni sugoku nagai jikan ga kakaru. Ha o ippon ippon torihazushite aratte irun janai ka to iu ki ga suru kurai da. Heya ni modotte kuru to panpan to oto o tatete taoru no shiwa o kichinto nobashite suchiimu no ue ni kakete kawakashi, haburashi to sekken o tana ni modosu.
“Dia bangun pada pukul 6 setiap pagi dengan membuat alarm menggunakan lagu Nasional Jepang. Bisa dikatakan bahwa Upacara pengibaran bendera yang luar biasa itu bukan berarti sepenuhnya tidak berguna. Kemudian dia berpakaian dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Untuk mencuci muka pun dia membutuhkan waktu yang lama. Terkadang aku merasa dia melepaskan giginya dan menggosoknya satu persatu. Dia membuat suara menepuk-nepuk ketika kembali ke kamar dan merapikan kerutan pada handuknya dengan rapi,
merentangkannya di atas pemanas untuk dikeringkan lalu mengembalikan sikat gigi dan sabun nya ke rak”
Analisis :
Penggunaan verba modoru di atas sudah tepat. Verba yang digarisbawahi memiliki makna “kembali”. Fungsinya untuk menyatakan aktifitas perpindahan tempat. Ditunjukkan pada kalimat “Heya ni modotte kuru to panpan to oto o tatete taoru no shiwa o kichinto nobashite suchiimu no ue ni kakete kawakashi, haburashi to sekken o tana ni modosu” yang artinya “Dia membuat suara menepuk-nepuk ketika kembali ke kamar dan merapikan kerutan pada handuknya dengan rapi, merentangkannya di atas pemanas untuk dikeringkan lalu mengembalikan sikat gigi dan sabun nya ke rak”. Pada kalimat ini jelaskan bahwa sebelumnya dia berada di kamar kemudian pergi ke kamar mandi untuk mecuci
muka dan menggosok gigi. Setelah dia selesai melakukan kegiatan nya di kamar mandi dia kembali ke kamar dan mengeringkan handuknya serta mengembalikan sikat gigi dan sabun nya ke rak. Oleh karena itu, terjadi perpindahan tempat dari kamar ke kamar mandi lalu kembali lagi ke kamar. Penggunaan verba modoru yang bermakna kembali pada kalimat di atas sudah tepat sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Matsui (2008: 471) yang menyatakan bahwa “modoru memiliki arti orang, hewan atau benda yang berpindah dari tempat yang ada di awal dan menjadi ke keadaan semula”.
Contoh 3:
一週間たっても電話はかかってこなかった。直子のアパートは電話の取り つぎをしてくれなかったので、僕は日曜日に国分寺まで出かけてみた。彼 女はいなかったし、ドアについていた名札はとり外されていた。窓はぴた りと雨戸が閉ざされていた。管理人に訊くと、直子は三日前に越したとい うことだった。どこに越したのかはちょっとわからないなと管理人は言っ た。僕は寮に戻って彼女の神戸の住所にあてて長文の手紙を書いた。直子 がどこに越したにせよ、その手紙は直子あてに転送されるはずだった。
(Hal 87)
Isshuukan tatte mo denwa wa kakatte konakatta. Naoko no apaato wa denwa no toritsugi o shite kurenakatta node, boku wa nichiyoubi ni Kokubunji made dekakete mita. Kanojo wa inakattashi, doa ni tsuite ita nafuda wa torihazusarete ita. Mado wa pitari to amado ga tozasarete ita. Kanrinin ni kiku to, Naoko wa san-nichi mae ni koshita to iu koto datta. Doko ni koshita no ka wa chotto