• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI DAN USUS IKAN PANGKILAN BARE (

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI DAN USUS IKAN PANGKILAN BARE ("

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI DAN USUS IKAN PANGKILAN BARE (Oryzias matanensis) YANG TERCEMAR

LOGAM BERAT NIKEL DAN BESI DI DANAU MATANO LUWU TIMUR SULAWESI SELATAN

SKRIPSI

UMMI FAHMI O11114017

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2018

(2)

ii

GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI DAN USUS IKAN PANGKILAN BARE (Oryzias matanensis) YANG TERCEMAR

LOGAM BERAT NIKEL DAN BESI DI DANAU MATANO LUWU TIMUR SULAWESI SELATAN

UMMI FAHMI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada

Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2018

(3)

iii

(4)

iv PERNYATAAN KEASLIAN

1. Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ummi Fahmi

NIM : O11114017

Program Studi : Kedokteran Hewan Fakultas : Kedokteran

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa : a. Karya skripsi saya adalah asli

b. Apabila sebagian atau seluruhnya dari skripsi ini, terutama dalam bab hasil dan pembahasa, tidak asli atau plagiasi, maka saya bersedia dibatalkan dan dikenakan sanksi akademik yang berlaku

2. Demikian pernyataan keaslian ini dibuat untuk dapat digunakan seperlunya.

Makassar,19 Juli 2018 Pembuat Pernyataan,

Ummi Fahmi

(5)

v

ABSTRAK

UMMI FAHMI. Gambaran Histopatologi Hati dan Usus Ikan Pangkilan bare (Oryzias matanensis) yang Tercemar Logam Berat Nikel dan Besi di Danau Matano Luwu Timur Sulawesi Selatan. Di bawah bimbingan DWI KESUMA SARI dan SHELLY SALMAH

Ikan pangkilan bare atau medaka matano (Oryzias matanensis) merupakan salah satu jenis ikan perairan tawar yang hidup dan bersifat endemik di Danau Matano. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran histopatologi hati dan usus dari ikan pangkilan bare. Sampel yang digunakan sebanyak 6 ekor ikan pangkilan bare dengan ukuran 47,77- 49,74 mm dengan rata-rata 48,36 mm ± 0,74 mm. Preparat organ (hati dan usus) difiksasi menggunakan formalin 10%, dehidrasi menggunakan alkohol bertingkat, embedding dengan menggunakan paraffin, pemotongan dengan ketebalan 5 µm yang diwarnai dengan menggunakan haematoksilin eosin kemudian diberi canada balsam lalu covering. Selain pembuatan preparat histopatologi organ juga dilakukan pengukuran terhadap kadar logam dan sedimen yang terkandung dalam perairan danau Matano. Analisis data yang digunakan adalah dekriptif kualitatif.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh kerusakan atau histopatologi yang terjadi pada organ hati yaitu berupa hemoragi,nekrosis,degenerasi lemak,degenerasi hidropik,sel hepatosit yang lisis dan jaringan ikat serta melanomacrophage.

Sedangkan pada usus sudah tidak jelas pembatas antara otot sirkular dan longitudinal. Hasil pengukuran kadar logam air danau Matano mengandung besi (Fe) <0,03 mg/L dan nikel (Ni) <0,07 mg/L. Hasil pengukuran kadar logam pada sedimen danau Matano mengandung besi (Fe) 3,08% dan nikel (Ni) 0,15%, hasil pengukuran tersebut rata-rata diatas ambang batas. Oleh karena itu, tingginya konsentrasi logam diduga memiliki hubungan dengan abnormalitas jaringan organ ikan yang diobeservasi dalam penelitian ini.

Kata kunci : Hati, histopatologi, pangkilan bare, matano, usus

(6)

vi

ABSTRAK

UMMI FAHMI. Histopathological View of Liver and Intestinal Fish Pangkilan Bare (Oryzias matanensis) in Matano Lake East Luwu South Sulawesi That Contaminated by Heavy Metals Nickel and Iron. Under the supervisior DWI KESUMA SARI and SHELLY SALMAH.

Pangkilan Bare or Medaka matano (Oryzias matanensis) is a freshwater species of fish that lives and is endemic to Lake Matano. As for the purpose of this research is to know the description of the histopathology of liver and intestines of fish pangkilan bare. The sample used as many as 6 fish pangkilan bare with size approx 47,77 – 49,74 mm with average 48,36 mm ± 0,74 mm.

Preparations of organs (liver and intestine) fixation use formaline, dehydration 10% using alcohol multilevel, embedding with the use of paraffin, cutting with a thickness of 5 µm are stained using haematoksilin eosin given canada balsam and then covering. Besides making preparations histopathology of organs also conducted measurements against the levels of metals and sediments contained in the waters of Lake Matano. The analysis of the data used is qualitative descriptive. Based on the observations obtained damages or histopathology of organs that occurs in the liver that is in the form of hemoragi, necrosis, fatty degeneration, degeneration of the hepatocyte cell hidropik, lysis and connective tissue as well as melanomacrophage. While in the gut is no clear dividing line between the circular and longitudinal muscles. The results of measurements of the levels of Lake Matano metal contains iron (Fe) < 0.03 mg/L and nickel (Ni) <

0.07 mg/l. results of measurements of the levels of metals in sediments of Lake Matano contains iron (Fe) and 3.08% nickel (Ni) 0.15%, the results of the measurements of the average above a threshold . Therefore, the high concentration of metal thought to have ties with a fish organ tissue abnormality diobeservasi in this study.

Key words: Histopathology, intestinal, liver, matano, pangkilan bare

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pemilik Kekuasaan dan Rahmat, yang telah melimpahkan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Gambaran Histopatologi Hati dan Usus Ikan Pangkilan bare (Oryzias matanensis Aurich,1935) yang Tercemar Logam Berat Nikel dan Besi di Danau Matano Luwu Timur Sulawesi Selatan” ini. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, sejak persiapan, pelaksanaan hingga pembuatan skripsi setelah penelitian selesai.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat dalam menempuh ujian sarjana kedokteran hewan. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan yang dimiliki penulis. Namun adanya doa, restu dan dorongan dari orang tua yang tidak pernah putus menjadikan penulis bersemangat untuk melanjutkan penulian skripsi ini. Untuk itu dengan segala bakti penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka: ayahanda Kalla HB, ibunda Indo Tang, adinda Muhammad Yusril.

Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, motivasi dan dorongan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M (K), MMed.Ed., selaku dekan fakultas kedokteran.

2. Dr. Drh. Dwi Kesuma Sari sebagai pembimbing skripsi utama serta dr. Shelly Salmah, M. Kes sebagai dosen pembimbing skripsi anggota yang tak hanya memberikan bimbingan selama masa penulisan skripsi ini, namun juga menjadi tempat penulis berkeluh kesah.

3. Prof. Dr. Ir. Sharifuddin Bin Andy Omar M.Sc dan dr. Triany Hastuti,H, Sp.KK,M.Kes sebagai dosen pembahas dan penguji dalam seminar proposal dan hasil yang telah memberikan masukan-masukan dan penjelasan untuk perbaikan penulisan ini.

4. Prof.Dr.Ir.H.Ambo Ala,Ms. sebagai keluarga yang selalu memotivasi dalam segala hal tentang perkuliahan dan cita-cita penulis.

5. Dosen pengajar yang telah banyak memberikan ilmu dan berbagi pengalaman kepada penulis selama mengikuti pendidikan di PSHK UH. Serta staf tata usaha PSKH UH khususnya Ibu Tuti dan Pak Akram yang mengurus kelengkapan berkas.

6. Kakanda Andi Rezky Muwardani, Nurfadilla Sultan dan Faradilla Nur Aliah yang senantiasa mendampingi dan memberikan bantuan selama proses meneliti di Laboratorium Klinik Hewan Pendidikan Universitas Hasanuddin serta Muh.Fauzih Asjikin dan Andi Muh. Anugrah yang dalam membantu dalam memperbaiki penulisan skripsi.

7. Windu Sari Asih SL, sebagai teman seperjuangan dalam meraih gelar sarjana, mulai dari proposal, penelitian hingga hasil.

8. Teman seperjuangan, suka dan duka, berbagi cerita: Fidia Fasirah Jafar, Milawarni, Hani Damayanti, Mirna Mualim, Nurul Wahida Tahang,

(8)

viii Nurmaulia, Wastuti aritonang, Anggun Widja Arlin terima kasih atas dukungan dan kesediannya untuk selalu mendengarkan keresahan penulis.

9. Teman curhat dan berbagi pengalaman: A. Nurafia Alfionita, St.Rosmanelly SKM, Darmawati, St. Masita, Asti Ramadana terima kasih untuk dukungan dan doanya untuk penulis.

10. Terima kasih kepada adinda Muh.Alif Munir, Hafidin Lukman, Syamsul Arif, Rahmat Fauzy, A.Muh.Nazar Mahatir, Ali Haqqi yang selalu mendukung pada pemilihan Duta Veteriner serta Nursulalatin Umar, Alya Amali Taswi yang selalu menjadi tim dalam lomba kepenulisan.

11. Teman seangkatan 2014 ‘ROLLVET’,yang menjadi keluarga baru buat peneliti yang sudah berbagi canda dan tawa serta persahabatan yang luar biasa selama 4 tahun bersama berjuang meraih sarjana.

12. Terima kasih kepada teman-teman dari Organisasi Hipermawa, Imakahi, Himakaha, Ukm Kpi Unhas serta Komunitas Peduli Anak Jalanan Makassar.

13. Terima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah ikut menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar dalam penyusunan karya berikutnya dapat lebih baik. Akhir kata, semoga karya ini dapat bermanfaat bagi setiap jiwa yang bersedia menerimanya.

Makassar, 19 Juli 2018

UMMI FAHMI

(9)

ix DAFTAR ISI

Nomor Halaman

HALAMAN PENGESAHAN iii

PERNYATAAN KEASLIAN iv

ABSTRAK v

ABSTRACT vi

KATA PENGANTAR vii

DAFTAR ISI ix

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR LAMPIRAN xii

1. PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Rumusan Masalah 2

1.3. Tujuan Penelitian 2

1.4. Manfaat Penelitian 2

1.5. Hipotesis 2

1.6. Keaslian Penelitian 2

2. TINJAUAN PUSTAKA 3

2.1. Danau Matano 3

2.2. Pangkilan bare (Oryzias matanensis) 3

2.3. Hati 4

2.4. Usus 6

2.5. Kerusakan akibat Logam Berat Nikel dan Besi 7

2.5.1 Besi (Fe) 7

2.5.2 Nikel (Ni) 8

3. METODOLOGI PENELITIAN 9

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian 9

3.2. Jenis dan Metode Pengambilan Sampel 9

3.3. Materi Penelitian 9

3.4. Metode Penelitian 9

3.4.1 Pengambilan Sampel 9

3.4.2 Pembuatan Sedian Histologi 10

3.4.3 Pengamatan Mikroskop 11

3.5 Analisis Data 11

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 12

4.1 Hasil Uji Air / Kadar logam dan Sedimen 12

4.2 Pengamatan Mikroskopis 13

4.2.1 Hati 13

4.2.2 Usus 15

5. PENUTUP 18

5.1 Kesimpulan 18

5.2 Saran 18

DAFTAR PUSTAKA 19

LAMPIRAN 23

GLOSARIUM 32

RIWAYAT HIDUP 36

(10)

x DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Hasil uji air besi dan nikel Danau Matano 12

2. Hasil uji logam sedimen besi dan nikel Danau Matano 12 3. Prosedur tissue processor dan pengaturan waktu 24

4. Tahap pewarnaan hematoxylin eosin 25

(11)

xi DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Oryzias matanensis Aurich, 1935 4

2. Gambaran histologis hati Oreochromis nilloticus 5

3. Histologi usus ikan gabus 6

4. Peta titik sumasang 1 letak pengambilan sampel 9

5. Pengukuran panjang ikan pangkilan bare 12

6. Gambaran mikroskopik hati ikan 1 13

7. Gambaran mikroskopik hati ikan 2 14

8. Gambaran mikroskopik hati ikan 3 14

9. Usus tampakan pembatas otot longitudinal dan sirkular yang tidak jelas

15

(12)

xii DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Tahapan persiapan dan pembuatan preparat histologi 23

2. Dokumentasi kegiatan penelitian 27

3. Hasil pemeriksaan air danau matano 30

4. Hasil pemeriksaan sedimen danau matano 31

(13)

1

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Danau Matano merupakan danau di wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, mempunyai tingkat endemis yang tinggi sehingga banyak menyimpan variasi biota. Perbedaan ketinggian danau ini dengan danau sekitar juga menjadi penentu bagi migrasi organisme antar danau terutama dari arah hilir menuju bagian hulu sehingga hal ini yang menjadi faktor yang menimbulkan pola penyebaran atau distribusi organisme yang unik dan memiliki spesies yang endemik (Nontji, 2016). Berdasarkan hasil riset salah satu ikan endemik di D. Matano, yaitu ikan Oryzias matanensis (Hadiaty dan Wirjoatmodjo, 2002). Oryzias matanensis mempunyai 41 - 47 deret sisik sepanjang badan, panjang total 4,5 - 5,5, sirip ekor agak cekung, memiliki pola pewarnaan khusus pada ikan jantan. Mata berwarna biru, sirip punggung, anal, ekor,dan sirip perut kehitaman. Ikan betina memiliki warna coklat yang lebih terang pada kepala dan tubuh serta mata berukuran besar.

Nilai ekonomis dari ikan yaitu sebagai ikan hias (Haryono, 2006). Akan tetapi populasi dari ikan ini semakin berkurang diakibatkan oleh adanya limbah industri (Hadiaty dan Wirjoatmodjo, 2002).

Limbah industri yang dapat mengancam organisme air yaitu logam berat.

Senyawa logam dapat masuk dengan sangat cepat dan mudah dalam tubuh dan dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh organisme air. Selain itu juga dapat menjadi racun bagi manusia jika dikonsumsi. Proses akumulasi logam dalam jaringan terjadi setelah penyerapan logam dari air atau melalui pakan yang terkontaminasi. Logam diserap oleh darah, mengikat protein darah yang kemudian didistribusikan keseluruh jaringan tubuh. Hati merupakan organ yang sangat penting dalam sistem metabolisme tubuh karena mampu menjadi indikator apabila terjadi gangguan patologi utamanya gangguan patologi yang diakibatkan oleh logam berat yang terkandung dalam ekosistem perairan, akumulasi tertinggi terdapat diorgan detoksikasi (hati) (Palar, 1994). Sedangkan usus merupakan bagian saluran pencernaan yang berfungsi untuk menyerap sari-sari makanan sehingga gangguan pada organ ini dapat berakibat fatal bagi pertumbuhan ikan.

Walaupun jarang ditemui gangguan yang berakibat pada kematian tetapi beberapa penyakit ikan berakibat buruk pada keseluruhan nilai produksinya. Oleh karena itu pengetahuan tentang kondisi tidak normal organ usus sangat penting untuk pengelolaan kesehatan ikan itu sendiri (Susanto, 2008).

Kepunahan atau penurunan populasi yang disebabkan oleh beberapa faktor penyebab dapat diketahui melalui gambaran histopatologi dari organ yang berfungsi dalam metabolisme dan kelangsungan hidup suatu individu. Melalui dengan hal itu kita dapat mengetahui jika terjadi penyakit atau kelainan pada tubuh individu tersebut, dari gambaran histopatologi dapat dilihat secara jelas kerusakan - kerusakan yang terjadi didalam tubuh kemudian dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang bisa menjadi faktor penentu atau penyebab sehingga keadaan patologi itu bisa terjadi. Informasi mengenai organ ikan pangkilan bare secara mikroskopik sampai saat ini belum ada. Metode yang umumnya digunakan untuk mengetahui hal tersebut adalah bedah bangkai dan untuk mengamati gambaran histopatologi dilakukan dengan mengambil preparat histologi dari hati dan usus.

(14)

2

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran histopatologi hati dan usus ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) yang tercemar logam berat ?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui gambaran histopatologi hati dan usus ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) di D. Matano yang tercemar logam berat.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini terbagi menjadi manfaat pengembangan teori dan aplikatif :

1.4.1 Manfaat pengembangan ilmu teori

Sebagai tambahan pengetahuan dan pustaka mengenai ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) yang merupakan salah satu hewan endemik Sulawesi Selatan.

1.4.2 Manfaat untuk aplikasi a. Untuk peneliti

Melatih kemampuan meneliti dan menjadi acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

b. Untuk masyarakat

Sebagai rujukan untuk penelitian selanjutnya tentang gambaran histopatologi pangkilan bare (Oryzias matanensis) dan membantu dalam penyampaian informasi maupun penanganan kasus yang berkaitan dengan kelainan-kelainan yang terjadi pada tubuh pangkilan bare (Oryzias matanensis).

1.5 Hipotesis

Menurut peneliti hati dan usus pada ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) mengalami perubahan gambaran histopatologi akibat adanya cemaran logam berat.

1.6 Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai gambaran histopatologi hati dan usus ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) belum pernah dilakukan. Penelitian yang berkaitan dengan pangkilan bare (Oryzias matanensis) sebelumnya hanya habitat dan ekologi yang dilakukan oleh Kottelat, M. dengan judul “Oryzias matanensis”.

(15)

3

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Danau Matano

Danau Matano merupakan salah satu danau tua di dunia yang terdapat di Sulawesi. Danau tua yaitu danau yang telah ada sejak masa Pliosin, yang memiliki posisi di atas patahan atau sesar aktif (Nontji, 2016). Danau Matano merupakan satu dari lima danau yang dikenal dengan nama Malili Lakes yang berada di wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Danau ini terletak 382 m dari permukaan laut, panjangnya sekitar 3l km dan lebar 6,5 km, luas mencapai sekitar 164 km2, sedangkan kedalamannya mencapai 590 m (Hadiaty dan Wirjoatmodjo, 2002).

Danau Matano adalah danau yang terdalam di Indonesia serta merupakan danau terdalam nomor delapan di dunia, yaitu dengan kedalaman 590 m (Crowe et al., 2008).

Tingkat endemis yang tinggi di danau ini menyimpan banyak variasi biota dengan adanya perbedaan ketinggian setiap danau satu dengan lainnya menjadi penghalang atau menjadi penentu bagi migrasi organisme antar danau terutama dari arah hilir menuju bagian hulu sehingga menjadi faktor yang menimbulkan pola penyebaran atau distribusi organisme yang unik, beberapa danau yang berada di komples D. Matano memiliki spesies endemik sendiri. Kekayaan variasi spesies endemik danau ini dikenal sebagai laboratorium alam yang super (Nontji, 2016).

Meskipun D. Matano dicirikan dengan tingkat endemik yang sangat tinggi, kekayaan spesies dan endemisitas tidak diimbangi oleh tingkat produktivitas yang tinggi. Tanaman yang terdiri dari fitoplankton di D. Matano sangat rendah (0,013 mg L21), bahkan dibandingkan dengan danau ultraoligotrophic seperti Great Bear Lake (0,06-0,09 mg L21) di Kanada Arctic, telah diusulkan bahwa level rendah produksi primer di D. Matano (Crowe et al., 2008).

Tingkat endemis yang tinggi di D.Matano terancam pencemaran yang berasal dari darat, pertambangan nikel oleh PT.Vale Indonesia di Soroako memberikan dampak pada keadaan danau ini, selain itu terdapat pula pembalakan liar yang sulit untuk dikendalikan, serta adanya eksploitasi berlebihan pada ikan endemik yang dijadikan ikan hias, diekspor dalam jumlah yang besar (Nontji, 2016).

Spesies ikan - ikan endemik yang terdapat di danau Malili sudah masuk dalam kategori rentan punah sampai kategori resiko tinggi untuk terancam punah (Andy Omar, 2012). Menurut Haffner et al. (2001), habitat utama ikan-ikan endemik D.

Matano terus mendapat tekanan dari berbagai aktivitas yang berlangsung disekitar danau. Beberapa aktivitas yang merupakan ancaman potensial bagi ekosistem danau dengan fauna akuatik endemiknya adalah (1) pembukaan lahan pertambangan, permukiman, jalan, perkebunan, (2) perubahan sistem hidrologi danau dan sungai Petea akibat pelurusan dan pembendungan sungai, (3) limbah rumah tangga dan minyak dari mesin perahu, dan (4) introduksi ikan.

2.2 Pangkilan bare (Oryzias matanensis)

Indonesia memiliki Oryzias sp. yang khas, diantara pulau yang mempunyai sebagian besar jenisnya yaitu pulau Sulawesi yang berasal dari danau atau rawa.

Jenis dari genus Oryzias yang endemik Sulawesi adalah Oryzias celebensis (Sulawesi S.), O. marmoratus (Danau Towuti, Mahalona, Lantoa), O. matanensis (Danau Matano), O. profundicula (Danau Towuti), O. nigrimas dan Orthognatus

(16)

4

(Danau Poso), dan yang terbaru adalah O. woworae (P. Muna) dan Oryzias hadiatyae (Danau Masapi). Hanya O. javanicus yang tersebar di Sundaland, Sulawesi, Lombok (Kottelat et al., 1993). Oryzias sp. sudah mulai digunakan sebagai hewan percobaan. Beberapa medaka mutan spesies ikan juga telah dibuat untuk skrining obat diabetes, kanker, terutama kanker kulit dan penyakit degeneratif lainnya (Sari et al., 2018).

Adapun klasifikasi dari Oryzias matanensi yaitu (Nelson, 1994):

Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata Superclass : Gnathostoma Grade : Teleostomi Class : Actinopterygii Subclass : Neopterygii Division : Teleostei Subdivision : Euteleostei Superorder : Acanthopterygii Ordo : Beloniformes Familia : Adrianichthyidae Genus : Oryzias

Species : Oryzias matanensis Aurich,1935

Gambar 1. Oryzias matanensis Aurich,1935 (Makmur et al., 2017).

Oryzias matanensis mempunyai 41- 47 deret sisik sepanjang badan, panjang total 4,5 - 5,5, sirip ekor agak cekung, memiliki pola pewarnaan khusus pada ikan jantan. Ikan jantan berwarna coklat keabuan pada bagian kepala dan badan, dengan bintil-bintil berwarna hitam memanjang secara vertikal. Beberapa bintil yang lebih kecil menyebar acak pada tubuh. Mata berwarna biru, sirip punggung, anal, ekor, dan sirip perut kehitaman. Ikan betina memiliki warna coklat yang lebih terang pada kepala dan tubuh. Mata berukuran besar. Nilai ekonomis dari ikan yaitu sebagai ikan hias (Haryono, 2006).

2.3 Hati

Hati mempunyai peran kunci dalam sintesis protein plasma, seperti albumin dan fibrinogen. Hati ikan memiliki fungsi yang hampir sama dengan mamalia, mencakup produksi empedu, asimilasi nutrisi, detoksifikasi, pemeliharaan

(17)

5

homeostasis metabolism tubuh yang meliputi pengolahan karbohidrat, protein, lipid dan vitamin. Histologi hati bervariasi diantara spesies, tetapi ada fitur umum yang ditemukan disebagian besar spesies (Genten et al., 2009). Permukaan hati diselubungi oleh membran sereous dan beberapa jaringan penghubung dari kapsul ini memanjang hingga parenkima. Struktur lobular terdiri sebuah vena kecil pada bagian tengah yang terlihat di hati vertebra tingkat tinggi. Pada ikan struktur ini sangat tergantung dari jenis spesies dan pada umumnya tersembunyi atau tidak terlihat. Sel hepar berbentuk lingkaran polygonal yang terdiri atas spherical nucleus yang jelas biasanya terdapat satu inti. Mitokondria, aparatus golgi, reticulum endoplasmic, dan organel dasar berada di sitoplasma. Biasanya terdapat sejumlah besar lemak dan glycogen yang diamati di sitoplasma ikan. Maka dari itu, biasanya metode parafin embedding dan staining menyebabkan timbulnya struktur vakuola pada sel (Hibiya et al., 1982).

Hepatosit adalah sel besar yang biasanya memiliki pusat inti menunjukkan nukleolus yang menonjol (Gambar 2). Sinusoid dilapisi oleh sel endotel yang inti yang memanjang dan menonjol ke dalam lumen sinusoidal. Endothelium yang terpenetrasi oleh pori-pori kecil (Genten et al., 2009).

Gambar 2.Gambaran histologis hati Oreochromis nilloticus kelompok kontrol: a.

hepatosit, b. sitoplasma, c. inti sel, d) sinusoid (HE, 400x) (Jannah et al., 2017).

Hati dapat dikategorikan sebagai organ yang sensitif terhadap perubahan konsentrasi senyawa-senyawa kimia di dalam tubuh, maka efek dari bahan - bahan kimia yang berlebihan maupun kekurangan akan jelas terlihat pada keadaan morfologi, anatomi, dan histologis dari hati. Jika terdapat zat toksik maka dapat mempengaruhi struktur histologi hati sehingga mengakibatkan patologis hati seperti rangkaian nekrosis, pembengkakan sel, degenerasi intralobular dan fokalnekrosis, fibrosis, dan cirrhosis (Yuniar, 2009). Kemampuan kerja hati untuk mengeleminasi toksik dapat menurun karena tingginya logam berat yang masuk ke dalam organ karena itulah organ hati sangat rentan terhadap pengaruh zat kimia dan merupakan organ tubuh yang sering mengalami kerusakan dan kelainan struktur histologi hati (Pikturalistiik, 2013).

(18)

6

2.4 Usus

Usus adalah organ utama pencernaan makanan dan penyerapan nutrisi.

Panjang usus setiap ikan berbeda-beda tetapi kebanyakan usus ikan merupakan suatu tabung sederhana yang tidak dapat bertambah diameternya untuk membentuk suatu kolon dibagian belakangnya serta merupakan organ yang terpanjang dari saluran pencernaan pada bagian depan usus terdapat dua saluran yang masuk ke dalam, yaitu saluran yang berasal dari pankreas. Ikan yang pankreasnya menyebar pada organ hati hepatopankreas hanya terdapat satu saluran yaitu ductus choledochus. Adapun lapisan mukosa usus tersusun oleh selapis sel epitelium dengan bentuk prismatik, terdapat pula otot yang memanjang dan otot yang melingkar serta inti sel otot dan serabut otot (Gambar 3). Bentuk sel umum ditemukan pada epitelium usus adalah enterosit dan mukosit. Enterosit merupakan sel yang paling dominan dan diantara enterosit terdapat mukosit, (Yushinta, 2004).

Gambar 3. Histologi usus ikan gabus. A. Usus, B. Mukosa usus, C. Muskularis usus. Tunika mukosa (M), tunika submukosa (SM), tunika muskularis (MK), tunika serosa (S) Lamina epitelia (LE), lamina propria (LP), mikrovili (MV) sel goblet (SG) ), otot melingkar (OS), otot memanjang (OL), inti sel otot (IS), dan serabut otot (SO) (HE) Skala garis 200 dan 30 μm (Nafis et al., 2017).

Saluran pencernaan ikan terutama usus mengalami perubahan degeneratif yaitu nekrosa sel-sel epitel mukosa, atropi sel-sel epitel mukosa, dan deskuamasi sel epitel yang disertai infiltrasi sel limfosit ke lapisan lamina propia dan sub mukosa. Terdapat pula dilatasi lumen usus, perdarahan, dan kongesti atau pembendungan pembuluh darah. Hal ini bisa terjadi karena parasit atau benda asing lainnya. Infiltrasi sel limfosit, leukosit, dan hipertrofi jaringan ikat akan mengikuti kelainan ini. Hipertrofi lapisan mukosa juga dapat terjadi sehingga lumen akan menyempit karena vili-vili usus akan menebal. Pada kondisi kronis hal ini dapat menyebabkan hiperplasia sel-sel goblet yang jumlahnya akan meningkat drastis. Beberapa kasus tumor lapisan usus dan kelenjar pencernaan dapat kita temukan juga pada tampilan histopatologinya (Hibiya, 1995).

(19)

7

2.5 Kerusakan Organ Akibat Logam Berat

Logam berat terdiri dari logam essensial dan logam non essensial. Logam non essensial merupakan logam yang peranannya dalam tubuh makhluk hidup belum diketahui, kandungannya dalam jaringan hewan sangat kecil, dan apabila kandungannya tinggi akan dapat merusak organ-organ tubuh makhluk yang bersangkutan. Logam essensial adalah logam yang sangat membantu dalam proses fisiologis makhluk hidup dengan jalan membantu kerja enzim atau pembentukan organ dari makhluk yang bersangkutan (Darmono, 1995). Pada umumnya respon tubuh pada agen toksik dapat menyebabkan terjadinya inflamasi, hemoragi, edema dan nekrosa. Inflamasi merupakan suatu respon pertahanan jaringan yang rusak dan terjadi pada semua vetebrata (Roberts, 2001).

Menurut Spector (1993), inflamasi dapat akut yaitu umurnya pendek atau kronis yaitu berkepanjangan, tergantung kepada derajat luka jaringan. Edema merupakan suatu kondisi dimana meningkatnya jumlah cairan dalam kopartemen jaringan interseluler (Underwood, 1992). Hemoragi adalah kondisi yang ditandai dengan keluarnya darah dari dalam vaskula akibat dari kerusakan dinding vaskula(Smith and Jones, 1961). Nekrosa merupakan jenis kematian sel ireversibel yang terjadi ketika terdapat cidera berat atau lama hingga suatu saat sel tidak dapat beradaptasi atau memperbaiki dirinya sendiri (Price and Wilson 2006).

Insang, hati dan ginjal merupakan organ yang sangat penting dalam tubuh ikan. Ketiganya memiliki peran yang penting dalam metabolisme ikan. Menurut Rajamanickam dan Muthuswamy (2008), paparan logam berat yang melebihi ambang toleransi organ tubuh hewan air akan menghambat aktifitas enzim alkaline phosphatase, alanine aminotransferase, aspartate aminotransferase and lactate dehydrogenase terhambat. Sel jaringan organ insang, hati, usus, kulit dan otot sangat peka terhadap toksisitas logam berat.

Menurut Palar (1994), keberadaan dari suatu toksikan dapat mempengaruhi kerja dari enzim-enzim biologis. Toksikan ini mempunyai kemampuan berikatan dengan enzim, ikatan ini terjadi karena logam berat mempunyai kemampuan untuk menggantikan gugus logam yang berfungsi sebagai co-faktor enzim. Akibat dari terbentuknya ikatan antara substrat enzim dan logam berat akan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan dalam sistem fisiologis. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar dari munculnya penyakit sebagai manifestasi dari keracunan oleh toksikan. Kerusakan atau histopatologi yang dapat terjadi pada organ yaitu dapat berupa atropi, hipertropi, hyperplasia, edema, peradangan glomerulus, gumpalan darah, jaringan ikat, nekrosis, claudy swelling (Tresnati, 2007).

2.5.1 Besi

Besi mengandung tersuspensi dan berwarna kecoklatan. Suspensi yang terbentuk akan segera menggumpal dan mengendap di dasar badan air (Suciastuti dan Sutrisno, 2002). Besi (Fe) termasuk dalam golongan logam transisi. Suatu sifat khas logam ini, ialah kebanyakan logam ini cenderung untuk memperlihatkan beberapa keadaan oksidasi. Sifat-sifat yang lain adalah unsur- unsur transisi memiliki orbital d atau f yang belum terisi penuh (Syam, 2004). Zat besi (Fe) merupakan suatu komponen dari berbagai enzim yang mempengaruhi seluruh reaksi kimia yang penting di dalam tubuh meskipun sukar diserap (10- 15%). Besi juga merupakan komponen dari hemoglobin yaitu sekitar 75%, yang

(20)

8

memungkinkan sel darah merah membawa oksigen dan mengantarkannya ke jaringan tubuh (Admin, 2009). Logam besi (Fe) sebenarnya adalah mineral yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hemoglobin, terdapat pada buah, sayuran, serta suplemen makanan (Pratama et al., 2012).

Buangan industri yang mengandung persenyawaan logam berat Fe bukan hanya bersifat toksik terhadap tumbuhan tetapi juga terhadap hewan dan manusia.

Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat yang sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit dihilangkan, dapat terakumulasi dalam biota perairan termasuk kerang, ikan dan sedimen, memiliki waktu paruh yang tinggi dalam tubuh biota laut serta memiliki nilai faktor konsentrasi yang besar dalam tubuh organisme. Logam Fe merupakan logam essensial yang keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah berlebih dapat menimbulkan efek racun. Tingginya kandungan logam Fe akan berdampak terhadap kesehatan manusia diantaranya bisa menyebabkan keracunan (muntah), kerusakan usus, penuaan dini hingga kematian mendadak, radang sendi, cacat lahir, gusi berdarah, kanker, sirosis usus, sembelit, diabetes, diare, pusing, mudah lelah, hepatitis, hipertensi, insomnia (Parulian, 2009).

2.5.2 Nikel

Nikel dapat meracuni darah ikan, menyebabkan gangguan saraf, kerusakan hati, kerusakan insang, dan lain-lain. Menurut Connel and Miller (1995), terdapat pengaruh toksik Ni pada ikan salmon. Pada kadar 1200 ppb (1,2 ppm) logam Ni dapat mematikan 50% embrio dan larva kerang Crassostrea virginica (LC50, 24 jam), dan pada kadar 1300 ppb (1,3 ppm) dan 5700 ppb) (5,7 ppm) dapat mematikan 50% embrio dan larva kerang Marcenaria. Nilai LC50 nikel terhadap beberapa jenis ikan air tawar dan ikan air laut berkisar 1 – 100 ppm. Peningkatan kesadahan, pH, dan konsentrasi bahan toksik memberikan pengaruh signifikan terhadap konsentrasi LC50 ikan. Pada perairan yang berkesadahan lunak (soft hardnes), nikel akan bersifat lebih toksik. Sifat 2 toksik akan berkurang seiring dengan meningkatnya kesadahan. Dengan demikian, Ni akan lebih toksik pada ikan yang dibudidayakan di air tawar, dibanding yang dibudidayakan di air payau atau laut yang kesadahannya lebih tinggi (Isaac, 2009).

Logam berat seperti nikel merupakan salah satu jenis logam berat yang bersifat toksik, nikel dapat meracuni darah, menggangu sistem pernafasan, merusak jaringan, selaput lendir, mengubah system sel dan kromosom. Oleh karena itu sejak 2006 masyarakat Uni Eropa telah mengusulkan ke WTO untuk menetapkan nikel sebagai dangerous substance. Kematian ikan akibat logam berat hal ini disebabkan bereaksinya kation dengan oksigen dan fraksi tertentu dari lender dan mengganggu proses biokimia yang terjadi didalam darah (Sabilu, 2010).

(21)

9

3. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini berlangsung pada bulan Maret sampai Apri 2018. Tempat penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik Hewan Pendidikan Universitas Hasanuddin.

3.2 Jenis Penelitian dan Metode Pengambilan Sampel

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah selektif. Sampel diambil dengan cara menangkap secara langsung dan terlebih dahulu melakukan penyelaman di daerah populasi ikan pangkilan bare dengan menggunakan jaring. Sampel diperoleh dari hasil tangkapan nelayan yang berasal dari D. Matano yakni pada daerah Sumasang 1 (Gambar 4).

Gambar. 4 Peta titik Sumasang 1 letak pengambilan sampel ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) (Tantu, 2012).

3.3 Materi penelitian

Dalam penelitian ini digunakan ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) sebanyak 6 ekor. Sampel yang digunakan adalah ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) dengan ukuran 4,5 cm. Alat penelitian yang digunakan antara lain : pinset anatomi one med®, skapel one med®, gunting one med®, kertas label, nampan, mikrotom, spoit 1 cc one med ®, pipet tetes, objek glass, cover glass dan mikroskop olympus, tissue cassette, cetakan jaringan, kaset pink. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain: aquades, alkohol 70%, alkohol 80%, alkohol 90%, alkohol 95%, alkohol 100%, formalin10%, xylol, parafin dan pewarnaan histologi hematoksilin eosin.

3.4 Metode penelitian 3.4.1 Pengambilan Sampel

Ikan Pangkilan bare (Oryzias matanensis) diambil oleh nelayan setempat dengan dengan cara menangkap secara langsung dengan menggunakan jaring,

(22)

10

terlebih dahulu melakukan penyelaman di daerah populasi ikan pangkilan bare.

Kemudian disimpan dalam suatu wadah yang telah diisi dengan air dari D.

Matano. Kemudian pangkilan bare (Oryzias matanensis) dimasukkan kedalam pot salep yang berisi formalin 10 % selama 2x24. Kemudian diukur panjang tubuhnya menggunakan jangka sorong (Gambar 5). Selanjutnya dinekropsi bagian dorsal dari ujung kepala dibuka dengan hati – hati selanjutnya membuka area abdomen. Pengamatan dilakukan pada organ hati serta usus pada area abdomen (Lampiran 4).

3.4.2 Pembuatan Sediaan Histologi

Pembuatan preparat histopatologi memiliki beberapa tahapan. Berikut merupakan tahapan pembuatannya :

1. Fiksasi

Dasar dari pembuatan preparat histopatologi yang baik dimulai dengan melakukan fiksasi yang benar pada ikan,yang telah dimasukkan dalam larutan formalin 10% selama 2 hari. Volume larutan formalin 10% minimal 10 kali volume jaringan.

2. Trimming

Selanjutnya melakukan nekropsi pada ikan dan memasukan organ yang telah difiksasi jaringannya ke dalam tissue cassette.

3. Prosessing dan embedding

Selanjutnya dilakukan prosessing dengan memasukkan tissue cassette ke dalam tissue processor. Jaringan yang ada dalam tissue cassette kemudian didehidrasi dengan memasukkan jaringan ke dalam larutan alkohol bertingkat yaitu alkohol 70%, 80%, 90%, 95%, 100%. Alkohol 70% sampai 80% masing- masing selama 1 hari. Kemudian 90% dan 95% masing-masing 12 jam.

Selanjutnya 100% (1) dan 100 % (2) masing masing 1 jam. Kemudian clearing ke dalam xylol I dan xylol II, masing – masing selama15 menit. Kemudian tahap infiltring yaitu tissue cassette dimasukkan ke dalam paraffin cair I dan II dengan suhu 56°C masing -masing selama 1 jam. Tahapan selanjutnya adalah embedding yaitu mencetak jaringan dalam paraffin cair dengan cara spesimen diletakan di atas cetakan lalu diisi dengan paraffin. Posisi spesimen yang akan dipotong harus menghadap ke bawah menempel pada cetakan. Kemudian diletakkan kaset pink diatas cetakan dan ditambahkan paraffin.

4. Pemotongan

Setelah preparat sudah bisa dipotong maka dilkukan pemotongan dengan mikrotom dengan ketebalan 5 mμ. Potongan jaringan kemudian ditaruh pada slide yang telah diberi aquades dan penomoran. Kemudian slide ditaruh di dalam inkubator bersuhu 40⁰ C selama 1 hari sebelum diberikan pewarnaan.

5. Pewarnaan

Jaringan direndam ke dalam larutan xylol I selama 30 menit kemudian direndam ke dalam larutan xylol II selama 30 menit, lalu dimasukkan ke dalam alkohol 100% I, 100% II, 95%, 80% dan 70% secara berurut masing-masing selama 1 menit. Selanjutnya direndam ke dalam aquades selama 15 menit agar pewarnaan haematoxylin eosin dapat menempel dengan baik. Kemudian dilanjutkan dengan memasukkan sediaan ke dalam larutan pewarna eosin selama 10 menit. Langkah berikutnya adalah sediaan dimasukkan ke dalam larutan alkohol 70%, 80%, 90%, 95%, 100%, 100%, xylol I, dan xylol II secara berurut

(23)

11

masing-masing selama 1 menit kecuali xilol I dan II masing-masing 30 menit (Lampiran 1). Setelah itu sediaan dikeringkan dan diberi perekat entelan 1-2 tetes, lalu ditutup dengan kaca penutup dengan hati-hati hingga tidak ada gelembung udara yang terbentuk, lalu disimpan selama beberapa menit sampai zat perekat mengering dan siap diamati dengan mikroskop.

3.4.3 Pengamatan Mikroskopik

Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop, dengan perbesaran lensa subjektif 10x serta lensa objektif 10x, dan 40x. Pengamatan dan pengambilan gambar dilakukan dengan menggunakan optik lens. Preparat histologi dari hati dan usus ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) kemudian diamati. Bagian yang diamati pertama adalah hati dengan melihat sel – sel hepatosit, sinusoid, pankreas yang terdapat didalam parenkim hati, dan perubahan patologi yang terjadi. Pada badan usus yang akan diamati adalah lamella usus dan gambaran patologi dari bagian – bagian penyusun organ tersebut.

3.5 Analisis Data

Analisa data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif. Pada metode ini akan menjelaskan mengenai gambaran histolopatologi dari hati dan usus ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis).

(24)

12

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Ikan Pangkilan bare yang digunakan sebagai objek penelitian pada penelitian ini yang berhasil diperoleh sebanyak 6 ekor dengan panjang dari semua ikan yang diamati memiliki ukuran yang bervariasi 47,77– 49,74 mm dengan rata-rata 48,36 mm ± 0,74 mm. Ikan yang menjadi objek penelitian merupakan ikan induk karena didapatkan ukuran yang sesuai dengan ikan indukan dan didapatkan telur didalam tubuh ikan pada proses nekropsi.

Gambar 5. Pengukuran panjang ikan pangkilan bare dengan bantuan jangka sorong

4.1 Hasil Uji Air/Kadar Logam dan Sedimen

Hasil uji air dan sedimen menunjukkan adanya pencemaran air pada daerah tersebut termasuk Nikel dan Besi. Pencemaran terjadi disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya limbah dari pabrik yang berada didekat danau tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada danau tersebut mengandung nikel sebanyak

<0.07, besi sebanyak <0.03mg/L, untuk nikel dan besi batas maksimumnya tidak diatur dalam peraturan Gubernur Sulsel Nomor 69 Tahun 2010.Namun keduanya merupakan logam berat yang terlarut dan keberadaannya tidak diperbolehkan ada dalam air bersih maupun ekosistem perikanan. Logam – logam tersebut diduga berasal dari limbah industry pertambangan disekitar danau. Selain itu, juga diduga berasal dari limbah masyarakat yang berada disekitar danau.

Tabel 1. Hasil uji air Danau Matano terhadap kandungan logam Parameter Satuan Hasil Syarat Mutu #) Metode Uji

I II

Besi (Fe) mg/L <0,03 0,3 - SNI 6989.4 : 2009 Nikel (Ni) mg/L <0,07 - - SNI 6989.18:2009

*)PERATURAN GUBERNUR SUL-SEL NO.69 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup, Lamp. No. I. A. Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup Berdasarkan Kelas.

Hasil pengujian kadar logam sedimen Ni dan Fe diperairan D. Matano, diperoleh hasil Fe 3,08% dan Ni 0,15% (Lampiran 3) pada Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup, Lampiran I. A. tentang Baku Mutu Air Laut dan Sedimen Laut Kadar standart Ni dan Fe pada sedimen tidak dicantumkan.

(25)

13

Tabel 2. Hasil uji kadar logam sedimen di perairan Danau Matano.

Parameter Satuan Hasil Metode Uji

Besi (Fe) % 3,08 AAS

Nikel (Ni) % 0,15 AAS

*)PERATURAN GUBERNUR SUL-SEL NO.69 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup, Lamp. No. I. A. Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup Berdasarkan Kelas.

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa keberadaan Fe dan Ni pada sedimen di perairan tidak diperbolehkan karena kedua logam berat ini tidak diperbolehkan ada pada air dan menimbulkan toksisitas pada perairan.

4.2 Pengamatan Histopatologi 4.2.1 Hati

Hasil penelitian (gambar 6) menunjukkan adanya degenerasi lemak dan degenarasi hidropik. Degenerasi merupakan tanda awal kerusakan akibat toksin yang bersifat sementara dan sel masih dapat pulih atau normal kembali apabila paparan toksin dihentikan. Degenerasi hidropik merupakan suatu keadaan dimana sitoplasma sel mengandung air akibat rusaknya membran sel. Menurut Underwood (1999), masuknya air ke dalam sitoplasma akibat dari rusaknya membran sel dan penurunan fosforilasi oksidatif, sehingga terjadi penurunan suplai ATP yang menyebabkan penurunan kerja pompa Na.

Gambar 6. Gambaran mikroskopik hati ikan 1 danau Matano. (A) Hemoragi, (B) Nekrosis, (C) Degenerasi Lemak, (D) Degenerasi Hidropik, HE, garis skala: 100 mikron.

Secara mikroskopis pada sel – sel yang mengalami degerasi hidropis terlihat adanya ruangan - ruangan jernih di sitoplasma namun tidak sejernih degenerasi lemak (Carlton and McGavin, 1995). Vakuola kecil bisa bersatu membentuk vakuola yang lebih besar sehingga inti sel terdesak ke tepi.

Degenerasi hidropik umumnya disebabkan oleh gangguan metabolisme seperti

A

B b

C

D

(26)

14

hipoksia karena pengaruh senyawa toksik terutama besi yang masuk ke dalam tubuh (Rusmiati, 2004). Terjadi pula degenerasi lemak yang tandai dengan adanya akumulasi lemak yang berada didalam sel. Menurut Carlton and McGavin (1995), terjadi akumulasi lemak karena adanya penurunan aktivitas enzim seluler sehingga terjadi ketidakmampuan jaringan non-adiposa untuk memetabolik sejumlah lipid. Degenerasi lemak ini terjadi pada hewan laut karena adanya jumlah toksik yang berlebihan, terutama akumulasi logam nikel yang menurunkan aktivitas enzim seluler, sehingga terbentuknya akumulasi lemak (Underwood, 1999).

Gambar 7. Gambaran mikroskopik hati ikan 2 danau Matano. (A) Nekrosis, (B) Melanomakrophagee, (C) Hemoragie. HE, garis skala: 100 mikron.

Melanomakrophage dapat diartikan sebagai sel yang berbentuk bulat padat yang memiliki jumlah pigmen yang bervariasi, terdapat pada ikan yang sehat akan tetapi jumlahnya meningkat pada kasus stress kronis. Pada hasil gambar 7 menunjukkan adanya Melanomakrophage yang berlebihan karena 54% gambar tersebut menujukkan adanya makrofag yang berlebihan. Melanomakrophage merupakan indikator stress kronis meskipun tidak selalu persisten (Noga, 2010).

Menurut Hadi et al. (2017), melanomakrophage adalah kumpulan dari makrofag yang berisi hemosiderin, lipofuschin dan seroid sama seperti pigmen melanin yang banyak ditemukan di dalam jaringan limfoid kebanyakan teleost yang diakibatkan oleh peradangan. Melanomakrophage jumlahnya akan bertambah pada keadaan patologis. Semakin padat populasi semakin tinggi jumlah melanomakrophage. Diperkirakan banyaknya jumlah melanomakrophage disebabkan oleh padatnya populasi ikan di D. Matano.

A

C B

(27)

15

Gambar 8.Gambaran mikroskopik hati ikan 3 danau Matano. (A) Dilatasi Sinusoid, (B). Nekrosis, (C) Hemoragie. HE, garis skala: 100 mikron.

Berdasarkan hasil penelitian (gambar 8) menunjukkan adanya dilatasi sinusoid. Sinusoid merupakan saluran darah yang berliku-liku yang dilapisi sel endotel bertingkap tidak utuh, yang dipisahkan dari hepatosit di bawahnya oleh ruang perisinusoidal. Dilatasi sinusoid (gambar 8) mengakibatkan, zat makanan yang mengalir di dalam sinusoid yang berliku-liku, menembus dinding endotel yang tidak utuh dan berkontak langsung dengan hepatosit. Pelebaran (dilatasi) sinusoid dapat terjadi karena adanya desakan pada dinding sinusoid akibat adanya zat toksik terutama timbal dan nikel (Novi, 2015).

Hasil gambar hati (gambar 6,7,8) menunjukkan adanya hemoragi.

Hemoragi atau pendarahan ditandai dengan adanya bintik darah dalam pembuluh darah. Hal ini sesuai dengan penelitian Triadayani et al. (2010) yang menyatakan bahwa pada pemaparan toksik terutama besi pada perbesaran 40x10 menunjukan terjadinya hemoragi, dikarenakan semakin meningkatnya zat toksik tersebut yang secara fisologis ada dalam jaringan. Terjadi pula nekrosis, yang ditandai dengan terjadinya kematian sel hati. Nekrosis diawali dengan terjadinya reaksi peradangan hati berupa pembengkakan hepatosit dan kematian jaringan. Nekrosis merupakan tahap lanjut dari degenerasi karena terlalu banyak bahan yang harus direabsorbsi kembali oleh sel - sel hepatosit sehingga terjadi kematian sel yang terjadi bersama dengan pecahnya membran plasma. Hal ini disebabkan jika lemak tertimbun dalam jumlah yang banyak sehingga mengakibatkan kematian sel - sel hati. Berdasarkan hasil penelitian El-Naggar (2009) yang melaporkan bahwa hati ikan Nila yang mengalami perubahan patologis berupa perlemakan sel dan nekrosis adalah akibat hati telah terakumulasi dengan logam berat (Fe,Cu,Zn,Mn,Pb dan Cd) serta pada penelitian Andini (2015) menyatakan bahwa hati ikan Butini mengalami degenerasi lemak, degenerasi hidropik, hipertropi sel dan sel-sel hepatosit yang telah nekrosis disebabkan oleh adanya logam berat besi dan nikel di D.Matano. Tingkat kerusakan hati dikategorikan menjadi tiga, tingkat ringan yaitu perlemakan hati yang ditandai dengan pembengkakan sel. Kerusakan tingkat sedang yaitu kongesti dan hemoragi, sedangkan tingkat berat ditandai dengan nekrosis (Darmono,1995). Pada penelitian ini, kerusakan gambaran jaringan hati ikan pangkilan bare termasuk tingkat kerusakan kerusakan berat.

A

C B

(28)

16

4.2.2 Usus

Gambar 9. A. Usus dengan tampakan pembatas otot longitudinal (eksternal) dan sirkular (internal) yang tidak jelas. B. Kerusakan pada vili usus. HE, garis skala: 100 mikron.

Berdasarkan hasil yang didapatkan pada gambar usus (gambar 9 ) terdapat tampakan pembatas otot longitudinal dan otot sirkular yang tidak jelas. Tunika muskularis usus terdiri dari otot polos sirkular (internal) dan otot polos longitudinal (eksternal). Pada penyempitan antara pars pilorus dan usus depan ikan pangkilan bare ditemukan otot polos longitudinal (internal) yang tipis dan sirkular (eksternal) yang tebal, mempunyai fungsi otot sfinter yang bekerja secara otonom. Ketebalan tunika muskularis usus ikan berbeda, yang paling tebal usus tengah dan yang paling tipis usus belakang. Tunika muskularis di usus tengah dapat berfungsi untuk menahan makanan agar tidak berjalan dengan cepat ke bagian usus yang lain, sehingga makanan dapat lebih lama mengalami proses pencernaan dan penyerapan di usus depan (Yusfiat et al.,2006). Tidak jelasnya pembatas atas antara otor sirkular dan otot longitudinal pada usus menujukkan bahwa otot yang menahan makanan agar tidak berjalan dengan cepat kebagian usus yang lain sudah mengalami kerusakan, sehingga proses pencernaan tidak berjalan dengan baik. Kerusakan yang terjadi selanjutnya adalah pada vili usus sudah tidak terlalu jelas dan mengalami kerusakan yang sangat parah, hal ini meyebabkan terjadinya gangguan pada proses penyerapan nutrisi, sehingga menimbulkan proses pertumbuhan dan reproduksi terganggu bahkan menyebabkan kematian. Kerusakan tersebut diduga akibat dari adanya paparan logam berat pada ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis). Dugaan ini diperkuat oleh Underwood (1999) yang menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi pada usus diakibatkan oleh paparan benda asing diantaranya toksik yang berlebihan didalam tubuh seta penelitian oleh Asri (2015) menemukan adanya kerusakan epitel usus dan terangkatnya vili usus dan lamina basalis pada usus ikan Dui-Dui yang tercemar logam berat nikel dan besi di Danau Matano. Pada kondisi kronis hal ini dapat menyebabkan hiperplasia sel-sel goblet yang jumlahnya akan meningkat drastis. Sel Goblet akan mengalami peningkatan bertujuan

A B

(29)

17

mempertahankan hidup dari adanya paparan toksik. Sel Goblet mensintesis dan mensekresikan glikoprotein dengan berat molekul tinggi yang disebut mucin (lendir). Produksi lendir dapat meningkatkan proteksi permukaan mukosa terhadap paparan benda asing.

Pada kondisi normal atau ikan sehat yang hidup di lingkungan yang mendukung, sel-sel, jaringan, organ maupun sistem tersebut bekerja secara sinergis dan mempunyai fungsi tertentu, bila sel tidak dapat bekerja dengan baik, maka jaringan akan terganggu dan gangguan pada jaringan ini akan mempengaruhi kinerja dari organ serta sistem pada tubuh ikan. Bila kinerja dari suatu sistem terganggu, maka kondisi tubuh ikan akanmenurun dan bahkan menimbulkan kematian. Abnormalitas pada kinerja dari bagian-bagian tubuh ikan tersebut dapat terjadi karena serangan penyakit ataupun perubahan lingkungan hidup ikan yang dapat mempengaruhi struktur sel dan jaringan. Perubahan struktur ini hanya dapat dilihat bila jaringan tubuh ikan tersebut diamati secara secara detail dengan menggunakan mikroskop (Asri, 2015).

(30)

18

5. PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Adapun yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah diperoleh kerusakan atau histopatologi yang terjadi pada organ hati yaitu berupa hemoragi,nekrosis,degenerasi lemak,degenerasi hidropik, sel hepatosit yang lisis dan melanomakrophage. Sedangkan pada usus sudah tidak jelas pembatas antara otot sirkuler dengan longitudinal dan kerusakan pada vili-vili usus. Dari hasil pengukuran kadar logam di danau tersebut mengandung nikel yang rata-rata menghampiri batas maksimum. Kerusakan-kerusakan yang terjadi diduga akibat paparan dari logam-logam berat yang terlarut dalam perairan ekosistem ikan tersebut yang telah melewati ambang batas.

5.2 Saran

Adapun saran dari penelitian ini adalah sebagai berikut diperlukan perhatian yang khusus untuk populasi ikan pangkilan bare (Oryzias matanensis) yang semakin menurun akibat tercemar oleh logam berat, kita harus menjaga dengan baik perkembangbiakan ikan yang merupakan ikan endemik Sulawesi Selatan yang terletak di Danau Matano. Perlunya penelitian lanjutan dengan melakukan perlakuan khusus agar penyebab dari perubahan histopatologi akibat dari suatu penyakit atau infeksidapat diketahui dengan pasti.

(31)

19

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2010. Penghilangan Besi (Fe) dan Mangan (Mn) dalam Air. Diakses melalui http://smk3ae.com/2010/08/28/ penghilangan-besi-fe-dan-mangan- mn-dalam-air-2/. pada tanggal 03 Maret 2018.

Andy Omar, S.Bin. 2012. Dunia Ikan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Alifia, F and M.I. Djawad. 2000. Kondisi Histologi Insang dan Organ dalam Juvenil Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forskall) yang Tercemar Logam Timbal (Pb). Diakses http: //www. pascaunhas.

net/jurnal_pdf/sci_1_2/frida.pdf. pada tanggal 01 Mei 2018.

Andini, N. S. 2015. Gambaran Histopatologi Insang, Hepatopankreas dan Usus Ikan Butini (Glossogobius matanensis, weber) di Danau Matano Luwu Timur Sulawesi Selatan yang Tercemar Logam Berat Nikel (Ni) dan Besi (Fe).[Skripsi]. Universitas Hasanuddin : Makassar.

Asri, A. 2015. Gambaran Histopatologi Usus Ikan Dui Dui (Dermogenys megarrhamphus) di Danau Matano Luwu Timur Sulawesi Selatan yang Tercemar Logam Berat Nikel (Ni) dan Besi (Fe). [Skripsi]. Universitas Hasanuddin: Makassar.

Caceci, T., H.A. El-Habback, and B.J.Smith. 1997.The stomach of Oreochomis niloticus has three regions. J.Fish Biol.50 : 939-952.

Caceci,T. 1984. Scanning electon microscopy of goldfish Carassius auratus intestinal mucosa. J.Fish Biol. 25 :117-122.

Carlton, W.M and M.D. Gavin. 1995. Thomson’s Special Veterinary Pathology.

2nd Edition. USA: Times Mirror Co

Carlton, W.W and Gavin. 1995. Special Veteinary Pathology. 2nd Edition. St.

Louis, Missouri : Mosby-Year Book, Inc.

Cheville, N.F. 2006. Cell Death and Cell Recovery. In: Introduction to Veterinary Pathology. Ed.3. United State of America: Blackwell Publishing

Connell, D.W., and G. J. Miller.1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran.

terjemahan yanti koestoer. Jakarta : UI press.

Crowe, S.A., H. O. N. Andrew, K. Sergei, H. Peter, H. G. Douglas, S. Bjorn, M.

Alfonso and A. F. David. 2008. The Biogeochemistry of Tropical Lakes: a Case Study from Lake Matano, Indonesia. Limnol Oceanogr. 53(1).319-331 Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Air. Jakarta: UI Press.

De Luiiss, Gerrardo and P. Dino. 2007. The Dissection of Vertebrae.University Toronto and George Brown College of Applied Arts and Technology.Elsevier.

El-Naggar, A.M., S.A. Mahmoud, S.I. Tayel. 2009. Bioaccumulation of some HeavyMetals and Histopathological Alterations in Liver of Oreochromis niloticus in Relation to Water Quality at Different Localities along the River Nile,Egypt. World Journal of Fish Marine Sciences. 2: 105-114.

Genten, F., E. Terwinghe and A. Danguy. 2009. Atlas of Fish Histology. Enfield (US) : Science Publishers.

Hadiaty, R. K. dan S. Wirjoatmodjo. 2002. Studi pendahuluan biodiversitas dan distribusi ikan di Danau Matano, Sulawesi Selatan. Jumal Iktiologi Indonesia, 2( 2):23-29.

(32)

20

Haffner, G. D., P. E. Hehanussa and Hartoto, 2001. The biology and physical processes of large Lakes of Indonesia: Lakes Matano and Towuti, pp. 182 - 192. In: M. Munawar and R. E. Hecky (eds.) The Great Lakes of the World (GLOW) Food Web, Health and Integrity. Backhuis Publishers: Leiden.

Haryono.2006. Tinjauan Habitat Ikan Air Tawar Langka dan Terancam Punah di Indonesia Barat.Bidang Zoologi Puslit Biologi.LIPI.Bogor.

Hibiya, T., M.Yokote, M.Oguri, H.Sato, F.Takashima and K. Aida. 1982. An Atlas Fish Histology Normal and Pathologival. Tokyo.

Isaac, A. O. 2009. Toxic Stress of Nickel on African Catfish, Clarias gariepinus Fingerlings. Nigeria :The Internet Journal of Veterinary Medicine 2009 : 6(1). Department of Chemistry and Industrial Chemistry, Adekunle Ajasin University.

Jannah, R., Rosmaidar, Nazaruddin, Winaruddin, B. Ummu, dan Armansyah.

2017. Pengaruh paparan timbal (pb) terhadap histopatologis hati ikan nila (Oreochromis nilloticus). Jurnal Imvet. 01(4):742-748.

Konovalov, S. K. 2003. Lateral Injection of Oxygen with the Bosporus Plume Fingers of Oxidizing Potential in the Black Sea. Limnol.Oceanogr. 48:

2369–2376

Kottelatt, M., A.J. Whitten., S.N. Kartikasari and S.Wirjoatmodjo. 1993.

Freshwater fishes of WesternIndonesia & Sulawesi. Periplus Edition.EMDI Project.

Makmur, S., I. J. Asaad, I. Mustapia, I. Burhanuddin, S. Selamet, S. Suryaningrat, dan B. Irawan. 2017. Riset Bioekologi Ikan Endemik di Danau Matano Sulawesi Selatan. Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang:

Palembang.

Mossain, A.M., and H.M. Dutta. 1996. Phylogeny,Ontogeny,Structure and Function of Digestive Tract Appendages (Caeca) Ini Teleost Fish. In Munshi JSD,Dutta HM, Eds. Fish Morphology Horizon of New Research.Rotterdam : USA.

Nafis, Muhammad, Zainuddin, Dian dan Asyitha. 2017. Gambaran histologi saluran pencernaan ikan gabus (Channa striata). Jimvet. 01(2): 196-202 Nelson, J.S., 1994. Fishes of the World.Third edition. John Wiley & Sons, Inc.

NY, Chichester, Brisbane, Toronto, Singapore.

Noga, E.J. 2010. Fish Disease : Diagnosis and Treatment. 2nd ed. Wiley Blackwell, Lowa.

Nontji, A. 2016. Danau-Danau Alami Nusantara. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia: Jakarta.

Novi, E. 2015. Pengaruh Ekstrak Daun Sirsak (Annona Muricata L.) Terhadap SOD dan Histologi Hepar Tikus (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Aloksan.[Skripsi]. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim : Malang.

Palar, H. 1994.Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Panigoro, N., A. Indri, B. Meliya, Salifira, D.C. Prayudha, dan W. Kunika. 2007.

Teknik Dasar Histologi dan Atlas Dasar – Dasar Histopatologi Ikan.

Balai Budidaya Air Tawar dan Japan International Coperation Agency (JICA) : Jambi.

(33)

21

Parenti, L.R. dan R.K. Hadiaty. 2010.A New, Remarkably Colorful, Small Ricefish of the Genus Oryzias (Beloniformes, Adrianichthyidae) from Sulawesi, Indonesia.Copeia (2): 268-273.

Parulian, A. 2009.Monitoring dan Analisis Kadar Aluminium (Al) dan Besi (Fe) Pada Pengolahan Air Minum PDAM Tirtanadi Sunggal.Medan : Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU).

Pikturalistiik, P.P. 2013. Toksisitas Effluent di Balai Ipal Pup-ESDM D.I.Y terhadap struktur mikroanatomi hepar ikan mas (Cyprinus carpio. L) di tinjau dari kadar Pb dan Cr. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Pratama, G. A., R Pribadi dan L. Maslukah. 2012. Kandungan logam berat Pb dan Fe pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) di sungai tapak kelurahan tugurejo kecamatan tugu kota semarang. Jurnal of Marine Research. 1(1), 133-137.

Price, S.A and L. M. Wilson. 2006. Patofisiologi .Edisi VI. Volume I. EGC:

Philadelphia.

Pusat Riset Perikanan Tangkap. 2005. Laporan Teknis Riset Keanekaragaman Perairan Pedalaman Kawasan Wallacea. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.

Rajamanickam, V and N. Muthuswamy. 2008. Effect of heavy metals induced toxicity on metabolic biomarkers in common carp (Cyprinus carpiol). Mj.

Int. J. Sci.1 (192-200).

Robbins, S. L dan V. Kumar. 1992. Buku Ajar Patologi. Jakarta: EGC Roberts, R J. 2001. Fish Pathology.Third Edition. W.B.Saunders: London.

Roy, D., M. F. Docker, P. Hehanussa, D. D. Heath and G. D. Haffner. 2004.

Genetic and morphological data supporting the hypothesis of adaptive radiation in the endemic fish of lake matano. J. Evol. Biol. 17: 1268–1276.

Rusmiati, L.A . 2004. Struktur histologis organ hepar dan ren mencit (Mus musculus) jantan setelah perlakuan dengan ekstrak kayu secang (Caesalpinia sappan L). Bioscientiae. 1.1.23-30.

Rust, M. B. 2000.Nutritional Physiology.In Halver JE,Hardy,RW eds Fish nutrition.3th.Amsterdam : Academic Press.

Sabilu, K. 2010. Dampak Toksisitas Nikel Terhadap Kondisi Hematologi Ikan Bandeng (Chanos chanos fosskal) Studi Lanjut Fisiologis.Universitas Haluoleo Kendari.

Sari, D.K., I. Andriani dan K.Yaqin. 2018. Micromorphological observation of the anterior gut of sulawesi medaka fish (Oryzias celebensis). International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences. 07(02). 2942-2946.

Smith, H.A and T. C. Jones. 1961.Veterinary Pathology. Lea & Febiger:

Philadelpia.

Spector, W. G. 1993. Pengantar Patologi Umum. Edisi III. NS. Soetjipto, penerjemah.Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari An Introduction to General Pathology: Yogyakarta.

Suciastuti, E., dan C. T. Sutrisno. 2002. Teknologi Penyediaan Air Bersih.

Jakarta: PT. Rineka Cipta.

(34)

22

Susanto, D. 2008. Gambaran Histopatologi Organ Insang, Otot Dan Usus Ikan Mas ( Cyprinus Carpio) di Desa Cibanteng [Skripsi]. Universitas Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Syam, L. 2004. Analisis Kadar Besi (Fe) dalam Kedelai dengan Pengompleks Fenantrolin.[Skripsi].Palu : Untad Press.

Tantu, F.Y. 2012. Ekobiologi Reproduksi Ikan Opudi Telmatherina Antoniae (Kottelat, 1991) sebagai Dasar Konservasi Ikan Endemik di Danau Matano, Sulawesi Selatan. Bogor : IPB Press.

Tresnati. 2007. Kerusakan Usus Ikan Kembang (Dasyatis Kuhli) yang Diakibatkan oleh Logam Berat Timbel ( Pb). Jurnal sains & Teknologi Universitas Hasanudin.Yogyakarta.

Triadayani, A.E, A. Riris dan D. Gusti. 2010. Pengaruh logam timbal (pb) terhadap jaringan hati ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Maspari Journal. 01(42-47).

Unal, G., O.Cetinkaya, E.Kankaya and E.L.P.Mahmut. 2001.Histological study of the organogenesis of the digestive system and swim bladder of the Chalcaburnus Tarichi Palls,1811 (Cyprinidae).Turk J.Zool. 25 : 217-228 Underwood, J. C. E. 1992. General and Systematic Pathology. Churchill

Livingstone: New York.

Von, R. T. and M. Glaubrecht. 2003. New discoveries in old lakes: three new species of tylomelania sarasin & sarasin, 1897 (gastropoda: cerithioidea:

pachychilidae) from the malili lake system on sulawesi. Indonesia. J. Moll.

Stud.69: 3–17.

Yuniar, V. 2009. Toksisitas Merkuri (Hg) Terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup, Pertumbuhan, Gambaran Darah dan Kerusakan Organ pada Ikan Nila Oreochromis Niloticus. Departemen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Budidaya Perairan Institut Pertanian Bogor.

Yusfiati, P., K.Sigit, R.Affandi, dan Nurhidayat. 2006. Anatomi alat pencernaan ikan buntal pisang (Tetraodon lunaris). Jurnal iktiologi. 6 : 1.

Yushinta, F. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan.

Jakarta: Rineka Cipta.

(35)

23

LAMPIRAN

(36)

24

Lampiran 1. Tahapan persiapan dan pembuatan preparat histologi 1.Tahapan Persiapan

Sebelum jaringan tubuh diambil beberapa pesiapan perlu dilakukan yang terdiri atas :

A. Persiapan alat dan bahan/cairan

Perangkat peralatan yang harus dipersiapkan untuk melakukan isolasi atau pengambilan jaringan tubuh terdiri atas peralatan bedah minor (gunting, pinset, scalpel, klem, pemegang jaringan, kassa, dll), perangkat pengawetan jaringan (fiksasi jaringan) seperti wadah untuk fiksasi emersi, cairan fiksasi

B. Persiapan sampel

Untuk jaringan yang diambil dari kadaver, jaringan segera diambil dan dimasukkan kedalam cairan fiksasi. Pada penelitian ini jaringan diambil dari cadaver yang sudah disimpan dalam formalin Buffered Neutral Formalin (BNF) 10%.

2. Tahapan Pembuatan Preparat Histologi A. Fiksasi

Sampel jaringan difiksasi dengan Buffered Neutral Formalin (BNF), volume Buffered Neutral Formalin (BNF) minimal 10 kali volume jaringan. Pada umumnya waktu yang diperlukan untuk fiksasi sempurna adalah 48 jam.

B. Pemotongan Spesimen

1. Spesimen yang dipilih untuk pemeriksaan, dipotong setebal 0,5-1 cm.

2. Potongan spesimen dimasukkan dalam keranjang pemprosesan dengan disertai dengan label nomor spesimen yang ditulis dengan pensil.

3. Sisa spesimen dengan Buffered Neutral Formalin (BNF) disimpan dalam botol bertutup rapat. Selanjutnya botol ini disimpan berurutan dan dibuang apabila telah melebihi 3 bulan dan ditulis dalam formulir pemusnahan sampel.

C. Prossesing dan Embedding

Embedding cassete yang telah diisi spesimen jaringan dimasukkan kedalam tissue processor dengan pengaturan waktu sebagai diuraikan pada table 1 dibawah ini.

Tabel. 3. Prosedur tissue processor dan pengaturan waktu.

No. Proses Reagensia Waktu

1. Fiksasi Buffer Formaldehida 10% 2 jam

2. Dehidrasi Alkohol 70% 24 jam

3. Dehidrasi Alkohol 80% 24 jam

4. Dehidrasi Alkohol 90% 6 jam

5. Dehidrasi Alkohol 95% 6 jam

6. Dehidrasi Alkohol 100% 30 menit

7. Dehidrasi Alkohol 100% 30 menit

8. Clearing Xylol 30 menit

9. Clearing Xylol 15 menit

10. Impregnasi Parafin cair 1 jam

11. Impregnasi Parafin cair 1 jam

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga skripsi yang berjudul

Puji syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang

Puji syukur peneliti ucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang

Puji syukur Penulis panjatkan kehada- pan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat- Nya, penulis dapat menyelesaikan penuli- san yang

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat ,rahmat-Nya dan menganugerahkan kemudahan serta kelancaran sehingga penulis dapat menyelesaikan

Astungkara penulis ucapkan ke Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Gambaran