BAB II
LANDASAN TEORI
Tinjauan Teori 2.1.1 Manajemen
Definisi manajemen menurut G. R. Terry (2018:2) yang dialih bahasakan oleh R. Supomo dan Eti Nurhayati adalah “Manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri atas tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya”.
Menurut Stoner yang diterjemahkan oleh Handoko (2015:8) menyatakan bahwa: “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Menurut M. Manullang (2018:2) yang dikutip oleh R.Supomo dan Eti Nurhayati adalah
“Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan terlebih dahulu.
Berdasarkan beberapa definisi manajemen dari para ahli dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah ilmu dan seni yang digunakan untuk mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2.1.1.1 Fungsi Manajemen
Menurut Henry Fayol (2015) dalam bukunya yang berjudul “ General and Industrial Management “ dijelaskan 5 fungsi manajemen yaitu :
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan (planning) adalah fungsi dasar (fundamental) dari manajemen, ini dikarenakan fungsi manajemen pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengendalian harus dilakukan perencanaan terlebih dahulu. Proses perencanaan sifatnya sangat dinamis, artinya dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat itu.
Proses perencanaan ditujukan untuk masa yang akan datang karena pada masa yang akan datang penuh dengan ketidakpastian. Untuk lebih memahami lagi mengenai perencanaan, maka Henry Fayol memberi pernyataan mengenai hal tersebut. Perencanaan berupa penentuan langkah awal yang memungkinkan suatu organisasi dapat mencapai tujuannya dan juga berhubungan dengan usaha yang dijalankan untuk mengantisispasi kecenderungan di masa-masa yang akan datang dan penentuan sebuah strategi/ taktik yang tepat dalam rangka untuk mewujudkan tujuan pada suatu organisasi.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Teori tentang pengorganisasian tentang organisasi lini, yaitu adanya pemusatan wewenang pada level pimpinan organisasi, oleh karenanya berbagai fungsi akan tersentralisasi pada tangan pimpinan tertentu sebab dengan tegas memisahkan bidang kegiatan pimpinan (manajerial sebagai pusat wewenang) dan 23 bidang kegiatan teknis (nonmanajerial). Prinsip-prinsip
pengorganisasian menurut Henry Fayol adalah adanya pembagian tugas pekerjaan, kesatuan pengarahan, sentralisasi, mata rantai tingkat jenjang organisasi.
3. Pengarahan (Commanding)
Fungsi Manajemen pada proses pengarahan adalah ditujukan untuk memberikan arahan kepada Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pegawai pada suatu organisasi/ perusahaan supaya pegawai yang bersangkutan dapat menyelesaikan tugasnya secara baik.
4. Pengkoordinasian (Coordinating)
Pernyataan mengenai koordinasi yaitu bahwa mengoordinasi dapat berarti mengikat bersama menyatukan dan menyelaraskan seluruh kegiatan yang ada dalam rangka untuk mencapai tujuan suatu organisasi.
5. Pengendalian (Controlling)
Fungsi manajemen adalah merupakan aktivitas untuk memantau, membuktikan dan memastikan bahwa semua kegiatan yang telah melewati tahapan pada fungsi manajemen sebelumnya berjalan seseuai dengan target dan juga sesuai dengan standar dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi. Pada fungsi controlling ini bermanfaat untuk memastikan bahwa kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan rencana awal dan untuk mengevaluasinya serta untuk memberi pemecahan masalah yang tepat dan menjadi solusi terhadap penyimpangan yang sifatnya signifikan.
2.1.1.2 Karakteristik Manajemen
Manajemen merupakan aktivitas yang berbeda, manajemen adalah proses yang berorientasi pada tujuan, berikut merupakan karakteristik manajemen menurut buku yang berjudul Management Concepts and Organizational Behaviour yang ditulis oleh (Pal, K., & Bansal, H. (2011) :
1. Economic Resource (Sumber Daya Ekonomi)
Management is one of the factors of production together with land, labour and capital. As industrialization increases, the need for managers also increases.
Yang artinya Manajemen merupakan salah satu faktor produksi bersama dengan tanah, tenaga kerja dan modal. Seiring dengan meningkatnya industrialisasi, kebutuhan akan manajer juga meningkat.
2. Goal Oriented (Berorientasi Pada Tujuan)
Management is a purposeful activity. It coordinates the efforts of workers to achieve the goals of the organization. Yang artinya Manajemen adalah aktivitas yang memiliki tujuan. Ini mengoordinasikan upaya pekerja untuk mencapai tujuan organisasi. 12
3. Distinct Process (Proses Berbeda)
Management is a distinct process consisting of such functions as planning, organizing, staffing, directing and controlling. These functions are so interwoven that it is not possible to lay down exactly the sequence of various functions or their relative significance. Yang artinya Manajemen adalah proses berbeda yang terdiri dari fungsi-fungsi seperti perencanaan, pengorganisasian, kepegawaian, pengarahan dan pengendalian. Fungsi-fungsi ini begitu terjalin
sehingga tidak mungkin untuk meletakkan secara tepat urutan berbagai fungsi atau signifikansi relatifnya.
4. Integrative Force (Kekuatan Integratif)
The essence of management is integration of human and other resources to achieve the desired objectives. All these resources are made available to those who manage. Yang artinya Inti dari manajemen adalah integrasi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Semua sumber daya ini tersedia bagi mereka yang mengelola.
5. System of Authority (Sistem Otoritas)
Management as a team of managers represents a system of authority, a hierarchy of command and control. Managers at different levels possess varying degree of authority. Yang artinya Manajemen sebagai tim manajer mewakili sistem 13 otoritas, hierarki komando dan kendali. Manajer di tingkat yang berbeda memiliki tingkat kewenangan yang berbedabeda.
6. Multi-disciplinary Subject
Management has grown as a field of study (i.e. discipline) taking the help of so many other disciplines such as engineering, anthropology, sociology and psychology. Yang artinya Manajemen telah berkembang sebagai bidang studi (yaitu disiplin) dengan bantuan dari begitu banyak disiplin ilmu lain seperti teknik, antropologi, sosiologi dan psikologi.
7. Universal Application Management is universal in character.
The principles and techniques of management are equally applicable in the fields of business, education, military, government and hospital. Yang artinya
Manajemen bersifat universal. Prinsip dan teknik manajemen sama-sama dapat diterapkan di bidang bisnis, pendidikan, militer, pemerintahan, dan rumah sakit.
2.1.2 Manajemen Operasional
Manajemen operasional merupakan bagian kegiatan dari suatu bisnis, berikut pengertian manajemen operasional mernurut para ahli:
1. Menurut Heizer & Render (2014, p. 3) manajemen operasi adalah serangkaian kegiatan yang menciptakan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output.
2. Menurut Stevenson dalam bukunya Operations Management (2014, ) Manajemen operasi merupakan sebuah sistem atau proses untuk menciptakan suatu benda ataupun menyediakan sebuah jasa.
3. Menurut Assauri (2008, p. 18) menyatakan bahwa manajemen operasional adalah kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk menciptakan dan menambahkan .
Berdasarkan pengertian dari para ahli peneliti menyimpulkan bahwa manajemen operasional adalah suatu kegiatan yang mengelola semua faktor yang ada pada perusahaan mulai dari SDM (Sumber Daya Manusia), mesin, peralatan, raw material (bahan mentah) dan faktor produksi yang lainnya dalam proses transformasi menjadi berbagai macam produk/jasa yang dapat membantu perusahaan menciptakan nilai lebih untuk keunggulan kompetitif.
2.1.2.1 10 Decisions of Operations Management
Menurut Heizer, J., & Render, B. (2017) diferensiasi, biaya rendah dan respons yang cepat dapat dicapai saat manajer membuat keputusan efektif dalam sepuluh wilayah manajemen operasional. Keputusan ini dikenal sebagai keputusan operasi (Operations Decisions). Berikut sepuluh keputusan manajemen operasional yang mendukung misi dan menerapkan strategi :
1. Design of goods and services
Mendefinisikan banyak dari apa yang diperlukan operasi dalam setiap keputusan OM lainnya. Misalnya, dengan membuat sebuah desain produk yang sesuai dengan batas biayanya dan kualitasnya dan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
2. Managing quality
Menentukan ekspektasi kualitas dari pelanggan dan menetapkan kebijakan dan prosedurnya dengan melakukan adanya pengelolaan untuk bisa menjaga kualitas suatu produk atau jasa.
3. Process and capacity
Design Menentukan bagaimana suatu barang atau jasa diproduksi oleh perusahaan dan menentukan manajemen yang benar terhadap teknologi, kualitas, sumber daya manusia, dan investasi modal tertentu yang bisa menentukan banyaknya struktur biaya atas dasar dari perusahaan.
4. Location strategy
Memerlukan pengaturan penilaian mengenai kedekatan dengan pelanggan, pemasok, dan bakat serta mempertimbangkan biaya, infrastruktur, logistik, dan pemerintah.
5. Layout strategy
Membutuhkan suatu kapasitas yang dibutuhkaa, level personel atau tingkat karyawan perusahaan, teknologi, dan 21 persyaratan inventaris untuk menentukan aliran bahan, orang, dan informasi yang efisien.
6. Human resources and job design
Menentukan bagaimana cara kita merekrut, memotivasi, dan mempertahankan personel dengan bakat yang dimiliki dan keterampilan yang dibutuhkan.
Orang-orang merupakan bagian yang integral dan mahal dari keseluruhan rancangan sistem, karena adanya kualitas dilingkungan kerja yang diberikan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan serta mendapatkan upah yang sesuai.
7. Supply chain management
Menjelaskan bagaimana mengintegrasikan rantai pasokan ke dalam strategi perusahaan, termasuk keputusan yang menentukan apa yang harus dibuat dan apa yang harus dibeli.
8. Inventory management
Mempertimbangkan pemesanan inventaris dan keputusan persediaan yang dapat dioptimalkan sebagai kepuasan pelanggan, kemampuan pemasok, dan jadwal perencanaan produksi dipertimbangkan dengan benar.
9. Scheduling
Menentukan dan mengimplementasikan jadwal yang bisa dikerjakan secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan pegawai dan fasilitas sekaligus memenuhi apa yang diinginkan pelanggan.
10. Maintenance
Membutuhkan keputusan yang dapat mempertimbangkan kapasitas fasilitas, permintaan produksi, dan karyawan yang diperlukan untuk mempertahankan proses yang handal dan stabilitas yang diinginkan
2.1.3 Distribusi
Menurut Tjiptono (2014:295), Distribusi merupakan serangkaian partisipan organisasional yang melakukan semua fungsi yang dibutuhkan untuk menyampaikan produk/jasa dari penjual ke pembeli akhir. Sedangkan Menurut Etzel (2013 : 172) distribusi terdiri dari serangkaian lembaga yang melakukan semua kegiatan yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status pemilikannya dari produsen ke konsumen atau pemakai bisnis.
Menurut Daryanto (2011: 63) distribusi adalah “suatu perangkat organisasi yang saling bergantung dalam menyediakan satu produk untuk digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen/pengguna”. Maka, dapat diambil kesimpulan bahwa saluran distribusi merupakan aliran barang-barang dari produsen ke konsumen.
Oleh karena itu saluran distribusi dibutuhkan karena adanya perbedaan yang menimbulkan celah-celah atau kesenjangan di antara produksi dan konsumsi
2.1.3.1 Perencanaan Distribusi
Perencanaan Distribusi adalah metode yang digunakan dalam administrasi bisnis untuk perencanaan pesanan dalam rantai pasokan. Rencana distribusi adalah dokumen yang menyediakan manajer gudang dan staf distribusi dengan informasi tentang jumlah persediaan untuk akan dikirim, waktu pengiriman, dan tujuan.
Perencanaan Distribusi membantu organisasi distribusi mengoptimalkan aliran barang jadi dan komponen dengan meningkatkan proses pengambilan keputusan di bidang persyaratan distribusi atau sumber daya perencanaan (DRP), perencanaan penjualan dan operasi (Marin & Bonavia, 2015).
Pengoptimalan alat Perencanaan Distribusi menawarkan alternatif alokasi kebutuhan. Manajemen saluran memperhitungkan kelayakan saluran dan kapasitas situs yang terbatas, sambil mengoptimalkan biaya keseluruhan termasuk distribusi, penyimpanan dan biaya produksi. Sumber kecerdasan pengoptimalan menentukan alokasi persyaratan dan mengoptimalkan rantai pasokan saluran untuk memenuhi persyaratan tersebut. Variabel kunci dalam perencanaan distribusi termasuk tersedia stok, kapasitas penyimpanan situs, biaya keseluruhan, dan tarif layanan yang ditargetkan yang memungkinkannya dapat dikonfigurasi strategi dorong atau tarik untuk menerima situs (MReza, 2015).
2.1.3.2 Indikator Distribusi
Indikator distribusi dirancang agar perusahaan mampu menciptakan strategi yang sesuai dengan tujuan perusahaan sehingga tujuan perusahaan tercapai.
Menurut (Yudhi, 2006) indkator distribusi sebagai berikut :
a. Tempat, yaitu ketersediaan produk atau jasa di suatu lokasi yang nyaman bagi pelanggan potensial
b. Waktu, yaitu ketersediaan produk atau jasa yang diinginkan oleh seorang pelanggan
c. Bentuk, yaitu produk diproses, disiapkan dan siap dimanfaatkan serta kondisi yang tepat
d. Informasi, yaitu jawaban atas pertanyaan dan komunikasi umum mengenai sifat-sifat produk yang berguna serata manfaat yang tersedia
2.1.4 Manajemen Distribusi
Manajemen distribusi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam sistem pemasaran karena distribusi yang efektif dan efisien maka barang akan cepat dipasarkan dan selanjutnya akan dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen. Semua perusahaan perlu melakukan fungsi distribusi dan hal ini sangat penting bagi pembangunan perekonomian masyarakat karena bertugas menyampaikan barang dan jasa yang diperlukan oleh konsumen. Para ahli ekonomi sering menggunakan istilah istilah faidah tempat, faidah waktu, faidah milik untuk menunjukan nilai distribusi.
Menurut Kotler (1985:3) mendefinisikan manajemen distribusi sebagai himpunan perusahaan dan perorangan yang mengambil alih hak, atau membantu dalam pengalihan hak atas barang atau jasa tertentu selama barang atau jasa tersebut berpindah dari produsen ke konsumen. Sedangkan menurut Basu Swastha (2009:190) mendefinisikan manajemen distribusi untuk suatu barang adalah saluran
yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ke konsumen atau pemakai industri. Saluran distribusi ini merupakan suatu struktur yang menggambarkan alternatif saluran yang dipilih, dan menggambarkan situasi pemasaran yang berbeda oleh berbagai macam perusahaan atau lembaga usaha
2.1.5 Logistik
Secara umum kegiatan logistik terdiri dari 2 (dua) kegiatan yaitu kegiatan pergerakan (move) dan kegiatan penyimpanan (store), sehingga jika kedua kegiatan ini direncanakan dan dikendalikan secara ketat, maka masalah system logistik secara keseluruhan akan dapat terselesaikan dengan baik (Wibisono et al., 2017).
Dua kegiatan utama tersebut diurai menjadi beberapa kegiatan yaitu pemrosesan pesanan, transportasi, persediaan, penanganan barang, struktur fasilitas dan sistem informasi dan komunikasi (Anthony, 2019). Ketujuh kegiatan itu disebut juga sebagai bauran kegiatan logistik (logistics activity mix) dimana semua kegiatan tersebut tidak dapat dihindarkan keberadaannya dalam sebuah sistem rantai pasok (Supply Chain System). Istilah supply chain management pertama kali dikemukakan oleh Oliver dan Weber pada tahun 1982. Supply chain adalah jaringan fisiknya, yakni perusahaan–perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang, maupun mengirimkannya ke pemakai akhir, supply chain management adalah metode, alat, atau pendekatan pengelolaannya (Mizmora Lidia Rantung et al., 2013). Salah satu faktor kunci untuk mengoptimalkan supply chain adalah dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat
diantara jaringan atau mata rantai tersebut, dan pergerakan barang yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada para pelanggan
2.1.6 Kinerja
Menurut Moeheriono (2012:95), kinerja atau performance merupakan sebuah penggambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi organisasi yang dituangkan dalam suatu perencanaan strategis suatu organisasi.
Sedangkan menurut Rivai (2013:604), kinerja merupakan suatu istilah secara umum yang digunakan sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan suatu referensi pada sejumlah standar seperti biaya masa lalu yang diproyeksikan dengan dasar efisiensi, pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya.
Deskripsi dari kinerja menyangkut tiga komponen penting, yaitu: tujuan, ukuran dan penilaian. Penentuan tujuan dari setiap unit organisasi merupakan strategi untuk meningkatkan kinerja. Tujuan ini akan memberi arah dan memengaruhi bagaimana seharusnya perilaku kerja yang diharapkan organisasi terhadap setiap personel.
2.1.6.1 Indikator Kinerja
Dalam suatu organisasi terdapat indikator kinerja yang dapat menjadi sumber acuan dari kinerja pegawai. Menurut Sedarmayanti (2014:198) “Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan/atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Indikator kinerja harus
merupakan sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun kegiatan selesai dan berfungsi. Sebagai kunci penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, pengelolaan sumber daya manusia menjadi perioritas pemerintah. UU No. 5/2014 tentang aparatur sipil negara atau ASN dijalankan berdasarkan asas Profesionalisme, Proporsional, Akuntabel, serta Efektif dan Efesien agar peningkatan kinerja birokrasi dapat tercapai. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa indikator yang mempengaruhi kinerja pegawai adalah:
1. Profesionalisme 2. Proporsional 3. Akuntabel
4. Efektif dan Efesien
2.1.7 Kinerja Perusahaan
Kinerja perusahaan adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya-sumber daya yang dimiliki. Kinerja merupakan suatu istilah secara umum yang digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan referensi pada jumlah standar seperti biayabiaya masa lalu atau yang diproyeksikan, dengan dasar efisiensi,
pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya (Srimindarti, 2004).
2.1.7.1 Tujuan pengukuran kinerja perusahaan
Menurut (Retnani, 2015) adalah sebagai berikut:
1. Untuk memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan untuk pencapaian prestasi.
2. Memastikan tercapainya skema prestasi yang disepakati
3. Untuk memonitor dan mengevaluasi kinerja dengan perbandingan antara skema kerja dan pelaksanaannya
4. Untuk memberikan penghargaan maupun hukuman yang obyektif atas prestasi pelaksanaan yang telah diukur, sesuai dengan metode pengukuran yang telah disepakati
5. Menjadikannya sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki kinerja perusahaan
6. Mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi 7. Membantu proses kegiatan perusahaan
8. Untuk memastikan bahwa pengambilan keputusan telah dilakukan secara obyektif
9. Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan
10. Mengungkapkan permasalahan yang terjadi Manfaat pengukuran kinerja adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan valid tentang perilaku dan kinerja anggota
2.1.8 Desain Penelitian
2.1.8.1 Jenis Penelitian
Menurut Malhotra, Nunan, & Birks (2017), terdapat dua jenis desain penelitian yang dapat digunakan dalam melakukan sebuah penelitian, yaitu exploratory research design dan conclusive research design.
1. Exploratory Research
Menurut Cooper & Schindler (2014), penelitian eksplorasi adalah tahapan pertama dari suatu proyek dan biasanya digunakan untuk mengarahkan seorang peneliti untuk penelitian. Tujuan dari peneltian eksplorasi yaitu mengembangkan hipotesis, dan tidak untuk pengujian.
2. Conclusive Research Design
Conclusive research merupakan jenis desain penelitian yang digunakan untuk menguji fenomena melalui hipotesis yang spesifik dan menguji apakah ada hubungan antar variabel dalam hipotesis tersebut. Conclusive research design pada umumnya menggunakan teknik kuantitatif dalam menganalisis data.
Informasi yang dibutuhkan telah terdefinisikan dengan jelas. Proses penelitiannya bersifat lebih formal dan lebih terstruktur dibandingkan exploratory research design. Sampel yang digunakan relaitf besar dan bersifat representatif atau bisa mewakili populasi. Conclusive research design terbagi menjadi dua tipe, antara lain :
1) Descriptive Research
Menurut Cooper & Schindler (2014), dalam pembelajaran mengenai deskriptif biasanya mencoba untuk menggambarkan atau mendefinisikan 41 suatu subjeknya, yang seringkali mebuat suatu profile dari sekelompok permasalahan, orang atau peristiwa, melalui adanya pengumpulan data-data terkait tabulasi frekuensi pada variabel penelitian atau interaksinya. Penelitian ini juga menjelaskan atau mengunkapkan siapa, apa, kapan, dimana, atau berapa banyak jumlahnya. Serta menjelaskan mengenai pertanyaan atau hipotesis univariat di mana penelitian ini akan bertanya atau menyatakan sesuatu tentang ukuran, bentuk, distribusi, atau keberadaan suatu variabel.
2) Casual Research
Menurut Cooper & Schindler (2014), penelitian kausal yang berupaya untuk mengungkapkan atau menjelaskan mengenai hubungan kausal antara variabel. (A menghasilkan B atau menyebabkan B terjadi) Penelitian ini dilakukan oleh peneliti lebih mengarah kepada causal research. Karena hal ini merujuk kepada tujuan penelitian yaitu untuk menjabarkan hasil pengujian pertanyaan serta menjelaskan hubungan antar variabelnya.
Pada penelitian ini penulis akan menggunakan penelitian jenis conclusive research design karena penulis ingin menguji suatu fenomena melalui suatu hipotesis, yaitu faktor apa saja yang memengaruhi kinerja perusahaan. Jenis conclusive research design yang digunakan dalam penelitian ini adalah descriptive
research karena penulis hanya mendeskripsikan suatu fenomena yang mencakup efektif dan efisien kinerja perusahaan, melalui pengambilan data dengan menggunakan survei. Survei dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang sesuai dengan target penelitian. Responden memberikan penilaian antara 1 sampai 5 skala likert terhadap pernyataan yang diberikan. Setiap sampel dalam penelitian ini hanya akan dilakukan pengambilan data satu kali sehingga desain penelitian yang digunakan adalah single cross-sectional design.
2.1.8.2 Populasi
Menurut Sugiyono (2014:117), “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dalam populasi adalah keseluruhan subyek dengan kriteria tertentu. Menurut Arikunto (2013:173),
2.1.8.2.1. Target Populasi
Target populasi adalah kumpulan dari berbagai elemen atau objek yang memiliki informasi yang dibutuhkan oleh peneliti (Malhotra, Nunan, & Birks, 2017). Target populasi terdiri dari empat aspek yaitu element, sampling unit, extent, dan time (Malhotra, Nunan, & Birks, 2017). Berikut uraian dari empat aspek tersebut :
1. Element
Element adalah suatu objek atau seseorang yang memiliki sumber informasi yang dicari oleh peneliti (Malhotra, Nunan, & Birks, 2017).
2. Sampling
Unit Sampling unit adalah elemen yang memiliki karakteristik yang sama untuk dipilih dan dijadikan sampel di dalam penelitian (Malhotra, Nunan, &
Birks, 2017).
3. Extent
Extent merupakan batas geografis seperti tempat atau wilayah dimana peneliti mengumpulkan data atau melakukan survei untuk sebuah penelitian (Malhotra, Nunan, & Birks, 2017)..
4. Time
Time adalah jangka waktu pelaksanaan dan pengambilan data yang dilakukan selama penelitian (Malhotra, Nunan, & Birks, 2017).
2.1.8.3 Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang dikenai penelitian secara langsung. Menurut Arikunto (2013:173),
2.1.8.3.1 Sampling Tehniques
Menurut Cooper & Schindler (2014), sampling melakukan adanya beberapa pemilihan elemen dalam suatu populasi, yang bisa menjadi suatu kesimpulan dari seluruh populasinya. Sampling techniques dibagi menjadi dua kategori yaitu probality sampling dan non-probablity sampling.
1. Probabiltiy Sampling
Menurut Cooper & Schindler (2014), pengambilan adanya sampel probabilitas yang didasarkan pada konsep seleksinya secara acak dan prosedur yang terkontrol serta memastikan bahwa setiap elemen dari populasinya diberikan peluang yang tidak nol. Probability sampling terbagi menjadi lima teknik yaitu:
• Simple Random
Simple random sampling adalah teknik sampel yang memberikan probabilitas pemilihannya dari nol untuk setiap elemen-elemen populasi, maka setiap elemen populasi yang mempunyai peluang seleksi pemilihan untuk bisa dijadikan sebagai sampel.
• Systematic Sampling
Systematic sampling adalah teknik sampel mengenai elemen populasinya yang dijadikan sampel secara acak dengan memeberikan nomor secara berurutan, kemudian sampel dipilih sesuai urutan yang sudah ditentukan.
• Stratified Random
Stratified random sampling adalah teknik sampel yang mempunyai suatu proses di mana sampel tersebut mempunyai batasan dengan cara mengambil sampel tersebut dari elemen populasinya yang kemudian dipilih secara individu sebagai perwakilan sampel.
• Cluster Sampling
Cluster sampling adalah teknik sampel mengenai populasi yang dipilih secara acak agar bisa dijadikan sebagai sampel tapi bukan untuk secara individu tetapi untuk kelompok. 5. Double Sampling.
Double sampling adalah teknik sampel digunakan dalam gabungan dua sampling techniques.
2. Non-Probability Sampling
Menurut Cooper & Schindler (2014), Non-Probability Sampling menjelaskan mengenai pendekatan secara subjektif pada pemilihan suatu elemen populasinya yang tidak diketahui, mempunyai berbagai cara agar bisa memilih elemen populasinya yang akan dimasukkan kedalam sampel.
Non-Probability Sampling dibagi menjadi empat tekni yaitu :
• Convenience Sampling
Convenience sampling adalah teknik sampel diperoleh sampel dengan cara yang mudah dengan dilakukannya sesuai kebutuhan peneliti.
• Judgemental Sampling
Judgemental sampling adalah teknik sampel yang dapat dilakukan saat seorang peneliti memilih anggota sampelnya yang mana dengan menyesuaikan atau mencocokannya ke dalam beberapa kriteria khusus.
• Quota Sampling
Quota sampling adalah teknik sampel dengan mengambil sampel berdasarkan karakteristik dari elemen populasi sampai mencapai kuota atau jumlah sampel yang diinginkan peniliti.
• Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik sampel dengan cara merujuk pada peneliti terhadap individu yang memiliki karaktersitik yang sama, kemudian individu akan merujuk kepada individu yang lain. Pada akhirnya peniliti mengumpulkan sampel secara bergiliran.
2.1.8.4 Jenis Data
Menurut Malhotra, Nunan, & Birks (2017), terdapat dua jenis research data, yaitu:
1. Primary Data
Primary data adalah data yang dihasilkan langsung oleh peneliti yang bertujuan untuk mengatasi masalah penelitian. Primary data dapat diperoleh dengan menggunakan metode survei, in-depth interview, dan focus groups atau focus group discussion.
2. Secondary Data
Secondary data adalah data yang telah tersedia dan dikumpulkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah penelitian lain. Secondary data dapat diperoleh dari database perusahaan dan penelitian terdahulu yang dapat diakses melalui sumber online.
2.1.8.5 Definisi Operasional Variabel
Berdasarkan kajian teori dalam penelitian ini, maka di kembangkan definisi operasional yang merupakan pengukuran variabel dan indikator yang dipilih dalam penelitian ini, seperti dibawah ini:
1. Variabel Independen
Menurut Sugiyono (2017:61) variabel independent adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
2. Variabel Dependen
Menurut Sugiyono (2017:61) variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
2.1.8.6 Instrumen Penelitian
Menurut Sugiyono (2016:133) skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
Dalam penelitian ini menggunakan skala likert, menurut Sugiyono (2016:134) “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan”. Jawaban setiap item
instrumen yang digunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain:
1. Sangat Setuju (SS) skor 5 2. Setuju (S) skor 4
3. Netral (N) skor 3
4. Tidak Setuju (TS) skor 2
5. Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1
2.1.8.7 Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu alat ukur telah menjalankan fungsi ukurnya dengan baik atau tidak. Menurut Ghozali (2018:51), uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner.
Suatu kuesioner dinyatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.
Menurut Ghozaali (2018:51) uji signifikan dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = n-2, bahwa, jika r hitung lebih besar dari r tabel dan nilai positif maka butir atau pertanyaan atau indikator tersebut dinyatakan valid.
2.1.8.8 Uji Reliabilitas
Menurut Ghozali (2018:45), reliabilitas sebenarnya adalah alat untuk mrngukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk.
Suatu kuesioner dinyatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Uji reliabilitas penelitian ini akan dihitung menggunakan program SPSS for windows. Seperti yang dijelaskan oleh Ghozali (2018:46), SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reabilitas dengan uji stastik Cronbach Alpha (a). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memeberikan nilai Cronbach Alpha
> 0,70.
2.1.8.9 Analisis Statistik Deskriptif
Menurut Sugiyono (2016:147), statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Sehingga pada penelitian ini data yang digunakan untuk analisis statistik deskriptif didapatkan dari responden yaitu karyawan di PT Semesta Mandiri Transport.
Data yang baik adalah data yang bersifat tetap dan dapat dipercaya. Reliabel dimaksudkan bahwa instrumen tersebut dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat ukur untuk memperoleh data. Arikunto (2010:221) menjelaskan bahwa realibilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut sudah baik.
2.1.8.10 Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui data yang digunakan berdistribusi dengan normal atau tidak. Uji normalitas menurut Ghozali (2018:161) adalah:
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal.
Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.
Pengujian normalitas pada penelitian ini menggunakan bantuan analisis grafik melalui SPSS for windows. Menurut Ghozali (2018:163), pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (ririk) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya.
Dasar pengambilan keputusan uji ini menurut Ghozali (2018;163) adalah sebagai berikut:
a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi distribusi normalitas.
2.1.8.11 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara variabel bebas. Menurut Ghozali (2018:107), tujuan uji muktikolinieritas adalah:
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel – variabel ini tidak orthogonal.
Variabel orthogonal adalah variabel independen sama dengan nol.
Menurut Ghozali (2018:107), untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi adalah sebagai berikut :
a. Nilai R₂ yang dihasilkan oleh estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel – variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.
b. Menganalisis matrik korelasi variabel – variabel independen. Jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 0.90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas. Tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen tidak berarti bebas dari multikolinearitas. Multikolinearitas dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen.
c. Multikolinearitas dapat juga dilihat dari (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap
variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregresi variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Setiap peneliti harus menentukan tingkat kolinieritas 0,95. Walaupun multikolinearitas dapat dideteksi dengan nilai Tolerance dan VIF, tetapi kita masih tetap tidak mengetahui variabel – variabel independen mana sajakah yang saling berkorelasi.
2.1.8.12 Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas menurut Ghozali (2018:137) adalah uji heteroskedastisitas bertujuan apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika bebeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas.
Terdapat salah satu cara yang dapat digunanakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas. Cara tersebut dapat dilakukan dengan cara melihat Grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat
melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah di-studendized.
Dalam melakukan uji heteroskedastisitas pada penelitian ini peneliti menggunakan program SPSS 28 for windows. Dasar analisis untuk mengambil keputusan menurut Ghozali (2018:138) adalah sebagai berikut:
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik – titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik – titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
2.1.8.13 Analisis Regresi Linear Berganda
Regresi linear berganda pada dasarnya merupakan perluasan dari regresi linear sederhana, yaitu menambah jumlah variabel bebas yang sebelumnya hanya satu menjadi dua atau lebih variabel bebas (Sanusi, 2014:134).
2.1.8.14 Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Menurut Ghozali (2018:97) koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai R₂ yang kecil berarti kemampuan variabel – variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel – variabel independen memberikan hampir infomasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection) relatif rendah karena adanya varisai
yang besar antara masing – masing pengamatan, sedangkan untuk data runtun waktu (time series) biasanya mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi.
2.1.8.15 Uji t
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali,2018:98). Dalam penelitian ini maka akan dilakukan langkah – langkah berikut dalam analisis untuk uji Statistik t :
1. Merumuskan hipotesis nol dan hipotesis alternatif
a. H0 : b1 = 0 (suatu variabel bebas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat)
b. H1 : b1 ≠ 0 (suatu variabel bebas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat) .
2. Menghitung nilai t dengan SPSS 28 for windows.
3. Membandingkan nilai hitung dan nilai ttabel yang tersedia pada α tertentu. ttabel
dapat ditentukan dengan rumus df = (n-k-l). Dimana n = jumlah sampel; k = jumlah variabel bebas dan ttabel diperoleh dari daftar tabel distribusi t dengan α
= 0,05.
4. Mengambil keputusan dengan kriteria sebagai berikut:
a. Jika thitung > ttabel dan t sig ≤ (α=0,05) maka H0 ditolak, Ha diterima.
Berarti variabel (X) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y).
b. Jika thitung < ttabel dan t sig ≥ (α = 0,05) maka H0 diterima, Ha ditolak.
Berarti variabel bebas (X) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap vaiabel terikat (Y).
2.1.8.16 Uji F
Menurut Sanusi (2014:137), uji F adalah uji seluruh koefisien regresi secara serempak. Dalam penelitian ini maka akan dilakukan langkah – langkah berikut dalam analisis untuk uji statistik F:
1. Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif.
a. H0 : = b1 = b2 = b3 = 0 artinya, proporsi variasi dalam variabel terikat (Y) yang dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel bebas tidak signifikan.
b. Ha : minimal satu koefisien dari b1 ≠ 0 artinya, proporsi dalam variabel terikat (Y) yang dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel bebas signifikan
2. Menghitung nilai F dengan menggunakan SPSS for windows.
3. Membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel yang tersedia pada α tertentu. F tabel dapat ditentukan dengan rumus df1 = (k) dan df2 = (n-k-l), Dimana F tabel diperoleh dari daftar tabel distribusi F dengan α = 0,05 4. Mengambil keputusan dengan kriteria sebagai berikut:
a. Jika Fhitung > Ftabel, dan F signifikan < α = 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Berarti variabel bebas (X) secara bersama - sama berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y).
b. Jika Fhitung < Ftabel, dan F signifikan > α = 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak. Berarti variabel (X) secara bersama – sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y).
Model Penelitian
Gambar 2. 1 Model Teoritis
Sumber : file:///E:/..THESIS/BERTHA/JURNAL%20SKRIPSI.pdf Pada model penelitian ini terdapat hubungan antara variabel independent yaitu Manajemen Distribusi dan Perencanaan Distribusi dan variabel dependennya yaitu Kinerja Perusahaan.
Hipotesis
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan jurnal yaitu sebagai berikut. Jasan dan Charles (2021)
H1 = Manajemen Distribusi mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan PT Semesta Mandiri Transport
H2 = Perencanaan Distribusi mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan PT Semesta Mandiri Transport
H3 = Manajemen Distribusi dan Perencanaan Distribusi mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan PT Semesta Mandiri Transport
Penelitian Terdahulu
Adanya beberapa peneliti terdahulu yang sudah melakukan penelitian dengan topik yang sama atau sejenis terkait dengan pembahasan Kinerja Perusahaan
Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu
No Peneliti Publikasi Judul Hasil Temuan
1. 1Shakita Jason, 2Dr. Ndeto Charles
Vol 2, Issue 2, pp 315- 333, June 17, 2021, © International Research Journal Publishers, ISSN 2710-2742 (online) www.irjp.org
INFLUENCE OF DISTRIBUTION MANAGEMENT STRATEGIES ON THE
PERFORMANCE OF CEMENT
MANUFACTURING FIRMS IN
MACHAKOS COUNTY
Distribusi manajemen
berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja perusahaan, Perencanaan
distribusi
berpengaruh positif siignifikan terhadap kinerja perusahaan
2. Supriyanto (2020)
Jurnal Sains Teknologi Transportasi Maritim e-ISSN 2722-1679 p-ISSN 2684-9135
ANALISIS
PENGARUH SUPPLY CHAIN
Supply chain integration
berpengaruh positif
Volume 2 No.1. Mei 2020 11
INTEGRATION DAN INOVASI
TERHADAP KINERJA
PERUSAHAAN
(Studi Kasus Pada Perusahaan Freight
Forwading Di
Semarang)
signifikan terhadap kinerja perusahaan, inovasi
terhadap kinerja perusahaan
3. Santoso dkk (2020)
Vol. 8, No. 2 – September 2020 ISSN : 8053-9571
Kinerja pt pln unit induk distribusi jakarta raya dengan supply chain operation reference
Dilakukan dengan analisa SCOR dengan indikator POV dan OCFT diketahui penyebab keterlambatan dalam penyambungan listrik TM pola 100 hari dikarenakan 2 faktor, yaitu dari sisi Eksternal dan Internal.
4 Jefri Tumelap (2014)
Jurnal Ilmiah Media Engineering Vol.4 No.2, September 2014 (135- 142) ISSN: 2087-9334
ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN JASA PELAKSANA KONSTRUKSI (Studi Kasus di Kabupaten Sarmi
Faktor Internal disimpulkan bahwa Sistem Komunikasi antara Pimpinan dan Karyawan yang paling
mempengaruhi kinerja. Pada Faktor Situasi Pasar disimpulkan bahwa Kemampuan
Mencari dan
Mendapatkan Proyek
yang paling
mempengaruhi kinerja. Pada Faktor Eksternal
disimpulkan bahwa Kenaikan Harga Material dan Peralatan yang paling
mempengaruhi kinerja.
5. Fredy Eka Ardhi Pratama (2021)
Jurnal Ilmiah INOVASI, Vol. 21 No. 1 Januari- April 2021, ISSN 1411- 5549
Pengaruh Kinerja Distribusi Selling-In Terhadap Kinerja Pemasaran PR. Gagak Hitam
Hubungan
distributor dengan outlet berpengaruh langsung dan tidak signifikan terhadap kinerja selling-in PR.
Gagak Hitam
6 Inri Wongkar (2015)
ISSN 2303-1174 STRATEGI
PROMOSI DAN SALURAN DISTRIBUSI TERHADAP KINERJA
SIRKULASI SURAT KABAR MANADO POST
Hasil penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa Strategi Promosi dan Saluran Distribusi berpengaruh secara simultan terhadap Kinerja Sirkulasi pada Surat Kabar Manado Post, sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa diduga
variabel Strategi Promosi dan Saluran Distribusi secara bersama (simultan) berpengaruh terhadap Kinerja Sirkulasi pada Surat Kabar Manado Post di terima.
7 Wala Erpurini, Unas Pasim (2019)
Bisnis & Teknologi, p- ISSN : 1410-9654, e-ISSN
Pengaruh Sistem Informasi Manajemen Pemasaran dan
Saluran Distribusi terhadap Kinerja Pemasaran PT QNY Cimahi
Saluran Distribusi pada PT. QNY Cimahi pada
kategori baik. Hal ini berdasarkan hasil distribusi frekuensi dan pembobotan yang telah di jelaskan
sebelumnya, ratarata keseluruhan dimensi diperoleh nilai rata- rata sebesar 75.56
dapat dibandingkan dengan kriteria bobot yang termasuk pada interval 71,7- 88,5 yaitu kategori baik. Hal ini berarti para responden telah merasa bahwa Saluran Distribusi telah baik dalam melakukan
pemasaran produk perusahaan tersebut.
8 Fernando L. P Wawo (2015)
Jurnal EMBA Vol.4 No.3 September 2016, Hal.
741-750
ANALISIS KUALITAS
PRODUK, PROMOSI DAN DISTRIBUSI TERHADAP KINERJA
PEMASARAN PADA PT. DAYA
ADICIPTA WISESA
Distribusi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pemasaran pada PT.
Daya Adicipta Wisesa Honda Watutumou.
(HONDA) WATUTUMOU
9 Sugeng Rianto (2017)
Vol. 5, No. 2, September 2017 Hal. 170 - 183
Pengaruh Kemitraan dan Kewirausahaan Terhadap Saluran Distribusi, serta Pengaruhnya Terhadap Kinerja UMKM di Kabupaten Purbalingga
Hasil ujiT
menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan saluran distribusi terhadap kinerja usaha. Koefisien pengaruh saluran distribusi terhadap kinerja usaha sebesar 0,6599 bernilai positif. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H4 dapat diterima.
Jadi, terdapat pengaruh positif signifikan saluran distribusi terhadap kinerja usaha
10 Muhajir (2018) Jurnal Ilmu Ekonomi e- ISSN : 2622-6383
Volume 1 Nomor 1 (2018) Oktober
ANALISIS PENGARUH
KINERJA SALURAN DISTRIBUSI,
ORIENTASI PASAR, DAN KUALITAS PRODUK
TERHADAP KINERJA
PEMASARAN (Studi Pada Wilayah
Distribusi PT. Semen Tonasa di Kota Makassar)
Berdasarakan hasil analisis penelitian, diperoleh uji parsial (uij t) menunjukkan nilai thitung seluruh variabel lebih besar dari nilai ttabel dengan nilai signifikan < 0,05.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel saluran distribusi, orientasi pasar, dan kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pemasara pada wilayah distribusi PT. Semen Tonasa di Kota Makassar
11 Sendhang Nurseto (2018)
Volume 7, Nomor 2, September 2018, pp.103- 107 P-ISSN: 2252-3294 E-ISSN: 2548-4923
Pengaruh Saluran Distribusi dan Promosi Terhadap Kinerja Pemasaran (Studi Kasus Pada UKM Furniture Kota Semarang)
Terdapat pengaruh saluran distribusi terhadap kinerja pemasaran, hal tersebut dapat dilihat dari nilai t hitung 5,751 dengan signifikansi 0,000 <
0,005 maka dapat diambil kesimpulan bahwa menerima hipotesis penelitian yang berbunyi
“diduga terdapat pengaruh antara saluran disrtribusi terhadap kinerja pemasaran.”
12 Qurtubi (2019) Jurnal Sistem dan
Manajemen Industri Vol 3 No 1 Juli 1 2019, 1-9
Identifikasi Variabel yang Berpengaruh terhadap Kinerja Pemasaran dan
Distribusi
berpengaruh positif dan signifikan
Indikator Kinerja Pemasaran untuk Industri Hotel
terhadap kinerja pemasaran