SKRIPSI
Diajukan oleh:
AYU PUTRI AMELYA F1F118040
JURUSAN FARMASI
FALKUTAS KEOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI
2022
i
UJI EFEK TERATOGENIK EKSTRAK ETANOL DAUN EKOR NAGA (Rhaphidophora Pinnata(L.f) Schott) TERHADAP FETUS MENCIT PUTIH
(Mus musculus)
Diajukan sebagai salah satu syarat dalam melakukan penelitian dalam rangka penulisan Skripsi Jurusan Famasi
Diajukan oleh:
AYU PUTRI AMELYA F1F118040
JURUSAN FARMASI
FALKUTAS KEOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI
2022
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat danhidayah-NYA penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Uji Efek Teratogenik Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga (Rhaphidophora Pinnata(L.f) Schott Terhadap Fetus Mencit Putih (Mus musculus)”sebagai salah satu syarat untuk memerolrh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi. Dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapakan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu, khusunya:
1. Prof. Drs. H. sutrisno, M.Sc., Ph.D selaku rector Universitas Jambi 2. Dr. dr. Humaryanto, Sp. OT. M.Kes. selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan ilmu kesehatan, Universitas Jambi.
3. Prof. Dr. Rer. Nat. Muhaimin M. Si ketua Jurusan farmasi serta Elisma, S.Farm.,M.Farm.,Apt. selaku Sekretaris Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan ilmu kesehatan.
4. Apt. Fathnur Sani K, S.Farm., M.Farm., selaku Dosen Pembimbing utama yang telah bersedia membimbing, mengarahkan dan memberi banyak ilmu serta solusi pasa setiap permasalahan atas kesulitan dalam penulisan skripsi
5. Apt. Elisma, S.Farm., M.Farm, selaku dosen pembimbing pendamping yang senantiasa memberikan arahan, solusi dan ilmu dukungan dalam penulisan skripsi.
6. Ibu tercinta Nurul Hidayati, Ayah tersayang Bapak Sobri, Kakak, Adik yang selalu mendoakan, memberi support dan selalu menjadi pendengar yang baik dalam segala situasi
7. Keluarga tercinta yang telah memberikan dukungkan doa dan semangat
8. Sahabat yang selalu ada dikala suka dan duka Yuhana,
vi Dara, Dafa, Tasya, Sari, Michara
9. Sahabat penelitian yang selalu kuat di segala situasi Wita Tannesia Elen Septina, Maulizarni Ruza, terimakasih sudah berjuang bersama- sama.
10. Kepada diri saya sendiri yang telah bertahan dan menikmati setiap proses selama awal masuk kuliah hingga peneyelesaian skripsi ini 11. Terimakasih untuk adek sepupu yessi kartika yang selalu membantu
dalam segala hal.
12. Seluruh anggota keluarga AINS angkatan 2018, semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, baik yang membantu secara langsung maupun tidak langsung
Demikian skripsi ini disusun semoga dapat memberikan manfaat bagi segala pihak. Penulis mengharapkan adanya skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memeberikan manfaat yang baik bagi kita semua
Jambi, Desember , 2022
AYU PUTRI AMELYA F1F118040
vii DAFTAR ISI
PERSETUJUAN SKRIPSI... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... vi
KATA PENGANTAR ...v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
RIWAYAT HIDUP ... xiii
ABSTRACT ...xiv
ABSTRAK ... xv
I. PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Rumusan Masalah...3
1.3 Tujuan Peneitian ...3
1.4 Manfaat Penelitian ...3
II. TINJAUAN PUSTAKA...4
2.1 Tanaman Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) ...4
2.1.1 Klasifikasi Daun Ekor Naga ...4
2.1.2 Sinonim Daun Ekor Naga ...4
2.1.3 Nama Daerah Daun Ekor Naga ...4
2.1.4 Deskripisi Daun Ekor Naga ...4
2.1.5 Manfaat Daun Ekor Naga ...5
2.1.6 Kandungan Daun Ekor Naga ...5
2.2 Metode Ekstraksi ... 10
2.2.1 Pengertian ... 10
2.2.2 Prinsip Ekstraksi ... 10
2.3 Tetatogenik ... 13
2.3.1 Prinsip-prinsip teratogenik ... 14
viii
2.4 Hewan Uji ... 18
III. METODE PENELITIAN ... 19
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 19
3.2 Bahan dan Peralatan Penelitian ... 19
3.2.1 Bahan Penelitian ... 19
3.2.2 Alat Penelitian ... 19
3.3 Hewan Uji ... 19
3.4 Metode Penelitian ... 20
3.4.1 Pengambilan dan Preparasi Bahan Penelitian... 20
3.4.2 Aklimatisasi Hewan Percobaan ... 20
3.4.3 Determinasi Tanaman ... 20
3.4.4 Pembuatan Simplisia ... 21
3.4.5 Pembuatan Ekstrak ... 21
3.4.6 Karakteristik Spesifik Ekstrak ... 21
3.4.7 Uji KarakteristikNon Spesifik Ekstrak ... 22
3.4.8 Skrining Fitokimia ... 22
3.5 Rancangan Penelitian ... 23
3.6 Uji Teratogenik ... 24
3.7 Variabel yang diamati ... 26
3.8 Analisis Data ... 27
BAB IV ... 28
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28
4.1 Pengambilan Sampel... 28
4.2 Determinasi ... 28
4.3 Pembuatan Serbuk Simplisia Daun ekor naga ... 28
4.4 Ektraksi serbuk simplisia daun ekor naga ... 28
4.5 Karakteristik Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga ... 29
4.5.1 Karakterisik Spesifik ... 29
4.5.2 Karakteristik Non Spesifik ... 30
4.6 Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga ... 31
4.7 Efek dari Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga Terhadap Perkembangan Fetus Mencit ... 31
4.7.1 Efek dar Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga terhadap Berat Badan Induk ... 32
ix
4.7.2 Efek dari Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga terhadap Berat dan Panjang
Badan Fetus serta Angka Kelahiran atau Litter size ... 33
4.7.3 Efek dari Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga Morfologi Fetus Mencit ... 34
4.7.4 Efek dari Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga terhadap Abnormalitas Eksterna Fetus Mencit ... 35
BAB V ... 39
KESIMPULAN DAN SARAN ... 39
5.1 Kesimpulan ... 39
5.2 Saran ... 39
DAFTAR PUSTAKA ... 40
LAMPIRAN ... 43
x
DAFTAR TABEL
Tabel 4. 1 Uji Organoleptis Ekstak Etanol Daun Ekor Naga ... 29
Tabel 4. 2 Parameter Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga... 30
Tabel 4. 3 Skrining Fitokomia ... 31
Tabel 4. 4 Hasil Pengukuran Berat Badan Induk ... 32
Tabel 4. 5 Jumlah Kelahiran atu Litter Size Fetus Mencit ... 33
Tabel 4. 6 Hasil Pengukuran Berat dan Panjang Badan Fetus Mencit ... 33
Tabel 4. 7. Pengamatan Abnormalitas Eksterna pada Fetus ... 35
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Daun Ekor Naga ...4
Gambar 2. Struktrur Umum Flavonoid ...6
Gambar 3. Struktur Flavonoid ...6
Gambar 4. Struktur Inti Alkaloid ...7
Gambar 5. Bagian glikol dan aglikon dalam suatu glokosida ...8
Gambar 6. Struktur Kimia Saponin: a) Triterpenoid, b) Steroid...8
Gambar 7. Struktur Kimia Tanin Terkondensasi ...9
Gambar 8. Struktur Kimia Tanin Terhidrolisis ...9
Gambar 9. Kerusakan ultrastruktural ... 17
Gambar 10. Mencit ... 18
Gambar 11. Perbandingan Morfologi Fetus antar kelompok (1) Kontrol normal, (2) 250mg/kgBB, (3) 500mg/kgBB, (4) 1000mg/kgBB ... 34
Gambar 12. Fetus normal (A) Fetus P2 yang mengalami kecacatan(B) ... 35
Gambar 13. (A) fetus kontrol normal; (B) fetus dengan tubuh kredil; (C) Fetus dengan tubuh bongkok ... 36
Gambar 14. (A) Fetus hemoragi bagian leher; (B) Fetus hemoragi bagian punggung; (C) Fetus hemoragi bagian telinga ... 37
Gambar 15. Hasil Pewarnaan Kerangka Fetus ... 37
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Alur Penelitian ... 43
Lampiran 2. Preparasi Sampel Penelitian Daun Ekor Naga ... 44
Lampiran 3. Ekstrak Etanol Daun Ekor Naga ... 45
Lampiran 4. Skema Kerja Uji Efek Teratogen ... 46
Lampiran 5. Perhitungan Rumus Federer ... 47
Lampiran 6. Perhitungan Dosis Volume Penyuntikan Pada Mencit ... 48
Lampiran 7. Perhitungan Susut Pengeringan dan Kadar Abu ... 49
Lampiran 8. Determinasi Tumbuhan Ekor Naga... 50
Lampiran 9. Surat Keterangan Lolos Kaji Etik ... 51
Lampiran 10. Surat Keterangan Sehat Hewan ... 52
Lampiran 11. Dokumentasi Skrining ... 53
Lampiran 12. Dokumtasi Skrining ... 58
Lampiran 13. Hasil Analisis Data SPSS ... 60 Lampiran 14. Peningkatan Berat Badan Induk Sebelum dan Sesudah Perlakuan 63
xiii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Musi Rawas, pada tanggal 06 Juli 2000 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan bapak Sobri dan Ibu Nurul Hidayati. Penulis mengawali pendidikan dari SD N 03 Desa Lesung Batu pada tahun 2006 dan lulus pada tahun 2012. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di MTS N 1 Muratara dan lulus pada tahun 2015. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di SMA N 2 Muratara dan lulus pada tahun 2018. Pada tahun 2018 penulis diterima di Universitas Jambi untuk melanjutkan pendidikan Strata-1. Jurusan yang dijalankan yaitu Farmasi di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi melalui jalur seleksi SMMPTN Barat, untuk menyelesaikan pendidikan jenjang tersebut penulis harus melewati proses praktek kerja lapangan di Apotek Kimia Farma Jambi dan Apotek Kopkar Enegri Jambi serta melakukan penelitian tugas akhir. Penulis melakukan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul "UJI EFEK TERATOGENIK EKSTRAK ETANOL DAUN EKOR NAGA (Rhaphidophora Pinnata (L.f) Schott TERHADAP FETUS MENCIT (Mus musculus)”
xiv ABSTRACT
Dragon's tail leaf (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) is one of the traditional medicinal plants used by the community to treat various diseases such as coughs, accelerate wound healing, as anti-inflammatory, antidiabetic, anticholesterol, anthelmintic and from existing research, dragon tail leaves can treat cancer and tumors. Teratogenic test is a test designed to evaluate the specific effects of a compound on the fetus during organogenesis and the presence of external influences that can cause teratogenic effects. Methods This research is a laboratory experimental, with a completely randomized design method (CRD) using 4 treatment groups. namely control (Na CMC) and three treatment groups with a dose of dragon tail leaf extract 250 mg/Kg BW (P1), 500 mg/Kg BW (P2), and 1000 mg/Kg BW (P3) The test animals used in this study as many as 6 pregnant female mice each group. The results obtained were analyzed using Duncan's One Way Anova test. The results showed that the ethanol extract of dragon's tail leaves did not cause fetal death, but caused a decrease in length and weight in the fetus, abnormalities such as hemorrhage and credence. However, in the ossification process, no abnormalities were found. Based on the research that has been done, it can be concluded that the ethanolic extract of the dragon's tail leaf has a teratogenic effect that can cause birth defects in mice.
Keywords: Dragon tail leaf (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) Teragogenic effect, Fetus
xv
ABSTRAK
Daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang digunakan masyarakat untuk mengatasi berbagai penyakit seperti batuk, mempercepat penyembuhan luka, sebagai antiinflamsi, antidiabetes, antikolestrol, antelmintik dan dari penelitian yang sudah ada daun ekor naga dapat mengobati kanker dan tumor. Uji teratogenik merupakan uji yang dirancang untuk mengevaluasi efek khusus suatu senyawa pada janin selama masa organogenesis dan adanya pengaruh dari luar yang dapat menimbulkan efek teratogenik. Metode Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium, dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan 4 kelompok perlakuan. yaitu kontrol (Na CMC) dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak daun ekor naga 250 mg/Kg BB (P1), 500 mg/Kg BB (P2), dan 1000 mg/Kg BB (P3) Hewan uji yang diguakan dalam penelitian ini sebanyak 6 ekor mencit betina hamil setiap kelompok. Hasil yang didapat dianalisis dengan menggunakan One Way Anova uji lanjut Duncan. Hasil menunjukan bahwa ekstrak etanol daun ekor naga tidak menyebabkan kematian fetus, namun memenyebabkan penurunan panjang dan berat badan pada fetus, kelainan abnormalitas seperti hemoragi dan kredil. Namun dalam proses osifikasi tidak ditemukan kelainan.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun ekor naga memiliki efek teratogenik yang dapat menyebabkan kecacatan pada fetus mencit.
Kata kunci: Daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) Efek Teragogenik, Fetus
1
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu keadaan dimana dalam rahim terdapat hasil konsepsi yaitu pertemuan ovum dan spermatozoa1. Proses kehamilan merupakan merantai yang bersinambungan dan terdiri dari ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implamentasi) pada uterus, pembentukan plasenta dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm2. Pada kehamilan normal terlebih kehamilan tidak normal membutuhkan obat-obatan tambahan. Pemberian obat-obatan selama kehamilan dipergunakan untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan janin namun selain memberikan manfaat, Penggunaan obat-obatan selama kehamilan juga dapat meberikan dampak atau efek samping pada ibu dan janin dari zat kimia obat. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengiliminasi efek samping zat kimia obat yaitu dengan menggunakan obat yang berasal dari bahan alam namun penggunaan jenis tanaman obat juga dapat menyebabkan efek samping yang tidak dikehendaki pada janin selama masa kehamilan terutama pada fase embriogenik juga fase organogenesi seperti dapat menimbulkan efek teratogenik 3
Uji teratogenik dilakukan untuk melihat perkembangan janin dan menimbulkan efek yang berubah-ubah mulai dari letalitas sampai kelainan bentuk (malformasi) dan keterlambatan pertumbuhan 3. Obat yang dikonsumsi oleh ibu hamil akan diabsorbsi menembus plasenta hingga mencapai embrio atau janin dan akan mengalami biotransformasi didalam plasenta hingga menjadikan senyawa reaktif yang bersifat teratogenik 4.
Uji teratogenik merupakan uji yang dirancang untuk mengevaluasi efek khusus suatu senyawa pada janin selama masa organogenesis dan adanya pengaruh dari luar yang dapat menimbulkan efek teratogenik. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk melihat kemungkinan penggunaan suatu zat pada ibu hamil dan menentukan efeknya terhadap janin. Hal ini penting untuk mengetahui keamanan suatu senyawa terhadap janin (Lu, 1995; Mutiatikum dkk., 1999). Pada penelitian uji toksisitas dan antioksidan dari ekstrak n-heksan
2
dan etil asetat daun durian pada hewan uji Artemia salina, menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dengan konsentrasi 10, 100, dan 500 μg/ml menunjukkan ekstrak etil asetat memberikan persentase kematian tertinggi yaitu mempu membunuh seluruh hewan uji percobaan pada konsentrasi 500 ppm dengan LC50 terendah yaitu 85,37 ppm 5
Daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f.) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang digunakan masyarakat untuk mengatasi berbagai penyakit seperti batuk, mempercepat penyembuhan luka, sebagai antiinflamsi, antidiabetes, antikolestrol, antelmintik dan dari penelitian yang sudah ada daun ekor naga dapat mengobati kanker dan tumor. Tanaman ekor naga memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder antara lain flavonoid, alkaloid, steroid, glikosida, saponin, dan tanin yang dapat memberikan khasiat sebagai antiinflamasi. Flavonoid memiliki peranan besar sebagai antiinflamasi sedangkan kandungan senyawa sebagai pendukung. Pengujian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Dian Lestari (2021) tentang uji Efektivitas ekstrak daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) sebagai antihiperglikemia.
Memiliki efek sebagai agen antihiperglikemia terhadap mencit putih jantan yang diindukasi sukrosa secara statistik memiliki perbedaan yang bermakna jika dibandingkan dengan kontrol negarif. Dosis perlakuan yang efektif dalam penelitian ini adalah perlakuan III dengan dosis (375 mg/kgbb) sebesar 38,7%.
Dan untuk presentase penurunan kadar glukosa darah kontrol positif sebesar 39,5%. Penurunan kadar glukosa darah pada mencit yang diinduksi sukrosa yang sebanding dengan kontrol positif acarbose6.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan penelitian guna melihat efek teratogenik dari ekstrak etanol daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) pada fetus mencit (Mus musculus). Penelitian ini dilakukan selama masa gestasi pada mencit betina dengan berbagai dosis. Sejumlah kelainan morfologis dan tulang yang terjadi pada fetus akan diamati sebagai indikator teratogen. Penelitian ini juga mencakup karakterisasi dari ekstrak etanol daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pemberian ekstrak etanol daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) menimbulkan efek teratogenik terhadap fetus mencit putih yang diberikan beberapa perlakuan dosis?
2. Berapakah dosis ekstrak etanol daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) yang menimbulkan efek teratogenik pada fetus mencit putih?
1.3 Tujuan Peneitian
1. Untuk mengetahui efek teratogenik yang timbul akibat dari pemberian ekstrak etanol daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) terhadap fetus mencit putih yang diberikan beberapa perlakuan dosis.
2. Mengetahui pada dosis berapa ekstrak etanol daun ekor naga dapat menyebabkan efek teratogenik terhadap fetus mencit putih.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Penelitian yang akan dilakukan ini bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang uji efek teratogenik ekstrak etanol daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott)
2. Penelitian ini juga dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang manfaat dari daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) yang dapat digunakan sebagai obat tradisonal
4
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) 2.1.1 Klasifikasi Daun Ekor Naga
Menurut Heyne (1987) 7, tanaman ekor naga merupakan tanaman hias yang berasal dari himalaya yang diklasiikasikan sebagai berikut:
King Kingdom : Plante
Divisi : Spermatophyta Kelas : Monocotyledoneae Bangsa : Arales
Famili : Araceae
Genus : Rhaphidophora
Spesies : (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) 2.1.2Sinonim Daun Ekor Naga
Epipremnu pinnatum (L.) Engl., Scindapsus pinntatus (L.) Schott, Rhaphidophora merrillii Engl, E pipremnosis media, Rhaphidophora korthalasi8
2.1.3 Nama Daerah Daun Ekor Naga
Menurut Heyne (1987) 7 nama daerah tanaman ekor naga adalah sebagai berikut:
Indonesia : Tapnawa tairis (Mal).
Sunda : Lolo munding,Lolo tali Jawa : Jalu mampang,Sulang Bali : Samblung
Sematera Utara: Ekor naga
2.1.4 Deskripisi Daun Ekor Naga
Tanaman ekor naga merupakan tumbuhan hebal, epifit, merambat, memanjat dengan tinggi 5 hingga 20 meter. Mopologi tanam ekor naga yaitu memiliki ekor yang melekat pada tumpuannya seperti tembok atau pohon serta
jelas terlihat, sedangkan batang yang telah tua akan berwarna coklat muda seperti yang terlihat pada Gambar 2.1.
Gambar 1. Daun Ekor Naga
Batang ini memiliki nodus-nodus dengan panjang internodus yaitu 2 sampai 25 Cm yang dipisahkan oleh bekas tangkai daun yang sangat jelas.
Tangkai daun tanaman ekor naga ini memiliki panjang 19,5 – 60 Cm, tidak berbulu, berwarna hijau tua, pada bagian ujung dan pangkal sebelah belakang menggelembung, sedangkan pada bagian depan membentuk semacam kanal.
Daun ekor naga memiliki warna hijau tua pada bagian atas dan hijau agak pucat pada bagian bawah, berbagi-bagi, mempunyai toreh yang dalamnya melebihi setengah panjang tulang daun yang berjumlah 7-12 pasang serta ujungnya meruncing. Ciri khas pada jenis ini adalah adanya titik halus yang terkadang berupa lubang-lubang kecil pada sepanjang tulang daun utama, merentang pada kedua sisi tulang utama mulai dari pangkal daun dan berakhir sebelum mencapai ujung daun. Spatha berbentuk seperti kano, berwarna hijau dan spadic berbentuk silindris7–9.
Simplisia daun ekor naga (Rhapidophora pinnata, Schott) secara makroscopis memiliki karakateristik berupa daun berwarna cokelat, berkerut, bau menusuk dan memiliki rasa agak kelat. Jika dilihat secara mikroskopik tampak adanya kutikula, epidermis atas, epidermis bahwa, stomata parasitik, jaringan
5
palisade, jaringan spons dan seludang bekas pengangkut. Dari penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa simplisia daun ekor naga memiliki kadar air6,63%, kadar sari laut dalam air 19,15%, kadar sari larut dalam etanol 10,35%, kadar abu total 12,05%, dan kadar abu tidak larut dalam asam 0,24%10 Penelitian yang dilakukan Syafridah (2011) menunjukan bahwa kandungan mineal esensial pada tanaman daun ekor naga (Rhapidophora pinnata (L.f) Schott) juga memiliki kandungan mineral esensial yang terdiri dari Kalium (K), natrium (N), kalsium (Ca), besi (Fe) dan Magnesium (Mg) 11
2.1.5 Manfaat Daun Ekor Naga
Bagian yang sering digunakan sebagai obat tradisional adalah bagian daunnya dengan cara direbus dan dikonsumsi untuk rematik, kanker, menurunkan lemak, anti hipertensi, terapi stroke, batuk, patah tulang, paralisis, dan penawar racun.Selain itu, daun ekor naga (Rhapidophora pinnata (L.f) Schott) banyak dimanfaatkan oleh masyarakat secara tradisional untuk mempercepat penyembuhan luka, sebagai antiinflamsi, antidiabetes, antikolestrol, antelmintik dan dari penelitian yang sudah ada daun ekor naga dapat mengobati kanker dan mencegah tumo12 Kulit akar gantung berguna untuk menghitamkan gigi dengan cara dikunyah bersama pinang dan kapur. Batang digunakan dengan cara digiling untuk menyembuhkan anggota badan yang salah urat (terkilir). Di indonesia, bagian dalam batang tanaman dijadikan sebagai minya gosok untuk keseleo dan patah tulang. Di beberapa negara lainnya di Asia juga menggunakannya sebagai obat tradisional antara di Singapura, dimana daunnya dikonsumsi sebagai teh herbal untuk mengobati rematik dan kanker. Di philipina, getah dari batang tanaman itu digunakan untuk mengobati gigitan ular beracun. Di Vietnam, digunakan untuk mengobati batuk, paralisis, antidotum dan konjugtivitas9,13.
2.1.6 Kandungan Daun Ekor Naga
Daun ekor naga (Rhapidophora pinnata (L.f) Schott) memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder antara lain flavonoid, alkaloid, steroid, glikosida, saponin, dan tannin 14. Tanman ekor naga juga diduga mengandung fitoestrogen 15. Metabolit sekunder merupakan senyawa non nutrisi yang
dihasilkan oleh tumbuhan dan dapat memberi pengaruh terhadap kesehatan maupun pengaruh perilaku mikroorganisme lain.
a. Flavonoid
Flavonoid adalah suatu senyawa metabolit sekunder yang tersebar dalamtumbuhan dan merupakan salah satu golongan seyawa fenol yang terbesar.
Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan hijau sehingga pasti ditemukan juga dalam ekstrak tanaman. Senyawa flaonoid mempuyai strukur C6-C3-C6. Tiap bagian C6 merupakan cincin benzen yang terdistribusi dan dihubungkan oleh atom C3 yang merupakan rantai alifatik16 seperti ditunjukkan pada Gambar 2.217
Gambar 2. Struktrur Umum Flavonoid
Dalam tumbuhan flavonoid terkait pada gula sebagian glikosida dan aglikon flavonoid yang mungkin terdapat dalam satu tumbuhan dalam bentuk kombinasi glokosida18. Aglikon flavonoid (flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam berbagai struktur16. Struktur flavonoid dapat dilihat pada gambar 2.319
Gambar 3. Struktur Flavonoid
Flavonoid terutama senyawa yang mudah larut dalam air dan di ekstraksi dengan entanol 70%. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu berubah bila ditambah basa atau amino, jadi midah dideteksi pada kromatografi atau dalam larutan18. Flavonoid merupakan seyawa polar karena memiliki sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih atau suatu gula, sehingga akan larut dalam pelarut polar
7
seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilformamida, dan air. Adanya gula yang terikat pada flavonoid cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas dengan air merupakan pelarut yang baik untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, flavon, serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dan pelarut seperti eter dan kloroform16.
b. Alkaloid
Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang mengandung substansi dasar nitrogen basa, yang basanya dalam bentuk cincin hereosiklik (Gambar 2.4).
Alkaloid banyak ditemukan dalam pelarut polar karena golongan senyawa alkaloid yang berpotensi sebagai antioksidan ditemukan pada senyawa polar terekstraksi pada pelarut yang bersifat polar. Mekanisme alkaloid sebagai antiksidan primer polar adalah dengan cara mendororkan atom H pada radikal bebas20.
Gambar 4. Struktur Inti Alkaloid c. Glikosida
Glikosida merupakan senyawa antara karbohidrat dan zat nonkarbohidrat.
Dalam senyawa ini, karbohidrat disebut glikon, sedangkan non karbohiratnya disebut aglikon, seperti terlihat pada gambar 2.521. glikosida tanaman umumnya terdapat pada daun, akar dan biji. Struktur kimia kebanyakan glikosida yang terdapat di alam mempunyai konfigurasi beta. Glikosida dapat mengalami hidrolisis oleh pengaruh asam mineral atau enzim menjadi glikon da aglikon penyusunnya22.
Gambar 5. Bagian glikol dan aglikon dalam suatu glokosida d. Saponin
Saponin merupakan senyawa sekunder yang ditemukan pada banyak tanaman di bagian akar, kulit, daun, biji, dan buah yang berfungsi sebagai sistem pertahanan. Keberadaan saponin dapat dicirikan dengan adanya rasa pahit, pembentukan busa yang stabil pada larutan cair dan mampu membentuk molekul dengan kolestrol. Secara umum pada tanaman yang sama, tanaman yang belum matang memiliki kandungan saponin yang lebih tinggi dibandingkan yang sudah matang23.
Saponin terdiri atas gula yang biasanya mengadung glukosa, asam glukoronat, ylosa, rhammosa atau methylpentosa yang berikatan dengan hydrophobic aglycone (sapogenin) yaitu triterpenoid atau streoid membentuk glikosida23 (Gambar 2.6). Saponin berasal dari kata latin sapoyang berarti sabun.
Saponin memiliki diversifikasi struktur yang luas dan senyawa-senyawa saponin tertentu dengan sifat surfaktan yang dapat menyebabkan lisis pada dinding sel protozoa, sehingga dapat digunakan sebagai defaunasi protozoa24.
Gambar 6. Struktur Kimia Saponin: a) Triterpenoid, b) Steroid e. Tanin
Tanin adalah sejenis kandungan tanaman bersifat fenol yang memilki rasa sepat. Tanin ini larut, setidak-tidaknya sampai batas tertentu, dalam pelarut organik yang polar, tetapi tidak larut dalam pelarut organik nonpolar seperti benena. Kadar tanin yang tinggi mempunyai arti pertahanan bagi tanman yaitu
9
untuk membatu mengusir hewan pemangsa tanaman. Beberapa tanin terbukti mempunyai aktivitas antioksidan, menghambat pertumbuhan tumor, dan menghambat enzim seperti reverse transkriptase dan DNA topoisomerase19.
Secara kimia, terdapat dua jenis utama tanin yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis18 (gambar 2.7 dan 2.8). Tanin terkondensasi terjadi karena reaksi polimerisasi (kondensasi) antar flavonoid, sedangkan tanin terhidrolisis terbentuk dari reaksi esterifikasi asam fenolat dan gula (gluksosa)25.
Gambar 7. Struktur Kimia Tanin Terkondensasi
Gambar 8. Struktur Kimia Tanin Terhidrolisis
Tanin terkondensasi atau flavolan secara biosintesis terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal yang membentuk senyawa dimer dan oligomer yang lebih tinggi. Naman lain tanin terkondensasi adalah proantosianidin karena bila direaksikan dengan asam dan dipanaskan, beberapa ikatan karbon-karbon penghubung satuan terputus dan menghasilkan monomer antosianidin.
Proantosianidin banyak dalam bentuk prosianidin dann bila direaksikan dengan asam akan menghasilkan siandin. Pada tanin terkondensasi, tanaman dapat diekstraksi dengan metanol 50%-80%. Tanin dapat dideteksi dengan sinar UV pendek berupa bercak lembayung yang bereaksi positif dengan setiap pereaksi fenol baku18. Tanin terhidrolisis merupakan ikatan ester antara suatu monosakarida, terutama D-glukosa di mana gugus hidroksilnya (seluruh atau sebagian) terikat dengan asam galat, digalat trigalat dan asam heksa
hidroksidifenat. Tanin terhidrolisis biasanya berupa senyawa amorf, higroskopis dan berwarna coklat kuning yang larut dalam air. Tanin terhidrolisis dapat diekstraksi dengan air panas atau campurab etanil-air19. Tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi memiliki khasiat sebagai astringen, antiinflamatori, anttimikrobial, antidiare dan antioksidan. Selain itu, terkodensasi juga mmiliki khasiat yang lain yaitu hipokolesterolmik26.
2.2 Metode Ekstraksi 2.2.1 Pengertian
Ekstraksi merupakan proses penarikan zat pokok yang diinginkan dari simplisia dengan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan larut27. Pemilihan metode ekstraksi tergantung pada sifat bahan senyawa yang diisolasi. Sebelum memilih suatu metode, target ekstraksi pelarut ditentukan terlebih dahulu. Ada beberapa target ekstraksi diantaranya senyawa bioaktif yang tidak diketahui, senyawa yang diketahui ada pada suatu organisme yang berhunbungan secara strukural28. Ada beberapa metode dalam melakukan ekstraksi diantaranya maserasi, perkolasi, sokletasi, refluks, dan distilasi uap5.
2.2.2 Prinsip Ekstraksi
Prinsip proses ekstraksi dimulai dengan proses pembukaan jaringan atau dinsing sel dengan perlakuan panas, yang dilanjutkan dengan proses penarikan senyawa target menggunakan pelarut organik yang sesuai, berdasarkan prinsip kedekatan kedekatan sifat kepolaran/polaritas dari senyawa dan pelarut. Berbagai macam pelarut organik ataupun air dapat digunakan untuk ekstraksi29.
Ekstraksi dengan pelarut sangat berhubungan dengan dua tipe ekstraksi, yaitu ekstraksi padatan-cairan (solid-liquid extraction) dan juga ekstraksi cairancairan (liquid-liquid extraction). Ekstraksi padatan-cairan berarti pengambilan atau pemisahan senyawa metabolit dari suatu matriks bahan padat yang berupa bagian tertentu atau keseluruhan bagian bahan tanaman dengan menggunakan pelarut tertentu. Sedangkan ekstraksi cairan-cairan adalah pengambilan atau pemisahan senyawa metabolit yang sudah terlarut sebelumnya
11
pada suatu bahan pelarut dengan cara mencampurkannya dengan pelarut lain yang bersifat immiscible (tidak dapat bercampur baik) dengan pelarut awal tetapi memiliki kemiripan tingkat polaritas dengan senyawa yang akan dipisahkan, sehingga senyawa-senyawa target dapat terlarutkan atau terkumpul pada pelarut baru tersebut29.
Pada proses ekstraksi, bahan yang akan diekstrak kontak secara langsung dengan pelarut. Selama itu akan terjadi proses yang berlangsung secara dinamik yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga fase, yaitu: pelarut akan merusak dinding sel dan jaringan, serta masuk ke dalam sel, setelah itu pelarut akan melarutkan senyawa-senyawa metabolit, dan akhirnya pelarut bersama senyawa metabolit yang terlarut dikeluarkan atau dipisahkan dari bahan atau biomassa penghasilnya. Oleh karena itu penggilingan atau pengecilan ukuran dan juga peningkatan termperatur sangat diperlukan untuk mempercepat fase-fase tersebut. Selanjutnya pelarut harus dipisahkan dari senyawa metabolit yang terlarut di dalamnya melalui proses evaporasi untuk menghasilkan ekstrak kasar, baik dalam bentuk cairan kental atau padatan (solid)29.
2.2.3 Metode Ektraksi
Jenis-jenis metode ekstraksi bahan alam yang dapat digunakan adalah ekstraksi secara dingin dan panas. Ekstraksi secara dingin dilakukan dengan cara maserasi dan perkolasi sedangkan ekstraksi secara panas dilakukan dengan cara refluks, soxhlet, digesti, infus, dekok dan destilasi uap.
Maserasi
Meserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan karena tidak menggunakan suhu tinggi yang akan merusak senyawa di dalam sampel atau simplisia. Meserasi dilakukan dengan cara memasukan 10 bagian simplisia atau campuran simplisia ke dalam sebuah benjana, dituangkan dengan 75 bagian cairan pnyari dan ditutup, dibiarkan selama 5 hari terlindungi dari cahaya sambil sering diaduk, serkai, peras, cuci ampas dengan cairan penyri secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan kedalam benjana tertutup, biarkan ditempat sejuk, terlindungi dari cahaya selama 2 hari. Enap tuangkan atau sering.
Selanjutnya maserat disaring atau diuapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak
lebih dari 50c hingga konsistensi yang dikehendaki30. Adapun kerugian utama dari metode meserasi ini adalah memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak dan besar kemungkinan beberapa senyawa hiang. Selain itu beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstrak pada suhu kamar. Namun disisi lain, metode meserasi ini dapat menghindari rus aknya senyawa-senyawa yang bersifat termolabil28.
Maserasi merupakan metode ekstraksi yang paling sederhana dan kuno.
Meskipun demikian, metode ini masih secara luas digunakan karena beberapa kelebihan seperti biaya yang murah, peralatan yang sederhana, serta tanpa perlakuan panas sehingga menjadi pilihan tepat untuk ekstraksi senyawa-senyawa yang tidak tahan panas (termolabile)29.
Prosedur maserasi adalah dengan merendam bahan baku yang telah disiapkan (dikeringkan dan digiling) ke dalam pelarut yang sesuai pada suatu bejana dan ditempatkan pada suhu ruang dan ditunggu untuk beberapa waktu. Pengadukan secara kontinyu atau berkala juga dapat dilakukan untuk mempercepat proses ekstraksi. Proses ekstraksi dapat dihentikan jika telah diperoleh titik jenuh (equilibrium) antara konsentrasi senyawa metabolit pada larutan ekstrak dengan konsentrasi senyawa metabolit pada bahan. Setelah selesai maka larutan ekstrak dapat disaring dengan kertas saring untuk memisahkan dengan bahan asalnya29.
Untuk meningkatkan rendemen, maka prosedur di atas dapat diulangi hingga dua atau tiga kali dengan menggunakan sisa/ampas bahan hasil ekstraksi tahap pertama. Hal ini dimungkinkan karena pada ekstraksi tahap pertama, tepatnya pada saat titik equilibrium di mana kesetimbangan konsentrasi tercapai, masih ada sisa senyawa metabolit yang tertinggal pada bahan dan masih berpeluang untuk diambil kembali dalam rangka meningkatkan rendemen totalnya29.
Kelemahan metode maserasi adalah kurang efisien dari segi waktu dan rendemen. Satu kali ekstraksi memerlukan waktu sekitar 1 hari sampai dengan satu minggu, tergantung pada jenis bahan yang diekstrak, semakin kuat jaringan dan dinding sel pada bahan maka membutuhkan waktu yang lebih panjang. Selain itu, maserasi juga membutuhkan pelarut dengan volume yang lebih banyak, dan peluang hilangnya senyawa metabolit selama proses juga lebih banyak, karena
13
menempel pada bahan, menempel pada kertas saring, menempel pada bejana, dll.
Ada kemungkinan terjadinya perubahan struktur kimia dari metabolit yang tidak stabil karena lamanya proses dan kontak dengan air atau pelarut28.
2.3 Tetatogenik
Teratogenik (teratogenesis) adalah pembentukan cacat bawaan. Teratogenik merupaka istilah medis yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti membuat monster (Teratos yang berarti monster, dan genesis yang berarti generation atau birth). Dalam istilah medis, teratogenik berarti terjadinya perkembangan tidak normal dari sel selama kehamilan yang menyebabkan kerusakan pada embrio sehingga pembentukan organ-organ berlangsung tidak sempurna (terjadi cacat lahir). Kelainan ini sudah diketahui selama beberapa lama dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi bau lahir31.
Uji teratogenitas merupakan suatu uji dengan memberikan suatu faktor atau zat tertentu untuk melihat ada tidaknya kelainan pada embrio hewan uji akibat pemberian zat tersebut32. Teratogenik berhubungan dengan penyebab, meknisme, dan gejala penyimpangan perkembangan struktral atau fungsional yang terjadi selama perkembangan janin33.
Pertumbuhan sel-sel embrio (baik hewan ataupun manusia) juga pada suatu kondisi hamil nantinya suatu obat khususnya obat yang bersifat teratogenik kan memberikan suatu keadaan kecacatan pada janin yaitu pada anggota geraknya terutama pada tangan dan kaki, contoh obat yang sangat berbahaya pada ibu hamil dan bersifat teratogenik adalah thalidomid. Dimana thalidomid adalah suatu contoh produk obat yang setelah pemberian obat pada ibu hamil akan menyebabkan terjadinya kecacatan pada janin yaitu pada anggota tubuhnya, kaki dan tangan beberapa asumsi tentang pengaruh yang diberikan thalidomid pada ibu hamil adalah dapat memberikan efek yang secara tidak langsung pada janin dan efek yang secara langsung terhadap ibunya, mempengaruhi proses perkrmbangan janin serta akan menghambatkan dan mempengaruhi nutrisi dan oksigen yang mengalir ke janin. Lazimnya untuk pengaruh paparan yang akan dipengaruhi oleh
thalidomid ini terjadi pada minggu ke-4 kehamilan sampai minggu ke-7 kehamilan dengan penggunaan yang berulang dan dalam jangka waktu yang panjang pada proses kehamilan. Selain thalidomid beberapa obat yang dapat mempengaruhi terjadinya teratogenik umumnya adalah obat yang bersifat asam lemah seperti warfarin, asam valproat, dan isotretinoin. Karena berdasarkan bebrapa penelitian praklinis yang dilakukan diketahui bahwa pH yang terdapat pada cairan di sel embrio umumnya memiliki pH yang lebih tinggi dibandigkan pada plasma ib. Dengan demikian suatu obat yang bersifat asam lemah nantinya akan terakumulasi pada sel embrio sehingga akan meningkatkan kadarnya34.
Informasi tersebut meliputi abnormalitas bagian luar fetus (morfologi), jaringan lunak serta kerangka fetus. Prinsip uji teratogenisitas yaitu sediaan uji dengan dosis yang diberikan kepada beberapa kelompok hewan selama paling sedikit masa organogenesis (hari ke 6 – 15 pada rodensia (tikus atau mencit), hari ke 6- 14 (pada hamster) dan hari ke 6 -18 (pada kelinci) dari kehamilan satu dosis perkelompok. Pada sehari sebelum induk betina melahirkan, hewan dibedah, kemudian uterus diambil lalu dibuka kemudian diperiksa, dan dilakukan evaluasi terhadap fetus (janin). Pemeriksaan fetus dilakukan secara gambaran makroskopis fetusnya (kematian, abnormaitas morfologi maupun ukuran) dan gambaran mikrokopisnya (organ dalam dan kerangka)35.
2.3.1 Prinsip-prinsip teratogenik
Prinsip-prinsip Terarologi untuk pertama kali dan telah teruji oleh perjalanan waktu, prinsip tersebut meliputi35.
a. Kerentanan terhadap teratogenesis tergantung pada genotip konseptus dan cara komposisi genetik ini berinteraksi dengan lingkungan. Genom ibu juga penting dalam hal metabolisme obat, ketahanan terhadap infeksi, dan proses-proses biokimiawi serta molekuler lainnya yang akan mempengaruhi perkembangan konseptus.
b. Menurut stadium perkembangan saat paparan kerentanan terhadap teratogen berbeda-beda. Makan yang paling penting sensitif untuk timbulnya cacat lahir adalah masa kehamilan minggu ketiga hingga kedelapan, yaitu masa
15
embriogenesis. Masing-masing sistem organ mugkin mempunyai satu atau beberapa stadium kerentanan.
c. Manifestasi perkembangan abnormal tergantung pada dosis dan lamanya pemaparan terhadap suatu teratogen.
d. Teratogen berkerja dengan cara (mekanisme) yang spesifik pada sel-sel dan jaringan yang sedang berkembang untuk memulai embriogenesis (patogenesis) yang abnormal.
e. Manifestasi perkembangan abnormal yaitu kematian, malformasi, keterlambatan pertumbuhan, dan gangguan fungsi.
2.3.2 Mekanisme Teratogen
Beberapa pengaruh teratogen terhadap perkembangan embrio dilihat dari pengamatan data pada embrio, dibagi menjadi beberapa cara yaitu31:
1. Stadium Perkembangan Embrio
Sel telur akan mengalami proliferasi, differensiasi sel, migrasi sel dan organogenesis setelah terjadinya proses pembuahan. Perkembangan janin dalam kandungan dapat menjadi tiga tahap. Yaitu:
a. Tahap pra implantasi dan implantasi
Terjadi mulitiplikasi sel yang cepat pada perkembangan embrio, dimulai dari zigot samapai terbentuknya lapisan germinal atau stadium pra differensiasi. Tahap ini menyebabkan terjadinya resiko kematian embrio akibat matinya sebagian besar sel embrio, atau tidak menimbulkan efek yang nyata sama sekali. Bahkan, jika terjadi efek yang agak berbahaya, sel yang masih hidup akan menggantikan kerusakan tersebut dan membentuk embrio normal. Tahap resisten ini berkisar antara 5-9 hari lamanya, dilihat dari jenis spesiesnya. Kematian embrio prenatal pada manusia ditandai dengan abortus, sedang pada rodentia ditandai dengan adanya resorpsi. Oleh karena itu, efek gangguan agensia toksik pada embrio pada tahap pra implantasi tidak menyebabkan kelainan perkembangan. Kematian prenatal terjadi karena embrio terususun dari sejumlah sel kecil dan kehilangan sebuah sel berpotensi menyebabkan kematian.
b.Tahap Organogenesis
Setelah tahap pra differensiasi, zigot selanjutnya akan memasuki tahap organogenesis. Pada poses ini sel sedang mengalami diferensiasi, mobilisasi dan organisasi secara intensif. Terjadinya malformasi khususnya pada organ yang sedang mengalami perkembangan pada saat terpapar. Semua sistem organ mulai terbentuk, tetapi differensiasi untuk membentuk suatu organ tertentu dimulai pada hari tertentu pula, sehingga menyebabkan abnormalitas yang spesifik.
c. Tahap Fotogenesis
Fase fotogenesis dimulai pada akhir minggu ke-8 pada manusia pada hari ke 17-21 pada rodentia. Penyempurnaan beberapa organ terjadi pada fase ini, pembentukan organ genitalia, dan susunan syaraf pusat. Akan terjadi penurunan kepekaan teratogen pada stadium ini dikarenakan sebagian besar sel yang telah menyelesaikan differensiasi kecuali sistem syaraf dan urogenital. Sehingga selama proses ini, teratogen tidak menyebabkan cacat morfologi, namun dapat mengakibatkan kelainan fungsi dan gangguan mental pasca kelahiran. Kejadian kematian prenatal berkurang tetapi peningkatan kematian perinatal (kematian yang terjadi pada atau sekitar menjelang partus) khususnya pada dosis yang lebih tinggi akan terjadi. Perkembangan selama organogenesis akan menurun selama kejadian malformasi yang relatif tinggi, selain kejadian malformasi akan ada resiko terjadinya gangguan fungsional yang bersifat parmanen baru dan akan tampak kemudian, artinya tidak akan tampak pada saat kelahiran dan akan berakhir setelah beberapa periode waktu tertentu, berkisar pada minggu ke 14 terjadi pada manusia sedangkan pada hewan pengerat terjadi pada minggu ke 10 hingga 14.
2. Genotip
Ditemukan malformasi kongenital yang tersebar sporadis dalam persentase yang berbeda-beda pada pemberian teratogen tertentu ditemukan dari sejumlah percobaan. Contoh yang dapat diambil yaitu pada pemberian injeksi kortison dengan dosis tertentu pada tikus hamil strain A dan C57 menyebabkan langit- langit terbelah (cleft palate) yang termasuk kelainan pada semua anak strain A dan pada strain C57 hanya 19%. Hal tersebut menyebkan kesan adanya faktor
17
genetik dan spesies yang berlainan, sehingga insiden malformasinya dapat berbeda-beda.
3. Kerja spesifik terhadap metabolisme sel
Fungsi dan produksi dari sel dapat dipengaruhi oleh teratogen karena teratogen dapat menghambat sintesis asam nukleat atau sintesis protein, mempengaruhi arsitektur dari sel dan dapat mengubah matriks ekstraseluler.
Pasokan energi yang dipakai untuk metabolisme dengan cara langsung mengurangi persediaan substrat (misalnya defisiensi makanan) atau bertindak sebagai analog atau antagonis vitamin, asam amino esensial, dan lainnya juga dapat dipengaruhi oleh teratogen. Ketidakseimbangan osmolaritas juga dapat disebabkan hipoksia dan zat penyebab hipoksia (CO dan CO2) yang bersifat teratogen.
4. Penghambatan enzim
Penghambatan enzim dapat mengakibatkan kecacatan karena mengganggu differensiasi dan pertumbuhan sel melalui penghambatan timidilat sintase, contohnya 5-fluorourasil.
5. Hipertaminosis
Kerusakan ultrastruktural pada membran sel embrio hewan pengerat diakibatkan hipervitaminisis A, suatu mekanisme yang dapat menerangkan teratogenisitas vitamin A
Gambar 9. Kerusakan ultrastruktural
2.4 Hewan Uji
Gambar 10. Mencit
Mencit merupakan hewan yang termasuk dalam famili Murideae. Mencit liar atau mencit rumah adalah hewan satu spesies dengan mencit laboratorium.
Semua galur mencit laboratorium sekarang ini merupakan keturunan dari mencit liar sesudah melalui peternakan selektif. Mencit termasuk dalam filum chordate yang artinya mempunyai chorda dorsalis, batang syaraf dorsal tunggal dan mempunyai celah insang pada masa embrionya dan tidak berfungsi sebagai alat pernapasan. Mencit dikelompokkan dalam klassis mamalia. Seperti telah diketahui, mamalia adalah kelompok hewan vertebrata yang menduduki tempat tertinggi dalam perkembangan hewan. Nama mamalia merujuk pada ciri utama anggota mamalia yaitu adanya kelenjar mamae atau kelenjar air susu yang dapat menghasilkan air susu (pada betina) yang dapat diberikan ke keturunannya3.
Klasifikasi mencit (Mus musculus L.) adalah sebagai berikut36 : Kingdom : Animalia
Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Rodentia Subordo : Odontoceti Famili : Muridae Genus : Mus
Spesies : MusMusculus L
19
III. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian akan dilakuka di Laboratorium Fakultas Perternakan Universitas Jambi serta Laboratorium Animal Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi Mei 2022 hingga Juli 2022.
3.2 Bahan dan Peralatan Penelitian 3.2.1 Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan untuk penelitian adalah daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Shcott) segar diambil dari Desa Mandalo darat, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro jambi, Provinsi Jambi.
Bahan lainnya yang digunakan dalam penelitian adalah etanol 70%, aquadest, n-heksan, etil asetat, alkohol 96% (One Med), Larutan Allizarin red (Merck), larutan Bouin’s (ROFA), KOH 1%, gliserin dan hewan uji (mencit).
3.2.2 Alat Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain rotary evaporator, oven, grinder, waterbath, Furnace, botol maserasi, gelas beker, gelas ukur, Erlenmeyer, corong, batang pengaduk, cawan porselen, lumpang dan alu, timbangan analitik, kandang hewan uji, tempat makan dan minum hewan uji, wadah perendaman fetus, pinset, penggaris, alat bedah, papan bedah, jarum oral, kamera, tissu dan kertas millimeter blok.
3.3 Hewan Uji
Penelitian ini menggunakan hewan uji mencit sebanyak 24 ekor mencit betina yang berumur 6-8 minggu dengan berat 20-30 gram dan mencit jantan untuk proses perkawinan. Sebelum diperlakukan hewan uji di aklimatisasi terlebih dahulu di lingkungan laboratorium.
3.4 Metode Penelitian
Tahapan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu pengumpulan sampel yang di lanjutkan dengan pembuatan simplisia daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Shcott), determinasi tumbuhan, ekstraksi, fraksinasi, pembuatan suspensi Na CMC 0,5%, perencanaan dosis dan pembuatan suspensi larutan uji, uji efek teratogenik dari ekstrak etanol daun ekor naga terhadap mencit betina yang sedang hamil, pengamatan dan analisis data..
3.4.1 Pengambilan dan Preparasi Bahan Penelitian
Sampel tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah daun ekor naga sebanyak 10 kg, pengambilan sampel daun yang dipetik adalah daun tua yang berwarna hijau tua. Sampel yang diambil secara langsung (pemetikan) dalam keadaan segar.
3.4.2 Aklimatisasi Hewan Percobaan
Hewan percobaan akan dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu selama 7 hari agar hewan uji dapat beradaptasi dengan kondisi dan keadaan yang akan ditempati selama percobaan. Sebelum dilakukan aklimatisasi peneliti terlebih dahulu menyiapkan segala perlengkapan hewan seperti menyiapkan kandang yang terbuat dari bak plastik dengan bagian atas bak diberi raw kawat untuk mencegah mencit keluar dari kandang, didalam kandang terdapat medium tempat hidup mencit berupa serutan kayu (sekam), tempat minum. Selama aklimatisasi meua hewan percobaan diberikan pakan standar mencit dan minum secara adlibitum. Selama penelitian dilakukan pengukuran berat badan mencit secara teratur. Secara umum berat badan mencit mengalami peningkatan selama aklimatisasi. Apabila perubahan berat badan mencit tidak lebih dari >10% maka mencit tersebut dinyatakan sehat. Untuk mengetahui apakah perubahan berat badan mencit lebih dari 10% atau tidak maka perlu dihitung selisih berat badan sebelum dan setelah aklimatisasi37.
3.4.3 Determinasi Tanaman
Tujuan melakukan determinasi tanaman adalah untuk membuktikan kebenaran bahan yang berkaitan dengan ciri-ciri morfologi secara makroskopis
21
tanaman yang digunakan pada penelitian ini. Determinasi tanaman ekor naga dilakukan di Laboratorium Universitas Padjajaran.
3.4.4 Pembuatan Simplisia
Menurut Farmakope Herbal Indonesia (2008), pembuatan sekbuk simplisia terbuat dari simplisia utuh atau potongan-potongan halus simplisia yang sudah dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 40-45◦C lalu diserbuk dengan menggunakan alat penyerbuk (grinder), selanjutnya diayak hingga diperoleh serbuk simplisia halus.
3.4.5 Pembuatan Ekstrak
Menurut Farmakope Herbal Indonesia (2008),Ekstrak dibuat dari serbuk kering simplisia dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%.
Ekstrak dibuat dengan memasukkan satu bagian serbuk kering kedalam botol kaca berwarna gelap, lalu ditambahkan 10 bagian pelarut. Selanjutnya direndam selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Maserat yang didapat lalu dipisahkan dengan filtrasi dengan menggunakan corong Buchner untuk mempercepat penyaringan. Maserat dikumpulkan dan diuapkan dengan penguap vakum atau penguap tekanan rendah hingga diperoleh ekstrak kental. Kemudian dilakukan perhitungan rendemen yang diperoleh yaitu presentase bobot (b/b) antara rendemen dengan bobot serbuk simplisia yang digunakan dengan cara penimbangan.
3.4.6 Karakteristik Spesifik Ekstrak a. Identitas
Hasil dari uji identitas didapatkan pendiskripsian tata nama diantaranya nama latin tumbuhan, nama Indonesia tumbuhan, serta naman bagian tumbuhan yang digunakan38.
b. Sifat organoleptik
Uji organoleptik yaitu berupa pengenalan secara fisik yang menggunakan panca indra dalam mendeskripsikan bentuk, warna, rasa, bau yang di lihat secara visual38
3.4.7 Uji KarakteristikNon Spesifik Ekstrak a. Susut Pengeringan
Ekstrak sebanyak 1 g dimasukkan ke dalam krus proselin bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105˚C selama 30 menit dan ditara. Krus kemudian dimasukkan ke dalam oven dalam keadaan tutup krus terbuka. Proses pengeringan dilakukan pada suhu 105˚C hingga bobot tetap. Kemudian dinginkan dalam desikator39.Ekstrak yang didapatkan ditimbang serta dihitung dengan menggunakan rumus.
susut pengeringan % =Berat ekstrak (g) − 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 (𝑔)
Berat ekstrak (g) 𝑥 100%
b. Kadar abu
Prinsip dari analisis kadar abu yaitu untuk mengetahui jumlah abu yang terdapat pada suatu bahan terkait dengan mineral dari bahan yang dianalisis. Penetapan Kadar Abu Total. Sebanyak 2 gram ekstrak ditimbang seksama dimasukkan dalam kurs yang sebelumnya telah ditimbang. Setelah itu ekstrak dipijar dengan menggunakan oven hingga mendapatkan bobot konstan. Kemudian ditimbang hingga bobot yang tepat 40.
Kadar abu% =Berat ekstrak (g) − 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 (𝑔)
Berat ekstrak (g) 𝑥 100%
3.4.8 Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia dalam ekstrak daun ekor naga meliput sebagai berikut41:
Cara kerja skrining fitokimia yaitu dengan menimbang 0,25 gram ekstrak daun ekor naga lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi tambahkan 5 mL Aquadest dan 5 mL klorofom asetat dikocok kuat. Kemudian biarkan hingga terbentuk 2 lapisan air (atas) dan klorofom (bawah).
a. Uji Flavonoid
Ambil lapisan air sebanyak 6 tetes lalu ditambahkan sedikit serbuk Mg.
kemudian ditambahkan HCL (p) maka akan terbentuk endapan coklat .
23
b. Uji Alkaloid
Ambil lapisan klorofom sebanytak 6 tetes lalu tambahakan amoniak 0,05 N sebanyak 2 mL diaduk secara perlahan. Kemudian tambahkan 6 tetes H2SO4 2N kocok perlahan dan biarkan memisah. Ambil lapisan bawah lalu tambahakan pereaksi mayer, reaksi positif jika adanya terbentuk kabut putih hingga endapan putih. Jika lipasan bawah ditambahkan dengan pereaksi dragendorf akan terbentuk endapan coklat.
c. Uji Saponin
Ambil lapisan air lalu dikocok kuat-kuat pada tabung reaksi terbentuknya busa yang permanen (± 15 menit) menunjukan adanya saponin.
d. Uji Tanin
Ambil lapisan klorofom 10 tetes lalu ditambahkan 10 tetes FeCl 1%.
Ekstrak positif tannin jika terbentuk warna hijau kehitaman.
e. Uji fenol
Ambil lapisan air sebanyak 6 tetes lalu ditambahkan FeCl3. Hasil positif fenol apabila terbentuk warna biru kehitaman.
f. Uji Terpenoid dan Steroid
Uji terpenoid dilakukan dengan mengambil lapisan klorofom sebanyak 10 tetes lalu ditambahkan asam asetat anhidrat 0,5 mL. tambahkan asam sulfat pekat sebanyak 2 mL. jika positif steroid akan terbentuk cincin biru kehijauan. Sedangkan positif terpenoid akan terbentuk cincin kecoklatan atau violet.
3.5 Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium, dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan 4 kelompok perlakuan. Hewan uji yang diguakan dalam penelitian ini sebanyak 24 ekor mencit betina yang telah telah diovariektomi dibagi menjadi lima kelompok yaitu kontrol (NaCl 0,9%) dan empat kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak daun ekor naga 250 mg/Kg BB (P1), 500 mg/Kg BB (P2), dan 1000 mg/Kg BB (P3). Mencit dipelihara
didalam kandang dan diberi makan dan minum secara ad libitum. Perlakuan diberikan dengan metode gavage (cekok) sebanyak 0,2 ml/ekor/hari menggunakan sonde selama 14 hari. Pada hari ke-15, dilakukan pembedahan terhadap mencit. Uterus mencit diambil dan dibersihkan untuk pengamatan morfologi uterus. Sediaan mikroskopis uterus dibuat dengan metode paraffin dengan tebal irisan 5 µm. Larutan fiksatif yang digunakan adalah Neutral Buffer Formalin 10%. Pewarnaan yang digunakan adalah Hematoxylin–Eosin (Etim et al., 2013).
3.6 Uji Teratogenik a. Penentuan Dosis
Dosis ekstrak etanol daun ekor naga yang digunakan untuk uji teratogenik 4 kelompok perlakuan mencit dengan masing-masing kelompok terdiri dari 6 mencit diberikan secara oral dengan dosis yang berbeda yaitu 250, 500, dan 1000 mg/KgBB. Batas dosis untuk uji teratogen adalah 1000 mg/KgBB29. b. Pengelompokan hewan
Sebanyak 24 ekor mencit betina dewasa dan 6 mencit jantan dilakukan proses perkawinan. Mencit betina dibagi menjadi 4 ekor kelompok kemudian dicampur dengan 1 jantan (1:3). Kemudian dipisahkan jadi 4 kelompok yaitu kontrol (Na CMC 0,5%) dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak daun ekor naga 250 mg/Kg BB (P1), 500 mg/Kg BB (P2), dan 1000 mg/Kg BB (P3). Mencit dipelihara didalam kandang dan diberi makan dan minum secara ad libitum.
Tabel 3.1 Kelompok perlakuan pemberian Ekstrak
Perlakuan Dosis (mg/Kg BB)
Kelompok control -
Perlakuan 1 250
Perlakuan 2 500
Perlakuan 3 1000
25
c. Penentuan Pembuatan Suspensi Na CMC 0,5%
Na CMC sebanyak 0,5gram, dilarutkan dalam aquades yang telah dipanaskan sebanyak 10 mL. Na CMC yang telah mengembang diaduk hingga homogen.
Kemudian ditambahakan aquades hingga didapatkan larutan Na CMC 100 mL.
d. Pembuatan Larutan Uji
Suspensi larutan uji dibuat dengan cara menimbang ekstrak etanol dau ekor naga sesuai dengan perhitungan, kemudian disuspensikan deangan Na CMC (sebagai pembawa) tambahkan sebanyak 10 mL lalu diaduk hingga homogen.
e. Pemberian Larutan Uji
Sebelum dilakukan perlakuan, mencit uji terlebih dahulu aklimitasi minimal 1 minggu. Sebanyak 24 ekor mencit betina yang telah terbukti hamil dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kontrol (NaCMC 0,5%) dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak daun ekor naga 200 mg/Kg BB (P1), 500 mg/Kg BB (P2), dan 1000 mg/Kg BB (P3). Pemberian sediaan uji masing- masing kelompok secara peroral. Sebelum pengerjaan perlakuan, mencit ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui bobot awal (W0). Pemberian ekstrak dilakukanpada hari ke-6 sampai hari ke-15 kehamilan sebanyak satu kali sehari.
f. Laparaktomi
Laparaktomi dilakukan pada hari ke-18 kehamilan pada bagian abdomen kearah atas sampai terlihat uterus mencit yang berisi fetus. Fetus-fetus tersebut dibersihkan dari selaput plasenta, darah dan cairan lendir yang menyelimutinya dengan tisu kemudian dilakukan pengamatan.
3.7 Variabel yang diamati
- Variabel Penelitian Variabel Bebas
1. Variabel dosis ekstrak etanol daun ekor naga yang digunakan -Variabel Terikat
1. Jumlah fetus, jumlah fetus yang mati dan yang hidup 2. Pengamatan berat badan fetus mencit
3. Panjang badan fetus mencit
4. Kelainan kongenitas pada fetus seperti hemoragi, kinkey (ekor melingkar),tubuh kerdil, fleks (tubuh bengkok).
5. Morfologi fetus seperti kelopak mata, daun telinga, ruas jari, ekor dan jari kaki depan dan belakang.
6. Kelainan bentuk tulang dan hasil osifikasi pada fetus.
-Batasan-batasan Pengamatan dalam Variabel Batasan penentuan variabel pada penelitian ini adalah :
1. Jumlah fetus yang hidup dan mati dihitung secara makroskopik dan
dibandingkan dengan kelompok fetus kontrol.
2. Berat badan induk mencit dan fetus mencit digunakan sebagai gambaran
ekstrak etanol daun kayu manis dapat mempengaruh terhadap berat badan, ditimbang menggunakan timbangan analitik untuk mengetahui berat rata-rata kelahiran dan dibandingkan dengan fetus kontrol.
3. Panjang badan fetus diukur dari ujung kepala (crown) hingga ujung bokong (rump) . pengukuran menggunakan penggaris.
4. Kelainan kongenitas fetus mencit meliputi
- Ekor melingkar (kinkey) diamati dengan membandingkannya terhadap ekor fetus kontrol
27
- Hemoragi pada fetus mencit terjadi karena keluarnya darah dari sistem kardiovaskuler yang disertai dengan penimbunan di dalam jaringan tubuh seperti di kepala leher dan punggung, perut, kaki dan seluruh badan diamati kemudian dibandingkan terhadap fetus kontrol.
- Tubuh kerdil fetus merupakan kelainan pada fetus yang memiliki semua anggota tubuh namun dalam ukuran yang sangat kecil dan pendek, diamati dengan cara dibandingkan terhadap fetus kontrol.
- Tubuh bongkok (fleksi) fetus disebabkan adanya kelainan pada struktur tulang belakang sehingga, dilakukan secara visual dengan dibandingkan terhadap fetus kontrol.
5. Pengamatan morfologi fetus dilakukan dengan membandingkan terhadap fetus kontrol secara visual
6. Pengamatan kelainan bentuk tulang dan hasil osifikasi fetus untuk mengamati adanya hambatan pertumbuhan tulang dengan membandingkan terhadap fetus kontrol.
3.8 Analisis Data
Data yang didapat dari hasil penelitian dianalisis dengan bantuan program SPSS dengan tingkat signifikan (p<0,05) dengan menggunakan analisis variansi (ANOVA) satu arah untuk melihat pengarug pemberian ekstrak etanol dengan berbagai dosis, diamati berupa berat badan fetus, panjang fetus, berat badan induk, litter size. Jika terdapat pengaruh secara nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test.
28 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengambilan Sampel
Tumbuhan yang digunakan pada penelitiaan ini yaitu menggunakan daun ekor naga yang diperoleh dari Daerah Mandalo Jambi Luar Kota.Bagian daun yang diambil masih segar yang berwarna hijau tua.
4.2 Determinasi
Determinasi tanaman dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran bahan yang berkaitan dengan ciri-ciri morfologi secara makroskopis tanaman yang diguanakan pada penelitian ini. Determinasi tanaman daun ekor naga dilakukandi Herbarium Universitas Andalas Padang dan hasil identifikasi dengan nomor 40/HB/05/2022 menunjukan bahwa bagian tanaman yang diidentifikasi benar yanki daun ekor naga famili Araceae sinonim Epipremnum pinnatum (L.) Engl dengan spises Rhapidophora pinnata (L.f) Schott)
4.3 Pembuatan Serbuk Simplisia Daun ekor naga
Pada pembuatan simplisia memulai beberapa tahap antara lain sortasi basah unruk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan asing lainnya. Kemudian dilakukan pencucuian dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel pada bahan yang sudah disortasi basah. Sel anjutnya sampel dipotong-potong / dirajang menjadi beberapa bagian kecil dan dikeringkan atau dikering anginkan dalam ruangan yang tidak terpapar langsung oleh sinar matahari hingga benar-benar kering. Berat simplisia yang diperoleh yaitu sebesar 750 gram dengan nilai rendemen simplisia sebesar 12,5%.
4.4 Ektraksi serbuk simplisia daun ekor naga
Ekstraksi daun ekor naga dilakukan dengan metode maserasi. Maserasi adalah proses pengekstrakan sampel menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada suhu kamar. Proses maserasi dilakukan menggunakan botol gelap dan ditempat terlindung dari cahaya. Maserasi menggunakan etanol sebagai pelarut, karena pelarut ini relative kurang toksis dibandingkan dengan pelarut lainnya dan pelarut ini juga dapat melarutkan