BAB III
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Tempat percobaan dilaksanakan di Desa Jalancagak Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang yang terletak pada ketinggian 600 mdpl dengan suhu rata-rata 28o C – 33o C. Waktu pelaksanaan percobaan dilaksanaan pada bulan September 2022 sampai dengan November 2022.
3.2 Alat dan Bahan 3.2.1. Alat
Alat yang digunakan untuk percobaan adalah tray semai, styrofoam, gelas ukur, TDS (Total Dissolved Solids) meter, pH meter, hygrometer, sabut kelapa, sumbu kompor, netpot, kertas label, timbangan, plastik UV, kamera, gunting, cutter, dan penggaris.
3.2.2. Bahan
Bahan yang digunakan untuk percobaan, sebagai berikut:
a. Media tanam: Rockwool
b. Benih tanaman mint varietas peppermint c. Nutrisi AB Mix.
3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan adanya hubungan sebab akibat dengan memberikan suatu perlakuan terhadap kelompok eksperimen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial/bertingkat yang terdiri dari 2 faktor perlakuan, yaitu jenis sumbu (S) dan konsentrasi larutan nutrisi AB Mix (N) dengan tiga taraf, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 2. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor perlakuan
Perlakuan jenis sumbu terdiri dari: (1) S1: sabut kelapa; (2) S2: sumbu kompor. Perlakuan nutrisi AB mix terdiri dari 3 taraf, yaitu (1) N1: 1400 ppm;
(2) N2: 1500 ppm; (3) N3: 1600 ppm. Penelitian ini terdiri dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dengan populasi tanaman sebanyak 96 tanaman.
Ulangan dihitung berdasarkan rumus Federer (1977), seperti berikut ini:
(t – 1) (r – 1) ≥ 15 (6 – 1) (r – 1) ≥ 15
5r – 5 ≥ 15 + 5 5r ≥ 20 r ≥ 5
Nutrisi
Jenis Sumbu
S1 S2
N1 N1S1 N1S2
N2 N2S1 N2S2
N3 N3S1 N3S2
3.4 Analisis Data dan Uji Hipotesis
Percobaan akan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan empat kali ulangan. Faktor pertama adalah jenis sumbu yang terdiri dari dua taraf dan faktor kedua adalah konsentrasi larutan nutrisi AB Mix yang terdiri dari tiga taraf.
Faktor pertama adalah jenis sumbu yang terdiri dari dua taraf:
1. S1 = Sumbu sabut kelapa 2. S = Sumbu kompor
Faktor kedua adalah konsentrasi larutan nutrisi AB Mix terdiri dari tiga taraf:
1. N1 = Konsentrasi nutrisi 1400 ppm 2. N2 = Konsentrasi nutrisi 1500 ppm 3. N3 = Konsentrasi nutrisi 1600 pppm
Untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap variabel yang diamati, dilakukan analisis statistik dengan model sebagai berikut:
Yijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + Ɛijk
Yijk = Respon pada pengamatan ke-i yang menerima perlakuan sumbu ke- j dan nutrisi ke- k
µ = Nilai rata-rata respon ρi = Pengatuh kelompok
αj = Pengaruh taraf ke-j faktor sumbu βk = Pengaruh taraf ke-k faktor nutrisi
(αβ)jk = Pengaruh interaksi sumbu taraf ke-j dengan nutrisi taraf ke-k Ɛijk = Pengaruh acak selain perlakuan sumbu dan nutrisi
Berdasarkan model tersebut diperoleh hasil analisis sidik ragam sebagai berikut:
Tabel 3. Daftar sidik ragam Rancangan Acak Kelompok Faktorial Sumber
Keragaman (SK)
Derajat Bebas
(db)
Jumlah Kuadr
at (JK)
Kuadrat Tengah (KT)
F.
Hit
F. Tabel 0,05 0,01
Ulangan 3 Σu2
AxB − 𝐹𝐾 𝐽𝐾𝑢 𝑑𝑏𝑢
Perlakuan 5 Σp2
u − 𝐹𝐾 𝐽𝐾𝑝 𝑑𝑏𝑝
A 1 ΣA2
u x B − 𝐹𝐾 𝐽𝐾𝐴 𝑑𝑏𝐴
B 2 ΣB2
u x A − 𝐹𝐾 𝐽𝐾𝐵 𝑑𝑏
𝐵
A X B 2 𝐽𝐾𝑝 − 𝐽𝐾𝐴
− 𝐽𝐾𝐵
𝐽𝐾𝐴𝐵 𝑑𝑏𝐴𝐵
Galat 15 𝐽𝐾𝑡 – 𝐽𝐾𝑢
− 𝐽𝐾𝑝
𝐽𝐾𝑔 𝑑𝑏𝑔 Total 23 𝛴𝑥2 – 𝐹𝐾
Sumber: Gespersz, 1991
Rumusnya sebagai berikut:
FK (Faktor Koreksi) = 𝑦 … 2
𝑢. 𝐴. 𝐵 JKt (Jumlah Kuadrat Total) = 𝛴𝑥2− 𝐹𝐾
JKp (Jumlah Kuadrat Perlakuan) = 𝛴𝑝2
𝑢 − 𝐹𝐾 Jumlah Kuadrat Faktor A = 𝛴𝐴2
𝑢 𝑥 𝐵2− 𝐹𝐾 Jumlah Kuadrat Faktor B = 𝛴𝐵2
𝑢 𝑥 𝐴2− 𝐹𝐾 Jumlah Kuadrat Interaksi A X B = 𝐽𝐾𝑝 − 𝐽𝐾𝐴 − 𝐽𝐾𝐵
Jika hasil analisis sidik ragam terdapat perbedaan yang nyata maka dianalisis lanjut dengan Uji Jarak Duncan (UJD) pada taraf 5%. Model Uji Jarak Duncan menurut Sastrosupadi (2000) yaitu:
DMRTɑ = R (p.v.ɑ) √𝐾𝑇𝐺𝑟 Keterangan:
ρ = Jarak peringkat dua perlakuan
v = Derajat bebas galat α = Taraf nyata
Kriteria hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Jika Fhitung > Ftabel maka terima H1, tolak H0
2. Jika Fhitung < Ftabel maka terima H0, tolak H1
3.5 Pengamatan Percobaan
3.5.1. Pengamatan Penunjang
a. pH air diamati selama penelitian dengan menggunakan pH meter...
b. Pekatan larutan nutrisi diamati dengan menggunakan TDS (Total Disolved Solid) meter.
c. Suhu dan kelembaban diamati selama penelitian dengan menggunakan hygrometer.
d. Hama dan penyakit tanaman yang sering menyerang tanaman mint adalah hama kutu daun dan ulat. Pengendalian hama kutu daun menggunakan pestisida nabati. Tanaman mint yang terserang ulat diambil secara manual agar tidak menyerang tanaman lain.
3.5.2. Pengamatan Utama a. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur menggunakan penggaris setiap pekan, yaitu sebanyak 5 kali pengukuran (1 MST, 2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST). Pengukuran dilakukan dari permukaan media tanam sampai ujung daun bendera.
b. Jumlah Daun (helai)
Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan menghitung helai daun yang telah membuka sempura setiap pecan, yaitu sebanyak 5 kali penghitungan (1 MST, 2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST).
c. Luas Daun (cm2)
Luas daun diukur pada akhir penelitian menggunakan kertas berpetak. Daun yang dijadikan sampel digambar pada kertas berpetak kemudian diarsir mengikuti bentuk daun. Kotak yang terarsir penuh dihitung satu sedangkan yang terarsir sebagian dihitung setengah. Hasil dari keduanya dijumlahkan untuk mendapatkan luas daun dalam perhitungan cm2.
d. Panjang Akar (cm)
Perhitungan panjang akar pada tanaman dilakukan setelah proses pemanenan. Panjang akar tanaman diukur mulai dari pangkal akar hingga ujung akar menggunakan penggaris.
e. Bobot Segar (gram)
Bobot segar ditimbang pada akhir penelitian dengan cara dicabut hingga akar, kemudian tanaman mint dibersihkan terlebih dahulu.
3.6 Pelaksanaan Percobaan
3.6.1. Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah rockwool. Sifat rockwool yang mudah menyerap air sangat baik digunakan untuk menjadi media tanam peppermint secara hidroponik. Persiapan media tanam rockwool yaitu dengan cara memotong rockwool dengan ukuran 2,5×2,5 cm atau
potongan berbentuk dadu menggunakan cutter yang tajam atau gergaji kecil yang bergerigi. Pada saat pemotongan menggunakan penggaris besi agar potongan rockwool menjadi rapi dengan ukuran yang seragam.
3.6.2. Pembibitan
Pembibitan daun mint dilakukan dengan menyemai benih pada potongan rockwool yang sudah ditata dalam wadah semai. Rockwool tersebut dibuatkan lubang tanam untuk menyemai benih menggunakan lidi atau tusuk gigi yang ujungnya runcing kemudian bibit peppermint dimasukan ke lubang tanam satu persatu, tunas akan muncul sekitar 14- 25 hari. Bibit bisa dipindah tanam ketika tanaman mint memiliki 3-4 helai daun.
3.6.3. Persiapan Pot dan Tandon Nutrisi
Pot yang akan digunakan bisa didapatkan di toko pertanian atau lebih sering disebut netpot. Netpot tersebut dipasangkan sabut kelapa atau sumbu kompor yang dijadikan sebagai sumbu, sedangkan untuk tendon nutrisi menggunakan box sterofoam dengan panjang 43,5 cm, tinggi 17 cm, lebar 34,5 cm diberi lubang sesuai dengan ukuran netpot, dalam satu box berisi 4 lubang tanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm.
3.6.4. Pemberian Nutrisi
Pemberian nutrisi AB Mix dilakukan pada saat tanaman peppermint pindah tanam dari tray semai ke instalasi sumbu wick.
Kepekatan nutrisi yang diberikan adalah 1400 ppm, 1500 ppm dan 1600 ppm. Nutrisi yang diperlukan tanaman adalah zat -zat atau unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan agar bisa tumbuh dengan baik. Sumbu yang digunakan dalam hidroponik sistem wick akan menyentuh larutan nutrisi kemudian akar akan menyerap unsur hara dari nutrisi AB Mix yang dibawa oleh sumbu tersebut.
3.6.5. Penanaman
Tanaman mint yang sudah memiliki 3-4 helai daun dipindahkan dari tray semai ke netpot yang sudah diberi sumbu kemudian netpot disimpan di instalasi hidroponik sumbu wick yang sudah diisi larutan nutrisi AB Mix.
3.6.6. Perawatan dan Masa Panen
Perawatan yang dilakukan adalah memastikan kebutuhan larutan nutrisi dalam wadah tetap terpenuhi dan pengecekan pH meter.
Peppermint hidroponik bisa dipanen setelah tanaman berumur 30-45 hari setelah tanam, sedangkan peppermint konvensional membutuhkan waktu 65-80 hari setelah tanam. Tanaman hidroponik lebih cepat dipanen karena nutrisinya sudah disediakan dengan dosis yang sudah sesuai melalui media airnya. Proses pemanenan dilakukan dengan memotong daun mint dari bagian atas pangkal dengan karakteristik daun mint yang siap panen, yaitu daun mint menjadi tebal dan berwarna hijau tua.