PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY MATERI SIFAT- SIFAT
CAHAYA PADA SISWA KELAS VB SD INPRES PAMPANG I KOTA MAKASSAR
HANS EDIYANTO BOLANG NIM : 4512103038
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BOSOWA
2017
PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY MATERI SIFAT- SIFAT
CAHAYA PADA SISWA KELAS VB SD INPRES PAMPANG I KOTA MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh
HANS EDIYANTO BOLANG NIM 4512103038
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BOSOWA
2017
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan “ Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Metode ( Discovery) Materi Sifat-Sifat Cahaya Pada Siswa Kelas V.B SD Inpres Pampang I Kota Makassar” besrta seluruh isi nya adalah benar-benar karya saya sendiri, bukan karya hasil plagiat. Saya siap menanggung resiko/sanksi apa bila ternyata ditemukan adanya perbuatan tercela yang melanggar etika keilmuan dalam karya saya ini, termasuk adanya klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Makassar, 25 September 2017 Yang membuat pernyataan,
Hans Ediyanto Bolang
ABSTRAK
Hans Ediyanto Bolang. 2017. Peningkatan Hasil Belajar IPA Helalui Metode Discovery Materi Sifat-Sifat Cahaya pada Siswa Keles V.B SD Inpres Pampang I.
Skripsi. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Dibimbing Oleh Asdar, dan Jaja jamaludin,
Permasalahan penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa kelasV.B SD Inpres Pampang I. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah hasil belajar IPA dapat ditingkatkan melalui metode pembelajaran penemuan (discovery) pada siswa kelas V.B SD Inpres Pampang I..?Penelitian ini bertujuanuntuk meningkatkan hasil belajar IPA materi sumber san sifat-sifat cahaya.Melelui metode pembelajaran penemuan (discovery).Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak dua siklus dan setiap siklus disajikan dua kali pertemuan.Setiap siklus melalui 4 tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi.Fokus penelitian ini adalah penerapan metode pembelajaran penemuan (discovery) dan hasil belajar siswa.Pelaksanaan kegiatan ini, peneliti bertindak sebagai observer dan guru bertindak sebagai fasilitator serta memberikan petunjuk kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran.Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, tes dan dokumentasi.Teknik analisis data yang digunakan adalah kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa padasiklus I tercatat aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa masih dalam ketegori Cukup sehingga hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan hasil pada kategori cukup dengan persentase 58,13%, dikarenakan sisklus I belum berhasil maka guru dan peneliti melanjutkan kesiklus II, dengan hasil observasi aktivitas mengajar guru dan aktivita sbelajar siswa menunjukkan pada kategori baik sehingga hasil belajar siswa menunjukkan pada kategori baik dengan persentase 88,37%, dikarenakan hasil belajar pada siklus II telah mencapai keberhasilan yang diinginkan maka penelitian ini di hentikan dengan kesimpulan penerapan metode pembelajaran penemuan (discovery) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V.BSD Inpres Pampang I.
ABSTRACT
Hans Ediyanto Bolang. 2017. The Improving of Science Result Study Through The Discovery Method Material of Light Traits in Students Class V.B SD Inpres Pampang I. Skripsi. Primary School Teacher Education Study Program, Supervised By Asdar, and Jaja Jamaludin.
The problem of this research was whether the result study of science can be improved through the discovery methods to students in class V.B SD Inpres Pampang I? This study aims to improve the result study of natural resources material and the properties of light through discovery method. The approach used is a qualitative approach and this type of research is classroom action research conducted in two cycles and each cycle was presented two meetings. Each cycles through 4 stages, namely the planning stage, implementation phase, observation stage and reflection stage. The focus of this research was the application of discovery methods and student study result. The implementation of this activity, the researcher acts as an observer and the teacher acts as a facilitator and provides guidance to students who experience difficulties in learning. The data collection techniqueswere using observation, tests and documentation techniques. The data analysis techniques used were qualitative.
The results showed that in the first cycle recorded teacher teaching activities and student learning activities were still in sufficient categories so that student result study in the first cycle showed results in enough categories with a percentage of 58.13%, because cycle I was not successful then the teacher and researcher continued to cycle II , with the results of observations of teacher's teaching activities and learning activities students showed in the good category so that student learning outcomes showed in good categories with a percentage of 88.37%, because the study result in the second cycle had achieved the desired success so this study was stopped with the conclusion of the application of the discovery method can improve result study of V.B grade students of SD Inpres Pampang I.
Keywords: result study, discovery, and light traits.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena rahmat-Nya sehingga Hasil penelitian yang berjudul “Peningkatan hasil belajar IPA tentang sifat-sifat cahaya melalui metode penemuan atau discovery pada siswa kelas V SD Inpres Pampang I, dapat diselesaikan sesuai waktu yang ditargetkan.Walaupun demikian penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penulisan ini, baik redaksi kalimatnya maupun sistematika penulisannya.Namun demikian harapan penulis, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi demi terciptanya pembelajaran yang bermakna di dalam kelas.
Dalam penyusunan hasil penelitian, Penulis menghadapi kesulitan baik dalam proses pengumpulan bahan pustaka, pelaksanaan penelitian, maupun dalam penyusunannya. Namun berkat bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, maka kesulitan dapat teratasi. Oleh karena itu, maka sepantasnyalah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat Asdar, S.Pd.,M.Pd.
sebagai pembimbing I dan Jaja Jamaludin, S.Pd.,M.Si. sebagai pembimbing II atas kesempatannya membimbing penulis selama menyusun Hasil penelitian ini Selanjutnya ucapan terima kasih pula penulis tujukan kepada:
1. Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Saleh Pallu, M.Eng selaku rektor Universitas Bosowa.
2. Dr.Mas’ud Muhammadiah, M.Si selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Bosowa.
3. ST. Muriati, S.Pd, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
4. Para Dosen dan Staf Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
5. Kedua Orang Tua tercinta, Bapak Agus Tinus Bolang dan Ibu Mery Bolang, yang telah bersusah paya membiayai penulis selama perkuliahan berlangsung dan mengasuh penulis dengan penuh rasa tanggung jawab dan semua keluarga yang telah membantu saya dalam bentuk Doa.
6. Pdt Aminudin Sebua, M.A. bersama seluruh jemaat dan teman-teman pemuda/pemudi gereja Kristen injili indonesia (GEKISIA) Makasar yang tak henti-hentinya mendoakan saya
7. Teman-teman seperjuanganku terkhusus Bahraen, Simson Trisaputra, Irwan Rahman serta junior kebanggaan Achmad Fajar bersama Nurwidya Yanti yang telah membantu berupa materi dan sang pujaan hati yang tak henti-hentinya berdoa demi kesuksesanku.terima kasih atas segala perhatiannya selama ini dan tiada hentinya memberikan dukungan serta doa sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian ini.
Akhirnya penulis menyampaikan kepada semua pihak yang tak sempat disebutkan namanya satu persatu atas bantuan dan bimbingannya, semoga Tuhan Yesus Memberkati senantiasa.Harapan penulis, semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi pemerhati pendidikan.
Penulis
Hans Ediyanto Bolang
DAFTAR ISI
SAMPUL ... i
PERNYATAAN ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... 68
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Kajian Teori ... 6
1. Pengertian Belajar ... 6
2. Discovery Learning ... 8
1) Sistem Satu Arah (Ceramah Refleksi) ... 12
2) Sistem Dua Arah ( Discovery ) ... 13
3) Karakteristik Model Pembelajaran Discoveri ... 14
4) Kelebihan Dan Kekurangan dari Metode Discovery Learning ... 14
5) Langkah – Langkah Pembelajaran dengan Discovery ... 15
B. Pembelajaran IPA... 16
1. Pengertian IPA ... 16
2. Tujuan Pendidikan IPA ... 18
3. Standar Isi Pembelajaran IPA SD ... 18
4. Ruang Lingkup Bahan Kajian IPA ... 19
5. Hasil Belajar IPA SD ... 19
C. Kerangka Pikir ... 21
D. Hipotesis Tindakan ... 24
BAB III METODE PENELITIAN ... 25
A. Jenis Penelitian ... 25
B. Waktu dan Tempat ... 25
C. Subjek Penelitian ... 26
D. Desain Penelitian ... 26
E. Instrumen Penelitian... 29
F. Teknik Pengumpulan Data ... 30
G. Teknik Analisis Data ... 30
H. Indikator Keberhasilan ... 31
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33
A. Hasil Penelitian ... 33
1. Data Pelaksanaan Tindakan Siklus I ... 33
a. Perencanaan Siklus I ... 33
b. Pelaksanaan Siklus I ... 34
c. Observasi Siklus I ... 36
d. Refleksi Siklus I ... 43
2. Data Pelaksanaan Tindakan Siklus II ... 44
a. Perencanaan Siklus II ... 44
b. Pelaksanaan Siklus II ... 46
c. Observasi Siklus II ... 48
1. Data Hasil Observasi Kegiatan Belajar Siswa pada Siklus II .. 48
2. Data Perolehan Nilai Tes Hasil Belajar Siswa pada Siklus II .. 51
d. Refleksi Siklus II ... 55
e. Pembahasan ... 56
1. Siklus I ... 56
a. Proses Pembelajaran ... 58
b. Hasil Belajar Siswa Siklus I ... 58
2. Siklus II ... 60
a. Proses Pembelajaran ... 60
b. Hasil Belajar Siswa Siklus II ... 61
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 62
A. Kesimpulan ... 62
B. Saran ... 62
DAFTAR PUTAKA ... 64
RIWAYAT HIDUP ... 101
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 23 Gambar 2.1 Diadopsi Oleh Model Tindakan Kelas(Suharsimi Arikunto, dkk.
2006) ... 27
DAFTAR TABEL
Tabel 3,1 Standar Kriteria Keberhasilan ... 32 Tabel 4.1Data Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siswa pada
Siklus I ... 37 Tabel 4.2 Data hasil perolehan tes belajar pada siklus I ... 39 Tabel 4.3 Data Deskripsi Frekuensi Nilai Tes Hasil Belajar Siswa Pada
Siklus I ... 42 Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I ... 42 Tabel 4.5Data Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siswa pada
Siklus II ... 49 Tabel 4.6 Data hasil perolehan nilai tes belajar siswa pada siklus II ... 51 Tabel 4.7 Data Deskripsi Frekuensi Nilai Tes Hasil Belajar Siswa Pada
Siklus II ... 53 Tabel 4.8 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II ... 54
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan semakin mengalami kemajuan.
Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa ini pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.
Perkembangan itu terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaranpun guru selalu ingin menemukan metode dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi murid-murid.
Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan bahawa pembaharuan dalam system pendidikan yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan di bidang pendidikan barulah ada artinya apabila dalam pendidiakn dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun.
Pada hakikatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran.
Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar menganjar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran.
Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebih efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.
Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa ( Depdikbud ,1999).
Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.
Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi atau caradalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan hasil belajar siswa khususnya pelajaran IPA. Misalnya dengan membimbing siswa untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu membantu siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnyaakan lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan.
Pemahaman ini memerlukan minat dan motivasi. Tanpa adanya minat menandakan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.
Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan belajar.
Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan siswa serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep IPA.
Motivasi tidak hanya menjadikan siswa terlibat dalam kegiatan akademik, motivasi juga penting dalam menentukan seberapa jauh siswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa jauh menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu,
sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapan materi itu dengan lebih baik.
Tugas penting guru adalah merencanakan bagaimana guru mendukung motivasi siswa (Nur, 2001: 3).Untuk itu, sebagai seorang guru di samping menguasai materi, juga diharapkan dapat menetapkan dan melaksanakan penyajian materi yang sesuai kemampuan dan kesiapan anak, sehingga menghasilkan penguasaan materi yang optimal bagi siswa.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mencoba menerapkan salah satu metode pembelajaran, yaitu metode pembelajaran discovery untuk mengungkapkan apakah dengan metode discovery dapat meningkatkan hasil belajar belajar IPA.Penulis memilih metode pembelajaran ini mengondisikan siswa untuk terbiasa menemukan, mencari, mendikusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran (Siadari, 2001: 4). Dalam metode pembelajarandiscovery siswa lebih aktif dalam memecahkan untuk menemukan sedangkan guru berperan sebagai pembimbing atau memberikan petunjuk cara memecahkan masalah itu.
Dari latar belakang di atas, maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul Peningkattan Hasil Belajar IPA dengan Metode Pembelajaran Discovery Pada Siswa Kelas V SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah, yaitu apakah hasil belajar IPA dapat ditingkatkan melalui metode pembelajaran discovery pada siswa kelas VB SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA melalui metode pembelajaran discovery pada siswa kelas VB SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini dipakai sebagai acuan bagi pengembangan pendekatan dan media pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna sehingga siswa menjadi lebih menguasai materi dan prestasi belajar dapat meningkat. Dengan bantuan media pembelajaran yaitu lingkungan alam sekitar dalam pembelajaran disekolah dasar, proses pemahaman siswa akan lebih cepat dan kuat.
b. Bagi Guru
Informasi hasil penelitian dapat menjadi masukan berharga bagi para guru dalam melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran.
c. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi berharga bagi kepala sekolah untuk mengambil suatu kebijakan yang paling tepat dalam upaya pembimbingan dan pemanfaatan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien di sekolah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori 1. Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar.
Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia.
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan suatu perubahan perilakunya. Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang di berikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulis dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon. Oleh karena itu, apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respons) harus dapat diamati dan diukur.
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (SumardiSuryabrata, 1984:252), belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahan relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.
Menurut Gagne (1997), belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku yang keadaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan.Berbeda dengan perubahan serta merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. Menurut Moh.Surya (1981:32), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Menurut Anni (2004:4), belajar adalah proses paling penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Menurut Slameto (2003:2), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan linkungannya. Menurut Trianti (2010:16), proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar.
Menurut NgalimPurwanto (1992:84), setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Kesimpulan yang bisa diambil dari pengertian diatas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang. Belajar merupakan perilaku yang kompleks, Stanner memandang perilaku belajar dari segi perilaku teramati oleh karena itu, ia mengemukakan pentingnya program pembelajaran.
Gagne memandang kondisi internal dan kondisi eksternal belajar yang bersifat interaktif.Oleh karena itu guru seyogyanya mengatur acara pembelajaran yang sesuai dengan fase-fase belajar dan hasil belajar yang dikehendaki. Pada dasarnya tujuan belajar itu prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha pencapaiannya.
2. Discovery Learning
Discovery learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri.Dalam
sistem belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedurnya adalah:
a. Stimulation (Stimulasi atau Pemberian Rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi
belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasibahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai.
b. Problem statement (Pernyataan atau Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda- agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244), sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah
c. Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.
Dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
d. Data Processing (Pengolahan Data)
Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah,2002:22). Data processing disebut juga dengan pengkodean coding atau kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban atau penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
e. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244).
Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
f. Generalization (Menarik Kesimpulan atau Generalisasi)
Tahap generalisasi atau menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman- pengalaman itu.
Sistem belajar yang dikembangkan Bruner ini menggunakan landasan pemikiran pendekatan belajar mengajar. Hasil belajar dengan cara ini lebih mudah dihafal dan diingat, mudah ditransfer untuk memecahkan masalah. Pengetahuan dan kecakapan anak didik bersangkutan lebih jauh dapat menumbuhkan motivasi intrinsik, karena anak didik merasa puas atas penggunaannya sendiri.
Pendekatan belajar mengajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif.Kelemahannya adalah memakan waktu yang cukup banyak, dan kalau kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menjurus kepada kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari.
Strategi belajar discovery paling baik dilaksanakan dalam kelompok belajar yang kecil. Namun dapat juga dilaksanakan dalam kelompok belajar yang lebih besar. Kendatipun tidak semua siswa dapat terlibat dalam proses discovery, namun pendekatan discovery dapat memberikan manfaat bagi siswa yang belajar.
Langkah-langkah pokok strategi discovery adalah sebagai berikut:
a. Menyajikan kesempatan-kesempatan untuk bertindak/berbuat dan mengamati konsekuensi-konsekuensi tindakan seseorang.
b. Tes terhadap pemahaman tentang hubungan sebab akibat. Caranya dengan mempertanyakan atau mengamati reaksi-reaksi siswa. Sajikan kesempatan- kesempatan selanjutnya bila diperlukan.
c. Mempertanyakan atau mengamati kegiatan selanjutnya, tes susunan prinsip umum yang mendasari kasus yang disajikan itu. Bila diperlukan, sajikan kasus- kasus lainnya sampai prinsip umum tersebut benar-benar dipahami.
Menurut Oemar Hamalik (2008:185), penyajian kesempatan-kesempatan guna penerapan hal yang baru saja dipelajari ke dalam situasi atau masalah- masalah yang nyata. Pendekatan ini dapat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah.
1. Sistem Satu Arah (Ceramah Refleksi)
Pendekatan satu arah berdasarkan penyajian satu arah (penuangan atau exposition) yang dilakukan guru. Struktur penyajiannya dalam bentuk usaha
merangsang siswa melakukan proses discovery di depan kelas. Guru mengajukan suatu masalah dan kemudian memecahkan masalah tersebut melalui langkah- langkah discovery. Caranya adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada
kelas, memberikan kesempatan kepada kelas untuk melakukan refleksi.
Selanjutnya guru menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu.
Dalam prosedur ini guru tidak menentukan atau menunjukkan aturan-aturan yang harus diperbuatnya. Pemecahan masalah berlangsung selangkah demi selangkah dalam urutan yang ditemukan sendiri oleh siswa. Guru mengharapkan agar siswa secara keseluruhan berhasil melibatkan dirinya dalam proses pemecahan masalah, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara reflektif. Dalam keadaan ini, sesungguhnya tidak ada jaminan bahwa adanya penyajian oleh guru. Penggunaan discovery dalam kelompok kecil sangat bergantung pada kemampuan dan pengalaman guru sendiri, serta waktu dan kemampuan mengantisipasi kesulitan siswa.
2. Sistem Dua Arah (Discovery Terbimbing)
Sistem dua arah melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru.Siswa melakukan discovery, sedangkan guru membimbing mereka ke arah yang tepat atau benar. Gaya pengajaran demikian olehCagne disebut guide discovery, sekalipun di dalam kelas yang terdiri 20 sampai 30 orang siswa. Hanya
beberapa orang saja yang benar-benar melakukan discovery, sedangkan yang lainnya berpartisipasi dalam proses discovery misalnya dalam sistem ceramah reflektif. Dalam kelompok yang lebih kecil, guru dapat melibatkan hampir semua siswa dalam proses itu. Dalam sistem ini, guru perlu memiliki keterampilan memberikan bimbingan, yakni mendiagnosis kesulitan-kesulitan siswa dan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi. Namun
demikian, tidak berarti guru menggunakan metode ceramah reflektif sebagaimana halnya pada strategi di atas.
3. Karakteristik Model Pembelajaran Discovery
Ciri-ciri pembelajaran berbasis penemuan atau discovery juga dapat diketahui dengan adanya karakteristik berikut:
1. Guru berperan sebagai pembimbing
2. Peserta didik (siswa) bertindak sebagai seorang penemu, peneliti, dan ilmuwan 3. Bahan ajar berupa informasi
4. Peserta didik (siswa) melakukan kegiatan menghimpun mengategorikan, menganalisis, serta menyimpulkan informasi dan pengetahuan berdasarkan informasi yang disajikan.
4. Kelebihan dan Kekurangan Metode Discovery a. Kelebihan Metode Discovery
Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai berikut:
. Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir
2. Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
3. menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
4. Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode discovery akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks
5. metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
b. Kekurangan Metode discovery
Adapun kekurangan metode pembelajaran discovery ini dikemukakan oleh Suryosubroto (2002:201) adalah:
1. Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini.
Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subjek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis.
2. Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang, karena membantu seorang siswa menemukan teori- teori atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu.
3. Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan pembelajaran secara tradisional.
4. Dalam beberapa ilmu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin tidak ada.
5. Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Discovery
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi kebutuhan siswa
2. Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;
3. Seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;
4. Membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;
5. Mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;
6. Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
7. Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
8. Membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
9. Memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
10. Merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
11. Membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya
B. Pembelajaran IPA 1. Pengertian IPA
Kata “IPA” biasa diterjemah dengan Ilmu Pengetahuan Alam yang berasal dari kata natural science. Natural artinya alamiah dan berhubungan dengan alam, sedangkan science artinya ilmu pengetahuan. Jadi IPA secara harafiah dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau yang mempelajari peristiwa- peristiwa yang terjadi di alam. Penggunaan kata IPA sebagai natural science perlu dipertegas untuk membedakannya dari pengertian social science, educational science, political science, dan penggunaan kata science yang lainnya.
Pengertian lain yang juga sangat singkat tetapi bermakna adalah “ science as a way of knowing“ (Trowbridge & Baybe, 1990: 48). Frase ini mengandung ide bahwa IPA adalah proses yang sedang berlangsung dengan fokus pada pengembangan dan pengorganisasian pengetahuan. Secara umum petikan di atas
memberikan pengertian (1) IPA adalah sejumlah proses kegiatan mengumpulkan informasi secara sistematik tentang dunia sekitar, (2) IPA adalah pengetahuan yanng diperoleh melalui melalui proses kegiatan tertentu dan (3) IPA dicirikan oleh nilai-nila dan sikap para ilmuwan menggunakan proses ilmiah dalam memperoleh pengetahuan.
Budi (1998), mengutip beberapa pendapat para ahli dan mengemukakan beberapa rincian hakikat IPA, diantaranya: (1) IPA adalah bangunan atau deretan konsep dan skema konseptual (conceptual schemes) yang saling berhubungan sebagai hasil eksperimentasi dan observasi (Conant, dalam Kuslan dan Stone, 1978), (2) IPA adalah bangunan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode observasi (Fisher, 1975), (3) IPA adalah suatu sistem untuk memahami alam semesta melalui data yanng dikumpulkan melalui observasi atau eksprimen yang dikumpulkan melalui observasi atau eksperimen yang dikontrol ( Carin and Sund, 1989), dan (4) IPA adalah aktivitas pemecahan masalah oleh manusia yang termotivasi oleh keingintahuan akan alam di sekelilingnya dan keinginan untuk memahami, menguasai, dan mengolahnya demi memenuhi kebutuhan (Dawson, 1994).
Jika dicermati ada dua aspek penting dari definisi-definisi tersebut yakni langkah-langkah yang ditempuh dalam memahami alam (proses IPA) dan pengetahuan yang dihasilkan berupa fakta, prinsip, konsep, dan teori (produk IPA). Kedua aspek tersebut harus didukung oleh sikap IPA ( sikap ilmiah) berupa keyakinan akan nilai yang harus dipertahankan ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru.
2. Tujuan pendidikan IPA yaitu:
Di dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 telah ditetapkan bahwa mata pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berkut:
a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep-konsep yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi anatara IPA, tingkat kemampuan, teknologi dan masyarakat.
d. Mengembangkan keterampilan untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
e. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan alam.
f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam, dan segala keteraturan sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
g. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/ MTs.
3. Standar Isi Pembelajaran IPA SD
Sebagaimana dituangkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI no.22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Menengah termasuk dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kelompok mata pelajaran pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal,
menyikapi dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknoologi serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berprilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.
4. Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI
Aspek-aspek yang meliputi ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI, antara lain:
a. Makhluk hidup dan proses kehidupannya, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatannya.
b. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi cair, padat dan gas.
c. Energi dan perubahannya meliputi gaya, bunyi, panas, magnet, llstrik, cahaya, dan pesawat sederhana.
d. Bumi dan alam semesta meliputi tanah, bumi, tatasurya dan benda-benda langit lainnya.
5. Hasil Belajar IPA SD
Proses belajar mengajar di kelas mempunyai tujuan yang bersifat transaksional, artinya diketahui secara jelas dan operasional oleh guru dan siswa.Tujuan tercapai jika siswa memperoleh hasil belajar seperti yang diharapkan di dalam proses belajar mengajar tersebut. Oleh sebab itu hasil belajar harus dirumuskan dengan baik untuk dapat dievaluasi pada akhir pembelajaran.
Hasil belajar IPA dikelompokkan berdasarkan hakikat IPA itu sendiri yaitu sebagai produk dan proses. Hal ini didasarkan pada pendapat Hungerford (1990:
16) yang menyatakan bahwa IPA terbagi atas 2 bagian yaitu (1) the investigation (proses) seperti mengamati, mengklsifikasi, mengukur, meramalkan, dan
menyimpulkan, (2) the knowledge (produk) seperti fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori IPA. Dengan demikian, sebagai produk hasil belajar IPA berupa pemahaman terhadap fakta, konsep, prinsip, dan hukum IPA. Sebagai proses, hasil belajar IPA berupa sikap, nilai, dan keterampilan ilmiah. Sumaji (1998)memandang hasil belajar dari dua aspek yakni aspek kognitif dan nonkognitif. Aspek kognitif adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan intelektual lainnya, sedangkan aspek nonkognitif erat kaitannya dengan sikap, emosi (afektif), serta keterampilan fisik atau kerja otot (psikomotor).
Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA SD hendaknya mencakup hal- hal sebagai berikut:
a. Penguasaan produk ilmiah atau produk IPA yang mengacu pada seberapa besar siswa mengalami perubahan dalam pengetahuan dan pemahamannaya tentang IPA baik berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, maupun teori. Aspek produk seperti fakta, konsep, prinsip, hukum, maupun teori sering disajikan dalam bentuk pengetahuan yang sudah jadi.
b. Penguasaan proses ilmiah atau proses IPA mengacu pada sejauh mana siswa mengalami perubahan dalam kemampuan proses keilmuwan yang terdiri atas keterampilan proses IPA dasar dan keterampilan proses IPA terintegrasi.
Untuk tingkat pendidikan dasar di SD maka penguasaan proses IPA difokuskan pada keterampilan proses IPA dasar (basic science process skills) yang meliputi keterampilan mengamati (observasi), menggolongkan (klasifikasi), menghitung (kuantifikasi), meramalkan (prediksi), menyimpulkan (inferensi), dan mengkomunikasikan (komunikasi).
c. Penguasaan sikap ilmiah atau sikap IPA merujuk pada sejauh mana siswa mengalami perubahan dalam sikap dan sistim nilai dalam proses keilmuwan.
Sikap ilmiah yang sangat penting dimiliki pada semua tingkatan pendidikan.
Paling tidak ada empat sikap yang perlu dikembangkan yakni sikap ingin tahu (curiocity), penemuan, berpikir kritis (critical thinking), dan teguh pendirian (persistence). Keempat sikap ini tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya karena saling melengkapi.
d. Hasil belajar IPA SD adalah segenap perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa dalam bidang IPA sebagai hasil dalam mengikuti proses pembelajaran IPA, yang biasanya dinyatakan dengan skor sesuai dengan dimensi belajar IPA yang terdiri dari dimensi tipe isi (produk), dimensi tipe kinerja (proses), dan dimensi tipe sikap (sikap ilmiah).
C. Kerangka Pikir
Kegiatan belajar mengajar (KBM) dipandang berkualitas bila berlangsung efektif, bermakna dan ditunjang oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dikatakan berhasil jika siswa menunjukkan tingkat penguasaan yang lebih tinggi terhadap tugas-tugas belajar yang harus dikuasai sesuai dengan sasaran dan tujuan pembelajaran.Olehnya itu guru sebagai pendidik dan pengajar bertanggung jawab merencanakan dan mengolah kegiatan belajar mengajar sesuai dengan tuntutan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran. Proses belajar mengajar bukanlah hal yang sederhana, karena siswa tidak sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilaksanakan terutama bila diinginkan hasil belajar
yang lebih baik. Pendekatan dalam proses belajar dalam proses belajar mengajar pada hakekatnya merupakan upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa oleh guru. Metode Discovery dipandang efektif karena akan memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Metode mengajar merupakan bagian dari perangkat alat dan cara dalam pelaksanaan suatu starategi belajar mengajar. Dan karena belajar mengajar merupakan sarana atau alat untuk mencapai tujuan-tujuan belajar, maka metode mangajar merupakan alat pula untuk mencapai tujuan belajar.
Discovery adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem
belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedurnya adalah: Simulation, Problem statement, Data collection, Data processing, Verification atau pembuktian, dan Generalization. Dalam
pelaksanaan proses discovery ini dapat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah, bergantung besarnya kelas. Dalam penelitian ini yang akan dilihat bagaimana penerapan metode Discoverysetelah diberikan tes hasil belajar IPA pada akhir kegiatan belajar mengajar.
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir PENERAPAN
DISCOVERY LEARNING
HASIL BELAJAR IPA SD
DATA KTSP
IPA
MATERI
SIFAT SIFATCAHAYA
ANALISIS
TEMUAN
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori yang dibahas sebelumnya, penulis mengajukan hipotesis, yaitu jika metode discovery learning diterapkan dalam pembelajaran IPA, hasil belajar siswa kelas V SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar Meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) karena relevan dengan upaya pemecahan masalah pembelajaran.
Menurut Kemmis (1988), PTK adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan oleh peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka. Adapun menurut Hasley (1972), seperti dikutip Cohen (1944) penelitian tindakan adalah intervensi dalam dunia nyata serta pemeriksaan terhadap pengaruh yang ditimbulkan dari intervensi tersebut.
Langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilakukan melalui empat tahap, yaitu: perencanaan (planning),tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VB SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar.Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018 selama 2 minggu, Waktu tersebut dimulai dari tahap laporan yang dimulai dari dua siklus. Alasan memilih sekolah ini yaitu: (1) mudah dijangkau, (2) tidak mengeluarkan biaya banyak, (3) adanya dukungan dari kepala sekolah dan guru setempat untuk melaksanakan penelitian di sekolah yang bersangkutan.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan: (1) masih rendahnya hasil belajar siswa dan ditemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran IPA, (2) adanya dukungan dari kepala sekolah dan guru terhadap pelaksanaan penelitian ini, (3) penilitian ini merupakan penilitian yang pertama untuk sekolah ini yang dilaksanakan oleh mahasiswa.
Subjek penelitian yang akan diteliti adalah Siswa Kelas V SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar yang berjumlah 43 orang
D. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas (ClassroomActiont Research), yaitu desain penelitian berdaur ulang (siklus).
Menurut Arikunto (2011) “ada empat tahap yang lazim dilalui dalam proses penelitian tindakan, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan (4) refleksi”. Pelaksanaan penelitian dilakukan karena adanya permasalahan yang dialami dalam pembelajaran, kemudian dilakukan perencanaan tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yang dilanjutkan dengan upaya pelaksanaan tindakan dan observasi pelaksanaan.Hasil observasi selanjutnya direfleksi untuk mengetahui hasil pelaksanaan tindakan.Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam siklus yang berdaur ulang seperti terlihat pada gambar berikut:
Adapun skema alur penelitian dapat dilihat pada bagan berikut ini:
Perencanaan
SIKLUS I
Pengamatan
Perencanaan
SIKLUS II
Pengamatan
Selesai
Pelaksanaan Refleksi
Pelaksanaan Refleksi
Gambar 2.1 Diadopsi Oleh Model Tindakan Kelas(Suharsimi Arikunto, dkk.
2006)
Secara rinci prosedur penelitian tindakan tersebut dapat dijabarkan dalam tahapan-tahapan berikut:
1. Perencanaan
Tahap perencanaan meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengkaji kurikulum dan menentukan materi ajar.
b. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
c. Membuat Lembar Kerja Siswa
d. Membuat lembar observasi guru dan siswa e. Menyusun lembar evaluasi akhir siklus
f. Menyediakan media yang diperlukan selama proses pembelajaran.
g. Menyusun rubrik penilaian
2. Pelaksanaan
Tahap ini merupakan implementasi pelaksanaan rancangan yang telah disusun secara kolaborasi antara guru (peneliti) dengan teman sejawat sebagai pengamat. Pada tahap ini peneliti mulai melaksanakan tindakan yakni melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan skenario tindakan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Kegiatan pembelajaran ini bermaksud untuk membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar IPA dilaksanakan secara individu dan kelompok.Kegiatan tindakan pembelajaran dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh guru yang mengajar di kelas VB, kegiatan ini dilaksanakan dalam beberapa siklus. Kegiatan akan berakhir setelah seluruh siswa yang menjadi subjek penelitian mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan dalam memahami materi.
3. Observasi
Pada bagian ini meliputi pengamatan yang dilaksanakan selama kegiatan tindakan berlangsung yaitu dengan mengamati aktivitas guru dan siswa sesuai dengan lembar observasi yang telah disediakan sebelumnya.
4. Refleksi
Refleksi dilakukan berdasarkan hasil analisis data, baik data observasi maupun data hasil evaluasi. Peneliti bersama guru kelas menganalisis dan merenungkan hasil tindakan I. Refleksi yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan apakah kriteria yang telah ditetapkan tercapai atau belum. Hasil refleksi pada siklus I menjadi tolak ukur apakah penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya atau cukup sampai siklus I. Apabila terdapat 80% siswa memperoleh skor ≥ 70 maka penelitian dinyatakan berhasil.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Silabus
Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolaan kelas, serta penilaian hasil belajar.
2. Rencana Pelaksanaan Pelajaran (RPP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran.Masing-masing RPP berisi kompetensi dasar, indicator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.
3. Lembar Kegiatan Siswa
Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen.
4.Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
a. Lembar observasi pengolahan pembelajaran discovery, untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
b. Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.
5. Tes Formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran.Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan ganda (objektif).
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah 1. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati kesesuaian antara pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru dengan perencanaan yang telah disusun, dan untuk mengamati siswa selama proses pembelajaran berlangsung, selain untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan dapat menghasilkan perubahan yang sesuai dengan yang dikehendaki.
2. Tes
Tes dilakukan untuk mengumpul informasi tentang pemahaman siswa terhadap pembelajaran IPA. Tes dilaksanakan pada awal penelitian, pada setiap akhir tindakan, dan setelah diberikan serangkaian tindakan.
3. Dokumentasi
Dokumentasi berupa nilai-nilai hasil tes formatif siswa dan dokumen- dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian seperti surat izin dari fakultas, dan surat izin dari pemerintah daerah setempat.
G. TeknikAnalisis Data
Untuk menganalisis data dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan menggunakan analisis kuantitatif.Adapun metode yang digunakan untuk mengolah data: Analisis data dalam penelitian ini dilakukan sebelum dan sesudah pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil tes, observasi, pada tahap refleksi dari siklus penelitian.Data hasil observasi dianalisis
secara kualitatif, sedangkan dari hasil kemampuan belajar siswa berupa pemberian tes, dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis data deskriptif .
Setelah diadakan pengolahan data penelitian, penulis menentukan indicator keberhasilan, yaitu metode discovery learning diterapkan dalam pembelajaran IPA, maka hasil belajar IPA siswa kelas VB SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar meningkat.
Penafsiran data kualitatif deskriptif dilakukan dengan persamaan berikut : a. Nilai Akhir =
x 100 b. Rata-Rata =
c. Ketuntasan Belajar =
x 100%
d. Ketidaktuntasan belajar =
x 100%
Sumber :(Kusmiati, 2007: 27)
H. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini meliputi indikator proses dan hasil dalam metode discovery untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Kriteria keberhasilan pelaksanaan pembelajaran IPA dengan metode pembelajaran discoverydi kelas VB SDInpres Pampang 1 Kota Makassar yaitu jika terjadi
peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan metode pembelajaran discovery, mencapai nilai rata-rata minimal KKM yaitu 70%, atau sekitar 32 dari 43 siswa yang mencapai standar kriteria keberhasilan atau mendapat nilai ≥70.
Adapun kriteria yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA adalah sesuai dengan kriteria standar yang diungkapkan dari pihak sekolah sebagai berikut:
Tabel 3,1 Standar Kriteria Keberhasilan
TARAF KEBERHASILAN KUALIFIKASI
85% - 100% Sangat Baik (SB)
70% - 84% Baik (B)
55% – 69% Cukup (C)
40% - 54% Kurang (K)
0% - 39% Sangat Kurang (SK)
Berdasarkan taraf indikator keberhasilan di atas, maka peneliti memilih dan menetapkan standar minimal keberhasilan dalam penelitian ini dari segi hasil adalah bila 70% dari jumlah siswa mendapatkan nilai 70.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskriptif Hasil Penelitian
1. Data Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan. Setiap pertemuan dengan alokasi waktu dua jam pelajaran (2x35 menit). Pertemuan I dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Agustus 2017 dan pertemuan II dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Agustus 2017. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada siklus I adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan Siklus I
Tahap perencanaan tindakan siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Agustus 2017 peneliti bersama guru melakukan koordinasi tentang pelaksanaan tindakan kelas (PTK) yang akan dilaksanakan di kelas VB SD Inpres Pampang 1 dengan Peningkatan hasil belajar IPA pada materi sumber dan sifat – sifat cahaya melalui metode discovery pada siswa kelas VB SD Inpres Pampang 1.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan siklus I yaitu:
1. Melakukan diskusi dengan guru kelas VB SD Inpres Pampang 1diruangan kelas VB untuk mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan pembelajaran IPA secara umum yang dilakukan sehari-hari dan mengambil data awal nilai ulangan, dimana hasil yang didapatkan belum memenuhi standar ketuntasan belajar yang diharapkan oleh peneliti.
2. Peneliti bersama guru membuat skenario pembelajaran (RPP) yang dilaksanakan selama 35 menit dengan materi pokok yang diajarkan adalah
Sumber dan sifat–sifat cahaya dan Standar Kompetensi adalah menerapkan sifat – sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/ model. Kompetensi Dasar adalah mendeskripsikan sifat – sifat cahaya.
3. Membuat pedoman observasi dan menyusun alat evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diberikan.
b. Pelaksanaan Siklus I
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I berlangsung dalam dua kali pertemuan. Pertemuan I dilaksanakan pada Selasa, 29 Agustus 2017 dan pertemuan II dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Agustus 2017, dengan mengajarkan materi sumber dan sifat – sifat cahaya sedangkan diakhir pertemuan kedua atau akhir siklus I dilaksanakan tes hasil belajar siswa. Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan, meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
Masing-masing kegiatan tersebut akan dideskripsikan sebagai berikut:
1) Kegiatan Awal (±10 Menit)
Kegiatan awal yang dilakukan dalam pembelajaran IPA yaitu guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan dilanjutkan dengan membaca doa belajar kemudian dilanjutkan dengan penyampaian indikator pencapaian hasil belajar dan guru menginformasikan model pembelajaran discoveryyang akan digunakan pada pembelajaran ini. Kegiatan-kegiatan tersebut
tercantum dalam RPP dan dilaksanakan berdasarkan pada hasil observasi dalam proses pembelajaran IPA di kelas V SD Inpres Pampang 1.
2) Kegiatan Inti (±50 Menit)
Kegiatan inti yang dilakukan guru pada siklus I, yaitu guru menjelaskan materi pembelajaran yang akan dipelajari yaitu sumber dan sifat – sifat cahaya.
Guru memperlihatkan gambar-gambar yang mengenai berbagai jenis sumber cahaya dan sifat-sifat cahaya dengan menerapkan model pembelajaran discovery, yaitu:
a) Guru mengelompokkan siswa ke dalam 6 kelompok, yaitu: I, II, III, IV, V dan VI. Tiap kelompok beranggotakan 6-7 orang. Guru membentuk kelompok secara heterogen yaitu dengan cara memilih teman yang pandai, sedang dan rendah serta laki-laki dan perempuan. Setelah siswa berkumpul dengan teman kelompoknya, guru mulai bertanya dengan mengajukan atau mengarahkan peserta didik membaca atau mendengarkan uraian tentang penggolongan hewan berdasarkan jenis makanannya yang terdapat dalam buku pelajaran IPA.
b) Siswa diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan. Sebagian besar memilihnya yang dipandang menarik dan fleksibel untuk dipecahkan.
c) Siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan informasi tentang sumber dan sifat – sifat cahaya.
d) Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi diolah atau ditinjau kembali.
e) Berdasarkan hasil diskusi peserta didik, guru mengecek atau verifikasi kembali apakah pembelajaran sudah berhasil atau belum berhasil.
f) Berdasarkan hasil verifikasi tadi, peserta didik diarahkan untuk menarik kesimpulan terkait materi yang sedang dipelajari.
Kegiatan inti pada pertemuan II relatif sama dengan langkah-
langkahpada pertemuan I, Selanjutnya pada pertemuan II membahas tentang sumber dan sifat – sifat cahaya. Akhir pertemuan II, diadakan tes siklus I untuk mengetahui hasil belajar siswa pada siklus I.
3) Kegiatan Akhir (±10 Menit)
Kegiatan penutup yang dilakukan guru dengan materi pokok sumber dan sifat- sifat cahaya yaitu guru memberikan kesimpulan terhadap materi yang sudah diajarkan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Memberikan tugas dan memberikan pesan-pesan moral pada siswa yaitu untuk lebih giat lagi dalam belajar dan mengulang kembali pelajaran yang telah dipelajari.
c.
Observasi Siklus I1) Data Hasil Observasi Kegiatan Belajar Siswa pada Siklus I
Kegiatan observasi dilakukan terhadap penerapan model pembelajaran discovery dengan mengamati aktivitas belajar siswa kelas VB SD Inpres Pampang
1. Adapun hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung melalui model pembelajaran discoverypada siklus I selama dua kali pertemuan.
Pelaksanaan tindakan pertemuan pertama, aktivitas siswa mendengarkan penjelasan dari guru berada pada kategori kurang, aktivitas siswa dalam pembagian kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mengajukan pertanyaan berada pada kategori cukup, aktivitas siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru berada pada kategori kurang, sedangkan aktivitas siswa
dalam berdiskusi dengan teman kelompoknya tentang jawaban yang dianggap benar berada pada kategori kurang dan aktivitas siswa dalam melaporkan hasil kerja sama mereka, apabila salah satu siswa tersebut dipanggil oleh guru berada pada kategori cukup, aktivitas siswa dalam menanggapi hasil diskusi dari kelompok lain berada pada kategori kurang. Serta siswa menyimpulkan materi pelajaran berada pada kategori cukup.Sehingga, diperoleh nilai persentase aktivitas belajar siswa pada pertemuan pertama ini sebesar 55,5% atau masih dikategorikan kurang (K).
Tabel 4.1 Data Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siswa pada Siklus I
No Indikator Aspek yang dinilai Penilaian
Kategori 3 2 1
1 .
Stimulasi Rangasangan
Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang sifat sifat cahaya
Siswa Bertanya jawab seputar materi sifat sifat cahaya
Siswa memperhatikan masalah yang dimunculkan oleh guru dalam pembelajaran.
L √
2 .
Identifikasi Masalah
Siswa membentuk7 kelompok secara heterogen.
Siswa mendengarkan
penjelasan skenario dan aturan- aturan belajar dengan
kelompok kecil untuk memecahkan masalah/tugas belajar.
Siswa mengambil LKS yang disediakan oleh guru untuk kelompoknya.
√
√
√
√
3 .
Pemecahan Masalah
Siswa mengisi lembar LKS yang telah disiapkan.
Siswa mengemukakan ide sebagai bentuk kerjasama dalam menyelidiki dan menyelesaikan masalah kelompoknya.
Siswabergantian memberi jawaban.
√
4 .
Pengumpulan Data
Siswa menyajikan hasil pemecahan masalah dalam bentuk laporan.
Siswa menuliskan di papan tulis hasil kerja kelompoknya.
Siswa memperhatikan penyajian hasil kerja tiap kelompok.
√
5 Pengolahan Data
Siswa bertukar pikiran dan mengoreksi kembali informasi yg telah diperoleh untuk mendapatkan jawaban
.Siswa masing masing menjelaskan informasi yang diperoleh melalui hasil wawancara.
Siswa membandingkan setian hasil kerja
√
6 .
Pembuktian Siswa aktif berdiskusi dan memberikanpertanyaan
ataupun tanggapan terhadap sajian hasil pemecahan masalah
Siswa menguji atau membahas pendapat sementara yang dikemukakan siswa atas dasar bukti (data) yang ada di depan kelas
√
√
√
√
√
√
√
√
Berdasarkan observasi tersebut, maka aktivitas siswa kelas V SD Inpres Pampang 1 selama proses pembelajaran IPA dengan penerapan model pembelajaran discoverydapat dikategorikan cukup. Hal ini disebabkan karena siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran discoveryyang dilaksanakan oleh guru sehingga siswa kurang memberikan respon. Oleh karena itu, data observasi siswa tersebut akan dianalisis sehingga akan menjadi bahan refleksi pada pembelajaran IPA denganmodel pembelajaran discoverypada tindakan siklus II.
2) Data Perolehan Nilai Tes Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
Setelah melalui proses pembelajaran dengan model pembelajaran discoveryselama dua pertemuan pada siklus I dan diakhiri dengan melakukan tes
pada akhir siklus, maka diperoleh hasil tes belajar sebagaimana terlampir pada tabel berikut:
Tabel 4.2 data hasil perolehan tes belajar pada siklus I
No Nama Siswa L/P Nilai Kategori
1 Achmad Khadir L 59 Tidak tuntas
2 Ahmad Pratama L 86 Tuntas
3 Aprisal Arifin L 86 Tuntas
Siswa memberikan saran terhadap laporanyang telah di laporkan oleh pasangan.
Skor perolehan 0 4 2 6
Jumlah skor perolehan 0 8 2 10
Indikator Keberhasilan (Persentase %) 55,5%