• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain-Write (POEW) untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Kalor dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain-Write (POEW) untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Kalor dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA."

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Halaman

A. Latar Belakang Masalah ………...

B. Rumusan Masalah ………

C. Batasan Masalah ………...

D. Tujuan Penelitian ………... E. Manfaat Penelitian ………... F. Asumsi dan Hipotesis Penelitian ………... G. Metode Penelitian ………... H. Lokasi dan Sampel Penelitian ………..

BAB II. MODEL POEW, PENGUASAAN KONSEP, BERPIKIR KRITIS DAN KONSEP KALOR

(2)

A. Metode dan Desain Penelitian ………... B. Populasi dan sampel Penelitian………. C. Prosedur dan Tahap-Tahap Penelitian………..

D. Definisi Operasional……….

E. Instrumen Penelitian……….

F. Teknik Pengumpulan Data………

G. Teknik Analisis Data……….

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ………..…………..

1. Deskripsi Penguasaan Konsep……….……….. 2. Deskripsi Penguasaan Sub Konsep ………..………… 3. Deskripsi Keterampilan berpikir Kritis……….. 4. Pengujian Statistik …..……….. 5. Deskripsi Keterlaksanaan Pembelajaran Model POEW ………

B. Pembahasan………..

1. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran POEW Terhadap Penguasaan Konsep Siswa………. 2. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran POEW Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa……….. 3. Aktivitas Siswa dan Guru pada Pembelajaran POEW……….…. 4. Tanggapan Siswa dan Guru Terhadap Penerapan Model

Pembelajan POEW……….... 5. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran POEW……..

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(3)

DAFTAR TABEL

(4)

Gambar 2.1 Pemuaian panjang Pada Batang Logam ……… Gambar 2.2 Perpindahan Kalor Secara Konduksi……….. Gambar 3.1 Alur Penelitian……… Gambar 4.1 Grafik perbandingan persentase skor rata-rata tes awal, tes akhir, dan N-gain penguasaan konsep kelas eksperimen dan kontrol……… Gambar 4.2 Grafik perbandingan persentase skor rata-rata N-gain pada tiap aspek kognitif penguasaan konsep kelompok eksperimen dan kontrol………. Gambar 4.3 Grafik perbandingan persentase skor rata-rata N-gain setiap sub

konsep pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Gambar 4. 4 Grafik Perbandingan persentase skor rata-rata tes awal, tes

akhir dan N-gain keterampilan berpikir kritis kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol………..……… Gambar 4.5 Grafik perbandingan persentase skor rata-rata N-gain setiap

indikator keterampilan berpikir kritis kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ………... Gambar 4.6 Grafik perbandingan persentase klasifikasi N-gain kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol ………..

29 34 39

54

55

56

58

59

(5)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan

peradaban manusia yang selalu menginginkan perubahan dan ingin berkembang.

Peranan pendidikan adalah menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik dari

generasi sekarang. Oleh karenanya, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal

merupakan salah satu wahana dalam membangun sumber daya manusia yang

mampu menjawab tantangan kehidupan dan berpikir secara kritis, kreatif, dan

inovatif.

Fisika sebagai bagian dari pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

merupakan salah satu ilmu, yang sangat berperan penting dalam upaya

penguasaan ilmu dan teknologi. Kemajuan ilmu dan teknologi menuntut

seseorang untuk dapat menguasai informasi dan pengetahuan. Salah satu tujuan

penyelenggaraan mata pelajaran fisika di SMA dimaksudkan sebagai wahana

untuk melatih dan mendidik para siswa agar dapat menguasai pengetahuan,

konsep, dan prinsip fisika, memiliki kecakapan ilmiah, kritis dan mampu

bekerjasama dengan orang lain (Depdiknas, 2004).

Sejauh ini pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pandangan

bahwa pengetahuan sebagai kerangka fakta-fakta yang harus dihafal. Proses

pembelajaran masih terfokus kepada guru sebagai sumber pengetahuan, kemudian

ceramah menjadi pilihan utama strategi mengajar (Depdiknas, 2003). Berdasarkan

(6)

pembelajaran masih didominasi guru dengan metode ceramah diikuti tanya jawab.

Selain itu, kemampuan siswa untuk mengerjakan soal- soal fisika (hasil try out)

memiliki rata-rata 44,2 dan 61,7 (skala 100). Lebih jauh, Trends in International

Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2007, mencatat bahwa Indonesia

berada pada urutan ke 36 dari 58 negara untuk kemampuan sains tingkat SMP

(TIMSS, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia

(khususnya sains) masih rendah.

Menurut Liliasari (1999), rendahnya penguasaan konsep Ilmu Pengetahuan

Alam (IPA) disebabkan oleh penggunaan pola pikir yang rendah pada

pembentukan sistem konseptual IPA. Belum adanya peningkatan mutu pendidikan

IPA berhubungan dengan belum terpecahkannya masalah-masalah dalam

pembelajaran IPA (fisika), diantaranya pendidikan sains masih berorientasi hanya

pada produk pengetahuan, kurang berorientasi pada proses sains; pengajaran sains

lebih banyak dicurahkan melalui ceramah, tanya jawab, atau diskusi tanpa

didasarkan pada hasil kerja praktek (Susanto, 2002). Penerapan metode

pembelajaran yang berorientasi hanya pada produk pengetahuan, kurang

melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, siswa pasif menerima pelajaran

sehingga kurang memahami dan menguasai konsep yang diajarkan.

Salah satu materi pelajaran fisika yang harus diberikan kepada siswa SMA

kelas X pada semester kedua ialah konsep kalor. Konsep kalor merupakan materi

yang sangat berhubungan dan banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep kalor bersifat abstrak sehingga banyak siswa kesulitan dalam

(7)

kesulitan dalam memecahkan persoalan yang berhubungan dengan konsep

tersebut. Yeo & Zadnik (2001) mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami siswa

pada materi suhu dan kalor, yang menyebutkan bahwa kalor bukanlah energi,

kalor dan suhu adalah sesuatu yang sama. Sejauh ini, model pembelajaran yang

diterapkan masih menekankan pada penyampaian informasi oleh guru, siswa

hanya diajarkan menghafal konsep, prinsip, hukum dan rumus-rumus, pemahaman

yang dimiliki siswa tidak sebagai hasil pengalaman melainkan merupakan

transfer pengetahuan dari guru ke siswa sehingga tidak efektif dalam

meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa.

Berdasarkan permasalahan di atas perlu diupayakan inovasi-inovasi model

pembelajaran meliputi penerapan strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran

yang inovatif. Proses pembelajaran sains (fisika) tidak cukup dilaksanakan dengan

penyampaian informasi tentang konsep dan prinsip-prinsip tetapi siswa juga harus

memahami proses terjadinya fenomena sains dengan melakukan penginderaan

sebanyak mungkin, mengamati peristiwa yang terjadi melalui eksperimen,

melakukan percobaan, mencatat data dan pola yang muncul dari peristiwa

tersebut, dengan demikian proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan

bermakna sebab siswa memperoleh pengalaman langsung. Dengan melibatkan

siswa dalam proses pembelajaran akan mendorong mereka untuk secara aktif

melakukan eksplorasi materi pembelajaran, mengkonstruksi sendiri ide-ide yang

didapat dari hasil pengamatan dan diskusi, dan diharapkan siswa dapat menguasai

(8)

Model pembelajaran Predict-Observe-Explain-Write (POEW) adalah

model pembelajaran yang dikembangkan dari model pembelajaran

Predict-Observe-Explain (POE) dan strategi pembelajaran Think-Talk-Write (TTW).

Model POEW terdiri dari empat tahap kegiatan inti yaitu (1) Predict siswa

membuat dugaan; (2) Observe siswa melakukan pengamatan; (3) Explain siswa

melakukan penjelasan daalm diskusi; (4) Write siswa menuliskan kesimpulan

dengan bahasa sendiri.

Model POE diperkenalkan oleh White dan Gunston (Mabout: 2006)

Model POE adalah model pembelajaran yang dimulai dengan menghadapkan

siswa pada permasalahan, selanjutnya siswa meramalkan solusi dari permasalahan

(Predict), kemudian melakukan pengamatan untuk membuktikan ramalan

(Observe) dan menjelaskan hasil pengamatannya (Explain). Strategi TTW

diperkenalkan Huinker dan Laughlin (1996) terdiri dari tiga fase yaitu fase think,

fase talk, dan fase write. Pada fase think siswa diberikan permasalahan kemudian

siswa memikirkan kemungkinan jawaban dari permasalahan tersebut. Selanjutnya

fase talk, pada fase ini siswa bekerja secara berkelompok mendiskusikan apa-apa

yang didapat pada fase think. Fase yang ketiga adalah fase write, pada fase ini

siswa bekerja secara individu, menuangkan ide-ide yang didapat pada fase talk

dan menuliskannya dengan bahasa sendiri hasil diskusinya sehingga siswa lebih

menguasai konsep yang dipelajari. Menurut Bullock, S. (2008) bahwa menulis

dapat mendukung pengembangan pemahaman konseptual fisikasiswa.

Model pembelajaran POEW memungkinkan siswa aktif dalam proses

(9)

pengetahuannya, mengkomunikasikan pemikirannya dan menuliskan hasil

diskusinya sehingga siswa lebih memahami dan menguasai konsep yang diajarkan

dan keterampilan berpikir kritis siswa lebih meningkat. Partisipasi siswa dalam

pembelajaran menjadi lebih besar karena siswa dilibatkan dalam membuat dugaan

atas masalah yang dapat merangsang keterampilan berpikir kritis siswa;

melakukan percobaan untuk menguji prediksinya, dengan mengamati secara

langsung siswa dapat membandingkan antara teori (dugaan) dengan kenyataan;

menjelaskan berkomunikasi dan berinteraksi melalui diskusi kelompok;

menuliskan kembali pemahamannya dengan bahasa sendiri. Komunikasi (lisan

maupun tulisan) dalam pembelajaran sangat penting, karena melalui komunikasi,

ide-ide dapat dieksploitasi dalam berbagai perspektif; cara berfikir siswa

dipertajam. Masingila & Wisniowska (1996), mengemukakan aktivitas menulis

siswa bagi guru dapat memantau: (1) Kesalahan siswa, miskonsepsi, dan konsepsi

siswa terhadap ide yang sama; (2) Keterangan nyata dari prestasi siswa.

Beberapa hasil penelitian terdahulu telah membuktikan keefektifan

penerapan model POE dan TTW diantaranya: Santosa (2007) menemukan bahwa,

prestasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika dapat meningkat; Riset Sompong

Mabout dan David Treagust di Universitas Udon Thani, Thailand, memberikan

gambaran bahwa POE dapat dilaksanakan dengan baik pada mahasiswa sains

tahun pertama untuk mata kuliah Physics I (Mabout dan Treagust, 2006). Menurut

Maheswari (2008) kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah

pembelajaran dengan strategi TTW lebih baik dibanding dengan metode

(10)

Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini perlu dilakukan untuk

menerapkan model pembelajaran POEW untuk melihat peningkatan penguasaan

konsep kalor dan keterampilan berpikir kritis siswa SMA.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah penerapan model

pembelajaran POEW dapat lebih meningkatkan penguasaan konsep kalor dan

keterampilan berpikir kritis siswa dibandingkan dengan penggunaan model

pembelajaran konvensional?”. Rumusan masalah tersebut dijabarkan dalam

beberapa pertanyaan penelitian berikut:

1. Bagaimanakah perbandingan peningkatan penguasaan konsep kalor antara

siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model pembelajaran POEW

dan siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional?

2. Bagaimanakah perbandingan peningkatan keterampilan berpikir kritis antara

siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model pembelajaran POEW

dan siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional?

3. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap penggunaan model pembelajaran

POEW pada pembelajaran konsep kalor?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model

pembelajaran POEW dalam meningkatkan penguasaan konsep kalor dan

keterampilan berpikir kritis siswa, serta memperoleh gambaran tanggapan siswa

(11)

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bukti empiris tentang

pengaruh model pembelajaran POEW terhadap peningkatkan penguasaan konsep

kalor dan keterampilan berpikir kritis siswa yang nantinya diharapkan dapat

digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan.

E. Asumsi dan Hipotesis Penelitian

Asumsi

Model pembelajaran POEW yang terdiri dari Predict, Observe, Explain dan

Write dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran,

latihan berpikir dalam memprediksi, melakukan percobaan, bekerja kelompok.

Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasan,

mendiskusikan hasil-hasil pengamatan dan percobaan, menuliskan hasil diskusi

dengan bahasa sendiri sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep dan

keterampilan berpikir kritis siswa.

Hipotesis Penelitian

1. Penggunaan model pembelajaran POEW pada konsep kalor secara signifikan

dapat lebih meningkatkan penguasaan konsep siswa dibandingkan

penggunaan model pembelajaran konvensional.

: >

2. Penggunaan model pembelajaran POEW pada konsep kalor secara signifikan

dapat lebih meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dibandingkan

dengan penggunaan model pembelajaran konvensional.

(12)

F. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi

experiment (eksperimen semu) dan deskriptif. Metode eksperimen digunakan

untuk melihat gambaran peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan

berpikir kritis siswa pada konsep kalor, sedangkan metode deskriptif digunakan

untuk mengetahui gambaran tentang tanggapan siswa dan guru terhadap

penerapan model pembelajaran POEW. Desain penelitian yang digunakan adalah

randomized control group pretest-posttest design (Fraenkel, 1993). Penelitian

dilaksanakan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen

yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes dan non tes meliputi tes

penguasaan konsep, tes keterampilan berpikir kritis, angket dan lembar observasi.

Tes dilaksanakan dua kali yaitu sebelum pembelajaran dan sesudah pembelajaran.

G. Lokasi dan Sampel Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMA Negeri di Kecamatan

Kundur yang berada di Kabupaten Karimun pada semester genap tahun ajaran

2009/2010. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X yang

terdiri dari 5 kelas. Sampel diambil dua kelas yang dipilih secara acak dan

diperlakukan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini bertujuan agar

setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi

anggota sampel. Adapun yang menjadi alasan peneliti memilih sekolah tersebut

sebagai tempat pelaksanaan penelitian adalah peneliti berharap dengan

menerapkan model pembelajaran POEW, para guru memiliki ketertarikan untuk

(13)

menerapkannya pada konsep fisika lainnya sehingga dapat meningkatkan

penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa, melatih siswa untuk

bekerja sama, yang mana pembelajaran di sekolah tersebut umumnya masih

(14)

37

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode dan Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi

experiment (eksperimen semu) dan deskriptif. Metode eksperimen digunakan

untuk melihat gambaran peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan

berpikir kritis siswa, sedangkan metode deskriptif digunakan untuk mengetahui

gambaran tentang tanggapan siswa dan guru terhadap penerapan model

pembelajaran POEW.

Desain penelitian yang digunakan adalah randomized control group

pretest-posttest design (Fraenkel, 1993). Penelitian dilaksanakan pada dua kelas yaitu

kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sebelum pembelajaran kelas eksperimen dan

kelas kontrol diberi tes awal untuk mengidentifikasi kemampuan awal siswa.

Kemudian pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran

POEW pada kelas eksperimen dan, pembelajaran konvensional pada kelas

kontrol. Pembelajaran di kelas kontrol berjalan sebagaimana biasa diajar oleh

gurunya. Setelah selesai pembelajaran, kedua kelas diberikan tes akhir untuk

mengidentifikasi peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis

siswa.

Tabel 3.1. Desain Penelitian

Kelompok Tes awal Perlakuan Tes akhir

Eksperimen O X O

(15)

Keterangan O : Tes awal dan tes akhir

X : Perlakuan dengan model pembelajaran POEW

X : Perlakuan dengan model pembelajaran konvensional

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMAN yang berada di Kecamatan

Kundur Kabupaten Karimun pada semester genap tahun ajaran 2009/2010.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X yang terdiri dari 5

kelas. Sampel diambil dua kelas yang dipilih secara acak dan diperlakukan

sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil pemilihan secara acak,

maka kelas XC yang berjumlah 32 orang terpilih sebagai kelas eksperimen dan

kelas XB yang berjumlah 29 orang sebagai kelas kontrol.

C. Prosedur dan Tahap-tahap Penelitian

Prosedur penelitian meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Melakukan studi pendahuluan

2. Menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian.

3. Melakukan uji coba instrumen tes dan menganalisis hasilnya.

4. Memperkenalkan pembelajaran dengan model pembelajaran POEW,

mengadakan pretest pada kelompok eksperimen dan kontrol.

5. Menerapkan model pembelajaran POEW pada kelas eksperimen dan

pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

6. Melakukan observasi keterlaksanaan model POEW. Yang menjadi observer

(16)

7. Memberikan tes akhir pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, menyebarkan

angket tanggapan siswa dan guru terhadap penggunaan model POEW.

8. Melakukan analisis data tes awal, tes akhir, angket dan observasi.

Seluruh rangkaian penelitian dilukiskan pada diagram alur sebagai berikut:

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Tes Akhir Penyusunan Rencana Pembelajaran dengan Model POEW

dan Rancangan Instrumen Penelitian

Temuan

Kesimpulan

Studi Literatur: Model POEW, Penguasaan

(17)

D. Definisi Operasional

Untuk menghindari kesalahan penafsiran terhadap istilah-istilah yang

digunakan dalam penelitian ini, berikut dikemukakan beberapa definisi

operasional:

1. Model pembelajaran POEW adalah model pembelajaran yang dikembangkan

dari model POE dan strategi TTW yang pelaksanaannya mengikuti

langkah-langkah sebagai berikut: (1) Predict: membuat dugaan atau memprediksi.

Guru menyajikan masalah fisika, kemudian siswa diminta membuat dugaan

sementara dan memikirkan alasan mengapa membuat dugaan seperti itu, (2)

Observe: melakukan observasi dengan melakukan eksperimen tentang

masalah yang disajikan (dapat juga melakukan pengukuran bila diperlukan),

dan menguji apakah dugaannya benar atau salah, (3) Explain: siswa

menjelaskan hasil pengamatannya, (4) Write: siswa menuliskan hasil

diskusinya dengan bahasa sendiri. Untuk memantau keterlaksanaan model

pembelajaran POEW dalam pembelajaran konsep kalor dilakukan observasi

dengan menggunakan format observasi.

2. Model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran secara klasikal

yang didominasi metode ceramah dan tanya jawab, guru cenderung lebih aktif

sebagai sumber informasi (teacher centered), dan siswa mendengarkan,

mencatat penjelasan guru. Siswa cenderung pasif dalam menerima pelajaran.

Siswa bekerja secara individual atau bekerja sama dengan teman yang duduk

di sampingnya, kegiatan terakhir siswa mencatat materi yang diterangkan

(18)

3. Penguasaan konsep didefenisikan sebagai kemampuan siswa dalam

memahami konsep-konsep, baik secara teori maupun penerapannya dalam

kehidupan sehari-hari (Dahar, 1996). Penguasaan konsep dalam penelitian ini

adalah penguasaan siswa terhadap konsep kalor yang diukur melalui tes

tertulis berbentuk pilihan ganda sebelum dan setelah pembelajaran. Tes

penguasaan konsep meliputi ranah kognitif taksonomi Bloom yang dibatasi

pada tingkatan ingatan (C ) pemahaman (C ), aplikasi (C ) dan

analisis (C ).

4. Keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir kompleks

menggunakan proses berpikir mendasar berupa penalaran logis untuk

menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan (Costa, 1985).

Keterampilan berpikir kritis yang diukur dalam penelitian ini meliputi: (1)

Mendefinisikan istilah (2) Memutuskan suatu tindakan (3) Menerapkan

prinsip (4) Kemampuan untuk memberikan alasan (5) Membuat kesimpulan.

5. Tanggapan siswa merupakan pendapat dan sikap yang menunjukkan

kecenderungan siswa terhadap fisika, penggunaan model pembelajaran

POEW, dan soal-soal penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis

yang diberikan.

6. Konsep kalor merupakan salah satu kajian fisika yang mencakup tentang

pemuaian zat, perubahan wujud zat, dan perpindahan kalor. Dalam kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk tingkat SMA konsep kalor berada

dalam standar kompetensi 4 dan kompetensi dasar 4.1, 4.2 dan 4.3 yang

(19)

E. Instrumen Penelitian

1. Jenis Instrumen

Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari instrumen tes dan non-tes.

Instrumen tes ialah tes penguasaan konsep dan tes keterampilan berpikir kritis,

sedangkan instrumen non-tes ialah angket dan lembar observasi.

a. Tes Penguasaan Konsep

Tes penguasaan konsep digunakan untuk mengukur kemampuan

penguasaan konsep siswa terhadap konsep kalor. Tes ini terdiri dari 20 butir soal,

berbentuk pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban pada ranah kognitif yang

meliputi ingatan (C ) pemahaman (C ), aplikasi (C ), dan analisis (C ).

b. Tes Keterampilan Berpikir Kritis

Tes ini digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir kritis siswa yang

meliputi: (1) Mendefinisikan istilah (2) Memutuskan suatu tindakan (3)

Menerapkan prinsip (4) Kemampuan untuk memberikan alasan (5) membuat

kesimpulan. Tes keterampilan berpikir kritis terdiri dari 13 soal berbentuk pilihan

ganda dengan lima pilihan jawaban.

Tes dalam penelitian ini dilaksanakan dua kali yaitu sebelum pembelajaran

(tes awal) dan sesudah pembelajaran (tes akhir). Pemberian tes awal untuk melihat

kemampuan siswa sebelum mereka mendapat perlakuan pembelajaran sedangkan

tes akhir untuk melihat hasil yang dicapai siswa setelah mendapat perlakuan

pembelajaran. Hasil kedua tes ini digunakan untuk menghitung peningkatan (gain)

yang dinormalisasi yang menunjukkan peningkatan penguasaan konsep dan

(20)

c. Angket

Angket digunakan untuk memperoleh informasi tentang tanggapan siswa

terhadap pembelajaran konsep kalor dengan menggunakan model pembelajaran

POEW. Angket yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan skala

Likert dengan empat kategori tanggapan yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak

setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Masing-masing jawaban untuk

pertanyaan positif atau negatif diberi skor mengacu pada pedoman penskoran atau

skor baku yaitu nilai (Z+1) yang dihitung berdasarkan nilai tabel Z (daftar Z) dari

proporsi pilihan jawaban pada setiap item pernyataan (Sumarmo, dalam

Hutagalung, 2009). Pilihan netral tidak diberikan untuk menghindari jawaban

aman, sehingga mengharuskan siswa untuk menyatakan keberpihakannya pada

pernyataan yang diberikan. Dalam penelitian ini peneliti hanya ingin mengetahui

kecenderungan sikap siswa (positif atau negatif) terhadap penerapan model

pembelajaran POEW.

d. Lembar Observasi

Lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran digunakan untuk

mengamati sejauh mana tahapan model pembelajaran POEW yang telah

direncanakan terlaksana dalam proses belajar mengajar. Observasi yang dilakukan

adalah observasi terstruktur dengan menggunakan lembaran daftar cek.

2. Analisis Instrumen

Analisis instrumen meliputi perhitungan Validitas Butir Soal, Reliabilitas

Instrumen, Tingkat Kesukaran, dan Daya Pembeda Butir Soal. Analisis ini

(21)

a. Validitas Butir Soal

Validitas digunakan untuk mengetahui ketepatan apa yang hendak diukur

dari tes yang telah dibuat. Sebuah tes dikatakan valid apabila tes itu mengukur apa

yang hendak diukur (Arikunto, 2007). Penentuan validitas instrumen dalam

penelitian ini dilakukan dengan menghitung korelasi antar skor item dengan skor

total butir tes menggunakan rumus korelasi Product Moment Pearson

= ( )

( ( ) ( ( ) ) (Arikunto, 2007:64-78)

Keterangan: = koefisien korelasi antara variabel x dan y

N = jumlah peserta tes

Y = skor total

X = skor tiap butir soal

Interpretasi untuk besarnya koefisien korelasi disajikan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Kategori Validitas Butir Soal

Batasan Kategori

0,80 < ≤ 1,00 Sangat Tinggi 0,60 < ≤ 0,80 Tinggi

0,40 < ≤ 0,60 Cukup 0,20 < ≤ 0,40 Rendah

0,00 < ≤ 0,20 Sangat Rendah

b. Reliabilitas Tes

Reliabilitas suatu instrumen merupakan keajegan atau kekonsistenan

instrumen tersebut. Reliabilitas adalah kestabilan skor yang diperoleh ketika diuji

ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dan satu pengukuran

ke pengukuran lainnya. Dalam penelitian ini, untuk menghitung reliabilitas soal

(22)

= ( )

dimana: : koefesien reliabilitas yang telah disesuaikan

: Koefesien antara skor-skor setiap belahan tes

Harga dari ditentukan dengan rumus korelasi product moment Pearson.

= ( )

( ( ) ( ( ) )

Keterangan:

= koefesien korelasi antara variabel X dan variabel Y

X = skor butir soal ganjil Y = skor butir soal genap N = jumlah sampel

Interpretasi derajat reliabilitas ditunjukkan pada Tabel 3.3 ( Arikunto, 2007)

Tabel 3.3. Kategori Reliabilitas Tes

Batasan Kategori

0,80 < ≤ 1,00 Sangat Tinggi

0,60 < ≤ 0,80 Tinggi

0,40 < ≤ 0,60 Cukup

0,20 < ≤ 0,40 Rendah

0,00 < ≤ 0,20 Sangat Rendah

c. Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya

suatu soal. Tingkat kesukaran digunakan untuk mengklasifikasikan setiap butir

instrumen tes ke dalam tiga kelompok tingkat kesukaran untuk mengetahui

(23)

kesukaran berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Rumus yang digunakan untuk

menentukan tingkat kesukaran dapat ditentukan dengan persamaan:

" =$%# (Arikunto, 2007).

Keterangan: P = indeks kesukaran

B = jumlah skor yang diperoleh seluruh siswa pada satu butir soal

JS = jumlah skor ideal/maksimum pada butir soal

Kategori tingkat kesukaran soal ditunjukkan pada Tabel 3.4

Tabel 3.4. Kategori Tingkat Kesukaran

Daya pembeda adalah kemampuan butir soal untuk membedakan antara

siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.

Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut diskriminasi (DP) .

Untuk menentukan indeks diskriminasi soal pilihan ganda digunakan persamaan:

B

Keterangan: J = jumlah peserta tes

(24)

Kategori daya pembeda ditunjukkan pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5. Kategori Daya Pembeda

Batasan Kategori

0,70 ≤ DP < 1,00 Sangat baik

0,40 ≤ (" < 0,70 Baik

0,20 ≤ (" < 0,40 Cukup

DP < 0,20 Jelek

3. Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian

Uji coba instrumen penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas IX pada

salah satu SMA Negeri di Banten. Instrumen yang diujicobakan berjumlah 38 soal

berbentuk pilihan ganda, terdiri dari 23 soal penguasaan konsep dan 15 soal

keterampilan berpikir kritis. Analisis hasil uji coba instrumen dilakukan dengan

menggunakan program Anates V4, yang meliputi validitas tes, reliabilitas tes,

tingkat kesukaran dan daya pembeda.

Berdasarkan analisis hasil uji coba instrumen terhadap 41 subjek, untuk tes

penguasaan konsep diperoleh skor rata-rata 12,15 dengan simpangan baku 4,25.

Dari 23 soal penguasaan konsep terdapat 20 soal yang valid, dengan reliabilitas

0,69 termasuk kategori tinggi. Dilihat dari tingkat kesukarannya, terdapat 6 soal

kategori mudah, 13 soal kategori sedang dan 4 soal kategori sukar, sedangkan

untuk daya pembedanya diperoleh 20 soal kategori baik, 2 soal kategori cukup

dan 1 soal kategori jelek.

Dari analisis uji coba tes keterampilan berpikir kritis yang terdiri dari

15 soal diperoleh 13 soal yang valid dan memiliki reliabilitas tes 0,68 termasuk

(25)

11 soal kategori sedang dan 2 soal kategori mudah, sedangkan dari daya

pembedanya diperoleh 12 soal kategori baik dan 3 soal kategori cukup.

(Rekapitulasi hasil uji coba instrumen dapat dilihat pada lampiran D).

F. Tehnik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan meliputi nilai tes penguasaan konsep, data

keterampilan berpikir kritis, data respon siswa dan lembar observasi.

1. Data Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kritis

Data penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis diperoleh melalui

tes berbentuk pilihan ganda yang dilaksanakan sebelum dan sesudah penerapan

pembelajaran konsep kalor dengan model POEW pada kelompok eksperimen dan

model konvensional pada kelas kontrol. Berdasarkan analisis instrumen di atas,

Tes Penguasaan Konsep terdiri dari 20 butir soal, dan tes Keterampilan Berpikir

Kritis terdiri dari 13 butir soal.

2. Data Observasi Pelaksanaan Model Pembelajaran POEW

Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran fisika dengan

menggunakan model pembelajaran POEW, digunakan lembar observasi.

Observasi dilakukan dalam kelas/laboratorium pada saat proses belajar mengajar.

Observer memberikan checklist pada butir yang berhubungan dengan tahapan

pendekatan pembelajaran yang dilakukan guru.

3. Data Tanggapan Siswa

Data mengenai tanggapan siswa terhadap penggunaan model pembelajaran

(26)

berupa skala Likert dengan 4 kategori pilihan yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S),

Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Siswa membubuhkan tanda

cheklist pada kolom yang sesuai dengan pilihannya.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kuantitatif. Uji statistik yang digunakan

adalah uji kesamaan/ perbedaan dua rata-rata. Perhitungan dilakukan dengan

menggunakan program SPSS, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Menentukan statistik deskriptif data penelitian meliputi skor tertinggi, skor

terendah, rata-rata, simpangan baku, dan varians.

2) Untuk melihat peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir

kritis sebelum dan sesudah pembelajaran dihitung menggunakan rumus gain

yang dinormalisasi, yang dikembangkan oleh Hake (Cheng, et. al, 2004):

) =

%*+,- %*./

%012, %*./

Keterangan: 34567 = Skor posttest

34 8 = Skor = >?>@?

3ABC6 = Skor maksimum ideal

Kategori N-gain ditunjukkan pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6. Kategori N-gain

Batasan Kategori

) > 0,7 Tinggi

0,3 ≤ ) ≤ 0,7 Sedang

) < 0,3 Rendah

(27)

3) Menguji normalitas skor N-gain dengan uji non parametrik One Sample

Kolmogorov-Smirnov.

Uji normalitas data skor N-gain penguasaan konsep dan ketrampilan

berpikir kritis siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,

menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan rumus hipotesis kerja:

H0 : Data berasal dari populasi berdistribusi normal

HA : Data berasal dari populasi tidak berdistribusi normal

Dengan kriteria: tolak Ho jika Sig (2-tailed) < M (Trihendradi, 2005:245)

4) Menguji homogenitas varians dengan Levene Test dalam One-Way Anova.

Uji homogenitas antara dua varians skor N-gain kelas eksperimen dan

kelas kontrol menggunakan uji Levene dengan rumusan hipotesis kerja:

H0 : (N ) = (N ) Varians populasi skor kedua kelompok homogen.

HA : (N ) ≠ (N ) Varians populasi skor kedua kelompok tidak

homogen.

N = Varians skor kelompok eksperimen;

N = Varians skor kelompok kontrol

Dengan kriteria, tolak H0 jika Sig (1-tailed) < M (Trihendradi, 2005:158).

5) Menguji hipotesis penelitian dengan uji perbedaan dua rerata.

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji satu ekor

(one tiled) dengan taraf signifikan α = 0,05. Jika data berdistribusi normal

dan homogen maka digunakan uji statistik uji-t. Dan jika data berdistribusi

normal tapi tidak homogen maka menggunakan uji t* (uji t dengan asumsi

(28)

berdistribusi normal) maka dipakai uji nonparametrik yaitu uji U

Mann-Whitney (Ruseffendi, 1998).

Uji perbedaan rata-rata skor N-gain antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol menggunakan uji satu arah/ satu pihak (pihak kanan)

untuk menguji rumusan hipotesis kerja:

H0 : P = P : Tidak ada perbedaan rata-rata antara kedua kelompok.

HA : P > P : Rata-rata kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok

kontrol

P = Rata-rata kelompok eksperimen

P = Rata-rata kelompok kontrol

Dengan kriteria pengujian satu arah, tolak H0 jika Sig (1-tailed) < M.

Hubungan nilai signifikansi uji satu arah dan dua arah dari output SPSS

ialah Sig.(1-tailed) = Sig.(2-tailed) Whidiarso (2007).

6) Menganalisis data hasil observasi proses pembelajaran model POEW.

Analisi ini meliputi aktivitas siswa dan aktivitas guru selama pelaksanaan

pembelajaran model POEW.

7) Menghitung skor hasil angket tanggapan siswa dan membandingkannya

dengan skor netral untuk mengetahui kecenderungan siswa apakah mereka

bersikap positif atau bersikap negatif terhadap pelaksanaan model

(29)

84

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan, dapat

disimpulkan bahwa:

1. Peningkatan penguasaan konsep kalor pada siswa yang mendapatkan

model pembelajaran POEW secara signifikan lebih tinggi dibanding siswa

yang mendapatkan model pembelajaran konvensional. Rata-rata N-gain

penguasaan konsep kelompok eksperimen sebesar 0,48, termasuk dalam

kategori sedang.

2. Peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang mendapatkan model

pembelajaran POEW secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan

siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional. Rata-rata

N-gain keterampilan berpikir kritis kelompok eksperimen sebesar 0,54,

termasuk dalam kategori sedang.

3. Siswa memberikan tanggapan yang positif terhadap penggunaan model

pembelajaran POEW pada konsep kalor. Model pembelajaran POEW

menjadikan siswa lebih aktif, suasana belajar dirasa menyenangkan dan

model tersebut sangat mendukung dalam meningkatkan penguasaan

(30)

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, peneliti

memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Model pembelajaran POEW terdiri dari 4 (empat) tahapan yaitu

Predict-Observe-Explain-Write. Supaya semua tahap pembelajaran tersebut

terlaksana dengan baik, diperlukan pengalokasian waktu dengan

sebaik-baiknya.

2. Model pembelajaran POEW memerlukan alat-alat praktikum. Supaya

percobaan dan pengamatan dapat dilaksanakan, maka diperlukan

kreatifitas guru untuk merancang dan membuat alat praktikum sederhana.

3. Pada tahapan explain, guru harus memotivasi siswa supaya berani

mengeluarkan pendapat dan gagasannya supaya proses diskusi berjalan

dengan baik.

4. Kegiatan pengamatan dan penyelidikan pada tahap observe sering

mengalami kendala karena siswa kurang terbiasa melakukan praktikum.

Oleh karena itu diperlukan bimbingan dari guru ketika siswa melakukan

(31)

86

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi

IV). Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, S. (2007). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Ansari, B.I. (2003). Menumbuhkembangkan Kemampuan Pemahaman dan

Komunikasi Matematik melalui Strategi TTW (eksperimen di SMUN Kelas

I Bandung ): Disertasi PPS UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Baharudin. (1982). Peranan Dasar Intelektual Sikap dan Pemahaman Dalam

Fisika terhadap Kemampuan Siswa di Sulawesi Selatan Membangun Model Mental. Disertasi Doktor FPS IKIP Bandung: Tidak diterbitkan

Bullock, S (2008) .Building Concepts Through Writing-to-Learn in College

Physics Classrooms [online] tersedia

http://www.nipissingu.ca/oar/PDFS/V922E.pdf (3 Oktober 2009)

Cheng, et,al, (2004). “Using on Line Home Work System Enhance Student of Physic Concept in Introductory Physic Course”. Journal American

Association Physic Teacher. 72 (11), 144-1453

Costa. (1985). Developing Minds: A Resource Book for Teaching Thinking. Alexandria: ASCD

Dahar, R.W. (1996). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga

Depdiknas. (2004). Silabus Kurikulum 2004. Dirjen Dikdasmen

Depdiknas. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan

Nasional

---. (2006). “Pengembangan Bahan Ujian dan Analisis Hasil Ujian” Materi Presentasi Sosialisasi KTSP Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

..., (2006). Daftar Silabus Fisika KTSP 2006. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Ennis, R.H. (1985). An Elaboration of a Cardinal Goal of Science Instruction. Educational Phillosophy and Theory, 23, (1), 31-34

---, (1989). Evaluating Critical Thinking, California: Midwest Publications

Fraenkel, J.R & Wallen, N.E., (1993). How To Design And Evaluate Research in

(32)

Giancoli, D.C. (2001). Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Huinker, D. & Laughlin, C. (1996). “Talk Your Way into Writing”. In P. C. Elliot, and M. J. Kenney (Eds). 1996 Yearbook. Communication in Matematics, K-12 and Beyond. USA: NCTM

Hutagalung, J.B. (2009). “Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan

Komunikasi Matematis Siswa SMA Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw”. Tesis PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan

Johnson, E.B. (2002). Contextual Teaching & Learning. Bandung. MLC

Kanginan, M. (2007). “Fisika untuk SMA Kelas X ”. Bandung: Erlangga

Liliasari, dkk. (1999). Pengembangan Model Pembelajaran Materi Subyek untuk

Meningkatkan Keterampilan Berpikir Konseptual Tingkat Tinggi Mahasiswa Calon Guru IPA. Laporan Penelitian, Bandung. FPMIPA IKIP

Bandung

………., (2002). Pengembangan Model Pembelajaran Kimia untuk Meningkatkan

Strategi Kognitif Mahasiswa Calon Guru dalam menerapkan Berpikir Konseptual Tingkat Tinggi (Studi Pengembangan Berpikir Kritis dan Kreatif). Laporan Penelitian Hibah Bersaing IX Perguruan Tinggi. UPI

Bandung

La Ode Nursalam. (2007). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif

Tipe Jigsaw Terhadap Peningkatan Penguasaan Konsep dan

Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA Pada Konsep Listrik Dinamis.

Tesis PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan

Mabout, Sompong dan Tregust, David F. (2006). The Use of a

Predict-Observe-Explain Sequence in The Laboratory to Improve Students’ Conceptual Understanding of Motion in Tertiary Physics in Thailand. (Makalah

disampaikan pada Konferensi Internasional Pendidikan Sain di Singapura). Singapore: National Institute of Education.

Masingila, J.O dan Wisniowska, E.P (1996). Develoving and Assessing

Mathematical Understanding in Calculus thorough Writing. Dalam P.C

Elliot dan M.J Kenney (Eds). Yearbook Communication in Mathematics K-12 and Beyond. Reston VA: The National Council of Teacher of Mathematics.

Nasution, S. (1982). Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Edisi 1. Jakarta: Bina Aksara

Nurjanah, A. (2009). Penerapan Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain

(POE) untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Tekanan dan Keterampilan Berfikir Kreatif Siswa MTs. Tesis PPS UPI Bandung: tidak

(33)

Oakley, L. (2004). Cognitive Development Routledge: London and New York

Ruseffendi, E.T. (1991). Pengajaran Matematika Modern untuk Orang Tua,

Murid, Guru dan SPG seri Kelima. Bandung: Tarsito

---, (1998). Statistika Dasar Untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.

---,(2006). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan

Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.

Santoso, B. (2007). Urutan Predict-Observe-Explain (POE) pada pembelajaran

Fluida Dinamis untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Generik Fisika Siswa SMA Kelas XI Bandung. Tesis PPS

UPI Bandung: Tidak diterbitkan

Silberman, M.L. (2006). Active Learning. Edisi Revisi. Bandung: Nasamedia

Splitter, J.L. (1992). Critical Thinking: What, why, When and How. Australia Council for Educational Research

Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Suparno, P. (1997). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

TIMSS, (2007). Highlights from The Trends in International Mathematics and

Science Study (TIMSS) National Center for Education Statistics (NCES)

U.S. DEPARTMENT OF EDUCATION [Online] tersedia:

http://nces.ed.gov/pubs2009/2009001.pdf [3 Oktober 2009]

Trihenradi, C. (2005). Step by Step SPSS 13 Analisis Data Statistik. Yokyakarta: ANDI.

Wartono. (1996). Pembelajaran Inquiry dalam Pendidikan Sains di SD dalam

Khasanah Pengajaran IPA. Majalah Pendidikan IPA Vol. 1 No. 2.

Bandung: IMATIPA PPs & PPs IKIP Bandung

Gambar

Gambar  2.1 Pemuaian panjang Pada Batang Logam  ………………………
Tabel 3.1. Desain Penelitian
Gambar 3.1 Alur Penelitian
Tabel 3.5. Kategori Daya Pembeda
+2

Referensi

Dokumen terkait

Teknik ini dinilai lebih efektif dan efisien dalam pembuatan zeolit sintesis karena memerlukan waktu yang relative lebih singkat dan tidak banyak bahan kimia yang terbuang. Dari

Gambar L.2 Biji Nangka Yang Telah Dicacah Dan Dijemur Di Sinar Matahari.. Selama ±

Hermawan, Y., 2006, Pemanfaatan Limbah Sekam Padi Sebagai Bahan Bakar Bentuk Briket, Laporan Penelitian, Jurusan Teknik Mesin, fakultas Teknik, Universitas Jember.. N.,

Profil Karakter Courage Anak Usia Dini pada Ibu Single

Mengetahui nilai kekerasan dengan menggunakan variasi komposisi dari serat sabut kelapa, fiber glass, dan serbuk tembaga, matriks polimer jenis phenolic, dibandingkan dengan

Bagaimana profil karakter courage anak usia dini pada ayah single parents.

1) Memanfaatkan dan mengelola limbah jarak pagar dan pertanian menjadi biobriket. 2) Mengkombinasikan komposisi limbah jarak pagar, limbah sekam padi dan jerami yang

PROFIL KARAKTER COURAGE ANAK USIA DINI PADA KONDISI KELUARGA SINGLE PARENTS Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |