PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2013
Nama Kelompok 9 :
1. Eka Sulis Styowati
(3612100006)
2. Rizqia Mintarsih
(3612100010)
3. Amelia Puspasari
(3612100019)
4. Djoko Rachmad Santoso
(3612100034)
5. Irwan Bisri Rianto
(3612100068)
Tugas Kelompok II
Mata Kuliah Prasarana Wilayah dan Kota II
Kata Pengantar
Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat, kemudahan, kelancaran dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten Bondowoso” dapat terselesaikan.
Tugas ini merupakan syarat wajib bagi mahasiswa Jurusan S1 Perencanaan Wilayah Kota FTSP ITS dalam penyelesaian mata kuliah Prasarana Wilayah dan Kota II. Makalah ini juga berisi tentang gambaran umum daerah tertinggal, profil dan karakteristik daerah tertinggal, permasalahan dan potensi daerah tertinggal, review implementasi dari daerah tertinggal, dan kesimpulan khusus terkait penyediaan infrastruktur di daerah tertinggal.
Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa penulisan dan penyusunan ini masih jauh dari sempurna, mengingat terbatasnya waktu dan kemampuan penulis. Kritik dan saran sangat diperlukan untuk dijadikan sebagai acuan tugas-tugas selanjutnya.
Dalam penyelesaian penulisan makalah ini penulis tidak lepas dari bantuan semua pihak yang telah memberikan kesempatan, bimbingan, sarana dan prasarana selama penulisan makalah ini. Atas semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis, penulis ingin mengucapkan terima kasih dan semoga atas bantuan yang telah diberikan selama penulisan dan penyusunan makalah ini mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pihak.
Surabaya, November 2013
Penyusun
i Profil dan Karakteristik Daerah
Profil dan Karakteristik Daerah
Abstrak
Daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Suatu daerah dikategorikan sebagai daerah tertinggal, karena beberapa faktor penyebab yaitu geografis, sumberdaya alam, sumberdaya manusia, prasarana dan sarana, dan daerah terisolasi, rawan konflik dan rawan bencana. Dalam pembangunan daerah tertinggal ada 6 (enam) kriteria wilayah tersebut dikatakan sebagai daerah tertinggal. Pertama adalah faktor ekonomi; kedua adalah faktor sumber daya manusia; ketiga adalah faktor infrastruktur (prasarana), keempat adalah faktor kapasitas wilayah; kelima adalah faktor aksesibilitas; dan yang keenam adalah faktor karakteristik daerah.
Di Kabupaten Bondowoso yang merupakan daerah tertinggal memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan daerah tertinggal lainnya. Sebagai gambaran wilayah Kabupaten Bondowoso tidak mempunyai laut dan tidak dilalui jalur utama. Jalan terbesar hanya dilalui oleh jalan propinsi antara Bondowoso – Situbondo dan Bondowoso – Jember. Secara topografi, wilayah Kabupaten Bondowoso adalah berbukit-bukit bahkan sebagian besar adalah wilayah berlereng sangat curam. Sehingga Kabupaten Bondowoso merupakan kawasan rawan bencana banjir karena merupakan kawasan bersudut lereng lebih dari 40%. Sebagai salah satu kabupaten yang termasuk kategori “daerah tertinggal”, Kabupaten Bondowoso dihadapkan kepada berbagai masalah yang perlu segera ditangani secara serius, terencana dan berkelanjutan. Issu kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, rendahnya derajat kesehatan, tingginya angka pengangguran, serta rendahnya produktifitas dan kualitas produksi, merupakan masalah-masalah yang perlu memperoleh perhatian segera.
Dengan adanya penyusunan profil dan karakterstik daerah tertinggal yakni Kabupaten Bondowoso akan memunculkan sebuah potensi yang bisa dikembangakan, permasalahan, dan pemecahan solusi bagi Kabupaten Bondowoso. Kabupaten dengan luas wilayah luas wilayah Kabupaten Bondowoso mencapai 1.560,10 km2 atau sekitar
3,26 persen dari total luas Propinsi Jawa Timur, dan terbagi menjadi 23 kecamatan, 10 kelurahan, 119 desa dan 913 dusun ini memiliki potensi dan permasalahan yang berbeda, tergantung dari implementasi dari strategi, kebijakan, dan program prioritas daerahnya. Pemanfaatan potensi dari wilayah akan mengangkat nama dari daerah tertinggal itu sendiri. Sehingga dalam hal ini perlu review implementasi dari strategi, kebijakan, dan program prioritas daerah yang dilakukan oleh pemerintah terutama di Kabupaten Bondowoso.
Kata Kunci : Daerah Tertinggal, Indikator Daerah Tertinggal
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
Daftar Isi
Kata Pengantar...i
Abstrak...ii
Daftar Isi... iii
Daftar Tabel... iv
Daftar Gambar...iv
Bab I Pendahuluan...1
1.1. Latar Belakang...1
1.2 Tujuan...2
1.3 Sistematika Penulisan...2
Bab II Pembahasan...3
2.1 Gambaran Umum Daerah Tertinggal...3
2.2 Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal...4
2.2.1. Indikator Ekonomi...4
2.2.2. Indikator Sumber Daya Manusia...12
2.2.3. Indikator Infrastruktur...21
2.2.4. Indikator Kapasitas Daerah...32
2.2.5. Indikator Aksesibilitas...34
2.2.6. Indikator Karakteristik Daerah...36
2.3. Permasalahan dan Potensi Daerah Tertinggal secara spesifik...41
2.3.1. Permasalahan Daerah Tertinggal...41
2.3.2 Potensi Daerah Tertinggal...45
2.4. Review Implementasi dari Strategi, Kebijakan, dan Program Prioritas Daerah. .51 2.4.1. Program Pembangunan Daerah Berdasarkan Urusan...51
2.4.2. Program Pembangunan Daerah Berdasarkan Prioritas...62
2.4.3. Program Pembangunan Kewilayahan...64
2.5. Kesimpulan khusus terkait penyediaan infrastruktur di daerah tertinggal...68
Bab III Kesimpulan...70
3.1 Kesimpulan...70
3.2 Saran...71
Daftar Pustaka...72
Profil dan Karakteristik Daerah
Daftar Tabel
Tabel 1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Bondowoso...4
Tabel 2 Jumlah Penduduk (Pertengahan Tahun)...5
Tabel 3 Jumlah Keluarga...6
Tabel 4 Jumlah Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera I...6
Tabel 5 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso...7
Tabel 6 Product Domestic Regional Bruto (PDRB)...8
Tabel 7 Persentase Penduduk Miskin...9
Tabel 8Persentase Kedalaman Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso...10
Tabel 9 Indeks Kedalaman Kemiskinan (IKK) Kabipaten Bondowoso...11
Tabel 10 Jumlah Angkatan Kerja, Persentase Angkatan Kerja, dan Pengangguran...13
Tabel 11Jumlah Angka Melek Huruf, Jumlah Angka Partisipasi Sekolah, dan IPM...14
Tabel 12Jumlah Desa, Jumlah Puskesmas, dan Poliklinik Desa...17
Tabel 13 Persentase Desa yang Memiliki Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan...18
Tabel 14Rata-rata Jarak Desa Tanpa Fasilitas Pendidikan Terdekat...20
Tabel 15Data Jumlah Desa Menurut Daerah Tertinggal Dan Jenis Permukaan Jalan....21
Tabel 16Persentase Rumah Tangga Pengguna Listrik dan Telepon...25
Tabel 17Jumlah Desa Menurut Daerah Tertinggal Dan Jenis Pasar...26
Tabel 18Jumlah Desa Menurut Daerah Tertinggal Dan Jarak Pasar...28
Tabel 19Jumlah penduduk, dokter dan dokter/1000 di Kabupaten Bondowoso...30
Tabel 20 Besarnya PAD Kabupaten Bondowoso...32
Tabel 21 Besarnya Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso...33
Tabel 22Data Akseseibilitas Kabupaten Bondowoso...34
Tabel 23Persentase Beberapa Desa Rawan Di Kabupaten Bondowoso...40
Tabel 24 Aspek Pembangunan Daerah Tertinggal di Bidang Infrastruktur...43
Tabel 25 Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso Tahun 2005-2010...43
Tabel 26 Komoditi Utama Bidang Perkebunan Kabupaten Bondowoso...46
Tabel 28 Komoditi kopi rakyat Kabupaten Bondowoso...47
Daftar Gamb
Gambar 1Jumlah Penduduk (Pertengahan Tahun)...5Gambar 2 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso...7
Gambar 3 Product Domestic Regional Bruto...9
Gambar 4 Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso...10
Gambar 5Persentase Kedalaman Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso...11
Gambar 6 Indeks Kedalaman Kemiskinan (IKK) Kabupaten Bondowoso...12
Gambar 7Jumlah Angkatan Kerja, Bukan Angkatan Kerja, dan Penduduk...13
Gambar 8Persentase Angkatan Kerja dan Angka Pengangguran...14
Gambar 9 Persentase Angka Melek Huruf...15
Gambar 10Persentase Angka Melek Huruf 15-24 dan 15-55...15
Gambar 11Persentase Angka partisipasi Sekolah...16
Gambar 12 Indeks Pembangunana Manusia...16
Gambar 13Jumlah Desa Di Kabupaten Bondowoso...17
Gambar 14Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan Poliklinik Desa...18
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
Gambar 15Jumlah Desa Di Kabupaten Bondowoso...19
Gambar 16Persentase Desa yang Memiliki Fasilitas Kesehatan > 5 km...19
Gambar 17 Rata-Rata Jarak Pelayanan Kesehatan...20
Gambar 18Rata-rata Jarak bagi Desa/Kelurahan tanpa SD dan SMP dan Rata-rata Jarak bagi Desa/Kelurahan tanpa SD, SMP, dan SMA...21
Gambar 19Jumlah Desa dengan Permukaan Jalan Aspal/Beton...22
Gambar 20Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Diperkeras...23
Gambar 21Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Tanah...23
Gambar 22Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Lainnya...24
Gambar 23 Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan yang dapat Dilalui Mobil...24
Gambar 24Banyaknya Desa...25
Gambar 25Persentase Rumah Tangga Pengguna Listrik dan Telepon...26
Gambar 26Banyaknya Desa Di Kabupaten Bondowoso...27
Gambar 27 Jumlah Desa dengan Jenis Pasar Tanpa Bangunan Permanen dan Dengan Bangunan Permanen...27
Gambar 28 Persentase Desa Tanpa Bangunan Permanen dan Dengan Bangunan Permanen... 28
Gambar 29Banyaknya Desa Di Kabupaten Bondowoso...29
Gambar 30 Jumlah Fasilitas Pasar Lebih dari 3 km Di Kabupaten Bondowoso...29
Gambar 31 Persentase Jarak Fasilitas Pasar Lebih dari 3 km Di Kabupaten Bondowoso ... 30
Gambar 32Jumlah Penduduk Kabupaten Bondowoso...31
Gambar 33Jumlah Dokter Umum...31
Gambar 34Jumlah Dokter/1000 Penduduk...32
Gambar 35 Besarnya PAD Kabupaten Bondowoso...33
Gambar 36Besarnya Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso...34
Gambar 37 Analisis Rata-Rata Jarak dari Kantor Desa/Kelurahan ke kantor Kabupaten 35 Gambar 38Analisis Waktu Tempuh ke Pusat Pelayanan Pemerintah...36
Gambar 39Keadaan Topografi Kabupaten Bondowoso...36
Gambar 40 Persentase Desa Berdasarkan Karakteristik Daerah di Kabupaten Bondowoso Tahun 2011...38
Gambar 41Presentase Beberapa Desa Rawan Di Kabupaten Bondowoso...40
Gambar 42 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso (2003-2011)...41
Gambar 43 Angka Melek Huruf Di Kabupaten Bondowoso...42
Gambar 44 Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso 2005-2010...44
Gambar 45 Produksi Tape Singkong...45
Gambar 46 Ubi Kayu (Kiri), Tape Singkong (Kanan)...46
Gambar 47 Jumlah Petani Di Kabupaten Bondowoso...47
Gambar 48 Kawah ijen (Kiri), Raung (Kanan)...48
Gambar 49 Pemandangan Arak-Arak (Kiri), dan Situs Sarkofagus (Kanan)...49
Profil dan Karakteristik Daerah
Bab I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Daerah tertinggal adalah daerah Kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya yang relatif kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam lingkup skala nasional. Suatu daerah dikategorikan sebagai daerah tertinggal, karena beberapa faktor penyebab, antara lain geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia, prasarana dan sarana, daerah terisolasi, rawan konflik, dan rawan bencana.
Pembangunan daerah tertinggal merupakan upaya terencana untuk mengubah suatu daerah yang dihuni oleh komunitas dengan berbagai permasalahan sosial ekonomi dan keterbatasan fisik, menjadi daerah yang maju dengan komunitas yang kualitas hidupnya sama atau tidak jauh tertinggal dibandingkan dengan masyarakat Indonesia lainnya. Pembangunan daerah tertinggal ini berbeda dengan penanggulangan kemiskinan dalam hal cakupan pembangunannya. Pembangunan daerah tertinggal tidak hanya meliputi aspek ekonomi, tetapi juga aspek sosial, budaya, dan keamanan.
Kriteria wilayah bisa dikatakan sebagai daerah tertinggal ada 6 (enam), yaitu faktor ekonomi, faktor sumber daya manusia, faktor infrastruktur (prasarana), faktor kapasitas wilayah, faktor aksesibilitas, dan faktor karakteristik daerah. Berdasarkan hal tersebut di atas, diperlukan program pembangunan daerah tertinggal yang lebih difokuskan pada percepatan pembangunan di daerah yang kondisi sosial, budaya, ekonomi, keuangan daerah, aksesibilitas, serta ketersediaan infrastruktur masih tertinggal dibanding dengan daerah lainnya. Kondisi tersebut pada umumnya terdapat pada daerah yang secara geografis terisolir dan terpencil seperti daerah perbatasan antarnegara, daerah pulau-pulau kecil, daerah pedalaman, serta daerah rawan bencana.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014 telah menetapkan daftar 183 kabupaten yang masuk katagori daerah tertinggal di Indonesia. Salah satunya adalah Kabupaten Situbondo. Kabupaten dengan luas mencapai 1.560,10 km2 ini dihadapkan kepada berbagai masalah yang perlu segera ditangani secara serius,
terencana, dan berkelanjutan. Isu kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, tingginya angka pengangguran, rendahnya produktifitas, dan kualitas produksi, merupakan masalah-masalah yang perlu memperoleh perhatian segera. Selain itu masih banyak lagi permasalahan yang harus kita gali dan rinci dari kriteria daerah tertinggal.
Oleh karena itu, pembahasan dari kriteria wilayah daerah tertinggal, permasalahan dan potensi daerah, dan review implementasi dari strategi, kebijakan, dan program prioritas dari Kabupaten Situbondo sangat perlu dilakukan. Penyusunan profil dan karakteristik Kabupaten Situbondo ini diperlukan data-data yang akurat, terperinci, aktual, dan mudah diakses dalam rangka mendukung pelaksanaan pembangunan di daerah tertinggal sehingga memudahkan Kementerian PDT dan Kementerian/Lembaga dalam melakukan afirmasi dan intervensi untuk percepatan pembangunan di daerah tertinggal.
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
1.2
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.1.1 Untuk mengetahui gambaran umum daerah tertinggal.
1.1.2 Untuk mengetahui profil dan karakteristik daerah tertinggal di Indonesia berdasarkan kriteria dan indikatornya.
1.1.3 Untuk mengetahui potensi dan permasalahan daerah tertinggal yang ada di Kabupaten Bondowoso.
1.1.4 Untuk mengetahui review implementasi dari strategi, kebijakan, dan program prioritas daerah.
1.3
Sistematika Penulisan
Pada makalah ini terdapat tiga bab yang berguna untuk mempermudah dalam memahami isi dari makalah ini secara keseluruhan tentang profil dan karakteristik daerah tertinggal di Kabupaten Bondowoso.
Bab I merupakan bab pendahuluan dari makalah ini. Bab ini berisikan latar belakang, tujuan penulisan, serta sistematika penulisan dari tugas prasarana wilayah kota II tentang profil dan karakteristik daerah tertinggal di Kabupaten Bondowoso.
Bab II merupakan bab pembahasan dari makalah ini. Bab ini berisikan pembahasan tentang gambaran umum daerah tertinggal, profil dan karakteristik daerah tertinggal, permasalahan dan potensi daerah tertinggal, review implementasi dari daerah tertinggal, dan kesimpulan khusus terkait penyediaan infrastruktur daerah tertinggal.
Bab III merupakan bab kesimpulan. Bab ini berisikan kesimpulan dan saran profil dan karakteristik daerah tertinggal di Kabupaten Bondowoso.
Profil dan Karakteristik Daerah
Bab II
Pembahasan
2.1 Gambaran Umum Daerah Tertinggal
Kabupaten Bondowoso adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia yang terletak di sebelah timur Pulau Jawa. Kabupaten Bondowoso dikenal dengan sebutan daerah tapal kuda. Ibukotanya adalah Bondowoso. Luas wilayah di Kabupaten Bondowoso memiliki luas wilayah 1.560,10 km2 atau sekitar 3,26 persen dari total luas Propinsi Jawa Timur,
Indonesia yang secara geografis berada pada koordinat antara 113°48′10″ - 113°48′26″ BT dan 7°50′10″ - 7°56′41″ LS. Kabupaten Bondowoso memiliki suhu udara yang cukup sejuk berkisar 15,40 0C – 25,10 0C, karena berada di antara pegunungan Kendeng Utara dengan puncaknya Gunung Raung, Gunung Ijen dan sebagainya di sebelah timur serta kaki pengunungan Hyang dengan puncak Gunung Argopuro, Gunung Krincing dan Gunung Kilap di sebelah barat. Sedangkan di sebelah utara terdapat Gunung Alas Sereh, Gunung Biser dan Gunung Bendusa.
Gambar 1 Peta Kabupaten Bondowoso
Sumber : google.com
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
NO KECAMATAN JUMLAH
KELURAHAN
JUMLAH DESA
JUMLAH
DUSUN LUAS (km2)
1. Maesan - 12 62 64,25
2. Grujugan - 11 36 36,14
3. Tamanan - 8 35 28,04
4. Jambesari DS - 10 33 29,03
5. Pujer - 11 37 35,91
6. Tlogosari - 10 51 91,31
7. Sukosari - 4 15 37,88
8. Sbr. Waringin - 6 33 138,61
9. Tapen - 9 44 48,60
10. Wonosari - 12 55 35,01
11. Tenggarang 1 11 46 23,22
12. Bondowoso 7 4 16 21,42
13. Curahdami 1 11 55 42,98
14. Binakal - 8 29 27,37
15. Pakem - 8 34 72,66
16. Wringin - 13 77 58,01
17. Tegalampel 1 7 36 33,58
18. Taman Krocok - 7 28 53,62
19. Klabang - 11 47 102,81
20. Botolinggo - 8 44 110,70
21. Sempol - 6 30 217,20
22. Prajekan - 7 37 76,39
23. Cermee - 15 56 173,36
Jumlah 10 209 913 1.560,10
Tabel 1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Bondowoso
Sumber : Bagian Pemerintah dan Aparatur Setda Kabupaten Bondowoso, 2008
2.2 Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal
2.2.1. Indikator Ekonomi
Kriteria perekonomian masyarakat memiliki beberapa indikator primer diantaranya adalah sebagai berikut.
2.2.1.1. Jumlah Penduduk (Pertengahan Tahun)
Profil dan Karakteristik Daerah
Dilihat dari tabel dengan data yang diambil dari website Kementerian Daerah Tertinggal, jumlah penduduk pertengahan tahun di Kabupaten Bondowoso dari tahun 2003 hingga 2011 selalu mengalami kenaikan. Rata-rata kenaikan jumlah penduduk setiap tahun dalam rentang 9 tahun tersebut adalah 0,7 %. Kenaikan jumlah penduduk terendah terjadi pada tahun 2010-2011 sebesar 0,1 %. Sedangkan kenaikan jumlah penduduk tertinggi terjadi pada tahun 2009-2010 sebesar 3,9 %.
Tabel 2 Jumlah Penduduk (Pertengahan Tahun)
NO TAHUN JUMLAH PENDUDUK (PERTENGAHAN TAHUN)
Satuan : orang
Sumber : Publikasi, DAU, BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
670,000
Gambar 1 Jumlah Penduduk (Pertengahan Tahun)
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten 2.2.1.2. Jumlah Keluarga
Meskipun jumlah penduduk pada rentang waktu 2003-2011 di Kabupaten Bondowoso selalu mengalami kenaikan, namun lain halnya dengan jumlah keluarga. Namun, berdasarkan data yang diambil dari website Kementerian Pembangunan Kabupaten Tertinggal, pada tahun 2009 dan 2010 jumlah keluarga tidak ada angka yang ditampilkan. Dari data yang ada (2003-2008) kenaikan jumlah keluarga tertinggi sebesar 29.334 KK atau sebesar 12,9 % pada tahun 2007-2008. Sedangkan penurunan jumlah keluarga terendah terjadi pada tahun 2005-2006 sebesar 8.556 KK atau 3,6 %.
Tabel 3 Jumlah Keluarga
NO TAHUN JUMLAH KELUARGASatuan : KK
1 2003 226.057
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2.2.1.3. Jumlah Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera I
Berdasarkan sumber yang masih sama dalam rentang tahun 2003-2011, jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera I yang tertulis angka hanya pada tahun 2003 dan 2005, yaitu pada tahun 2003 ada sejumlah 139.996 KK atau 0.2 % keluarga prasejahtera dan sejahtera I. Untuk tahun 2005 tertuliskan angka 0 pada jumlah dan persentasenya. Data seperti ini diduga jika tidak ada keluarga prasejahtera dan sejahtera I. Sedangkan pada tahun-tahun yang lain tidak tertulis angka.
Tabel 4 Jumlah Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera I
NO TAHUN
KELUARGA PRASEJAHTERA DAN SEJAHTERA I
Profil dan Karakteristik Daerah
Sumber : Podes, Dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2.2.1.4. Jumlah Penduduk Miskin
Tabel 5 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso
NO. TAHUN JUMLAH PENDUDUK
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 0
Gambar 2 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten 2.2.1.5. Product Domestic Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto merupakan produksi yang dihasilkan oleh suatu masyarakat dalam kurun waktu 1 tahun yang berada di daerah atau regional tertentu. Produk Domestik Regional Bruto sebagai salah satu indikator ekonomi memuat berbagai instrumen ekonomi yang didalamnya terlihat dengan jelas keadaan makro ekonomi suatu daerah dengan pertumbuhan ekonominya, pendapatan per kapita dan berbagai instrumen lainnya. Dimana dengan adanya data-data tersebut akan sangat membantu pengambil kebijakan dalam perencanaan dan evaluasi sehingga pembangunan tidak akan salah arah. Angka Produk Domestik Regional Bruto sangat dibutuhkan dan perlu disajikan, karena selain dapat dipakai sebagai bahan analisa perencanaan pembangunan juga merupakan barometer untuk mengukur hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan.
Product Domestic Regional Bruto Kabupaten Bondowoso dalam rentang waktu 2003-2011 selalu mengalami kenaikan. Angka-angka yang terdapat dalam tabel ini artinya setiap tahun Kabupaten Bondowoso menghasilkan PDRB sebesar angka-angka tersebut.
Tabel 6 Product Domestic Regional Bruto (PDRB)
NO TAHUN PRODUCT DOMESTIC REGIONAL BRUTO (PDRB)
Satuan : Miliar Rupiah
1 2003 1.604,26
2 2004 1.685,00
3 2005 1.773,00
4 2006 1.872,00
5 2007 2.694,00
6 2008 2.837,00
7 2009 2.979,00
8 2010 3.147,00
9 2011 3.342,00
Profil dan Karakteristik Daerah
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 0.00
Project Domestic Regional Bruto (PDRB)
P
Gambar 3 Product Domestic Regional Bruto
Sumber : BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2.2.1.6. Persentase Penduduk Miskin
Persentase pendududuk miskin pada rentang tahun 2003-2011 menurun, kecuali pada tahun 2006 yang naik dari 24,31 % di tahun 2005 menjadi 26,23 % di tahun 2006. Hal ini berarti bahwa jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bondowoso menurun setiap tahunnya.
Tabel 7 Persentase Penduduk Miskin
NO TAHUN PRODUCT DOMESTIC REGIONAL BRUTO (PDRB)Satuan : Miliar Rupiah
1 2003 25,43
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 0
5 10 15 20 25 30
Persentase Penduduk Miskin
Kabupaten Bondowoso (2003-2011)
P
e
rs
e
n
ta
se
(
%
)
Gambar 4 Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso
Sumber : Susenas, BPS (kpdt.bps.go.id)
2.2.1.7. Persentase Kedalaman Penduduk Miskin
Tabel 8 Persentase Kedalaman Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso
NO TAHUN PERSENTASE KEDALAMAN PENDUDUK MISKIN (%)
1 2003 4,78
2 2004 4,3
3 2005 3,87
4 2006 5,21
5 2007 3,97
6 2008 4,44
7 2009 2.76
8 2010 2,47
Profil dan Karakteristik Daerah
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 0
1 2 3 4 5 6
Persentase Kedalaman Penduduk Miskin
Kabupaten Bondowoso (2003-2010)
P
e
rs
e
n
ta
se
(
%
)
Gambar 5 Persentase Kedalaman Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso
Sumber : Susenas, BPS (kpdt.bps.go.id)
Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan. Penurunan persentase kedalaman penduduk miskin berarti semakin meningkatnya taraf hidup penduduk. Seperti yang terlihat pada diagram persentase kedalaman penduduk miskin Kabupaten Bondowoso (2003-2010) masih naik turun yang menandakan bahwa kurang stabilnya perekonomian penduduk miskin di Kabupaten Bondowoso.
2.2.1.8. Indeks Kedalaman Kemiskinan (IKK)
Indeks Kedalaman Kemiskinan (Proverty Gap Index/P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.
Penurunan nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Berdasarkan diagram yang diambil dari website Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dengan sumber dari BPS, garis pada diagram tersebut menunjukkan indeks kedalaman kemiskinan beranjak naik kecuali pada tahun 2010 mengalami penurunan.
Tabel 9 Indeks Kedalaman Kemiskinan (IKK) Kabipaten Bondowoso
NO TAHUN INDEKS KEDALAMAN KEMISKINAN
1 2003 84,5
2 2004 86,18
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
4 2006 131,36
5 2007 148,85
6 2008 174,75
7 2009 191,56
8 2010 83,35
9 2011 88,37
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
20030 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 50
100 150 200 250
Indeks Kedalaman Kemiskinan (IKK)
Kabupaten Bondowoso (2003-2011)
In
d
e
ks
Gambar 6 Indeks Kedalaman Kemiskinan (IKK) Kabupaten Bondowoso
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2.2.2. Indikator Sumber Daya Manusia
2.2.2.1. Jumlah Penduduk, Persentase Angkatan Kerja, dan Persentase Pengangguran Kabupaten Daerah Tertinggal
Untuk mengetahui pembangunan daerah tertinggal yang perlu diketahui adalah jumlah penduduk, persentase angkatan kerja, dan persentase angka pengangguran. Di dalam pembangunan daerah tertinggal jumlah angkatan kerja diperlukan untuk mengetahui sumber daya manusia yang ada di wilayah Bondowoso dalam pembangunan wilayah tertinggal.
Profil dan Karakteristik Daerah Tabel 10 Jumlah Angkatan Kerja, Persentase Angkatan Kerja, dan Pengangguran ASPEK
PEMBANGUNAN DAERAH
TERTINGGAL
KABUPATEN BONDOWOSO
2007 2008 2009 2010 2011
Jumlah Angkatan
Kerja 391.158 369.369 390.140 405.185 380.476
Jumlah Bukan
Angkatan Kerja 14.291 11.141 11.568 6.450 15.247
Jumlah Penduduk 405.449 380.510 401.708 411.635 395.723 Persentase
Angkatan kerja 96,47% 97,07% 97,12% 98,43% 96,14%
Persentase Angka
Pengangguran 3,52% 2,92% 2,87% 1,56% 3,85%
Sumber data : BPS dan Sakernas
2007 2008 2009 2010 2011
0
Jumlah Angkatan Kerja, Bukan Angkatan Kerja, dan Penduduk
Ju
Gambar 7 Jumlah Angkatan Kerja, Bukan Angkatan Kerja, dan Penduduk
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
2007 2008 2009 2010 2011
93 94 95 96 97 98 99 100 101 102
Persentase Angkatan Kerja dan Persentase Angka
Pengangguran
%
Gambar 8 Persentase Angkatan Kerja dan Angka Pengangguran
Sumber : BPS, dan Sakernas (www.kpdt.bps.go.id)
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Bondowoso semakin tahun semakin meningkat tetapi pada tahun 2011 mengalami penurunan. Jumlah persentase angkatan kerja per tahun mengalami peningkatan dan penurunan. Peningkatan terjadi pada tahun 2007-2010, sedangkan penurunan terjadi pada tahun 2011. Lalu jumlah persentase angka pengangguran di Kabupaten Bondowoso pada setiap tahun juga mengalami penurunan di tahun 2007-2010 tetapi pada tahun 2011 meningkat menjadi 3,85%.
2.2.2.2. Angka Melek Huruf, Angka Partisipasi Sekolah, dan IPM Menurut Kabupaten Daerah Tertinggal
Sumber daya manusia yang ada di Kabupaten Bondowoso ditentukan dengan jumlah sumber daya manusia yang melek huruf, jumlah angka partisipasi sekolah, dan indeks pembangunan manusia. Semakin banyak sumber daya manusia di Kabupaten Bondowoso yang mengerti angka melek huruf, dan partisipasi sekolan akan menyebabkan tingkat sumber daya manusia di Kabupaten Bondowoso menjadi daerah yang tidak tertinggal nantinya.
Tabel 11 Jumlah Angka Melek Huruf, Jumlah Angka Partisipasi Sekolah, dan IPM ASPEK
PEMBANGUNAN DAERAH
TERTINGGAL
KABUPATEN BONDOWOSO
2007 2008 2009 2010 2011
Angka Melek Huruf 74,30% 74,30% 75,31% 76,72% 78,25% Angka Melek Huruf
15-24 98,80% 98,80%
Angka Melek Huruf
Profil dan Karakteristik Daerah Angka
Partisipas i Sekolah
7-12 98,57% 98,43% 97,29% 97,24%
13-15 89,88% 74,38% 80,01% 80,53%
Indeks Pembangunan
Manusia 60,76% 61,26% 62,11% 62,94% 63,81%
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
2007 2008 2009 2010 2011
72 73 74 75 76 77 78 79
Angka Melek Huruf
%
Gambar 9 Persentase Angka Melek Huruf
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2007 2008
75 80 85 90 95 100
Persentase Angka Melek Huruf Usia 15-24 dan 15-55
%
Gambar 10 Persentase Angka Melek Huruf 15-24 dan 15-55
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
2007 2008 2009 2010
0 20 40 60 80 100 120
Persentase Angka Partisipasi Sekolah
%
Gambar 11 Persentase Angka partisipasi Sekolah
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2007 2008 2009 2010 2011
59 60 61 62 63 64 65
Indeks Pembangunan Manusia
%
Gambar 12 Indeks Pembangunana Manusia
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
Profil dan Karakteristik Daerah
penurunan sebesar 0,05%. Jumlah persentase angka partisipasi 13-15 tahun di Kabupaten Bondowoso terjadi peningkatan dan penurunan di tahun 2007-2010. Pada tahun 2007-2008 terjadi penurunan sebesar 15,53%, di tahun 2008-2009 teradi peningkatan sebesar 5,63%, dan di tahun 2009-2010 terjadi peningkatan 0,52%. Indeks pembangunan manusia di Kabupaten Bondowoso meningkat setiap tahunnya di tahun 2007-2011.
2.2.2.3. Jumlah Desa, Puskesmas, dan Poliklinik Desa Menurut Kabupaten Daerah Tertinggal
Jumlah desa, jumlah puskesmas, dan jumlah poliklinik desa di Kabupaten Bondowoso mempengaruhi tingkat masyarakat yang sadar akan kesehatan di daerah tertinggal. Semakin banyak penduduk di Kabupaten Bondowoso yang mengerti akan kesehatan maka taraf hidup penduduk yang ada di Kabupaten Bondowoso akan meningkat begitu pula sebaliknya.
Tabel 12 Jumlah Desa, Jumlah Puskesmas, dan Poliklinik Desa ASPEK PEMBANGUNAN DAERAH
TERTINGGAL
KABUPATEN BONDOWOSO
2008 2011
Jumlah Desa 219 219
Jumlah Puskesmas 25 26
Jumlah Puskesmas Pembantu 56 62
Jumlah Poliklinik Desa 1 4
Sumber : Podes, BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2008 2011
0 50 100 150 200 250
Jumlah Desa
Ju
m
la
h
Gambar 13 Jumlah Desa Di Kabupaten Bondowoso
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
2008 2011
0 10 20 30 40 50 60 70
Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Poliklinik Desa
Ju
m
la
h
Gambar 14 Jumlah Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan Poliklinik Desa
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
Dari tabel diatas, jumlah desa yang ada di Kabupaten Bondowoso sebanyak 219 desa dan tidak mengalami perubahan di tahun 2011. Jumlah puskesmas yang ada di Kabupaten Bondowoso awalnya sebanyak 25 buah puskesmas dan mengalami perubahan di tahun 2011 sebesar 26 buah. Jumlah puskesmas pembantu di Kabupaten Bondowoso awalnya berjumlah 56 buah di tahun 2008, dan pada tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah puskesmas pembantu menjadi 62 buah. Jumlah poliklinik desa yang ada di Kabupaten Situbondo semula 1 buah puskesmas di tahun 2008 menjadi 4 buah di tahun 2011.
2.2.2.4. Jumlah Desa, Persentase Desa yang Memiliki Fasilitas Kesehatan > 5 km dan Fasilitas Pendidikan > 3 km Menurut Kabupaten Daerah Tertinggal
Jumlah desa, persentase desa yang memiliki fasilitas kesehatan > 5 km, dan persentase desa yang memiliki fasilitas pendidikan > 3 km sedikit di Kabupaten Bondowoso. Suatu wilayah harus bisa memenuhi kebutuhan fasilitas yang tersedia di dalamnya. Jika di suatu wilayah tidak menunjang fasilitas tersebut maka akan terjadi penurunan kualitas hidup penduduk disana.
Tabel 13 Persentase Desa yang Memiliki Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan ASPEK PEMBANGUNAN
DAERAH TERTINGGAL
KABUPATEN BONDOWOSO
2008 2010 2011
Jumlah Desa 219 219
Persentase Desa yang Memiliki Fasilitas Kesehatan > 5 km
Profil dan Karakteristik Daerah Persentase Desa yang
Memiliki Fasilitas Pendidikan > 3 km
22 77
Sumber : Podes, BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2008 2011
0 50 100 150 200 250
Jumlah Desa
Ju
m
la
h
Gambar 15 Jumlah Desa Di Kabupaten Bondowoso
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2008 2011
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Persentase Desa yang Memiliki Fasilitas Kesehatan > 5 km
Ju
m
la
h
Gambar 16 Persentase Desa yang Memiliki Fasilitas Kesehatan > 5 km
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
Dari tabel diatas, jumlah desa yang ada di Kabupaten Bondowoso sebanyak 136 desa dan tidak mengalami perubahan di tahun 2011. Persentase desa yang memiliki fasilitas kesehatan > 5 km di Kabupaten Bondowoso sebanyak 30 buah di tahun 2008. Jumlah persentase desa yang memiliki fasilitas pendidikan > 3 km di Kabupaten Bondowoso sebanyak 22 buah di tahun 2008, dan meningkat di tahun 2010 sebanyak 77 buah.
2.2.2.5. Rata-rata Jarak Desa Tanpa Fasilitas Pendidikan ke Fasilitas Pendidikan Terdekat Menurut Kabupaten Daerah Tertinggal
Suatu wilayah harus bisa menjangkau wilayah disekitarnya. Jika di wilayah tersebut arak yang ditempuh suatu fasilitas dengan aksesibilitas wilayah tersebut susah dijangkau maka yang akan terjadi adalah ketidakmerataan fasilitas yang ada di wilayah tersebut yang bisa menjangkau hanya penduduk yang dekat dengan fasilitas tersebut.
Tabel 14 Rata-rata Jarak Desa Tanpa Fasilitas Pendidikan Terdekat ASPEK PEMBANGUNAN DAERAH
TERTINGGAL
KABUPATEN BONDOWOSO
2008 2011
Rata-rata Jarak Pelayanan Kesehatan 6,61 38,41
Rata-rata Jarak bagi Desa/Kelurahan
tanpa SD dan SMP 2,38 3,28
Rata-rata Jarak bagi Desa/Kelurahan
tanpa SD, SMP, dan SMA 3,74 5,97
Sumber : Podes, BPS (www.kpdt.bps.go.id)
2008 2011
Rata-rata Jarak Pelayanan Kesehatan
D
Profil dan Karakteristik Daerah
Rata-rata Jarak bagi Desa/Kelurahan tanpa Fasilitas
Pendidikan
Gambar 18 Rata-rata Jarak bagi Desa/Kelurahan tanpa SD dan SMP dan Rata-rata Jarak bagi Desa/Kelurahan tanpa SD, SMP, dan SMA
Sumber : Podes, BPS (www.kpdt.bps.go.id)
Dari tabel diatas, rata-rata jarak pelayanan kesehatan adalah 6,61 km di tahun 2008 dan meningkat menjadi 38,41 km di tahun 2011. Rata-rata jarak desa/kelurahan tanpa SD dan SMP pada tahun 2008 adalah 2,38 km dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 3,28 km. Rata-rata jarak bagi desa/kelurahan tanpa SD, SMP, dan SMA di tahun 2008 sebesar 3,74 km dan meningkat menjadi 5,97 km di tahun 2011.
2.2.3. Indikator Infrastruktur
2.2.3.1. Jumlah Desa dan Jenis Permukaan Jalan Utama
Tabel 15 Data Jumlah Desa Menurut Daerah Tertinggal Dan Jenis Permukaan Jalan
INDIKATOR SUMBER
BPS Desa 139 148 148 199
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten dengan Jenis
Permukaan Jalan Tanah
BPS
Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Lainnya
Podes,
BPS Desa 2 0
Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan yang dapat Dilalui Mobil
Podes,
BPS Desa 197 205 217
Banyaknya Desa 197 205 217 219
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
20030 2005 2008 2011
50 100 150 200 250
Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Aspal/Beton
D
e
sa
Gambar 19 Jumlah Desa dengan Permukaan Jalan Aspal/Beton
Profil dan Karakteristik Daerah
20030 2005 2008 2011
5 10 15 20 25 30 35 40
Jalan Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Diperkeras
D
e
sa
Gambar 20 Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Diperkeras
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
20030 2005 2008 2011
5 10 15 20 25 30 35 40
Jalan Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Tanah
D
e
sa
Gambar 21 Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Tanah
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
20050 2011
0.5 1 1.5 2 2.5
Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Lainnya
D
e
sa
Gambar 22 Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan Lainnya
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
2003 2005 Category 3
185 190 195 200 205 210 215 220
Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan yang dapat
Di-lalui Mobil
D
e
sa
Gambar 23 Jumlah Desa dengan Jenis Permukaan Jalan yang dapat Dilalui Mobil
Profil dan Karakteristik Daerah
2003 2005 2008 2011
185 190 195 200 205 210 215 220 225
Banyaknya Desa
D
e
sa
Gambar 24 Banyaknya Desa
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah desa dengan jenis permukaan jalan aspal/beton yakni 60 desa pada tahun 2003 hingga 2011. Peningkatan juga terjadi pada jenis permukaan yang dapat dilalui mobil yakni 20 desa dalam kurun waktu tahun 2003 – 2008. Sedangkan pada jenis permukaan jalan diperkeras, jalan tanah dan lainnya mengalami peningkatan pada tahun 2005-2008 tetapi juga mengalami penurunan pada tahun 2003-2005 dan 2008-2011.
Dapat disimpulkan bahwa terjadi kecenderungan perbaikan infrastruktur jalan dengan jenis aspal/beton. Hal ini dilihat dari penurunan jenis jalan diperkeras, tanah dan jalan lainnya menjadi peningkatan perbaikan jalan jenis aspal/beton dalam kurun waktu 2003 -2011.
2.2.3.2. Persentase Pengguna Listrik dan Telepon
Tabel 16 Persentase Rumah Tangga Pengguna Listrik dan Telepon
TAHUN PRESENTASE RUMAH TANGGA PENGGUNA
LISTRIK TELEPON
2003 47,19 3,17
2005 45,17 5,04
2008 92,49 4,33
2009 96,65 6,29
2010 96,51 2,87
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
2003 2005 2008 2009 2010
0
Persentase Rumah Tangga Pengguna Listrik dan Telepon
%
Gambar 25 Persentase Rumah Tangga Pengguna Listrik dan Telepon
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa presentase rumah tangga pengguna listrik mengalami peningkatan terus-menerus dalam kurun waktu tahun 2003-2010 bahkan mendekati 100% dari jumlah rumah tangga di Kabupaten Bondowoso. Peningktan pengguna listrik bertolak belakang dengan presentase rumah tangga pengguna telepon yang hanya mengalami puncak peningkatan pada tahun 2009 dan mengalami penurunan drastis pada tahun 2010. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan listrik lebih utama dibandingkan kebutuhan telepon. Selain itu, kebutuhan telepon rumah menurun pada tahun 2010 disebabkan oleh kemajuan telekomunikasi dengan menggunakan telepon genggam.
2.2.3.3 Jumlah Desa dan Jenis Pasar
Tabel 17 Jumlah Desa Menurut Daerah Tertinggal Dan Jenis Pasar
TAHU
2003 197 14 28 7,11 14,21
2005 205 18 27 8,78 13,17
2008 219 14 28 6,39 12,79
2011 219 192 97 87,67 44,07
Profil dan Karakteristik Daerah
2003 2005 2008 2011
185 190 195 200 205 210 215 220 225
Banyaknya Desa
D
e
sa
Gambar 26 Banyaknya Desa Di Kabupaten Bondowoso
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
2003 2005 2008 2011
0 50 100 150 200 250
Jumlah Desa dengan Jenis Pasar
D
e
sa
Gambar 27 Jumlah Desa dengan Jenis Pasar Tanpa Bangunan Permanen dan Dengan Bangunan Permanen
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
2003 2005 2008 2011
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Persentase Desa Tanpa Bangunan Permanen dan Bangunan
Permanen
%
Gambar 28 Persentase Desa Tanpa Bangunan Permanen dan Dengan Bangunan Permanen
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah jenis pasar bangunan permanen maupun tanpa bangunan permanen dalam kurun waktu tahun 2003-2011. Hal ini bisa disimpulkan bahwa sebagian besar desa yang ada di Kabupaten Bondowoso, dengan persentase yang mencapai 87,67% dari total keseluruhan desa yang ada di Kabupaten Bondowoso merupakan desa yang belum memiliki bangunan permanen pada tahun 2011.
2.2.3.4. Jumlah Desa dan Jarak Fasilitas Pasar
Tabel 18 Jumlah Desa Menurut Daerah Tertinggal Dan Jarak Pasar
TAHUN BANYAKNYADESA JARAK FASILITAS PASAR LEBIH DARI 3 KM
Jumlah Persentase
2003 197 1 0,51
2005 205 129 62,93
2008 219 101 46,12
Profil dan Karakteristik Daerah
Gambar 29 Banyaknya Desa Di Kabupaten Bondowoso
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
20030 2005 2008
Jumlah Desa dengan Jarak Fasiilitas Pasar Lebih dari 3 km
Sa
Gambar 30 Jumlah Fasilitas Pasar Lebih dari 3 km Di Kabupaten Bondowoso
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
20030 2005 2008
10 20 30 40 50 60 70
Persentase Jarak Desa dengan Jarak Fasilitas Pasar Lebih
dari 3 km
%
Gambar 31 Persentase Jarak Fasilitas Pasar Lebih dari 3 km Di Kabupaten Bondowoso
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
Berdasarkan tabel sebelumnya dan tabel di atas, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah jenis pasar di Kabupaten Bondowoso. Peningkatan jumlah jenis pasar tersebut berbanding lurus dengan peningkatan jumlah desa dengan jarak fasilitas pasar lebih dari 3 km yang berjumlah 128 pada tahun 2005. Tetapi pada tahun 2005-2008, terjadi penurunan sebanyak 28 desa. Hal ini dapat disimpulkan bahwa persentase jarak desa dengan jarak fasilitas pasar lebih dari 3 km masih cukup besar yang mencapai 46,12%. Jarak yang jauh ini dapat menyebabkan berkurangnya efisiensi kegiatan perdagangan jasa di Kabupaten Bondowoso.
2.2.3.5. Jumlah Penduduk, Dokter, dan Dokter/1000 Penduduk
Tabel 19 Jumlah penduduk, dokter dan dokter/1000 di Kabupaten Bondowoso TAHUN
JUMLAH PENDUDUK
(orang)
JUMLAH DOKTER UMUM (orang)
JUMLAH DOKTER/1000 PENDUDUK
2003 696.747 59 0,059
2005 701.105 86 0,086
2008 707.242 98 0,098
2011 737.789 120 0,12
Profil dan Karakteristik Daerah
2003 2005 2008 2011
670,000 680,000 690,000 700,000 710,000 720,000 730,000 740,000 750,000
Jumlah Penduduk
O
ra
n
g
Gambar 32 Jumlah Penduduk Kabupaten Bondowoso
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
2003 2005 2008 2011
0 20 40 60 80 100 120 140
Jumlah Dokter Umum
O
ra
n
g
Gambar 33 Jumlah Dokter Umum
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
20030 2005 2008 2011
0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12 0.14
Jumlah Dokter/1000 Penduduk
%
Gambar 34 Jumlah Dokter/1000 Penduduk
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id )
Berdasarkan tabel di atas, bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Bondowoso semakin meningkat setiap tahunnya. Hal tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah tenaga medis atau dokter di Kabupaten ini. Namun kenaikan jumlah dokter tersebut dinilai masih kurang sebab perbandingan jumlah penduduk dengan jumlah dokter sangat timpang. Dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai pelayanan kesehatan yang ideal, Kabupaten Bondowoso masih memerlukan tambahan yang cukup besar baik berupa tenaga kesehatan maupun fasilitas kesehatan.
2.2.4. Indikator Kapasitas Daerah
2.2.4.1. Besarnya PAD Berdasarkan Kabupaten dan Tahun
Pendapatan asli daerah merupakan sumber keuangan daerah yang digali dari wilayah daerah yang bersangkutan berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari Pajak Daerah, antara lain : hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan dan PAD lain yang sah (meliputi hasil penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan, antara lain : jasa giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah).
Tabel 20 Besarnya PAD Kabupaten Bondowoso
KABUPATEN TAHUN SATUAN SUMBER DATA
2005 2006 2007
Bondowoso 20.779 23.570 29.645 Juta Rp Pemda
Profil dan Karakteristik Daerah
20050 2006 2007
5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000
Besarnya PAD Kabupaten Bondowoso dan Tahun
2005-2007
Ju
ta
R
u
p
ia
h
Gambar 35 Besarnya PAD Kabupaten Bondowoso
Sumber : Pemda (www.kpdt.bps.go.id)
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa setiap tahunnya PAD kabupaten Bondowoso selalu mengalami peningkatan. Semakin besar PAD suatu daerah mencerminkan besarnya kemandirian daerah tersebut. Dengan demikian semakin kecil ketergantungan daerah terhadap daerah pusat. Hal ini berarti semakin bear kontribusi PAD dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
2.2.4.2 Besarnya Celah Fiskal Berdasarkan Kabupaten dan Tahun
Kapasitas fiskal daerah merupakan kemampuan pemerintah daerah untuk menghimpun pendapatan berdasarkan potensi yang dimilikinya. Sedangkan, Celah fiskal merupakan kebutuhan daerah yang dikurangi dengan kapasitas fiskal daerah, kebutuhan daerah dihitung berdasarkan variabel-variabel yang ditetapkan undang-undang sedangkan perhitungan kapasitas fiskal didasarkan atas Penerimaan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil yang diterima daerah.
Tabel 21 Besarnya Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso
Kapubaten Tahun Satuan
Sumber Data
2005 2006 2007 2008 2009 2010
Bondowoso 148.028 232.703 682.155 187.055 208.838 154.520 Juta Rp Depkeu
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
20050 2006 2007 2008 2009 2010
100,000
Besarnya Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso dan Tahun
2005-2010
Gambar 36 Besarnya Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso
Sumber : Depkeu(www.kpdt.bps.go.id)
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa celah fiskal kabupaten Bondowoso mengalami kenaikan di setiap tahunnya. Dengan meningkatnya celah fiskal tersebut, dapat dijadikan penyebab daerah miskin dan semakin kecil potensi keuangan daerah yang diperoleh. Hal ini terjadi disebabkan oleh meningktanya celah fiskal menyebabkan kebutuhan daerah meningkat dan kemampuan keuangan rendah.
2.2.5. Indikator Aksesibilitas
2.2.5.1 Rata-rata Jarak dan Waktu Tempuh dari Kantor Desa/Kelurahan ke Kantor Kabupaten yang Membawahi
Tabel 22 Data Akseseibilitas Kabupaten Bondowoso
KABUPATEN
Bondowoso 1,65 16,23 46,63 38,41 16,71
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
Profil dan Karakteristik Daerah
Pada data aksesibilitas Kabupaten Bondowoso terdapat data yang kurang dan bisa jadi salah. Contohnya pada data rata-rata jarak pada tahun 2003. Di data tersebut tertulis 1,65 pada kolom tabel rata-rata jarak (km). Hal ini dirasa kurang valid ataupun ada miss dalam pengisian rata-rata jarak pada tahun 2003 karena pada tahun berikutnya rata-rata jarak memiliki angka dua digit. Hal ini bisa dianggap sebagai kesalahan pengetikan.
Tahun 2003 Tahun 2005 Tahun 2008 Tahun 2011 0
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Rata-Rata Jarak (Km)
Sa
tu
an
K
m
Gambar 37 Analisis Rata-Rata Jarak dari Kantor Desa/Kelurahan ke kantor Kabupaten
Sumber : Podes, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
Tahun 2003 Tahun 2005 Tahun 2008 Tahun 2011 0
Gambar 38 Analisis Waktu Tempuh ke Pusat Pelayanan Pemerintah
Sumber : Podes, dan BPS ((www.kpdt.bps.go.id)
Pada tabel waktu tempuh ini juga sulit untuk menentukan apakah aksesibilitas pada Kabupaten Bondowoso ini mengalami peningkatan atau tidak. Jika melihat dari perbandingan waktu tempuh pada tahun 2005 sampai tahun 2008 terdapat penurunan dalam waktu tempuh ke pusat pelayanan pemerintah. Hal ini menunjukkan aksesibilitas bagi warga Kabupaten Bondowoso menuju pusat pelayanan pemerintah menjadi lebih mudah. Jika dikaitkan dengan aspek transportasi, Kabupaten Bondowoso mengalami peningkatan pada pelayanan dan kemudahan akses menuju pemerintahan. Kualitas jalan yang semakin baik dapat mengurangi waktu tempuh bagi masyarakat untuk mencapai tujuan.
2.2.6. Indikator Karakteristik Daerah
Kabupaten Bondowoso berada pada ketinggian antara 78-2.300 meter di atas permukaan air laut. Hamparan tersebut dikelilingi oleh gugusan Pegunungan Kendeng Utara dengan puncak Gunung Raung, Gunung Ijen dan Gunung Widodaren disebelah Timur, Pegunungan Hyang dengan puncak Gunung Argopuro, Gunung Kilap dan Gunung Krincing di sebelah Barat, sedangkan di sebelah Utara terdapat Gunung Alas Sereh, Gunung Biser dan Gunung Bendusa.
Gambar 39 Keadaan Topografi Kabupaten Bondowoso
NO KELAS LERENG
LUAS
Ha. %
Profil dan Karakteristik Daerah
2. Landai (3-15%) 56.816,90 36,42
3. Agak Curam (16-40%) 30.470,30 19,53
4. Sangat Curam (>40%) 49.639,80 31,82
Jumlah 156.010,00 100,00
Sumber : RTRW Kabupaten Bondowoso 2007-2026
Kondisi dataran di Kabupaten Bondowoso terdiri atas pegunungan dan perbukitan seluas 44,4 %, 24,9 % berupa dataran tinggi dan dataran rendah 30,7 % dari luas wilayah keseluruhan. Kabupaten Bondowoso berada pada ketinggian antara 78-2.300 meter dpl, dengan rincian 3,27% berada pada ketinggian di bawah 100 m dpl, 49,11% berada pada ketinggian antara 100 – 500 m dpl, 19,75% pada ketinggian antara 500 – 1.000 m dpl dan 27,87% berada pada ketinggian di atas 1.000 m dpl. Menurut klasifikasi topografis wilayah, kelerengan Kabupaten Bondowoso bervariasi. Datar dengan kemiringan 0-2 % seluas 190,83 km2, landai (3-15%) seluas 568,17 km2, agak curam (16-40%) seluas 304,70 km2 dan sangat curam di atas 40% seluas 496,40 km2. Berdasarkan tinjauan geologis di Kabupaten Bondowoso terdapat 5 jenis batuan, yaitu hasil gunung api kwarter 21,6%, hasil gunung api kwarter muda 62,8%, batuan lensit 5,6%, alluvium 8,5% dan miasem jasies sedimen 1,5%. Untuk jenis tanahnya 96,9% bertekstur sedang yang meliputi lempung, lempung berdebu dan lempung liat berpasir; dan 3,1% bertekstur kasar yang meliputi pasir dan pasir berlempung. Berdasarkan tinjauan geologi, topografi, jenis tanah dan pola pemanfaatan lahan, wilayah Kabupaten Bondowoso memiliki karakteristik sebagai kawasan rawan terhadap terjadinya bencana alam, khususnya banjir dan longsor.
2.2.6.1. Kawasan Rawan Bencana
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
hutan 44,18%, perkebunan 28,71%, tegal 20,77%, sawah 3,12% dan permukiman 3,22%. Kawasan rawan bencana Iongsor terdapat di Kecamatan Wringin, Binakal, Pakem, Sempol, Sumber Wringin, Tlogosari, Tegalampel, Klabang, Taman Krocok dan Cermee. Sedangkan kawasan rawan banjir terdapat di sepanjang alur Sungai Sampean yaitu Kecamatan Maesan, Grujugan, Bondowoso, Tenggarang, Wonosari, Tapen, Klabang dan Prajekan.
Disisi lain, kawasan sempadan Sungai yang berada di sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi yang mempunyai fungsi penting untuk mempertahankan kelestarian bentuk dan fungsi sungai, memerlukan penanganan khusus untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, bentuk fisik pinggiran sungai dan dasar/kedalaman sungai.
Selain kawasan bencana tersebut diatas, di Kabupaten Bondowoso terdapat lahan kritis yang dapat menjadi penyebab terjadinya bencana alam, luas lahan kritis tersebut sebagai berikut :
Pada tahun 2007 seluas 32.357,64 ha yang terdiri dari lahan kritis 22.026,64 ha dan potensial kritis seluas 10.335 ha.
Pada tahun 2008 seluas 28.447 ha yang terdiri dari lahan kritis seluas 20.026 ha dan potensial kritis seluas 8.421 ha.
Lahan kritis tersebut, tersebar di hampir seluruh kecamatan kecuali 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Tenggarang, Bondowoso dan Sempol.
Gambar 40 Persentase Desa Berdasarkan Karakteristik Daerah di Kabupaten Bondowoso Tahun 2011
KABUPATEN
KARATERISTIK DAERAH
TOTAL Banjir Tanah Longsor Gempa Bumi
Bondowoso 7,76 5,02 0,00 219
Sumber : Podes dan BPS (kpdt.bps.go.id)
2.2.6.2. Rawan Banjir
Profil dan Karakteristik Daerah
kurang berjalan efektif. Sehingga masyarakat kurang peduli terhadap kelestarian hutan dan memanfaatkan hutan sebagai lahan mata pencaharian. Kerusakan lahan yang terjadi di Kabupaten Bondowoso (lahan kritis yang ada) mencapai luas 40.758 Ha, dengan rincian sangat kritis seluas 4.175 Ha, kritis seluas 10.420 Ha, agak kritis seluas 11.417 Ha, dan potensial kritis seluas 9.746 Ha yang pada umumnya adalah lahan masyarakat. Sedangkan lahan perhutani yang kritis mencapai 5.000 Ha. Adanya lahan kritis tersebut cenderung meningkatkan erosi, yang berakibat pada meningkatnya sedimentasi sungai, menurunkan daya tampung sungai, melampaui kapasitas sarana prasarana irigasi yang ada, sehinga timbul kawasan-kawasan rawan luapan air atau kawasan rawan banjir. Daerah rawan banjir mencakup 33,33% wilayah Kabupaten Bondowoso, khususnya kawasan-kawasan yang berada di sepanjang aliran Sungai Sampean dan Sungai Tlogo, di antaranya Kecamatan Grujugan, Bondowoso, Tenggarang, Wonosari, Klabang, Tapen, Prajekan, Sumberwringin, Pakem, Tegalampel, dan Tlogosari (Peta terlampir). Setiap tahun terjadi bencana banjir (terbesar tahun 2002) yang melanda wilayah Kabupaten Bondowoso dan Situbondo (daerah bawah DAS Sampean). Dampak seringnya terjadi banjir adalah meningkatnya kerusakan jaringan irigasi, kerusakan prasarana jalan, kerusakan instalasi air bersih dan rusaknya prasarana permukiman dan prasarana umum. Khusus prasarana irigasi, kerusakan jaringan apabila tidak tertangani segera akan menurunkan debit air irigasi dan pada akhirnya terjadi kekeringan lahan pertanian di musim kemarau.
2.2.6.3. Rawan Tanah Longsor
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten 2.2.6.4. Kerawanan Terhadap Bencana Lainnya
Selain bencana banjir dan longsor Wilayah Kabupaten Bondowoso juga rawan terhadap beberapa bencana lainnya yaitu gempa bumi, bahaya gunung berapi dan angin puyuh. a. Gempa Bumi Adanya aktivitas Gunung berapi (Gunung Ijen dan Gunung Raung) di sisi timur Kabupaten Bondowoso, mengakibatkan daerah sekitarnya rawan terhadap bencana Gempa Bumi yaitu mencakup 9,74% luas wilayah Kabupaten Bondowoso meliputi wilayah Kecamatan Sempol dan Tlogosari (berada di lereng Gunung Ijen dan Raung). b. Bahaya Gunung Berapi Demikian halnya dengan kerawanan terhadap bencana gunung berapi, kondisinya sama dengan kerawanan terhadap bencana gempa bumi. Daerah rawan bencana Gunung Berapi mencakup 9,74% luas wilayah Kabupaten Bondowoso meliputi wilayah Kecamatan Sempol dan Tlogosari (berada di lereng Gunung Ijen dan Raung). c. Angin Puyuh Karakteristik daerah yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan menyebabkan sering terjadinya angin puyuh di wilayah Bondowoso sehingga sebagian besar wilayah (50,76%) rawan angin puyuh yaitu meliputi wilayah Kecamatan Cermee, Wonosari, Prajekan, Wringin, Pakem, Curahdami, dan Grujugan.
Tabel 23 Persentase Beberapa Desa Rawan Di Kabupaten Bondowoso
NO INDIKATOR SUMBER DATA NILAI (%)
1 Desa Gempa Bumi Prodes, BPS 0,00
2 Desa Tanah Longsor Prodes, BPS 5,02
3 Desa Banjir Prodes, BPS 7,76
4 Desa di Kawasan Lindung Prodes, BPS 15,98
5 Desa Berlahan Kritis Prodes, BPS 2,74
6 Desa Konflik dalam Satu Terakhir Prodes, BPS 0,91
7 Daerah Pesisir Prodes, BPS 0,00
Profil dan Karakteristik Daerah
0 4 8 12 16
Persentase Beben Di Beberapa Desa Rawan Di Kabupaten
Bondowoso
%
Gambar 41 Presentase Beberapa Desa Rawan Di Kabupaten Bondowoso
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
2.3. Permasalahan dan Potensi Daerah Tertinggal secara spesifik
2.3.1. Permasalahan Daerah Tertinggal
A. Ekonomi
Permasalahan ekonomi yang ada di Kabupaten Bondowoso terletak pada jumlah
penduduk miskin setiap tahunnya ternyata tidah selalu menurun. Berikut grafik
perinciannya.
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 0
20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
Jumlah Penduduk Miskin
Kabupaten Bondowoso (2003-2011)
R
ib
u
o
ra
n
g
Gambar 42 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Bondowoso (2003-2011)
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
Selain itu persentasi kedalaman kemiskinan Kabupaten Bondowoso masih mengalami kenaikan dan penurunan. Hal ini berarti kurang stabilnya perekonomian penduduk miskin di Kabupaten Bondowoso.
B. Sumber Daya Manusia
Permasalahan yang terjadi dalam aspek sumber daya manusia di Kabupaten Bondowoso diantaranya angka melek huruf yang masih terjadi penurunan. Terbukti pada data berikut ini.
Profil dan Karakteristik Daerah
2007 2008 2009 2010 2011
0
Gambar 43 Angka Melek Huruf Di Kabupaten Bondowoso
Sumber : Susenas, dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
Dari tabel diatas, jumlah persentase angka melek huruf di Kabupaten Bondowoso tetap pada tahun 2007-2008 sebesar 74,30%, meningkat tiap tahun dari tahun 2008-2011, sedangkan jumlah persentase angka melek huruf 15-24 tetap pada 98,80% di tahun 2007-2008, dan jumlah persentase angka melek huruf 15-55 menurun sebesar 13,12% antara tahun 2007-2008. Jumlah persentase angka partisipasi sekolah 7-12 tahun di Kabupaten Bondowoso penurunan di tahun 2007-2010, pada tahun 2007-2008 terjadi penurunan sebesar 0,14% dan pada tahun 0,52%. Indeks pembangunan manusia di Kabupaten Bondowoso meningkat setiap tahunnya di tahun 2007-2011.
Hal ini berarti bahwa angka melek huruf masih belum selalu naik di setiap tahunnya. Terlihat dari angka melek huruf 15-55 yang mengalami penurunan antara tahun 2007-2008. Kabupaten Bondowoso awalnya berjumlah 56 buah di tahun 2008, dan pada tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah puskesmas pembantu menjadi 62 buah. Jumlah poliklinik desa yang ada di Kabupaten Situbondo semula 1 buah puskesmas di tahun 2008 menjadi 4 buah di tahun 2011.
Solusi untuk masalah ini adalah menambah jumlah puskesmas dan jumlah poliklinik desa serta membangun rumah sakit daerah di Kabupaten Bondowoso. Karena semakin tahun, jumlah penduduk semakin banyak dan jika jumlah
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
puskesmas tidak sebanding dengan jumlah penduduk maka yang akan terjadi puskesmas tidak bisa menampung jumlah orang yang sakit di puskesmas.
Tabel 24 Aspek Pembangunan Daerah Tertinggal di Bidang Infrastruktur ASPEK PEMBANGUNAN DAERAH
TERTINGGAL
KABUPATEN BONDOWOSO
2008 2011
Jumlah Desa 219 219
Jumlah Puskesmas 25 26
Jumlah Puskesmas Pembantu 56 62
Jumlah Poliklinik Desa 1 4
Sumber : Podes dan BPS (www.kpdt.bps.go.id)
D. Kapasitas Daerah
Tabel 25 Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso Tahun 2005-2010
NO TAHUN CELAH FISKAL
Satuan : Juta Rupiah
1 2005 148.028
2 2006 232.703
3 2007 682.155
4 2008 187.055
5 2009 208.838
6 2010 154.520
Sumber : Depkeu(www.kpdt.bps.go.id)
Profil dan Karakteristik Daerah
20050 2006 2007 2008 2009 2010
100,000
Besarnya Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso dan Tahun
2005-2010
Gambar 44 Celah Fiskal Kabupaten Bondowoso 2005-2010
Sumber : Depkeu(www.kpdt.bps.go.id)
Berdasarkan data yang ada untuk besarnya celah fiscal Kabupaten Bondowoso tahun 2005-2010 dapat disimpulkan bahwa celah fiskal kabupaten Bondowoso mengalami kenaikan di setiap tahunnya. Dengan meningkatnya celah fiskal tersebut, dapat dijadikan penyebab daerah miskin dan semakin kecil potensi keuangan daerah yang diperoleh. Hal ini terjadi disebabkan oleh meningktanya celah fiskal menyebabkan kebutuhan daerah meningkat dan kemampuan keuangan rendah.
E. Aksesibilitas
Letak Kabupaten Bondowoso tidak berada pada daerah yang strategis. Meskipun berada di tengah, namun Kabupaten Bondowoso tidak dilalui jalan negara yang menghubungkan antar provinsi. Bondowoso juga tidak memiliki lautan. Ini yang menyebabkan Bondowoso sulit berkembang dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Jawa Timur
F. Karakteristik Daerah
Rawan Banjir
Permasalahan lingkungan dan sosial yang menonjol adalah kerusakan hutan atau luasnya lahan kritis. Berbagai kegiatan masyarakat (dengan kualitas SDM terbatas) dalam memanfaatkan lahan (kehutanan, pertanian dan permukiman) berpengaruh besar pada kerusakan DAS Sampean. Kawasan hutan di Kabupaten Bondowoso berada dalam pengelolaan KPH Bondowoso dengan perincian: hutan lindung 46.784,2 ha; hutan produksi 45.218 ha; dan LDTI 366,32 Ha. Kawasan lindung yang diolah dan ditempati masyarakat
Profil dan Karakteristik Daerah Tertinggal Di Kabupaten
mencapai 23,0%. Sebaliknya terdapat pula hutan produksi yang berada di atas tanah milik masyarakat.
Hutan lindung dan hutan produksi yang ada relatif rawan terhadap penjarahan oleh masyarakat. Hal ini karena adanya tekanan penduduk yang besar yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian dengan tingkat pendapatan yang rendah, serta sistem kelembagaan yang kurang berjalan efektif. Sehingga masyarakat kurang peduli terhadap kelestarian hutan dan memanfaatkan hutan sebagai lahan mata pencaharian. Kerusakan lahan yang terjadi di Kabupaten Bondowoso (lahan kritis yang ada) mencapai luas 40.758 Ha.
Dampak seringnya terjadi banjir adalah meningkatnya kerusakan jaringan irigasi, kerusakan prasarana jalan, kerusakan instalasi air bersih dan rusaknya prasarana permukiman dan prasarana umum. Khusus prasarana irigasi, kerusakan jaringan apabila tidak tertangani segera akan menurunkan debit air irigasi dan pada akhirnya terjadi kekeringan lahan pertanian di musim kemarau.
Rawan tanah longsor
Kerawanan terhadap bencana longsor disebabkan juga oleh makin luasnya lahan kritis. Pada umumnya bencana banjir disertai oleh bencana longsor. Longsor terjadi setiap tahun pada kawasan-kawasan perbukitan dan lereng pegunungan yang seringkali melanda permukiman perdesaan, merusak prasarana irigasi, air bersih, jalan dan jembatan serta lahan-lahan pertanian masyarakat.
Rawan bencana lainnya
Selain bencana banjir dan longsor Wilayah Kabupaten Bondowoso juga rawan terhadap beberapa bencana lainnya yaitu gempa bumi, bahaya gunung berapi dan angin puyuh.
a. Gempa Bumi Adanya aktivitas Gunung berapi (Gunung Ijen dan Gunung Raung) di sisi timur Kabupaten Bondowoso, mengakibatkan daerah sekitarnya rawan terhadap bencana Gempa Bumi yaitu mencakup 9,74% luas wilayah Kabupaten Bondowoso meliputi wilayah Kecamatan Sempol dan Tlogosari (berada di lereng Gunung Ijen dan Raung).
b. Bahaya Gunung Berapi Demikian halnya dengan kerawanan terhadap bencana gunung berapi, kondisinya sama dengan kerawanan terhadap bencana gempa bumi. Daerah rawan bencana Gunung Berapi mencakup 9,74% luas wilayah Kabupaten Bondowoso meliputi wilayah Kecamatan Sempol dan Tlogosari (berada di lereng Gunung Ijen dan Raung).
c. Angin Puyuh Karakteristik daerah yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan menyebabkan sering terjadinya angin puyuh di wilayah Bondowoso sehingga sebagian besar wilayah (50,76%) rawan angin puyuh yaitu meliputi wilayah Kecamatan Cermee, Wonosari, Prajekan, Wringin, Pakem, Curahdami, dan Grujugan.
2.3.2 Potensi Daerah Tertinggal
A. Ekonomi 1. Industri
Jumlah perusahaan industri dibedakan menjadi industri besar, industri menengah dan industri kecil baik formal atau non formal. Jumlah industri