• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan perbadingan diet dash dan rend

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan perbadingan diet dash dan rend"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN ANJURAN DIET DASH DIBANDINGKAN DIET RENDAH

NATRIUM BERDASARKAN KONSELING GIZI TERHADAP

PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI

PUSKESMAS LARANGAN UTARA

Skripsi

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Pendidikan Diploma IV

(empat) Kesehatan Bidang Gizi

Disusun Oleh:

AGUSTINA PUNGKI ASTUTI

Nomor Pokok Mahasiswa P2.31.31.1.13.002

JURUSAN GIZI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA II

KEMENTERIAN KESEHATAN

(2)

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Agustina Pungki Astuti NPM : P23131113002

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Skripsi Penerapan Anjuran Diet DASH Dibandingkan Diet Rendah Natrium Berdasarkan Konseling Gizi Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Larangan Utara berdasarkan hasil penelitian, pemikiran dan pemaparan asli dari penulis sendiri baik untuk naskah laporan maupun kegiatan yang tercantum sebagai bagian dari skripsi ini. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguh –sungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai dengan norma yang berlaku.

Jakarta, Juni 2017

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi dengan judul “Penerapan Anjuran Diet DASH Dibandingkan Diet Rendah Natrium Berdasarkan Konseling Gizi Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Larangan Utara”

Disusun oleh Agustina Pungki Astuti / NPM P2.31.31.1.13.002

Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II dalam rangka Ujian Akhir Program untuk memenuhi sebagian syarat guna menyelesaikan pendidikan Diploma IV Kesehatan bidang Gizi dan telah mendapat pengesahan.

Jakarta, Juni 2017

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Didit Damayanti, M.Sc, Dr. PH. Pritasari, S.K.M., M.Sc

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II Ketua Jurusan Gizi

(4)

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul “Penerapan Anjuran Diet DASH Dibandingkan Diet Rendah Natrium Berdasarkan Konseling Gizi Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Larangan Utara”

Disusun oleh Agustina Pungki Astuti / NPM P2.31.31.1.13.002

Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II dalam rangka Ujian Akhir Program untuk memenuhi sebagian syarat guna menyelesaikan pendidikan Diploma IV Kesehatan bidang Gizi dan telah mendapat pengesahan.

Ujian akhir program telah dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 2017.

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II Ketua Jurusan Gizi

Pembimbing Utama

Mochammad Rachmat, S.K.M., M.Kes NIP.196312141988031001

Tim Penguji :

1. Didit Damayanti, M.Sc., Dr. PH. _________________ Ketua Penguji

2. Nur’aini Susilo Rochani, S.K.M., M.S _________________ Anggota Penguji

(5)

LEMBAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Agustina Pungki Astuti

Tempat, tanggal lahir : Jakarta , 1 Agustus 1995 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

No. HP : 089696827697

No. telepon : 021-73451154 Riwayat pendidikan

1. TK Prasiswa (1999 – 2001)

2. SDN Pisangan Timur 03 (2001 – 2005)

3. SDN Sudimara Timur 5 Ciledug (2005 – 2007) 4. SMP N 142 Jakarta (2007 – 2010)

5. SMA N 63 Jakarta (2010 – 2013)

(6)

ABSTRAK NATRIUM BERDASARKAN KONSELING GIZI TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS LARANGAN UTARA

xiv, V BAB, 79 Halaman, 18 Tabel, 5 gambar, 8 Lampiran

Hipertensi merupakan ”silent killer” yang terdeteksi melalui tekanan darah sistol-diastol dengan angka diatas 120/80 mmHg yang dapat menjadi cikal bakal penyakit kardiovaskular dan stroke. Untuk menurunkan tekanan darah tinggi, dianjurkan beberapa modifikasi gaya hidup baik secara diet, penurunan berat badan maupun dengan mengurangi konsumsi makanan sumber natrium. Diet rendah garam dapat menurunkan 2 – 8 mmHg tekanan darah dengan mengonsumsi makanan rendah natrium,sedangkan diet DASH dapat mengurangi 8 – 14 mmHg tekanan darah dengan mengonsumsi lebih banyak sayur, buah, kacang-kacangan, dan produk rendah lemak, serta konsumsi garam maksimum 3,5 gram sehari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penerapan Diet DASH dibandingkan Diet Rendah Natrium berdasarkan konseling gizi terhadap tekanan darah penderita Hipertensi yang merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan random alokasi intervensi. Pada penelitian ini menggunakan form kuesioner dan brosur diet rendah natrium serta diet DASH, recall 24 hours, dan FFQ dengan metode wawancara dan konseling. Responden merupakan lansia minimal berusia 40 tahun dengan penyakit hipertensi yang memeriksakan diri ke puskesmas atau posbindu Larangan Utara.Hasil analisis uji statistik non parametrik dengan tingkat kemaknaan sebesar 95% menunjukkanadanya perbedaan yang bermakna pada tekanan darah diastol antara kelompok DASH diandingkan kelompok rendah natrium . Uji statistik non parametric pada penurunan tekanan darah sistolik dan diastolic dengan kepercayaan 95% menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0.05) antara dua kelompok diet.

(7)

ABSTRACT

NUTRITION DEPARTEMENT HEALTH POLITECHNIC OF HEALTH MINISTRY JAKARTA II HEALTH MINISTRY OF INDONESIA Skripsi, 7 June 2017 AGUSTINA PUNGKI ASTUTI

THE COMPARISON APPLICATION OF SUGGESTION OF DASH DIET AND LOW SODIUM DIET BASED ON NUTRITION COUNSELING IN DEGRADATION OF BLOOD PRESSURE OF HYPERTENSION PEOPLE IN COMMUNITY HEALTH CLINIC LARANGAN UTARA

xiv, V Chapters, 79 pages, 18 Tables, 5 pictures, 8 eppendixes

Hypertension which also called silent killer detected through systolic-diastolic blood pressure in upper 120/80 mmHg for first reason of cardiovascular disease and stroke. In lowering high blood pressure, is suggested some modification healthy lifestyle in diet, weight loss, and lowering sodium intake. Low sodium diet can depress 2 – 8 mmHg within consume dietary low sodium food, otherwise DASH can lowering 8-14 mmHg in consuming more vegetables, fruit, beans, low fat product, and limited 3,5 g of salt per day. The goal of this study is analyze the comparison application DASH diet and Low sodium diet based nutrition counseling in hypertension people which has experimental study and random allocation design for intervension. It used quesitioner form low sodium diet brochures, DASH diet brochures, form recall 24 hours, FFQ trough interview and counseling. Sample is adult upper 40 years old with high blood pressure who is patient in Larangan utara public health clinic. The result of non parametric test Wilcoxon and Mann-Whitney test with 95% believing degree that there is significant comparison in diastolic blood pressure of DASH diet group to Low Sodium group. It also shows that there is significant comparison (p < 0,05) in lowering systolic and diastolic blood pressure of hypertension with 95% beliefness degree between both of diet groups.

(8)

LEMBAR PUBLIKASI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama

: Agustina Pungki Astuti

NPM

: P2.31.31.1.13.002

Menyatakan tidak keberatan hasil skripsi saya yang berjudul

Penerapan Anjuran Diet DASH Dibandingkan Diet Rendah Natrium Berdasarkan Konseling Gizi Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita

Hipertensi di Puskesmas Larangan Utara

dipublikasikan oleh

pembimbing dengan mencantumkan nama penulis.

Jakarta, Juni 2017 Yang membuat pernyataan,

(9)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Agustina Pungki Astuti NPM : P2.31.31.1.3.002 HP : 089696827697 Jurusan : Gizi

Alamat : Jl. Winong dalam RT.03 RW.08 No. 60, sudimara timur, Ciledug, Tangerang

Dengan ini menyatakan bahwa protokol judul penelitian saya yang semula berjudul “Penerapan Diet DASH Dibandingkan Diet Rendah Natrium Berdasarkan Konseling Gizi Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Larangan Utara” diganti dengan “Penerapan Anjuran Diet DASH Dibandingkan Diet Rendah Natrium Berdasarkan Konseling Gizi Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Larangan Utara”. Adapun permasalahan, tujuan, metodologi yang meliputi sampel, dan cara pencapaian tujuan tidak berubah.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk melengkapi penelitian saya.

Jakarta, 14 Juni 2017 Yang Menyatakan Peneliti

(Agustina Pungki Astuti) Mengetahui/Menyetujui

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang karena atas rahmat-Nya Skripsi yang berjudul “Penerapan Diet DASH Dibandingkan Diet Rendah Natrium terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Larangan Utara” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat kelulusan dalam Program Studi Diploma IV (empat) jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai motivasi dalam menyempurnakan Proposal Skripsi ini dan memohon maaf apabila terdapat kesalahan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Proposal Skripsi ini, yaitu:

1. Keluarga yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil. 2. Ibu Didit Damayanti, M.Sc.,Dr. PH sebagai pembimbing utama dalam

membantu dan membimbing selama penyusunan Skripsi.

3. Ibu Nur’aini Susilo Rochani, SKM, M.Sc., Ibu DR. Moesijanti Y.E.S., MCN, dan Ibu Pritasari SKM, M.kes selaku penguji dan pembimbing pendamping dalam perbaikan skripsi ini.

4. Kepala puskesmas dan ahli gizi Puskesmas larangan utara yang memberikan tempat untuk melakukan penelitian pada bulan Februari - Mei. 5. Anggie Maramis Sarahita dan Desi Agustini yang bersedia menjadi

eumerator selama penlitian.

6. Desi Agustini dan Ihsan Fadhielah Novtayana yang telah saling mendukung selama proses penyususnan protokol hingga sidang akhir berlangsung. 7. Sahabat dan teman –teman yang tidak dapat disebutkan namanya satu per

satu.

Akhir kata, semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

(11)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN...i

LEMBAR PENGESAHAN...ii

LEMBAR PERSETUJUAN...iii

LEMBAR RIWAYAT HIDUP...iv

ABSTRAK...v

ABSTRACT...vi

LEMBAR PUBLIKASI...vii

LEMBAR PERNYATAAN...viii

KATA PENGANTAR...ix

DAFTAR ISI...x

DAFTAR TABEL...xii

DAFTAR GAMBAR...xiii

DAFTAR LAMPIRAN...xiv

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar belakang...1

B. Rumusan Masalah...3

C. Hipotesa...3

D. Tujuan Penulisan...3

1. Tujuan Umum...3

2. Tujuan Khusus...3

E. Manfaat Penulisan...4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...5

A. Hipertensi...5

B. Diet Rendah Garam...23

C. Diet DASH (Diet Aprproach to Stop Hypertension)...26

D. Kepatuhan Diet...28

E. Konseling Gizi...30

F. Food recall 24- hours...31

(12)

H. Definisi operasional...35

BAB III METODE PENELITIAN...37

A. Ruang Lingkup Penelitian...37

B. Rancangan Penelitian...37

C. Populasi Dan Sampel...38

1. Populasi...38

2. Sampel...38

D. Cara Pengambilan Sampel...39

E. Pengumpulan Data...39

F. Izin dan Etik Penelitian...40

G. Cara Pengumpulan Data...40

H. Analisis Data...43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...44

A. Keterbatasan penelitian...44

B. Gambaran umum lokasi penelitian...44

C. Karakteristik sampel...45

D. Status gizi...48

E. Penyakit Penyerta...49

F. Intervensi Diet Rendah Natrium dan Diet DASH...49

1. Asupan natrium...50

2. Tekanan darah...53

3. Frekuensi konsumsi buah dan sayur...57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...60

A. Kesimpulan...60

B. Saran...61

(13)

DAFTAR TABEL

TABEL 1 KLASIFIKASI TEKANAN DARAH MENURUT JNC 7...6 TABEL 2 KLASIFIKASI TEKANAN DARAH (mmHg) MENURUT WHO...6 TABEL 3 MODIFIKASI GAYA HIDUP DALAM MENGATUR TEKANAN

DARAH TINGGI...13 TABEL 4 KOMPOSISI GARAM (NATRIUM ) DALAM MAKANAN DAN

MINUMAN...15 TABEL 5 BAHAN MAKANAN YANG DIANJURKAN DAN TIDAK

DIANJURKAN...25 TABEL 6 DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN...35 TABEL 7 KARAKTERISTIK SAMPEL BERDASARKAN JENIS KELAMIN ,

USIA, DAN KEBIASAAN MEROKOK (n=69)...46 TABEL 8 KARAKTERISTIK BERDASARKAN PEKERJAAN DAN TARAF

PENDIDIKAN (n=69)...48 TABEL 9 KARAKTERISTIK BERDASARKAN STATUS GIZI...48 TABEL 10 DISTRIBUSI KARAKTERISTIK BERDASARKAN PENYAKIT

PENYERTA HIPERTENSI (n=69)...49 TABEL 11 TABEL ASUPAN NATRIUM TOTAL SELURUH KELOMPOK DIET50 TABEL 12 PERBANDINGAN ASUPAN NATRIUM ANTARA SEBELUM DAN

SESUDAH INTERVENSI DIET RENDAH NATRIUM DAN DIET DASH...51 TABEL 13 PERBANDINGAN ASUPAN NATRIUM ANTARA DIET RENDAH

NATRIUM DENGAN DIET DASH...51 TABEL 14 PERBANDINGAN TEKANAN DARAH SISTOLIK DAN DIASTOLIK

SEBELUM DAN SESUDAH INTERVENSI DIET RENDAH NATRIUM ...54 TABEL 15 PERBANDINGAN TEKANANAN DARAH SISTOLIK DAN

DIASTOLIK SEBELUM DAN SESUDAH INTERVENSI DIET DASH ...54 TABEL 16 PERBANDINGAN RATA-RATA TEKANAN DARAH SISTOLIK DAN

DIASTOLIK ANTARA DIET RENDAH NATRIUM DAN DIET DASH ...54 TABEL 17 PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN SISTOL DAN

DIASTOLIK ANTARA DIET RENDAH NATRIUM DENGAN DIET DASH...57 TABEL 18 PERBANDINGAN PORSI ASUPAN SAYUR DAN BUAH PADA DIET

(14)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1 HUBUNGAN TEORITITIS ANTARA KEGEMUKAN DAN TEKANAN DARAH...10 GAMBAR 2 PERENCANAAN MAKAN DENGAN DASH...26 GAMBAR 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN...34 GAMBAR 4 RANCANGAN PENELITIAN RANDOM ALOKASI PADA

INTERVENSI...37 GAMBAR 5 GRAFIK GAMBARAN ASUPAN NATRIUM SEBELUM DAN

SESUDAH INTERVENSI SELURUH SAMPEL...51 GAMBAR 6 GRAFIK GAMBARAN PERBANDINGAN ASUPAN NATRIUM DIET

RENDAH NATRIUM DENGAN DIET DASH...53 GAMBAR 7 GRAFIK GAMBARAN PENURUNAN TEKANAN DARAH SISTOLIK

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN...63

LAMPIRAN 2 FORMULIR RECALL...64

LAMPIRAN 3 FORM FOOD FREQUENCY...65

LAMPIRAN 4 INFORM CONSENT...66

LAMPIRAN 5 SURAT PERIJINAN PENELITIAN...69

LAMPIRAN 6 DOKUMENTASI...71

LAMPIRAN 7 BROSUR KONSELING...72

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Penyakit hipertensi merupakan the silent disease karena orang tidak mengetahui dirinya terkena hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Hipertensi merupakan penyebab terbesar dari kejadian stroke, baik tekanan darah sistolik maupun diastoliknya (Rudianto, 2013). Menurut Depkes (2008), jumlah penderita stroke pada usia 15-59 tahun berada di urutan kelima terbanyak di Asia. Jumlah penderita stroke mencapai 8,3 per 100 populasi di Indonesia dengan populasi sekitar 211 jiwa. Diperkirakan telah menyebabkan 30% dari kematian di seluruh dunia dan prevalensinya sebesar 37,4% (WHO, 2011). Berdasarkan tabel Riskesdas pada prevalensi hipertensi (25,8%) berdasarkan jenis kelamin tahun 2013 prevalensi hipertensi perempuan (28,8%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki(22,8%). Prevalensi hipertensi di ibukota DKI Jakarta adalah 20 % sedangkan di Banten sebesar 23% (RI, 2013).

Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai.Hipertensi memiliki gejala yang bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala-gejalanya adalah sakit kepala/ rasa berat di tengkuk, mumet (vertigo), jantung berdebar-debar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdengung (tinnitus) dan mimisan (Klinik, 2006).

(17)

kebiasaan konsumsi minum-minuman beralkohol, obesitas, kurang aktifitas fisik, stress, penggunaan estrogen.

Setelah dilihat dari faktor resiko hipertensi, sebagian besar disumbangkan dari faktor makanan atau dampak dari perilaku slah terhadap makanan. Maka, selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup.Diet yang biasa diberikan berupa diet rendah garam (RG).Tujuan dari penatalaksanaan diet RG adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes mellitus.Prinsip diet pada penderita hipertensi adalah Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang, jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita serta jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis makanan dalam daftar diet.

Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium yang terdapat dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh karena itu, dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh/hari atau dapat menggunakan garam lain diluar natrium.

Belakangan ini, muncul diet untuk penyakit hipertensi selain diet Rendah Garam yang disebut Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension). Diet DASH ini bertujuan untuk mengurangi tekanan darah tinggi.DASH adalah pola makan yang kaya buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, ikan, dan susu rendah lemak. Makanan ini memiliki tinggi zat gizi penting, seperti kalium, magnesium, kalsium, serat, dan protein. Diet DASH dapat menurunkan tekanan darah karena akan mengurangi garam dan gula dalam diet ini. Diet DASH juga menghindari minuman manis, lemak, daging merah, dan daging olahan (Asuhan Gizi Pada Hipertensi, 2011).

(18)

(natrium) dengan tidak lebih dari 100 mmol sehari atau setara dengan 2,4 g natrium atau 6 gram garam dapur (Health, 2003)

Dengan latar belakang diatas, menimbulkan pertanyaan bagaimana penerapan diet DASH terhadap penurunan tekanan darah dibandingkan dengan diet Rendah Natrium?

B. Rumusan Masalah

 Apakah diet DASH dapat diterapkan danmemberikan dampak lebih baik pada penurunan tekanan darah penderita Hipertensi dibanding dengan diet Rendah Natrium?

C. Hipotesa

 Diet DASH memberikan dampak lebih baik pada penurunan tekanan darah di bandingkan Diet Rendah Natrium pada penderita hipertensi.

D. Tujuan Penulisan

1.

Tujuan Umum

Menganalisa penerapan Diet DASH dibandingkan Diet Rendah Natrium berdasarkan konseling gizi terhadap tekanan darah penderita Hipertensi. 2. Tujuan Khusus

 Mengidentifikasi karakteristik penderita hipertensi.

 Menganalisa kepatuhan penerapan diet DASH dan diet rendah garam berdasarkan asupan sayur, buah, kacang-kacangan, produk olahan rendah lemak dan garam natrium.

 Menganalisa perubahan tekanan darah, asupan natrium, dan asupan buah sayur pada penderita hipertensi sebelum dan sesudah pemberian intervensi Diet Rendah Natrium.

 Menganalisa perubahan tekanan darah, asupan natrium, dan asupan buah sayur pada penderita hipertensi sebelum dan sesudah pemberian intervensi Diet DASH.

 Membandingkan tekanan darah setelah diberikan Diet Rendah Natrium dan Diet DASH.

 Membandingkan asupan natrium setelah diberikan Diet Rendah Natrium dan Diet DASH.

(19)

E. Manfaat Penulisan

1.

Untuk penulis

Penulisan ini bermanfaat untuk memberikan pengetahuan secara langsung pada penulis akan analisa diet yang dilakukan pada masyarakat.

2. Untuk institusi

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dalam tinjauan pustaka maupun penelitian selanjutnya pada institusi terkait untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

3. Untuk Masyarakat

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi

1. Definisi dan Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi sulit untuk didefinisikan karena sering berubah-ubah dan harus disesuaikan dengan kondisi. Pasien hipertensi pada saat istirahat memiliki tekanan darah diastolik dengan pengukuran berulang tetap konsisten pada atau di atas 90 mmHg (12,0 kPa) dapat berisiko tinggi mengalami kesakitan dan kematian akibat penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, penurunan nilai tekanan darah diastolik dibawah 90 mmHg (12,0 kPa) dapat mengurangi risiko stroke sekitar 35-40% dan penyakit jantung koroner sekitar 15-20%. Definisi terkini tentang hipertensi adalah tingkat tekanan darah sistolik pada atau di atas 140 mmHg (18,7 kPa), atau tingkat tekanan darah diastolik pada atau di atas 90 mmHg (12,0 kPa). Namun karena tekanan darah sangat bervariasi, sebelum menetapkan pasien mengalami hipertensi dan memutuskan untuk memulai pengobatan, perlu untuk memastikan peningkatan tekanan darah dengan pengukuran berulang-ulang selama beberapa minggu. Setiap nilai pengukuran di kisaran hipertensi ringan atau borderline ditemukan, kepastian pengukuran harus diperpanjang selama 3-6 bulan. Periode observasi yang singkat diperlukan pada pasien dengan peningkatan tekanan darah yang lebih tinggi atau pasien dengan komplikasi.

Hipertensi sering disebut sebagai “pembunuh diam-diam” karena individu yang mengalami hipertensi sering tidak menampakkan gejala. Institut Nasional Jantung, Paru dan Darah memperkirakan separuh individu yang menderita hipertensi tidak sadar akan kondisinya. Ketika penyakit ini diderita, tekanan darah pasien harus dipantau dengan interval teratur karena hipertensi merupakan kondisi seumur hidup.

(21)

prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 seperti yang terlihat pada tabel 1 dibawah.

TABEL 1 KLASIFIKASI TEKANAN DARAH MENURUT JNC 7 Klasifikasi Tekanan WHO/International Society of Hypertension guidelines subcommittees ditampilkan pada tabel 2 di bawah ini (Penatalaksanaan Hipertensi pada Usia Lanjut, 2006).

TABEL 2 KLASIFIKASI TEKANAN DARAH (mmHg) MENURUT WHO

Kategori Sistolik Diastolik

Optimal < 120 < 80

Normal <130 < 85

Normal-tinggi 130-139 85-89

Hipertensi derajat 1 (ringan) 140-159 90-99 Subkelompok : borderline 140-149 90-94 Hipertensi derajat 2 (sedang) 160-179 100-109 Hipertensi derajat 3 (berat) ≥ 180 ≥ 110 Hipertensi sistolik terisolasi ≥ 140 < 90 Subkelompok : borderline 140-149 < 90

2. Penyebab Hipertensi

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer dan hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Hipertensi esensial atau hipertensi primer merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Sering disebut juga hipertensi idiopatik dan terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktifitas sistem saraf simpatis, sistem renin angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraseluler dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia. Hipertensi primer biasanya timbul pada umur 30 – 50 tahun.

(22)

estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, sindrom cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain sebagainya.

3.

Faktor Resiko Hipertensi

Sampai saat ini penyebab hipertensi secara pasti belum dapat diketahui dengan jelas. Secara umum, faktor risiko terjadinya hipertensi yang teridentifikasi antara lain faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti keturunan, jenis kelamin, dan umur. Sedangkan, faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti merokok, obesitas, obat-obatan, stres, aktivitas fisik, dan asupan (Rusdi, et al., 2009).

a. Usia

Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan bertambahnya umur maka semakin tinggi mendapat resiko hipertensi. Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur.

b. Jenis Kelamin

(23)

c. Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga juga merupakan masalah yang memicu masalah terjadinya hipertensi hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika seorang dari orang tua kita memiliki riwayat hipertensi maka sepanjang hidup kita memiliki kemungkinan 25% terkena hipertensi.

d. Konsumsi Garam

Garam dapur merupakan faktor yang sangat dalam patogenesis hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan hipertensi yang rendah jika asupan garam antara 5-15 gram perhari, prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%. Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadai melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah .

Garam mengandung 40% sodium dan 60% klorida. Orang-orang peka sodium lebih mudah meningkat sodium, yang menimbulkan retensi cairan dan peningkatan tekanan darah .

Garam berhubungan erat dengan terjadinya tekanan darah tinggi gangguan pembuluh darah ini hampir tidak ditemui pada suku pedalaman yang asupan garamnya rendah. Jika asupan garam kurang dari 3 gram sehari prevalensi hipertensi presentasinya rendah, tetapi jika asupan garam 5-15 gram perhari, akan meningkat prevalensinya 15-20% .

(24)

(Adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembulu darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi.Selain itu, karbon monoksida dalam asap rokok menggantikan oksigen dalam darah. Hal ini akan menagakibatkan tekana darah karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup kedalam orga dan jaringan tubuh.

f. Aktvitas

Aktivitas sangat mempengaruhiterjadinya hipertensi, dimana pada orang yang memiliki aktvitas tinggi akan cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tingi sehingga otot jantung akan harus bekerja lebih keras pada tiap kontraksi.Makin keras dan sering otot jantung memompa maka makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri.

g. Stress

Stress juga sangat erat merupakan masalah yang memicu terjadinya hipertensi dimana hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota.

h. Berat Badan

Obesitas berkaitan dengan tekanan darah tinggi dan dengan kadar lipoprotein serum tidak normal. Bila hal ini terjadi pada usia remaja, akan menjadi manifestasi penyakit pada masa dewasa. Bila pada usia remaja menderita tekanan darah tinggi atau memiliki sejarah tekanan darah tinggi pada keluarga , ia perlu menerapkan diet rendah garam dapur dan energi total (Almatsier, et al., 2011).

Terdapat hubungan erat antara IMT dan hipertensi pada wanita maupun pria di seluruh etnik. Berdasarkan survei NHANES III, prevalensi hipertensi pada seseorang yang memiliki IMT lebih besar dari 30kg/m2 sebesar 42% pria dan 38% wanita dibandingkan dengan

15% pada pria dan wanita dengan IMT <25 kg/m2. Resiko Hipertensi

(25)

hipertensi, 30% individu yang terkena hipertensi disumbangkan dari obesitas (Mahan, 2008).

Indeks massa tubuh berlebih mempunyai hubungan terhadap lebih tingginya tekanan darah. Hasil penelitian ini menemukan setiap 1 unit peningkatan IMT akan meningkatkan sbp 0,91 pada laki-laki dan 0,72 mmhg pada perempuan; dan dbp 0,75 pada laki-laki dan 0,50 mmhg pada perempuan. Massa lemak dalam tubuh akan mempengaruhi tekanan Darah dalam berbagai cara diantaranya adalah melalui penghentian pernafasan dan mempengaruhi sistem syaraf simpatis sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Massa lemak juga dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan adrenal sehingga terjadi penahanan natrium yang dapat meningkatkan tekanan darah. (Harahap, 2009)

GAMBAR 1 HUBUNGAN TEORITITIS ANTARA KEGEMUKAN DAN TEKANAN DARAH

4.

Gejala klinis hipertensi

(26)

gagal ginjal. Namun deteksi dini dan perawatan hipertensi dapat menurunkan jumlah morbiditas dan mortalitas. (Rusdi, et al., 2009).

5.

Patofisiologi Hipertensi

Kaplan menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang berperan dalam pengendalian tekanan darah yaitu curah jantung dan tahanan perifer. Keseimbangan curah jantung dan tahanan perifer sangat berpengaruh terhadap kenormalan tekanan darah. Tekanan darah ditentukan oleh konsentrasi sel otot halus yang terdapat pada arteriol kecil dan jika terjadi peningkatan konsentrasi yang lama akan mengakibatkan penebalan pembuluh darah arteriol dan menjadi awal meningkatnya tahanan perifer yang irreversibel (al., 2005). Selain pengaruh curah jantung dan tahanan perifer, faktor lain yang berperan dalam pengendalian tekanan darah antara lain sistem renin angiotensin, sistem saraf otonom, disfungsi endothelium, substansi vasoaktif, hiperkoagulasi, serta disfungsi diastolik.

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Renin yang diproduksi oleh ginjal diubah menjadi angiotensin I oleh hormon. ACE yang terdapat di paru-paru, mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. (Harahap, 2009)

Angiotensin II menaikkan tekanan darah melalui 2 mekanisme yaitu : 1. Meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH

diproduksi di hipotalamus dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH sangat sedikit urin yang dieksresikan keluar tubuh sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolitasnya, untuk mengencerkannya volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan intraseluler, akibatnya volume darah meningkat sehingga tekanan darah meningkat

(27)

cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang akan meningkatkan tekanan darah (Harahap, 2009).

6.

Target Organ

Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kerusakan organ target yang umum ditemui pada pasien hipertensi adalah penyakit ginjal kronis, penyakit jantung (hipertrofi ventrikel kiri, angina atau infark miokardium, gagal jantung), otak (stroke, Transient Ischemic Attack/TIA), penyakit arteri perifer, dan retinopati.

Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor ATI angiotensin II, stress oksidatif, down regulation dari ekspresi nitric oxide synthase, dan lain-lain. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekskresi transforming growth factor-β (TGF-β)

7.

Penatalaksanaan hipertensi

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara farmakologis dan non farmakologis (diet). Penatalaksanaan non farmakologis (diet) sering sebagai pelengkap penatalaksanaan farmakologis, selain pemberian obat-obatan antihipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup (Yogiantoro, 2006).

Tujuan dari penatalaksanaan diet, antara lain membantu menurunkan tekanan darah secara bertahap dan mempertahankan tekanan darah menuju normal, mampu menurunkan tekanan darah secara multifaktoral, menurunkan faktor risiko lain seperti BB berlebih, tingginya kadar asam lemak, kolesterol dalam darah, mendukung pengobatan penyakit penyerta seperti penyakit ginjal, dan DM .

(28)

menurunkan tekanan darah tinggi dan pengobatan dapat dikurangi. Beberapa dampak dari pengobatan klinis dibuktikan dengan penurunan BP dengan beberapa jenis obat, termasuk angiostensin converting enzyme inhibitors (ACEIs), angiostensin receptor blockers (ARBs), beta-blockers (BBs), calcium channel blockers (CCBs) dan thiazide-type diuretics, akan mereduksi komplikasi dari hipertensi.

TABEL 3 MODIFIKASI GAYA HIDUP DALAM MENGATUR TEKANAN DARAH TINGGI

Menjaga berat badan agar tetap normal (IMT 18,5-24,9 kg/m2)

5-20 mmHg / 10 kg tidak lebih dari 100 mmol sehari. (2,4 g Natrium atau setara 6 g garam dapur)

2-8 mmHg

Aktivitas Fisik

Melakukan aktivitas fisik secara teratur seperti berjalan (paling tidak 30 menit sehari)

4-9 mmHg

Konsumsi Alkohol yang tidak berlebih

Membatasi konsumsi alkohol tidak lebih dari 2 gelas(1 oz atau 30 mml ethanol; contoh 24 oz bir, 10 oz wine, atau 3 oz whiskey) sehari pada umumnya dan tidak lebih dari 1 gelas sehari bagi wanita dan individu dengan Berat badan kurang

2-4 mmHg

(29)

Zat-zat gizi yang dibutuhkan pasien hipertensi akan dapat terpenuhi dengan menerapkan diet sehari-hari, antara lain rendah natrium, rendah lemak jenuh dan rendah asupan karbohidrat, dengan asupan tinggi sayuran dari kelompok pati dan salad dan asupan tinggi protein (terutama ikan). Mengutamakan pengunaan keju segar daripada keju lama. Gula sederhana, alkohol, kafein, nikotin, dan olahan karbohidrat harus dikurangi secara drastis atau dihilangkan.

a. Rendah Natrium

Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler dengan konsentrasi serum normal adalah 136 sampai 145 mEg / L. Natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan ekstraseluler dan keseimbangan asam basa tubuh serta berperan dalam transfusi saraf dan kontraksi otot.

Hubungan antara retriksi garam dan pencegahan hipertensi masih belum jelas. Namun berdasarkan studi epidemiologi diketahui terjadi kenaikan tekanan darah ketika asupan garam ditambah. Pengurangan asupan garam bermanfaat untuk menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada hipertensi . Manfaat lainnya yaitu meningkatkan efektivitas obat antihipertensi, mengurangi kehilangan kalium akibat diuretik, regresi hipertrofi ventrikel kiri, mengurangi proteinuria, mengurangi ekskresi kalsium dalam urin, menurunkan terjadinya osteoporosis, menurunkan prevalensi kanker perut, menurunkan insiden kematian akibat stroke, menurunkan prevalensi asma, menurunkan prevalensi katarak, melindungi terhadap terjadinya hipertensi.

(30)

Dalam konsumsi rendah garam (natrium), selain membatasi konsumsi garam dapur, juga harus membatasi sumber natrium lainnya seperti makanan yang mengandung soda kue, baking powder, MSG (mono sodium glutamate yang lebih dikenal dengan nama bumbu penyedap masakan), pengawet makanan atau natrium benzoate (biasanya terdapat di dalam saos, kecap, selai, jelli), makanan yang dibuat dari mentega .

Secara umum, penderita tekanan darah tinggi yang sedang menjalani konsumsi makanan rendah garam harus memperhatikan hal-hal berikut, antara lain sedikit atau tidak menggunakan garam dapur baik untuk penyedap masakan atau dimakan langsung, menghindari bahan makanan awetan yang diolah menggunakan garam dapur (mis. kecap, margarin, mentega, keju, terasi, biskuit asin, sardencis, sosis, cornet beef, dan peanut butter), menghindari dan membatasi bahan makanan yang diolah dengan menggunakan bahan makanan tambahan atau penyedap rasa (mis. saos dan tauco), menghindari penggunaan baking soda, membatasi minuman yang bersoda atau minuman ringan (softdrink).

TABEL 4 KOMPOSISI GARAM (NATRIUM ) DALAM MAKANAN DAN MINUMAN

No. Nama Bahan (100 g) Sodium(mg)

Serealia

8. Mi instant kuah, ayam bakso 667

9. Roti putih 530

6. French fries, beku, mentah 317

7. Keripik kentang 486

8. Keripik singkong, bumbu 550

9. Talas bogor, mentah 10

10. Tapai singkong 2

Kacang- kacangan dan olahan

(31)
(32)

9. Nugget sapi 500

4. Telur ayam , bebek, asin 483

(33)

5. Selai kacang 355

6. Sirup 3

7. Coklat bar 100

8. Meses 30

9. Agar agar bubuk 239

(34)

No. Nama Bahan (100 g) Sodium(mg) adalah kebalikan dari natrium. Konsumsi kalium yang tinggi akan meningkatkan konsentrasinya di dalam cairan intraseluler, sehingga cenderung menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah .Peningkatan asupan kalium dapat melindungi terhadap stroke.Peningkatan asupan kalium 10 mmol per hari berkaitan dengan penurunan 40% dalam kematian akibat stroke di antara 859 orang tua. Di antara laki-laki di Framingham Heart Study, peningkatan konsumsi sekitar tiga porsi per hari buah-buahan dan sayuran kaya kalium berkaitan dengan risiko 22% lebih rendah untuk stroke selama 20 tahun (Kaplan, 2006).

(35)

dapat menahan kalium dengan baik. Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan mengembalikan tekanan darah ke normal. Kalium mampu menjaga dinding pembuluh darah besar (aorta) agar tetap elastis dan mengoptimalkan fungsinya, sehingga tidak akan memacu munculnya tekanan darah tinggi. Selain itu, kalium juga mencegah timbulnya penyakit gagal jantung (Harahap, 2009).

c. Cukup Kalsium

Terdapat hubungan terbalik antara asupan kalsium dengan tekanan darah sehingga meningkatkan konsumsi kalsium sehari-hari dapat membantu mencegah dan mengobati hipertensi dan osteoporosis (Kaplan, 2006). Sejumlah penelitian di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa kalsium memiliki peranan penting dalam hipertensi. Pasien hipertensi menunjukkan kekurangan yang signifikan dalam diet kalsium, kalium, vitamin A dan vitamin C. Kalsium yang rendah menjadi faktor risiko yang paling konsisten untuk diet hipertensi. Beberapa laporan menunjukkan bahwa suplemen kalsium oral (1 sampai 2 gram per hari) dapat menurunkan tekanan darah pada beberapa pasien, terutama pada dewasa muda, khususnya wanita.

(36)

pada kebanyakan pasien hipertensi yang tidak diobati. Namun, konsentrasi magnesium dalam otot yang rendah telah ditemukan pada setengah dari pasien dengan terapi diuretik dosis tinggi kronis (Kaplan, 2006).

e. Tinggi Serat

Terdapat dua macam istilah serat, yaitu serat kasar (crude fiber) dan serat makanan (dietary fiber). Serat kasar banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan, sedangkan serat makanan terdapat pada makanan selain buah dan sayuran, seperti beras, kentang, singkong, dan kacang ijo. Serat makanan terdiri dari dua bagian, yaitu serat larut dan serat tidak larut dalam air. Yang termasuk serat larut antara lain gums, gels, mucilages, pectic substances, hemiselulosa. Sedangkan, serat tidak larut meliputi komponen serat non-karbohidrat, lignin, selulosa, dan sebagian hemiselulosa, terutama yang berikatan.

Serat kasar dapat berfungsi mencegah penyakit tekanan darah tinggi. Serat ini akan mengikat kolesterol maupun asam empedu dan selanjutnya membuangnya bersama kotoran. Keadaan ini dapat dicapai jika makanan yang dikonsumsi mengandung serat kasar cukup tinggi. Meningkatkan asupan serat sebagaimana yang telah diatur dalam diet DASH dapat menurunkan tekanan darah .

Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian meta-analisis dari 24 penelitian secara acak, percobaan klinis terkontrol yang diterbitkan tahun 1966-2003 terhadap efek TD dari suplemen serat rata-rata 11,5 g per hari ditemukan bahwa TD rata-rata menurun sebanyak 1,1 / 1,3 mmHg. Efeknya lebih besar pada pasien yang lebih tua dan mengalami hipertensi. Pada percobaan terkontrol diantara 110 pasien hipertensi yang tidak diobati, 8 g serat yang larut air per hari selama 12 minggu menyebabkan penurunan TD sekitar 2,0/1,0 mmHg. Manfaat diet DASH dapat mencerminkan peningkatan 9-31 g serat per hari.

f. Rendah kolesterol dan Lemak Jenuh

(37)

Lemak jenuh bersifat menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah. Banyak penelitian menyatakan bahwa lemak jenuh dapat meningkatkan tekanan darah. Lemak jenuh banyak terdapat pada makanan yang berasal dari hewan, seperti daging (sapi, babi, kerbau, kambing), mentega, susu, keju, dan sebagian kecil dari tumbuh-tumbuhan (kelapa dan hasil olahannya). Sebaliknya, lemak tak jenuh dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol serum total, trigliserida darah dan meningkatkan kadar HDL. Dengan demikian, lemak tak jenuh dapat membantu untuk mencegah aterosklerosis. Bahan makanan yang mengandung lemak tak jenuh kebanyakan berasal dari tumbuh-tumbuhan (minyak jagung, minyak kedelai, minyak kacang tanah, minyak biji bunga matahari, minyak bunga mawar) dan sebagian kecil hewani (ikan dan minyak ikan).

g. Cukup Vitamin C dan E

Vitamin C dan E dapat digunakan sebagai antioksidan, mencegah tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Sumber vitamin C seperti daun singkong, mangga, jeruk, brokoli, sawi, dan jambu biji. Bulpitt (dalam Wirakusumah 2001) dari London berpendapat bahwa tekanan darah tinggi lebih banyak terjadi pada individu yang kekurangan vitamin C. Penelitian lain mengungkapkan pula bahwa lansia yang mengkonsumsi jeruk sebagai sumber tunggal vitamin C sebanyak dua kali sehari, memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibanding mereka yang mengkonsumsi sebanyak empat kali sehari. Lansia tersebut memiliki tekanan sistolik 11 poin lebih tinggi dan tekanan diastolik 6 poin lebih tinggi. Pada penelitian lain, Dr. Jacgues menyimpulkan bahwa kadar vitamin C yang rendah dalam darah dapat meningkatkan tekanan sistolik sekitar 16% dan tekanan diastolic sekitar 9% .

(38)

h. Rendah Kafein dan Alkohol

Sama halnya dengan kafein dalam kopi, alkohol yang dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Minuman yang umumnya mengandung alkohol seperti 12 ons bir , 4 ons anggur, atau 1,5 ons wiski, masing-masing mengandung kira-kira 10 hingga 12 ml alkohol.Jika dibandingkan dengan hasil yang sama pada individu yang tidak peminum dengan peminum berat yang terlihat pada angka kematian akibat penyakit jantung koroner, infark miokard, stroke iskemik, penyakit pembuluh darah perifer, kejadian disfungsi ginjal diabetes tipe 2, osteoporosis, gangguan kognitif ringan, dan demensia (Kaplan, 2006).

Sedangkan, tekanan darah orang yang mengonsumsi alkohol sebanyak dua sampai tiga minuman per hari akan naik sekitar 40% dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Risiko kenaikan tekanan darah akan naik sebesar 90% pada peminum alkohol yang melebihi tiga minuman per hari, serta dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh yang tidak dapat diperbaiki.

B. Diet Rendah Garam

Garam dalam diet rendah garam adalah garam natrium seperti yang terdapat di dalam garam dapur (NaCl) , soda kue, baking powder, natrium benzoat, dan vetsin. Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler tubuh yang mempunyai fungsi menjaga keseimbangan cairan dan asam basa tubuh, serta berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot.asupan makanan sehari – hari umumnya mengandung lebuh banyak natrium daripada yang dibutuhkan tubuh. Dalam keadaan normal, jumlah natrium yang dikeluarkan tubuh melalui urin sama dengan jumlah yang dikonsumsi sehingga terdapat keseimbangan.

(39)

1. Tujuan diet

Tujuan Diet Rendah Garam adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.

2. Syarat Diet

1. Cukup energi , protein, mineral, dan vitamin. 2. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.

3. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan/ atau hipeertensi.

3. Macam diet dan Indikasi pemberian

Diet Rendah Garam diberikan kepada pasien dengan edema atau asits dan/atau hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit dekompensasio kordis, sirosis hati, penyakit ginjal tertentu, toksemia pada kehamilan, dan hipertensi essensial. Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi, sesuai dengan keadaan penyakit dapat diberikan berbagai tingkat Diet Garam Rendah.

Diet Rendah Garam I (200 -400 mg Na)

Diet rendah garam I diberikan pada pasien dengan edeme , asites, dan/atau hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur. Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

Diet Rendah Garam II (600-800 mg Na)

Diet rendah garam II diberikan pada pasien dengan edema , asites, dan/atau hipertensi tidak terlalu berat. Pada pengolahan makanannya boleh menambahkan ½ sdt garam dapur (2 g). Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

Diet Rendah Garam III (1000-1200 mg Na)

Diet rendah garam III diberikan pada pasien dengan edema , asites, dan/atau hipertensi ringan. Pada pengolahan makanannya boleh menambahkan 1 sdt garam dapur (4 g).

(40)

Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sumber Kiarbohidrat Beras, kentang, singkong, terigu, tapioka , hunkwe, sardin;sumber protein yang diawetkan dengan garam

(41)

Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan

Buah-buahan Buah buahan segar Buah buahan yang diawet dengan garam dan ikan natrium seperti buah kaleng Lemak Minyak goreng, margarin,

dan mentega tanpa garam

Margarin dan mentega biasa

Minuman Teh dan kopi Minuman ringan

Bumbu Semua bumbu kering yg tidak diawetkan dan garam dapur sesuai ketentuan diet rendah garam.

Garam dapur melebihi ketentuan diet rendah garam, baking powder, soda kue , vetsin, dan bumbu yang mengandung garam seperti ; kecap, terasi, maggi, saos tomat, petis, dan tauco

C. Diet DASH (Diet Aprproach to Stop Hypertension)

DASH dianjurkan oleh JNHC 7 (2004) dan AHA (2006) untuk pencegahan dan manajemen hipertensi dengan prinsip banyak mengkonsumsi buah dan sayuran, susu rendah lemak dan hasil olahnya serta kacang-kacangan. Diet ini mengandung tinggi kalium, fosfor dan protein sehingga perlu dipertimbangkan untuk pasien dengan gangguan penurunan fungsi ginjal (Health, 2003).

(42)

Modifikasi gaya hidup yang penting yang terlihat menurunkan tekanan darah adalah mengurangi berat badan untuk individu yang obes atau gemuk; mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang kaya akan kalium dan kalsium; diet rendah natrium; aktifitas fisik; dan mengkonsumsi alkohol sedikit saja. Pada sejumlah pasien dengan pengontrolan tekanan darah cukup baik dengan terapi satu obat antihipertensi; mengurangi garam dan berat badan dapat membebaskan pasien dari menggunakan obat. Program diet yang mudah diterima adalah yang didisain untuk menurunkan berat badan secara perlahan-lahan pada pasien yang gemuk dan obes disertai pembatasan pemasukan natrium dan alkohol. Untuk ini diperlukan pendidikan ke pasien, dan dorongan moril.

DASH diteliti dengan pendekatan klinis untuk melihat pengaruh konsumsi pada tekanan darah pada subjek yang berusia 22 tahun keatas dan mempunyai tekanan darah sistolik < 160 mmHg dan diastolik 80 – 95 mmHg. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok yaitu 1) diet kontrol atau diet yang sama dengan apa yang dikonsumsi penduduk Amerika 2) diet kaya buah dan sayur, dan 3) diet kaya buah sayur, dan rendah lemak. Semua subjek diberikan makanan yang telah disiapkan sesuai dengan jenis diet dan mereka diminta untuk tidak makan makanan lain.

Jumlah natrium yang diberikan sama untuk semua kelompok yaitu 3000 mg/hari dan subjek diperkenankan untuk menambah natrium 500 mg/hari. Konsumsi alkohol dibatasi ≤ 2 kali per hari. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata sistolik turun 6 mmHg dan diastolik 3 mmHg pada kelompok III yang sekarang dikenal dengan diet DASH, sedangkan untuk kelompok II yaitu diet yang kaya buah dan sayur sistolik turun 3 mmHg dan diastolik turun 2 mmHg. Untuk subjek hipertensi I penurunan pada kelompok DASH lebih tinggi lagi yaitu 11 mmHg untuk sistolik dan 6 mmHg untuk diastolik.

(43)

yaitu 1) kelompok kontrol atau diet yang sama dengan apa yang dikonsumsi penduduk Amerika, dan 2) diet DASH. Desain penelitian adalah cross over, subjek pada kedua kelompok menerima 3000, 2400, dan 1500 mg natrium. Hasil penelitian menunjukkan 1) diet DASH menurunkan tekanan darah pada semua tingkat natrium, 2) penurunan natrium sampai tingkat yang direkomendasikan yaitu 2400 mg efektif untuk menurunkan tekanan darah pada semua subjek, 3) penurunan natrium dan diet DASH mempunyai pengaruh terbesar, kombinasi antara natrium 1500 mmHg dan diet DASH menurunkan tekanan darah 8,9/4,5 mmHg. DASH direkomendasikan oleh AHA (American Heart Association) untuk menurunkan tekanan darah dari dua hasil penelitian diatas. DASH terdiri dari 2400 mg atau 1500 mg sodium. Prinsip melaksanakan DASH adalah berubah secara bertahap, anggap daging sebagai bagian dari keseluruhan makanan, menggunakan buah atau makanan yang rendah lemak, kolesterol, dan energi sebagai makanan selingan (Harahap, 2009).

D. Kepatuhan Diet

1. Pengertian

Kepatuhan adalah tingkat perilaku pasien yang tertuju terhadap intruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk terapi apapun yang ditentukan, baik diet, latihan, pengobatan atau menepati janji pertemuan dengan dokter.

(44)

2. Faktor yang memengaruhi kepatuhan

Menurut Feuer Stein ada beberapa faktor yang mendukung sikap patuh, diantaranya :

 Pendidikan

Pendidikan adalah suatu kegiatan, usaha manusia meningkatkan kepribadian atau proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan penyempurnaan kehidupan manusia dengan jalan membina dan mengembangkan potensi kepribadiannya, yang berupa rohani (cipta, rasa, karsa) dan jasmani.

 Akomodasi

Suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian pasien yang dapat mempengaruhi kepatuhan. Pasien yang mandiri harus dilibatkan secara aktif dalam program pengobatan.

 Modifikasi faktor lingkungan dan sosial.

Membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman – teman sangat penting, kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu memahami kepatuhan terhadap program pengobatan.

 Perubahan model terapi .

 Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien.

 Suatu hal yang penting untuk memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi diagnosa.

(45)

dengan umur, jenis kelamin, lama praktek dan jumlah pasien per minggu dari dokter (Harahap,2009).

E.

Konseling Gizi

Salah satu upaya meningkatkan pengetahuan dan kemampuan individu atau keluarga tentang gizi yang dapat dilakukan melalui konseling. Konseling adalah suatu bentuk pendekatan yang digunakan dalam asuhan gizi untuk menolong individu dan keluarga memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya serta permasalahan yang dihadapi (Cornelia, et al., 2014).

Dalam melakukan konseling diperlukan hubungan timbal balik yang saling membantu antara konselor dengan klien melalui kesepakatan untuk bekerja sama , melakukan komunikasi , dan terlibat dalam proses yang berkesinambungan dalam upaya memberikan pengetahhuan , keterampilan , penggalian potensi , serta sumber daya. Pada proses konseling diharapkan dapat memberikan manfaat pada klien sebagai berikut :

1. Membantu klien untuk mengenali permasalahan kesehatan dan gizi yang dihadapi

2. Membantu kllien mengatasi masalah

3. Mendorong klien untuk mencari cara pemecahan masalah

4. Mengarahkan klien untuk memilih cara pemecahan yang paling sesuai baginya.

5. Membantu proses penyembuhan penyakit melalui perbaikan gizi klien a) Ciri-ciri konselor yang baik

Dalam upaya untuk mencapai tujuan konseling sangat diperlukan kemampuan dari seorang konselor . konselor yang baik memiliki ciri-ciri :

1) Menjaga hubungan baik sejak awal dengan klien karena klien akan lebih mudah berbicara dengan orang yang ramah

2) Berusaha untuk mengenali kebutuhan klien

(46)

4) Mendorong klien memberikan pemecahan masalah yang terbaik dalam situasi tertentu

5) Memberikan informasi tentang sumber daya yang diperlukan klin agar dapat mengambil kputusan yang baik.

b) Tatalaksana konseling gizi

Konseling gizi merupakan salah satu upaya untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencapai status gizi yang optimal. Konseling gizi diberikan oleh ahli gizi/ nutrisionist/ dietisien yang sudah sertifikasi dan disebut sebagai konselor gizi. Langkah – langkah konseling gizi adalah sebagai berikut (Cornelia, et al., 2014) :

1) Membangun dasar –dasar konseling meliputi : salam, perkenalan diri, menegnal klien, memahami tujuan, serta menjelaskan tujuan dan proses konseling.

2) Menggali permasalahn dengan cara assessment atau pengkajian gizimenggunakan antropometri, biokomia, klinis dan fisik, riwayat makan, serta personal.

3) Menegakkan diagnosa gizi

4) Intervensi gizi , pada langkah intervensi terdapat dua poin penting yang dilakukan yaitu :

 Memilih rencana, bekerjasama dengan klien untuk memilih alternatif upaya perubahan perilaku diet yang dapat diimplementasikan.

 Memperoleh komitmen

5) Monitoring dan evaluasi dengan menanyakan kembali apakah kesimpulan konseling dapat dimengerti oleh klien

6) Mengakhiri konseling

F.

Food recall 24- hours

(47)

adalah Food recall 24 jam. Food recall dibagi menjadi single food recall 24 jam dan repeated 24 hours recall.

1. Single Food Recall 24 jam

Memberikan informasi mengenai makanan dan minuman yang dikonsumsi responden selama 24 jam terakhir termasuk metode memasak dan suplementasi gizi. Food recall 24 jam dapat mengetahui rata-rata intake zat gizi populasi (jumlah sampel mewakili populasi &hari dalam seminggu proporsional) dan untuk konsultasi dapat menggambarkan pola makan secara kasar

 Kelemahan Metode Recall 24 jam 1. The Flat Slope Syndrome

2. Tidak dapat menggambarkan intake makanan sehari-hari bila hanya recall sehari

3. Ketepatan tergantung daya ingat

4. Petugas harus terampil menggunakan URT, mengenal cara pengolahan makanan

5. (Tidak tepat dilakukan saat hari pasaran, panen, dll. 6. Tidak tepat dalam estimasi ukuran porsi

 Keunggulan Metode Recall 24 jam

1. Mudah dilaksanakan serta tidak terlalu membebani responden 2. Biaya relatif murah dan relatif cepat

3. Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf

4. Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu, sehingga dapat dihitung zat gizi sehari 2. Repeated 24 Hours Recall

(48)

3. Langkah-Langkah Food Recall

 Responden diminta mengingat dan mendeskripsikan makanan dan minuman yang dikonsumsi dlm 24 jam terakhir

 Responden mengestimasikan ukuran makanan/minuman yang dikonsumsi, misalnya dengan menggunakan food models, foto, dll

(49)

G. Kerangka Konsep

Faktor- Faktor

yang mempengaruhi :

GAMBAR 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN

Keterangan :

: Faktor yang diteliti

: Faktor yang tidak diteliti

Usia

Jenis Kelamin

Kebiasaan Merokok

Status Gizi

Aktivitas Fisik

Stress

Sosial Ekonomi

Tekanan Darah Penderita Hipertensi

Intervensi konseling gizi

Diet Rendah Natrium

Diet DASH

Obat –obatan penurun tekanan

darah

(50)

H. Definisi operasional

TABEL 6 DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN

No. Nama Variabel Definisi Operasinal Cara dan penggunaan alat ukur Skala

1. Hipertensi Tekanan darah responden dengan sistol ≥ 90 mmHg

dan Diastol ≥ 140 mmHg Berdasarkan diagnose dokter. Ordinal

2. Tekanan darah

Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan oleh pompa jantung untuk menggerakkan darah ke seluruh tubuh diukur dengan nilai sistol dan diastol.

Melihat nilai klinis tekanan darah responden dan dibandingkan dengan klasifikasi hipertensi.

Rasio

3. Diet Rendah Natrium

Penerapan diet RG III yang diberikan kepada pasien

hipertensi melalui konseling dengan media brosur Konseling dengan media brosur Rasio

4. Diet DASH

Penerapan diet DASH yang diberikan kepada pasien yang tinggi akan sayur, buah, kacang-kacangan, dan produk rendah lemak kepada pasien hipertensi melalui konseling dengan media brosur

Konseling dengan media brosur Rasio

5. Usia Jumlah usia/ lama hidup seseorang diatas 40 tahun. Wawancara dan pencatatan pada

kuesioner Rasio

6. Jenis Kelamin Gender yang dimiliki seseorang yang mencirikan

(51)

No. Nama Variabel Definisi Operasinal Cara dan penggunaan alat ukur Skala

7. Kepatuhan

tingkat perilaku pasien terhadap baik diet pada diet RG berupa pengonsumsian garam dan garam Natrium sedangkan diet DASH dilihat dari kepatuhan terhadap prinsip diet DASH

Wawancara dan Form Recall 24 jam Ordinal

8. Asupan Natrium

Jumlah natrium yang dikonsumsi baik dari garam dapur, bahan makanan, atau garam yang digunakan untuk mengawetkan pangan dalam satuan miligram (mg).

Wawancara dengan form recall 24 jam dan diukur menggunakan rumus perkiraan garam atau tabel CKMI natrium dalam makanan

Rasio

9. Merokok Kebiasaan merokok / menghisap cerutu yang

diterjemahkan dengan jawaban “ya” atau “tidak” Wawancara dan kuesioner Ordinal 10. Status Gizi Nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) responden yang

terdiri atas kurus, normal, gemuk, dan obesitas.

Antropometri dengan timbangan dan

microtoise dalam menghitung IMT Ordinal 11. Asupan Sayur Jumlah asupan sayur per hari dalam satuan gram Menggunakan metode Food Recall 24

jam. Rasio

12. Asupan Buah Jumlah asupan buah per hari dalam satuan gram Menggunakan metode Food Recall 24

jam. Rasio

13. Asupan kacang -kacangan

Jumlah asupan kacang-kacangan per hari dalam satuan gram

Menggunakan metode Food Recall 24

jam. Rasio

14. Konsumsi obat Antihipertensi

Pernyataan konsumsi obat-batan antihipertensi

(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

A.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan Puskesmas Larangan Utara dan posbindu di wilayah Larangan, bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan besar penurunan tekanan darah, asupan natrium, dan asupan sayur buah pada penderita Hipertensi melalui penerapan diet Rendah Garam dan Diet DASH (diet approach to stop Hypertension), pada bulan Februari sampai dengan Mei 2017 . Tempat penelitian dipadukan antara kunjungan poli dan posbindu dilakukan karena adanya keterbatasan pengunjung pada poli gizi puskesmas larangan utara.

B.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat analisis dengan pengukuran di awal dan akhir,sedangkan dilihat dari segi desain penelitian ini dilakukan dengan pendekatan studi eksperimental dimana memberikan intervensi berbeda pada dua kelompok sampel. Dalam rancangan ini dilakukan random alokasi intervensi, kemudian dilakukan pengecekan tekanan darah, asupan natrium dan sayur buah (01) pada kedua kelompok tersebut dan diikuti intervensi konseling (X) pada kedua kelompok. Setelah 2 minggu dilakukan pengukuran kembali (02) pada kedua kelompok (Notoadmojo, 2010). Bentuk rancangan sebagai berikut :

Random

01 (Tekanan darah) RG 02 (Tekanan darah)

01 (Tekanan darah) DASH 02(Tekanan darah)

01 (Asupan Natrium) RG 02 (Asupan Natrium)

01 (Asupan Natrium) DASH 02(Asupan Natrium)

01(konsumsi sayur buah) RG 02 (konsumsi sayur buah)

01(konsumsi sayur buah) DASH 02(konsumsi sayur buah) Pengukuran Pengukkuran Sebelum Konseling Sesudah

Random

(53)

C.

Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok penderita hipertensi di wilayah Puskesmas Larangan Utara.

2. Sampel

Sampel adalah penderita Hipertensi Sekunder baik laki-laki maupun perempuan berusia minimal 40 tahun yang berdomisili di sekitar Puskesmas Larangan Utara untuk menentukan intervensi yang akan diberikan pada sampel. Adapun perhitungan penentuan besar sampel yang diambil sebagai berikut :

Keterangan : prevalensi hipertensi Indonesia 25,8%

Dibutuhkan paling sedikit 4 responden yang dipilih secara acak sederhana dari populasi. Dengan efek rancangan penelitian 2 kelompok, maka akan diperlukan 8 responden. Untuk menghindari ketidakvariasian data, maka dipilih derajat ketelitian 0,01, sehingga jumlah responden adalah 38 dan untuk dua kelompok diperlukan 76 responden. Akan tetapi pada akhir penelitian didapatkan 69 responden dikarenakan 9 responden mengundurkan diri dengan pembagian 35 responden kelompok rendah natrium dan 34 responden kelompok DASH.

Untuk penelitian ini ditetapkan kriteria inklusi dan eksklusi pada responden penelitian sebagai berikut :

a. Inklusi

1. Responden memiliki penyakit hipertensi

2. Responden sedang memeriksakan diri ke Puskesmas Larangan Utara

3. Responden mengonsumsi obat antihipertensi yang sama selama penelitian berlangsung berupa captopril.

(54)

D.

Cara Pengambilan Sampel

Sampel pada penelitian ini diambil dengan cara random alokasiyaitu teknik pengambilan sampel secara sederhana adalah setiap anggota atau unit dari populasi dan akan mendapatkan diet yang didapatkan dari hasil pengacakan. Pada poli gizi Puskesmas Larangan Utara diperoleh 36 responden, sedangkan 33 responden lainnya diperoleh dari Posbindu Larangan utara (posbindu semangka dan buncis).

E.

Pengumpulan Data

1. Alat pengumpulan data

Data dikumpulkan dengan menggunakan pendataan pemeriksaan tekanan darah dan kuesioner.

2. Data yang dikumpulkan

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder a. Data primer meliputi :

1) Data karakteristik sampel,Data karakteristik sampel yang meliputi jenis kelamin, usia, kebiasaan merokok, dan riwayat Hipertensi di keluarga sampel pada hari pertama penelitian setelah mendapatkan persetujuan,bahwa responden tersebut bersedia untuk menjadi sampel dalam penelitian.

2) Data asupan natrium dengan pengajuan pertanyaan melalui wawancara dan alat bantu kuisioner form recall yang menganalisa konsumsi asupan garam dapur (RI, 2014), bahan makanan, dan makanan yang diawetkan dengan proporsi perkiraan garam anggota rumah tangga yang berasal dar hidangan rumah tangga dihitung:

Keterangan :

ART ≥ 5 Tahun = 1 bagian garam ART < 5 tahun = 1/3 bagian garam

3) Data tekanan darah sampel sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi menggunakan alat pengukur tekanan darah untuk mengetahui besar pengaruh diet Hipertensi yang diberikan pada tekanan darah dengan satuan mmHg yang akan dibandingkan dengan literatur JNC7 report.

4) Data asupan sayur dan buah dengan menggunakan formulir recall 24-hours dan dietimasikan dalam satuan gram.

(55)

1. Data jumlah pasien hipertensi di Puskesmas Larangan Utara dan posbindu dalam tiga bulan berakhir dan tahun 2016.

2. Studi literatur dengan topik terkait sebagai literatur pembanding antara teori dan pelaksanaan penelitian di lapangan berupa buku maupun jurnal penelitian.

F.

Izin dan Etik Penelitian

Proses izin dan etik yang dilakukan sebelum pengumpulan data diuraikan sebagai berikut :

1. Melakukan kepengurusan ethical clearence penelitian ke bidang komisi etik institusi Poltekkes Kemenkes Jakarta II

2. Melakukan perizinan pada Puskesmas terkait untuk melakukan pengambilan data atau sampel di Puskesmas Larangan Utara.

3. Mengurus birokrasi surat – menyurat ke pihak Suku Dinas Kesehatan Kota Tangerang.

4. Berkoordinasi dengan pihak puskesmas dan enumerator yang telah ditentukan mengenai naskah penjelasan penelitian yang akan dilakukan

G.

Cara Pengumpulan Data

1. Persiapan Penelitian

Proses persiapan yang dilakukan sebelum pengumpulan data diuraikan sebagai berikut :

a. Mempersiapkan Formulir wawancara dan Formulir Kuesioner

b. Menjelaskan kepada respoden mengenai Inform Consent mengenai penelitian

c. Melakukan random alokasipada jenis konseling 2. Pelaksanaan Penelitian

a. Penelitian dimulai dengan memperkenalkan diri dan membacakan naskah penelitian . apabila responden setuju maka respondenakan menandatangani persetujuan setelah penjelasan (PSP) dan menerima anjuran diet Rendah garam/ DASH yang sudah melalui allocated random. Penelitian dilakukan oleh peneliti, dua enumerator mahasiswa gizi, serta pegawai puskesmas.

b. Enumerator telah diarahkan sebelum terjun melakukan konseling dan melakukan wawancara karakteristik, recall 24 jam, dan menjelaskan brosur diet.

Gambar

TABEL 1 KLASIFIKASI TEKANAN DARAH MENURUT JNC 7
GAMBAR 1 HUBUNGAN TEORITITIS ANTARA KEGEMUKAN DAN
TABEL 3 MODIFIKASI GAYA HIDUP DALAM MENGATUR TEKANAN DARAHTINGGI
TABEL 4 KOMPOSISI GARAM (NATRIUM ) DALAM MAKANAN DAN MINUMAN
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Berdasarkan Pengetahuan dan Kepatuhan Diet Penderita Diabetes Melitus di Poliklinik Gizi RSUD

poli gizi, 3 pasien tidak patuh dalam menjalankan penerapan diet yang diberikan. sehingga kadar glukosa darah dan berat badan belum

Kesimpulan: Penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan pengetahuan dengan perilaku manajemen hipertensi: aktivitas fisik dan diet DASH penderita hipertensi di

Terdapat perbedaan yang signifikan pada tekanan darah sistolik antara kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol setelah diberikan pendidikan kesehatan DASH,

Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) merupakan suatu modifikasi gaya hidup untuk penderita hipertensi dengan memakan makanan yang kaya akan buah-buahan,

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Diet Tinggi Serat Terhadap Tekanan Darah Pada penderita Hipertensi Hasil analisa menunjukkan ada pengaruh terapi diet tinggi serat terhadap tekanan

Hasil penelitian menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antar program manajemen diet terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang siginifikan pada kepatuhan diet, tekanan darah sistole dan diastole pada kelompok intervensi pada saat sebelum dan sesudah