Pandangan Islam Terhadap Jual Beli Kontemporer
MAKALAHDiajukan untuk memenuhi tugas Seminar Pendidikan Agama Islam (SPAI) yang diampu oleh Drs. H. Wahyu Wibisana, M.Pd
Disusun Oleh :
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU KOMPUTER
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015
Aan Agustan 1206000
Asep Zaenuri 1206003
Ditta Audia Roza 1200154
Endah Nursalehah 1200212
Fernaldy Akbar F 1206280
Isnaeni Rahmawati 1206350
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Pandangan Islam Terhadap Jual Beli Kontemporer” dengan baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dalam penyelesaian makalah ini. Khususnya untuk Bapak Drs. H. Wahyu Wibisana, M.Pd selaku Dosen mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam (SPAI).
Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan bernilai bagi pembaca dan penulis pada khususnya. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah diperlukan demi kesempurnaan penulisan makalah ini.
Bandung, Maret 2015
Penulis
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan Penelitian...2
D. Manfaat...2
BAB II KAJIAN TEORI...3
A. Pengertian Jual Beli...3
B. Rukun Jual Beli...3
C. Syarat Jual Beli...4
BAB III PEMBAHASAN...6
A. Sejarah Jual Beli...6
B. Hukum Jual Beli di Dalam Islam...9
C. Macam-macam Jual Beli...10
D. Perbandingan Fiqh Muamalat Klasik dan Kotemporer...11
BAB IV PENUTUP...14
A. Kesimpulan...14
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Zaman globalisasi sekarang ekonomi menjadi hal yang penting. Maju mundurnya negara pun ditentukan dari aspek ekonomi. Salah satu aktivitas ekonomi adalah jual beli. Jual beli kini mulai bermacam-macam bentuk transaksi dan barangnya. Beberapa cara transaksi kontemporer antara lain melalui online, rekening bersama, e-commerce, dan ATM.
Barang-barang yang diperjualbelikan zaman sekarang pun beraneka ragam diantaranya adalah barang elektronik, software, games, dan lain-lain. Semakin hari semakin banyak bentuk dan transaksi baru yang bermunculan. Hal ini perlu ada pembatasan agar tidak melampaui batas. Oleh karena itu perlu suatu aturan yang mengatur jual beli kontemporer ini.
Hal yang membahayakan dalam jual beli jika dibebaskan tanpa aturan adalah dapat membuat masyarakat menjadi jahiliyyah dan terpuruk. Kasus jual beli barang-barang terlarang dapat mengakibatkan masyarakat sakau dan lupa sang pencipta Allah SWT. Human trafficking kini menjadi hal yang menghantui bagi para pencari visa. Hal tersebut sangat berbahaya karena hak sebagai manusia dirampas juga melampaui batas.
umum, contohnya penimbunan BBM, penipuan online dan memonopoli harga. Munculnya bentuk baru alat pembayaran menjadi hal yang harus dipikirkan. Dalam kaitannya dalam kehidupan sehari-hari, kini terdapat alat pembayaran baru seperti pulsa, bitcoin, easycoin dan lain-lain juga harus diperhatikan. Hukum jual beli diperlukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Keseimbangan dalam masyarakat juga diperlukan agar tidak ada penyalahgunakan dalam jual beli.
Perbedaan nampak terlihat jika dibanding situasi perdagangan jual beli pada zaman Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan ekonom ulung yang mampu mengatur Islam di Madinah dengan meningkatkan pendapatan. Barang-barang yang diperjualbelikan lebih jelas dibandingkan zaman globalisasi seperti hewan ternak, baju, kebun dan lain-lain. Sedangkan untuk barang-barang pada zaman sekarang perlu hukum yang jelas. Alasan ini yang membuat kami mengangkat judul “Pandangan Islam terhadap Jual beli Kontemporer”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah jual beli?
2. Bagaimana hukum jual beli di dalam Islam? 3. Apa saja macam-macam jual beli?
4. Bagaimana perbandingan jual beli kontemporer dengan jual beli zaman Rasul?
C. Tujuan
berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian dari pembahasan makalah ini sebagai berikut :
4. Untuk mengetahui dan memahami perbandingan jual beli kontemporer dan jual beli zaman Rasul.
D. Manfaat
BAB II KAJIAN TEORI
A. Pengertian Jual Beli
Jual beli menurut bahasa artinya menukar sesuatu dengan sesuatu, sedang menurut syara’ artinya menukar harta dengan harta menurut cara-cara tertentu (‘aqad). Secara terminologi jual beli adalah suatu transaksi yang dilakukan oleh pihak penjual dengan pihak pembeli terhadap sesuatu barang dengan harga yang disepakatinya. Menurut syari’at islam jual beli adalah pertukaran harta atas dasar saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.
Jual-beli atau bay’u adalah suatu kegiatan tukar-menukar barang dengan barang yang lain dengan cara tertentu baik dilakukan dengan menggunakan akad maupun tidak menggunakan akad. Intinya, antara penjual dan pembeli telah mengetahui masing-masing bahwa transaksi jual-beli telah berlangsung dengan sempurna.
Pada masa sekarang, cara melakukan jual beli mengalami perkembangan. Di pasar swalayan ataupun mall, para pembeli dapat memilih dan mengambil barang yang dibutuhkan tanpa berhadapan dengan penjual. Pernyataan penjual (ijab) diwujudkan dalam daftar harga barang atau label harga pada barang yang dijual sedangkan pernyataan pembeli (kabul) berupa tindakan pembeli membayar barang-barang yang diambilnya.
B. Rukun Jual Beli
Dalam menetapkan rukun jual-beli, diantara para ulama terjadi perbedaan pendapat. Menurut lama Hanafiyah, rukun jual-beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkanpertukaran barang secara rida, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
Adapun rukun jual-beli menurut Jumhur Ulama ada empat, yaitu : 1. Bai’ (penjual)
3. Shighat (ijab dan qabul)
4. Ma’qud ‘alaih (benda atau barang)
C. Syarat Jual Beli
Transaksi jual-beli baru dinyatakan terjadi apabila terpenuhi tiga syarat jual-beli, yaitu : 1. Adanya dua pihak yang melakukan transaksi jual-beli.
2. Adanya sesuatu atau barang yang dipindahtangankan dari penjual kepada pembeli. 3. Adanya kalimat yang menyatakan terjadinya transaksi jual-beli (sighat ijab qabul).
Syarat yang harus dipenuhi oleh penjual dan pembeli adalah:
1. Agar tidak terjai penipuan, maka keduanya harus berakal sehat dan dapat membedakan (memilih).
2. Dengan kehendaknya sendiri, keduanya saling merelakan, bukan karena terpaksa. 3. Dewasa atau baligh.
Syarat benda dan uang yang diperjual belikan sebagai berikut: 1. Bersih atau suci barangnya.
Tidak syah menjual barang yang najis seperti anjing, babi, khomar dan lain-lain yang najis.
2. Ada manfaatnya.
Jual beli yang ada manfaatnya sah, sedangkan yang tidak ada manfaatnya tidak sah, seperti jual beli lalat, nyamuk, dan sebagainya.
3. Dapat dikuasai.
Tidak sah menjual barang yang sedang lari, misalnya jual beli kuda yang sedang lari yang belum diketahui kapan dapat ditangkap lagi, atau barang yang sudah hilang atau barang yang sulit mendapatkannya.
4. Milik sendiri.
Tidak sah menjual barang orang lain dengan tidak seizinnya, atau barang yang hanya baru akan dimilikinya atau baru akan menjadi miliknya.
BAB III PEMBAHASAN
A. Sejarah Jual Beli
Masyarakat yang masih primitif, kehidupannya masih sangat sederhana. Hal ini pernah dialami oleh nenek moyang kita. Mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara mengambil dan memanfaatkan barang yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Perkembangan peradaban manusia juga menggeser tujuan kegiatan produksi masyarakat. Semula, masyarakat memproduksi barang hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, lalu berkembang menjadi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan orang lain (untuk dijual). Selanjutnya, terjadilah perdagangan dengan cara tukar-menukar antara barang dengan barang lain yang dinamakan barter (pertukaran innatura).
Pertukaran barang dengan barang dapat terjadi jika syarat-syarat dapat dipenuhi. Syarat-syarat itu sebagai berikut.
a. Orang-orang yang akan melakukan pertukaran harus memiliki barang yang akan ditukarkan.
b. Orang-orang yang akan melakukan pada waktu yang sama.
c. Barang-barang yang akan dipertukarkan hams mempunyai nilai yang sama.
Karena menghadapi kesulitan dalam melakukan pertukaran barter, manusia terdorong untuk mencari cara pertukaran yang lebih mudah. Manusia mulai menggunakan uang barang dalam melakukan pertukaran. Contoh uang barang yaitu garam, senjata, dan kulit hewan.
Pada umumnya benda-benda yang digunakan sebagai uang barang oleh masyarakat setempat memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
a. Digemari oleh masyarakat setempat. b. Jumlahnya terbatas.
c. Mempunyai nilai tinggi.
Kesulitan pertukaran dengan menggunakan uang barang tersebut mendorong manusia untuk menetapkan benda yang dapat digunakan sebagai perantara tukar-menukar. Benda yang dianggap cocok sebagai alat tukar menukar adalah logam. Pada masa lalu, logam yang digunakan sebagai uang adalah emas atau perak. Mengapa masyarakat memilih emas atau perak sebagai alat perantara pertukaran? Alasannya sebagai berikut.
a. Emas dan perak merupakan barang yang dapat diterima oleh semua anggota masyarakat karena memiliki nilai yang tinggi dan jumlahnya langka.
b. Jika dipecah nilainya tetap (tidak berkurang). c. Tahan lama (tidak mudah rusak).
mengatasinya, pemilik emas dan perak cukup melakukan transaksi dengan menunjukkan bukti penyimpanan emas dan perak yang berupa surat bukti penyimpanan. Surat bukti penyimpanan tersebut dikeluarkan oleh lembaga yang menerima titipan emas dan perak. Lama kelamaan yang beredar dalam masyarakat adalah kertas sebagai tanda bukti penyimpanan emas dan perak tersebut. Di Indonesia, sekarang beredar uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan Bank Indonesia. Kedua jenis uang tersebut memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
a. Dapat Diterima OIeh Masyarakat Umum
Uang yang beredar di Indonesia diterima oleh masyarakat umum karena masyarakat percaya bahwa uang tersebut dapat digunakan sebagai alat tukar dan alat pembayaran.
b. Mudah Disim pan dan NiIainya Tetap
Uang yang beredar di Indonesia mudah disimpan. Bentuknya kecil sehingga praktis menyimpannya. Kalian dapat menyimpan uang di saku maupun di dompet karena ukuran uang tidak besar. Uang Rp l0.000,00 yang kalian simpan di saku selama seminggu tetap bernilai Rp.l0.000,00.
c. Mudah Dibawa ke Mana-mana
Uang kertas dan uang logam mudah dibawa ke mana-mana karena ukurannya kecil dan tidak berat. Namun demikian, jika kalian mempunyai uang logam cukup banyak agak berat untuk membawanya. Kalian dapat menukarkannya dengan uang kertas dengan nilai yang sama.
Jika kalian mempunyai selembar uang kertas ratusan ribu rupiah dan ingin menggunakannya untuk membeli buku seharga Rp20.000,00, kalian tidak mengalami kesulitan. Penjual buku akan memberikan uang pengembalian Rp80.000,00. Dengan demikian, selembar uang ratusan ribu rupiah tersebut dap dibagi tanpa mengurangi nilainya. Sepuluh lembar uang sepuluhan ribu rupiah sama nilainya dengan selembar uang ratusan ribu rupiah.
e. Jumlahnya Terbatas Seliingga Tetap Berharga
Uang kertas dan uang logam dicetak dengan jumlah terbatas untuk menjaga nilainya. Uang tersebut juga dibuat dan bahan khusus dan diberi ciri khusus sehingg sulit untuk dipalsukan.
f. Ada Jaminan
Uang yang beredar di Indonesia dijamin oleh pemerintah. Oleh karena itu, semua orang mau menerima uang sebagai alat pertukaran dan pembayaran yang sah. Uang kertas yang beredar merupakan uang kertas kepercayaan (fiduciary) atau uang tanda (token money). Disebut uang kepercayaan karena nilai bahan untuk membuat uang jauh lebih rendah daripada nilai yang tertera (tertulis) dalam uang. Uang kertas juga merupakan uang tanda, karena masyarakat bersedia menerima uang kertas dengan alasan terdapat tanda sah sebagai uang yang dikeluarkan oleh pemerintah.
B. Hukum Jual Beli di Dalam Islam
Berbagai macam bentuk jual beli tersebut harus dilakukan sesuai hukum jual beli dalam agama Islam. Hukum asal jual beli adalah mubah (boleh). Allah SWT telah menghalalkan praktik jual beli sesuai ketentuan dan syari’at-Nya. Dalam Surah al-Baqarah ayat 275 Allah SWT berfirman:
اﯜﺒِرلا َمَرَحَو َعْيَﺒْلا ُا َلَحَأَو
Artinya :
…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…(Q.S. al-Baqarah: 275)
Hukum-hukum Jual Beli :
1. Mubah (boleh), merupakan hukum asal jual beli;
2. Wajib, apabila menjual merupakan keharusan, misalnya menjual barang untuk membayar hutang;
3. Sunah, misalnya menjual barang kepada sahabat atau orang yang sangat memerlukan barang yang dijual;
4. Haram, misalnya menjual barang yang dilarang untuk diperjualbelikan. Menjual barang untuk maksiat, jual beli untuk menyakiti seseorang, jual beli untuk merusak harga pasar, dan jual beli dengan tujuan merusak ketentraman masyarakat.
C. Macam-macam Jual Beli
1. Klasifikasi Jual Beli dari Sisi Objek Dagangan
a. Jual beli umum, yaitu menukar uang dengan barang.
b. Jual beli ash-sharf atau Money Changer, yakni penukaran uang dengan uang. c. Jual beli muqayadhah atau barter. Yakni menukar barang dengan barang.
a. Jual beli Bargainal (Tawar-menawar). Yakni jual beli di mana penjual tidak memberitahukan modal barang yang dijualnya.
b. Jual beli amanah. Yakni jual beli di mana penjual mem-beritahukan harga modal jualannya. Dengan dasar jual beli ini, jenis jual beli tersebut terbagi lain menjadi tiga jenis lain:
Jual beli murabahah. Yakni jual beli dengan modal dan ke-untungan yang diketahui. Jual beli wadhi’ah. yakni jual dengan harga di bawah modal dan jumlah kerugian
yang diketahui.
Jual beli tauliyah. Yakni jual beli dengan menjual barang dalam harga modal, tanpa keuntungan dan kerugian.
c. Jual beli muzayadah (lelang). Yakni jual beli dengan cara penjual menawarkan barang dagangannya, lalu para pembeli saling menawar dengan menambah jumlah pembayaran dari pembeli sebelumnya, lalu si penjual akan menjual dengan harga tertinggi dari para pembeli tersebut.
Kebalikannya disebut dengan jual beli munaqadhah (obral). Yakni si pembeli menawarkan diri untuk membeli barang dengan kriteria tertentu, lalu para penjual berlomba menawarkan dagang-annya, kemudian si pembeli akan membeli dengan harga ter-murah yang mereka tawarkan.
3. Klasifikasi Jual Beli Dilihat dari Cara Pembayaran
a. Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran secara langsung.
b. Jual beli dengan pembayaran tertunda.
c. Jual beli dengan penyerahan barang tertunda.
d. Jual beli dengan penyerahan barang dan pembayaran sama-sama tertunda.
D. Perbandingan Fiqh Muamalat Klasik dan Kotemporer 1. Pengertian Muamalat Klasik
Secara sederhana, muamalat dapat diartikan sebagai pergaulan hidup tempat setiap orang melakukan perbuatan dalam hubungannya dengan orang-orang lain di sekitarnya. Sedangkan hokum muamalat dapat diartikan sebagai patokan atau aturan hokum yang mengatur hubungan hak dan kewajiban dalam hidup bermasyarakat.
hubungan kebendaan seperti pengertian benda dan macam-macamnya, hubungan manusia dengan benda yang menyangkut hak milik, pencabutan hak milik perikatan tertentu seperti jual-beli, utang piutang, sewa-menyewa dan sebagainya.
2. Pengertian Muamalat Kotemporer
Kata Muamalat berasal dari bahasa Arab yang secara etimologi sama dan semakna dengan al-mufa’alah (saling berbuat). Kata ini menggambarkan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dengan seseorang atau beberapa orang dalam memenuhi kebutuhan masing-masing. Sedangkan Fiqh Muamalat secara terminology didefinisikan sebagai hokum-hukum yang berkaitan dengan tindakan hokum manusia dalam persoalan keduniaan.
Fiqih Muamalat adalah pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat, mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil islam secara rinci.
Jenis-jenis muamalat terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Jenis Muamalat yang hukumnya ditunjuk langsung oleh Nash dengan memberikan batasan tertentu. Diantara persoalan tersebut adalah persoalan warisan dan keharaman riba. Hokum-hukum seperti ini bersifat permanen dan tidak dapat diubah dan tidak menerima perubahan
Secara bahasa kontemporer berarti pada waktu yang sama/semasa; sewaktu; pada masa kini; dewasa ini. Sedangkan Fiqh Muamalat Kontemporer adalah aturan-aturan Allah SWT yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kaitannya dengan ke harta bendaan dalam bentuk transaksi-transaksi yang modern.
3. Perbandingan Fiqh Muamalat Klasik dan Kontemporer
Berdasarkan pemaparan dan keterangan tentang fiqh muamalah klasik dan
kontemporer pada pembahasan sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai konsep kedua fiqh ini, yaitu:
a. Jika dilihat dari segi pengertiannya kedua kon fiqh muamalah ini tidak jauh berbeda yaitu sama membahas tentang bagaimana seseorang harus berprilaku dalam kehidupannya sehari-hari baik yang bersifat maaliyah maupun ghairu maaliyah, hanya saja dalam konsep fiqh muamalah kontemporer lebih disesuaikan dengan konteks kekinian dengan ditambah dengan kata-kata kontemporer
b. Secara prinsip kedua konsep ini masih memakai prinsip yang sama hanya saja pada fiqh muamalah kontemporer pemahamannya lebih diperluas dengan menyesuaikan berdasarkan konteks bisnis kontemporer juga.
c. Keduanya masih menggunakan sumber hukum yang sama yaitu berpedoman pada al-Qur’an dan perincian dari hadits Rasulullah serta pengembangan hukum secara kontekstual melalui ijtihad para ulama melalui berbagai metode, dan pada konsep fiqh muamalah kontemporer metode ini dipadukan dengan berbagai macam kecanggihan teknologi yang ada sehingga mampu menyesuaikan dengan perkembangan bisnis kontemporer yang semakin menjamur serta tidak melenceng dari konsep syari’ah yang telah ditentukan dalam al-qur’an, hadits maupun ijtihad tersebut
produk-produk akad baru seperti membahas tentang asuransi, bisnis Multi Level Marketing, transaksi saham, obligasi syari’ah dan berbagai produk-produk perbankan syari’ah.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Zaman globalisasi sekarang ekonomi menjadi hal yang penting. Maju mundurnya negara pun ditentukan dari aspek ekonomi. Salah satu aktivitas ekonomi adalah jual beli. Jual beli kini mulai bermacam-macam bentuk transaksi dan barangnya. Beberapa cara transaksi kontemporer antara lain melalui online, rekening bersama, e-commerce, dan ATM.
Hukum-hukum Jual Beli :
1. Mubah (boleh), merupakan hukum asal jual beli;
2. Wajib, apabila menjual merupakan keharusan, misalnya menjual barang untuk membayar hutang;
3. Sunah, misalnya menjual barang kepada sahabat atau orang yang sangat memerlukan barang yang dijual;
4. Haram, misalnya menjual barang yang dilarang untuk diperjualbelikan. Menjual barang untuk maksiat, jual beli untuk menyakiti seseorang, jual beli untuk merusak harga pasar, dan jual beli dengan tujuan merusak ketentraman masyarakat.
Perbandingan fiqh muamalah klasik dan kontempoter
1. Jika dilihat dari segi pengertiannya kedua kon fiqh muamalah ini tidak jauh berbeda yaitu sama membahas tentang bagaimana seseorang harus berprilaku dalam kehidupannya sehari-hari baik yang bersifat maaliyah maupun ghairu maaliyah, hanya saja dalam konsep fiqh muamalah kontemporer lebih disesuaikan dengan konteks kekinian dengan ditambah dengan kata-kata kontemporer
2. Secara prinsip kedua konsep ini masih memakai prinsip yang sama hanya saja pada fiqh muamalah kontemporer pemahamannya lebih diperluas dengan menyesuaikan berdasarkan konteks bisnis kontemporer juga.
muamalah kontemporer metode ini dipadukan dengan berbagai macam kecanggihan teknologi yang ada sehingga mampu menyesuaikan dengan perkembangan bisnis kontemporer yang semakin menjamur serta tidak melenceng dari konsep syari’ah yang telah ditentukan dalam al-qur’an, hadits maupun ijtihad tersebut
4. Dari segi objek kajian keduanya juga tidak ada perbedaan yaitu sama-sama membahas hubungan manusia yang bersifat maaliyah dan ghairu maaliyah akan tetapi pada pembahasan maaliyahnya terutama dari segi akad atau transaksi bisnis pada fiqh muamalah kontemporer lebih banyak pengembangan penciptaan produk-produk akad baru seperti membahas tentang asuransi, bisnis Multi Level Marketing, transaksi saham, obligasi syari’ah dan berbagai produk-produk perbankan syari’ah.
DAFTAR PUSTAKA
Ananta, Irwin. [2008]. Jual Beli Dan Hukum-Hukumnya, [Online]. Tersedia : https://irwin2007.wordpress.com/category/jual-beli-dan-hukum-hukumnya/ [12 Maret 2015]
Anonim. [2013]. Pengertian Jual Beli dan Ruang lingkupnya Menurut Islam, [Online]. Tersedia : http://basicartikel.blogspot.com/2013/04/pengertian-jual-beli-dan-ruang.html [12 Maret 2015]
Sutarto dkk [2008]. Ilmu Pengetahuan Sosial. PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri: Solo Aira [31 Mei]. Peran Fiqh Muamalah Klasik Dalam Bisnis Kontemporer, [Online].