• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENDAHULUAN DENGUE HAEMORAGIC FE (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PENDAHULUAN DENGUE HAEMORAGIC FE (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN DENGUE HAEMORAGIC

FEVER (DHF)

DI RUANG IGD RSUD KOTA BOGOR

Tugas Mandiri Keperawatan Gawat Darurat (KGD)

Disusun Oleh:

Ganda Juanda

18170000029

PROGRAM PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

(STIKIM)

(2)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh karena virus dengue yang termasuk golongan abrovirus melalui gigitan nyamuk Aedes Aegygti betina. Penyakit ini biasa disebut Demam Berdarah Dengue (Hidayat, 2006). Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue (arbo virus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aides aegypti.

Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue terutama menyerang anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak, disertai manifestasi perdarahan dan berpotensi menimbulkan renjatan/syok dan kematian (Amin & Hardi, 2013).

B. Penyebab

Virus dengue sejenis arbo virus (Arthropod borne viruses) artinya virus yang ditularkan melalui gigitan antropoda misal nyamuk aedes aegypti (betina). Infeksi yang pertama kali dapat memberi gejala sebagai dengue fever dengan gejala utama demam,nyeri otot/sendi.

(3)

C. Manifestasi klinik

1. Demam tinggi selama 5-7 hari

2. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit; ptechie, ekhimosis, hematoma 3. Epistaksis, hematemesis, melena, hematuria

4. Trombositopenia <100.000/ul

5. Mual, muntah, tidak nafsu makan, diare, konstipasi 6. Nyeri otot,tulang sendi,abdomen dan ulu hati 7. Sakit kepala

8. Pembengkakan sekitar mata

9. Pembesaran hati,limpa,dan kelenjar getah bening

10. Tanda – tanda renjatan ( sianosis,kulit lembab dan dingin ,tekanan darah menurun,gelisah, capillary refill lebih dari dua detik.

D. Klasifikasi

1. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positif, trombositopenia, dan hemokosentrasi.

2. Derajat II : Derajat I disertai perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain 3. Derajat III : Kegagalan sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin

lembab, gelisah.

4. Derajat IV : Renjatan berat, denyut nadi, dan tekanan darah tidak dapat diukur. Yang disertai dengan Dengue Shock Sindrom. (Suriadi dan Rita Yuliani, 2006).

E. Patofiologi

1. Virus Dengue akan masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus antibodi, dalam sirkulasi akan mengaktifasi sistem komplemen. Akibat aktifasi C3 danC5 akan dilepas C3a dan C5a, 2 peptida berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.

2. Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protrobin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen ) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

3. Yang menentukan beratnya penyakit adalah permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik, Renjatan terjadi secara akut.

(4)

hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. (Suriadi dan Rita Yuliani, 2006).

(5)

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Darah lengkap : hemokosentrasi (hematokrit meningkat 20 % atau lebih), trombositopenia (100.000/mm3 atau kurang)

2. Serologi uji HI (hemoglutination inhibition test)

3. Rontgen toraks : efusi pleura. (Suriadi dan Rita Yuliani, 2006). H. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan untuk klien Demam Berdarah Dengue adalah penanganan pada derajat I hingga derajat IV.

1. Derajat I dan II

 Pemberian cairan yang cukup dengan infus RL dengan dosis 75 ml/kg BB/hari untuk anak dengan berat badan kurang dari 10kg atau bersama diberikan oralit, air buah atau susu secukupnya, atau pemberian cairan dalam waktu 24 jam antara lain sebagai berikut :

a. 100 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 kg b. 75 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 26-30 kg c. 60 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 kg d. 50 ml/kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 kg  Pemberian obat antibiotik apabila adanya infeksi sekunder  Pemberian antipieritika untuk menurunkan panas.

 Apabila ada perdarahan hebat maka berikan darah 15 cc/kg BB/hari. 2. Derajat III

 Pemberian cairan yang cukup dengan infus RL dengan dosis 20 ml/kg BB/jam, apabila ada perbaikan lanjutkan peberian RL 10 m/kg BB/jam, jika nadi dan tensi tidak stabil lanjutkan jumlah cairan berdasarkan kebutuhan dalam waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk.

 Pemberian plasma atau plasma ekspander (dekstran L ) sebanyak 10 ml/kg BB/jam dan dapat diulang maksimal 30 ml/ kg BB dalam 24 jam, apabila setelah 1 jam pemakaian RL 20 ml/kg BB/jam keadaan tekanan darah kurang dari 80 mmHg dan nadi lemah, maka berikan cairan yang cukup berupa infus RL dengan dosis 20 ml/kg BB/jam jika baik lanjutkan RL sebagaimana perhitungan selanjutnya.

 Apabila 1 jam pemberian 10 ml/kg BB/jam keadaan tensi masih menurun dan dibawah 80 mmHg maka penderita harus mendapatkan plasma ekspander sebanyak 10 ml/kgBB/jam diulang maksimal 30 mg /kg BB/24 jam bila baik lanjutkan RL sebagaimana perhitungan diatas.

3. Derajat IV

(6)

 Apabila keadaan tensi memburuk maka harus dipasang. 2 saluran infuse dengan tujuan satu untuk RL 10 ml/kgbb/1jam dan satunya pemberian palasma ekspander atau dextran L sebanyak 20 ml/kgBB/jam selam 1 jam.

 Apabila keadaan masih juga buruk, maka berikan plasma ekspander 20 ml/kgBB/jam.

 Apabila masih tetap memburuk maka berikan plasma ekspander 10 ml/kgBB/jam diulangi maksimun 30 ml/kgBB/24jam.

 Jika setelah 2 jam pemberian plasma dan RL tidak menunjukan perbaikan maka konsultasikan kebagian anastesi untuk perlu tidaknya dipasang central vaskuler pressure atau CVP. (Hidayat A Aziz Alimul, 2008).

I. Fokus Pengkajian Keperawatan

Pengkajian pada anak dengan Penyakit infeksi Demam Berdarah Dengue Menurut Nursalam 2005 adalah :

1. Identitas pasien

Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua.

2. Keluhan utama

Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien Demam Berdarah Dengue untuk datang ke Rumah Sakit adalah panas tinggi dan anak lemah.

3. Riwayat penyakit sekarang

Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil, dan saat demam kesadaran komposmentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai dengan keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri uluh hati, dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manisfestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade 3 dan 4), melena, atau hematemesis.

4. Riwayat penyakit yang pernah diderita

Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada Demam Berdarah Dengue, anak bisa mengalami serangan ulangan Demam Berdarah Dengue dengan tipe virus yang lain. 5. Riwayat imunisasi

Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.

6. Riwayat gizi

(7)

dan napsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut, dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.

7. Kondisi lingkungan

Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar).

8. Pola kebiasaan

 Nutrisi dan metabolisme: frekuensi, jenis, pantangan, napsu makan berkurang, napsu makan menurun.

 Eliminasi atau buang air besar.Kadang-kadang anak mengalami diare atau konstipasi. Sementara Demam Berdarah Dengue pada grade III-IV bisa terjadi melena.

 Eliminasi urine atau buang air kecil perlu dikaji apakah sering kencing sedikit atau banyak sakit atau tidak. Pada Demam Berdarah Dengue grade IV sering terjadi hematuria.

 Tidur dan istirihat. Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit/nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.

 Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang terutama untuk membersikan tempat sarang nyamuk Aedes Aegypti.

 Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk menjaga kesehatan.

9. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan atau (grade) Demam Berdarah Dengue, keadaan fisik anak adalah sebgai berikut:

 Grade I : kesadaran komposmentis, keadaan umum lemah, tanda-tanda vital dan nadi lemah.

 Grade II : kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, dan perdarahan spontan petekie, perdarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil dan tidak teratur.

 Grade III : kesadaran apatis, somnolent, keadaan umum lemah, nadi lemah, kecil dan tidak teratur, serta tensi menurun.

(8)

10. Sistem integumen

 Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin, dan lembab.

 Kuku sianosis/tidak

 Kepala dan leher. Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy), mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade II, III, IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami hiperemia pharing ( pada Grade II, III, IV).

 Dada: Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan ( efusi pleura), rales (+), Ronchi (+), yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.

 Abdomen: Mengalami nyeri tekan, Pembesaran hati (hepetomegali), asites.  Ekstremitas: Akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.

J. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan yang muncul

1. Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler , perdarahan, muntah, dan demam.

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,muntah, tidak ada nafsu makan.

3. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus.

4. Nyeri Akut b/d Agen injuri fisik (DHF), viremia, nyeri otot dan sendi.

5. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.

6. Resiko syok ( hipovolemik ) berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

(9)

INTERVENSI KEPERAWATAN

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

1.

Defisit volume cairan

berhubungan

dengan

peningkatan permeabilitas

kapiler , perdarahan,

 Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB,BJ urine normal,HT normal

 Tekanan darah,nadi dan suhu tubuh dalam batas normal

 Tidak ada tanda dehidrasi,Elastisitas turgor kulit baik, membrane mukosa lembab,tidak ada rasa haus berlebihan. intake & output dalam 24 jam Turgor kulit Kelembaban membran mukosa

Ket :1. Sangat terganggu;2.Banyak terganggu; 3.Cukup terganggu; 4. Sedikit terganggu; 5. Tidak terganggu.

2.

Hidrasi

Indikator Saat dikaji Target Haus

Warna urin keruh Fontanel cekung

NIC :

Fluid management

Timbang popok/pembalut jika diperlukan

Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

Monitor status hidrasi ( kelembaban membrane

mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ) ;

jika diperlukan

Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan

( BUN, Hmt, osmolalitas urine )

Monitor vital sign

Monitor masukan makanan atau cairan dan hitung

intake kalori harian.

Kolaborasi pemberian cairan IV

Monitor status nutrisi

Berikan cairan

Berikan Diuretik sesuai interuksi

Berikan cairan IV pada suhu ruangan

Dorong masukan oral

Berikan penggantian nasogatrik sesuai output

Dorong keluarga untuk membantu pasien makan.

Tawarkan snack ( jus buah , buah segar )

Kolaborasikan dokter jika tanda cairan berlebih

muncul memburuk

(10)

Peningkatan suhu tubuh

Ket: 1=Berat 2=Cukup berat 3=Sedang 4=Ringan, 5=Tidak ada.

INTERVENSI KEPERAWATAN

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

2.

Nutrisi Kurang Dari

Kebutuhan Tubuh :

Factor yang berhubungan :

Kesulitan mengunyah atau

menelan

Kurang pengetahuan dasar

tentang nutrisi

Hilang nafsu makan

Mual dan muntah

Batasan karakteristik

Kurangnya minat terhadap

makanan

Rongga mulut terluka

Kelemahan otot yang

berfungsi untuk menelan

atau mnengunyah

NOC:

Status gizi; tingkat ketersediaan zat gizi untuk

memenuhi kegiatan metabolic

Status gizi: pengukuran biokimia; komponen

dan kimia cairan yang mengindikasikan status

nutrisi

Status gizi: asupan makanan dan cairan; jumlah

makanan dan cairan yang dikonsumsi tubuh

dalam waktu 24 jam

Tujuan dan criteria evaluasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

x 24 jam :

Memperlihatkan status gizi: asupan makanan

dan cairan, yang dibuktikan indicator sebagai

berikut:

makanan lewat selang,

atau nutrisi parenteral

total

1.

Tentukan motivasi pasien untuk mengubah

kebiasaan makan

2.

Pantau nilai laboratotium, khususnya Hb, Ht,

albumin, dan elektrolit

3.

Ketahui makanan kesukaan pasien

4.

Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi

kebutuhan nutrisi

5.

Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan

asupan

6.

Timbang pasien pada interval yang tepat

7.

Ajarkan metode untuk perencanaan makan

8.

Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan

yang berizi dan tidak mahal

9.

Manajemen nutrisi: berikan informasi yang tepat

tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana

memenuhinya

(11)

Asupan cairan oral

atau IV

Ket : 1. Tidak adekuat 2. Sedikit adekuat;

3.Cukup adekuat 4. Adekuat 5. Sangat Adekuat

INTERVENSI KEPERAWATAN

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

3.

Hipertermia

berhubungan

dengan proses infeksi virus

Batasan karakteristik

Termolegulasi; keseimbangan antara produksi

panas, peningkatan panas dan kehilangan panas

TTV dalam batas normal

Tujuan dan criteria evaluasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

x 24 jam :

Pasien akan menunjukan termolegulasi yang

dibuktikan ,

Dengan indicator sebagai berikut:

Indikator

Saat

dikaji

Target

Peningkatan suhu kulit

Hipertermia

Dehidarasi

Sakit kepala

Denyut nadi radialis

Berkeringat saat panas

NIC :

Fever Treatment

1.

Pantau hidrasi (turgot kulit, kelembaban membran

mukosa)

2.

Monitor TTV

3.

Hentikan aktivitas fisik

4.

Kaji ketepatan jenis pakaian

5.

Pantau warna kulit dan suhu

6.

Pindahkan pasien ke lingkukangan lebih dingin

7.

Basahi permukaan tubuh dan kipasi pasien

8.

Monitor hasil laboratorium

9.

Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

10.

Anjarkan klien dan keluarga cara mengukur suhu

untuk mencegah dan mengenali secara dini

hipertermi

11.

Berikan antipiretik

12.

Berikan cairan intravena

(12)

Melaporkan

kenyamanan suhu

Note : 1. Gangguan ekstrem; 2. Berat; 3. Sedang;

4. Ringan 5. Tidak ada gangguan

INTERVENSI KEPERAWATAN

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

4.

Nyeri

Akut b/d Agen injuri

fisik (DHF), viremia, nyeri otot

dan sendi

Batasan karakteristik

Subjektif

Mengungkapkan secara verbal

atau melaporkan nyeri dengan

isyarat

Objektif

Posisi untuk menghindari

nyeri

Perubahan selera makan

Perubahan ekspresi misal :

gelisah, merinih, meringis,

menangis

Bukti nyeri dapat diamati

Gangguan tidur

NOC:

Tingkat kenyamanan : tingkat persepsi positif

terhadap kemudahan fisik psikologis

Pengendalian nyeri : tindakan individu untuk

mengendalikan nyeri

Tingkat nyeri : keparahan nyeri yang dapat

diamati atau dilaporkan

Tujuan dan criteria evaluasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

x 24 jam :Menunjukan tingkat nyeri

Ekspresi nyeri pada

wajah

Ketegangan otot

NIC :

Pain Management

1.

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif

meliputi lokasi, karakteristik, awitam durasi

frekuensi, kualitas, intensitas ,atau keparahan

nyeri dan factor presipitasinya

2.

Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan

3.

Minta pasien untuk menilai nyeri dengan skala

(1-10)

4.

Pengaturan posisi yang nyaman

5.

Terapi oksigen

6.

Monitor TTV

7.

Informasikan kepada pasien tentang prosedur

yang dapat menungkatkan nyeri dan tawarkan

strategi koping yang ditawarkan

8.

Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab

nyeri,

9.

Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis

(relaksasi, distraksi, terapi)

(13)

Durasi episode nyeri

Merintih dan menangis

Gelisah

Ket : 1. Sangat Berat; 2. Berat; 3. Sedang

4. Ringan; 5. Tidak ada

11.

Laporkan pada dokter jika tindakan tidak berhasil

INTERVENSI KEPERAWATAN

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

5.

Ketidakefektifan perfusi

jaringa perifer

berhubungan

dengan perdarahan .

Batasan karakteristik

Perubahan karakteristik kulit

Perubahan tekanan darah

pada ekstremitas

Kelambatan penyembuhan

Edema

Kulit pucat saat elevasi, dan

tidak kembali saat diturunkan

Perubahan suhu kulit

Nadi lemah atau tidak teraba

NOC:

Status sirkulasi; aliran darah yang tidak

obstruksi dan satu arah, pada tekanan yang

sesuai melalui pembuluh darah besar sirkulasi

pulmonal dan sistemik

Tujuan dan criteria evaluasi

Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama x24

jam :

Menunjukkan keseimbangan cairan, integritas

jaringan: kulit dan membrane mukosa dan perfusi

jaringan perifer yang dibuktikan oleh indicator

sebagai berikut :

Indikator

Saat

Target

NIC :

Peripheral Sensation Management ( Management

sensasi perifer )

1. Lakukan pengkajian komprehensif terhadap

sirkulasi perifer

2. Pantau tingkat ketidaknyamanan atau nyeri saat

melakukan latihan fisik

3. Pantau status cairan termasuk asupan dan haluaran

4. Pantau parestesia, kebas, kesemutan, hiperestesia

dan hipoestesia

5. Pantau tromboflebitis dan thrombosis vena

6. Ajarkan pasien atau keluarga untuk memeriksa

kulit setiap hari untuk mengetahui perubahan

integritas kulit letakkan ekstremitas pada posisi

menggantung, jika perluBeri obat nyeri, beritahu

dokter jika neri tidak kunjung reda

(14)

dikaji

Pengisian kapiler jari

Pengisian kapiler jari kaki

Suhu kulit ujung kaki dan

tangan

Kekuatan denyut nadi

Tekanan darah sistolik

Tekanan darah diastolik

Note : deviasi 1.Berat 2. Cukup berat; 3. Sedang;

4. Ringan 5. Tidak ada gangguan

atau antikoagulan, jika perlu

8. Lakukan modaitas terapi kompresi, jika perlu

9. Evaluasi ekstremitas yang terkena 20 derajat atau

lebih diatas jantung jika perlu

(15)

Daftar Pustaka

Amin, N.F. dan Hardhi. ( 2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 1. Yogyakarta : Media Action publishing.

Doenges, Marilyn. E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih bahasa I Made Kariasa. Jakarta: EGC North American Nursing Diagnosis Assosiation. 2001. Nursing Diagnosis: Deffinition and

Clasification, the assosiation. Philadelphia

www. nicnoc@ Harcourt.com.2000. Nursing Intervention Classification and Nursing Outcomes Clasification.

Silvya . 1995. Patofisiologi. Jakarta: EGC

Elizabeth, J, Corwin. (2009). Biku saku Fatofisiologi. EGC, Jakarta.

Hidayat, Aziz Alimul A. (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak jilid 2. Jakarta : Salemba Medika.

Johnson, M.,et all (2002) Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.

Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification (NIC) second Edition,

IOWA Intervention Project, Mosby.

NANDA, (2012) Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi. Nuzulul. (2009). Askep Appendicitis. Diakses

http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep%20Pencernaan Askep %20Apendisitis.html tanggal 09 Oktober 2017.

Referensi

Dokumen terkait

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang (y on y) di Jawa Tengah mulai tahun 2011 sampai dengan 2015 terhadap triwulan yang sama pada tahun sebelumnya

Muhammad As’ad, adalah cucu Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, penulis kitab Sabilal al-Muhtadin (Jalan- Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk) 5. Kemudian apabila dilihat dari

Dengan demikian, nikah lintas agama secara operasional dimaksudkan adalah pernikahan yang diselenggarakan oleh kedua belah pihak yang berlainan1. Bandingkan

Kesimpulan : Selama masa penelitian ditemukan 35 kasus baru tumor sinonasal di RSUD propinsi NTB, yang terdiri dari 40% tumor ganas, 20% tumor jinak dan 40% yang belum diketahui

Massa dalam komunikasi massa terjadi dari orang-orang yang heterogen yang meliputi penduduk yang bertempat tinggal dalam kondisi yang sangat berbeda dengan kebudayaan yang

Tingginya tingkat konsumsi produk rambut dan bulu mata palsu negara- negara Uni Eropa dan terus meningkatnya permintaan akan produk tersebut membuka peluang bagi

13) Dapat dipercaya : diantaranya adalah siswa jujur, mampu mengikuti komitmen, mencoba melakukan tugas yang diberikan, menjadi teman yang baik dan membantu orang

Menimbang : bahwa dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan bebas Fiskal Luar Negeri bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak