• Tidak ada hasil yang ditemukan

Migran dan Usahatani Hortikultura Upaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Migran dan Usahatani Hortikultura Upaya"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MIGRAN DAN USAHATANI HORTIKULTURA; UPAYA MEREDUKSI KEMISKINAN

DI KOTA AMBON

Felecia P. Adam dan Augst E. Pattiselanno

Fakultas Pertanian,Universitas Pattimura, Program Studi Agribisnis [email protected]

Abstrak

Maluku menjadi salah satu tujuan migrasi khususnya Kota Ambon. Dari 47 desa yang ada di kota Ambon, Waiheru merupakan desa yang cukup banyak menerima migran asal Bantaeng Sulawesi Selatan. Mereka ini adalah petani hortikultura yang mengelola usahataninya dengan cara memanfaatkan lahan berstatus sewaan dari masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) faktor penyebab migrasi (2) peran petani migran dalam ekonomi rakyat, (3) pemanfaatan remiten oleh keluarga migran di daerah asal. Metode yang digunakan adalah metode survey. Dari 100 KK populasi petani yang ada, secara acak diambil 20 KK sebagai responden. Data yang diperoleh adalah data primer maupun sekunder kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) faktor penyebab migrasi adalah motif ekonomi, terbatasnya lapangan pekerjaan, kondisi geografis daerah asal yang tidak mendukung. tersedianya lahan pertanian, usahatani hortikultura memiliki prospek yang baik, penduduk lokal tidak mengusahakan hortikultura sehingga migran dapat memanfaatkan peluang yang ada, ajakan teman/kerabat yang sudah terlebih dahulu bermigrasi, (2) petani migran berperan sebagai penyedia hortikultura bagi masyarakat Kota Ambon, bagian terbesar migran bergerak dalam usahatani hortikultura yang mana wilayah ini tidak dimasuki oleh petani lokal, dengan sistem sewa tanah jangka panjang migran dapat berkreasi mengatur dan memperkuat ekonomi keluarganya, (3) dapat mengirimkan uang kepada keluarga di daerah asal. Remiten ini sebagain besar digunakan untuk investasi, renovasi rumah serta dalam bentuk tabungan yang pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga sehingga mereka bisa terlepas dari jeratan kemiskinan .

Kata kunci : Migran, usahatani,kemiskinan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

(2)

pekerjaan, masyarakat pedesaan tidak memiliki akses terhadap potensi desa, dan terakhir didaerah tujuan tersedialapangan pekerjaan yang mampu memberikan pendapatan.

Lewis (2002) berpendapat bahwa proses pembangunan di negara-negara yang sedang berkembang terdapat dualisme kegiatan perekonomian, yaitu di sektor ekonomi subsisten (pertanian) di pedesaan, dan sektor ekonomi modern dengan tingkat prodiktivitas yang tinggi diperkotaan. Produktivitas yang tinggi di sektor industri modern, telah menghasilkan sektor ini memberikan kontribusi yang besar dalam mendorong laju pembangunan ekonomi. Sedangkan pada sektor pertanian dengan produktivitas yang relative rendah, telah menyebabkan terjadinya kelebihan tenaga kerja di sektor ini. Seiring dengan kondisi tersebut, pertambahan penduduk yang relative besar di pedesaan, menyebabkan luas lahan di sektor pertanian semakin sempit. Akibatnya tenaga kerja di sektor pertanian akan pindah ke sektor industri perkotaan. Di sisi lain dengan perkembangan yang pesat yang terjadi di sektor industri/kapitalis yang sangat terkonsentrasi di daerah perkotaan ini, mengakibatkan perbedaan upah antara sektor industri dan pertanian semakin besar. Kondisi ini pula yang menyebabkan terjadinya migrasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan.

Fenomena tersebut juga terlihat di Kota Ambon. Sebagai ibukota dari Provinsi Maluku, Kota Ambon merupakan salah satu tujuan migran dari kota – kota lain di Provinsi Maluku, bahkan juga dari daerah-daerah di luar Provinsi Maluku. Salah satu daerah yang banyak dihuni oleh para migran adalah Desa Waiheru Kecamatan Baguala kota Ambon. Migran yang masuk di Desa Waiheru kebanyakan berasal dari daerah Bantaeng, Sulawesi Selatan. Usahatani hortikultura dikembangkan dengan cara memanfaatkan lahan yang berstatus sewaan menjadikan Desa Waiheru sebagai salah satu kawasan agribisnis yang memiliki prospek cerah. Lahan tidur disepanjang jalan utama desa Waiheru dalam 10 tahun terakhir telah berubah menjadi kebun-kebun sayuran yang ditata dengan apik dan berkembang menjadi sentra produksi sayuran untuk memnuhi kebutuhan pasar di kota Ambon. Para migran ini tidak meninggalkaan budaya bertani dari daerah asal mereka sebagai petani sayuran. Mereka memanfaatkan kesempatan ini dengan baik karena budaya pertanian petani lokal cenderung mengusahakan tanaman perkebunan.

Keberhasilan usahatani antara lain dapat diukur dari tingkat pendapatan yang diperoleh. Besarnya pendapatan yang diperoleh merupakan balas jasa untuk tenaga kerja keluarga dan modal yang dipakai dalam pengelolaan usahatani. Demikian juga halnya dengan petani migran ini. Motif ekonomi menjadi alasan yang kuat alasan mereka bermigrasi. Pendapatan usahatani mereka mengalami peningkatan dibandingkan di daearah asal. Pendapatan ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan hidup baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder. Bahkan mereka dapat mengirimkan uang (remiten) kepada keluarga yang berada di daerah asal.

Remiten dalam konteks migrasi di negara - naegarasedang berkembang merupakan upaya migran dalam menjaga kelangsungan ikatan sosial ekonomi dengan daerah asal, meskipun secara geografis mereka terpisah jauh. Selain migran mengirim remiten karena secara moral maupun sosial mereka memiliki tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan (Curson, 1983).

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1. Apa saja faktor penarik dan faktor pendorong yang menyebabkan terjadinya migrasi? 2. Bagaimana pemanfaatan remitensi oleh keluarga migran di daerah asal?

3. Bagaimana usahatani hortikultura dapat mereduksi tingkat kemiskinan di kota Ambon?

(3)

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui faktor pendorong dan penarik yang menyebabkan terjadinya migrasi. 2. Mengetahui bagaimana pemanfaatan remitensi oleh keluarga migran di daerah asal. 3. Memperoleh alternatif lain dalam upaya mereduksi kemiskinan di kota Ambon

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Migrasi

Migrasi merupakan satu dari tiga komponen dasar demografi selain fertilitas dan mortalitas. Ketiga komponen ini mempengaruhi dinamika kependudukan di suatu wilayah. Ada dua dimensi yang perlu ditinjau dalam menelaah masalah migrasi, yakni dimensi waktu dan dimensi wilayah. Migrasi merupakan satu dari tiga komponen dasar demografi selain fertilitas dan mortalitas. Ketiga komponen ini mempengaruhi dinamika kependudukan di suatu wilayah. Ada dua dimensi yang perlu ditinjau dalam menelaah masalah migrasi, yakni dimensi waktu dan dimensi wilayah.

Lee (1995) mendefinisikan bahwa migrasi adalah perubahan tempat tinggal secara permanen atau semi permanen. Tujuan utama migrasi adalah meningkatkan taraf hidup migran dan keluarganya, sehingga umumnya mereka mencari pekerjaan yang dapat memberikan pendapatan dan status sosial yang lebih tinggi di daerah tujuan . Empat faktor yang menyebabkan orang mengambil keputusan untuk melakukan migrasi:

a. Faktor-Faktor yang terdapat di daearh asal b. Faktor-faktor yang terdapat di tempat tujuan c. Rintangan-rintangan yang menghambat d. Faktor pribadi

Di setiap tempat asal ataupun tujuan, ada sejumlah faktor positif yang menahan orang untuk tetap tinggal di daerah tersebut, dan ada pula yang menarik orang luar untuk pindah ke tempat tersebut. Ada pula sejumlah faktor negatif yang mendorong untuk pindah dari tempat tersebut, dan sejumlah faktor netral yang tidak menjadi masalah dalam keputusan untuk ber-migrasi.

Selanjutnya Lee juga menambahkan bahwa besar kecilnya arus migrasi juga dipengaruhi oleh faktor penghalang yang menghalangi seseorang untuk melakukan migrasi, seperti jarak, biaya yang tinggi, topografi yang tidak bagus dan terbatasnya sarana transportasi. Namun bagi sebagian orang, rintangan-rintangan tersebut bukanlah suatu kendala.

Faktor lain yang tidak kalah penting dalam menentukan keputusan ber-migrasi adalah faktor individu, yang menentukan apakah akan pindah dari tempat asal atau tidak, dan jika ingin pindah, daerah mana yang akan dituju. Semua itu merupakan hasil pertimbangan untung rugi dari pemikiran individu tersebut

Terkait teori ekonomi tentang migrasi, Todaro (1998) mendasarkan pemikirannya bahwa arus migrasi berlangsung sebagai akibat tanggapan terhadap adanya perbedaan pendapatan antara kota dan desa.

Definisi BPS telah memberikan batasan wilayah dalam definisi migrasi, yakni proses perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas wilayah adaministrasi yang dapat berupa desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi.

(4)

mobilitas penduduk non permanen adalah gerak penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuan. Mantra juga menyebutkan bahwa beberapa teori yang mengungkapkan mengapa orang melakukan mobilitas, diantaranya adalah teori kebutuhan dan stres. Setiap individu mempunyai beberapa macam kebutuhan ekonomi, sosial, budaya, dan psikologis. Semakin besar kebutuhan tidak dapat terpenuhi, semakin besar stres yang dialami. Apabila stres sudah melebihi batas, maka seseorang akan berpindah ke tempat lain yang mempunyai nilai kefaedahan terhadap pemenuhan kebutuhannya. Perkembangan teori migrasi demikian dikenal dengan model stress-treshold atau place-utility.

2.2. Usahatani

Ilmu usaha tani biasanya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu (Soekartawi,1995).

Menurut Bachtiar Rivai dalam Hernanto (1995), usahatani didefenisikan sebagai organisasi dari alam, kerja, dan modal yang di tujukan kepada produksi di lapangan pertanian.

Syarat penting yang harus di penuhi agar usaha yang di lakukan mampu menciptakan hasil produksi dan kemudian meraih pendapatan yang memuaskan adalah memiliki dan atau menguasai faktor produksi yang di perlukan, dengan jumlah yang semaksimal mungkin dan dengan kombinasi yang setepat mungkin. Yang termasuk dalam pengertian faktor produksi adalah: (a). kekayaan sumber daya alam seperti tanah, hewan, tumbuh-tumbuhan, serta kekayaan lainya di sekitar alam yang sudah tersedia bagi kepentingan manusia; (b). sumber daya manusia; (c) ketrampilan, baik ketrampilan dalam arti teknlogis, ketrampilan oganisatoris, maupun ketrampilan enterprenurial; (d) modal, dalam bentuk barang yang di pakai lagi dalam proses produksi atau dalam bentuk uang baik giral maupun kartal (Kadarsan,1995).

Menurut Hernanto (1995), ada 4 unsur pokok yang selalu ada pada suatu usaha tani atau yang lebih dikenal dengan sebutan faktor-faktor produksi, yaitu tanah, tenaga kerja, modal dan manajemen. Keempat factor ini harus dikelola secara efektif dan efisen untuk meningkatkan produksi dan selanjutnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani.

2.3. Remiten

Migrasi bukanlah fenomena baru dan itu adalah tindakan utama yang dilakukan melawan kemiskinan dan sebagian besar dampak langsung dari migrasi adalah pengiriman uang. Pengertian pengiriman uang yang sekarang dikenal dengan istilah remitansi pada mulanya adalah uang atau barang yang dikirim oleh tenaga kerja ke daerah asal, sementara tenaga kerja masih berada di tempat tujuan (Connell et.al dalam Effendi, 2004).

Namun kemudian definisi ini mengalami perluasan, tidak hanya uang, barang, tetapi keterampilan dan ide-ide baru yang juga digolongkan sebagai remitan bagi daerah asal. Keterampilan dan ide-ide baru sangat menyumbang pembangunan desanya seperti cara-cara kerja, membangun rumah, dan lingkungannya yang baik, serta hidup yang sehat. Studi tersebut juga menyebutkan bahwa di negara-negara sedang berkembang terdapat hubungan yang sangat erat antara migran dengan daerah asalnya, dan hal tersebut yang semakin memunculkan fenomena remitansi, dan studi mengenai remitan yang difokuskan pada tiga hal yaitu : (a) Faktor-faktor penentu remitan, (b) besarnya remitan, (c) pemanfaatan remitan.

(5)

dari daerah tujuan ke daerah asalnya. Remitansi terbagi dua yaituremitan dari migrasi internasional dan remitan dari migrasi internal (Fitranita, 2009). Dari segi ekonomi keberadaan remitan sangatlah penting karena mampu meningkatkan ekonomi keluarga dan juga untuk kemajuan bagi masyarakat penerimanya. Di samping sebagai salah satu instrumen perubahan ekonomi, remitan juga mempunyai dampak yang luas dalam kehidupan sosial maupun budaya bagi keluarga, masyarakat penerima dan daerah asalnya.

Cohen dan Sirkeci (2012) juga menyebutkan remitansi dalam konteks migrasi di Negara-negara sedang berkembang merupakan bentuk upaya migran dalam menjaga kelangsungan ikatan sosial ekonomi dengan daerah asal, meskipun secara geografis mereka terpisah jauh. Selain itu, migran mengirim remitansi karena secara moral maupun sosial mereka memiliki tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan.

2.4. Kemiskinan

Konferensi dunia untuk pembangunan sosial telah mendefinisikan kemiskinan bahwa kemiskinan memiliki wujud yang majemuk, termasuk rendahnya tingkat pendapatan dan sumberdaya produktif yang menjamin kehidupan berkesinambungan; kelaparan dan kekurangan gizi; rendahnya tingkat kesehatan; keterbatasan dan kurangnya akses kepada pendidikan dan layanan pokok lainnya; kondisi tak wajar dan kematian akibat pernyakit yang terus menigkat ; kehidupan bergelandang dan tempat tinggal yang tidak memadai; lingkungan yang tidak aman;serta diskriminasi dan keterasingan sosial. Kemiskinan juga dicirikan oleh rendahnya tingkat partisipasi dalam proses pengambilan keputusan dan dalam kehidupan sipil, sosial, dan budaya.

Pengertian kemiskinan bukan suatu hal yang mudah untuk dirumuskan. Faturochman (2000), menjelaskan bahwa kemiskinan sebagai gejala ekonomi akan berbeda dengan kemiskinan sebagai gejala sosial. Akan tetapi gejala kemiskinan dengan mudah dapat dikenali seperti kekurangan gizi, buta huruf, rentan terhadap penyakit, lingkungan yang kotor, kematian bayi yang tinggi, dan rendahnya angka harapan hidup. Konsep kemiskinan pada dasarnya dihubungkan dengan perkiraan jumlah pendapatan dengan jumlah kebutuhan minimum. Jumlah pendapatan minimum merupakan batas antara miskin dan tidak miskin atau dapat disebut dengan garis kemiskinan. Konsep ini lebih dikenal dengan kemiskinan absolut (mutlak). Pada sisi lain, jumlah pendapatan sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar minimum, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan kehidupan tetangga sekitar maka mereka masih tergolong miskin, konsep ini lebih dikenal dengan kemiskinan relatif. Dalam pembahasan kemiskinan, yang banyak digunakan adalah kemiskinan absolut yang ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan dasar minimum untuk pangan dan non pangan yang dari waktu ke waktu berubah jumlahnya.

Empat dimensi kemiskinan yang saling berkait menurut Chambers (1987) yaitu ;

(6)

ketidakmampuan mereka menghadapai kelompok elit dan para birokrat dalam menentukan keputusan yang menyangkut nasibnya, tanpa memberi kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya. 3) Kemiskinan merupakan masalah lemahnya ketahanan fisik karena rendahnya konsumsi pangan, baik kuantitas maupun kualitas sehingga konsumsi gizi mereka sangat rendah yang berakibat pada rendahnya produktivitas mereka, 4) Kemiskinan adalah masalah keterisolasian.

III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini di laksanakan selama tiga bulan di Desa Waiheru, Kecamatan Baguala Kota Ambon karena desa ini merupakan sentra produksi tanaman sayuran yang diusahakan oleh petani migran dari Bantaeng dengan tujuan komersil.

3.2. Sampel dan Data

Populasi petani sayuran di Desa Waiheru berjumlah 100 KK seluruhnya adalah migrant. Dalam penelitian ini sampel ditentukan secara acak terhadap 20 persen petani sehingga responden yang terjaring adalah 20 orang.

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden dan pengisian daftar pertanyaan (kuesioner), sebagai alat untuk mengumpulkan data dan pengamatan langsung dilokasi penelitian Sedangkan data sekunder diperoleh dari kantor desa dan instansi terkait berupa keadaan alam, kondisi sosial ekonomi dan sektor pertanian. Juga internet dan perpustakaan yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.4. Metode Analisis

Analisis yang digunakan adalah analisis diskriptif kualitatif. Analisis deskriptif dilakukan dengan tabulasi frekuensi distribusi, persentase dan grafik.. Analisis kualitatif dilakukan untuk menggali data migrasi angkatan kerja rumah tangga secara lebih mendalam, terutama faktor pendorong dan penarik migrasi serta manfaaat migrasi bagi ekonomi rumah tangga.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Faktor Penyebab Migrasi

4.1.1. Faktor pendorong di daerah asal

(7)

Tabel 1. Disribusi Responden Berdasarkan Alasan Bermigrasi (Faktor Pendorong)

Alasan Jumlah Responden Persentase

Terbatasnya lapangan pekerjaan

4 20

Rendahnya pendapatan usahatani

15 75

Tidak memiliki lahan 1 5

Total 20 100

Sumber : Analisis Data Primer

a. Terbatasnya lapangan pekerjaan

Terbatasnya lapangan pekerjaan menyebabkan mereka harus tetap bekerja mengelola usahataninya meskipun dalam kondisi yang pas-pasan. Pendidikan yang rendah menyebabkan mereka tidak bisa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang “lebih baik” dan dengan balas jasa yang lebih memadai.

b. Rendahnya pendapatan

Rendahnya pendapatan menjadi faktor utama para responden dalam mengambil keputusan untuk bermigrasi. Hal ini terkait dengan jenis pekerjaan yang dimiliki di daerah asal yaitu sebagai petani. Setelah bermigrasi ke Waiheru, para migrant ini tetap melanjutkan budaya bercocok tanam dengan mengelola usahatani sayuran. Mereka menyewa lahan tidur dalam jangka panjang dan kemudian menyulapnya menjadi kawasan agribisnis horikultura.

c. Tidak memiliki lahan

Para migrant ini ada yang tidak memiliki lahan di daerah asal dan mereka harus bekerja di luar sector pertanian dengan pendapatan yang rendah. Karena itu mereka memanfatkan jejaring yang telah terbentuk dan kemudian berpindah keWaiheru dan mengelola usahatani sayuran dengan prospek yang menjanjikan.

Alasan-alasan tersebut sangat berkaitan dengan pekerjaan mereka di daerah asal yang didominasi oleh usaha pertanian. Sektor pertanian memang merupakan sector yang banyak menyerap tenaga kerja sehingga jika tejadi kelebihan tenaga kerja namun tingkat pendidikannya rendah, maka akan terjadi transformasi mata pencaharian secara horizontal. Artinya jenis pekerjaannya berbeda namun masih berada pada tingkatan yang sama, dan memiliki pendidikan yang rendah.

(8)

Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Di Daerah Asal

Pekerjaan Jumlah Responden Persentase

Petani 9 45

Nelayan 3 15

Supir angkutan 2 10

Tukang/buruh bangunan 4 20

Tidak bekerja 1 5

Total 20 100

Sumber : Analisis Data Primer

Transformasi pekerjaan seperti ini dimungkinkan karena peluang pekerjaan masih sangat terbuka lebar. Jika pada saat di daerah asal terdapat 45 % responden yang tidak bekerja, namun pada saat ini seluruh responden mengusahakan tanaman sayuran. Mereka memanfaatkan peluang usaha pada sektor pertanian hortikultura yang tidak dimasuki oleh petani lokal yang lebih cenderung mengusahakan tanaman perkebunan. Strategi pembagian wilayah seperti ini dapat mengurangi konflik dengan petani lokal akibat kompetisi dalam lapangan usaha.

4.1.2. Faktor penarik di daerah tujuan

Faktor penarik bermigrasi adalah kesempatan kerja lebih tinggi (20 %) tingkat upah atau pendapatan yang lebih terjamin (50 %) serta faktor non ekonomi seperti keinginan memperoleh pengalaman hidup di kota (10) dan peningkatan status sosial (20 %) seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Disribusi Responden Berdasarkan Alasan Bermigrasi (Faktor Penarik)

Alasan Jumlah Responden Persentase

kesempatan kerja lebih tinggi 4 20

tingkat upah atau pendapatan

yang lebih terjamin 10 50

keinginan memperoleh

pengalaman hidup di kota 2 10

peningkatan status sosial 4 20

Total 20 100

Sumber : Analisis Data Primer

a. Kesempatan kerja lebih tinggi

(9)

keluarga mereka diboyong ke Waiheru. Pola ini kemudian membentuk rantai migrasi yang baru.

Terbukanya kesempatan kerja ditandai dengan masiih banyaknya lahan tidur pada desa-desa disepanjang jalan utama arah menuju bandara belum dimanfaatkan dan pasar komoditi sayuran yang menjanjikan. Hingga saat ini pengembangan usahatani sayuran mulai merambah ke desa-desa sekitar misalnya Nania, Hative Besar dan Tawiri. Petani migrant yang masuk ke daerah-daerah baru ini juga berasal dari Jawa dan Sulawesi Selatan.

b. Tingkat pendapatan yang lebih terjamin

Tujuan utama petani mengelola usahatani adalah untuk mendapatkan penerimaan sebesar-besarnya dengan menekan pengeluaran sehingga petani akan memperoleh pendapatan bersih yang tinggi. Menurut petani, penghasilan usahatani mereka meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan dengan di daerah asal. Karena itu mereka lebih memilih menetap dan mengelola usahataninya di Waiheru. Kebutuhan tenaga kerja di usahatani mereka dapat dipenuhi dengan mendatangkan anggota keluarga atau saudara dari Bantaeng.

Tingkat penghasilan rata-rata kategori rendah adalah Rp. 35.555.000/thn hingga Rp 42.859.000/thn. Jika dikonversi ke pendapatan per bulan maka kisarannya adalah Rp. 2.962.917/bln hingga Rp. 3.571.583. Untuk penghasilan rata-rata kategori sedang adalah Rp. 45.206.000 hingga Rp.52.113.000. Jika dikonversi ke pendapatan per bulan maka kisarannya adalah Rp.3.767.166 hingga 4.342.750. Sedangkan untuk penghasilan rata-rata kategori tinggi adalah Rp. 52.070.000 hingga Rp.60.915.000. Jika dikonversi ke pendapatan per bulan maka kisarannya Rp.4.339.166 hingga Rp.5.076.250.

Pendapatan yang diperoleh dimanfaatkan untuk membiayai kebutuhan hidup primer maupun sekundernya. Pola pemanfaatan hasil yang lain adalah para migrant ini dapat mengirimkan uang (remiten) kepada sanak keluarga mereka di daerah asal.

Tabel 4. Distribusi Pendapatan dan Pengeluaran Responden

PENGHASILAN (Rp/thn) PENGELUARAN (Rp/thn)

Kisaran JumlahResp. Persentase Kisaran JumlahResp Persentase

76.000.000 - 88.250.000 1 5 23.930.000 sd 27.335.000 6 30

62.500.000 - 75.750.000 10 40 17.294.000 sd 23.637.000 7 35

47.200.000 - 60.000.000 9 45 11.645.000 sd 17.141.000 7 35

Total 20 100 Total 20 100

(10)

4.2. Pemanfaatan Remitensi Oleh Keluarga Migran Di Daerah Asal

Beberapa studi menunjukkan bahwa besar kecilnya remitansi ditentukan oleh berbagai karakteristik migrasi maupun migran itu sendiri. Karakteristik tersebut mencakup sifat mobilitas atau migrasi, lamanya di daerah tujuan, tingkat pendidikan migran, penghasilan migran serta sifat hubungan migran dengan keluarga yang ditinggalkan di daerah asal.

Lamanya migran menetap (bermigrasi) di daerah tujuan mempengaruhi besarnyaremitansi yang dikirim migran ke daerah asal. Lucas et.al (1985) mengemukakan bahwasemakin lama migran menetap di daerah tujuan maka akan semakin kecil remitansi yang dikirimkan ke daerah asal. Adanya arah pengaruh yang negatif ini selain disebabkan oleh semakin berkurangnya beban tanggungan migran di daerah asal (misalnya anak-anak migrant di daerah asal sudah mampu bekerja sendiri), juga disebabkan oleh semakin berkurangnya ikatan sosial dengan masyarakat di daerah asal. Migran yang telah menetap lama umunnya mulai mampu menjalin hubungan kekerabatan baru dengan masyarakat/lingkungan di daerah tujuannya.

Pengaruh positif juga ditemukan antara pengahasilan migran dan remiten (Wiyono,1994). Remiten pada dasarnya adalah bagian dari penghasilan migran yang disisihkan untuk dikirimkan ke daerah asal. Dengan demikian, secara logis dapat di kemukakan semakin besar penghasilan migran maka semakin besar remiten yang di kirim ke daerah asal.

Besarnya remiten juga tergantung pada hubungan migran dengan keluarga penerima remiten di daerah asal. Keluarga di daerah asal dibagi atas dua bagian besar, yaitu keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak, serta keluarga diluar keluarga inti. Dalam konteks ini, Mantra (1994) mengemukakan bahwa remiten akan lebih besar jika keluarga penerima remiten di daerah asal adalah keluarga inti. Sebaliknya, remiten akan lebih kecil jika keluarga penerima remiten di daerah asal bukan keluarga inti.

Pengiriman uang (remiten ) ke keluarga di daerah asal dilakukan dengan berbagai cara, yaitu diantar langsung , titip tetangga atau saudara yang kembali ke daearah asal maupun ditransfer antar bank. Pengiriman uang ke daerah asal terjadi tidak secara rutin. Terdapat 55 persen responden yang mengirimkan uang ke daerah asal untuk orang tua atau saudaranya di daerah asal. Uang ini digunakan untuk membantu kehidupan sehari-hari maupun untuk

4.3. Upaya Mereduksi Kemiskinan di Kota Ambon

(11)

Data BPS menunjukkan bahwa di Kota Ambon masih terdapat orang miskin yang memerlukan upaya pemberdayaan. Salah satu factor yang bisa dikembangkan adalah melalui sektor pertanian. Sektor ini memiliki prospek yang cerah terutama di daerah pinggiran kota yang memiliki lahan tidur yang tidak dimanfaatkan.

Pola pemanfaatan lahan seperti yang telah dikembangkan oleh petani migrant di Desa Waiheru, dapat dijadikan alternative pemecahan masalah kemiskinan di Kota Ambon.

V. KESIMPULAN

1. Penyebab migrasi ada dua fator yaitu ;

a. Faktor pendorong di daerah asal ; terbatasnya lapangan pekerjaan, rendahnya pendapatan dan tidak memiliki lahan

b. Faktor penarik di daerah tujuan ; kesempatan kerja tinggi dan pendapatan lebih terjamin

2. Pemanfaatan remiten oleh keluarga di daerah asal untuk membeli tanah, renovasi rumah , biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Responden yang melakukan remiten adalah sebanyak 55 persen.

3. Upaya mereduksi kemiskinan di kota Ambon dapat dilakukan dengan cara pengembangan tanaman sayuran.

DAFTAR PUSTAKA

Chambers. 1987. Pembangunan Desa Mulai dari Belakang. LP3ES-UI. Jakarta

Curson, P. 1983. Remmitances and Migration-The Commerce of Movement. Population Demography. Vol. 3, April; 77-95

Faturochman dan Agus Dwiyanto.2000. Reorientasi Kebijakan Kependudukan. Aditya Media Yogyakarta.

Hernanto,1989. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta

Lee, Everett,S. 1995. Teori Migrasi-Seri Terjemahan. Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah mada. Yogyakarta

Mantra. 1994. Mobilitas Sirkuler dan Pembangunan di Daerah Asal. Warta Demografi : 33. Jakarta

(12)

Singarimbun Masri dan Sofyan Effendi, 1987. Metode Penelitian Survei. LP3S, Yogyakarta

Gambar

Tabel 1. Disribusi Responden Berdasarkan Alasan Bermigrasi(Faktor Pendorong)
Tabel 2.   Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Di Daerah Asal

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian dalam kesimpulan maka saran yang diajukan dalam penelitia ini adalah Sebagai Pemerintah Desa Pola Kecamatan Pasir Putih Kabupaten Muna, dalam proses

[r]

Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam upaya ini yaitu Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) rumah warga berupa pemeriksaan tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan

Pada hari ini Jumat, Tanggal Delapan Belas, Bulan Oktober, Tahun Dua Ribu Tiga Belas, yang bertanda tangan dibawah ini Kelompok Kerja Pengadaan Barang / Jasa pada Dinas

Kelompok Kerja Jasa Konsultansi ULP Kabupaten Pesisir Barat Surat-surat asli : Akta pendirian/perubahan perusahaan, SBU, SIUJK, SIUP, Situ/HO, TDP, Laporan Pajak tahunan tahun 2014,

The web mapping system developed for the EXPAH project is a prototype of a possible model to disseminate scientific results in this field, providing a sight into impacts of

Variasi rasio Mo/Ni : 0/1, 1/0, 1/1, 2/1, dan 3/1 memberikan pengaruh pada karakter katalis yaitu menurunkan harga luas permukaan spesifik dan volume pori total, dan menaikkan

Metode Evaluasi : Pagu Anggaran Kualitas Maka dapat kami umumkan hasil sebagai berikut