KEBUDAYAAN
SKRIPSI
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Matakuliah Sosiologi
Oleh:
Pamela Sakina 135120201111096
Tiara Amelia 135120201111102
Adryan Dwi K. 135120207111004
Devina Maharani 135120207111046
Galuh Pandu L. 135120207111052
Astika Nurmadioni 135120207111058
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik
Universitas Brawijaya Malang
2013
KATA PENGANTAR
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “KEBUDAYAAN”.
Dalam upaya penyusunan tugas akhir ini penulis menyadari bahwa kelancaran penyusunan karya tulis ini adalah berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas akhir ini.
Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis telah berusaha menyajikan yang terbaik. Penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak.
Malang, 17 Desember 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Daftar Isi ………..ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ………..………..…..1
1.2 Rumusan Masalah …..………...2
1.3 Tujuan Penelitian …...………....2
1.4 Manfaat Penelitian ………...2
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kebudayaan ...4
2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 2.1.7 ...5
2.2 Globalisasi ...
BAB III PEMBAHASAN
3.1 ...
3.2 ...
3.3 ...
3.4 ...
BAB IV
5.1 Kesimpulan ………..……….
5.2 Saran .………..………..
DAFTAR PUSTAKA ………..
BAB I
PENDAHULUAN
Kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Masyarakat tidak mungkin tidak berhubungan dengan hasil-hasil kebudayaan. Setiap hari masyarakat melihat, mempergunakan, dan bahkan kadamg-kadang masyarakat merusak kebudayaan. Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan, dengan demikian tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Rasa saling menghormati dan menghargai akan tumbuh apabila antar sesama manusia menjujung tinggi kebudayaan sebagai alat pemersatu kehidupan, alat komunikasi antar sesama dan sebagai ciri khas suatu kelompok masyarakat. Kebudayaan berperan penting bagi kehidupan manusia dan menjadi alat untuk bersosialisasi dengan manusia yang lain dan pada akhirnya menjadi ciri khas suatu kelompok manusia. Manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan alat sebagai jembatan yang menghubungkan dengan manusia yang lain yaitu kebudayaan. Bagi bangsa Indonesia kebudayaan adalah salah satu kekuatan bangsa yang memilki kekayaan nilai beragam termasuk keseniannya. Kesenian rakyat adalah salah satu dari kebudayaan bangsa Indonesia yang tidak luput dari pengaruh globalisasi.
Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memeroleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Akibatnya negara tersebut selalu khawatir akan tergerus arus globalisasi dalam berbagai bidang khususnya kebudayaan. Globalisasi secara bertahap menghilangkan budaya asli suatu negara, terjadi erosi nilai-nilai suatu budaya, menurunkan rasa nasionalisme, dan patriotisme, hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong-royong, kepercayaan diri hilang, gaya hidup kebarat-baratan serta masalah dalam eksistensi kebudayaan daerah yang dapat kita lihat dari menurunnya rasa cinta terhadap kebudayaan yang menjadi jati diri bangsa. Sebagai generasi muda, kita seharusnya bisa menyeleksi mana yang baik dan bermanfaat untuk masa depan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan globalisasi dan kebudayaan? 2. Apa pengaruh globalisasi terhadap kebudayaan bangsa Indonesia?
4. Mengapa globalisasi dapat memengaruhi nilai-nilai budaya bangsa?
5. Dimana budaya bangsa dapat ditanamkan sehingga tidak terkikis oleh pengaruh globalisasi?
6. Bagaimana globalisasi memengaruhi kebudayaan asli bangsa Indonesia? 7. Bagaimana sikap generasi muda dalam menghadapi arus globalisasi?
1.3 Tujuan Penulisan
Ada beberapa tujuan dari penulisan makalah ini, diantaranya adalah: 1. Menjelaskan pengaruh globalisasi terhadap budaya bangsa Indonesia.
2. Menyebutkan pihak-pihak yang terlibat dalam penyebarluasan arus globalisasi. 3. Menjelaskan sebab-sebab masuknya arus globalisasi
4. Memaparkan cara-cara masuknya globalisasi kedalam kebudayaan asli bangsa Indonesia serta bagaimana menyikapinya.
5. Memberikan penjelasan kepada para generasi muda mengenai pentingnya kebudayaan termasuk bagaimana mereka harus bersikap dalam menghadapi arus globalisasi yang menggerus nilai-nilai budaya bangsa.
1.4 Manfaat Penulisan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kebudayaan
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia..
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan duniamakna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Beberapa pengertian budaya menurut para ahli:
1. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagaisuperorganic.
2. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
3. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.1
2.1.1 Fungsi Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota-anggotanya. Manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik di bidang spiritual maupun materiil. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut di atas, sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.
Masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Teknologi pada hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur, yaitu:
alamnya.
Keadaannya berlainan dengan masyarakat yang sudah kompleks, di mana taraf kebudayaannya lebih tinggi. Hasil karya manusia tersebut, yaitu teknologi, memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila mungkin menguasai alam. Perkembangan teknologi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Soviet Rusia, Perancis, Jerman dan sebagainya, merupakan beberapa contoh dimana masyarakatnya tidak lagi pasif menghadapi tantangan alam sekitar.
2.1.2 Unsur Kebudayaan Universal
Istilah ini menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal, yaitu dapat dijumpai pada setiap kebudayaan di manapun di dunia ini. Tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi transpor dan sebagainya).
2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya).
3. Sistem kemasyarakatan (sistern kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
4. Bahasa (lisan maupun tertulis).
5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya). 6. Sistem pengetahuan.
7. Religi (sistem kepercayaan).
2.1.3 Kebudayaan sebagai Sistem Norma
sebenarnya, disetujui atau tidak. Norma kebudayaan adalah seperangkat perilaku yang diharapkan suatu citra kebuadayaan tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap. Kejadian itu diteruskan kepada generasi penerus sebagai salah satu kebiasaan.
2.1.4 Etnosentrisme
Etnosentrisme bisa diartikan sebagai pandangan bahwa kelompoknya sendiri adalah pusat dari segalanya dan semua kelompok lain dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar kelompok sendiri. Secara bebas bisa dikatakan etnosentrisme adalah kebiasaan setiap kelompok untuk menganggap kebudayaan kelompoknya sebagai kebuadayaan yang paling baik. Kita mengasumsikan tanpa pikir atau argumen bahwa masyarakat kita merupakan masyarakat “progresif” sedangkan masyarakat di luar dunia “terbelakang”, kesenian kita indah, sedangkan kesenian lain aneh.
Etnosentrisme membuat kebuadayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik buruknya, tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain. Hal ini sering dinyatakan dalam ungkapkan orang-orang terpilih, ras unguul, penganut sejati, dsb.
2.1.5 Xenosentrisme
Istilah ini berarti suatu pandangan yang lebih menyukai hal-hal yang berbau asing. Xenosentrisme adalah kebailkan yang tepat dari etnosentrisme. Ada banyak kebanggaan bagi orang-orang tertentu ketika mereka membayar lebih mahal untuk barang-barang impor dengan asumsi bahwa segala yang datang dari luar negeri lebih baik.
2.1.6 Relativisme Kebudayaan
pandang mereka. Relativisme kebuadayaan juga bisa diartikan “segala sesuatu benar pada suatu tempat-tetapi tidak benar pada semau tempat”.2
2.2 Globalisasi
Globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal (Robertson, 1992K 396). Masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung di semua aspek kehidupan: politik, ekonomi, dan kultural. Cakupan saling-tergantungan ini benar-benar mengglobal. Kini orang dapat berbicara mengenai strukutur global hubungan politik, ekonomi, dan kultural yang berkembang melampau batas tradisional dan mngikat satuan masyarakat yang sebelumnya terpisah ke dalam satu sistem: sistem global.
Di bidang kultur terlihat kemajuan menuju keseragaman. Media massa, terutama TV, mengubah dunia menjadi sebuah “dusun global” (McLuhan, 1964). Informasi dan gambar peristiwa yang terjadi di tempat yang sangat jauh dapat ditonton jutaan orang pada waktu bersamaan. Suguhan pengalaman kultural yang sama itu (Olimpiade, konser rock sepak bola, dan sebagainya) menyatukan selera, presepsi dan pilihan mereka. Contoh kecenderungan globalisasi ini adalah jaringan TV (CNN) dan kotran (Herald Tribune). Aliran barang konsumsi serupa yang menjangkau seluruh penduduk dunia adalah Coca-Cola. Pergerakan penduduk – migrasi, pengiriman tenaga kerja keluar negeri dan pariwisata – memberikan peluang untuk mengenali pola kehidupan asing secara langsung. Muncul bahasa global. Bahasa inggris berperan sebagai alat komunikasi profesional di bidang iptek, bisnis, komputer, dan untuk komunikasi pribadi dalam bepergian. Tradisi kulutural pribumi atau lokal semakin terkikis dan terdesak sehingga menyebabkan kultus konsumen atau budaya massa model Barat menjadi kultur universal yang menjalar ke seluruh dunia.
Kedua, versi khusus dari proses homogenisasi global yang disebut kejenuhan. Tekanannya pada dimensi waktu. Makin pelan-pelan makin bertahap masyarakat pinggiran menyerap pola kultur barat, makin menjenuhkan mereka. Dalam jangka panjang, setelah melewati beberapa generasi maka bentuk, makna dan penghayatan kultur lokal akan lenyap di kalangan masyarakat pinggiran
Ketiga, kerusakan kultur pribumi dan krusakan kultur barat yang diterima. Bentrokan dengan nilai kultur pribumi makin merusak nilai kultur barat yang diterima.
Keempat, kedewasaan. Berarti penerimaan kultur barat melalui dialog dan pertukaran yang lebih seimbang ketimbang penerimaan sepihak. Masyarakat pribumi menerima unsur kultur Barat secara selektif; memperkayanya dengan nilai lokal tertentu; dalam menerima gagasan Barat, masyarakat pinggiran memberikan interpretasi lokal. Rakyat biasa pun penting perannya. Mereka memberi makna tersendiri dan mungkin mengubah unsur kultur impor itu serta memasukannya menjadi unsur kultur mereka sendiri. Hasil akhirnya adalah pencampuran kultur. 3
Maraknya media-media massa asing yang melanda ke berbagai kawasan dunia menunjukan betapa tingginya volume penyebaran budaya antarbangsa. Falsafah orang Jawa pada zaman dahulu adalah; “Wong Jawa kari separo, Wong Cina kari Sejodho, Wong Landa gela-gelo”, artinya: orang Jawa tinggal separo, orang Cina tinggal sejodoh, orang barat geleng-gelen kepala. Falsafah ini menunjukan betapa lemah sistem nilai kultural suatu bangsa, sehingga bangsa ini dengan mudah kehilangan jari diri atau kepribadiannya.
1http://kistiaulia18.blogspot.com/2013/03/kebudayaan-sosiologi.html
2 http://pengantar-sosiologi.blogspot.com/2009/04/bab-7-kebudayaan-dan-masyarakat.html
3Judul buku: Sosiologi Perubahan Sosial
Halaman: 101
Penulis: Piotr Sztompka
Tahun: 2008
Penerbit: Prenada, jakarta
4Judul buku: Pengantar Sosiologi
Halaman: 696
Penulis: Elly M. Setiadi & Usman Kolip
Tahun: 2011
BAB III
PEMBAHASAN
Berbicara tentang kebudayaan Indonesia yang ada dibayangan kita adalah sebuah budaya yang sangat beraneka ragam. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, hal inilah yang menyebabkan Indonesia memiliki kebudayaan yang beraneka ragam.
Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu bangsa merupakan keseluruhan hasil cipta, karsa, dan karya manusia. Indonesia sendiri sebagai Negara kepulauan dikenal dengan keberagaman budayanya, yang mana keanekaragaman itulah menunjukkan betapa pentingnya aspek kebudayaan bagi suatu Negara. Karena jelas bahwa kebudayaan adalah suatu identitas dan jati diri bagi suatu bangsa dan Negara.
3.1 Proses Perkembangan Budaya
Proses perkembangan budaya dapat terjadi melalui penetrasi. Penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
3.1.2 Penetrasi damai (penetration pasifique)
Penetrasi damai merupakan proses masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Contoh lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India masuk melalui proses yang damai yaitu melalui penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara yang jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.
Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi.
Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
3.1.2 Penetrasi kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat. Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa perkembangan kebudayaan Indonesia khususnya kebudayaan modern dimulai sejak bangsa Indonesia merdeka. Bentuk dari deklarasi ini menjadikan bangsa Indonesia tidak dalam pengaruh dan tekanan bangsa lain dengan budayanya. Dari sini bangsa Indonesia mampu menciptakan rasa dan karsa yang lebih sempurna sehingga mulailah berkembang kebudayaan modern bangsa Indonesia.
Dalam perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi berkembangnya sebuah kebudayaan diantaranya adalah faktor pengaruh budaya dari luar, apabila budaya asli ini tidak dapat mempertahankan eksistensinya maka budaya asli yang ada akan tergusur dan tergantikan dengan budaya asing yang baru tersebut. Pada saat ini kita semua dapat melihat bahwa bangsa Indonesia dalam situasi yang mengkhawatirkan, karena banyak sekali budaya asing yang masuk dan tidak tersaring sehingga mempengaruhi kebudayaan asli bangsa Indonesia.
3.2 Kondisi Sosial Budaya Indonesia
Kondisi sosial budaya Indonesia saat ini adalah sebagai berikut : 1. Bahasa
Dapat kita ketahui bahwa sampai saat Indonesia masih konsisten dan tetap berpegang teguh dalam satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa-bahasa daerah merupakan kekayaan plural yang dimiliki bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang kita. Bahasa merupakan salah satu unsur budaya yang terbentuk karena adanya komunikasi antara manusia Indonesia. Bahasa asing (Inggris, mandarin, dan lan sebagainya) belum terlihat begitu diminati dalam penggunaan sehari-hari, hanya mungkin pada acara saat seminar, atau kegiatan ceramah formal diselingi dengan bahasa Inggris sekedar untuk menyampaikan kepada penonton kalau penceramah mengerti akan bahasa Inggris.
2. Sistem teknologi
Tidak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan Indonesia. Perkembangan yang sangat terlihat adalah teknologi informatika. Dengan perkembangan teknologi ini tidak ada lagi batas waktu dan negara pada saat ini, apapun kejadiannya di satu negara dapat langsung dilihat di negara lain melalui televisi, internet atau sarana lain dalam bidang informatika. Sehingga, budaya-budaya luar mampu menyusup kedalam budaya asli Indonesia itu sendiri.
Kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih dalam situasi krisis, yang diakibatkan oleh tidak kuatnya fundamental ekonomi pada era orde baru. Kemajuan perekonomian pada waktu itu hanya merupakan fatamorgana, karena adanya utang jangka pendek dari investor asing yang menopang perekonomian Indonesia.
4. Organisasi Sosial
Bermunculannya organisasi sosial yang berkedok pada agama (FPI, JI, MMI, Organisasi Aliran Islam/Mahdi), Etnis (FBR, Laskar Melayu) dan Ras.
5. Sistem Pengetahuan
Dengan adanya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) diharapkan perkembangan pengetahuan Indonesia akan terus berkembang sejalan dengan era globalisasi.
6. Kesenian
Dominasi kesenian saat ini adalah seni suara dan seni akting (film, sinetron). Seni tari yang dulu hampir setiap hari dapat kita saksikan sekarang sudah mulai pudar, apalagi seni yang berbau kedaerahan. Kejayaan kembali wayang kulit pada tahun 1995 – 1996 yang dapat kita nikmati setiap malam minggu, sekarang sudah tidak ada lagi. Seni lawak model Srimulat sudah tergeser dengan model Overa Van Java, Pesbuker, dan lain-lain. Untuk kesenian nampaknya paling dinamis perkembangannya. Namun akibat perkembangan budaya yang sangat pesat menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang mulai melupakan kesenian asli bangsa Indonesia dan akhirnya banyak kesenian Indonesia yang diakui oleh pihak lain.
7. Sedang menghadapi suatu pergeseran-pergeseran budaya.
Hal ini mungkin dapat dipahami mengingat derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai budaya baru serta ketidakmampuan kita dalam membendung serangan itu dan mempertahankan budaya dasar kita.
Kebudayaan terus tumbuh dari generasi ke generasi dengan kuantitas dan kualitas yang semakin baik sehingga manusia sekarang hidup lebih maju dibandingkan nenek moyang karena kita tidak perlu memelajari terjadinya budaya tetapi secara langsung mengikuti taraf kebudayaan yang ada. Masyarakat dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami nusantara telah mengalami proses dipengaruhi dan mempengaruhi. Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah. Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung begitu cepat. Hanya dalam jangka waktu satu generasi banyak negara-negara berkembang telah berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan, padahal di negara-negara maju perubahan demikian berlangsung selama beberapa generasi. Pada hakekatnya bangsa Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh luar.
Kemajuan bisa dihasilkan oleh interaksi dengan pihak luar, hal inilah yang terjadi dalam proses globalisasi. Oleh karena itu, globalisasi bukan hanya soal ekonomi namun juga terkait dengan masalah atau isu makna budaya dimana nilai dan makna yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti. Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.
3.3 Kondisi Kebudayaan Bangsa Indonesia di Era Globalisasi
menghasilkan produk-produk kebudayaan itu sendiri. Hanya persoalannya, ide-ide dan pengetahuan masyarakat-masyarakat Indonesia juga mengalami perubahan-perubahan, baik karena faktor internal maupun eksternal.
Berikut dampak globbalisasi bagi masyarakat, antara lain: a) Pengaruh Positif dapat berupa :
1. Peningkatan dalam bidang sistem teknologi, Ilmu Pengetahuan, dan ekonomi.
2. Terjadinya pergeseran struktur kekuasaan dari otokrasi menjadi oligarki.
3. Mempercepat terwujudnya pemerintahan yang demokratis dan masyarakat madani
dalam skala global.
4. Tidak mengurangi ruang gerak pemerintah dalam kebijakan ekonomi guna
mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. 5. Tidak berseberangan dengan desentralisasi.
6. Bukan penyebab krisis ekonomi.
b) Pengaruh Negatif
1. Menimbulkan perubahan dalam gaya hidup, yang mengarah kepada masyarakat yang
konsumtif komersial. Masyarakat akan minder apabila tidak menggunakan pakaian yang bermerk (merk terkenal).
2. Terjadinya kesenjangan budaya. Dengan munculnya dua kecenderungan yang
kontradiktif. Kelompok yang mempertahankan tradisi dan sejarah sebagai sesuatu yang sakral dan penting (romantisme tradisi). Dan kelompok ke dua, yang melihat tradisi sebagai produk masa lalu yang hanya layak disimpan dalam etalase sejarah untuk dikenang (dekonstruksi tradisi/disconecting of culture).
3. Sebagai sarana kompetisi yang menghancurkan. Proses globalisasi tidak hanya
memperlemah posisi negara melainka juga akan mengakibatkan kompetisi yang saling menghancurkan.
4. Sebagai pembunuh pekerjaan. Sebagai akibat kemajuan teknologi dan pengurangan
biaya per unit produksi, maka output mengalami peningkatan drastis sedangkan jumlah pekerjaan berkurang secara tajam.
5. Sebagai imperialisme budaya. Proses globalisasi membawa serta budaya barat, serta
kecenderungan melecehkan nilai-nilai budaya tradisional.
6. Globalisasi merupakan kompor bagi munculnya gerakan-gerakan neo-nasionalis dan
7. Malu menggunakan budaya asli Indonesia karena telah maraknya budaya asing yang
berada di wilayah Indonesia.
Berbicara globalisasi dalam kebudayaan, yang terlintas adalah seberapa cepat globalisasi itu dapat berkembang dimana hal ini yang tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan informasi dalam segala aspek kehidupan. Namun, hal ini justru malah akan menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling membahayakan atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisasi dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kimoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini,setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran.
Indonesia merupakan negara yang dapat dikatakan sebagai negara yang kaya akan budayanya, dengan memiliki keragaman yang cukup bervariasi, dapat digunakan sebagai penambah indahnya khasanah sebuah negara. Namun, Indonesia harus tetap mampu mempertahankan eksistensi kebudayaannya. Apabila diulang kembali berbagai peristiwa yang terjadi, banyak kebudayaan Indonesia yang telah dirampas oleh negara-negara lain. Hal ini dapat membuktikan dengan jelas bahwa belum adanya kekuatan hukum yang kuat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tentang kebudayaannya. Sehingga akan menyebabkan kemudahan bagi bangsa lain untuk mengambil dan mengakuinya.
berbagai opini yang tidak jelas, yang nantinya akan melahirkan sebuah kebingungan di tengah-tengah berbagai perubahan yang berlangsung begitu rumitnya dan membuat pusing bagi masyarakatnya sendiri dan yang lebih memprihatinkan lagi, banyak kesenian dan bahasa Nusantara yang dianggap sebagai ekspresi dari bangsa Indonesia akan terancam mati. Sejumlah warisan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang sendiri telah hilang entah kemana. Padahal warisan budaya tersebut memiliki nilai tinggi dalam membantu keterpurukan bangsa Indonesia pada jaman sekarang.
Sungguh ironis memang apabila ditelaah lebih jauh lagi. Akan tetapi, kita tidak hanya mengeluh dan menonton saja. Sebagai warga negara yang baik, mesti mampu menerapkan dan memberikan contoh kepada anak cucu nantinya, agar kebudayaan yang telah diwariskan secara turun temurun akan tetap ada dan senantiasa menjadi salah satu harta berharga milik bangsa Indonesia yang tidak akan pernah punah.
Globalisasi juga memberikan dampak bagi kebudayaan Indonesia, Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi,dan Teknologi) mengakibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri.
Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Bahkan bila kita tinjau Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, dua puluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah. Namun saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII). Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut,bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya.
Anda dibandingkan dengan kau atau kamu sebagai pertimbangan nilai rasa. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda menggunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’, bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion. Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri yang ditransformasikan ke dalam sinetron-sinetron Indonesia.
Derasnya arus informasi yang juga ditandai dengan hadirnya internet turut serta menyumbang bagi perubahan cara berpakaian. Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend di lingkungan anak muda. Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan baik. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran.
Kebudayaan dari barat saat ini sudah mendominasi segala aspek kehidupan pada masyarakat Indonesia. Peradaban yang disebarkan oleh barat telah mengacu terhadap segala hal dan hal itu telah menguasai dunia tak terkecuali bangsa Indonesia, peradaban bangsa kita saat ini secara perlahan mulai mengikuti kebudayaan bangsa barat.
tidak mampu menahan berbagai pengaruh kebudayaan yang dating dari luar sehingga terjadi ketidakseimbangan di dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Adanya penyerapan unsure budaya dari luar yang dilakukan secara cepat dan tidak melalui suatu proses internalisasi yang mendalam dapat menimbulkan ketimpangan antara wujud yang ditampilkan dan nilai-nilai yang menjadi landasannya atau yang biasa disebut sebagai ketimpangan budaya. Setiap peradaban akan saling mempengaruhi. Peradaban yang dianggap lebih maju cenderung memiliki pengaruh yang lebih luas bagi peradaban-peradaban yang lain.
Budaya barat yang masuk ke Indonesia menimbulkan multi efek. Perkembangan teknologi dan masuknya budaya barat ke Indonesia, tanpa disadari secara perlahan telah menghancurkan kebudayaan bangsa Indonesia. Rendahnya pengetahuan menyebabkan akulturasi kebudayaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung didalam kebudayaan bangsa Indonesia. Masuknya kebudayaan barat tanpa disaring oleh masyarakat dan diterima secara mentah/apa adanya, mengakibatkan terjadinya degredasi yang sangat luar biasa terhadap kebudayaan asli.
Budaya asli Indonesia secara perlahan mulai punah, berbagai budaya barat yang menghantarkan kita untuk hidup modern yang meninggalkan segala hal yang tradisional, hal ini memicu orang bersifat antara lain sebagai sikap individualis, matrealistis dan hedonisme.
1. Individualis: Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk social. Individualisme adalah paham yang menghendaki kebebasan berbuat dan menganut suatu kepercayaan bagi setiap orang, paham yang mementingkan hak perseorangan di samping kepentingan masyarakat.
2. Matrialistis: Adalah sebuah faham dimana masyarakat memandang segalanya dari segi materi. Orang yang memiliki jabatan dan harta yang melimpah pasti akan lebih dihargai oeleh masyarakat sekitarnya, walaupun orang tersebut tidak memiliki intelektual yang bagus. Sebaliknya, orang yang memiliki intelektual tinggi tetapi tidak memiliki harta dan jabatan maka orang tersebut akan selalu direndahkan. Orang yang merasa dirinya kaya maka berhak merendahkan dan meremehkan orang yang miskin. Itulah yang sekarang terjadi dimasyarakat kita.
3. Konsumerisme: adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya. Di Indonesia hamper semua orang mempunyai kendaraan bermotor, televisi, computer dan sebagainya. Indonesia merupakan Negara pembeli motor Honda yang nomer satu didunia. Mulai dari pejabat hingga masyarakat kalangan menengah pun berbondong-bondong membeli dan menggunakan kendaraan bermotor untuk menunjang aktifitasnya. Misalnya saja yang terlihat dikampus kita, mahasiswa ,pegawai , dosen sebagian besar menggunakan kendaraan bermotor untuk ke kampus. Bandingkan saja dengan Negara yang lebih maju dari pada Indonesia, misalnya yang terjadi dinegara jepang. Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Bagaimana yang terjadi di kampus kita sungguh berbanding terbalik dengan hal itu, Rektor selalu menggunakan mobil mewah begitu juga dengan sebagian pegawai dan mahasisiwa. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas kedutaan yaitu mercy. Sungguh ironis, tapi itulah yang terjadi di masyarakat kita.
adalah satu-satunya motif yang memerintah manusia, dan beliau mengatakan juga bahwa kesenangan dan kesedihan seseorang adalah tergantung kepada kebahagiaan dan kemakmuran pada umumnya dari seluruh masyarakat. Adapun hedonisme menurut Burhanuddin (1997:81) adalah sesuatu itu dianggap baik, sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya. Disini jelas bahwa sesuatu yang hanya mendatangkan kesusahan, penderitaan dan tidak menyenangkan, dengan sendirinya dinilai tidak baik. Orang-orang yang mengatakan ini, dengan sendirinya, menganggap atau menjadikan kesenangan itu sebagai tujuan hidupnya. Orang-orang lebih senang menghabiskan waktu di tempat-tempat perbelanjaan dan tempat-tempat hiburan malam dari pada melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Pergaulan bebas, narkotika dan miras semakin digemari oleh generasi muda saat ini.
3.4 Solusi Mengadapi Pengaruh Negatif Peradaban Global
Globalisasi merupakan sebuah realita yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Globalisasi berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Persiapkan diri kita untuk menghadapi adanya globalisasi tanpa menghilangkan jati diri bangsa. Gunakan globalisasi melalui hal-hal positif. Gunakan teknologi sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat, menerima adanya budaya luar yang masuk ke negara kita tanpa melupakan budaya kita sendiri. Jadikan budaya luar sebagai motivasi untuk memajukan budaya Indonesia.
Untuk mengatasi pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkan karena adanya peradaban global dapat kita lakukan hal-hal seperti berikut:
1) Memperkuat jati diri bangsa (identitas nasional) dan memantapkan budaya nasional. Memperkokoh ketahanan nasional sehingga mampu menangkal penetrasi budaya asing yang bernilai negatif dan memfasilitasi adopsi budaya asing yang produktif dan bernilai positif.
memperkaya budaya bangsa, revitalisai dan reaktualisasi budaya-budaya local yang bernilai luhur.
3) Meningkatkan keimanan dan moralitas bangsa karena dengan adanya keimanan dan moralitas, maka pengaruh negatif dari globalisasi dapat diatasi. Kita dapat menjaring hal-hal yang baik dan buruk dari budaya luar yang masuk ke negara kita.
Dinamika sosial dan kebudayaan selalu melanda semua bangsa dan negara di dunia demikian pula tidak terkecuali melanda masyarakat Indonesia, walaupun luas permasalahan dan tingkat permasalahan itu berbeda-beda. Demikian pula masyarakat dan kebudayaan Indonesia pernah berkembang dengan pesatnya di masa lampau, walaupun perkembangannya dewasa ini bisa dikatakan lebih tertinggal apabila dibandingkan dengan perkembangan di negera maju lainnya. Bagaimanapun masalah yang dihadapi, masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang beranekaragam itu tidak pernah mengalami kondisi kehilangan kebudayaan sebagai perwujudan tanggapan aktif masyarakat terhadap tantangan yang timbul akibat perubahan lingkungan dalam arti luas maupun pergantian generasi.
Ada sejumlah kekuatan yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia. Secara umum ada dua kekuatan yang menyebabkan timbulnya perubahan sosial, hal yang pertama adalah kekuatan dari dalam masyarakat sendiri (internal factor), seperti pergantian generasi dan berbagai penemuan dan rekayasa setempat. Hal kedua, adalah kekuatan dari luar masyarakat (external factor), seperti pengaruh kontak-kontak antar budaya (culture contact) secara langsung maupun persebaran (unsur) kebudayaan serta perubahan lingkungan hidup yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang harus menata kembali kehidupan mereka .
BAB IV
KESIMPULAN & SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan pada pembahasan di atas maka kesimpulan yang dapat dipaparkan pada makalah ini adalah sebagai berikut :
Pertama, rakyat Indonesia yang pluralistik merupakan kenyataan, yang harus dilihat sebagai aset nasional, bukan resiko atau beban. Rakyat adalah potensi nasional harus diberdayakan, ditingkatkan potensi dan produktivitas fisikal, mental dan kulturalnya.
Ketiga, diperlukan penumbuhan pola pikir yang dilandasi oleh prinsip mutualisme, kerjasama sinergis saling menghargai dan memiliki (shared interest) dan menghindarkan pola pikir persaingan tidak sehat yang menumbuhkan eksklusivisme, namun sebaliknya, perlu secara bersama-sama berlomba meningkatkan daya saing dalam tujuan peningkatan kualitas sosial-kultural sebagai bangsa.
Keempat, membangun kebudayaan nasional Indonesia harus mengarah kepada suatu strategi kebudayaan untuk dapat menjawab pertanyaan, “Akan kita jadikan seperti apa bangsa kita?” yang tentu jawabannya adalah “menjadi bangsa yang tangguh dan entrepreneurial, menjadi bangsa Indonesia dengan ciri-ciri nasional Indonesia, berfalsafah dasar Pancasila, bersemangat bebas-aktif mampu menjadi tuan di negeri sendiri, dan mampu berperanan penting dalam percaturan global dan dalam kesetaraan juga mampu menjaga perdamaian dunia”.
Kelima, yang kita hadapi saat ini adalah krisis budaya. Tanpa segera ditegakkannya upaya “membentuk” secara tegas identitas nasional dan kesadaran nasional, maka bangsa ini akan menghadapi kehancuran.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Budiono Kusumohamodjojo. 2000. Kebhinekaan Masyarakat Indonesia. Jakarta: Grasindo. Burhanudin Salam. 1997. Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Harimanto, Winarno.2009. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara.
Syukur, Abdul et al. 2005. Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar. Jakarta: PT. Ichtiar Baru
Van Hoeve.
Staf Ensiklopedia Nasional Indonesia. 1989. Ensiklopedia Nasional Indonesia. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
Herimanto dan Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 2010.
Iljas, Mohamad. Pengantar Sosiologi. UNBRA-MALANG: Biro Penerbitan Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan.
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
http://kistiaulia18.blogspot.com/2013/03/kebudayaan-sosiologi.html
http://pengantar-sosiologi.blogspot.com/2009/04/bab-7-kebudayaan-dan-masyarakat.html
Judul buku: Sosiologi Perubahan Sosial
Halaman: 101
Penulis: Piotr Sztompka
Tahun: 2008
Penerbit: Prenada, jakarta
Judul buku: Pengantar Sosiologi
Halaman: 696
Penulis: Elly M. Setiadi & Usman Kolip
Tahun: 2011