I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ayam lokal merupakan salah satu potensi sumber daya genetik peternakan
yang mempunyai variasi genetik cukup tinggi. Ayam lokal merupakan aset yang
sangat berharga dalam pembentukan bibit unggul ayam lokal dan terbukti mampu
beradaptasi pada lingkungan setempat (Nataamijaya, 2000). Salah satu jenis ayam
lokal di antaranya adalah ayam Sentul yang merupakan ayam asli Kabupaten
Ciamis Provinsi Jawa Barat. Ayam Sentul dibedakan berdasarkan warna bulunya
menjadi lima jenis, yaitu: (Sentul abu) dengan ciri warna dominan abu-abu,
(Sentul batu) dengan ciri warna bulu abu keputih-putihan, (Sentul debu) dengan
ciri warna bulu seperti debu, (Sentul emas) dengan ciri warna bulu berwarna abu
keemasan, dan (Sentul geni) dengan ciri warna dominan abu-abu
kemerah-merahan (Sartika dan Iskandar, 2007).
Ayam lokal khususnya ayam Sentul sudah mendapat perhatian dan telah
berkembang secara komersial sampai ke bidang pembibitannya. Sebagai penghasil
daging, ternak ayam lokal mempunyai prospek yang baik, dikarenakan permintaan
akan daging ayam lokal semakin meningkat. Berdasarkan data yang diperoleh dari
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, (2013) menyatakan bahwa
populasi ayam kampung pada tahun 2009 sampai dengan 2013 berturut-turut
sejumlah 278.953.778 ekor, 291.085.191 ekor, 272.251.141 ekor, 243.423.389
ekor, dan 261.398.127 ekor.
Berdasarkan keanekaragaman genetiknya, ayam Sentul yang terdiri atas
(Sentul abu), (Sentul batu), (Sentul debu), (Sentul emas) dan (Sentul geni), dari
2
perbedaan tersebut diduga memiliki performans yang berbeda didapat dari
masing–masing turunan induknya. Salah satu performans produksi yang diduga
berbeda dilihat dari bobot badan. Sulandary, dkk., (2007) menjelaskan bahwa
bobot ayam Sentul jantan dewasa berkisar 1,3-3,5 kg dan sedangkan ayam Sentul
betina dewasa berkisar 0,8-2,2 kg. Bobot badan berperan penting dalam
pemeliharaan ternak unggas, dikarenakan dapat mempengaruhi tingginya indeks
produksi dalam pemeliharan ternak ayam dan menambah nilai jual ternak jika
dihitung menggunakan income over feed cost
Indeks produksi merupakan parameter yang penting untuk mengetahui
capaian produksi, pada pemeliharaan ayam dalam satu periode pemeliharan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi indeks produksi pada ayam meliputi bobot
badan ayam, konversi pakan, persentase ayam hidup serta lama pemeliharaan.
Sedangkan income over feed cost merupakan salah satu cara untuk mengetahui nilai ekonomis dalam pemeliharan ternak ayam yaitu, dengan cara menghitung
pendapatan dari hasil penjualan ayam yang dikurangi jumlah biaya pakan dalam
satu periode pemeliharaan ternak ayam.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan keanekaragaman genetiknya, ayam Sentul yang terdiri atas
(Sentul abu), (Sentul batu), (Sentul debu), (Sentul emas) dan (Sentul geni), diduga
memiliki performans yang berbeda yang diperoleh dari masing-masing induknya.
Oleh karena itu diduga dari lima jenis ayam Sentul dirumuskan permasalahan
3
1.2.1. Apakah ada perbedaan indeks produksi dan income over feed cost pada berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan.
1.2.2. Jenis ayam Sentul manakah yang mempunyai indeks produksi dan income over feed cost terbaik, pada berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan.
1.3. Hipotesis
1.3.1. Terdapat perbedaan indeks produksi dan income over feed cost pada berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan
1.3.2. Tidak terdapat perbedaan indeks produksi dan income over feed cost pada berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan.
1.4. Tujuan Penelitian
1.4.1. Mengetahui indeks produksi pada berbagai ayam Sentul periode
pertumbuhan
1.4.2. Mengetahui income over feed cost pada berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan.
1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1. Memberikan informasi ilmiah tentang indeks produksi dan
income over feed cost pada berbagai ayam Sentul pada periode pertumbuhan.
1.5.2. Sebagai informasi bagi peternak untuk mengetahui ayam Sentul
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ayam Sentul
Ayam Sentul adalah salah satu ayam lokal yang saat ini mulai populer
dipelihara oleh masyarakat Ciamis. Penampilan fisik ayam Sentul agak mirip
dengan ayam aduan (Bangkok), hanya variasi warna bulu serta bentuk jengger dan
pialnya sangat lebar (Soeparna, dkk., 2005). Salah satu ciri khas ayam Sentul
adalah warna bulunya didominasi oleh warna abu-abu baik pada jantan maupun
betina. Intensitas warna abu pada betina bervariasi dari abu kehitaman,
abu-abu tua, abu-abu-abu-abu muda dan sedikit warna coklat pada dada tetapi pada jantan,
variasi bulu tidak sebanyak seperti pada betina. Pada ayam Sentul Jantan
umumnya berwarna abu-abu disertai warna merah pada bagian leher, punggung
dan pinggul. Keanekaragaman genetik ayam Sentul mulai dari warna abu-abu
keputihan (Sentul abu), abu-abu kehitaman (Sentul batu), abu-abu (Sentul debu),
abu abu kekuningan (Sentul emas), dan abu-abu kemerahan (Sentul geni) (Sartika
dan Iskandar, 2007; Sartika, dkk., 2008).
Bobot badan ayam Sentul umur 20 minggu dapat mencapai 2,20 kg dan
1,60 kg bila dipelihara secara intensif. Bila dipelihara dengan cara ekstensif, bobot
badan jenis ayam tersebut hanya 1,60 kg dan 1,10 kg (Nataamijaya, dkk., 2003),
sedangkan menurut Diwyanto, dkk., (2011) menjelaskan bahwa ayam Sentul
mempunyai keunggulan yaitu sebagai penghasil daging dan telur (tipe dwiguna),
dengan bobot badan ayam Sentul jantan 3,5 kg dan ayam Sentul betina 0,8-2,2 kg,
sedangkan produksi telur 118 butir/tahun. Pada penelitian sebelumnya bobot
berbagai ayam sentul umur lima bulan, atau akhir periode pertumbuhan yaitu
sebesar 1,7 kg per ekor (Meyliyana, dkk., 2013).
2.2. Indeks Produksi
Indeks produksi merupakan ketentuan hasil dari bobot ayam dan
persentase ayam hidup dibandingkan dengan jumlah hari pemeliharaan dan
konversi pakan yang digunakan selama pemeliharaan (Santoso dan Sudaryani,
2009). Sedangkan menurut Fadilah, (2004) menjelaskan bahwa indeks produksi
dapat digunakan sebagai acuan berproduksi untuk menilai performans ternak
secara keseluruhan karena tidak hanya mempertimbangkan bobot badan akhir dan
konversi pakan, tetapi juga mempertimbangkan persentase jumlah ternak yang
hidup dan lama pemeliharaan.
Tinggi rendahnya indeks produksi dipengaruhi oleh bobot akhir, konversi
pakan, persentase ayam hidup dan lama pemeliharaan. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Arifien, (1997) menyatakan bahwa indeks produksi dipengaruhi bobot
badan akhir, konversi pakan, bobot akhir, persentase ayam hidup dan lama
pemeliharaan. Semakin tinggi nilai bobot badan akhir dan persentase ayam hidup
semakin tinggi pula nilai indeks produksi, apabila konversi pakan dan lama
pemeliharan semakin tinggi makan nilai indeks produksi semakin rendah.
Menurut Parkhust and Mountney, (1988) menjelasakan bahwa konversi
pakan merupakan unit pakan yang diperlukan untuk meningkatkan satu unit bobot
hidup. Sedangkan menurut Daud, (2005), menjelasakan bahwa semakin tinggi
nilai konversi ransum menunjukkan semakin banyak pakan yang dibutuhkan
untuk meningkatkan bobot badan persatuan berat. Demikian juga sebaliknya
6
semakin rendah nilai konversi pakan berarti kualitas pakan semakin baik. Faktor
lainnya yang menentukan tinggi rendahnya indeks produksi yaitu Persentase ayam
hidup. Persentase ayam hidup diperoleh dari perbandingan antara jumlah populasi
ayam yang hidup dengan jumlah pupolasi awal (Riza, 2009). Semakin tinggi
persentase ayam hidup maka peluang mendapatkan indeks produksi yang tinggi
semakin besar. Hangalapura, (2006) menjelaskan bahwa suhu panas yang ekstrim
atau dingin yang ekstrim dapat berpengaruh performans unggas dengan
mengurangi pertambahan bobot badan dan mengurangi produksi telur, juga
meningkatkan kematian dan peka terhadap penyakit.
2.3. Income Over Feed Cost
Income over feed cost merupakan perhitungan berdasarkan harga penjualan ayam yang dikurangi dengan jumlah biaya pakan yang dihabiskan
selama periode pemeliharaan (Yamin, 2008). Siregar, (2002) menjelaskan bahwa
income over feed cost adalah selisih pendapatan usaha peternakan dengan biaya pakan. Menurut Prawirokusumo, (1994) income over feed cost juga dipengaruhi oleh besarnya pendapatan dan biaya pakan yang dikeluarkan selama pemeliharan.
Supriyati, dkk., (2003) menambahkan bahwa pakan merupakan kebutuhan primer
dunia usaha peternakan di mana dalam budidaya ternak secara intensif biaya
pakan mencapai 70 % dari total biaya produksi, sehingga bahan pakan sangat
III. METODE PENELITIAN DAN ANALISIS
3.1. Metode Penelitian 3.1.1. Materi Penelitian
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam Sentul sejumlah
175 ekor, yang terdiri atas lima jenis ayam Sentul periode pertumbuhan.
Percobaan dilakukan pada 25 unit kandang percobaan, dimana setiap unit kandang
percobaan diisi 7 ekor ayam Sentul dengan pengulangan sebanyak 5 kali sehingga
melibatkan ayam sejumlah 175 ekor. Bahan dan peralatan yang digunakan
meliputi : a) Kandang liter sejumlah 25 unit terbuat dari bahan dasar bambu
dengan ukuran Panjang 1,5 m, Lebar 0,5 m dan Tinggi 1 m, b) Tempat pakan
ayam jenis mangkok sebanyak 3 buah pada tiap unit kandang dan tempat minum
jenis mangkok sebanyak 1 buah pada tiap unit kandangnya, jadi total seluruhnya
75 buah tempat pakan dan 25 buah tempat minum, c) Timbangan analitik
sejumlah 1 buah, d) Thermometer sejumlah 1 buah, e) Pakan ayam buras buatan
PT Welgro Feedmil, kode pakan (A 03915) dengan kandungan: Kadar Air
10-12%, Protein 11-13 %, Lemak 4-6 %, Serat Kasar 6-8 %, Abu 10-12 %, Ca
3.25-4 %, P 0,6-0,9 % dan Energi Metabolik (EM) 2050-2150 Kcal/Kg. Vitamin,
Vaksin dan obat-obatan, serta alat tulis.
3.1.2. Lokasi Peneltian
Penelitian ini dilaksanakan di Exferimental Farm Universitas Jenderal
Soedirman, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
3.1.3. Metode Penelitian
Penelitian indeks produksi dan income over feed cost ini menggunakan metode eksperimen.
3.1.4. Variabel yang diukur
Peubah yang diamati dalam penelitian ini yaitu indeks produksi dan
income over feed cost.
3.1.5. Rancangan Penelitian
Penelitian ini, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), sebagai
perlakuan terdiri atas lima jenis ayam Sentul periode pertumbuhan, yang meliputi:
Sa : Ayam Sentul Abu
Sb : Ayam Sentul Batu
Sd : Ayam Sentul Debu
Se : Ayam Sentul Emas
Sg : Ayam Sentul Geni
Model Matematik yang sesuai menurut Stell dan Torie (1993) adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL):
Yij =
μ + τ
i
+ ε
ij
Keterangan :Yij : Hasil pengukuran indeks produksi dan income over feed cost ayam Sentul ke - i dan ulangan ke - j
μ : Nilai tengah seluruh perlakuan
τi : Pengaruh ayam Sentul ke - i yang akan di uji pada ulangan ke - j εij : Kesalahan percobaan dari ayam Sentul ke - i pada ulangan ke - j i : Banyaknya perlakuan (1,2,3,4,5)
j : Banyaknya ulangan (1,2,3,4,5)
9
3.2. Metode Analisis
3.2.1. Definisi Operasional Variabel 3.2.1.1. Indeks Produksi
Indeks produksi merupakan ketentuan hasil dari bobot ayam dan
persentase ayam hidup dibandingkan dengan jumlah hari pemeliharaan dan
konversi ransum yang digunakan selama pemeliharaan (Santoso dan Sudaryani,
2009). Sebelum menghitung indeks produksi, dilakukakan terlebih dahulu
perhitungan bobot badan, peresentase ayam hidup dan konversi pakan berbagai
ayam sentul periode pertumbuhan. Konversi pakan dapat dihitung dengan
perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi ayam sampai umur pada saat
dipanen atau dipotong dengan pertambahan berat badannya (Siregar, dkk., 1980).
Persentase ayam hidup diperoleh dari perbandingan antara jumlah populasi ayam
yang hidup dengan jumlah populasi awal (Riza, 2009).
3.2.1.2. Income Over Feed Cost
Income over feed cost merupakan perhitungan berdasarkan harga penjualan ayam yang dikurangi dengan jumlah biaya pakan yang dihabiskan
selama periode pemeliharaan (Yamin, 2008).
3.2.2. Rumus 3.2.2.1. Indeks Produksi
Indeks produksi merupakan ketentuan hasil dari bobot ayam dan
persentase ayam hidup dibandingkan dengan jumlah hari pemeliharaan dan
10
2009). Sebelum menghitung indeks produksi, dilakukan perhitungan bobot akhir,
persentase ayam hidup dan konversi pakan.
1. Perhitungan Indeks Produksi (IP) (Santoso dan Sudaryani, 2009)
Indeks Produksi = Bobot Akhir x Persentase Ayam HidupKonversi Pakan x Lama Pemliharaan x 100 2. Perhitungan Persentase Ayam Hidup (Riza, 2009)
Persentase Ayam Hidup = Populasi Ayam HidupPopulasi Ayam Awal x 100 3. Perhitungan Konversi Pakan (Siregar, dkk., 1980).
Konversi Pakan = Jumlah konsumsi Pakan
Pertambahan Bobot Badan
3.2.2.2. Income Over Feed Cost
Pendapatan atas biaya pakan periode pertumbuhan.
Pendapatan = {bobot akhir ayam periode pertumbuhan (kg) x harga penjualan ayam periode pertumbuhan per (kg)}
Biaya pakan = {konsumsi pakan periode pertumbuhan (kg) x biaya pakan periode pertumbuhan per (kg)}
IOFC = {Pendapatan periode pertumbuhan} – {Biaya pakan periode
pertumbuhan}
3.2.3. Model Analisis
Model analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis
variansi. Analisis variansi dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang
diuji terhadap parameter yang diukur. Setelah data indeks produksi dan income over feed cost diperoleh, kemudian data ditabulasikan ke dalam tabel tabulasi data, lalu di analisis menggunakan analisis variansi. Setelah data penelitian diolah
11
(P>0,05) terhadap indeks produksi dan income over feed cost periode pertumbuhan.
3.2.4. Cara Pengujian Kriteria Penerimaan Hipotesis
Hipotesis diuji menggunakan anava yaitu dengan melihat nilai F hitung
pada tabel anava dengan F tabel. Apabila nilai F hitung < F tabel 0,05 berarti
perlakuan berpengaruh tidak nyata sehingga H 0 diterima dan H 1 ditolak.
Sebaliknya apabila nilai F hitung > F tabel 0,05 berarti perlakuan berpengaruh
sangat nyata sehingga H 0 ditolak dan H 1 diterima.
3.3. Tata Urutan Kerja 3.3.1. Persiapan Kandang
Persiapan kandang meliputi pembuatan kandang liter berbahan dasar
bambu sejumlah 25 unit kandang dengan ukuran Panjang 1,5 m, Lebar 0,5 m dan
Tinggi 1 m, setelah itu semua kandang di desinfektan, kemudian tiap unit kandang
diberi tempat pakan sejumlah 3 buah dan tempat minum 1 buah.
3.3.2. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilaksanakan selama 11 minggu, dengan jadwal pemberian
pakan dilakukan pada pagi siang, sore dan malam hari. Proporsi pemberian pakan
sama tiap unit kandangnya dan pemberian air minum secara adlibitum.
3.3.3. Pengacakan
Penelitian ini, dilaksanakan pada 25 unit percobaan, dengan lima jenis
perlakuan ayam Sentul yang meliputi; (Sentul abu), (Sentul batu), (Sentul debu),
12
sebanyak lima kali ulangan. Setiap unit kandang percobaan di isi oleh 7 ekor
ayam yang terdiri atas satu jenis perlakuan, sehingga melibatkan ayam Sentul
periode pertumbuhan sejumlah 175 ekor.
3.3.4. Pengambilan Data 3.3.4.1. Indeks Produksi
Indeks produksi merupakan ketentuan hasil dari bobot ayam dan
persentase ayam hidup dibandingkan dengan jumlah hari pemeliharaan dan
konversi ransum yang digunakan selama pemeliharaan (Santoso dan Sudaryani,
2009). Tata urut pengambilan data dilakukan terlebih dahulu perhitungan bobot
akhir, persentase ayam hidup dan konversi pakan.
1
.
Perhitungan Indeks Produksi (IP) (Santoso dan Sudaryani, 2009)Indeks Produksi = Bobot Akhir x Persentase Ayam Hidup
Konversi Pakan x Lama Pemliharaan
x
1002. Perhitungan Persentase Ayam Hidup (Riza, 2009)
Persentase Ayam Hidup = Populasi Ayam HidupPopulasi Ayam Awal
x
1003. Perhitungan Konversi Pakan (Siregar, dkk., 1980).
Konversi Pakan = Jumlah konsumsi Pakan
Pertambahan Bobot Badan
3.3.4.2. Income Over Feed Cost
Pendapatan atas biaya pakan periode pertumbuhan.
Pendapatan = {bobot akhir ayam periode pertumbuhan (kg) x harga penjualan ayam periode pertumbuhan per (kg)}
13
IOFC = {Pendapatan periode pertumbuhan} – {Biaya pakan periode
pertumbuhan}
3.4. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 November 2014 sampai dengan
tanggal 10 Februari 2015. Penelitian ini dilaksanakan di Exferimental Farm
Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Kabupaten
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil data penelitian indeks produksi dan income over feed cost berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan, adalah sebagai berikut.
Tabel 1. Rataan Indeks Produksi Berbagai Ayam Sentul Periode
Pertumbuhan
Keterangan: Sa = Sentul abu; Sb = Sentul batu; Sd = Sentul debu; Se = Sentul emas; Sg = Sentul geni
Tabel 2. Rataan Income Over Feed Cost Berbagai Ayam Sentul
Periode Pertumbuhan
Perhitungan indeks produksi berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan
berdasarkan data penelitian diperoleh rataan keseluruhan sebesar 6,57 ± 1,54
dengan kisaran 5,47 sampai 7,32 (lampiran 1). Indeks produksi berdasarkan data
penelitian rataan tertinggi hingga terendah pada masing-masing perlakuan yaitu
Sb sebesar 7,32 ± 1,56, diikuti oleh perlakuan Sa sebesar 7,21 ± 1,59, kemudian
perlakuan Sg 6,82 ± 1,54, lalu perlakuan Sd sebesar 6,02 ± 1,43 dan perlakuan Se
sebesar 5,47 ± 1,59. Rataan hasil penelitian yang diperoleh masih lebih rendah
jika dibanding dengan penelitian Fitriani dan Sulistyoningsih, (2012) pada ayam
kampung diperoleh indeks produksi selama 8 minggu dengan kisaran 9,2 sampai
dengan 13,9. Data selengkapnya rataan indeks produksi berbagai ayam Sentul
periode pertumbuhan dapat dilihat pada Tabel 1.
Hasil analisis variansi (lampiran 2) menunjukkan bahwa berbagai ayam
Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap indeks produksi periode
pertumbuhan. Hal tersebut menunjukan bahwa indeks produksi berbagai ayam
Sentul periode pertumbuhan cenderung tidak ada perbedaan pada masing-masing
perlakuan. Hasil tersebut disebabkan tidak adanya perbedaan dari bobot akhir,
persentase ayam hidup, konversi pakan dan lama pemeliharaan pada berbagai
ayam Sentul periode pertumbuhan. Pernyataan tersebut sesuai dengan Arifien,
(1997) menjelaskan bahwa indeks produksi dapat dipengaruhi bobot badan akhir,
konversi pakan, persentase ayam hidup dan lama pemeliharaan. Semakin tinggi
nilai bobot badan akhir dan persentase ayam hidup, semakin tinggi pula nilai
indeks produksinya, apabila semakin tinggi nilai konversi pakan dan lama
pemeliharan maka semakin rendah pula nilai indeks produksi. Menurut
Hardjosubroto, (1994) menyatakan performans atau penampilan individu
ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor
genetik tersebut bersifat baka, artinya tidak akan berubah selama hidupnya,
sepanjang tidak terjadi mutasi dari gen yang menyusunnya, lalu sifat-sifat genetik
tersebut diwariskan pada keturunannya. Secara genetik ayam Sentul mempunyai
keanekaragaman genetik cukup tinggi dlihat dari variasi alele teramplifikasi,
16
tetapi berbagai ayam Sentul belum menunjukan adanya alele spesifikasi yang mencirikan suatu breed tertentu. Berdasarkan penjelasan tersebut diduga yang menyebabkan tidak adanya perbedaan performans pada berbagai ayam Sentul.
Menurut Anisuzzaman dan Chowdhury, (1996) menyatakan bahwa efisiensi
performans ayam dapat dievaluasi dari segi indeks produksi dengan meliputi
bobot badan, persentase ayam hidup, konversi pakan dan lama pemeliharaan.
Konversi pakan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tinggi
rendahnya indeks produksi. Konversi pakan dihitung dari perbandingan jumlah
pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil penelitian, konversi pakan berbagai ayam Sentul periode
pertumbuhan diperoleh rataan keseluruhan sebesar 11,97 ± 2,25 dengan kisaran
10,60 sampai 13,33 (lampiran 9). Konversi pakan berdasarkan data penelitian
rataan tertinggi hingga terendah pada masing-masing perlakuan yaitu Se sebesar
13,33 ± 4,16, diikuti oleh perlakuan Sd sebesar 12,74 ± 1,76, kemudian perlakuan
Sb 11,60 ± 1,74, lalu perlakuan Sg sebesar 11,52 ± 2,13 dan perlakuan Se sebesar
10,60 ± 1,48. Rataan hasil penelitian yang diperoleh lebih tinggi jika dibanding
dengan Maulana, dkk., (2008) menyatakan bahwa pada ayam kampung umur 12
minggu diperoleh konversi pakan sebesar 11,70. Data selengkapnya konversi
pakan berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan dapat dilihat pada (lampiran 9).
Hasil analisis variansi (lampiran 10) menunjukan bahwa berbagai ayam
Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konversi pakan periode
pertumbuhan. Hal tersebut menunjukan bahwa konversi pakan berbagai ayam
17
perlakuan. Hasil tersebut dipengaruhi salah satu faktor genetik ayam Sentul.
Pernyataan tersebut sesuai dengan Ensminger, (1992) menjelaskan bahwa
konversi pakan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu genetik, bangsa,
jenis kelamin, umur dan tingkat konsumsi.
Faktor genetik yang dapat mempengaruhi konversi pakan dikontrol oleh
sifat kuantitatif pada ayam. Menurut Pinto, et al., (2010) menyatakan bahwa konversi pakan ayam dikontrol oleh lokus GGA11 MCW0230 pada 36 cM.
Berdasarkan penjelasan tersebut diketahui bahwa berbagai ayam Sentul dikontrol
oleh sifat kuantitatif yang relatif sama, sehingga tidak menyebabkan adanya
perbedaan konversi pakan. Hal tersebut dikarenakan berbagai ayam Sentul masih
dalam satu turunan dari induknya dan telah beradaptasi dengan lingkungan yang
cukup lama. Secara genetik berbagai ayam sentul masih satu keturunan dari red junglefowl atau ayam hutan merah yang masih masuk dalam keluarga spesies (Gallus gallus) (Al-Nasser, et al., 2007).
Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi konversi pakan adalah sifat
turunan dari induknya. Menurut Sartika, (2005) menjelaskan bahwa besar
kecilnya sifat yang diturunkan oleh induk dapat diketahui berdasarkan nilai
heritabilitasnya. Selanjutnya dijelaskan bahwa nilai heritabilitas dapat
digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu nilai heritabilitas suatu sifat dikatakan
rendah jika berada antara 0-0,02, sedang antara 0,2-0,4 dan tinggi untuk nilai lebih
dari 0,4, sifat heritabilitas yang tinggi tersebut dapat dipengaruhi oleh fertilitas
seperti daya tetas telur (Noor, 1996). Konversi pakan berkaitan erat juga dengan
18
heritabilitas ayam kampung umur 12 minggu terhadap laju pertumbuhan diperoleh
nilai heritabilitasnya pada kategori sedang 0,2-0,4. Berdasarkan penjelasan
tersebut diketahui bahwa ayam kampung dapat menurunkan sifat laju
pertumbuhan dengan nilai heritabilitas pada kategori sedang terhadap
ketutunannya. Ayam kampung mempunyai jarak genetik yang paling dekat dengan
ayam Sentul. Hal tersebut diduga yang menyebabkan berbagai ayam Sentul tidak
menunjukan adanya perbedaan konversi pakan. Selanjutnya laju pertumbuhan
juga dikontrol oleh sifat kuantitatif pada ayam. Menurut Zhang, et al., (2010) menyatakan bahwa laju pertumbuhan ayam umur 4-8 minggu dikontrol oleh lokus
CAU_AB 27 RS14302116pada 11 cM.
Ayam Sentul mempunyai keanekaragaman genetik yang cukup tinggi
dilihat dari warna bulu yang berbeda-beda. Perbedaan warna bulu pada berbagai
ayam Sentul pada hal ini tidak memberikan pengaruh terhadap perbedaan
konversi pakan. Perbedaan warna bulu tersebut diduga terjadi karena adanya
perbedaan sifat kualitatif yang diwariskan dari masing-masing tetuanya.
Pernyataan tersebut sesuai dengan Lasley, (1978) menjelaskan bahwa warna bulu
merupakan sifat kualitatif yang dapat dijadikan acuan untuk penentuan suatu
bangsa ayam dan bukan acuan untuk menentukan sifat kuantitatif ayam.
Persentase ayam hidup merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tinggi
rendahnya indeks produksi. Persentase ayam hidup diperoleh dari perbandingan
populasi ayam hidup dengan populasi awal ayam dengan satuan persen.
Berdasarkan hasil penelitian, persentase ayam hidup berbagai ayam Sentul
19
kisaran 89 % sampai 100 % (lampiran 3). Persentase ayam hidup berdasarkan data
penelitian rataan tertinggi hingga terendah pada masing-masing perlakuan yaitu
Sb sebesar 100 ± 0,10 % diikuti oleh perlakuan Sd sebesar 97 ± 0,11 %, kemudian
perlakuan Sg 91 ± 0,13 %, lalu perlakuan Sa sebesar 89 ± 0,10 % dan perlakuan
Sg sebesar 91 ± 0,13 %. Rataan hasil penelitian persentase ayam hidup yang
diperoleh masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan Purnama, (2005)
menyatakan bahwa tingkat kematian ternak ayam Sentul pada periode
pertumbuhan mencapai angka 2 %. Data selengkapnya persentase ayam hidup
berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan dapat dilihat pada (lampiran 3).
Hasil analisis variansi (lampiran 4) menunjukan berbagai ayam Sentul
berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase ayam hidup periode
pertumbuhan. Hal tersebut menunjukan bahwa persentase ayam hidup berbagai
ayam Sentul periode pertumbuhan cenderung tidak perbedaan pada
masing-masing perlakuan. Persentase ayam hidup dipengaruhi juga oleh jumlah mortalitas
pada pemeliharan ternak ayam. Menurut North dan Bell, (1990) menjelaskan
bahwa mortalitas ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya bobot
badan, bangsa, tipe ayam, iklim, kebersihan lingkungan, sanitasi peralatan dan
penyakit.
Faktor genetik yang mempengaruhi persentase ayam hidup dikontrol oleh
sifat kuantitatif pada ayam. Sifat kuantitatif tersebut mengontrol sistem kekebalan
tubuh pada ayam, sehingga peka terhadap suatu penyakit yang menyebabkan
kematian. Menurut Slawinska dan Siwek, (2013) menyatakan bahwa sistem
20
Berdasarkan penjelasan tersebut diketahui bahwa berbagai ayam Sentul dikontrol
oleh sifat kuantitatif yang relatif sama, sehingga tidak menyebabkan adanya
perbedaan persentase ayam hidup. Hal tersebut dikarenakan berbagai ayam Sentul
masih dalam satu turunan yang sama dari induknya. Menurut Sartika, dkk., (2004)
menjelaskan bahwa ayam kampung mempunyai jarak genetik yang paling dekat
dengan ayam Sentul jika dibandingkan dengan ayam lokal lainnya.
Faktor lainnya yang mempengaruhi persentase ayam hidup, yaitu penyakit.
Newcastle Disease (ND), merupakan jenis penyakit yang sering menyerang ayam kampung, bahkan hingga menyebabkan kematian (Sujionohadi dan Setiawan,
2000). Ayam kampung dilihat dari genetiknya mempunyai keunggulan dari ayam
ras. Keunggulan tersebut dilihat dari sistem kekebalan tubuhnya yang lebih tahan
terhadap suatu penyakit. Menurut Seyama, et al.,(2006) menyatakan bahwa 60 % ayam kampung tahan terhadap virus highly pathogenic H5N1 avian influenza atau flu burung, dikarenakkan ayam kampung memiliki frekuensi gen antivirus Mx + yang lebih tinggi jika dibanding dengan ayam ras. Berdasarkan penjelasan
tersebut diduga berbagai ayam Sentul mempunyai memiliki frekunsi gen antivirus
Mx + yang sama, sehingga tidak menyebabkan adanya perbedaan persentase ayam hidup. Persentase ayam hidup dipengaruhi oleh jumlah kematian dalam populasi
ternak ayam. Menurut Juarini, dkk., (2001) menjelasakan bahwa faktor yang
mempengaruhi mortalitas dapat dilihat dari perbedaan pola pemeliharan
(Tradisisonal, Semi Intensif dan Instensif). Mortalitas ayam kampung sampai
umur 6 minggu yang dipelihara secara tradisional mencapai angka 50,98 %,
21
Sedangkan menurut Sukardi, (2001) menjelaskan bahwa kematian pada ayam
buras disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: bibit (bukan hasil seleksi
genetik), pakan (yang belum memenuhi kebutuhan), sistem perkandangan (tidak
nyaman) dan tidak adanya pencegahan penyakit.
Bobot badan akhir merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi
tinggi rendahnya indeks produksi. Berdasarkan data penelitian diperoleh rataan
keseluruhan sebesar 1.055,71 ± 85,13 g dengan kisaran 1.005,85 g sampai
1.090,21 g (lampiran 11). Bobot badan akhir berdasarkan data penelitian rataan
tertinggi hingga terendah pada masing-masing perlakuan yaitu Sa sebesar
1.098,95 ± 86,00 g, diikuti oleh perlakuan Sg sebesar 1.090,21 ± 83,67 g,
kemudian perlakuan Sb Rp 1.072,43 ± 85,57 g, lalu perlakuan Se sebesar 1.011,13
± 90,00 g dan perlakuan Sd sebesar 1.005,85 ± 80,30 g. Rataan hasil penelitian
yang diperoleh masih lebih rendah jika dibanding dengan Nataamijaya, (2008)
pada ayam Kedu Hitam jantan diperoleh bobot sebesar 2.013,05 g dan ayam
Pelung jantan sebesar 2.100,00 g pada umur 20 minggu.Data selengkapnya rataan
bobot badan akhir berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan dapat dilihat pada
(lampiran 11).
Hasil analisis variansi (lampiran 12) menunjukan bahwa berbagai ayam
Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot badan akhir periode
pertumbuhan. Hal tersebut menunjukan bahwa bobot badan akhir berbagai ayam
Sentul periode pertumbuhan cenderung tidak ada perbedaan pada masing-masing
perlakuan. Hasil tersebut dipengaruhi salah satunya faktor genetik ayam Sentul.
22
bobot badan dan pertumbuhan bisa dilihat dari perbedaan umur, genetik, dan
hertitabilitas yang meningkat proporsional sesuai dengan umur, serta korelasi
genetik antara bobot badan pada umur yang berbeda.
Faktor genetik yang mempengaruhi bobot badan dikontrol oleh sifat
kuantitatif pada ayam. Menurut Tatsuda dan Fujinaka, (2001) menyatakan bahwa
bobot badan ayam umur 16 minggu dikontrol oleh lokus GGA2 MCW0184 pada
60 cM. Berdasarkan penjelasan tersebut diketahui bahwa berbagai ayam Sentul
dikontrol oleh sifat kuantitatif yang relatif sama, sehingga tidak menyebabkan
adanya perbedaann bobot badan. Hal tersebut dikarenakan berbagai ayam Sentul
masih dalam satu turunan yang sama dari induknya. Menurut Natamijaya, (2005)
menyatakan bahwa ayam bukan ras (buras) atau ayam kampung, disebut juga
Gallus domesticus, yang terdapat di Indonesia terdiri dari satu rumpun atau galur, termasuk di antaranya ayam pelung dan ayam Sentul.
Faktor lainnya yang mempengaruhi bobot badan akhir yaitu pertumbuhan
ayam. Pertumbuhan ayam mencakup pertambahan dalam bentuk dan bobot
jaringan-jaringan seperti otot daging, tulang, jantung, otak dan jaringan tubuh
lainnya (Anggorodi, 1994). Pertumbuhan ayam dikontrol oleh gen hormon
pertumbuhan. Menurut Tanaka, et al., (1992) menjelaskan bahwa gen hormon pertumbuhan pada ayam atau dikenal dengan chicken growth hormone (cGH). Hormon tersebut merupakan salah satu gen penting yang dapat mempengaruhi
performa ayam, serta memiliki peran penting dalam pertumbuhan ayam. Menurut
23
polimorfik dan memiliki keragaman genetik yang rendah, tetapi berada dalam keadaan setimbang. Berdasarkan penjelasan tersebut, diketahui berbagai ayam
Sentul mempunyai gen hormon pertumbuhan yang relatif sama, sehingga tidak
menyebabkan adanya perbedaan bobot badan. Menurut Nie, et al., (2005), menjelaskan bahwa identifikasi polimorfisme gen-gen tertentu terhadap genetik dapat digunakan untuk mengevaluasi relevansi biologis polimorfisme, sehingga dapat meningkatkan pemahaman berbagai sifat kuantitatif misalnya sifat laju
pertumbuhan ayam.
Ayam Sentul mempunyai keanekaragaman genetik cukup tinggi yang
dilihat dari warna bulu yang berbeda-beda. Perbedaan warna bulu pada berbagai
ayam Sentul pada hal ini tidak memberikan pengaruh terhadap perbedaan bobot
badan. Pernyataan tersebut sesuai dengan Warwick, dkk., (1990) menjelaskan
bahwa warna bulu merupakan sifat kualitatif yang diatur oleh satu atau beberapa
pasang gen atau rangkaian alele ganda, sifat ini sedikit atau bahkan tidak ada hubungannya dengan kemampuan produksi.
4.2. Income Over Feed Cost
Perhitungan income over feed cost berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan berdasarkan data peneltian diperoleh rataan keseluruhan sebesar Rp
45.177,00 ± 5.520,15 dengan kisaran Rp 41.128,00 sampai Rp 48.067,00
(lampiran 13). Income over feed cost berdasarkan data penelitian rataan tertinggi hingga terendah pada perlakuan Sa sebesar Rp 48.067,00 ± 5.520,15, diikuti oleh
perlakuan Sg sebesar Rp 47.597,00 ± 5.013,89, kemudian perlakuan Sb Rp
24
perlakuan Se sebesar Rp 41.128,00 ± 6.281,18. Hasil income over feed cost
berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan dihitung berdasarkan selisih dari
pendapatan atas biaya pakan. Pendapatanya dihitung berdasarkan harga penjualan
ayam Rp 60.000,00 per kg, kemudian untuk biaya pakan dihitung dari jumlah
biaya pakan ayam yang dikonsumsi Rp 4.150,00 per kg untuk ayam Sentul
periode pertumbuhan. Data selengkapnya rataan income over feed cost berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan dapat dilihat pada Tabel 2.
Hasil analisis variansi (lampiran 14) menunjukan berbagai ayam Sentul
berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap income over feed cost periode pertumbuhan. Income over feed cost berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan cenderung tidak ada perbedaan pada masing–masing perlakuan. Hasil tersebut
disebabkan tidak adanya perbedaan dari bobot badan akhir dan konsumsi pakan
dari setiap perlakuan berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan. Pernyataan
tersebut sesuai dengan Amri, (2007) menjelaskan bahwa faktor yang dapat
mempengaruhi nilai income over feed cost adalah bobot badan akhir, konsumsi pakan dan jumlah biaya pakan. Selanjutnya dijelaskan bahwa tingginya nilai
income over feed cost juga sangat ditentukan oleh pertambahan bobot badan yang dihasilkan, semakin tinggi pertambahan bobot badan, semakin besar pula nilai jual
yang diperoleh. Hal tersebut harus diikuti pula dengan tingkat konsumsi pakan
ayam, semakin rendah harga pakan yang konsumsi dan dibarengi dengan
25
Bobot badan akhir ayam merupakan faktor yang menentukan besarnya
nilai pendapatan pada perhitungan income over feed cost. Perhitungan bobot badan akhir berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan berdasarkan data
penelitian diperoleh rataan keseluruhan sebesar 1.055,71 ± 85,13 g dengan kisaran
1.005,85 g sampai 1.090,21 g (lampiran 11). Bobot badan akhir berdasarkan data
penelitian rataan tertinggi hingga terendah pada masing-masing perlakuan yaitu
Sa sebesar 1.098,95 ± 86,00 g, diikuti oleh perlakuan Sg sebesar 1.090,21 ± 83,67
g, kemudian perlakuan Sb Rp 1.072,43 ± 85,57 g, lalu perlakuan Se sebesar
1.011,13 ± 90,00 g dan perlakuan Sd sebesar 1.005,85 ± 80,30 g. Rataan hasil
penelitian yang diperoleh masih lebih rendah dengan hasil penelitian Meyliyana
dkk., (2013) pada berbagai ayam Sentul umur 5 bulan yaitu dengan rataan bobot
badan akhir sebesar 1.289,17 g untuk betina dan 1.781,26 g untuk jantan. Data
selengkapnya rataan bobot badan akhir berbagai ayam Sentul periode
pertumbuhan dapat dilihat pada (lampiran 11).
Hasil analisis variansi (lampiran 12) menunjukan bahwa berbagai ayam
Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot badan akhir periode
pertumbuhan. Bobot badan akhir berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan
cenderung tidak ada perbedaan pada masing-masing perlakuan. Tidak adanya
perbedaan bobot badan akhir menyebabkan nilai pendapatan tidak jauh berbeda
pada masing-masing perlakuan. Hasil tersebut dipengaruhi salah satunya faktor
genetik ayam Sentul. Pernyataan tersebut sesuai dengan Kurnia, (2011)
menjelasakan bahwa bobot badan dipengaruhi dua faktor yaitu faktor genetik dan
26
Faktor genetik yang mempengaruhi bobot badan akhir dikontrol oleh sifat
kuantitatif pada ayam. Menurut Gao, et al., (2006) menyatakan bahwa bobot badan ayam umur 13 minggu dikontrol oleh lokus GGA1 MCW0106 pada 75 cM.
Berdasarkan penjelasan tersebut diketahui bahwa berbagai ayam Sentul dikontrol
oleh sifat kuantitatif yang relatif sama, sehingga tidak menyebabkan adanya
perbedaann bobot badan. Hal tersebut dikarenakan berbagai ayam Sentul masih
dalam satu turunan yang sama dari induknya.
Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi bobot badan adalah faktor
genetik. Berbagai ayam Sentul mempunyai variasi genetik yang cukup tinggi,
tetapi berbagai ayam Sentul tidak menunjukan adanya alele yang dominan. Menurut Sartika, dkk., (2004) menjelaskan bahwa dari ke empat breed ayam lokal yaitu ayam Kampung, Sentul, Kedu Hitam dan Pelung belum menunjukkan
adanya alele spesifik yang dapat mencirikan suatu breed tertentu pada masing jenisnya. Pada hal ini perbedaan ayam Sentul baru terlihat dari fenotipnya (warna
bulu) saja. Berbagai ayam Sentul merupakan ayam lokal yang sudah lama berada
di kabupaten Ciamis dan beradaptasi dengan lingkungan dalam waktu yang lama,
sehingga dari kemampuan adaptasi tersebut yang menyebabkan tidak adanya
perbedaan bobot badan pada berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan.
Selanjutnya dijelaskan bahwa sifat kuantitatif ayam dapat dipengaruhi oleh
banyak gen dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan (Yuliza, 2009).
Ayam Sentul mempunyai keanekaragaman genetik cukup tinggi yang dilihat
dari warna bulu yang berbeda-beda. Perbedaan warna bulu pada berbagai ayam
27
pakan. Hal tersebut sesuai dengan Ashshofi, dkk., (2014) menjelaskan bahwa gen
pada bulu tidak berperan dalam mengatur pertambahan bobot badan dikarenakan
genetik yang mengatur pola pewarnaan bulu berbeda dengan genetik yang
mengatur bobot badan begitu pula sebaliknya.
Konsumsi pakan merupakan faktor yang menentukan biaya produksi dalam
perhitungan income over feed cost. Selanjutnya dijelaskan bahwa pakan merupakan kebutuhan primer dunia usaha peternakan, dimana dalam budidaya
ternak secara intensif biaya pakan mencapai 70 % dari total biaya produksi,
sehingga bahan pakan sangat menentukan biaya produksi (Supriyati, dkk., 2003).
Perhitungan konsumsi pakan berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan
berdasarkan data penelitian diperoleh rataan keseluruhan sebesar 4.294,41 ± 21,90
g dengan kisaran 4.275,89 g sampai 4.306,04 g (lampiran 5). Konsumsi pakan
berdasarkan data penelitian rataan tertinggi hingga terendah pada masing-masing
perlakuan Sa sebesar 4.306,04 ± 21,93 g, diikuti oleh perlakuan Sb sebesar
4.303,58 ± 23,13 g, kemudian perlakuan Se 4.294,31 ± 30,59 g, perlakuan Se
sebesar 4.292,24 ± 9,63 g dan perlakuan Sd sebesar 4.275,89 ± 24,21 g. Rataan
hasil penelitian yang diperoleh masih lebih tinggi jika dibandingkan penelitian
Iskandar, dkk., (1998) pada ayam kampung diperoleh rataan konsumsi pakan
sebesar 3.245 g. Data selengkapnya rataan konsumsi pakan berbagai ayam Sentul
periode pertumbuhan dapat dilihat pada (lampiran 5).
Hasil analisis variansi (lampiran 6) menunjukan bahwa berbagai ayam
Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan periode
28
pertumbuhan cenderung tidak ada perbedaan pada masing-masing perlakuan.
Tidak adanya perbedaan konsumsi pakan menyebabkan biaya pakan yang
dikeluarkan tidak jauh berbeda dari masing-masing perlakuan. Hal tersebut
dipengaruhi salah satunya faktor genetik ayam Sentul. Pernyataan tersebut sesuai
dengan North dan Bell, (1990) menjelaskan bahwa konsumsi pakan dapat
dipengaruhi oleh bangsa, genetik, besar tubuh, jenis kelamin, umur, dan tingkat
palatabilitas.
Faktor genetik yang mempengaruhi konsumsi pakan dilihat dari sifat
kuantitatif pada ayam. Menurut Pinto, et al., (2006) menyatakan bahwa konsumsi pakan ayam dikontrol oleh lokus GGA3 MCW245 pada 99 cM. Berdasarkan
penjelasan tersebut diketahui bahwa berbagai ayam Sentul dikontrol oleh sifat
kuantitatif yang relatif sama, sehingga tidak menyebabkan adanya perbedaaan
konsumsi pakan. Hal tersebut dikarenakan berbagai ayam Sentul masih dalam satu
turunan yang sama dari tetuanya. Menurut Fumihito, et al., (1994) menjelaskan bahwa ayam-ayam lokal Indonesia berasal dari satu nenek moyang yaitu berasal
dari ayam Hutan Merah (Gallus gallus).
Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi konsumsi pakan dikontrol sistem
hipothalamus pada ayam. Menurut Mcdonald, et al., (2002) menjelaskan bahwa aktivitas makan pada ayam dikontrol oleh pusat di hipothalamus yang terletak di bagian cerebrum otak. Pada awalnya bermula dari dua aktivitas organ pusat. Pertama dimulai dari pusat makan (lateral hipothalamus) yang menyebabkan ternak memulai aktivitas makan sampai dibatasi oleh pusat yang kedua yaitu pusat
29
dipengaruhi oleh ukuran tubuh, atau bobot badan. Menurut Depison, (2006)
menjelaskan bahwa tingkat konsumsi pakan ayam akan sebanding dengan ukuran
tubuh atau bobot badan. Berdasarkan penjelasan tersebut diketahui bahwa
berbagai ayam Sentul tidak menunjukan perbedaan konsumsi pakan, dikarenakan
tidak adannya perbedaan bobot badan pula pada masing-masing perlakuan.
Menurut Sinurat, dkk., (1992) menyatakan bahwa konsumsi pakan pada seluruh
bangsa ayam buras masih dalam kisaran normal, diketahui bahwa induk ayam
buras yang dipelihara secara intensif mengkonsumsi pakan antara 80-120 gram
per ekor/hari. Konsumsi pakan juga ada kaitannya dengan jumlah konsumsi
energi. Menurut Suprapto, dkk., (2012) menjelaskan bahwa pada hakekatnya
ternak unggas mengkonsumsi pakan guna memenuhi kebutuhan energi. Apabila
kebutuhan energi terpenuhi, unggas akan menghentikan konsumsi pakannya Pada
penelitian berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan digunakan pakan ayam
buras dengan jumlah energi metabolik sebesar 2050-2150 kkal/kg pada
masing-masing perlakuan. Jumlah pemberian energi metabolik pada penelitian tersebut
masih lebih rendah dibanding dengan Zainuddin, dkk., (2000) menyatakan bahwa
kebutuhan energi ayam lokal pada umur 8 sampai 12 minggu yaitu sebesar 2.900
kkal/kg. Ayam Sentul mempunyai keanekaragaman genetik cukup tinggi yang
dilihat dari warna bulu yang berbeda-beda. Perbedaan warna bulu pada berbagai
ayam Sentul pada hal ini tidak memberikan pengaruh terhadap perbedaan
konsumsi pakan. Pernyataan tersebut sesuai dengan Sadarman, dkk., (2013)
menjelasakan bahwa warna bulu merupakan sifat kualitatif dan tidak akan
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa berbagai ayam Sentul
periode pertumbuhan tidak terdapat perbedaan dan relatif sama terhadap indeks
produksi dan income over feed cost, dengan rataan hasil keseluruhan sebagai berikut :
1. Rataan keseluruhan indeks produksi berbagai ayam Sentul periode
pertumbuhan yaitu 6,57 ± 1,54.
2. Rataan keseluruhan income over feed cost berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan yaitu Rp 45.177,00 ± Rp 5.544,67.
5.2. Saran
Kelima jenis ayam Sentul dapat dipelihara secara intensif untuk
dikembangkan sebagai penghasil daging, dikarenakan tidak terdapat perbedaan
terhadap indeks produksi dan income over feed cost.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Nasser, A., H. Al-Khalaifa., A. Al-Saffar., F. Khalil., M. Albahouh., G. Ragheb., A. Al-Haddad and M. Mashaly. 2007. Overview of Chicken Taxonomy and Domestication. World’s Poultry Science Journal. Kuwait Institute For Scientific Research. Safat, Kuwait.
Amri, M. 2007. Pengaruh Bungkil Inti Kelapa Sawit Fermentasi terhadap Pertumbuhn Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta. Padang.
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia, Jakarta.
Arifien M. 1997. Kiat Menekan Konversi Pakan pada Ayam Broiler. Poultry Indonesia, Jakarta.
Ashshofi, B.I., Busono, W dan Maylinda, S. 2014. Performans Produksi Itik Hibrida pada Berbagai Warna Bulu. Jurnal Ilmiah. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Anisuzzaman, M and S.D, Chowdhury. 1996. Use of Four Type of Litter of Rearing Broiler. British Poultry Science. Agricultural University, Mymensingh, Bangladesh.
Daud, M. 2005. Performan Ayam Pedaging yang diberi Probiotik dan Prebiotik dalam Ransum. Jurnal Ilmu Ternak.Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Depison. 2006. Evaluasi Hasil Persilangan Ayam Lurik, Ayam Merawang dan Ayam Komering. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan. Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2013. Data Statistik Produk Peternakan 2007– 2013. Kementrian Pertanian, Jakarta.
Diwyanto, K., D. Zainuddin., T. Sartika., S. Rahayu., Djufri, C. Arifin dan Cholil. 2011. Model Pengembangan Peternakan Rakyat Terpadu Berorientasi Agribisnis: Komoditas Ayam Lokal. Laporan Kerjasama Direktorat Jenderal dengan Balitnak Ciawi, Bogor.
Ensminger, M.A. 1992. Poultry Science (Animal Agriculture Series): Feeds and Additives. 3th Ed. Interstate Publisher, Inc. Danville, Illionis, USA.
Fadilah, R. 2004. Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersil. Cetakan ke-1. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Fitriani, U.S dan M. Sulistyoningsih. 2012. Pengaruh Pola Ransum dengan Penambahan Limbah Udang dan Bayam terhadap Peningkatan Bobot
Badan Ayam Kampung. Jurnal Ilmiah. Jurusan Pendidikan Biologi. IKIP PGRI, Semarang.
Fumhito, A., S.T. Miyake., M. Sumi., S. Takada., Ohno and N. Kondo. 1994. One Subspecies of the Red Jungle Fowl (Gallus gallus gallus) Suffices as the Matriarchic Ancestor of Allindigenous Breeds. Proc. Natl. Acad. Sci. USA.
Gao, Y., X.X, Hu., Z.Q, Du., X.M, Deng., Y.H, Huang., J. Fei., J.D, Feng., Z.L, Liu., Y. Da, and N. Li. 2006. A Genome Scan For Quantitative Trait Loci Associated With Body Weight at Different Developmental Stages in Chickens. Animal Genetics. China Agricultural University, Beijing, China. Hangalpura, B.N. 2006. Cold Stress and Immunity: Do Chicken Adapt to Cold by
Trading of Immunity for Thermoregulation. Thesis-PhD. Wageningen Institute of Animal Science, Netherland.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Gramedia Widiasarana, Jakarta.
Iskandar, S., Z. Desmayati., S. Sastrodihardjo., T. Sartika., P. Setiadi dan T. Susanti. 1998. Respon Pertumbuhan Ayam Kampung dan Ayam Silangan Pelung terhadap Ransum Berbeda Kandungan Protein. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, Bogor.
Juarini., Sumanto dan Zainuddin. 2001. Pengembangan Ayam Lokal dan Permasalahanya di Lapangan. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Balitnak Ciawi, Bogor.
Kurnia, Y. 2011. Morfometrik Ayam Sentul, Kampung dan Kedu pada Fase Pertumbuhan dari Umur 1-12 Minggu. Skripsi. Program Alih Jenis. Departemen Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian, Bogor.
Lasley, J.F. 1978. Genetics of Livestock Improvement. 3rd Ed. Prentice Hall of India Private Limited. New Delhi, India.
Maulana, I., Hermana, W dan Mutia, R. 2008. Nilai Retensi Nitrogen pada Ayam Kampung Umur 12 Minggu yang diberi Pakan Mengandung Tepung Silase Ikan. Skripsi. Program Studi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
McDonald, P., R.A. Edwards., J.F.G. Greenhalgh and C.A. Morgan. 2002. Animal Nutriotion. Prentice Hall. Upper Saddle River. New York, USA.
Meyliyana., Mugiyono, S dan Roesdiyanto. 2013. Bobot Badan Berbagai Ayam Sentul di Gabungan Kelompok Tani Ternak Ciung Wanara Kecamatan
33
Ciamis Kabupaten Ciamis. Jurnal Ilmiah Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Mignon. G, S. Boissy, A., Bouix, J., Faure, J.M., Fisher, A.D., Hinch, G.N., P. Jensen., P., L. Neindre., P. Mormède., P. Prunet., M. Vandeputte and Beaumont, C. 2005. Genetics of Adaptation and Domestication in livestock. Livestock Production Science. Department of Biology, Linköping University, Sweden.
Nataamijaya, A.G. 2000. The Native Chicken of Indonesia. Bulletin Plasma Nutfah, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Nataamijaya, A.G., A.R. Setioko., B. Brahmantyo dan K. Diwyanto. 2003. Performans dan Karakteristik Tiga Galur Ayam Lokal (Pelung, Arab, dan Sentul). Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, 29−30 September 2003. Puslitbang Peternakan, Bogor.
Nataamijaya, A.G. 2008. Karakteristik dan Produktivitas Ayam Kedu Hitam.
Buletin Plasma Nutfah. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.
Noor, R. 1996. Genetika Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
North, M.O. dan D.D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. 4th Ed. Chapmanand Hall. New York, USA.
Nie, Q., M. Lei., J. Ouyang., H. Zeng., G. Yang and X. Zhang. 2005. Identification and Characterization of Single Nucleotide Polymorphisms in 12 Chicken Growth Correlated Genes by Denaturing High Performance Liquid Chromatography. Genetic Sel Evol. South China Agricultural University. Guangzhou, China.
Pamungkas, F.A. 2005. Beberapa Kriteria Analisis Penduga Bobot Tetas dan Bobot Hidup Umur 12 Minggu dalam Seleksi Ayam Kampung. Jurnal Ilmu Ternak. Loka Penelitian Kambing Potong. Galang Sei Putih, Sumatera Utara.
Parkhurst, C.R and G.J, Mountney. 1988. Poultry Meat and Egg Production. Van Nostrand Reinhold Co. New York, USA.
Pinto, L.F.B., U.P, Irineu., C.A, Mônica., A.S.A.M.T, Moura., K. Nones and L.L, Coutinho. 2010. Mapping Quantitative Trait Loci in Gallus gallus Using Principal Components. Revista Brasileira de Zootecnia. Departamento de Produção Animal Botucatu. Sau paulo, Brazil.
Pérez-34
Enciso and L.L, Coutinho. 2006. Quantitative Trait Loci by Sex Interactions for Performance and Carcass Traits in A Broiler X Layer Cross.University de Sao Paulo – ESALQ Piracicaba. Sau Paulo, Brazil.
Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. BPFE. Yogyakarta.
Purnama, A.I.2005. Resistensi Ayam Lokal Jawa Barat: Ayam Sentul. Prosiding Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal.
Puslitbang Peternakan, Bogor.
Rahmadani, R.P., C. Sumantri dan S. Darwati. 2014. Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan pada Ayam Lokal Indonesia dan Persilangannya. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Riza, F. 2009. Pengaruh vaksinasi Infectious Bursal Disease Inaktif terhadap Kinerja Ayam Pedaging. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sadarman., Elfawati dan Sadriadi. 2013. Studi Frekuensi Sifat Kualitatif Ayam Kampung di Desa Menaming Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Riau
Santoso, H dan Sudaryani, T. 2009. Pembesaran Ayam Pedaging Hari per Hari di Kandang Panggung Terbuka. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sartika, T., S. Iskandar., L.H. Prasetyo., H. Takahashi and M. Mitsuru. 2004. Kekerabatan Genetik Ayam Kampung, Pelung, Sentul dan Kedu Hitam dengan Menggunakan Penanda DNA Mikrosatelit: I. Grup Pemetaan pada Makro Kromosom. Jurnal Ilmu Ternak Veteriner. Balai Peneltian Ternak, Bogor.
Sartika, T. 2005. Peningkatan Mutu Bibit Ayam Kampung Melalui Seleksi dan Pengkajian Penggunaan Penanda Genetik Promotor Prolaktin dalam Mas/Marker Assisted Selection untuk Mempercepat Proses Seleksi.
Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sartika, T. dan S. Iskandar. 2007. Mengenal Plasma Nutfah Ayam Indonesia dan Pemanfaatannya. Balai Penelitian Ternak, Puslitbang Peternakan, Bogor. Sartika, T., S. Iskandar., T. Susanti., S. Sopiyana., D. Zainuddin dan A. Udjianto.
2008. Karakterisasi dan Koleksi Ayam Lokal Spesifik. Laporan Penelitian Balitnak, Bogor.
35
Population Research of Genetic Polymorphism at Amino Acid Position 631 in Chicken Mx Protein with Different Antiviral Activity. Biochemcal Genetic. Graduate School of Agriculture Hokkaido University. Sapporo, Japan.
Siregar, A.P., M, Sabrani dan S, Pramu. 1980. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia. Margoe Group, Jakarta.
Siregar, E. 2002. Pengaruh Pemberian Tepung Buah Tanjung (Mimusops elengi L) dalam Ransum terhadap Performans Kelinci Lokal Umur 8-16 Minggu.
Skripsi. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sinurat, A.P., E. Santoso., Juarini, T. Sumanto., Murtisari dan B. Wibowo. 1992. Peningkatan Produktifitas Ayam Buras melalui Pendekatan Sistem Usaha Tani pada Peternak Kecil. Jurnal Ilmu Peternakan, Bogor.
Slawinska, A and M. Siwek. 2013. Meta and Combined - QTL Analysis of Different Experiments on Immune Traits in Chickens. J Appl Genetics. University of Technology and Life Sciences. Bydgoszcz, Poland.
Soeparna, K.H., K. Hidajat dan T. D. Lestari. 2005. Penampilan Reproduksi Tiga Jenis Ayam Lokal Jawa Barat. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengkajian Teknologi Pertanian. Karang Ploso, Ploso.
Sulandary, S., M.S.A Zein., Sartika., M. Astuti, Widjastuti., E. Sujana., S. Darana, I. Setiawan dan D. Garnida. 2007. Sumberdaya Genetik Ayam Lokal Indonesia. dalam Keanekaragaman Sumberdaya Hayati Ayam Lokal Indonesia: Manfaat dan Potensi. Pusat Penelitian Biologi. LlPI, Bogor. Suprapto, W., S. Kismiyati dan E. Suprijatna. 2012. Pengaruh Penggunaan Tepung
Kerabang Telur Ayam Ras dalam Ransum Burung Puyuh terhadap Tulang Tibia dan Tarsus (The Use of Eggshell Meal in The Quails on Tibia and Tarsus Bones). Animal Agricultural Journal. Universitas Diponegoro, Semarang.
36
sebagai Bahan Pakan Ayam Kampung. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan veteriner. Bogor, 29-30 September 2003. Puslitbang Peternakan, Bogor.
Steel, R.G.D dan J.H, Torric. 1993. Prinsip dan Prosedur Statitiska Suatu Pendekatan Biometric. Gramedia perpustakaan Utama, Jakarta.
Tatsuda, K and Fujinaka, K. 2001. Genetic Maping of QTL Afecting Body Weight in Chicken Using A F2 Family. Poultry Science. Hyogo Prefectural Agricultural Institute. Kasai, Japan.
Tanaka, M., Y. Hosokaw., M. Watahiki and K. Nakashima. 1992. Structure of the Chicken Growth Hormone Encoding Gene and Its Promoter Region.
Journal Genetic. Hyogo Prefectural Agricultural Institute. Kasai, Japan. Warwick, E.J., J.M. Astuti dan W. Hardjosubroto. 1990. Pemuliaan Ternak.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Yamin, M. 2008. Pemanfaatkan Ampas Kelapa dan Ampas Kelapa Fermentasi dalam Ransum terhadap Efesiensi Ransum dan Income Over Feed Cost
Ayam Pedaging. Jurnal Agroland. Program Studi Produksi Ternak. Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu.
Yuliza, E., Arlida, F dan Rusfidra. 2009. Penampilan Sifat Kualitatif dan Kuantitatif Ayam Kampung di kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan. Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Andalas, Padang.
Zainuddin, D., S.Iskandar dan B. Gunawan. 2000. Pemberian Tingkat Energi dan Asam Amino Esensial Sintetis dalam Penggunaan Bahan Pakan Lokal untuk Ransum Ayam Buras (Generasi II). Laporan Penelitian Balai Penelitian Ternak. Puslitbang Peternakan, Bogor
LAMPIRAN
Lampiran 1. Tabulasi Data Indeks Produksi Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Sa 8,93 6,24 5,93 5,65 9,27 36,03 7,21 1,59
Sb 5,17 9,36 5,91 8,06 8,12 36,62 7,32 1,56
Sd 8,16 5,31 5,64 5,49 5,49 30,08 6,02 1,43
Se 7,42 3,33 4,84 5,69 6,08 27,37 5,47 1,59
Sg 4,35 8,49 7,19 6,93 7,17 34,12 6,82 1,51
Rataan 32,85 6,57 1,54
Lampiran 2. Analisis Variansi Indeks Produksi Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Kesimpulan: Berbagai Ayam Sentul Berpengaruh Tidak Nyata (P>0,05) Terhadap Indeks Produksi
Lampiran 3. Tabulasi Data Persentase Ayam Hidup Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Lampiran 4. Analisis Variansi Persentase Ayam Hidup Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Kesimpulan: Berbagai Ayam Sentul Berpengaruh Tidak Nyata (P>0,05) Terhadap Persentase Ayam Hidup.
Lampiran 5. Tabulasi Data Konsumsi Pakan Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh
Percobaan Perlakuan
Sa 4.306,36 4.288,36 4.318,00 4.302,91 4.314,55 21.530,18 4.306,04 21,93
Sb 4.292,64 4.315,73 4.281,91 4.318,09 4.309,55 21.517,91 4.303,58 23,13
Sd 4.310,27 4.284,82 4.276,91 4.274,09 4.233,36 21.379,45 4.275,89 24,21
Se 4.320,09 4.277,73 4.276,36 4.333,64 4.263,72 21.471,54 4.294,31 30,59
Sg 4.284,36 4.284,18 4.295,36 4.307,36 4.289,91 21.461,18 4.292,24 30,47
Rataan 21.472,05 4.294,41 26,66
Lampiran 6. Analisis Variasi Konsumsi Pakan Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Kesimpulan: Berbagai Ayam Sentul Berpengaruh Tidak Nyata (P>0,05) Terhadap Konsumsi Pakan
Lampiran 7. Tabulasi Data Pertambahan Bobot Badan Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Sa 433 349,29 366,74 405,94 504,64 2.059,61 411,92 64,87
Sb 315,33 449,67 323,43 396,55 403,86 1.888,79 377,76 63,04
Sd 419,43 288,57 324,67 362,26 310,83 1.705,76 341,15 65,77
Se 384,71 208 323,76 408,86 385,17 1.710,50 342,10 81,31
Sg 291,02 422,86 375,29 354,86 467,60 1.911,62 382,32 67,18
Rataan 1.855,26 371,05 68,44
Lampiran 8. Analisis Variasi Pertambahan Bobot Badan Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Sumber
Variansi KuadratJumlah DerajatBebas KuadratTengah F Hitung
F Tabel
0,05 0,01
Perlakuan 17.872,94 4 4.468,23 NS 1,07 2,87 4,83
Galat 83.123,40 20 4.156,51 Sd 64,47
Total 100.996,33 24 KK 17,37
Kesimpulan: Berbagai Ayam Sentul Berpengaruh Tidak Nyata (P>0,05) Terhadap Pertambahan Bobot Badan
Lampiran 9. Tabulasi Data Konversi Pakan Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
39
Sd 10,28 14,85 13,17 11,80 13,62 63,72 12,74 1,76
Se 11,23 20,57 13,21 10,60 11,07 66,67 13,33 4,16
Sg 14,72 10,13 11,45 12,14 9,17 57,61 11,52 2,13
Rataan 59,83 11,97 2,25
Lampiran 10. Analisis Variansi Konversi Pakan Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Tengah F Hitung 0,05 F Tabel 0,01
Perlakuan 22,97 4 5,74 NS 0,95 2,87 4,83
Galat 120,71 20 6,04 Sd 2,46
Total 143,68 24 KK 20,53
Kesimpulan: Berbagai Ayam Sentul Berpengaruh Tidak Nyata (P>0,05) Terhadap Konversi Pakan
Lampiran 11. Tabulasi Data Bobot Akhir berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Sa 1.153,57 995,71 1.054,17 1.089,80 1.201,50 5.494,75 1.098,95 86,00
Sb 914,67 1.166,17 1.016,00 1.140,63 1.124,71 5.362,17 1.072,43 85,57
Sd 1.088,57 1.023,86 965,33 980,83 970,67 5.029,26 1.005,85 80,30
Se 1.082,71 890,71 965,33 1.097,57 876,14 4.912,48 1.011,13 90,00
Sg 971,17 1.116,86 1.068,14 1.092,29 1.202,60 5.451,05 1.090,21 83,67
Rataan 5.278,71 1.055,72 85,13
Lampiran 12. Analisis Variansi Bobot Akhir Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan Perlakuan
Kesimpulan: Berbagai Ayam Sentul Berpengaruh Tidak Nyata (P>0,05) Terhadap Bobot Akhir
Lampiran 13. Tabulasi Data Income Over Feed Cost Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh Percobaan
Perlakuan
40
Kuan 1 2 Ulangan3 4 5 Deviasi
Sa 51.343,00 41.946,00 45.330,00 47.531,00 54.185,00 245.335,00 48.067,00 5.520,15 Sb 37.066,00 52.060,00 43.190,00 50.517,00 49.598,00 232.431,00 46.486,00 5.552,27 Sd 47.427,00 43.649,00 40.171,00 41.113,00 40.672,00 213.031,00 42.606,00 5.355,84 Se 47.034,00 35.690,00 40.173,00 47.870,00 34.874,00 205.642,00 41.128,00 6.281,18 Sg 40.490,00 49.215,00 46.263,00 47.662,00 54.353,00 237.983,00 47.597,00 5.013,89
Rataan 225.884,00 45.177,00 5.544,67
Lampiran 14. Analisis Variansi Income Over Feed Cost Berbagai Ayam Sentul Periode Pertumbuhan Oleh
Percobaan Perlakuan
Sumber Variansi
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Kuadrat
Tengah F Hitung
F Tabel
0,05 0,01