Ringkasan Tentang Hubungan Keuangan Pusat dan
Daerah di Indonesia Pasca Desentralisasi
1Oleh:
Kodrat Wibowo, Ph.D2
Universitas Padjadjaran
Disajikan dalam kegiatan “Pelatihan Pendalaman Kompetensi Bidang Tugas Legislatif Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi”, 6-7 Desember, 2004, Sukabumi Jawa Barat, kerjasama antara Bidang Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Sukabumi dan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas
Padjadjaran.
1Berdasarkan UU 32/2004 tentang Penyelenggaraan Pemerintah Daerah sebagai
Pengganti/revisi dari UU 22/1999 yang dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan pemerintahan.
2Staf pengajar dan peneliti Universitas Padjadjaran. Sekarang menjabat sebagai
UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
UU ini dibuat sebagai revisi atau pengganti UU No. 22 Tahun 1999 tentang topik yang sama karena pertimbangan tidak sesuainya isi UU No. 22/1999 ini dengan keadaan terkini di negara Indonesia.
UU No. 32/2004 ini telah merubah beberapa asumsi dasar terkait dengan pemegang otoritas pemerintahan dan kewenangan
pembangunan di sebuah daerah, juga terkait dengan perubahan sistem pemilihan kepala daerah. Harapan pemerintah pusat adalah bahwa dengan revisi itu, masalah kesenjangan antara satu daerah dengan daerah lain bisa teratasi. Karenanya otonomi daerah secara utuh pada daerah kabupaten dan kotamadya lebih dibatasi dengan mengaktifkan kembali hubungan hierarki antara pemerintah propinsi dengan daerah kabupaten/Kota yang ditiadakan sebelumnya dalam UU No. 22/1999.3
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah4
Pada prinsipnya UU ini mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan berdasarkan amanat UUD 1945.
Isi tentang kewenangan pemerintah pusat yang terdapat dalam PP 25 Tahun 2000 secara tertulis ditekankan secara ekspilisit dalam ayat tersendiri, dimana kewenangan pemerintah pusat adalah bidang politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, serta agama sedangkan kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah terdiri dari dua urusan kewenangan pemerintahan yaitu urusan wajib dan pilihan.
Urusan wajib yang menjadi kewenangan provinsi mencakup bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten/kota serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. Sedangkan urusan wajib bagi pemerintah kabupaten/kota persis sama dengan yang dimiliki provinsi dengan perbedaan mendasar yaitu masih memungkinkan adanya intervensi pemerintah provinsi dalam beberapa bidang tertentu yang sifatnya crucial yaitu:
1. penangulangan masalah sosial,
3 Bandingkan isi pasal 1 ayat 1 antara kedua UU ini, kemudian terjadi penghilangan
ayat yang menyatakan daerah-daerah tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain.
4 Masalah-masalah non-ekonomi seperti sistem pemilihan kepala daerah dan anggota
2. pelayanan bidang ketenagakerjaan 3. pengembangan koperasi, dan UKM 4. pelayanan pertanahan
5. pelayanan administrasi penanaman modal, dan
6. pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota guna menjamin keseimbangan pembangunan, terjangkaunya pelayanan pemerintahan yang merata di wilayah propinsi
Urusan pilihan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota meliputi urusan pemerintahan yang nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah bersangkutan. Oleh karenanya beberapa bidang lain di luar urusan pemerintahan yang menjadi wewenang pusat dapat dilimpahkan sebagian atau
ditugaskan sebagian kepada pemerintah daerah sebagai implementasi hubungan vertikal antara pemerintah pusat dan daerah, yaitu: (i)
kebijakan pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, (ii) kebijakan alokasi dana perimbangan (iii) kebijakan konservasi sumber daya alam, (iv) kebijakan pendayagunaan teknologi tinggi dan
strategis, pemanfaatan kedirgantaraan, kelautan, pertambangan, dan kehutanan, dan (v) kebijakan pemberian pinjaman daerah atau hibah. Mengingat banyaknya kasus bertabrakannya kepentingan antar
pemerintah daerah yang bertetangga dalam penyelenggaraan
kewenangan pemerintahannya, UU No. 32/2004 secara eksplisit juga mengatur pola hubungan horizontal antar pemerintah daerah terutama dalam bidang penyerasian lingkungan tata ruang dan bagi hasil dari pemanfaatan SDA.
Sama halnya dengan UU No. 22/1999, pelaksanaan tugas pembantuan menurut UU pemerintahan daerah dimungkinan tidak hanya dari
pemerintah pusat kepada daerah, tetapi juga dari pusat dan daerah kepada desa yang disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta SDM dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan
mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskan.
Pemerintah daerah memilik hak dan kewajiban tertulis sebagai rambu-rambu karena pertimbangan banyaknya fungsi daerah yang
overlapping maupun tidak selaras dengan kebijakan pusat atau propinsi. Dilain pihak, DPRD diperkuat posisinya sebagai salah satu unsur dalam susunan pemerintahan daerah otonom yang memiliki hak-hak interpelasi, angket dan menyatakan pendapat dalam semua
hearing dengan pihak pemerintah daerah namun dibatasi oleh
Peran Gubernur dan pemerintah pusat via kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara sebagai dalam intervensinya kepada pemerintah daerah kabupaten/kota sangat terlihat pada pasal-pasal yang mengatur masalah kepegawaian daerah. Diantaranya tertulis bahwa pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian pejabat eselon II pada pemerintah Kabupaten/kota harus dikonsultasikan dengan Gubernur5 dan penetapan formasi PNS daerah provinsi/Kabupaten/Kota
dilakukan oleh Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara atas usul Gubernur.6
Keuangan Daerah
Penyelenggaraan tugas pemerintah daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Namun bila urusan pemerintahan di daerah yang bersifat tugas pembantuan karena sebenarnya adalah kewenangan pusat, tetap dibiayai oleh Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam bahasan dana bagi hasil, ditambahkan satu komponen dana hasil yang bersumber dari pajak yaitu bagi hasil dari pajak penghasilan (PPh)7. Menenggarai berbagai ketidakpuasan atas proporsi bagi hasil
dari sumber daya alam dari beberapa daerah yang memiliki sumber daya alam lebih dibandingkan daerah lain, UU No. 32/2004
memungkinkan dasar perhitungan yang lebih proporsional dimana penetapannya sekarang dilakukan oleh mentri teknis terkait melalui pertimbangan mendagri.
Ditekankan pula bahwa untuk membiayai kegiatan pemerintahannya, bila terjadi defisit, daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari pemerintah, pemerintah daerah lain, lembaga keuangan bank dan non-bank serta masyarakat lewat penerbitan obligasi daerah yang akan diatur dengan peraturan pemerintah. Adapun yang berwenang dan bertanggung jawab dalam melakukan pinjaman daerah ini adalah kepala daerah. Pinjaman luar negeri tidak dapat dilakukan karena bertentangan dengan kewenangan pemerintah pusat dalam urusan luar negeri. Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan yang diatur dengan pemerintahan daerah. Dalam keadaan dimana posisi keuangan daerah yang surplus, pemerintah daerah
diperkenankan untuk melakukan penyertaan modal pada badan usaha milik pemerintah ataupun swasta. Posisi surplus defisit APBD ini wajib dilaporkan kepada mendagri dan menkeu setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.
5 Pasal 130 ayat 2 UU No. 32/2004. 6 Pasal 132, UU No. 32/2004.
UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
UU ini dibuat sebagai revisi atau pengganti UU No. 25 Tahun 1999 tentang topik yang sama karena pertimbangan tidak sesuainya isi UU No. 25/1999 ini dengan keadaan terkini di negara Indonesia.
Perbedaan signifikan antara UU No. 33/2004 dan UU No. 25/1999 terletak pada kemungkinan lebih proporsionalnya dana perimbangan antara pusat dan daerah, terlihat dari bertambahnya komponen dana bagi hasil, dimana hasil pajak penghasilan (PPh) dan pajak dari sektor pertambangan panas bumi yang merupakan sumber penerimaan pajak pusat juga dibagi hasilnya dengan daerah. Berikut adalah pokok-pokok muatan UU No. 33/2004 dibandingkan dengan UU No. 25/19998:
a. Penegasan prinsip-prinsip dasar perimbangan keuangan Pemerintah dan Pemerintahan Daerah sesuai asas Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan;
b. Penambahan jenis Dana Bagi Hasil dari sektor Pertambangan Panas Bumi, Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21;
c. Pengelompokan Dana Reboisasi yang semula termasuk dalam komponen Dana Alokasi Khusus menjadi Dana Bagi Hasil;
d. Penyempurnaan prinsip pengalokasian Dana Alokasi Umum; e. Penyempurnaan prinsip pengalokasian Dana Alokasi Khusus; f. Penambahan pengaturan Hibah dan Dana Darurat;
g. Penyempurnaan persyaratan dan mekanisme Pinjaman Daerah, termasuk Obligasi Daerah;
h. Pengaturan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan; i. Penegasan pengaturan Sistem Informasi Keuangan Daerah; dan j. Prinsip akuntabilitas dan responsibilitas dalam Undang-Undang ini
dipertegas dengan pemberian sanksi.
Prinsip Dasar
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah adalah suatu sistem pembiayaan pemerintahan dalam kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta pemerataan antar-Daerah secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan Daerah, sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya.
8 Tertulis dalam penjelasan UU No. 33/2004, Perimbangan Keuangan antara
Penerimaan, Pengeluaran dan Pembiayaan
Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah mengatur
penyediaan sumber-sumber pembiayaan berdasarkan
desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Menurut undang-undang ini penyelenggaraan tugas daerah dalam rangka desentralisasi dibiayai atas beban APBD kecuali urusan pemerintahan yang merupakan tugas pembantuan dari pusat. Adapun sumber-sumber penerimaan daerah diperoleh dari: (i) Pendapatan Asli Daerah (hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan darah lainnya yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah), (ii) Dana Perimbangan, dan (iii) Lain-lain Pendapatan. Penyerahan atau pelimpahan kewenangan pemerintah pusat atau penyerahan kewenangan atau penugasan pemerintah pusat kepada Bupati/Walikota diikuti dengan pembiayaannya.
Tabel 1 Perbandingan Sumber-sumber Penerimaan Daerah menurut UU No. 25/1999 dan No. 33/2004.
Sumber penerimaan No. 25/1999 Sumber penerimaan No. 33/2004
Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah
Pajak daerah Pajak daerah
Retribusi daerah Retribusi daerah
Hasil BUMD dan pengelolaan kekayaan
daerah lainnya yang disahkan
Hasil BUMD dan pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang disahkan
Lain-lain PAD yang sah Lain-lain PAD yang sah
o hasil penjualan kekayaan daerah o hasil penjualan kekayaan daerah
yang tidak dipisahkan
o Jasa Giro o Jasa Giro
o Lainnya o Pendapatan Bunga
o Keuntungan selisih nilai tukar
o Komisi, potongan dari penjualan
dan atau pengadaan barang/jasa
Dana Perimbangan Dana Perimbangan
Bagian daerah dari PBB, BPHTB, dan
penerimaan SDA
Bagian daerah dari PBB, BPHTB, PPh Ps. 25, 29, 21 dan penerimaan SDA
Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana Alokasi Khusus (DAK) Dana Alokasi Khusus (DAK)
Pinjaman Daerah Pembiayaan
Pinjaman dengan sumber dana dalam
negeri
Sisa lebih perhitungan anggaran daerah
Pinjaman dengan sumber dana luar
negeri
Pinjaman daerah dengan sumber dana dalam negeri (termasuk obligasi)
Dana Cadangan Daerah
Hasil Penjualan kekayaan daerah yang
dipisahkan9
Lain-lain pendapatan yang sah Lain-lain pendapatan yang sah
Hibah Hibah
Dana darurat Dana darurat
Penerimaan-penerimaan yang sesuai dengan UU
yang berlaku Penerimaan-penerimaan yang sesuai dengan UU yang berlaku
Sumber: UU-PKPD No. 25/1999 dan No. 33/2004
Dana perimbangan merupakan sumber pendapatan daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada daerah, terutama untuk peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. pembiayaan pelaksanaan desentralisasi yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, karena tujuan masing-masing jenis penerimaan tersebut saling mengisi dan melengkapi.
Tabel 2 Alokasi Pembagian Dana Perimbangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
20 Dibagi merata ke seluruh kabupaten/ kota di Indonesia
o Hasil perikanan 20 Dibagi merata ke seluruh kabupaten/ kota di Indonesia 2. Dana Alokasi Umum Ditetapkan oleh Kepres
3. Dana Alokasi Khusus Ditentukan dengan PP
** untuk seluruh daerah termasuk kabupaten/kota dan propinsi
*** 0,5% dialokasikan untuk anggaran pendidikan dengan komposisi: 0,1 provinsi; 0,2 kab/kota penghasil, 0,2 kab/kota lainnya dalam provinsi
**** dibagikan dengan porsi yang sama
***** Realisasi tidak boleh melebihi 130% dari asumsi dasar harga minyak dan gas bumi dalam APBN tahun berjalan
Sumber: UU-PKPD No.33/2004
1. Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana Alokasi Umum (DAU) dialokasikan dengan dasar (i) celah fiskal dan (ii) alokasi dasar Dengan tujuan terciptanya pemerataan alokasi antar daerah, perlu diperhatikan bagaimana kemampuan dan potensi daerah. DAU atas dasar alokasi dasar didasarkan pada jumlah PNS daerah. Sedangkan DAU atas dasar celah fiskal yang merupakan selisih antara kebutuhan Daerah (fiscal need) dan potensi Daerah (fiscal capacity), didasarkan pada jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, tingkat PDRB perkapita dan Indeks pembangunan manusia. Penentuan DAU ini dihitung sedemikian rupa agar perbedaan antara daerah yang maju dengan daerah yang belum berkembang dapat diperkecil.
DAU atas dasar celah fiskal untuk daerah provinsi dihitung berdasarkan perkalian bobot provinsi bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh provinsi. Untuk daerah Kabupaten/Kota DAU atas dasar celah fiskal dihitung berdasarkan perkalian bobot daerah kab/kota bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh kab/kota. Bobot provinsi merupakan perbandingan celah fiskal provinsi bersangkutan dan total celah fiskal seluruh provinsi. Untuk daerah kabupaten/kota, bobot merupakan perbandingan celah fiskal kab/kota bersangkutan dan total celah fiskal seluruh kab/kota. Dasar perhitungan untuk kapasitas fiskal daerah disediakan oleh lembaga statistik (BPS) atau lembaga pemerintah lain yang berwenang. Sebagai ilustrasi, berikut adalah contoh penghitungan DAU berdasarkan penjelasan UU No. 33/2004:
1. Contoh perhitungan : Kebutuhan Fiskal sama dengan Kapasitas Fiskal
Kebutuhan Fiskal = Rp 100 miliar
Kapasitas Fiskal = Rp 100 miliar Alokasi Dasar = Rp 50 miliar
Celah Fiskal = Kebutuhan Fiskal – Kapasitas Fiskal
= Rp 100 miliar – Rp100 miliar = 0
DAU = Alokasi Dasar
2. Contoh penghitungan dalam hal celah fiskal negatif maka jumlah DAU yang diterima Daerah adalah sebesar Alokasi Dasar setelah diperhitungkan dengan celah fiskalnya. Contoh perhitungan :
Kebutuhan Fiskal = Rp 100 miliar
Kapasitas Fiskal = Rp 125 miliar Alokasi Dasar = Rp 50 miliar
Celah Fiskal = Kebutuhan Fiskal – Kapasitas Fiskal
= Rp 100 miliar – Rp 125 miliar = Rp-25 miliar (negatif)
DAU = Alokasi Dasar + Celah Fiskal
Total DAU = Rp50 miliar + Rp-25 miliar = Rp25 miliar
3. Contoh perhitungan : Celah Fiskal (negatif) melebihi Alokasi Dasar
Kebutuhan Fiskal = Rp 100 miliar
Kapasitas Fiskal = Rp 175 miliar Alokasi Dasar = Rp 50 miliar
Celah Fiskal = Kebutuhan Fiskal – Kapasitas Fiskal
= Rp 100 miliar – Rp 175 miliar = Rp-75 miliar (negatif)
DAU = Celah Fiskal + Alokasi Dasar
Total DAU = Rp-75 miliar + Rp 50 miliar = Rp-25 miliar atau disesuaikan menjadi Rp 0 (nol)
Secara implisit, perhitungan lewat formula sesuai contoh di atas menunjukkan bahwa alokasi DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi kebutuhan fiskal kecil akan memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya, daerah yang potensi fiskalnya kecil, namun kebutuhan fiskal besar akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut menegaskan fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal.
Jumlah Dana Alokasi Umum bagi semua daerah propinsi, kabupaten dan kotamadya ditetapkan setiap tahun dalam APBN. Jumlah dana alokasi umum untuk daerah ditetapkan paling sedikit 26% dari penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN.
2. Dana Alokasi Khusus (DAK)
proyek-proyek kemanusiaan. Besarnya Dana Alokasi Khusus ditetapkan setiap tahun dalam APBN dan dialokasikan kepada daerah tertentu desar penetapan (i) kriteria umum dengan pertimbangan kemampuan keuangan daerah dalam APBD, (ii) kriteria khusus dengan pertimbangan peraturan perundang-undangan dan karakteristik daerah, serta (iii) kriteria teknis yang ditetapkan kementrian negara/departemen teknis. Daerah penerimaan DAK wajib menyediakan dana pendamping yang dianggarkan dalam APBD, minimal 10% dari alokasi DAK kecuali daerah dengan kemampuan fiskal tertentu.
Aturan Masalah Pinjaman Daerah
Pinjaman daerah hanya bisa didapatkan dari sumber dalam negeri dengan batasan maksimal 60% dari PDRB tahun bersangkutan, untuk pinjaman kumulatif keseluruhannya dibatasi oleh peraturan perundang-undangan. Tentunya pemerintah pusat dapat memberikan pinjaman pada daerah dengan uang yang didapat dari pinjaman luar negeri. Pinjaman daerah dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
(i) pinjaman jangka pendek yang pelunasannya secara total (termasuk bunga dan biaya-biaya lain) harus dilunasi dalam tahun anggaran bersangkutan. Penggunaanya adalah untuk menutup kekurangan arus kas.
(ii) Pinjaman jangka menengah yang pelunasannya secara total harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan kepala daerah. Penggunaannya untuk membiayai penyediaan layanan umum yang tak menghasilkan penerimaan. (iii) Pinjaman jangka panjang yang pelunasannya total harus dilunasi pada tahun-tahun anggaran berikutnya seusia dengan persyaratan perjanjian pinjaman. Penggunaannya untuk membiayai proytek investasi yang menghasilkan penerimaan.
Untuk pinjaman jangka menengah dan panjang, pelaksanaannya wajib mendapat izin dari DPRD. Khusus untuk jangka panjang, jumlah kumulatif pokok pinjaman daerah yang wajib dibayar disyaratkan tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. Rasio kemampuan keuangan daerah dalam melakukan pembiayaan lewat pinjaman daerah dihitung dengan formula Debt Service Coverage Ratio (DSCR) sebagai berikut:
DSCR =
{PAD + DAU + (DBH – DBHDR)} –
Belanja Wajib X
Pokok pinjaman + Bunga + Biaya Lain
PAD = Pendapatan Asli Daerah;
DAU = Dana Alokasi Umum;
DBH = Dana Bagi Hasil; dan
DBHDR = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi.
X = Syarat minimum yang diatur oleh peraturan perundang-undangan
Bila obligasi daerah dipilih sebagai alternatif pembiayaan oleh daerah, maka dengan persetujuan DPRD pemerintah daerah dapat menerbitkan obligasi via peraturan daerah di pasar modal domestik dengan mengikuti peraturan perundang-undangan di pasar modal.
Penyusunan dan Penetapan APBD
Struktur
APBD terdiri dan Pendapatan Daerah, Belanja Daerah, dan Pembiayaan. Pendapatan Daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan. Adapun Belanja Daerah diklasifikasikan menurut:
(i) organisasi yang disesuaikan dengan susunan perangkat daerah/lembaga teknis daerah;
(ii) fungsi terdiri antara lain: layanan umum, ketertiban kemanan, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasiliitas umum, kesehatan, pariwisata, budaya, agama, pendidikan, serta perlindungan sosial;
(iii) jenis belanja (sifat ekonomi) terdiri dari a.l belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, bunga, subsidi, hibah, dan bantuan sosial.
sumber pembiayaan yang merupakan pengeluaran sepertinya harus dijelaskan dalam peraturan perundang-undangan kemudian.
Proses Penetapan APBD
Dalam rangka penetapan APBD, kepala daerah menyampaikan rancangan APBD kepada DPRD untuk mendapatkan persetujuan. Apabila bagian rancangan APBD tidak disetujui DPRD, Pemerintah Daerah berkewajiban menyempumakan rancangan APBD tersebut untuk selanjumya disampaikan kembali kepada DPRD. Jika rancangan APBD tersebut disepakati Pemerintah Daerah dan DPRD membahas prioritas dan plafon anggaran sementara.
Dalam pelaksanaannya, tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan perubahan terhadap APBD. Perubahan ini dapat terjadi sehubungan dengan kebijaksanaan Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah yang bersifat strategis atau bisajuga berupa penyesuaian akibat tidak tercapainya target Penerimaan Daerah yang ditetapkan. Mengenai waktunya, pembahan APBD ditetapkan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran tertentu berakhir dan hanya dapat dilakukan satu kali tahun anggaran kecuali keadaan luar biasa yaitu keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50%--selisih kenaikan antara pendapatan dan belanja dalam APBD.
Pelaksaanaan APBD
UU No 32/2004 inipun dibandingkan UU No. 25/1999 adalah secara lebih rinci mengatur pertanggungjawaban, pengendalian, pengawasan, dan pemeriksaan untuk pelaksanaan APBD hingga Dana Konsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan.
Masalah Peralihan
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa peraturan pelaksanaan UU No. 25/1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah masih tetap berlaku sepanjang belum ada penggantian oleh peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan UU No. 33/2004. Oleh karenanya beberapa peraturan pelaksanaan UU No. 25/1999 dirasakan masih relevan dalam implementasinya. Salah satu yang wajib
diketahui oleh pelaku pemerintahan daerah serta anggota DPRD
adalah UU No.34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah. 10Tentunya konsekwensi berikutnya adalah bila
keluar revisi UU No. 34/2000 maka otomatis UU ini tidak berlaku lagi.
10 Uraian tentang UU No. 34/2000 ini diambil seluruhnya dari bahan modul pengajaran
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 secara umum berisikan mengenai berbagai ketentuan-ketentuan pokok yang dapat dijadikan pedoman kebijakan dan arahan bagi Daerah dalam pelaksanaan pemungutan pajak dan retribusi, sekaligus menetapkan pengaturan untuk menjamin penerapan prosedur umum perpajakan daerah dan retibusi daerah.
Pajak daerah
Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaran pemerintahan daerah dan pembangunan daerah.
Jenis-Jenis Pajak Daerah
Untuk tingkat propinsi ditetapkan 4 jenis pajak, namun meskipun demikian tidak berarti daerah harus menerapkan keempat jenis pajak tersebut. Daerah dapat saja hanya menerapkan satu atau beberapa jenis pajak yang telah ditetapkan, jika potensi pajak didaerah tersebut dinilai kurang memadai, keempat jenis pajak tersebut adalah :
1. Pajak Kendaraan bermotor dan kendaraan diatas air.
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di atas Air 3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
4. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air permukaan
Sedangkan untuk tingkat kabupaten/kodya, pajak-pajak yang ditetapkan adalah:
1. Pajak Hotel 2. Pajak Restoran 3. Pajak Hiburan 4. Pajak Reklame
5. Pajak Penerangan Jalan
6. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 7. Pajak Parkir
Selain yang disebutkan di atas, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melalui Peraturan Daerah dapat menetapkan pajak dengan syarat memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Bersifat pajak dan bukan Retribusi;
3. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum;
4. Objek pajak bukan merupakan objek pajak Propinsi dan/atau objek pajak Pusat;
5. Potensinya memadai;
6. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;
7. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; dan 8. Menjaga kelestarian lingkungan.
Hasil Pajak
Hasil penerimaan pajak propinsi sebagian diperuntukan bagi daerah kabupaten/kota di wilayah propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan:
Hasil penerimaan pajak bermotor dan kendaraan di atas air serta bea batik nama kendaraan bermotor dan kendaraan diatas air kepada daerha kabupaten/kota paling sedikit 30%.
Hasil penerimaan pajak bahan bakar kendaraan bermotor diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 70%
Hasil dari penerimaan pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 70%
Hasil penerimaan pajak kabupaten paling sedikit diperuntukan bagi desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan (10%).
Tarif Pajak
Dalam UU No. 34 Tahun 2000 mengatur Tarif Pajak tertinggi yang dapat dipungut oleh Daerah untuk tiap jenisnya dan diberlakukan seragam di seluruh Indonesia. Penetapan tarif pajak paling tinggi bertujuan untuk memberi perlindungan kapada masyarakat dari penetapan tarif yang terlalu membebani, sedangkan tarif paling rendah tidak ditetapkan untuk memberi peluang kepada Pemerintah Daerah untuk mengatur sendiri besamya tarif sesuai dengan kondisi masyarakat di Daerahnya.
Tarif pajak tertinggi yang diberlakukan adalah : 1. Pajak Kendaraan bermotor paling sedikit 5%
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10%
3. Pajak Bahan Bakar kendaraan bermotor 5%
4. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20%
8. Pajak Reklame 25%
9. Pajak Penerangan jalan 10%
10. Pajak pengambilan
bahan galian golongan C 20%
11. Pajak Parkir 20%
Retribusi Daerah
Retrubusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pambayaran alas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberkan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Jenis-jenis Retribusi
1. Retribusi jasa umum, adalah pungutan atas jasa yang disediakan untuk diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
2. Retribusi jasa usaha, adalah pungutan atas jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasamya dapat pula disediakan oleh sektor swasta.
3. Retribusi perijinan tertentu, adalah kegiatan tertentu pemerintah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
Beberapa Kesimpulan
o Menurut UU No.33/2004, penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan berdasarkan pada azas desentralisasi, azas
dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
o Pelaksanaan azas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Propinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Wewenang Propinsi sebagai daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten/Kota serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. Sedangkan kewenangan propinsi sebagai sebagai wilayah administrasi merupakan pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dikonsentrasikan pada Gubemur.
o Pelaksanaan tugas pembantuan menurut Undang-undang
Pemerintahan Daerah dimungkinkan tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah, tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa yang disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.
o Penyelenggaraan tugas daerah dalam rangka desentralisasi dibiayai atas beban APBD. Sumber-sumber penerimaan daerah diperoleh dari: Pendapatan Asli Daerah (hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan darah lainnya yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah), Dana Perimbangan (Bagian daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus), dan Lain-lain Penerimaan yang sah. Sedangkan pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dibiayai atas beban APBN.
o Daerah diizinkan untuk membentuk dana cadangan untuk membiayai kebutuhan dana yang tidak dapat dibebankan dalam satu tahun anggaran. Pemerintah daerah juga diizinkan untuk melakukan pinjaman dalam memenuhi kebutuhan dana dalam rangka pembangunan daerah. Sumber pinjaman ini dapat berasal dari dalam negeri saja, dengan jenis pinjaman jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Untuk pinjaman jangka panjang, jumlah kumulatif pokok pinjaman daerah yang wajib dibayar disyaratkan tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya, dan berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran daerah selama jangka waktu pinjaman.
Referensi
o UU No. 22/1999 Tentang Pemerintahan Daerah
o UU No. 25/1999 Tentang Perimbangan Keuaaangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah
o Penjelasan UU No. 25/1999 Tentang Perimbangan Keuaaangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah
o UU No. 32/2004 Tentang Pemerintahan Daerah
o Penjelasan UU No. 32/2004 Tentang Pemerintahan Daerah
o UU No. 33/2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah
o Penjelasan UU No. 33/2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah
o PP Nomor 104/2000 tentang Dana Perimbangan
o Keputusan Presiden No. 181/2000 mengenai Dana Alokasi Umum Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2001.
o PP Nomor 105/2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah
o PP Nomor 106/2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
o PP Nomor 107/2000 tentang Pinjaman Daerah. Diantara berbagai hal lainnya, ke-empat PP tersebut menguraikan berapa besar masing-masing pemerintah daerah mendapat bagian dari pusat pada tahun anggaran 2001.