• Tidak ada hasil yang ditemukan

RPIJM KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "RPIJM KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 7 i DAFTAR ISI

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA...2

KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA ...2

7.1 Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman ... 2

7.1.1 Kondisi Eksisting Pembangunan Permukiman Dan Infrastruktur Permukiman Perkotaan... 3

7 . 2 Penataan Bangunan Dan Lingkungan... 31

7.2.1 Kondisi Eksisting ... 31

7.2.2 Sasaran Program... 32

7.2.3 Usulan Kebutuhan Program ... 36

7.3 Sektor Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)... 37

(2)

BAB 7 2

BAB 7

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA

KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA

Pembangunan infrastruktur merupakan aktivitas penyediaan sarana

prasarana dasar yang meliputi penyediaan sarana prasarana transportasi, air

bersih, energi listrik, telekomunikasi, drainase dan persampahan di suatu wilayah.

Ketersediaan infrstruktur dalam suatu wilayah merupakan hal yang mutlak

harus dipersiapkan, karena kemajuan pembangunan suatu wilayah sangat

ditentukan oleh faktor ini. Untuk itu pembangunan infrastruktur sangat

membutuhkan perhatian kita semua bila kita ingin mewujudkan harapan- harapan

yang tercantum dalam visi misi pada bab sebelumnya.

Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa Pembangunan Daerah

tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja tetapi harus dilakukan oleh semua

pihak. Artinya, selain pemerintah juga oleh masyarakat dan pihak swasta atau dunia

usaha. Selama ini penyediaan infrastruktur utama (social overhead capital)

sebagai penggalangan investasi (induce investment) dilakukan oleh pemerintah

pusat, Provinsi maupun daerah. Sehubungan dengan hal ini, pihak pemerintah

tidak akan bertindak sebagai pelaku monopoli dalam penyediaan, dan mengelola

infrastruktur di masa mendatang, tetapi sebagian penyediaan prasarana dan

sarana dimaksud akan dialihkan kepada sektor swasta yang memiliki manajemen,

teknologi, dan finansial untuk membangun dan mengelola fasilitas-fasilitas dasar

dan penunjang tersebut.

7.1 Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman

Pembangunan infrastruktur merupakan aktivitas penyediaan sarana prasarana

dasar yang meliputi penyediaan sarana prasarana transportasi, air bersih, energi

listrik, telekomunikasi, drainase dan persampahan di suatu wilayah. Ketersediaan

infrstruktur dalam suatu wilayah merupakan hal yang mutlak harus dipersiapkan,

karena kemajuan pembangunan suatu wilayah sangat ditentukan oleh faktor ini.

Untuk itu pembangunan infrastruktur sangat membutuhkan perhatian kita semua

bila kita ingin mewujudkan harapan-harapan yang tercantum dalam visi misi pada

bab sebelumnya.

Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa Pembangunan Daerah tidak dapat

dilakukan oleh pemerintah saja tetapi harus dilakukan oleh semua pihak. Artinya,

(3)

BAB 7 3

Selama ini penyediaan infrastruktur utama (social overhead capital) sebagai

penggalangan investasi (induce investment) dilakukan oleh pemerintah pusat,

Provinsi maupun daerah. Sehubungan dengan hal ini, pihak pemerintah tidak

akan bertindak sebagai pelaku monopoli dalam penyediaan, dan mengelola

infrastruktur di masa mendatang, tetapi sebagian penyediaan prasaran a dan sarana

dimaksud akan dialihkan kepada sektor swasta yang memiliki manajemen,

teknologi, dan finansial untuk membangun dan mengelola fasilitas -fasilitas dasar

dan penunjang tersebut.

7.1.1 Kondisi Eksisting Pembangunan Permukiman Dan Infrastru ktur Permukiman Perkotaan

A. Data kondisi eksisting kawasan kumuh, sebagai baseline perencanaan

pembangunan menuju 100-0-100, dilengkapi dengan SK bupati/walikota.

Berikut data kondisi eksisting kawasan kumuh dikabupaten Bolaang Mongondow Utara

Tabel 7.1 Luas Kawasan Kumuh Kab. Bolaang Mongondow Utara

Pengembangan Permukiman baik di perkotaan maupun di perdesaan pada

hakekatnya adalah untuk mewujudkan kondisi perkotaan dan perdesaan yang sehat

dan layak huni (liveble), aman, nyaman, damai dan berkelanjutan serta

meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Demikian juga Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara telah melakukan

pengembangan permukiman di perkotaan dan perdesaan, seperti:

a. Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar bagi Kawasan Rumah La yak Huni

tersebar di 6 (enam ) kecamatan;

b. Peningkatan Kualitas Permukiman, bagi masyarakat miskin yang tersebar di

beberapa lokasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara;

c. Penataan dan Peremajaan Kawasan;

Luas Kumuh: 50.76 Ha 0 Ha

Luas Kumuh Berat : 0 Ha 0 Ha

Luas Kumuh Sedang : 50.76 Ha 0 Ha

Luas Kumuh Ringan : 0 Ha 0 Ha

STRATEGI OPTIMIS

Penangan Kumuh Kab. Bolaang Mongondow Utara 2015 2016 2017 2018 2019

(4)

BAB 7 4

d. Pengembangan kawasan perbatasan antar kabupaten sekitarnya juga telah

dilakukan dll.

Untuk mempercepat pertumbuhan dan pengembangan permukiman, Pemerintah

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara telah merencanakan Desa Pusat

Pertumbuhan (DPP) di beberapa lokasi. Penetapan DPP dengan memp erhatikan

banyak faktor, antara lain potensi ekonomi kawasan, jumlah penduduk,

terbatasnya prasarana dan sarana dasar. Pengembangan Kawasan Permukiman

Perdesaan Pengembangan kawasan permukiman perdesaan di Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara diarahkan pada Pengembangan Kawasan Terpilih Pusat

Pengembangan Desa (KTP2D) dan Pengembangan Kawasan Agropolitan.

a. Pembangunan Kawasan Terpilih Pusat Pertumbuhan Desa (KTP2D)

Pembangunan Kawasan Terpilih Pusat Pertumbuhan Desa (KTP2D) merupakan

pendekatan pembangunan kawasan perdesaan dengan cara mengembangkan

potensi unggulannya, yaitu suatu sumber daya dominan baik yang belum diolah

(eksplor) maupun sumber daya yang tersembunyi berupa sumber daya alam,

sumber daya buatan ataupun sumber daya manusia yang difokuskan pada

kemandirian masyarakat sesuai dengan azas Tridaya yang intinya adalah

pemberdayaan masyarakat, ekonomi dan pendayagunaan prasarana dan sarana

permukiman.

Harapan keberadaan DPP dan KTP2D dapat meningkatkan pelayanan dan menjadi

pusat pertumbuhan bagi kawasan sekitarnya dengan saling menunjang antara

potensi-potensi desa pengembangan kawasan dengan konsep KTP2D di Kabuapten

Bolaang Mongondow Utara sangat tepat guna mempercepat dan mempermudah

pembangunan dan pengembangan desa.

Aksesibilitas warga menjadi lebih dekat karena prasarana dan sarana kota

tersedia di kawasan atau bila belum tersedia dapat dikembangkan/ dibangun

(5)

BAB 7 5

Keberadaan KTP2D diharapkan mampu melayani desa-desa yang berada di

kawasan tersebut sehingga kawasan menjadi lebih mandiri dan saling melengkapi

kebutuhan prasarana dan sarananya.

b. Pembangunan Kawasan Agropolitan

Selain pengembangan kawasan perdesaan dengan konsep KTP2D, Kabupaten

Bolaang Mongondow Utara juga mengembangkan kawasan agropolitan. Kawasan

yang akan dikembangkan sebagai kawasan agropolitan adalah Kawasan

Agropolitan Kec. Bolangitang Barat, Kecamatan Pinogaluman,Kecamatan

Bolangitang Timur,Kecamatan Bintauna,dan Kecamatan Sangkub serta Kecamatan

Kaidipang.

Strategi pengembangan wilayah dan usaha agribisnis perlu disinergikan untuk

mengoptimalkan kawasan dalam pembangunan. Pengembangan pertanian perlu

disiapkan secara matang dengan memperhatikan keterkaitan aktivitas yang akan

dikembangkan, baik dampak ke belakang (backward linkage) maupun dampak ke

depan (forward linkage).

Agribisnis sebagai suatu sistem perlu disediakan infrastruktur dasar dan

pendukungnya, seperti: jaringan jalan, air bersih, sarana pengolahan, pemasaran

serta adanya kemandirian sumber daya manusia dan kelembagaan yang memadai

(suprastruktur) dan berakar kuat. Artinya bahwa membangun kawasan perdesaan

dengan kegiatan utama agribisnis, tak pelak lagi merupakan pembangunan sub

sistem infrastruktur dan suprastruktur dalam suatu sistem kawasan agropolitan.

Agropolitan (kota dengan basis ekonomi pertanian) merupakan salah satu upaya

memepercepat pembangunan perdesaan sehingga tidak lagi bertumpu pada

pusat-pusat pertumbuhan yang biasanya terletak di pusat-pusat-pusat-pusat kota. Melalui

agropolitan, desa dengan fasilitas kota akan tumbuh dan berkembang karena

berjalannya sistem agribisnis yang mampu melayani, mendorong, menarik kegiatan

pembangunan pertanian (agribisnis) wilayah sekitarnya sehingga menjadi suatu

sistem kawasan yang komplementer dan terpadu.

Diharapkan melalui pengembangan kawasan agropolitan ini, dapat meningkatkan:

- Keterkaitan desa dan kota sehingga dapat diwujudkan sinergi pertumbuhan

(6)

BAB 7 6

- Mendorong tumbuhnya wilayah-wilayah perdesaan melalui pengembangan

potensi wilayah terutama di bidang usaha pertanian dengan sistem agribisnis yang

berdaya saing tinggi, berbasis kerakyatan dan berkelanjutan;

- Hubungan spasial antara hierarki wilayah pembangunan;

- Mewujudkan platform daya saing agribisnis Kabupaten Bolaang Mongondow

Utara agar mampu menarik investor untuk terlibat secara intensif dalam

pendayagunaan potensi daerah;

- Pendapatan dan kesejahteraan warga masyarakat.

c. Penyediaan Prasarana dan Sarana dalam rangka Penanganan Bencana

Beberapa lokasi di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan

kawasan rawan bencana alam antara lain tanah banjir dan longsor.Peristiwa

bencana alam tersebut tidak menimbulkan korban jiwa,tetapi mnimbulkan

kerugian material.sehingga untuk menghindari akan adanya korban.Adapun

wilayah –wilayah yang rawan dengan bencana alam tersebut dapat dilihat dalam

tabel dibawah ini.

Tabel 7.1 Daerah Rawan Bencana Alam

B. Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan, permukiman Perdesaan, permukiman nelayan, rawan bencana, perbatasan, dan pulau kecil

Pengembangan kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Bolaang

(7)

BAB 7 7

kawasan rumah sehat sederhana (RSH), penataan dan peremajaan kawasan, serta

peningkatan kualitas permukiman.

Perbaikan lingkungan perumahan dan permukiman serta penyediaan PSD untuk

meningkatkan kualitas permukiman selama ini telah dilakukan oleh Pemerintah

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Tetapi belum semua kawasan perumahan dan

permukiman dapat terjangkau dan terlayani sehingga diharapkan ada peran serta

masyarakat dan swasta dalam mewujudkan kebutuhan perumahan dan permukiman

yang sehat dan layak huni.

Pada tahun 2008, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

melaksanakan Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP-PNPM) di

kecamatan kaidipang. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan

kemandirian dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sehingga mampu

meningkatkan kesejahteraan khususnya masyarakat miskin serta mengurangi jumlah

penduduk miskin di perkotaan.

Berkembangnya kebutuhan perumahan dan permukiman di perkotaan belum

membawa dampak tumbuhnya kantong-kantong permukiman kumuh demikian juga di

wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Hal ini mengindikasikan bahwa

kebutuhan akan lahan dan ruang untuk tempat tinggal semakin meningkat seiring

dengan lahan dan ruang di perkotaan semakin terbatas dan kecenderungan warga

masyarakat yang ingin tinggal di dekat pusat-pusat kota. Akibatnya kawasan pusat kota

tidak mampu lagi menampung aktivitas warganya yang berdampak pada sistem

pelayanan perkotaan, kualitas lingkungan dan masalah sosial yang semakin kompleks.

Untuk mencegah timbulnya kawasan kumuh, Pemerintah Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara dengan menata lingkungan guna menciptakan kemandirian A.

Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan Pengembangan kawasan permukiman

perkotaan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara diarahkan pada penyediaan

prasarana dan sarana dasar (PSD) bagi kawasan rumah sehat sederhana (RSH), penataan

dan peremajaan kawasan, serta peningkatan kualitas permukiman.

Perbaikan lingkungan perumahan dan permukiman serta penyediaan PSD untuk

meningkatkan kualitas permukiman selama ini telah dilakukan oleh Pemerintah

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Tetapi belum semua kawasan perumahan dan

permukiman dapat terjangkau dan terlayani sehingga diharapkan ada peran serta

masyarakat dan swasta dalam mewujudkan kebutuhan perumahan dan permukiman

(8)

BAB 7 8

Pada tahun 2008, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara melaksanakan

Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP-PNPM) di kecamatan

kaidipang. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan kemandirian

dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sehingga mampu meningkatkan

kesejahteraan khususnya masyarakat miskin serta mengurangi jumlah penduduk miskin

di perkotaan.

Berkembangnya kebutuhan perumahan dan permukiman di perkotaan belum membawa

dampak tumbuhnya kantong-kantong permukiman kumuh demikian juga di wilayah

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan akan

lahan dan ruang untuk tempat tinggal semakin meningkat seirin g dengan lahan dan

ruang di perkotaan semakin terbatas dan kecenderungan warga masyarakat yang ingin

tinggal di dekat pusat-pusat kota. Akibatnya kawasan pusat kota tidak mampu lagi

menampung aktivitas warganya yang berdampak pada sistem pelayanan perko taan,

kualitas lingkungan dan masalah sosial yang semakin kompleks.

Untuk mencegah timbulnya kawasan kumuh, Pemerintah Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara dengan menata lingkungan guna menciptakan kemandirian

masyarakat dalam memelihara lingkungan permukimannya agar tetap tertata, bersih dan

layak huni. Kawasan rawan bencana menjadi prioritas perbaikan lingkungan

permukiman, seperti kawasan rawan, genangan/ banjir, kebakaran dll.

2. Prasarana Dan Sarana Dasar Permukiman

Keberadaan desa-desa di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara memiliki potensi lebih,

seperti: potensi ekonomi, sosial budaya, wisata, prasarana dan sarana. Sebagian desa

telah ditetapkan sebagai Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) dan sebagian kawasan telah

ditetapkan sebagai kawasan agropolitan.

Desa pusat pertumbuhan didukung oleh desa-desa sekitar (hinterland-nya) yang

diharapkan menjadi satu kawasan yang saling mendukung dan saling melengkapi dari

potensi-potensi yang ada. Pola KTP2D ini sangat tepat untuk mempercepat pembangunan

kawasan, efektif dan efisien dalam penyediaan prasarana dan sarana dasar serta

meningkatkan akses pada pasar.

Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara saat ini telah ditetapkan 2 (dua) DPP yaitu di

Desa Buko Kecamatan Pinogaluman, Desa Sangub Kecamatan Sangkub.Jumlah DPP ini

masih terbatas sedangkan desa-desa lain yang memiliki potensi dan dapat dikembangkan

(9)

BAB 7 9

Dengan telah ditetapkannya desa-desa menjadi kawasan terpilih pusat pengembangan

dan kawasan agropolitan akan lebih efektif dan efisien dalam penyediaan prasarana dan

sarana dasar perdesaan guna peningkatan perekonomian kawasan serta kesejahteraan

masyarakatnya.

Kondisi lingkungan perumahan dan permukiman masih banyak yang perlu diting katkan,

khususnya perbaikan perumahan masyarakat yang belum layak huni dan lingkungan

permukiman yang masih terbatas prasarana dan sarana dasarnya.

Warga masyarakat di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sebagian besar bertempat

tinggal di kawasan perkotaan (ibukota kecamatan), hal ini terkait dengan kemudahan

aksesibilitas dan tersedianya prasarana dan sarana perkotaan. Di sisi lain lahan dan ruang

di kawasan perkotaan sangat terbatas, sehingga sering dijumpai suatu kawasan

perkotaan padat penduduk yang mengakibatkan kawasan tersebut tidak tertata, teratur

dan menjadi kumuh. Bila tidak segera kawasan kumuh ini ditata dan dibenahi dapat

menimbulkan kerawanan, seperti: masalah lingkungan hidup, sosial, kriminalitas dll.

Penyediaan prasarana dan sarana dasar (PSD) perkotaan melalui pembangunan,

peningkatan maupun pemeliharaan telah dilakukan selama ini. Selain itu bantuan

stimulan sebagai pendorong dalam perbaikan PSD, permukiman juga telah dilakukan

oleh Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, yang diberikan kepada warga/

masyarakat yang benar-benar membutuhkan untuk meningkatkan kualitas PSD

perkotaan dan perumahan maupun lingkungannya.

Tabel 7.2 Presentase Jumlah Rumah Tangga Menurut Luas Lantai

Luas Lantai (M2) 2007 2008

(10)

BAB 7 10

Tabel 7.3 Presentase Jumlah Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai

Jenis Lantai %

Bukan Tanah

Tanah

89,74

10,26

Jumlah 100,00

Catatan : Diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS)

Tabel 7.4 Presentase Rumah Tangga Menurut Dinding Terluas Yang Di Gunakan

Jenis Dinding 2007 2008

Tembok 53,75 59,18

Kayu 21,04 20,74

Bambu 22,92 20,08

Lainnya 2,29 0,00

Jumlah 100,00 100,00

Catatan : Diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS)

Tabel 7.5 Presentase Rumah Tangga Menurut Atap Terluas Yang Di Gunakan

Jenis Lantai %

Beton 3,42

Genteng 1,28

Sirap 1,28

Seng 53,62

Asabes 0,64

Ijuk/Rumbia 39,75

Lainnya -

Jumlah 100,00

(11)

BAB 7 11

Dari tabel di atas terlihat bahwa bangunan yang memiliki luas lantai < 20 M2 mengalami

penurunan.ini di akibatkan banyaknya rumah yang telah direnovasi dan menambah luas

lantainya.

Kondisi lingkungan perumahan dan permukiman masih banyak yang perlu ditingkatkan,

khususnya perbaikan perumahan masyarakat yang belum layak huni dan lingkungan

permukiman yang masih terbatas prasarana dan sarana dasarnya.

Banyak ditemui sebagian dari warga masyarakat di Kabupaten Bolaang Mongo ndow

Utara bertempat tinggal di kawasan perkotaan, hal ini terkait dengan kemudahan

aksesibilitas dan tersedianya prasarana dan sarana perkotaan. Di sisi lain lahan dan ruang

di kawasan perkotaan sangat terbatas, sehingga sering dijumpai suatu kawasan

perkotaan padat penduduk yang mengakibatkan kawasan tersebut tidak tertata, tidak

teratur dan menjadi kumuh. Bila tidak segera kawasan kumuh ini ditata dan dibenahi

dapat menimbulkan kerawanan, seperti: masalah lingkungan hidup, sosial, kriminalitas

dll.

C. PERMASALAHAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN

Besaran masalah yang dihadapi atau tantangan yang harus diselesaikan melalui PSD

Permukiman, dengan membandingkan antara kondisi yang ada dengan sasaran

pembangunan PSD Permukiman baik dari segi teknis, kelembagaa dan keuangan yang

(12)

BAB 7 12

Tabel 7.6 Presentase Rumah Tangga Menurut Atap Terluas Yang Di Gunakan

(13)

BAB 7 13

b. Rendahnya daya beli masyarakat untuk memperoleh perumahan.

(14)

BAB 7 14

a. Mengutamakan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah

sederhana dan rumah sederhana sehat, penyediaan hunian bagi masyarakat

berpendapatan rendah.

b. Memfasilitasi dan memberdayakan masyarakat berpendapatan rendah.

c. Menciptakan kepastian hukum dalam permukiman.

d. Meningkatan kualitas prasarana dan sarana lingkungan pada kawasan kumuh

perkotaan dan pesisir.

D. Rekomendasi melalui Program-Program Pembangunan

a. Pemenuhan kebutuhan rumah yang layak, sehat, aman dan terjangkau dengan

memfokuskan pada masyarakat miskin dan berpendapatan re ndah.

Kegiatan:

1. Penyediaan prasarana dan sarana dasar kawasan rumah sederhana dan rumah

sederhana sehat.

2. Pengembangan pola subsidi yang tepat sasaran, efisien dan efektif sebagai pengganti

subsidi.

3. Peningkatan akses masyarakat pada kredit mikro untuk pembangunan dan

perbaikan rumah yang berbasis swadaya masyarakat.

4. Memfasilitasi pembangunan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) dan

rumah susun sederhana milik.

b. Penanggulangan dan rehabilitasi perumahan akibat bencana alam/ kerusuhan

sosial. Kegiatan:

1. Fasilitasi dan simulasi pembangunan dan rehabilitasi rumah akibat bencana

alam dan kerusuhan sosial.

2. Fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan yang tanggap terhadap

bencana

3. Pengembangan sistim penanggulangan kebakaran

4. Pembangunan Cek Dam pencegah banjir pasir

(15)

BAB 7 15

Kegiatan:

1. Perbaikan lingkungan permukiman kumuh.

2. Lantainisasi Perumahan Keluarga Prasejahtera.

3. Pembangunan Sarana MCK

Analisis Kelayakan Program Pembangunan Permukiman Sub Bidang Pengembangan

Permukiman pada Departemen Pekerjaan Umum memiliki program dan kegiatan yang

bertujuan mengembangkan wilayah perkotaan dan perdesaan. Tujuan Pengembangan

Permukiman:

a. Memenuhi kebutuhan pengembangan permukiman (sarana dan prasarana

dasar permukiman)

b.Terwujudnya permukiman yang layak dalam lingkungan sehat, aman, serasi, dan

teratur

c. Mengarahkan pertumbuhan wilayah

d.Menunjang kegiatan ekonomi melalui kegiatan pengembangan permukiman .

Adapun sasaran dari Pengembangan Permukiman adalah:

a. Terpenuhinya kebutuhan dasar permukiman

b.Tersedianya perumahan tipe RSH, RUSUNAWA

c. Terarahnya pertumbuhan wilayah

d.Terdorongnya kegiatan ekonomi melalui kegiatan pembangunan permukiman

Keluaran dari Sub Bidang Pengembangan Permukiman adalah:

a. Lahan siap bangun

b.Tersedianya prasarana dan sarana (jalan, drainase, jaringan air bersih) kawasan

c. Tersedianya kawasan permukiman yang sehat

d.Tersedianya RSH, RUSUNAWA siap huni

e. Tersedianya perumahan untuk mendukung terselenggaranya gerak perekonomian

(16)

BAB 7 16

f. Tersedianya kawasan permukiman skala besar yang terencana secara menyeluruh

dan terpadu dengan pelaksanaan yang bertahap dengan menciptakan kawasan

permukiman yang tersusun atas satuan-satuan lingkungan permukiman dan

mengintegrasikan secara terpadu dengan lingkungan permukiman yang telah ada di

sekitarnya

Asumsi dari Pengembangan Permukiman adalah:

a. Kelompok sasaran masyarakat untuk RSH, RUSUNAWA diutamakan masyarakat

berpenghasilan rendahMengacu pada UU no. 4/1992

b.tentang perumahan dan peraturan perundangan terkait

Melalui penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah Dinas Pekerjaan

Umum Bidang Cipta Karya diharapkan dapat diwujudkan permukiman yang layak huni

dan mendukung pengembangan perkotaan. Selain itu, mampu mendorong kerjasama

antar stakehoder dalam mendanai dan menyelenggarakan Program Pengembangan

Permukiman oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Bidang Cipta

Karya yang diwujudkan dalam Program Pengembangan Permukiman Perkotaan dan

Program Pengembangan Permukiman Perdesaan.

7.1.2 Sasaran Program

Sasaran pembangunan permukiman, antara lain:

a. Terpenuhinya kebutuhan dasar permukiman;

b. Tersedianya perumahan sederhana, sehat dan layak huni;

c. Terarahnya pertumbuhan wilayah;

Terdorongnya kegiatan ekonomi melalui kegiatan pembangunan permukiman.

Kebijakan dan strategi pembangunan prasarana dan sarana dasar RSH dari segi

teknis, pendanaan dan pelaksanaan adalah:

- Meingkatkan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah

sederhana dan rumah sederhana sehat.

- Mengembangkan kawasan perumahan skala besar.

- Meningkatkan penyediaan hunian (sewa dan milik) bagi masyarakat

(17)

BAB 7 17

- Meningkatkan fasilitasi dan pemberdayaan masyarakat berpendapatan rendah

dalam penyediaan lahan, sumber pembiayaan dan prasarana dan sarana lingkungan

melalui pembangunan perumahan yang bertumpu pada masyarakat.

- Mengembangkan kredit mikro pembangunan danperbaikan rumah yang terkait

dengan kredit mikro peningkatan pendapatan dalam rangka upaya pemberdayaan usaha

ekonomi masyarakat miskin dan penciptaan lapangan kerja.

- Menciptakan pola subsidi baru yang lebih tepat sasaran.

- Mengembangkan lembaga yang bertanggung jawab dalam pembangunan

perumahandan permukiman pada semua tingkatan pemerintahan serta fasilitasi

pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman yang transparan dan partisip atif

- Pemantapan pasar primer perumahan.

- Menciptakan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure).

Tabel 7.7 Sasaran Program Kawasan Kumuh Kab. Bolaang Mongondow Utara

A. PROGRAM KERANGKA DASAR PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN RSH/

PN S/TNI/POLRI

Target:

TOTAL

LUAS

KAWASAN 2015 2016 2017 2018 2019 KET

(18)

BAB 7 18

- Perumahan yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghas ilan rendah,

khususnya PNS/TNI/Polri.

- Sesuai dengan RTRW dan Renstra Pemerintah Daerah.

- Dibangun sesuai PP 80 tahun 1999 tentang Kasiba dan Lisiba BS

- Dukungan PSD dalam pembangunan RSH bagi PNS, TNI/Polri, Pekerj a

masyarakat berpenghasilan rendah

- Diprioritaskan pada kawasan-kawasan skala besar dan yang dapat segera

mendorong perkembangan wilayah

- Sudah mendatangani MOU antara Pemerintah Daerah dengan Bapertarum.

Penanganan:

- Identifikasi lokasi-lokasi pengembangan kawasan permukiman barn

(Kasiba/Lisiba BS), diprioritaskan bagi kawasan yang mewujudkan keberpihakan pada

masyarakat berpenghasilan rendah termasuk PNS, TNI dan POLRI.

- Bantuan fisik berupa jalan akses dan jalan poros ya ng menghubungkan

kawasan bare

Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Menyediakan dana pendamping.

- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati

- Review minimal setahun sekali

B . PENATAAN DAN PEREMAJAAN KAWASAN

Target:

- Lingkungan permukiman perkotaan yang tidak teratur sehingga menurunkan

kualitas lingkungan permukiman perkotaan.

- Lingkungan permukiman sebagai trip distributions (distribusi pergerakan)

tidak accessible terhadap infrastruktur perkotaan.

- Pengembangan kawasan permukiman yang tidak terkendali sehingga

berdampak pada lingkungan perkotaan.

(19)

BAB 7 19

- Pengembangan Program dan Kebijakan Pengendalian Kota Besar dan

Metropolitan.

- Perencanaan Penanganan Kawasan Permukiman Perkotaan.

- Penanganan kawasan permukiman perkotaan melalui peremajaan kawasan

perkotaan.

Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Menyediakan dana pendamping.

- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati

- Review minimal setahun sekali

C. PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA

Target:

 Untuk Rusunawa yang diperuntukan bagi masyarakat berpendapatan rendah.

a. Sebagai salah satu solusi penanganan kawasan kumuh perkotaan

(peremajaan kawasan permukiman perkotaan/urban renewal).

b. Tidak bisa diharapkan sebagai sumber pendapatan daerah.

c. Hanya dibangun pada lokasi yang memenuhi syarat administratif, fisik,

ekologik, dan tidak berdampak sosial yang negatif.

 Untuk Rusunawa yang diperuntukkan bagi buruh

a. Diusulkan apabila sudah menjadi permasalahan bagi pemerintah daerah

setempat.

b. Bukan merupakan bantuan bagi salah satu perusahaan/pabrik. Dibangun di atas

tanah Pemerintah Daerah.

c. Dengan persyaratan-persyaratan yang disepakati bersama. Penanganan:

a. Penetapan Pedoman Perencanaan, Pengembangan, Pengawasan dan

Pengendalian Pembangunan.

b. Penetapan Pedoman tentang Standar Pelayanan Minimal oleh pemerintah

(20)

BAB 7 20

c. Bantuan teknis pembangunan, penghunian dan pengelolaan Rusunawa. Kontribusi

Pemerintah Daerah:

- Menyusun renstra pembangunan permukiman termasuk pembangunan

Rusunawa.

- Menyiapkan rencana pembangunan Rusunawa (dalam kawasan sesuai

RUTR berkelanjutan dan mandiri).

- Penyiapan lahan dan alokasi dana APBD dalam penunjangan Rusunawa.

- Penyiapan manajemen penghunian dan pengelolaan Rusunawa pasca

konstruksi.

- Mengalokasikan subsidi pengelolaan Rusunawa per tahun melalui APBD.

D. PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN

Target:

- Kabupaten/Kota yang memiliki tingkat kemiskinan perkotaan yang tinggi.

- Kabupaten/Kota yang memiliki komitmen untuk melaksanakan program

penanggulangan kemiskinan dan membentuk lembaga permukiman serta melaksanakan

proses secara partisipatif.

- Kabupaten/Kota yang mengalokasikan dana pendamping NUSSP pada setiap

tahun pelaksanaan yang dinyatakan dalam konfirmasi dengan surat resmi oleh

Walikota/Bupati dan disetujui oleh DPRD, sesuai dengan Naskah Perjanjian Hibah

dengan Departemen Keuangan menurut kapasitas fiskal yang dimiliki. Penanganan:

- Penyiapan Rencana Penataan Lingkungan/RP4D dalam bidang Perumahan dan

Permukiman.

- Fasilitasi Kredit Mikro Perumahan kepada KBR.

- Pembangunan Infrastruktur Permukiman bagi KBR.

- Peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah dan Masyarakat melalui kegiatan

Pelatihan dan Pendampingan. Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Menyediakan dana pendamping.

(21)

BAB 7 21

- Review minimal setahun sekali

E. PROGRAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN PERDESAAN

1. PENGEMBANGAN KAWASAN TERPILIH PUSAT PENGEMBANGAN DESA

Target:

- Lokasi sasaran adalah Kelurahan/Desa dengan jumlah penduduk miskin lebih

dari 35%

- Kawasan-kawasan di perdesaan yang potensial berkembang, dan punya nilai

lebih dari kawasan lainnya

- Mempunyai Desa Pusat dan desa-desa hinterland yang punya kaitan erat

terutama di bidang ekonomi, (hinterland sebagai pemasok, desa pusat sebagai

pengumpul atau pusat pelayanan )

- Kecamatan urban/perkotaan yang jumlah kelurahan lebih besar dan Desa sesuai

data PODES/BPS.

- Kecamatan yang diusulkan bukan merupakan sasaran Program Pengembangan

Kecamatan (PPK)

- Kondisi fisik lingkungan yang memungkinkan; tidak rawan bencana, strategis

- Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang kondusif.

- Sesuai dengan RUTR dan Renstra Kabupaten.

Penanganan

 Bantuan Teknis berupa:

- Identifikasi lokasi KTP2D (DPP beserta desa-desa hinterlandnya).

- Perkuatan kelembagaan masyarakat di tingkat lokal untuk dapat menyusun

perencanaan pengembangan kawasan perdesaan secara mandiri

- Penyusunan PJM yang berbasis pada pengembangan potensi ekonomi lokal,

bertumpu pada kebutuhan nyata dengan melibatkan masyarakat.

 Bantuan Fisik berupa bantuan prasarana kawasan sesuai dengan apa yang tertera

dalam matriks program pada PJM. Diutamakan pada akses dan DPP ke desa -desa

(22)

BAB 7 22

 Peningkatan prasarana desa pusat pertumbuhan diarahkan pada Penyediaa n PSD

Perdesaan yang dapat menstimulasi "Kegiatan Ekonomi Perdesaan". Kontribusi

Pemerintah Daerah:

 Menyediakan dana pendamping.

 Mencantumkan rencana penanganan KTP2D pada Renstrada

 Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati

 Review minimal setahun sekali

2. PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN

Target:

- Kawasan pertanian yang terdiri dan kota Pertanian, desa-desa sentra produksi

pertanian dan desa penyangga yang ada di sekitarnya, yang memiliki fas ilitas untuk

berkembangnya pertanian industri.

- Penanganan:

- Pembangunan prasarana sarana untuk mendukung kawasan agropolitan. Kontribusi

Pemerintah Daerah:

- Menyediakan dana pendamping.

- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati

- Review minimal setahun sekali

3. PENGEMBANGAN KAWASAN EKS TRANSMIGRASI

Target:

- Lokasi sasaran pada kawasan eks Transmigrai dalam upaya mengembangkan

Kota Terpadu Mandiri (KTM) dan meningkatkan prasarana di kawasan transmigrasi yang

telah berumur di atas 5 th (UPT Bina).

- Penanganan:

- Bantuan teknis berupa identifikasi kawasan eks transmigrasi dan identifikasi

kebutuhan prasarana dan sarana dasar permukiman di kawasan eks transmigrasi.

- Bantuan fisik berupa penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman,

dilaksanakan dalam rangka mendukung program Departemen Transmigrasi

(23)

BAB 7 23

- Menyediakan dana pendamping.

- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati.

- Review minimal setahun sekali.

4. PENANGANAN INFRASTRUK TUR DESA TERPENCIL, DESA TERTINGGAL DAN

PULAU - PULAU KECIL

Target:

- Kawasan yang secara fisik terisolasi, kesulitan dalam akses menuju kawasan

lainnya.

- Sebagian besar penduduknya adalah tertinggal baik dalam hal sosial budaya

maupun ekonomi.

- Kondisi pelayanan kepada masyarakat masih sangat terbatas (belum banyak

tersentuh oleh program pemerintah/non pemerintah)

Penanganan:

• Bantuan teknis berupa:

- Pedoman Pengembangan prasarana di Pulau Kecil dan Terpencil

- Identifikasi lokasi kawasan tertinggal dan pulau-pulau kecil yang ada dalam

pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

- Penyusunan PJM berbasis pada upaya penanggulangan kemiskinan dan

meningkatkan kwalitas hidup dan penghidupan masyarakat yang tinggal didalamnya,

bertumpu pada kebutuhan riil dengan melibatkan masyarakat

• Bantuan fisik berupa bantuan prasarana dan sarana dalam rangka

pengembangan kawasan sesuai dengan apa yang tertera dalam perencanaan

program/PJM dan Rencana Tindak

Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Menyediakan dana pendamping.

- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati

(24)

BAB 7 24

F. PENGEMBANGAN KAWASAN PERBATASAN

Target:

- Kawasan yang berbatasan dengan Negara lain (kepulauan dan daratan) sesuai Jakstra

Pengembangan Kawasan Perbatasan

- Rawan isu hankamnas, ekonomi, politik, sosial dan budaya

Penanganan:

• Bantuan Teknis berupa:

- Pedoman Pengembangan prasarana Kawasan Perbatasan

- Identifikasi lokasi-lokasi pada kawasan perbatasan dengan negara lain serta

pulau terluar.

- Penyusunan PJM yang berbasis pada kebutuhan nyata sesuai dengan kriteria

kawasan perbatasan dan pulau terluar.

• Bantuan fisik berupa bantuan prasarana dalam rangka pengembangan kawasan

sesuai dengan apa yang tertera dalam matriks program pada PJM.

- Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Menyediakan dana pendamping.

- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati

- Review minimal setahun sekali.

G. PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA DALAM RANGKA PASCA BENCANA

Target:

- Lokasi pada daerah bencana yang mengalami kerusakan prasarana dan sarana

dasar permukimannya.

- Sudah ada laporan dan Pemerintah Daerah atau media massa mengenai

kejadian bencana, jenis kerusakan prasarana dan sarana dasar permukiman serta

jumlah korban yang ditimbulkan. Penanganan:

- Mengembalikan kondisi prasarana dan sarana dasar permukiman untuk bisa

(25)

BAB 7 25

- Bantuan fisik berupa penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman

untuk mengembalikan kondisi yang rusak akibat bencana.

Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Menyediakan dana pendamping.

- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati

- Review minimal setahun sekali

7.1.3 Usulan Kebutuhan Program

Menurut Pedoman Krieria Teknis Kawasan Budidaya menurut Peraturan Menteri

Pekerjaan Umum Nomor 41/PRT/M/2007 oleh Direktorat Penataan Ruang Dep.

Pekerjaan Umum, bahwa parameter teknis kawasan permukiman adalah sebagai

berikut:

A. KETENTUAN UMUM

a. Fungsi utama

Kawasan peruntukan permukiman memiliki fungsi antara lain:

1.Sebagai lingkungan tempat tinggal dan tempat kegiatan yang mendukung peri

kehidupan dan penghidupan masyarakat sekaligus menciptakan interaksi sosial;

2.Sebagai kumpulan tempat hunian dan tempat berteduh keluarga serta sarana bagi

pembinaan keluarga.

b.Kriteria umum dan kaidah perencanaan:

1.Ketentuan pokok tentang perumahan, permukiman, peran masyarakat dan pembinaan

perumahan dan permukiman nasional mengacu kepada Undang-Undang Nomor 4 Tahun

1992 tentang Perumahan dan Permukiman dan Surat Keputusan Menteri Permukiman

dan Prasarana Wilayah Nomor 217/KPTS/M/2002 tentang Kebijakan dan Strategi

Nasional Perumahan dan Permukiman (KSNPP);

2.Pemanfaatan ruang untuk kawasan peruntukan permukiman harus sesuai dengan

daya dukung tanah setempat dan harus dapat menyediakan lingkungan yang sehat dan

aman dari bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi

pengembangan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi

(26)

BAB 7 26

3.Kawasan peruntukan permukiman harus memiliki prasarana jalan dan terjangkau

oleh sarana tranportasi umum;

4.Pemanfaatan dan pengelolaan kawasan peruntukan permukiman harus didukung oleh

ketersediaan fasilitas fisik atau utilitas umum (pasar, pusat perdagangan dan jasa,

perkantoran, sarana air bersih, persampahan, penanganan limbah dan drainase)

dan fasilitas sosial (kesehatan, pendidikan, agama);

5.Tidak mengganggu fungsi lindung yang ada;

6.Tidak mengganggu upaya pelestarian kemampuan sumber daya alam;

7.Dalam hal kawasan siap bangun (kasiba) dan lingkungan siap bangun (lisiba),

penetapan lokasi dan penyediaan tanah; penyelenggaraan pengelolaan; dan

pembinaannya diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang

Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri.

B. KETENTUAN TEKNIS

a. Karakteristik lokasi dan kesesuaian lahan:

1.Topografi datar sampai bergelombang (kelerengan lahan 0 - 25%);

2.Tersedia sumber air, baik air tanah maupun air yang diolah oleh penyelenggara dengan

jumlah yang cukup. Untuk air PDAM suplai air antara 60 L/org/hari – 100 liter/org/hari;

3.Tidak berada pada daerah rawan bencana (longsor, banjir, erosi, abrasi);

4.Drainase baik sampai sedang;

5.Tidak berada pada wilayah sempadan sungai/ pantai/ waduk/ danau/ mata

air/saluran pengairan/rel kereta api dan daerah aman penerbangan;

6.Tidak berada pada kawasan lindung;

7.Tidak terletak pada kawasan budi daya pertanian/penyangga;

8.Menghindari sawah irigasi teknis. b.Kriteria dan batasan teknis:

2. Penggunaan lahan untuk pengembangan perumahan baru 40% - 60% dari luas lahan

yang ada, dan untuk kawasan-kawasan tertentu disesuaikan dengan karakteristik serta

(27)

BAB 7 27

3. Kepadatan bangunan dalam satu pengembangan kawasan baru perumahan tidak

bersusun maksimum 50 bangunan rumah/ha dan dilengkapi dengan utilitas umum

yang memadai;

4. Memanfaatkan ruang yang sesuai untuk tempat bermukim di kawasan peruntukan

permukiman di perdesaan dengan menyediakan lingkungan yang sehat dan aman dari

bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi

pengembangan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan

hidup;

5. Kawasan perumahan harus dilengkapi dengan:

a) Sistem pembuangan air limbah yang memenuhi SNI 03-1733-2004 tentang Tata

Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan;

b) Sistem pembuangan air hujan yang mempunyai kapasitas tampung yang c ukup

sehingga lingkungan perumahan bebas dari genangan. Saluran pembuangan air hujan

harus direncanakan berdasarkan frekuensi intensitas curah hujan 5 tahunan dan daya

resap tanah. Saluran ini dapat berupa saluran terbuka maupun tertutup. Dilengkapi ju ga

dengan sumur resapan air hujan mengikuti SNI 03-2453-2002 tentang Tata Cara

Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan dan dilengkapi dengan

penanaman pohon;

c) Prasarana air bersih yang memenuhi syarat, baik kuantitas maupu n kualitasnya.

Kapasitas minimum sambungan rumah tangga 60 liter/orang/hari dan sambungan

kran umum 30 liter/orang/hari;

d) Sistem pembuangan sampah mengikuti ketentuan SNI 03-3242-1994 tentang Tata

Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman.

6. Penyediaan kebutuhan sarana pendidikan di kawasan peruntukan permukiman

yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk pendukung,

luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi;

7. Penyediaan kebutuhan sarana kesehatan di kawasan peruntukan permukiman

yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk pendukung,

luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi;

8. Penyediaan kebutuhan sarana ruang terbuka, taman, dan lapangan olah raga di

(28)

BAB 7 28

disediakan, jumlah penduduk pendukung, luas lahan minimal, radius pencapaian, dan

kriteria lokasi;

9. Penyediaan kebutuhan sarana perdagangan dan niaga di kawasan peruntukan

permukiman yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk

pendukung, luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi;

10. Pemanfaatan kawasan perumahan merujuk pada SNI 03-1733-2004 tentang Tata

Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan, serta Peraturan Menteri

Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1987 tentang Penyerahan Prasarana Lingkungan,

Utilitas Umum, dan Fasilitas Sosial Perumahan kepada Pemerintah Daerah;

11. Dalam rangka mewujudkan kawasan perkotaan yang tertata dengan baik, perlu

dilakukan peremajaan permukiman kumuh yang mengacu pada Instruksi Presiden

Nomor 5 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kampung Kota.

C. ASPEK PENDANAAN

Pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman masyarakat sebagian besar

masih menggantungkan pendanaannya dari Pemerintah karena pendanaannya yang

cukup besar. Sedangkan kegiatan pembangunan yang membutuhkan dana yang relatif

kecil, masyarakat melakukannya secara swadaya.

Bantuan stimulan sebagai pendorong dalam perbaikan prasarana dan sarana dasar

perumahan dan permukiman juga telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara, yang diberikan kepada warga/ masyarakat yang benar- benar

membutuhkan untuk meningkatkan kualitas perumahan maupun lingkungannya.

D. ASPEK KELEMBAGAAN

Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang

mengelola pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman untuk mewujudkan

pembangunan yang berkelanjutan.

Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang

mengelola pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman untuk

mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Kelembagaan pembangunan PSD

Permukiman skala besar (masyarakat, swasta, perumnas/pemerintah) adalah sebagai

berikut:

1. Jalan lingkungan pembangunannya dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum

(29)

BAB 7 29

2. Drainase lingkungan pembangunannya dilakukan oleh Dinas Pekerjaan

Umum dengan alokasi dana APBD.

3. Air limbah di saat ini dibawah pengelolaan BLH

4. Persampahan ditangani bersama antara Dinas Kebersihan dan BLH dengan

system pengelolaan sebagain berikut :

- Pewadahan-Pemilahan-Pengumpulan : tanggung jawab penghasil/ sumber sampah.

- Pengangkutan-Pembuangan Akhir : tanggung jawab Dinas Kebersihan.

- Pengolahan : tanggung jawab kelompok yang dibentuk serta pendampingan dari BLH

- Hasil Akhir TPA : tanggung jawab Dinas Kebersihan

- Re-Use : diambil oleh pemulung (terutama bahan plastik)

5. Air Minum pembangunannya jaringan untuk kawasan permukiman skala besar

umunya ditangani oleh PDAM, meskipun ada sebagian kecil kawasan yang rawan air

ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum.

E . Sasaran

Sasaran pembangunan permukiman, antara lain:

a. Terpenuhinya kebutuhan dasar permukiman;

b. Tersedianya perumahan sederhana, sehat dan layak huni;

c. Terarahnya pertumbuhan wilayah;

Terdorongnya kegiatan ekonomi melalui kegiatan pembangunan permukiman.

Kebijakan dan strategi pembangunan prasarana dan sarana dasar RSH dari segi

teknis, pendanaan dan pelaksanaan adalah:

- Meingkatkan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah

sederhana dan rumah sederhana sehat.

- Mengembangkan kawasan perumahan skala besar.

- Meningkatkan penyediaan hunian (sewa dan milik) bagi masyarakat

(30)

BAB 7 30

- Meningkatkan fasilitasi dan pemberdayaan masyarakat berpendapatan rendah

dalam penyediaan lahan, sumber pembiayaan dan prasarana dan sarana lingkungan

melalui pembangunan perumahan yang bertumpu pada masyarakat.

- Mengembangkan kredit mikro pembangunan danperbaikan rumah yang terkait

dengan kredit mikro peningkatan pendapatan dalam rangka upaya pemberdayaan usaha

ekonomi masyarakat miskin dan penciptaan lapangan kerja.

- Menciptakan pola subsidi baru yang lebih tepat sasaran.

- Mengembangkan lembaga yang bertanggung jawab dalam pembangunan

perumahandan permukiman pada semua tingkatan pemerintahan serta fasilitasi

pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman yang transparan dan partisipatif/

- Pemantapan pasar primer perumahan.

- Berkembangnya secondary mortgage facility (SMF) dan secondary mortgage

market (SMF).

- Terbentuknya peraturan perundang-undangan dan kelembagaan pendukung SMF

dan SMM.

- Mengembangkan insentif fiskal bagi swasta yang menyediakan hunia n bagi

buruh/karyawannya.

(31)

BAB 7 31

7 . 2 Penataan Bangunan Dan Lingkungan

Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan sebagai

bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan

lingkungan binaan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, khususnya wujud fisik

bangunan gedung dan lingkungannya.

Undang-undang nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan

Pemerintah nomor 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang -undang

nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung serta pelaksanaan lebih detail di

bawahnya mengamanatkan bahwa penyelenggaraan bangunan gedung merupakan

kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota dan hanya bangunan gedung negara

dan rumah negara yang merupakan kewenangan pusat.

Selain itu, Undang-undang nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman

menggariskan bahwa peningkatan kualitas lingkungan permukiman d ilaksanakan secara

menyeluruh, terpadu dan bertahap, mengacu kepada Rencana Tata Bangunan dan

Lingkungan sebagai penjabaran rencana tata ruang wilayah (RTRW).

7.2.1 Kondisi Eksisting

1. Strategi Penataan Bangunan dan Lingkungan

Strategi dalam mendukung keberhasilan penataan bangunan dan lingkungan, antara lain:

a. Menyelenggarakan penataan bangunan gedung agar tertib, fungsional, andal dan

efisien;

b. Menyelenggarakan penataan lingkungan permukiman agar produktif dan

berjatidiri;

c. Menyelenggarakan penataan dan revitalisasi kawasan dan bangunan agar dapat

memberikan nilai tambah fisik, sosial dan ekonomi;

d. Menyelenggarakan penataan bangunan dan lingkungan untuk mewujudkan

arsitektur perkotaan dan pelestarian arsitektur bangunan gedung yang dilindungi

dan dilestarikan untuk menunjang kearifan budaya lokal;

e. Mengembangkan teknologi dan rekayasa arsitektur bangunan gedung untuk

menunjang pembangunan regional/ internasional yang berkelanjutan.

1. Kebijakan Penataan Bangunan dan Lingkungan

(32)

BAB 7 32

a. Meningkatkan pembinaan penyelenggaraan Bangunan Gedung, termasuk

bangunan gedung dan rumah negara;

b. Meningkatkan pemahaman, kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk memenuhi

persyaratan Bangunan Gedung dan Penataan Lingkungan Permukiman;

c. Meningkatkan kapasitas penyelenggara dalam penataan lingkungan dan

permukiman;

d. Meningkatkan kualitas lingkungan untuk mendukung pengembangan jatidiri dan

produktivitas masyarakat;

e. Mengembangkan kawasan yang memiliki peran dan potensi strategis bagi

pertumbuhan kota;

f. Mengembangkan kemitraan antara pemrintah, swasta dan lembaga nasional

maupun internasional lainnya di bidang Bangunan Gedung dan Penataan Lingkungan

Permukiman;

g. Mewujudkan arsitektur perkotaan yang memperhatikan/ mempertimbangkan

khasanah arsitektur lokal dan nilai tradisional;

h. Menjaga kelestarian nilai-nilai arsitektur Bangunan Gedung yang dilindungi dan

dilestarikan serta keahlian membangun (seni dan budaya);

i. Mendorong upaya penelitian dan pengembangan teknologi rekayasa arsitektur

Bangunan Gedung melalui kerjasama dengan pihak-pihak yang kompeten.

Berikut strategi pendukung lainnya:

a. Grand strategy

1. Menyelenggarakan Penataan Bnagunan Gedung Agar Tertib, Fungsional,

Andal dan efisien.

7.2.2 Sasaran Program Tujuan:

Terwujudnya bangunan gedung yang fungsional dan memenuhi persyaratan keselamatan,

kesehatan, kenyamanan dan kemudahan, serta serasi dan selaras dengan dengan

lingkungannya.

Sasaran:

(33)

BAB 7 33

- Terwujudnya bangunan gedung untuk umum yang laik fungsi

- Terselenggaranya pengawasan penyelenggaraan bangunan gedung yang efektif

dengan melakukan pemantauan dan evaluasi penerapan peraturan bangunan gedung.

- Terlaksananya penyediaan aksesibilitas bangunan gedung umum

- Terlaksananya pendataan bangunan

- Terwujudnya pusat informasi arsitektur dan bangunan gedung

- Tercapainya standar mutu pelayanan rumah negara sesuai ISO 9000

- Terlaksananya sosialisasi, fasilitasi, pelatihan, bantuan teknis, pengawasan dan

pengendalian kegiatan penataan bangunan dan lingkungan

- Terbentuknya kelembagaan penataan bangunan dan lingkungan

- Terwujudnya tertib pengelolaan aset negara berupa tanah dan bangunan

- Terlaksananya Penyusunan Rencana Induk Proteksi Kebakaran (RISPK).

b. Grand strategy

2. Menyelenggarakan Penataan Lingkungan Permukiman Agar

Produktif dan Berjati diri

Tujuan:

Terwujudnya revitalisasi kawasan dan bangunan pada lingkungan yang sehat, aman,

serasi, teratur, produktif dan berkelanjutan

Sasaran:

- Terwujudnya perbaikan lingkungan permukiman kumuh

- Terlaksananya revitalisasi kawasan permukiman tradisional bersejarah

- Terlaksananya pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

- Pemberdayaan komunitas perkotaan.

c. Grand strategy

3. Menyelenggarakan Penataan dan Revitalisasi Kawasan dan Bangunan Agar Dapat

(34)

BAB 7 34

Terwujudnya revitalisasi kawasan dan bangunan agar dapat memberikan nilai tambah

bagi kualitas fisik, sosial dan ekonomi masyarakat yang menjadi penunjang bagi

tercapainya kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Sasaran:

- Terlaksananya revitalisasi kawasan strategis.

- Terlaksananya pemberdayaan bagi masyarakat untuk menyelenggarakan

revitalisasi kawasan.

d. Grand strategy

4. Menyelenggarakan Penataan Bangunan dan Lingkungan Untuk Mewujudkan

Arsitektur Perkotaan, dan Pelestarian Arsitektur Bangunan Gedung yang Dilindungi dan

Dilestarikan untuk menunjang Kearifan Budaya Lokal

Tujuan:

Terwujudnya bangunan gedung yang memiliki kualitas fungsional, visual dan kualitas

lingkungan yang seimbang, serasi, selaras dengan memunculkan ciri arsitektur kota

yang berwawasan budaya lokal yang menjadi teladan bagi lingkungannya, serta yang

dapat secara arif mengakomodasikan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Sasaran:

Terlaksananya penataan bangunan dan lingkungan serta pelestarian bangunan

bersejarah yang mendukung terwujudnya kualitas arsitektur dengan teknologi dan

rekayasa arsitektur perkotaan.

e. Grand strategy

5. Mengembangkan Teknologi dan Rekayasa Arsitektur Bangunan Gedung untuk

Menunjang Pembangunan Regional/Internasional yang Berkelanjutan

Tujuan:

Terwujudnya perencanaan fisik bangunan dan lingkungan yang mengedepankan teknologi

dan rekayasa arsitektur yang memenuhi standar internasional untuk menarik

masuknya investasi di bidang bangunan gedung dan lingkungan secara internasional

(35)

BAB 7 35

Terlaksananya perencanaan bangunan gedung dan lingkungan dengan teknologi dan

rekayasa arsitektur.

2. Program/ Kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan

Program/ kegiatan penataan bangunan gedung dan lingkungan yang dapat

dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Kegiatan Pembinaan Teknis Bangunan dan Gedung

a) Kegiatan diseminasi peraturan perundang-undangan penataan bangunan dan

lingkungan;

b) Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan dan gedung;

c) Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan arsitektur;

d) Pelatihan teknis tenaga pendata bangunan gedung dan keselamatan gedung;

e) Pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara;

f) Pembinaan teknis pembangunan gedung negara;

g) Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK);

h) Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA) Bangunan Gedung;

i) Percontohan pendataan bangunan gedung;

j) Percontohan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan;

k) Rehabilitasi bangunan gedung negara;

l) Dukungan prasarana dan sarana Pusat Informasi Pengembangan

Permukiman dan Bangunan (PIPPB).

b. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman

a) Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL);

b) Bantuan teknis pengelolaan Ruang terbuka Hijau (RTH);

c) Pembangunan prasarana dan sarana peningkatan lingkungan permukiman kumuh

dan nelayan;

(36)

BAB 7 36

c. Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Perkotaan

a) Bantuan teknis penanggulangan kemiskinan di perkotaan;

b) Bantuan penanggulangan kemiskinan terpadu (PAKET) dan Replikasi

(37)

BAB 7 37

7.3 Sektor Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

Pelayanan air minum merupakan komponen yang strategis dalam pembangunan dan

merupakan salah satu entry point dalam penanggulangan kemiskinan. Pengembangan

dan pelayanan air minum adalah untuk meningkatkan pelayanan air minum di perdesaan

maupun perkotaan, khususnya bagi masyarakat miskin di kawasan rawan air dan

meningkatkan keikutsertaan swasta dalam investasi pembangunan prasarana dan

sarana air minum di perkotaan.

Penyusunan rencana program investasi infrastruktur Sub Bidang Pengembangan Air

Minum harus memperhatikan Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air

Minum (RI-SPAM) sebagai acuan/ pedoman dalam perencanaan dan pelaksanaan

pengembangan air minum pada suatu daerah. Pemerintah Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara saat ini sedang menyusun Master Plan Air Minum Kabupaten Bolaang

Mongondow Utara sehingga diharapkan dapat menjadi acuan/ pedoman dalam

penyediaan air minum baik di kawasan perkotaan dan perdesaan.

1. Umum

Sub bidang air minum dirjen cipta karya departemen pekerjaan umum memiliki program

dan kegiatan yang bertujuan meningkatkan pelayanan air minum si perdesaan maupun

perkotaan, khususnya bagi masyarakat miskin di kawasan rawan air, se lain itu

meningkatkan keimutsertaan swasta untuk berinvestasi dalam pembangunan prasarana

dan sarana air minum di perkotaan.

Tatanan program yang digunakan adalah sama dengan tatanan program pada RPJMN.

Sasaran program komponen air minum dibuat untuk mengisi kesenjangan kondisi pada

permasalahan yang mencuat dalam RPJMN dan kondisi yang diinginkan pada sasaran

kebijakan RPJMN, selain itu harus menunjang dan memenuhi kebutuhan pembangunan

ekonomi daerah atau kota bersangkutan.

Dalam penyusunan RPIJM bidang harus memperhatikan Rencana Induk Pengembangan

Sistem Penyediaan Air Minum (RI-SPAM) yang ada di daerah. Rencana Induk SPAM

merupakan rencana jangka panjang suatu wilayah. Hal ini dimungkinkan karena dalam

pengembangan dan penyelenggaraan sistem penyediaan air minum tergantung dengan

posisi dan letak unit-unit SPAM dan cakupan pelayanannya.

7.3.1 Kondisi Eksisting

Pelayanan air minum di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dilayani oleh PDAM

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, sedangkan masyarakat yan g belum terlayani

(38)

BAB 7 38

tempat tinggalnya. Selain itu adanya pihak swasta yang mengolah air bersih menjadi air

minum dalam kemasan dengan daerah layanan hanya di Kabupaten Bolaa ng Mongondow

Utara. Beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

juga memberikan pelayanan air minum kepada masyarakat dengan kegiatan berupa

pembangunan sarana air minum perdesaan. Sumber air yang digunakan adalah ma ta air

atau sumur dalam yang disesuaikan dengan kondisi daerah. Pembangunan sarana air

minum ini yaitu dengan membangun daerah tangkapan mata air (broncaptering) yang

kemudian dialirkan ke bak pembagi terus disalurkan ke hidran umum (HU) dan

selanjutnya warga masyarakat mengambil air dari hidran umum tersebut.

Kelestarian lingkungan dan kesinambungan pelayanan air minum tidak lepas dari aspek

peran serta masyarakat dan swasta. Peran masyarakat sebagai pemakai jasa yang

berperan sekaligus, baik dalam melestarikan lingkungan dan menjaga kelestarian dan

aksesibilitas kepada pelayanan air minum yang berkesinambungan, juga terkait dengan

aspek sosial budaya atau kebiasaan atau budaya yang dianut masyarakat tersebut.

Disiplin dalam membayar tagihan, berhemat dalam pemakaian air minum serta proaktif

dalam mencegah kebocoran air merupakan beberapa kontribusi yang dapat dilakukan

masyarakat guna menjamin kesinambungan akses terhadap pelayanan air minum yang

sehat.

Peran serta swasta juga diharapkan ikut membantu dalam penyediaan dana untuk

investasi guna mempercepat pertumbuhan dan peningkatan kualitas pelayanan air

minum, khususnya di daerah dimana masyarakat mampu menanggung biaya investasi

swasta yang didasari atas perhitungan komersial.

Sistem Pelayanan Perpipaan

Sistem perpipaan adalah target utama sistem pelayanan air minum. Masih adanya sistem

non perpipaan dikarenakan terbatasnya pendanaan untuk investasi sistem perpipaan.

Untuk itu sebagai target antara sistem non perpipaan ditingkatkan kualitasnya agar air

minum yang diperoleh dari sumber ini aman dikonsumsi.

Selain itu rencana pelayanan SPAM berdasarkan pada pertimbangan struktur ruang,

topografi , ketersediaan air baku dan akses jalan serta rencana strategis lain akan menjadi

pertimbangan dalam menentukan sistem pelayanandan pertimbangan kepadatan

penduduk yang berujung pada adanya potensi pencemaran terhadap sumber air baku air

minum menjadi dasar perlunya sistem perpipaan untuk diterapkan pada suatu wilayah

Sistem pelayanan Air Minum Perpipaan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah

(39)

BAB 7 39

1. Sistem Ibu Kota Kabupaten (PKW).

Sistem ini diarahkan menjangkau Ibu Kota Kabupaten sesuai Indikasi program pada

pemanfatan ruang RTRW

2. Sistem IKK yaitu Kec Bintauna, Kecamatan Bolangitang Barat, Kecamatan Bolangitang

Timur, Kecamatan Sangkub.

3. Sistem Perdesaan

Sistem perpipaan perdesaan merupakan tujuan utama. Prioritas adalah desa -desa dengan

penduduk diatas 2.000 jiwa kemudian 1.000 - 2.000 jiwa. Dan untuk penduduk dengan

jumlah penduduk dibawah 1.000 jiwa.

Sistem Pelayanan Non Perpipaan

Sistem Bukan Jaringan Perpipaan menyebar pada seluruh wilayah baik perkotaan maupun

perdesaan. Sistem ini perlu dilakukan perlindungan karena sistem perpipaan belum

mampu menjangkau semua wilayah. Sistem ini terdiri dari sistem BJP terlindungi dan tak

terlindungi. Secara Umum di wilayah Kabupaten menggunakan air tanah untuk kebutuhan

air minumnya.Untuk wilayah padat yang seharusnya sisten BJP tidak direkomendasi

adalah wilayah padat dengan kepadatan diatas 200 jiwa/ha. Pada kondisi ini air tanah

patut diduga telah tercemar tinja manusia dari fasilitas sanitasi yang dimiliki warga. Upaya

perlindungan selain dengan mencegah pencemar masuk juga dengan monitoring sumur

warga yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Program yang dilakukan adalah meningkat

kualitas BJP tak terlindungi menjadi terlindungi atau ke SPAM perpipaan.

Tabel 7.9 Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non Perpipaan

KAB/KOTA JML

EKSISTING EKSISTING EKSISTING EKSISTING BOLAANG

MONGONDOW

UTARA 75.29 1,94 1.459 45,60 34.329

Luas cakupan pelayanan per kecamatan

Aspek-aspek kawasan pelayanan berupa lokasi, aksesibilitas dan sebaran daerah

pelayanan sangat menentukan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat di

(40)

BAB 7 40

yang tertuang dalam arahan RTRW maka rencana system pelayanan air minum kabupaten

Bolaang Mongodow Utara dapat dibagi dalam beberapa Zona pelayanan.

A. Wlayan Pelayanan Zona I

Wilayah pelayanan zona I meliputi wilayah kecamatan Kaidipang sebagai Ibu Kota

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Berdasarkan kondisi topgrafi dan batas -batas alam

serta kedekatan jarak secara geografis kecamatan Kaidipang maka wilayah Pelayanan

Zona I dapat di bagi dalam 2 (dua) yaitu :

1. SPAM Ibu Kota Kabupaten

Wilayah SPAM Ibu Kota Kabupaten meliputi wilayah Desa Boroko, Boroko Timur, Kuala,

Kuala Utara, Bigo dan bigo selatan. Kondisi topgrafi berkisar antara 46 -3 mdpl.

2. SPAM Pedesaan

Wilayah pelayanan yang termasuk dalam SPAM Pedesaan di Wilayah Zona I adalah Desa

Pontak, soligir, Komus Dua dan Komus Dua Timur,

B. Wilayah Pelayanan Zona II

Cakupan wiilayah pelayanan Zona II adalah meliputi Kecamatan Bolangitan Barat. Zona II

dibagi atas 2 (dua) sistem pelayanan yaitu system pelayanan SPAM Ibu Kota Kecamatan

(IKK) dan SPAM Pedesaan.

1. SPAM IKK Bolangitan Barat

Wilayah pelayanan SPAM IKK Bolangitan Barat terdiri dari beberapa desa yaitu :Desa

Bolangitan,Bolangitan 1,Bolangitan II,Olot,Olot I, Olot Dua, Sonuo, Iyok, Langi, Jambu

Sarang, Talaga Tomoagu

2. SPAM Pedesaan Bolangitan Barat

Yang termasuk dalam wilayah spam Pedesaan Bolangin Barat adalah Desa Paku, Paku

Selatan,Wakat,Tote, dan Talaga,

C. Wilayah Pelayanan Zona III

Cakupan Wilayah pelayanan Zona III adalah meliputi Wilayah Kecamatan Bolangitan

Timur. Zona III dibagi atas 2 (dua) sistem pelayanan yaitu sistim pelayanan SPAM Ibu Kota

Kecamatan (IKK) dan SPAM Pedesaan.

(41)

BAB 7 41

Wilayah pelayanan SPAM IKK Bolangitan Timur terdiri dari beberapa desa yaitu: Desa

Bohabak I,Bohabak II,Bohabak III dan Tanjung Labuo

2. SPAM Pedesaan BolangitanTimur

Yang termasuk dalam wilayah spam Pedesaan di Zona III adalah

a) SPAM Pedesaan Mokoditek dan Mokoditek I

b) SPAM Pedesaan Binjeta

c) SPAM Pedesaan Binjeta I dan II

d) SPAM Pedesaan Bintong I dan II

e) SPAM Pedesaan Saleo

f) SPAM Pedesaan Saleo I

g) SPAM Pedesaan Bionteng

h) SPAM Pedesaan Nagara

i) SPAM Pedesaan Lipu Bogu

D. Wilayah Pelayan Zona IV

Cakupan wilayah pelayanan zona IV meliputi wilayah kecamatan Bintauna, dibagi atas 2

(dua) sistem pelayanan yaitu sistim pelayanan SPAM Ibu Kota Kecamatan (IKK) dan SPAM

Pedesaan.

1. SPAM IKK Bintauna

Wilayah pelayanan SPAM IKK Bintauna adalah meliputi wilayah Desa Bintauna, Talaga, Voa’a, Padang, Padang Barat, Bunia, Pimpi, dan desa Batulintik

2. SPAM Pedesaan

Wilayah SPAM Pedesaan di Zona IV meliputi :

a) SPAM Pedesaan Bunong

b) SPAM Pedesaan kuhanga

c) SPAM Pedesaan Minanga

Gambar

Tabel 7.1 Luas Kawasan Kumuh Kab. Bolaang Mongondow Utara
tabel dibawah ini.
Tabel 7.2 Presentase Jumlah Rumah Tangga Menurut Luas Lantai
Tabel 7.5 Presentase Rumah Tangga Menurut Atap Terluas Yang Di Gunakan
+6

Referensi

Dokumen terkait

Toisaalta vain harvoissa puheis- sa ja diskursseissa puhuttiin vahvasti esimerkiksi sellaisista lähestymistavan perusperi- aatteista kuin kaikkien maailman ihmisten

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Nilai

Kecenderungan skala usaha dalam jumlah yang terbatas pada kedua model usaha seperti ini hanya untuk mendapatkan keuntungan seadanya, disesuaikan dengan modal (uang) yang

Gajah Sumatera membutuhkan jumlah konsumsi makanan yang banyak untuk mencukupi kebutuhan energi sesuai dengan ukuran tubuhnya yang besar (Seidensticker, 1984). Ketika kebutuhan

Nilai psikologi yang dimiliki oleh Cerpen Memedi Satak Dukuh, Tonyo, dan Leak Rare adalah rasa tertekan akan sesuatu yang harus diputuskan dengan paksa begitu pula

Sebagai salah satu bentuk pengakuan resmi, maka dalam melaksanakan program sertifikasi LPTK seyogyanya memiliki suatu standar tertentu yang merupakan

Bila penulangan konstruksi beton menggunakan tulangan jaring, maka akan berlaku pera- turan sebagai berikut : jaringan digambar dalam bentuk empat persegi panjang pada gambar

- Guru mengajak peserta didik untuk mengamati bentuk cara menghormat yang lain. 10