BAB 7 i DAFTAR ISI
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA...2
KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA ...2
7.1 Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman ... 2
7.1.1 Kondisi Eksisting Pembangunan Permukiman Dan Infrastruktur Permukiman Perkotaan... 3
7 . 2 Penataan Bangunan Dan Lingkungan... 31
7.2.1 Kondisi Eksisting ... 31
7.2.2 Sasaran Program... 32
7.2.3 Usulan Kebutuhan Program ... 36
7.3 Sektor Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)... 37
BAB 7 2
BAB 7
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA
KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA
Pembangunan infrastruktur merupakan aktivitas penyediaan sarana
prasarana dasar yang meliputi penyediaan sarana prasarana transportasi, air
bersih, energi listrik, telekomunikasi, drainase dan persampahan di suatu wilayah.
Ketersediaan infrstruktur dalam suatu wilayah merupakan hal yang mutlak
harus dipersiapkan, karena kemajuan pembangunan suatu wilayah sangat
ditentukan oleh faktor ini. Untuk itu pembangunan infrastruktur sangat
membutuhkan perhatian kita semua bila kita ingin mewujudkan harapan- harapan
yang tercantum dalam visi misi pada bab sebelumnya.
Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa Pembangunan Daerah
tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja tetapi harus dilakukan oleh semua
pihak. Artinya, selain pemerintah juga oleh masyarakat dan pihak swasta atau dunia
usaha. Selama ini penyediaan infrastruktur utama (social overhead capital)
sebagai penggalangan investasi (induce investment) dilakukan oleh pemerintah
pusat, Provinsi maupun daerah. Sehubungan dengan hal ini, pihak pemerintah
tidak akan bertindak sebagai pelaku monopoli dalam penyediaan, dan mengelola
infrastruktur di masa mendatang, tetapi sebagian penyediaan prasarana dan
sarana dimaksud akan dialihkan kepada sektor swasta yang memiliki manajemen,
teknologi, dan finansial untuk membangun dan mengelola fasilitas-fasilitas dasar
dan penunjang tersebut.
7.1 Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman
Pembangunan infrastruktur merupakan aktivitas penyediaan sarana prasarana
dasar yang meliputi penyediaan sarana prasarana transportasi, air bersih, energi
listrik, telekomunikasi, drainase dan persampahan di suatu wilayah. Ketersediaan
infrstruktur dalam suatu wilayah merupakan hal yang mutlak harus dipersiapkan,
karena kemajuan pembangunan suatu wilayah sangat ditentukan oleh faktor ini.
Untuk itu pembangunan infrastruktur sangat membutuhkan perhatian kita semua
bila kita ingin mewujudkan harapan-harapan yang tercantum dalam visi misi pada
bab sebelumnya.
Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa Pembangunan Daerah tidak dapat
dilakukan oleh pemerintah saja tetapi harus dilakukan oleh semua pihak. Artinya,
BAB 7 3
Selama ini penyediaan infrastruktur utama (social overhead capital) sebagai
penggalangan investasi (induce investment) dilakukan oleh pemerintah pusat,
Provinsi maupun daerah. Sehubungan dengan hal ini, pihak pemerintah tidak
akan bertindak sebagai pelaku monopoli dalam penyediaan, dan mengelola
infrastruktur di masa mendatang, tetapi sebagian penyediaan prasaran a dan sarana
dimaksud akan dialihkan kepada sektor swasta yang memiliki manajemen,
teknologi, dan finansial untuk membangun dan mengelola fasilitas -fasilitas dasar
dan penunjang tersebut.
7.1.1 Kondisi Eksisting Pembangunan Permukiman Dan Infrastru ktur Permukiman Perkotaan
A. Data kondisi eksisting kawasan kumuh, sebagai baseline perencanaan
pembangunan menuju 100-0-100, dilengkapi dengan SK bupati/walikota.
Berikut data kondisi eksisting kawasan kumuh dikabupaten Bolaang Mongondow Utara
Tabel 7.1 Luas Kawasan Kumuh Kab. Bolaang Mongondow Utara
Pengembangan Permukiman baik di perkotaan maupun di perdesaan pada
hakekatnya adalah untuk mewujudkan kondisi perkotaan dan perdesaan yang sehat
dan layak huni (liveble), aman, nyaman, damai dan berkelanjutan serta
meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Demikian juga Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara telah melakukan
pengembangan permukiman di perkotaan dan perdesaan, seperti:
a. Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar bagi Kawasan Rumah La yak Huni
tersebar di 6 (enam ) kecamatan;
b. Peningkatan Kualitas Permukiman, bagi masyarakat miskin yang tersebar di
beberapa lokasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara;
c. Penataan dan Peremajaan Kawasan;
Luas Kumuh: 50.76 Ha 0 Ha
Luas Kumuh Berat : 0 Ha 0 Ha
Luas Kumuh Sedang : 50.76 Ha 0 Ha
Luas Kumuh Ringan : 0 Ha 0 Ha
STRATEGI OPTIMIS
Penangan Kumuh Kab. Bolaang Mongondow Utara 2015 2016 2017 2018 2019
BAB 7 4
d. Pengembangan kawasan perbatasan antar kabupaten sekitarnya juga telah
dilakukan dll.
Untuk mempercepat pertumbuhan dan pengembangan permukiman, Pemerintah
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara telah merencanakan Desa Pusat
Pertumbuhan (DPP) di beberapa lokasi. Penetapan DPP dengan memp erhatikan
banyak faktor, antara lain potensi ekonomi kawasan, jumlah penduduk,
terbatasnya prasarana dan sarana dasar. Pengembangan Kawasan Permukiman
Perdesaan Pengembangan kawasan permukiman perdesaan di Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara diarahkan pada Pengembangan Kawasan Terpilih Pusat
Pengembangan Desa (KTP2D) dan Pengembangan Kawasan Agropolitan.
a. Pembangunan Kawasan Terpilih Pusat Pertumbuhan Desa (KTP2D)
Pembangunan Kawasan Terpilih Pusat Pertumbuhan Desa (KTP2D) merupakan
pendekatan pembangunan kawasan perdesaan dengan cara mengembangkan
potensi unggulannya, yaitu suatu sumber daya dominan baik yang belum diolah
(eksplor) maupun sumber daya yang tersembunyi berupa sumber daya alam,
sumber daya buatan ataupun sumber daya manusia yang difokuskan pada
kemandirian masyarakat sesuai dengan azas Tridaya yang intinya adalah
pemberdayaan masyarakat, ekonomi dan pendayagunaan prasarana dan sarana
permukiman.
Harapan keberadaan DPP dan KTP2D dapat meningkatkan pelayanan dan menjadi
pusat pertumbuhan bagi kawasan sekitarnya dengan saling menunjang antara
potensi-potensi desa pengembangan kawasan dengan konsep KTP2D di Kabuapten
Bolaang Mongondow Utara sangat tepat guna mempercepat dan mempermudah
pembangunan dan pengembangan desa.
Aksesibilitas warga menjadi lebih dekat karena prasarana dan sarana kota
tersedia di kawasan atau bila belum tersedia dapat dikembangkan/ dibangun
BAB 7 5
Keberadaan KTP2D diharapkan mampu melayani desa-desa yang berada di
kawasan tersebut sehingga kawasan menjadi lebih mandiri dan saling melengkapi
kebutuhan prasarana dan sarananya.
b. Pembangunan Kawasan Agropolitan
Selain pengembangan kawasan perdesaan dengan konsep KTP2D, Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara juga mengembangkan kawasan agropolitan. Kawasan
yang akan dikembangkan sebagai kawasan agropolitan adalah Kawasan
Agropolitan Kec. Bolangitang Barat, Kecamatan Pinogaluman,Kecamatan
Bolangitang Timur,Kecamatan Bintauna,dan Kecamatan Sangkub serta Kecamatan
Kaidipang.
Strategi pengembangan wilayah dan usaha agribisnis perlu disinergikan untuk
mengoptimalkan kawasan dalam pembangunan. Pengembangan pertanian perlu
disiapkan secara matang dengan memperhatikan keterkaitan aktivitas yang akan
dikembangkan, baik dampak ke belakang (backward linkage) maupun dampak ke
depan (forward linkage).
Agribisnis sebagai suatu sistem perlu disediakan infrastruktur dasar dan
pendukungnya, seperti: jaringan jalan, air bersih, sarana pengolahan, pemasaran
serta adanya kemandirian sumber daya manusia dan kelembagaan yang memadai
(suprastruktur) dan berakar kuat. Artinya bahwa membangun kawasan perdesaan
dengan kegiatan utama agribisnis, tak pelak lagi merupakan pembangunan sub
sistem infrastruktur dan suprastruktur dalam suatu sistem kawasan agropolitan.
Agropolitan (kota dengan basis ekonomi pertanian) merupakan salah satu upaya
memepercepat pembangunan perdesaan sehingga tidak lagi bertumpu pada
pusat-pusat pertumbuhan yang biasanya terletak di pusat-pusat-pusat-pusat kota. Melalui
agropolitan, desa dengan fasilitas kota akan tumbuh dan berkembang karena
berjalannya sistem agribisnis yang mampu melayani, mendorong, menarik kegiatan
pembangunan pertanian (agribisnis) wilayah sekitarnya sehingga menjadi suatu
sistem kawasan yang komplementer dan terpadu.
Diharapkan melalui pengembangan kawasan agropolitan ini, dapat meningkatkan:
- Keterkaitan desa dan kota sehingga dapat diwujudkan sinergi pertumbuhan
BAB 7 6
- Mendorong tumbuhnya wilayah-wilayah perdesaan melalui pengembangan
potensi wilayah terutama di bidang usaha pertanian dengan sistem agribisnis yang
berdaya saing tinggi, berbasis kerakyatan dan berkelanjutan;
- Hubungan spasial antara hierarki wilayah pembangunan;
- Mewujudkan platform daya saing agribisnis Kabupaten Bolaang Mongondow
Utara agar mampu menarik investor untuk terlibat secara intensif dalam
pendayagunaan potensi daerah;
- Pendapatan dan kesejahteraan warga masyarakat.
c. Penyediaan Prasarana dan Sarana dalam rangka Penanganan Bencana
Beberapa lokasi di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan
kawasan rawan bencana alam antara lain tanah banjir dan longsor.Peristiwa
bencana alam tersebut tidak menimbulkan korban jiwa,tetapi mnimbulkan
kerugian material.sehingga untuk menghindari akan adanya korban.Adapun
wilayah –wilayah yang rawan dengan bencana alam tersebut dapat dilihat dalam
tabel dibawah ini.
Tabel 7.1 Daerah Rawan Bencana Alam
B. Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan, permukiman Perdesaan, permukiman nelayan, rawan bencana, perbatasan, dan pulau kecil
Pengembangan kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Bolaang
BAB 7 7
kawasan rumah sehat sederhana (RSH), penataan dan peremajaan kawasan, serta
peningkatan kualitas permukiman.
Perbaikan lingkungan perumahan dan permukiman serta penyediaan PSD untuk
meningkatkan kualitas permukiman selama ini telah dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Tetapi belum semua kawasan perumahan dan
permukiman dapat terjangkau dan terlayani sehingga diharapkan ada peran serta
masyarakat dan swasta dalam mewujudkan kebutuhan perumahan dan permukiman
yang sehat dan layak huni.
Pada tahun 2008, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
melaksanakan Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP-PNPM) di
kecamatan kaidipang. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan
kemandirian dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sehingga mampu
meningkatkan kesejahteraan khususnya masyarakat miskin serta mengurangi jumlah
penduduk miskin di perkotaan.
Berkembangnya kebutuhan perumahan dan permukiman di perkotaan belum
membawa dampak tumbuhnya kantong-kantong permukiman kumuh demikian juga di
wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Hal ini mengindikasikan bahwa
kebutuhan akan lahan dan ruang untuk tempat tinggal semakin meningkat seiring
dengan lahan dan ruang di perkotaan semakin terbatas dan kecenderungan warga
masyarakat yang ingin tinggal di dekat pusat-pusat kota. Akibatnya kawasan pusat kota
tidak mampu lagi menampung aktivitas warganya yang berdampak pada sistem
pelayanan perkotaan, kualitas lingkungan dan masalah sosial yang semakin kompleks.
Untuk mencegah timbulnya kawasan kumuh, Pemerintah Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara dengan menata lingkungan guna menciptakan kemandirian A.
Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan Pengembangan kawasan permukiman
perkotaan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara diarahkan pada penyediaan
prasarana dan sarana dasar (PSD) bagi kawasan rumah sehat sederhana (RSH), penataan
dan peremajaan kawasan, serta peningkatan kualitas permukiman.
Perbaikan lingkungan perumahan dan permukiman serta penyediaan PSD untuk
meningkatkan kualitas permukiman selama ini telah dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Tetapi belum semua kawasan perumahan dan
permukiman dapat terjangkau dan terlayani sehingga diharapkan ada peran serta
masyarakat dan swasta dalam mewujudkan kebutuhan perumahan dan permukiman
BAB 7 8
Pada tahun 2008, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara melaksanakan
Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP-PNPM) di kecamatan
kaidipang. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan kemandirian
dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sehingga mampu meningkatkan
kesejahteraan khususnya masyarakat miskin serta mengurangi jumlah penduduk miskin
di perkotaan.
Berkembangnya kebutuhan perumahan dan permukiman di perkotaan belum membawa
dampak tumbuhnya kantong-kantong permukiman kumuh demikian juga di wilayah
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Hal ini mengindikasikan bahwa kebutuhan akan
lahan dan ruang untuk tempat tinggal semakin meningkat seirin g dengan lahan dan
ruang di perkotaan semakin terbatas dan kecenderungan warga masyarakat yang ingin
tinggal di dekat pusat-pusat kota. Akibatnya kawasan pusat kota tidak mampu lagi
menampung aktivitas warganya yang berdampak pada sistem pelayanan perko taan,
kualitas lingkungan dan masalah sosial yang semakin kompleks.
Untuk mencegah timbulnya kawasan kumuh, Pemerintah Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara dengan menata lingkungan guna menciptakan kemandirian
masyarakat dalam memelihara lingkungan permukimannya agar tetap tertata, bersih dan
layak huni. Kawasan rawan bencana menjadi prioritas perbaikan lingkungan
permukiman, seperti kawasan rawan, genangan/ banjir, kebakaran dll.
2. Prasarana Dan Sarana Dasar Permukiman
Keberadaan desa-desa di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara memiliki potensi lebih,
seperti: potensi ekonomi, sosial budaya, wisata, prasarana dan sarana. Sebagian desa
telah ditetapkan sebagai Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) dan sebagian kawasan telah
ditetapkan sebagai kawasan agropolitan.
Desa pusat pertumbuhan didukung oleh desa-desa sekitar (hinterland-nya) yang
diharapkan menjadi satu kawasan yang saling mendukung dan saling melengkapi dari
potensi-potensi yang ada. Pola KTP2D ini sangat tepat untuk mempercepat pembangunan
kawasan, efektif dan efisien dalam penyediaan prasarana dan sarana dasar serta
meningkatkan akses pada pasar.
Di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara saat ini telah ditetapkan 2 (dua) DPP yaitu di
Desa Buko Kecamatan Pinogaluman, Desa Sangub Kecamatan Sangkub.Jumlah DPP ini
masih terbatas sedangkan desa-desa lain yang memiliki potensi dan dapat dikembangkan
BAB 7 9
Dengan telah ditetapkannya desa-desa menjadi kawasan terpilih pusat pengembangan
dan kawasan agropolitan akan lebih efektif dan efisien dalam penyediaan prasarana dan
sarana dasar perdesaan guna peningkatan perekonomian kawasan serta kesejahteraan
masyarakatnya.
Kondisi lingkungan perumahan dan permukiman masih banyak yang perlu diting katkan,
khususnya perbaikan perumahan masyarakat yang belum layak huni dan lingkungan
permukiman yang masih terbatas prasarana dan sarana dasarnya.
Warga masyarakat di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara sebagian besar bertempat
tinggal di kawasan perkotaan (ibukota kecamatan), hal ini terkait dengan kemudahan
aksesibilitas dan tersedianya prasarana dan sarana perkotaan. Di sisi lain lahan dan ruang
di kawasan perkotaan sangat terbatas, sehingga sering dijumpai suatu kawasan
perkotaan padat penduduk yang mengakibatkan kawasan tersebut tidak tertata, teratur
dan menjadi kumuh. Bila tidak segera kawasan kumuh ini ditata dan dibenahi dapat
menimbulkan kerawanan, seperti: masalah lingkungan hidup, sosial, kriminalitas dll.
Penyediaan prasarana dan sarana dasar (PSD) perkotaan melalui pembangunan,
peningkatan maupun pemeliharaan telah dilakukan selama ini. Selain itu bantuan
stimulan sebagai pendorong dalam perbaikan PSD, permukiman juga telah dilakukan
oleh Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, yang diberikan kepada warga/
masyarakat yang benar-benar membutuhkan untuk meningkatkan kualitas PSD
perkotaan dan perumahan maupun lingkungannya.
Tabel 7.2 Presentase Jumlah Rumah Tangga Menurut Luas Lantai
Luas Lantai (M2) 2007 2008
BAB 7 10
Tabel 7.3 Presentase Jumlah Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai
Jenis Lantai %
Bukan Tanah
Tanah
89,74
10,26
Jumlah 100,00
Catatan : Diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS)
Tabel 7.4 Presentase Rumah Tangga Menurut Dinding Terluas Yang Di Gunakan
Jenis Dinding 2007 2008
Tembok 53,75 59,18
Kayu 21,04 20,74
Bambu 22,92 20,08
Lainnya 2,29 0,00
Jumlah 100,00 100,00
Catatan : Diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS)
Tabel 7.5 Presentase Rumah Tangga Menurut Atap Terluas Yang Di Gunakan
Jenis Lantai %
Beton 3,42
Genteng 1,28
Sirap 1,28
Seng 53,62
Asabes 0,64
Ijuk/Rumbia 39,75
Lainnya -
Jumlah 100,00
BAB 7 11
Dari tabel di atas terlihat bahwa bangunan yang memiliki luas lantai < 20 M2 mengalami
penurunan.ini di akibatkan banyaknya rumah yang telah direnovasi dan menambah luas
lantainya.
Kondisi lingkungan perumahan dan permukiman masih banyak yang perlu ditingkatkan,
khususnya perbaikan perumahan masyarakat yang belum layak huni dan lingkungan
permukiman yang masih terbatas prasarana dan sarana dasarnya.
Banyak ditemui sebagian dari warga masyarakat di Kabupaten Bolaang Mongo ndow
Utara bertempat tinggal di kawasan perkotaan, hal ini terkait dengan kemudahan
aksesibilitas dan tersedianya prasarana dan sarana perkotaan. Di sisi lain lahan dan ruang
di kawasan perkotaan sangat terbatas, sehingga sering dijumpai suatu kawasan
perkotaan padat penduduk yang mengakibatkan kawasan tersebut tidak tertata, tidak
teratur dan menjadi kumuh. Bila tidak segera kawasan kumuh ini ditata dan dibenahi
dapat menimbulkan kerawanan, seperti: masalah lingkungan hidup, sosial, kriminalitas
dll.
C. PERMASALAHAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN
Besaran masalah yang dihadapi atau tantangan yang harus diselesaikan melalui PSD
Permukiman, dengan membandingkan antara kondisi yang ada dengan sasaran
pembangunan PSD Permukiman baik dari segi teknis, kelembagaa dan keuangan yang
BAB 7 12
Tabel 7.6 Presentase Rumah Tangga Menurut Atap Terluas Yang Di Gunakan
BAB 7 13
b. Rendahnya daya beli masyarakat untuk memperoleh perumahan.
BAB 7 14
a. Mengutamakan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah
sederhana dan rumah sederhana sehat, penyediaan hunian bagi masyarakat
berpendapatan rendah.
b. Memfasilitasi dan memberdayakan masyarakat berpendapatan rendah.
c. Menciptakan kepastian hukum dalam permukiman.
d. Meningkatan kualitas prasarana dan sarana lingkungan pada kawasan kumuh
perkotaan dan pesisir.
D. Rekomendasi melalui Program-Program Pembangunan
a. Pemenuhan kebutuhan rumah yang layak, sehat, aman dan terjangkau dengan
memfokuskan pada masyarakat miskin dan berpendapatan re ndah.
Kegiatan:
1. Penyediaan prasarana dan sarana dasar kawasan rumah sederhana dan rumah
sederhana sehat.
2. Pengembangan pola subsidi yang tepat sasaran, efisien dan efektif sebagai pengganti
subsidi.
3. Peningkatan akses masyarakat pada kredit mikro untuk pembangunan dan
perbaikan rumah yang berbasis swadaya masyarakat.
4. Memfasilitasi pembangunan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) dan
rumah susun sederhana milik.
b. Penanggulangan dan rehabilitasi perumahan akibat bencana alam/ kerusuhan
sosial. Kegiatan:
1. Fasilitasi dan simulasi pembangunan dan rehabilitasi rumah akibat bencana
alam dan kerusuhan sosial.
2. Fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan yang tanggap terhadap
bencana
3. Pengembangan sistim penanggulangan kebakaran
4. Pembangunan Cek Dam pencegah banjir pasir
BAB 7 15
Kegiatan:
1. Perbaikan lingkungan permukiman kumuh.
2. Lantainisasi Perumahan Keluarga Prasejahtera.
3. Pembangunan Sarana MCK
Analisis Kelayakan Program Pembangunan Permukiman Sub Bidang Pengembangan
Permukiman pada Departemen Pekerjaan Umum memiliki program dan kegiatan yang
bertujuan mengembangkan wilayah perkotaan dan perdesaan. Tujuan Pengembangan
Permukiman:
a. Memenuhi kebutuhan pengembangan permukiman (sarana dan prasarana
dasar permukiman)
b.Terwujudnya permukiman yang layak dalam lingkungan sehat, aman, serasi, dan
teratur
c. Mengarahkan pertumbuhan wilayah
d.Menunjang kegiatan ekonomi melalui kegiatan pengembangan permukiman .
Adapun sasaran dari Pengembangan Permukiman adalah:
a. Terpenuhinya kebutuhan dasar permukiman
b.Tersedianya perumahan tipe RSH, RUSUNAWA
c. Terarahnya pertumbuhan wilayah
d.Terdorongnya kegiatan ekonomi melalui kegiatan pembangunan permukiman
Keluaran dari Sub Bidang Pengembangan Permukiman adalah:
a. Lahan siap bangun
b.Tersedianya prasarana dan sarana (jalan, drainase, jaringan air bersih) kawasan
c. Tersedianya kawasan permukiman yang sehat
d.Tersedianya RSH, RUSUNAWA siap huni
e. Tersedianya perumahan untuk mendukung terselenggaranya gerak perekonomian
BAB 7 16
f. Tersedianya kawasan permukiman skala besar yang terencana secara menyeluruh
dan terpadu dengan pelaksanaan yang bertahap dengan menciptakan kawasan
permukiman yang tersusun atas satuan-satuan lingkungan permukiman dan
mengintegrasikan secara terpadu dengan lingkungan permukiman yang telah ada di
sekitarnya
Asumsi dari Pengembangan Permukiman adalah:
a. Kelompok sasaran masyarakat untuk RSH, RUSUNAWA diutamakan masyarakat
berpenghasilan rendahMengacu pada UU no. 4/1992
b.tentang perumahan dan peraturan perundangan terkait
Melalui penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah Dinas Pekerjaan
Umum Bidang Cipta Karya diharapkan dapat diwujudkan permukiman yang layak huni
dan mendukung pengembangan perkotaan. Selain itu, mampu mendorong kerjasama
antar stakehoder dalam mendanai dan menyelenggarakan Program Pengembangan
Permukiman oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Bidang Cipta
Karya yang diwujudkan dalam Program Pengembangan Permukiman Perkotaan dan
Program Pengembangan Permukiman Perdesaan.
7.1.2 Sasaran Program
Sasaran pembangunan permukiman, antara lain:
a. Terpenuhinya kebutuhan dasar permukiman;
b. Tersedianya perumahan sederhana, sehat dan layak huni;
c. Terarahnya pertumbuhan wilayah;
Terdorongnya kegiatan ekonomi melalui kegiatan pembangunan permukiman.
Kebijakan dan strategi pembangunan prasarana dan sarana dasar RSH dari segi
teknis, pendanaan dan pelaksanaan adalah:
- Meingkatkan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah
sederhana dan rumah sederhana sehat.
- Mengembangkan kawasan perumahan skala besar.
- Meningkatkan penyediaan hunian (sewa dan milik) bagi masyarakat
BAB 7 17
- Meningkatkan fasilitasi dan pemberdayaan masyarakat berpendapatan rendah
dalam penyediaan lahan, sumber pembiayaan dan prasarana dan sarana lingkungan
melalui pembangunan perumahan yang bertumpu pada masyarakat.
- Mengembangkan kredit mikro pembangunan danperbaikan rumah yang terkait
dengan kredit mikro peningkatan pendapatan dalam rangka upaya pemberdayaan usaha
ekonomi masyarakat miskin dan penciptaan lapangan kerja.
- Menciptakan pola subsidi baru yang lebih tepat sasaran.
- Mengembangkan lembaga yang bertanggung jawab dalam pembangunan
perumahandan permukiman pada semua tingkatan pemerintahan serta fasilitasi
pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman yang transparan dan partisip atif
- Pemantapan pasar primer perumahan.
- Menciptakan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure).
Tabel 7.7 Sasaran Program Kawasan Kumuh Kab. Bolaang Mongondow Utara
A. PROGRAM KERANGKA DASAR PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN RSH/
PN S/TNI/POLRI
Target:
TOTAL
LUAS
KAWASAN 2015 2016 2017 2018 2019 KET
BAB 7 18
- Perumahan yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghas ilan rendah,
khususnya PNS/TNI/Polri.
- Sesuai dengan RTRW dan Renstra Pemerintah Daerah.
- Dibangun sesuai PP 80 tahun 1999 tentang Kasiba dan Lisiba BS
- Dukungan PSD dalam pembangunan RSH bagi PNS, TNI/Polri, Pekerj a
masyarakat berpenghasilan rendah
- Diprioritaskan pada kawasan-kawasan skala besar dan yang dapat segera
mendorong perkembangan wilayah
- Sudah mendatangani MOU antara Pemerintah Daerah dengan Bapertarum.
Penanganan:
- Identifikasi lokasi-lokasi pengembangan kawasan permukiman barn
(Kasiba/Lisiba BS), diprioritaskan bagi kawasan yang mewujudkan keberpihakan pada
masyarakat berpenghasilan rendah termasuk PNS, TNI dan POLRI.
- Bantuan fisik berupa jalan akses dan jalan poros ya ng menghubungkan
kawasan bare
Kontribusi Pemerintah Daerah:
- Menyediakan dana pendamping.
- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati
- Review minimal setahun sekali
B . PENATAAN DAN PEREMAJAAN KAWASAN
Target:
- Lingkungan permukiman perkotaan yang tidak teratur sehingga menurunkan
kualitas lingkungan permukiman perkotaan.
- Lingkungan permukiman sebagai trip distributions (distribusi pergerakan)
tidak accessible terhadap infrastruktur perkotaan.
- Pengembangan kawasan permukiman yang tidak terkendali sehingga
berdampak pada lingkungan perkotaan.
BAB 7 19
- Pengembangan Program dan Kebijakan Pengendalian Kota Besar dan
Metropolitan.
- Perencanaan Penanganan Kawasan Permukiman Perkotaan.
- Penanganan kawasan permukiman perkotaan melalui peremajaan kawasan
perkotaan.
Kontribusi Pemerintah Daerah:
- Menyediakan dana pendamping.
- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati
- Review minimal setahun sekali
C. PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA
Target:
Untuk Rusunawa yang diperuntukan bagi masyarakat berpendapatan rendah.
a. Sebagai salah satu solusi penanganan kawasan kumuh perkotaan
(peremajaan kawasan permukiman perkotaan/urban renewal).
b. Tidak bisa diharapkan sebagai sumber pendapatan daerah.
c. Hanya dibangun pada lokasi yang memenuhi syarat administratif, fisik,
ekologik, dan tidak berdampak sosial yang negatif.
Untuk Rusunawa yang diperuntukkan bagi buruh
a. Diusulkan apabila sudah menjadi permasalahan bagi pemerintah daerah
setempat.
b. Bukan merupakan bantuan bagi salah satu perusahaan/pabrik. Dibangun di atas
tanah Pemerintah Daerah.
c. Dengan persyaratan-persyaratan yang disepakati bersama. Penanganan:
a. Penetapan Pedoman Perencanaan, Pengembangan, Pengawasan dan
Pengendalian Pembangunan.
b. Penetapan Pedoman tentang Standar Pelayanan Minimal oleh pemerintah
BAB 7 20
c. Bantuan teknis pembangunan, penghunian dan pengelolaan Rusunawa. Kontribusi
Pemerintah Daerah:
- Menyusun renstra pembangunan permukiman termasuk pembangunan
Rusunawa.
- Menyiapkan rencana pembangunan Rusunawa (dalam kawasan sesuai
RUTR berkelanjutan dan mandiri).
- Penyiapan lahan dan alokasi dana APBD dalam penunjangan Rusunawa.
- Penyiapan manajemen penghunian dan pengelolaan Rusunawa pasca
konstruksi.
- Mengalokasikan subsidi pengelolaan Rusunawa per tahun melalui APBD.
D. PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN
Target:
- Kabupaten/Kota yang memiliki tingkat kemiskinan perkotaan yang tinggi.
- Kabupaten/Kota yang memiliki komitmen untuk melaksanakan program
penanggulangan kemiskinan dan membentuk lembaga permukiman serta melaksanakan
proses secara partisipatif.
- Kabupaten/Kota yang mengalokasikan dana pendamping NUSSP pada setiap
tahun pelaksanaan yang dinyatakan dalam konfirmasi dengan surat resmi oleh
Walikota/Bupati dan disetujui oleh DPRD, sesuai dengan Naskah Perjanjian Hibah
dengan Departemen Keuangan menurut kapasitas fiskal yang dimiliki. Penanganan:
- Penyiapan Rencana Penataan Lingkungan/RP4D dalam bidang Perumahan dan
Permukiman.
- Fasilitasi Kredit Mikro Perumahan kepada KBR.
- Pembangunan Infrastruktur Permukiman bagi KBR.
- Peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah dan Masyarakat melalui kegiatan
Pelatihan dan Pendampingan. Kontribusi Pemerintah Daerah:
- Menyediakan dana pendamping.
BAB 7 21
- Review minimal setahun sekali
E. PROGRAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN PERDESAAN
1. PENGEMBANGAN KAWASAN TERPILIH PUSAT PENGEMBANGAN DESA
Target:
- Lokasi sasaran adalah Kelurahan/Desa dengan jumlah penduduk miskin lebih
dari 35%
- Kawasan-kawasan di perdesaan yang potensial berkembang, dan punya nilai
lebih dari kawasan lainnya
- Mempunyai Desa Pusat dan desa-desa hinterland yang punya kaitan erat
terutama di bidang ekonomi, (hinterland sebagai pemasok, desa pusat sebagai
pengumpul atau pusat pelayanan )
- Kecamatan urban/perkotaan yang jumlah kelurahan lebih besar dan Desa sesuai
data PODES/BPS.
- Kecamatan yang diusulkan bukan merupakan sasaran Program Pengembangan
Kecamatan (PPK)
- Kondisi fisik lingkungan yang memungkinkan; tidak rawan bencana, strategis
- Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang kondusif.
- Sesuai dengan RUTR dan Renstra Kabupaten.
Penanganan
Bantuan Teknis berupa:
- Identifikasi lokasi KTP2D (DPP beserta desa-desa hinterlandnya).
- Perkuatan kelembagaan masyarakat di tingkat lokal untuk dapat menyusun
perencanaan pengembangan kawasan perdesaan secara mandiri
- Penyusunan PJM yang berbasis pada pengembangan potensi ekonomi lokal,
bertumpu pada kebutuhan nyata dengan melibatkan masyarakat.
Bantuan Fisik berupa bantuan prasarana kawasan sesuai dengan apa yang tertera
dalam matriks program pada PJM. Diutamakan pada akses dan DPP ke desa -desa
BAB 7 22
Peningkatan prasarana desa pusat pertumbuhan diarahkan pada Penyediaa n PSD
Perdesaan yang dapat menstimulasi "Kegiatan Ekonomi Perdesaan". Kontribusi
Pemerintah Daerah:
Menyediakan dana pendamping.
Mencantumkan rencana penanganan KTP2D pada Renstrada
Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati
Review minimal setahun sekali
2. PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN
Target:
- Kawasan pertanian yang terdiri dan kota Pertanian, desa-desa sentra produksi
pertanian dan desa penyangga yang ada di sekitarnya, yang memiliki fas ilitas untuk
berkembangnya pertanian industri.
- Penanganan:
- Pembangunan prasarana sarana untuk mendukung kawasan agropolitan. Kontribusi
Pemerintah Daerah:
- Menyediakan dana pendamping.
- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati
- Review minimal setahun sekali
3. PENGEMBANGAN KAWASAN EKS TRANSMIGRASI
Target:
- Lokasi sasaran pada kawasan eks Transmigrai dalam upaya mengembangkan
Kota Terpadu Mandiri (KTM) dan meningkatkan prasarana di kawasan transmigrasi yang
telah berumur di atas 5 th (UPT Bina).
- Penanganan:
- Bantuan teknis berupa identifikasi kawasan eks transmigrasi dan identifikasi
kebutuhan prasarana dan sarana dasar permukiman di kawasan eks transmigrasi.
- Bantuan fisik berupa penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman,
dilaksanakan dalam rangka mendukung program Departemen Transmigrasi
BAB 7 23
- Menyediakan dana pendamping.
- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati.
- Review minimal setahun sekali.
4. PENANGANAN INFRASTRUK TUR DESA TERPENCIL, DESA TERTINGGAL DAN
PULAU - PULAU KECIL
Target:
- Kawasan yang secara fisik terisolasi, kesulitan dalam akses menuju kawasan
lainnya.
- Sebagian besar penduduknya adalah tertinggal baik dalam hal sosial budaya
maupun ekonomi.
- Kondisi pelayanan kepada masyarakat masih sangat terbatas (belum banyak
tersentuh oleh program pemerintah/non pemerintah)
Penanganan:
• Bantuan teknis berupa:
- Pedoman Pengembangan prasarana di Pulau Kecil dan Terpencil
- Identifikasi lokasi kawasan tertinggal dan pulau-pulau kecil yang ada dalam
pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
- Penyusunan PJM berbasis pada upaya penanggulangan kemiskinan dan
meningkatkan kwalitas hidup dan penghidupan masyarakat yang tinggal didalamnya,
bertumpu pada kebutuhan riil dengan melibatkan masyarakat
• Bantuan fisik berupa bantuan prasarana dan sarana dalam rangka
pengembangan kawasan sesuai dengan apa yang tertera dalam perencanaan
program/PJM dan Rencana Tindak
Kontribusi Pemerintah Daerah:
- Menyediakan dana pendamping.
- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati
BAB 7 24
F. PENGEMBANGAN KAWASAN PERBATASAN
Target:
- Kawasan yang berbatasan dengan Negara lain (kepulauan dan daratan) sesuai Jakstra
Pengembangan Kawasan Perbatasan
- Rawan isu hankamnas, ekonomi, politik, sosial dan budaya
Penanganan:
• Bantuan Teknis berupa:
- Pedoman Pengembangan prasarana Kawasan Perbatasan
- Identifikasi lokasi-lokasi pada kawasan perbatasan dengan negara lain serta
pulau terluar.
- Penyusunan PJM yang berbasis pada kebutuhan nyata sesuai dengan kriteria
kawasan perbatasan dan pulau terluar.
• Bantuan fisik berupa bantuan prasarana dalam rangka pengembangan kawasan
sesuai dengan apa yang tertera dalam matriks program pada PJM.
- Kontribusi Pemerintah Daerah:
- Menyediakan dana pendamping.
- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati
- Review minimal setahun sekali.
G. PENYEDIAAN PRASARANA DAN SARANA DALAM RANGKA PASCA BENCANA
Target:
- Lokasi pada daerah bencana yang mengalami kerusakan prasarana dan sarana
dasar permukimannya.
- Sudah ada laporan dan Pemerintah Daerah atau media massa mengenai
kejadian bencana, jenis kerusakan prasarana dan sarana dasar permukiman serta
jumlah korban yang ditimbulkan. Penanganan:
- Mengembalikan kondisi prasarana dan sarana dasar permukiman untuk bisa
BAB 7 25
- Bantuan fisik berupa penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman
untuk mengembalikan kondisi yang rusak akibat bencana.
Kontribusi Pemerintah Daerah:
- Menyediakan dana pendamping.
- Daftar lokasi disyahkan oleh Bupati
- Review minimal setahun sekali
7.1.3 Usulan Kebutuhan Program
Menurut Pedoman Krieria Teknis Kawasan Budidaya menurut Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor 41/PRT/M/2007 oleh Direktorat Penataan Ruang Dep.
Pekerjaan Umum, bahwa parameter teknis kawasan permukiman adalah sebagai
berikut:
A. KETENTUAN UMUM
a. Fungsi utama
Kawasan peruntukan permukiman memiliki fungsi antara lain:
1.Sebagai lingkungan tempat tinggal dan tempat kegiatan yang mendukung peri
kehidupan dan penghidupan masyarakat sekaligus menciptakan interaksi sosial;
2.Sebagai kumpulan tempat hunian dan tempat berteduh keluarga serta sarana bagi
pembinaan keluarga.
b.Kriteria umum dan kaidah perencanaan:
1.Ketentuan pokok tentang perumahan, permukiman, peran masyarakat dan pembinaan
perumahan dan permukiman nasional mengacu kepada Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1992 tentang Perumahan dan Permukiman dan Surat Keputusan Menteri Permukiman
dan Prasarana Wilayah Nomor 217/KPTS/M/2002 tentang Kebijakan dan Strategi
Nasional Perumahan dan Permukiman (KSNPP);
2.Pemanfaatan ruang untuk kawasan peruntukan permukiman harus sesuai dengan
daya dukung tanah setempat dan harus dapat menyediakan lingkungan yang sehat dan
aman dari bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi
pengembangan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi
BAB 7 26
3.Kawasan peruntukan permukiman harus memiliki prasarana jalan dan terjangkau
oleh sarana tranportasi umum;
4.Pemanfaatan dan pengelolaan kawasan peruntukan permukiman harus didukung oleh
ketersediaan fasilitas fisik atau utilitas umum (pasar, pusat perdagangan dan jasa,
perkantoran, sarana air bersih, persampahan, penanganan limbah dan drainase)
dan fasilitas sosial (kesehatan, pendidikan, agama);
5.Tidak mengganggu fungsi lindung yang ada;
6.Tidak mengganggu upaya pelestarian kemampuan sumber daya alam;
7.Dalam hal kawasan siap bangun (kasiba) dan lingkungan siap bangun (lisiba),
penetapan lokasi dan penyediaan tanah; penyelenggaraan pengelolaan; dan
pembinaannya diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang
Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri.
B. KETENTUAN TEKNIS
a. Karakteristik lokasi dan kesesuaian lahan:
1.Topografi datar sampai bergelombang (kelerengan lahan 0 - 25%);
2.Tersedia sumber air, baik air tanah maupun air yang diolah oleh penyelenggara dengan
jumlah yang cukup. Untuk air PDAM suplai air antara 60 L/org/hari – 100 liter/org/hari;
3.Tidak berada pada daerah rawan bencana (longsor, banjir, erosi, abrasi);
4.Drainase baik sampai sedang;
5.Tidak berada pada wilayah sempadan sungai/ pantai/ waduk/ danau/ mata
air/saluran pengairan/rel kereta api dan daerah aman penerbangan;
6.Tidak berada pada kawasan lindung;
7.Tidak terletak pada kawasan budi daya pertanian/penyangga;
8.Menghindari sawah irigasi teknis. b.Kriteria dan batasan teknis:
2. Penggunaan lahan untuk pengembangan perumahan baru 40% - 60% dari luas lahan
yang ada, dan untuk kawasan-kawasan tertentu disesuaikan dengan karakteristik serta
BAB 7 27
3. Kepadatan bangunan dalam satu pengembangan kawasan baru perumahan tidak
bersusun maksimum 50 bangunan rumah/ha dan dilengkapi dengan utilitas umum
yang memadai;
4. Memanfaatkan ruang yang sesuai untuk tempat bermukim di kawasan peruntukan
permukiman di perdesaan dengan menyediakan lingkungan yang sehat dan aman dari
bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi
pengembangan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan
hidup;
5. Kawasan perumahan harus dilengkapi dengan:
a) Sistem pembuangan air limbah yang memenuhi SNI 03-1733-2004 tentang Tata
Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan;
b) Sistem pembuangan air hujan yang mempunyai kapasitas tampung yang c ukup
sehingga lingkungan perumahan bebas dari genangan. Saluran pembuangan air hujan
harus direncanakan berdasarkan frekuensi intensitas curah hujan 5 tahunan dan daya
resap tanah. Saluran ini dapat berupa saluran terbuka maupun tertutup. Dilengkapi ju ga
dengan sumur resapan air hujan mengikuti SNI 03-2453-2002 tentang Tata Cara
Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan dan dilengkapi dengan
penanaman pohon;
c) Prasarana air bersih yang memenuhi syarat, baik kuantitas maupu n kualitasnya.
Kapasitas minimum sambungan rumah tangga 60 liter/orang/hari dan sambungan
kran umum 30 liter/orang/hari;
d) Sistem pembuangan sampah mengikuti ketentuan SNI 03-3242-1994 tentang Tata
Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman.
6. Penyediaan kebutuhan sarana pendidikan di kawasan peruntukan permukiman
yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk pendukung,
luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi;
7. Penyediaan kebutuhan sarana kesehatan di kawasan peruntukan permukiman
yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk pendukung,
luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi;
8. Penyediaan kebutuhan sarana ruang terbuka, taman, dan lapangan olah raga di
BAB 7 28
disediakan, jumlah penduduk pendukung, luas lahan minimal, radius pencapaian, dan
kriteria lokasi;
9. Penyediaan kebutuhan sarana perdagangan dan niaga di kawasan peruntukan
permukiman yang berkaitan dengan jenis sarana yang disediakan, jumlah penduduk
pendukung, luas lantai dan luas lahan minimal, radius pencapaian, serta lokasi;
10. Pemanfaatan kawasan perumahan merujuk pada SNI 03-1733-2004 tentang Tata
Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan, serta Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1987 tentang Penyerahan Prasarana Lingkungan,
Utilitas Umum, dan Fasilitas Sosial Perumahan kepada Pemerintah Daerah;
11. Dalam rangka mewujudkan kawasan perkotaan yang tertata dengan baik, perlu
dilakukan peremajaan permukiman kumuh yang mengacu pada Instruksi Presiden
Nomor 5 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kampung Kota.
C. ASPEK PENDANAAN
Pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman masyarakat sebagian besar
masih menggantungkan pendanaannya dari Pemerintah karena pendanaannya yang
cukup besar. Sedangkan kegiatan pembangunan yang membutuhkan dana yang relatif
kecil, masyarakat melakukannya secara swadaya.
Bantuan stimulan sebagai pendorong dalam perbaikan prasarana dan sarana dasar
perumahan dan permukiman juga telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara, yang diberikan kepada warga/ masyarakat yang benar- benar
membutuhkan untuk meningkatkan kualitas perumahan maupun lingkungannya.
D. ASPEK KELEMBAGAAN
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang
mengelola pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman untuk mewujudkan
pembangunan yang berkelanjutan.
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang
mengelola pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman untuk
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Kelembagaan pembangunan PSD
Permukiman skala besar (masyarakat, swasta, perumnas/pemerintah) adalah sebagai
berikut:
1. Jalan lingkungan pembangunannya dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum
BAB 7 29
2. Drainase lingkungan pembangunannya dilakukan oleh Dinas Pekerjaan
Umum dengan alokasi dana APBD.
3. Air limbah di saat ini dibawah pengelolaan BLH
4. Persampahan ditangani bersama antara Dinas Kebersihan dan BLH dengan
system pengelolaan sebagain berikut :
- Pewadahan-Pemilahan-Pengumpulan : tanggung jawab penghasil/ sumber sampah.
- Pengangkutan-Pembuangan Akhir : tanggung jawab Dinas Kebersihan.
- Pengolahan : tanggung jawab kelompok yang dibentuk serta pendampingan dari BLH
- Hasil Akhir TPA : tanggung jawab Dinas Kebersihan
- Re-Use : diambil oleh pemulung (terutama bahan plastik)
5. Air Minum pembangunannya jaringan untuk kawasan permukiman skala besar
umunya ditangani oleh PDAM, meskipun ada sebagian kecil kawasan yang rawan air
ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum.
E . Sasaran
Sasaran pembangunan permukiman, antara lain:
a. Terpenuhinya kebutuhan dasar permukiman;
b. Tersedianya perumahan sederhana, sehat dan layak huni;
c. Terarahnya pertumbuhan wilayah;
Terdorongnya kegiatan ekonomi melalui kegiatan pembangunan permukiman.
Kebijakan dan strategi pembangunan prasarana dan sarana dasar RSH dari segi
teknis, pendanaan dan pelaksanaan adalah:
- Meingkatkan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah
sederhana dan rumah sederhana sehat.
- Mengembangkan kawasan perumahan skala besar.
- Meningkatkan penyediaan hunian (sewa dan milik) bagi masyarakat
BAB 7 30
- Meningkatkan fasilitasi dan pemberdayaan masyarakat berpendapatan rendah
dalam penyediaan lahan, sumber pembiayaan dan prasarana dan sarana lingkungan
melalui pembangunan perumahan yang bertumpu pada masyarakat.
- Mengembangkan kredit mikro pembangunan danperbaikan rumah yang terkait
dengan kredit mikro peningkatan pendapatan dalam rangka upaya pemberdayaan usaha
ekonomi masyarakat miskin dan penciptaan lapangan kerja.
- Menciptakan pola subsidi baru yang lebih tepat sasaran.
- Mengembangkan lembaga yang bertanggung jawab dalam pembangunan
perumahandan permukiman pada semua tingkatan pemerintahan serta fasilitasi
pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman yang transparan dan partisipatif/
- Pemantapan pasar primer perumahan.
- Berkembangnya secondary mortgage facility (SMF) dan secondary mortgage
market (SMF).
- Terbentuknya peraturan perundang-undangan dan kelembagaan pendukung SMF
dan SMM.
- Mengembangkan insentif fiskal bagi swasta yang menyediakan hunia n bagi
buruh/karyawannya.
BAB 7 31
7 . 2 Penataan Bangunan Dan Lingkungan
Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan sebagai
bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan
lingkungan binaan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, khususnya wujud fisik
bangunan gedung dan lingkungannya.
Undang-undang nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan
Pemerintah nomor 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang -undang
nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung serta pelaksanaan lebih detail di
bawahnya mengamanatkan bahwa penyelenggaraan bangunan gedung merupakan
kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota dan hanya bangunan gedung negara
dan rumah negara yang merupakan kewenangan pusat.
Selain itu, Undang-undang nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman
menggariskan bahwa peningkatan kualitas lingkungan permukiman d ilaksanakan secara
menyeluruh, terpadu dan bertahap, mengacu kepada Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan sebagai penjabaran rencana tata ruang wilayah (RTRW).
7.2.1 Kondisi Eksisting
1. Strategi Penataan Bangunan dan Lingkungan
Strategi dalam mendukung keberhasilan penataan bangunan dan lingkungan, antara lain:
a. Menyelenggarakan penataan bangunan gedung agar tertib, fungsional, andal dan
efisien;
b. Menyelenggarakan penataan lingkungan permukiman agar produktif dan
berjatidiri;
c. Menyelenggarakan penataan dan revitalisasi kawasan dan bangunan agar dapat
memberikan nilai tambah fisik, sosial dan ekonomi;
d. Menyelenggarakan penataan bangunan dan lingkungan untuk mewujudkan
arsitektur perkotaan dan pelestarian arsitektur bangunan gedung yang dilindungi
dan dilestarikan untuk menunjang kearifan budaya lokal;
e. Mengembangkan teknologi dan rekayasa arsitektur bangunan gedung untuk
menunjang pembangunan regional/ internasional yang berkelanjutan.
1. Kebijakan Penataan Bangunan dan Lingkungan
BAB 7 32
a. Meningkatkan pembinaan penyelenggaraan Bangunan Gedung, termasuk
bangunan gedung dan rumah negara;
b. Meningkatkan pemahaman, kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk memenuhi
persyaratan Bangunan Gedung dan Penataan Lingkungan Permukiman;
c. Meningkatkan kapasitas penyelenggara dalam penataan lingkungan dan
permukiman;
d. Meningkatkan kualitas lingkungan untuk mendukung pengembangan jatidiri dan
produktivitas masyarakat;
e. Mengembangkan kawasan yang memiliki peran dan potensi strategis bagi
pertumbuhan kota;
f. Mengembangkan kemitraan antara pemrintah, swasta dan lembaga nasional
maupun internasional lainnya di bidang Bangunan Gedung dan Penataan Lingkungan
Permukiman;
g. Mewujudkan arsitektur perkotaan yang memperhatikan/ mempertimbangkan
khasanah arsitektur lokal dan nilai tradisional;
h. Menjaga kelestarian nilai-nilai arsitektur Bangunan Gedung yang dilindungi dan
dilestarikan serta keahlian membangun (seni dan budaya);
i. Mendorong upaya penelitian dan pengembangan teknologi rekayasa arsitektur
Bangunan Gedung melalui kerjasama dengan pihak-pihak yang kompeten.
Berikut strategi pendukung lainnya:
a. Grand strategy
1. Menyelenggarakan Penataan Bnagunan Gedung Agar Tertib, Fungsional,
Andal dan efisien.
7.2.2 Sasaran Program Tujuan:
Terwujudnya bangunan gedung yang fungsional dan memenuhi persyaratan keselamatan,
kesehatan, kenyamanan dan kemudahan, serta serasi dan selaras dengan dengan
lingkungannya.
Sasaran:
BAB 7 33
- Terwujudnya bangunan gedung untuk umum yang laik fungsi
- Terselenggaranya pengawasan penyelenggaraan bangunan gedung yang efektif
dengan melakukan pemantauan dan evaluasi penerapan peraturan bangunan gedung.
- Terlaksananya penyediaan aksesibilitas bangunan gedung umum
- Terlaksananya pendataan bangunan
- Terwujudnya pusat informasi arsitektur dan bangunan gedung
- Tercapainya standar mutu pelayanan rumah negara sesuai ISO 9000
- Terlaksananya sosialisasi, fasilitasi, pelatihan, bantuan teknis, pengawasan dan
pengendalian kegiatan penataan bangunan dan lingkungan
- Terbentuknya kelembagaan penataan bangunan dan lingkungan
- Terwujudnya tertib pengelolaan aset negara berupa tanah dan bangunan
- Terlaksananya Penyusunan Rencana Induk Proteksi Kebakaran (RISPK).
b. Grand strategy
2. Menyelenggarakan Penataan Lingkungan Permukiman Agar
Produktif dan Berjati diri
Tujuan:
Terwujudnya revitalisasi kawasan dan bangunan pada lingkungan yang sehat, aman,
serasi, teratur, produktif dan berkelanjutan
Sasaran:
- Terwujudnya perbaikan lingkungan permukiman kumuh
- Terlaksananya revitalisasi kawasan permukiman tradisional bersejarah
- Terlaksananya pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
- Pemberdayaan komunitas perkotaan.
c. Grand strategy
3. Menyelenggarakan Penataan dan Revitalisasi Kawasan dan Bangunan Agar Dapat
BAB 7 34
Terwujudnya revitalisasi kawasan dan bangunan agar dapat memberikan nilai tambah
bagi kualitas fisik, sosial dan ekonomi masyarakat yang menjadi penunjang bagi
tercapainya kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.
Sasaran:
- Terlaksananya revitalisasi kawasan strategis.
- Terlaksananya pemberdayaan bagi masyarakat untuk menyelenggarakan
revitalisasi kawasan.
d. Grand strategy
4. Menyelenggarakan Penataan Bangunan dan Lingkungan Untuk Mewujudkan
Arsitektur Perkotaan, dan Pelestarian Arsitektur Bangunan Gedung yang Dilindungi dan
Dilestarikan untuk menunjang Kearifan Budaya Lokal
Tujuan:
Terwujudnya bangunan gedung yang memiliki kualitas fungsional, visual dan kualitas
lingkungan yang seimbang, serasi, selaras dengan memunculkan ciri arsitektur kota
yang berwawasan budaya lokal yang menjadi teladan bagi lingkungannya, serta yang
dapat secara arif mengakomodasikan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sasaran:
Terlaksananya penataan bangunan dan lingkungan serta pelestarian bangunan
bersejarah yang mendukung terwujudnya kualitas arsitektur dengan teknologi dan
rekayasa arsitektur perkotaan.
e. Grand strategy
5. Mengembangkan Teknologi dan Rekayasa Arsitektur Bangunan Gedung untuk
Menunjang Pembangunan Regional/Internasional yang Berkelanjutan
Tujuan:
Terwujudnya perencanaan fisik bangunan dan lingkungan yang mengedepankan teknologi
dan rekayasa arsitektur yang memenuhi standar internasional untuk menarik
masuknya investasi di bidang bangunan gedung dan lingkungan secara internasional
BAB 7 35
Terlaksananya perencanaan bangunan gedung dan lingkungan dengan teknologi dan
rekayasa arsitektur.
2. Program/ Kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan
Program/ kegiatan penataan bangunan gedung dan lingkungan yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan Pembinaan Teknis Bangunan dan Gedung
a) Kegiatan diseminasi peraturan perundang-undangan penataan bangunan dan
lingkungan;
b) Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan dan gedung;
c) Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan arsitektur;
d) Pelatihan teknis tenaga pendata bangunan gedung dan keselamatan gedung;
e) Pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara;
f) Pembinaan teknis pembangunan gedung negara;
g) Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK);
h) Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA) Bangunan Gedung;
i) Percontohan pendataan bangunan gedung;
j) Percontohan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan;
k) Rehabilitasi bangunan gedung negara;
l) Dukungan prasarana dan sarana Pusat Informasi Pengembangan
Permukiman dan Bangunan (PIPPB).
b. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
a) Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL);
b) Bantuan teknis pengelolaan Ruang terbuka Hijau (RTH);
c) Pembangunan prasarana dan sarana peningkatan lingkungan permukiman kumuh
dan nelayan;
BAB 7 36
c. Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Perkotaan
a) Bantuan teknis penanggulangan kemiskinan di perkotaan;
b) Bantuan penanggulangan kemiskinan terpadu (PAKET) dan Replikasi
BAB 7 37
7.3 Sektor Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
Pelayanan air minum merupakan komponen yang strategis dalam pembangunan dan
merupakan salah satu entry point dalam penanggulangan kemiskinan. Pengembangan
dan pelayanan air minum adalah untuk meningkatkan pelayanan air minum di perdesaan
maupun perkotaan, khususnya bagi masyarakat miskin di kawasan rawan air dan
meningkatkan keikutsertaan swasta dalam investasi pembangunan prasarana dan
sarana air minum di perkotaan.
Penyusunan rencana program investasi infrastruktur Sub Bidang Pengembangan Air
Minum harus memperhatikan Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air
Minum (RI-SPAM) sebagai acuan/ pedoman dalam perencanaan dan pelaksanaan
pengembangan air minum pada suatu daerah. Pemerintah Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara saat ini sedang menyusun Master Plan Air Minum Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara sehingga diharapkan dapat menjadi acuan/ pedoman dalam
penyediaan air minum baik di kawasan perkotaan dan perdesaan.
1. Umum
Sub bidang air minum dirjen cipta karya departemen pekerjaan umum memiliki program
dan kegiatan yang bertujuan meningkatkan pelayanan air minum si perdesaan maupun
perkotaan, khususnya bagi masyarakat miskin di kawasan rawan air, se lain itu
meningkatkan keimutsertaan swasta untuk berinvestasi dalam pembangunan prasarana
dan sarana air minum di perkotaan.
Tatanan program yang digunakan adalah sama dengan tatanan program pada RPJMN.
Sasaran program komponen air minum dibuat untuk mengisi kesenjangan kondisi pada
permasalahan yang mencuat dalam RPJMN dan kondisi yang diinginkan pada sasaran
kebijakan RPJMN, selain itu harus menunjang dan memenuhi kebutuhan pembangunan
ekonomi daerah atau kota bersangkutan.
Dalam penyusunan RPIJM bidang harus memperhatikan Rencana Induk Pengembangan
Sistem Penyediaan Air Minum (RI-SPAM) yang ada di daerah. Rencana Induk SPAM
merupakan rencana jangka panjang suatu wilayah. Hal ini dimungkinkan karena dalam
pengembangan dan penyelenggaraan sistem penyediaan air minum tergantung dengan
posisi dan letak unit-unit SPAM dan cakupan pelayanannya.
7.3.1 Kondisi Eksisting
Pelayanan air minum di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dilayani oleh PDAM
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, sedangkan masyarakat yan g belum terlayani
BAB 7 38
tempat tinggalnya. Selain itu adanya pihak swasta yang mengolah air bersih menjadi air
minum dalam kemasan dengan daerah layanan hanya di Kabupaten Bolaa ng Mongondow
Utara. Beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara
juga memberikan pelayanan air minum kepada masyarakat dengan kegiatan berupa
pembangunan sarana air minum perdesaan. Sumber air yang digunakan adalah ma ta air
atau sumur dalam yang disesuaikan dengan kondisi daerah. Pembangunan sarana air
minum ini yaitu dengan membangun daerah tangkapan mata air (broncaptering) yang
kemudian dialirkan ke bak pembagi terus disalurkan ke hidran umum (HU) dan
selanjutnya warga masyarakat mengambil air dari hidran umum tersebut.
Kelestarian lingkungan dan kesinambungan pelayanan air minum tidak lepas dari aspek
peran serta masyarakat dan swasta. Peran masyarakat sebagai pemakai jasa yang
berperan sekaligus, baik dalam melestarikan lingkungan dan menjaga kelestarian dan
aksesibilitas kepada pelayanan air minum yang berkesinambungan, juga terkait dengan
aspek sosial budaya atau kebiasaan atau budaya yang dianut masyarakat tersebut.
Disiplin dalam membayar tagihan, berhemat dalam pemakaian air minum serta proaktif
dalam mencegah kebocoran air merupakan beberapa kontribusi yang dapat dilakukan
masyarakat guna menjamin kesinambungan akses terhadap pelayanan air minum yang
sehat.
Peran serta swasta juga diharapkan ikut membantu dalam penyediaan dana untuk
investasi guna mempercepat pertumbuhan dan peningkatan kualitas pelayanan air
minum, khususnya di daerah dimana masyarakat mampu menanggung biaya investasi
swasta yang didasari atas perhitungan komersial.
Sistem Pelayanan Perpipaan
Sistem perpipaan adalah target utama sistem pelayanan air minum. Masih adanya sistem
non perpipaan dikarenakan terbatasnya pendanaan untuk investasi sistem perpipaan.
Untuk itu sebagai target antara sistem non perpipaan ditingkatkan kualitasnya agar air
minum yang diperoleh dari sumber ini aman dikonsumsi.
Selain itu rencana pelayanan SPAM berdasarkan pada pertimbangan struktur ruang,
topografi , ketersediaan air baku dan akses jalan serta rencana strategis lain akan menjadi
pertimbangan dalam menentukan sistem pelayanandan pertimbangan kepadatan
penduduk yang berujung pada adanya potensi pencemaran terhadap sumber air baku air
minum menjadi dasar perlunya sistem perpipaan untuk diterapkan pada suatu wilayah
Sistem pelayanan Air Minum Perpipaan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah
BAB 7 39
1. Sistem Ibu Kota Kabupaten (PKW).
Sistem ini diarahkan menjangkau Ibu Kota Kabupaten sesuai Indikasi program pada
pemanfatan ruang RTRW
2. Sistem IKK yaitu Kec Bintauna, Kecamatan Bolangitang Barat, Kecamatan Bolangitang
Timur, Kecamatan Sangkub.
3. Sistem Perdesaan
Sistem perpipaan perdesaan merupakan tujuan utama. Prioritas adalah desa -desa dengan
penduduk diatas 2.000 jiwa kemudian 1.000 - 2.000 jiwa. Dan untuk penduduk dengan
jumlah penduduk dibawah 1.000 jiwa.
Sistem Pelayanan Non Perpipaan
Sistem Bukan Jaringan Perpipaan menyebar pada seluruh wilayah baik perkotaan maupun
perdesaan. Sistem ini perlu dilakukan perlindungan karena sistem perpipaan belum
mampu menjangkau semua wilayah. Sistem ini terdiri dari sistem BJP terlindungi dan tak
terlindungi. Secara Umum di wilayah Kabupaten menggunakan air tanah untuk kebutuhan
air minumnya.Untuk wilayah padat yang seharusnya sisten BJP tidak direkomendasi
adalah wilayah padat dengan kepadatan diatas 200 jiwa/ha. Pada kondisi ini air tanah
patut diduga telah tercemar tinja manusia dari fasilitas sanitasi yang dimiliki warga. Upaya
perlindungan selain dengan mencegah pencemar masuk juga dengan monitoring sumur
warga yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Program yang dilakukan adalah meningkat
kualitas BJP tak terlindungi menjadi terlindungi atau ke SPAM perpipaan.
Tabel 7.9 Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non Perpipaan
KAB/KOTA JML
EKSISTING EKSISTING EKSISTING EKSISTING BOLAANG
MONGONDOW
UTARA 75.29 1,94 1.459 45,60 34.329
Luas cakupan pelayanan per kecamatan
Aspek-aspek kawasan pelayanan berupa lokasi, aksesibilitas dan sebaran daerah
pelayanan sangat menentukan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat di
BAB 7 40
yang tertuang dalam arahan RTRW maka rencana system pelayanan air minum kabupaten
Bolaang Mongodow Utara dapat dibagi dalam beberapa Zona pelayanan.
A. Wlayan Pelayanan Zona I
Wilayah pelayanan zona I meliputi wilayah kecamatan Kaidipang sebagai Ibu Kota
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Berdasarkan kondisi topgrafi dan batas -batas alam
serta kedekatan jarak secara geografis kecamatan Kaidipang maka wilayah Pelayanan
Zona I dapat di bagi dalam 2 (dua) yaitu :
1. SPAM Ibu Kota Kabupaten
Wilayah SPAM Ibu Kota Kabupaten meliputi wilayah Desa Boroko, Boroko Timur, Kuala,
Kuala Utara, Bigo dan bigo selatan. Kondisi topgrafi berkisar antara 46 -3 mdpl.
2. SPAM Pedesaan
Wilayah pelayanan yang termasuk dalam SPAM Pedesaan di Wilayah Zona I adalah Desa
Pontak, soligir, Komus Dua dan Komus Dua Timur,
B. Wilayah Pelayanan Zona II
Cakupan wiilayah pelayanan Zona II adalah meliputi Kecamatan Bolangitan Barat. Zona II
dibagi atas 2 (dua) sistem pelayanan yaitu system pelayanan SPAM Ibu Kota Kecamatan
(IKK) dan SPAM Pedesaan.
1. SPAM IKK Bolangitan Barat
Wilayah pelayanan SPAM IKK Bolangitan Barat terdiri dari beberapa desa yaitu :Desa
Bolangitan,Bolangitan 1,Bolangitan II,Olot,Olot I, Olot Dua, Sonuo, Iyok, Langi, Jambu
Sarang, Talaga Tomoagu
2. SPAM Pedesaan Bolangitan Barat
Yang termasuk dalam wilayah spam Pedesaan Bolangin Barat adalah Desa Paku, Paku
Selatan,Wakat,Tote, dan Talaga,
C. Wilayah Pelayanan Zona III
Cakupan Wilayah pelayanan Zona III adalah meliputi Wilayah Kecamatan Bolangitan
Timur. Zona III dibagi atas 2 (dua) sistem pelayanan yaitu sistim pelayanan SPAM Ibu Kota
Kecamatan (IKK) dan SPAM Pedesaan.
BAB 7 41
Wilayah pelayanan SPAM IKK Bolangitan Timur terdiri dari beberapa desa yaitu: Desa
Bohabak I,Bohabak II,Bohabak III dan Tanjung Labuo
2. SPAM Pedesaan BolangitanTimur
Yang termasuk dalam wilayah spam Pedesaan di Zona III adalah
a) SPAM Pedesaan Mokoditek dan Mokoditek I
b) SPAM Pedesaan Binjeta
c) SPAM Pedesaan Binjeta I dan II
d) SPAM Pedesaan Bintong I dan II
e) SPAM Pedesaan Saleo
f) SPAM Pedesaan Saleo I
g) SPAM Pedesaan Bionteng
h) SPAM Pedesaan Nagara
i) SPAM Pedesaan Lipu Bogu
D. Wilayah Pelayan Zona IV
Cakupan wilayah pelayanan zona IV meliputi wilayah kecamatan Bintauna, dibagi atas 2
(dua) sistem pelayanan yaitu sistim pelayanan SPAM Ibu Kota Kecamatan (IKK) dan SPAM
Pedesaan.
1. SPAM IKK Bintauna
Wilayah pelayanan SPAM IKK Bintauna adalah meliputi wilayah Desa Bintauna, Talaga, Voa’a, Padang, Padang Barat, Bunia, Pimpi, dan desa Batulintik
2. SPAM Pedesaan
Wilayah SPAM Pedesaan di Zona IV meliputi :
a) SPAM Pedesaan Bunong
b) SPAM Pedesaan kuhanga
c) SPAM Pedesaan Minanga