STUDI TENTANG ANAK PUTUS SEKOLAH DI DESA OMU
KECAMATAN GUMBASA KABUPATEN SIGI
Mahasiswa Pendidikan Geografi1 Dosen Pendidikan Geografi3
Program Studi Penddikan Geografi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Omu Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi pada orang tua yang memiliki anak putus sekolah. Tujuan dalam penelitian ini adalah ingin mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan anak putus sekolah di wilayah daerah penelitian. Pendekatan geografi yang dipakai adalah pendekatan keruangan dengan Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang tua yang memiliki anak putus sekolah sejumlah 150 KK. Pengambilan sampel menggunakan teknik kouta, yang kemudian didapat sejumlah 45 sampel KK. Sampel tersebut tersebar di empat dusun yang berbeda. Pengumpulan data menggunakan angket, wawancara, dokumentasi, dan dianalisis menggunakan analisis presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang menyebabkan anak putus sekolah di Desa Omu adalah faktor lingkungan sebanyak 39 orang atau 86,67 %. faktor lingkungan yang sangat berpengaruh karena banyak terdapat anak putus sekolah. Karena lingkungan sangat berpangaruh besar terdap perkembangan anak, jika lingkungan tempat tinggal banyak anak yang putus sekolah maka secara tidak langsung anak-anak yang sekolah akan terpengaruh oleh anak-anak yang sudah tidak sekolah karenakan pergaulan, jika pergaulannya mengarah ke hal-hal yang negatif maka akan sangat merugikan orang tua dan anaknya.
Kata Kunci: Studi, Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah
ABSTRACT
This research was conducted in Omu Village, Gumbasa Subdistrict, Sigi Regency, in the parents who have dropped out of school children. The purpose of this research is to study the factors that cause drop out of school in the area of research area. Geography approach used is spatial approach with the research method used is descriptive qualitative. The population in this study were all parents who had drop out of 150 families. Sampling using kouta technique, which then obtained a number of 45 samples KK. The sample is scattered in four different hamlets.Data collection using questionnaires, interviews, documentation, and analyzed using percentage analysis. The results showed that the cause of drop out children in the village of Omu is environmental factors as many as 39 people or 86.67%. environmental factors are very influential because there are many children drop out of school. Because the environment is highly influenced by the development of children, if the environment where many children are dropped out of school then indirectly the children of the school will be affected by children who are not school because of the association, if the association leads to things that are negative then will be very harmful to parents and children.
Keywords: Study, Factors Causing School Dropouts
Handoko Susanto1, Lilik Prihadi Utomo2, dan Iwan Alim Saputra2
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sepanjang hayat, tanpa pendidikan
manusia tidak dapat hidup berkembang sejalan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia.
Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup, salah satu fungsi sosial, sebagai bimbingan, dan
sebagai sarana pertumbuhan yang mempersiapkan diri membentuk disiplin hidup. Sekolah gratis yang
banyak di wacanakan dan diinginkan oleh kalangan masyarakat dan salah satu solusi tepat untuk
menolong anak putus sekolah, tidak menjadi jaminan untuk anak bisa melanjutkan sekolah, karena
banyak faktor-faktor yang menjadi penyebab anak tidak melanjutkan sekolah. Hal ini dapat di lihat
dari keadaan penduduknya yang penuh dengan keterbatasannya dan keterbelakangan dalam sumber
daya manusia dan sosial ekonomi. Kualitas sumber daya manusia dipengaruhi oleh pendidikan..
Masalah utama pendidikan di Indonesia adalah masih rendahnya kualitas sumber daya
manusia yang mengakibatkan banyak kemiskinan sehingga anak tidak mampu melanjutkan sekolah.
Hal yang sama dinyatakan oleh Mulyanto Sumardi (1985:308) bahwa semakin tinggi jenjang sekolah,
maka semakin besar pula biaya, sehingga banyak anak yang tidak melanjutkan sekolah ketingkat
yang lebih tinggi, terutama anak dari keluarga berpenghasilan rendah dan anak-anak tersebut memilih
untuk bekerja.
Anak merupakan bagian yang penting, dengan memiliki anak diharapkan dapat meneruskan
pendidikan serta generasi keluarga yang akhirnya membantu kehidupan dimasa depan. Pada
hakikatnya anak usia sekolah dilarang untuk bekerja karena waktu yang selayaknya digunakan untuk
belajar agar mendapatkan kesempatan mencapai cita-cita masa depannya, kenyataannya masih banyak
dijumpai anak yang bekerja di usia sekolah yaitu pada jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah
pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA).
Anak Putus sekolah akan berdampak besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Anak
putus sekolah akan membawa keresahan sosial, ekonomi moral, dan masa depan. Salah satu pemicu
keresahan sosial adalah semakin bertambahnya tingkat pengangguaran di masyarakat. Anak yang
putus sekolah sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan dikarenakan tidak mempunyai surat
keterangan lulus sekolah yang menjadi acuan atau syarat utama dalam mencari suatu pekerjaan dan
tidak adanya pembekalan skiil atau kemampuan kepada mereka yang putus sekolah. Anak putus
sekolah tidak selamanya berdampak negatif ada pula yang berdampak positif dimana anak mereka
yang putus sekolah biasanya membantu orang tuanya dalam melakukan pekerjaan untuk mengurangi
beban orang tua dari segi mencukupi kehidupan sehari-hari.
Desa Omu terletak di Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi, Desa Omu memiliki 4 dusun
dimana pekerjaan masyarakatnya sangat bervariasi tetapi yang lebih menonjol atau mayoritas
masyarakatnya bekerja sebagai petani. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan ternyata masih
banyaknya anak usia sekolah yang tidak melanjutkan kependidikan selanjutya, dari data Desa yang
Keluarga Desa Omu Kec. Gumbasa Tahun 2017). Hasil observasi tersebut peneliti tertarik untuk
mengambil judul tersebut untuk diteliti mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi anak
putus sekolah di Desa Omu Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan keruangan,
pendekatan keruangan yang dimaksud adalah anak yang putus sekolah pada masing-masing dusun
sebanyak empat dusun. Pendekatan keruangan adalah suatu cara pandang atau kerangka analisis yang
menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksistensi ruang dalam perspektif geografi
dipandang dari struktur, pola dan proses. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang tua yang
memiliki anak putus sekolah sejumlah 150 KK. Pengambilan sampel menggunakan teknik kouta,
yang kemudian didapat sejumlah 45 sampel KK. Sampel tersebut tersebar di empat dusun yang
berbeda. Pengumpulan data menggunakan angket, wawancara, dokumentasi, dan dianalisis
menggunakan analisis persentase.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa Omu meupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Gumbasa Kabupaten
Sigi Sulawesi Tengah terletak antara 1009’19’’ - 0021’41” LS dan 119055’03” BT, luas Desa
Omu 49,18 km2.Batas – batas administrasi Desa Omu sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Simoro
Sebelah Timur : Desa Tuwa
Sebelah Selatan : Desa Anca
Sebelah Barat : Desa Bangga
2. Faktor Yang Menyebabkan Anak Putus Sekolah
Kondisi lingkungan masyarakat yang ada di Desa Omu Kecamatan Gumbasa
Kabupaten Sigi yaitu lingkung yang dimana masyarakatnya bekerja sebagai petani.
Llingkungan yang ada di Desa Omu orang tua banyak memiliki anak yang putus sekolah atau
tidak melanjutkan kejenjang yang selanjutnya, dengan otomotis pengaruh lingkungan yang
anak yang tidak melanjutkan sekolah akan memepengaruhi teman sebayanya atau
sepergaulannya, karena lingkungan juga berperan penting dalm hal proses pendidikan. Dari
hasil angket yang diedarkan kepada responden tentang lingkungan seperti apa yang
Tabel 1. Kondisi Lingkungan Banyak Anak Putus Sekolah
No Jawaban Dusun F %
1 2 3 4
1. Ya 11 12 10 12 45 100
2. Tidak - - - - 0 0
Jumlah 11 12 10 12 45 100
(Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer Tahun 2018)
Pada Dusun 1 jumlah responden menyatakan Ya sebanyak 11 orang, Dusun 2
sebanyak 12 orang, Dusun 3 sebanyak 10 orang , dan Dusun 4 sebanyak 12 orang. Dalam
persentase menunjukan tentang kondisi lingkungan yang banyak anak putus sekolah, dari
keseluruhan responden yang menjawab Ya sebanyak 45 orang atau 100%, kondisi lingkungan
yang ada di desa tersebut banyak anak yang putus sekolah.
Tabel 2. Faktor Lingkungan Yang Sangat Berpengaruh Terhadap Anak Putus Sekolah
No Pernyataan Dusun F %
1 2 3 4
1. Banyaknya terdapat anak putus
sekolah disekitar tempat tinggal
9 11 10 10 39 86,67
2. Terbawa-bawa oleh teman yang
tidak sekolah
3 1 - 2 6 13,33
3. Jauhya tempat tinggal dengan
sekolah
- - - - 0 0
JUMLAH 12 12 10 12 45 100
(Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Tahun 2018)
Pada Dusun 1 jumlah responden menyatakan faktor lingkungan yang sangat
berpengaruh terhadap anak putus sekolah Banyaknya terdapat anak putus sekolah disekitar
tempat tinggal sebanyak 9 orang, Dusun 2 sebanyak 11 orang, Dusun 3 sebanyak 10 orang,
dan Dusun 4 sebanyak 10 orang, pada Dusun 1 responden yang menyatakan Terbawa-bawa
oleh teman yang tidak sekolah sebanyak 3 orang, Dusun 2 sebanyak 1 orang, Dusun 3
kosong, dan Dusun 4 sebanyak 1 orang.
Dalam prentase menunjukan bahwa lingkungan yang banyak terdapat anak putus
sekolah turut berpengaruh terhadap anak putus sekolah. Jumlah responden yang menjawab
86,67% menyatakan hal ini sedangkan terbawa-bawa oleh teman yang tidak sekolah hanya 6
orang atau 13,33%. Jarak dari rumah kesekolah tidak turut berpengaruh dalam faktor
penyebab anak putus sekolah.
Lingkungan sangat berperan penting dalam prosess pertumbuhan pola pikir seseorang.
Jika disuatu lingkungan tempat tinggal kita banyak hal-hal yang negatif otomatis dengan
seiring berjalannya waktu kita akan terpengaruh oleh lingkukan tersebut sebaliknya
lingkungan yang kita tempati banyak yang memberikan hal-hal positif serta bermannfaat
bagi kita otomatis kita juga akan ikut, karena pendidikan bukan hanya didapat di lingkungan
sekolah maupun keluarga, lingkungan masyarakat juaga sangat berperan penting dalam
proses pendidikan karakter yang ada dilingkungan sekitar.
Untuk memperkuat hasil angket tersebut didukung oleh hasil wawancara dengan
salah satuorang tua anak yang putus sekolah. “ lingkungan tempat tinggal saya banyak orang
tua yang memiliki anak putus sekolah anak saya putus sekolah pada jenjang tingkat smp dan
anak saya pergaulannya banyak dengan anak-anak yang sudah tidak sekolah lagi.( A 49
tahun ,6 februari 2018).
PENUTUP Kesimpulan
Faktor faktor penyebab anak putus sekolah yang ada di Desa Omu Kecamatan
Gumbsa Kabupaten Sigi disebabkan oleh faktor lingkungan sebanyak 39 orang atau 86,67 %.
Faktor Lingkungan sangat berperan penting dalam prosess pertumbuhan pola pikir seseorang.
Jika disuatu lingkungan tempat tinggal kita banyak hal-hal yang negatif otomatis dengan
seiring berjalannya waktu kita akan terpengaruh oleh lingkukan tersebut sebaliknya
lingkungan yang kita tempati banyak yang memberikan hal-hal positif serta bermannfaat
bagi kita otomatis kita juga akan ikut, karena pendidikan bukan hanya didapat di lingkungan
sekolah maupun keluarga, lingkungan masyarakat juaga sangat berperan penting dalam
proses pendidikan karakter yang ada dilingkungan sekitar,jika lingkungan tempat tinggal
anak banyak anak yang putus sekolah maka secara tidak langsung akan berpangaruh besar
terdapat anak-anak lainnya lewat pergaulan.
Saran
Berdasarkan beberapa kesimpulan yang telah dikemukakan dikaitakan dengan
permasalahan dalam penulisan skripsi ini ,maka dapat pula dikemukakan saran-saran yang
mencegah maupun mengurangi terjadinya lagi anak putus sekolah yang ada di Desa Onu
Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi.
1. Pemerintah setempat lebih memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyrakat yang
ada diderah dimana kondisi sosial ekominya masih relatif rendah sehingga dalam
kebutuhan hidupnya kurang berkecukupan apalagi dalam segi pembiaayaan
anak-anak mereka yang sekolah.
2. Pemerintah lebih memperhatiakan anak-anak yang putus sekolah yang ada di desa
tersebut agar kiranya dilakukan sosialisasi atau pembekalan keterampilan dan skil
bagai mereka yang sudah tidak bisa lagi melanjutkan kesekolah agar kiranya mereka
juga punya keterampilan sehingga bisa mendatangkan keuntungan bagi mreka karena
sudah dibekali ilmu-lmu yang mereka dapat. Dengan pembekalan tersebut membuat
mereka mempunyai kegiatan yang positif dan tidak merugikan mereka sendiri selain
manambah wawasan juga dapat membantu pemenuhan kenutuhan bagi kelurganya.
3. Pemerintah lebih memperhatikan kesejateraan para petani dalam hal hasil panen serta
pengadaan lapangan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh masyarakat sekitar dengan
tujuan penambahan kebutuhan hidup mereka.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmad. (2011). Pendidikan Dasar Pada Anak. Jakarta: Trans Info Media.
A Murni Yusuf. (1986). Kemiskinan Dan Kebutuhan Pokok . Jakarta : C.V.Rajawali.
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Beeby , C. E. (1989). Pendidikan Di Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Gunawan. (2011). Remaja Dan Permasalahannya. Yogyakarta.: Hanggar Kreator.
Hadi Kusumo. (1996). Pengantar Pendidikan. Semarang Ikip : Semarang Pres.
Hasbullah. (2006). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Mulyanto Sumardi. (1985). Kemiskinan dan kebutuhan pokok. Jakarta: Rajawali.