• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSTITUEN ORGANISASI YANG MEMPENGARUHI. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSTITUEN ORGANISASI YANG MEMPENGARUHI. docx"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KONSTITUEN ORGANISASI YANG MEMPENGARUHI

PENERAPAN STRATEGI KOMUNIKASI KORPORAT

Kita hidup di tengah belantara komunikasi. Setiap hari kita menerima begitu banyak

informasi dari lingkungan kita. Baik yang bersifat verbal maupun non-verbal. Manusia

memperlakukan komunikasi sebagai pusat kehidupannya (Littlejohn dan Foss, 2009). Begitu

juga dalam skala yang lebih luas, dalam sebuah organisasi misalnya. Komunikasi menjadi

elemen inti yang mutlak bagi sebuah organisasi. Karena pada dasarnya, organisasi adalah

sistem pemroses informasi (Griffin,2006). Sejalan dengan itu, dalam Steers (1980) dijelaskan

bahwa komunikasi berperan sentral dalam organisasi khususnya terkait efektivitas organisasi

karena komunikasi menjadi sarana mengkoordinasikan dan mengarahkan seluruh kegiatan

organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Melalui komunikasilah sebuah organisasi

mengakuisisi sumber daya primer seperti modal, tenaga kerja dan bahan baku, serta

membangun sumberdaya sekunder seperti legitimasi dan reputasi (Maruli, 2015).

Selain itu komunikasi bermanfaat untuk mendefinisikan tujuan, menggambarkan dan

mendistribusikan peran dan tanggung jawab setiap anggota organisasi, mengkooordinasikan

pekerjaan organisasi, membentuk jaringan informasi, serta mengembangkan budaya dan

iklim organisasi (Ruben, Lea P. Stweart, 2013). Sedangkan menurut Richmond dan James C.

McCroskey (1992) menyebutkan bahwa komunikasi dalam organisasi berfungsi antara lain

untuk menginformasikan, mengatur, menyatukan, mempersusi, dan sosialisasi.

Dari uraian diatas bisa dikatakan bahwa kemampuan organisasi menangani informasi

(2)

bisnis dan kunci yang berpengaruh dalam kesuksesan organisasi (Harvard, 2006). Pentingnya

komunikasi yang efektif tersebut menuntut sebuah organisasi menjalankan strategi dalam

komunikasinya. Strategi komunikasi menjadi panduan perencanaan komunikasi dengan

manajemen komunikasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebuah organisasi.

Strategi komunikasi harus mampu menunjukkan bagaimana cara operasionalnya secara

praktis, dalam arti bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda sewaktu-waktu bergantung

pada situasi dan kondisi (Effendy, 2001). Strategi komunikasi tersebut dapat dijabarkan

dalam sebuah kerangka kerja sebagai berikut Argenti (2003);

Disinilah strategi komunikasi korporat diperlukan. Komunikasi korporat, menurut Van Riel

dalam Cornelissen (2011) adalah instrument dalam manajemen untuk menciptakan hubungan

yang harmonis, efektif, dan efisien diantara pihak internal dan eksternal dalam sebuah

organisasi. Komuniksi korporat bertujuan untuk membangun dan menjaga reputasi baik

dengan stakeholder terkait. Menurut Argenti (2003), komunikas korporat diperlukan bagi

sebuah organisasi antara lain karena berfungsi dalam membangun;

(3)

Identitas erat kaitannya dengan atribut khas sebuah organisasi. Seperti pegawainya,

produknya, ataupun pelayanannya. Identitas sebuah organisasi harus dimaknai secara

sama oleh konstituen-konstituennya. Hal ini berbeda dengan Citra. Citra adalah

bagaimana sebuah organisasi dilihat oleh konsituennya (atau pelanggan jika

konteksnya dalam sebuah organisasi yang menjual produk). Sebuah organisasi dapat

dicitrai secara berbeda oleh konstituen yang berbeda pula. 2. Advokasi dan iklan korporat

Iklan korporat berbeda dengan iklan produk/jasa yang harus menjual suatu

produk/jasa.Iklan korporat lebih kepada membangun merk organisasi yang

bersangkutan. Iklan korporat biasanya diperlukan jika ada isu-isu negatif yang

menerpa organisasi. Seperti misalnya, isu penggunaan bahan-bahan kadaluarsa dalam

proses produksi Pizza Hut dan Marugame. Adanya isu negatif tersebut perlu direspon

oleh organisasi dengan membuat iklan korporat yang menjelaskan atau

mengklarifikasi isu tersebut. 3. Hubungan Media

Hal ini dilakukan untuk membangun hubungan yang positif antara organisasi dengan

pihak media. Caranya bisa melalui pertemuan rutin dengan media, berdiskusi

mengenai isu terkini, media gathering, dsb. 4. Komunikasi pemasaran

Komunikasi pemasaran mengkoordinasikan dan mengatur publikasi terkait dengan

produk dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pelanggan. 5. Komunikasi internal

Bagaimana organisasi mengatur komunikasi dengan para pegawainya. Komunikasi

internal yang berjalan dengan baik akan meningkatkan rasa saling memiliki yang kuat

antara pegawai dan organisasinya, lebih produkti dalam bekerja, serta loyal terhadap

organisasi.

6. Hubungan investor

Bagaimana organisasi membangun hubungan dengan para investornya. 7. Hubungan komunitas dan CSR

Dengan berkomunikasi dengan komunitas, diharapkan sebuah organisasi mampu

(4)

organisasi. Tidak hanya sekedar berjualan ataupun kegiatan lain yang bermotif

ekonomi namun juga mempunyai tanggung jawab sosial. Corporate Social

Responsibility (CSR) merupakan penghargaan organisasi untuk kepentingan

masyarakat, ditunjukkan dengan mengambil kepemilikan dampak kegiatannya

terhadap konstituen kunci, termasuk pelanggan, karyawan, pemegang saham,

masyarakat lingkungan, dan, di seluruh wilayah operasi mereka (Lestari, 2015) 8. Hubungan Pemerintahan

Upaya menjaga hubungan baik dengan pemerintah sebagai regulator dalam berusaha

ataupun hal yang terkait peraturan-peraturan menyangkut organisasi. 9. Manajemen Krisis

Bagaimana organisasi mengatasi krisis yang terjadi di dalam organisasinya.

Secara lebih lanjut, Argenti (2003) menyampaikan tiga aspek yang perlu diperhatikan bagi

organisasi dalam menyusun sebuah strategi komunikasi korporat yang efektif, yaitu:

1. Determining the objectives for particular communication

Yaitu tentukan tujuan komunikasinya. Sebuah organisasi, juga seperti seseorang yang

mempunyai banyak motivasi dalam berkomunikasi. Ada tujuan yang harus dicapai

dalam tindakan komunikasinya. Tujuan akan tercapai apabila konstituen (audiens)

memberikan respon sesuai dengan apa yang diinginkan. Sehingga penting untuk

kemudian mampu menentukan tujuan komunikasi yang dapat diukur (measurable

objectives)

2. Deciding what resources are available for achieving those objectives

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah sumber daya yang organisasi miliki. Seperti

sumber daya manusia, kondisi finansial, dan alokasi waktu.

3. Diagnosing the organization’s reputation

Aspek selanjutnya adalah organisasi harus mampu mengenal citra diri seperti apa

yang terbangun dalam benak audiens. Citra diri dibentuk berdasarkan persepsi

(5)

Tujuan strategi komunikasi korporat yang berbeda antara satu organisasi dengan organisasi

lainnya inilah yang menyebabkan perbedaan strategi diantara organisasi tersebut. Tidak ada

istilah one size fits all bagi strategi komunikasi korporat. Karena masing-masing organisasi

memiliki objektif yang berbeda, dengan konstituen yang berbeda pula. Berikut tabel

Konstituen antara satu organisasi dengan organisasi lainnya tentu berbeda. Perbedaan itulah

yang membuat diperlukan stratego komunikasi korporat yang berebeda. Secara internal,

masing-masing organisasi juga memiliki budaya yang berbeda. Edgar H.Schein dalam Prita

(2014) menjelaskan pengertian budaya organisasi yaitu: sebagai sistem makna bersama yang

dianut oleh anggota-anggotanya untuk membedakan organisasi itu dengan organisasi lainnya.

Menganalisis konstituen seperti menganalisis siapa audiens yang organisasi hendak tuju.

Organisasi memiliki konstituen yang berbeda tergantung pada jenis organisasi, seberapa besar

organisasi, dan seberapa jauh jangkauan organisasi. Apakah organisasi tersebut berskala

lokal, nasional, atau sebuah organisasi yang berskala multinasional (Argenti, 2003).

Dari segi jenis organisasi atau ruang lingkup bisnis yang digelutinya, strategi komunikasi

korporat sebuah organisasi berbeda dengan organisasi lainnya. Perusahaan berorientasi profit

tentu memiliki strategi komunikasi korporat yang berbeda dengan perusahaan non profit.

(6)

Masyarakat atau NGO, pendidikan, kesehatan. Dalam prakteknya, sebagai contoh, lembaga

amil zakat Baznas (Badan Zakat Nasional) memiliki pendekatan strategi komunikasi yang

berbeda dengan perusahaan seperti Mirota Kampus.

Sementara dalam segi seberapa besar organisasi, strategi komunikasi korporat diterapkan

secara berbeda pula. Sebuah perusahaan lokal Yogyakarta seperti Dagadu Djogja misalnya,

memiliki strategi korporat yang berbeda dengan strategi komunikasi yang diterapkan oleh

perusahaan brownies Amanda misalnya. Meskipun sama-sama sebagai produk yang sering

dibeli sebagai oleh-oleh, Dagadu karena secara organisasi hanya berada di Yogyakarta

sementara Amanda Brownies yang memiliki outlet tersebar luas di kota-kota besar di

Indonesia (seperti Bogor, Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dll.) memiliki konstituen

yang berbeda pula. Sehingga strategi komunikasi yang diterapkan juga mengambil

pendekatan-pendekatan yang berbeda tergantung masing-masing objektifnya.

Contoh lainnya, meskipun sama-sama bergerak dalam ruang lingkup pendidikan, Universitas

Gadjah Mada di Yogyakarta memiliki strategi komunikasi korporat yang berbeda dengan

Universitas Dipenogoro di Semarang misalnya. Hal ini karena kedua universitas tersebut

memiliki jangkauan pasar yang berbeda. Masing-masing jenis perusahaan memiliki konstiuen

yang khas dengan kharateristiknya masing-masing. Tidak bisa kemudian disamaratakan

menggunakan pendekatan komunikasi korporat yang sama.

Tidak hanya bagi perusahaan berskala lokal maupun nasional, perusahaan berskala

multinasional yang memiliki cabang produksi dan penjualan di Indonesia sekaligus sebagai

bagian dari perusahaan berskala global yang memiliki cabang di berbagai negara juga

(7)

multinasional bersakala besar dan memiliki banyak cabang di berbagai negara,

masing-masing cabang tersebut mempunya strategi komunikasi korporat yang berbeda. Strategi

komunikasi korporat yang dilakukan oleh Unilever Indonesia berbeda dengan yang dilakukan

Unilever Australia misalnya.

Argenti (2003) menambahkan, kontituen juga memiliki cara pandang yang berbeda terhadap

organisasi. Dalam kata lain, setiap perusahaan memiliki citra diri (image) yang berbeda bagi

konstituen. Citra diri Pizza Hut dan Marugame Udon sekarang mungkin berbeda dengan citra

yang dulu sebelum merebaknya kasus penemuan penggunaan bahan kadaluarsa. Marugame

Udon adalah jaringan restoran Jepang yang merupakan bagian dari Sriboga Food Group,

yang membawahi berbagai usaha restoran di PT Sriboga Raturaya. Di dalamnya termasuk

Pizza Hut Indonesia, Pizza Hut Delivery (BBC Indonesia, 2016). Investigasi Tempo dan BBC

Indonesia menunjukkan Pizza Hut, Pizza Hut Delivery, dan Marugame Udon menggunakan

bahan kedaluwarsa di gerainya. Di mana didapati sejumlah dokumen dan kesaksian yang

membenarkan penggunaan bahan kedaluwarsa tersebut. Meskipun kemudian petinggi

Sriboga Food Group, salah satu divisi PT Sriboga Raturaya sebagai perusahaan pemegang

lisensi Pizza Hut dan Marugame Udon membantah penggunaan bahan kedaluwarsa. Direktur

Utama PT Sriboga Raturaya Alwin Arifin, yang ditemui Tempo, membantah penggunaan

produk kedaluwarsa di restoran waralaba miliknya (Tempo, 2016). Dalam berita yang

ditayangkan Kompas (2016) juga disebutkan bahwa Presiden Direktur Pizza Hut, Stephen

McCartney, membantah bahwa pihaknya menggunakan bahan kedaluwarsa ke dalam

makanan yang disajikan. Dengan adanya temuan tersebut, masyarakat sebagai salah satu

konstituen menjadi terpengaruh. Sebagian mungkin menganggapnya biasa saja dan tetap

berkeinginan mengkonsumsi Pizza Hut. Namun konsumen lainnya mungkin beranggapan

(8)

tidak akan mengkonsumsi Pizza Hut lagi. Ada perbedaan image Pizza Hut setelah kejadian

tersebut bagi konstituen yang berbeda pula. Sehingga dalam hal ini mutlak diperlukan strategi

komunikasi korporat yang berbeda.

Dari beberapa contoh kasus di atas, dapat kita lihat bahwa perbedaan konstituen

mempengaruhi strategi komunikasi korporat yang digunakan. Perlu analisis yang lebih

mendalam untuk menentukan konstituen sebuah organisasi sehingga dari hasil tersebut

mampu dirumuskan strategi komunikasi yang efektif dan tepat sasaran.

DAFTAR PUSTAKA

Argenti, P.A (2009). Corporate Communication (3rd ed.). New York: McGraw-Hill

BBC Indonesia. (2016). Benarkah Pizza Hut dan Marugame Pernah Gunakan Bahan Kedaluwarsa?

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/09/160904_pizzahut_marugame _expired.

Cornelissen, J. (2004). Corporate Communication Theory and Practice. London:Sage Publicition.

Effendy, Onong Uchjana. (2001). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung. PT. Remaja

for Survival. Englewood Cliffs: Prentice Hall.

(9)

Harvard Business School Publishing Corporation & The Society for Humas Resource Management. (2006). The Essentials of Corporate Communications and Public Relations. Massachusetts: Harvard Business School Publishing Corporation & The Society for HUmas Resource Management.

Kemal Gani, Prita. (2015). Pentingnya Nilai Budaya Bagi Organisasi.

http://www.lspr.edu/pritakemalgani/pentingnya-nilai-budaya-bagi-organisasi/.

Kompas. (2016). Pizza Hut Bantah Pakai Bahan Kadaluarsa. http://nasional.kompas.com/read/2016/09/04/18323021/pizza.hut.bantah.pakai.bahan. kedaluwarsa

Lestari, Arsisyanti. (2015). Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility). http://marcomm.binus.ac.id/2015/11/03/tanggung-jawab-sosial-perusahaan-corporate-social-responsibility/

Little john, Stephen W & Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi (theories of human communication) edisi 9. Jkt. Salemba Humanika

Maruli, Aditia. (2015). Sinergi Komunikasi Korporat Manajemen Pengetahuan Ciptakan Kinerja Unggul. http://www.antaranews.com/berita/500826/sinergi-komunikasi-korporat-manajemen-pengetahuan-ciptakan-kinerja-unggul

Richard, M. Steers. (1980). Efektivitas Organisasi, Erlangga, Jakarta.

Richmond, Virginia P. & James C. McCroskey. (1992). Organizational Communication

Rosdakarya

Ruben, Brent D., Stewart, Lea P. (2013). Komunikasi Dan Perilaku Manusia

(EdisiKelima). Jakarta :Rajawali Pers

Referensi

Dokumen terkait

Rn : Kuat Nominal adalah kekuatan suatu komponen struktur atau penampang yang dihitung berdasarkan ketentuan dan asumsi metode perencanaan sebelum dikalikan dengan

Menurut Severin dan Tankard 1973, dari penelitian di Chapel Hill tersebut ditarik kesimpulan bahwa terdapat suatu hubungan yang sangat kuat antara isu yang diliput dengan apa

Masa kerja Pengurus Cabang di tentukan 4 (empat ) tahun, dalam hal MUSCAB tidak dapat diadakan dalam waktu yang telah ditetapkan maka penggantian pengurus Cabang dapat

Berdasarkan pelanggaran yang terjadi dalam acara Mata Najwa, untuk dapat menghindari pelanggaran prinsip kerja sama dapat dilakukan dengan cara memperhatikan kosa

Penampang stratigrafi adalah suatu gambaran urutan vertical lapisan-lapisan batuan sedimen pada lintasan batuan yang dipilih, setiap titik dalam urutan stratigrafi mengikuti

Perlakuan dengan menggunakan nematisida dapat mengurangi populasi nematoda dan meningkatkan pertumbuhan tanaman, baik pada tanaman inang yang resisten maupun pada yang

ii. dan telah ditetapkan, dengan alokasi digunakan untuk memaksimumkan laba perusahaan dengan kendala teknologi produksi. Poin i sampai poin iv merupakan asumsi

Dari hasil FGD yang dilakukan bersama dengan perangkat desa, diketahui bahwa kepedulian terhadap upaya perlindungan hak anak umumnya masih sebatas tatanan kebijakan dan