BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan tentang teori Behaviorisme adalah :
1. Apakah pengertian Teori behaviorisme ?
2. Siapa saja tokoh yang menganut aliran behaviorisme ? 3. Bagaimana ciri dari teori belajar behaviorisme ? 1.3. TUJUAN MAKALAH
Adapun tujuan makalah dalam penulisan makalah ini, yaitu : 1. Dapat menjelaskan pengertian teori behaviorisme;
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP BEHAVORISME
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan teori merupakan perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan.
Dalam teori behaviorisme ini menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional. Behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus).
2.2 TOKOH-TOKOH ALIRAN BEHAVIORISME 2.2.1 Teori Koneksionisme (connectisme)
laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati(Slavin, 2000).
Tokoh yang terkenal dalam mengembangkan teori ini adalah Edward L. Thorndike. Hasil penelitiannya dikenal dengan trial and error. Menurut connectionisme belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antarastimulus dan respon. Thorndike mengemukakan tiga hukum dalam belajar yaitu:
a) Law of Readiness, belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan sesuatu.
b) Law of Exercise, yaitu belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan pengulangan dalam belajar.
c) Law of Effect, belajar akan semangat apabila mengetahui hasil belajar yang baik. Mengetahui hasil belajar dengan segera dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, sehingga ia tahu dimana letak kelemahannya dan memperbaikinya dengan segera. Untuk itu dalam proses pembelajaran feedback yang menyenangkan sangat diperlukan agar dapat mempengaruhi usaha siswa dalam belajar.
2.2.2 Teori Kondisioning klasik (classical condition)
alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Menurut teori ini belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan sutau perilaku atau respon terhadap sesuatu. Sedangkan mengajar adalah membentuk kebiasaan dengan mengulang-mengulang suatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Artinya belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan sutau perilaku atau respon terhadap sesuatu.
2.2.3 Teori Psikologi penguatan (operant conditioning)
Teori Operant Conditioning Asumsi dari teori ini adalah bahwa perubahan perilaku merupakan fungsi dari pada kondisi atau peristiwa lingkungan. Tokoh teori ini salah satunya adalah B.F. Skinner. Menurut Skinner dalam Surya (2003) bahwa respon individu tidak hanya terjadi karena adanya rangsangan dari lingkungan, akan tetapi dapat juga terjadi karena sesuatu di lingkungan yang tidak diketahui atau tidak disadari. Menurut skinner bahwa unsure terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Penguatan tersbut terbagi menjadi dua yaitu bentuk penguatan yang bersifat positif dan negatif. Penguatan yang bersifat positif dapat berupa hadiah atau penghargaan (reward), sedangkan yang berupa penguatan negative antara lain menunda atau tidak memberikan penghargaan (punishment), misalnya dengan memberikan tugas tambahan.
Prinsip-prinsip belajar yang banyak digunakan pada teori ini menurut Harley dan Davis dalam Sagala (2010) adalah:
a) Proses belajar dapat terjadi dengan baik apabila siswa ikut terlibat secara aktif didalamnya;
c) Setiap respon perlu diberi umpan balik secara langsung sehingga siswa dapat dengan segera mengetahui apakah respon yang diberikan betul atau tidak;
d) Perlu diberikan penguatan setiap kali siswa memberikan respon baik itu postif ataupun negative. Penguatan yang bersifat positif akan lebih baik karena dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa,sehingga ia ingin mengulang kembali respons yang telah diberikan.
2.3 CIRI-CIRI TEORI BEHAVIORISME
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai
suatu proses perubahan tingkah
pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka responpun akan semakin kuat.
BAB III
PENUTUPAN
3.1 KESIMPULAN
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Terdapat beberapa tokoh yang mengemukakan teori behaviorisme, diantaranya : 1) Edward L. Thorndike, 2) Ivan Pavlov, dan 3) B.F. Skinner.