LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGU TUMBUHAN
Oleh :
Golongan / Kelompok : A / 6
YOKO SIMBOLON 131510501090
FITRY LAULATUL Q 131510501088
HAMZAH ARIF 131510501093
EFIA ALFIONITA 131510501099
EVRIANA DWI CAHYANI 131510501103
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER
2014
1.1 Latar Belakang
Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan penting yang telah menjadi makanan pokok lebih dari setengah penduduk dunia. Di Indonesia, padi merupakan komoditas utama dalam menyokong pangan masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Oleh karena itu kebijakan ketahanan pangan menjadi fokus utama dalam pembangunan pertanian. Pada umumnya jenis padi satu berbeda dengan yang lainnya. Perbedaanya antara lainnya meliputi: umur tanaman, banyaknya hasil, mutu beras dan tahan tidaknya terhadap gangguan hama maupun penyakit.
Seiring dengan meningkatnya produksi padi yang ada di Indonesia juga mempengaruhi terhadap produksivitas tanaman padi. penurunan produktivitas bisa disebabkan berbagai hal dalam tanaman padi seperti terserang hama yang menjadi kendala bagi petani. Hampir setiap musim terjadi ledakan hama pada lahan pertanaman padi petani. Musuh utama petani ialah hama tanaman padi yang terdiri dari tikus(R.r. brevicaudatus), wereng coklat (Nilapervata lugens), kepik, burung, walang sangit (Leptocorixa acuta), penggerek batang (Scirpophaga innotata) dan jenis serangga (Insecta) lainnya. Hama yang menyerang tanaman padi berbeda antara hama satu dengan lainnya. Secara umum faktor hama merupakan salah satu musuh yang utama bagi petani yang bisa merusak tanaman padi. Dengan keberadaan hama pada areal pertanaman padi, petani menjadi mengalami penurunan hasil produksi yang menyebabkan kerugian yang cukup besar jika berlangsung secara berkelanjutan tanpa adanya Organisme Penggangu Tanaman(OPT).
keseluruhan penurunan produksi padi yang diakibatkan oleh OPT sekitar 40-55% yang bisa menyebabkan gagal panen. Oleh sebab itu perlunya pengendalian atau cara yang bisa mengurangi penuruanan produksi padi baik secara kimia atau hayati.
Pengendalian hayati dianggap sebagai salah satu cara yang bisa diterapkan oleh seluruh petani dan seluruh jenis tanaman. Pengendalian hayati kali pertama diperkenalkan oleh smith (1919) yang memperkenalkan peranan musuh alami dalam pengendalian hama. Sehingga dikembangkan juga dengan istilah Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Kebijakan pemerintah untuk mengembangkan Pengendalian Hama Terpadu telah diatur oleh program pemerintah UU No.12 Tahun 1992. Masalah PHT dalam UUBT No.12/1992 terdapat dalam pasal 20 sampai pasal 27. Kebijakan program pemerintah sehingga ditetapkan dalam UU RI merupakan sebuah ketentuan untuk menunjang keberhasilan adanya pengendalian hama yang bersifat hayati atau biopeptisida. Setiap pengendalian hama dan penyakit berarti harus mengikuti pendekatan ekologi dengan cara mengurangi penggunaan bahan kimia agar mendorong stabilitas ekosistem dan mencapai keseimbangan antara hama dan tanaman. Untuk mencapai pendekatan ekologi perlu juga memperhatikan musuh alami. Keragaman dan stabilitas hama dan predatornya juga dipengaruhi oleh keragaman jenis tanaman, struktur lahan pertanian, jenis tanah, iklim (curah hujan, intensitas cahaya matahari, kelembaban dan pH. Keragaman merupakan prinsip lingkungan yang dapat diterapkan untuk perlindungan tanaman, alasan karena usaha alami hasilnya tidak dapat dibandingkan dengan hasil usaha kimia karena beberapa ketentuan seperti tidak dapat membunuh musuh alami dan tidak merusak lingkungan.
tetapi bila harga insektisida naik maka ambang ekonomi akan naik dan sebaliknya. Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami dimaksudkan untukmemberikan peranan yang lebih besar kepada musuh alami, sebelum memakai insektisida (Effendi, 2009).
Usaha atau kegiatan lain yang bisa dapat diterapkan agar mengurangi populasi hama dan penyakit tumbuhan supaya tidak terjadi krisis pangan dan kelaparan maka ada beberapa penerapan pengendalian hama, pengendalian hama ditujukan untuk mengurangi intensitas gangguan hama dan penyakit tidak untuk memusnahkan seluruh populasi predator atau hama, karena ada beberapa musuh alami bagi tanaman. Cara mekanis bisa diterapkan untuk mengurangi populasi hama dengan memperhatikan ketelitian, ketekunan dari petani untuk penggunaan mekanis. Cara mekanis sudah jarang diterapkan oleh petani,alasan karena sifat yang membutuhkan waktu yang lama dan jumlah hama yang dikendalikan oleh cara mekanis tidak sebesar cara biologi. Cara biologi bisa dilakukan dengan pengembangan musuh dari hama tersebut baik secara parasit dan predator. Pengembangan musuh dibuat dengan bantuan bahan kimia. Cara biologis bisa berupa insektisida organis, fumigasi yang berbahan dasar methylbromida, atau melalui cara karantina yang biasa diterapkan dipelabuhan, bandara (air dan udara) cara karantina bertujuan untuk memusnahkan hama dan penyakit yang ikut serta pada tanaman tersebut. ketiga cara tersebut merupakan cara yang saat ini sudah dikenal masyarakat atau petani untuk mengurangi populasi hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi.
1. 2 Tujuan
1. Untuk mengetahui macam-macam organisme pengganggu yang ada pada tanaman padi.
2. Untuk mengetahui bagaimana cara pengendalian hama tersebut. 3. Untuk mengetahui cara pengendalian dari OPT yang menyerang
Hama tanaman adalah jenis hama yang digolongkan menjadi tiga bagian, golongan binatang menyusui, seperti tikus, kelinci dan lain-lain. Golongan serangga atau insekta, dan golongan burung seperti burung pipi, manyar dan lain-lain. Ketiga golongan hama tersebut merupakan golongan hama yang sangat berbahaya yang menyerang tanaman padi (Kartasaopetra 1993). Menurut (Rianawaty 2001) hama adalah binatang atau hewan yang secara kasat mata tampak jelas dilapangan atau suatu tempat tertentu dengan menimbulkan gejala serangan pada tanaman atau hasil tanaman pada tingkat yang melebihi batas ambang ekonomi. Hewan atau binatang yang dapat dikelompokan sebagai kelompok hewan menyusui (mamalia) seperti tikus, kelompok serangga (insekta) seperti belalang, dan kelompok burung (aves) seperti burung pipit.
R.r brevicaudatus (tikus sawah) adalah jenis tikus yang sering merusak tanaman pangan sejak di huma atau sawah. Tikus-tikus ini membuat gua atau terowongan didalam tanah, yang paling disenangi lapangan terbuka yang basah(sawah), semak-semak disekitar paya-paya, pematang, tanggul sungai dan lain sebagainya. Tikus dewasa mampu menghabiskan berhektar-hektar tanaman padi sejak bunting hingga butir-butir padinya hampir matang (Kartasaopetra 1993).
Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami menghemat penggunaan insektisida 33-75%, meskipun pada musim hujan dengan kelimpahan hama wereng cukup tinggi. Dengan cara ini, hasil padi di tingkat petani meningkat 36% dengan peningkatan keuntungan 53,7%. Ambang ekonomi bukan harga yang tetap, tetapi berfluktuasi bergantung pada harga gabah dan pestisida. Bila harga gabah meningkat maka ambang ekonomi akan turun dan sebaliknya, tetapi bila harga insektisida naik maka ambang ekonomi akan naik dan sebaliknya. Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami dimaksudkan untukmemberikan peranan yang lebih besar kepada musuh alami, sebelum memakai insektisida (Effendi, 2009).
Menurut hasil penelitian Fattah dan Hamkah (2011) luas serangan hama tikus pada musim kemarau lebih tinggi (10.983-17.887 ha) dibanding pada musim hujan (3.178-9755 ha ). Hama ulat grayak (Spodoptera spp) merupakan salah satu jenis hama yang menyerang banyak jenis tanaman (polyphagus). Untuk tanaman padi, luas serangan hama ulat grayak disulawesi selatan sekitar 864-3.349 ha pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan sekitar 233-1.568 ha. Tinggi nya serangan hama ulat grayak pada musim kmarau pada tanaman padi karena kondisi iklim yang mempengaruhi perkembangan telur, larva
Padi mempunyai daun tunggal berbentuk pita yang panjangnya 15-30 cm. Ujungnya runcing, tepinya rata, berpelepah, pertulangan sejajar, dan berwarna hijau. Buahnya keras dan terjurai pada tangkai. Setelah tua, warna hijau akan menjadi kuning. Bijinya keras, berbentuk bulat telur, ada yang berwarna putih atau merah. Butir-butir padi yang sudah lepas dari tangkainya disebut gabah, dan yang sudah dibuang kulit luarnya disebut beras. Bila beras ini dimasak, maka namanya menjadi nasi, yang merupakan bahan makanan utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Umumnya beras berwarna putih, walaupun ada juga beras yang berwarna merah. Padi yang termasuk keluarga rumput-rumputan ini ditanam dari bijinya secara langsung atau melalui persemaian dahulu.(Abdul Sani Sembiring.2013)
PTT dapat diilustrasikan sebagai sistem pengelolaan yang menggabungkan berbagai sub sistem pengelolaan, seperti sub sistem pengelolaan hara tanaman, konservasi tanah dan air, bahan organik dan organisme tanah, tanaman (benih, varietas, bibit, populasi tanaman dan jarak tanam), pengendalian hama dan penyakit/organisme penggangu tanaman, dan sumberdaya manusia.( Watimin, sulistyani budiningsih 2012).
Gulma merupakan salah satu faktor pembatas produksi tanaman padi. Gulma menyerap hara dan air lebih cepat dibanding tanaman pokok. Pada tanaman padi, biaya pengendalian gulma mencapai 50% dari biaya total produksi. Gulma berinteraksi dengan tanaman melalui persaingan untuk mendapatkan satu atau lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat persaingan bergantung pada curah hujan, varietas, kondisi tanah, kerapatan gulma, lamanya tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai bersaing Di tingkat petani, kehilangan hasil padi karena persaingan dengan gulma mencapai 10-15%. Karena terbatasnya tenaga kerja untuk menyiang, dalam mengendalikan gulma petani mulai beralih dari penyiangan secara manual ke pemakaian herbisida (Soerjandono, 2005).
3.1 Waktu dan tempat
Praktikum Lapang Pengantar Teknologi Pertanian dengan acara “Pengendalian Organisme Penggangu Tumbuhan” dilakukan pada hari jum’at, 25 April 2014 pukul 07.00- 11.00 di UPT Agrotechnopark Jubung Kecamatan Rambipuji. Kabupaten Jember
3.2 Alat dan Bahan 1. Lub/Kaca pembesar
2. Jaring perangkap hama serangga
3. Tali yang telah diukur dan dikaitkan pada batang kayu sebagai penggaris 4. Tanaman padi yang sudah tumbuh secara vegetatif
5. Plastik sebagai tempat hasil tangkapan serangga
3.3 Cara kerja :
1. Setiap kelas dibagi lima kelompok
2. setiap kelas menentukan petak contoh(sampel) dengan ukuran 2x2 m secara diagonal, sehingga ada 5 petak contoh
3. Setiap kelompok kemudian melakukan pengamatan OPT (hama dan penyakit) pada petak contoh dengan menggunakan jaring serangga
4. Serangga yang diperoleh kemudian dimasukan pada kantong plastik
5. Langkah selanjutnya saudara tentukan antara serangga yang merugikan dan serangga yang menguntungkan
6. Hitunglah jumlah serangga yang merugikan dan menguntungkan berdasarkan spesiesnya, kemudian saudara rata-rata dengan kelompok lain dalam satu kelas
7. Menentukan apakah lahan tersebut perlu dikendalikan atau tidak berdasarkan Ambang Ekonomi serangga tersebut
8. Menilai Ambang Ekonomi beberapa serangga yang menyerang tanaman padi BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Petak
Gulma : Rumput teki dan eceng gondong
Belalang : 5
Musuh Alami : Tomcat, laba-laba Tomcat: 2 Laba-laba: 2
2 Hama : Penggerek batang, belalang, telur keong mas Penyakit : Bercak, dan karat daun Bercak : 1
Karat daun : 6
Musuh Alami : Laba-laba Laba-laba : 1
3 Hama : Belalang, capung, keong mas, kepik Gulma : rumput teki
Penyakit : Bercak daun Bercak : 10
Musuh Alami :
-5 Hama : belalang, walang sangit, kepik, ulat, telur keong mas
Gulma : Rumput teki, krotot (berdaun lebar)/korot landa
Belalang : 3
Telur keong mas : 1 Walang sangit : 1 Kepik : 1
Ulat : 1
Rumput teki :1 Krokot landa : 1
Penyakit : Nekrose bercak daun dan berlubang
Musuh alami :
-Nekrose : 1 Bercak daun : 1
-4.2 Pembahasan
4.2.1 Teknik Pengamatan Hama dan Tujuannya
terbesar dari wilayah pengamatan, perangkap lampu, curah hujan, stasiun meteorologi pertanian khusus. Pengamatan pada petak contoh tetap bertujuan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi OPT dan musuh alami serta intensitas serangan. Petak contoh tetap ditempatkan padalima jenis tanaman dominan. Untuk komoditas terluas diamati empat petak contoh tetap sedangkan empat komoditas lainnya masing-masing diamati satu petak contoh. Dengan demikian pada setiap wilayah pengamatan terdapat delapan petak contoh pengamatan tetap.
Petak contoh ditentukan secara purposive, yaitu dalam kelompok-kelompok yang telah dibagi melakukan 3 pengamatan yaitu pengamatan gulma, pengamatan populasi hama dan pengamatan penyakita pada tanaman padisehingga mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan dalam hal waktu tanam, teknik bercocok tanam, dan varietasnya. Pada masa peralihan antara dua musim tanam, pengamatan diteruskan pada petak-petak contoh yang dapat mewakili wilayah pengamatan dalam waktu tersebut. Karena itu petak contoh pada masa antara dua musim tanam dapat berpindah sesuai dengan keadaan tanaman yang dapat mewakili wilayah pengamatan.
saat waktu berbunga maupun berbuahnya tanaman padi. Akibat dari serangan hama walang sangit butir-butiran padi/gabah akan kosong pada saat panen yang bisa mencapai kerusakan sekitar 50% tanaman. Hama lembing merupakan hama yang suka berpindah-pindah dan berkelompok dengan siklus hidup 6 bulan. Hama lembing menyerang bulir-bulir padi dengan cara menghisap nya. kerusakan akibat serangan hama lembing yaitu kulit gabah padi akan tanpak goresan-goresan yang membentuk bujur, yang bisa memecahkan padi jika dilakukan penggilingan sehingga hasil penggilingan menjadi jelek atau pecah. Hama tikus merupakan jenis hama yang meyerang bagian batang padi muda yang memiliki kandungan hormon. Akibat dari serangan hama tikus yaitu kerusakan pada bagian tengah petak. Hama ganjur merupakan jenis hama yang seperti lalat, hama ganjur akan menyerang tanaman padi jika penanaman terlambat dan memiliki serangan paling kuat pada saat bulan februari dan april, lalat akan menempatkan telur-telurnya pada kelopak daun padi sehingga larva-larva tersebut memasuki titik tumbuh tanaman padi yatiu bagian batang padi. akibat dari serangan hama ganjur tersebut yaitu daun akan menggulung dan membentuk kelongsong dan mati.
4.2.3 Cara Pengendalian Hama
Cara pengendalian hama bisa dilakukan dengan cara fisik mekani, cara biologi, cara kimia. Cara pengendalian hama secara biologi yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alami yang ada dilahan pertanaman padi tersebut (predator,parasit dan patogen) laba-laba,tomcat dan lainnya. Belalang adalah hama yang merusak tumbuhan dengan memakan daun dari tumbuhan yang diserang. Lama kelamaan tanaman itu akan kehabisan cadangan makanan dan akhirnya tumbuhan akan mati. Jika yang diserang adalah tanaman pangan, kemungkinan besar akibatnya ialah terjadinya kelaparan di mana-mana.
4.2.4 Waktu yang Tepat untuk Pendengalian Hama Terpadu
hama, iklim, respon petani dan masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan akan diperoleh data (informasi) kondisi lapangan yang merupakan masukan bagi pengambilan keputusan untuk menggunakan data tersebut dalam menetapkan keputusan dan rekomendasi yang perlu dilakukan terjadap ekosistem. Pengambilan keputusan ialah pemerintah mapun petani sendiri. Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan jika populasi hama atau intensitas kerusakan akibat penyakit telah memperlihatkan akan terjadi kerugian dalam usaha pertanian. Penggunaan pestisida merupakan komponen pengendalian yang dilakukan, jika; (a) populasi hama telah meninggalkan populasi musuh alami, sehingga tidak mampu dalam waktu singkat menekan populasi hama, (b) komponen-komponen pengendalian lainnya tidak dapat berfungsi secara baik, dan (c) keadaan populasi hama telah berada di atas Ambang Ekonomi (AE), yaitu batas populasi hama telah menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada biaya pengendalian Roja A (2009).
4.2.5 Perbandingan Data
4.2.6 Macam-macam Jenis Penyakit pada Tanaman Padi
Singkarak, Mahakam, Sentani, Atomita 2. Memusnahkan sisa tanaman padi dan gulma inang diantara musim pertanaman.
Bercak pelepah daun gejala serangan bercak terutama terdapat di seludang daun. Bercak berbentuk bulat lonjong, berwarna kelabu kehijau-hijauan yang kemudian menjadi putih kelabu dengan pinggiran cokelat. Ukuran bercak dapat mencapai panjang 2-3 cm. Disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani dan R. oryzae, cendawan ini berkembang pesat pada kondisi lembab, juga berkembang pesat pada tanaman yang dipupuk berat dengan pupuk N. Cara pencegahan Menjaga jarak tanam agar tidak terlalu rapat menghindari pemupukan N yang berlebihan. Penyemprotan fungisida pada masa pembentukan anakan maksimum.
Penyakit daun terbakar (rhyncosporium orizae), Gejala dari penyakit daun terbakar atau Leaf Scald biasanya terjadi pada ujung daun tua. Namun dapat pula terjadi pada sepanjang pinggir dan bagian lain dari helaian daun. Bercak berbentuk bulat memanjang seperti berlian kadang seperti bercak-bercak yang basah dengan panjang 1-5 cm, lebar 0,5 cm. Bercak berkembang sampai bentuk ellip yang besar dan bulat memanjang yang dilingkari oleh pita sempit yang gelap dan lingkaran coklat terang. Daun yang terinfeksi berat biasanya mengering dan berubah warna menjadi putih jerami dengan warna coklat dibagian tepinya dengan pendaerahan yang memudar.
Disebabkan oleh virus kerdil rumput yang dapat ditularkan oleh wereng cokelat. Cara pencegahan menggunakan varietas yang tahan, mencabut dan memusnahkan tanaman yang terinfeksi agar tidak menular, memberantas serangga penularnya dengan insektisida.
Kresek gejala serangan tepi daun tanaman yang terinfeksi mula-mula bernoda seperti garis-garis basah yang kemudian meluas berwarna putih kekuning-kuningan. Kematian jaringan daun mulai terjadi di tepi helai kesatu atau kedua, atau di setiap titik permukaan daun yang luka dan selanjutnya meluas ke seluruh permukaan daun. Disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae. Yang masuh melalui hidatoda di tepi daun, luka di daun atau akar yang putus. Penyebarannya melalui angin, embun, air hujan dan air irigasi. Cara pencegahan menggunakan varietas yang tahan, menggunakan bibit yang sehat, mencegah kerusakan bibit sewaktu pemindahan, menghindari penggunaan pupuk N yang berlebihan.
Tungro gejala serangan tanaman yang terinfeksi kerdil dengan jumlah anakan berkurang. Daunnya berwarna kuning kemerah-merahan atau oranye mulai dari ujung daun. Malai tanaman yang terinfeksi biasanya kecil dan keluar tidak sempurna, bulir-bulirnya tertutup bercak cokelat dan beratnya kurang. Disebabkan oleh virus tungro padi yang dapat ditularkan oleh wereng daun. Cara pencegahan menggunakan varietas yang tahan virus tungro, mencabut dan memusnahkan tanaman yang terinfeksi agar tidak menular.
Dari macam-macam penyakit diatas, pada praktikum pengendalian OPT ditemukan penyakit klorosis. Klorosis adalah keadaan jaringan tumbuhan, khususnya pada daun, yang mengalami kerusakan atau gagalnya pembentukan klorofil, sehingga tidak berwarna hijau, melainkan kuning atau pucat hampir putih.
4.2.7 Karakteristik Penyakit Tanaman Padi
1. Bercak daun coklat
Gejala serangan antara lain timbulnya bercak-bercak cokelat seperti biji wijen terutama pada daun, tetapi dapat pula terjadi pada tangkai malai, bulir, dan batang. Bercak muda berbentuk bulat kecil, berwarna coklat gelap. Bercak yang sudah tua berukuran lebih besar (0,4-1 cm X 0,1-0,2 cm), berwarna coklat dengan pusat kelabu. Kebanyakan bercak mempunyai warna kuning di sekelilingnya. Serangan ini bisa mengakibatkan hilangnya hasil panen sampai 50% dan biji berkualitas rendah.
2. Tungro
Tungro adalah penyakit padi yang disebabkan virus tungro yang dibawa oleh wereng. Serangan penyakit ini mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi.
3. Batang Busuk
Gejala penyakit diawali dengan bercak kecil kehitaman pada pelepah bagian luar di atas batas permukaan air, selanjutnya bercak membesar. Cendawan penyebab penyakit menembus bagian dalam pelepah dan menginfeksi batang sehingga menyebabkan busuk pada batang dan pelepah. Cendawan penyebab busuk batang menghasilkan sklerosia yang berbentuk bulat kecil berwarna hitam. Sklerosia banyak terdapat pada bagian dalam batang padi yang membusuk.Selama kondisi lingkungan kurang menguntungkan, cendawan menghasilkan sklerosia secara berlimpah sebagai alat untuk bertahan hidup. Sklerosia tersimpan dalam tunggul dan jerami sisa panen. Selama pengolahan tanah sklerosia tersebut dapat tersebar ke seluruh petakan sawah dan menjadi inokulum awal penyakit busuk batang pada musim tanam berikutnya.
Gejala yang ditimbulkan akibat serangan Cerospora sp berupa bercak-bercak sempit memenjang,berwarna coklat kemerahan sejajar ibu tulang daun,dengan ukuran panjang kurang lebih 5 mm dan 1-1,5 mm. Banyaknya bercak makin meningkat pada waktu tanaman membentuk anakan.Pada saat tanaman mulai masak gejala yang berat mulai terlihat pada daun bendera dan gejala paling berat mulai terlihat pada daun bendera dan gejala paling berat menyebabkan daun mengering dan batang menjadi rebah.Jamur penyebab penyakit bercak daun mengadakan penetrasi ke jaringan melalui stomata. Perkembangan penyakit bercak daun sangat dipengaruhi oleh faktor ketahanan varietas dan pemupukan.
4.2.8 Kondisi Penyakit yang ada di lapang
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, kondisi penyakit yang menyerang adalah sklorosis. Klorosis adalah keadaan jaringan tumbuhan, khususnya pada daun, yang mengalami kerusakan atau gagalnya pempentukan klorofil, sehingga tidak berwarna hijau, melainkan kuning atau pucat hampir putih. Klorosis yang terjadi pada tanaman padi disebabkan dari buruknya drainase, kerusakan perakaran, alkali tanah yang tinggi, dan kekurangan unsur hara pada tanaman. Kekurangan unsur hara dapat disebabkan jumlah hara tersedia yang tidak mencukupi karena tingginya pH tanah seperti pada tanah alkali atau dapat disebabkan tanaman tidak dapat menyerap unsur hara karena kerusakan atau perkembangan akar yang tidak baik. Klorosis sering kali merupakan petunjuk terjadinya kekurangan unsur hara dalam tanah atau serangan penyakit yang dialami oleh tumbuhan. Klorosis juga merupakan gejala umum dari infeksi virus, klorosis pada tanaman yang terserang virus tampak berupa daun yang menguning secara seragam dan secara umum dapat berpola mosaik, bercak, cicin, dan pola garis. Kondisi ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor biotik yaitu kondisi tanah,pH tanah, mikroorganisme, cendawaan dan lainnya, sedangkan faktor abiotik seperti air, cahaya matahari, suhu, kecepatan angin dan udara.
mempengaruhi jumlah dari populasi tanaman tersebut sehingga banyak tanaman yang mati atau tidak tumbuh, hal ini juga dipengaruhi terhadap hama yang suka menyerang padi pada fase pertumbuhan vegetativ yang mengakibatkan tidak terjadi pertumbuhan jumlah anakan.
4.2.9 Teknik Pengendalian Hama Tanaman Padi
Pengendalin dilakukan dengan penyemprotan herbisida, tordon, indamin untuk mengendalikan gulma yang berdaun lebar seperti clibadium surinamense, eupathorium palescens, melastoma malabathricum, dan merremia peltata.
4.2.10 Morfologi Gulma Yang Ada di Lapang
1. Rumput teki
Akar Rumput teki (Cyperus rotundus L.) merupakan sistem perakaran serabut, akar rumput teki memiliki banyak percabangan dan akar rumput teki memiliki banyak anak cabang akar, akar rumput teki memiliki rambut-rambut halus. Akar rumput teki tumbuh memanjang dan menyebar di dalam tanah. Batang rumput teki tumbuh tegak, berbentuk segitiga, berongga kecil dan agak lunak, tingginya 10-30 cm dan penampangnya 1-2 mm. membentuk umbi di pangkal batang, membentuk rimpang panang yang dapat membentuk tunas baru, daun-daun terdapat di pangkal batang.
Daun Rumput teki berbangun daun garis, licin, tidak berambut, warna permukaan atas hijau tua sedangkan permukaan bawah hijau muda, mempunyai parit yang membujur di bagian tengah, ujungnya agak runcing, lebih pendek dari batang yang membawa bunga, lebarnya 2-6 mm. Bunga Rumput teki memiliki bulir longgar terbentuk di ujung batang, braktea dua sampai empat, tidak rontok, panjangnya lebih kurangnsama atau melebihi panjang perbungaan, bercabang utama tiga sampai Sembilan yang menyebar, satu bulir berbunga sepuluh sampai empat puluh.
Buah Rumput teki (Cyperus rotundus L.) berbentuk bulat telur berisi tiga, panjangnya kurang lebih 1,5 mm, buah rumput teki memiliki warna coklat kehitam-hitaman. Buah rumput teki tersusun berselang-seling sedikit bertumpang-tindih dan merapat ke sumbu, buah rumput teki berbentuk bulat telur dan lepes. Biji Rumput teki terdiri dari sepuluh sampai empat puluh buliran yang tersusun berselang-seling sedikit bertumpang-tindih dan merapat ke sumbu, biji berbentuk bulat telur dan lepes, panjangnya kurang lebih 3 mm, berwarna coklat kemerah-merahan, benang sari dan putik tersembul keluar.
Kayu apu memiliki dua tipe daun yang sangat berbeda. Daun yang tumbuh di permukaan air berbentuk cuping agak melingkar, berklorofil sehingga berwarna hijau, dan permukaannya ditutupi rambut berwarna putih agak transparan. Rambut-rambut ini mencegah daun menjadi basah dan juga membantu kayu apu mengapung. Daun tipe kedua tumbuh di dalam air berbentuk sangat mirip akar, tidak berklorofil, dan berfungsi menangkap hara dari air seperti akar. Orang awam menganggap ini adalah akar kayu apu. Warna daunnya hijau muda makin ke pangkal makin putih. Susunan daun terpusat berbentuk roset. Kayu apu sendiri akarnya (dalam pengertian anatomi) tereduksi. Kayu apu tidak menghasilkan bunga karena termasuk golongan paku-pakuan. Bentuknya mirip dengan sayuran kol atau kubis yang berukuran kecil. Banyak tumbuh di daerah tropis, terapung pada genangan air yang tenang dan mengalir dengan lambat.
4.2.11 Waktu yang Tepa untuk Pengendalian Gulma dan Persentase Penuruanan Akibat Serangan Gulma.
Waktu yang tepat dilakukan pengendalian adalah saat keadaan perkembangan agroekosistem yang terdiri atas komponen biotik dan komponen abiotik. Berdasarkan hasi pengamatan yang di peroleh dari kondisi lapang yang merupakan sumber untuk pengambilan keputusan atau kebijakan dalam pengandilan gulma. Menurut penelitian Pitoyo (2006), menyatakan bahwa penurunan produksi pangan khususnya padi akibat gulma masih tinggi yakni berkisar antara 6 – 87 persen. Data yang lebih rinci penurunan produksi padi secara nasional sebagai akibat gangguan gulma mencapai 15 – 42% untuk padi sawah dan padi gogo 47-87 %. Hal ini akan membantu petani untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanaman padinya.
BAB 5. PENUTUP
1. Tehnik-tehnik yang dilakukan dalam pengendalian gulma pada tanaman padi yaitu ada 2 cara yaitu pengendalian secara langsung dan tidak langsung. 2. Ada 3 jenis organisme penggangu tanaman, yaitu hama, penyakit dan gulma.
Dimana semua aktivitas tumbuhnya mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman padi
3. Penyakit yaang ditemukan berdasarkan pengamatan yang dilakukan yaitu bercak daun, daun berkarat dan kerdil dimana penyakit-penyakit ini menyerang sebagian kecil tanaman yang ada dilahan namun tetap diperlukan pengendalian agar tidak menyerang lebih luas.
4. Ada 3 cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama yaitu dengan pengendalian mekanik, hayati dan kimiawis.
5. Persentase tingkat petani akibat serangan gulma mencapai 10-15%
5.2 Saran
Sebaiknya dalam memulai praktikum perlu adanya pengingatan tentang cara praktikum, agar praktikan yang masih bingung atau tidak membaca tatacara praktikum bisa diingatkan dan beri kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang belum dipahami.
Bobihoe, julistia. 2007. Pegelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi. Jambi
Effendi, Baehaki S. 2009. Strategi Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Padi Dalam Perspektif Praktek Pertanian Yang Baik (Good Agricultural Practices). Pengembangan Inovasi Pertania. 2(1):65-78
Hamkah dan Abddul Fattah. 2011. Tingkat Serangan Hama Utama Padi Pada Dua Musim Yang Berbeda di Sulawesi Selatan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan
Oleyeke,olalekan. 2012. Management of Major Insect Pests of Rice in Tanzania. Plant Protection Science (38) 3 : 108–113
Rianawaty. 2010. Biology 2 for Junior High School Year VIII. Jakarta : Dispenbud
Sani sembiring,abdul. 2009. Sistem Pakar Diagnosa Penyakit dan Hama Tanaman Padi. Pelita informasi budi dharma (3) 2 : 65 – 78
Sunarnao. (?). Pengendalian Hayati (Biologi Control) Sebagai Salah Satu Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). IPM
Soerjandono. N. B. 2005. Teknik Pengendalian Gulma Dengan Herbisida Persistensi Rendah pada Tanaman Padi. Buletin Teknik Pertanian. Vol 10(1): 5-8 Triharso. 2010.
Sulistyani budiningsih,watimin.2012. Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PPT) diKecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas. SEPA(9) 1 : 34 - 42