• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Penawaran dan Permintaan Telur Ayam Ras di Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Penawaran dan Permintaan Telur Ayam Ras di Sumatera Utara"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI,

KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka

Ayam liar atau ayam hutan adalah ayam yang pertama kali dipelihara oleh

masyarakat Indonesia. Ayam liar tersebut merupakan bagian dari kehidupan

masyarakat Indonesia yang pada saat itu sangat dekat dengan alam bebas. Pada

periode 1940-an, masyarakat mulai mengenal ayam lain selain ayam liar. Pada

saat itu masyarakat mulai membedakan antara ayam orang Belanda dengan ayam

liar Indonesia. Ayam liar Indonesia tersebut kemudian diberi nama ayam

kampong sedangkan ayam orang Belanda dikenal dengan sebutan ayam negeri.

Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi

ayam. Pada saat itu, sifat ayam dipandang sebagai ayam kampung saja. Ayam

yang pertama kali masuk dan mulai diternakan pada periode ini adalah ayam ras

petelur white leghorn yang kurus dan umumnya diternakan setelah masa

produktifnya (Rasyaf, 2001).

Telur adalah salah satu bahan makanan asal ternak yang dikenal bernilai gizi

tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh

manusia seperti asam-asam amino yang lengkap dan seimbang, vitamin serta

mempunyai daya cerna yang tinggi. Telur ayam mengandung protein 12,8%, telur

bebek 13,1%. Selain itu telur mengandung aneka vitamin seperti vitamin A, B, D,

E, dan K. Telur juga mengandung sejumlah mineral seperti zat besi, fosfor,

(2)

Tabel 3. Komposisi Zat Gizi Telur dalam 100 gram

Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI dalam Haryoto, 1996

Menurut Haryoto (1996), struktur sebuah telur terdiri atas sel hidup yang

dikelilingi oleh kuning telur sebagai cadangan makanan terbesar. Kedua

komponen itu dikelilingi oleh putih telur yang mempunyai kandungan air tinggi,

bersifat elastis dan dapat mengabsorbsi goncangan yang mungkin terjadi pada

telur tersebut. Ketiga komponen tersebut merupakan bagian dalam dari telur yang

dilindungi oleh kulit telur yang berfungsi untuk mengurangi kerusakan fisik dan

biologis.

Peternak khususnya peternak ayam ras di Indonesia, mempunyai posisi yang

cukup rawan dalam pencaturan bisnis unggas yang secara statistik sangat pesat.

Hal penting yang harus dibahas tentu saja langkah yang perlu diambil agar posisi

rawan itu dapat berubah menjadi posisi strategis yang menguntungkan. Untuk

menuju ke posisi tersebut, perlu diketahui permasalahan yang dihadapi peternak

ayam Indonesia. Menurut Suharno B. (1999), permasalahan tersebut yaitu :

1). Permintaan fluktuatif

Berbeda dengan masyarakat di negara maju yang menggunakan komoditas

(3)

mengkonsumsi daging dan telur ayam masih dianggap sebagai makanan mewah

dan mahal. Masyarakat mengkonsumsinya di saat-saat tertentu seperti lebaran,

tahun baru dan bulan-bulan tertentu. Keadaaan tersebut sangat menyulitkan

program produksi ayam. Para peternak mencoba melakukan program peningkatan

produksi jika lebaran tiba. Namun, kesulitan jika usai lebaran permintaan

langsung anjlok, sedangkan produksi tidak dapat diberhentikan karena barang

hidup. Harga pun langsung merosot tajam.

2). Pasarnya masih tradisional

Jika permintaan terhadap komoditas ayam benar fluaktuatif seperti yang disebut di

atas, maka logikanya pasokan ayam diatur dengan menggunakan teknologi

penyimpanan. Dengan cara ini, permintaan daging dan telur ayam dapat

diramalkan jumlahnya untuk waktu setahun. Dengan produksi ayam stabil,

sementara permintaan fluktuatif, pasokan ayam ke konsumen dapat diatur sesuai

dengan irama permintaan konsumen. Jadi, untuk kondisi tersebut, teknologi

pascapanen harus dikembangkan. Namun, kenyataannya pasar ayam Indonesia

masih bersifat tradisional. Kondisi ini menyebabkan masalah fluktuasi makin

menjadi-jadi dialami oleh peternak. Fluktuasi ini juga akan selalu terjadi

berulang-ulang setiap tahun.

3). Konsumen belum tahu persis tentang ayam

Ketidaktahuan konsumen secara pasti tentang ayam menjadi satu masalah yang

cukup merepotkan. Di beberapa media massa pernah terjadi pemberitaan

(4)

karena masyarakat lebih percaya pada media massa maka konsumen dapat selalu

mencurigai baik buruknya daging ayam.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Penawaran (Supply)

Hukum penawaran adalah suatu pernyataan yang menjelaskan tentang sifat

hubungan antara harga suatu barang dan jumlah barang tersebut yang ditawarkan

para penjual. Dalam hukum ini dinyatakan bagaimana keinginan para penjual

untuk menawarkan barangnya apabila harganya tinggi dan bagaimana pula

keinginan untuk menawarkan barangnya tersebut apabila harganya rendah.

Hukum penawaran pada dasarnya mengatakan bahwa makin tinggi harga suatu

barang, semakin banyak jumlah barang tersebut akan ditawarkan oleh para

penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang semakin sedikit jumlah

barang tersebut yang ditawarkan (Sukirno, 2003).

(5)

Pergeseran kurva penawaran dari kurva S0 ke S1 merupakan pergeserankurva

penawaran, menunjukkan adanya pertambahan dalam jumlah suatu barang yang

ditawarkan (Nuraini, 2006).

Menurut Kadariah (1994), kurva penawaran menanjak ke atas, yang

menggambarkan bahwa jumlah yang ditawarkan naik dengan kenaikan harga.

Yang dimaksud dengan penawaran bukan suatu titik pada kurva penawaran,

melainkan seluruh kurva penawaran, ialah hubungan yang lengkap (seluruh

hubungan) antara penjualan yang diinginkan dengan harga-harga alternatif yang

mungkin terjadi dari komoditi yang bersangkutan. Penawaran (supply)

menunjukkan seluruh hubungan antara jumlah seluruh komoditi yang ditawarkan

dan harga komoditi tersebut, dimana variabel-variabel lain dianggap tetap. Satu

titik pada kurva penawaran menggambarkan jumlah yang ditawarkan (the quantity

supplied) pada harga tersebut.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penawaran, yaitu :

1). Harga barang itu sendiri

Menurut Djojodipuro (1991), untuk mengembangkan teori tentang penentuan

harga suatu komoditi, perlu dipelajari hubungan antara jumlah yang ditawarkan

dari setiap komoditi dan harga komoditi tersebut. Suatu teori ekonomi dasar

menjelaskan bahwa makin tinggi harga suatu komoditi, makin banyak jumlah

barang yang ditawarkan. Sebabnya ialah karena keuntungan yang dapat diperoleh

dari produksi suatu komoditi akan naik jika harga tersebut naik, demikian juga

(6)

Naik atau turunnya harga barang/jasa akan mempengaruhi banyak/sedikitnya

terhadap jumlah barang yang ditawarkan. Kuantitas akan meningkat ketika

harganya meningkat dan kuantitas yang diminta menurun ketika harganya

menurun, dapat dikatakan bahwa kuantitas yang diminta berhubungan positif

dengan harga (Djojodipuro, 1991).

2). Harga barang lain

Jika harga suatu barang naik, maka produsen cenderung akan menambah jumlah

barang yang dihasilkan. Hal ini kembali lagi pada hukum penawaran.Jika ada

produk pesaing sejenis di pasar dengan harga yang murah maka konsumen akan

ada yang beralih ke produk yang lebih murah sehingga terjadi penurunan

permintaan, akhirnya penawaran pun dikurangi.

3) Biaya produksi

Biaya produksi berkaitan dengan biaya yang digunakan dalam proses produksi,

seperti biaya untuk membeli bahan baku, biaya untuk gaji pegawai, biaya untuk

bahan-bahan penolong, dan sebagainya. Apabila biaya-biaya produksi meningkat,

maka harga barang-barang diproduksi akan tinggi. Akibatnya produsen akan

menawarkan barang produksinya dalam jumlah yang sedikit. Hal ini disebabkan

karena produsen tidak mau rugi. Sebaliknya jika biaya produksi turun, maka

produsen akan meningkatkan produksinya. Dengan demikian penawaran juga

akan meningkat.

4). Jumlah produksi

Jumlah telur yang tersedia yang diperoleh pedagang dari pemasok sangat

(7)

maka harga akan turun dan sebaliknya ketika jumlah telur yang tersedia sedikit

maka harga akan naik.

5). Kemajuan teknologi

Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya barang yang

ditawarkan. Adanya teknologi yang lebih modern akan memudahkan produsen

dalam menghasilkan barang dan jasa. Selain itu dengan menggunakan

mesin-mesin modern akan menurunkan biaya produksi dan akan memudahkan produsen

untuk menjual barang dengan jumlah yang banyak.

6) Perkiraan harga dimasa depan

Perkiraan harga di masa datang sangat memengaruhi besar kecilnya jumlah

penawaran. Jika perusahaan memperkirakan harga barang dan jasa naik,

sedangkan penghasilan masyarakat tetap, maka perusahaan akan menurunkan

jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Misalnya pada saat krisis ekonomi,

harga-harga barang dan jasa naik, sementara penghasilan relatif tetap. Akibatnya

perusahaan akan mengurangi jumlah produksi barang dan jasa, karena takut tidak

laku.

Bentuk persamaan matematis secara umum dan sederhana yang menjelaskan

hubungan antara tingkat penawaran dengan faktor-faktor yang mempengaruhi

penawaran adalah:

S = f (Px, Py, Pi, N, T, Hpro)

Dimana :

S = Penawaran komoditas

Px = Harga barang itu sendiri

(8)

Pi = Biaya produksi

N = Jumlah Produksi

T = Kemajuan teknologi

Hpro = Perkiraan harga dimasa depan

2.2.2 Permintaan (Demand)

Dalam ilmu ekonomi, istilah permintaan menunjukkan jumlah barang dan jasa

yang akan dibeli konsumen pada periode waktu dan keadaan tertentu. Periode

waktu tersebut bisa satu tahun dan keadaan yang harus diperhatikan antara lain

harga barang yang di beli, pendapatan konsumen, jumlah tanggungan, selera dan

lain-lain (Arsyad, 2000).

Suatu barang dihasilkan oleh produsen karena dibutuhkan oleh konsumen dan

karena konsumen bersedian membeli. Konsumen mau membeli barang-barang

yang mereka perlukan itu bila harganya “sesuai” dengan keinginan mereka dan

bila barang tersebut berguna bagi mereka (Sugiarto dkk, 2000).

Menurut Hanafie (2010), kurva permintaan bergerak turun dari kiri atas ke kanan

bawah (menurut kebiasaan internasional, harga diukur pada sumbu tegak P dan

jumlah diukur pada sumbu horizontal Q). Kurva permintaan pasar diperoleh dari

penjumlahna berbagai jumlah yang mau dibeli oleh sekian banyak konsumen pada

masyarakat pada tingkat tertentu.

Kurva permintaan menggambarkan hubungan antara jumlah yang diminta dan

harga, dimana semua variabel lainnya dianggap tetap. Kurva ini memiliki lereng

(slope) yang negatif, yang menunjukkan bahwa jumlah yang diminta (the quantity

(9)

Hukum permintaan menyatakan makin rendah harga suatu barang maka makin

banyak permintaan terhadap barang tersebut. Sebaliknya makin tinggi selera harga

suatu barang maka semakin sedikit permintaan terhadap barang tersebut. Sifat

hubungan seperti itu disebabkan karena kenaikan harga menyebabkan para

pembeli mencari barang lain yang dapat digunakan sebagai pengganti terhadap

barang yang mengalami kenaikan harga. Suatu barang dinamakan barang

pengganti kepada barang lain apabila ia dapat menggantikan fungsi barang lain

tersebut (Sukirno, 2003).

Adapun variabel-variabel yang menentukan jumlah komoditi yang diinginkan

oleh rumah tangga adalah : harga barang bersangkutan, pendapatan rata-rata

rumah tangga, jumlah penduduk, harga-harga komoditi yang ada hubungannya

dengan komoditi tersebut. Untuk mengerti pengaruh masing-masing variabel

tersebut diatas, semua variabel dianggap tetap (Djojodipuro, 1991).

Permintaan seseorang terhadap suatu barang ditentukan oleh beberapa faktor,

seperti :

1). Harga barang itu sendiri

Menurut Sagiarto dkk (2000), dalam teori ekonomi dianggap bahwa permintaan

suatu barang terutama dipengaruhi oleh harga barang itu sendiri dengan asumsi

bahwa faktor-faktor lain tidak mengalami perubahan atau ceteris paribus. Secara

umum bila harga suatu barang tinggi, hanya sedikit orang yang mau dan mampu

membelinya. Sebaliknya jika harga barang tersebut diturunkan, lebih banyak

orang yang mau dan mampu membelinya sehingga jumlah barang yang dibeli

(10)

2). Harga komoditi lain (barang substitusi)

Menurut Sukirno (2003), Permintaan terhadap suatu barang dapat dipengaruhi

oleh perubahan harga barang-barang lain, baik atas barang subtitusi maupun

terhadap harga barang komplementer. Sifat dan pengaruh terhadap barang

subtitusi dan komplementer ini dikarenakan permintaan suatu barang memiliki

kaitan dan pengaruh yang langsung maupun tidak langsung. Pengaruh

mempengaruhi atas suatu barang dari harga barang lain ini dikarenakan

masing-masing barang mempunyai hubungan saling menggantikan fungsi kegunaan, dan

juga saling melengkapi. Jika barang yang digantikan bergerak naik, maka akan

dapat mengakibatkan jumlah permintaan barang penggantinya juga akan ikut

mengalami kenaikan.

Menurut Rasyaf (1991), antara telur ayam ras dengan itik komersil ada tingkat

subtitusinya, bila telur ayam naik, konsumen akan beralih ke telur itik komersil

yang memang mirip dengan telur ayam ras, perbedaannya hanya pada kulitnya

yang “kebiruan”.

3). Tingkat pendapatan perkapita

Pendapatan para pembeli merupakan faktor yang sangat penting dalam

menentukan corak permintaan terhadap berbagai barang. Perubahan pendapatan

selalu menimbulkan perubahan permintaan berbagai jenis barang. Pendapatan

yang lebih rendah berarti bahwa secara total hanya ada uang yang sedikit untuk

dibelanjakan, sehingga masyarakat akan membelanjakan sedikit uang untuk

(11)

terhadap suatu barang berkurang ketika pendapatan berkurang, barang tersebut

dinamakan barang normal (normal goods) (Sukirno, 2003) .

4).Jumlah tanggungan/penduduk

Semakin banyak jumlah penduduk yang mempunyai selera atau kebiasaan akan

kebutuhan barang tertentu, maka semakin besar permintaan terhadap barang

tersebut. Permintaan berhubungan positif dengan jumlah tanggungan.

Pertambahan jumlah tanggungan/penduduk tidak akan dengan sendirinya

menyebabkan pertambahan permintaan. Tetapi biasanya pertumbuhan jumlah

tanggungan/penduduk diikuti oleh perkembangan dalam kesempatan kerja.

Dengan demikian lebih banyak orang yang menerima pendapatan dan ini

menambah daya beli dalam masyarakat. Pertambahan daya beli ini akan

menambah permintaan (Sukirno, 2003).

5). Cita rasa

Perubahan cita rasa masyarakat mempengaruhi permintaan. Bila selera konsumen

akan suatu barang meningkat, permintaan akan barang tersebut akan meningkat.

Sebaliknya bila selera konsumen berkurang, permintaan kan barang tersebut

menurun (Sugiarto dkk, 2000).

Menurut Setiawan (2006), selera berpengaruh besar terhadap keinginan untuk

membeli. Naiknya intensitas keinginan seseorang terhadap suatu barng pada

umumnya menyebabkan naiknya jumlah permintaan terhadap barang tersebut,.

Apabila selera konsumen berubah, permintaan kan suatu barang juga akan

(12)

6). Kualitas Komoditas

Menurut Rahim dan Diah (2008), kualitas komoditas yang bagus akan

meningkatkan permintaan. Semakin tinggi komoditas suatu barang, maka semakin

tinggi minat masyarakat.

7). Ramalan masa yang akan datang terhadap harga

Perkiraan harga suatu barang di masa yang akan datang dapat berpengaruh

terhadap jumlah permintaan suatu barang. Apabila diramalkan terjadi kenaikan

harga suatu barang tertentu di masa yang akan datang, maka permintaan akan

barang tersebut akan bertambah. Demikian sebaliknya, apabila diramalkan harga

suatu barang turun pada masa yang akan datang, maka permintaan saat sekarang

akan berkurang (Bangun, 2007).

Dalam Rahim dan Diah (2008) dituliskan bahwa bentuk persamaan matematis

secara umum dan sederhana untuk menjelasakan faktor-faktor yang

mempengaruhi permintaan komoditas pertanian sebagai berikut:

D=f (Px, Py, I, N, T, Q, EsP)

Dimana:

D = Permintaan Komoditas

Px = Harga barang itu sendiri

Py = Harga barang lain

I = Pendapatan konsumen

N = Jumlah penduduk

(13)

Q = Kualitas komoditas

EsP = Perkiraan harga dimasa yang akan datang

Kurva permintaan dapat diturunkan dari meminimalisasikan pengeluaran dengan

kendala utilitas harus mencapai tingkat tertentu yang akan menghasilkan kurva

permintaan Hicks. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar kurva permintaan

Hicks sebagai berikut:

(14)

Pada gambar 2 panel (a) menggambarkan konsep utilitas, aksis horizontal

menggambarkan barang X dan vertikal menggambarkan konsumsi barang lainnya

(Y). Garis M0-m1 menggambarkan garis anggaran (budget line) dengan kondisi

awal. Titik persinggungan antara kurva U0 dengan garis M0-m1, pada titik A

merupakan titik konsumsi yang paling optimal untuk barang X dan barang Y.

Gambar 2 panel (b) menggambarkan bagaimana kurva dari barang X diturunkan

dari maksimisasi utilitas. Pada kondisi awal harga sebesar po, titik A pada panel

(a) di[etakan pada panel (b) sebagai titik a. Dimisalkan terjadi penurunan harga

dari P0 ke P1, maka garis anggaran M0-m0 bergerak menjadi M0-m1. Kurva

permintaan Hicks diturunkan dari minimisasi pengeluaran dengan utilitas konstan.

Artinya, bagaimana konsumen tetap berada pada utilitas semula dengan danyanya

perubahan harga dari P0 ke P1. Salah satu cara adalah dengan mengubah

pendapatan konsumen (dalam hal ini menurunkan pendapatan dari M0 ke M1),

sehingga dia tetap berada pada tingkat kepuasan semula. Garis anggaran baru,

yakni M1-m1 yang mempunyai garis paralel dengan M0-m1, adalah garis yang

menggambarkan perubahan pendapatan tersebut. Titik perpotongan antara garis

anggaran M1-m1 dengan kurva indeferen lama U0 menghasilkan tingkat konsumsi

barang X sebesar X, jika kita petakan titik ini dengan titik harga baru pada tingkat

P1 pada panel (b) akan diperoleh titik perpotongan c. Sekarang jika kita

hubungkan titik perpotongan c, akan diperoleh kurva permintaan Hicks (Fauzi,

(15)

2.2.3 Model Cobweb Dalam Analisis Keseimbangan Penawaran dan Permintaan

Sistem dinamis memiliki waktu sebagai variabel independen (bebas/berpengaruh).

Sebagai contoh didalam setiap perekonomian senantiasa terdapat perubahan

secara kontiniu dan penyesuaiannya terhadap perubahan. Apabila ekonom ingin

mempersoalkan waktu yang berhubungan dengan sesuatu gerakan ke arah

keseimbangan, keterlambatan-keterlambatan waktu (time lags) pada

penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan, maka secara eksplisit ia akan memperkenalkan

waktu kedalam sistem yang bersangkutan.Oleh karena itu ia bekerja dengan suatu

sistem dinamis (dynamic system) (Simatupang, 1995).

Menurut Setiawan (2010), salah satu sistem dinamis yang sederhana adalah model

Cobweb (teori sarang laba-laba). Kasus Cobweb ini dibagi menjadi 3 yaitu:

a) Siklus yang mengarah pada fluktuasi yang jaraknya tetap

b) Siklus yang mengarah pada titik keseimbangan

c) Siklus yang mengarah pada eksplosi harga, yaitu yang berfluktuasi dengan

jarak yang semakin membesar

Suatu pasar akan mengalami keseimbangan jika jumlah barang yang ditawarkan

sama dengan jumlah barang yang diminta. Keseimbangan dalam analisis

(16)

Gambar 3. Model Cobweb

Menurut Chiang dan Wainwright (2008), bila berinteraksi antara

permintaan dan penawaran akan menghasilkan osilasi eksplosif. Dengan harga

awal P0 (disini diasumsikan di atas P), kita dapat megikuti anak panah dengan

membaca kurva S bahwa kuantitas yang ditawarakan dalam periode selanjutnya

(periode 1) akan menjadi Q1. Dalam pasar bebas, kuantitas yang diminta dalam

periode 1 juga harus Q, yang hanya mungkin jika dan hanya jika harga ditentukan

pada tingkat P1. Sekarang, memlalui kurva S, harga P1 akan menghasilkan Q2

sebagai kuantitas yang ditawarkan dalam periode 2, dan pada pasar bebas dalm

periode berikutnya, harga harus ditentukan pada tingkat P2 sesuai dengan kurva

permintaan . Dengan mengulangi kembali alasan ini, kita dapat menentukan harga

dan kuantitas dalam periode berikutnya dengan mengikuti anak panah dlam

diagram, sehingga memutari “cobweb” atau jaring laba-laba disekitar kurva

permintaan dan penawaran. Dengan cobweb (jaring laba-laba) berputar dari dalam

(17)

Dimana , proses perputaran akan menimbulkan suatu cobweb yang

sentripetal. Dari P0, bila kita mengukuti anak panah, kita akan lebih mendekat

pada perpotongan kurva permintaan dan penawaran, dimana P berada. Jika tetap

berosilasi, jalur harga ini adalah konvergen (Chiang dan Wainwright, 2008),.

2.3 Kerangka Permikiran

Dalam kajian ini, faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran telur ayam ras

adalah penawaran telur ayam ras sebelumnya, harga telur ayam ras sebelumnya

dan populasi ayam ras petelur. Dengan mengetahui berbagai faktor berpengaruh

tersebut diharapkan akan menjadi salah satu upaya agar peternak telur ayam ras

dapat mengoptimalkan produksinya.

Diketahui bahwa telur merupakan bahan pangan yang sangat digemari untuk

dikonsumsi sebab rasanya nikmat dan harganya yang relatif murah. Permintaan

pangan hewani ini dari waktu kewaktu cenderung meningkat sejalan dengan

permintaan telur ayam ras sebelumnya, harga telur ayam ras sekarang, harga telur

ayam buras sekarang, harga telur bebek sekarang dan jumlah penduduk sekarang.

Faktor-faktor inilah yang perlu diteliti apakah memang benar berpengaruh

terhadap permintaan telur ayam ras.

Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan

telur ayam ras di Sumatera Utara maka keseimbangan akan tercapai, yaitu jumlah

(18)

Adapun skema kerangka pemikiran yang menunjukkan hubungan tersebut

disajikan pada gambar berikut :

Gambar 4. Skema Kerangka Pemikiran

Keterangan :

: Menyatakan hubungan : Menyatakan pengaruh

Faktor yang mempengaruhi :

1.Harga telur ayam ras 2.Harga telur ayam buras 3.Harga telur bebek 4.Jumlah penduduk Faktor yang

mempengaruhi :

1.Harga telur ayam ras 2.Populasi ayam ras

petelur

Permintaan telur ayam ras Penawaran

telur ayam ras

(19)

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah, tinjauan pustaka, dan landasan teori yang telah

dikemukakan, dugaan sementara atau hipotesis penelitian ini adalah:

1. Ada pengaruh faktor-faktor seperti harga telur ayam ras dan populasi ayam ras

petelur terhadap penawaran telur ayam ras.

2. Ada pengaruh faktor-faktor seperti harga telur ayam ras, harga telur ayam

buras, harga telur bebek dan jumlah penduduk terhadap permintaan telur ayam

ras.

3. Penawaran dan Permintaan telur ayam ras di Sumatera Utara adalah konvergen

Gambar

Tabel 3. Komposisi Zat Gizi Telur dalam 100 gram  No Zat Gizi Telur Ayam
Gambar 1. Pergeseran Kurva Penawaran
Gambar 2. Kurva Permintaan Hicks
Gambar 3. Model Cobweb
+2

Referensi

Dokumen terkait

Direktur/Direktris perusahaan yang diundang selaku peserta lelang dapat diwakilkan dan apabila tidak menghadiri undangan tanpa alasan yang jelas sampai pada batas waktu yang telah

Dampak Mitigasi Risiko Kredit ATMR Sebelum MRK ATMR Setelah MRK Kategori Portofolio. Posisi Tanggal Laporan 30

Figure 7 Model proofreading via Autodesk A360 2.2.2 Defining Project Phases : right information should be recorded in right phases. 2.2.3 Information Integration: a ll

Meneruskan Informasi dari Kemenristekdikti, Dalam rangka meningkatkan kemampuan Dosen peneliti, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat,Direktorat Jenderal Penguatan Riset

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XLI-B3, 2016 XXIII ISPRS Congress, 12–19 July 2016, Prague, Czech

Observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pada setiap pertemuan di siklus I, yaitu pertemuan 1, dan 2. Observasi untuk mengamati guru dan siswa. Hasil observasi

Ia membuat lintasan tertutup yang melingkupi kawat berarus listrik dan searah medan magnet, kemudian ia menghitung panjang lintasan tertutup tersebut dan menyatakan

Cara kerja hidrometer merupakan realisasi bunyi hukum archimede, dimana suatu benda yang dimasukan kedalam zat cair sebagian atau keseluruhan akan mengalami gaya keatas