BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Terdahulu
Kajian terdahulu tentang konjungsi yang pernah dilakukan antara lain :
1. Hadiyar (830811366) Skripsi USU tahun 1990 dengan judul “Studi
Kontrastif Huruf ‘Athaf Dalam Bahasa Arab dengan Konjungsi Dalam
Bahasa Indonesia” yang mengacu pada teori Mustafa Al-Ghulayayni dan
Al-Hasyimi untuk dalam bidang bahasa Arab sedangkan dalam bidang bahasa Indonesia teori yang dipakai mengacu pada teori yang dikembangkan oleh Kerf Gorys dan Anton Molieono dkk. Hasil penelitian antara lain: huruf ‘athaf dalam bahasa Arab sebanyak sembilan buah sedangkan konjungsi dalam bahasa Indonesia sebanyak 158 buah.
2. Farikha Asajati (A 3100090273) Skripsi Universitas Muhamaddiyyah
Surakarta tahun 2013 dengan judul “Analisis Konjungsi Antar Klausa Dalam
Kalimat Majemuk Pada Terjermahan Al-Qur`an Surat Al-Hajj” yang
hendaklah bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah dan hendaklah menyembah Allah Tuhan semesta alam.
3. Arief Abdillah Fikri (A 310100041) Skripsi Universitas Muhamaddiyyah
Surakarta tahun 2014 dengan judul “Analisis Konjungsi Pada Terjemahan
Surat An-Nisa`“ yang mengacu pada teori yang dikembangkan Abdul Chaer.
Hasil penelitian antara lain: 1) ditemukan 11 konjungsi koordinatif dan 7 konjungsi subordinatif. 2) ditemukan 6 makna konjungsi koordinatif dan 5 makna konjungsi subordinatif.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Farikha Asajati (2013) yang berjudul “Analisis Konjungsi Antar Klausa Dalam Kalimat Majemuk Pada Terjermahan
Al-Qur`an Surat Al-Hajj”memiliki persamaan dengan penelitian ini. Persamaannya
dengan penelitian ini dengan menggunakan terjemahan Al-Qur`an dan membahas konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif . Perbedaannya terletak objek yang diteliti. Pada penelitian Farikha Asajati, objek yang diteliti Antar Klausa Dalam Kalimat Majemuk Pada Terjermahan Al-Qur`an Surat Al-Hajj dengan menggunakan toeri Abdul Chaer sedangkan pada penelitian ini objek penelitiannya berupa konjungsi pada terjemahan surat Yunus dengan menggunakan teori Hasan Alwi dkk..
Pada penelitian yang dilakukan oleh Arief Abdillah Fikri (2014) yang berjudul “Analisis Konjungsi Pada Terjemahan Surat An-Nisa`” memiliki persamaan dengan penelitian ini. Persamaannya dengan penelitian ini yaitu meneliti konjungsi pada terjemahan dengan membahas pada konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif. Perbedaannya adalah pada penelitian Arief Abdillah Fikri meneliti pada terjemahan surat An-Nisa` dengan menggunakan toeri Abdul Chaer sedangkan pada penelitian ini meneliti pada terjemahan surat Yunus menggunakan teori Hasan Alwi dkk.
2.2 Pengertian Konjungsi
Konjungsi adalah bentuk atau satuan kebahasaan yang berfungsi sebagai penyambung, perangkai, atau penghubung antara kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa , kalimat dengan kalimat dan seterusnya (Harimurti Kridalaksana, 1984:105; HG Tarigan, 1987:101).
Hal senada diungkapkan Chaer (1994:269), konjungsi merupakan alat untuk menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan paragraf dengan paragraf. Dengan penggunaan konjungsi ini, hubungan antar kalimat dengan kalimat maupun paragraf dengan paragraf menjadi, lebih jelas bila dibandingkan dengan hubungan yang tanpa konjungsi.
Sementara itu, Keraf (dalam Rani, dkk., 2004:107), konjungsi dalam tata bahasa tradisional termasuk salah satu jenis kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat. Namun, dalam kenyataan pemakaian sehari-hari, konjungsi juga digunakan sebagai sarana untuk menghubungkan dua atau lebih ide yang tertuang dalam beberapa kalimat.
Istilah konjungsi dalam bahasa Arab (Al-Khuli, 1982:53) dalam bukunya
ADictionary of Theoritical Linguistics (English-Arabic) mengistilahkan konjungsi
dengan kata
ﻒﻁﺎﻋ
/āṭifun/ ʹpenyambungʹ:Conjuction :
ﺎﻤﺳﺍ ﻭﺃ ، ﻞﻌﻓ ﻰﻠﻋ ﻼﻌﻓ ﻒﻄﻌﺗ ﻱﺃ ﺐﺟﺍﻭ ﻉﻮﻧ ﻦﻣ ﻦﻴﺗﺪﺣﻭ ﻒﻄﻌﺗ ﺔﻤﻠﻛ
:
ﻒﻁﺎﻋ
ﺔﻠﻤﺟ ﻰﻠﻋ ﺔﻠﻤﺟ ﻭﺃ ﻑﺮﻅ ﻰﻠﻋ ﺎﻓﺮﻅ ﻭﺃ ﻢﺳﺍ ﻰﻠﻋ
/āṭifun : kalimatun ta’ṭifu waḥidataini min nau’in wājibin `ay ta’ṭifu fi’lan ‘alā fi’lin, `au isman ‘alā ismin `au ẓarfan ‘alā ẓarfin `au jumlatan ‘alā jumlatin/ʹpenyambung:
mencondongkan dua kata dari bagian yang penting, atau mengarahkan kata kerja dengan kata kerja, kata benda dengan kata benda, frasa dengan frasa atau kalimat dengan kalimat.ʹ
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, disimpulkan bahwa konjungsi merupakan bentuk suatu kebahasaan yang dapat berupa kata yang sangat diperlukan oleh sebuah kalimat karena konjungsi berfungsi memperjelas makna rangkaian antar kata, antar kelompok kata atau antar kalimat.
2.3 Pembagian Konjungsi
paragraf dengan paragraf.(Kridalaksana, 1983:105). Menurut Hasan Alwi, dkk (2010:301) konjungsi juga dinamakan kata sambung yang merupakan kata tugas yang menghubungkan dua satu bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Chaer (2003:110), konjungsi bertugas menghubungkan satu konstituen (baik berupa kata, frase, klausa maupun kalimat) dengan konstituen lain baik yang berada dalam kalimat maupun yang berada di luar kalimat.
Adapun yang dimaksud dengan kata, frasa, klausa dan kalimat dalam Kamus Linguistik (Kridalaksana, 1993) adalah sebagai berikut:
a. Kata (word): 1) morfem atau kombinasi oleh bahasawan dianggap sebagai
satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. 2) satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi, morfem tunggal. (1993:89). Menurut Asrori (2004:67) kata dapat diistilahkan dengan kalimah. Misal:
ﺖﻴﺑ
/baitun/ ʹrumahʹ.b. Frasa (Phrase): gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif. (1993:52). Menurut Asrori (2004:33), frasa atau tarkib adalah gabungan unsur yang saling terkait dan menempati fungsi tertentu dalam kalimat atau suatu bentuk dengan kata tunggal dalam arti gabungan kata tersebut dapat diganti dengan satu kata saja. Misal:
ﻲﻠﻋ ﺺﻴﻤﻗ
/qamīsun ʻaliyyun/ ʹbaju Aliʹ.c. Klausa (clause): satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi, kalimat. (1993:100). Menurut Asrori (2004:72-73), klausa dapat
disepadankan dengan jumlah. Misal:
ﻥﺎﺒﻌﻠﻳ ﻢﻳﺮﻛ ﻭ ﺪﻤﺣﺃ
/`aḥmadun wakarīmun yalʻabāni/ ʹAhmad dan Karim mereka berdua sedang bermainʹ.
dan sebagainya. 3) kontruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola yang tertentu dan dapat berdiri sendiri sebagai satuan. (1993:83). Adapaun menurut Asrori (2004:73), kalimat dapat disepadankan dengan istilah kalam. Misal:
ﻢﺛ
ﺍﺮﻜﺒﻣ ﻡﻮﻨﻟﺍ ﻦﻣ ﺮﺳﺎﻳ ﻆﻘﻴﺘﺳﺍ
ﺢﺒﺼﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻭ ﺄﺿﻮﺗ
/`istaiqaẓa yāsiru minan an-naumi mubakkirān ṡumma tawaḍḍa`a wa ṣalla aṣ-ṣubhi/ ʹyasir bangun tidur pagi-pagi kemudian dia berwudhu untuk sholat subuh.ʹPada terjemahan kalimat tersebut yang merupakan induk kalimat yaitu: “Yasir bagun tidur pagi-pagi” dan anak kalimatnya yaitu: “kemudian dia berwudhu untuk sholat subuh”
e. Induk kalimat atau disebut juga dengan klausa pertama adalah bagian kalimat (klausa) dari kalimat majemuk bertingkat yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat yang mempunyai potensi untuk menjadi kalimat. Sementara itu, anak kalimat atau disebut juga klausa terikat adalah bagian kalimat (klausa) yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat pelengkap. (Kridalaksana, 1983:101)
Menurut Alwi, dkk (2010:303), konjungsi dibagi menjadi, empat kelompok yaitu: 1) Konjungsi koordinatif, 2) konjungsi koleratif, 3) konjungsi subordinatif dan 4) konjungsi antar kalimat.
2.3.1Konjungsi Koordinatif
a. Konjungsi koordinatif penambahan
Konjungsi ini menghubungkan kata, frasa, klausa atau kalimat yang saling menambahkan, yaitu dan.
b. Konjungsi koordinatif pendampingan
Konjungsi ini menghubungkan kata, frasa, klausa atau kalimat yang saling berdampingan, yaitu serta.
c. Konjungsi koordinatif pemilihan
Konjungsi ini menghubungkan kata, frasa, klausa atau kalimat yangmenunjukkan pilihan, yaitu atau.
d. Konjungsi koordinatif perlawanan
Konjungsi ini menghubungkan kata, frasa, klausa atau kalimat
yangberlwawanan, seperti tetapi, melainkan.
e. Konjungsi koordinatif pertentangan
Konjungsi ini menghubungkan kata, frasa, klausa atau kalimat yang saling bertentangan, yaitu padahal, sedangkan.
Contoh: pedagang itu menjual pakaian dan kain.
Pada terjemahan suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ِﻥﺍَﺪِﻟﺍَﻮْﻟﺍ َﻙَﺮَﺗ ﺎﱠﻤِﻣ ٌﺐﻴِﺼَﻧ ِﻝﺎَﺟﱢﺮﻠِﻟ
َﻭ
ِﻥﺍَﺪِﻟﺍَﻮْﻟﺍ َﻙَﺮَﺗ ﺎﱠﻤِﻣ ٌﺐﻴِﺼَﻧ ِءﺎَﺴﱢﻨﻠِﻟَﻭ َﻥﻮُﺑَﺮْﻗﻷﺍ
ُﻪْﻨِﻣ ﱠﻞَﻗ ﺎﱠﻤِﻣ َﻥﻮُﺑَﺮْﻗﻷﺍَﻭ
ْﻭَﺃ
ﺎًﺿﻭُﺮْﻔَﻣ ﺎًﺒﻴِﺼَﻧ َﺮُﺜَﻛ
/Lirrijāli naṣībun mimmā taraka al-wālidāni wa al-aqrabūna walinnisā`i naṣībun mimmā taraka al-wālidāni wa al-aqrabūna mimmā qalla minhu `au kaṡura naṣībān mafrūḍān/" Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tuadan
kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan." (Q.S.4:7)
Pada terjemahan ayat di atas terdapat 2 (dua) konjungsi koordinatif yaitu:
2.3.2Konjungsi Korelatif
Dalam skripsi ini peneliti hanya mengkhususkan pembahasan pada konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif, namun demikian ada baiknya peneliti cantumkan sedikit uraian tentang konjungsi korelatif.
Menurut Alwi, dkk (2010:304), konjungsi korelatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh satu kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan. Hal ini juga diungkapkan kridalaksana (1983:106) bahwa konjungsi korelatif adalah konjungsi yang terdiri dari dua pasang yang menghubungkan kata, frase, atau klausa yang sederajat.
Berikut ini konjungsi yang termasuk ke dalam konjungsi korelatif adalah sebagai berikut (Alwi, dkk, 2010:302): Baik... maupun... , Tidak hanya..., tetapi juga... , Bukan hanya..., melainkan juga... Demikian... sehingga..., Sedemikian rupa... sehingga..., Apa(kah)... atau..., Entah... entah..., Jangankan... pun...
Contoh: Apa(kah) anda setuju atau tidak, kami akan jalan terus. Contohnya dalam kalimat bahasa Arab:
ﺃ
ﺮﻀﺣ ﺪﻟﺎﺧ
ﻡﺃ
ﻲﻠﻋ
/`akhalidun ḥaḍara `am ʻaliyyun / ʹApakah Ali atau Khalid yang datangʹ.
2.3.3Konjungsi Subordinatif
Contoh : aku tertidur ketika ayah pulang kerja. Pada contoh tersebut dapat dilihat bahwa “aku tertidur” merupakan induk kalimat sedangkan “ayah pulang kerja” merupakan anak kalimat.
Berikut ini adalah kelompok-kelompok dari konjungsi subordinatif antara lain (2010:305):
a. Konjungsi subordinatif waktu 1. Sejak, semenjak, sedari.
Contoh: kenakalan anak itu bertambah sejak ia kembali dari kota. Pada suratAl-A’araf, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ْﻦِﻣ ﺎَﻧُﺅﺎَﺑﺁ َﻙَﺮْﺷَﺃ ﺎَﻤﱠﻧِﺇ ﺍﻮُﻟﻮُﻘَﺗ ْﻭَﺃ
ُﻞْﺒَﻗ
َﻥﻮُﻠِﻄْﺒُﻤْﻟﺍ َﻞَﻌَﻓ ﺎَﻤِﺑ ﺎَﻨُﻜِﻠْﻬُﺘَﻓَﺃ ْﻢِﻫِﺪْﻌَﺑ ْﻦِﻣ ًﺔﱠﻳﱢﺭُﺫ ﺎﱠﻨُﻛَﻭ
/Au taqūlū `innamā `asyraka `ābā`unā min qablu wakunnā żurrīyyatan min baʻdihim `afatuhlikunā bimā faʻala al-mubṭilūna/ ʹatau agar kamu tidak mengatakan: 'Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Allah, sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan, yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami, karena perbuatan orang-orang yang yang sesat dahulu.ʹ (Q.S.7:173)
Pada terjemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹsejak dahuluʹmenyatakan makna hubungan waktu yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Allah” dengan “sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan, yang (datang) sesudah mereka”.
2. Sewaktu, ketika, tatkala, sementara, begitu, seraya, selagi, selama, serta, sambil, demi.
Contoh: Pak Bukhari sudah meninggal ketika dokter datang. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ْﻢُﻬَﻌَﻣ َﻮُﻫَﻭ ِﷲ َﻦِﻣ َﻥﻮُﻔْﺨَﺘْﺴَﻳ َﻻَﻭ ِﺱﺎﱠﻨﻟﺍ َﻦِﻣ َﻥﻮُﻔْﺨَﺘْﺴَﻳ
ʹMereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat
Pada terjemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif
yaitu: ʹketikaʹmenyatakan hubungan makna hubungan waktu yang
menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka” untuk menyatakan hubungan antara induk kalimat dan anak kalimat yaitu: “ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridhai-Nya”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹketikaʹ.
3. Setelah, sesudah, sebelum, sehabis, selesai, seusai.
Contoh: sebelum kepergiannya, ia menulis telah menulis sebuah puisi. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ْﻦِﻣ َﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ َﻦَﻨُﺳ ْﻢُﻜَﻳِﺪْﻬَﻳَﻭ ْﻢُﻜَﻟ َﻦﱢﻴَﺒُﻴِﻟ ُﷲ ُﺪﻳِﺮُﻳ
ُﻚِﻠْﺒَﻗ
ٌﻢﻴِﻜَﺣ ٌﻢﻴِﻠَﻋ ُﷲَﻭ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ َﺏﻮُﺘَﻳَﻭ ْﻡ
/Yurīdullahu liyubayyina lakum wayahdiyakum sunana al-lażīna min qablikum wayatūba ʻalaikum wallahu ʻalīmun hakīmun/ ʹAllah hendak menerangkan (syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukkan jalan-jalan (kehidupan) orang yang sebelum kamu (para nabi dan orang-orang saleh) dan Dia menerima taubatmu. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana .ʹ (Q.S.4:26)
Pada terjemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif
yaitu: ʹsebelumʹmenyatakan makna hubungan waktu yang menghubungkan
antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “Allah hendak menerangkan (syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukkan jalan-jalan (kehidupan) orang yang” dengan “sebelum kamu (para nabi dan orang-orang saleh) dan Dia menerima taubatmu”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹsebelumʹ.
4. Hingga, sampai.
Contoh: Budi mengurusi adik-adiknya hingga bapaknya pulang dari kantor. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ِﺕﺎَﺌﱢﻴﱠﺴﻟﺍ َﻥﻮُﻠَﻤْﻌَﻳ َﻦﻳِﺬﱠﻠِﻟ ُﺔَﺑْﻮﱠﺘﻟﺍ ِﺖَﺴْﻴَﻟَﻭ
ﻰﱠﺘَﺣ
َﻥﻵﺍ ُﺖْﺒُﺗ ﻲﱢﻧِﺇ َﻝﺎَﻗ ُﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﻢُﻫَﺪَﺣَﺃ َﺮَﻀَﺣ ﺍَﺫِﺇ
/Walaisati at-taubatu lillażīna yaʻmalūna as-sayyi`āti ḥatta `iʹā haḍara `aḥadahumu al-mautu qāla `innī tubtu al-`āna walā al-lażīna yamūtūna wahum kuffārun `ūla`ika `aʻtadnā lahum ʻażābān `alīmān/ ʹDan taubat itu
tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan ʹʹSaya benar-benar bertobat sekarang.ʹʹ Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.ʹ (Q.S.4:18)
Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif
yaitu: ʹ hinggaʹmenyatakan makna hubungan waktu yang menghubungkan
antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan” sedangkan anak kalimat terdapat pada kalimat : “hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan ʹʹSaya benar -benar bertobat sekarang.ʹʹ”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹsebelumʹ.
b. Konjungsi subordinatif syarat : jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala. Contoh: saya akan melaksanakan ibadah haji jika tanah saya laku dijual. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ْﻥِﺇ
ﺍًﺮﻳِﺪَﻗ ﺍًّﻮُﻔَﻋ َﻥﺎَﻛ َﷲ ﱠﻥِﺈَﻓ ٍءﻮُﺳ ْﻦَﻋ ﺍﻮُﻔْﻌَﺗ ْﻭَﺃ ُﻩﻮُﻔْﺨُﺗ ْﻭَﺃ ﺍًﺮْﻴَﺧ ﺍﻭُﺪْﺒُﺗ
/`In tubdū khairān` au tukhfūhu `au taʻfūʻan sū`in fa`innallaha kāna ʻafūwwān qadīrān/ʹJika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sungguh Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa.ʹ (Q.S.4:149)
Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹjikaʹ menyatakan hubungan makna syaratyang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain)” dengan “maka sungguh Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹjikaʹ.
c. Konjungsi subordinatif kemiripan : andaikan, seandainya, umpamanya,
Contoh: saya pasti memaafkannya seandainya dia mau mengakui kesalahannya. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
َﺮْﻴَﻏ ْﻊَﻤْﺳﺍَﻭ ﺎَﻨْﻴَﺼَﻋَﻭ ﺎَﻨْﻌِﻤَﺳ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﻳَﻭ ِﻪِﻌِﺿﺍَﻮَﻣ ْﻦَﻋ َﻢِﻠَﻜْﻟﺍ َﻥﻮُﻓﱢﺮَﺤُﻳ ﺍﻭُﺩﺎَﻫ َﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ َﻦِﻣ
lakāna khairān lahum wa `aqwama walakin laʻanahumullahu bikufrihim falā yu`minūna `illā qalīlān/ ʹ(Yaitu)di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Dan mereka berkata: 'Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya'. Dan (mereka mengatakan pula): 'Dengarlah', sedang (engkau Muhammad sebenarnya) tidak mendengar apa pun. Dan (mereka mengatakan): 'Rā'ina', dengan memutarbalikkan lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: 'Kami mendengar dan patuh, dan perhatikanlah kami', tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, tetapi Allah melaknat mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman, kecuali sedikit sekali.ʹ (Q.S.4:46)Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹ sekiranyaʹ menyatakan makna hubungan yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “Dan (mereka mengatakan):
'Rā'ina', dengan memutarbalikkan lidahnya dan mencela agama” dengan
“Sekiranya mereka mengatakan: 'Kami mendengar dan patuh, dan perhatikanlah kami'”.Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi
ʹsekiranyaʹ.
d. Konjungsi subordinatif tujuan : agar, supaya, biar. Contoh: Ana harus belajar yang rajin agar naik kelas.
Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹagarʹ menyatakan hubungan makna tujuan yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” dengan “tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹagarʹ.
e. Konjungsi subordinatif konsesif
Konjungsi yang menyatakan keadaan atau kondisi yang berlawanan dengan ssesuatu yang dinyatakan pada induk kalimat, seperti: Biarpun, meski(pun), walau(pun), sekalipun, sungguhpun, kendati(pun).
Contoh: Pembangunan tetap berjalan meskipun dana semakin menyempit. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ُﻢِﻠْﻈَﻳ َﻻ َﷲ ﱠﻥِﺇ
َﻝﺎَﻘْﺜِﻣ
ﺎًﻤﻴِﻈَﻋ ﺍًﺮْﺟَﺃ ُﻪْﻧُﺪَﻟ ْﻦِﻣ ِﺕْﺆُﻳَﻭ ﺎَﻬْﻔِﻋﺎَﻀُﻳ ًﺔَﻨَﺴَﺣ ُﻚَﺗ ْﻥِﺇَﻭ ٍﺓﱠﺭَﺫ
/Innallaha lā yaẓlimu miṡqāla żarratin wa `in taku ḥasanatan yuḍāʻifhā wayu`ti min ladunhu `ajrān ʻaẓīmān/ ʹSungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.ʹ (Q.S.4:40)
Pada terjemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹmeskipunʹmenyatakan hubungan makna konsesif yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “Allah tidak akan menzalimi seseorang” dengan “sebesar zarrah”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹwalaupunʹ.
f. Konjungsi subordinatif pembandingan : seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, ibarat, daripada, alih-alih.
Contoh: Beli kemeja batik saja daripada baju kaos untuk pertemuan nanti. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ُﻕَﺪ ْﺻَﺃ ْﻦَﻣَﻭ ِﻪﻴِﻓ َﺐْﻳَﺭ َﻻ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ ِﻡْﻮَﻳ ﻰَﻟِﺇ ْﻢُﻜﱠﻨَﻌَﻤْﺠَﻴَﻟ َﻮُﻫ ﱠﻻِﺇ َﻪَﻟِﺇ َﻻ ُﷲ
َﻦِﻣ
ﺎًﺜﻳِﺪَﺣ ِﷲ
Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif
yaitu: ʹ daripadaʹ menyatakan makna hubungan pembandingan yang
menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut : “Siapakah yang lebih benar perkataan(nya)” dengan “daripada Allah”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹdaripadaʹ.
g. Konjungsi subordinatif sebab : sebab, karena, oleh karena, oleh sebab. Contoh: Hari ini dia tidak masuk kantor karena sakit.
Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ْﻢُﻜْﻨَﻋ َﻒﱢﻔَﺨُﻳ ْﻥَﺃ ُﷲ ُﺪﻳِﺮُﻳ
َﻭ
ﺎًﻔﻴِﻌَﺿ ُﻥﺎَﺴْﻧِﻹﺍ َﻖِﻠُﺧ
/Yurīdullahu `an yukhaffifa ʻankum wakhuliqa al-`insānu ḍaʻīfān/ ʹAllah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.ʹ (Q.S.4:28)
Pada terjemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹkarenaʹmenyatakan makna hubungan sebab yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut : “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu” dengan “karena manusia diciptakan (bersifat) lemah”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹkarenaʹ.
h. Konjungsi subordinatif hasil : sehingga, sampai, maka(nya).
Contoh: Ayah belum mengirim uang sehingga kami belum dapat membayar uang kuliah.
Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ﻲِﻓ َﻦﻴِﻔَﻌْﻀَﺘْﺴُﻣ ﺎﱠﻨُﻛ ﺍﻮُﻟﺎَﻗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ َﻢﻴِﻓ ﺍﻮُﻟﺎَﻗ ْﻢِﻬِﺴُﻔْﻧَﺃ ﻲِﻤِﻟﺎَﻅ ُﺔَﻜِﺋﻼَﻤْﻟﺍ ُﻢُﻫﺎﱠﻓَﻮَﺗ َﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﱠﻥِﺇ
ًﺔَﻌِﺳﺍَﻭ ِﷲ ُﺽْﺭَﺃ ْﻦُﻜَﺗ ْﻢَﻟَﺃ ﺍﻮُﻟﺎَﻗ ِﺽْﺭﻷﺍ
َﻑ
ْﺕَءﺎَﺳَﻭ ُﻢﱠﻨَﻬَﺟ ْﻢُﻫﺍَﻭْﺄَﻣ َﻚِﺌَﻟﻭُﺄَﻓ ﺎَﻬﻴِﻓ ﺍﻭُﺮِﺟﺎَﻬُﺗ
ﺍًﺮﻴِﺼَﻣ
/Inna al-lażīna tawaffāhumu al-malā`ikatu ẓālimī`anfusihim qālū fīma kuntum qālū kunnā mustaḍ'afīna fī al-arḍi qālū alam takun arḍullahi wāsiʻatan fatuhājirū fīhā fa`ūla`ika ma`wāhum jahannamu wasā`at maṣīrān/
ʹSesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam
tempatnya di neraka Jahannam, dan (Jahannam) itu seburuk-buruk tempat kembaliʹ. (Q.S.4:97)
Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹsehinggaʹmenyatakan makna hubungan hasil yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “Bukankah bumi Allah itu luas” dengan “sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹsehinggaʹ.
i. Konjungsi subordinatif alat : dengan, tanpa.
Contoh: ular itu dibunuhnya dengan menggunakan sepotong kayu. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ُﻪَﻟَﺰْﻧَﺃ َﻚْﻴَﻟِﺇ َﻝَﺰْﻧَﺃ ﺎَﻤِﺑ ُﺪَﻬْﺸَﻳ ُﷲ ِﻦِﻜَﻟ
ِﺏ
ﺍًﺪﻴِﻬَﺷ ِﻟﺎِﺑ ﻰَﻔَﻛَﻭ َﻥﻭُﺪَﻬْﺸَﻳ ُﺔَﻜِﺋﻼَﻤْﻟﺍَﻭ ِﻪِﻤْﻠِﻋ
/Lakinillahu yasyhadu bimā`anzala `ilaika `anzalahu biʻilmihi wa al-malā`ikatu yasyhadūna wakafa billahi syahīdān/ʹTetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur`an) yang diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan para malaikat pun menyaksikan. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.ʹ (Q.S.4:166)
Pada terjemahn ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹdenganʹ menyatakan makna hubungan alat yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat sepertiberikut: “Tetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur`an) yang diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad) Dia menurunkannya” dengan “dengan ilmu-Nya, dan para malaikat pun menyaksikan”.
j. Konjungsi subordinatif cara : dengan, tanpa.
Contoh: dia menghindar dari kejaran tersebut dengan bersembunyi di belakang dinding.
Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ِﺱﺎﱠﻨﻟﺍ َﻦْﻴَﺑ َﻢُﻜْﺤَﺘِﻟ ﱢﻖَﺤْﻟﺎِﺑ َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ َﻚْﻴَﻟِﺇ ﺎَﻨْﻟَﺰْﻧَﺃ ﺎﱠﻧِﺇ
ِﺏ
ﺎًﻤﻴِﺼَﺧ َﻦﻴِﻨِﺋﺎَﺨْﻠِﻟ ْﻦُﻜَﺗ َﻻَﻭ ُﷲ َﻙﺍَﺭَﺃ ﺎَﻣ
Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹdenganʹmenyatakan makna hubungan cara yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut : “agar engkau mengadili antara manusia” dengan “dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹdenganʹ.
k. Konjungsi subordinatif komplementasi
Konjungsi yang menyatakan untuk melengkapi atau menyempurnakan kata atau frasa lain, yaitu:bahwa.
Contoh: mereka berkata bahwa mereka akan berkunjung besok. Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ِﺏ َﻦﻴِﻘِﻓﺎَﻨُﻤْﻟﺍ ِﺮﱢﺸَﺑ
ﱠﻥَﺃ
ﺎًﻤﻴِﻟَﺃ ﺎًﺑﺍَﺬَﻋ ْﻢُﻬَﻟ
/Basysyiri al-munāfiqīna bi`anna lahum ʻażābān `alīmān/ ʹKabarkanlah kepada
orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih.ʹ
(Q.S.4:138)
Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif yaitu: ʹbahwaʹ menyatakan makna komplementasi yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik” dengan “bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹbahwaʹ.
l. Konjungsi subordinatif atribut :
Konjungsi yang menyatakan bahwa kata atau kalimat yg berikut diutamakan atau dibedakan dari yang lain,atau menyatakan bahwa bagian kalimat yang berikutnya menjelaskan kata yang di depan, yaitu:yang.
Contoh: kami menulis apa yang dikatakannya.
Pada surat Yunus, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ِ ِﻟَﻭ
(pengetahuan) Allah meliputi segala sesuatu.ʹ (Q.S.4:126)yang menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut : “Dan milik Allah-lah apa” dengan “yang ada di langit” dan “apa yang ada di langit dan apa” dengan “yang di bumi”. Jadi, antara induk kalimat dan anak kalimat dipisah oleh konjungsi ʹbahwaʹ.
m. Konjungsi subordinatif perbandingan : sama... dengan, lebih... dari(pada)... Contoh: restoran ini lebih bersih dari(pada) restoran itu.
Pada suratAn-Nisa`, salah satunya terdapat pada ayat berikut:
ﺎًﻨﻳِﺩ ُﻦَﺴ ْﺣَﺃ ْﻦَﻣَﻭ
ْﻦﱠﻤِﻣ
ُﷲ َﺬَﺨﱠﺗﺍَﻭ ﺎًﻔﻴِﻨَﺣ َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ َﺔﱠﻠِﻣ َﻊَﺒﱠﺗﺍَﻭ ٌﻦِﺴْﺤُﻣ َﻮُﻫَﻭ ِ ﱠ ِﻟ ُﻪَﻬْﺟَﻭ َﻢَﻠْﺳَﺃ
ًﻼﻴِﻠَﺧ َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ
/Waman `aḥsanu dīnān mimman `aslama wajhahu lillahi wahuwa muḥsinun wāttabaʻa millata `ibrāhīma ḥanīfan wa`attakhażallahu `ibrāhīma khalīlān/
ʹDan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim mejadi kesayangan(Nya).ʹ (Q.S.4:125)
Pada tejemahan ayat di atas terdapat 1 (satu) konjungsi subordinatif
yaitu: ʹle bih... daripada...ʹ menyatakan makna perbandingan yang
menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat seperti berikut: “siapakah yang lebih baik agamanya” dengan “daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allahsedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus”.
2.3.4Konjungsi Antarkalimat
Sama halnya dengan konjungsi korelatif, konjungsi antarkalimat hanya peneliti cantumkan sedikit uraian dikarenakan dalam skripsi ini peneliti hanya mengkhususkan pembahasan pada konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.
a. Menyatakan pertentangan pada kalimat sebelumnya: biarpun demikian/begitu,
sekalipun demikian/begitu, walaupun demikian/begitu, meskipun
demikian/begitu, sungguhpun demikian/begitu.
Contoh: Kami tidak sependapat dengan dia. Biarpun begitu, kami tidak akan menghalanginya.
b. Menyatakan kelanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya:
kemudian, sesudah itu, setelah itu, selanjutnya.
Contoh: mereka berbelanja di Glodok. Sesudah itu, mereka pergi ke saudaranya di Ancol.
c. Menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya: Tambahan pula, lagi pula, selain itu.
Contoh: Pak Dana terkena penyakit kencing manis. Selain itu, dia juga mengidap terkana darah tinggi.
d. Menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya: sebaliknya. Contoh: penjahat itu tidak mengindahkan tembakan peringatan.
Sebaliknya, dia melawan polisi dengan belati.
e. Menyatakan keadaan sebenarnya: sesungguhnya dan bahwasanya. Contoh: masalah yang dihadapinya memang gawat. Sesungguhnya,
masalah ini sudah dia ramalkan sebelumnya.
f. Menyatakan untuk menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya:
malah(an) dan bahkan.
Contoh: Pak Amir sudah tahu tentang soal itu. Bahkan, dia suda h mulai Menanganinya.
g. Menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya: (akan) tetapi dan
namun.
Contoh: keadaan memang sudah mulai aman. Akan tetapi, kita harus tetap waspada.
h. Menyatakan keeksklusifan dan keinklusifan: kecuali itu.
Contoh: mereka tidak akan datang kecuali itu ada yang datang menjemput. i. Menyatakan konsekuensi: dengan demikian.
dengan berakhirnya persembahan tadi. j. Menyatakan akibat: oleh karena itu, oleh sebab itu.