• Tidak ada hasil yang ditemukan

DWITA MARCHELA 21020113130089 BAB V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DWITA MARCHELA 21020113130089 BAB V"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

104 BAB V

PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Program Ruang

Berdasarkan hasil analisa dan perhitungan, maka diperoleh hasil besaran ruang perencanaan City Hotel Bintang 5 di Palembang.

Rincian Perhitungan Besaran Ruang City Hotel Bintang 5 di Palembang Tabel 5.1 Kelompok Kegiatan Penerimaan

No. Jenis Ruang Total Luas (m²)

Total Luasan Kelompok Ruang Kegiatan Penerima 1.065,22m² = ± 1.065m² Sumber: (Analisis pribadi, 2017)

Tabel 5.2 Kelompok Kegiatan Utama

No. Jenis Ruang Total Luas (m²)

Total Luasan Kelompok Ruang Kegiatan Utama 9.735,6m² = ± 9.740m²

Sumber: (Analisis pribadi, 2017)

Table 5.3 Kelompok Kegiatan Penunjang

(2)

105

Subtotal 3.938,57 m²

Sirkulasi 30% 1.181,57 m²

Total Luasan Kelompok Ruang Kegiatan Penunjang 5.120,14m² = ± 5.120m²

Sumber: (Analisis pribadi, 2017)

Tabel 5.4 Kelompok Kegiatan Pengelola

No. Jenis Ruang Total Luas (m²)

Total Luasan Kelompok Ruang Kegiatan Pengelola 998,54m² = ± 1.000m² Sumber: (Analisis pribadi, 2017)

Tabel 5.5 Kelompok Kegiatan Pelayanan

No. Jenis Ruang Total Luas (m²)

(3)

106 Tabel 5.6 Kelompok Ruang Parkir

No. Jenis Ruang Total Luas (m²)

1. Parkir pengunjung menginap - Mobil

- Motor

1.462,5 m² 146,25 m² 2. Parkir pengunjung tidak menginap

- Mobil - Motor

1.162,5 m² 116,25 m² 3. Parkir pengelola

- Mobil - Motor

425 m² 90 m²

4. Parkir bus 57 m²

5. Parkir mobil barang 85 m²

Subtotal 3.544,5 m²

Sirkulasi 100% 3.544,5 m²

Total Luasan Kelompok Ruang Parkir 7.089 m²

Sumber: (Analisis pribadi, 2017)

Dari perhitungan di atas, maka diperoleh hasil rekapitulasi besaran ruang sebagai berikut. Tabel 5.7 Rekapitulasi Perhitungan Besaran Ruang City Hotel

No. Kelompok Kegiatan Luas (m²)

1. Kelompok Kegiatan Penerimaan ±1.065m² 2. Kelompok Kegiatan Utama ±9.740m² 3. Kelompok Kegiatan Penunjang ±5.120m² 4. Kelompok Kegiatan Pengelola ±1.000m² 5. Kelompok Kegiatan Pelayanan ±2.150m²

6. Kelompok Ruang Parkir ±7.089m²

Jumlah ±26.164m²

Sumber: (Analisis pribadi, 2017)

5.1.2 Tapak Terpilih

Gambar 5.1 Lokasi Rencana Tapak Pembangunan City Hotel di Palembang

(4)

107 Tapak terpilih terletak di Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang.

Lokasi : Jl. Gub. H. A. Bastari, Palembang

Zona : Perdagangan dan jasa (Sub-Pusat Pelayanan Kota) Luas Tapak : ±12.915 m²

Kontur : Relatif datar

Akses : Jalan kolektor primer (Jl. Gub. H. A. Bastari) Batas-batas : Utara : Jalan lingkungan

Selatan : Jalan lingkungan (Lr. Tembesu)

Timur : Jalan kolektor primer (Jl. Gub. H. A. Bastari) Barat : Jalan lingkungan (Lr. Tembesu)

KDB : Paling tinggi 80% KLB : Paling tinggi 8 KDH : Paling rendah 20%

GSB : 5 m

Gambar 5.2 Kondisi Tapak Terpilih Gambar 5.3 Kondisi Tapak Terpilih City Hotel di Palembang City Hotel di Palembang Sumber: Dokumen Pribadi Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 5.4 Luasan Rencana Tapak Pembangunan City Hotel di Palembang

(5)

108 Potensi tapak:

1. Terletak di kawasan strategis kota Palembang dengan akses pencapaian yang mudah karena berada di depan jalan kolektor primer yaitu Jl. Gub. H. A. Bastari;

2. Berada di tengah-tengah akses menuju sungai musi-jembatan ampera sebagai ikon kota Palembang dan Stadion Gelora Sriwijaya;

3. Dekat dengan fasilitas bisnis dan perkantoran;

4. Sistem transportasi semakin mudah karena dilalui oleh LRT zona 5;

5. Merupakan zona perdagangan dan jasa, diperuntukkan untuk pembangunan jasa pariwisata salah satunya pembangunan Hotel.

5.2 Program Dasar Perancangan 5.2.1 Aspek Kinerja

Tabel 5.8 Aspek Kinerja Perancangan City Hotel

No. Aspek Kinerja Keterangan

1. Sistem Pencahayaan Pencahayaan alami

 Untuk kenyamanan pengunjung, pencahayaan alami yang digunakan adalah terang langit melalui penggunaan kaca sunergy untuk meredam panas matahari (low emmisivity).  Pemanfaatan cahaya pada kegiatan atau ruangan tertentu

untuk menghasilkan suasana berbeda. Pencahayaan buatan

 Jenis lampu yang digunakan adalah lampu hemat energi seperti fluorescent dan LED karena jenis lampu ini menggunakan energy listrik lebih sedikit dibandingkan pencahayaan buatan lain.

 Menggunakan energy saver yang akan mematikan lampu lampu tertentu tanpa harus dimatikan manual.

 Pencahayaan buatan juga digunakan untuk aspek estetika dan dekoratif ruangan tertentu.

2. Sistem Penghawaan Penghawaan alami

 Menggunakan elemen vegetasi sebagai pengontrol/ pengendali suhu udara terhadap radiasi, konveksi, refleksi sinar matahari.

 Merancang perlubangan (ventilasi) untuk pengaliran udara serta filter udara yang baik.

 Penggunaan kaca sunergy untuk mengurangi beban kebutuhan untuk pendingin ruangan.

Penghawaan buatan

 AC digunakan untuk ruang-ruang yang membutuhkan pengkondisian udara secara total, namun dengan daya yang tidak terlalu besar.

(6)

109 3. Sistem Jaringan Air

Bersiih

Sumber air bersih menggunakan air bersih dari PDAM. Menggunakan sistem Down Feed Distribution System. Sumber air bersih ditampung didalam ground tank, kemudian dipompa ke roof tank dan selanjutnya dialirkan ke ruang-ruang yang membutuhkan.

4. Sistem Jaringan Air Kotor

Untuk air kotor, dibedakan menjadi black water dan grey water.  Air kotor padat (black water) yang berasal dari kloset, urnal,

bidet dan alat buangan lainnya diteruskan meunuju shaft air kotor padat disalurkan ke STP (Sewage Traetment Plant) –riol kawasan – dilanjutkan ke riol kota.

 Untuk grey water yang berasal dari wastafel, sink dapur, dan lainnya dapat ditreatment kemudian digunakan kembali. Dalam menyalurkan air hujan, perlu diperhatikan peletakan talang, jumlah dan ukuran penampang saluran pipa pembuang ke bak kontrol.

5. Sistem Jaringan Listrik

 Sebagian besar sumber listrik berasal dari PLN yang akan disalurkan ke tiap ruangan yang ada.

 Penggunaan solar cell sebagai senergi tambahan.  Ketersediaan listrik selama 24 jam non stop.

 Pembangkit energi listrik sebisa mungkin ramah lingkungan. 6. Sistem Pembuangan

Sampah

Sistem pembuangan sampah yang digunakan menggunakan 2 cara yaitu collection (pengumpulan) dan layanan core. Sampah kertas didaur ulang. Sampah yang lain diangkut oleh mobil pengangkut sampah menuju TPA kota.

7. Sistem Pencegahan Kebakaran

Beberapa sistem yang digunakan untuk mencegah kebakaran yakni:

Sistem Proteksi Aktif Kebakaran

Fire detection, berguna untuk mengetahui timbulnya api sedini mungkin yang berhubungan dengan sistem yang secara otomatis bekerja bila detector bereaksi.

Fire Protection

Sistem fire protection yang digunakan adalah sistem sprinkler dan Fire extinguisher.

 Penggunaan Hydrant boxcabinet penempatannya sekitar bangunan dengan radius jangkauan 30 meter.

Sistem Proteksi Pasif Kebakaran

 Perencanaan dan desain site, akses dan lingkungan bangunan.  Perencanaan struktur bangunan.

 Perencanaan material konstruksi dan interior bangunan.  Perencanaan daerah dan jalur penyelamatan (evakuasi) pada

bangunan.

 Perencanaan tangga darurat.

(7)

110 8. Sistem Komunikasi Penggunaan Wi-Fi dengan penepatan router di area tertentu.

Untuk komunikasi ekstern menggunakan telepon kabel yang tersedia di setiap kamar maupun ruangan pengelola. Untuk komunikasi intern menggunakan intercom dan untuk tata suara pada ruangan seperti ruang meeting, ruang serbaguna maupun di public area menggunakan pengeras suara yang diletakkan disudut-sudut yang tepat dan dikendalikan oleh operator. Sedangkan untuk sistem televisi dan parabola dipasang di tiap unit kamar maupun ruang-ruang tamu bersama yang bersifat publik.

9. Sistem Penangkal Petir

Menggunakan sistem franklin, dengan prinsip kerja baja galvanus yang dipasang pada puncak atap dengan jarak yang terukur dan dihubungkan dengan kawat menuju ground.

10. Sistem Keamanan Sistem keamanan yang digunakan adalah CCTV yang diletakkan di titik-titik tertentu pada bangunan. Sistem keamanan CCTV akan terhubung dengan sistem BMS (Building Management System) dan BAS (Building Automation System).

Sumber: (Analisis pribadi, 2017)

5.2.2 Aspek Teknis

Tabel 5.9 Aspek Teknis Perancangan City Hotel

No. Aspek Teknis Keterangan

1. Sistem Struktur  Struktur bangunan menggunakan struktur yang cocok untuk bangunan tingkat tinggi.

 Untuk pondasi menggunakan pondasi tiang pancang maxipile.  Untuk sistem struktur sendiri menggunakan sistem struktur

plat, balok, kolom.

 Atap menggunakan plat beton dengan ketentuan tertentu. 2. Bahan Bangunan  Menyesuaikan pada konsep bangunan arsitektur

kontekstualisme.

 Mempertimbangkan klimatologis wilayah.

 Menyesuaikan dengan konstruksi dan modul bangunan.  Meliputi jenis, warna, bahan, yang akan memberikan

identitas terhadap bentuk bangunan.

 Menghindari penggunaan material VOC (Volatile Organic Compound) untuk mengurangi bau yang tersebar ke seluruh ruangan.

(8)

111 5.2.3 Aspek Arsitektural

Gambar

Tabel 5.1 Kelompok Kegiatan Penerimaan
Tabel 5.5 Kelompok Kegiatan Pelayanan
Tabel 5.6 Kelompok Ruang Parkir
Gambar 5.4 Luasan Rencana Tapak Pembangunan  City Hotel di Palembang Sumber: Dokumen Pribadi
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pada aplikasi tata udara untuk hunian manusia, mesin yang digunakan dapat ditemui mulai dari skala kecil seperti AC window dan AC split, sampai dengan skala menengah dan

berlainan... Ruang kerja yang terlalu padat penghuninya dan sistem AC yang kurang terawat dengan sirkulasi udara yang kurang memadai akan dapat meningkatkan

Air conditioning (AC) adalah suatu mesin pendingin sebagai sistem pengkondisian udara yang digunakan dengan tujuan untuk memberikan rasa nyaman bagi penghuni yang

Sistem mekanis yaitu sistem pengkondisian udara dalam ruang yang mempergunakan alat mekanis (listrik) misalnya kipas angin yang digunakan untuk mempercepat pergerakan udara dengan

Selain jendela dan ventilasi, digunakan sistem tata udara pada bangunan, sehingga tercipta kenyamanan bagi penghuni, yaitu AC (Air Conditioning), yang berfungsi untuk mempertahankan

Diksi atau pilihan kata yang digunakan dalam keempat puisi tersebut pada umumnya lebih banyak terdapat makna konotasi namun tidak terlalu signifikan antara penggunaan

AC split duct tidak pernah terlepas dari sistem ducting yang merupakan bagian penting dalam sistem AC sebagai alat penghantar udara yang telah dikondisikan dari sumber dingin ataupun

Perencanaan sistem ventilasi dan pengkondisian udara gedung menurut standar SNI ini dapat digunakan sebagai acuan menentukan beban pendinginan, pemilihan kapasitas alat fan dan