• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pluralitas Hukum Perceraian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pluralitas Hukum Perceraian"

Copied!
309
0
0

Teks penuh

(1)

Memahami Makna, Alasan, Proses, dan Akibat Hukum Perceraian menurut Hukum Nasional, Hukum Islam,

dan Hukum Adat di Indonesia

PLURALITAS HUKUM PERCERAIAN

1XV\X]

2

2SLQLR\XULVVLYHQHFHVVLWDWLV 3

3HUNDUD3URGHR 3HWLWXP 3RVLWD

4

4L\DV 5

5DKPDK 5DWLR'HFLGHQGL 5HOLJLRXV1DWLRQ6WDWH 5XMXN

6

6KDULK

6LJKDWWDODN 6KXOK

6XQQDK 6\LUNDK

6\LTDT 6\VWHPRI5HDVRQV

7

7DODT

7DODN%D·LQ 7DODN%LG·DK 7DODN0XEDV\LU 7DODN5DM·L 7DODN6XQQDK 7DODN7DIZLGK 7DODN7D·OLN 7DODN7DQMLV 7DODN7DZNLO

7D·OLN7DODN

7DQWXP 'HYROXWXP 4XDQWXP $SHOODWXP

7KH %LQGLQJ )RUFH RI 3UHFHGHQW

8

8UI 9

9HU]HW 9HUVWHN =

(2)

*/%&,4

$

$O$KNDP$ONKDPVDK $O0XVWDUDEDK

$O4XU·DQ $XGL(W$OWHUDP3DUWHP %

%DOLJK &

&HUDL*XJDW &HUDL7DODT '

'HUGHQ9HU]HW )

)DKLVDK

)DVDNK

)LG\DK +

+DGKDQDK

,

,GGDK ,MDE4DEXO

,MPD· ,OD·

,VWLKVDQ

,VWLVKODK

,WVEDWQLNDK ,XV&XULD1RYLW ,ZDGK

--XVQRQVFULSWXP .

.KXOX·

.KXOX·DMQDEL .LQD\DK /

/L·DQ

0

0DKDU 0DTDVKLGDV\V\DULDK

0DZDGGDK 0LWVDDTRQJKDOL]D 0XDOODT

0XEDUD·DK 0XQ]L]

0XW·DK 1

(3)

Memahami Makna, Alasan, Proses,

dan Akibat Hukum Perceraian

menurut Hukum Nasional, Hukum Islam,

dan Hukum Adat di Indonesia

PLURALITAS

HUKUM PERCERAIAN

Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum.

(4)

Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum. Sri Turatmiyah, S.H., M.Hum.

Annalisa Yahanan, S.H., M.Hum.

Tata Tampilan Isi dan Sampul z

z z z

z Indro Basuki

Penerbit

TUNGGAL MANDIRI PUBLISHING Anggota IKAPI JTI No. 120

Jln. Taman Kebun Raya A-1 No. 9 Pakis Malang 65154

Tlp./Fax. (0341) 795261 / 2991813 e-mail: [email protected] Jumlah: xvi + 602 hlm.

Ukuran: 14 x 21 cm Cetakan I, Maret 2012 ISBN: 978-602-8878-28-9

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

PLURALITAS HUKUM PERCERAIAN Memahami Makna, Alasan, Proses, dan Akibat Hukum Perceraian Menurut Hukum Nasional, Hukum Islam, dan Hukum Adat di Indonesia

8

8UI $GDWLVWLDGDW\DQJWLGDNEHUWHQWDQJDQGH QJDQKXNXP,VODPDO4XU·DQGDQ6XQQDK 5DVXOXOODK 6DZ \DQJ EHUNDLWDQ GHQJDQ VRDOPXDPDODW\DQJNHPXGLDQDGDWLVWLDGDW WHUVHEXWGDSDWGLNXNXKNDQPHQMDGLKXNXP DOD·DGDWXPXKDNNDPDK

9

9HU]HW 3HUODZDQDQSHQJJXJDWDWDVSXWXVDQKDNLP

WDQSDKDGLUQ\DWHUJXJDWGLSHQJDGLODQDWDX VHEDOLNQ\D

9HUVWHN 3XWXVDQKDNLPWDQSDKDGLUQ\DSHQJJXJDW

DWDXWHUJXJDWGLSHQJDGLODQ

=

=KLKDU %HQWXNSHUFHUDLDQ\DQJWHUMDGLNDUHQDVXD

(5)

S

uatu kebanggaan bagi Penulis, selaku akademisi, karena telah berhasil menulis buku berjudul “PLURALITAS HUKUM PERCERAIAN: Memahami Makna, Alasan, Proses, dan Akibat Hukum Perceraian menurut Hukum Nasional, Hukum Islam dan Hukum Adat di Indonesia”. Oleh karena itu, puji dan syukur kepada Allah Swt. yang maha mengetahui dan memahami, yang telah dan senantiasa melimpahkan ilmu dan hikmah kepada penulis.

Buku ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang makna, alasan, proses, dan akibat hukum perceraian menurut hukum nasional, hukum Islam, dan hukum adat. Oleh karena itu, materi dan pembahasan dalam buku ini diupayakan lebih sistematis dan komparatif yang integratif serta mendalam sampai ke dasar filosofis-nya dibandingkan dengan buku-buku lainfilosofis-nya yang membahas tentang hukum perceraian hanya sebagai bagian (bab tertentu) dari buku yang membahas tentang hukum perkawinan.

Struktur buku ini, pada bagian awalnya dibahas istilah dan pengertian perceraian menurut doktrin hukum dan undang-undang. Untuk memahami dasar filosofisnya, juga dibahas asas-asas hukum perceraian, yang pada bagian awalnya dibahas pengertian dan fungsi asas hukum pada umumnya, kemudian dibahas asas-asas hukum khusus perceraian, yang terdiri dari asas mempersukar proses hukum perceraian, asas kepastian pranata dan kelembagaan hukum perce-raian, serta asas perlindungan hukum yang seimbang selama dan setelah proses hukum perceraian.

Selanjutnya, dalam buku ini dibahas pula sumber-sumber hukum perceraian, baik sumber hukum material perceraian maupun sumber hukum formal perceraian. Berikutnya, dibahas bentuk-bentuk dan hikmah perceraian, serta alasan-alasan hukum perceraian, baik cerai talak maupun cerai gugat.

Proses hukum perceraian dan pencatatan perceraian juga diba-has dalam buku ini, yang kemudian dilanjutkan dengan akibat-akibat hukum perceraian yang dibahas secara sistematis, komparatif yang integratif dan mendalam, baik akibat hukum perceraian terhadap

PRAKATA

7DODN0XEDV\LU 7DODN\DQJVHFDUDODQJVXQJGLXFDSNDQVHQ

GLULROHKVXDPL\DQJPHQMDWXKNDQWDODN WDQSDPHODOXLSHUDQWDUDDQDWDXZDNLO

7DODT5DM·L 7DODN\DQJGLMDWXKNDQVDWXNDOLROHKVXDPL

GDQVXDPLGDSDWUXMXNNHPEDOLNHSDGDLVWUL \DQJWHODKGLWDODNWDGL

7DODT6XQQDK 7DODN\DQJGLEROHKNDQDWDXVXQQDKKXNXP

Q\D\DQJGLXFDSNDQVDWXNDOLGDQLVWULEH OXPGLJDXOLNHWLNDVXFLGDULKDLGK

7DODT7DIZLGK 7DODN\DQJSHQJXFDSDQQ\DGLOLPSDKNDQ

ROHKVXDPLNHSDGDLVWULDWDXGLZDNLONDQ ROHKRUDQJODLQDWDVQDPDVXDPLNHSDGD LVWUL

7DODN7D·OLN 7DODN\DQJGLMDWXKNDQVXDPLGHQJDQPHQJ

JXQDNDQXFDSDQ\DQJSHODNVDQDDQQ\DGL JDQWXQJNDQNHSDGDVHVXDWX\DQJWHUMDGLNH PXGLDQEDLNPHQJJXQDNDQODID]VKDULK

PDXSXQNLQD\DK

7DODN7DQMLV 7DODN\DQJGLMDWXKNDQVXDPLGHQJDQPHQJ

JXQDNDQXFDSDQODQJVXQJWDQSDGLNDLWNDQ NHSDGDZDNWXEDLNPHQJJXQDNDQXFDSDQ

VKDULKDWDXNLQD\DK

7DODT7DZNLO 7DODN\DQJSHQJXFDSDQQ\DWLGDNGLODNXNDQ VHQGLULROHKVXDPLWHWDSLGLODNXNDQROHK RUDQJODLQDWDVQDPDVXDPL

7D·OLN7DODT 3HQJJDQWXQJDQWHUMDGLQ\DMDWXKQ\DWDODNWHU KDGDSVXDWXSHULVWLZDWHUWHQWXVHVXDLGH QJDQSHUMDQMLDQ\DQJWHODKGLEXDWVHEHOXP Q\DDQWDUDVXDPLGDQLVWUL

7DQWXP'HYROXWXP $VDVKXNXP\DQJPHQHJDVNDQEDKZDKD

4XDQWXP$SHOODWXP NLPGDODPSHUDGLODQWLQJNDWEDQGLQJKDUXV PHPELDUNDQSXWXVDQGDODPWLQJNDWSHU WDPDVHSDQMDQJWLGDNGLEDQWDKGDODPWLQJ NDWEDQGLQJ

7KH%LQGLQJ)RUFH +DNLPWHULNDWDWDXEHUNLEODWSDGDSXWXVDQ

RI3UHFHGHQW SHQJDGLODQWLQJJLDWDXPDKNDPDKDJXQJ

(6)

anak, akibat hukum perceraian terhadap bekas suami/istri, maupun akibat hukum perceraian terhadap harta bersama.

Pada bagian akhir dari buku ini dibahas pengaturan hukum khusus perceraian bagi pegawai negeri sipil, yang mencakup: penger-tian dan jenis pegawai negeri sipil, pertimbangan pengaturan hukum khusus perceraian bagi pegawai negeri sipil, alasan-alasan dan proses hukum perizinan perceraian bagi pegawai negeri sipil, serta kewajiban dan saksi bagi pegawai negeri sipil dalam konteks pengaturan hukum khusus perceraian.

Memperhatikan pembahasan hukum perceraian yang sistema-tis, komparatif yang integratif dan mendalam menurut hukum nasio-nal, hukum Islam, dan hukum adat, maka dapat ditegaskan bahwa buku ini sangat berguna secara akademis bagi mahasiswa-mahasiswa di fakultas hukum, tidak hanya pada tingkat sarjana hukum (strata 1), tetapi juga magister hukum (strata 2), bahkan doktor ilmu hukum (strata 3). Selain itu, buku ini juga bermanfaat bagi mahasiswa-maha-siswa di fakultas syariah dan fakultas-fakultas lainnya yang mempu-nyai basis dan fokus studi gender, baik pada tingkat sarjana (strata 1) maupun pascasarjana (strata 2 dan strata 3), karena hukum perceraian dalam buku ini dijelaskan dan dipahami sebagai sumber solusi hukum nasional, hukum Islam dan hukum adat bagi suami atau istri yang akan memutuskan perkawinan sebagai perikatan keagamaan dan peri-katan adat di antara mereka, yang merupakan anggota atau bagian dari keluarga dan warga atau bagian dari masyarakat.

Kemudian, buku ini sangat berguna secara praktis bagi para penstudi, penerap maupun penegak hukum perceraian, karena haki-kat hukum perceraian adalah hukum yang mempunyai fungsi mengatur kewajiban-kewajiban dan melindungi hak-hak suami dan istri serta anak, bahkan keluarga dan masyarakat selama dan setelah proses hukum perceraian.

Pesan khusus yang perlu disampaikan kepada para pengguna atau pembaca buku ini adalah bekal awal berupa pemahaman dasar-dasar hukum perkawinan nasional, hukum Islam dan hukum adat sangat bermanfaat bagi pemahaman tentang hukum perceraian.

Akhirnya, Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu per satu, yang dengan tulus ikhlas telah mendoakan dan memotivasi penulis untuk terus menghasilkan karya akademik berupa buku yang bermanfaat

6KLJDWWDODN 3HUNDWDDQXFDSDQ \DQJ GLXFDSNDQ ROHK

VXDPLDWDXZDNLOQ\DGLZDNWXLDPHQMDWXK NDQWDODNNHSDGDLVWULQ\D

6KXOK 7DODNWHEXV\DQJWHEXVDQQ\DDGDODKVHSD

UXKGDULPDKDU

6XQQDK 3HUNDWDDQSHUEXDWDQGDQWDTULUNHWHWDSDQ

5DVXOXOODK 6DZ \DQJ GLWXMXNDQ NHSDGD UHDOLWDVSUDNULVGDODPPHQHUDSNDQV\DUL·DW ,VODPSDGDPDVDQXEXZDKNHQDELDQ

6\LUNDK SHUMDQMLDQWHUWXOLVWHJDVDWDXWLGDNWHUWXOLV GLDPGLDPXQWXNPHQ\DWXNDQKDUWD\DQJ GLSHUROHKVXDPLGDQLVWULKDUWDSHUROHKDQ VHODPSHUNDZLQDQPHQMDGLKDUWDEHUVDPD

6\LTDT 3HUVHOLVLKDQDQWDUDVXDPLLVWUL\DQJWHUMDGL

NDUHQDEHUDJDPVHEDEGDQEHUDJDPEHQ WXN\DQJKDUXVWHUOHELKGDKXOXGLVHOHVDLNDQ ROHK KDNDP SHQGDPDL VHEHOXP VXDPL GDQLVWULPHPXWXVNDQXQWXNEHUFHUDL

6\VWHPRI5HDVRQ .HELDVDDQVHEDJDLVXPEHUPHPEDQJXQVLV WHPDODVDQDODVDQEDJLKDNLPGDODPPHPX WXVVXDWXSHUNDUD

7

7DODT 3XWXVQ\DSHUNDZLQDQDWDVNHKHQGDNVXDPL

NDUHQDDGDQ\DDODVDQKXNXPWHUWHQWXGDQ NHKHQGDNLWXGLQ\DWDNDQROHKVXDPLGHQJDQ XFDSDQWHUWHQWX

7DODT%D·LQ 7DODN\DQJWHUMDGLVHKXEXQJDQGHQJDQDGD

Q\DV\LTDT\DQJPHQJDUDKNDQVXDPLGDQ LVWULPHQGDWDQJNDQKDNLPGDULNHOXDUJD PDVLQJPDVLQJVHEDJDLMXUXGDPDL

7DODT%LG·DK 7DODN\DQJGLODUDQJDWDXKDUDPKXNXPQ\D

(7)

baik secara teori maupun praktik hukum perceraian di masa menda-tang.

Terima kasih tidak lupa Penulis sampaikan kepada Penerbit, yang telah bersedia menerbitkan buku ini secara profesional. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa semua ini masih dalam proses belajar, belajar, dan terus belajar sampai akhir hayat. Untuk itu, saran dan kritik membangun dari para pengguna atau pembaca guna perbaikan/ penyempurnaan buku ini dan karya tulis ilmiah lainnya di masa mendatang sangat Penulis harapkan.

Palembang, Maret 2012 Penulis,

ttd.

Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum. Sri Turatmiyah, S.H., M.Hum.

Annalisa Yahanan, S.H., M.Hum. WHUXVPHQHUXVPHQLPEXONDQDGDQ\DKXNXP

DGDW

3

3HUNDUD3URGHR 3HUNDUD\DQJELD\DSHUNDUDQ\DGLEHEDQNDQ NHSDGDQHJDUDNDUHQDSLKDN\DQJEHSHU NDUDGDODPKDOLQLSHQJJXJDWWLGDNPDP SXVHFDUDILQDQVLDO

3HWLWXP 7XQWXWDQGDODPSHUNDUDSHUGDWD

3RVLWD DODVDQKXNXPSHQJDMXDQJXJDWDQWXQWXWDQ

GDODPSHUNDUDSHUGDWD

4

4L\DV 0HQJDQDORJLNDQKXNXPV\DUD·VXDWXSHU

NDUDNHSDGDSHUNDUDODLQNDUHQDPHPSX Q\DLLOODW\DQJVDPD

5

5DKPDK 3HULODNX\DQJVDQWXQPHQ\DQWXQLGDODP

NHKLGXSDQUXPDKWDQJJD

5DWLR'HFLGHQGL .DLGDKNDLGDKVHEDJDLSHUWLPEDQJDQKX NXPGDODPVXDWXSXWXVDQKDNLPVXSD\D GDSDWPHQMDGLSHJDQJDQ\DQJPH\DNLQNDQ NHWLNDPHPEDQJXQDUJXPHQWDVLKXNXP

5HOLJLRXV1DWLRQ6WDWH 1HJDUDNHEDQJVDDQ\DQJEHUDJDPD\DQJ PHQMDGLNDQDMDUDQDJDPDVHEDJDLGDVDUPR UDOGDQVXPEHUKXNXPPDWHULLOGDODPSH Q\HOHQJJDUDDQQHJDUDGDQNHKLGXSDQPD V\DUDNDWQ\D

5XMXN .HPEDOLKLGXSVHEDJDLVXDPLGDQLVWULDQ

WDUDSULDGDQZDQLWD\DQJPHODNXNDQSHUFH UDLDQGHQJDQMDODQWDODNUDM·LVHODPDPDVLK GDODPPDVDLGGDKWDQSDSHUQLNDKDQED·LQ

6

6KDULK 3HUNDWDDQXFDSDQWDODNVLJKDWWDODN\DQJ

(8)

0DZDGGDK 3HUDVDDQGDQSHULODNX\DQJVDOLQJFLQWD PHQFLQWDLGDODPNHKLGXSDQUXPDKWDQJJD

0LWVDDTRQJKDOL]D $NDG\DQJVDQJDWNXDW\DQJPHQJLNDWVXDPL GDQLVWULGDODPVXDWXLNDWDQSHUNDZLQDQ VHEDJDLZXMXGPHQDDWLSHULQWDK$OODKGDQ PHODNVDQDNDQQ\DDGDODKLEDGDK

0XDOODT 7DODN\DQJMDWXKVHWHODKV\DUDWV\DUDWGDODP

VLJKDWWDODNGLSHQXKL

0XEDUD·DK 7DODNWHEXV\DQJWHUMDGLMLNDLVWULEHEDVGDUL NHZDMLEDQPHPED\DUWHEXVDQNHSDGDVXD PL

0XQ]L] 7DODN\DQJMDWXKVDDWVXDPLPHQJXFDSNDQ

VLJKDWWDODN

0XW·DK 3HPEHULDQEHNDVVXDPLNHSDGDEHNDVLVWUL

\DQJGLMDWXKLWDODNEHUXSDEHQGDDWDXXDQJ DWDXODLQQ\D

1

1HELVLQLGHP 6XDWXDODVDQKXNXPGDODPSHUNDUD\DQJ

WHODKGLSHULNVDGLDGLOLGDQGLSXWXVROHK KDNLPGLSHQJDGLODQWLGDNGDSDWGLDMXNDQ NHPEDOLVHEDJDLDODVDQKXNXPGDODPSHU NDUDEHULNXWQ\D\DQJVDPD

1HPRMXGH]VLQHDFWRUH $VDVKXNXPSHUDGLODQ\DQJPHQHJDVNDQ EDKZDMLNDWLGDNDGDWXQWXWDQKDNPDND WLGDNDGDSHUNDUDVHKLQJJDKDNLPVLNDSQ\D PHQXQJJXDGDQ\DWXQWXWDQKDNXQWXNDGD Q\DSHUNDUD\DQJGLDMXNDQNHSDGDQ\D

1XV\X] 6XDPLDWDXLVWUL\DQJPHQLQJJDONDQNHZD

MLEDQEHUVXDPLLVWUL\DQJPHQJDNLEDWNDQ NHUHQJJDQJDQKXEXQJDQGLDQWDUDNHGXDQ\D GDODPVWDWXVVHEDJDLVXDPLGDQLVWUL\DQJ VDKPHQXUXWKXNXP\DQJEHUODNX

2

2SLQLR\XULVVLYH 8QVXUSVLNRORJLVEHUXSDNH\DNLQDQGLND

QHFHVVLWDWLV ODQJDQPDV\DUDNDWKXNXPDGDWEDKZDVXDWX

(9)

S

egala puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Allah yang Maha Mengetahui yang telah memberi ilmu dan hikmah, sehingga proses penulisan dan penerbitan buku yang berjudul “PLURALITAS HUKUM PERCERAIAN: Memahami Makna, Alasan, Proses, dan Akibat Hukum Perceraian menurut Hukum Nasional, Hukum Islam dan Hukum Adat di Indonesia”, dapat dise-lesaikan dengan baik.

Buku ini adalah konversi dari laporan hasil penelitian, dalam arti pengembangan secara keilmuan (baik dari segi sistematika, sub-stansi, maupun teknik penulisan) dengan metode pembahasan secara sistematis, komparatif yang integratif dan mendalam tentang hukum perceraian, yang merupakan luaran (output) dari Penelitian Hibah Fundamental, yang berjudul: “Perlindungan Hukum terhadap Perempuan dalam Proses Gugat Cerai (Khulu’) di Pengadilan Agama Palembang”, yang dilaksanakan berdasarkan Surat Perjanjian Pelak-sanaan Penelitian Hibah Fundamental Tahun Anggaran 2011 Nomor: 168/UN9.3.1/PL/2011, tanggal 15 April 2011.

Penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah banyak membantu selama proses penulisan dan penerbitan buku ini.

1. Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebuda-yaan, yang telah mendanai Penelitian Hibah Fundamental yang luarannya antara lain buku ini.

2. Rektor Universitas Sriwijaya, yang telah memberikan persetujuan dan memotivasi Penulis untuk mengembangkan Ilmu Hukum yang diwujudkan secara konkret dalam buku ini sebagai luaran dari Penelitian Hibah Fundamental.

3. Ketua Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya dan para Re-viewer/Evaluator, yang telah menyeleksi, menyetujui, mengelola

UCAPAN TERIMA KASIH PENULIS

Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum. Sri Turatmiyah, S.H., M.Hum. Annalisa Yahanan, S.H., M.Hum.

--XVQRQVFULSWXP +XNXPDGDWGDODPPDV\DUDNDW\DQJVHED

JLDQWHUEHVDUWDPSDNGDODPZXMXGKXNXP \DQJWLGDNWHUWXOLV

.

.KXOX· 7DODNWHEXVDWDXEHQWXNSHUFHUDLDQDWDVSHU

VHWXMXDQVXDPLGDQLVWULGHQJDQMDWXKQ\D WDODNVDWXGDULVXDPLNHSDGDLVWULGHQJDQ WHEXVDQKDUWDDWDXXDQJGDULSLKDNLVWUL\DQJ PHQJLQJLQNDQFHUDLGHQJDQWDODNWHEXVLWX

.KXOX·DMQDEL 7DODNWHEXV\DQJGLODNXNDQDWDVNHKHQGDN SLKDNNHWLJDGHQJDQSHUVHWXMXDQLVWUL\DQJ SHPED\DUDQWHEXVDQQ\DGLWDQJJXQJROHK SLKDNNHWLJDWHUVHEXW

.LQD\DK 3HUNDWDDQXFDSDQWDODNVLJKDWWDODN\DQJ

GLXFDSNDQVHFDUDVLQGLUDQ

/

/L·DQ %HQWXNSHUFHUDLDQ\DQJWHUMDGLNDUHQDVXP

SDKVXDPL\DQJPHQXGXKLVWULQ\DEHUEXDW ]LQDVHGDQJNDQGLDWLGDNPDPSXPHQGD WDQJNDQHPSDWRUDQJVDNVL

0

0DKDU 0DVNDZLQDWDXSHPEHULDQ\DQJZDMLEGLEH

ULNDQROHKFDORQVXDPLNHSDGDFDORQLVWUL VHFDUDWXQDLSDGDVDDWPHODQJVXQJNDQLMDE NDEXONHWLNDDNDGQLNDKDWDXWLGDNWXQDL EDLNEHUEHQWXNEDUDQJXDQJDWDXMDVD\DQJ WLGDNEHUWHQWDQJDQGHQJDQKXNXP,VODP

(10)

GDQPHQJHYDOXDVLVHFDUDEDLN3HQHOLWLDQ+LEDK)XQGDPHQWDO\DQJ GLODNXNDQROHK3HQXOLVVHKLQJJDPHQJKDVLONDQOXDUDQEHUXSDEXNX LQL\DQJVDQJDWEHUPDQIDDWVHEDJDLUHIHUHQVLVHNDOLJXVEDKDQDMDU EDJLPDKDVLVZD\DQJPHQGDODPLLOPXKXNXP

'HNDQ)DNXOWDV+XNXP8QLYHUVLWDV6ULZLMD\D\DQJVHQDQWLDVD PHPSURYRNDVL3HQXOLVXQWXNVHODOXPHQJKDVLONDQNDU\DDNDGHPLN GDODPEHQWXNEXNXPHQJLQJDWVDDWLQLPDVLKVDQJDWODQJNDEXNX \DQJGLKDVLONDQROHK'RVHQ7HWDS)DNXOWDV+XNXP8QLYHUVLWDV 6ULZLMD\D

.HWXD8QLW3HQHOLWLDQ)DNXOWDV+XNXP8QLYHUVLWDV6ULZLMD\D\DQJ WHODKPHPIDVLOLWDVLSURVHV3HQHOLWLDQ+LEDK)XQGDPHQWDOLQLEDLN GDODPWDKDSVHOHNVLPRQLWRULQJGDQHYDOXDVLSHODNVDQDDQGDQ KDVLOSHQHOLWLDQQ\D

6HPXDSLKDN\DQJWLGDNGDSDWGLVHEXWNDQVDWXSHUVDWX\DQJGHQJDQ WXOXVLNKODVWHODKPHQGRDNDQGDQPHPRWLYDVLSHQXOLVXQWXNWHUXV PHQJKDVLONDQNDU\DDNDGHPLNEHUXSDEXNX\DQJEHUPDQIDDWEDLN VHFDUDWHRUHWLVKXNXPPDXSXQSUDNWLNKXNXPGLPDVDPHQGDWDQJ

7HULPDNDVLKWDNOXSD3HQXOLVVDPSDLNDQNHSDGD3HQHUELW \DQJWHODKEHUVHGLDPHQHUELWNDQQDVNDKEXNXLQLVHFDUDSURIHVLRQDO 3HQXOLVPHQ\DGDULVHSHQXKQ\DEDKZDVHPXDLQLPDVLKGDODPSURVHV EHODMDUEHODMDUGDQWHUXVEHODMDUVDPSDLDNKLUKD\DW8QWXNLWXVD UDQGDQNULWLNPHPEDQJXQGDULSDUDSHPEDFDJXQDSHUEDLNDQEXNX LQLGDQNDU\DWXOLVLOPLDKODLQQ\DGLPDVDPHQGDWDQJVDQJDW3HQXOLV KDUDSNDQ

3DOHPEDQJ0DUHW

3HQXOLV

,

,GGDK 7HQJJDQJZDNWXPHQXQJJXEDJLVHRUDQJ

LVWULVHVXGDKMDWXKQ\DWDODNGDODPZDNWX PDQDVXDPLEROHKPHUXMXNNHPEDOLLVWUL Q\DVHKLQJJDSDGDPDVDLGGDKLQLLVWULEH OXPEROHKPHODQJVXQJNDQSHUNDZLQDQEDUX GHQJDQSULDODLQ

,MDE4DEXO 8FDSDQ ZDOL QLNDK XQWXN PHQLNDKNDQ

PHPSHODLSHQJDQWLQZDQLWD\DQJNHPX GLDQGLWHULPDGLNDEXONDQROHKPHPSHODL SHQJDQWLQSULD

,MPD· .HVHSDNDWDQNRQVHQVXVSDUDIXTDKD\DQJ

DKOLLMWLKDGWHQWDQJVXDWXKXNXPSDGDPDVD VHWHODK5DVXOXOODK6DZZDIDWEDLNIXTDKD VDKDEDWPDXSXQIXTDKDVHVXGDKQ\D

,OD· 6XDWXEHQWXNSHUFHUDLDQVHEDJDLDNLEDWGDUL VXPSDKVXDPL\DQJPHQ\DWDNDQEDKZDLD VXDPLWLGDNDNDQPHQJJDXOLLVWULQ\D

,VWLKVDQ &DUDPHQHQWXNDQKXNXPGHQJDQMDODQPH

Q\LPSDQJGDULNHWHQWXDQ\DQJVXGDKDGD GHPLNHDGLODQGDQNHSHQWLQJDQVRVLDO

,VWLVKODK .DLGDKPDVODKDKPXUVDODK\DLWXFDUDPH

QHPXNDQKXNXPVHVXDWXKDO\DQJWLGDN WHUGDSDWNHWHQWXDQQ\DEDLNGLGDODPDO 4XU·DQPDXSXQGDODPPDV\DUDNDWDWDXNH SHQWLQJDQXPXP

,WVEDWQLNDK 3URVHVKXNXPSHQJDNXDQSHQJDGLODQDJD

PDWHUKDGDSSHUNDZLQDQ\DQJVDKPHQXUXW KXNXPDJDPDWHWDSLEHOXPDWDXWLGDNGL FDWDW

,XV&XULD1RYLW $VDVKXNXP\DQJPHQHJDVNDQEDKZDKD NLPWLGDNEROHKPHQRODNSHUNDUDNDUHQD DGDDQJJDSDQKXNXPEDKZDKDNLPPHQJH WDKXLWHQWDQJKXNXPQ\D

,ZDGK 3HPED\DUDQVHMXPODKXDQJGDULLVWULNHSDGD

(11)

PRAKATA ... v

UCAPAN TERIMA KASIH PENULIS ... vii

DAFTAR ISI ... ix

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

BAB 2 ISTILAH DAN PENGERTIAN PERCERAIAN ... 17

A. Istilah Perceraian ... 17

1. Istilah Perceraian menurut Undang-Undang ... 17

2. Istilah Perceraian menurut Doktrin Hukum .... 18

B. Pengertian Perceraian ... 21

1. Pengertian Perceraian menurut Undang-Undang ... 21

2. Pengertian Perceraian menurut Doktrin Hukum ... 23

BAB 3 ASAS-ASAS HUKUM PERCERAIAN ... 31

A. Pengertian dan Fungsi Asas Hukum pada Umumnya ... 31

1. Pengertian Asas Hukum ... 31

2. Fungsi Asas Hukum ... 34

B. Asas-asas Hukum Khusus Perceraian ... 38

1. Asas Mempersukar Proses Hukum Perceraian .. 42

2. Asas Kepastian Pranata dan Kelembagaan Hukum Perceraian ... 46

3. Asas Perlindungan Hukum yang Seimbang Selama dan Setelah Proses Hukum Perceraian .. 54

BAB 4 SUMBER-SUMBER HUKUM PERCERAIAN ... 61

A. Sumber Hukum Material Perceraian ... 63

1. Faktor Ideal: Pancasila sebagai Cita Hukum dan Norma Fundamental Negara ... 63

2. Faktor Kemasyarakatan: Kebutuhan Hukum dan Keyakinan tentang Agama dan Kesusilaan dalam Masyarakat ... 73

DAFTAR ISI

&HUDL7DODT 3HUFHUDLDQ \DQJ GLDMXNDQ SHUPRKRQDQ

FHUDLQ\DROHKGDQDWDVLQLVLDWLIVXDPLNHSD GD3HQJDGLODQ$JDPD\DQJGLDQJJDSWHUMDGL GDQEHUODNXEHVHUWDVHJDODDNLEDWKXNXPQ\D VHMDNVDDWSHUFHUDLDQLWXGLQ\DWDNDQGLLN UDUNDQGLGHSDQSHQJDGLODQDJDPD

'

'HUGHQ9HU]HW 3HUODZDQDQSLKDNNHWLJDGDODPSHQ\HOH

VDLDQSHUNDUDSHUGDWD

)

)DKLVDK 3HUHPSXDQ\DQJPHODNXNDQSHUEXDWDQNHML

DWDXSHUEXDWDQEXUXN\DQJPHPDOXNDQNH OXDUJD\DQJKDUXVGLEXNWLNDQGHQJDQPHQ GHQJDUNDQNHVDNVLDQGDULHPSDWRUDQJVDNVL ODNLODNL\DQJDGLOGDQMLNDWHUEXNWLEHQDU PDNDSHUHPSXDQLWXGDSDWGLNXUXQJVDPSDL LDVDGDUGDQEHUWREDWLQJLQPHQMDGLRUDQJ EDLNEDLNVHKLQJJDGDSDWNHPEDOLGLEHEDV NDQGDULNXUXQJDQ

)DVDNK 3HPEDWDODQLNDWDQSHUNDZLQDQROHKSHQJD

GLODQDJDPDEHUGDVDUNDQWXQWXWDQLVWULDWDX VXDPLNDUHQDSHUNDZLQDQ\DQJWHODKWHU ODQMXUPHQ\DODKLKXNXPSHUNDZLQDQ\DQJ MLNDGLODQMXWNDQDNDQPHQJDNLEDWNDQNHUX VDNDQSDGDVXDPLDWDXLVWULDWDXNHGXDQ\D

)LG\DK 7DODNWHEXV\DQJWHEXVDQQ\DDGDODKOHELK

EDQ\DNGDULPDKDU\DQJGLWHULPDROHKLVWUL

+

+DGKDQDK .HZDMLEDQRUDQJWXDXQWXNPHQJDVXKDQDN

(12)

B. Sumber Hukum Formal Perceraian ... 100

1. Peraturan Perundang-Undangan ... 100

2. Putusan Pengadilan atau Yurisprudensi (Case Law) ... 119

3. Hukum Adat yang Bersumber dari Kebiasaan dalam Masyarakat (Customary Law) ... 125

BAB 5 BENTUK-BENTUK DAN HIKMAH PERCERAIAN ... 139

A. Bentuk-bentuk Perceraian ... 139

1. Talak ... 140

2. Syiqaq ... 154

3. Khulu’ ... 156

4. Fasakh ... 164

5. Fahisah ... 168

6. Ta’lik Talak ... 169

7. Ila’ ... 177

8. Zhihar ... 183

9. Li’an ... 189

10. Murtad (Riddah) ... 194

B. Hikmah Perceraian ... 201

1. Perceraian adalah Ujian Kesabaran Mengatasi Problematika Kehidupan ... 201

2. Perceraian adalah Pintu Keselamatan dari Kerusakan menuju Kebaikan ... 203

BAB 6 ALASAN-ALASAN HUKUM PERCERAIAN ... 209

A. Pengertian dan Urgensi Alasan-Alasan Hukum Perceraian ... 209

1. Pengertian Alasan-alasan Hukum Perceraian .. 209

2. Urgensi Alasan-alasan Hukum Perceraian ... 211

B. Macam-macam Alasan Hukum Perceraian ... 217

1. Zina, Pemabuk, Pemadat, Penjudi, dan Tabiat Buruk Lainnya yang Sukar Disembuhkan ... 218

2. Meninggalkan Pihak Lain Tanpa Izin dan Alasan yang Sah atau Hal Lain di Luar Kemampuannya ... 230

3. Hukuman Penjara 5 Tahun atau Hukuman Berat Lainnya ... 234

(-04"3*6.

$

$O$KNDP$ONKDPVDK /LPDNDLGDKOLPDMHQLVKXNXPOLPDNDWH JRULKXNXPOLPDSHQJJRORQJDQKXNXP \DLWXMD·L]VXQQDWPDNUXKZDMLEGDQKD UDP

$O0XVWDUDEDK ,VWUL \DQJ VXGDK PHPDVXNL PDVDKDLGK

WHWDSLWLGDNPHOLKDWGDUDKNDUHQDPHPDQJ EHJLWXNHDGDDQQ\DDWDXGDODPNHDGDDQQL IDVWLGDNVDKGLWDODNDWDVQ\DNHFXDOLVHVX GDKVXDPLQ\DPHPELFDUDNDQQ\DGDODPNHD GDDQVHSHUWLLWXVHODPDWLJDEXODQ

$O4XU·DQ 6XPEHUSRNRNSULPHUV\DULDW,VODP\DQJ

LVLQ\DPHQMHODVNDQGDVDUGDVDUV\DULDWDNL GDKDNLGDKVHFDUDWHUSHULQFLGDQLEDGDK VHUWDSHUDGLODQVHFDUDJOREDO

$XGL(W$OWHUDP3DUWHP $VDVKXNXP\DQJPHQHJDVNDQEDKZDKD NLP KDUXV PHQGHQJDU NHWHUDQJDQ DWDX PHPEHULNDQNHVHPSDWDQ\DQJVDPDEDJL SDUDSLKDNXQWXNPHPEXNWLNDQGDOLOGDOLO WXQWXWDQKDNDWDXEDQWDKDQDWDVWXQWXWDQ KDNGDODPSHUNDUDSHUGDWD

%

%DOLJK 8VLDGHZDVD\DQJPHQMDGLV\DUDWXQWXNGD

SDWPHODNXNDQSHUEXDWDQKXNXPWHUPDVXN PHQMDWXKNDQWDODNDWDVNHKHQGDNVHQGLUL

&

(13)

4. Perilaku Kejam dan Aniaya Berat yang

Membahayakan ... 237 5. Cacat Badan atau Penyakit yang Menghalangi

Pelaksanaan Kewajiban ... 244 6. Perselisihan dan Pertengkaran Terus-Menerus .. 249

BAB 7 PROSES HUKUM PERCERAIAN ... 259 A. Persiapan Nonhukum dan Pemenuhan Persyaratan

Administrasi Hukum untuk Perceraian ... 259 1. Persiapan Nonhukum untuk Perceraian ... 259 2. Pemenuhan Persyaratan Administrasi Hukum

untuk Permohonan atau Gugatan Perceraian .... 267 B. Proses Hukum Perceraian di Pengadilan Agama .... 276

1. Kedudukan, Susunan, Kekuasaan dan Asas-Asas Hukum Acara di Pengadilan Agama ... 276 2. Proses Hukum Cerai Talak ... 288 3. Proses Hukum Cerai Gugat ... 305 4. Proses Hukum Khusus Cerai Talak dan Cerai

Gugat dengan Alasan Zina ... 317 5. Proses Hukum Cerai Talak dan Cerai Gugat

Didahului Itsbat Nikah untuk Perkawinan

Tidak Dicatat ... 320 C. Proses Hukum Perceraian di Pengadilan Negeri .... 347

1. Kedudukan, Susunan, Kekuasaan dan Asas-Asas Hukum Acara di Pengadilan Negeri ... 347 2. Proses Hukum Gugatan Perceraian ... 356 D. Upaya Hukum Biasa dan Luar Biasa dalam Proses

Hukum Perceraian ... 370 1. Upaya Hukum Banding di Pengadilan Tinggi

Agama ... 372 2. Upaya Hukum Banding di Pengadilan Tinggi ... 378 3. Upaya Hukum Kasasi di Mahkamah Agung ... 381 4. Upaya Hukum Peninjauan Kembali di

Mahkamah Agung ... 392

BAB 8 PENCATATAN PERCERAIAN ... 403 A. Pencatatan Perceraian oleh Pegawai Pencatat

(14)

2. Pengawasan dan Pertanggungjawaban dalam

Pencatatan Perceraian ... 408

B. Pencatatan Perceraian oleh Pejabat Pencatatan Sipil ... 411

1. Proses Hukum Pencatatan Perceraian ... 411

2. Sanksi Administratif dan Pidana dalam Pencatatan Perceraian ... 415

BAB 9 AKIBAT-AKIBAT HUKUM PERCERAIAN ... 417

A. Akibat Hukum Perceraian terhadap Anak ... 423

1. Kedudukan, Hak dan Kewajiban Anak dalam Perkawinan ... 423

2. Akibat Hukum Perceraian terhadap Kedudukan, Hak, dan Kewajiban Anak ... 442

B. Akibat Hukum Perceraian terhadap Bekas Suami/ Istri ... 461

1. Kedudukan, Hak dan Kewajiban Suami dan Isteri dalam Perkawinan ... 461

2. Akibat Hukum Perceraian terhadap Kedudukan, Hak, dan Kewajiban Bekas Suami/Isteri ... 477

C. Akibat Hukum Perceraian terhadap Harta Bersama ... 487

1. Kriteria, Hak dan Kewajiban Suami dan Isteri atas Harta Bersama dalam Perkawinan ... 487

2. Akibat Hukum Perceraian terhadap Hak dan Kewajiban Bekas Suami/Isteri atas Harta Bersama ... 507

BAB 10 PENGATURAN HUKUM KHUSUS PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL ... 519

A. Pengertian dan Jenis Pegawai Negeri Sipil ... 519

1. Pengertian Pegawai Negeri Sipil ... 519

2. Jenis Pegawai Negeri Sipil ... 525

B. Pertimbangan Pengaturan Hukum Khusus Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil ... 531

1. Pertimbangan Hukum (Peraturan Perundang-Undangan) ... 531

2. Pertimbangan Sosial (Kemasyarakatan) ... 532

3. Pertimbangan Institusional (Kelembagaan) ... 536

6XEHNWL7UXVWR´6DKQ\D3HUNDZLQDQPHQXUXW881RWHQWDQJ 3HUNDZLQDQ'LWLQMDXGDUL+XNXP3HUMDQMLDQµ-XUQDO'LQDPLND

+XNXP9ROXPH1RPRU6HSWHPEHU)+8QLYHU

VLWDV-HQGHUDO6RHGLUPDQ3XUZRNHUWR

6XJDQJJD,*1´3HUDQDQ+XNXP$GDWGDODP3HPEDQJXQDQ+XNXP 1DVLRQDO,QGRQHVLDµ1DVNDK3LGDWR'LVDPSDLNDQSDGD3HQJX NXKDQ*XUX%HVDU0DG\D)DNXOWDV+XNXP8QLYHUVLWDV'LSRQH JRUR6HPDUDQJ1RYHPEHU

7HJXK$PEDU0HPDKDPL*RRG*RYHUQDQFHGDODP3HUVSHNWLI6XPEHU 'D\D0DQXVLD*D\D0HGLD<RJ\DNDUWD

'DKODQ7KDLE3DQFDVLOD<XULGLV.HWDWDQHJDUDDQ$03<.31<RJ\D NDUWD

7ULVDND$JXV´$NWD3HUMDQMLDQ3HUNDZLQDQVHEDJDL6DUDQD3HUOLQGXQJ DQ+XNXP+DUWD6XDPLGDQ,VWULVHODPD3HUNDZLQDQGDQVHWH ODK3HUFHUDLDQPHQXUXW8QGDQJ8QGDQJ1RPRU7DKXQ WHQWDQJ3HUNDZLQDQµ7HVLV3URJUDP6WXGL0DJLVWHU.HQRWD ULDWDQ )DNXOWDV +XNXP 8QLYHUVLWDV 6ULZLMD\D 3DOHPEDQJ

:LG\DVWXWL$5HQL´3HUDQ+XNXPGDODP0HPEHULNDQ3HUOLQGXQJDQ WHUKDGDS3HUHPSXDQGDUL7LQGDN.HNHUDVDQGL(UD*OREDOLVDVLµ

-XUQDO0LPEDU+XNXP)+8*0<RJ\DNDUWD

:HEVLWH6LWXV

(15)

C. Alasan-alasan dan Proses Hukum Perizinan

Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil ... 538

1. Alasan-alasan Hukum Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil ... 539

2. Proses Hukum Perizinan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil ... 543

D. Kewajiban dan Sanksi bagi Pegawai Negeri Sipil dalam Konteks Pengaturan Hukum Khusus Perceraian ... 556

1. Penentuan Kewajiban Memberi Biaya Penghidupan oleh Pegawai Negeri Sipil kepada Bekas Isteri dan Anak ... 556

2. Sanksi terhadap Pegawai Negeri Sipil yang Melanggar Peraturan Hukum Khusus Perceraian ... 559

3. Upaya Hukum terhadap Sanksi bagi Pegawai Negeri Sipil yang Melanggar Peraturan Hukum Khusus Perceraian ... 570

DAFTAR PUSTAKA ... 579

GLOSARIUM ... 591

INDEKS ... 601

,GULV0,UIDQ´.RQVWLWXVLRQDOLVDVL+XNXP,VODPGDODP+XNXP 1DVLRQDOµ-XUQDO.RQVWLWXVL9ROXPH1RPRU0HL 0DKNDPDK.RQVWLWXVL5HSXEOLN,QGRQHVLD-DNDUWD

0XKDPPDG6\DLIXGGLQ6UL7XUDWPL\DKGDQ$QQDOLVD<DKDQDQ´3HU OLQGXQJDQ+XNXPWHUKDGDS3HUHPSXDQGDODP3URVHV*XJDW &HUDL.KXOXN·GL3HQJDGLODQ$JDPD3DOHPEDQJµ/DSRUDQ +DVLO3HQHOLWLDQ)XQGDPHQWDO/HPEDJD3HQHOLWLDQ8QLYHUVL WDV6ULZLMD\D,QGUDOD\D

-RKQ\5XE\+DGLDUW\´7LQGDN3LGDQD.HNHUDVDQWHUKDGDS3HUHPSXDQ 6WXGL(WQRORJL.ULPLQDOGL:LOD\DK+XNXP3ROUHV%DQ\X

PDVµ-XUQDO'LQDPLND+XNXP9ROXPH1RPRU0HL

)+8QLYHUVLWDV-HQGHUDO6RHGLUPDQ3XUZRNHUWR .XUQLDWL-XOLD/HOL´.HZHQDQJDQ3HMDEDWGDODP0HQMDWXKNDQ+X

NXPDQ'LVLSOLQNHSDGD3HJDZDL1HJHUL6LSLO%HUGDVDUNDQ3HUD WXUDQ3HPHULQWDK1RPRU7DKXQWHQWDQJ'LVLSOLQ3HJD ZDL1HJHUL6LSLOµ7HVLV3URJUDP6WXGL,OPX+XNXP3URJUDP 3DVFDVDUMDQD8QLYHUVLWDV6ULZLMD\D3DOHPEDQJ 0DKIXG0'0RK´3ROLWLN+XNXP,VODPGDODP6LVWHP+XNXP

1DVLRQDOµ9DULD3HUDGLODQ1R-DQXDUL

0DQDQ%DJLU´.HDEVDKDQGDQ6\DUDWV\DUDW3HUNDZLQDQ$QWDURUDQJ ,VODPPHQXUXW881R7DKXQµ0DNDODK'LVDPSDLNDQ SDGD6HPLQDU1DVLRQDOGHQJDQ7HPD´+XNXP.HOXDUJDGDODP 6LVWHP+XNXP1DVLRQDODQWDUD5HDOLWDVGDQ.HSDVWLDQ+X NXPµ'LVHOHQJJDUDNDQROHK0DKNDPDK$JXQJ5HSXEOLN,QGR QHVLD+RWHO5HGWRS6DEWX$JXVWXV

5DKDUMR$JXV6XQDU\RGDQ+LGD\DW1XUXO´3HQGD\DJXQDDQ7HNQR ORJL,QIRUPDVLGDODP3HPEHUGD\DDQ0DV\DUDNDWXQWXN0HQJD ZDVL%HNHUMDQ\D6LVWHP3HUDGLODQ3LGDQDGL-DZD7HQJDKµ

-XUQDO'LQDPLND+XNXP9ROXPH1RPRU6HSWHPEHU

)+8QLYHUVLWDV-HQGHUDO6RHGLUPDQ3XUZRNHUWR 5DWQDQLQJUXP'ZL+DEVDUL´,QFHVWVHEDJDLEHQWXN0DQLIHVWDVL

.HNHUDVDQWHUKDGDS3HUHPSXDQµ-XUQDO'LQDPLND+XNXP

9ROXPH)+8QLYHUVLWDV-HQGHUDO6RHGLUPDQ3XUZR NHUWR

6\DULHI(O]D´+DUWDGDODP3HUNDZLQDQµ0DMDODK3HQJDQWLQ0XV

(16)

$OL0XKDPPDG'DXG´+XNXP,VODP883$GDQ0DVDODKQ\Dµ

0LPEDU+XNXP1R7DKXQ,

³³³³0RKDPPDG'DXG´6LNDS1HJDUDGDODP0HZXMXGNDQ 3HUOLQGXQJDQ+XNXPEDJL:DUJD1HJDUDGDQ3HUNDZLQDQ $QWDUSHPHOXN$JDPD\DQJ%HUEHGDµ0LPEDU+XNXP1R 7DKXQ,,,

$ULILQ%XVWDQXO´.RPSLODVL)LTKGDODP%DKDVD8QGDQJ8QGDQJµ

%XOOHWLQ+LNPDK1R7DKXQ,

$WWDPLPL+DPLG6´3HUDQDQ.HSXWXVDQ3UHVLGHQ5HSXEOLN,QGR QHVLDGDODP0HQ\HOHQJJDUDNDQ3HPHULQWDK1HJDUD6WXGL$QD OLWLVPHQJHQDL.HSXWXVDQ3UHVLGHQ\DQJ%HUIXQJVL3HQJDWXUDQ GDODP.XUXQ:DNWX3HOLWD,9,,µ'LVHUWDVL'RNWRU8QLYHUVL WDV,QGRQHVLD-DNDUWD

$]KDU\7DKLU´.RPSLODVL+XNXP,VODPVHEDJDL$OWHUQDWLI6XDWX $QDOLVLV6XPEHU6XPEHU+XNXP,VODPµ0LPEDU+XNXP

1R7DKXQ,,

'MDXKDUL´0HPEDQJXQ+XNXP%HUSDUDGLJPD3DQFDVLODGDODP7UHQG *OREDOLVDVLµ6LPEXU&DKD\D1R7DKXQ;,,,-DQXDUL )+8QLYHUVLWDV6ULZLMD\D,QGUDOD\D

(UQDQLQJVLK:DK\XGDQ6DPDZDWL3XWX´.DMLDQ<XULGLV+DN$QDN \DQJ2UDQJ7XDQ\D&HUDLPHQXUXW3HUVSHNWLI8QGDQJ8QGDQJ 1R7DKXQGDQ+XNXP/LPD$JDPDGL,QGRQH VLDµ/DSRUDQ+DVLO3HQHOLWLDQ33'+HGV/HPEDJD3HQHOLWLDQ 8QLYHUVLWDV6ULZLMD\D,QGUDOD\D

³³³³3RODQL5RVPDODGDQ)HEULDQL,QGDK´7LQMDXDQ<XULGLV 3HQ\HEDE3HUFHUDLDQGL.RWD3DOHPEDQJµ/DSRUDQ+DVLO3HQH OLWLDQ',3$8QVUL/HPEDJD3HQHOLWLDQ8QLYHUVLWDV6ULZLMD\D ,QGUDOD\D

³³³³´*DPEDUDQ.HODEX3HUFHUDLDQGL.RWD3DOHPEDQJµ6LPEXU

&DKD\D1R7DKXQ;9,6HSWHPEHU)+8QLYHUVLWDV

6ULZLMD\D,QGUDOD\D

+DUDKDS<DK\D´,QIRUPDVL0DWHUL.RPSLODVL+XNXP,VODP0HPR VLWLINDQ$EVWUDNVL+XNXP,VODPµ0LPEDU+XNXP,VODP1R 7DKXQ,,,

(17)

H

ukum perceraian adalah bagian dari hukum perkawinan. Dalam makna yang lebih luas, hukum perceraian merupakan bidang hukum keperdataan, karena hukum perceraian adalah bagian dari hukum perka-winan yang merupakan bagian dari hukum perdata.

Pemahaman bahwa hukum perceraian adalah bidang hukum keperdataan, selaras dengan pengertian hukum perka-winan yang dikemukakan oleh Abdul Ghofur Anshori, yaitu: Hukum perkawinan sebagai bagian dari hukum perdata me-rupakan peraturan-peraturan hukum yang mengatur per-buatan-perbuatan hukum serta akibat-akibatnya antara dua pihak, yaitu seorang laki-laki dan seorang wanita dengan mak-sud hidup bersama untuk waktu yang lama menurut pera-turan-peraturan yang ditetapkan dalam undang-undang. Kebanyakan isi atau peraturan mengenai pergaulan hidup sua-mi istri diatur dalam norma-norma keagamaan, kesusilaan, atau kesopanan.1

Tujuan ideal perkawinan menurut hukum perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, sebagai-mana ditegaskan dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disingkat UU No. 1 Tahun 1974) yang memuat pengertian yuridis perka-winan ialah “Ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan

B A B

1

PENDAHULUAN

1 Abdul Ghofur Anshori, Hukum Perkawinan Islam (Perspektif Fikih dan Hukum Positif), UII Press, Yogyakarta, 2011, hlm. 1.

7KRKD0LIWDK0DQDMHPHQ.HSHJDZDLDQ6LSLOGL,QGRQHVLD.HQFDQD -DNDUWD

7LP3HQ\XVXQ.DPXV3XVDW3HPELQDDQGDQ3HQJHPEDQJDQ%DKDVD

.DPXV%HVDU%DKDVD,QGRQHVLD(GLVL.HGXD%DODL3XVWDND -DNDUWD

7RELQJ*+6/XPEDQ3HUDWXUDQ-DEDWDQ1RWDULV(UODQJJD-DNDU WD

7ULDWPRMR6XGLE\R+XNXP.HSHJDZDLDQPHQJHQDL.HGXGXNDQ+DN GDQ.HZDMLEDQ3HJDZDL1HJHUL6LSLO*KDOLD,QGRQHVLD-DNDUWD

7XWLN7LWLN7ULZXODQ+XNXP3HUGDWDGDODP6LVWHP+XNXP1DVLR QDO.HQFDQD3UHQDGD0HGLD-DNDUWD

8VPDQ6XSDUPDQ+XNXP,VODP$VDVDVDVGDQ3HQJDQWDU6WXGL +XNXP,VODPGDODP7DWD+XNXP,QGRQHVLD*D\D0HGLD3UD WDPD-DNDUWD

8WRPR6W/DNVDQWR3HPHULNVDDQGDUL6HJL+XNXPDWDX'XH'LOL

JHQFH37$OXPQL%DQGXQJ

:LGMD\D *XQDZDQ6HUL $VSHN +XNXPGDODP %LVQLV 3HPLOLNDQ 3HQJXUXVDQ 3HUZDNLODQ 3HPEHULDQ .XDVD GDODP 6XGXW

3DQGDQJ.8+3HUGDWD.HQFDQD-DNDUWD

:LJQMRGLSRHUR6RHURMR3HQJDQWDUGDQ$VDV$VDV+XNXP$GDW*X QXQJ$JXQJ-DNDUWD

:L\RQR+XNXP$FDUD3HUDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUD6LQDU*UDILND -DNDUWD

<XQXV0DKPXG+XNXP3HUNDZLQDQGDODP,VODP3XVWDND0DKPX GLDK-DNDUWD

-XUQDO/DSRUDQ+DVLO3HQHOLWLDQGDQ0DNDODK

$EGXOODK$EGXO*DQL´3HPDV\DUDNDWDQ,QSUHV1RWHQWDQJ .RPSLODVL+XNXP,VODPµ0LPEDU+XNXP1R7KQ,,,

³³³³6HNLWDU0DVDODK3HQJHVDKDQ1LNDK6LUUL0DWHUL5DSDW .HUMD1DVLRQDO3HUGDWD$JDPD0DKNDPDK$JXQJ5,-DNDUWD

$KPDGL:LUDWQL´+DNGDQ.HZDMLEDQ:DQLWDGDODP.HOXDUJD0H QXUXW881R7DKXQWHQWDQJ3HUNDZLQDQµ-XUQDO

(18)

seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga), yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jadi, perkawinan merupakan “perikatan keagamaan”, karena akibat hukumnya adalah mengikat pria dan wanita dalam suatu ikatan lahir dan batin sebagai suami istri dengan tujuan yang suci dan mulia yang didasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahiriah/jasmaniah, tetapi juga unsur batiniah/rohaniah.

Perkawinan, menurut Sajuti Thalib, adalah perjanjian suci membentuk keluarga antara seorang laki-laki dengan se-orang perempuan. Unsur perjanjian di sini untuk memperli-hatkan segi kesenjangan dari perkawinan serta menampak-kannya pada masyarakat ramai. Sedangkan sebutan suci un-tuk pernyataan segi keagamaannya dari suatu perkawinan.2

Mohd. Idris Ramulyo membenarkan bahwa dipandang dari segi hukum, perkawinan itu merupakan suatu perjanjian, sebagaimana ditegaskan dalam al Qur’an Surat an-Nisa’ ayat 21, yang esensinya perkawinan adalah “perjanjian yang sangat kuat”, yang disebut dengan istilah “miitsaaghan ghaliizhan”. Selain itu, sebagai alasan untuk menyatakan bahwa perka-winan itu merupakan suatu perjanjian ialah karena adanya:

pertama, cara mengadakan ikatan perkawinan telah diatur terlebih dahulu, yaitu dengan akad nikah dan rukun atau sya-rat tertentu; dan kedua, cara menguraikan atau memutuskan ikatan perkawinan juga telah diatur sebelumnya, yaitu dengan prosedur talak, kemungkinan fasakh, syiqaq, dan sebagainya.3

2 Sajuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1982, hlm. 47.

3 Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, 2004, hlm. 16.

6RHWRSR3UDZLURKDPLGMRMR3OXUDOLVPHGDODP3HUXQGDQJXQGDQJDQ 3HUNDZLQDQGL,QGRQHVLD$LUODQJJD8QLYHUVLW\3UHVV6XUDED\D

6XGDUVRQR+XNXP3HUNDZLQDQ1DVLRQDO375LQHND&LSWD-DNDUWD

6XEDUL$OEDU6.HZDULVDQ$GDW7HRULGDQ3UDNWLN3HQHUELW&LWUD %LQD6HMDKWHUD3DOHPEDQJ

³³³³3RNRNSRNRN+XNXP$GDW3HQHUELW8QLYHUVLWDV6ULZLMD\D 3DOHPEDQJ

6XEHNWL3RNRNSRNRN+XNXP3HUGDWD37,QWHUQXVD-DNDUWD

³³³³+XNXP$FDUD3HUGDWD%LQD&LSWD%DQGXQJ

³³³³3RNRN3RNRN+XNXP3HUGDWD,QWHUPDVD-DNDUWD

6XVLOR%XGL3URVHGXU*XJDWDQ&HUDL3XVWDND<XVWLVLD<RJ\DNDUWD

6\DLIXGGLQ0XKDPPDG6\DLIXGGLQGDQ=XKLU0DGD$SULDQGL+X NXP+DN$VDVL0DQXVLDGDQ'HPRNUDVL/RNDO3HUOLQGXQJDQ +XNXPWHUKDGDS+DNKDN6LSLOGDQ3ROLWLN:DUJD0DV\DUDNDW GDODP3HPEHQWXNDQ3HUDWXUDQ'DHUDK'HPRNUDWLV7XQJJDO 0DQGLUL3XEOLVKLQJ0DODQJ

³³³³0XKDPPDG=XKLU0DGD$SULDQGLGDQ<DKDQDQ$QDOLVD

'HPRNUDWLVDVL3URGXN+XNXP(NRQRPL'DHUDK3HPEHQWXNDQ 3HUDWXUDQ'DHUDK'HPRNUDWLVGL%LGDQJ(NRQRPLGL.DEX

SDWHQ.RWD7XQJJDO0DQGLUL3XEOLVKLQJ0DODQJ

6\DKULQ$OYL3HQJDWXUDQ+XNXPGDQ.HELMDNDQ3HPEDQJXQDQ3HUX PDKDQGDQ3HUPXNLPDQ%HUNHODQMXWDQ3XVWDND%DQJVD3UHVV 0HGDQ

6\DP0RKDPPDG1RRU3HQMDEDUDQ)LOVDIDW3DQFDVLODGDODP)LOVDIDW +XNXPVHEDJDL/DQGDVDQ3HPELQDDQ6LVWHP+XNXP1DVLRQDO

/DERUDWRULXP3DQFDVLOD,.,30DODQJ0DODQJ 6\DXNDQL,PDPGDQ7KRKDUL$$KVLQ'DVDU'DVDU3ROLWLN+XNXP

375DMD*UDILQGR3HUVDGD-DNDUWD

7DLPL\DK,PDP$O¶$ODPDK7DTL\XGGLQ,EQX+XNXPKXNXP3HUND ZLQDQ$KNDPX]=DZDDM7HUMHPDKDQROHK5XVPDQ<DK\D 3XVWDND$O.DXWVDU-DNDUWD

7DQMXQJ1DGLPDK,VODPGDQ3HUNDZLQDQ%XODQ%LQWDQJ-DNDUWD 7KDOLE0XKDPPDG0DQDMHPHQ.HOXDUJD6DNLQDK3UR8<RJ\D

NDUWD

(19)

Perkawinan menurut hukum Islam sebagai suatu perjan-jian yang sangat kuat atau misaqon ghaliza, juga ditegaskan dalam pengertian yuridis perkawinan menurut Pasal 2 Instruk-si PreInstruk-siden Nomor 1 Tahun 1991 tentang KompilaInstruk-si Hukum Islam di Indonesia (selanjutnya disingkat Kompilasi Hukum Islam), yaitu “Perkawinan menurut hukum Islam adalah perni-kahan, yaitu akad yang sangat kuat atau misaqon ghaliza

untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupa-kan ibadah”. Selanjutnya, menurut Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam, “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah”.

Perjanjian dalam perkawinan ini mempunyai/mengan-dung tiga karaktar khusus, yaitu:

1. Perkawinan tidak dapat dilakukan tanpa unsur sukarela dari kedua belah pihak.

2. Kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) yang meng-ikat persetujuan perkawinan itu saling mempunyai hak untuk memutuskan perjanjian tersebut berdasarkan ke-tentuan yang sudah ada hukum-hukumnya.

3. Persetujuan perkawinan itu mengatur batas-batas hukum mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak.4

Persetujuan-persetujuan perkawinan itu pada dasarnya tidaklah sama dengan persetujuan-persetujuan yang lain, mi-salnya persetujuan jual-beli, sewa-menyewa, tukar-menukar, dan lain-lain. Menurut penjelasan Wirjono Prodjodikoro, per-bedaan antara persetujuan perkawinan dengan persetujuan-persetujuan yang lainnya adalah dalam persetujuan-persetujuan biasa para pihak pada pokoknya penuh merdeka untuk menentukan sendiri isi dari persetujuannya itu sesuka hatinya, asal saja

4 Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan (Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), Liberty, Yogya-karta, 1982, hlm. 10.

5RV\DQGL$5DKPDIGDQ5DLV$KPDG)RUPDOLVDVL6\DULDW,VODP GDODP3HUVSHNWLI7DWD+XNXP,QGRQHVLD*KDOLD,QGRQHVLD %RJRU

6DGMLMRQR0HPDKDPL%HEHUDSD%DE3RNRN+XNXP$GPLQLVWUDVL

/DNV%DQJ35(66LQGR<RJ\DNDUWD

6DOHK5RHVODQ3HPELQDDQ&LWD+XNXPGDQ$VDV$VDV+XNXP1DVLR QDO&9.DU\D'XQLD)LNLU-DNDUWD

6DOHK.:DQWMLN+XNXP3HUNDZLQDQ,QGRQHVLD*KDOLD,QGRQHVLD -DNDUWD

6DUL&'HZL:XODQ+XNXP$GDW,QGRQHVLD$GLWDPD%DQGXQJ

6XGL\DW,PDQ$VDV$VDV+XNXP$GDW%HNDO3HQJDQWDU/LEHUW\<RJ\D NDUWD

6DWULR-+XNXP:DULVWHQWDQJ3HPLVDKDQ%RHGHO&LWUD$GLW\D %DNWL%DQGXQJ

6FKROWHQ3DXO3HQXQWXQGDODP0HPSHODMDUL+XNXP3HUGDWD%HODQ GD*DGMDK0DGD8QLYHUVLW\3UHVV<RJ\DNDUWD 6KRPDG$EG+XNXP,VODP3HQRUPDDQ3ULQVLS6\DULDKGDODP

+XNXP,QGRQHVLD.HQFDQD3UHQDGD0HGLD-DNDUWD

6LGKDUWD%HUQDUG$ULHI5HIOHNVLWHQWDQJ6WUXNWXU,OPX+XNXP&9 0DQGDU0DMX%DQGXQJ

6LPDQMXQWDN31+3RNRN3RNRN+XNXP3HUGDWD,QGRQHVLD'MDP EDWDQ-DNDUWD

6RHMDGL3DQFDVLODVHEDJDL6XPEHU7HUWLE+XNXP,QGRQHVLD/XNPDQ 2IIVHW-DNDUWD

6RHNDQWR6RHUMRQR+XNXP$GDW,QGRQHVLD5DMDZDOL-DNDUWD ³³³³³+XNXP$GDW,QGRQHVLD375DMD*UDILQGR3HUVDGD

-DNDUWD

6RHPDUGL'HGL6XPEHU6XPEHU+XNXP3RVLWLI$OXPQL%DQGXQJ

6RHPL\DWL+XNXP3HUNDZLQDQ,VODPGDQ8QGDQJ8QGDQJ3HUND ZLQDQ8QGDQJ8QGDQJ1R7DKXQWHQWDQJ3HUNDZLQ DQ/LEHUW\<RJ\DNDUWD

6RHSRPR%DEEDEWHQWDQJ+XNXP$GDW3UDGQ\D3DUDPLWD-DNDUWD

6RHWDPL6LWL+XNXP$GPLQLVWUDVL1HJDUD,,)DNXOWDV+XNXP8QLYHU VLWDV'LSRQHJRUR6HPDUDQJ

(20)

persetujuan itu tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum. Sebaliknya, dalam suatu perkawinan sudah sejak semula ditentukan oleh hukum, isi dari persetujuan antara suami dan istri.5

Lebih lanjut, Wirjono Prodjodikoro menjelaskan bahwa kalau seorang perempuan dan seorang laki-laki berkata sepakat untuk melakukan perkawinan satu sama lain, ini ber-arti mereka saling berjanji akan taat pada peraturan-pera-turan hukum yang berlaku mengenai kewajiban dan hak-hak masing-masing pihak selama dan sesudah hidup bersama itu berlangsung, dan mengenai kedudukannya dalam masyarakat dari anak-anak keturunannya. Juga dalam menghentikan perkawinan, suami dan istri tidak leluasa penuh untuk menen-tukan sendiri syarat-syarat untuk penghentian itu, melainkan terikat juga pada peraturan hukum perihal itu.6

Menurut hukum adat pada umumnya di Indonesia perkawinan itu bukan saja berarti sebagai ‘perikatan perdata’, tetapi juga merupakan ‘perikatan adat’ dan sekaligus merupa-kan ‘perikatan kekerabatan dan ketetanggaan’. Menurut penjelasan Hilman Hadikusuma, terjadinya suatu ikatan per-kawinan bukan semata-mata membawa akibat terhadap hu-bungan-hubungan keperdataan, seperti hak dan kewajiban suami-istri, harta bersama, kedudukan anak, hak dan kewa-jiban orang tua, tetapi juga menyangkut hubungan-hubungan adat istiadat kewarisan, kekeluargaan, kekerabatan dan kete-tanggaan serta menyangkut kewajiban menaati perintah dan larangan keagamaan, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhannya (ibadah) maupun hubungan manusia sesama manu-sia (mu’amalah) dalam pergaulan hidup agar selamat di dunia

5 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, Sumur Bandung, 1981, hlm. 8.

6 Ibid., hlm. 8-9.

0XJKQL\DK0XKDPPDG-DZDG)LTLK/LPD0D]KDE-D·IDUL+DQDIL 0DOLNL6\DIL·L+DPEDOL7HUMHPDKDQROHK0DV\NXU$% $ULI0XKDPPDG,GUXV$O.DIIGDUL-XGXO$VOL$O)LTK¶$ODDO 0DG]DKLEDO.KDPVDK/HQWHUD-DNDUWD

0XKDPPDG%XVKDU3RNRN3RNRN+XNXP$GDW3UDGQ\D3DUDPLWD -DNDUWD

0XKDPPDG$EGXO.DGLU+XNXP3HUGDWD,QGRQHVLD&LWUD$GLW\D %DNWL%DQGXQJ

0XOMDGL.DUWLQLGDQ:LGMDMD*XQDZDQ3HGRPDQ0HQDQJDQL3HUNDUD .HSDLOLWDQ5DMDZDOL3UHVV-DNDUWD

1RWRGLVRHUMR56RHJRQGR+XNXP1RWDULDWGL,QGRQHVLDVXDWX 3HQMHODVDQ5DMDZDOL-DNDUWD

1RWRQDJRUR%HEHUDSD+DOPHQJHQDL)DOVDIDK3DQFDVLOD5DMDZDOL -DNDUWD

3DWRQ*:$7H[WERRNRI-XULVSUXGHQFH&ODUHQGRQ3UHVV2[ IRUG

3UDMD-XKD\DQ6+XNXP,VODPGL,QGRQHVLD.DWD3HQJDQWDU5HPDMD 5RVGDNDU\D%DQGXQJ

3UDNRVR'MRNRGDQ0XUWLND,.HWXW$VDVDVDV+XNXP3HUNDZLQDQ

GL,QGRQHVLD37%LQD$NVDUD-DNDUWD

3ULMRGDUPLQWR6RHJHQJ'LVLSOLQ.LDW0HQXMX6XNVHV373UDGQ\D 3DUDPLWD-DNDUWD

3URGMRGLNRUR:LUMRQR+XNXP3HUNDZLQDQGL,QGRQHVLD6XPXU%DQ GXQJ

5DKDUGMR6DWMLSWR,OPX+XNXP37&LWUD$GLW\D%DNWL%DQGXQJ

³³³³,OPX+XNXP$OXPQL%DQGXQJ

³³³³,OPX+XNXP37&LWUD$GLW\D%DNWL%DQGXQJ

³³³³+XNXPGDQ3HULODNX+LGXS%DLNDGDODK'DVDU+XNXP

\DQJ%DLN3HQHUELW%XNX.RPSDV-DNDUWD

³³³³+XNXPGDQ3HUXEDKDQ6RVLDO*HQWD3XEOLVKLQJ<RJ\D NDUWD

5DPXO\R0RKG,GULV+XNXP3HUNDZLQDQ,VODPVXDWX$QDOLVLV 8QGDQJ8QGDQJ1R7DKXQGDQ.RPSLODVL+XNXP ,VODP37%XPL$NVDUD-DNDUWD

5DV\LG6XODLPDQ)LTK,VODP6LQDU%DUX%DQGXQJ

(21)

dan akhirat.7 Oleh karenanya Ter Haar menyatakan bahwa

‘perkawinan itu adalah urusan kerabat, urusan keluarga, urus-an masyarakat, urusurus-an martabat durus-an urusurus-an pribadi.8

Lebih lanjut, perkawinan dalam arti “perikatan adat”, menurut Hilman Hadikusuma, ialah perkawinan yang mem-punyai akibat hukum terhadap hukum adat yang berlaku da-lam masyarakat yang bersangkutan. Akibat hukum ini telah ada sejak sebelum perkawinan terjadi, yaitu misalnya dengan adanya hubungan pelamaran yang merupakan ‘rasan sanak’ (hubungan anak-anak, bujang gadis) dan ‘rasan tuha’ (hu-bungan antara orang tua keluarga dari para calon suami istri).9

Tujuan ideal perkawinan, baik menurut hukum nasional (UU No. 1 Tahun 1974), hukum Islam dan hukum adat seba-gaimana diuraikan di atas, dalam realitanya sulit diwujudkan, bahkan banyak juga terjadi kehidupan keluarga atau rumah tangga yang tidak bahagia. Keadaan perkawinan yang men-dasari hubungan suami dan istri dalam keluarga atau rumah tangga sedemikian buruknya, sehingga dipandang dari segi apa pun juga, hubungan perkawinan tersebut lebih baik dipu-tuskan daripada diteruskan. Ini berarti bahwa meskipun per-kawinan adalah “perjanjian yang sangat kuat (misaqon ghali-za)” yang mengikat lahir dan batin antara suami dan istri, namun ikatan perkawinan itu dapat “putus” jika suami dan istri memutuskannya, karena satu di antara tiga karaktar per-janjian dalam perkawinan sebagaimana diuraikan di atas ada-lah kedua beada-lah pihak (laki-laki dan perempuan) yang meng-ikat perkawinan sebagai suatu bentuk perjanjian itu saling

7 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia menurut Perun-dangan, Hukum Adat, Hukum Agama, Mandar Maju, Bandung, 2007, hlm. 8.

8 B. Ter Haar Bzn, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Terjemahan oleh Poesponoto K. Ng., Pradnya Paramita, Jakarta, 1994, hlm. 158. 9 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat, Alumni, Bandung,

1977, hlm. 28/41. -RQR+XNXP.HSDLOLWDQ6LQDU*UDILND-DNDUWD

.DQVLO&673RNRNSRNRN+XNXP.HSHJDZDLDQ5HSXEOLN,QGR

QHVLD3UDGQ\D3DUDPLWD-DNDUWD

.DUWRKDGLSURGMR6RHGLPDQ3HQJDQWDU7DWD+XNXPGL,QGRQHVLD

'MDNDUWD

.XUQLD7LWRQ6ODPHW3HQJDQWDU6LVWHP+XNXP,QGRQHVLD37$OXP QL%DQGXQJ

/RXGRH-RKQ=0HQHPXNDQ+XNXPPHODOXL7DIVLUGDQ)DNWD

%LQD$NVDUD-DNDUWD

0DKDGL+XNXP$GDWGDQ+XNXP,VODPGL,QGRQHVLDVHWHODK3HUDQJ 'XQLDNH,,GDODP%LGDQJ3HUGDWD3UR\HN%3+1EHNHUMDVDPD GHQJDQ)DNXOWDV+XNXP8680HGDQ

³³³³)DOVDIDK+XNXPVXDWX3HQJDQWDU37&LWUD$GLW\D%DNWL %DQGXQJ

0DKDOOL$KPDG0XGMDEGDQ0DV\NXU0XKDPPDG6\DIL·L0HQFDSDL .HOXDUJD%DKDJLD,QWLVKDU<RJ\DNDUWD

0DKPXG-XQXV+XNXP3HUNDZLQDQGDODP,VODP&9$OKLGD\DK -DNDUWD

³³³³+XNXP3HUNDZLQDQ,VODPPHQXUXW0D]KDE+DQDIL0D

OLNL6\DIL·LGDQ+DPEDOL7LQWDPDV-DNDUWD

0DGMLG1XUFKROLV,VODP.HPRUGHUQDQGDQ.HLQGRQHVLDDQ0L]DQ %DQGXQJ

0DQDQ$EGXO$QHND0DVDODK+XNXP3HUGDWD,VODPGL,QGRQHVLD

.HQFDQD-DNDUWD

0DUEXQ6)'LPHQVLGLPHQVL3HPLNLUDQ+XNXP$GPLQLVWUDVL1H JDUD8,,3UHVV<RJ\DNDUWD

0D]KDULUL+XVDLQ0HPEDQJXQ6XUJDGDODP5XPDK7DQJJD&DKD\D %RJRU

0HUWRNXVXPR6XGLNQR0HQJHQDO+XNXP/LEHUW\-DNDUWD ³³³³0HQJHQDO+XNXPVXDWX3HQJDQWDU/LEHUW\<RJ\DNDUWD

³³³³ +XNXP $FDUD 3HUGDWD ,QGRQHVLD/LEHUW\ <RJ\DNDUWD

0RULVRQ:D\QH(OHPHQWVRI-XULVSUXGHQFH,QWHUQDWLRQDO/DZ%RRN 6HULHV.XDOD/XPSXU

(22)

mempunyai hak untuk memutuskan perjanjian tersebut ber-dasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut Abdul Ghofur Anshori, dalam kehidupan rumah tangga sering dijumpai orang (suami istri) mengeluh dan mengadu kepada orang lain ataupun kepada keluarganya, akibat tidak terpenuhinya hak yang harus diperoleh atau tidak dilaksanakannya kewajiban dari salah satu pihak, atau karena alasan lain, yang dapat berakibat timbulnya suatu perselisihan di antara keduanya (suami istri) tersebut. Tidak mustahil dari perselisihan itu akan berbuntut pada putusnya ikatan perka-winan (perceraian).10

Budi Susilo mempunyai pendapat yang sama dengan pendapat Abdul Ghofur Anshori seperti diuraikan di atas, dengan menjelaskan bahwa memang benar perkawinan meru-pakan ikatan suci antara seorang pria dan wanita, yang saling mencintai dan menyayangi. Sudah menjadi kebutuhan hidup mendasar, bahwa setiap insan akan menikah. Umumnya, se-tiap orang berniat untuk menikah sekali seumur hidupnya saja. Tidak pernah terbersit bila di kemudian hari harus ber-cerai, lalu menikah lagi dengan orang lain, atau memilih untuk tetap sendiri. Namun, pada kenyataannya justru bukan demi-kian. Tidak sedikit pasangan suami-istri, yang akhirnya harus memilih berpisah alias bercerai. Faktor ketidakcocokan da-lam sejumlah hal, berbeda persepsi serta pandangan hidup, paling tidak menjadi beberapa penyebab terjadinya perce-raian.11

Putusnya perkawinan karena kehendak suami atau istri atau kehendak keduanya, karena adanya ketidakrukunan, di-sebut dengan istilah “perceraian”, yang bersumber dari tidak dilaksanakannya hak-hak dan kewajiban-kewajiban sebagai suami atau istri sebagaimana seharusnya menurut hukum

per-10Abdul Ghofur Anshori, Op. Cit., hlm. 233.

11Budi Susilo, Prosedur Gugatan Cerai, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2008, hlm. 11.

+55LGZDQ+XNXP$GPLQLVWUDVL1HJDUD8,,3UHVV<RJ\DNDUWD

+DGLNXVXPD +LOPDQ3HUDGLODQ $GDW GL ,QGRQHVLD&9 0LVZDU -DNDUWD

³³³³³+XNXP3HUNDZLQDQ,QGRQHVLDPHQXUXW3HUXQGDQJDQ

+XNXP$GDW+XNXP$JDPD0DQGDU0DMX%DQGXQJ

+DGMRQ3KLOLSXV03HUOLQGXQJDQ+XNXPEDJL5DN\DW,QGRQHVLD 6XDWX6WXGLWHQWDQJ3ULQVLSSULQVLSQ\D3HQDQJDQDQQ\DROHK 3HQJDGLODQGDODP/LQJNXQJDQ3HUDGLODQ8PXPGDQ3HPEHQ WXNDQ3HUDGLODQ$GPLQLVWUDVL%LQD,OPX6XUDED\D +DPLG=DKU\3RNRNSRNRN+XNXP3HUNDZLQDQ,VODPGDQ883HUND

ZLQDQGL,QGRQHVLD%LQD&LSWD%DQGXQJ

+DPLGL-D]LP5HVROXVL+XNXP,QGRQHVLD0DNQD.HGXGXNDQGDQ ,PSOLNDVL+XNXP1DVNDK3URNODPDVL$JXVWXVGDODP 6LVWHP.HWDWDQHJDUDDQ5,.RQVWLWXVL3UHVVGDQ&LWUD0HGLD -DNDUWDGDQ<RJ\DNDUWD

+DPLGMRMR56RHWRMR3UDZLURGDQ$VLV6DILRHGLQ+XNXP2UDQJ

GDQ.HOXDUJD$OXPQL%DQGXQJ

+DUULV-:/DZDQG/HJDO6FLHQFH&ODUHQGRQ3UHVV2[IRUG +DUWLQL6UL.DGDUVLK6HWLDMHQJGDQ6XGUDNDW7HGL+XNXP.HSH

JDZDLDQGL,QGRQHVLD6LQDU*UDILND-DNDUWD

+DVDQ.16RI\DQ+XNXP3HUNDZLQDQGDODP.RPSLODVL+XNXP ,VODP3HQHUELW8QLYHUVLWDV6ULZLMD\D

+D]DLULQ7LQMDXDQPHQJHQDL8QGDQJ8QGDQJ3HUNDZLQDQ1R 7LQWDPDV-DNDUWD

³³³³'HPRNUDVL3DQFDVLOD%LQD$NVDUD-DNDUWD

³³³³7XMXK6HUDQJNDLWHQWDQJ+XNXP7LQWD0DV-DNDUWD

,FKWLMDQWR´3HQJHPEDQJDQ7HRUL%HUODNXQ\D+XNXP,VODPGL,QGR QHVLDµGDODP+XNXP,VODPGL,QGRQHVLD5HPDMD5RVGDNDU\D %DQGXQJ

,QGUDWL0DULD)DULGD,OPX3HUXQGDQJXQGDQJDQ'DVDUGDVDUGDQ

3HPEHQWXNDQQ\D.DQLVLXV-DNDUWD

,QGUD\DQD'HQ\3HQHUDSDQ.RQVHSVL3DQFDVLODVHEDJDL6XPEHUGDUL 6HJDOD6XPEHU+XNXPGDODP3HQ\XVXQDQ3HUXQGDQJXQGDQJDQ 6WXGL.DVXV881R7DKXQWHQWDQJ3HPHULQWDKDQ 1DQJURH$FHK'DUXVVDODP)+8QLYHUVLWDV*DGMDK0DGD <RJ\DNDUWD

(23)

kawinan yang berlaku. Konkretnya, ketidakrukunan antara suami dan istri yang menimbulkan kehendak untuk memutus-kan hubungan perkawinan dengan cara perceraian, antara lain pergaulan antara suami dan istri yang tidak saling hormat-menghormati, tidak saling menjaga rahasia masing-masing, keadaan rumah tangga yang tidak aman dan tenteram, serta terjadi silang sengketa atau pertentangan pendapat yang sa-ngat prinsip.

Menurut Wirjono Prodjodikoro, yang menentukan sebab dari berlangsung terus atau dari penghentian perka-winan terutama pada keadaan khusus dalam sifat-sifat pribadi dari tiap-tiap suami dan istri, berhubung dengan keadaan ter-tentu dari perkawinan masing-masing. Dengan perkataan lain: hidup bersama dari suami dan istri pada hakikatnya hanya dapat dilangsungkan, apabila di antara kedua belah pihak ada persesuaian rasa dan keinginan untuk terus hidup bersama. Ketiadaan persetujuan rasa dan keinginan ini dapat disebab-kan oleh seribu satu hal, yang sukar sekali diperinci.12

Prinsipnya, seorang pria dan seorang wanita yang meng-ikat lahir dan batinnya dalam suatu perkawinan sebagai suami dan istri mempunyai hak untuk memutuskan perkawinan ter-sebut dengan cara perceraian berdasarkan hukum perceraian yang berlaku. Namun, suami dan istri yang akan melakukan perceraian harus mempunyai alasan-alasan hukum tertentu dan perceraian itu harus di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak sebagaimana diatur dalam Pasal 39 UU No. 1 Tahun 1974.

Perceraian menurut hukum agama Islam yang telah dipositifkan dalam Pasal 38 dan Pasal 39 UU No. 1 Tahun 1974 dan telah dijabarkan dalam Pasal 14 sampai dengan Pasal 18 sertaPasal 20 sampai dengan Pasal 36 Peraturan Pemerin-tah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan

Undang-12Wirjono Prodjodikoro, Op. Cit., hlm. 132.

%DGDQ 3HPELQDDQ +XNXP 1DVLRQDO6HPLQDU +XNXP $GDW GDQ 3HPELQDDQ+XNXP1DVLRQDO%LQD&LSWD%DQGXQJ %DQJXQ3D\XQJ´.HEXGD\DDQ%DWDNµGDODP.RHQWMDUDQLQJUDWHG

0DQXVLDGDQ.HEXGD\DDQGL,QGRQHVLD'MDPEDWDQ-DNDUWD

%DV\LU$KPDG$]KDU+XNXP3HUNDZLQDQ,VODP8QLYHUVLWDV,VODP ,QGRQHVLD<RJ\DNDUWD

%UXJJLQN--+5HIOHNVLWHQWDQJ+XNXP37&LWUD$GLW\D%DNWL %DQGXQJ

%]Q%7HU+DDU$VDV$VDVGDQ6XVXQDQ+XNXP$GDW7HUMHPDKDQ ROHK3RHVSRQRWR.1J3UDGQ\D3DUDPLWD-DNDUWD &KULVWLH,QQLV,QWURGXFWLRQWRWKH&RPPRQ/DZ&RQWUDFW0DWH

ULDOVSUHSDUHGIRUWKHH[FOXVLYHXVHRIVWXGHQWLQWKLVFRXUVHDW WKH9ULMH8QLYHUVLWHLW$PWHUGDP

'DUPRGLKDUGMR'DUML3RNRNSRNRN)LOVDIDW+XNXP$SDGDQ%DJDL

PDQD)LOVDIDW+XNXP,QGRQHVLD*UDPHGLD-DNDUWD

'MDPLND6DVWUDGDQ0DUVRQR+XNXP.HSHJDZDLDQGL,QGRQHVLD

'MDPEDWDQ-DNDUWD

']XEDLGDK1HQJ3HQFDWDWDQ3HUNDZLQDQGDQ3HUNDZLQDQ7LGDN'L FDWDWPHQXUXW+XNXP7HUWXOLVGL,QGRQHVLDGDQ+XNXP,V ODP6LQDU*UDILND-DNDUWD

'LDK0DUZDK05HVWUXNWXULVDVL%801GL,QGRQHVLD3ULYDWLVDVL DWDX.RUSRUDWLVDVL"/LWHUDWD/LQWDV0HGLD-DNDUWD 'LUHNWRUDW3HPELQDDQ%DGDQ3HUDGLODQ$JDPD.RPSLODVL+XNXP

,VODPGL,QGRQHVLD-DNDUWD

'R·,$EGXO5DKPDQ3HUNDZLQDQGDODP6\DULDW,VODPWHUM5LQHND &LSWD-DNDUWD

(IIHQGL /XWIL3RNRN3RNRN +XNXP $GPLQLVWUDVL%D\XPHGLD 0DODQJ

(UQDQLQJVLK:DK\XGDQ6DPDZDWL3XWX+XNXP3HUNDZLQDQ,QGR

QHVLD375DPEDQJ3DOHPEDQJ3DOHPEDQJ

)LW]JHUDOG-36DOPRQGRQ-XULVSUXGHQFH6ZHHW 0D]ZHOO/RQ GRQ

(24)

Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjut-nya disingkat PP No. 9 Tahun 1975), mencakup: pertama,

“cerai talak”, yaitu perceraian yang diajukan permohonan cerainya oleh dan atas inisiatif suami kepada Pengadilan Aga-ma, yang dianggap terjadi dan berlaku beserta segala akibat hukumnya sejak saat perceraian itu dinyatakan (diikrarkan) di depan sidang Pengadilan Agama; kedua, “cerai gugat”, yaitu perceraian yang diajukan gugatan cerainya oleh dan atas ini-siatif istri kepada Pengadilan Agama, yang dianggap terjadi dan berlaku beserta segala akibat hukumnya sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

Perkembangan hukumnya kemudian, proses hukum khusus gugatan perceraian yang diajukan oleh dan atas inisiatif istri di Pengadilan Agama telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (selanjutnya disingkat UU No. 7 Tahun 1989) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peru-bahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (selanjutnya disingkat UU No. 3 Tahun 2006) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (se-lanjutnya disingkat UU No. 50 Tahun 2009).

Selanjutnya, perceraian menurut hukum agama selain Islam, telah pula dipositifkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 dan dijabarkan dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 34 ayat (2) PP No. 9 Tahun 1975, yaitu perceraian yang gugatan cerai-nya diajukan oleh dan atas inisiatif suami atau istri kepada Pengadilan Negeri, yang dianggap terjadi beserta segala akibat hukumnya terhitung sejak saat pendaftarannya pada daftar pencatatan oleh Pegawai Pencatat di Kantor Catatan Sipil.

Menurut Mohd. Idris Ramulyo, talak adalah suatu ben-tuk perceraian yang umum yang banyak terjadi di Indonesia, sedangkan cara-cara lain dan bentuk lain kurang dikenal,

%"'5"31645","

%XNX

$EGXOODK$EGXO*DQL3HQJDQWDU.RPSLODVL+XNXP,VODPGDODP

7DWD+XNXP,QGRQHVLD*HPD,QVDQL3UHVV-DNDUWD

$GMLH+DELE6DNVL3HUGDWDGDQ$GPLQLVWUDWLIWHUKDGDS1RWDULVVHEDJDL

3HMDEDW3XEOLN375HILND$GLWDPD%DQGXQJ

$GML2PDU6HQR3HUDGLODQ%HEDV1HJDUD+XNXP(UODQJJD-DNDUWD

$KPDG$PUXOODKGNNHG'LPHQVL+XNXP,VODPGDODP6LVWHP +XNXP1DVLRQDO0HQJHQDQJ7DKXQ3URI'U+%XVWDQXO

$ULILQ6+*HPD,QVDQL3UHVV-DNDUWD

$OL0RKDPPDG'DXG$OL$VDVDVDV+XNXP,VODP+XNXP,VODP ,3HQJDQWDU,OPX+XNXPGDQ7DWD+XNXPGL,QGRQHVLD5DMD ZDOL3UHVV-DNDUWD

$O=DUTD·0XVKWKDID$KPDG+XNXP,VODPGDQ3HUXEDKDQ6RVLDO 6WXGL.RPSHUDWLI'HODSDQ0D]KDE)LTK7HUMHPDKDQROHK$GH 'HGL5RKD\DQDGDUL-XGXO$VOL$O,VWLVODKZDDO0DVKDOLKDO 0XUVDODKILDO6\DUL·DKDO,VODPL\DKZD8VKXO)LTK5LRUD&LSWD -DNDUWD

$QVKRUL$EGXO*KRIXU+XNXP3HUNDZLQDQ,VODP3HUVSHNWLI)LNLK GDQ+XNXP3RVLWLI8,,3UHVV<RJ\DNDUWD

$VVKLGGLTLH$VVKLGGLTLH3HQJDQWDU,OPX7DWD1HJDUD6HNUHWDULDW -HQGHUDOGDQ.HVHNUHWDULDWDQ0DKNDPDK.RQVWLWXVL5,-DNDUWD

³³³³+XNXP7DWD1HJDUDGDQ3LODUSLODU'HPRNUDVL6HUSLKDQ 3HPLNLUDQ+XNXP0HGLDGDQ+DP6HNUHWDULDW-HQGHUDOGDQ .HSDQLWHUDDQ0DKNDPDK.RQVWLWXVL5,-DNDUWD $\\XE6\DLNK+DVDQ3DQGXDQ.HOXDUJD0XVOLP7HUMHPDKDQROHK

0LVEDKGDUL-XGXO$VOL)LTK$O8VUDK$O0XVOLPDK&(1', .,$6HQWUD0XVOLP-DNDUWD

$]KDU\1HJDUD+XNXP,QGRQHVLD$QDOLVLV<XULGLVWHQWDQJ8QVXU

XQVXUQ\D8,3UHVV-DNDUWD

(25)

sungguh pun ada juga terdapat. Akibatnya, seakan-akan kata-kata talak telah dianggap keseluruhan penyebab perceraian di Indonesia.13 Secara umum, masyarakat hanya mengenal

istilah talak sebatas sebutan talak satu, talak dua dan talak tiga. Talak yang dijatuhkan oleh suami disebut sebagai cerai talak, sedangkan talak yang diajukan oleh istri dinamakan cerai gugat.14

Memilih bercerai, menurut Budi Susilo, berarti harus berhadapan dengan pengadilan. Sebab proses pengaduan gugatan perceraian yang sah menurut hukum, hanya dapat ditempuh melalui pengadilan saja. Persoalannya kemudian adalah, banyak pasangan suami-istri yang justru bingung seka-ligus kesulitan, saat menempuh jalan/proses perceraian ter-sebut. Faktor utamanya tentu buta soal hukum. Ditambah lagi proses pengajuan gugatan perceraian, yang memang pada dasarnya berbelit-belit. Bahkan tidak jarang, bila proses per-ceraian yang rumit harus menguras banyak dana.15

Evi Sofia Inayati, saat menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, menyadari perceraian bukan sebagai masalah baru. Kasus perceraian terus mening-kat seiring dengan perubahan zaman dan terjadinya perubahan nilai-nilai sosial. Bahkan akibat kemampuan ekonomi yang terus meningkat di kalangan kaum Hawa, ikut pula memenga-ruhi tingginya gugatan cerai yang diajukan istri terhadap suami.16

13Mohd. Idris Ramulyo, Op. Cit., hlm. 101.

14Helmy Thohir (Hakim Pengadilan Agama Jakarta Timur), “Perceraian menurut Undang-Undang Perkawinan”, dalam http://www.pemantau peradilan.com/detil/detil.php?id=219&tipe=kolom, diakses 2 Novem-ber 2011.

15Budi Susilo, Op. Cit., hlm. 12.

(26)

Berdasarkan data yang dikemukakan oleh koran harian umum Republika, Rabu, 19 Januari 2011, yang diolah dari Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, diketahui bahwa secara nasional angka perceraian pada tahun 2008 sebanyak 200.000 kasus, sementara tahun 2009 menjadi 250.000 kasus. Artinya, dalam satu tahun secara nasional terjadi kenaikan sebesar 25 persen. Menurut Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Nasruddin Umar, dari total jumlah nikah tahun 2009 sebanyak 2,5 juta pasangan, jumlah perceraian sebesar 250.000 kasus sebesar 10 persen. Perceraian akan terus me-ningkat.

Khusus kasus cerai gugat tiap tahun meningkat. Berda-sarkan data dari Direktorat Badan Pengadilan Agama Mahka-mah Agung RI, perbandingan antara cerai talaq dan cerai gugat sebagai berikut:

Tabel 1.1

Perbandingan antara Cerai Talaq dan Cerai Gugat di Indonesia (Menurut Jumlah, Tahun 2008 s.d. Tahun 2010)

No. Jenis Perkara Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010

1. Cerai Talaq 67.124 74.131 81.535 2. Cerai Gugat 126.065 149.240 169.673

Sumber:Republika, Sabtu 6 Agustus 2011, Data Diolah dari Direktorat Badan Pengadilan Agama Mahkamah Agung RI, 2010.

Kondisi sekarang, menurut pencermatan Muhammad Syaifuddin, Sri Turatmiyah dan Annalisa Yahanan, jelas jauh berbeda dengan masa beberapa tahun lalu. Pada masa lalu suami dan istri, khususnya istri, akan memilih sikap bertahan demi keutuhan keluarganya, apa pun masalah yang sedang dihadapi. Akhir-akhir ini sering terjadi bentuk kekerasan da-lam rumah tangga yang dilakukan oleh suami terhadap istri-nya, bahkan tidak jarang si istri dibunuh akibat permasalahan

6HQJNHWDNHSHJDZDLDQPHQXUXWSHQMHODVDQ/XWIL(IIHQGL PHPLOLNLNDUDNWHULVWLNWHUVHQGLUL\DQJPHPEHGDNDQQ\DGH QJDQVHQJNHWDWDWDXVDKDQHJDUDSDGDXPXPQ\D6HQJNHWD VHQJNHWDGLELGDQJNHSHJDZDLDQWLGDNGLWDQJDQLVHFDUDODQJ VXQJROHKVXDWX3HUDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUDQDPXQWHUOHELK GDKXOX KDUXV GLVHOHVDLNDQ PHODOXL VXDWX SURVHV \DQJ PLULS GHQJDQ VXDWX SURVHV SHUDGLODQ \DQJ GLODNXNDQ ROHK VXDWX WLPDWDXROHKVHRUDQJSHMDEDWGLOLQJNXQJDQSHPHULQWDKDQ 3URVHVWHUVHEXWGLGDODPLOPXKXNXPGLVHEXWSHUDGLODQVHPX

TXDVLUHFKWVSUDDN6HSHUWLGDODP331R7DKXQ

DGDLVWLODKXSD\DDGPLQLVWUDWLIGDQEDQGLQJDGPLQLVWUDWLI

/XWIL(IIHQGL3RNRN3RNRN+XNXP$GPLQLVWUDVL%D\X0HGLD0DODQJ

(27)

rumah tangganya. Hasil studi menunjukkan bahwa tindak kekerasan terhadap istri terjadi hampir pada semua lapisan masyarakat.17

Data resmi mengenai total jumlah, jenis dan intensitas tindak kekerasan terhadap istri sulit ditemukan secara pasti di Indonesia. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa Indo-nesia bebas dari fenomena itu. Ada seseorang yang bekerja di Pengadilan Agama Palembang, menceritakan bahwa banyak sekali gugatan cerai disebabkan istri sering mengalami perla-kuan kasar suaminya. Beberapa peristiwa kekerasan terhadap istri terjadi di Sumatera Selatan, khususnya Palembang.18

Selanjutnya, berdasarkan data (parsial) yang kemuka-kan oleh koran harian umum Republika, Rabu, 19 Januari 2011, yang diolah dari Bimas Islam Kementerian Agama RI, diketahui bahwa kekerasan terhadap perempuan di Indone-sia pada tahun 2007 berjumlah 25.522 dan pada tahun 2008 berjumlah 54.425 (diselesaikan Pengadilan Agama).

Seiring dengan perubahan nilai-nilai sosial dan semakin banyak perempuan yang sadar akan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya, maka menurut A. Reni Widyastuti, perempuan sebagai istri tidak tinggal diam, dan tidak mau diperlakukan sewenang-wenang oleh laki-laki, maka pihak perempuan akan menggunakan hak-haknya dengan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.19

Wahyu Ernaningsih, Rosmala Polani dan Indah Febriani menjelaskan bahwa ada semacam pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Dahulu istri paling “khawatir” atau “takut” jika diceraikan oleh suaminya. Kenyataan sekarang menunjukkan bahwa sebagian besar istrilah yang mengajukan

17Ibid.

18A. Reni Widyastuti, “Peran Hukum dalam Memberikan Perlindungan terhadap Perempuan dari Tindak Kekerasan di Era Globalisasi”, Jurnal Mimbar Hukum, FH UGM, Yogyakarta, 2009, hlm. 395.

19Ibid.

0HQXUXW :L\RQR WHUGDSDW SHUEHGDDQ DQWDUD SHQ\H OHVDLDQPHODOXLXSD\DDGPLQLVWUDWLIGHQJDQPHODOXL3HUDGLODQ 7DWD8VDKD1HJDUDVHEDJDLEHULNXW

D 'DODPSHQ\HOHVDLDQVHQJNHWDPHODOXLXSD\DDGPLQLVWUD WLI SHPHULNVDDQ \DQJ GLODNXNDQ VLIDWQ\D PHQ\HOXUXK EDLNGDULVHJLKXNXPUHFKWPDWLJKHLGPDXSXQGDULVHJL NHELMDNVDQDDQQ\DGRHOPDWLJKHLG6HGDQJNDQSHPHULN VDDQ\DQJGLODNXNDQROHK3HUDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUD VLIDWQ\D WLGDN PHQ\HOXUXK WHWDSL KDQ\D WHUEDWDV SDGD VHJL KXNXPQ\D UHFKWPDWLJKHLG

E %DGDQDWDX3HMDEDWDWDX,QVWDQVL\DQJPHPHULNVDXSD\D DGPLQLVWUDWLI GDSDW PHQJJDQWL PHQJXEDK DWDX PHQLD GDNDQDWDXGDSDWPHPHULQWDKNDQXQWXNPHQJJDQWLDWDX PHQJXEDK DWDX PHQLDGDNDQ NHSXWXVDQ \DQJ PHQMDGL REMHNVHQJNHWD6HGDQJNDQ3HUDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUD WLGDNGDSDWPHQJJDQWLPHQJXEDKDWDXPHQLDGDNDQDWDX GDSDWPHPHULQWDKNDQXQWXNPHQJJDQWLDWDXPHQJXEDK DWDXPHQLDGDNDQNHSXWXVDQ\DQJPHQMDGLREMHNVHQJNHWD 1DPXQKDQ\DGDSDWPHQMDWXKNDQSXWXVDQEDKZD.HSX WXVDQ7DWD8VDKD1HJDUD\DQJPHQMDGLREMHNVHQJNHWD LWX´WLGDNVDKµDWDX´EDWDOµ

F 3DGDZDNWX%DGDQDWDX3HMDEDWDWDX,QVWDQVL\DQJPHPH ULNVDXSD\DDGPLQLVWUDWLIPHQMDWXKNDQSXWXVDQWHUKDGDS VHQJNHWDWHUVHEXWGDSDWPHPSHUKDWLNDQSHUXEDKDQ\DQJ WHUMDGL VHVXGDK GLNHOXDUNDQQ\D .HSXWXVDQ 7DWD 8VDKD 1HJDUD\DQJPHQJDNLEDWNDQWHUMDGLQ\DVHQJNHWD6HGDQJ NDQSHQ\HOHVDLDQROHK3HUDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUDKDQ\D PHPSHUKDWLNDQNHDGDDQ\DQJWHUMDGLSDGDZDNWXGLNH OXDUNDQQ\D.HSXWXVDQ7DWD8VDKD1HJDUD\DQJPHQMDGL REMHN VHQJNHWD WHUVHEXW

:L\RQR+XNXP$FDUD3HUDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUD6LQDU*UDILND

(28)

cerai ke pengadilan agama.20 Lebih lanjut, Wahyu Ernaningsih

sendiri menjelaskan bahwa pergeseran nilai ini merupakan fenomena sosial yang menyangkut budaya (culture) di masya-rakat yang menganggap lebih modern dan mapan. Keberanian istri dalam mengajukan gugat cerai mengindikasikan perkem-bangan positif kesadaran perempuan akan hak-haknya yang mulai meningkat, tetapi yang menjadi tidak kalah pentingnya adalah apakah nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya yang ada di masyarakat saat ini juga merupakan perkem-bangan positif, dan benarkah pemahaman akan hukum, utama-nya tentang hak dan kewajiban, perkawinan, serta paradigma gender telah dipahami secara benar.21

Kemudian, Wahyu Ernaningsih dan Putu Samawati memaparkan dan menjelaskan kenyataan yang menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran di dalam masyarakat berkaitan dengan masalah perkawinan, khususnya perceraian. Perem-puan mulai berani memosisikan dirinya sama seperti laki-laki, menyadari haknya dan berani menunjukkan eksistensi-nya. Perempuan tidak lagi mau diperlakukan sewenang-we-nang oleh laki-laki, sehingga apabila perempuan menerima perlakuan dari suami dan sudah tidak dapat ditolerir olehnya, maka si istri akan melakukan tindakan untuk mempertahan-kan hak-haknya, antara lain, mengajumempertahan-kan gugatan perceraian ke pengadilan. Pada masa lalu perempuan sangat “takut” me-nyandang status janda, khususnya janda cerai, apalagi dalam usia relatif muda (produktif), karena “label” janda sering di-anggap negatif dalam masyarakat. Selain itu, ketergantungan

20Wahyu Ernaningsih, Rosmala Polani dan Indah Febriani, “Tinjauan Yuridis Penyebab Perceraian di Kota Palembang”, Laporan Hasil Peneli-tian (DIPA Unsri), Lembaga PeneliPeneli-tian Universitas Sriwijaya, Indralaya, 2009.

21Wahyu Ernaningsih, “Gambaran Kelabu Perceraian di Kota Palembang”, Simbur Cahaya, No. 46 Tahun XVI, September 2011, FH Universitas Sriwijaya, Indralaya, hlm. 2725.

3HUNHPEDQJDQQ\DNHPXGLDQ0DKNDPDK$JXQJPHP EXDW6XUDW(GDUDQ1RPRU7DKXQ\DQJPHPEHULNDQ SHWXQMXNNHSDGDEDGDQ3HUDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUDGDODP PHQ\HOHVDLNDQVHQJNHWDWDWDXVDKDQHJDUD\DQJWHUGDSDWXSD \DDGPLQLVWUDWLIVHEDJDLEHULNXW

-LNDGDODPSHUDWXUDQSHUXQGDQJXQGDQJDQ\DQJPHQMDGL GDVDUGLNHOXDUNDQQ\D.HSXWXVDQ7DWD8VDKD1HJDUD\DQJ PHQJDNLEDWNDQWHUMDGLQ\DVHQJNHWD7DWD8VDKD1HJDUD XSD\DDGPLQLVWUDWLI\DQJWHUVHGLDDGDODKNHEHUDWDQPDND SHQ\HOHVDLDQVHODQMXWQ\DDGDODKGHQJDQPHQJDMXNDQJX JDWDQNH3HQJDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUD

-LNDGDODPSHUDWXUDQSHUXQGDQJXQGDQJDQ\DQJPHQMDGL GDVDUGLNHOXDUNDQQ\D.HSXWXVDQ7DWD8VDKD1HJDUD\DQJ PHQJDNLEDWNDQWHUMDGLQ\DVHQJNHWD7DWD8VDKD1HJDUD XSD\DDGPLQLVWUDWLI\DQJWHUVHGLDDGDODK%DQGLQJ$GPLQ LVWUDWLIVDMDDWDX.HEHUDWDQGDQ%DQGLQJ$GPLQLVWUDWLI PDNDSHQ\HOHVDLDQVHQJNHWDVHODQMXWQ\DDGDODKGHQJDQ PHQJDMXNDQ JXJDWDQ NH 3HQJDGLODQ 7LQJJL 7DWD 8VDKD 1HJDUD

+DN3HJDZDL1HJHUL6LSLOXQWXNPHQJDMXNDQJXJDWDQ NH3HQJDGLODQ7DWD8VDKD1HJDUDKDUXVPHODOXLVDUDQDDGPL QLVWUDVLWHUOHELKGDKXOXMXJDGLWHJDVNDQGDODP3DVDO88 1R7DKXQVHEDJDLEHULNXW

'DODPKDOVXDWX%DGDQDWDX3HMDEDW7DWD8VDKD1HJDUD GLEHULZHZHQDQJROHKDWDXEHUGDVDUNDQSHUDWXUDQSHU XQGDQJXQGDQJDQXQWXNPHQ\HOHVDLNDQVHFDUDDGPLQLV WUDVLVHQJNHWD7DWD8VDKD1HJDUDWHUWHQWXPDNDVHQJ NHWD7DWD8VDKD1HJDUDWHUVHEXWKDUXVGLVHOHVDLNDQPHOD OXLXSD\DDGPLQLVWUDVL\DQJWHUVHGLD

(29)

ekonomi dengan suami menambah kekhawatiran mereka apa-bila bercerai, nasib anak-anak mereka akan menjadi taruhan-nya.22

Lebih lanjut, Wahyu Ernaningsih dan Putu Samawati memahami bahwa meningkatnya kesadaran perempuan akan hak-haknya ini merupakan suatu perkembangan yang cukup positif apabila dihubungkan dengan kesadaran hukum, khu-susnya hukum perkawinan menyangkut status (hak dan kewa-jiban antara laki-laki dan perempuan), hal ini dimungkinkan oleh semakin meningkatnya pengetahuan perempuan, ter-utama terkait dengan masalah hak dan kewajibannya dalam rumah tangga. Selain itu, adanya payung hukum bagi perem-puan dalam mempertahankan hak-haknya yang diatur secara normatif juga disinyalir memiliki andil dalam peningkatan kesadaran akan hak perempuan ini. Analisis lain yang dapat diinventarisasi adalah mulai adanya pergeseran nilai budaya timur ke arah modernisasi yang merupakan pengaruh dari budaya barat yang menganggap suatu perkawinan hanyalah suatu bentuk perikatan perdata dengan menyampingkan nilai sakral suatu perkawinan berupa ikatan suci lahir batin berlan-daskan kasih sayang dan cinta yang dipersatukan oleh Tu-han.23

UU No. 1 Tahun 1974 merupakan payung hukum nasio-nal tentang perkawinan, termasuk perceraian yang berlaku saat ini di Indonesia. Oleh karena itu, berbahagialah bangsa Indonesia yang mempunyai UU No. 1 Tahun 1974 yang dalam Penjelasan Umumnya, disebut dengan “Undang-Undang Per-kawinan Nasional” yang keberadaannya adalah mutlak bagi

22Wahyu Ernaningsih dan Putu Samawati, “Kajian Yuridis Hak Anak yang Orang Tuanya Cerai menurut Perspektif Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Hukum 5 (Lima) Agama di Indonesia”, Laporan Hasil Penelitian (PPD Heds), Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, Indralaya, 2005.

23Ibid.

6HODLQKDNKDNNHSHJDZDLDQ\DQJGLDWXUGDODP331R 7DKXQVHEDJDLPDQDGLXUDLNDQGLDWDVWHUGDSDWSXOD KDNKDNNHSHJDZDLDQ\DQJGLDWXUGDODP3DVDO331R 7DKXQ WHQWDQJ 3HPEHUKHQWLDQ 3HJDZDL 1HJHUL 6LSLO \DLWXNHSDGD3HJDZDL1HJHUL6LSLO\DQJGLEHUKHQWLNDQGHQJDQ KRUPDWVHEDJDL3HJDZDL1HJHUL6LSLOGLEHULNDQKDNKDNNHSH JDZDLDQ EHUGDVDUNDQ SHUDWXUDQ SHUXQGDQJXQGDQJDQ \DQJ EHUODNX+DNKDNNHSHJDZDLDQ\DQJGLPDNVXGGLVLQLDQWDUD ODLQDGDODKKDNSHQVLXQXDQJWXQJJXGDQODLQVHEDJDLQ\D \DQJWHNQLVSHQJDWXUDQQ\DGLMDEDUNDQGDODPSHUDWXUDQNHSH JDZDLDQWHUNDLW

+DN SHQVLXQ GLEHULNDQ NHSDGD 3HJDZDL 1HJHUL 6LSLO \DQJGLEHUKHQWLNDQGHQJDQKRUPDWVHEDJDL3HJDZDL1HJHUL 6LSLODSDELOD\DQJEHUVDQJNXWDQWHODKPHQFDSDLXVLDVHNX UDQJNXUDQJQ\D OLPD SXOXK WDKXQ GDQ PHPLOLNL PDVD NHUMDSHQVLXQVHNXUDQJNXUDQJQ\DVHSXOXKWDKXQ.HPX GLDQXDQJWXQJJXGLEHULNDQNHSDGD3HJDZDL1HJHUL6LSLO\DQJ GLEHUKHQWLNDQGHQJDQKRUPDWGDULMDEDWDQQHJHULDSDELODEH OXPPHPHQXKLV\DUDWV\DUDWXVLDGDQPDVDNHUMDVHEDJDLPDQD GLWHQWXNDQGLDWDV

(30)

suatu negara dan bangsa seperti Indonesia yang sekaligus me-nampung prinsip-prinsip dan memberikan landasan hukum perkawinan yang selama ini menjadi rujukan dan telah berla-ku bagi berbagai golongan dalam masyarakat Indonesia.

Selanjutnya, Penjelasan Umum UU No. 1 Tahun 1945 juga menjelaskan bahwa sesuai dengan landasan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka UU No. 1 Tahun 1974 di satu pihak harus dapat mewujudkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sedangkan di lain pihak harus dapat pula menam-pung segala kenyataan yang hidup dalam masyarakat dewasa ini. UU No. 1 Tahun 1974 ini telah menampung di dalamnya unsur-unsur dan ketentuan-ketentuan hukum agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan.

Dengan berlakunya UU No. 1 Tahun 1974, bangsa In-donesia telah memiliki hukum perkawinan, termasuk hukum perceraian yang berlaku secara nasional berdasarkan Panca-sila dan tetap berpijak pada semboyan “bhineka tunggal ika”, yang bermakna walaupun pada pokoknya bangsa Indonesia sudah mempunyai hukum perkawinan, termasuk hukum per-ceraian yang berlandaskan kesatuan, namun kebhinekaannya tetap masih berlaku.

Terkait dengan hukum perkawinan, termasuk hukum perceraian yang berlandaskan kesatuan, namun kebhine-kaannya tetap masih berlaku, relevan dikemukakan pendapat Titik Triwulan Tutik yang menyatakan bahwa di Indonesia pelaksanaan hukum perkawinan masih pluralistis. Artinya, di Indonesia dalam praktiknya masih berlaku tiga macam sis-tem hukum perkawinan, yaitu:

a. Hukum Perkawinan menurut Hukum Perdata Barat/

Burgerlijk Wetboek (BW), diperuntukkan bagi WNI ketu-runan asing atau beragama Kristen;

b. Hukum Perkawinan menurut Hukum Islam diperuntuk-kan bagi WNI keturunan atau pribumi yang beragama Islam;

%DGDQ3HUWLPEDQJDQ.HSHJDZDLDQWHUVHEXWGLEHQWXN6HNUH WDULDW%DGDQ3HUWLPEDQJDQ.HSHJDZDLDQ

3HUDWXUDQ.HSDOD%DGDQ.HSHJDZDLDQ1HJDUD1R 7DKXQPHQJDWXUKDNKDNNHSHJDZDLDQ\DQJWLPEXODWDV SHQHUDSDQ331R7DKXQ\DLWX

D 3HJDZDL1HJHUL6LSLO\DQJPHQLQJJDOGXQLDVHEHOXPDGD NHSXWXVDQDWDVXSD\DDGPLQLVWUDWLIGLEHUKHQWLNDQGHQJDQ KRUPDWVHEDJDL3HJDZDL1HJHUL6LSLOGDQGLEHULNDQKDN KDN NHSHJDZDLDQ VHVXDL GHQJDQ SHUDWXUDQ SHUXQGDQJ XQGDQJDQ

E 3HJDZDL1HJHUL6LSLO\DQJPHQFDSDL%DWDV8VLD3HQVLXQ VHEHOXP DGD NHSXWXVDQ DWDV NHEHUDWDQ GLDQJJDS WHODK VHOHVDLPHQMDODQLKXNXPDQGLVLSOLQGDQGLEHUKHQWLNDQGH QJDQKRUPDWVHEDJDL3HJDZDL1HJHUL6LSLOVHUWDGLEHULNDQ KDNKDNNHSHJDZDLDQEHUGDVDUNDQNHWHQWXDQSHUXQGDQJ XQGDQJDQ

F 3HJDZDL1HJHUL6LSLO\DQJVHGDQJPHQJDMXNDQEDQGLQJ DGPLQLVWUDWLIGDQWHODKPHQFDSDL%DWDV8VLD3HQVLXQDSD ELODPHQLQJJDOGXQLDPDND\DQJEHUVDQJNXWDQGLEHUKHQ WLNDQGHQJDQKRUPDWVHEDJDL3HJDZDL1HJHUL6LSLOGDQ GLEHULNDQKDNKDNNHSHJDZDLDQQ\DEHUGDVDUNDQNHWHQ WXDQSHUXQGDQJXQGDQJDQ

G 3HJDZDL1HJHUL6LSLO\DQJPHQFDSDL%DWDV8VLD3HQVLXQ VHEHOXPDGDNHSXWXVDQDWDVEDQGLQJDGPLQLVWUDWLIGLKHQ WLNDQSHPED\DUDQJDMLQ\DVDPSDLGHQJDQGLWHWDSNDQQ\D EDQGLQJDGPLQLVWUDWLI

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum pelatihan senam lansia MENPORA jumlah lansia yang memiliki fungsi kognitif terganggu sebanyak 17 orang (85 %) sedangkan fungsi kognitif normal sebanyak 3

Dengan adanya beberapa penelitian terdahulu yang digunakan sebagai acuan untuk ini, dan sebagaimana dapat dilihat pada tabel diatas bahwa metode yang digunakan

38 Tahun 1999 yang dimaksud dengan zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan

Puji syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan

Maka penulis mengajak dan menganjurkan kepada guru pendidikan jasmani khusunya guru penjas SD Negeri Cigondewah untuk menerapkan permainan tradisional dalam pembelajaran

Net profit margin dan return on asset tidak berpengaruh pada praktik perataan laba, hanya margin laba usaha yang dapat mempengaruhi perusahaan untuk melakukan

Penelitian tahun ke-2 ini bertujuan: aplikasi pengendalian pemanfaatan ruang dan menentukan model-model pengelolaan lahan untuk mencegah terjadinya longsor lahan

Karena Ahlus Sunnah di dalam menetapkan sifat dan asma Allah adalah tawaquf dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya sendiri dan apa yang ditetapkan