Pengantar
Pengantar
Hukum Indonesia
Ratna Artha Windari
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam terbitan (KDT) Windari, Ratna Artha
Pengantar Hukum Indonesia/Ratna Artha Windari —Ed. 1, Cet. 1.—Depok: Rajawali Pers, 2017.
xxxx, xxx hlm., 23 cm. Bibliografi: hlm. xx ISBN 978-602-425-xxx-xx
1. xxxxxxxx I. Judul.
xxxx
Hak cipta 2017, pada penulis
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit
2017.xxxxx RAJ Ratna Artha windari
PENGANTAR HUKUM INDONESIA
Cetakan ke-1, April 2017
Hak penerbitan pada PT RajaGrafindo Persada, Depok Desain cover oleh [email protected]
Dicetak di Kharisma Putra Utama Offset
PT RAJAGRAFINDO PERSADA
Kantor Pusat:
Jl. Raya Leuwinanggung, No.112, Kel. Leuwinanggung, Kec. Tapos, Kota Depok 16956 Tel/Fax : (021) 84311162 – (021) 84311163
E-mail : [email protected] http: // www.rajagrafindo.co.id
Perwakilan:
Jakarta-14240, Jl. Pelepah Asri I Blok QJ2 No. 4 Kelapa Gading Permai Jakarta Utara Telp. 021-4527823.
Segala puji syukur dan terima kasih tak terhingga penulis ucapkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya penulisan buku ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Buku ini diperuntukkan sebagai sumber bacaan bagi kalangan akademisi, mahasiswa Fakultas Hukum, praktisi di bidang hukum, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan untuk mempelajari tatanan hukum di Indonesia beserta segala Hukum Positif (Ius Constitutum) yang berlaku dari masa ke masa. Uraian materi dalam buku ini ditata sedemikian rupa sehingga dapat dipelajari secara runtut dan terangkum dalam 13 (tiga belas) bab yang terdiri atas Pendahuluan berisi Konsep dasar/pengantar Tata Hukum Indonesia (Bab 1), Hukum dan Tata Hukum Indonesia (Bab 2), Sejarah Tata Hukum dan Politik Hukum Indonesia (Bab 3), Sistem Hukum Dunia (Bab 4), Hukum Adat (Bab 5), Hukum Perdata (Bab 6), Hukum Pidana (Bab 7), Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (Bab 8), Hukum Dagang (Bab 9), Hukum Agraria (Bab 10), Hukum Internasional (Bab 11), Peradilan Tata Usaha Negara (Bab 12), dan Hukum Acara (Bab 13).
Tersusunnya buku ini tentu tidak terlepas dari kontribusi dan dukungan lembaga baik bersifat material maupun imaterial, dan seluruh pihak yang telah memberikan dorongan motivasi serta sumbangsih pemikiran hingga terselesaikannya buku ini.
Penulis menyadari bahwa buku ini jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran sangat penulis harapkan guna perbaikan dan penyempurnaan substansi ke depannya. Akhir kata, penulis berharap mudah-mudahan kehadiran buku ini dapat membantu efektivitas dan efisiensi pemahaman seluruh pembaca terhadap tatanan hukum di Indonesia.
Singaraja, Maret 2017
PRAKATA i
DAFTAR ISI iii
BAB 1 HUKUM DAN TATA HUKUM INDONESIA 1
A. Pendahuluan 1
B. Pengertian Hukum menurut Para Ahli 3
C. Pengertian Pengantar Hukum Indonesia dan Tata
Hukum Indonesia 8
D. Tujuan Mempelajari Tata Hukum Indonesia 14 E. Hubungan Antara Pengantar Ilmu Hukum dan
Pengantar Hukum Indonesia 16
BAB 2 SEJARAH TATA HUKUM DAN POLITIK HUKUM
INDONESIA 20
A. Pendahuluan
B. Sejarah Tata Hukum Indonesia 21
C. Pengertian Politik Hukum Indonesia 36
D. Bentuk dan Corak Hukum dalam Pembentukan
Politik Hukum 39
E. Politik Hukum Pemerintahan Hindia Belanda 40
F. Politik Hukum Setelah Kemerdekaan 46
G. Dasar Hukum Berlakunya Keanekaragaman Hukum
di Indonesia 48
BAB 3 SISTEM HUKUM DUNIA 50
A. Pendahuluan 50
B. Pengertian Sistem Hukum 51
C. Sistem Hukum Eropa Kontinental/ Civil Law 51 D. Sistem Hukum Anglo Saxon/ Common Law 53
E. Sistem Hukum Adat 55
F. Sistem Hukum Islam 56
G. Sistem Hukum Masyarakat Eropa 58
BAB 4 HUKUM ADAT 62
A. Pendahuluan 62
B. Sejarah Berlakunya Hukum Adat 63
C. Pengertian dan Istilah Hukum Adat 70
D. Corak Hukum Adat Indonesia 75
E. Dasar Hukum dan Sumber Berlakunya Hukum
Adat 76
F. Ruang Lingkup Hukum Adat 79
BAB 5 HUKUM PERDATA 82
A. Pendahuluan 82
B. Sejarah Hukum Perdata 82
C. Dasar Berlakunya Hukum Perdata di Indonesia 84
D. Pengertian Hukum Perdata 86
BAB 6 HUKUM PIDANA 123
A. Pendahuluan 123
B. Pengertian dan Tujuan Hukum Pidana 124
C. Sejarah Hukum Pidana Indonesia 125
D. Sumber-sumber Hukum Pidana di Indonesia 141
E. Asas-asas Hukum Pidana 142
F. Ruang Lingkup Berlakunya Hukum Pidana 143
G. Macam-macam Pembagian Delik 150
H. Sistem Hukuman 151
I. Perkembangan Hukum Pidana Indonesia 155
BAB 7 HUKUM TATA NEGARA DAN HUKUM
ADMINISTRASI NEGARA 157
A. Pendahuluan 157
B. Hukum Tata Negara Indonesia 158
1. Pengertian Hukum Tata Negara Menurut Para
Ahli 158
2. Hubungan Hukum Tata Negara dengan Ilmu
Pengetahuan Lain 160
3. Sumber-sumber Hukum Tata Negara 161
4. Bentuk Produk Hukum di Indonesia 164
5. Struktur Lembaga Negara 165
C. Hukum Administrasi Negara 171
1. Pengertian Hukum Administrasi Negara 171 2. Ruang Lingkup Hukum Administrasi Negara 173 3. Hubungan Hukum Administrasi Negara Dengan
Ilmu Pengetahuan Lain 174
4. Teori-teori dalam Hukum Administrasi
Negara 176
5. Keputusan Tata Usaha Negara dan Perbuatan
BAB 8 HUKUM DAGANG 185
A. Pendahuluan 185
B. Sejarah Hukum Dagang 185
C. Pengertian Hukum Dagang 188
D. Sumber-sumber Hukum Dagang 190
E. Hukum Perusahaan 193
F. Surat Berharga 204
G. Hukum Pengangkutan 214
H. Hak Kekayaan Intelektual (HKI) 219
I. Hukum Pertanggungan 230
BAB 9 HUKUM AGRARIA 245
A. Pendahuluan 245
B. Pengertian Hukum Agraria 246
C. Politik Agraria Menurut UUPA 248
D. Sejarah Pembentukan UUPA 250
E. Dasar-dasar Hukum Agraria 253
F. Hak Atas Tanah & Tata Cara Perolehannya 257 G. Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum 263
H. Pendaftaran Tanah 269
BAB 10 HUKUM INTERNASIONAL 272
A. Pendahuluan 272
B. Pengertian Hukum Internasional 272
C. Sumber-sumber Hukum Internasional 275
D. Subjek Hukum Internasional 280
BAB 11 PERADILAN TATA USAHA NEGARA (PTUN) 291
A. Pendahuluan 291
B. Pengertian dan Dasar Hukum PTUN 292
C. Subjek dan Objek PTUN 293
D. Asas-asas dalam PTUN 298
E. Kewenangan dan Susunan PTUN 299
F. Dasar Pengujian Keputusan Tata Usaha Negara 303 G. Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara 303
H. Pembuktian 307
I. Putusan 310
J. Upaya Hukum 315
BAB 12 HUKUM ACARA 321
A. Pendahuluan 321
B. Hukum Acara Perdata 322
1. Pengertian Hukum Acara Perdata 322
2. Sumber-sumber Hukum Acara Perdata 323
3. Asas-asas Hukum Acara Perdata 324
4. Susunan Badan Peradilan di Indonesia 327
5. Pemberian Kuasa (Lastgeving) 329
6. Proses dan Tata Cara Berperkara 331
7. Upaya Hukum 334
C. Hukum Acara Pidana 343
1. Pengertian Hukum Acara Pidana 343
2. Sumber-sumber Hukum Acara Pidana 345
3. Asas-asas Hukum Acara Pidana 348
4. Proses Penyelesaian Perkara Pidana 352
D. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi 363
1. Pengertian Hukum Acara Mahkamah
2. Asas-asas Hukum Acara Mahkamah
Konstitusi 364
3. Dasar Hukum dan Karakteristik Hukum
Acara Mahkamah Konstitusi 378
4. Pihak yang Berhak Mengajukan Permohonan
(Legal Standing) 380
5. Beban Pembuktian dan Alat Bukti 382
6. Prosedur dan Tata Cara Berperkara 387
DAFTAR PUSTAKA 404
GLOSARIUM 408
A. Pendahuluan
Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam ilmu hukum, terdapat adagium yang berbunyi: “Ubi societas ibi ius” (di mana ada masyarakat di situ ada hukumnya). Artinya bahwa dalam setiap pembentukan suatu bangunan struktur sosial yang bernama masyarakat, maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai “perekat” atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai “perekat” tersebut adalah hukum.
Secara etimologis, istilah “hukum” (Indonesia) disebut law (Inggris) dan recht (Belanda dan Jerman) atau droit (Prancis). Istilah recht berasal dari bahasa latin rectum berarti tuntunan atau bimbingan, perintah atau pemerintahan. Rectum dalam bahasa romawi adalah rex yang berarti raja atau perintah raja. Istilah-istilah tersebut (recht, rectum, rex) dalam bahasa Inggris menjadi right (hak atau adil) yang juga berarti “hukum”. Istilah hukum dalam bahasa Latin juga disebut ius dari kata iubere, artinya mengatur atau memerintah atau hukum. Perkataan mengatur dan memerintah bersumber pada kekuasaan Negara atau pemerintah. Istilah ius (hukum) sangat erat dengan tujuan hukum, yaitu keadilan atau iustitia. Iustitia atau justitia adalah “dewi keadilan” bangsa Yunani dan Romawi Kuno. Iuris atau juris (Belanda) berarti “hukum” atau “kewenangan” (hak), dan jurist (Inggris dan Belanda) adalah “ahli hukum” atau “hakim”. Istilah jurisprudence (Inggris) berasal
HUKUM DAN TATA HUKUM
INDONESIA
dari kata iuris merupakan bentuk jamak dari ius yang berarti “hukum” yang dibuat oleh masyarakat atau sebagai hukum kebiasaan, ataupun yang berarti “hak” dan “prudensi” berarti melihat ke depan atau mempunyai keahlian. Dengan demikian, jurisprudence mempunyai arti ilmu pengetahuan hukum, ilmu hukum, atau ilmu yang mempelajari hukum.
Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan bermasyarakat, dibuat oleh lembaga yang berwenang dan bersifat memaksa serta berisi perintah dan larangan yang apabila dilanggar akan mendapat sanksi. Hukum sangat dibutuhkan dalam pergaulan hidup, di mana fungsinya adalah memperoleh ketertiban dalam hubungan antar manusia, menjaga jangan sampai seseorang dapat dipaksa oleh orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak kehendaknya, dan lain-lain. Tetapi ada faktor lain selain tata tertib yang terdapat pada hukum yaitu keadilan, suatu sifat khas pada hukum yang tidak terdapat pada ketentuan-ketentuan lainnya yang bertujuan untuk mencapai tata tertib. Dalam hubungan hukum dan negara, baik hukum maupun negara muncul dari kehidupan manusia karena keinginan batinnya untuk memperoleh tata tertib.
Dalam mencapai tata tertib demi keadilan maka aturan-aturan hukum mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan pergaulan hidup manusia. Perkembangan aturan-aturan hukum dalam pelaksanaannya menunjukkan adanya penggantian aturan hukum yang sedang berlaku (hukum positif). Hal ini disebabkan karena tidak sesuainya lagi aturan hukum yang ada dengan kebutuhan masyarakat sehingga diperlukan aturan-aturan hukum baru yang sejenis. Aturan-aturan hukum yang akan menggantikan hukum positif selama belum diberlakukan maka dinamakan sebagai hukum yang direncanakan atau dengan kata lain disebut ius constituendum (Djamali, 2012: 3).
Aturan hukum baru sebagai hukum positif dan aturan hukum lama yang sudah tidak berlaku lagi dalam ilmu pengetahuan hukum dinamakan sebagai “tata hukum”. Tata hukum akan selalu ada serta bertambah sepanjang zaman selama ada kehidupan dan perkembangan pergaulan hidup masyarakat. Hal inilah yang selanjutnya dikenal sebagai sejarah tata hukum.
hukumnya pun bersifat sangat dinamis menyesuaikan perkembangan bangsa. Indonesia dalam hal ini menganut sistem hukum tertentu untuk memelihara tata tertib demi keadilan bernegara. Dengan demikian, sangat penting mempelajari hukum Indonesia dan hubungannya dengan hukum sebagai ilmu baik secara normatif maupun empiris dalam tataran tata hukum Indonesia.
B. Pengertian Hukum Menurut Para Ahli
Pengertian hukum secara umum adalah himpunan peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan bermasyarakat, dibuat oleh lembaga yang berwenang dan bersifat memaksa serta berisi perintah dan larangan yang apabila dilanggar akan mendapat sanksi. Pengertian hukum berdasarkan pendapat para ahli dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Hugo de Grotius (1583-1645): Hukum adalah perbuatan tentang moral yang menjamin keadilan.
2. Van Vollenhoven (1874-1933): Hukum adalah suatu gejala dalam pergaulan hidup yang bergolak terus-menerus dalam keadaan berbenturan tanpa henti dari gejala-gejala lain.
3. Prof. Soedikno Mertokusumo (1924-2011): Hukum adalah keseluruhan kumpulan peraturan-peraturan atau kaidah-kaidah dalam suatu kehidupan bersama, keseluruhan peraturan tingkah laku yang berlaku dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan pelaksanaannya dengan sanksi.
4. Mochtar Kusumaatmadja (1929): Hukum adalah keseluruhan asas dan kaidah yang mengatur pergaulan hidup manusia dalam masyarakat, juga meliputi lembaga (institusi) dan proses yang mewujudkan kaidah tersebut dalam masyarakat.
6. Leon Duguit (1859-1928): Hukum adalah semua aturan tingkah laku para angota masyarakat, aturan yang daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh anggota masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama dan jika yang dilanggar menimbulkan reaksi bersama terhadap orang yang melakukan pelanggaran itu.
7. Immanuel Kant (1724-1804): Hukum adalah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang yang lain, menuruti peraturan hukum tentang kemerdekaan.
8. E. Utrecht (1922-1987): Hukum merupakan himpunan petunjuk-petunjuk hidup tata tertib suatu masyarakat dan seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Apabila dilanggar akan menimbulkan tindakan tertentu dari pihak pemerintah. Hukum berfungsi sebagai alat penguasa yang memiliki kemampuan memberi atau memaksakan sanksi terhadap pelaku pelanggar hukum karena tindakan penegakan hukum saat terjadi pelanggaran merupakan monopoli penguasa.
9. Eugen Ehrlich (1862-1922): Hukum adalah sesuatu yang berkaitan dengan fungsi kemasyarakatan dan memandang sumber hukum hanya dari legal storyand jurisprudence dan living law.
10. Roscoe Pound (1870-1964): Hukum sebagai tata hukum mempunyai pokok bahasan hubungan antara manusia dengan individu lainnya, dan hukum merupakan tingkah laku para individu yang memengaruhi individu lainnya. Adapun hukum sebagai kumpulan dasar-dasar kewenangan dari putusan-putusan pengadilan dan tindakan administratif Law as a tool of social engineering.
11. Hans Kelsen (1881-1973): Hukum adalah suatu perintah terhadap tingkah laku manusia. Hukum adalah kaidah primer yang menetapkan sanksi-sanksi.
13. Karl Von Savigny (1779-1861): Hukum merupakan aturan yang terbentuk melalui kebiasaan dan perasaan kerakyatan, yaitu melalui pengoperasian kekuasaan secara diam-diam. Hukum berakar pada sejarah manusia, di mana akarnya dihidupkan oleh kesadaran, keyakinan, dan kebiasaan warga masyarakat.
14. Karl Max (1818-1883): Hukum adalah suatu pencerminan dari hubungan hukum ekonomis dalam masyarakat pada suatu tahap perkembangan tertentu.
15. Paul Scholten (1875-1946): Hukum adalah suatu petunjuk tentang apa yang layak dilakukan dan apa yang tidak layak dilakukan, yang bersifat perintah.
16. Thomas Hobbes (1588-1679): Hukum adalah perintah-perintah dari orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah dan memaksakan perintahnya kepada orang lain.
17. Thomas Aquinas (1225-1274): Hukum berasal dari Tuhan, maka dari itu hukum tidak boleh dilanggar.
18. Tullius Cicero (Romawi) dalam De Legibus (106 SM 43 SM): Hukum adalah akal tertinggi yang ditanamkan oleh alam dalam diri manusia untuk menetapkan apa yang boleh dan apa yang tidak diperbolehkan.
Secara umum hukum merupakan seluruh aturan tingkah laku berupa norma atau kaidah baik tertulis maupun tidak tertulis yang dapat mengatur tata tertib dalam masyarakat yang harus ditaati oleh setiap anggota masyarakatnya berdasarkan keyakinan dan kekuasaan hukum itu. Pengertian tersebut didasarkan pada penglihatan hukum dalam arti materiil, sedangkan dalam arti formal, hukum adalah kehendak ciptaan manusia berupa norma-norma yang berisikan petunjuk-petunjuk tingkah laku tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang dan dianjurkan untuk dilakukan. Oleh karena itu, hukum mengandung nilai-nilai keadilan, kegunaan, dan kepastian dalam masyarakat tempat hukum diciptakan.
merupakan pedoman sikap tindakan atau perilaku yang pantas dalam pergaulan hidup antarmanusia. Bertitik-tolak dari beberapa definisi hukum tersebut, dapat disimpulkan bahwa hukum terdiri atas beberapa unsur sebagai berikut.
1. Peraturan atau kaidah-kaidah tingkah laku manusia dalam pergaulan antar manusia (masyarakat);
2. Peraturan yang diadakan oleh badan-badan resmi atau pejabat berwenang;
3. Peraturan merupakan jalinan-jalinan nilai, merupakan konsepsi abstrak tentang adil dan tidak adil serta apa yang dianggap baik dan buruk;
4. Peraturan bersifat memaksa;
5. Peraturan mempunyai sanksi yang tegas dan nyata.
Di samping itu, kita juga dapat melihat bahwa hukum ditandai oleh adanya perintah dan/atau larangan serta perintah dan/atau larangan itu harus dapat ditaati oleh setiap orang.
C. Pengertian Pengantar Hukum Indonesia dan Tata Hukum
Indonesia
1. Pengertian Pengantar Hukum Indonesia
Pengantar Hukum Indonesia terdiri dari tiga kata “Pengantar”, “Hukum”, dan “Indonesia”. Pengantar berarti mengantarkan pada tujuan tertentu. Pengantar dalam bahasa Belanda disebut inleiding atau introduction (bahasa Inggris) yang berarti memperkenalkan secara umum atau secara garis besar yang tidak mendalam atas sesuatu hal tertentu. Pada istilah Pengantar Hukum Indonesia yang diperkenalkan secara umum atau secara garis besar adalah hukum di Indonesia.
atau negara tertentu. Hukum positif atau stellingsrecht merupakan suatu kaidah yang berlaku sebenarnya, merumuskan suatu hubungan yang pantas antara fakta hukum dengan akibat hukum yang merupakan abstraksi dari keputusan-keputusan.
J.J.H. Bruggink di dalam bukunya “Rechtsreflecties, Grondbegrippen uit de rechtstheorie” (Refleksi Hukum, Pengertian Dasar Teori Hukum) yang telah dialih bahasakan oleh Bernard Arief Sidharta dengan judul “Refleksitentang Hukum” bahwa yang dimaksud “positivitas” kaidah hukum adalah hal ditetapkannya kaidah hukum dalam sebuah aturan hukum oleh pengemban kekuasaan hukum yang berwenang (bevoegde rechtsautoriteit). Dengan ini, maka aturan hukum itu disebut hukum positif. Unsur-unsur lain dari hukum positif, yaitu sebagai berikut.
a. Hukum Positif Mengikat Secara Umum atau Khusus
Mengikat secara umum adalah aturan hukum yang berlaku umum yaitu peraturan perundang-undangan (UUD, UU, PP, Peraturan Daerah), hukum adat, hukum yurisprudensi, dan hukum agama yang dijadikan atau diakui sebagai hukum positif seperti hukum perkawinan (Undang-Undang Nomor l Tahun 1974). Mengikat secara khusus, adalah hukum yang mengikat subjek atau objek tertentu saja, yaitu yang secara keilmuan (Ilmu Hukum Administrasi Negara) dinamakan beschikking.
b. Hukum Positif Ditegakkan oleh atau Melalui Pemerintah atau Pengadilan
berarti hukum kebiasaan, hukum agama, atau hukum moral tidak mempunyai kekuatan sebagai hukum positif.
c. Hukum Positif Berlaku dan Ditegakkan di Indonesia
Unsur ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa, hukum positif adalah suatu aturan hukum yang bersifat nasional, bahkan mungkin lokal. Selain hukum positif Indonesia, akan didapati hukum positif Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan negara lainnya atau di suatu masyarakat hukum tertentu. Apakah mungkin ada hukum positif yang bersifat supranasional, misalnya dalam lingkungan ASEAN, Uni Eropa, dan lain-lain. Sangat mungkin, asal dipenuhi syarat ada badan pada tingkat supranasional yang bersangkutan yang menegakkan aturan hukum tersebut apabila ada pelanggaran.
Ius positum atau ius constitutum atau disebut juga ius operatum artinya, hukum yang telah ditetapkan atau dipositifkan (positum) atau dipilih atau ditentukan (constitutum) berlakunya sekarang (operatum) dalam masyarakat atau wilayah tertentu. Ius operatum mengandung arti bahwa hukum atau peraturan perundang-undangan telah berlaku dan dilaksanakan di masyarakat. Ius costituendum dapat menjadi ius constitutum atau ius positum atau ius operatum apabila sudah ditetapkan berlaku oleh penguasa yang berwenang dan pemberlakuannya memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh hukum positif lainnya yang mengatur pemberlakuan suatu hukum (undang-undang), misalnya perundang-undangan harus telah disahkan oleh lembaga pembuat undang-undang dan diundangkan oleh lembaga yang berwenang.
Pada hakikatnya hukum memiliki tujuan yang bersifat universal misalnya ketenteraman, ketertiban, kesejahteraan, kebahagiaan dan kedamaian. Dengan adanya hukum maka setiap masalah dapat diselesaikan melalui perantara hakim lewat proses pengadilan. Hal ini juga menjadi pencegah supaya setiap orang tidak main hakim sendiri atas orang lain atau dirinya sendiri
2. Hukum dalam Arti Tata Hukum Indonesia
misalnya di Indonesia). Hukum positif tersebut misalnya hukum publik (HTN, HAN, Pidana, internasional publik), hukum privat (perdata, dagang, dan lain-lain).
Kata “Tata” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti aturan, susunan, cara menyusun, dan sistem. Tata hukum berarti peraturan dan cara atau tata tertib hukum di suatu negara atau lebih dikenal dengan tatanan. Tata hukum atau susunan hukum adalah hukum yang berlaku pada waktu tertentu dalam suatu wilayah negara tertentu yang disebut hukum positif, dalam bahasa latinnya Ius Constitutum lawannya adalah Ius Constituendum atau hukum yang dicita-citakan/hukum yang belum membawa akibat hukum.
Dalam kaitannya di Indonesia, yang ditata itu adalah hukum positif yang berlaku di Indonesia. Hukum yang sedang berlaku artinya apabila ketentuan-ketentuan hukum itu dilanggar maka bagi si pelanggar akan dikenakan sanksi yang datangnya dari badan atau lembaga berwenang. Pengantar tata hukum di Indonesia merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan hukum, di samping pengantar ilmu hukum. Pengantar tata hukum Indonesia maupun pengantar ilmu hukum masing-masing mempunyai objek penyelidikan sendiri. Objek pengantar tata hukum Indonesia adalah hukum positif (hukum positif/Ius Constitutum). Tata hukum berasal dari bahasa Belanda recht orde artinya susunan hukum atau yang berarti memberikan tempat yang sebenarnya kepada hukum (R. Abdoel Djamali, SH). Yang dimaksud dengan “memberikan tempat yang sebenarnya kepada hukum”, yaitu menyusun dengan baik dan tertib aturan-aturan hukum dalam pergaulan hidup. Hal ini dilakukan agar ketentuan yang berlaku dengan mudah dapat diketahui dan digunakan untuk menyelesaikan setiap terjadi peristiwa hukum. Contoh tata hukum pidana yang sudah dikodifikasikan (KUHP), jika terjadi pelanggaran tehadap hukum pidana maka dapat dilihat dalam KUHPidana yang sudah dikodifikasikan tersebut.
dengan aturan hukum baru yang sejenis dan berlaku sebagai hukum positif baru. Contoh Buku I tentang perkawinan dalam KUHPerdata diganti dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dengan demikian, peraturan perkawinan dalam KUHPedata tidak berlaku lagi. Proses penggantian aturan-aturan hukum seperti itu akan terus dilakukan oleh manusia. Hal ini terjadi selama pergaulan hidup menghendaki adanya rasa adil sesuai kebutuhan akan ketertiban dan ketenteraman.
3. Tata Hukum Indonesia
Pada dasarnya tata hukum sama dengan sistem hukum (Ridwan Halim) suatu cara atau sistem dan susunan yang membentuk keberlakukan suatu hukum disuatu wilayah tertentu dan pada waktu tertentu. Tata hukum suatu negara (ius constitutum) adalah tata hukum yang diterapkan atau disahkan oleh negara itu. Dalam kaitannya di Indonesia, yang ditata itu adalah hukum positif yang berlaku di Indonesia. Hukum yang sedang berlaku artinya apabila ketentuan-ketentuan hukum itu dilanggar maka bagi si pelanggar akan dikenakan sanksi yang datangnya dari badan atau lembaga berwenang. Dengan demikian dapat disimpulkan tata hukum Indonesia adalah hukum (peraturan-peraturan hukum) yang sekarang berlaku di Indonesia (Prof. Soediman Kartihadiprojo, SH). Dengan kata lain Tata Hukum Indonesia itu menata, menyusun, mengatur tertib kehidupan masyarakat Indonesia. Tata Hukum Indonesia diterapkan oleh masyarakat hukum Indonesia (Negara Republik Indonesia). Pengantar Tata Hukum Indonesia disebut juga dengan Pengantar Hukum Indonesia yang dalam bahasa Belanda yakni Inleiding tot het positiefrecht van Indonesie atau Introduction Indonesian of Law atau Introduction Indonesian PositiveLaw (bahasa Inggris). Sedangkan Pengantar Ilmu Hukum dalam bahasa Belanda ialah Inleiding tot de Rechtswetenschap atau Introduction science of Law.
D. Tujuan Mempelajari Pengantar Hukum Indonesia
1. peraturan-peraturan hukum yang berlaku saat ini di suatu wilayah negara atau hukum positif atau Ius Constitutum;
2. perbuatan-perbuatan apa yang dilarang dan yang diharuskan serta yang diperbolehkan menurut hukum Indonesia;
3. kedudukan, hak dan kewajiban setiap orang dalam masyarakat dan negara menurut hukum Indonesia;
4. macam-macam lembaga atau institusi pembentuk/pembuat dan pelaksana/penegak hukum menurut hukum Indonesia;
5. prosedur hukum (acara peradilan dan birokrasi hukum/pemerintahan), apabila menghadapi masalah hukum dengan setiap orang dan para pelaksana hukum Indonesia. Dalam hal ini yang ingin diketahui adalah bilamana terjadi atau penyelesaian sengketa hukum di pengadilan maupun di luar pengadilan menurut hukum positif Indonesia;
6. sanksi-sanksi apa yang diderita oleh seseorang bila orang tersebut melanggar peraturan yang berlaku.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan mempelajari PHI adalah agar mengerti dan memahami sistematika dan susunan hukum yang berlaku di Indonesia termasuk mempertahankan, memelihara, dan melaksanakan tata tertib di kalangan anggota masyarakat dan peraturan-peraturuan yang diadakan oleh negara. Dengan mempelajari hukum Indonesia (hukum positif Indonesia), dapat diketahui perbuatan atau tindakan apa yang memiliki akibat hukum dan perbuatan yang melawan hukum, juga bagaimana kedudukan seseorang dalam masyarakat, serta kewajiban dan wewenangnya menurut hukum Indonesia. Mempelajari hukum Indonesia adalah untuk mengetahui fungsi hukum Indonesia, yaitu ilmu yang mengajarkan dan menanamkan dasar-dasar pengetahuan serta pengertian tentang hukum di Indonesia.
E. Hubungan Antara Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar
Hukum Indonesia
Hubungan di antara Pengantar Ilmu Hukum (selanjutnya disingkat PIH) dengan PHI ialah bahwa PIH mendukung atau menunjang kepada setiap orang yang akan mempelajari hukum positif Indonesia. Sebagai suatu ilmu yang berstatus pengantar, keduanya adalah sama-sama sebagai mata kuliah dasar keahlian hukum karena itu, hubungan antara keduanya sangat erat. PIH perlu lebih dahulu dipelajari sebelum seseorang mempelajari tentang PHI, karena pengertian-pengertian dasar yang berhubungan dengan hukum diberikan di dalam PIH. Sebaliknya, pokok-pokok bahasan PHI merupakan contoh konkret apa yang dibahas di dalam PIH. Jadi, secara garis besar hubungan itu dapat dikaji melalui beberapa faktor berikut ini, yaitu:
1. PIH dapat menunjang atau mendukung setiap orang yang akan mempelajari dasar hukum;
2. sebagai suatu ilmu yang berstatus pengantar;
3. merupakan mata kuliah dasar pengembangan ilmu hukum.
Objek dari PIH, yaitu hukum pada umumnya yang tidak terbatas pada hukum positif negara tertentu, memiliki fungsi untuk mendasari dan menumbuhkan motivasi bagi setiap orang yang akan mempelajari hukum. Sedangkan PHI objeknya yaitu hukum positif Indonesia dan memiliki fungsi untuk mengantarkan setiap orang yang akan mempelajari hukum positif Indonesia.
Hubungan antara PIH dan PHI terletak pada kondisi di mana pengantar ilmu hukum adalah dasar untuk mengetahui tata hukum yang ada di Indonesia. Dalam tataran keilmuan, terdapat beberapa persamaan dan perbedaan antara PHI dengan PIH, persamaan tersebut antara lain sebagai berikut.
2. PIH dan PHI merupakan ilmu dasar bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu hukum secara luas.
3. Objek studi PIH dan PHI adalah “hukum”. PIH dan PHI memperkenalkan konsep-konsep dasar, pengertian-pengertian hukum dan generalisasi-generalisasi tentang hukum dan teori hukum positif (dogmatis hukum) yang secara umum dapat diaplikasikan.
4. PIH dan PHI memperkenalkan hukum sebagai suatu kerangka yang menyeluruh yang dapat dilihat dari sudut pandang tertentu, sehingga orang dapat memperoleh suatu “overzicht” atau suatu pemahaman yang umum dan lengkap tentang hukum. PIH dan PHI menyajikan satu ringkasan yang komprehensif dari konsep atau teori hukum dalam keseluruhan.
Adapun beberapa perbedaan antara PHI dengan PIH, antara lain sebagai berikut.
1. PHI mempelajari hukum positif yang berlaku secara khusus di Indonesia. Artinya, PHI menguraikan secara analisis dan deskriptif mengenai tatanan hukum dan aturan-aturan hukum, lembaga-lembaga hukum di Indonesia yang meliputi latar belakang sejarahnya, positif berlakunya, apakah sesuai dengan asas-asas hukum dan teori-teori hukum positif (dogmatik hukum).
2. PIH merupakan pengantar guna memperkenalkan dasar-dasar ajaran hukum umum (rechtslehre).
3. PIH mempelajari ilmu hukum secara umum dengan memperkenalkan pengertian-pengertian dan konsep-konsep dasar tentang hukum pada umumnya yang tidak hanya berlaku di Indonesia saja tetapi juga pada masyarakat hukum lainnya.
4. PIH mempelajari dan memperkenalkan pengertian-pengertian dan konsep-konsep dasar serta teori-teori hukum secara umum, termasuk mengenai sejarah terbentuknya lembaga-lembaga hukum maupun pengantar falsafahnya dalam arti kerohanian kemasyarakatan.
hukum pada umumnya, tidak terbatas pada aturan hukum yang berlaku pada suatu tempat dan waktu tertentu (ius constitutum).
A. Pendahuluan
Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki sejarah panjang dalam melaksanakan hukum. Perkembangan hukumnya pun bersifat sangat dinamis menyesuaikan perkembangan bangsa. Dalam tataran sejarah, tata hukum Indonesia terbagi dalam beberapa periode dimulai pada zaman penjajahan Belanda yang terdiri atas masa berlakunya Vereenigde Oost Indische Compagnie (1602-1799); Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda (1800-1811) dan Raffles (1811-1814); Besluiten Regerings (1814-1855); Regerings Reglement (1855-1926), dan Indische Staatsregeling (1926-1942). Selanjutnya sejarah Tata Hukum Indonesia memasuki periode penjajahan Jepang (1942-1945) di mana pengaturan mengenai pemerintahan di wilayah Hindia Belanda dibuat dengan dasar Gun Seirei melalui Osamu Seirei. Sejarah Tata Hukum Indonesia memasuki babak baru pada masa setelah kemerdekaan dengan diberlakukannya UUD 1945 yang terbagi dalam beberapa periode yakni masa tahun 1945-1949, masa tahun 1949-1950, masa tahun 1950-1959, masa tahun 1959 sampai dengan sebelum reformasi, dan masa setelah reformasi.
Melalui pemahaman terhadap sejarah tatanan hukum di Indonesia, dapat diketahui bagaimana politik hukum Indonesia yang bertujuan agar negara dapat menentukan jenis-jenis atau macam-macam hukum, bentuk hukum, materi dan/atau sumber hukum yang diberlakukan dalam suatu
SEJARAH TATA HUKUM DAN
POLITIK HUKUM INDONESIA
negara pada saat ini dan yang akan datang. Bentuk dan corak hukum dalam pembentukan politik hukum di Indonesia mengalami beberapa perubahan di setiap masanya yang terbagi atas politik hukum Hindia-Belanda pada masa Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesia (AB), politik hukum Hindia Belanda pada masa Regering Reglement (RR), politik hukum Hindia Belanda pada masa Indische Staatsregeling (IS), politik hukum Indonesia pada masa berlakunya UUD 1945; serta politik hukum Indonesia pada masa berlakunya UUDS 1950. Hal ini pulalah yang menjadi dasar berlakunya keanekaragaman hukum di Indonesia.
B. Sejarah Tata Hukum Indonesia
Tata hukum selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat di tempat mana tata hukum itu berlaku. Oleh karena itu, aturan-aturan yang terkandung di dalamnya berubah pula menuruti kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, sejarah tata hukum Indonesia memuat kejadian-kejadian penting mengenai tata hukum Indonesia pada masa lalu yang dicatat dan diingat serta harus dipahami oleh bangsa Indonesia.
1. Zaman Penjajahan Belanda
a. Masa Vereenigde Oost Indische Compagnie (1602-1799)
Pada tahun 1610 pengurus pusat VOC di Belanda memberikan kewenangan kepada Gubernur Jenderal Pieter Both untuk membuat peraturan tentang penyelesaian perkara istimewa, termasuk di dalamnya penyelesaian perkara perdata dan pidana, yang harus disesuaikan dengan kebutuhan para pegawai VOC di daerah-daerah yang dikuasai. Peraturan tersebut kemudian berlaku berdampingan dengan peraturan yang dibuat dan ditetapkan sendiri oleh Direksi VOC di Belanda dengan nama “Heeren Zeventien” (Djamali, 2012: 11). Berlakunya setiap peraturan yang dibuat ini kemudian diumumkan melalui “plakat”. Dalam perkembangannya, berbagai plakat yang dikeluarkan semakin tidak jelas masa berlakunya, sehingga pada tahun 1642 plakat-plakat yang pada mulanya tidak disimpan dengan baik dikumpulkan kembali. Plakat yang masih berlaku disusun secara sistematis hingga akhirnya diberi nama Statuta Batavia (1642). Usaha serupa dilakukan lagi pada tahun 1766 dan menghasilkan Statuta Batavia Baru. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Freijer menghasilkan suatu Kitab Hukum (Kompedium) pada tahun 1760. Kitab hukum (Kompedium) Freijer di di dalamnya termuat aturan-aturan hukum perkawinan dan hukum waris Islam. Selain peraturan-peraturan hukum yang dibuat oleh VOC, pada masa ini pun kaidah-kaidah hukum adat Indonesia tetap dibiarkan berlaku bagi orang-orang Bumiputra (pribumi).
Dari uraian tersebut dapat diketahi bahwa ketika masa VOC berakhir pada 31 Desember 1799 (karena VOC dibubarkan oleh pemerintah Belanda) tata hukum yang berlaku pada waktu itu terdiri atas aturan-aturan yang berasal dari negeri Belanda dan aturan-aturan yang diciptakan oleh gubernur jenderal yang saat itu berkuasa di daerah kekuasaan VOC. Serta aturan-aturan tidak tertulis maupun tertulis yang berlaku bagi orang-orang pribumi, yaitu hukum adatnya masing masing.
b. Masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda (1800-1811) dan
Rales (1811-1814)
Daendels sebagai Gubernur Jenderal yang bertugas mengurus daerah jajahan sekaligus mempertahankan tanah jajahan dari kemungkinan terjadinya serangan Inggris. Dalam pelaksanaannya, banyak penduduk di Pulau Jawa yang menjadi korban akibat dipaksa menjadi pekerja rodi dalam pembuatan jalan dari Anyer hingga Panarukan, Sumedang hingga Bandung, dan pembuatan pangkalan Angkatan Laut dengan bentengnya di daerah Banten.
Di bidang pemerintahan, Daendels membagi Pulau Jawa menjadi Sembilan Karesidenan (prefektur). Para Bupati diangkat dan digaji oleh pemerintah Belanda. Pertanian diperketat dengan pajak untuk menambah kas negara. Di bidang hukum, Daendels tidak mengubah aturan hukum yang berlaku bagi masyarakat pribumi sepanjang tidak bertentangan dengan perintah yang diberikan dan dasar-dasar umum keadilan serta kepatuhan demi keamanan umum.
Pada tahun 1811 Daendels digantikan oleh Jansens, namun tidak berlangsung lama akibat dikuasainya nusantara oleh Inggris. Selanjutnya, pemerintah Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur (1811-1814). Dalam pemerintahannya prefektur yang ada dibagi menjadi 19 dan kekuasaan bupati mulai dikurangi. Di bidang ekonomi, Raffles mengeluarkan kebijakan landrete (sewa tanah/pajak bumi) bagi seluruh rakyat. Dalam bidang hukum Raffles mengutamakan pembentukan lembaga pengadilan yang terdiri atas:
1) Division’s Court
Berwenang mengadili perkara perdata kecil dengan pembatasan sampai 20 ropyen. Pelaksana terdiri atas beberapa pegawai pribumi, yaitu Wedana atau Demang dan pegawai bawahannya. Naik banding dalam perkara sipil dapat dilakukan melalui District’s Court
2) District’s Court atau Bupati’s Court
3) Resident ‘s Court
Berwenang mengadili perkara pidana dengan ancaman bukan hukuman mati dan perkara-perkara perdata besar hingga melebihi 50 ropyen. Terdiri dari residen, para bupati, hooft jaksa dan hooft penghulu.
4) Court of Circuit
Merupakan pengadilan keliling untuk menangani perkara pidana dengan ancaman hukuman mati. Terdiri dari seorang ketua dan seorang anggota. Dalam pengadilan ini dianut sistem juri yang terdiri dari lima hingga sembilan orang Bumiputra.
Era Raffles berakhir pada tahun 1814. Secara garis besar tidak ada perubahan dalam substansi hukum yang berlaku. Hakim diperintahkan untuk tetap memberlakukan ketentuan-ketentuan hukum Bumiputra dalam menyelesaikan perkara. Namun hukum Bumiputra tetap dianggap lebih rendah kedudukannya dari hukum Eropa. Pada tahun 1816 Inggris menyerahkan nusantara kepada Belanda sebagai hasil Konvensi London 1814.
c. Masa Besluiten Regerings (1814-1855)
Pada tahun 1811-1814, negeri Belanda (dan negara-negara Eropa daratan/kontinental lainnya) mengalami aneksesi oleh Prancis (di bawah kekaisaran Napoleon). Sejak saat itu mulai diterapkan prinsip Rechtstaat (Negara Hukum). Pasca aneksesi Prancis tahun 1814, di Belanda mulai dibuat konstitusi dengan nama Nederlands Gronwet 1814. Pada masa Besluiten Regerings (BR) raja mempunyai kekuasaan mutlak dan tertinggi atas daerah-daerah jajahan termasuk kekuasaan mutlak terhadap harta milik negara bagian yang lain (Pasal 36 Nederlands Gronwet, 1814). Kekuasaan mutlak raja tersebut diterapkan pula dalam membuat dan mengeluarkan peraturan yang berlaku umum dengan nama Algemene Verordening atau peraturan pusat. Peraturan pusat berupa keputusan raja maka dinamakan koninklijk besluit. Pengundangannya lewat selebaran yang dilakukan oleh gubernur jenderal. Ada dua macam keputusan raja sesuai dengan kebutuhannya.
2) Ketetapan raja sebagai tindakan legislatif, misalnya berbentuk Algemene Verordening atau Algemene maatregel van bestuur di negeri Belanda.
Raja mengangkat para komisaris jenderal yang ditugaskan untuk melaksanakan pemerintahan di Nederlands Indie (Hindia Belanda). Mereka yang diangkat ialah Elout Buyskes dan Van der Capellen. Para komisaris jenderal itu tidak membuat peraturan baru untuk mengatur pemerintahannya. Mereka tetap memberlakukan undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku pada masa Inggris berkuasa di Indonesia, yaitu mengenai Landrete dan susunan pengadilan buatan Raffles. Lembaga peradilan yang diperuntukkan bagi orang-orang pribumi tetap sama digunakan peradilan Inggris begitu pula pelaksanaannya. Dalam usaha untuk memenuhi kekosongan kas Negara Belanda, Gubernur Jendral Du Bus de Gisignes menerapkan Politik Agraria pada tahun 1826 dengan cara memperkerjakan orang-orang pribumi yang sedang menjalankan hukuman yang dikenal dengan kerja paksa (dwangsarbeid) berdasarkan S.1826: 16.
Pada tahun 1830 pemerintah Belanda berhasil mengkodifikasikan hukum perdata. Pengundangan hukum yang sudah berhasil dikodifikasi itu baru dapat terlaksana pada tanggal 1 Oktober 1838. Setelah itu, timbul pemikiran tentang pengkodifikasian hukum perdata bagi orang-orang Belanda yang berada di Hindia Belanda. Pemikiran itu akan diwujudkan sehingga pada tanggal 15 Agustus 1839 menteri jajahan di Belanda mengangkat komisi undang-undang bagi Hindia Belanda yang terdiri dari Mr. Scholten van Out Haarlem (ketua) dan Mr. J. Schneither serta Mr. J. F. H. van Nes sebagai anggota. Beberapa peraturan yang berhasil ditangani oleh komisi itu dan disempurnakan oleh Mr. H. L. Whicer adalah sebagai berikut.
1) Reglement op de Rechterlijke Organisatie (RO) atau Peraturan Organisasi Peradilan;
2) Algemene Bepelingen van Wetgeving (AB) atau Ketentuan-ketentuan Umum tentang Perundang-undangan;
3) Burgerlijk Wetboek (BW) atau Kitab Undang-undang Hukum Perdata;
4) Wetboek van Koopnhandel (WvK) atau KUHD;
Dapat ditarik kesimpulan bahwa tata hukum pada masa Besluiten Regerings terdiri dari peraturan-peraturan tertulis yang dikodifikasikan. Peraturan tertulis yang tidak dikodifikasi, dan peraturan-peraturan tidak tertulis yang khusus berlaku bagi orang bukan golongan Eropa.
d. Masa Regerings Reglement (1855-1926)
Pada tahun 1848 terjadi perubahan Grond Wet (UUD) di negeri Belanda. Perubahan UUD negeri Belanda ini mengakibatkan terjadinya pengurangan terhadap kekuasaan raja, karena Staten Generaal (Perlemen) campur tangan dalam pemerintahan dan perundang-undangan jajahan Belanda di Indonesia. Perubahan penting yang berkaitan dengan pemerintahan dan perundang-undangan, ialah dengan dicantumkannya Pasal 59 ayat I, II, dan IV Grond Wet yang isinya:
Ayat I : Raja mempunyai kekuasaan tertinggi atas daerah jajahan dan harta kerajaan di bagian dari dunia.
Ayat II dan IV : Aturan tentang kebijaksanaan pemerintah melalui undang-undang. Sistem keuangan ditetapkan melalui undang-undang. Hal-hal lain yang menyangkut mengenai daerah-daerah jajahan dan harta kalau diperlukan akan diatur dengan undang-undang.
Peraturan-peraturan yang menata daerah jajahan tidak semata-mata ditetapkan oleh raja dengan Koninklijk Besluit-nya, tetapi peraturan itu ditetapkan bersama oleh raja dan parlemen. Dengan demikian, sistem pemerintahannya berubah dari monarki konstitusional menjadi monarki konstitusional parlementer. Peraturan tersebut adalah Regerings Reglement (RR). Golongan penduduk ada tiga golongan, yaitu golongan Eropa, Timur Asing, dan Indonesia (pribumi). Pada masa berlakunya RR telah berhasil diundangkan kitab-kitab hukum, yaitu sebagai berikut.
1) Kitab hukum pidana untuk golongan Eropa melalui S.1866: 55;
2) Algemene Politie Strafeglement sebagai tambahan kitab hukum pidana untuk golongan Eropa;
5) Wetboek van Strafrecht yang berlaku bagi semua golongan penduduk melalui S.1915: 732 mulai berlaku sejak 1 Januari 1918.
e. Masa Indische Staatsregeling (1926-1942)
Indische Staatsregeling (IS) adalah RR yang sudah diperbaharui dan berlaku tanggal 1 Januari 1926 melalui S.1925: 415. Pembaruan RR atau perubahan RR menjadi IS ini karena berubahnya pemerintahan Hindia Belanda yang berawal dari perubahan Grond Wet negeri Belanda pada 1922. Pada masa berlakunya IS ini, bangsa Indonesia sudah turut membentuk undang-undang dan turut menentukan nasib bangsanya karena mereka turut dalam volksraad.
Pada Pasal 131 IS dapat diketahui bahwa pemerintah Hindia Belanda membuka kemungkinan adanya usaha untuk unifikasi hukum bagi ketiga golongan penduduk Hindia Belanda pada waktu itu yang ditetapkan dalam Pasal 163 IS.
Tujuan pembagian golongan penduduk sebenarnya untuk menentukan sistem-sistem hukum yang berlaku bagi masing-masing hukum yang berlaku bagi masing-masing golongan. Sistem hukum yang berlaku bagi masing-masing golongan adalah sebagai berikut.
1) Hukum yang berlaku bagi golongan Eropa sebagaimana ditentukan dalam Pasal 131 IS adalah hukum perdata, hukum pidana material, dan hukum acara.
a) Hukum perdata yang berlaku bagi golongan Eropa adalah Burgerlijk Wetboek dan Wetboek van Koophandel dengan asas konkordansi;
b) Hukum pidana material yang berlaku bagi golongan Eropa ialah Wetboek van Strafrecht;
c) Hukum acara yang digunakan ialah Reglement op de Burgerlijk Rechtsvordering dan Reglement op de Strafvodering. Susunan peradilan yang digunakan bagi golongan Eropa di jawa dan Madura adalah:
(1) Residentiegerecht;
(2) Raad van Justitie Hooggerechtshof.
menghendaki lain, hukum dapat diganti dengan ordonansi yang dikeluarkan olehnya. Dengan demikian, berlakunya hukum adat tidak mutlak. Keadaan demikian telah dibuktikan dengan dikeluarkannya berbagai ordonansi yang diberlakukan bagi semua golongan. Susunan peradilannya adalah:
a) Districtsgerecht;
b) Regentschapsgerecht;
c) Landraad.
3) Hukum yang berlaku bagi golongan Timur Asing:
a) Hukum perdata dan Hukum pidana adat mereka menurut ketentuan Pasal 11 AB;
b) Hukum perdata golongan Eropa hanya bagi golongan Timur Asing Cina untuk wilayah Hindia Belanda;
c) WvS yang berlaku sejak 1 Januari 1918, untuk hukum pidana material;
d) Lembaga pengadilan:
(1) Pengadilan Swapraja;
(2) Pengadilan Agama;
(3) Pengadilan Militer.
2. Zaman Penjajahan Jepang
Pada masa penjajahan Jepang daerah Hindia Belanda dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
a. Indonesia Timur di bawah kekuasaan Angkatan Laut Jepang berkedudukan di Makassar.
b. Indonesia Barat di bawah kekuasaan Angkatan Darat Jepang berkedudukan di Jakarta.
diketahui bahwa hukum yang mengatur pemerintahan dan lain-lain tetap menggunakan Indische Staaregeling (IS).
Hanya saja pemerintahan Jepang melakukan perubahan atas beberapa lembaga peradilan sehingga lembaga peradilan yang ada diberlakukan bagi semua golongan. Berdasarkan hal tersebut, maka lembaga peradilan meliputi (Asikin, 2012: 25):
a. Hooggerrechtshof sebagai pengadilan tertinggi dengan nama Saiko Hoin;
b. Raad van Justite, berubah menjadi Koto Hoy Hoin;
c. Landraad, berubah nama menjadi Tiho Hoin;
d. Landgerecht, berubah menjadi Keizai Hoin;
e. Regentschapsgerecht, berubah menjadi Ken Hoin;
f. Districtsgerecht, berubah nama menjadi Gun Hoi.
Kemudian, pemerintah bala tentara Jepang mengelurkan Gun Seirei nomor istimewa 1942, Osamu Seirei Nomor 25 Tahun 1944 dan Gun Seirei Nomor 14 Tahun 1942, untuk melengkapi peraturan yang telah ada sebelumnya. Gun Seirei nomor istimewa tahun 1942 dan Osamu Seirei Nomor 25 Tahun 1944 memuat aturan-aturan pidana yang umum dan aturan-aturan pidana yang khusus. Gun Seirei Nomor 14 Tahun 1942 mengatur tentang pengadilan di Hindia Belanda yang terdiri dari:
a. Tihoo Hooin, berasal dari Landraad (Pengadilan Negeri);
b. Keizai Hooin, berasal dari Landgerecht (Hakim Kepolisian);
c. Ken Hooin, berasal dari Regentschapgerecht (Pengadilan Kabupaten);
d. Gub Hooin, berasal dari Districtsgerecht (Pengadilan Kewedanaan);
e. Kaikyoo Kootoo Hooin, berasal dari Hof Voor Islamietische Zaken (Mahkamah Islam Tinggi);
f. Sooyoo Hooin, berasal dari Priesterraad (Rapat Agama);
g. Gunsei Kensatu Kyoko, terdiri dari Tihoo Kensatu Kyoko (Kejaksaaan Pengadilan Negeri), berasal dari Paket voor de Landraden.
dinyatakan bahwa Gunsei Hooin ditambah dengan Saiko Hooin (Pengadilan Agung) dan Kootoo Hooin (Pengadilan Tinggi). Semua aturan hukum dan proses pengadilannya selama zaman penjajahan Jepang berlaku sampai Indonesia merdeka.
3. Zaman Kemerdekaan
a. Masa 1945-1949
Setelah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia menjadi bangsa yang bebas dan tidak tergantung pada bangsa lain. Sehingga Indonesia bebas menentukan nasibnya untuk mengatur negara dan menetapkan tata hukumnya. UUD 1945 ditetapkan sebagai Undang-Undang Dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan. Sedangkan tata hukum yang berlaku adalah segala peraturan yang telah ada dan pernah berlaku pada masa penjajahan Belanda, masa Jepang berkuasa dan produk-produk peraturan baru yang dihasilkan oleh pemerintah Negara Republik Indonesia dari 1945-1949.
b. Masa 1949-1950
Masa ini adalah masa berlakunya konstitusi RIS. Pada masa tersebut tata hukum yang berlaku adalah tata hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan yang dinyatakan berlaku pada masa 1945-1949 dan produk peraturan baru yang dihasilkan oleh pemerintah negara yang berwenang untuk itu selama kurun waktu 27 Desember 1949 sampai dengan 16 Agustus 1950.
c. Masa 1950-1959
Tata hukum yang diberlakukan pada masa ini adalah tata hukum yang terdiri dari semua peraturan yang dinyatakan berlaku berdasarkan Pasal 142 UUDS 1950, kemudian ditambah dengan peraturan baru yang dibentuk oleh pemerintah negara selama kurun waktu dari 17 Agustus 1950 sampai dengan 04 Juli 1959.
d. Masa 1959-sebelum reformasi
dinyatakan masih berlaku berdasarkan ketentuan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 ditambah dengan berbagai peraturan yang dibentuk setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
e. Masa setelah reformasi
Bermula dari krisis ekonomi nasional yang terjadi pada tahun 1997-1998 yang melumpuhkan segala sendi kehidupan mulailah muncul ketidak kepercayaan terhadap pemerintahan orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Ketidakpercayaan ini mulai memunculkan keinginan suatu perubahan yang menyeluruh sehingga mulailah dielu-elukan suatu yang dinamakan reformasi. Adapun tokoh-tokoh reformasi yang menjadi pelopor gerakan ini di antaranya Amien Rais, Adnan Buyung Nasution, Andi Alfian Malaranggeng dan tokoh-tokoh lainnya yang didukung oleh gerakan besar-besaran mahasisiwa seluruh Indonesia serta berbagai lapisan masyarakat. Gerakan ini berhasil menumbangkan orde baru dan rezim kepemimpinan Soeharto.
Pengangkatan BJ. Habibie dalam Sidang Istimewa MPR yang mengukuhkan Habibie sebagai Presiden, ditentang oleh gelombang demonstrasi dari puluhan ribu mahasiswa dan rakyat di Jakarta dan di kota-kota lain. Gelombang demonstrasi ini memuncak dalam peristiwa Tragedi Semanggi, yang menewaskan 18 orang. Masa pemerintahan Habibie ditandai dengan dimulainya kerja sama dengan Dana Moneter Internasional untuk membantu dalam proses pemulihan ekonomi. Selain itu, Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan kebebasan berekspresi. Kejadian penting dalam masa pemerintahan Habibie adalah keputusannya untuk mengizinkan Timor Timur untuk mengadakan referendum yang berakhir dengan berpisahnya wilayah tersebut dari Indonesia pada Oktober 1999. Keputusan tersebut terbukti tidak populer di mata masyarakat sehingga hingga kini pun masa pemerintahan Habibie sering dianggap sebagai salah satu masa kelam dalam sejarah Indonesia.
C. Pengertian Politik Hukum Indonesia
negara itu. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan politik hukum hendaknya perlu diketahui terlebih dahulu arti politik hukum. Politik Hukum adalah suatu jalan (kemungkinan) untuk memberikan wujud sebenarnya kepada yang dicita-citakan. Adapun definisi politik hukum menurut beberapa ahli, antara lain sebagai berikut.
1. Bellefroid: Politik hukum adalah menyelidiki tuntutan-tuntutan sosial yang hendak diperhatikan oleh hukum sehingga isi ius constituendum ditunjuk oleh politik hukum supaya constitutum disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat;
2. W. Zevenbergen: Politik hukum adalah mempersoalkan hal-hal mana dan dengan cara bagaimana hukum itu harus diatur;
3. Sudiman Kartohadiprodjo: Politik hukum negara sebagai perhatian negara terhadap hukum tentang bentuk hukum apakah tertulis atau tidak tertulis, dikodifikasi atau tidak dikodifikasi, dan dapat pula terhadap isinya hukum. Politik hukum dapat ditujukan pula kepada perubahan-perubahan dalam arti perbaikan kesadaran hukum dalam pergaulan hidup;
4. Kusumadi Pudjosewojo: Membahas hal-hal tentang hukum yang akan datang dalam suatu negara merupakan lapangan “Politik Hukum;
5. Teuku Mohammad Radhie dalam sebuah tulisannya berjudul Pembaruan dan Politik dan Politik Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional mendefinisikan politik hukum sebagai suatu “pernyataan kehendak penguasa negara mengenai hukum yang berlaku di wilayahnya, dan mengenai arah perkembangan hukum yang dibangun” (Prisma Nomor 6 Thn II Desember 1973);
6. Satjipto Rahardjo: Politik hukum sebagai aktivitas memilih dan cara yang hendak dipakai untuk mencapai suatu tujuan sosial dan hukum tertentu dalam masyarakat. Politik hukum merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya dinamika yang demikian itu, karena ia diarahkan kepada iure constituendo, hukum yang seharusnya berlaku;
hukum sebagai suatu sarana dan langkah yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menciptakan sistem hukum nasional yang dikehendaki dan dengan sistem hukum nasional itu akan diwujudkan cita-cita bangsa Indonesia.
8. Abdul Hakim Garuda Nusantara menyatakan bahwa, Politik Hukum Nasional secara harfiah dapat diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara tertentu. Politik Hukum Nasional bisa meliputi: (1) pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada secara konsisten; (2) pembangunan hukum yang intinya adalah pembaruan terhadap ketentuan hukum yang telah ada dan yang dianggap usang, dan penciptaan ketentuan hukum baru yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat; (3) penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya; (4) meningkatkan kesadaran hukum masyarakat menurut persepsi kelompok elit pengambil kebijakan.
9. Utrecht: Politik hukum adalah menyelidiki perubahan-perubahan yang harus diadakan dalam hukum yang sekarang berlaku supaya menjadi sesuai dengan kenyataan sosial.
10. Ridwan Syahrani: Politik hukum adalah suatu bidang studi hukum yang kegiatannya memilih atau menentukan hukum mana yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai oleh masyarakat.
penemu atau penggali dan penafsir hukum (rechtsvinding) dalam suatu negara.
D. Bentuk dan Corak Hukum dalam Pembentukan Politik
Hukum
Politik hukum suatu negara biasanya dicantumkan dalam undang-undang dasarnya tetapi dapat pula diatur dalam peraturan-peraturan lainnya. Politik hukum dilaksanakan melalui dua segi, yaitu dengan bentuk hukum dan corak hukum tertentu. Bentuk hukum tersebut dapat berupa:
1. Tertulis, yaitu aturan-aturan hukum yang ditulis dalam suatu undang-undang dan berlaku sebagai hukum positif. Dalam bentuk tertulis ada dua macam, yakni:
a Kodifikasi ialah disusunnya ketentuan-ketentuan hukum dalam sebuah kitab secara sistematik dan teratur.
b Tidak dikodifikasikan ialah sebagai undang-undang saja.
2. Tidak tertulis, yaitu aturan-aturan hukum yang berlaku sebagai hukum yang semula merupakan kebiasaan-kebiasaan dan hukum kebiasaan.
Corak hukum dapat ditempuh dengan:
1. Unifikasi, yaitu berlakunya satu sistem hukum bagi setiap orang dalam kesatuan kelompok sosial atau suatu negara.
2. Dualistis, yaitu berlakunya dua sistem hukum bagi dua kelompok sosial yang berbeda di dalam kesatuan kelompok sosial atau suatu negara.
3. Pluralistis, yaitu berlakunya bermacam-macam sistem hukum bagi kelompok-kelompok sosial yang berbeda di dalam kesatuan kelompok sosial atau suatu negara.
E. Politik Hukum Pemerintahan Hindia Belanda
1. Masa
Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesia
(AB)
Pada masa berlakunya AB politik hukum pemerintahan penjajahan Hindia Belanda dapat dilihat dalam pembagian golongan dan berlakunya hukum bagi masing-masing golongan tersebut. Pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Pasal 5 AB membagi kedalam dua golongan, pasal ini menyatakan bahwa penduduk Hindia Belanda dibedakan ke dalam Golongan Eropa (berserta mereka yang dipersamakan) dan Golongan Pribumi (berserta mereka yang dipersamakan dengannya). Sedangkan hukum yang berlaku bagi masing-asing golongan tersebut diatur di dalam Pasal 9 AB dan Pasal 11 AB. Adapun yang diatur di dalam kedua pasal tersebut adalah (di bawah ini bukan merupakan bunyi pasal melainkan kesimpulan dari bunyi pasal tersebut):
Pasal 9 AB
“Menyatakan bahwa Kitab Undang-undang Hukum perdata dan Kitab Undang-undang Hukum Dagang (yang diberlakukan di Hindia Belanda) hanya akan berlaku untuk orang Eropa dan bagi mereka yang dipersamakan dengannya”.
Pasal 11 AB
“Menyatakan bahwa untuk golongan penduduk pribumi oleh hakim akan diterapkan hukum agama, pranata-pranata dan kebiasaan orang-orang pribumi itu sendiri, sejauh hukum, pranata dan kebiasaan itu tidak berlawanan dengan asas-asas kepantasan dan keadilan yang diakui umum dan pula apabila terhadap orang-orang pribumi itu sendiri ditetapkan berlakunya hukum Eropa atau orang pribumi yang bersangkutan telah menundukkan diri pada hukum Eropa”.
Eropa. Corak hukumnya dilaksanakan dengan dualistis, yaitu satu sistem hukum perdata yang berlaku bagi golongan Eropa dan satu sistem hukum perdata lain yang berlaku bagi golongan pribumi.
Membedakan golongan untuk memberlakukan hukum perdata berdasarkan sistem hukum dari masing-masing golongan menurut Pasal 11 AB itu sangat sulit dalam pelaksanaannya. Hal ini disebabkan tidak adanya asas pembedaan yang tegas walaupun ada ketentuan pembagian golongan berdasarkan Pasal 5.
Dalam Pasal 5 hanya menyatakan orang Eropa, orang Bumiputra, orang yang disamakan dengan orang Eropa dan orang yang disamakan dengan orang Bumiputra. Pembagian golongan menurut Pasal 5 hanya berdasarkan kepada perbedaan agama, yaitu yang beragama Kristen selain orang Eropa disamakan dengan orang Eropa dan yang tidak beragama Kristen disamakan dengan orang pribumi.
Karena itu dapat dikatakan bahwa bagi setiap orang yang beragama Kristen yang bukan orang Eropa kedudukan golongannya sama dengan orang Eropa, berarti bagi orang Indonesia Kristen termasuk orang yang disamakan dengan orang Eropa. Hal ini tentunya berlaku juga bagi orang-orang Cina, Arab, India dan orang-orang-orang-orang lainnya yang beragama Kristen disamakan dengan orang Eropa. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak beragama Kristen selain orang Indonesia dipersamakan kedudukannya dengan orang Bumiputra. Tetapi karena Pasal 10 AB memberikan wewenang kepada Gubernur Jenderal untuk menetapkan peraturan pengecualian bagi orang Indonesia Kristen, maka melalui S. 1848: 10, Pasal 3-nya Gubernur Jenderal menetapkan bahwa “orang Indonesia Kristen dalam lapangan hukum sipil dan hukum dagang juga mengenai perundang-undangan pidana dan peradilan pada umumnya tetap dalam kedudukan hukumnya yang lama”. Dengan demikian berarti bahwa bagi orang Indonesia Kristen tetap termasuk golongan orang Bumiputra dan tidak dipersamakan dengan orang Eropa.
2. Masa
Regering Reglement
(RR)
75 RR yang pada asasnya seperti tertera dalam Pasal 11 AB. Sedangkan pembagian penghuninya tetap dalam dua golongan, hanya saja tidak berdasarkan perbedaan agama lagi melainkan atas kedudukan “yang menjajah” dan “yang dijajah” dan ketentuan terhadap pembagian golongan ini dicantumkan dalam Pasal 109 RR. Adapun yang diatur dalam kedua pasal tersebut adalah (di bawah ini bukan merupakan bunyi pasal melainkan kesimpulan dari bunyi pasal tersebut):
Pasal 109 RR
“Pada pokoknya sama dengan Pasal 5 AB tetapi orang pribumi yang beragama Kristen tetap dianggap orang pribumi dan bagi orang Tionghoa, Arab serta India dipersamakan dengan Bumiputra”.
Pasal 75 RR
“Menyatakan tetap memberlakukan hukum Eropa bagi orang Eropa dan hukum adat bagi golongan lainnya”.
Pada tahun 1920 RR itu mengalami perubahan terhadap beberapa pasal tertentu dan kemudian setelah diubah dikenal dengan sebutan RR (baru) dan berlaku sejak tanggal 1 Januari 1920 sampai 1926. Karena itu selama berlakunya dari tahun 1855 sampai 1926 dinamakan Masa Regerings Reglement. Sedangkan politik hukum dalam Pasal 75 RR (baru) mengalami perubahan asas terhadap penentuan penghuni menjadi “pendatang” dan “yang didatangi”. Sedangkan penggolongannya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan Eropa, Indonesia dan Timur Asing.
3. Masa
Indische Staatsregeling
(IS)
Pasal 163 IS
Penduduk Hindia Belanda dibedakan atas tiga golongan, yakni:
a. Golongan Eropa
b. Golongan Bumiputra
c. Golongan Timur Asing.
Pasal 131 IS menyatakan beberapa hal, yakni:
a. Menghendaki supaya hukum itu ditulis tetap di dalam ordonansi.
b. Memberlakukan hukum Belanda bagi warga Negara Belanda yang tinggal di Hindia Belanda berdasarkan asas konkordansi.
c. Membuka kemungkinan untuk unifikasi hukum yakni menghendaki penundukan bagi golongan Bumiputra dan Timur Asing untuk tunduk kepada hukum Eropa.
d. Memberlakukan dan menghormati hukum adat bagi golongan Bumiputra apabila masyarakat menghendaki demikian.
Pembagian golongan penduduk berdasarkan Pasal 163 IS sebenarnya untuk menentukan sistem-sistem hukum yang berlaku bagi masing-masing golongan sebagaimana tercantum dalam Pasal 131 IS.
F. Politik Hukum Setelah Kemerdekaan
memiliki 37 pasal tidak mencantumkan tentang politik hukum negara. Hal ini berbeda dengan UUDS 1950 yang mencantumkan politik hukumnya di dalam Pasal 102, yang berbunyi:
“Hukum perdata dan hukum dagang, hukum pidana sipil maupun militer, hukum acara perdata maupun hukum acara pidana, susunan dan kekuasaan pengadilan diatur dalam undang-undang dalam kitab hukum. Kecuali jika pengundang-undang menggap perlu untuk mengatur beberapa hal dalam undang-undang sendiri”.
Berdasarkan Pasal 102 UUDS 1950 arah politik hukum yang dikehendaki membentuk suatu hukum tertulis yang dikodifikasi. Tetapi sebagaimana diketahui dasar negara yang digunakan adalah UUD 1945, maka politik hukum sebagaimana tercantum di dalam Pasal 102 tersebut tidaklah berlaku.
politik hukumnya dalam haluan negara. Suatu perumusan politik hukum yang dinyatakan secara tegas dan bertahap dicantumkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
G. Dasar Hukum Berlakunya Keanekaragaman Hukum di
Indonesia
1. Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, yang berbunyi: Segala Badan Negara dan Peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini”
2. Pasal 142 Ketentuan Peralihan UUDS 1950: “Peraturan undang-undang dan ketentuan-ketentuan tata usaha negara yang sudah ada pada tanggal 17 Agustus 1950 tetap berlaku dengan tidak berubah sebagai peraturan RI sendiri, selama dan sekadar peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan itu tidak dicabut, ditambah atau diubah oleh undang-undang dan ketentuan tata usaha atas kuasa UUD ini”
3. Pasal 192 Ketentuan Peralihan Konstitusi RIS: “Peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan tata usaha yang sudah ada pada saat Konstitusi ini mulai berlaku tetap berlaku dengan tidak berubah sebagai peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan Republik Indonesia sendiri selama dan sekadar peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan itu tidak dicabut, ditambah atau diubah oleh undang-undang dan ketentuan-ketentuan tata usaha atas kuasa konstitusi ini”
4. UUD 1945 Hasil Amandemen
Pasal 1 Aturan Peralihan
“Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”.
Pasal II Aturan Peralihan
A. Pendahuluan
Terbentuknya sistem hukum suatu negara tidak terlepas dari sejarah dan budaya hukum yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat. Legal culture yang berkembang tersebut menyebabkan suatu negara menerapkan sistem hukum tertulis maupun tidak tertulis. Dalam masyarakat yang menerapkan sistem hukum tidak tertulis, praktik-praktik kebiasaan yang bersifat melembaga dalam suatu masyarakat selanjutnya menjelma dan dituangkan menjadi hukum. Apabila dalam suatu masyarakat tradisi dan budaya tata tulis dijadikan sebagai wujud kepastian hukumnya, maka sistem hukum yang berkembang adalah sistem hukum tertulis, baik terkodifikasi maupun tidak terkodifikasi.
Berlakunya sistem hukum dipengaruhi oleh sub-sub sistem, yang dalam pandangan Friedman terdiri atas substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum. Ketiga subsistem tersebut menjadi indikator keberhasilan penerapan hukum di masyarakat. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terdapat beberapa sistem hukum yang berkembang dan diterapkan oleh setiap negara. Adapun sistem hukum yang akan dibahas dalam bab ini adalah sistem hukum Eropa Kontinental/civil law system, sistem hukum Anglo Saxon/common law system, sistem hukum adat, sistem hukum Islam, dan sistem hukum yang diterapkan pada masyarakat Eropa.
SISTEM HUKUM DUNIA
B. Pengertian Sistem Hukum
Suatu sistem mempunyai ciri-ciri tertentu yaitu terdiri dari komponen-komponen yang satu sama lain saling ketergantungan dan dalam keutuhan organisasi yang teratur serta terintergrasi. Menurut Prof. Subekti sistem adalah suatu susunan atau tatanan yang teratur, suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain, tersusun menurut suatu rencana atau pola, hasil dari suatu penulisan untuk mencapai suatu tujuan. Dengan kata lain, sistem hukum adalah kumpulan unsur-unsur yang ada dalam interaksi satu sama lain yang merupakan satu kesatuan yang terorganisasi dan kerja sama ke arah tujuan kesatuan.
Dengan kata lain, berjalannya sistem hukum dipengaruhi oleh sub-sub sistem hukum yang membentuk sistem tersebut secara komprehensif dan memiliki keterkaitan yang kuat antara satu dengan lainnya. Sub-sub sistem yang dimaksud di sini adalah substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum. Apabila salah satu subsistem hukum tidak dilaksanakan dengan baik, maka akan berdampak langsung kepada efektivitas hukum di masyarakat.
C. Sistem Hukum Eropa Kontinental/
Civil Law
Sistem hukum Eropa Kontinental muncul dan berkembang pertama kali di negara-negara Eropa daratan yang sering disebut sebagai Civil Law. Peraturan-peraturan hukumnya merupakan kumpulan dari berbagai kaidah hukum yang ada sebelum masa kekaisaran Romawi Justinianus yang kemudian disebut Corpus Juris Civilis. Dalam perkembangannya, Corpus Juris Civilis ini menjadi dasar perumusan dan kodifikasi hukum di negara-negara Eropa daratan, seperti Jerman, Belanda, Prancis dan Italia, juga Amerika Latin dan Asia termasuk Indonesia pada masa jajahan Belanda. Civil Law merupakan sistem yang dianut oleh negara-negara Eropa Kontitental yang berasal dari kodifikasi hukum Romawi.
Belanda untuk berdagang di nusantara ini. Hukum yang dimaksud civil law tadi di berlakukan bagi orang Belanda dan Eropa saja, tetapi kemudian melalui berbagai upaya peraturan perundang-undangan, pernyataan berlaku penundukan sukarela, pilihan hukum dan sebagainya. Hukum Barat itu dinyatakan berlaku bagi golongan Eropa, orang Timur Asing (terutama Cina) dan orang Indonesia.
Saat kolonialisasi bangsa Belanda terhadap wilayah-wilayah nusantara, penjajah juga berusaha menancapkan pengaruhnya dengan menggunakan kebijakan penerapan hukum Belanda terhadap kolonial, bangsa Belanda menganggap sistem hukum civil law yang dia miliki merupakan suatu sistem hukum yang paling baik dan mapan, karena hukum mereka merupakan hukum yang tertulis dan telah terkodifikasi dengan baik. Bangsa Belanda menginginkan masyarakat jajahannya yang merupakan masyarakat tradisional dan diangkat tidak memiliki hukum dalam kehidupannya, harus dikenalkan pada hukum yang baik yaitu sistem hukum Belanda. Sehingga sampai sekarang pengaruh hukum Belanda tersebut masih sangat kuat karena bangsa ini merupakan bangsa yang dijajah oleh Belanda selama 350 tahun lamanya, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa sejak negara ini didirikan sebagian besar hukum yang kita gunakan adalah hasil dari mengadopsi sistem hukum penjajah (Belanda).
Dari sanalah sistem hukum civil law berlaku hingga sekarang dan menjadi tumpuan hukum di Indonesia dan menambah keragamaan bangsa Indonesia di bidang hukum. Prinsip dasar ini dianut mengingat bahwa nilai utama yang merupakan tujuan hukum adalah “kepastian hukum”. Sumber hukum di dalam sistem hukum Eropa Kontinental adalah “undang-undang” yang dibentuk oleh Pemegang Kekuasaan Legislatif. Selain itu juga diakui peraturan yang dibuat oleh pemegang kekuasaan eksekutif berdasarkan wewenang, yang telah ditetapkan oleh undang-undang (peraturan hukum administrasi negara) dan kebiasaan-kebiasaan yang hidup dan diterima sebagai hukum oleh masyarakat selama tidak bertentangan dengan undang-undang.
D. Sistem Hukum Anglo Saxon/
Common Law
dan sistem Unwritten Law (tidak tertulis). Dalam penerapan unwritten law dikenal pula adanya sumber-sumber hukum yang tertulis (statutes). Sumber hukum dalam sistem hukum Anglo Amerika ialah “putusan-putusan hakim/pengadilan” (judicial decisions). Di samping putusan hakim, maka kebiasaan-kebiasaan dan peraturan perundang-undangan serta peraturan administrasi negara juga diakui sebagai sumber hukum. Selain itu dalam sistem Anglo Amerika hakim diberikan fungsi khusus, yang mempunyai wewenang sangat luas untuk menafsirkan peraturan hukum yang berlaku dan menciptakan prinsip-prinsip hukum baru yang akan menjadi pegangan bagi hakim-hakim lain untuk memutuskan perkara yang sejenis.
Sistem Anglo Amerika menganut suatu doktrin yaitu “the doctrine of precedent/stare decisis” yang pada prinsipnya menyatakan bahwa dalam memutuskan suatu perkara, seorang Hakim harus mendasarkan putusannya kepada prinsip hukum yang sudah ada di dalam putusan hakim lain dari perkara sejenis sebelumnya (preseden). Apabila tidak ditemukan putusan Hakim yang terdahulu atau ada tetapi tidak sesuai dengan perkembangan, maka Hakim dapat memutuskan perkara berdasarkan nilai-nilai keadilan, kebenaran dan akal sehat (common sense) yang dimiliki Hakim tersebut.
Sehingga terlihat bahwa sistem hukum Anglo Saxon mendasarkan kepada pentingnya yurisprudensi, sementara sistem hukum Eropa Kontinental lebih mengutamakan perundang-undangan sebagai sumber hukumnya. Untuk itu hakim di pengadilan Anglo Saxon menggunakan prinsip “pembuat hukum sendiri” dengan melihat kasus-kasus dan fakta-fakta sebelumnya (judge made law), sehingga hakim dalam hal ini berarti hakim itu berfungsi sebagai legislatif atau pembuat undang-undang.