ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN OSTEOARTRITIS
DI RUANG MELATI
RUMAH SAKIT BALADHIKA HUSADA (DKT) JEMBER
LAPORAN PENDAHULUAN KOMPREHENSIF
Oleh
Istna Abidah Mardiyah NIM 152310101070
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER
BAB 1. KONSEP DASAR PENYAKIT 1.1 Anatomi Fisiologi Sendi
Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat bergerak dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang yang satu dengan ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat digerakkan sesuai dengan jenis persendian yang diperantarainya.
Sendi merupakan tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Sendi dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:
1. Sendi fibrosa dimana tidak terdapat lapisan kartilago, antara tulang dihubungkan dengan jaringan ikat fibrosa, dan dibagi menjadi dua subtipe yaitu sutura dan sindemosis.
2. Sendi kartilaginosa dimana ujungnya dibungkus oleh kartilago hialin, disokong oleh ligament, sedikit pergerakan, dan dibagi menjadi subtipe yaitu sinkondrosis dan simpisis
3. Sendi sinovial. Sendi sinovial merupakan sendi yang dapat mengalami pergerakkan, memiliki rongga sendi dan permukaan sendinya dilapisi oleh kartilago hialin.
Gambar 1.1 Sendi
sendi dikelilingi sejenis kantong, terbentuk dari jaringan berserat yang disebut kapsul. Jaringan ini dilapisi membran sinovial yang menghasilkan cairan sinovial untuk “meminyaki” sendi. Bagian luar kapsul diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat pada tulang, menahannya kuat-kuat di tempatnya dan membatasi gerakan yang dapat dilakukan.
Rawan sendi yang melapisi ujung-ujung tulang mempunyai mempunyai fungsi ganda yaitu untuk melindungi ujung tulang agar tidak aus dan memungkinkan pergerakan sendi menjadi mulus/licin, serta sebagai penahan beban dan peredam benturan.
1.2 Definisi Penyakit
Osteoartritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. Penyakit ini bersifat kronik, berjalan progresif lambat, dan abrasi rawan sendi dan adanya gangguan pembentukan tulang baru pada permukaan persendian.( Price A, Sylvia, 2005).
Osteoartritis adalah bentuk atritis yang paling umum, dengan jumlah pasiennya sedikit melampui separuh jumlah pasien arthritis.
Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.
Osteoartritis juga dikenal dengan nama osteoartrosis, yaitu melemahnya tulang rawan pada engsel yang dapat terjadi di engsel manapun di sekujur tubuh. Tapi umumnya, penyakit ini terjadi pada siku tangan, lutut, pinggang dan pinggul.
1.3 Epidemiologi
menderita osteoartritis (Murphy dan Helmick, 2012). Estimasi insiden osteoartritis di Australia lebih besar pada wanita dibandingkan pada laki-laki dari semua kelompok usia yaitu 2,95 tiap 1000 populasi dibanding 1,71 tiap 1000 populasi (Woolf dan Pfleger, 2003). Di Asia, China dan India menduduki peringkat 2 teratas sebagai negara dengan epidemiologi osteoartritis tertinggi yaitu berturut-turut 5.650 dan 8.145 jiwa yang menderita osteoartritis lutut (Fransen et. al, 2011).
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 hasil dari wawancara pada usia ≥ 15 tahun rata-rata prevalensi penyakit sendi/rematik sebesar 24,7%. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi dengan prevalensi OA tertinggi yaitu sekitar 33,1% dan provinsi dangan prevalensi terendah adalah Riau yaitu sekitar 9% sedangkan di Jawa Timur angka prevalensinya cukup tinggi yaitu sekitar 27% (Riskesdas, 2013). Sekitar 32,99% lansia di Indonesia mengeluhkan penyakit degeneratif seperti asam urat, rematik/radang sendi, darah tinggi, darah rendah, dan diabetes (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2013). 56, 7% pasien di poliklinik rheumatologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta didiagnosis menderita osteoartritis (Soenarto, 2010). Gejala OA lutut lebih tinggi terjadi pada wanita dibanding pada laki-laki yaitu 13% pada wanita dan 10% pada laki-laki. Murphy, et.al mengestimasikan risiko perkembangan OA lutut sekitar 40% pada laki-laki dan 47% pada wanita. Oliveria melaporkan rata-rata insiden OA panggul, lutut dan tangan sekitar 88, 240, 100/100.000 disetiap tahunnya. Insiden tersebut akan meningkat pada usia 50 tahun keatas dan menurun pada usia 70 tahun (Zhang dan Jordan, 2010).
1.4 Etiologi
nyeri dan ngilu. Beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah :
1. Umur
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoarthritis faktor ketuaan adalah yang terkuat (Soeroso, 2007). Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun.
2. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis. ( Soeroso, 2006 )
3. Riwayat Trauma sebelumnya
Trauma pada suatu sendi yang terjadi sebelumnya, biasa mengakibatkan malformasi sendi yang akan meningkatkan resiko terjadinya osteoartritis. trauma berpengaruh terhadap kartilago artikuler, ligamen ataupun menikus yang menyebabkan biomekanika sendi menjadi abnormal dan memicu terjadinya degenerasi premature. (Shiddiqui, 2008)
4. Pekerjaan
Osteoartritis lebih sering terjadi pada mereka yang pekerjaannnya sering memberikan tekananan pada sendi-sendi tertentu. Jenis pekerjaan juga mempengaruhi sendi mana yang cenderung terkena osteoartritis. sebagai contoh, pada tukang jahit, osteoartritis lebih sering terjadi di daerah lutut, sedangkan pada buruh bangunan sering terjadi pada daerah pinggang. (Dewi SK. 2009)
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula). Pada kondisi ini terjadi peningkatan beban mekanis pada tulang dan sendi (Soeroso, 2007).
6. Faktor Gaya hidup
Banyak penelitian telah membuktikan bahwa faktor gaya hidup mampu mengakibatkan seseorang mengalami osteoartritis. contohnya adalah kebiasaan buruk merokok. Merokok dapat meningkatkan kandungan karbon monoksida dalam darah, menyebabkan jaringan kekurangan oksigen dan dapat menghambat pembentukan tulang rawan (Eka Pratiwi,2007).
7. Genetic
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibu dan anak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis. (Soeroso, 2007)
8. Suku
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan diantara masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam dan Asia dari pada kaukasia. Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang – orang Amerika asli (Indian) dari pada orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan. (Soeroso J. et all, 2007).
1.5 Klasifikasi
1. Osteoartritis primer disebut idiopatik, disebabkan karena adanya faktor genetik yaitu adanya abnormalitas kolagen sehingga mudah rusak. Sedangkan
2. Osteoartritis sekunder adalah osteoartritis yang didasari oleh kelainan seperti kelainan endokrin, trauma, kegemukan, dan inflamasi.
1.6 Patofisiologi/Patologi
Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak meradang dan progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses penuaan, rawan sendi mengalami kemunduran dan degenerasi disertai dengan pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi.
Proses degenerasi ini disebabkan oleh proses pemecahan kondrosit yang merupakan unsur penting rawan sendi. Pemecahan tersebut diduga diawali oleh stress biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim lisosom menyebabkan dipecahnya polisakarida protein yang membentuk matriks di sekeliling kondrosit sehingga mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan, seperti panggul lutut dan kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal dan proksimasi. Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut.
1.7 Manifestasi Klinis
Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula- mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang saat istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan. (Soeroso J. Et all, 2007). Nyeri merupakan keluhan utama tersering dari pasien-pasien dengan OA yang ditimbulkan oleh keainan seperti tulang, membran sinovial, kapsul fibrosa, dan spasme otot-otot di sekeliling sendi.
Karakteristik Nyeri pada osteoartritis dibedakan menjadi 2 Fase : 1. Fase Nyeri Akut.
Nyeri awalnya tumpul, kemudian semakin berat, hilang tibul, dan diperberat oleh aktivitas gerak sendi. Nyeri biasanya menghilang dengan istirahat.
2. Fase Nyeri kronis
Kekakuan pada kapsul sendi dapat menyebabkan kontraktur (tertariknya) sendi dan menyebabkan terbatasnya gerakan. Penderita akan merasakan gerakan sendi tidak licin disertai bunyi gemeretak (Krepitus). Sendi terasa lebih kaku setelah istrahat. Perlahan-lahan sendi akan bertambah kaku.
Secara spesifik, beberapa manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut :
1. Nyeri sendi
Kartilago tidak mengandung serabut saraf dan kehilangan kartilago pada sendi tidak diikuti dengan timbulnya nyeri. Sehingga dapat diasumsikan bahwa nyeri yang timbul pada OA berasal dari luar kartilago (Felson, 2008).Pada penelitian dengan menggunakan MRI, didapat bahwa sumber dari nyeri yang timbul diduga berasal dari peradangan sendi ( sinovitis ), efusi sendi, dan edema sumsum tulang ( Felson, 2008).Osteofit merupakan salah satu penyebab timbulnya nyeri. Ketika osteofit tumbuh, inervasi neurovaskular menembusi bagian dasar tulang hingga ke kartilago dan menuju ke osteofit yang sedang berkembang Hal ini menimbulkan nyeri (Felson, 2008).Nyeri dapat timbul dari bagian di luar sendi, termasuk bursae di dekat sendi. Sumber nyeri yang umum di lutut adalah aakibat dari anserine bursitis dan sindrom iliotibial band (Felson, 2008).
2. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat secara perlahan sejalan dengan pertambahan rasa nyeri (Soeroso, 2006).
3. Kaku pagi
Rasa kaku pada sendi dapat timbul setelah pasien berdiam diri atau tidak melakukan banyak gerakan, seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama, bahkan setelah bangun tidur di pagi hari (Soeroso, 2006).
4. Krepitasi
Krepitasi atau rasa gemeratak yang timbul pada sendi yang sakit. Gejala ini umum dijumpai pada pasien OA lutut. Pada awalnya hanya berupa perasaan akan adanya sesuatu yang patah atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa. Seiring dengan perkembangan penyakit, krepitasi dapat terdengar hingga jarak tertentu (Soeroso, 2006).
5. Pembengkakan sendi yang asimetris
1.8 Pemeriksaan Penunjang
Terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk lebih mendukung adanya Osteoartritis, antara lain sebagai berikut :
1. Foto polos sendi (Rontgent) menunjukkan penurunan progresif massa kartilago sendi sebagai penyempitan rongga sendi, destruksi tulang, pembentukan osteofit (tonjolan-tonjolan kecil pada tulang), perubahan bentuk sendi, dan destruksi tulang.
2. Pemeriksaan cairan sendi dapat dijumpai peningkatan kekentalan cairan sendi.
3. Pemeriksa artroskopi dapat memperlihatkan destruksi tulang rawan sebelum tampak di foto polos.
4. Pemeriksaan Laboratorium: Osteoatritis adalah gangguan atritis local, sehingga tidak ada pemeriksaan darah khusus untuk menegakkan diagnosis. Uji laboratorium adakalanya dipakai untuk menyingkirkan bentuk-bentuk atritis lainnya. Faktor rheumatoid bisa ditemukan dalam serum, karena factor ini meningkat secara normal paa peningkatan usia. Laju endap darah eritrosit mungkin akan meningkat apabila ada sinovitis yang luas.
1.9 Penatalaksanaan 1. Obat obatan
Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis, oleh karena patogenesisnya yang belum jelas, obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketidak mampuan. Obat-obat anti inflamasinon steroid bekerja sebagai analgetik dan sekaligus mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau menghentikan proses patologis osteoartritis.
Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang kurang baik. Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit. Pemakaian tongkat, alat-alat listrik yang dapat memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Beban pada lutut berlebihan karena kakai yang tertekuk (pronatio).
3. Diet
Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus menjadi program utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan.
4. Dukungan psikososial
Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. Disatu pihak pasien ingin menyembunyikan ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain turut memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis sering kali keberatan untuk memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis.
5. Persoalan Seksual
Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang belakang, paha dan lutut. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter karena biasanya pasien enggan mengutarakannya.
6. Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi dari pancuran panas.
isometric lebih baik dari pada isotonic karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otot-otot periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting.
7. Operasi
1.10 Pathway Osteoartritis
Sumber : Pratiwi (2007).
Gender Genetik Pekerjaan Obesitas
Umur
Osteoartritis
Penurunan produksi cairan sinovial sendi Kerusakan
kartilago tulang Perubahan fungsi
sendi Inflamasi Sendi Pelepasan mediator
nyeri Tendon dan
ligamen melemah Deformitas sendi
Sinovial menebal Menyentuh ujung
saraf nyeri Sulit bergerak
Kekakuan sendi Hilangnya kekuatan
otot
Sulit bergerak Nyeri Kronis
Hambatan mobilitaas fisik
Risiko Cidera
BAB 2. KONSEP ASKEP PADA PASIEN DENGAN TUBERKOLOSIS PARU
2.1 Pengkajian
Tujuan dari pengkajian atau anamnesa merupakan kumpulan informasi subyektif yang diperoleh dari apa yang dipaparkan oleh pasien terkait dengan masalah kesehatan yang menyebabkan pasien melakukan kunjungan ke pelayanan kesehatan (Niman, 2013). Identitas pasien yang perlu untuk dikaji meliputi:
a. Meliputi nama dan alamat
b. Jenis kelamin : Osteoartritis biasa terjadi pada pria dan wanita, namun sering pada wanita yang menopause.
c. Umur: paling sering menyerang orang yang berusia antara 15 – 35 tahun. d. Pekerjaan : pekerjaan berpengaruh karena pekerjaan yang berat akan
menyebabkan osteoarthritis. 2.1.1 Pengkajian Riwayat Keperawatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pengkajian ini dilakukan untuk mendukung keluhan utama. Lakukan pertanyaan yang bersifat ringkas sehingga jawaban yang diberikan klien hanya kata “ya” atau “tidak” atau hanya dengan anggukan kepala atau gelengan.
2. Riwayat Kesehatan Sebelumnya:
Pengkajian yang mendukung adalah mengkaji apakah sebelumnya klien pernah menderita penyakit lain yang memperberat osteoartritis.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga:
Secara patologi osteoartritis tidak diturunkan, tetapi perawat perlu menanyakan apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga lainnya.
4. Riwayat Tumbuh Kembang
Kelainan-kelainan fisik atau kematangan dari perkembangan dan pertumbuhan seseorang yang dapat mempengaruhi keadaan penyakit seperti gizi buruk atau obesitas.
Pada riwayat sosial ekonomi pasien terkait makanan dan nutrisi yang dikonsumsi oleh pasien setiap harinya.
6. Riwayat Psikologi
Cara pasien menghadapi penyakitnya saat ini, dapat menerima, ada tekanan psikologis berhubungan dengan sakitnya itu. Kita kaji tingkah laku dan kepribadian.
2.1.2 Pengkajian Berdasarkan NANDA a. Domain Promosi Kesehatan
1. Arti sehat dan sakit bagi pasien.
2. Pengetahuan status kesehatan pasien saat ini.
3. Perlindungan terhadap kesehatan: program skrining, kunjungan ke pusat pelayanan kesehatan, diet, latihan dn olahraga, manajemen stress, faktor ekonomi.
4. Pemeriksan diri sendiri: riwayat medis keluarga, pengobatan yang sudah dilakukan.
5. Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan. 6. Data pemeriksaan fisik yang berkaitan. b. Domain Nutrisi
1. Kebiasaan jumlah makanan.
2. Jenis dan jumlah (makanan dan minuman)
3. Pola makan 3 hari terakhir/ 24 jam terakhir, porsi yang dihabiskan, nafsu makan.
4. Kepuasaan akan berat badan. 5. Persepsi akan kebutuhan metabolic
6. Faktor pencernaan: nafsu makan, ketidaknyamanan, rasa dan bau, gigi, mukosa mulut, mual atau muntah, pembatasan makanan, alergi makanan. 7. Data pemeriksaan fisik yang berkaitan (berat badan saat ini dan SMRS) c. Domain Eliminasi dan Pertukaran
2. Kebiasaan pola buang air besar: frekuensi, jumlah (cc), warna, bau, nyeri, mokturia, kemampuan mengontrol BAK, adanya perubhana lain.
3. Keyakinan budaya dan kesehatan.
4. Kemampuan perawatan diri: ke kamar mandi, kebersihan diri. 5. Penggunaan bantuan untuk ekskresi
6. Data pemeriksaan fisik yang berhubungan (abdmen, genetalia, rectum, prostat)
d. Domain Aktivitas / Istirahat
1. Aktivitas kehidupan sehari-hari
2. Olahraga: tipe, frekuensi, durasi, da inetensitas. 3. Aktivitas menyenangkan
4. Keyakinan tentang latihan dan olahraga
5. Kemampuan untuk merawat diri sendiri (berpakaian, mandi, makan, kamar mandi)
6. Mandiri, bergantung atau perlu bantuan. 7. Penggunaan alat bantu (kruk, kaki tiga)
8. Data pemeriksaan fisik (pernapasan, kardiovaskular, muskoloskeletal, neurologi)
9. Kebiasaan tidur sehari-hari (jumlah waktu tidur, jam tidur dan bangun, ritual menjelang tidur, lingkungan tidur, tingkat kesegaran setelah tidur) 10. Penggunaan alat mempermudah tidur (obat-obatan)
11. Jadwal istirahat dan relaksasi 12. Gejala gangguan pola tidur
13. Faktor yang berhubungan (nyeri, suhu, proses penuaan dll)
14. Data pemeriksaan fisik (lesu, kantung mata, keadaan umum, mengantuk) e. Domain Persepsi / Kognisi
1. Gambaran tentang indra khusus (penglihatan, penciuman, pendengar, perasa, peraba)
4. Tingkat pengetahuan klien terhadap nyeri dan pengetahuan untuk mengontrol dan mengatasi nyeri
5. Data pemeriksaan fisik yang berhubungan (neurologis, ketidaknyamanan) f. Domain Persepsi Diri
1. Keadan sosial: pekerjaan, situasi keluarga, kelompok sosial.
2. Identitas Personal: penjelasan tentang diri sendiri, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki
3. Keadaan fisik, segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh (yang disukai dan tidak)
4. Harga diri: perasaan mengenai diri sendiri.
5. Ancaman terhadap konsep diri (sakit, perubahan peran). 6. Riwayat berhubungan denan masalah fisik dan tau psikologi.
7. Data meneriksaan fisik yang berkaitan (mengurung diri, murung, gidak mau berintaksi)
g. Domain Hubungan Peran
1. Gambaran tentang peran berkaitan degan keluarga, teman, kerja 2. Kepuasan/ ketidak puasaan menjalankan peran
3. Efek terhadap status kesehatan 4. Petingnya keluarga
5. Struktur dan dukungan keluarga
6. Proses pengambilan keputusan keluarga 7. Pola membesarkan anak
8. Hubungan dengan orang lain 9. Orang terdekat dengan klien
10. Data pemeriksaan fisik yang berkaitan h. Domain seksualitas
1. Masalah atau perhatian seksual
2. Menstruasi, jumlah anak, jumlah suami/istri
3. Gambaran perilaku seksual (perilaku seksual yang aman, peukan, sentuhan, dll)
5. Efek terhadap kesehatan
6. Riwayat yang berhubungan dengan masalah fisik dan psikologi
7. Data pemeriksaan fisik yang berkaitan (KU, genetalia, payudara, rektum) i. Domain Koping / Toleransi Stress
1. Sifat pencetus stress yang dirasakan baru-baru ini 2. Tingkat stress yang dirasakan
3. Gambaran respons umum dan khusus terhadap stress
4. Strategi mengatsai stress yang biasa digunakan dan keefektifannya. 5. Strategi koping yang biasa digunakan
6. Pengetahuan dan penggunaan teknik manajemen stress 7. Hubungan antara manajemen stress dengan keluarga. j. Domain Prinsip Hidup
1. Latar belakang budaya/ etnik
2. Status ekonomi, perilaku kesehatan yang berkaitan dengan kelompok budaya/ etnik
3. Tujuan kehidupan bagi pasien 4. Pentingnya agama/ spiritualitas
5. Dmapak masalah kesehatan terhadap spiritualitas
6. Keyakinan dalam budaya (mitos, kepercayaan, larangan, adat) yang dpat mempengaruhi kesehatan
7. Domain Keamanan / Perlindungan 8. Infeksi
9. Cedera fisik 10. Perilaku kekerasan 11. Bahaya lingkungan 12. Proses pertahanan tubuh 13. Temoregulasi
14. Domain Kenyamanan
15. Berisikan Kenyamanan fisik, lingkungan dan sosial pasien 16. Domain Pertumbuhan / Perkembangan
2.1.3 Pemeriksaan fisik Keadaan umum:
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis GCS E4V5M6 Skala nyeri 5
Tanda vital:
a. Tekanan Darah : 140/90 mm/Hg b. Nadi : 80 X/mnt
c. RR : 20 X/mnt
d. Suhu : 36°C
Interpretasi :
Tekanan darah pasien tinggi karena pasien mempunyai hipertensi. Nadi, RR, suhu dalam batas normal dan tidak ada gangguan.
Pengkajian Fisik Head to toe (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi) 1. Kepala
Inspeksi : Tidak ada benjolan/tumor , tidak ada lesi dikepala, penyebaran rambut merata, rambut bersih, hitam, tidak ada ketombe.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan 2. Mata
Inspeksi : Konjungtiva anemis, posisi dan kesejajaran mata normal, ukuran pupil normal, ada reaksi dengan cahaya, tidak memakai kacamata, fungsi penglihatan normal.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan 3. Telinga
Inspeksi : Bentuk dan ukuran telinga normal, tidak ditemukan pembengkakan, telinga dalam keadaan bersih, ketajaman pendengaran normal.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan 4. Hidung
Inspeksi : bentuk hidung normal, simetris, pernapasan cuping hidung, bersih, tidak ada pembengkakan, tidak ada secret
5. Mulut
Inspeksi : Bibir : mukosa bibir lembab, rongga mulut : jumlah gigi lengkap, lidah : bersih, warna lidah putih
6. Leher
Inspeksi : bentuk normal, simetris, tidak ada distensi vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, teraba nadi karotis 7. Dada
Inspeksi : bentuk dada normal , simetris , tidak ada retraksi dada Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : suara paru-paru sonor (normal), suara jantung pekak
Auskultasi: S1-S2, suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan seperti ronkhi, wheezing, snoring
8. Abdomen
Inspeksi : distensi abdomen
Auskultasi : Peristaltik normal (20x/menit) Perkusi : Timpani
Palpasi : tidak ada nyeri tekan 9. Urogenital
Tidak terkaji 10. Ekstremitas Ekstremitas Atas
Inspeksi : gerak tangan antara dekstra dan sinistra seimbang, kekuatan otot 5 (bisa melawan gravitasi dan dapat menahan /melawan tahanan pemeriksa dengan tahan penuh)
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan, tidak ada massa Ekstremitas Bawah
Inspeksi : gerak dekstra lemah kekuatan otot 3 (mampu melawan gaya gravitasi tetapi tidak dapat menahan /melawan tahanan pemeriksa)
5 5 3 3
11. Kulit dan kuku Inspeksi :
Kulit : kulit lembab, warna kulit kuning langsat, turgor kulit baik Kuku : kuku pendek dan bersih
Palpasi : CRT 2 detik 12. Keadaan lokal
Kondisi umum pasien biasanya adalah composmentis degan nilai GCS 14-15. 2.1.4 Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan arthroskopi tampak fibrilasi pada kartilago
2. Gambaran radiologi foto X-Ray konvensional lutut tampak osteofit pada pinggir sendi.
2.1.5 Penatalaksanaan pengobatan 1. Pariet 20 mg 1x1
2. Artrodar 50 mg 2x1 3. OA forte 500 mg 2x1 4. Ex Forge 80 mg/ 5 ml 1x1 5. Cereblek 100 mg 2x1
2.1.6 Analisa data N
O
DATA PENUNJANG ETIOLOGI MASALAH
1. DS:
-Pasien mengatakan nyeri pada lutut
Pasien mengatakan pasien mengatakan sering terbangun ketika rasa nyeri timbul dikaki kanannya
DO:
- Pasien terlihat meringis kesakitan
- Terdapat edema pada lutut kkanan pasien
- P : Aktivitas berat, Obesitas
- Q : Pembengkakan - R : Persendian - S : Skala nyeri 6 - T : Lama nyeri 4 hari
Inflamasi sendi Pelepasan mediator nyeri Menyentuh ujung saraf nyeri Nyeri Kronis Nyeri Kronis 2. DS:
-Psien mengatakan sulit bergerak
-Pasien mengatakan sakit untuk bergerak
DO:
-Pasien terlihat lemah
-Pasien tampak berbaring di tempat tidur
-Terdapat edema di lutut
pasien Risiko Cidera
3. DS:
-Pasien mengatakan kesulitan memiringkan posisi badan -Pasien mengatakan nyeri jika menggerakkan kaki kanannya -Keluarga mengatakan pasien hanya berada ditempat tidur karena tidak berjalan selaa sakit
DO:
- Pasien terlihat hanya berbaring ditempat tidur - Kekuatan otot
5 5 3 5
Kesulitan memiringkan
posisi badan
Keterbatasan rentang gerak
Hambatan mobilitas fisik
Hambatan mobilitas fisik
4. DS:
-Psien mengatakan sulit bergerak
-Pasien mengatakan sakit untuk bergerak
DO:
-Pasien terlihat lemah
Kerusakan kartilago dan
ulang
Tendon ligamen melemah
-Pasien tampak berbaring di tempat tidur
-Terdapat edema di lutut pasien
-Aktivitas makan, toileting, minum, ambulasi ROM menunjukan skala 2 (dibantu petugas)
-rambut pasie tampak kotor dan berminyak
- Kulit pasien tampak kotor
Hilangnya kekuatan otot Keterbatasan gerak Defisit perawatan diri
2.2 Diagnosa keperawatan
1. Nyeri kronis berhubungan dengan proses inflamasi
2. Risiko cidera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan rentang gerak 4. Devisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan rentang gerak
2.3 Intervensi Keperawatan N
O
Diagnosa NOC NIC
1. Nyeri Kronis (001330) Domain 12 : Kenyamanan Kelas 1 : Kenyamanan Fisik)
Kriteria hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan pasien mampu untuk:
1. Meunjukkan kontrol nyeri dengan indikator :
a. Mengenali factor penyebab dari sekala 2 jarang menjadi sekala 4 sering melakukan b. Mengenali onset lamanya
(1400) Manajemen Nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri
secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
sakit dari sekala 2 jarang menjadi sekala 4 sering melakukan
c. Menggunakan metode pencegahan dari sekala 2 jarang menjadi sekala 4 sering melakukan
d. Menggunakan metode nonanalgetik untuk mengurangi nyeri dari sekala 2 jarang menjadi sekala 4 sering melakukan e. Menggunakan analgetik
sesuai kebutuhan dari sekala 2 jarang menjadi sekala 4 sering melakukan
pengalaman nyeri pasien 4. Kaji kultur yang
mempengaruhi respon nyeri 5. Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk menentukan intervensi
6. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
7. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
8. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
9. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
2. Risiko Cidera (00035) Domain : 11 (Keamanan/ Perlindungan )
Kelas : 2 (Cedera Fisik)
Kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan Pasien mampu untuk:
1. Menunjukkan
Risiko Cedera menurun dengan indikator :
a. Keamanan personal dari sekala 2 jarang menjadi sekala 4 sering menunjukkan
1. Identifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan, misalnya perubahan status mental, keletihan, usian kematangan, pengobatan dan defisi motorik atau sensorik (misalnya, berjalan dan keseimbangan).
b. Pengendalian resiko dari sekala 2 jarang menjadi sekala 4 sering menunjukkan
c. Lingkungan rumah yang aman dari sekala 2 jarang menjadi sekala 4 sering menunjukkan
licin, karpet yang sobek, anak tangga tanpa pagar pengaman, jendela, dan kolam renang).
3. Bantu ambulasi pasien, jika perlu.
4. Sediakan alat bantu berjalan (seperti tongkat dan walker). 5. Bila diperlukan gunakan
restrain fisik untuk membatasi resiko jatuh. 6. Ajarkan pasien untuk
berhati-hati dengan alat terapi panas. 7. Berikan materi edukasi yang
berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk mencegah cedera.
3. Hambatan Mobilitas Fisik (00085) Domain : 4 (Aktivitas/ Istirahat) Kelas 2 : Aktivitas /latihan
Kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan Pasien mampu untuk:
1. Menunj
ukkan Ambulasi dengan indikator :
a. Berjalan dengan langkah efektif dari skala 2 jarang dilakukan menjadi skala 4 sering dilakukan
b. Berjalan dengan langkah lambat dari skala 2 jarang
(0221) Terapi: Ambulasi
1. Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan 2. Kaji kemampuan pasien dalam
mobilisasi
3. Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs pasien.
4. Berikan alat Bantu jika klien memerlukan
dilakukan menjadi skala 4 sering dilakukan
c. Berjalan dengan langkah sedang dari skala 2 jarang dilakukan menjadi skala 4 sering dilakukan
d. Berjalan dengan cepat dari skala 2 jarang dilakukan menjadi skala 4 sering dilakukan
e. Berjalan dengan langkah naik dari skala 2 jarang dilakukan menjadi skala 4 sering dilakukan
f. Berjalan dengan langkah turun dari skala 2 jarang dilakukan menjadi skala 4 sering dilakukan
g. Berjalan dengan jarak jauh dari skala 2 jarang dilakukan menjadi skala 4 sering dilakukan
secara mandiri sesuai kemampuan
6. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi
7. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan
(0224) Terapi Latihan: Mobilitas Sendi
1. Tentukan keterbatasan dalam melakukan gerakan
2. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik dalam melakukan program latihan
3. Tentukan tingkat motivasi pasien untuk mempertahankan atau megambalikan mobilitas sendi dan otot
4. Dukung pasien dan keluarga
untuk memandang
keterbatasan dengan realitas 5. Pantau lokasi dan
ketidaknyamanan selama latihan
6. Berikan analgesic sebelum memulai latihan fisik
7. Pantau pasien terhadap trauma selama latihan
2.4 Implementasi
Melaksanakan tindakan sesuai dengan intervensi yang telah di rencanakan dan di lakukan sesuai dengan kebutuhan klien/pasien tergantung pada kondisinya. Sasaran utama pasien meliputi peredaan nyeri, mengontrol ansietas, pemahaman dan penerimaan penanganan, pemenuhan aktivitas perawatan diri, termasuk pemberian obat, pencegahan isolasi sosial, dan upaya komplikasi.
2.5 Evaluasi
DAFTAR PUSTAKA
Bulechek, G.M., Butcher, H., Dochterman, J.M. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC). 6th Edition. Singapore: Elsevier. Terjemahan oleh Nurjannah, I.,Tumanggor,R.D. 2016. Nursing Intervention Classification (NIC). Edisi Indonesia Keenam. Yogyakarta: CV. Mocomedia.
Doenges E Marilyn.1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta: EGC.
Evelyn CP, 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta. Gramedia Guyton A.C. and J.E. Hall 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta:
EGC. 74,76, 80-81, 244, 248, 606,636,1070,1340.
Moorhead, S., Johnson, M., L. Maas, M., Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). 5th Edition. Singapore: Elsevier. Terjemahan oleh Nurjannah, I.,Tumanggor,R.D. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Edisi kelima. CV. Mocomedia.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi ketiga. Balai Penerbit FKUI : Jakarta.
Price & Wilson. 2012. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.
Sudoyo, A.,dkk. (2007). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing, Jakarta.
Susan Martin Tucker.1998. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan, diagnosis, dan evaluasi. Ed5. Jakarta:EGC.