• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMUNIKASI POLITIK NEGOSIASI KMP DAN KIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOMUNIKASI POLITIK NEGOSIASI KMP DAN KIH"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Beberapa waktu lalu, dunia politik kita kembali dibuat gaduh dengan dualisme kepemimpinan DPR. Dua kubu yang berseberangan yakni ada Koalisi Merah Putih (KMP) yang pada pemilihan presiden (pilpres) mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan kubu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Akar perpecahan itu mulai tumbuh sejak Pemilu Presiden. Kekalahan Prabowo-Hatta yang diusung oleh kubu KMP tampaknya telah menimbulkan sakit hati dan dendam politis. Hal itu dibawa ke parlemen dalam bentuk pertempuran memperebutkan posisi-posisi penting.

Perebutan yang pertama adalah dalam pemilihan pimpinan DPR, sistem paket yang diterapkan sesuai dengan UU MD3 yang telah disepakati yakni Pasal 84 UU nomor 17 Tahun 2014 terdiri dari 10 ayat.1 Pasal tersebut memuat tentang Pimpinan DPR. Ayat (1) berisi Pimpinan DPR terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 4 (empat) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota DPR. Menjadikan pemilihan DPR walaupun dengan pertarungan alot, namun pastinya dapat dimenangkan dengan mudah oleh koalisi Merah Putih (KMP) yang merupakan koalisi yang lebih mendominasi DPR. Walaupun sebenarnya dalam Undang-Undang sebelumnya menyatakan pimpinan DPR berasal dari partai pemenang pemilu yang tidak lain adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berada dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Adapun pimpinan DPR yang terpilih yakni mereka-mereka dari Koalisi Merah Putih (KMP) antara lain; (1) Setya Novanto, sebagai Ketua DPR, politisi dari Partai Golkar (2) Fadli Zon, sebagai Wakil Ketua DPR, politisi asal Partai Gerindra. (3) Fahri Hamzah, sebagai Wakil Ketua DPR. politisi yang berasal dari PKS (4) Taufik Kurniawan juga sebagai Wakil Ketua DPR Yang baru. berasal dari PAN dan (5) Agus Hermanto adalah politisi Partai Demokrat juga terpilih sebagai wakil ketua DPR.2

Perebutan yang kedua adalah pada saat pemilihan pimpinan MPR, Berdasarkan tatib Bab XI mengenai tata cara pemilihan pimpinan MPR, pasal 1883 yakni Pimpinan MPR terdiri atas 1 (satu) orang ketua yang berasal dari DPR dan 4 (empat) orang wakil ketua yang terdiri atas 2 (dua) orang wakil ketua berasal dari anggota dan 2 (dua) orang wakil ketua berasal

1 Kesepakatan KMP-KIH dan Refisi UU MD3 dalam

http://berkas.dpr.go.id/pengkajian/files/info_singkat/Info%20Singkat-VI-22-II-P3DI-November-2014-41.pdf diakses 13 desember 2014, pukul 07.15 2 Pimpinan DPR periode 2014-2019 dalam

http://www.dpr.go.id/id/anggota/per-fraksi diakses 13 desember 2014, pukul 07.40

(2)

dari anggota DPD, yang ditetapkan dalam sidang paripurna MPR. Terdapat pertentangan yang sangat sengit dalam perebutan ini, namun lagi-lagi pemilihan pimpinan MPR pun dimenangkan oleh Koalisi Merah Putih. Yakni memenangkan Paket B yang terdiri dari Ketua MPR Zulkifli Hasan dan wakil ketua adalah Mahyuddin dari Partai Golkar, Evert Erenst Mangindaan dari Partai Demokrat, Hidayat Nur Wahid dari Partai Keadilan Sejahtera, dan Oesman Sapta Odang dari Dewan Perwakilan Daerah, memperoleh 347 suara dengan mengalahkan Paket A atau Koalisi Indonesia Hebat yakni Ketua MPR Oesman Sapta Odang (DPD), dan wakil ketua adalah Achmad Basarah (PDIP), Imam Nahrawi (PKB), Patrice Rio Capella (Nasdem), dan Hasrul Azwar (PPP) yang hanya memperoleh memperoleh 330 suara.4

Perebutan yang ketiga adalah perebutan kelengkapan anggota dewan, untuk ketiga kalinya Koalisi Merah Putih terus berusaha menunjukkan kekuatannya di DPR dengan memenangkan kesemua pimpinan fraksi. Adapun Daftar pimpinan perfraksi dapat dilihat pada tabel berikut;

KOMISI KETUA WAKIL KETUA

Komisi I Mahfudz Siddiq (PKS) Hasril Hamzah Tandjung (Gerindra), Tantowi Yahya (Golkar), Hanafi Rais (PAN)

Komisi II Rambe Kamaruzaman

(Golkar) Ahmad Riza Patria (Gerindra), Wahidin Halim (Demokrat), Mustafa Kamal (PKS) Komisi III Azis Syamsuddin (Golkar) Desmon Junaedi Mahesa (Gerindra), Benny

K Harman (Demokrat), Nur Fahri Harahap (PAN)

Komisi IV Edhy Prabowo (Gerindra) Titiek Soeharto (Golkar), Herman Khaeron (Demokrat), Viva Yoga Mauladi (PAN)

Komisi V ditunda

Komisi VI Achmad Hafisz Tohir

(PAN) Dodi Reza Gunawan (Gerindra), Azam Azman Alex Noerdin (Golkar), Heri Natawijana (Demokrat)

Komisi VII Kardaya Warnika

(Gerindra) Satya W Yudha (Golkar), Mulyadi (Demokrat), Tamsil Linrung (PKS) Komisi VIII Saleh Partaonan Daulay

(PAN)

Deding Ishak (Golkar), Sodik Nudjahid (Gerindra), Ledia H Amaliah (PKS) Komisi IX Dede Yusuf Macan

Effendi (Demokrat) Syamsul Bachri (Golkar), Pius Lustrilanang (Gerindra), Asman Abnur (PAN) Komisi X Ketua: Teuku Riefky

Harsya (Demokrat) Ridwan Hisyam (Golkar), Nuroji (Gerindta), Sohibul Iman (PKS)

Komisi XI ditunda

Tabel 1 : Daftar Pimpinan 11 Komisi DPR5

4 Zulkifli Hasan, Ketua MPR Periode 2014-2019 dalam

http://www.tempo.co/read/news/2014/10/08/078612697/Zulkifli-Hasan-Ketua-MPR-Periode-2014-2019 diakses 13 desember 2014, pukul 08.10

5 Susunan Pimpinan Komisi DPR Periode 2014-2019 dalam

(3)

Dari perebutan tersebut, dimana Koalisi Merah Putih dengan Undang-Undang MD3 dan dominasi kolisi mereka yang lebih banyak berhasil menempati seluruh bagian pimpinan dewan. Koalisi Merah Putih (KMP) dengan anggapannya merasa bahwa memang sebenarnya diperlukan kekuatan yang besar di DPR dari partai oposisi non pemerintahan, yang akan menjadi kekuatan penyeimbang yang baik. Namun Koalisi Indonesia Hebat (KIH) melihat asas proporsional dalam DPR, dan menggugat hal ini, karena bagaimanapun DPR merupakan mitra kerja dari presiden. Koalisi Indonesia Hebat (KIH) beranggapan dengan asas proporsional, DPR tidak akan dikuasai satu kelompok saja. Selain itu, pimpinan DPR dan alat kelengkapan DPR yang terpilih juga bisa netral dalam menjalankan tugas karena tidak mementingkan atau mewakili kepentingan kelompoknya semata.

Secara konstitutional, kesempatan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) untuk mendapat posisi pimpinan didalam DPR dapat dikatakan menemui jalan buntu. Hingga akhirnya Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang didalamnya terdapat 4 partai yakni PDIP, PKB, Nasdem dan Hanura melakukan salah satu manufer politik, berupa penyeruan mosi tidak percaya kepada pimpinan DPR yang kemudian membuat pimpinan DPR tandingan. DPR tandingan ini juga membentuk alat kelengkapan DPR seperti komisi komisi, badan anggaran dan sebagainya.

Kurang lebih satu bulan, publik menerima pemberitaan dualisme DPR ini. Beragam tanggapan maupun tuntutan diberikan publik kepada mereka yang bersitegang. Hingga pada akhir-akhir masa reses 5 desember 2014 kedua koalisi menyerukan rekonsiliasi dan islah yang mereka sibuk untuk menyelesaikan. Dari sinilah peneliti mengambil poin menarik yakni komunikasi politik yang seperti apa yang dilakukan untuk menyelesaikan dualisme DPR tersebut, dalam perspektif cara menyelesaikan suatu konflik terutama dalam hal negosiasi yang dilakukan oleh kedua koalisi baik KIH maupun KMP.

B. Rumusan Masalah

(4)

BAB II

DEFINISI KONSEPTUAL

A. Konflik dan Penyebab Konflik

Konflik berasal dari kata con-fligere, conflictum yang artinya adalah saling berbenturan, maksudnya adalah segala bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, ketidakserasian, pertentangan, perkelahian, oposisi dan interaksi-interaksi yang antagonis atau bertentangan.6

Aamodt (2007) mengatakan konflik adalah sebagai reaksi psikologis dan perilaku (behavioral) atas suatu persepsi bahwa individu lain menghalangi seseorang mencapai suatu tujuan, menjauhkan hak seseorang untuk bertindak dalam suatu cara tertentu, atau mengacaukan pengharapan dari suatu hubungan. Mangkunegara (2001: l55) mengemukakan bahwa konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkan.7

Clinton F. Fink mendefinisikan konflik sebagai berikut:8

1) Konflik ialah relasi-relasi psikologis yang antagonistis, berkaitan dengan tujuan-tujuan yang tidak bisa disesuaikan; interest-interest eksklusif dan tidak bisa dipertemukan, sikap-sikap emosional yang bermusuhan, dan struktur-struktur nilai yang berbeda.

2) Konflik adalah interaksi yang antagonis, mencakup tingkah laku lahiriah yang tampak jelas, mulai dari bentuk-bentuk perlawanan halus, terkontrol, tersembunyi, tidak langsung; sampai pada bentuk perlawanan terbuka, kekerasan perjuangan tidak terkontrol, benturan laten, pemogokan, huru-hara, makar, gerilya, perang dan lain-lain.

Beberapa penyebab konflik pada suatu hubungan yaitu (Devito,1997:250):9

1) Alasan-alasan untuk membina hubungan telah luntur, masing-masing individu dalam suatu hubungan mempunyai kepercayaan atau cara berfikir

6 Kartini Kartono. Pemimpin dan Kepeminpinan ( Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1994) hal. 213

7 Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia. ( Bandung; Perusahaan, Remaja Rosdakarya. 2001) hal. 155

8 Clinton F. Fingk. Some Consepyua Difficulities in the theory of Social Conflict, Jurnal of Conflict Resolution, 1968

(5)

sendiri tentang suatu hubungan. Perbedaan pengertian dan kepercayaan tentang hubungan akan mempengaruhi hubungan tersebut.

2) Hubungan pihak ketiga, suatu hubungan akan mengalami suatu kemunduran apabila salah satu anggota dalam hubungan itu mempunyai hubungan baru dengan yang lain. Apalagi apabila hubungan baru itu lebih baik dari hubungan sebelumnya.

3) Perubahan sifat hubungan, perubahan perilaku individu dalam suatu hubungan akan menghasilkan problem yang serius. Apabila tidak terbiasa dengan perubahan tersebut maka, akan terjadi perasaan tidak nyaman, akibatnya hubungan yang sedang berjalan akan mengalami konflik.

4) Harapan yang tidak terkatakan, harapan individu dalam suatu hubungan seringkali tidak realistik bagi individu lain.

Secara konseptual terdapat 4 (empat) sumber dalam konflik organisasi, yaitu (1) suatu situasi yang tidak menunjukkan adanya keseimbangan tujuan yang ingin dicapai, (2) terdapatnya sarana atau timbulnya proses alokasi sumber yang tidak seimbang, (3) terdapatnya suatu persoalan status yang tidak selaras dan (4) timbulnya persepsi yang berbeda. Apabila ke 4 sumber ini tidak dapat dikelola dengan baik atau tidak segera mendapat perselesaian, maka konflik organisasi tersebut tidak dapat dihindari.10

B. Tipe-tipe Konflik dan Bentuk-Bentuk Kompromi

Konflik merupakan kondisi dasar dalam suatu permasalahan politik. Dengan kata lain, konflik mencerminkan seluruh aspek dasar ketidaksepakatan politik yang dialami peserta. Dalam hal ketidaksepakatan, konflik politik melibatkan kepentingankepentingan yang memerlukan regulasi politik, dan dengan demikian tidak dapat dicegah atau dihindari melalui alternatifalternatif individu. Oleh karena permasalahan politik harus selalu diselesaikan untuk kepentingan semua orang melalui lembagalembaga yang kompeten, ketidaksepakatan tentang kepentingan akan selalu menjadi konflik yang pertama kali muncul. Konflik dapat berkembang ke semua bidang yang melibatkan kepentingan politik, seperti misalnya di bidang ekonomi, sosial, budaya dan regional. Dalam hal ini, politik dapat dilihat sebagai proses resolusi konflik kepentingan yang damai dan integratif.11

Empat bentuk dasar konflik sangatlah menarik untuk dipelajari untuk dapat memahami proses politik dan mencari kemungkinan tercapainya kompromi yang baik, antara lain;12

1) Asal mula perbedaan.

10 Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi. Kepemimpinan dan Organisasi. ( Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2010) hal. 283

11 Thomas Meyer. KOMPROMI (Indonesia, Friedrich-Ebert-Stifung (FES, 2012) hal. 35

(6)

Konflik dapat muncul pada asal mula perbedaan timbul dengan cara mengkaji pertanyaanpertanyaan tentang kepentingan bersama yang nantinya dapat menghasilkan konsensus melalui dialog intensif yang bertujuan untuk mencapai pemahaman bersama, seperti isu tentang menentukan hari libur nasional atau menerapkan tarif pajak. Di banyak kasus, ada kemungkinan untuk memulai proses diskusi publik tentang nilai-nilai dasar masyarakat dengan keterlibatan seluruh peserta untuk mengatasi konflik, mis. tentang batas-batas kebebasan setiap orang, implementasi keadilan sosial, dan keamanan kemampuan bertahan hidup jangka panjang, dimana peserta merubah interpretasi dasar mereka dan memilih argumen yang lebih baik. Dengan cara ini, kepentingan bersama dapat didefinisikan bersama oleh peserta karena mereka meyakininya.

Perubahan seperti ini, dari yang pada awalnya adalah konflik politik menjadi konsensus setelah melalui proses negosiasi yang panjang dan melelahkan untuk menimbang keuntungan dan kerugian yang ada, pada umumnya hanya dapat ditemukan dalam pertanyaan-pertanyaan dasar yang terkait dengan masyarakat dan jarang sekali terkait dengan kepentingan ekonomi, sosial dan perbedaan budaya.

2. Konflik yang dimenangkan secara parsial.

(7)

3. Konflik yang dimenangkan satu pihak.

Konflik ini hadir ketika satu-satunya solusi yang dapat dipikirkan adalah dengan memenuhi kepentingan satu pihak seutuhnya, seperti yang ada dalam bentuk pemerintah negara monarki atau republik, negara sekuler atau religius sehingga kepentingan pihak lain tidak dipertimbangkan sama sekali. Konflik seperti ini tidak sering terjadi dalam kehidupan politik. Dalam situasi tertentu, konflik seperti ini melibatkan isu-isu tentang nilai dan kepentingan berdasarkan agama, dimana individu-individu dianggap tidak memiliki kesempatan apapun untuk memutuskan, atau hanya menyangkut isu-isu tertentu yang karena sifat dari isu tersebut, yang tidak mewakili kepentingan mereka pada saat itu, atau bahkan tidak sama sekali.

Bahkan dalam kasus konflik yang bersifat ‘menangkan semua atau tidak sama sekali’, biasanya tetap ada kemungkinan untuk mengisolir akar konflik yang paling kontroversiaal sehingga satu permasalahan dapat diselesaikan dengan cara kompromi atau konsensus. Dengan konflik jenis ini, seni berpolitik adalah untuk mengisolir akar permasalahan yang paling kontroversial semaksimal mungkin dari keputusan yang mengikat semua pihak sehingga semua pihak yang berkonflik dapat diselamatkan dan tidak terjebak dalam situasi dimana mereka sendiri memiliki pemahaman yang sangat terbatas tentang hal-hal yang paling esensial dan bagi mereka konflik tersebut tampak tidak dapat terselesaikan.

4. Konflik yang memenangkan semua pihak.

(8)

kembali keyakinan seseorang tentang nilai-nilai demokrasi dasar dan proses pengambilan keputusan. Untuk beberapa jenis situasi konflik ‘menangkan semua atau tidak sama sekali’, yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan politik, penting sekali untuk dicamkan bahwa keputusan-keputusan ini harus memiliki kesempatan untuk dirubah nantinya demi demokrasi.

C. Komunikasi Politik

Pengertian Komunikasi Politik Menurut Nimmo - Politik berasal dari kata polis yang berarti negara, kota, yaitu secara totalitas merupakan kesatuan antara negara (kota) dan masyarakatnya. Kata polis ini berkembang menjadi politicos yang artinya kewarganegaraan. Dari kata politicos menjadi politera yang berarti hak-hak kewarganegaraan.13 Definisi Komunikasi Politik - Secara definitif, ada beberapa pendapat sarjana politik, diantaranya Nimmo, mengartikan politik sebagai kegiatan orang secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka di dalam kondisi konflik sosial.

Dalam berbagai hal orang berbeda satu sama lain – jasmani, bakat, emosi, kebutuhan, cita-cita, inisiatif , perilaku, dan sebagainya. Lebih lanjut Nimmo menjelaskan, kadang-kadang perbedaan ini merangsang argumen, perselisihan, dan percekcokan. Jika mereka menganggap perselisihan itu serius, perhatian mereka dengan memperkenalkan masalah yang bertentangan itu, dan selesaikan; inilah kegiatan politik.14

Bagi Lasswell, ilmu politik adalah ilmu tentang kekuasaan. Berbeda dengan David Easton dalam Sumarno, mendefinisikan politik sebagai berikut: Political as a process those developmental processes through which person acquire political orientation and patterns of behavior” Dalam definisi ini David Easton menitikberatkan bahwa politik itu sebagai suatu proses di mana dalam perkembangan proses tersebut seseorang menerima orientasi politik tertentu dan pola tingkah laku.15

D. Negosiasi

13 Dan nimmo. komunikasi politik, khalayak dan efek, (bandung: remaja karya (cv 1989), hal.108

14 Ali, novel. Peradaban komunikasi politik, (bandung: remaja rosdakarya 1999), hal. 120

(9)

Secara sederhana, Negosiasi adalah cara yang sangat efektif untuk mendapatkan apa yang kita kehendaki.16 Negosiasi atau perundingan adalah proses mencapai kepuasan bersama melalui diskusi dan tawar menawar. Seseorang berunding untuk menyelesaikan perselisian, mengubah perjanjian atau syarat-syarat, atau menilai komoditi atau jasa, atau permasalahan yang lain.

Agar perundingan berhasil, masing-masing pihak harus sungguh-sungguh menginginkan persetujuan yang dapat ditindak lanjuti, dan sebagai perjanjian jangka panjang. Karena tidak ada gunanya sebuah persetujuan apabila tidak dapat diterapkan atau dilaksanakan. Apabila hal itu terjadi maka para perunding (negosiator) yang merupakan wakil-wakil dari suatu pihak yang berkepentingan akan kehilangan kredibilitas dan wibawa.

Perunding harus melakukan beberapa fungsi yang membutuhkan ketrampilan. Mereka harus dapat membuat rencana dan tujuan yang matang. Alasan yang berkaitan dengan setiap pokok persoalan perundingan harus disiapkan seolah-olah pihak lain tidak ada. Setiap argument harus lengkap dan bila diperlukan harus disiapkan data pendukung yang valid/sah. Perunding harus cukup luwes untuk memperdebatkan alasan-alasan dalam konteks dan sesuai dengan prioritas yang akan dirundingkan dengan pihak lain.

Perunding yang baik akan tahu bagaimana menanggulangi konflik. Menganggap remeh suatu konflik akan menimbulkan posisi kritis yang menuju ke pemenuhan tuntutan dan akhirnya menyerah. Dengan kata lain bahwa negosiasi merupakan suatu proses yang dilakukan oleh dua pihak/kelompok atau lebih dengan cara berunding untuk mencapai persetujuan yang sesuai dengan karakteristik tertentu melalui beberapa tahapan yang saling bertentangan satu sama lain.

Tanpa memperdulikan keadaan atau kelompok yang terlibat, negosiasi paling tidak mempunyai 4 elemen, yaitu :17

1) Ada beberapa perselisihan atau pertentangan.

2) Ada beberapa tahap saling ketergantungan diantara kelompok.

3) Situasinya harus kondusif untuk mendapatkan kesempatan berinteraksi. Itu artinya bahwa setiap pihak/kelompok ingin tahu dan cenderung untuk saling mempengaruhi kelompok lainnya.

4) Ada beberapa kemungkinan untuk sepakat.

Jika elemen elemen tersebut diatas tidak ada, maka tentu saja negosiasi tidak mambawa hasil yang positif. Pada saat negosiasi tersebut

16 Harry A. Mills. Negosiasi Seni untuk Menang, (Jakarta; Binarupa Aksara. 1993) hal. 7

(10)

Langkah 2 Sebaliknya jika mereka gagal, maka konflik tersebut akan meningkat.

E. Cara Menuju Kesepakatan Dalam Negosiasi

Menurut Harry A. Mills, menerangkan proses negosiasi dapat dirinci menjadi tujuh langkah yang dapat diidentifikasi yang membentuk akronim RESPECT.

Di dalam proses pencapaian kesepakatan, para negosiator bergerak bolak-balik diantara langkah-langkah tersebut dengan menghabiskan jumlah waktu yang berfariasi di dalam tiap bidang. Keterampilan dan kemampuan yang berbeda digunakan didalam setiap langkah. Segera sesudah anda dapat mengidentifikasi didalam langkah apa anda berada, anda dapat memulai arah tindak anda. Adapun langkah-langkah tersebut dapat dilihat dalam skema berikut.

Didalam langkah satu, negosiator harus mempersiapkan beberapa hal antara lain; (1) Menetapkan dan memprioritaskan sasaran anda, (2) mandaftar isu-isu, (3) menentukan konsesi apa yang dapat diberikan dan konsesi apa yang diperlukan sebagai imbalan, (4) mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, (5) merencanakan strategi dan tak-tik penunjang.

Didalam langkah dua, negosiator menjajaki kebutuhan satu sama lain (explore each other’s needs) D dalam langkah penjajakan, negosiator bertemu dengan pihak lain untuk; (1) menjelaskan kebutuhan anda dan kebutuhan pihak lawan, (2) menguji asumsi, (3) membina hubungan untuk menjamin negosiasi sama-sama menang, (4) mengkounikasikan posisi negosiator yang terbuka, (5) mempelajari posisisi terbuka pihak lawan.

(11)

harus dapat; (1) mengisyaratkan bahwa negosiator siap untuk melangkah dan (2) berespons terhadap isyarat dari pihak lawan dan mengembangkan momentum.

Didalam langkah empat, negosiator menyelidiki proposal untuk memajukan negosiasi lebih jauh, negosiator membuat proposal tentatif untuk menyelidiki pokok-pokok dimana pihak lawan akan membuat konsesi, dan mengemas kembali proposal yang ditolak menjadi bentuk yang lebih dapat diterima.

Didalam langkah lima, negosiator bertukar konsesi (exchange cocessions). Disini negosiator tukar menukar konsesi dengan memberi pihak lawan beberapa, atau sebagian, dari tututan mereka sebagai ganti untuk menerima beberapa, atau sebagian, dari apa yang negosiator kehendaki.

Didalam langkah enam, negosiator menutup transaksi untuk menghindari melepaskan terlalu banyak konsesi, anda mengakhiri proses pertawaran dengan membuat penutupan yang dapat dipercaya dan dapat diterima.

Didalam langkah tujuh, negosiator mengikat ujung-ujung yang lepas (tie-up the loose ends). Sesudah menyepakati suatu transaksi, negosiator harus ; (1) menegaskann secara eksak apa yang sudah disepakati, (2) meringkas rincian kesepakatan diatas kertas, (3) bersepakat mengenai rencana untuk menyeesaikan perbedaan masa datang yang mungkin terjadi.18

(12)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yakni penelitian yang memberikan gambaran atas uraian suatu keadaan sejernih mungkin, tanpa adanya perlakuan terhadap objek yang diteliti.19 Metode ini merupakan suatu metode yang berupaya memberikan gambaran tentang suatu fenomena tertentu secara terperinci, sehingga akhirnya diperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang fenomena yang sedang diteliti. Sedangkan penggalian data yang digunakan adalah menggunakan studi pustaka baik bersumber dari buku dan jurnal maupun dokumentasi berita yang terkait dengan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan kronologi dualisme DPR dan cara dua kubu tersebut dalam menyelesaikan konflik yang dialami terlebih dalam konteks komunikasi negosiasi yang digunakan.

Penelitian ini mencoba menjelaskan kejadian dualisme yang terjadi di dalam DPR saat ini, yang mencoba dikaji dengan teori yang sesuai dengan kejadian tersebut. hal yang akan dikaji antara lain adalah komunikasi negosiasi yang digunakan untuk menyelesaikan dualisme dalam DPR yang dikaji dengan teori yang berhunungan dengan negosiasi.

Subjek dalam penelitian ini adalah komunikator politik yang menyelesaikan dualisme yang ada dalam DPR, yakni mereka yang bertindak sebagai negosiator, baik dari Koalisi Merah Putih (KMP) maupun yang berasal dari Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Adapun objek dalam penelitian ini adalah dinamika yang terjadi dalam DPR mulai dari penyebab munculnya dualisme, pergolakan yang terjadi selama terjadi dualisme sampai cara-cara yang dilakukan untuk mengakhiri dualisme yang terjadi terlebih dalam konteks komunikasi negosiasi yang digunakan.

Penggalian data yang digunakan adalah berasal dari pemberitaan mengenai dualisme DPR, penuturan para subyek yang terlibat seperti negosiator kedua bilah koalisi ataupun para politisi dan juga para pengamat politik yang diambil dari beberapa media baik cetak, maupun elektronik yakni pemberitaan melalui Televisi. Untuk beberapa teori yang digunakan dalam mengkaji, peneliti mengambil beberapa dari buku. baik buku cetak maupun buku elektronik (e-book). Selain itu juga mengambil dari beberapa skripsi, jurnal, laporan penelitian yang sudah ada. Adapun untuk referensi berasal dari buku 19 Rony Kountur. Metode penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis.

(13)
(14)

Koalisi Indonesia Hebat (KIH)Koalisi Merah Putih (KMP) 1.Refisi UU MD3

2. Refisi Tatib DPR

3. Penambahan jumlah pimpinan AKD

1. Tidak adanya mosi tidak percaya terhadap DPR 2. Tidak ada pergantian pimpinan sebelumnya

DPR dapat segera bekerja tanpa dualisme BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Negosiasi Koalisi Indonesia Hebat

Dalam kasus konflik dualisme DPR yang dialami baik oleh Koalisi Indonesia Hebat, ataupun juga Koalisi Merah putih. Maka yang dapat dijadikan sebagai pemicu konflik adalah suatu situasi yang tidak menunjukkan adanya keseimbangan. Dapat dibilang bahwa asas proporsional suatu organisasi yakni DPR, hanya dikuasai oleh satu Koalisi yakni Merah Putih. Koalisi merah putih yang notabene adalah koalisi oposisi atau diluar pemerintahan, dalam satu sisi dapat dijadikan sebagai kekuatan penyeimbang yang baik. Namun, disisi lain juga dapat menajadi kelompok pengintervensi pemerintahan yang dinilai dapat mengganggu jalannya tuas-tugas eksekutif. Karena tidak lain DPR sebagai embaga legeslatif adalah mitra eksekutif. Diharapkan dengan adanya proporsionalitas dalam DPR dengan memasukkan beberapa nama dari koalisi indonesia hebat dapat memperlancar rencana, ataupun tugas eksekutif melalui DPR sebagi mitra kerja, sehingga penyelesaian tugas-tugas kepresidenan atau pun kementrian dapat berjalan dengan lebih efektif dan evisien.

(15)

Adapun cara yang dilakukan oleh Koalisi Indonesia Hebat adalah sebagai berikut;

1. Memilih Negosiator Ulung

Kekalahan Koalisi Indonesia Hebat dalam pemilihan DPR dan MPR dinilai oleh beberapa pihak adalah dikarenakan lobby politik yang kurang baik dari elite atau politisi koalisi indonesia hebat (KIH) seperti yang disampaikan oleh Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Dodi Ambardi yakni;20

“Idealnya,memang tidak semua urusan harus ditangani Presiden terpilih. Kalau di tingkat fraksi, sebaiknya pimpinan fraksi yang harus maju. “Tapi sayang, lobi mereka tak berhasil dalam beberapa babak politik, seperti saat pengesahan UU Pilkada, pimpinan DPR, dan MPR dan di sana tingkat kesuksesan lobi dan negosiasi memang sebagian akan tergantung pada Puan Maharani sebagai pimpinan fraksi. Bisa jadi Puan menyumbang kegagalan (lobi) itu sendiri”

Selain itu, juga sesuai dengan yang disampaikan Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran, Idil Akbar yakni;21

"Saatnya Jokowi untuk mengambil alih itu dan menjadi pemimpin negosiasi dan lobi. Saya kira kekalahan KIH dari Koalisi Merah Putih(KMP) di parlemen tidak hanya persoalan lemahnya komunikasi politik yang dibangun KIH, tetapi juga lemahnya konsolidasi internal KIH sendiri terhadap realitas politik di parlemen,"

Maka dari itu dalam melakukan negosiasi dalam menyelesaikan konflik dualisme DPR ini diperlukan penego yang handal dan koalisi Indonesia Hebat, akhirnya menunjuk Pramono Anung (politisi senior PDIP) sebagai penegosiator. Pemilihan ini didasarkan karena Pramono Anung adalah sosok senior PDIP yang bisa melobi ke elite partai anggota Koalisi Merah Putih. Keduanya dinilai selevel dengan generasi para elite Koalisi Merah Putih.

20 Puan Dinilai Gagal Bangun Komunikasi Politik dalam

http://korankota.co.id/index.php/web/berita/NASIONAL-POLKAM/9308/puan-dinilai-gagal-bangun-komunikasi-politik diakses 20 Desember 2014 pukul 14.00

(16)

Pemilihan Pramono anung sebagai negosiator dianggap tepat oleh peneliti CSIS Arya Fernandes, yakni;22

"Pemilihan Pramono Anung sudah tepat, Karena tidak mungkin melobi dengan orang yang beda generasi. Kedua, faktor pengalaman dan pengaruh politik juga menentukan, kalau sosok negosiator tidak berpengaruh, nanti bisa tidak imbang,".

2. Membangun komunikasi yang Efektif

Pemilihan negosiator yakni pramono anung adalah sebagai salah satu kriteria komunikasi yang efektif. Dimana sosok negosiator dalam konteks komunikasi sebagai komunikator sesuai dengan syarat komunikator yang baik yakni sosok pramono yang dinilai mempunyai kredibilitas dan kapasitas dimata Koalisi Merah Putih (KMP).

Komunikasi yang dibangun oleh negosiator KIH Pramono Anung, dengan pendekatan interpersonal telah dilakukan dengan mendatangi rumah negosiator KMP Hatta Rajasa. Dalam pertemuannya di rumah Hatta Rajasa, berlangsung sebanyak dua kali yakni kedatangan pertama pada Rabu, 12 November 2014, dan kedatangan keduanya pada Sabtu, 15 November 2014. Dari jarak hari antar pertemuan pertama dan kedua, pertemuan tersebut mensyaratkan adanya hubungan komunikasi yang intensif antar keduannya.

Dalam pertemuan pertama ini tidak ada penjelasan kesepakatan apa-apa saja yang disepakati keduannya. Pertemuan selama 2,5 jam ini mengisyaratkan bahwa telah terjalin semangat untuk saling berusaha menyelesaikan dualisme DPR atau berada pada tahapan saling menjajaki satu sama lain ( Explore needs each other).

Dalam pertemuan kedua, Pramono berbicara usai mengadakan pertemuan dengan KMP yang diwakili Ketua Umum PAN Hatta Rajasa, Koordinator Pelaksana KMP Idrus Marham, dan juga Ketua Fraksi (Plt) PDIP di DPR Olly Dondokambey, dan mereka menyepakati salah satnya adalah jalan keluar untuk menyempurnakan UU MD3 yang memuat pengaturan hak interpelasi DPR. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, pada pertemuan ini telah terjadi sebuah kesepakatan yakni salah satunya penyempurnaan UU MD3.

Terdapat hal menarik dari kedua pertemuan yang telah dilakukan Pramono Anung dan Olly Dondokambey Negosiator KIH dengan

22 Tjahjo dan Pramono Anung Dianggap Negosiator Terbaik untuk Lobi ke KMP dalam

(17)

perwakilan KMP seperti Idrus Marham ataupun sang tuan rumah Hatta Rajasa. yakni Statement-statement yang dilontarkan oleh Pramono Anung setelah pertemuan tersebut. Pada pertemuan pertama, berikut statement yang dilontarkan;23

“Penyelesaian konflik antara KMP dan KIH memang cukup alot. Sejumlah pertemuan yang dilakukan di Kompleks Parlemen tak mampu menghasilkan hasil maksimal. Justru, kata dia, diplomasi yang dilakukan di rumah Hatta-lah yang paling berhasil dari sekian lobi politik yang dilakukan, Penyelesaian hal seperti ini manjur di rumah Pak Hatta. Diplomasi shalat dan ikan patin-lah yang menyelesaikan ini semua,".

Sumber: Kompas.com

Pada pertemuan yang kedua, Pramono juga melontarkan statement yang dinilai sebagai ice breaker yang baik. Adapun stamtementnya adalah;24

"Hari ini yang menyelesaikan (konflik KMP Vs KIH), empek-empek di rumah Pak Hatta. Saya baru tahu pempek-empek di sini yang paling enak. Hari ini kita bersama-sama sudah menyepakati 5 butir yang akan kita paraf dan sosialisasikan masing-masing fraksi di DPR agar tidak ada lagi suara yang berbeda. Senin juga Pak Hatta akan hadir di DPR

23 Ketika Shalat dan Santapan Ikan Patin Persatukan KIH dan KMP dalam http://nasional.kompas.com/read/2014/11/12/16382801/Ketika.Shalat.dan. Santapan.Ikan.Patin.Persatukan.KIH.dan.KMP diakses 20 Desember 2014 pukul 16.20

24 Dengan Pempek, KH dan KMP Sepakat slah dalam

(18)

Sumber : Merdeka.com

Dari statement-statment dari Pramono Anung tersebut, terdapat hal unik yang dapat dikutip dengan mudah oleh media, atau istilahnya adalah sound bite. Sound bite adalah klip atau pemenggalan potongan pernyataan yang penting. Menurut Lilleker (2005),sound bite merupakan satu garis kalimat yang diambil dari pidato atau pernyataan yang panjang atau dari seperangkat teks yang dapat digunakan sebagai indikasi dari pesan yang lebih besar. Dari Sound bite yang dilontarkan pramono anung maka muncullah beragam berita dengan judul yang mengutip penyataan Pramono di pertemuan pertama. Antara lain;

tribunnews.com Ikan Patin Hatta Penentu Kesepakatan KMP-KIH

merdeka.com Pertemuan di rumah Hatta diplomasi ikan patin

viva.co.id Diplomasi Ikan Patin Selesaikan Gesekan KIH - KMP

kompas.com Ketika Shalat dan Santapan Ikan Patin Persatukan KIH dan KMP

Untuk pertemuan yang kedua, mengenai pempek hatta rajasa, antara lain;

detik.com Pempek Hatta Rajasa Selesaikan Konflik KIH-KMP di DPR

merdeka.com KIH dan KMP damai berkat pempek di rumah Hatta Rajasa

liputan6.com Dengan Pempek, KIH dan KMP Sepakat Islah

okezone.com Ketegangan KMP-KIH Mencair dalam Kuah Pempek Hatta Rajasa

(19)

Dalam kondisi yang terjadi di dualisme DPR ini, sebenarnya posisi Koalisi Merah Putih adalah menempati posisi menang. Namun, dalam mempertahankan kepentingannya, ada beberapa hal yang harus diusahakan untuk dijaga dan diselamatkan. Salah satunya adalah mempertahankan beberapa posisi yang telah didapatkan seperti pimpinan DPR, pimpinan MPR, Pimpinan komisi-komisi, Pimpinan Badan, dan Majelis Kehormatan Dewan.

Selain kepentingan tersebut, yang tidak kalah penting adalah kebutuhan akan hilangnya mosi tidak percaya terhadap DPR, sehingga DPR dapat menjalankan fungsinya sesegera mungkin dengan baik.

Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, pastinya Koalisi Merah Putih (KMP) akan menampung kebutuhan-kebutuhan dari Koalisi Indonesia Hebat. Namun kembali lagi, mereka juga akan mempertahankan apa-apa yang telah diusahakan.

Negosiator yang berasal dari Koalisi Merah Putih adalah Ketua Umum PAN Hatta Rajasa dan Koordinator Pelaksana KMP Idrus Marham. Banyak pandangan baik yang muncul terhadap Hatta Rajasa sebagai negosiator dalam menyelesaikan dualisme ini. Hatta Rajasa dianggap sebagai kunci sukses terwujudnya islah antar kedua koalisi. Adapun Seperti yang dijelaskan oleh Pramono bahwa ada 3 jurus, yang menjadikan Hatta Sukses menjadi penengah konflik dualisme DPR yakni diplomasi Ikan Patin, Diplomasi Sholat Berjamaah dan terakhir diplomasi empek-empek.

Selain itu, untuk menghilangkan mosi tidak percaya terhadap DPR, komunikasi politik yang dilakukan oleh Koalisi Merah Putih menurut penuturan Idrus Marham adalah komunikasi polititik produktif, sesuai penuturannya;25

“Di dalam pertemuan-pertemuan yang kita lakukan terutama dengan Pramono Anung didampingi perwakilan masing-masing, kita sepakat komunikasi politik yang dibangun adalah komunikasi politik yang produktif. Kami sepakat untuk dorong kerja politik di DPR ini maksimal,”

Karena itu menurut Idrus Marham, filosofi bersama yang ingin di bangun adalah maju dalam keharmonisan bukan maju dalam konflik. Koalisi Merah Putih (KMP) Mengembangkan bersama, kerja-kerja politik dan komunikasi politik yang produktif prinsip maju dalam keharmonisan, karena kesepakatan itu akan ditindak lanjuti pimpinan DPR bersama fraksi-fraksi di DPR terkait bagaimana implementasinya ke bawah.

25 KMP-KIH Sepakat Islah dalam

(20)

Dalam menjawab tuntutan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) mengenai proporsionalitas, Idrus Marham menyatakan bahwa tidak ada kocok ulang pimpinan AKD dan pembentukan pimpinan dewan. ini merupakan komitmen bersama setelah terbentuknya UU MD3 dan tatib yang baru. Dia menegaskan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) akan mendapatkan lebih dari 16 kursi AKD tanpa dilakukan penambahan.

C. Kesepakatan KIH dan KMP

Dari beragam negosiasi yang telah dilakukan, maka sampailah kepada tahap penutupan transaksi atau kesepakatan yang telah dicapai. Adapun beberapa kesepakatan yang telah disetujui oleh kedua bilah pihak adalah sebai berikut;

1) Bersepakat dan setuju untuk segera mengisi penuh anggota fraksi pada 11 komisi, 4 badan dan 1 majelis kehormatan dewan, sehingga secara kelembagaan dewan dapat bekerja sesuai fungsi-fungsinya secara optimal

Adapun nama-nama yang diajukan oleh Koalisi Indonesia Hebat untuk mengisi posisi tersebut adalah;26

No .

Jabatan Nama

1 Kapoksi Komisi I Tubagus Hasanuddin 2 Kapoksi Komisi II Komarudin Watubun 3 Kapoksi Komisi III Herman Herry 4 Kapoksi Komisi IV Sudin

5 Kapoksi Komisi V Yoseph Umar Hadi 6 Kapoksi Komisi VI Aria Bima

7 Kapoksi Komisi VII Daryatmo Mardiyanto 8 Kapoksi Komisi VIII Hamka Haq

9 Kapoksi Komisi IX Abidin Fikri 10 Kapoksi Komisi X Asdy Naran

11 Kapoksi Komisi XI I Gusti Agung Rai Wirajaya 12 Poksi Banggar Ismayatun

13 Poksi BKSAP Evita Nursanti 14 Poksi Baleg Irmandi Lubis

15 Poksi MKD Trimedya Pandjaitan M Prakosa

Yoseph Umar Hadi

(21)

2) Bersepakat dan setuju dalam rangka mengantisipasi beban kerja dan dinamika ke depan serta menyesuaikan dalam penambahan dan perubahan nomenklatur kabinet Jokowi-JK (2014-2019) maka perlu untuk melakukan penambahan jumlah pimpinan, 1 wakil ketua pada 16 AKD, melalui perubahan pasal yang terkait dengan komposisi pimpinan komisi, pimpinan badan dan majelis kehormatan dewan pada Undang-undang nomor 17 tahun 2014, dan perubahan peraturan DPR Nomor 1 tahun 2014 tentang tata tertib.

3) Bersepakat untuk segera mengisi AKD yang masih tersedia (Banggar dan BURT) dan penambahan 3 wakil ketua pada 3 AKD yang ditentukan secara musyawarah dan mufakat dan menambahkan 1 wakil ketua badan dan MKD, sebagai konsekwensi dari perubahan tentang UU MD3 tanpa mengubah komposisi pimpinan yang sudah ada sebelumnya.

4) Bersepakat dan setuju melakukan perubahan terhadap ketentuan pasal 74 ayat 3, 4, 5 dan 6. Serta pasal 98 ayat 7, 8 dan 9 UU nomor 17 tahun 2014, serta ketentuan pasal 60 ayat 2, 3 dan 4 peraturan DPR nomor 1 tahun 2004 tentang tata tertib untuk dihapus. Karena pasal-pasal tersebut secara substansial sudah diatur dalam pasal 79, 194, sampai pasal 227 UU MD3

5) Bersepakat dan setuju bahwa hal-hal teknis terkait dengan pelaksanaan kesepakatan ini dituangkan dalam kesepakatan pimpinan fraksi Koalisi Merah Putih, pimpinan fraksi Koalisi Indonesia Hebat, yang diketahui pimpinan DPR RI.27

Untuk mendapatkan legitimasi terhadap kesepakatan ini, maka yang dilakukan oleh para negosiator kedua belah pihak adalah melakukan penandatanganan kepada DPR. Hal ini pun, telah dilakukan pada Senin, 17 November 2014 Sejak pukul 12.00 WIB,satu per satu perwakilan dari Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat tiba gedung DPR, Senayan, Jakarta. Mereka langsung menuju ruang pimpinan DPR di lantai 3 gedung Nusantara II.Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham dan Ketum DPP PAN Hatta Rajasa datang terlebih dahulu. Namun keduanya enggan berkomentar. Sekitar 15 menit kemudian, datang Pramono Anung dan Ketua Fraksi Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono yang langsung bergabung dengan mereka. Sekitar pukul 13.05 WIB, datang Ketua DPR Setya Novanto bersama para wakilnya, Taufik Kurniawan, Agus Hermanto dan Fadli Zon. Setelah sempat duduk sebentar di ruang tempat berlangsungan penandatangan, para pimpinan dan perwakilan koalisi diarahkan untuk makan siang terlebih dahulu.

27 Inilah Salinan Lengkap Lima Kesepakatan Damai KMP-KIH dalam

(22)
(23)

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Cara negosiasi yang dilakukan oleh pihak Koalisi Merah Putih (KMP) Adapun Seperti yang dijelaskan bahwa ada 3 jurus jitu, yakni diplomasi Ikan Patin, Diplomasi Sholat Berjamaah dan terakhir diplomasi empek-empek. Dari hal ini kemudian Negosiator Koalisi Indonesia hebat, menjadikannya sebagai statement di media, sehingga 3 jurus tersebut dapat menjadi konsumsi media dengan soundbite yang menarik. Hal lain, yakni komunikasi yang efektif baik dari pemilihan komunikator (negosiator). Untuk pemilihan komunikator ada beberapa hal yang harus diperhatikan. antara lain; kredibilitas, background of knowledge, background of experience, power, dsb. dengan menimbang beberapa hal tersebut, akhirnya koalisi Merah putih menunjuk Ketua umum PAN Hatta Rajasa dan Idus Marham, Sedangkan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) menunjuk Pramono anung dan Olly Dondokambey ataupun cara pengolahan pesan, seperti pengangkatan soundbite oleh Pramono Anung diatas. Dari hal-hal tersebut, akhirnya tercapailah suatu kesepakatan antara lain; (1) Bersepakat dan setuju untuk segera mengisi penuh anggota fraksi pada 11 komisi, 4 badan dan 1 majelis kehormatan dewan, (2) Penambahan jumlah pimpinan, 1 wakil ketua pada 16 AKD, (3) Mengisi AKD yang masih tersedia (Banggar dan BURT) dan penambahan 3 wakil ketua pada 3 AKD yang ditentukan secara musyawarah dan mufakat dan menambahkan 1 wakil ketua badan dan MKD, (4) Bersepakat dan setuju melakukan perubahan terhadap ketentuan pasal 74 ayat 3, 4, 5 dan 6. Serta pasal 98 ayat 7, 8 dan 9 UU nomor 17 tahun 2014, serta ketentuan pasal 60 ayat 2, 3 dan 4 peraturan DPR nomor 1 tahun 2004 tentang tata tertib untuk dihapus. Karena pasal-pasal tersebut secara substansial sudah diatur dalam pasal 79, 194, sampai pasal 227 UU MD3 dan (5) Bersepakat dan setuju bahwa hal-hal teknis terkait dengan pelaksanaan kesepakatan ini dituangkan dalam kesepakatan pimpinan fraksi Koalisi Merah Putih, pimpinan fraksi Koalisi Indonesia Hebat, yang diketahui pimpinan DPR RI.

B. Saran

(24)

Bagi Peneliti selanjutnya, Supaya ditemukan sumber data yang lebih falid, hendaknya dapat mencoba menghubungi pihak terkait dengan penggalian data melalui wawancara.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, novel. Peradaban komunikasi politik, (bandung: remaja rosdakarya 1999) Clinton F. Fingk. Some Consepyua Difficulities in the theory of Social Conflict, Jurnal of Conflict Resolution, 1968

Devito, Joseph, A. Human Communication. (New York: Harper Collinc. Colege Publisher.1997)

Harry A. Mills. Negosiasi Seni untuk Menang, (Jakarta; Binarupa Aksara. 1993)

Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan ( Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1994)

Mangkunegara, Anwar Prabu. Manajemen Sumber Daya Manusia

(Bandung; Perusahaan, Remaja Rosdakarya. 2001)

Meyer, Thomas. KOMPROMI (Indonesia, Friedrich-Ebert-Stifung (FES, 2012) Nimmo, dan. komunikasi politik, khalayak dan efek, (bandung: remaja karya (cv 1989)

Rivai, Veithzal dan Deddy Mulyadi. Kepemimpinan dan Organisasi. ( Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2010)

Ross, George H. Trump-Style Negotiation, (Amerika; John Wiley & Sony, INC. 2006)

Internet

http://berkas.dpr.go.id/pengkajian/files/info_singkat/Info%20Singkat-VI-22-II-P3DI-November-2014-41.pdf

http://www.dpr.go.id/id/anggota/per-fraksi

(25)

http://www.tempo.co/read/news/2014/10/08/078612697/Zulkifli-Hasan-Ketua-MPR-Periode-2014-2019

http://politik.news.viva.co.id/news/read/552856-susunan-pimpinan-komisi-dpr-periode-2014-2019

http://korankota.co.id/index.php/web/berita/NASIONAL POLKAM/9308/puan-dinilai-gagal-bangun-komunikasi-politik

http://www.tribunnews.com/nasional/2014/10/12/idil-akbar-saatnya-jokowi-memimpin-lobi-bendera-koalisi-indonesia-hebat

http://news.detik.com/read/2014/10/15/180812/2719822/10/tjahjo-dan-pramono-anung-dianggap-negosiator-terbaik-untuk-lobi-ke-kmp

http://nasional.kompas.com/read/2014/11/12/16382801/Ketika.Shalat.dan.Sa ntapan.Ikan.Patin.Persatukan.KIH.dan.KMP

http://news.liputan6.com/read/2134535/pramono-anung-dengan-pempek-kih-dan-kmp-sepakat-islah

http://news.metrotvnews.com/read/2014/11/10/316628/kmp-kih-sepakat-islah

http://politik.news.viva.co.id/print_detail/printing/560054-nama-pimpinan-dpr-dan-alat-kelengkapan-dewan-dari-pdip

Gambar

Tabel 1 : Daftar Pimpinan 11 Komisi DPR5

Referensi

Dokumen terkait

terdahulu tentang Hukum Kepelabuhanan, sangat sulit penulis dapatkan, bahkan bisa dikatakan tidak ada sumber yang benar-benar secara utuh mengkaji tentang Hukum Kepelabuhanan, buku

Selanjutnya akan diurai makna motif yang terdapat pada motif kerawang Gayo pada upacara kerje mungerje (perkawinan) yaitu motif mun berangkat (awan berarak), puter tali

1) UNEP ( United Nations Environment Programme ) adalah organisasi internasional yang memiliki sifat peranan dengan fungsi sebagai fasilitator, mediator, komunikator

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa fokus pada bagian judul yaitu “Yummy vanilla sugar homemade body scrub recipe”.. Maka, teks itu adalah tata cara pembuatan “scrub”

“Kajian Kawasan: Pendekatan Strategis dalam Penelitian Arkeologi di Indonesia Dewasa Ini.” Makalah disampaikan dalam Seminar Manusia dalam Ruang: Studi Kawasan dalam Arkeologi, yang

mengkaji perubahan sosial ekonomi petani jeruk di desa

Profil Dermatitis Atopik Anak Usia 0-14 Tahun di Klinik Gotong Royong Surabaya Periode Juni-Agustus 2015. Nama: Maria Veronica