• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOLONIALISME DAN NASIONALISME DI ASIA TE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOLONIALISME DAN NASIONALISME DI ASIA TE"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

KOLONIALISME DAN NASIONALISME DI ASIA

TENGGARA

STUDI KASUS : TIMOR LESTE

Dosen Pengampu:

Aswin Ariyanto Azis, S,IP., MdevSt.

Anggota Kelompok :

Rizka Azhari Chairani (155120400111024) Gabriel Caesar R. (155120407111045)

Yasna Ashsyifa (155120407111061) Tania Harjono (155120401111043)

Mabrurona Aizzana (155120401111001) Asoka Iqbal (155120407111007)

Ilmu Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Kolonialisme dan Nasionalisme di Asia Tenggara, Studi Kasus : Timor Leste” ini dengan baik dan tepat waktu demi memenuhi tugas mata kuliah Studi Kawasan Asia Tenggara. Dalam penyelesaian tugas makalah ini, tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang dihadapi penulis, namun dengan perjuangan itu lah penulis dapat mempelajari lebih banyak dari yang sudah diketahui sebelumnya, disitu lah terjadinya proses dari pembelajaran, sehingga pada akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.

Ucapan terimakasih juga kami persembahkan kepada Bapak Aswin Ariyanto Azis, S,IP, MDevSt. selaku dosen pengampu mata kuliah Studi Kawasan Asia Tenggara yang senantiasa membimbing kami dan juga untuk rekan-rekan seperjuangan kami yang telah memberikan masukan dan saran yang membangun untuk penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun bagi orang lain untuk membuka wawasannya tentang kolonialisme dan nasionalisme di Asia Tenggara baik dari segi definisi, sejarah, keadaan saat ini, dan juga isu-isu yang terkait. Masih banyak kekurangan pada makalah ini, maka dari itu kritik dan saran dari pembaca maupun dosen sangat kami harapkan.

Malang, 04 Maret 2017

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI...3

BAB I...4

PENDAHULUAN...4

1.1. Latar Belakang...4

1.2. Rumusan Masalah...5

1.3. Tujuan...6

BAB II...7

ISI...7

2.1. Kolonialisme...7

2.1.1. Definisi Kolonialisme...7

2.1.2. Faktor dan Dampak Kolonialisme...9

2.1.3. Perkembangan Kolonialisme di Asia Tenggara...10

2.2. Nasionalisme...11

2.2.1. Definisi Nasionalisme...11

2.2.2. Faktor dan Jenis Nasionalisme...12

2.2.3. Perkembangan Nasionalisme di Asia Tenggara...15

2.3. Studi Kasus : Kolonialisme dan Nasionalisme di Timor Leste...17

2.3.1. Sejarah Kolonialisme Bangsa Portugis di Timor Leste...17

2.3.2. Masa Pendudukan Indonesia di Timor Leste...18

2.3.3. Keadaan Timor Leste Saat Ini...20

BAB III...22

PENUTUP...22

3.1. Kesimpulan...22

3.2. Saran...23

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hampir semua negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki sejarah kolonial

atau penjajahan, kecuali Thailand. Pada masa sebelum terjadi kolonialisme, kawasan Asia

Tenggara merupakan kawasan yang tidak terlalu dikenal dan tidak dianggap penting oleh

dunia internasional. Sejarah dunia pada masa tersebut hanya berpusat di daerah barat saja.

Sangat sedikit orang yang ingin mendatangi dan mempelajari kawasan Asia Tenggara.

Asia Tenggara mulai dilirik ketika negara-negara barat yang sudah melewati revolusi

industri dan juga sudah jauh lebih maju secara teknologi membutuhkan bahan mentah dan

komoditas tertentu, sejak itu Asia Tenggara mulai didatangi oleh kaum barat atau Eropa yang

berniat mengeksploitasi sumber daya alam di Asia Tenggara.1 [ CITATION Lim \l 1057 ]

Masa kolonialisme bertahan cukup lama di Asia Tenggara, sehingga bahkan pada beberapa

negara, budaya dari negara koloni pun juga bertahan dan menjadi budaya lokal, misalnya di

Singapura, Filipina, dan Timor Leste.

Kemudian, setelah perang dunia ke-2 berakhir, dan juga berkembangnya

konsep-konsep tentang self-determination, mulai lah muncul nasionalisme di Asia Tenggara.

Negara-negara di Asia Tenggara mulai memikirkan masa depan dan melakukan perjuangan melawan

negara koloninya demi mendapatkan kemerdekaan mereka masing-masing, yang kemudian

satu persatu negara di Asia Tenggara memperoleh kemerdekaan baik melalui perjuangan

tumpah darah maupun dengan jalan diplomasi yaitu kemerdekaan diberikan oleh negara

koloninya.2

1 Professor Lim Chong Yah, Southeast Asia: The Long Road Ahead, Singapore: World Scientific Publishing Co., 2001) hal 7-9

(5)

Timor Leste merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang juga pernah

mengalami sejarah kolonisasi yang cukup lama oleh bangsa Portugis, sehingga beberapa

budaya portugis juga melekat di masyarakat Timor Leste, seperti budaya pemberian nama

dan juga bahasa. Timor Leste memiliki sejarah yang cukup unik yaitu wilayahnya pernah

diduduki oleh bangsa barat dan juga sesama Asia Tenggara yaitu Indonesia.

Dalam makalah ini, penulis ingin menjelaskan bagaimana proses terjadinya

kolonialisme yang terjadi di Asia tenggara, apa saja penyebabnya, dan juga apa dampaknya

bagi berbagai aspek kehidupan di negara-negara di Asia Tenggara, bagaimana sejarah

kolonialisme mempengaruhi negara-negara tersebut dalam berperilaku. Selain itu, penulis

juga ingin menjelaskan tentang perkembangan nasionalisme di Asia Tenggara. Khususnya

juga pada Timor Leste, penulis ingin menjelaskan tentang kolonialisme dan juga

nasionalisme yang terjadi di Timor Leste. Maka dari itu penulis memilih “Kolonialisme dan

Nasionalisme di Asia Tenggara, Studi Kasus: Timor Leste” sebagai judul dari makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah

- Apa itu kolonialisme dan apa saja yang menjadi faktor serta dampak dari kolonialisme

khususnya di Asia Tenggara?

- Apa itu nasionalisme dan bagaimana kemunculan serta dampak dari adanya

nasionalisme khususnya di Asia Tenggara?

- Bagaimana kisah sejarah kolonialisme dan nasionalisme yang terjadi di Timor Leste

dan bagaimana keadaan Timor Leste di saat ini?

1.3. Tujuan

Untuk mengetahui bagaimana sejarah kolonialisme di Asia Tenggara beserta faktor dan

dampaknya, terutama di daerah Timor Leste. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana

munculnya nasionalisme di Asia Tenggara beserta faktor dan dampaknya, terutama di daerah

(6)

BAB II

ISI

2.1. Kolonialisme

2.1.1. Definisi Kolonialisme

Kolonialisme adalah bentuk dari dominasi yang dikendalikan oleh individu

atau kelompok atas wilayah tersebut atau perilaku dari orang lain atau kelompok

lain. 3[ CITATION Ron72 \l 1057 ] Konsep dominasi tersebut mirip dengan konsep power. 4 Dimana individu atau kelompok yang memiliki kekuatan yang lebih besar

baik dalam hal ekonomi, militer, teknologi maupun sumber daya dapat menguasai

individu atau kelompok yang kekuatannya lebih kecil. Konsep power sendiri mirip

seperti hukum alam dimana individu atau kelompok yang lebih kuat "memangsa"

individu atau kelompok yang lebih lemah. Secara historis, kolonialisme merupakan

praktek dominasi untuk memperluas kontrol terhadap kelompok yang lemah,

termasuk mengeksploitasi ekonomi dari sumber daya alam, penciptaan pasar baru

bagi bangsa yang menjajah, dan perluasan geografis tehadap pemikiran bangsa

penjajah, bahasa dan cara hidup. 5 [ CITATION Ano17 \l 1057 ]

Kolonialisme tidak hanya memperluas kekuasaan dengan cara mengambil

wilayah mereka, namun juga menjadikan bangsa tersebut menganut sistem serta

budaya yang dianut penjajah seperti bahasa, nilai, norma, hukum, dan lain-lain.

Contohnya seperti pada tahun 1870 ketika Belanda menjajah Indonesia. Pada tahun

tersebut dilkasanakan "politik pintu terbuka", dimana kegiatan ekonomi di Indonesia

3 Ronald J. Horvarh. 1972. A Definition of Colonialism vol.13, no. 1. The University of Chicago Press . Diakses pada tanggal 4 Maret 2017 melalui https://www.jstor.org/stable/2741072?seq=2#page_scan_tab_contents. Hlm 46.

4 Op.cit.,

(7)

ditangani oleh pihak swasta untuk menghapuskan sistem tanam paksa yang dilakukan

oleh pemerintah Belanda. Pelaksanaan sistem ini ditandai dengan keluarnya

Undang-undang Agraria dan Undang-Undang-undang Gula. Sebelum Belanda menjajah Indonesia,

Indonesia tidak memilliki sistem politik pintu terbuka karena sebelumnya Indonesia

berupa kerajaan-kerajaan yang sistemnya tidak membuka investor asing dalam

melaksanakan ekonominya. 6

Ada beberapa jenis dari kolonialisme, antara lain:

1. Kolonialisme Eksploitasi: Bentuk kolonialisme yang melakukan eksploitasi

terhadap sumber daya alam negara yang dijajah. Contoh: Penjajahan Belanda

terhadap Indonesia. Indonesia dipaksa untuk menanam tanaman yang laku dipasaran

Eropa seperti rempah-rempah tanpa dibayar dan seluruh lahan pertaniannya diambil

secara paksa oleh pihak Belanda.7

2. Kolonialisme Deportasi: Bentuk kolonialisme yang menguasai daerah lain dengan

tujuan untuk membuang para narapidana.8 Contoh: Inggris menguasai Australia. Pada

tahun 1770, kapten James Cook mengklaim bahwa wilayah di pantai timur adalah

milik Inggris dan pada tanggal 26 Januari 1788, armada pertama yaitu 11 kapal

membawa 1.500 orang (setengahnya merupakan narapidana) tiba di Pelabuhan

Sydney. Sampai pengangkutan terhukum ini berakhir di tahun 1868, 160.000 pria dan

wanita telah datang ke Australia sebagai narapidana.9

6 Anonymus. Hindia Belanda, Politik Pintu Terbuka (Open Door Policy). Diakses pada tanggal 4 Maret 2017 melalui [ CITATION Ano171 \l 1057 ]/.

7Op.Cit., 8 Op.cit.,

(8)

3. Kolonialisme Penduduk: Bentuk kolonialisme yang menyebabkan tersingkirnya

penduduk asli. Contoh: Inggris menguasai Australia yang menyebabkan suku aborigin

tersingkir.

4. Kolonialisme Kelebihan Penduduk : Bentuk kolonialisme di mana penguasaan

suatu daerah ditujukan untuk menampung kepadatan penduduk. Contoh: Italia,

Jepang.

5. Kolonialisme Sekunder : Bentuk kolonialisme di mana daerah yang dikuasai akan

dijadikan untuk kepentingan militer atau strategi perang, misalnya untuk pangkalan

militer.

2.1.2. Faktor dan Dampak Kolonialisme

Menurut Andre Gunder Kolonialisasi yaitu “pemindahan sumber daya alam

dari daerah yang dikolonialisasi menuju ke negara yang mengkolonialisasi atau

pengkoloni”10[ CITATION Hoe71 \l 1057 ] jika melihat dari pengertian ini ada

beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kolonialisasi seperti berkembangnya

paham “Merkantilisme”11 [ CITATION Ski75 \l 1057 ] di Eropa yang tujuan

utamanya yaitu mencari kejayaan dan kekayaan memicu munculnya semangat “Gold,Glory,Gospel”12[ CITATION Rus04 \l 1057 ] selain itu berkembangnya

teknologi seperti kompas,navigasi,kartografi yang mendukung untuk melakukan

penjelajahan untuk mendapatkan sumber daya selain itu ada juga pemikiran “Galileo

Galilei yang mengatakan bumi itu bulat”13[ CITATION Gal53 \l 1057 ] membuat

semangat untuk mencari sumber daya semakin tinggi dan karena akses Eropa ke Asia

10 Hoetink, H. "Vrije notitie; Akademisch kolonialisme en zo." Sociologische Gids 18.4 (1971): 371-375. 11 Skinner, Andrew S., and Thomas Wilson, eds. Essays on Adam Smith. Oxford: Clarendon Press, 1975:83. 12 Russell, Letty M. "God, Gold, Glory and Gender: A Postcolonial View of Mission." International Review of Mission 93.368 (2004): 39-49.

(9)

terputus karena jatuhnya Konstaninopel akhirnya mereka harus mencari rute dan

sumber daya lain.”14[ CITATION Rog11 \l 1057 ]

Kolonialisasi bisa berdampak negatif dan positif, kolonialisasi berdampak

buruk ketika munculnya “penderitaan psikis dan kesengsaraan fisik karena adanya

pengambilan hak penduduk secara paksa,hilangnya harta benda dan jiwa selain itu

juga kolonialisasi melakukan perampasan kekayaan sumber daya alam terutama

sumber daya alam yang berupa rempah-rempah dan mengakibatkan kemerosotan

dalam bidang sosial ekonomi, politik di wilayah kolonialnya.”15[ CITATION Ber04 \l

1057 ]

Dampak positif Kolonialisasi yaitu “membuka pemikiran baru mengenai cara

menanam tumbuhan yang lebih modern, membuat aturan atau sistem yang bisa

menjadi cikal bakal dasar pemerintahan di daerah kolonial, membawa teknologi dan

ilmu baru di berbagai bidang khususnya bidang pendidikan, adanya akulturasi

budaya.”16 [ CITATION Jan14 \l 1057 ]

2.1.3. Perkembangan Kolonialisme di Asia Tenggara

Sebelum kolonialisme terjadi, negara-negara di Asia Tenggara awalnya

merupakan kerajaan-kerajaan. Saat pasar di Eropa mulai mengalami krisis

rempah-rempah, bangsa Portugis dan Spanyol melakukan ekspedisi untuk menemukan tempat

penghasil rempah-rempah. Bangsa Portugis sempat menduduki Maluku di Indonesia,

kemudian disusul oleh Spanyol. Namun bangsa Spanyol dan Portugis sepakat untuk

melakukan perjanjian sehingga Spanyol bergeser ke Filipina dan Sulu.

14 Crowley, Roger. 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim. Pustaka Alvabet, 2011:386. 15 Bernhard, Michael, Christopher Reenock, and Timothy Nordstrom. "The legacy of Western overseas colonialism on democratic survival." International Studies Quarterly 48.1 (2004): 225-250.

(10)

Pada abad ke-16, bangsa Perancis, Inggris dan Belanda mulai melakukan

penjajahan di negara-negara Asia Tenggara. Inggris merupakan pemegang kekuasaan

terbanyak di Asia Tenggara. Negara yang berada di bawah kekuasaan Inggris adalah

Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Burma. Indonesia pun pernah berada di

bawah kekuasaan Inggris, namun kemudian Indonesia dijajah oleh Belanda. Di pihak

lain Prancis menguasai Laos, Vietnam, dan Kamboja, sementara Filipina berada di

bawah kendali Spanyol. Di masa kolonialisme ini negara-negara Asia Tenggara

dieksploitasi baik sumber daya alam maupun tenaga sumber daya manusianya.

Selanjutnya terjadi perubahan negara kolonial di Asia Tenggara. Filipina yang

awalnya berada di bawah kekuasaan Spanyol menjadi negara jajahan Amerika

Serikat. Kemudian Jepang juga ikut andil dalam menguasai sebagian besar

wilayah-wilayah di Asia Tenggara, salah satunya adalah Indonesia. Namun, dengan adanya

peristiwa pengeboman pangkalan militer AS di Pearl Harbour yang dilakukan oleh

Jepang, menjadi titik balik bagi kolonialisme di Asia Tenggara. Momen tersebut

dimanfaatkan oleh kaum nasionalis di Asia Tenggara untuk meruntuhkan

pemerintahan kolonial lama. Kolonialisme mulai berangsur-angsur hilang sejak

Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya di tahun 1945. Ini kemudian disusul oleh

kemerdekaan negara-negara Asia Tenggara lainnya satu persatu. Sementara itu

Thailand, dalam sejarahnya tidak pernah dijajah oleh bangsa asing mana pun. Ada

pendapat yang menyebutkan bahwa Thailand memiliki kemampuan untuk beradaptasi

secara lebih baik dengan negara-negara kolonial tersebut.17

(11)

2.2. Nasionalisme

2.2.1. Definisi Nasionalisme

Nasionalisme merupakan suatu nilai penting yang ada pada negara-negara

Asia Tenggara. Pada dasarnya, tidak ada suatu definisi atau teori yang jelas mengenai

nasionalisme, namun terdapat beberapa pandangan mengenai nasionalisme menurut

beberapa ahli. Menurut Ernst Gellner, nasionalisme didefinisikan sebagai prinsip

bahwa batas-batas budaya harus bertepatan dengan batas-batas negara.18[CITATION

Gel01 \l 1057 ] Nasionalisme, sebagai ideologi dan gerakan sosial telah menjadi salah

satu proses formatif di dunia modern.19 [ CITATION Hal97 \l 1057 ]

Konsep nasionalisme muncul sebagai definisi dari kepatuhan sebagai loyalitas

masyarakat kepada negara yang muncul pada abad pertengahan dan era modern

awal.20 Nasionalisme sendiri tidak dapat terlepas dari konsep negara (state), bangsa

(nation), dan negara-bangsa (state-nation). Pada mulanya, konsep nasionalisme ini

berawal dari konsep nation atau bangsa. Benedict Anderson melihat bangsa sebagai

‘komunitas imajiner’.21 Bangsa dapat didefinisikan sebagai sebuah komunitas dimana

akan memanifestasikan dirinya ke dalam sebuah negara maka cenderung untuk

menghasilkan sebuah negara sendiri.22Weber mendefinisikan negara sebagai sebuah

organisasi teritorial yang menjalankan kontrol legitimasi atas batas teritorialnya, tak

tertandingi oleh kompetisi kekuatan internal maupun intervensi dari luar.23

18Ernst Gellner dalam Miscevic, Nenad. (2001). Nationalism and Beyond, Budapest: CEU Press, Part One, Hal 18.

19Halliday, J. (1997) “Nationalism” dalam The Globalization of World Politics, 2ndedition. Ed. John Baylis dan

Steve Smith. Oxford: Oxford University Press, hal. 441-2.

20Knutsen, Torbjor[ CITATION Tor97 \l 1057 ]n L. (1997) A History of International Relations Theory, Manchester: Manchester University Press. Part.3, Chapter 7, hal 180.

21Anderson dalam Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Relations Theory, Manchester: Manchester University Press. Part.3, Chapter 7, hal 180.

22Cederman, Lars-Erick (2002) “Nationalism and Ethnicity” dalam Handbook of International Relations. Ed. Walter Carlsnaes, Thomas Risse, dan Beth Simmons. London: SAGE, hal. 410.

(12)

2.2.2. Faktor dan Jenis Nasionalisme

Ada beberapa faktor dari munculnya nasionalisme, antara lain adanya rasa

persamaan sejarah serta keinginan untuk melepaskan diri dari belenggu kolonial,

dengan tujuan agar manusia mendapatkan hak-haknya secara wajar sebagai warga

negara.24 Dengan kesadaran bahwa pernah mengalami sejarah yang sama, yaitu

pernah dijajah oleh negara Barat (kecuali Thailand) maka negara-negara di Asia

Tenggara merasa perlu untuk menanmkan rasa persatuan dan kesatuan

masyarakatnya. Lalu lahirnya ide dari para cendekiawan dari masing-masing negara

di Asia Tenggara yang menempuh pendidikan di negara-negara Barat, yang kemudian

melahirkan gerakan anti-kolonialisme. Radical social dan Komunisme juga

merupakan salah satu faktor yang mendorong lahirnya nasionalisme, karena jika

dilihat dari sejarah bahwa nasionalisme muncul sebagai respon terhadap sistem

pemerintahan yang buruk pada masa kolonial, di mana terjadi perlakuan

semena-mena dan sikap eksploitatif negara-negara koloni, hal itu menyebabkan munculnya

nasionalis untuk memperjuangkan kemerdekaan.25

Menurut (Hertz 1944) dalam bukunya yang berjudul “Nationality in History and Politics”, terdapat 4 unsur nasionalisme yaitu:

1. Keinginan untuk mencapai kesatuan: kesatuan di sini memiliki arti bahwa dalam

satu negara dengan beragam suku, ras, etnis, bahasa, budaya, bahkan agama, saling

menghormati perbedaan-perbedaan yang ada, bukan menjadikan perbedaan itu

sebagai alat untuk menentukan siapa yang paling baik sehingga merasa paling benar

di antara yang lain. Namun, menjadikan perbedaan itu sebagai alat untuk saling

24 Tarling, Nicholas. 1999. “The Cambridge History of Southeast Asia”, Vol.3, from c.1800 to the 1930, Cambridge: Cambridge University Press

(13)

memahami bahwa meskipun berbeda namun tetap satu bangsa yang tinggal di dalam

negara yang sama.

2. Keinginan untuk mencapai kemerdekaan, yaitu karena persamaan nasib sebagai

bangsa jajahan dan penderitaan yang telah dialami pada masa kolonial, memicu

timbulnya rasa ingin merdeka, dalam artian bebas untuk menentukan pilihan hidupnya

tanpa tekanan dari pihak lain

3. Keinginan untuk mencapai keaslian: maksud dari keaslian yaitu, bangsa yang

mendiami suatu negara merupakan bangsa asli dari negara itu sendiri, bukan dari

negara lain terlebih negara-negara koloni.

4. Keinginan untuk mencapai kehormatan bangsa: pada masa kolonial, negara-negara

di Asia Tenggara dianggap rendah oleh negara-negara koloni karena merekalah yang

menguasai negara-negara jajahannya, “bangsa kulit putih di atas segalanya”,

sehingga timbul keinginan bangsa dari negara jajahan untuk menghapus pandangan

tersebut demi mempertahankan kehormatan bangsa.

Jenis-jenis nasionalisme menurut Anthony Reid:

1. Ethnie nationalism, yaitu rasa nasionalisme yang ada pada sebuah kelompok karena

adanya kesamaan, diantaranya adalah kesamaan sejarah, budaya, tradisi, bahasa,

bahkan agama.26 Dengan adanya kesamaan-kesamaan tersebut maka mendorong

muculnya rasa persatuan dan kesatuan

2. state nationalism, merupakan jenis nasionalisme yang ditujukan kepada negara,

dimana rakyat dari negara itu rela mati dalam aksi membela serta mempertahankan

identitas negara.27

26 Reid, Anthony. 2010. Imperial Alchemy: Nationalism and Political Identity in Southeast Asia . New York: Cambridge University Press

(14)

3. Anti-Imperial nationalism, adalah bentuk nasionalisme yang lahir karena

disebabkan oleh rasa benci terhadap imperialisme dan adanya keinginan untuk bebas

dalam menentukan hidup.28

Sedangkan menurut Hallday, bentuk-bentuk nasionalisme yaitu:

1.Civic nationalism, diartikan sebagai rasa nasionalisme yang mengatasnamakan

bangsa dan negara29. Jadi dalam hal ini, Civic nationalism berlandaskan terhadap

suatu bangsa dan negara di mana rasa persatuan tidak hanya terfokus pada satu ras

atau etnis tertentu namun kepada seluruh masyaraka/bangsa yang tinggal di satu

negara yang sama

2. Ethnic nationalism, yaitu rasa nasionalisme kesukuan30. Artinya adalah memiliki

rasa bangga terhadap suku sendiri dan sangat menjunjung tinggi nilai persatuan dan

kesatuan demi tercapainya kehidupan yang damai dalam suku itu sendiri, jadi ruang

lingkupnya lebih sempit daripada Civic nationalism karena hanya berdasarkan pada

kesukuan

2.2.3. Perkembangan Nasionalisme di Asia Tenggara

Konsep nasionalisme kemudian muncul di negara-negara Asia Tenggara

sebagai upaya untuk mengakhiri kolonialisme dan imperialisme. Gerakan nasionalis

Filipina dapat dikatakan sebagai revolusi nasionalis pertama di Asia Tenggara yang

berupa Gerakan Propaganda Rakyat Filipina dengan tujuan untuk mengusir Spanyol.

Amerika Serikat memiliki banyak andil dalam proses pergerakan nasionalis Filipina,

juga adanya pemimpin Filipina pada masa itu, yakni Ferdinand Marcos yang condong

ke Amerika Serikat.31 Myanmar kemudian mulai melakukan gerakan revolusi untuk

28 Ibid 29 Op.Cit., 30 Ibid

(15)

terlepas dari Inggris, yakni dengan keluar dari negara persemakmuran Inggris.32

Nasionalisme di Malaysia dan Singapura muncul untuk mengusir Jepang dan pada

akhirnya Inggris memberikan kemerdekaan sebagai negara persemakmuran. Namun,

pada perjalanannya Singapura dikeluarkan dari federasi Malaysia di tahun 1965 untuk

meraih kemerdekaannya sendiri.33

Di Indonesia, nasionalisme sebenarnya telah muncul dengan adanya organisasi

Budi Utomo dan Sumpah Pemuda. Berbagai perlawanan yang dilakukan Indonesia

berujung pada kemerdekaan di tahun 1945 saat Jepang menyerah tanpa syarat di

Perang Dunia II, dengan pengakuan Belanda di tahun 1949. Begitu juga dengan yang

terjadi di Vietnam, Laos, Kamboja, dan Brunai. Meskipun Thailand menjadi negara

yang tidak merasakan masa kolonialisme, namun nasionalisme berhasil menyatukan

nilai-nilai yang berbeda di Thailand.34

Perkembangan nasionalisme dan kenyataan bahwa pengaruh Perang Dingin

membawa dampak buruk bagi negara-negara Asia Tenggara kemudian menjadi

pemicu dari pembentukan ASEAN. ASEAN merupakan wadah negara-negara Asia

Tenggara dalam memperkuat kerjasama di bidang ekonomi, administrasi,

pengetahuan, perdamaian, budaya, dan politik. Indonesia, Malaysia, Filipina,

Singapura, dan Thailand mendirikan ASEAN pada tanggal 8 Agustus 1967, bertujuan

untuk mempromosikan kerjasama regional yang berkontribusi dalam perdamaian,

kesejahteraan yang bebas dari campur tangan pihak asing.35 Dapat dikatakan bahwa

ASEAN terbentuk atas kehendak kolektif negara-negara Asia Tenggara untuk

mengikat suatu bentuk kerjasama dami perdamaian, kebebasan, dan kemakmuran.

32Ibid, hal 228. 33Ibid, hal 232. 34Ibid.

(16)

Salah satu aktivitas ASEAN adalah meratifikasi Deklarasi Kuala Lumpur dalam

upaya mengamankan dan menghormati Asia Tenggara sebagai Zone of Peace,

Freedom, and Neutrality (ZOPFAN).36 Selain itu, ASEAN mengupayakan

penyelesaian invasi Vietnam ke Kamboja dalam Perang Indochina III melalui

perjanjian Pemerintah Kamboja Demokratis.37

2.3. Studi Kasus : Kolonialisme dan Nasionalisme di Timor Leste

2.3.1. Sejarah Kolonialisme Bangsa Portugis di Timor Leste

Pada abad ke 15 saat zaman ekspansi besar besaran bangsa Portugislah yang

pertama kali sampai ke Nusantara dan memulai “ekspansi Malaka”38,dengan

semangat yang sama yaitu “Gold,Glorydan Gospel “39 dan dari ekspansi Malaka

inilah pulau pulau serta daerah daerah di timur nusantara di temukan dan di

kolonialisasi oleh Portugis .Selama 15 tahun nuusantara menjadi rute perdagangan

penting bagi Portugis karna selama 15 tahun inilah Portugis mendapatkan banyak

sumber rempah rempah yang saat itu sangat di cari oleh Eropaakan tetapi akibat

Belanda juga datang ke Nusantara terjadilah” persaingan antara Portugis dan Belanda

dan sejak kalahnya Portugis di Ternate maka Portugis mulai mundur ke Timor

Timor”40.

Timor Timor saat itu terkenal dengan “cendana yang saat itu menjadi

komoditas unggulan untuk wewangian di zaman itu”41 oleh karena itu Portugis

memanfaatkan hasil alam Timor Timor untuk menjadi keuntungannya akan tetapi

jarak yang jauh dan semakin terpojoknya Portugis saat itu membuat dia membiarkan

36Ibid.

37Cipto, Bambang. 2007. “Hubungan Internasional Di Asia Tenggara”: Teropong Terhadap Dinamika, Realitas, dan Masa Depan. Yogyakarta: Pustaka Peajar

38 Said, Kamaruddin M. 500 tahun Melayu menghadapi cabaran. Cerdik Publications Sdn Bhd, 2004:27-31. 39 Russell, Letty M. "God, Gold, Glory and Gender: A Postcolonial View of Mission." International Review of Mission 93.368 (2004): 39-49

(17)

Timor Timor dan pada bulan Desember 1941, “Timor Portugis diduduki oleh pasukan

Australia dan Belanda, yang mengharapkan invasi Jepang ketika Jepang menginvasi

banyak rakyat Timor Timor di jadikan budak untuk membantu perang akibatnya

banyak dari penduduk Timor Timor yang mati”42.Namun karena kekalahan pada

perang dunia ke 2 Timor Timor kembali lagi ke Portugis.

Tahun 1975 saat Lemon Pires memerintah sebagai gubernur terakhir Portugal

di Timor Timor terjadi perang saudara di Timor Timor,”perang saudara ini sangat

tidak terkendali oleh karena itu lemon pires yang menjabat gubernur saat itu meminta

bantuan dari portugal untuk membantu menyelesaikan masalah internal di Timor

Timor akan tetapi portugal sebagai koloni tidak merespon permintaan ini oleh karena

itu Lemon Pires menarik pasukan nya sampai ke pulau Artauro dan gerakan

pembebasan Timor Timor Frentlint mengambil alih pemerintahan dan

mendekelarasikan Timor Timor menjadi Timor Leste.”43

2.3.2. Masa Pendudukan Indonesia di Timor Leste

Setelah berhasil lepas dari belenggu Portugis, Timor Timur berhasil dikuasai

oleh partai FRETILIN (Frente Timorrenco Lente Independeco) yaitu sebuah partai

yang berhaluan komunis dan memiliki tujuan untuk mewujudkan kemerdekaan Timor

Timur secara penuh, merdeka dari koloni Portugis serta dapat diakui sebagai sebuah

negara yang berdaulat44. Partai FRETILIN kemudian mengirimkan telegram ke

seluruh pelosok dunia untuk memproklamirkan kemerdekaan Republik Demokrasi

Timor pada tanggal 28 November 197545.

42 Ardhana, I. Ketut. Penataan Nusa Tenggara pada masa kolonial 1915-1950. RajaGrafindo Persada, 2005. 43 Hill, Helen M. Stirrings of Nationalism in East Timor: Fretilin 1974-1978: The origins, ideologies and strategies of a nationalist movement. Otford Press, 2002.

44 Naiobe, Yosef. Deklarasi Balibo, dongengan integrasi rakyat Timor. Diakses dari

https://daerah.sindonews.com/read/794012/30/deklarasi-balibo-dongengan-integrasi-rakyat-timor-1381663857 , diakses pada 6 Maret 2017

(18)

Indonesia yang pada saat itu dipimpin oleh Soeharto, melihat partai

FRETILIN yang komunis sebagai ancaman bagi Indonesia karena letak geografis

yang sangat dekat antar dua negara itu dikhawatirkan akan berdampak pada daerah

perbatasan Indonesia, maka dengan didukung oleh pihak Amerika Serikat, pada

September 1975 pasukan khusus yang dikirim oleh pemerintah Indonesia melakukan

penyerangan awal terhadap Timor Timur, kemudian pada 7 Desember 1975 pasukan

khusus Indonesia secara resmi menyerang Timor Timor melalui operasi militer yang

dikenal sebagai Operasi Seroja46. Penyerangan dilakukan mengarah ke kota Dili,

pasukan FRETILIN yang disebut Falintil menderita kekalahan hingga pada malam

harinya pasukan Indonesia telah merebut kota Dili, kemudian penyerangan

dilanjutkan pada invasi kedua yaitu pada tanggal 10 Desember 1975, pasukan

Indonesia berhasil menaklukkan kota Baucau. Pada 17 Juli 1976, pemerintah

Indonesia secara resmi menyatakan bahwa Timor Timur adalah bagian dari Negara

Kesatuan Republik Indonesia dan merupakan propinsi ke-27 Indonesia.

Setelah resmi menjadi bagian NKRI, Timor Timur mendapat alokasi dana dari

pemerintah Indonesia untuk pembangunan daerah demi kemajuan Timor Timur47.

Hasil dari alokasi dana tersebut adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat Timor

Timur, di antaranya yaitu angka melek huruf meningkat, ruas jalan beraspal, dan

jumlah bangsal Rumah Sakit yang terus bertambah. Hingga pada tahun 1999, Timor

Timur masih mendapatkan alokasi APBN sebesar Rp 187,3 miliar untuk

pembangunan propinsi, kota, desa, serta jaringan pengaman sosial, termasuk juga

untuk menangani permasalahan kemiskinan di Timor Timur48. Alokasi dana yang

begitu besar hingga pada masa-masa terakhir integrasinya dengan NKRI, Timor Timur

46 Tirto.id. Mengingat Referendum, Jalan Panjang

47 KoMa Online.com. 17 Juli 1976: Timor Timur Resmi Bergabung sebagai Provinsi ke 27. Diakses dari koranmakassaronline.com/v2/17-juli-1976-timor-timur-resmi-bergabung-sebagai-provinsi-ke-27-2/ , diakses pada 6 Maret 2017

(19)

merupakan beban bagi pemerintah Indonesia. Masalah-masalah terus bermunculan

semenjak Timor Timur masuk ke dalam NKRI, ditambah dengan adanya kelompok

Anti-integrasi yang terus mendesak pemerintah Indonesia agar melepaskan Timor

Timur, sehingga pada akhirnya sebagian besar masyarakat Timor Timur ingin

melepaskan diri dari Indonesia, kemudian pada tanggal 20 Mei 2002 Timor Timur

diakui dunia sebagai negara merdeka dengan nama baru yaitu Timor Leste/ Republica

Democratica de Timor Leste.

2.3.3. Keadaan Timor Leste Saat Ini

Timor Leste atau yang memiliki nama lengkap Democratic Republic of

Timor-Leste adalah sebuah negara yang diakui sebagai negara merdeka pada 20 Mei 2002 yang

didapatkan melalui referendum dari Presiden Habibie pada masa tersebut.49 Nama yang

dipilih untuk negara ini adalah Timor Leste yang berasal dari bahasa Portugis yang juga

berarti Timor Timur sama dengan nama provinsi saat masih tergabung dengan

Indonesia.50 Bahasa resmi di Timor Leste adalah bahasa lokal yaitu bahasa Tetum dan

bahasa Portugis, sedangkan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris digunakan sebagai

bahasa tulis dan bahasa kerja, selain itu juga terdapat beberapa belas bahasa dan juga

dialek lokal.51

Saat ini, Timor Leste menerapkan sistem pemerintahan republik parlementer

dengan perdana menteri bernama H.E. Dr. Rui Maria de Arajuo yang juga merupakan

orang terdidik dan juga salah satu pejuang kemerdekaan Timor-Leste saat masa

pendudukan Indonesia.52 Timor Leste sekarang terbagi menjadi 13 distrik dan 67

sub-49 “The World Factbook, East & Southeast Asia: Timor Leste,” Central Intelligence Agency, diakses pada 4 Maret 2017, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/tt.html

50 Ibid.

51 “About,” Government of Timor-Leste, diakses pada 4 Maret 2017, http://timor-leste.gov.tl/?p=547&lang=en

52 Ibid. Loc.Cit, “Biography – Prime Minister,” Government of Timor-Leste, diakses pada 4 Maret 2017,

(20)

distrik.53 Sedangkan mata uang resmi yang digunakan di Timor Leste adalah dolar

Amerika Serikat.54

Timor Leste merupakan salah satu negara termiskin di kawasan Asia Tenggara,

karena negara tersebut masih terhitung sangat muda karena baru merdeka, maka

infrastruktur di sana pun juga masih jauh tertinggal daripada negara-negara lain di

kawasan Asia Tenggara.55 Dalam wawancara yang dilakukan oleh jurnalis asal Indonesia

ke Timor Leste kepada warga Timor Leste, banyak warga yang berpendapat bahwa

mereka lebih menyukai keadaan Timor Leste yang sekarang karena suasananya lebih

aman dan damai daripada saat masa pendudukan Indonesia di tahun 1975-2002, karena

pada zaman pendudukan tersebut banyak terjadi perang, kerusakan infrastruktur, dan

juga pertumpahan darah yang juga menyebabkan banyak korban dan pengungsi,

sedangkan situasi sekarang terasa lebih nyaman karena peperangan telah usai dan Timor

Leste sudah bisa mengatur negaranya sesuai dengan keinginannya tanpa pengaruh dari

negara koloni.56

53 Ibid. 54 Ibid.

55 Alsadad Rudi, “14 Tahun Berpisah dari Indonesia, Bagaimana Kondisi Timor Leste Kini?,” Kompas.com, 17 Desember 2016, diakses pada 4 Maret 2017,

http://internasional.kompas.com/read/2016/12/17/16534521/14.tahun.berpisah.dari.indonesia.bagaimana.kondisi

.timor.leste.kini.

(21)

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Koloniaslime merupakan praktek dominasi untuk memperluas kontrol terhadap

kelompok yang lemah, termasuk mengeksploitasi ekonomi dari sumber daya alam,

penciptaan pasar baru bagi bangsa yang menjajah, dan perluasan geografis tehadap

pemikiran bangsa penjajah, bahasa dan cara hidup. Pada abad ke-16 bangsa Eropa

mulai melakukan tindakan kolonisasi di Asia Tenggara dengan motif awal yaitu

mencari rempah-rempah, selain itu juga terdapat motif gold, glory, dan gospel.

Nasionalisme muncul sebagai definisi dari kepatuhan sebagai loyalitas masyarakat

kepada negara. Konsep nasionalisme kemudian muncul di negara-negara Asia

Tenggara sebagai upaya untuk mengakhiri kolonialisme dan imperialisme.

Nasionalisme mulai muncul setelah perang dunia ke-2 berakhir dan banyak

perjuangan meraih kemerdekaan terjadi di Asia Tenggara.

Sedangkan untuk kasus Timor Leste, kolonialisme sudah terjadi sejak jaman

dahulu yang dilakukan oleh bangsa Portugis selama ratusan tahun. Kemudian

kemunculan nasionalisme di Timor Leste mulai muncul ketika masa pendudukan

Indonesia yang menimbulkan banyak pertumpahan darah. Lalu, pada akhirnya Timor

Leste dapat memperjuangkan kemerdekaannya dan menjadi negara yang merdeka dan

(22)

3.2. Saran

Sebagai masyarakat yang berpendidikan, kita seharusnya mampu memberikan

edukasi tentang sejarah dengan benar dan jujur sesuai fakta dan peristiwa yang

(23)

DA FTAR PUSTAKA

Anonymous. Colonialism. t.thn. http://www.chegg.com/homework-help/definitions/colonialism-53. (diakses Maret 2017, 2017).

—. Hindia Belanda, Politik Pintu Terbuka. t.thn. http://pensa-sb.info/hindia-belanda-politik-pintu-terbuka-open-door-policy (diakses Maret 4, 2017).

Bernhard, Michael, Christopher Reenock, dan Timothy Nordstorm. “The Legacy of Western Overseas Colonialism on Democratic Survival.” International Studies Quarterly, 2004: 225-250. Breman, Jan. Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dan Tanam Paksa Kopi di

Jawa 1720-1870. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014.

Crowley, Roger. Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim. Pustaka Alvabet, 2011. Galilei, Galileo, dan Stillman Drake. Dialogue concerning the two chief world systems, Ptolemaic

and Copernican. Modern Library Science, 1953.

Gellner, Ernst, dan Miscevic Nenad. Nationalism and Beyond. Budapest: CEU Press, 2001.

H, Hoetink. “Vrije Notitie: Akademisch kolonialisme en zo.".” Sociologische Gids 18.4, 1971: 371-375.

Hallday, J. “Nationalism.” Dalam The Globalization of World Politics 2nd Edition, oleh J Hallday, 441-442. Oxford: Oxford University Press, 1997.

Horvarh, Ronald J. “A Definition of Colonialism vol. 13 no. 1.” 1972: 46.

Knutsen, Torbjorn. A History of International Realations Theory. Manchester: Manchester University Press, 1997.

Russel, Letty M. “God, Glory, and Gender: A Postcolonial View of Mission.” International Review of Misiion, 2004: 39-49.

Skinner, Andrew, dan Thomas Wilson. Essays on Adam Smith. Clarendon Press, 1975.

Referensi

Dokumen terkait

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat, baik bagi pembaca maupun diri. kami pribadi dan dapat menjadi sumbangan bagi perkembangan

Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi saya sendiri maupun bagi orang lain untuk membuka wawasan dan cara pandangnya terhadap perubahan iklim yang terjadi di bumi kita ini

Sejarah Lisan di Asia Tenggara selain untuk praktisi sejarah juga dapat menjadi. pegangan bagi berbagai kalangan seperti peneliti sosial dan wartawan

Dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia, dan masyarakat Muslim lainnya di wilayah Asia Tenggara, karena factor bahasa lisan maupun tulis yang digunakan,

Harapan kami semoga Makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi Makalah ini sehingga kedepannya

Kebijakan Perdagangan Indonesia dan Keikutsetaan dalam Kerjasama Ekonomi di Kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Jakarta: Makalah disampaikan pada Seminar Trans Asia dalam

Akhir kata penyusun berharap semoga sinopsis ini dapat bermanfaat bagi penyusun dalam menyusun tahapan selanjutnya, maupun bagi pihak-pihak

Bagi Kota Pekanbaru untuk dijadikannya Pekanbaru sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada 2021 berdasarkan ketentuan dalam Perda Kota