U
ntuk menjadi seorang manusia yang kompeten di bidang teknologi informasi, banyak jalan yang bisa dipilih. Ada yang menimba ilmunya di pendidikan formal, ada yang belajar sendiri (otodidak), ada yang berlatih di tempat/balai pelatihan (atau kursus-kursusan), ada yang diajarkan oleh orang lain yang ahli (pakar maupun praktisi), ada yang meniru/ memperhatikan rekaman video (simulasi), ada yang melalui internet, dan lain sebagainya. Begitu banyak jalan bisa ditempuh dewasa ini untuk mengasah kompetensi dan keahlian seseorang.Yang menjadi persoalan adalah bahwa di negara berkembang seperti Indonesia, belum terbangun infrastruktur maupun suprastruktur yang secara utuh mengakui keberadaan kompetensi seseorang yang diperolehnya melalui berbagai cara tersebut. Terlepas dari diakuinya model pendidikan di Indonesia menjadi formal, non formal, dan informal, bukan merupakan rahasia umum bahwa masih banyak instansi pemerintah dan industri yang hanya mengakui jalur formal sebagai referensinya. Contohnya adalah sebagai berikut:
< untuk melamar pekerjaan, yang diminta adalah ijasah dari perguruan tinggi yang terakreditasi; atau
< untuk mengikuti tender proyek, yang dipersyaratkan juga berupa ijasah dari perguruan tinggi; atau
< untuk menyusun model remunerasi dipergunakan latar belakang pendidikan tertinggi sebagai salah satu komponennya; atau
< untuk mengikuti program pendidikan formal lanjutan, dipersyaratkan telah menyelesaikan program pendidikan formal pada tingkat sebelumnya; dan lain sebagainya.
Hal ini tentu saja tidak adil mengingat di dalam dunia teknologi informasi, terjadi fenomena sebagai berikut:
< seorang anak muda di bawah usia tujuh belas tahun telah mampu menjadi seorang programmer yang sangat handal, walaupun yang bersangkutan belum lulus pendidikan tinggi;
< seorang individu yang otodidak sangat mahir dalam melakukan proses forensik komputer, walaupun yang bersangkutan masih duduk di bangku SMA;
< seorang ahli keamanan internet telah berkarya di bidangnya selama lebih dari 30 tahun, namun yang bersangkutan tidak pernah mengenyam pendidikan formal;
< seorang auditor teknologi informasi telah berkeliling dunia membantu perusahaan internasional terkemuka, namun dirinya hanya tamatan sekolah dasar; dan lain sebagainya.
Oleh karena itulah maka dirasa perlu adanya suatu cara untuk mengukur atau menyetarakan kompetensi mereka ini dengan para individu yang lulus dari pendidikan formal. Prinsipnya dalam mengukur kompetensi ini adalah bukan dari latar belakang pendidikan yang dilaluinya, namun
0)&-,4%(%7-2+/%7%2/8%0-=/%6-%7%8/)1%148%2;%2+(-1-0-/-2;%
SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT
HALAMAN 1 DARI 2 (C) COPYRIGHT BY RICHARDUS EKO INDRAJIT, 2013
KKNI dan Profesi Teknologi Informasi
oleh Prof. Richardus Eko Indrajit - [email protected]
EKOJI
999
Nomor 399, 12 Oktober 2013
Artikel ini merupakan satu dari 999 bunga rampai pemikiran Prof. Richardus Eko Indrajit di bidang sistem dan
Di beberapa negara, salah satu alat (tool) yang dipergunakan untuk menjembatani permasalah ini
%(%0%, %7%8%7-32%0 8%0-='%7-325%1):35/ (-1%2%(-2(32)6-%(-7)5.)1%,/%21)2.%(-%7%8)5%2+/%8%0-=/%6-%6-32%02(32)6-%
KKNI ini telah ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia untuk dijadikan sebagai alat penyetara
6)/%0-+86 4)2+8/85 7-2+/%7 /314)7)26- %7%8 /8%0-=/%6- 681&)5 (%;% 1%286-% (- -2(8675-2;%
masing-masing. Karakteristik KKNI yang dianut oleh Indonesia - yang sedikit banyak berkiblat pada model yang telah diterapkan secara sukses oleh Australia - adalah sebagai berikut:
1. (%6)1&-0%27-2+/%7%2/8%0-=/%6-(%5-180%-0)9)06%786)&%+%-;%2+7)5)2(%,,-2++%0)9)0
sembilan yang tertinggi.
2. ")7-%4 7-2+/%7%2 /8%0-=/%6- 7)56)&87 1)1-0-/- 7%7%5%2 /314)7)26-2;% 1%6-2+1%6-2+ ;%2+ dapat diukur dan diujikan;
3. $%2+ 1)2)278/%2 6)'%5% ()7%-0 (%2 5-2'- 1)2+)2%- /314)7)26- 4)5 7-2+/%7%2
/8%0-=/%6-7)56)&87%(%0%,/3182-7%61%6;%5%/%7;%2+ 7)5/%-7()2+%2 /%5%/7)5-67-/ /8%0-=/%6- (-1%/68(
misalnya untuk teknologi informasi adalah Kementrian Komunikasi dan Informatika, asosiasi industri (Aspiluki, Apkomindo, Awari, APJII, FTII, dan lain sebagainya), asosiasi profesi (IPKIN), dan komunitas terkait lainnya - melalui suatu badan yang dibentuk bersama oleh pemerintah.
4. )278/4)2+%/8%22;%(%4%7&)5%2)/%5%+%16)4)57-6)57-=/%7/314)7)26-685%7/)7)5%2+%2
4)2;)7%5%%2 (%2 0%-20%-2 6)68%- ()2+%2 /%5%/7)5-67-/ /8%0-=/%6- ;%2+ -2+-2 1)2(%4%7/%2
pengakuran.
5. Pengakuan ini berlaku atau bersifat nasional dan diakui pula oleh negara-negara lain (internasional) yang telah melakukan MRA atau Mutual Recognition Arrangement dengan pihak otoritas di Indonesia (BNSP);
6. Sesuai dengan karakteristik kompetensinya, pengakuan ini tidak berlaku selamanya (berdurasi0, mengingat adanya perubahan dinamis pada lingkungan industri yang memaksa orang untuk selalu memelihara kompetensi yang dimilikinya (melalui sejumlah persyaratan yang ditetapkan bersama); dan
7. Harus ada uji kompetensi yang dilalui mereka yang ingin mendapatkan pengakuan melalui
%+%5 7-2+/%7%2 /8%0-=/%6- ;%2+ (-6%2(%2+2;% &)2%5&)2%5 (%4%7 (-4)57%2++82+
jawabkan kepada masyarakat (publik) secara luas.
Oleh karena itulah maka belakangan ini, mereka yang bergerak di bidang non formal dan informal, mulai menyusun dan menerapkan berbagai standar yang telah diselaraskan dengan tingkatan
/8%0-=/%6- 4%(% ()2+%2 ,%5%4%2 1)5)/% ;%2+ 7)0%, (-2;%7%/%2 08086 (%4%7 6)+)5% 1)2(%4%7/%2/8%0-=/%6-2;%
)2+%2 ()1-/-%2 /)0%/ ;%2+ %/%2 (-4)5+82%/%2 6)&%+%- -()27-=/%6- 4)2+%/8%2
/314)7)26-seseorang tidak lagi pada ijasah atau surat keterangan pendidikan formalnya, namun sudah dapat menggunakan tingkat 1 hingga 9 sebagaimana direferensikan oleh KKNI.
akhir dokumen
---SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT