Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning
Tipe Group Investigation (GI) Terhadap Hasil Belajar Siswa
( Studi Quasi Pada Siswa Kelas XI Ekonomi Semester II Di SMA BINA DHARMA 2 Bandung )
2. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi
menyebabkan arus informasi menjadi cepat dan tanpa batas.Hal ini berdampak langsung pada
berbagai bidang kehidupan tanpa kecuali bidang pendidikan.Lembaga pendidikan sebagai
bagian dari sistem kehidupan telah berupaya mengembangkan sistem kurikulum, sistem
pendidikan dan metode yang efektif dan efisien untuk meningkatkan sumber daya, oleh
karena itu pendidikan sangat berperan penting dalam kehidupan manusia.
Menurut UU SISDIKNAS No.20 Tahun 2003 Pasal 3 Ayat 2, pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak yang mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.Manusia sebagai individu sosial dan
sebagai warga negara perlu mengembangkan kemampuan diri untuk dapat hidup di
tengah-tengah komunitasnya. Salah satu caranya dengan meningkatkan wawasan melalui jalan
pendidikan. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003
Pasal 3 Ayat 2 menyatakan, bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta
rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta
didik. Konsep pendiikan tersebut serasa semangkin penting ketika seseorang harus memasuki
kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu
menerapan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.
Sekolah sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan idealnya harus mampu
melakukan pendidikan edukasi (proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan mendidik
dan mengajar ), proses sosialisasi (proses bermasyarakat terutama bagi anak didik), dan wada
proses transformasi (proses perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik/lebih maju ).
SMA BINA DHARMA 2 merupakan salah satu sekolah swasta yang mempunyai
input atau masukan siswa yang memiliki prestasi belajar yang bervariasi. Karena prestasi
yang bervariasi inilah peran serta keaktifan siswa dalm kegiatan belajar mengajar beraneka
ragam. Masalah proses mengajar belajar pada umumnya terjadi di kelas, kelas dalam hal ini
dapat berarti segala kegiatan yang dilakukan guru dan anak didiknya di suatu ruangan dalam
melaksanakan KBM. Kelas dalam arti luas mencangkup interaksi guru dan siswa, teknik dan
strategi belajar mengajar, dan implementasi kurikulum serta evaluasinya.
Keberhasilan siswa dalam menguasai konsep tergantung pada guru yang
mengajarinya. Dalam hal ini peran guru sangat berpengaruh, seorang guru harus jeli dalam
memilih media atau alat pembelajaran, metode dan aspek yang akan dikedepankan dalam
proses belajar mengajar. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan
dan membuat perencanaan seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya
dan memperbaiki kualitas mengajarnya.
Suprayekti (2004:7), mengemukakan bahwa metode mengajar adalah cara guru
menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam
memilih metode mengajar seorang guru atau tenaga pendidik harus memperhatikan
faktor-faktor berikut:metode mengajar hendaknya sesuai dengan tujuan, metode mengajar
hendaknya disesuaikan dengan kemampuan siswa, metode mengajar harus sesuai dengan
psikologis belajar, metode mengajar hendaknya sesuai dengan bahan pelajaran.
Metode belajar yang masih digunakan guru yaitu konvensional yang berupa metode
pembelajaran yang dikemas dalam bentuk kata-kata yang diinformasikan guru kepada siswa.
jika metode pembelajaran ini terus dilakukan maka perkembangan pemikiran dan
pengetahuan siswa tidak akan berkembang sesuai dengan pengetahuan yang berkembang.
Guru hendaklah memilih metode pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk
lebih memperdalam kemampuan secara spesifik dan menambah kesiapan siswa dalam
meningkatkan kemampuan respon yang cepat. Penggunaan berbagai macam strategi dapat
menambah dan meningkatkan pengetahuan serta motivasi belajar siswa. Oleh karena itu guru
harus memilih dan menggunakan metode sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.Menurut
pandangan pembelajaran cooprative learning tipe group investigation, peserta didik akan belajar secara aktif dan mengembangan kecakapan intelek dan memiliki kemampuan
interaksi dalam kelompok antara suatu keadaan dengan hal yang lain.
Agar pembelajaran cooperative dapat terlaksana dengan baik, peserta didik harus berkerja dengan lembar kerja yang berisi pertanyaan dan tugas yang telah direncanakan.
Selama berkerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan
materi yang di sajikan guru dan saling membantu sesama teman.
adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam
menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Model
pembelajran ini menuntut para siswa untuk emiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok ( group process skills ). Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai
subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan dalam suatu laporan di
depan kelas secara keseluruhan.
Pusat dari investigasi kelompok adalah perencanaan cooperative murid dalam melakukan penyelidikan terhadap topik yang tealah diidentifikasikan. Anggota kelompok
mengambil peran dalam menentukan apa yang akan mereka selidiki, siapa yang akan
mengerjakan dan bagaiman merekan mempresentasikan hasil secara keseluruhan di depan
kelas. Kelompok pada pembelajara berbasis investigasi kelompok ini merupakan kelompok
yang heterogen baik dari jenis kelamin maupun kemampuannya. Setiap kelompok terdiri dari
4-5 orang. Di dalam kelompok tersebut, setiap siswa dalam kelompok mengerjakan apa yang
telah menjadi tugasnya dalam lembar kerja kegiatan mandiri yang telah disiapkan dan teman
sekelompoknya bertanggung jawab untuk saling memberi kontribusi, saling tukar menukar
dan mengumpulkan ide. Setelah itu anggota kelompok merencanakan apa yang akan
dilaporkan dan bagaimana membuat presentasinya. Langkah terakhir dalam kegiatan ini,
salah satu anggota kelompok mengkoordinasikan rencana yang akan dipresentasikan di depan
kelompok yang lebih besar.
Teknik presentasi dilakukan di depan kelas dengan berbagai macam bentuk
presentasi, sedangkan kelompok yang lain menunggu giliran unuk mempresentasikan,
mengevaluasi dan memberi tanggapan dari topik yang tengah di presentasikan. Peran guru
dalam Group Investigation ( GI ) adalah sebagai sumber dan fasilitator. Disamping itu guru juga memperhatikan dan memeriksa setiap kelompok bahwa mereka mampu mengatur
tersebut. Pada akhir kegiatan, guru menyimpulkan dari masing- masing kegiatan kelompok
dalam bentuk rangkuman.
Dalam pembelajaran ekonomi agar tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan
meyeluruh diperlukan adanya kerjasama yang baik antara persinal didalam kelas. Dimana
suatu saling keterkaitan dan saling memenuhi satu sama lain. Suasana yang penuh persaingan
yang tidak sehat dan individualis akan menciptakan pengaruh yang kurang baik dan
mengurangi rasa percaya diri serta semangat siswa. Hal ini akan menghambat siswa untuk
berperan aktif dan kreatif di dalam kelas. Oleh sebab itu diperlukan model pembelajaran yang
dapat mencipakan suasana belajar yang saing melengakapi satu sama lain dan bergontong
royong dalm memecahkan berbagai persoalan mengenai materi pembelajaran secara
bersama-sama.
Berdasrkan latar belakang diatas maka dirumuskan judul penelitian sebagai berikut:
“PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING
TIPE GROUP INVESTIGATION ( GI ) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA
MATA PELAJARAN EKONOMI KELAS XI IPS SEMESTER II TAHUN AJARAN
2015/2016 DI SMA BINA DHARMA 2 BANDUNG”.
3. Identifikasi Masalah
Setelah diadakan penelitian pendahuluan, penulis mengidentifikasikan masalah yang sesuai
judul diatas maka terdapat item yang berkaitan dengan pengaruh model pembelajaran
cooperative learning tipe group investigation ( GI ) terhadap hasil belajar siswa yaitu :
1. Hasil belajar siswa
2. Sumber dan fasilitas yang tersedia 3. kondisi lingkungan
4. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas. Masalah yang diangkat dalm penelitian ini yaitu :
a. Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran cooperative learning tipe group invesigation ( GI ) dalam pelajaran ekonomi di kelas X SMA BINA DHARMA 2 BANDUNG ?
b. Bagaimana hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation ( GI ) ?
c. Seberapa besar pengaruh model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation ( GI ) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi pada kelas XI di SMA BINA DHARMA 2 BANDUNG ?
2. Batasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya masalah, maka penulis membatasi permasalahan
sebagai berikut :
1. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI Ekonomi SMA BINA DHARMA 2
Bandung.
2. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model
pembelajaran pembelajaran cooperative learning tipe group investigation ( GI ) 3. Aspek yang diteliti adalah pengaruh model pembelajaran cooperative learning tipe
5. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dapat dicapai dlam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui Bagaimana penerapan Model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation ( GI ) Pada Mata Pelajaran Ekonomi di kelas XI IPS SMA BINA DHARMA 2 Bandung.
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation ( GI ) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS SMA BINA DHARMA 2 Bandung.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan model pembelajarn cooperative learning tipe group investigation ( GI ) terhadap hasil belajar siswa pada
mata pelajaran ekonomi kelas X SMA BINA DHARMA 2 Bandung.
6. Manfaat Penelitian
Dengan tercapainya tujuan ini, maka diharapkan hasilnya akan bermanfaat sebagai
berikut :
a. Secara teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan yang positif bagi
pengembangan dalam proses pembelajaran, dikaitkan dengan pengaruh antara
pembelajaran cooperative learning tipe group investigation ( GI ) terhadap hasil belajar siswa.
b. Secara praktis
Sebagai bahan masukan bagi SMA BINA DHARMA 2 Bandung tentang keadaan
pembelajaran cooperative learning tipe group investigation ( GI ) dan dalam meningkatkan hasil belajar siwa.
7. Definisi Operasional 1. Belajar
Menurut Asep Syamsulbachri (2006 :26) belajar adalah proses perubahan tingkah laku
berkat pengalaman dan latihan. Jadi tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingka laku
baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan,maupun sikap. Kegiatan belajar mengajar
seperti mengorganisasi pengalaman belajar, mengolah kegiatan belajar mengajar menilai
proses hasil belajar merupakan bagian dari tanggung jawab guru. Untuk memahami kegiatan
belajar itu perlulah dilakukan analisi untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang terlibat
dalam kegiatan ini.
2. Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran memiliki makna yang lebih luas dari pada strategi, model
atau prosedur ( Trianti 2007 : 6). Karakteristik. “Model pembelajaran adalah pedoman berupa
program atau petunjuk strategi mengajar yang direncanakan untuk mencapai suatu
pembelajaran.
3. Model Pembelajaran Cooperative
Menurut (Solihatin, 2008 : 5) model pembelajaran coopertive “merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan
sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat sehingga dengan berkerja secara
bersama-sama di antara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi,
produktivitas dan perolehan belajar”.
Group investigation adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui
investigasi. Model pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang
baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok ( group process skills ).
(Arends, 1997 : 120-121 ) para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti
investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan
dan menyajikan dalam suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.
5. Hasil Belajar
( Sudjana,2004 : 22 ) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
seorang siswa setelah ia menerima perlakuan dari pengajar ( guru ). Hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.
Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil
belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3).
Sikap dan cita-cita (sudjana,2004 : 22 ).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajr adalah kemampuan
keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan
yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam
kehidupan sehari-hari.
Dari definisi-definisi diatas model pembelajaran cooperative GI ( Group Investigation)
adalah tipe pemebelajaran cooperative yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menetukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Model
pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
Pusat dari investigasi kelompok adalah perencanaan cooperative murid dalam melakukan penyelidikan terhadap topik yang telah diidentifikasikan. Anggota kelompok
mengambil peran dalam menentukan apa yang mereka selidiki, siapa yang akan mengerjakan
dan bagaiman mereka mempresentasikan hasil secara keseluruhan didepan kelas. Kelompok
pada pembelajaran berbasis investigasi kelompok merupakan kelompok yang heterogen baik
dari jenis kelamin maupun kemampuannya. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang.
Disamping itu guru juga memperhatiakan dan memeriksa setiap kelompok bahwa
mereka mampu mengatur pekerjaanya dan mereka membantu setiap permasalahan yang
dihadapi di dalam interaksi kelompok tersebut.
Pada akhir kegiatan dan dalam penelitian ini merupakan suatu daya yang timbul dari suatu
proses pendidikan yang bertujuan menolong siswa dalam memahami makna dalam materi
akademik yang dipelajari dengan mengembangkan konteks dan dapat membiasakan siswa
melakukan kerjasama dan manfaat sumber belajar dengan baik dari bertanya pada
teman-temannya maupun dari lingkungan sekitar.
Pembelajaran akan lebih hidup dan mendorong proses hasil pemebelajaran siswa lebih
luas dan mendalam sehingga keberhasilan belajar siswa dalam melakukan kegiatan
belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapai.
8. Kajian Teori
A. Pengertian belajar
(Slameto, 2003:2) Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan itu bersifat secara
sebagai bukti hasil yang diproses. Untuk memahami kegiatan belajar itu perlulah dilakukan
analisis untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang terlibat dalam kegiatan ini. Kalau
mengikuti model analis sistem, maka kegiatan belajar tersebut digambarkan sebagai berikut :
Bagan 1. Skema Kegiatan Belajar
Dengan rangka pemikiran seperti yang dikemukakan diatas maka dapat didefinisikan
bahwa belajar mengandung tiga persoalan pokok, yaitu :
1. Persoalan mengenai input, yaitu persoalan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar.
2. Persoalan mengenai proses, yaitu persoalan mengenai bagaimana belajar itu
bergantung dari prinsip-prinsip apa yang mempengaruhi dari proses belajar.
3. Persoalan mengenai output, yaitu persoalan mengenai hasil belajar.
(Hamalik, 2002:45) belajar tidak hanya mata pelajaran, tetapi juga penyusunan,
kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam
keterampilan lain dan cita-cita . Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi
perubahan pada diri orang yang belajar akibat adanya latihan dan pengalaman melalui
interaksi dengan lingkungan.
B. Model Pembelajaran
1. Definisi Model Pembelajaran
OUTPUT
Usaha guru dalam membelajarkan siswa bagian yang sangat penting dalam
pencapaian keberhasilan tujan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu
pemilihan strategi, metode, pendekatan serta model pembelajaran yang mendukung
merupakan suatu perhatian yang utama. Model pembelajaran mempunyai makna yang
berbeda dengan metode dan strategi. (Trianti 2007 : 6 ) istilah model pembelajaran memiliki
makna yang lebih luas dari pada strategi, model atau prosedur.
Karakteristik . ( Eggen dan Kauchak 2008 : 6 ) model pembelajaran adalah pedoman berupa
program atau petunjuk strategi mengajar yang direncanakan untuk mencapai suatu
pembelajaran.
C. Model pembelajarancooperative
1. Definisi model pembelajaran cooverative
( Solihatin, 2008 : 4 ) cooperative learning mengandung pengertian berkerjasama dalam mencapai tujuan bersama ini dikemukakan oleh Hamid Hasan dalam. Dalam kegiatan
cooperative, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Dan menurut Slavin dalam ( Solihatin, 2008 : 4 ) mengatakan bahwa
“Pembelajaran cooperative adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan berkerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4
sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.”
Ditambah oleh ( solihatin, 2008 : 5 ) model pembelajaran cooverative learning
merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan
pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat sehingga dengan
berkerja secara bersama-sama diantara sesama anggota kelompok akan meningkatkan
motivasi, produktivitas dan perolehan belajar.
Sejalan dengan hal itu Michaels dalam ( Solihatin, 2008 : 6 ) mengungkapkan
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran
cooperative memiliki pengertian suatu model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk
berkolaborasi bersama rekannya dengan ketentuan berkerja dalam kelompok dan
menjalankan tugas yang telah terstruktur untuk meningkatkan pemahaman mereka.
D. Lajaran Model Pembelajaran Cooperative Group Investigation
Group investigation merupakan model pembelajaran cooperative yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan pertama kali oleh
Thelan. Dalam perkembangannya model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari
Universitas Tel Aviv. Berbeda dengan STAD dan Jigsaw, siswa terlibat dalam perencanaan
baik topik yang dipelajari dan bagaiman jalannya penyelidikan mereka. Pendekatan ini
memerlukan norma dan struktur kelas yang terlalu rumit daripada pendekatan yang berpusat
pada guru. Pendekatan ini juga memerlukan mengajar siswa keterampilan komunikasi dan
proses kelompok yang lebih baik.
Dalam implementasi tipe Group Investigation ( GI ) guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen . kelompok disi dibentuk
dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik
tertentu. Selanjutnya siswa memilih untuk diselidiki, n melakukan penyelidikan yang
mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya ia menyiapkan dan mempresentasikan
laporannya kepada seluruh siswa.
E. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Belajar dan mengajar adalah konsep yang tidak bisa dipisahakan. Belajar merujuk
merujuk pada apa yang seharusnya dilakukan oleh siswa dan guru terpadu dalam satu
kegiatan. Diantara keduanya itu terjadi interaksi dengan guru. Kemampuan yang dimiliki
siswa dari proses belajar mengajar saja harus bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui
kraetifitas seseorang itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar. Oleh karena itu
hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang
siswa setelah ia menerima perlakuan dari pengajar ( guru ), seperti yang dikemukakan oleh
Sudjana.
(Sudjana, 2004 : 22 ) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimilki siswa
setelah menerima pengalaman belajarnya . Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam
bukunya (Sudjana, 2004 : 25 ) membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1).
Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita.
(Sudjana, 2004 : 22).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan
keterampilan, yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru
sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan, hasil belajar merupakan suatu perubahan
yang dimiliki oleh peserta didik yang terjadi akibat kegiatan belajar, perubahan tersebut aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik dan dapat bertahan selama beberapa periode
waktu.
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
(Sudjana, 2002 : 39 ) faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling dominan
berupa kualitas pembelajaran. (Ali Muhammad, 2004 : 14 ) “belajar adalah suatu perubahan
perilaku, akibat interaksi dengan lingkungannya”. Perubahan perilaku dalam proses belajar
Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu
maka belajar dikatakan tidak berhasil.
Menurut Muhibbin ( Syah, 2005 : 106 ) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar sebagai berikut :
1. Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa ), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan
rohani siswa.
2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa ), yakni kondisi lingkungan diluar siswa.
Faktor eksternal siswa terdiri dari dua macam, yaitu : lingkungan sosial dan
lingkungan non sosial.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning ), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan
pembelajaran materi-materi pelajaran.
F. Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Group Investigation ( GI) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi
Pembelajaran adalah proses, cara, enjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian. Sependapat dengan
pernyataan tersebut bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang
yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan ia belajar untuk melakukan atau
mempertunjukkan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang
bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah berkembang daya
pikir, sikap dan lain-lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah
suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mengorganisasi, mengatur
menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan-bahan pelajaran sehingga terjadi
proses pembelajaran.
9. Hasil Penelitian yang Terdahulu
Nama Judul Metode Variabel yang
siswa untuk
belajar lebih
1. Kerangaka Pemikiran Kerangka Berpikir
Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa
interaksi antar pribadi. Johnson, Johnson dan Smith ( dalam Lic, 2002 : 29 )belajar adalah
suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang
berhubungan dengan yang lain dan membngun pengertian dan pengetahuan bersama.
Dalam proses ini diharapkan siswa saling mengisi kelebihan dan kekurangan
masing-masing sehingga persaingan dapat ditekan sedemikian rupa maka suasana siswa belajar
dikelas berlangsung secara aktif dan siswa dapat berkerjasama tanpa meninggalkan
kemampuan individualnya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menggunkan berbagai
pendekatan model-model mengajar agar pemebelajaran yang dilaksanakan guru berhasil
sesuai tujuan pemebelajaran ekonomi. Model pemebelajaran di kelas peneliti akan
mengadakan penelitian dengan model cooperative learning. Cooperative learning adalah suatu proses belajar yang membutuhkan partisispasi dan kerjasama dalam kelompok,
(Slavin, 1995 : 3 ) mengatakan bahwa “ccoperative learning dapat memungkinkan siswa untuk belajar konten akademik dan keterampilan-kelterampilan dalam bidang sosial dan
beberapa perilaku sosial, siskap dan kemampuan”.
Keunggulan dari Group Investigation ( GI ) adalah melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui
investigasi. Tipe ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir mandiri. Keterlibatan siswa
secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai dengan tahap akhir
mendapat kesempatan yang sama untuk menunjang timnya agar mendapat nilai yang
maksimum sehingga termotivasi untuk belajar”. Dengan demikian setiap individu merasa
mendapat tugas sendiri-sendiri sehingga pembelajaran cooperative dapat bermakna dan pembelajaran dapat tercapai secara optimal sesuai dengan harapan kurikulum yakni
dengan diterapkannya model pemebelajaran cooperative tipe Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
10. Asumsi dan Hipotesis 1. Asumsi
Menurut Winarno Surakhmad 2004 ( Agus :12), memberikan definisi asumsi, sebagai
berikut:
Asumsi adalah sesuatu yang dianggap konstan, asumsi menetapkan faktor-faktor yang
diawasi, asumsi dapat berhubungan dengan syarat-syarat, kondisi-kondisi, dan tujuan.
Asumsi memberikan hakekat-hakekat, bentuk-bentuk dan arah argumentasi.
Berdasarkan pengertian asumsi di atas, peneliti merumuskan asumsi sebagai berikut :
a. Kondisi awal antar kelas yang menggunakan model pembelajaran cooperative tipe group investigatioan ( GI ) dengan kelas yang tidak menggunakan model pemebelajaran cooperative tipe group investigation ( GI ) memiliki karakteristik yang relatif sama atau memiliki perbedaan yang tidak signifikan .
b. Lingkungan sekolah dianggap kondusip terhadap pengembangan model
pemebelajaran.
c. Terdapat fasilitas yang mendukung untuk diselengarakan model pembelajaran
cooperative tipe group investigatiaon ( GI ). d. Faktor-faktor
Dalam suatu penelitian setelah menetapkan asumsi, penelitian membuat dugaan
tentang terjadinya suatu masalah yang perlu diuji kebenaran atau disebut dengan hipotesis.
Menurut Sugiyono (2009:96) :
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian telah
dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan dikatakan sementara karena jawaban yang
diberikan baru didasarka pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data jadi hipotesis juga dapat dinyatakan
sebagai jawaban teoritis.
Dari rumusan masalah dan kerangka pemikiran di atas, maka penulis menarik suatu
hipotesis sebagai berikut
Kajian pustaka
Penelitian merupakan proses mencari pemecahan masalah melalui prosedur
ilmiah.Tahap-tahap yang harus dilalui menurut prosedur ilmiah bukan hanya dilakukakan
dilabolaturium saja tetapi juga di kancah termaksuk untuk bidang pendidikan.Guru di dalam
menghadapi masalah dengan muridnya, juga dapat menerapkan metode
ilmiah.Langka-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Menghadapi masalah yang perlu dipecahkan.
2. Membatasi dan merumuskan masalah dalam bentuk yang spesifik dan dapat
dikenali dengan jelas.
3. Mengembangkan hipotesis (dugaan) pemecahan masalah.
4. Mengembangkan teknik dan instrument untuk mengumpulkan data yang mengarah
pada pembuktian hipotesis.
6. Menganalisis data.
7. Menarik kesimpulan dari data yang tersedia menuju pada informasi tentang
terbukti atau tidaknya hipotesis.
Kebanyakan para peneliti yang cukup bertindak hati-hati selalu berusaha mengikuti
langkah-langkah ini.Ketaatan mengikuti langkah-langkah-langkah-langkah ini bukan sekedar ingin taat pada ketentuan
tetapi disebabkan karena ada rasa tanggung jawab yang besar agar apa yang diperoleh
merupakan sesuatu yang pantas diperhitungkan sebagai suatu yang bermakna bagi orang
banyak atas dasar tanggung jawab yang tinggi.
Kegiatan penelitian selalu bertitik tolak dari pengetahuan yang sudah ada. Pada semua
ilmu pengetahuan, ilmuan selalu memulai penelitiannya dengan cara menggali apa-apa yang
telah diketemukan oleh ahli-ahli yang lain dan memanfaatkan penemuan-penemuan tersebut
untuk kepentingan penelitiannya. Hasil penelitian yang sudah berhasil memperkaya khasanah
pengetahuan yang ada biasanya dilaporkan dalam bentuk jurnal-jurnal penelitian. Ketika
peneliti mulai membuat rencana penelitian tidak bisa terhindar dan harus mempelajari
penemuan-penemuan tersebut dengan cara mendalami, mencermati, menelaah dan
mengidentifikasi hal-hal yang telah ada untuk mengetahui apa yang ada dan yang belum ada.
Kegiatan itu biasa dikenal dengan istilah: mengkaji bahan pustaka atau hanya disingkat
dengan kajian pustaka atau telaah pustaka (literature review).
Untuk dapat melakukan penelitian seperti yang seharusnya peneliti dituntut untuk
menguasai sekurang-kurangnya dua hal, yakni bidang yang diteliti dengan cara-cara atau
prosedur melakukan penelitian. Untuk menguasai persyaratan tersebut, (calon) peneliti harus
membaca, membagi berbagai literature. Dengan melakukan kaji literature peneliti akan
memperoleh beberapa manfaat antara lain:
1. Peneliti akan mengetahui dengan pasti apakah
pernah diteliti orang-orang terdahulu.
2. Dengan mengadakan kajian literature peneliti dapat
mengetahui masalah-masalah lain yang mungkin ternyata lebih menarik
debandingkan dengan masalah yang telah dipilih terdahulu.
3. Dengan mengetahui banyak hal yang tercantum di dalam
literature dan ini yang merupakan suatu terpenting bagi pelaksanaan penelitiannya.
Peneliti akan dapat lancer dalam melaksanakan pekerjaannya. Dalam
tonggak-tonggak tertentu dari langkahnya meneliti, peneliti emang diharuskan untuk mengacu
pada pengetahuan, dalil, konsep atau ketentuan yang sudah ada. Penggunaan acuan
tersebut harus dilakukan dengan menunjuk langsung pada sumber dimana bahan
acuan tersebut diperoleh.
4. Keharusan peneliti mengacu pada pengetahuan, dalil,
konsep atau ketentuan yang sudah ada maka kedudukan peneliti sebagai ilmuan
menjadi mantap, kokoh, tegar, karena dalam kegiatannya tersebut ia beke rja dengan
baik, menggunakan aturan-aturan akademik yang berlaku. Dalam segala tindakannya,
seorang ilmuwan harus berani mengemukakan apa yang ia lakukan terhadap ilmu,
bertindak jujur, dan sanggup mengakui kelebihan orang lain. Itulah sebabnya peneliti
dalam menggunakan acuan pengetahuan, dalil dan konsep dari penemuan orang lain
tersebut, harus secara jujur menyebutkan siapa penemunnya (siapa yang
mengemukakannya), tertera dalam literature apa, halaman berapa, sumber yang
diterbitkan oleh penerbit mana, tahun berapa, dengan menyebutkan sumber pustaka
secara lengkap ini dimaksudkan agar apabila ada peneliti atau orang lain ingin
menelusuri lebih jauh tentang penemuan tersebut, dapat dengan mudah
melakukannya.
Akuntansi merupakan pelajaran yang membutuhkan kecerdasan emosional dan
disiplin belajar dalam proses belajarnya, agar didapat pemahaman sehingga prestasi belajar
dapat tercapai secara optimal. Hal ini dikarenakan dalam mata pelajaran tersebut mempelajari
tata cara pembukuan serta pelaporan-pelaporan keuangan, dimana setiap transaksi keuangan
perlu dianalisis. Pada setiap penyelesaiannya dibutuhkan ketenangan, ketelitian maupun
kondisi emosional yang stabil, dan suasana belajar yang menyenangkan. Peran guru
diharapkan mampu merancang, memenej, dan memaintance apa yang distandarkan menjadi
pembelajaran yang berhasil dan efektif. Guru mampu menciptakan pembelajaran yang
bermakna dan pada akhirnya dapat menumbuhkan motivasi pada pembelajar-pembelajar
untuk mau dan mampu menerapkan ilmu yang disajikan oleh gurunya.
Kegiatan Belajar mengajar yang paling mengena adalah bagaimana tujuan
pembelajaran berhasil dan efektif dengan cara yang nyaman dan menyenangkan. Kurikulum
yang sekarang berlaku memberikan keleluasan pada guru untuk merancang pembelajaran
sesuai dengan kompetensi siswa melalui penetapan model-model pembelajaran sebagai
strategi bagi guru untuk mengekplorasi diri di kelas.
Menurut Amaryllia puspasari (2009: 13) Kadang kala kesulitan seorang anak dalam
menghadapi pelajaran akuntansi lebih disebabkan adanya ketakutan yang berlebihan,
akhirnya soal akuntansi yang mudah jadi terlihat rumit untuk dikerjakan, mengapa? Kondisi
guru yang terlalu tegas dan tidak segan memberikan hukuman membuat seorang anak
merasa cemas dan tidak mampu menyerap maupun memahami pelajaran akuntansi yang
diberikan namun beda halnya jika terjadi pada murid yang memiliki kecerdasan emosional
tinggi mereka akan merasa tertantang dan termotivasi untuk hukuman yang diberikan serta
Keberhasilan belajar siswa dapat diketahui dari proses belajar. Prestasi belajar tidak lepas dari
belajar, karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang
mengakibatkan adanya interaksi antara peserta didik dengan lingkungan belajarnya yang dapat
menimbulkan pengalaman bagi individu. Untuk mengetahui sejauh mana perubahan tingkah laku
tersebut pengajar atau pendidik dapat melakukan penilaian setelah peserta didik melakukan proses
belajar.
Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing (2000:71) berpendapat bahwa:
Prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik
menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas
bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa
diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa.
Siswa dapat memperoleh prestasi yang gemilang apabila telah mengikuti proses belajar
mengajar dengan sungguh-sungguh. Prestasi belajar yang diperoleh individu merupakan
hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dalam diri (internal) maupun
luar diri (eksternal).
H. Asumsi dan Hipotesis Asumsi
Sebelum penyusun mengemukakan asumsi dalam penelitian ini, terlebih dahulu
penyusun akan mengemukakan pengertian asumsi. Menurut Winarno Surakhmad 2004
( Agus :12), memberikan definisi asumsi, sebagai berikut:
Asumsi adalah sesuatu yang dianggap konstan, asumsi menetapkan faktor-faktor
yang diawasi, asumsi dapat berhubungan dengan syarat-syarat, kondisi-kondisi, dan
Berdasarkan pengertian asumsi di atas, maka untuk mempermudah penelitian,
penyusun menentukan asumsi sebagai berikut : Metode drill and practice dianggap
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas X Akuntansi di SMK PAJAJARAN
Bandung.
Hipotesis
Dalam suatu penelitian setelah menetapkan asumsi, penelitian membuat dugaan
tentang terjadinya suatu masalah yang perlu diuji kebenaran atau disebut dengan hipotesis.
Menurut Sugiyono (2009:96) :
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian
telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan dikatakan sementara karena jawaban
yang diberikan baru didasarka pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data jadi hipotesis juga dapat dinyatakan
sebagai jawaban teoritis.
Dari rumusan masalah dan kerangka pemikiran di atas, maka penulis menarik suatu
hipotesis sebagai berikut ” Metode pembelajaran drill and practice besar pengaruhnya
terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi sub pokok bahasan akuntansi
kelas X SMK PAJAJARAN Bandung “
I. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan judul skripsi ini serta acuan
penelitian maka penulis mendefinisikan variable-variable yang terkait sebagai berikut :
1. Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut
2. Metode adalah suatu rencana, pola atau pengaturan kegiatan guru dan peserta didik yang
menunjukkan adanya interaksi antara unsur-unsur yang terkait dalam pembelajaran,
yakni guru, peserta didik, dan media termasuk bahan ajar atau materi subjeknya (Anna
Poedjiadi, 2005: 119).
Metode menurut Mills (1989) dalam LPMP Jawa Barat sebagai proses aktual yang
memungkinkan seseorang atau kelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model. Hal
itu merupakan interpretasi atas hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa
sistem.
Jadi metode ialah hubungan yang terjalin antar elemen dalam kegiatan belajar
mengajar (KBM). Dalam penelitian ini yang dijadikan model adalah model pembelajaran
inkuiri terpimpin pada konsep fotosintesis. Metode drill and practice adalah cara mengajar
yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, juga sebagai sarana untuk
memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik, selain itu metode ini dapat digunakan untuk
memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan sebagai suatu
metode yang diakui.
Dari berbagai pendapat para ahli tentan metode pembelajaran, pada intinya bahwa
model pembelajaran sebagai arahan atau panduan untuk dipraktekkan dalam mengajar oleh
guru yang tersusun secara sistematis dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Prestasi Belajar menurut Marsun dan Martaniah 2000.( dalam Devi 2005: 1 )
merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran
yang diajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu
dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan
penilaian terhadap hasil belajar siswa”. Metode drill and practice adalah cara mengajar yang
kebiasaan-kebiasaan yang baik, selain itu metode ini dapat digunakan untuk memperoleh
suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan sebagai suatu metode yang
diakui. Tujuan dan manfaat drill and practice pertama kali digunakan disekolah sekolah tua
diamerika sebagai cara untuk:
1. Memacu kemampuan dasar motorik.
2. Memacu kebiasaan dan mental agar yang dipelajari siswa dapat lebih mengena dan
berarti, tepat, dan berguna. Hal-hal diatas akan berhasil apabila siswa juga mengerti
konteks keseluruhan dari akibat drill and practice atau kegunaan bagi dirinya sendiri. 3. sangat efektik karena dapat dikerjakan individu atau berkelompok maupun kelompok
besar dalam skala 1 kelas. Secara umum teknik mengajar ini biasanya digunakan untuk
tujuan siswa.
4. Memiliki keterampilan motoris atau gerak seperti kata-kata dan menulis dengan
menggunakan alat atau membuat suatu benda, melaksanakan gerak dalam olah gerak.
Mengembangkan kecakapan intelek seperti mengalikan, membagi, menjumlah,
mengurangi, menarik akar dalam hitung mencongak.
5. Memiliki kemampuan menghubungkan antara suatu keadaan dengan hal yang lain seperti
penggunaan lambang atau simbol. J. Populasi Dan Sampel
Populasi
Populasi digunakan untuk mempermudah penelitian yang akan dilakukan . menurut
Sugiyono (2009:117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya.
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi
bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/ subyek yang dipelajari, tetapi meliputi
seluruh karakteristik/ sifat yang dimilki oleh subyek/ obyek itu. Pada penelitian ini
penulis mengambil sampel sebanyak 18 siswa dari 1 kelas yaitu kelas X.
Tabel 1
Populasi Siswa Kelas X SMK PAJAJARAN BANDUNG Tahun Ajaran 2011 /2012
N
o
Kelas Jumlah
1. X
Akuntansi
18
Jumlah 18
Berdasarkan uraian di atas maka penulis menggunakan populasi sebanyak 18 siswa,
sampel ini diambil dari jumlah keseluruhan siswa X Akuntansi di SMK PAJAJARAN
Bandung.
Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti, dinamakan penelitian
sampel karena apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel.
Yang dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian
sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.
Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel
(contoh) yang dapat benar-benar berfungsi.Menurut Nawawi (1997:44) menyatakan
bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam
suatu penulisan, sehingga individu yang diselidiki itu sebagai sampel atau contoh.
K. Metode Penelitian
Metode ialah suatu kerangka kerja untuk melakukan suatu tindakan, atau suatu
kerangka berfikir menyusun gagasan, yang beraturan, berarah dan berkonteks, yang paut
suatu kesatuan.
Penelitian (research) ialah suatu kegiatan mengkaji (study) secara teliti dan teratur dalam suatu bidang ilmu menurut kaidah tertentu. Kaidah yang dianut ialah metode.
Mengkaji ialah suatu usaha memperoleh atau menambah pengetahuan. Jadi, meneliti
dilakukan untuk memperkaya dan meningkatkan kefahaman tentang sesuatu.
Metode penelitian meliputi prosedur dan tata cara melakukan verifikasi data yang
diperlukan untuk memecahkan masalah atau menjawab masalah penelitian termasuk untuk
menguji hipotesis. Berdasarkan hal tersebut, Nana Sujana (2001:16) mengemukakan bahwa
”Metodologi penelitian akan memberikan petunjuk terhadap pelaksanaan penelitian atau
petunjuk bagaimana penelitian itu dilaksanakan”. Dalam penelitian ini, penulis menggunkan
metode Assosiatif .
Pengertian lain mengenai metode Assosiatif menurut Sugiyono (2009 :57)
mengungkap dalam bukunya bahwa:
Metode Assosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan
hubungan antara dua variabel atau lebih.
Hubungan Kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel
independen ( variabel yang mempengaruhi ) dan dependen ( dipengaruhi ).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penerapan metode
Pembelajaran drill and practice dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi .
Untuk memperoleh gambaran mengenai pengaruh antara ke-dua variabel tersebut, maka
penulis menggunakan metode Assosiatif. Dengan demikian, penelitian ini dilakukan dengan
cara pengumpulan data mengenai Pengaruh Metode Pembelajaran drill and practice dengan
prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi dengan tujuan memperoleh suatu
menyusun dan mengklasifikasikannya untuk kemudian dianalisis dan diinterprestasikan
sedemikian rupa secara kuantitif.
Dalam melakukan suatu penelitian, maka diperlukan data-data atau sumber informasi
yang dapat dipercaya. Pada penelitian ini, penulis melakukan penelitian dengan
menggunakan :
a. Metode survey
Metode survey yang digunakan adalah dengan tingkat eksplanasi asosiasi kausalitas (
Sugiyono, 2009: 12 ). Penelitian dengan metode digunakan untuk mendapatkan data dari
tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam
pengumpulan data misalnya dengan mengedarkan quesioner, test, wawancara dan
sebagainya.
b. populasi
Populasi digunakan untuk mempermudah penelitian yang akan dilakukan . menurut
Sugiyono (2009:117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, objek/ subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya.
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain.Populasi
bukan sekedar jumlah yang ada pada objek / subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh
karakteristik / sifat yang dimilki oleh subjek / objek itu. Pada penelitian ini penulis
mengambil populasi sebanyak 20 siswi dari X kelas yaitu kelas X Akuntansi.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah
1. Penelitian lapangan ( field research )
Yaitu penulis melakukan peninjauan langsung ke sekolah yang diteliti.
a. Wawancara.
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Pada metode ini peneliti
dan responden berhadapan langsung ( face to face ) untuk mendapatkan informasi secara li san dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan
permasalahan penelitian.
Pada penelitian ini penulis menerapkan jenis wawancara berstruktur dimana
wawancara berstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan mengajukan
beberapa pertanyaan secara sistematis dan pertanyaan yang diajukan telah disusun
sebelumnya
b. Studi Dokumentasi
Menurut Buchari Alma (2008) : Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh
data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan,
peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang relevan penelitian.
Dalam hal ini studi dokumentasi dilakukan peneliti dengan cara mencari data tentang
prestasi belajar siswa, yaitu nilai raport pada semester ganjil tahun pelajaran
2011/2012 untuk mata pelajaran akuntansi serta dokumentasi lain yang di perlukan
dalam penelitian ini.
c. Angket
Menurut sugiyono (2009:199), angket adalah teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau peryataan tertulis
kepada reponden untuk dijawabnya.. Sedangkan menurut Arikunto (2003 : 140),
angket atau quesioner merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal
yang ia ketahui.
ini sebagai teknik untuk mengetahui identifikasi upaya guru mata pelajaran akuntansi
dalam memberikan pembelajaran di kelas, khsusnya dalam melakukan kinerja
pengelolaan kelas guna peningkatan prestasi belajar siswa kelas X di SMK
PAJAJARAN Bandung.
Secara teknis, penulis menggunkan angket (kuesioner) tertutup, artinya responden
menjawab pertanyaan yang sudah disediakan oleh penulis. Adapun alasan penulis dalam
memilih dan menggunkan angket tertutup yaitu untuk mempermudah responden menjawab
pertanyaan sekaligus mempermudah penulis dalam mengolah data yang dihasilkan.
Selanjutnya menurut Leana Maelana (2008:87), bahwa angket tertutup memiliki
keunggulan tersendiri. Adapun keunggulan yang dimaksud adalah:
1. Penulis lebih mudah mengolah data
2. Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama
3. Dapat digunakan dalam pengumpulan data atau keterangan dari responden dalam
waktu yang cukup singkat dengan menghemat waktu, tenaga dan biaya.
4. Setiap responden menghadapi pertanyaan yang sama, baik isi atau susunanaya sehingga
memberikan kemudahan dalam proses pengolahan data selanjutnya.
5. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang
diajukan.
6. Responden mempunyai waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
Menurut Arikunto (2003 :137), angket tertutup berarti angket yang disajikan dalam
bentuk sedemikian rupa sehingga responden tinggal memberikan tanda silang (X) pada
kolom atau tempat yang sesuai. Penentuan skala tertutup ini atas pertimbangan bahwa dengan
angket tertutup ini memudahkan responden untuk memilih serta adanya keseragaman
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. Menurut Sugiono
(2009: 134), skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan
persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Penelitian ini hendaknya mengukur sikap siswa, maka berdasarkan penjelasan diatas,
penulis menggunakan skala Likert dan skala scale dengan pemberian skor-skor yang
ditentukan pada setiap butir-butir pertanyaan. Penskoran untuk angket didasarkan pada skala
Likert, diamana setiap option terdiri dari lima katagori yang diberi skala nilai. Adapun penentuan nilai yang sesuai dengan pendapat Sugiyono (2009:134) adalah sebagai berikut:
Keterangan Skor
1. Sangat tepat / sangat positif 4
2. Tepat / positif 3
3. Netral / kadang-kadang 2
4. Tidak tepat / hampir tidak pernah / negatif 1
5. Tidak tepat sekali / sangat negatif 0
Penskoran skala sikap digunakan yaitu dengan skala Likert. Setiap option yang terdiri dari lima katagori skla nilai. Adapun penentuan skala nilai sesuai dengan pendapat Sugiyono
(2009:134) adalah sebagai berikut:
Keterangan Skore
1. Sangat senang / selalu / sangat positif 4
2. Senang / positif 3
3. Netral / kadang-kadang / netral 2
4. Tidak senang / hampir tidak pernah / negatif 1
5. Tidak senang sekali / sangat negatif 0
L. Operasional Variabel
Arikunto, ( 2006 ) Operasional adalah seperangkat petunjuk yang lengkap tentang apa
yang harus diamati dan bagaimana mengukur suatu variable atau konsep definisi operasional
tersebut membantu kita untuk mengklasifikasikan gejala di sekitar ke dalam kategori khusus
Variabel merupakan salah satu unsur yang mendasari penelitian ilmiah. Variabel
sesungguhnya adalah terdiri dari konsep-konsep yang digunakan pada suatu penelitian.
Variable asimetris merupakan hubungan variabel yang satu mempengaruhi variable yang lain
dan berasal dari konsep yang sama. Operasional variable ( FKIP UNPAS,2009 : 26 ) yaitu
perumusan variabel kedalam bentuk indikator-indikator yang dapat di amati serta dapat
diukur.
Dimana penggambaran hubungan variable asimetris sebagai berikut :
Variabel Bebas : Variabel Terikat:
X Y
Pada penelitian ini terdapat dua variabel penelitian yaitu :
1. Variabel Bebas (X )
Menurut Sugiyono (2009 : 61 ) variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian
ini variabel bebas yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab adalah Kinerja
pengelolaan kelas .
Dalam penelitian ini, hal yang menjadi variable bebas atau variable X dengan
indikator- indikatornya dapat diuraikan sebagai berikut :
N
o
Variabel Bebas ( X ) Indikator
1. Kinerja Metode Pembelajaran
drill and practice
a. Keterampilan guru dalam
menyampaikan materi didalam
kelas
b. Masalah yang terjadi dan di
hadapi Siswa dalam proses KBM.
dilakukan siswa dalam proses
KBM.
2. Variabel Terikat (Y )
Menurut Sugiyono (2009 :61 ) variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel Y dari penelitian ini adalah
Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMK PAJAJARAN Bandung.
Dalam penelitian ini, hal yang menjadi variable terikat atau variable Y dengan
indikator- indikatornya dapat diuraikan sebagai berikut :
N Variabel Terikat ( Y ) Indikator
1
.
Prestasi Belajar Siswa Pada
Mata Pelajaran Akuntansi
a. Nilai ulangan harian mata
pelajaran akuntansi.
b. Nilai sikap dan perilaku pada saat
mengikuti pembelajaran
akuntansi yang dilaksanakan oleh
guru ( Pendidik )
c. Nilai tugas semester genap untuk
mata pelajaran akuntansi.
M. Teknik Pengolahan Data
Pada penelitian skripsi ini teknik pengolahan data yang digunakan adalah:
1. Uji Validitas
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil quesioner yang diberikan kepada
responden, kemudian dilakukan pengujian terhadap quesioner untuk mengukur tingkat
kebaikan kuesioner, maka dapat dilakukan analisis validitas dan reliabilitas quesioner.
apa yang ingin diukur dalam penelitian. Suatu pertanyaan dikatakan valid dan dapat
mengukur variabel penelitian yang dimaksud jika nilai koefisien validitasnya lebih dari atau
sama dengan 0.300 (Robert M Kaplan dan Dennis Saccuzo, 2003 , dalam bukunya
Psycological Testing).
Reliabilitas menunjukkan sejauh mana tingkat kekonsistenan pengukuran dari suatu
responden ke responden yang lain atau dengan kata lain sejauh mana pertanyaan dapat
dipahami sehingga tidak menyebabkan beda interpretasi dalam pemahaman pertanyaan
tersebut. Sekumpulan pertanyaan untuk mengukur suatu variabel dikatakan reliabel dan
berhasil mengukur variabel yang kita ukur jika koefisien Sebesar lebih besar dari 0.7
(Robert M Kaplan dan Dennis Saccuzo, 2003, dalam bukunya Psycological Testing).
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui tingkat ketepatan data. Dapat dihitung
dengan menggunakan perhitungan Korelasi Product Moment.
Rumus:
rxy= n
∑
XiYi−(
∑
Xi) (
∑
Yi)
√
{
n∑
Xi2−(
∑
Xi)
2}{
n∑
Yi2−(
∑
Yi)
2}
dengan batasan :
a) Apabila r = 0 atau mendekati 0 maka hubungan antara kedua variabel
sangat lemah atau tidak ada hubungan sama sekali.
b) Apabila r = + 1 atau mendekati 1, maka hubungan kedua variabel
kuat sekali atau cukup kuat dan mempunyai gubungan searah.
c) Apabila r = - 1 atau mendekati -1, maka hubungan kedua variabel
kuat sekali atau cukup kuat dan mempunyai gubungan yang berlawanan.
Setelah melakukan perhitungan dengan perhitungan korelasi product moment, lalu
interpretasi berikut ini:
Selanjutnya adalah dengan pengujian reliabilitas instrumen penelitian berupa skor
yang memiliki tingkatan (ordinal) dapat dihitung menggunakan persamaan koefesien-α ( Cronbach, 2001 )dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
α=
[
kmengkuadratkan koefisien korelasi yang telah ditemukan dari perhitungan Product Moment
Rumus:
Dimana :
KD = Koefisien Determinan
r = Nilai Koefisien Korelasi
2. Uji Keberartian Regresi
Pengujian untuk uji keberartian model regresi dilakukan dengan uji statistik t .
Langkah-langkah uji keberartian model regresi sebagai berikut :
Menentukan hipotesis statistik
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini berkaitan dengan ada atau tidaknya hubungan
yang signifikan antara variabel bebas atau independent terhadap variabel terikat atau
dependen. Adapun perumusan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1), adalah sebagai
berikut:
H0 : Tidak terdapat hubungan fungsional antara kinerja pengelolaan kelas (X)
dengan prestasi belajar siswa (Y) pada mata pelajaran Akuntansi
H1 : Terdapat hubungan fungsional antara kinerja pengelolaan kelas (X) dengan
prestasi belajar siswa (Y) pada mata pelajaran Akuntansi
3. Uji Keberartian Koefisien Korelasi statistik
Pengujian untuk uji keberartian koefisien korelasi dilakukan dengan uji statistik t .
Langkah-langkah uji keberartian koefisien korelasi sebagai berikut:
1. Menghitung nilai t untuk mengetahui apakah koefisien korelasi
signifikan atau tidak. perumusan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1) adalah
sebagai berikut:
Ho : yx 0(Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja pengelolaan kelas
dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi )
H1 : yx 0 (Terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi )
Statistik Uji :
t=r
√
(n−2)√
(1−r)2Dimana :
r = koefisien korelasi
n = jumlah data
2. Hasil t hitung dibandingkan dengan t tabel dengan kriteria :
a. Ho diterima jika nilai hitung statistik uji (t hitung) berada di daerah penerimaan
Ho, dimana t tabel < t hitung < t tabel
b. Ho ditolak jika nilai hitung statistik uji (t hitung) berada didaerah penolakan Ho,
dimana t tabel ≥ thitung ≤ t tabel
Selanjutnya digunakan tabel distribusi “t” pada derajat kebebasan (dk)=n-2 untuk
1 Pendaftaran Sidang 1 Sidang Skripsi 1 Wisuda
DAFTAR PUSTAKA
Berdiati, Ika. 2010 Pembelajaran Bahasa Iindonesia Berbasis Drill and Practice Bandung: Sega Arsy.
Syamsulbachri. Asep. 2007. Pengantar Strategi Belajar Mengajar. Bandung : FKIP Universitas Pasundan.
Sugiyono. 2009 . Metode Penelitian Pendidikan . Bandung Alfabeta
Syamsulbachri, Asep. 2007. Diklat Kuliah Pendidikan Pembelajaran Akuntansi Persekolahan . Bandung : FKIP Universitas Pasundan.