PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE KARTU ARISAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH SISWA KELAS XI SMAN 1 SEULIMEUM, Zurriati

Teks penuh

(1)

TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH SISWA KELAS XI SMAN 1 SEULIMEUM,

Zurriati1, Zainal Abidin2, Nurasiah3

Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala

Email: zuriatiria@yahoo.com zainalabidin.sjh@fkip.unsyiah.ac.id

nurasiah.sjh@qmail.com

ABSTRACT

Learning that is not fun to make students not learning spirit, gathering card type learning model is one model of learning that can improve student achievement. The problem in this research are 1) how to influence the implementation of cooperative learning model arisan card against history lesson learning achievement of class student of XI SMAN 1 Seulimeum. 2) whether the constraints faced by teachers in the implementation of cooperative learning model social gathering cards in class XI SMAN 1 Seulimeum. Of intarest in this study were 1) to determine the effect of the application of cooperative learning model arisan card against history lesson learning achievement of class XI student of SMAN 1 Selimeum. 2) to determine the constraints faced by teachers in the implementation of cooperative learning model social gathering cards in class XI SMAN 1Seulimeum.Population in this study were all students of class XI SMAN 1 Seulimeum with the overall number of students186 students. Sampling in this study were students of class XI as iS 1 class control and XI iS 3 as the experimental class. Techniques of data collection is done by testing and documentation. Hypotheses were tested using t- test formula. Based on the processing results obtained t count = 0,872 and t table = 2,089. So, t = 0,872 then Ho is rejected and accepted. It can be concluded that with the implementation of the card-type learning model can improve learning achievement gathering subjects history class XI studends of SMAN 1 Seulimeum, and also there are no constraints bearti during learning model application card type gathering in class XI student of SMAN 1 Seulimeum.

Keywords:influence,cooperative learning,gathering cards.

ABSTRAK

Pembelajaran yang tidak menyenangkan membuat siswa tidak semangat belajar, model pembelajaran tipe kartu arisan merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe kartu arisan terhadap prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimuem. 2) apakah

1

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah.

2

Dosen Pembimbing I.

3

(2)

mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe kartu arisan terhadap prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimuem. 2) Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe kartu arisan di kelas XI SMAN 1 Seulimuem.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Seulimuem dengan jumlah siswa keseluruhan 186 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI iS 1 sebagai kelas control dan XI iS 3 sebagai kelas eksperimen. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes dan dokumentasi. Hipotesis diuji menggunakan rumus Uji-t. Berdasarkan hasil pengolahan diperoleh thitung= 0,872 dan ttabel= 2,089. Jadi, thitung= 0,872> ttabel= 2,089, maka H0tolak dan Haditerima. Dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran tipe kartu arisan dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimum, dan juga tidak terdapat kendala yang berarti selama penerapan model pembelajaran tipe kartu arisan pada siswa kelas XI SMAN 1 Seulimuem.

Kata Kunci:Pengaruh, Pembelajaran Kooperatif, Kartu Arisan.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan saraf perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa depan adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompotensi peserta didik.

Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal dewasa ini ialah masih rendahnya daya serap peserta

didik. Hal ini tampak dari rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana seharusnya belajar itu. Artinya bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembangan secara mandiri melalui penemuan dalam proses berfikir (Trianto, 2012: 5).

(3)

bahwa pembelajaran harus didasarkan pada informasi secara sosial di antara kelompok-kelompok pembelajaran yang di dalamnya setiap peserta didik bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain (Huda, Miftahul, 2013:29).

Pembelajaran kooperatif terdapat berbagai model pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan peserta didik dalam memahami apa yang dipelajarinya. Salah satu model pembelajaran kooperatif penulis anggap relevan untuk meningkatkan mata pembelajaran sejarah adalah model kooperatif tipe Kartu Arisan. Model pembelajaran kooperatif tipe Kartu Arisan adalah model pembelajaran kelompok kooperatif dengan menggunakan sejumlah kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban yang disesuaikan dengan materi pelajaran untuk dipecahkan secara bersama-sama dalam kelompok kooperatif/kelompok kecil.

Permainan dalam model ini diawali dengan memasukkan kartu-kartu pertanyaan kedalam sebuah gelas kemudian dikocok agar pertanyaan itu tidak didapatkan oleh siswa yang sama. Setelah dikocok, bagi pertanyaan yang jatuh kemudian dibacakan untuk dijawab oleh peserta kelompok yang memegang kartu jawaban. Tahap berikutnya guru memberikan skor kepada kelompok yang berhasil menjawab benar begitu seterusnya sampai kartu di dalam gelas habis dijawab dengan benar. Mengingat

model ini dianggap cocok untuk meningkatkan hasil prestasi belajar siswa, maka perlu diadakan realisasi langsung di lapangan. Hal ini agar dapat menambah pengetahuan guru dan siswa yang selama ini masih belajar dengan menggunakan model yang konvensional. Berdasarkan observasi yang dilakukan di sekolah SMAN 1 seulimeum, proses pembelajaran yang terjadi di SMAN 1 Seulimeum masih

menggunakan metode

ceramah,mendikte materi dan diskusi. Dalam hal ini guru yang lebih berperan dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan siswa hanya mendengar dan mencatat hasil dari apa yang disampaikan oleh gurunya. Hal ini jika terus terjadi, maka hasil belajar peserta didik selalu kurang memuaskan. Peserta didik kurang dapat memahami materi yang di sampaikan oleh gurunya. Sehingga membuat siswa merasa bosan dan bahkan sebahagian dari peserta didik tidak mau mengikuti jam pelajaran sejarah.

(4)

baik, itu hanya beberapa persen siswa saja.

Berdasarkan karena permasalah di atas, maka perlu adanya dilakukan penelitian khususnya untuk memodivikasi dalam sistem belajar di SMAN 1 Seulimeum tersebut untuk meningkatkan mutu pendidikan yang dituntut oleh tujuan pendidikan Nasional. Salah satu caranya ialah merobah pola pembelajaran dengan menerapkan berbagai model yang mampu mengembangkan kemampuan para peserta didik SMAN 1 Seulimeum. Model kooperatif tipeKartu Arisansalah satu model yang penulis anggap mampu dan cocok untuk meningkatkan motivasi belajar bagi siswa. Dalam model ini siswa belajar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang disusun secara heterogen dan memiliki tanggung jawab individu dan kelompok untuk memecahkan permasalah yang dihadapai. Dengan adanya sistem seperti ini guru tidak lagi berperan penuh, melainkan sebagai modeling, mediator, fasilitator dan motivator. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik ingin mengadakan penelitian dengan mengambil tema “Pengaruh

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Kartu Arisan Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Sejarah Siswa Kelas XI

SMA N 1 Seulimeum”.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe KartuArisanterhadap prestasi belajar

mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimeum ? Dan (2) Apakah kendala-kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Kartu Arisan di kelas XI SMAN 1 Seulimeum?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:(1)Untuk mengtahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Kartu Arisanterhadap prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimeum.Dan (2)ingin mengetahui kendala-kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Kartu Arisan di kelas XI SMAN 1 Seulimeum.

Manfaat Penelitian

Manfaat Teoretis

Menambah wawasan ilmu pengetahuan bagaimana cara mengatasi permasalahan yang di hadapi guru dalam pembelajaran, khususnya dalam hal meningkatkan hasil belajar sejarah dengan menawarkan obat yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Kartu Arisan.

Manfaat Praktis

Bagi Siswa, diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran dan dapat membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru.

(5)

dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Bagi Sekolah, dapat memberikan masukan dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pengajaran sejarah di kelas.

Bagi Pembaca, dapat menjadi referensi dalam melakukan penelitian yang lebih lanjut.

Anggapan Dasar

Menurut Surakhmad dalam Suharsimi Arikunto (2010: 104) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan anggapan dasar atau postulat adalah: Sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik. Dikatakan selanjutnya bahwa setiap penyelidik dapat merumuskan postulat yang berbeda. Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini

adalah “model pembelajaran kooperatif

tipe Kartu Arisan merupakan salah satu model yang dapat diterapkan dalam

pembelajaran sejarah”.

Hipotesis

Punaji Setyosari (2012: 108), mengatakan hipotesis adalah harapan yang menyatakan ramalan atau prediksi hasil yang diperoleh melalui penelitian. Atau dengan perkataan lain hipotesis merupakan suatu pernyataan yang berisi suatu prediksi (yang mungkin terjadi) berkenaan dengan hasil penelitian. Adapun yang menjadi hipotesis dalam

penelitian ini adalah “penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe Kartu Arisan berpengaruh terhadap prestasi

belajar siswa dalam pembelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimeum, aceh besar karena dapat mendorong siswa untuk ikut aktif dalam proses pembelajaran”.

Kajian Relevan

Satu-satu hasil penelitian yang relevan dengan judul penelitian ini ialah karya dari A.A. Ari Susanti dkk dengan

judul “Penerapan Model Pembelajaran Kartu Arisan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas Semester

Ganjil Sd No 2 Mendoyo”. Penelitian ini

merupakan penelitian tindakan kelas, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas V SD No 2 Mendoyo Dangin Tukad tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 16 orang yang terdiri atas 8 orang siswa perempuan dan 8 orang siswa laki-laki. Objek penelitian ini adalah hasil belajar IPA siswa dan penerapan model pembelajaran kartu arisan, yang dilakukan secara berulang dalam bentuk siklus. Satu siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Tiap siklus dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan dengan rincian 2 kali pertemuan pembelajaran dan 1 kali pertemuan tes.

(6)

Operasional-Konkret (7-11 tahun). Pada tahap ini, anak masih berpikir secara konkret. Ciri lain adalah anak berpikir logis, memperoleh pengetahuan melalui peristiwa nyata yang dialami, dan anak sudah mampu menyusun atau membuat suatu karya. Disamping itu, anak pada tahap ini masih senang bermain. Dengan penerapan model pembelajaran kartu arisan, anak terfasilitasi untuk belajar sambil bermain. Kegiatan tersebut sangat sesuai dengan karakteristik anak sehingga membuat mereka senang belajar. Adanya permainan dalam pembelajaran membuat anak lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini berdampak positif pada hasil belajar. Kesenangan tersebut sangat berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar.

Selanjutkan dikatakan pada saat kegiatan pembelajaran guru selalu memberikan reward dalam bentuk penguatan, pemberian hadiah, ataupun pujian kepada siswa. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memotivasi siswa dan menambah semangat siswa untuk belajar. Dalam kegiatan pembelajaran guru memberikan semua siswa kesempatan untuk berbicara tujuannya adalah agar semua siswa tidak ragu-ragu dalam mengeluarkan pendapatnya. Selain itu, pemerataan tersebut berfungsi juga untuk memunculkan motivasi dari dalam diri agar lebih berani dan aktif dalam memecahkan masalah serta ikut berpartisifasi dalam pembelajaran. Keberhasilan penelitian ini sesuai dengan keberhasilan penelitian Luthfia Komariyah (2009/2010). Hasil penelitian

tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Kartu Arisan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Persentase pencapaian hasil belajar pada siklus I adalah 77,5% dan pada siklus II 95%dengan kategori sangat baik. Begitu pula hasil penelitian Nurhayati Ita Sanjani (2011) juga menunjukkan hasil yang relevan dengan penelitian ini. Penerapan model pembelajaran Kartu Arisan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan persentase pencapaian hasil belajar siswa pada kriteria kurang, dan nilai rata-rata pos test dengan kriteria sangat baik.

Hasil penelitian Pralingga (2009/2010) juga menunjukkan penerapan model pembelajaran Kartu Arisan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Persentase pencapaian hasil belajarpada siklus I adalah 74,61, hasil belajar pada siklus II 89%, dan pada siklus III adalah 94,45% dengan kategori sangat baik. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, teori-teori pendukung, dan hasil penelitian yang relevan yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Kartu Arisan dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V semester ganjil SD No.2 Mendoyo Dangin Tukad tahun ajaran 2012/2013.

METODE PENELITIAN

Pendekatan dan Jenis Penelitian

(7)

teori-teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antarvariabel.variabel-variabel ini di ukur (biasanya dengan instrumen penelitian) sehingga data yang terdiri dari angka-angka dapat dianalisis berdasarkan prosedur statistik.

Penelitian eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam metode eksperimen, peneliti harus melakukan tiga persyaratan yaitu kegiatan mengontrol, memanipulasi, dan observasi. Dalam penelitian eksperimen, peneliti membagi objek atau subjek yang diteliti menjadi dua kelompok yaitu kelompok treatment yang mendapatkan perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan (Juliansyah Noor, 2011 :38-41).

Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan model kartu arisan) terhadap prestasi belajar sejarah pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan diadakan di SMAN 1 Seulimeum. Pemilihan lokasi ini didasari oleh observasi awal yang penulis lakukan dengan mewawancari dan diskusi dengan guru mata pelajaran Sejarah SMAN 1 Seulimeum, telah diperoleh hasil bahwa nilai peserta didik baik hasil ujian tengah semester maupun ujian semester rata-rata masih di bawah nilai KKM yang ingin dicapai oleh guru. Selain itu dari hasil diskusi juga diperoleh pengakuan guru mata pelajaran sejarah SMAN 1 Seulimeum bahwa proses pembelajaran selama ini masih menggunakan metode konfensional ceramah ceramah, sosio drama, diskusi dan lain-lain. Untuk waktu penelitian sudah dimulai sejak proposal penelitian ini dibuat tepatnya awal Maret 2015 dan akan direncanakan sampai April 2016.

Populasi dan Sampel

(8)

menjadi sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas yaitu kelas XIs-1 dan kelas XIs-3. Kelas XIs-1 yang terdiri dari 30 orang siswa dijadikan sebagai kelas kontrol dan XIs-3 yang terdiri dari 30 dijadikan kelas eksperimen. Penarikan sample secara Purposive sampling atau judgmental sampling yaitu penarikan sampel secara purposif merupakan cara penarikan sample yang dilakukan memiih subjek berdasarkan kriteria spesifik yang ditetapkan peneliti.

Teknik pengumpulan data

Untuk mendapatkan data maka teknik yang digunakan ialah :

Test

Test adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Anne Anastasi dalam Anas Sudijono (2011: 66) mengemukakan bahwa test adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang objektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. Adapun test yang akan penulis lakukan dalam penelitian ini disetiap berakhirnya proses belajar mengajar atau pada saat pemberian evaluasi. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data tentang prestasi siswa kelas XI pada mata pelajaran sejarah di SMAN 1 Seulimeum.

Dokumentasi

Sukardi, (2013: 47), mengemukakan bahwa sumber informasi dokumentasi ini memiliki peran penting, dan perlu

mendapat perhatian bagi para peneliti. Data ini memiliki objektifitas yang tinggi dalam memberikan informasi kepada para guru sebagai tim peneliti. Informasi dari sumber dokumen sekolah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu dokumen resmi dan dokumen catatan pribadi. Yang termasuk dokumen resmi, yaitu undang-undang dan peraturan pemerintahan yang relavan, keputusan presiden,keputusan menteri, laporan atau catatan pertemuan sekolah, silabus dan skema kerja, tes evaluasi yang digunakan serta hasilnya, dan tulisan hasil pertemuan antara guru sekolah. Adapun dokumen yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa apsen siswa, RPP guru mata pelajaran sejarah, silabus Kelas XI SMAN 1 Seulimeum, dan lain-lain.

Teknik Analisis Data

(9)

kategorisasi (data dipilah-pilah), penafsiran dan penyimpulan.

Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar mata pelajaran sejarah dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Kartu Arisan Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Seulimeum.

a. Uji homogenitas

Uji homogenitas adalah langkah yang dilakukan sebelum uji t untuk mengetahui apakah data berasal dari sampel populasi yang homogeny atau tidak. Data dikatakan homogeny apabila kemampuan peserta didik yang yang menjadi sampel penelitian memiliki nilai varians yang sama. Data yang diolah menggunakan uji fisher berupa data test. Rumus yang digunakan dalam uji homogenitas menurut sugiono (2014:140) sebagai berikut:

Fhitung=

Kriteria pengujiannya adalah jika Fhitung≥Ftabel taraf signifikan 5% dengan dk = (n1-1) maka data dianggap tidak homogen tetapi jika jika Fhitung ≤dari Ftabel maka data tersebut dikatakan homogen.

b. Uji Normalitas

Uji normalitas merupakan data setiap variabel penelitian yang akan dianalisis membentuk distribusi normal. Suatu da dikatakan berdistribusi normal apabila jumlah data diatas dan dibawah rata-rata ialah sama. Adapun tujuan dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah data yang diperoleh

dari kelas berdistribusi normal atau tidak. Rumus yang digunakan untuk membuktikan apakah suatu data berdistribusi normal, yaitu dengan rumus chi kuadrat menurut sugiono (2014:107)

²

= ∑

( ) Keterangan :

²= chi kuadrat

F0=frekuensi yang diobservasi Fh= frekuensi yang diharapkan

Jika perolehan nilai ² hitung dibandingkan dengan ²tabel dengan

taraf signifikan α = 5% pada derajat

kebebasan (dk) = (1-α) yang mengacu

pada tabel chi kuadrat, jika pengujian kriteria ²hitung ≥ ᵡ²tabel artinya data berdistribusi normal, akan tetapi jika

²hitung ≤ᵡ²tabel maka kedua data adalah berdistribusi normal.

c. Uji Validitas

Validitas adalah keadaan yang

menggambarkan tingkat instrumen

bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur.Kegunaan validitas yaitu untuk mengetahui sejauh mana

ketepatan dan kecermatan suatu

instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya yaitu agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut.

(10)

dengan menggunakan statistik uji t pada

taraf signifikan 5% (α =0,05), dengan

rumus yang dikemukakan oleh Sudjana, (2005: 38) yaitu:

2 r -1

2 -n r t

Keterangan:

t = Hasil hitung distribusi koefesien korelasi

n = Jumlah sampel yang diteliti r = koefesien korelasi antara variabel x dan y.

Kaidah pengujian menurut Riduwan, (2009: 218):

- jika thitung>dari ttabel, maka signifikan.

- jika thitung<dari ttabel, makatidak

signifikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses pengumpulan data dilakukan dengan tujuan agar mendapat data yang akurat, sehingga dapat tercapai hasil yang diinginkan. Untuk memperoleh data itu, peneliti melakukan evaluasi terhadap dua kelas yang berbeda yaitu

kelas XI

IPS 1 dan XI IPS 3 dengan masing-masing kelas berjumlah 20 siswa. Kelas XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen yang menggunakan model pebelajaran kartu arisan sedangkan kelas XI IPS 3 sebagai kelas control menggunakan metode konvensional.

Tabel 4.1 Daftar Nilaipost testSiswa Kelas XI IPS 1 (Eksperimen) Dan Nilai Siswa Kelas Control

(XI IPS 3)

Sumber: Hasil Post-test SMAN 1 Seulimeum Aceh Besar

Berdasarkan hasil post-test siswa kelas eksperimen (XI IPS 1) dan kelas control (X IPS 3) pada materi penulisan dan penelitian sejarah dapat dilihat pada tabel diatas, bahwa kelas eksperimen memiliki nilai tertinggi sebesar 96 dan nilai terendah 78, sedangkan untuk kelas control memiliki nilai tertinggi sebesar 85 dan nilai terendah 50.

Kriteria nilai ketuntasan siswa pada mata pelajaran sejarah adalah 76. Standar ketuntasan tersebut berdasarkan KKM yang telah diterapkan oleh guru mata pelajran di SMA. Berdasarkan nilai rata-rata diatas menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap kelas.

Kelas Eksperimen Kelas Konvensional N

o

Nama Siswa Nil ai

No Nama siswa Nilai

(11)

Saat proses pembelajarn dengan model kartu arisan berlangsung suasana kelas sangat kondusif untuk melakukan proses pembelajaran. Siswa kelas XI IPS-1 yang menjadi sampel peneliti dalam penelitian ini juga sangat tertarik dengan model pembelajaran kartu arisan karena sebelumnya mereka tidak pernah menerapkan model pembelajaran ini sehingga memeudahkan peneliti untuk melakukan proses pembelajaran.

Selanjutnya untuk mengetahui hasil dari prestasi belajar siswa menggunakan model koopertif tipe kartu arisan dan konvensional, maka peneliti menggunakan bantuan aplikasi SPSS hal ini dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam mengolah data.

Menurut Riduwan (2009: 218)

mengatakan, “Korelasi Pearson Product Moment(PPM) dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga ( -1 ≤ r ≤ + 1 ). Apabila r = -1 artinya korelasinya negative sempurna, r = 0 artinya tidak ada korelasi, dan r = 1 korelasinya sempurna positif (sangat

kuat)”. sedangkan harga r akan

dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut:

Tabel 4.2 Interpretasi Nilai r Interval Koefisien Tingkat

Hubungan 0,00-0,199

0,20-0,399 0,40-0,599 0,60-0,700 0,80-1,000

Sangat rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat tinggi (Sumber : Riduwan, 2009: 218)

1. Uji SPSS 20

Correlations

X Y

X

Pearson

Correlation 1 -.872 Sig. (2-tailed) .463

N 20 20

Y

Pearson

Correlation -.872 1 Sig. (2-tailed) .463

N 20 20

(Sumber : SPSS-20)

Berdasarkan data dari SPSS 20 maka diperoleh nilai r = 0,872. Berdasarkan hasil perhitungan yang terjadi pada XI IPS 1 adalah 0,178 pada koefisien korelasi yang berkisaran 0,80–

1,000 pada tingkat hubungan yang sangat tinggi. Taraf signifikan dalam penelitian ini adalah 5% (

α

= 0,05). Dengan hasil yang diperoleh dari pengolahan data maka terima Ha dan tolak H0, jadi dapat diberi kesimpulan bahwa model pembelajaran kartu arisan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMAN 1 Seulimum.

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas merupakan salah satu syarat sebelum dilakukan uji-t dalam suatu penelitian untuk mengetahui apakah data berasal dari dari populasi dan sampel yang homogen atau tidak.

Kelas Konvensional

Nilai

Test Fi Xi xi² fixi fixi² 50-56 3 53 2,809 159 8,427 57-63 2 60 3,600 120 7,200

(12)

a. Menghitung nilai rata-rata kelas

b. Menghitung nilai varians dan simpangan baku

Test Fi Xi xi² fixi fixi² 75-80 3 78 6,084 234 18,252 81-86 5 84 7,056 420 35,280 87-92 9 90 8,100 810 72,900 93-98 3 96 9,216 288 27,648 Jumlah 20 1,752 154,080

a. Nilai rata-rata kelas eksperimen

6

b. Nilai varians dan simpangan baku

Varians kelas konvensional : 5242 Varians kelas eksperimen : 242,35

Fhitung= Fhitung =

242,35

5242

Fhitung = 0,04

(13)

 

Berdasarkan hasil perhitungan diatas diperoleh nilai Fhitung= 0,04 dan nilai Ftabel= 0,95 jadi Fhitung≤Ftabelpada taraf signifikan 5% dengan dk=20 sehingga dapat dikatakan kelompok data penelitian kedua kelas adalah homogen, dan telah memenuhi syarat uji-t.

3. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji chi kuadrat. Berikut langkah-langkah penentuan nilai uji normalitas.

a) Menentukan nilai batas kelas (x) yaitu untuk menilai tes terkecil dikurangi dengan 0,5, dan untuk tes terbesar ditambah 0,5.

b) Menentukan angka baku (z) nilai dengan menggunakan rumus Z= yang diketahui untuk x= 70,85 dan s 7,242

c) Menentukan batas luar daerah adalah untuk luas dibawah standar dari O ke Z digunakan tabel Z.

d) Menentukan luas daerah (A) yaitu nilai terbesar pada batas luar daerah dikurangi nilai terkecil pada batas luar daerah. Dengan ketentuan apabila nilai-nilai pada Z skor mengandung (-) maka nilai batas luar daerah terbesar dikurangi nilai terkecil batas luar daerah. Akan tetapi, apabila nilai-nilai Z skor mengandung (-) dan (+) maka nilai batas luar daerah harus ditambahkan.

e) Menghitung frekuensi harapan (Fh) adalah luas daerah dikali banyaknya sampel atau Fh= A x n (n= 20)

Tabel uji normalitas

Nilai

daerah Fh Fo

50-56

49.5 -2.94 0.4916

0.0534 1.068 3 56.5 -1.98 0.4382

57-63

56.5 -1.98 0.4382

0.1501 3.002 2 63.5 -1.01 0.2881

64-70

63.5 -1.01 0.2881

0.2642 5.284 6 70.5 -0.04 0.0239

71-77

70.5 -0.04 0.0239

0.2756 5.521 1 77.5 0.91 0.2517

78-84

77.5 0.91 0.2517

0.1705 3.41 6 84.5 1.88 0.422

85-91

84.5 1.88 0.422

0.0624 1.248 2 95.5 2.85 0.4846

(14)

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai ²hitung= 1,65 dan ᵡ²tabel = 7,81pada taraf signifikan 5%, maka sesuai dengan kriteria pengujian jika

ᵡ²hitung ≤ᵡ²tabel maka data berdistribusi normal dan sudah memenuhi syarat uji-t.

4. Uji validitas

Uji validitas yaitu untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya yaitu agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut

Correlations

X X2

X2

Pearson Correlation -.322 Sig. (2-tailed) .167

N 20

X

Pearson Correlation .909**

Sig. (2-tailed) .000

N 20

**. Correlation is significant at the 0.01 level(2-tailed)

(Sumber : SPSS-20)

Uji validalitas yang telah diperoleh dengan bantuan software SPSS 20 menjelaskan bahwa data tersebut valid, dengan hasil yang diperoleh ,909 pada taraf nilai sangat valid hal ini dapat dilihat pada tabel korelasi r Product-moment.

5. Uji t

Selanjutnya untuk menguji kebenaran hipotesis apakah pengaruh yang terjadi itu diterima atau ditolak maka perlu dilakukan uji t dengan rumus sebagai berikut:

(15)

nilai thitungadalah sebesar 7,579 untuk melihat apakah hipotesis ditolak atau diterima langkah selanjutnya yaitu membandingkan t hitung dengan ttabel. Dalam menentukan t tabel harus berpedoman kepada tabel distribusi t. Nilai t tabel adalah 2,089 dengan taraf signifikan 5% (

α

= 0,05) serta derajat bebas db = 18 berdasarkan hasil tersebut dinyatakan bahwa (thitung= 7,579 > ttabel= 2,089) diketahui bahwa t hitung lebih besar dari pada t tabel maka hipotesis dalam penelitian ini diterima, dalam artian penerapan model pembelajaran tipe kartu arisan pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Seulimuem dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran sejarah tidak terdapat kendala yang besar dalam penerapan model pembelajaran tipe kartu arisan ini, akan tetapi model pembelajaran ini tidak semua siswa man mengarjakan permasalah yang diberikan oleh guru karena pembelajaran ini lebih kepada pembelajaran kelompok sehingga guru harus memantau proses pembelajaran dengan ketat.

Analisis Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Kartu Arisan Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Sejarah.

Penelitian yang yang dilakukan di SMA Negeri 1 Seulimum ini merupakan jenis penelitian eksperimen, yaitu menningkatkan hasil belajar siswa

dengan menggunakan model pembelajaran kartu arisan.

Pengambilan data dilakukan setelah proses pembelajaran dengan memberikan beberapa soal kepada siswa untuk mengukur hasil belajar yang telah berlangsung. Data di uji menggunakan uji homogenitas, uji normalitas dan uji validitas. Hasil dari uji-uji tersebut menunjukkan data bersifat homogen atau sama dan juga normal dan valid sehingga dapat dilakatakan data kelas tersebut telah memenuhi syarat uji-t.

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan bantuan Sofware SPSS 20 diketahui hasil bahwa terima Ha. Ha yang berarti terdapat pengaruh baik pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe KartuArisanterhadap prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimeum dah H0 tidak ada pengaruh pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe KartuArisanterhadap prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimeum. Dengan penerapan model pembelajaran kartu arisan pelajaran Sejarah dengan materi mataram kuno siswa kelas XI IPS sehingga nilai siswa pada kelas eksperimen tersebut mencapai diatas rata-rata nilai KKM, berbeda halnya dengan kelas XI IPS 3 ( kelas control) dimana nilai siswanya masih dibawah KKM.

(16)

arisan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah hal ini dapat dilihat dari (thitung= 7,579 > ttabel= 2,089) dimana thitung dikatakan lebih besar dari pada ttabel.Hipotesis diterima.

Analisis kendala-kendala yang di hadapi guru dalam pelaksanaan Model Pembelajaran Tipe Kartu Arisan

Model pembelajaran kartu arisan yang diterapkan di SMA Negeri 1 Seulimuem dapat membantu siswa dalam mengembangkan potensinya, siswa dituntut untuk dapat bekerja sama dalam kelompok dan memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapatnya, menyampaikan pendapat kepada teman berupa ilmu pengetahuan dan dan membantu daya ingat siswa serta membangun suasana belajar yang aktif dari membosankan menjadi menyenangkan.

Dalam menyampaikan langkah awal guru mengalami kendala karena siswa belum terbiasa belajar menggunakan model pembelajaran tersebut. Sesudah guru menjelaskan satu persatu langkah–

langkah model pembelajaran kooperatif tipe kartu arisan maka guru langsung mengawali pembelajaran sejarah. Ketika penerapan model pembelajaran kartu arisan digunakan, hanya saja pada kegiatan awal siswa kurang disiplin/kurang merespon dengan apa yang disampaikan oleh guru. Siswa kelas XI IPS 1 tersebut mengira pembelajaran yang akan berlangsung sama seperti biasanya yaitu kelas yang monoton

sehingga siswa kurang siap dengan model yang akan diterapkan oleh guru. Ketika guru menyampaikan pembelajaran yang berlangsung menggunakan cara/metode yang berbeda siswa mulai mununjukkan sikap yang positif dan mulai memberikan respon balik dan guru mulai bisa mempersiapkan kelas dengan kondusif sehingga pembelajaran berlangsung dengan baik dan siswa belajar dengan semangat.

Guru juga harus benar-benar membimbing siswa dalam belajar kelompok sehingga semua anggota kelompok aktif dalam memecahkan masalah yang berikan oleh guru mata pelajaran, tidak hanya ketua kelompoknya saja yang bekerja tetapi semua kelompok ikut memecahkan masalah yang diberikan. Hal ini juga membantu siswa agar menjadi bertanggung jawab dan memiliki mental percaya diri dalam belajar dan ketika memberikan pendapatnya ataupun ketika menjawab pertanyaan dari guru.

Dan dengan kurangnya waktu guru juga mengalami kendala karena harus mengerjar waktu belajar yang tidak cukup. Dalam belajar mata pelajaran yang menggunakan model pembelajaran kartu arisan ada beberapa siswa yang tidak memiliki kercayaan dalam diri, sehingga malu- malu menjawab jawaban yang ia pegang.

(17)

minat belajar siswa, yang akan berdampak pada hasil belajar yang maksimal. Terutama model pembelajaran yang aktif seperti kartu arisan yang diterapkan pada SMA Negeri 1 Seulimeum terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Model pembelajaran kartu arisan ini juga dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan sehingga siswa tidak cenderung bosan ketika proses belajar mengajar berlangsung.

KESIMPULAN

Setelah peneliti melakukan penelitian maka dapat disimpulkan hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Pengujian hipotesis yang didapat dalam penelitian ini diperoleh thitung= 0,872dan ttabel= 2,089. Jadi, thitung= 0,872>ttabel= 2,089, maka H0 tolak dan Ha diterima, yang artinya pembelajaran tipe kartu arisan dapat meningkatkan prestosi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimuem 2. Penerapan model artinya pembelajaran tipe kartu arisan pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI SMAN 1 Seulimuem berjalan sangat efisien, model pembelajaran ini merupakan hal terbaru bagi siswa kelas XI SMAN 1 Seulimuem sehingga siswa mengikuti proses pembelajaran dengan saksama.

Diharapkan kepada setiap mahasiswa agar dapat mempelajari lebih banyak lagi model pembelajaran agar ketika mengajar di sekolah mempunyai banyak metode dalam melakukan proses belajar mengajar.Diharapkan kepada

guru untuk senantiasa update supaya tahu model pembelajaran terbaru yang lebih baik dan lebih efektif untuk diterapkan ketika mengajar kepada siswa di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Bahri, Syaiful. Dkk. (2006).PsikologiPendidikan. Banda Aceh: UniversitasSyiah Kuala

Hamalik, Oemar (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Hamzah dan Mohamad, Nurdin (2012). Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Hanafiah, Nanang (2010). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Rafika Aditama

Huda, Miftahul. (2013). Cooperative Learning (Metode, Teknik,

Struktur dan Model

Penerapan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

(18)

Riduwan, 2009.Pengantar Statistika Sosial. Bandung: Alfabeta

Rusman (2012). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Setyosari, Punaji (2012). Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sudijono, Anas. (2012). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Sudjana (2005). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sukardi. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Tindakan Kelas

Implementasi dan

Pengembangannya. Jakarta: Bumi Aksara.

Suprijono, Agus. (2011). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(19)
(20)

Figur

Tabel 4.1 Daftar Nilai post test Siswa Kelas XI IPS 1

Tabel 4.1

Daftar Nilai post test Siswa Kelas XI IPS 1 p.10
Tabel 4.2 Interpretasi Nilai r

Tabel 4.2

Interpretasi Nilai r p.11
Tabel uji normalitas

Tabel uji

normalitas p.13

Referensi

Memperbarui...