• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE VOLUME HINGGA UNTUK PERSAMAAN ADVEKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "METODE VOLUME HINGGA UNTUK PERSAMAAN ADVEKSI"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

METODE VOLUME HINGGA UNTUK

PERSAMAAN ADVEKSI

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sains

Program Studi Matematika

Disusun Oleh: Ardianus Roy Yoman

NIM: 103114009

PROGRAM STUDI MATEMATIKA, JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

METODE VOLUME HINGGA UNTUK

PERSAMAAN ADVEKSI

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sains

Program Studi Matematika

Disusun Oleh: Ardianus Roy Yoman

NIM: 103114009

PROGRAM STUDI MATEMATIKA, JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2014

(3)

ii

FINITE VOLUME METHODS FOR

THE ADVECTION EQUATION

A PAPER

Presented as Partial Fulfillment of the

Requirements to Obtain the Degree of Sarjana Sains

Mathematics Study Program

Written by: Ardianus Roy Yoman Student ID: 103114009

MATHEMATICS STUDY PROGRAM, DEPARTMENT OF

MATHEMATICS

FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY

SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA

(4)

iii

MAKALAH

METODE VOLUME HINGGA UNTUK

PERSAMAAN ADVEKSI

Disusun Oleh:

Nama: Ardianus Roy Yoman

NIM: 103114009

Telah disetujui oleh:

Dosen pembimbing makalah

Sudi Mungkasi, S.Si., M.Math.Sc., Ph.D. Tanggal: 21 Juli 2014

(5)

iv

MAKALAH

METODE VOLUME HINGGA UNTUK

PERSAMAAN ADVEKSI

Dipersiapkan dan ditulis oleh: Ardianus Roy Yoman

NIM: 103114009

Telah dipertahankan di depan panitia penguji pada tanggal 25 Juli 2014

dan dinyatakan memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua : Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M.Sc. ...

Sekretaris : Lusia Krismiyati Budiasih, S.Si., M.Si. ...

Anggota : Sudi Mungkasi, S.Si., M.Math.Sc., Ph.D. ...

Yogyakarta, ...2014 Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Sanata Dharma Dekan

(6)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

"You may never know what results come of your action,

but if you do nothing there will be no result"

-Mahatma Gandhi-

Makalah ini dipersembahkan untuk,

Alah Bapa, Putra, dan Roh kudus,

Kedua orang tua tercinta, Petronius dan Lilis Suriyani,

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa makalah yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang disebutkan dalam daftar

pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 25 Juli 2014

(8)

vii

ABSTRAK

Persamaan adveksi merupakan persamaan yang bisa digunakan untuk memodelkan aliran fluida secara sederhana. Persamaan adveksi merupakan bagian dari hukum kekekalan, yaitu persamaan diferensial untuk kekekalan kuantitas fluida dimana kecepatan aliran fluidanya tertentu. Dalam makalah ini, persamaan adveksi diselesaikan menggunakan metode volume hingga. Metode volume hingga bekerja dengan cara membagi domain spasial ke dalam sel-sel, kemudian menghitung rata-rata sel untuk masing-masing sel tersebut. Metode volume hingga sering diinterpretasikan secara langsung sebagai aproksimasi beda hingga untuk persamaan diferensial. Menurut metode volume hingga, formulasi flux numeris memberikan pengaruh yang signifikan untuk persamaan tersebut. Oleh sebab itu, flux numeris yang akurat akan menghasikan solusi yang akurat pula untuk persamaan tersebut.

Tulisan ini menguji beberapa formulasi flux numeris yang bisa digunakan untuk menyelesaikan persamaan adveksi menurut metode volume hingga. Pengujian dilakukan menggunakan simulasi numeris. Analisis hasil simulasi yaitu membandingkan hasil solusi eksak dengan solusi numerisnya juga dipaparkan dalam makalah ini

Kata kunci: Persamaan diferensial, hukum kekekalan, persamaan adveksi, metode volume hingga

(9)

viii

ABSTRACT

Advection equation is an equation that can be used to model fluid in a very simple way. Advection equation is a kind of conservation laws, that is the differential equations for the conservation of fluid quantities moving with a certain velocity. In this paper, advection equation is solved using finite volume methods. Finite volume methods work by dividing the spatial domain into a finite number of cells, then aproximates the averages of quantities for each of these cells. Finite volume methods can be interpreted directly as a finite difference approximation to the differential equation. Based on finite volume methods, the formulation of the numerical flux have a significant influence to the equation. Thus an accurate numerical flux yields an accurate solution to the equation.

In this paper, we verify some formulations of numerical flux that can be used to solve the advection equations. We investigate the performance of these numerical fluxes using numerical simulations. Analysis of the simulation results are done by comparing the results of the exact solutions and their numerical solutions.

(10)

ix

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan dibawah ini,

Nama : Ardianus Roy Yoman

Nomor Mahasiswa : 103114009

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

METODE VOLUME HINGGA UNTUK PERSAMAAN ADVEKSI

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, dan mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 25 Juli 2014

Yang menyatakan

Ardianus Roy Yoman

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat yang

diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Sains pada Program Studi Matematika, Universitas Sanata Dharma.

Banyak tantangan dalam proses penulisan makalah ini, namun dengan penyertaan

Tuhan serta dukungan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini bisa diselesaikan.

Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Paulina Heruningsih Prima Rosa, S.Si., M.Sc. selaku dekan Fakultas Sains

dan Teknologi.

2. Lusia Krismiyati Budiasih, S.Si., M.Si selaku kaprodi program studi

matematika.

3. Sudi Mungkasi, S.Si., M.Math.Sc., Ph.D. selaku dosen pembimbing yang

dengan sabar dan penuh antusias dalam membimbing selama proses

penulisan makalah ini.

4. Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M.Sc. yang telah memberikan banyak masukan

selama proses penentuan topik tugas akhir.

5. Y. G Hartono, S.Si., M.Sc yang telah memberikan banyak masukan

mengenai topik yang dikerjakan.

6. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Matematika yang telah memberikan

(12)

xi

7. Kedua orang tuaku, Petronius dan Lilis Suriyani, serta kedua kakak dan

adikku, Monica Rita, Bernardus Bayu, dan Yulitha Erye Aryani yang selalu

mendukungku dengan penuh kasih.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam penyusunan makalah ini.

Yogyakarta, 25 Juli 2014

Penulis

(13)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN JUDUL DALAM BAHASA INGGRIS ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRAK DALAM BAHASA INGGRIS ... viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Pembatasan Masalah ... 4

D. Tujuan Penulisan ... 4

E. Metode Penulisan ... 4

F. Manfaat Penulisan ... 4

G. Sistematika Penulisan ... 5

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

(14)

xiii

B. Aturan Rantai ... 8

C. Integral ... 9

D. Jacobian Suatu Fungsi Bernilai Vektor ... 12

E. Hukum Kekekalan ... 13

F. Persamaan Diferensial Hiperbolik ... 14

G. Hukum Kekekalan dan Persamaan Diferensial ... 15

H. Domain Dependen dan Range Influence untuk Persamaan Hiperbolik ... 19

BAB III METODE VOLUME HINGGA ... 22

A. Bentuk Umum untuk Hukum Kekekalan ... 22

B. Persamaan Adveksi ... 25

C. Kondisi CFL ... 27

D. Flux Unstable ... 30

E. Flux Lax-Friedrichs ... 31

F. Flux Richtmyer Dua-Langkah Lax-Wendroff... 31

G. Flux Upwind ... 32

BAB IV PERBANDINGAN HASIL BEBERAPA FLUX NUMERIS DALAM PENYELESAIAN PERSAMAAN ADVEKSI ... 33

A. Flux Unstable ... 33

B. Flux Lax-Friedrichs ... 35

C. Flux Richtmyer Dua-Langkah Lax-Wendroff ... 37

D. Flux Upwind ... 39

(15)

xiv

BAB V PENUTUP ... 42

A. Kesimpulan... 42

B. Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA... 43

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bab ini akan dijelaskan latar belakang, rumusan dan pembatasan

masalah, tujuan dan manfaat penulisan, juga akan disertakan sistematika

penulisan.

A. Latar Belakang

Adveksi berkaitan erat dengan aktivitas atau pergerakan suatu benda dari

suatu tempat tertentu ke tempat lainnya untuk waktu tertentu. Fenomena adveksi

yang terjadi di alam sekitar misalnya aliran air dari hulu sungai ke bagian hilir

sungai.

Fenomena-fenomena adveksi sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari

namun hampir tidak pernah terpikir bahwa fenomena-fenomena tersebut dapat

dijelaskan secara metematis. Matematika sungguh-sungguh dapat diterapkan pada

fenomena-fenomena adveksi dan dapat dibuat model dari gejala-gejala yang ada

dengan matematika kemudian menyelesaikan model tersebut dengan teknik-teknik

matematika tertentu. Model yang telah dibuat tersebut diharapkan mampu

mewakili kondisi yang sebenarnya, sehingga dengan menyelesaikan model

tersebut harapannya diperoleh solusi untuk masalah yang sebenarnya.

Tulisan ini akan mengulas mengenai model aliran secara sederhana. Untuk

menyelesaikan model aliran tersebut, dibutuhkan suatu media atau alat

(17)

untuk melakukannya. Persamaan adveksi merupakan model matematika yang bisa

digunakan sebagai sarana untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tulisan ini

akan menyelesaikan persamaan adveksi tersebut secara numeris dan secara khusus

metode yang digunakan adalah metode volume hingga.

Metode volume hingga berkaitan erat dengan metode beda hingga, bahkan

metode ini sering diinterpretasikan secara langsung sebagai aproksimasi beda

hingga untuk persamaan diferensial. Metode beda hingga mengaproksimasi titik

pada titik-titik grid, sedangkan pada metode volume hingga domainnya dibagi ke

dalam sel grid dan mengaproksimasi integral-integral q untuk masing-masing sel

grid tersebut (q adalah kuantitas yang mengalir). Grid merupakan potongan kecil

dari struktur yang akan dianalisa.

Persamaan adveksi merupakan bentuk khusus dari persamaan diferensial

untuk Hukum Kekekalan

( ) 0

Pada persamaan adveksi, kecepatan perambatannya konstan, dengan kata lain

persamaan adveksi adalah hukum kekekalan dengan kecepatan konstan. Misal Q

merupakan pendekatan numeris dari q, dengan metode Euler diperoleh,

0

Metode Euler merupakan salah satu metode numeris yang digunakan untuk

menyelesaikan persamaan diferensial. Persamaan yang terakhir dapat ditulis

(18)

3

) ( 1/2 1/2 1

 

  

n i i

n

F F

x t Q

Q ,

dimana xxi1/2 xi1/2.

Dari skema metode volume hingga di atas tampak bahwa nilai n1

Q sangat

bergantung pada fungsi flux F, sehingga keakuratan dari persamaan tersebut akan

sangat tergantung pada fungsi flux F. Semakin baik fungsi flux F yang

digunakan, maka pendekatan numerisnya akan semakin baik pula, artinya bahwa

error numerisnya sangat kecil. Oleh karena itu, akan diuji beberapa fungsi flux F

dan mencari fungsi flux F yang terbaik untuk persamaan adveksi tersebut. Berikut

ini macam-macam fungsi flux F:

1. Unstable,

2. Lax-Friedrichs,

3. Richtmyer dua-langkah Lax–Wendroff,

4. Upwind.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana menyelesaikan persamaan adveksi menggunakan metode

volume hingga?

2. Bagaimana cara menentukan flux terbaik untuk menyelesaikan

persamaan adveksi menggunakan metode volume hingga?

(19)

C. Pembatasan Masalah

Tulisan ini hanya membahas penyelesaian metode volume hingga dan

terbatas pada satu dimensi.

D. Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan menentukan fungsi flux F yang terbaik dari keempat

formulasi untuk menyelesaikan persamaan adveksi dengan metode volume

hingga. Keempat formulasi tersebut adalah unstable flux, Lax-Friedrichs flux,

Richtmyer dua-langkah Lax-Wendroff, dan upwind.

E. Metode Penulisan

Metode yang digunakan untuk menulis tulisan ini adalah studi kepustakaan,

yaitu dengan mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan topik, guna

tercapainya tujuan penulisan.

F. Manfaat Penulisan

Manfaat yang diperoleh setelah mempelajari topik ini adalah dapat

menyelesaikan persamaan adveksi dengan menggunakan fungsi flux F yang

terbaik, sehingga error dari penyelesaian numerisnya akan sangat kecil. Dengan

demikian, penyelesaian numerisnya akan dekat dengan penyelesaian eksaknya.

Harapan yang lebih besar adalah flux yang terbaik tersebut bisa digunakan untuk

menyelesaikan persamaan diferensial untuk hukum kekekalan, dimana secara

(20)

5

G. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

B. RUMUSAN MASALAH

C. PEMBATASAN MASALAH

D. TUJUAN PENULISAN

E. METODE PENULISAN

F. MANFAAT PENULISAN

G. SISTEMATIKA PENULISAN

BAB II LANDASAN TEORI

A. PERSAMAAN DIFERENSIAL

B. ATURAN RANTAI

C. INTEGRAL

D. JACOBIAN SUATU FUNGSI BERNILAI VEKTOR

E. HUKUM KEKEKALAN

F. PERSAMAAN DIFERENSIAL HIPERBOLIK

G. HUKUM KEKEKALAN DAN PERSAMAAN DIFERENSIAL

H. DOMAIN DEPENDEN DAN RANGE INFLUENCE UNTUK

PERSAMAAN HIPERBOLIK

BAB III METODE VOLUME HINGGA

A. BENTUK UMUM UNTUK HUKUM KEKEKALAN

B. PERSAMAAN ADVEKSI

(21)

C. KONDISI CFL

D. FLUX UNSTABLE

E. FLUX LAX-FRIEDRICHS

F. FLUX RICHTMYER DUA-LANGKAH LAX-WENDROFF

G. FLUX UPWIND

BAB IV PERBANDINGAN HASIL BEBERAPA FLUX NUMERIS

DALAM PENYELESAIAN PERSAMAAN ADVEKSI

A. FLUX UNSTABLE

B. FLUX LAX-FRIEDRICHS

C. FLUX RICHTMYER DUA-LANGKAH LAX-WENDROFF

D. FLUX UPWIND

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

(22)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

Landasan teori makalah ditulis dalam bab ini, landasan teori tersebut

meliputi: persamaan diferensial, aturan rantai, integral, Jacobian suatu fungsi

bernilai vektor, hukum kekekalan, persamaan diferensial hiperbolik, hukum

kekekalan dan persamaan diferensial, serta domain dependen dan range influence

untuk persamaan hiperbolik.

A. Persamaan Diferensial

Persamaan diferensial merupakan persamaan yang memuat fungsi yang

tidak diketahui beserta derivatifnya.

Contoh:

1. 0

dx dy

2. x dx dy

2

3. 0

    

y u x u

Berdasarkan variabel bebasnya, persamaan diferensial dikelompokan menjadi dua,

yaitu persamaan deferensial biasa (PDB) dan persamaan diferensial parsial (PDP).

(23)

Persamaan diferensial biasa merupakan persamaan diferensial dimana derivatifnya

hanya bergantung pada satu variabel bebas. Contoh 1 dan 2 merupakan persamaan

diferensial biasa.

Persamaan diferensial parsial merupakan persamaan diferensial dimana

derivatifnya bergantung pada lebih dari satu variabel bebas. Contoh 3 merupakan

persamaan diferensial parsial, dimana derivatifnya bergantung pada x dan y.

B. Aturan Rantai

Aturan rantai merupakan cara yang digunakan untuk mendiferensialkan

fungsi komposisi.

Aturan rantai kasus 1

Misal yf(u)dan ug(x). Jika g dan f adalah fungsi yang terdiferensiasi,

maka secara tidak langsung yadalah fungsi terdiferensiasi dari x dan

dx du du dy dx dy

 (2.1)

Aturan rantai kasus 2

Andaikan zf(x,y) adalah fungsi dari x dan y yang terdiferensiasi, dengan

) (t g

x dan yh(t) keduanya fungsi dari t yang terdiferensiasi. Maka zadalah

fungsi dari t yang terdiferensiasi dan

dt dy y z dt dx x z dt dz

    

(24)

9

C. Integral

Matematika mempunyai banyak operasi balikan, misalnya penambahan dan

pengurangan atau perkalian dan pembagian. Dalam hal pendiferensialan

(penurunan), balikannya disebut anti pendiferensialan (anti turunan).

Definisi

Fungsi F adalah suatu anti turunan dari f pada selang I, jika DFf pada I,

atau dengan kata lain jika F'(x) f(x) untuk semua x dalam I. Disini D

adalah operasi turunan.

Contoh:

Carilah suatu anti turunan dari f(x)x2pada (,).

Penyelesaian:

Fungsi F(x)x3 bukan anti turunannya karena turunan x3 adalah 3 2.

x Tetapi

hal ini menyarankan , 3 1 ) (x x3

F  yang memenuhi 3 . 3

1 ) (

' x x2 x2

F   Dengan

demikian, suatu anti turunan dari f adalah . 3 1x3

Anti turunan dinotasikan

...dx. Notasi tersebut menunjukan anti turunan

terhadap x. Anti turunan biasanya disebut integral tak tentu, anti turunan adalah

juga mengintegralkan.

(25)

Teorema

Jika radalah sebarang bilangan rasional kecuali 1, maka

Untuk membuktikan

f(x)dxF(x)C

cukup dengan membuktikan

Dx[F(x)C] f(x)

Gambar 2.1. Ilustrasi fungsi satu variabel.

(26)

11

dengan cara membagi interval [a,b] menjadi n subinterval yang memiliki

panjang yang sama yaitu (ba)/n untuk n0 kemudian menghitung total

jumlah luasan dari masing masing persegi panjang yang dibentuk oleh

masing-masing subinterval tersebut. Hal ini bisa dicapai dengan memilih x0,x1,...,xn

Gambar 2.2. Ilustrasi pendekatan integral menggunakan jumlahan Riemann.

Luas daerah dibawah kurva diaproksimasi dengan total luas daerah yang dibentuk

oleh masing-masing subinterval, aproksimasi luas di bawah kurva adalah

.

(27)

Persamaan yang terakhir disebut jumlahan Riemann fungsi f pada interval [a,b],

sebagai pendekatan luas daerah di bawah kurva yf(x)dan di atas sumbu x.

Semakin banyak subinterval yang digunakan, artinya x0 maka semakin baik pula aproksimasi luasan tersebut dan semakin dekat dengan luasan yang

sebenarnya. Dengan demikian,

Luas daerah =

D. Jacobian Suatu Fungsi Bernilai Vektor

Diberikan yf(x)dari n persamaan dalam n variabel x1,x2,...,xn,yakni

atau bisa dinyatakan dengan lebih eksplisit, sebagai berikut

)

matriks Jacobian (biasanya disebut Jacobian) didefinisikan sebagai berikut 

(2.6)

(2.7)

(28)

13

Determinan dari J adalah determinan Jacobian dan dinotasikan

.

E. Hukum Kekekalan

Hukum kekekalan merupakan persamaan diferensial hiperbolik yang

berbentuk

qt(x,t) f(q(x,t))x 0, (2.12)

dimana f(q) adalah fungsi flux. Persamaan di atas dapat ditulis kembali menjadi

bentuk

Persamaan tersebut hiperbolik jika Jacobian f'(q) memenuhi kondisi matriks A

seperti yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Hukum kekekalan (2.12)

juga akan dijelaskan lebih lanjut nanti.

n

(29)

F. Persamaan Diferensial Hiperbolik

Persamaan diferensial hiperbolik dapat digunakan untuk memodelkan

banyak fenomena yang melibatkan pergerakan gelombang. Perhatikan bentuk

persamaan diferensial berikut

qt(x,t)Aqx(x,t)0, (2.14)

dalam kasus yang paling sederhana yaitu koefisien konstan dan linear. Dalam hal

ini q:RRRn adalah vektor dengan n komponen yang menyatakan fungsi

yang tidak diketahui (tekanan, kecepatan, dan sebagainya) yang ingin ditentukan,

dan A suatu konstan merupakan matriks real berukuran nn. Andaikan Au

suatu konstan yang menyatakan kecepatan perambatan (aliran pada pipa satu

dimensi misalnya), maka persamaan (2.14) menjadi

, 0 ) , ( ) ,

(x tuq x t

qt x (2.15)

persamaan ini disebut persamaan adveksi. Hubungan kedua persamaan ini akan

dilihat nanti.

Persamaan qt(x,t)Aqx(x,t)0 adalah hiperbolik, jika matriks A

memiliki nilai eigen real dan berkorespondensi dengan n vektor eigen yang

bebas linear. Artinya, semua vektor dalam n

R dapat secara tunggal diuraikan

sebagai kombinasi linear dari nilai-nilai eigen tersebut. Secara formal definisi

persamaan diferensial hiperbolik adalah sebagai berikut.

Definisi

(30)

15

0

  x

t Aq

q (2.16)

dikatakan hiperbolik jika matriks A yang berukuran nn dapat didiagonalkan

dengan nilai eigen real.

Secara khusus untuk persamaan adveksi, diketahui bahwa Au, yang

merupakan suatu konstanta real. Jadi A dapat didiagonalkan oleh nilai A itu

sendiri dan nilai eigen dari A adalah A itu sendiri. Dengan demikian, persamaan

adveksi merupakan persamaan diferensial hiperbolik. Keterangan lengkap tentang

persamaan diferensial hiperbolik dapat ditemukan dalam buku karangan LeVeque

(2004).

Lebih lanjut, Jacobian fungsi flux f untuk persamaan adveksi adalah

, ) (x u

J  sebab f(q)uqsehingga

) ( )

( uq x q f

x

  

(2.17)

jelas bahwa f'(q)u atau J(x)u.

G. Hukum Kekekalan dan Persamaan Diferensial

Untuk melihat bagaimana hukum-hukum kekekalan muncul dari

prinsip-prinsip fisika, perhatikan masalah dinamika fluida yang paling sederhana, gas atau

cairan mengalir melalui pipa satu dimensi dengan suatu kecepatan u(x,t), yang diasumsikan bervariasi sepanjang pipa x dan waktu t.

Biasanya dalam dinamika fluida pergerakan fluida harus ditentukan yaitu

fungsi kecepatan u(x,t), tapi mari asumsikan ini sudah diketahui. Misal q(x,t)

adalah kepadatan zat warna pelacak, yang merupakan fungsi yang ingin

(31)

ditentukan. Secara umum densitas (kepadatan) harus diukur dalam satuan massa

per satuan volume, misalnya, gram per meter kubik, tetapi dalam mempelajari

pipa satu dimensi, lebih rasional untuk mengasumsikan q diukur dalam satuan

massa per satuan panjang, misalnya, gram per meter. Kepadatan ini

(dilambangkan dengan q). Dengan demikian,

2

1

) , (

x

x q xt dx (2.18)

merepresentasikan total massa dari zat warna pelacak di bagian pipa antara x 1 dan

2

x pada waktu tertentu t, dan memiliki satuan massa. Dalam masalah dimana

kinetika kimiawi dilibatkan, seringkali "massa" diukur dalam bentuk mol daripada

gram, dan kepadatan dalam mol per meter atau mol per meter kubik, karena hal

penting yang dipertimbangkan bukanlah massa zat kimia tapi jumlah molekul

yang ada. Untuk penyederhanaan massa akan dibicarakan dalam pengertian yang

umum dipahami.

Perhatikan bagian dari pipa x1xx2 dan perilaku dimana integral (2.18)

berubah seiring waktu, karena zat tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, maka

total massa dalam bagian ini dapat berubah hanya disebabkan oleh flux atau aliran

partikel melalui titik ujung dari bagian di x1 dan x2.

Misal Fj(t) adalah debit dimana zat warna pelacak mengalir melewati titik

tetap xi untuk i1,2,... (diukur dalam gram per detik, misalnya). Untuk

(32)

17

artinya flux ke kiri, dengan aliran flux yang besarnya Fj(t) dengan j1,2.

Karena jumlah massa di

x1,x2

berubah hanya karena flux di titik ujung, maka

( , ) 1( ) 2( ).

2

1

t F t F dx t x q dt

d x

x  

(2.19)

Persamaan (2.19) adalah bentuk integral dasar dari hukum kekekalan. Laju

perubahan dari total massa hanya disebabkan flux melalui titik ujung - ini adalah

dasar dari kekekalan. Selanjutnya, bagaimana fungsi flux Fj(t) dikaitkan dengan

) , (x t

q , sehingga dapat diperoleh persamaan yang mungkin diselesaikan untuk q.

Dalam kasus aliran fluida, flux di suatu titik x pada waktu t secara sederhana

diberikan oleh hasil kali dari densitas q(x,t) dan kecepatan u(x,t):

flux pada (x,t)u(x,t)q(x,t) (2.20)

Kecepatan menyatakan seberapa besar laju partikel bergerak melewati titik x

(dalam meter per detik, misalnya) dengan arah tertentu dan densitas q menyatakan

berapa gram zat kimia dalam satu meter fluida yang terkandung.

Karena u(x,t) adalah fungsi yang diketahui, fungsi flux tersebut dapat

ditulis menjadi

flux f(q(x,t),x,t)u(x,t)q(x,t). (2.21)

Secara khusus, jika kecepatan tersebut tidak bergantung pada x dan t, sehingga

u t x

u( , ) suatu konstan, maka

flux f(q(x,t))uq(x,t). (2.22)

(33)

Dalam hal ini flux dapat ditentukan langsung dari nilai kuantitas yang dikekekalan

pada saat itu. Untuk flux f(q) yang hanya bergantung pada nilai q, hukum kekekalan (2.19) menjadi

( , ) ( ( 1, )) ( ( 2, )).

Bagian kanan ditulis ulang menjadi :

2

f tertentu, misalnya (2.22). Persamaan ini harus memenuhi sepanjang interval

x1,x2

untuk sebarang nilai x1 dan x2. Masih belum jelas bagaimana cara

mencari fungsi q(x,t) yang memenuhi kondisi tersebut. Permasalahan tersebut

tidak akan diselesaikan secara langsung, tetapi diubah menjadi persamaan

diferensial parsial yang dapat ditangani dengan teknik standar. Untuk

melakukannya, harus diasumsikan bahwa fungsi q(x,t) dan f(q) cukup mulus.

atau dimodifikasi menjadi :

 

integran tersebut harus sama dengan nol. Dengan demikian diperoleh persamaan

(34)

19

Persamaan ini disebut bentuk diferensial untuk hukum kekekalan. Persamaan

tersebut bisa ditulis ke dalam bentuk :

qt(x,t) f(q(x,t))x 0

G. Domain Dependen dan Range Influence untuk Persamaan Hiperbolik

Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai domain dependence dan range

influence untuk persamaan hiperbolik.

1. Persamaan Hiperbolik dengan n buah karakteristik.

Domain dependen dari (X,T) didefinisikan sebagai berikut :

D(X,T)

XpT:p1,2,...,n

dimana (X,T) adalah titik yang ditetapkan pada ruang-waktu dan p

adalah

kecepatan gelombang. Domain dependen diilustrasikan pada Gambar 2.3(a).

Tanpa mengurangi kebenaran secara umum, diambil n3. Nilai dari data awal pada titik-titik lainnya tidak memiliki pengaruh pada nilai q di (X,T).

(35)

Gambar 2.3. Suatu sistem hiperbolik khusus dengan 102 3, (a)

memperlihatkan domain dependen dari titik (X,T), dan (b) memperlihatkan range influence dari titik x0. Jika 0 arah perambatannya ke bagian kiri dari titik, sedangkan untuk 0 perambatannya ke bagian kanan titik.

Sekarang fokus pada titik tunggal x0 pada waktu t0, perhatikan pengaruh

data q(x0) terhadap solusi pada q(x,t). Pilihan data pada saat ini hanya akan

mempengaruhi solusi sepanjang karakteristik x0 pt untuk indeks p1,2,...,n.

Himpunan titik-titik ini disebut range influence dari titik x0. Range influence

diilustrasikan pada Gambar 2.3(b).

2. Persamaan Adveksi dengan Satu Karakteristik

Domain dependen dari (X,T) didefinisikan sebagai berikut :

D(X,T)

XuT

dimana (X,T) adalah titik yang ditetapkan pada ruang-waktu dan u adalah

konstanta yang menyatakan kecepatan perambatan. Domain dependen

diilustrasikan pada Gambar 2.4(a). Nilai dari data awal pada titik-titik lainnya

tidak memiliki pengaruh pada nilai q di (X,T).

T

X3 X 2T X 1T

) , (X T

(a) (b)

0 x t

x0 1 x t 2

(36)

21

Gambar 2.4. Persamaan adveksi dengan kecepatan perambatan u 0, (a) memperlihatkan domain dependen dari titik (X,T), dan (b) memperlihatkan range influence dari titik x0. Untuk u 0 arah perambatannya ke bagian kanan

dari titik, sedangkan untuk u 0 perambatannya ke bagian kiri titik.

Perhatikan titik tunggal x0 pada waktu t 0, data q(x0) berpengaruh

terhadap solusi pada q(x,t). Pilihan data pada saat ini hanya akan mempengaruhi

solusi sepanjang karakteristik x0ut. titik ini disebut range influence dari titik

0

x . Range influence untuk persamaan adveksi diilustrasikan pada Gambar 2.4 (b).

T u X

) , (X T

(a) (b)

0 x

t u x0

(37)

22

BAB III

METODE VOLUME HINGGA

Dalam bab ini akan dijelaskan metode volume hingga yang dapat digunakan

untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum kekekalan.

A. Bentuk Umum untuk Hukum Kekekalan

Pada ruang dimensi satu, metode volume hingga bekerja dengan cara

membagi domain spasial ke dalam interval-interval (grid sel) dan

mengaproksimasi integral q untuk masing-masing volume grid sel tersebut. Pada

setiap langkah waktu, nilai-nilai integral tersebut diperbaharui dengan aproksimasi

terhadap flux di ujung interval.

Misal sel ke-i dinotasikan dengan Ci (xi1/2,xi1/2) seperti pada Gambar

3.1. Nilai dari n i

Q akan mengaproksimasi rata-rata nilai sepanjang interval ke-i

pada waktu tn

Skema integral dari hukum kekekalan

(38)

23

Gambar 3.1. Ilustrasi metode volume hingga memperbaharui rata-rata sel n i

Q

dengan flux pada tepi sel dalam ruang xt.

Bentuk ini dapat digunakan untuk membangun suatu algoritma. Diberikan n,

i

Persamaan tersebut dibagi dengan x, diperoleh

Hal ini mengatakan secara langsung bagaimana rata-rata sel dari q di perbaharui

pada satu langkah waktu. Secara umum, meskipun integral waktu pada bagian

kanan (3.3) tidak bisa ditentukan secara langsung karena q(xi1/2,t) bervariasi

terhadap waktu sepanjang masing-masing tepi sel dan tidak ada solusi eksaknya,

1

(39)

tapi hal ini memberikan petunjuk untuk mempelajari metode numerik dengan

Jika rata-rata flux diaproksimasi berdasarkan pada nilai n,

Q maka akan

dihasilkan metode yang sepenuhnya diskret.

Andaikan n i

F1/2 dapat dihasilkan dengan hanya bergantung pada nilai n i

Q1

dan n,

i

Q rata-rata sel pada kedua sisi dari interface ini. Dengan demikian

)

dimana F merupakan suatu fungsi flux. Metode (3.4) menjadi

)].

Metode spesifik dihasilkan tergantung pada bagaimana memilih rumus F, namun

pada umumnya sebarang metode jenis ini merupakan metode eksplisit dengan

three-point-stencil, artinya bahwa nilai n1

i

Metode (3.7) dapat dilihat langsung sebagai aproksimasi beda hingga untuk

(40)

25

B. Persamaan Adveksi

Untuk flux (2.22), hukum kekekalan (2.27) menjadi

.

Persamaan ini disebut Persamaan Adveksi.

Teorema

Penyelesaian eksak untuk persamaan adveksi adalah q(x,t)P(xut),untuk

sebarang P.

Bukti:

Penyelesaian tersebut diperoleh menggunakan metode karakteristik. Perhatikan

tingkat perubahan dari q(x(t),t) yang diukur dengan suatu pengamat yang

bergerak xx(t). Dengan menggunakan aturan rantai diperoleh:

.

ditetapkan, sedangkan suku (dx/dt)(q/x) merepresentasikan perubahan karena

pengamat bergerak ke daerah yang berbeda. Jelas bahwa jika pengamat bergerak

dengan kecepatan u, yaitu

(41)

Dengan demikian, q adalah konstan. Suatu pengamat yang bergerak dengan

kecepatan u akan melihat tidak ada perubahan dalam q.

Dengan cara ini, persamaan diferensial (3.8) telah diganti dengan dua

persamaan diferensial biasa, (3.10) dan (3.11). Integralkan persamaan (3.10)

diperoleh

0 x t u

x  (3.12)

persamaan untuk keluarga karakteristik yang sejajar dari (3.12) digambarkan pada

gambar (3.2). Ingat bahwa t0 dan xx0. Nilai q(x,t) konstan sepanjang garis

ini. q merambat dengan kecepatan u [lihat (3.10)].

Gambar 3.2. Karakteristik untuk persamaan adveksi

Jika q(x,t) diberikan nilai awalnya pada t0,,

q(x,0)=P(x) (3.13)

Lalu tentukan q pada titik (x,t). Karena q konstan sepanjang karakteristiknya,

). ( ) 0 , ( ) ,

(x t q x0 P x0

q   (3.14)

Diberikan x dan t, parameter yang diketahui dari karakteristik, x0 xut,maka

t

x 0

x

(42)

27

Kondisi CFL (Courant-Friedrichs-Lewy) merupakan syarat yang harus

dipenuhi (syarat perlu) metode volume hingga atau metode beda hingga agar

stabil dan konvergen ke solusi persamaan diferensial, yaitu ketika grid diperkecil

atau xdiperkecil.

qt x sehingga penyelesaian eksaknya hanya didefinisikan pada

kecepatan u dan bergerak sejauh ut dalam satu langkah waktu. Gambar 3.3(a)

memperlihatkan situasi dimana utx, sehingga informasi merambat kurang

ditentukan, jika flux numeris ini hanya bergantung pada n i

Q1 dan n.

i

Q

Hal ini merupakan akibat dari kondisi CFL, CFL berasal dari nama Courant,

Friedrichs, dan Lewy. Mareka menulis salah satu paper pertama mengenai metode

beda hingga untuk persamaan diferensial parsial pada 1928. Mereka

(43)

Gambar 3.3. Karakteristik untuk persamaan adveksi, menggambarkan informasi yang mengalir ke sel Ciselama langkah waktu tunggal. (a) untuk langkah waktu

yang cukup kecil, flux di xi1/2 hanya tergantung pada nilai-nilai sel sekitarnya,

yaitu hanya tergantung pada n i

Q1dalam kasus ini dimana u 0. (b) untuk langkah waktu yang besar, flux tersebut akan bergantung pada nilai-niai yang lebih jauh.

menggunakan metode beda hingga sebagai alat analitik untuk membuktikan

eksistensi penyelesaian persamaan diferensial tertentu. Idenya adalah menentukan

barisan dari aproksimasi penyelesaian (menggunakan metode beda hingga),

membuktikan bahwa mareka konvergen ketika grid diperkecil, dan

memperlihatkan limit fungsinya pasti memenuhi persamaan diferensial parsial

(PDP), memberikan eksistensi dari suatu solusi. Dalam proses membuktikan

konvergensi barisan ini, mereka menyadari syarat stabilitas yang diperlukan untuk

metode numeris :

Kondisi CFL : suatu metode numeris dapat konvergen hanya jika domain

dependen numerisnya memuat domain dependen sebenarnya dari PDP.

(44)

29

Domain dari dependen D(X,T) untuk PDP telah didefinisikan di bab II.

Domain dependen numeris dari metode dapat didefinisikan dengan cara yang

sama sebagai himpunan titik-titik dimana data awal mungkin dapat mempengaruhi

penyelesaian pada titik (X,T). Ilustrasi untuk metode beda hingga dimana

nilai-nilai pointwise dari Q digunakan akan mempermudah pemahaman seperti yang

ditunjukan pada Gambar 3.4. Pada Gambar 3.4(a) terlihat bahwa Qi2 bergantung

pada ,Q ,Q1i 1

3.4(b), aproksimasi numeris pada titik ini sekarang bergantung pada data awal di

lebih banyak titik dalam interval 4 b 4 b.

x metode beda hingga eksplisit tiga-titik, dengan jarak a.

x

(45)

Supaya kondisi CFL dipenuhi, domain dependen dari penyelesaian

sebenarnya harus terletak dalam interval ini. Untuk persamaan adveksi

, Kondisi CFL kemudian memerlukan

. selalu cukup untuk menjamin kestabilan.

D. Flux Unstable

(46)

31

E. Flux Lax-Friedrichs

Skema Lax-Friedrichs mirip dengan skema unstable, hanya saja n i

Metode tersebut tampak tidak seperti skema (3.4). Meskipun demikian,

metode tersebut dapat dibuat ke dalam skema (3.4) dengan mendefinisikan flux:

),

F. Flux Richtmyer Dua-Langkah Lax-Wendroff

Pada metode ini, q diaproksimasi pada waktu, ,

menyelesaikan persamaan adveksi adalah

1/2 ( 11//22)

(47)

Nilai 1/2 2 / 1

 

n i

Q diperoleh menggunakan skema Lax-Friedrichs.

G. Flux Upwind

Dari Gambar 3.3(a) terlihat bahwa flux yang melalui bagian kiri sel

ditentukan sepenuhnya oleh n i

Q1. Oleh karena itu, flux untuk metode upwind

yaitu

1/2 1.

n i n

i Q

F (3.27)

Dengan mensubtitusi persamaan tersebut ke persamaan 3.4 diperoleh

)

( 1

1 n

i n i n

n

Q Q x t Q

Q  

  

(48)

33

BAB IV

PERBANDINGAN HASIL BEBERAPA FLUX NUMERIS DALAM

PENYELESAIAN PERSAMAAN ADVEKSI

Pada bagian ini akan dipaparkan hasil-hasil simulasi numeris untuk empat

flux, yaitu Unstable, Lax Friedrichs, Richmyer Dua-Langkah Lax-Wendroff, dan

Upwind. Flux-flux tersebut akan diuji untuk beberapa nilai xdan t,

selanjutnya hasil simulasi tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel serta

gambar.

Simulasi numeris untuk masing-masing flux dilakukan menggunakan

program MATLAB dengan kondisi awal

Error dihitung dengan menggunakan rumus

mendiskretkan domain ruang-x.

A. Flux Unstable

Dalam bagian ini, akan dipaparkan hasil simulasi penyelesaian persamaan

adveksi menggunakan unstable flux. Seperti yang telah disebutkan di atas,

(49)

simulasi ini dilakukan untuk beberapa nilai xdant. Berikut merupakan hasil simulasi numeris untuk persamaan adveksi menggunakan unstable flux.

Tabel 4.1. Hasil simulasi numeris menggunakan skema unstable untuk

Dari Tabel 4.1 di atas tampak bahwa semakin besar t yang di ambil, semakin

besar pula error yang dihasilkan. Bahkan untuk x yang kecil pun metode ini

menghasilkan error yang besar. Namun demikian, jika t dipilih sangat kecil

skema unstable akan menghasilkan error yang kecil juga seperti yang disajikan

oleh Tabel 4.2.

Gambar 4.1 memberikan ilustrasi geometris mengenai simulasi yang telah

dilakukan. Terlihat bahwa solusi numeris yang dihasilkan tidak stabil. Bahkan

solusi numeris tersebut membesar melebihi solusi eksaknya.

Dengan demikian, unstable flux bukanlah pilihan yang tepat untuk

(50)

35

Gambar 4.1. Grafik simulasi sumeris dengan skema Unstable untuk t=60 detik,

x

 = 0.0125 dan t=0.25x

B. Flux Lax-Friedrichs

Selanjutnya akan dipaparkan hasil simulasi numeris penyelesaian persamaan

adveksi menggunakan Lax-Friedrichs flux. Berikut merupakan hasil simulasi

numeris untuk persamaan adveksi menggunakan Lax-Friedrichs flux.

Tabel 4.3. Hasil simulasi numeris menggunakan skema Lax-Friedrichs untuk

x t 

 0.25

x

 Error pada

t=10 t=20 t=30 t=40 t=50 t=60 0.1

0.05 0.025 0.0125

0.0323 0.0211 0.0126 0.0070

0.0449 0.0323 0.0211 0.0126

0.0522 0.0396 0.0273 0.0172

0.0573 0.0449 0.0322 0.0211

0.0610 0.0489 0.0362 0.0244

0.0639 0.0522 0.0396 0.0273

Dari Tabel 4.3 tampak bahwa semakin besar t yang di ambil, semakin besar

pula error yang dihasilkan oleh skema Lax-Friedrichs. Misalnya pada x0.1

(51)

untuk t 0.25x, dimana error yang dihasilkan pada waktu t60 lebih besar

jika dibandingkan dengan waktu t10.

Tabel 4.4. Hasil simulasi numeris skema Lax-Friedrichs jika t diperkecil untuk

1 . 0

 x

t

 Error pada

t=10 t=30 t=60

0.25x

0.05x

0.01x

0.0323 0.0620 0.0828

0.0522 0.0773 0.0914

0.0639 0.0845 0.0951

Gambar 4.2. Grafik simulasi numeris dengan skema Lax-Friedrichs untuk t = 60 detik, x = 0.0125 dan t=0.25x

Tampak juga bahwa semakin kecil x yang dipilih maka error yang di hasilkan juga semakin kecil. Misalnya pada waktu t10, x0.1 menghasilkan error sebesar 0.0323, sedangkan pada x0.0125 hanya menghasilkan error sebesar 0.0070. Namun demikian, hal ini tidak berarti bahwa jika t diperkecil

(52)

37

dengan error yang dihasilkan saat dipilih t0.25x, yaitu 0.0323 seperti yang

disajikan Tabel 4.4.

C. Flux Richtmyer Dua-Langkah Lax-Wendroff

Pada bagian sebelumnya telah dilihat hasil simulasi menggunakan flux

dengan metode Lax-Friedrichs, berdasarkan hasil simulasi tersebut terdapat

perbedaan yang signifikan di bagian puncaknya. Sekarang akan dilihat flux

dengan metode Richtmyer dua-langkah Lax-Wendroff.

Tabel 4.5. Hasil simulasi numeris dengan metode Richtmyer untuk t 0.25x x

semakin besar pula error yang dihasilkan oleh skema Richtmyer Dua-Langkah

Lax-Wendroff, seperti yang terlihat pada Tabel 4.5. Misalnya pada x0.1

untuk t 0.25x, dimana error yang dihasilkan pada waktu t60 lebih besar

jika dibandingkan dengan waktu t10, namun demikian error yang dihasilkan metode ini lebih kecil dibandingkan erorr pada metode Lax-Friedrichs.

(53)

Tampak juga bahwa semakin kecil x yang dipilih maka error yang di

hasilkan juga semakin kecil. Misalnya pada waktu t10, x0.1 menghasilkan error sebesar 6.4409e-04, sedangkan pada x0.0125 hanya menghasilkan error sebesar 1.0136e-04. Namun demikian sama seperti metode sebelumnya, hal ini

tidak berarti bahwa jika t diperkecil maka errornya akan semakin kecil pula,

seperti yang terlihat pada Tabel 4.6. t0.01x menghasilkan error 8.8441e-04

pada saat waktu t10 untuk x0.1, hal ini lebih besar jika dibandingkan dengan error yang dihasilkan saat dipilih t 0.25x, yaitu 6.4409e-04.

Gambar 4.3. Grafik simulasi numeris dengan skema Richtmyer Dua-Langkah Lax-Wendroff untuk t = 60 detik, x = 0.0125 dan t=0.25x

Gambar 4.3 memberikan ilustrasi geometris mengenai simulasi yang telah

dilakukan. Terlihat bahwa solusi numeris yang dihasilkan tampak berimpit dengan

solusi eksaknya, hal ini berarti solusi numerisnya cukup dekat dengan solusi

eksaknya. Dengan demikian Metode Richtmyer Dua-Langkah Lax-Wendroff bisa

(54)

39

Dari hasil simulasi numeris yang telah dilakukan sejauh ini, flux dengan

metode Richtmyer Dua Langkah Lax-Wendroff menghasilkan erorr yang paling

kecil. Dengan demikian, flux ini lebih baik dibandingkan flux-flux sebelumnya.

D. Flux Upwind

Telah dilihat bahwa flux dengan metode Richtmyer dua-langkah

Lax-Wendroff menghasilkan error yang cukup kecil jika dibandingkan dengan dua

metode sebelumnya. Berikut ini akan dipaparkan hasil simulasi dengan metode

upwind.

Dari Tabel 4.7 di atas tampak bahwa semakin besar t yang di ambil, semakin

besar pula error yang dihasilkan oleh metode upwind. Tampak juga bahwa

semakin kecil x yang dipilih maka error yang di hasilkan juga semakin kecil.

Demikian juga sama seperti metode sebelumnya jika t diperkecil maka errornya

akan membesar misal untuk t 0.01x error yang dihasilkan adalah 0.0131,

(55)

sedangkan untuk t 0.25x errornya adalah 0.0105, seperti yang terlihat pada

Tabel 4.8.

Hasil simulasi yang dilakukan dengan metode upwind cukup baik. Hal ini

bisa dilihat pada Gambar 4.4, dimana solusi numerisnya hampir menyerupai

solusi eksaknya. Dengan demikian, error solusi numerisnya cukup kecil.

Gambar 4.4. Grafik simulasi numeris dengan metode upwind untuk t = 60 detik,

x

 = 0.0125 dan t=0.25x

Telah dilihat bahwa flux upwind menghasilkan error yang cukup kecil juga

jika dibandingkan dengan flux unstable dan Lax-Friedrichs. Jika pada metode

Lax-Friedrichs terdapat perbedaan yang signifikan antara solusi eksak dengan

solusi numerisnya, pada metode upwind perbedaan antara solusi eksak dengan

numerisnya tidak terlalu besar. Dengan demikian flux ini bisa digunakan untuk

menyelesaikan persamaan adveksi.

Dari hasil simulasi numeris yang telah dilakukan diperoleh bahwa flux yang

(56)

41

begitu besar, bahkan untuk t yang besar skema unstable tidak stabil. Berbeda

halnya dengan Richtmyer dua-langkah Lax-Wendroff, error yang dihasilkan oleh

skema ini adalah yang paling kecil. Secara grafis juga terlihat bahwa solusi

numerisnya tampak berimpit dengan solusi eksaknya. Artinya bahwa solusi

numeris tersebut sudah sangat dekat dengan solusi eksaknya. Dengan demikian,

untuk menyelesaikan persamaan adveksi secara numeris, penulis menyarankan

penggunaan skema Richtmyer dua-langkah Lax Wendroff.

(57)

42

BAB V

PENUTUP

Dalam bab ini disajikan kesimpulan atas pembahasan bab-bab sebelumnya,

serta saran untuk penelitian selanjutnya.

A. Kesimpulan

Telah dilihat bahwa untuk menyelesaikan persamaan adveksi secara numeris

menggunakan metode volume hingga, harus dipilih flux yang baik sehingga dapat

diperoleh solusi yang diharapkan. Untuk itu, telah diuji beberapa flux dan

mendapatkan flux terbaik berdasarkan hasil simulasi numeris. Flux menggunakan

metode Richtmyer Dua-Langkah Lax-Wendroff adalah flux terbaik berdasarkan

simulasi numeris yang dilakukan, apabila dibandingkan dengan flux unstable,

Lax-Friedrichs, dan upwind. Dengan demikian untuk menyelesaikan persamaan

adveksi, penulis menyarankan penggunaan flux ini.

B. Saran

Penulis sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak

kekurangan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kelak akan ada yang

melanjutkan penelitian ini. Tulisan ini hanya membahas persamaan adveksi di

ruang dimensi satu, penulis berharap kelak ada yang akan melakukan penelitian

untuk ruang dimensi yang lebih tinggi, dan jika dimungkinkan menggunakan flux

(58)

43

DAFTAR PUSTAKA

Burden R.L., Faires J.D. 2010. Numerical Analysis. Canada: Cengange Learning.

Haberman R. 2004. Applied Partial Differential Equations with Forier Series and Boundary Value Problem. Upper Saddle River: Pearson Education.

Kuzmin D. 2010. A Guide to Numerical Methods for Advection Equations, Nürnber g: Friedrich-Alexander-Universität Erlangen.

LeVeque R.J. 2004. Finite-Volume Method for Hyperbolic Problems. Cambridge: Cambridge University Press.

LeVeque R.J. 1992. Numerical Method for Conservation Laws. Basel: Birkhäuser Verlag.

Purcell E.J.,Verberg D. 1987. Kalkulus dan Geometri Analitis. Jakarta: Erlangga (Alih bahasa oleh: I Nyoman Susila & Bana Kartasasmita).

Simon C. P., Blume L. E. 1994. Mathematics for Economists. New York: W. W. Norton.

Stewart J. 2003. Kalkulus. Jakarta: Erlangga (Alih bahasa oleh: I Nyoman Susila & Hendra Gunawan).

Swokowski E.W. 1979. Calculus with Analytic Geometry. Boston: Prindle, Weber & Schmidt.

(59)

Lampiran

Berikut ini adalah code program MATLAB untuk masing-masing flux

yang digunakan dalam simulasi numeris untuk persamaan adveksi.

1. Code untuk flux unstable

dx=0.1; dt=0.25*dx;

C=-20+0.5*dx :dx: 100-0.5*dx; Nc = length(C);

(60)

45

plot(C,Q,'*-',C,q,'k-') pause(0.001)

end

Error=sum(abs(q-Q))/Nc

2. Code untuk flux Lax-Friedrichs

dx=0.0125; dt=0.25*dx;

C=-20+0.5*dx :dx: 100-0.5*dx; Nc = length(C);

(61)

3. Code untuk flux Rytmer dua-Langkah Lax-Wendroff

dx=0.1; dt=0.25*dx;

C=-20+0.5*dx :dx: 100-0.5*dx; Nc = length(C);

% numerical evolution for i=1:Nc

(62)

47

4. Code untuk flux upwind

dx=0.1; dt=0.25*dx;

C=-20+0.5*dx :dx: 100-0.5*dx; Nc = length(C);

Gambar

Gambar 2.1. Ilustrasi fungsi satu variabel.
Gambar 2.2. Ilustrasi pendekatan integral menggunakan jumlahan Riemann.
Gambar 2.3. Suatu sistem hiperbolik khusus dengan
Gambar 2.4. Persamaan adveksi dengan kecepatan perambatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Simulasi Numeris Pada bagian ini akan dibahas simulasi numeris dari persamaan diferensial Lotka-Volterra termodifikasi yang ditunjukkan pada persamaan 4.1 dengan menggunakan metode

Dari tabel tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa galat solusi numerik skema beda hingga eksplisit untuk persamaan FitzHugh-Nagumo 3.3.3 konvergen pada interval −59.2

2.2 Metode Volume Hingga Metode Volume Hingga adalah metode diskritisasi yang sesuai untuk simulasi numerik dari berbagai macam tipe hukum konservasi, biasanya digunakan pada

Pada kasus ini simu- lasi numerik akan dibandingkan dengan hasil simulasi numerik menggunakan metode volume hingga dengan pendekatan Weighted Average Flux (WAF) yang

Model matematika sirkulasi udara pada siste pernafasn manusia adalah persamaan yang diselesaikan dengan metode volume hingga, dimana persamaan tersebut merupakan persamaan

Penelitian ini bertujuan untuk mencari algoritma yang akurat dan efisien dalam menyelesaikan persamaan Poisson dan Laplace. Penggunaan metode beda hingga order empat

Penyelesaian numerik persamaan gelombang air dangkal linier 1D pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode volume hingga, yang terlebih dahulu menentukan

Landasan teori yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah turunan, deret Taylor, klasifikasi persamaan diferensial, pendekatan numeris persamaan diferensial, metode