Kota Salatiga Tahun 2009)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Kewajiban dan Memenuhi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (SPd.I)
Dalam Ilmu Tarbiyah
NUR ASMAIYAH
NIM : 111 05 013
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
DEKLARASI
\
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan
bahwa skripsi ini tidak berisi mated yang pemah ditulis oleh orang lain atau
pemah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran
orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan
rujukan.
Apabila di kemudian hari temyata terdapat materi atau pikiran-pikiran
orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup
mempertanggung jawabkan kembali keaslian skripsi ini di hadapan sidang
munaqosah skripsi.
Demikian deklarasi ini dibuat oleh penulis untuk dapat dimaklumi.
Salatiga, Agustus 2009
Penulis,
NOTA PEMBIMBING
Lampiran : 3 Eksemplar
Hal : Naskah Skripsi
Sdri. Nur Asmaiyah
Salatiga, Agustus 2009
Kepada Yth.
Ketua STAIN Salatiga
d i
-SALATIGA
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan
seperlunya, maka skripsi Saudari :
Nama : Nur Asmaiyah
NIM : 111 05 013
Jurusan : Tarbiyah
Progdi : Pendidikan Agama Islam
Judul : PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF
DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN
PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus Pada Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga Tahun 2009)
Sudah dapat diajukan dalam sidang munaqasah
Demikian surat ini, harap menjadikan perhatian dan digunakan
sebagaimana mestinya.
P E N G E S A H A N
Skripsi Saudari : NUR ASMAIYAH Dengan Nomor Induk Mahasiswa:
111 05 013 yang beijudul : “PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN M A ’ARIF
DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM
(Penelitian pada Lembaga Pendidikan M a’arif Kota SalatigaTahun 2009)”
Telah dimunaqasahkan dalam sidang panitia ujian Jurusan Tarbiyah Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga pada hari :Kamis, 20 Agustus 2009 M
dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar
Saijana dalam Ilmu Tarbiyah.
20 Agustus 2009 M Salatiga,
29 Sya’ban 1430 H
Panitia Ujian
Drs. Ahmad Sultoni, M.Pd NIP. 19681104 199803 1 002
Dra. Siti Farikhah. M.Pd NIP. 19610623 198803 2 001
Drs. Miftahuddin. M.Ag NIP. 19700922 199403 1 002
Opiimh (Dan (Bej'baJtajgialah.
1. CM6ah Xflkung dan ‘M fa h P u tri (Orang yang (Pafing Kucintai)
2. KfCima Saudarafu 6eserta Tfpfuarganya (Orang yang paRng kusayangi)
3. 9d6af^ Indaf, sosof^ ‘Wanita pengganti I6 u fu (terima fgsih taf^ te rfira
atas semuanyayang diSerifgn fapadafai)
4. K ji^ d n s dan M 6af^Nunu^(Pencetus ide Pertama u n tu ^a ^u buRafi,
terima fasih atas do’a dan motivasinya)
5. Safia6at-safia6ati ter6aif$u, Jferu, Pfimmaf, P flfid , !Nina, Pafid, IndaH,
M 6afjN ining, M6afJFaiz, Lafa.
6. (Bofo-6ofo seperjnangan
7. SaHa6at dan SaHa6ati P M II
Dengan menyebut Nama Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, atas limpahan rahmat, hidayah, taufiq
dan inayahnya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada panutan umat islam
Nabi Muhammad SAW, sanak kerabat dan para sahabat yang telah menunjukkan
jalan yang benar dengan perantara agama islam.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan gima memenuhi kewajiban sebagai
syarat untuk memperoleh gelar saijana dalam ilmu Tarbiyah.
Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan serta bimbingan dari
berbagai pihak, maka dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan
terima kasih kepada:
1. Dr. Imam Sutomo, M.Ag selaku ketua Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri Salatiga
2. Drs. Miftahuddin, M.Ag selaku dosen pembimbing yang dengan penuh
*
kesabaran telah meluangkan waktunya untuk memberi pengarahan serta
bimbingan dalam penulisan skripsi ini.
3. Drs. Ibrahim Alfian, selaku pimpinan LP Ma’arif NU Kota Salatiga yang
telah memberikan izin penulis untuk mengadakan penelitian di LP Ma’arif
NU Kota Salatiga.
4. Mbah, Kakak-Kakakku dan Mbakku serta semua Familiku yang selalu
memberi do’a serta motivasinya.
mengisi hari-hari penuh keceriaan dan semangat.
dari kesempumaan, semua itu dikarenakan keterbatasan kemampuan dan
pengetahuan penulis sehingga masih banyak kekurangan yang perlu untuk
diperbaiki dalam skripsi ini.
Akhimya Penulis berharap dan berdo’a semoga skripsi ini memberikan
sumbangan positif bagi pemngembangan dunia pendidikan, khususnya Pendidikan
Agama Islam.
Penulis menyadari dan mengakui bahwa penulisan skripsi ini masih jauh
Salatiga, 10 Agustus 2009
Penulis
Ni________ NIM 111 05 013
HALAMANJUDUL ... 1
DEKLARASI... U NOTA PEMBIMBING... Ui PENGESAHAN ... iv
MOTTO... v
PERSEMBAHAN... vi
KATA PENGANTAR... vii
DAFTAR IS I... ix
LAMPIRAN-LAMPIRAN : LAMPIRAN I : Stuktur Organisasi Lembaga Pendidikan Ma’arif x LAMPIRAN II : Instrumen Pengumpulan Data... xiii
LAMPIRAN III : Catatan Wawancara... xix
♦ BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah... 3
C. Tujuan Penulisan... 4
D. Manfaat Penulisan... 4
E. Kajian Pustaka... 5
F. Fokus Penulisan... 9
G. Metode Penulisan... 10
H. Sistematika Penulisan... 17
1. Pengertian Lembaga Pendidikan Ma’arif... 21
2. Sejarah Lembaga Pendidikan Ma’arif... 21
. 3. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif... 23
4. Fungsi Lembaga Pendidikan Ma’arif... 25
5. Eksistensi Lembaga Pendidikan Ma’arif... 26
B. PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM 28 1. Pengertian Kemandirian Pendidikan Islam... 28
2. Indikator Kemandirian Pendidikan Islam ... 29
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian Pendidikan Islam ... 30
4. Maksud dan Tujuan Kemandirian Pendidikan Islam ... 32
5. Usaha Yang Dilakukan Untuk Mencapai Kemandirian Pendidikan Islam... 34
C. PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM
PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM 35
BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. GAMBARAN UMUM LEMBAGA PENDIDIKAN
Salatiga... 41
3. Profil Madrasah Pada Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kota Salatiga... 42
4. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga... 57
5. Program Keija Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga... 58
B. KEMANDIRIAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF KOTA SALATIGA... 61
1. Kemandirian Manajemen... 61
2. Kemandirian Kurikulum... 62
3. Kemandirian Keuangan... 64
4. Kemandirian Sarana dan Prasarana... 65
5. Kemandirian Hubungan Masyarakat... 66
pendidikan islam... 71
B USAHA-USAHA LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM DI KOTA SALATIGA... 76
1. Strategi Penguatan Kelembagaan... 77
2. Strategi Penguatan Sumber Daya Manusia... 79
3. Strategi Penguatan Mutu Madrasah... 80
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN... 87
B. SARAN... 89
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Pendidikan swasta di Indonesia yang berada dibawah Organisasi Nahdlatul
Ulama’, ia merupakan badan otonom yang didirikan untuk mewujudkan cita-cita
NU dalam bidang pendidikan.
Dalam skripsi ini peneliti bermaksud memaparkan keberperanan LP
Ma’arif NU dalam menaungi sejumlah Madrasah untuk menyelenggarakan satuan
pendidikan serta dalam melaksanakan kegiatan operasional pendidikan
berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan di Kota Salatiga, sehingga mampu
untuk disebut sebagai Lembaga Pendidikan yang menguatkan kemandirian
pendidikan Islam di Kota Salatiga.
Dalam pelaksanaannya LP Ma’arif NU banyak mengalami kendala dan
hambatan yang mewamai peijalanannya sehingga muncul anggapan bahwa LP
Ma’arif merupakan lembaga pendidikan yang lemah, tidak mempunyai
kredibilitas yang balk dimata Masyarakat. Namun pada kenyataannya, sampai saat
ini LP Ma’arif tetap eksis dan dalam bingkai makronya tetap dibutuhkan
Masyarakat Kita sebagai lembaga pendidikan yang mampu mengajarkan ilmu
umum dan ilmu agama sekaligus.
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Dal am kehidupan suatu Negara, pendidikan memegang peranan yang
amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup Negara dan bangsa. Karena
pendidikan merupakan wahana peningkatan dan pengembangan kualitas
sumber daya manusia serta sekaligus sebagai faktor penentu keberhasilan
pembangunan. Hal ini diakui bahwa “keberhasilan suatu bangsa sangat
ditentukan oleh keberhasilan dalam memperbaiki dan memperbaharui sector
pendidikan.1 Artinya, keberhasilan tersebut akan menentukan keberhasilan
bangsa ini dalam menghadapi tantangan zaman di masa depan.
Untuk itu secara yuridis formal, Negara mengamanatkan kepada
pemerintah “untuk mengusahakan dan menyelenggarakan suatu system
Pendidikan Nasional yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa.”1 2 Tentunya disadari bahwa sektor utama
dan pertama yang mendapat prioritas dalam pembangunan bangsa adalah
1 Aulia Reza Bastian, Reformasi Pendidikan: Langkah-langkah Pembaharuan dan Pemberdayaan Pendidikan dalam Rangka Desentralisasi Sisiem Pendidikan Indonesia, Dalam Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, MA, Drs. Surohim M.Si, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam (Respon KreatifTerhadap UUSisdiknas), Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2005. hlm.2
sector pendidikan yang aksentuasinya pada peningkatan keimanan dan
ketakwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta akhlak mulia.3.
Peningkatan keimanan dan ketakwaan akan lebih efektif, manakala
dioptimalkan melalui system pendidikan Islam, baik melalui proses
pembelajaran studi maupun melalui jalur lembaga pendidikan Islam. Sebagai
laboratorium yang berfungsi untuk mewujudkan visi dan misi dari pemerintah,
lembaga pendidikan Islam merupakan tempat untuk meningkatkan mutu
akademik yang dapat memfungsikan unsur dan komponen yang terlibat
langsung dalam kegiatan pendidikan yang diselenggarakannya.4
Dalam kaitannya dengan tugas diatas, idealnya lembaga pendidikan
Islam harus mampu untuk menjadi suatu badan yang mandiri, hal ini relevan
dengan visi Pendidikan Nasional yang ditetapkan dalam UU No.20 Tahun
2003, yakni “Terwujudnya Sistem Pendidikan sebagai pranata sosial yang
kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia
berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif
menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.5Visi di atas mengandung
kemandirian lembaga dalam mengelola dan melaksanakan satuan
pendidikannya dalam kerangka menuju keunggulan.
Namun, dalam realitasnya banyak lembaga pendidikan Islam yang
tidak mampu untuk menjadi lembaga yang mandiri, yang belum responsive
3 Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, MA, Drs. Surohim M.Si, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam (Respon Kreatif Terhadap UU Sisdiknas), Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2005. hlm.2
4 Ibid, him. 122
terhadap tuntutan hidup manusia dan masih menghadapi masalah-masalah
yang kompleks. Hal ini dapat dilihat dari ketertinggalannya dengan lembaga
pendidikan lain, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga masih
cenderung dilabelkan sebagai lembaga pendidikan “kelas dua”6
Lembaga Pendidikan Ma’arif sebagai salah satu lembaga pendidikan
Islam yang ikut menjadi bagian dari dunia pendidikan yang berkembang dan
bertahan hingga sekarang. Dengan ciri identitas sekolah ma’arif dan
komponen pendidikan Islam, menaungi sejumlah besar satuan pendidikan
formal, yang menjadi tanggung jawab langsung maupun yang bersifat afiliatif,
yang menjadi bagian integral dalam dunia pendidikan di Indonesia.7
Sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Islam, apakah Lembaga
Pendidikan Ma’arif mampu untuk menguatkan sistem Pendidikan Islam dalam
dunia pendidikan di Indonesia? Berangkat dari pertanyaan ini, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian yang diberi judul “Peran Lembaga Pendidikan
Ma’arif Dalam Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam di Kota Salatiga”
2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dan paparan latar belakang masalah yang telah
disebutkan di atas, maka ada beberapa rumusan masalah yang perlu penulis
ungkapkan :
1. Bagaimana profil Lembaga Pendidikan Ma’arif di Kota Salatiga?
2. Apa peran dan fungsi Lembaga Pendidikan Ma’arif di Kota Salatiga?
6 Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, MA, Drs. Surohim M.Si, op.cit., hlm.3
3. Apa usaha-usaha yang dilakukan Lembaga Pendidikan dalam penguatan
kemandirian pendidikan Islam di kota Salatiga?
3. TUJUAN PENULISAN
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan gambaran umum dan profil Lembaga Pendidikan
Ma’arif di kota Salatiga.
2. Untuk mengetahui peran dan fungsi Lembaga Pendidikan Ma’arif di kota
Salatiga.
3. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan Lembaga Pendidikan
i
Ma’arif dalam penguatan kemandirian pendidikan i,slam di kota Salatiga.
4. MANFAAT PENULISAN
1. Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
bagi khazanah keilmuan dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan
islam.
2. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sumber masukan dari
pihak Lembaga Pendidikan Ma’arif guna meningkatkan kemajuan sistem
5. KAJIAN PUSTAKA
1. Telaah Hasil Pemikiran Yang Relevan
Berdasarkan pengetahuan penulis, belum ada skripsi yang
membahas masalah ini, namun ada beberapa tulisan yang mempunyai
kemiripan dengan skripsi penulis, antara lain :
Pertama, Buku yang ditulis Oleh Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar,
MA dan Drs. Surohim, MSI yang beijudul Fungsi Ganda Lembaga
Pendidikan Islam (Respon Kreatif Terhadap UU Sisdiknas), menyatakan
“bahwa salah satu fungsi Lembaga Pendidikan Islam adalah menjadikan
kemandirian sekolah dalam mengelola dan melaksanakan satuan
pendidikannya dalam kerangka menuju keunggulan serta meningkatkan
mutu akademik.”
Kedua, Buku yang ditulis oleh Dr. Muhaimin, M.A yang beijudul
Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, menyatakan ’’Dalam konteks
otonomi daerah, saat ini sedang dikembangkan Manajemen Berbasis
Sekolah/Madrasah, yakni, “pengkoordinasian dan penyerasian sumber
daya yang dilakukan secara mandiri oleh madrasah dengan melibatkan
semua kelompok kepentingan yang terkait dengan madrasah
(stakeholders) secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk
memenuhi kebutuhan mutu madrasah dalam kerangka kebijakan
Pendidikan Nasional.”
Ketiga, buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag
hingga Metode Kritik, menyatakan “Tantangan yang mendasar bagi
pendidikan islam saat ini adalah mencari system pendidikan alternative
sebagai sintesis dari berbagai system pendidikan islam yang pemah ada.
Dengan demikian, Identitas, Karakter dan Kemandirian Sistem Pendidikan
Islam tersebut menjadi jelas”.
Keempat, buku yang ditulis oleh Jasa Ungguh Mulia yang beijudul
Pendidikan Islam Integratif, Upaya Mengintegrasikan Kembali Dikotomi
Ilmu dan Pendidikan Islam, menyatakan “Perencanaan desentralisasi
manajemen Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai suatu system
pengelolaan manajemen dalam Pendidikan yang dilakukan oleh masing-
masing Lembaga Pendidikan, system manajemen berbasis desentralisasi
bersifat parsial dalam arti manajemen “otonom”
2. Kerangka Teori
1) Tinjauan Tentang Peran Lembaga Pendidikan Ma’arif
Pendidikan merupakan ranah yang strategis untuk membangun
bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Untuk mencapai hal itu,
salah satunya diperlukan pembentukan pandangan hidup masyarakat
yang dapat mengarahkannya menjadi bangsa yang bermartabat.
Lembaga pendidikan adalah salah satu media penting yang dapat
membentuk bagaimana corak pandangan hidup seseorang atau
masyarakat, apakah pandangan hidup mereka hanya untuk kepentingan
di dunia saja atau untuk keduanya. Selain itu, lembaga pendidikan
hidup dan memiliki semangat mengembangkan ilmu dan teknologi
guna membangun bangsanya.8
Lembaga Pendidikan Islam walaupun mempunyai tujuan
khusus akan tetapi pendidikan yang dilaksanakannya hams merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional dal am
artian bahwa pendidikan pada Lembaga Pendidikan Islam harus dapat
memberikan kontribusi terhadap tujuan Pendidikan Nasional9. Karena
sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia khususnya dari awal
sampai akhir proses menamatkan anak didik telah diatur oleh pusat
sebagai pemegang kebijakan, maka perlu adanya restrukturisasi
ataupun reformasi dalam dunia pendidikan.
Tantangan yang dihadapi Oleh Lembaga Pendidikan Islam
pada era globalisasi ialah bagaimana mempersiapkan peserta didik,
pengajar, fasilitas dan kurikulum silabi untuk dapat mengantisipasi
beberapa hal, yaitu mengadaptasi dan mengelola pembahan,
menumbuhkan tradisi mengembangkan kemampuan diri, dan
mengembangkan kreatifitas Lembaga Pendidikan sebagai “ learning
organisation and creative center “.10
8 Dr. Hasbi Indra, Pendidikan Islam Melawan Globalisasi, Jakarta, Ridamulia, 2005. him. 189
9 Drs. Mansur, MA, Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004. him. 167-168
10 Ibid, him. 168
2) Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam.
Berkaitan dengan semakin meningkatnya tuntutan kualitas
pendidikan, maka pemaknaan pendidikan tidak cukup hanya
meletakkanya dalam pengertian sekolah, tetapi daripada itu lagi,
tuntutan kualitas tidak memungkinkan peserta didik melakukan
kegiatan pendidikan formal saja, tetapi mesti serentak dan bersamaan
dengan perlunya kebersamaan antara pendidikan formal, informal
maupun non formal. Karenanya memberdayakan semua komponen
pendidikan yang terlibat dalam proses penyelenggaraan pendidikan ini
serta mengatumya menjadi satu kesatuan adalah merupakan suatu
upaya untuk lebih memberdayakan pendidikan."
Implikasinya terhadap pendidikan Islam adalah menuntut adanya
kemandirian dalam penyelenggaraan satuan pendidikan islam , yang
berkaitan dengan kegiatan pembelajaran serta komponen operasional
sekolah. Adapun Komponen-komponen Madrasah yang harus dituntut
untuk mampu berdiri dalam keadaan mandiri dalam menguatkan
penyelenggaraan pendidikan sehingga Lembaga Pendidikan tersebut
dipandang mampu untuk menyelenggarakan dan mengelola pendidikan
diantaranya adalah:
1. Kemandirian Pengelolaan dan Pengorganisasian (Managemen)11 12
2. Kemandirian kurikulum13
11 Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional Di Indonesia, Jakarta, Kencana, 2004, him.211
12 Drs. Syafaruddin, M.pd, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Ciputat press, Jakarta, 2005. him. 242
3. Kemandirian keuangan dan pendanaan13 14
4. Kemandirian Sarana dan Prasarana15
5. Kemandirian hubungan Masyarakat16
Dalam kaitan ini, tentunya setiap penyelenggaraan satuan
pendidikan termasuk satuan pendidikan Islam dituntut untuk mampu
mengelola satuan pendidikan tersebut secara professional, sehingga
dapat dipertanggungjawabkan, dan dapat menjamin peningkatan mutu
pendidikan. Semua ini menuntut adanya penyiapan dan peningkatan
sumber daya manusia dalam mengelola hal tersebut. Untuk itu dalam
setiap pengelolaan satuan pendidikan islam harus menjalin keija sama
yang baik, dan melibatkan secara langsung dalam kemitraan antara
pemerintah, sekolah, masyarakat, dan pengusaha.
6. FOKUS PENELITIAN
Dalam penelitian ini, permasalahan yang penulis tekankan adalah
mengenai Peran Lembaga Ma’arif dalam Penguatan Kemandirian Pendidikan
Islam di Kota Salatiga melalui peran, fungsi serta usaha- usaha yang dilakukan
dalam menguatkan kemandirian pendidikan islam di kota Salatiga
13Departemen Agama Diijen Kelembagaan Agama Islam, Pedomcm Managemen Berbasis Kompetensi, Jakarta, 2005
14 Prof. Dr. Usman Abu Bakar, MA dan Drs. Surohim, MSI, Op.Cit, him. 106 15 Ibid, him. 106
16 Mujamil Qomar, Op. Cit. him. 183
7. METODE PENELITIAN
Untuk mempermudah penelitian dalam pengumpulan data dan
menganalisis data, maka penulis menggunakan metode dan pendekatan
sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Menurut jenisnya, penelitian ini adalah penelitian lapangan (field
research) yakni suatu penelitian yang bertujuan menangani studi yang
mendalaxn mengenai suatu unit sosial sedemikian rupa sehingga
menghasilkan gambaran yang teroganisir dengan baik mengenai unit sosial
tersebut17.
2. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif. Yang dimaksud deskriptif disini adalah untuk membuat
deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Sedangkan
penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah mengamati orang dalam
lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami
bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitamya.18
Penelitian kualitaif bukanlah mencari “kebenaran” mutlak.
Penelitian kualitatif mengalami adanya diluar dirinya. Oleh sebab itu,
penelitian dilakukan dalam situasi yang wajar dan alamiah karena pada
dasamya istilah penelitian alamiah lebih menekankan “kealamiahan”
sumber data.19
3. Metode Penentuan Subyek
Menurut Lexy J Moloeng, subyek penelitian atau biasa yang
disebut dengan informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk
memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.20
Dalam penelitian ini ditentukan informan penelitian secara
purposive {purposive sampling) dengan cara jemput bola (snow ball) yaitu
dengan menelusuri terns data-data yang dibutuhkan untuk menjawab
pertanyaan penelitian.21
Adapun informan (sumber informasi) dalam penelitian ini, peneliti
bedakan menjadi:
a. Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif.
b. Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif Ranting Kelurahan Kota
Salatiga.
c. Warga Sekolah MI, MTs NU, SMK Diponegoro yang berada dibawah
naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif kota Salatiga.
Informan tersebut dimungkinkan masih akan terns bertambah
sesuai kebutuhan data penelitian.
19 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1997, hlm.4
20 Ibid, hlm.64
21 Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rake Sarosin, hlm.26-27
4. Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data pada penelitian ini, ada beberapa metode
yang digunakan, yaitu:
a. Metode Observasi
Metode Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara
sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak pada suatu gejala atau
gejala-gejala pada obyek penelitian. Metode ini digunakan untuk
memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan penyelenggaraan
pendidikan islam oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif kota Salatiga.
b. Metode Wawancara
Metode Wawancara adalah proses memperoleh keterangan
untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka
antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau
respondent2
Sedang menurut Lexy J. Moleong, wawancara adalah
percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak
yaitu interviewer yang mengajukan pertanyaan dan interviewee yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.23
Adapun teknik interview yang digunakan adalah wawancara bebas
terpimpin. Metode wawancara ini, penulis gunakan sebagai metode
primer dalam pengambilan data. Interview ini diajukan kepada pihak-
pihak yang dianggap tahu tentang situasi dan kondisi pelaksanaan
22 Moh. Nazir, Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1985. Hal. 234 23 Lexy J. Moleong, Op. Cit, Hal. 135
usaha-usaha yang dilakukan Lembaga Pendidikan Ma’arif dalam
penguatan kemandirian pendidikan islam di kota salatiga.
Dalam hal ini penulis mengambil informan sebagai pihak yang
bisa diwawancarai adalah:
Pertama, Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif kota Salatiga
yakni mengenai data tentang kelembagaan Lembaga Pendidikan
Ma’arif kota Salatiga.
Kedua, Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif Ranting
kelurahan Kota Salatiga, informan ini diambil dari Pengurus Ranting
Kelurahan Lembaga Pendidikan Ma’arif di Salatiga. Informan
dianggap sebagai orang yang lebih tahu tentang pelaksanaan usaha-
usaha yang dilakukan untuk penguatan kemandirian pendidikan
islam di kota salatiga. Di tambah pengelola lain yang dianggap perlu
diwawancarai guna perkelengkapan data serta mengevaluasi kevalidan
data.
Ketiga, Warga Sekolah MI, MTs NU, SMK Diponegoro yang
merupakan madrasah pendidikan islam yang berada dibawah naungan
Lembaga Pendidikan Ma’arif di kota Salatiga.
c. Metode Dokumentasi
Metode Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal
atau variabel-variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, foto, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.
organisasi Lembaga Pendidikan Ma’arif, yang berkaitan dengan proses
berdirinya serta mengenai gambaran umum madrasah / sekolah yang
berada di bawah naungan lembaga Pendidikan Ma’arif.
5. Metode Analisis Data
Untuk memperoleh hasil penelitian yang lengkap, tepat dan benar,
maka diperlukan metode yang valid didalam menganalisis data.
Adapun analisis data yang digunakan adalah analisa data kualitatif,
dengan langkah-langkah:
a. Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dari lapangan yang dilakukan melalui
observasi, wawancara dan dokumentasi. Kualitas data ditentukan oleh
kualitas alat pengambilan data atau alat pengukur. Kalau alat
pengambilan data cukup reliabel dan valid, maka datanya juga cukup
reliabel dan valid.24
b. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi “kasar”
yang muncul dari catatan tertulis di lapangan.25 Reduksi data di sini
bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisa tapi merupakan bagian
dari analisa.
24 Sumardi Suryabrata, Metode Penelitian, Jakarta, Raja Grasindo Persada, 1995, hlm.60
c. Penyajian Data
Penyajian data disini dibatasi sebagai sekumpulan informasi
tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan
dan penarikan tindakan.26
d. Penarikan Kesimpulan / Verifikasi
Penarikan kesimpulan dalam pandangan ini hanyalah sebagian
dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverivikasi
pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisa selama
menulis dan merupakan suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan
lapangan dan mungkin begitu seksama dan akan memakan tenaga
dengan peninjauan kembali itu.27
Dari keempat komponen analisa diatas, prosesnya saling
berhubungan dan berlangsung terus menerus selama penelitian
dilakukan.
Adapun teknik analisisnya meliputi:
a) Deduktif
Merupakan cara berpikir yang menggunakan prinsip apa
saja yang dipandang benar pada semua peristiwa dalam suatu
kelas atau jenis, berlaku juga sebagai hal yang benar pada
semua peristiwa yang termasuk dalam kelas atau jenis itu.28
26 Ibid, him. 17 27 Ibid, him. 19
b) Induktif
Merupakan teknik berpikir yang berangkat dari fakta-
fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkrit,
kemudian dari fakta atau peristiwa yang khusus / konkrit
tersebut di tarik generalisasi yang mempunyai sifat umum.29
Dalam proses generalisasi, hal-hal atau peristiwa khusus
dijadikan dasar generalisasi masih dianggap benar. Artinya,
jika suatu generalisasi dikenakan pada peristiwa-peristiwa
khusus dimana generalisasi itu diambil, maka harus ada
kecocokan hakekat.
c) Deskriptif
Yaitu rancangan organisasional yang dikembangkan dari
kategori-kategori yang ditemukan dan hubungan-hubungan
yang disarankan atau yang muncul dari data.30
Proses pendeskripsian atau menggambarkan kenyataan
yang ada, baru akan dilakukan jika data yang dibutuhkan telah
terkumpul dan dapat digunakan sebagai bahan cerita atau
paparan yang sesungguhnya dari data lapangan yang ada.
6. Teknik Validasi Data
Dalam upaya untuk mengusahakan agar penelitian ini dapat
dipercaya maka penulis menggunakan trianggulasi. Trianggulasi
merupakan proses untuk mengadakan pengecekan terhadap kebenaran data
29 Ibid, hlm.42
dengan cara membandlngkan data yang diperoleh dengan sumber lain,
pada berbagai fase penelitian di lapangan dan dengan metode yang
berlainan. Modus trianggulasi yaitu : menggunakan sumber ganda,
menggunakan metode ganda, menggunakan peneliti ganda dan
•3 i
menggunakan teori yang berbeda-beda.
8. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk dapat memberikan gambaran awal dari skripsi ini perlu penulis
paparkan mengenai sistematika penulisan :
B A B I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Manfaat Penulisan
E. Kajian Pustaka
F. Fokus Penulisan
G. Metode Penulisan
H. Sistematika Penulisan
BAB II KERANGKA TEORITIK
A. PROFIL LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF
1. Pengertian Lembaga Pendidikan Ma’arif
2. Sejarah Lembaga Pendidikan Ma’arif
3. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif
4. Fungsi Lembaga Pendidikan Ma’arif
5. Eksistensi Lembaga Pendidikan Ma’arif
B. PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM
1. Pengertian Kemandirian Pendidikan Islam
2. Indikator Kemandirian Pendidikan Islam
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian
Pendidikan Islam
4. Maksud dan Tujuan Kemandirian Pendidikan Islam
5. Usaha Yang Dilakukan Untuk Mencapai Kemandirian
Pendidikan Islam
C. PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM
PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM
BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. GAMBARAN UMUM LEMBAGA PENDIDIKAN
MA’ARIF KOTA SALATIGA
1. Sejarah Berdirinya Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota
Salatiga
2. Perkembangan Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota
Salatiga
3. Profil Madrasah Pada Lembaga Pendidikan Ma’arif
BAB IV
4. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota
Salatiga
5. Program Kerja Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota
Salatiga
B. KEMANDIRIAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF
KOTA SALATIGA
1. Kemandirian Manajemen
2. Kemandirian Kurikulum
3. Kemandirian Keuangan
4. Kemandirian Sarana dan Prasarana
5. Kemandirian Hubungan Masyarakat
ANALISIS DATA
A. ANALISIS PERAN DAN FUNGSI LEMBAGA
PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM PENGUATAN
KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM DI KOTA
SALATIGA
1. Keunggulan lembaga pendidikan ma’arif dalam
pendidikan islam
2. Kelemahan lembaga pendidikan ma’arif dalam
B UPAYA-UPAYA LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF
DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN
ISLAM DI KOTA SALATIGA
1. Penguatan Kelembagaan
2. Penguatan Sumber Daya Manusia
3. Penguatan Mutu Madrasah
BAB V PENUTUP
A. KESUMPULAN
BAB II
KERANGKA TEORITIK
A. PROFIL LEMBAGA PENDIDIKAN M A’ARIF
1. Pengertian Lembaga Pendidikan M a’arif
Lembaga Pendidikan Ma’arif merupakan Lembaga
penanggungj awab pelaksanaan kebijakan pendidikan Nahdlotul
Ulama’ dan berwenang menetapkan tata kerja yang berisi ketentuan-
ketentuan umum dan petunjuk operasional yang harus direalisasikan
bersama-sama dengan lembaga penyelenggara dan pengelola.1
Yang dimaksud lembaga penyelenggara disini adalah lembaga, lajnah
dan badan otonom di lingkungan NU, Yayasan, Perkumpulan atau
lembaga-lembaga lainnya yang membawahi unit-unit atau satuan
pendidikan. Sedangkan pengelola adalah pihak pelaksana yang
tergabung dalam manajemen unit-unit pendidikan (seperti TK/RA,
MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA, PT)
2. Sejarah Lembaga Pendidikan M a’arif
Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif
NU) merupakan salah satu aparat departementasi di lingkungan
organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Didirikannya lembaga ini di NU 1
bertujuan untuk mewujudkan cita-cita pendidikan NU. Bagi NU,
pendidikan menjadi pilar utama yang harus ditegakkan demi
mewujudkan masyarakat yang mandiri. Gagasan dan gerakan
pendidikan ini telah dimulai sejak perintisan pendirian NU di
Indonesia. Dimulai dari gerakan ekonomi kerakyatan melalui Nadlatut
Tujjar (1918), disusul dengan Tashwirul Afkar (1922) sebagai gerakan
keilmuan dan kebudayaan, hingga Nahdlatul Wathan (1924) yang
merupakan gerakan politik di bidang pendidikan, maka ditemukanlah
tiga pilar penting bagi Nadhlatul Ulama yang berdiri pada tanggal 31
Januari 1926 M/16 Rajab 1334 H, yaitu: (1) wawasan ekonomi
kerakyatan; (2) wawasan keilmuan, sosial, budaya; dan (3) wawasan
kebangsaan.2
Untuk merealisasikan pilar-pilar tersebut ke dalam kehidupan
bangsa Indonesia, NU secara aktif melibatkan diri dalam gerakan-
gerakan sosial-keagamaan untuk memberdayakan umat. Di sini
dirasakan pentingnya membuat lini organisasi yang efektif dan mampu
merepresentasikan cita-cita NU; dan lahirlah lembaga-lembaga dan
lajnah seperti Lembaga Dakwah, Lembaga Pendidikan Ma'arif,
Lembaga Sosial Mabarrot, Lembaga Pengembangan Pertanian, dan
lain sebagainya, yang berfungsi menjalankan program-program NU di
semua lini dan sendi kehidupan masyarakat. Gerakan pemberdayaan
umat di bidang pendidikan yang sejak semula menjadi perhatian para
ulama pendiri ( the founding fathers) NU kemudian dijalankan melalui
lembaga yang bemama Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama
(LP Ma'arif NU). Lembaga ini bersama-sama dengan jam'iyah NU
secara keseluruhan melakukan strategi-strategi yang dianggap mampu
meng- cover program-program pendidikan yang dicita-citakan NU.
3. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif
Visi
• Dengan mengambangkan sistem pendidikan dan terus berupaya
mewujudkan pendidikan yang mandiri dan membudayakan
(civilitize), LP Ma'arif NU akan menjadi pusat pengembangan
pendidikan bagi masyarakat, baik melalui sekolah, madrasah,
perguruan tinggi, maupun pendidikan masyarakat.
• Merepresentasikan perjuangan pendidikan NU yang meliputi
seluruh aspeknya, kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
• Menciptakan komunitas intitusional yang mampu menjadi agent of
educational reformation dalam upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa dan pembangunan masyarakat beradab3.
Misi
• Menciptakan tradisi pendidikan melalui pemberdayaan manajemen
pendidikan yang demokratis, efektif dan efisien, baik melalui
pendidikan formal maupun non-formal
• Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, terutama
pada masyarakat akar rumput ( grass root ), sehingga teijalin
sinegri antar kelompok masyarakat dalam memajukan tingkat
pendidikan
• Memperhatikan dengan sungguh-sungguh kualitas tenaga
kependidikan, baik kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi
melalui penyetaraan dan pelatihan serta penempatan yang
proporsional, dengan dukungan moral dan material.
• Mengembangkan system informasi lembaga pendidikan sebagai
wahana penyelenggaraan komunikasi, informasi dan edukasi serta
penyebarluasan gagasan, pengalaman dan hasil-hasil kajian
maupun penelitian di bidang ilmu, sains dan teknologi lewat
berbagai media.
• Memperkuat jaringan kerja sama dengan instansi pemerintah,
lembaga/institusi masyarakat dan swasta untuk pemberdayaan
maupuh subyek-subyek yang terlibat, langsung maupun tidak
langsung, dalam proses-proses pendidikan.4
4. Fungsi Lembaga Pendidikan M a’arif
Lembaga Pendidikan Ma;arif sebagai lembaga aparat
departementasi yang bertanggung jawab untuk menaungi unit-unit atau
satuan pendidikan yang ada dibawahnya memiliki beberapa fungsi,
diantaranya:
a) Membantu masyarakat dalam usaha melaksanakan program
pembangunan di bidang pendidikan, kebudayaan dan agama.
b) Membantu masyarakat dalam upaya pemerataan dan pelayanan
pendidikan.
c) Memberikan bimbingan, pembinaan dan pelayanan dalam
pengelolaan satuan dan kegiatan pendidikan yang mengembangkan
upaya penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan ajaran
Ahlussurmah Waljama'ah
d) Sebagai wadah kegiatan dan wahana pengembangan ilmu dan
teknologi serta keterampilan yang bermanfaat bagi pembangunan
bangsa dan Negara.5
4 Ibid
5. Eksistensi Lembaga Pendidikan M a’arif Dalam Pendidikan Islam
Eksistensi Lembaga Pendidikan di Indonesia telah cukup tua,
seiring dengan keberadaan para penyebar agama islam6. Keberadaan
Lembaga Pendidikan Islam baik yang berbentuk pesantren, madrasah,
sekolah, maupun perguruan tinggi baik secara terpisah maupun secara
bersama-sama dalam satu kompleks masih jauh dari apa yang
diharapkan umatnya.7 8 Bahkan secara kualitatif, Lembaga-lembaga
pendidikan yang sekarang ini muncul serta dinilai “terkemuka”
(outstanding) masih jauh dari ideal. Karena, memang dalam bahasa
pengembangan pendidikan berlaku adagium “start from the beginning
o
ti the end, and end fo r the beginning. ”
Untuk memenuhi tuntutan yang semakin tinggi, seringkali para
pengelola Lembaga Pendidikan Islam tidak memiliki cukup
kemampuan, baik kemampuan yang menyangkut sumber daya manusia
maupun kemampuan finansialnya. Dalam kondisi demikian itu,
kualitas dan eksistensi Lembaga Pendidikan Islam sangat terancam
Lembaga Pendidikan Ma’arif menyadari bahwa pendidikan
merupakan sector kunci bagi perbaikan kualitas sumber daya manusia
bangsa kita, sekaligus tonggak penentu yang amat menentukan arah
6 Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Barn Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, 2007. him. 43
7 A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, LP3NI, Jakarta, 1998. him. 104 dalam Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, 2007
perubahan dan regenerasi dimasa-masa mendatang9. Untuk tujuan
tersebut, Lembaga Pendidikan Ma’arif secara terns menerus
melakukan program pendidikan dengan mencari titik lemah yang
dirasakan bersama selama ini, kemudian membuat langkah-langkah
yang diharapkan mampu memperbaiki kondisi menjadi lebih baik lagi.
Di bidang structural organisasional, Lembaga Pendidikan
Ma’arif NU telah sejak lama berperan cukup besar dalam Badan
Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) yang merupakan
perkumpulan organisasi Pendidikan swasta.10 * BMPS merupakan
organisasi pendidikan yang bersifat nasional, yang demikian sesuai
dengan model organisasi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. baik
ditingkat pusat maupun daerah LP Ma’arif NU mempunyai andil yang
cukup besar dalam program keija sama BMPS.
Lembaga Pendidikan Ma’arif NU juga terus melakukan
perubahan baik dalam bidang tata kerja maupun kepengurusan dengan
maksud penyempumaan dan penyesuaian terhadap situasi yang
berkembang yang semata-mata bersifat rekonstruktif dalam rangka
membangun kesesuaian dengan tuntutan-tuntutan perkembangan dan
mencari upaya solutif terhadap masalah yang sedang dihadapi.11
9 PP LP Ma’arif NU, Dinamika Pendidikan Nahdlotul Ulama’, op.cit., hlm.15 10 Ibid, hlm.20
B. PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM
1. Pengertian Kemandirian Pendidikan Islam
Kemandirian merupakan unsur kebebasan dari belenggu
pihak lain, kemampuan untuk menemukan sendiri apa yang harus
dilakukan, menentukan dalam memilih kemungkinan yang teijadi
dan akan memecahkan sendiri masalah yang dihadapi tanpa harus
mengharapkan bantuan orang lain.12
Mengadopsi rumusan pengertian pendidikan yang
ditetapkan dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2007, dengan
mengintemalisasikan nilai-nilai islami didalamnya, pengertian
Kemandirian Pendidikan Islam adalah Usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang
Islami, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya sesuai dengan nilai-nilai Islam untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara.13
Rumusan ini menekankan pada kemandirian Peserta Didik
untuk mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan nilai-nilai
Islam, melalui suasana belajar dan proses pembelajaran yang
harmonis, demokratis dan dialogis, agar memiliki keimanan,
12 M.Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996. him. 22
keilmuan dan keterampilan seingga dapat mencapai kebahagiaan
hidup didunia dan akhirat14
2. Indikator Kemandirian Pendidikan Islam
Madrasah mandiri merupakan cita-cita ideal setiap
Lembaga Pendidikan Islam, namun kemandirian hampir sulit
dimulai jika tidak didukung oleh keterampilan seluruh komponen
madrasah.
Ditetapkannya UU Sisdiknas no 20 pada pasal 46 ayat 1
membawa implikasi terhadap pendidikan Islam yang menuntut
adanya kemandirian dalam penyelenggaraan satuan pendidikan
Islam. Namun demikian tidak menjadi masalah asal pemerataan,
mutu dan relevansi pendidikan, serta manajemen pendidikan lebih
ditingkatkan, sehingga dapat mengantarkan anak didik untuk
mencapai tujuan yang ditetapkan.
Untuk melihat tingkat perilaku mandiri suatu Pendidikan
Islam dapat dilihat melalui indikator:
a. Mampu mengelola potensi madrasah dan lingkungannya.
b. Tidak selalu mengharap bantuan pemerintah dalam
meluluskan program
c. Mampu menggalang dukungan dari berbagai pihak terkait
d. Berani menanggung resiko tanpa menyalahkan pihak lain
14 Usman Abu Bakar dan Surohim, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam,
e. Mampu memanfaatkan peluang dan tantangan
f. Berfikir realistis terhadap kondisi madrasah
g. Mempunyai sumber dana bagi eksistensi madrasah di luar
bantuan pemerintah
h. Memiliki kesanggupan mengembangkan jaringan keija
sama dengan pihak luar.15
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Pendidikan
Islam
Lembaga pendidikan Islam tidak bisa dipandang dengan
sebelah mata, sebab pada dasamya tujuan pendidikan kita tidak
dibatasi oleh ruang-ruang yang disebut madrasah maupun sekolah.
Artinya, harus ada kesinambungan keija sama yang lebih baik
ditingkat pemerintah maupun masyarakat untuk memajukan
sekolah dan madrasah secara bersama-sama.16
Arus reformasi yang salah satu implikasinya adalah
diberlakukanya system otonomi daerah bagi madrasah mempunyai
persoalan sendiri yang tidak ditemukan dalam lingkungan sekolah
umum. Ini disebabkan beberapa faktor:
15 Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolan Umum, Standar Supervisi Pendidikan Pada Madrasah, Jakarta, 2005. him. 38
a. Departemen Agama RI yang menjadi payung bagi institusi
ini bukanlah aparat departementasi pemerintah yang masuk
dalam kategori banyak mendapat anggaran
b. Lembaga Pendidikan Islam bukanlah satu-satunya sektor
yang menjadi tanggung jawab Departemen Agama, oleh
karenanya anggaran Departemen Agama tidak bisa
dialokasikan sepenuhnya untuk urusan Pendidikan Islam
c. Belum teijalinnya kerja sama yang memuaskan selama ini
antara Depdiknas dan Depag yang masing-masing memiliki
model satuan institusi yang berbeda
d. Masih adanya anggapan yang bias Lembaga Pendidikan
Islam, yang kemudian akhimya menyebabkan beberapa
kalangan, termasuk yang terlibat dalam institusi
pemerintah, melihat Lembaga Pendidikan Islam sebagai
pelengkap saja.
e. Kualitas Lembaga Pendidikan Islam saat ini, sama dengan
sekolah umum, yang secara keseluruhan dianggap kurang
memuaskan disebabkan oleh adanya sentralisasi pendidikan
yang tentu saja menghambat kemandirian satuan
pendidikan itu sendiri.17
4. Maksud dan Tujuan Kemandirian Pendidikan Islam
Mayoritas Lembaga Pedidikan Islam berstatus swasta
dananya bersumber dari usaha swadaya masyarakat siswa yang
kondisi ekonominya tergolong dalam level kelas menengah
kebawah.18Minimnya keuangan menyebabkan posisi Lembaga
Pendidikan Islam selalu terbelakang dan sulit maju. Sebab untuk
memajukan madrasah, seperti juga memajukam Lembaga
Pendidikan lainnya, sangat membutuhkan dana yang memadai.
Semua penigkatan komponen lembaga pendidikan membutuhkan
biaya yang tidak sedikit, dan pembiayaan ini menentukan apakah
madrasah ini segera bias ditingkatkan ata dibiarkan dalam keadaan
yang memprihatinkan.19
Dalam waktu yang bersamaan dengan kondisi tersebut,
kebijakan pemerintah tidak pemah berpihak pada Lembaga
Pendidikan Islam swasta. Kepedulian dan keberpihakan
pemerintah hanya terarah pada lembaga pendidikan negeri
sehingga bebam Lembaga Pendidikan Islam khususnya Madrasah
semakin berat. Diskriminasi kebijakan pemerintah pada Lembaga
Pendidikan Islam telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun
hingga sekarang ini.20
l8Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Bant Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, 2007. him. 22
Dari uraian diatas, maka Pendidikan Islam diharapkan
mampu untuk dapat bersikap mandiri, dengan maksud dan tujuan:
a. Menampung konsensus umum tentang pemberdayaan
sekolah, meyakini bahwa untuk meningkatkan kualitas
pendidikan seharusnya keputusan dibuat oleh mereka yang
bertanggung jawab dalam membuat keputusan.
b. Meningkatkan kineija para staf, menawarkan partisipasi
langsung kepada kelompok terkait, dan meningkatkan
pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.21
c. Wujud sikap tanggap pemerintah terhadap tuntutan
masyarakat tentang peningkatan efisiensi, mutu dan
pemerataan pendidikan.
d. Perencanaan pendidikan lebih operasional, dan pembiayaan
serta fasilitas yang diperlukan dapat lebih mencukupi
kebutuhan pendidikan
e. Setiap lembaga pendidikan mampu untuk menutupi
kekurangannya sendiri, karena lembaga tersebut tahu dan
mengerti letak kelemahannya sehingga lembaga pendidikan
swasta mampu mengejar ketertinggalannya dari lembaga
pendidikan negeri lainnya.22
5. Usaha yang Dilakukan untuk Mencapai Kemandirian Pendidikan
Islam
Sejumlah pemerhati dan praktisi mencoba menawarkan
berbagai konsep untuk dapat mencapai suatu kemandirian dalam
pengelolaan pendidikan Islam, diantaranya :
Pertama, Husni Rakhim menegaskan bahwa Lembaga
Pendidikan Islam pertama-tama dituntut untuk melakukan perubahan-
perubahan strategis dalam pengelolaan Pendidikan Islam. Pimpinan
madrasah dituntut untuk memiliki fungsi, tanggung jawab, wawasan
dan keterampilan manajerial yang tangguh. Ia hendaknya dapat
memainkan peran sebagai lokomotif perubahan menuju terciptanya
Pendidikan Islam yang mandiri.
Kedua, Suprayogo melukiskan bahwa Madrasah meraih
prestasi unggul, berhasil justru karena fleksibilitas pengelolaanya.
Artinya, jika diperlukan, pengelola berani mengambil kebijakan atau
memutuskan hal-hal yang berbeda dengan petunjuk formal dari
kalangan atas. Untuk dapat menghidupkan kreativitas para pengelola
/ Lembaga Pendidikan Islam, perlu dikembangkan evaluasi yang
berorientasi pada produk yang ingin dicapai.23 24
23 Husni Rakhim, “Arah Baru Pendidikan Islam di Indoesia,” PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001. him 21, dalam Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, 2007. him. 86
24 Imam Suprayogo, “Reformasi Visi Pendidikan Islam”, dalam Mujamil Qomar,
Ketiga, menurut Usman Abu Bakar dan Surokhim bahwa
stategi pemberdayaan Lembaga Pendidikan Islam yang produktif dan
kondusif adalah dengan:
a. Pengembangan system organisasi kelembagaan pendidikan yang
efektif dan efisien.
b. Pemberdayaan seluruh komponen pendidikan
c. Peningkatan mutu dan sarana prasarana Lembaga Pendidikan Islam
dan menciptakan suasana ( atmosfir) pembelajaran yang kondusif,
harmonis, bermakna, dialogis, dan penuh dengan nuansa-nuansa
Islami.
d. Mengembangkan usaha bisnis di luar akademik, seperti usaha
pertokoan, membuat rumah kontrakan, menanamkan modal pada
pihak lain dengan system bagi hasil dan sebagainya.
e. Mengembangkan jaringan kemitraan dengan pihak lain.
f. Pemberdayaan dan penggalian potensi daerah.
C. PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN M A’ARIF DALAM
PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan merupakan ran ah yang strategis untuk membangun
bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Untuk mencapai hal itu,
salah satunya diperlukan pembentukan pandangan hidup masyarakat
yang dapat mengarahkannya menjadi bangsa yang bermartabat.
membentuk bagaimana corak pandang hidup seseorang atau
masyarakat, membentuk manusia yang cerdas, bermoral, memiliki
semangat hidup dan memiliki semangat mengembangkan ilmu dan
teknologi guna membangun bangsanya.25
Dalam kaitan ini, tentunya setiap penyelenggaraan satuan
pendidikan termasuk Lembaga Pendidikan Islam dituntut untuk
mampu mengelola satuan pendidikan tersebut secara professional,
sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menjamin
peningkatan mutu pendidikan. Semua ini menuntut adanya penyiapan
dan peningkatan sumber daya manusia dalam mengelola hal tersebut.
Untuk itu dalam setiap pengelolaan satuan pendidikan Islam harus
menjalin keija sama yang baik, dan melibatkan secara langsung dalam
kemitraan antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan pengusaha,
atau dengan kata lain menjalin kemitraan seluruh komponen
masyarakat.26
Wacana pemikiran perumusan langkah-langkah strategis untuk
meningkatkan kualitas pendidikan perlu dirangsang dan dimunculkan
kepermukaan sehingga menjadi modal kognitif dan efektif terutama
bagi para penyelenggara pendidikan, baik tokoh maupun praktisi.
Keterlibatan masyarakat perlu dimatangkan dalam penyelenggaraan
25 Hasbi Indra, Pendidikan Islam melawan Globalisasi, RidaMulia, Jakarta, 2005.
pendidikan menuju terciptanya suasana pendidikan yang mandiri dan
97
berkualitas.
Dengan memegang prinsip independensi, kemandirian, dan
otonomi lembaga-lembaga pengelola pendidikan, NU pada dasamya
memberikan hak sepenuhnya pada semua lembaga, lajnah atau badan
otonom organisasi, atau pihak lain (non-struktural) dikalangan
nahdliyin27 28. Adapun posisi LP Ma’arif NU adalah sebagai koordinator
bagi pelaksana kegiatan-kegiatan pendidikan oleh pihak-pihak
tersebut. Disamping itu, LP Ma’arif NU mempunyai perhatian khusus
terhadap program-program penelitian pendidikan, kemanusiaan, dan
kebudayaan, namun kesemuanya mengarah pada cita-cita pendidikan
untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
LP Ma’arif NU ini akan terus berada dibawah koordinasi dan
tanggung jawab Nahdlotul Ulama’sehingga diharapkan mampu
membantu pelaksanaan program-program peningkatan mutu
pendidikan yang kini dirasakan amat mendesak untuk segera
dilaksanakan.
BAB III
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. GAMBARAN UMUM LEMBAGA PENDIDIKAN M A’ARIF
1. Sejarah Berdirinya Lembaga Pendidikan M a’arif Kota Salatiga
Sebagai Organisasi yang bergerak dalam bidang kemanusiaan
yang bersifat non profit, Nahdlatul Ulama’ secara aktif melibatkan diri
dalam gerakan sosial keagamaan untuk memberdayakan umat. Salah
satu usaha yang dilakukan adalah dengan melahirkan lembaga-
lembaga efektif yang menangani dalam segala bidang. Maka lahirlah
Lembaga Dakwah, Lembaga Pendidikan Ma’arif, Lembaga sosial
mubarrot, Lembaga bidang pertanian, dan lain sebagainya. Lembaga
Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama’merupakan salah satu aparat
departementasi di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama’ yang
didirikan karena adanya suatu tujuan untuk melaksanakan kebijakan
dalam bidang pendidikan. Untuk mewujudkan hal tersebut Lembaga
Pendidikan Ma’arif yang berada di bawah Organisasi Nahdlatul
Ulama’terus melakukan usaha untuk menyebarkan dan memperluas
wilayah sampai kepelosok daerah Indonesia. Lembaga Pendidikan
Ma’arif NU dalam perjalanannya secara aktif melibatkan diri dalam
proses pengembangan pendidikan di Indonesia. Secara institusional,
LP Ma’arif NU juga mendirikan satuan-satuan pendidikan mulai dari
tercatat tidak kurang dari 6000 lembaga pendidikan yang tersebar di
seluruh pelosok tanah air salah satunya di Kota Salatiga1.
Menurut sumber cerita yang peneliti temui yaitu Bapak
K.H.Ma’mun yang berdomisili di Domas Salatiga yang merupakan
penasehat/majelis syuro NU di Kota Salatiga, beliau merupakan kader
NU yang pada waktu masa perkembangan NU di Kota Salatiga beliau
aktif dalam kegiatan yang sempat menjabat sebagai pemuda anshor
dan penanggung jawab dalam bidang pendidikan. Menurutnya,
Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di kota Salatiga pertama kali dibawa
oleh Bapak Kaspuri yang beralamatkan di Desa Cabean Kota Salatiga,
Beliau mendirikan LP Ma’arif yang berazaskan Nahdlatul
Ulama’pertama kali pada tahun 1955 sebelum teqadinya pertikaian G
30 SPKI.1 2 Kegiatan pembelajaran pertama kali dilakukan secara non
formal yang bertempat di Masjid Cabean dan Masjid Kalinyamat.
Guru yang mengajar pada waktu itu ada 3 yaitu Bapak Kiai H.
Shiddiq, Bapak Jam’an dan Bapak Kaspuri pembelajaran meliputi ilmu
A1 Qur’an, Fiqih dan hukum islam dan pengetahuan umum lainnya. .
Pada waktu itu Syuriah sedang dipegang oleh Bapak K.H. Imran.
Seiring berkembangnya waktu terlihat banyak Masyarakat yang
berminat dan antusias untuk belajar di LP Ma’arif, para santri tidak
hanya Anak usia sekolah tetapi juga Orang Dewasa sehingga membuat
tempat yang digunakan untuk belajar tidak mencukupi lagi. Kemudian
1 www.google.com. Dalam http LP M a’arif. Com, Tgl 20 Juni 2009
pada tahun 1960 K.H. Imran menyerahkan bidang Pendidikan untuk
di kembangkan dan disebarluaskan di kota Salatiga kepada para kader
NU yaitu Bapak Zarkashyi Rosyid, Bapak Kiai H. Zubeir dan Bapak
Mathori Abdul Jalil.
Setelah Kiai H. Imran menyerahkan tugas dan tanggung
jawab kepada 3 Kader Nahdlatul Ulama’, Lembaga Pendidikan
Ma’arif NU banyak memperlihatkan perkembangannya. Selain pusat
kegiatan yang tidak lagi hanya pada berada di dua tempat yaitu Masjid
Kalinyamat dan Cabean, pusat kegiatan juga berada di gedung NU
yaitu di Jl. Diponegoro dan Jl. Kartini. Kegiatan pembelajaran pun
sudah tidak lagi non formal tetapi sudah menjadi formal yaitu dengan
diadakannya pelajaran pengetahuan umum dan adanya kurikulum yang
sudah mulai tertata dengan rapi, pendanaan kegiatan waktu itu masih
berupa suka rela dari para sesepuh NU dan para Masyarakat yang
belajar di situ. Pada tahun 1965 Para pengurus LP Ma’arif Kota
Salatiga mempunyai inisiatif untuk mendaftarkan Lembaga ke
Depdiknas dan Departemen Agama untuk memperoleh pengakuan
yang sah dan perlindungan hukum yang disambut baik oleh Depdiknas
dan Depag karena pada waktu itu memang Negara sedang
berkonsentrasi untuk melakukan pembenahan dalam bidang
pendidikan. Maka pada tahun itu juga Lembaga Pendidikan Ma’arif
NU Kota Salatiga resmi menjadi Lembaga yang sah dan diakui oleh
2. Perkembangan Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga
Seperti halnya kehidupan Manusia, Lembaga Pendidikan
Ma’arif NU juga mengalami pasang surut dalam perkembangannya.
Lembaga pendidikan Ma’arif mempunyai “Madrasah” pertama terletak
di Jl. Kartini nomor 1 dan “Pesantren luhur” yang berlokasi di jalan
Diponegoro nomor 64 Salatiga yang kemudian menjadi IKIP NU dan
sekarang menjadi Yayasan A1 Azhar Salatiga yang tetap mendapat
perhatian dari Bapak Zarkashi Rosyid..
Dalam rentang waktu yang lama LP Ma’arif mengalami
kemunduran dikarenakan banyaknya pengurus yang sibuk dengan
urusan Politik sehingga Madrasah tidak terurus dan cenderung berjalan
sendiri-sendiri sehingga membuat LP Ma’arif menjadi Lembaga yang
"Al Wujudu ka ’adamiyyi ” J. Banyak Masyarakat yang kepercayaanya
mulai berkurang karena LP Ma’arif semakin redup dan kehilangan
arah sehingga membuat Masyarakat mulai melirik sekolah umum yang
di bawahi oleh pemerintah. Sampai adanya insiden khittoh di
Situbondo yang membuat perubaan besar-besaran LP Ma’arif mulai
berbenah diri. Adanya peristiwa G 30 SPKI membuat sebagian
Masyarakat berlindung di bawah payung agama, sehingga membuat
LP Ma’arif kewalahan dan menunnjukkan kekacauan di tubuh internal
Ma’arif. Pada tahun 1967 didirikan Madrasah sebanyak 11 Madrasah
yang tersebar di Kota Salatiga yaitu di daerah Blotongan, Cabean, 3
Dukuh, Canden, Kumpul rejo, Tingkir, Nobo Rejo, Kali Bening,
Pulutan, Kauman Kidul akan tetapi para pihak sekolah tidak tahu kalau
mereka itu berada dibawah naungan LP Ma’arif, sehingga sekolah
berjalan apa adanya karena Ma’arif juga tidak merasa memiliki. Pada
tahun itu juga pemerintah menginginkan adanya Guru yang mereka
angkat untuk mengajar di Madrasah tersebut yang diangkat menjadi
PNS dikelola oleh pemerintah, sehingga para tokoh Masyarakat
menjadi tidur dan lepas tangan dalam menangani Madrasah. Alhasil,
jarang adanya komunikasi antara pemerintah dan tokoh masyarakat,
hal ini terjadi sampai tahun 2000. Pada tahun 2000 LP Ma’arif Kota
Salatiga berkoordinasi dengan Pemerintah mengenai masalah
Madrasah dan teijadi keputusan bahwa secara hukum Madrasah tetap
di bawah payung LP Ma’arif akan tetapi masalah operasional dibantu
oleh pemerintah lewat Depag. Alhamdulillah, sampai saat ini LP
Ma’arif Kota Salatiga tetap eksis di dunia pendidikan dengan tidak
meninggalakan jati dirinya yang berazaskan Nahdlatul Ulama’. 3
3. Profil Madrasah Pada Lembaga Pendidikan M a’arif Kota Salatiga
Setelah peneliti melakukan penelitian, observasi Han
wawancara selama kurang lebih satu bulan, dapat peneliti paparkan
nama-nama dan identitas Madrasah LP Ma’arif di Kota Salatiga
1) SMK DIPONEGORO
SMK Diponegoro merupakan Sekolah Menengah
Kejuruan yang terletak di jalan Kartini No. 2. SMK Diponegoro
adalah salah satu sekolah yang berada dibawah naungan LP
Ma’arif sejak lama. SMK Diponegoro merupakan SMK swasta
yang mempunyai murid paling banyak di kota salatiga. Ada
beberapa SMK yang berazaskan islam namun masyarakat lebih
mempercayai SMK Diponegoro sebagai pilihan untuk menuntut
ilmu karena dilihat dari segi kualitas, dari segi kelembagaan, dan
dari segi fasilitas SMK Diponegoro dipandang paling bagus dan
diakui kredibilitasnya.
Sejak tahun 2005 sampai saat ini SMK Diponegoro
dikepalai oleh Bapak Drs. Joko Anis , M.Pd. yang merupakan
pimpinan cabang LP Ma’arif Kota Salatiga. Beliau di mata para
Guru dan murid adalah sosok orang yang berwibawa, mumpuni,
cerdas, sabar dan berpengetahuan luas serta maju ini dapat dilihat
ketika peneliti melakukan wawancara dengan beliau, beliau
selalu memaparkan keunggulan LP Ma’arif, bercerita tentang
sekolah yang ideal dan berbagi tentang segudang cita-cita yang
ingin diwujudkannya yaitu menjadikan SMK sebagai sentral
pendidikan swasta dan dengan begitu dapat mengangkat deraj at
LP Ma’arif yang selalu dipandang remeh oleh masyarakat..
menyeleksi anak didiknya untuk menuntut ilmu di sekolah
tersebut, Tapi menurutnya, sekolah unggulan dan mandiri adalah
bagaimana bisa mengubah Anak didik yang tadinya tidak bisa
menjadi bisa, out put yang tadinya bermasalah menjadi
berprestasi. Jadi dari situ dapat dilihat sejauh mana para pengajar
dan pihak sekolah bekeija secara maksimal dan sungguh-
sungguh dalam mentransfwer ilmu, membentuk pribadi muslim
yang taat pada agama dan bermoral.
SMK Diponegoro mempunyai 950 siswa, 45 Guru
Pendidik yang terdiri dari 15 PNS dan 20 GTT, 20 Karyawan,
mempunyai 5 jurusan kejuruan yaitu Akutansi, Perkantoran,
kecantikan, sekretaris dan tata boga, mempunyai 20 ruang kelas,
4 ruang guru dan karyawan, 1 mushola, 8 ruang praktek dan 2
ruamg komputer. Jika dilihat dari segi bangunan dan sarana yang
ada, SMK Diponegoro termasuk sekolah yang maju dan lengkap
dalam sarana. Kurikulum yand diajarkan diSMK disamping
kurikulum wajib, juga ada kurikulum kejuruan menurut program
yang dipilihnya serta kurikulum ibadah yang mencakup PAI dan
kurikulum khusus yang menjadi ciri khas yaitu ASWAJA.
SMK terus melakukan perbaikan baik dalam bidang
mutu pendidikan, kelembagaan maupun SDM Guru. Harapan
untuk LP Ma’arif kedepannya bisa lebih fokus dalam mengelola