• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM (Penelitian Pada Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga Tahun 2009)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM (Penelitian Pada Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga Tahun 2009)"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

Kota Salatiga Tahun 2009)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Kewajiban dan Memenuhi Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (SPd.I)

Dalam Ilmu Tarbiyah

NUR ASMAIYAH

NIM : 111 05 013

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(2)

DEKLARASI

\

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan

bahwa skripsi ini tidak berisi mated yang pemah ditulis oleh orang lain atau

pemah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran

orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan

rujukan.

Apabila di kemudian hari temyata terdapat materi atau pikiran-pikiran

orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup

mempertanggung jawabkan kembali keaslian skripsi ini di hadapan sidang

munaqosah skripsi.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh penulis untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, Agustus 2009

Penulis,

(3)

NOTA PEMBIMBING

Lampiran : 3 Eksemplar

Hal : Naskah Skripsi

Sdri. Nur Asmaiyah

Salatiga, Agustus 2009

Kepada Yth.

Ketua STAIN Salatiga

d i

-SALATIGA

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan

seperlunya, maka skripsi Saudari :

Nama : Nur Asmaiyah

NIM : 111 05 013

Jurusan : Tarbiyah

Progdi : Pendidikan Agama Islam

Judul : PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF

DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN

PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus Pada Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga Tahun 2009)

Sudah dapat diajukan dalam sidang munaqasah

Demikian surat ini, harap menjadikan perhatian dan digunakan

sebagaimana mestinya.

(4)

P E N G E S A H A N

Skripsi Saudari : NUR ASMAIYAH Dengan Nomor Induk Mahasiswa:

111 05 013 yang beijudul : “PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN M A ’ARIF

DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM

(Penelitian pada Lembaga Pendidikan M a’arif Kota SalatigaTahun 2009)”

Telah dimunaqasahkan dalam sidang panitia ujian Jurusan Tarbiyah Sekolah

Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga pada hari :Kamis, 20 Agustus 2009 M

dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar

Saijana dalam Ilmu Tarbiyah.

20 Agustus 2009 M Salatiga,

29 Sya’ban 1430 H

Panitia Ujian

Drs. Ahmad Sultoni, M.Pd NIP. 19681104 199803 1 002

Dra. Siti Farikhah. M.Pd NIP. 19610623 198803 2 001

Drs. Miftahuddin. M.Ag NIP. 19700922 199403 1 002

(5)

Opiimh (Dan (Bej'baJtajgialah.

(6)

1. CM6ah Xflkung dan ‘M fa h P u tri (Orang yang (Pafing Kucintai)

2. KfCima Saudarafu 6eserta Tfpfuarganya (Orang yang paRng kusayangi)

3. 9d6af^ Indaf, sosof^ ‘Wanita pengganti I6 u fu (terima fgsih taf^ te rfira

atas semuanyayang diSerifgn fapadafai)

4. K ji^ d n s dan M 6af^Nunu^(Pencetus ide Pertama u n tu ^a ^u buRafi,

terima fasih atas do’a dan motivasinya)

5. Safia6at-safia6ati ter6aif$u, Jferu, Pfimmaf, P flfid , !Nina, Pafid, IndaH,

M 6afjN ining, M6afJFaiz, Lafa.

6. (Bofo-6ofo seperjnangan

7. SaHa6at dan SaHa6ati P M II

(7)

Dengan menyebut Nama Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, atas limpahan rahmat, hidayah, taufiq

dan inayahnya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada panutan umat islam

Nabi Muhammad SAW, sanak kerabat dan para sahabat yang telah menunjukkan

jalan yang benar dengan perantara agama islam.

Penulisan skripsi ini dimaksudkan gima memenuhi kewajiban sebagai

syarat untuk memperoleh gelar saijana dalam ilmu Tarbiyah.

Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan serta bimbingan dari

berbagai pihak, maka dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan

terima kasih kepada:

1. Dr. Imam Sutomo, M.Ag selaku ketua Sekolah Tinggi Agama Islam

Negeri Salatiga

2. Drs. Miftahuddin, M.Ag selaku dosen pembimbing yang dengan penuh

*

kesabaran telah meluangkan waktunya untuk memberi pengarahan serta

bimbingan dalam penulisan skripsi ini.

3. Drs. Ibrahim Alfian, selaku pimpinan LP Ma’arif NU Kota Salatiga yang

telah memberikan izin penulis untuk mengadakan penelitian di LP Ma’arif

NU Kota Salatiga.

4. Mbah, Kakak-Kakakku dan Mbakku serta semua Familiku yang selalu

memberi do’a serta motivasinya.

(8)

mengisi hari-hari penuh keceriaan dan semangat.

dari kesempumaan, semua itu dikarenakan keterbatasan kemampuan dan

pengetahuan penulis sehingga masih banyak kekurangan yang perlu untuk

diperbaiki dalam skripsi ini.

Akhimya Penulis berharap dan berdo’a semoga skripsi ini memberikan

sumbangan positif bagi pemngembangan dunia pendidikan, khususnya Pendidikan

Agama Islam.

Penulis menyadari dan mengakui bahwa penulisan skripsi ini masih jauh

Salatiga, 10 Agustus 2009

Penulis

Ni________ NIM 111 05 013

(9)

HALAMANJUDUL ... 1

DEKLARASI... U NOTA PEMBIMBING... Ui PENGESAHAN ... iv

MOTTO... v

PERSEMBAHAN... vi

KATA PENGANTAR... vii

DAFTAR IS I... ix

LAMPIRAN-LAMPIRAN : LAMPIRAN I : Stuktur Organisasi Lembaga Pendidikan Ma’arif x LAMPIRAN II : Instrumen Pengumpulan Data... xiii

LAMPIRAN III : Catatan Wawancara... xix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah... 3

C. Tujuan Penulisan... 4

D. Manfaat Penulisan... 4

E. Kajian Pustaka... 5

F. Fokus Penulisan... 9

G. Metode Penulisan... 10

H. Sistematika Penulisan... 17

(10)

1. Pengertian Lembaga Pendidikan Ma’arif... 21

2. Sejarah Lembaga Pendidikan Ma’arif... 21

. 3. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif... 23

4. Fungsi Lembaga Pendidikan Ma’arif... 25

5. Eksistensi Lembaga Pendidikan Ma’arif... 26

B. PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM 28 1. Pengertian Kemandirian Pendidikan Islam... 28

2. Indikator Kemandirian Pendidikan Islam ... 29

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian Pendidikan Islam ... 30

4. Maksud dan Tujuan Kemandirian Pendidikan Islam ... 32

5. Usaha Yang Dilakukan Untuk Mencapai Kemandirian Pendidikan Islam... 34

C. PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM

PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM 35

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN UMUM LEMBAGA PENDIDIKAN

(11)

Salatiga... 41

3. Profil Madrasah Pada Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kota Salatiga... 42

4. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga... 57

5. Program Keija Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga... 58

B. KEMANDIRIAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF KOTA SALATIGA... 61

1. Kemandirian Manajemen... 61

2. Kemandirian Kurikulum... 62

3. Kemandirian Keuangan... 64

4. Kemandirian Sarana dan Prasarana... 65

5. Kemandirian Hubungan Masyarakat... 66

(12)

pendidikan islam... 71

B USAHA-USAHA LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM DI KOTA SALATIGA... 76

1. Strategi Penguatan Kelembagaan... 77

2. Strategi Penguatan Sumber Daya Manusia... 79

3. Strategi Penguatan Mutu Madrasah... 80

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN... 87

B. SARAN... 89

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(13)

Pendidikan swasta di Indonesia yang berada dibawah Organisasi Nahdlatul

Ulama’, ia merupakan badan otonom yang didirikan untuk mewujudkan cita-cita

NU dalam bidang pendidikan.

Dalam skripsi ini peneliti bermaksud memaparkan keberperanan LP

Ma’arif NU dalam menaungi sejumlah Madrasah untuk menyelenggarakan satuan

pendidikan serta dalam melaksanakan kegiatan operasional pendidikan

berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan di Kota Salatiga, sehingga mampu

untuk disebut sebagai Lembaga Pendidikan yang menguatkan kemandirian

pendidikan Islam di Kota Salatiga.

Dalam pelaksanaannya LP Ma’arif NU banyak mengalami kendala dan

hambatan yang mewamai peijalanannya sehingga muncul anggapan bahwa LP

Ma’arif merupakan lembaga pendidikan yang lemah, tidak mempunyai

kredibilitas yang balk dimata Masyarakat. Namun pada kenyataannya, sampai saat

ini LP Ma’arif tetap eksis dan dalam bingkai makronya tetap dibutuhkan

Masyarakat Kita sebagai lembaga pendidikan yang mampu mengajarkan ilmu

umum dan ilmu agama sekaligus.

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Dal am kehidupan suatu Negara, pendidikan memegang peranan yang

amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup Negara dan bangsa. Karena

pendidikan merupakan wahana peningkatan dan pengembangan kualitas

sumber daya manusia serta sekaligus sebagai faktor penentu keberhasilan

pembangunan. Hal ini diakui bahwa “keberhasilan suatu bangsa sangat

ditentukan oleh keberhasilan dalam memperbaiki dan memperbaharui sector

pendidikan.1 Artinya, keberhasilan tersebut akan menentukan keberhasilan

bangsa ini dalam menghadapi tantangan zaman di masa depan.

Untuk itu secara yuridis formal, Negara mengamanatkan kepada

pemerintah “untuk mengusahakan dan menyelenggarakan suatu system

Pendidikan Nasional yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan

kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta akhlak mulia dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa.”1 2 Tentunya disadari bahwa sektor utama

dan pertama yang mendapat prioritas dalam pembangunan bangsa adalah

1 Aulia Reza Bastian, Reformasi Pendidikan: Langkah-langkah Pembaharuan dan Pemberdayaan Pendidikan dalam Rangka Desentralisasi Sisiem Pendidikan Indonesia, Dalam Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, MA, Drs. Surohim M.Si, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam (Respon KreatifTerhadap UUSisdiknas), Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2005. hlm.2

(15)

sector pendidikan yang aksentuasinya pada peningkatan keimanan dan

ketakwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta akhlak mulia.3.

Peningkatan keimanan dan ketakwaan akan lebih efektif, manakala

dioptimalkan melalui system pendidikan Islam, baik melalui proses

pembelajaran studi maupun melalui jalur lembaga pendidikan Islam. Sebagai

laboratorium yang berfungsi untuk mewujudkan visi dan misi dari pemerintah,

lembaga pendidikan Islam merupakan tempat untuk meningkatkan mutu

akademik yang dapat memfungsikan unsur dan komponen yang terlibat

langsung dalam kegiatan pendidikan yang diselenggarakannya.4

Dalam kaitannya dengan tugas diatas, idealnya lembaga pendidikan

Islam harus mampu untuk menjadi suatu badan yang mandiri, hal ini relevan

dengan visi Pendidikan Nasional yang ditetapkan dalam UU No.20 Tahun

2003, yakni “Terwujudnya Sistem Pendidikan sebagai pranata sosial yang

kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia

berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif

menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.5Visi di atas mengandung

kemandirian lembaga dalam mengelola dan melaksanakan satuan

pendidikannya dalam kerangka menuju keunggulan.

Namun, dalam realitasnya banyak lembaga pendidikan Islam yang

tidak mampu untuk menjadi lembaga yang mandiri, yang belum responsive

3 Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, MA, Drs. Surohim M.Si, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam (Respon Kreatif Terhadap UU Sisdiknas), Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2005. hlm.2

4 Ibid, him. 122

(16)

terhadap tuntutan hidup manusia dan masih menghadapi masalah-masalah

yang kompleks. Hal ini dapat dilihat dari ketertinggalannya dengan lembaga

pendidikan lain, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga masih

cenderung dilabelkan sebagai lembaga pendidikan “kelas dua”6

Lembaga Pendidikan Ma’arif sebagai salah satu lembaga pendidikan

Islam yang ikut menjadi bagian dari dunia pendidikan yang berkembang dan

bertahan hingga sekarang. Dengan ciri identitas sekolah ma’arif dan

komponen pendidikan Islam, menaungi sejumlah besar satuan pendidikan

formal, yang menjadi tanggung jawab langsung maupun yang bersifat afiliatif,

yang menjadi bagian integral dalam dunia pendidikan di Indonesia.7

Sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Islam, apakah Lembaga

Pendidikan Ma’arif mampu untuk menguatkan sistem Pendidikan Islam dalam

dunia pendidikan di Indonesia? Berangkat dari pertanyaan ini, penulis tertarik

untuk melakukan penelitian yang diberi judul “Peran Lembaga Pendidikan

Ma’arif Dalam Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam di Kota Salatiga”

2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian dan paparan latar belakang masalah yang telah

disebutkan di atas, maka ada beberapa rumusan masalah yang perlu penulis

ungkapkan :

1. Bagaimana profil Lembaga Pendidikan Ma’arif di Kota Salatiga?

2. Apa peran dan fungsi Lembaga Pendidikan Ma’arif di Kota Salatiga?

6 Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, MA, Drs. Surohim M.Si, op.cit., hlm.3

(17)

3. Apa usaha-usaha yang dilakukan Lembaga Pendidikan dalam penguatan

kemandirian pendidikan Islam di kota Salatiga?

3. TUJUAN PENULISAN

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin

dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan gambaran umum dan profil Lembaga Pendidikan

Ma’arif di kota Salatiga.

2. Untuk mengetahui peran dan fungsi Lembaga Pendidikan Ma’arif di kota

Salatiga.

3. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan Lembaga Pendidikan

i

Ma’arif dalam penguatan kemandirian pendidikan i,slam di kota Salatiga.

4. MANFAAT PENULISAN

1. Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

bagi khazanah keilmuan dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan

islam.

2. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sumber masukan dari

pihak Lembaga Pendidikan Ma’arif guna meningkatkan kemajuan sistem

(18)

5. KAJIAN PUSTAKA

1. Telaah Hasil Pemikiran Yang Relevan

Berdasarkan pengetahuan penulis, belum ada skripsi yang

membahas masalah ini, namun ada beberapa tulisan yang mempunyai

kemiripan dengan skripsi penulis, antara lain :

Pertama, Buku yang ditulis Oleh Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar,

MA dan Drs. Surohim, MSI yang beijudul Fungsi Ganda Lembaga

Pendidikan Islam (Respon Kreatif Terhadap UU Sisdiknas), menyatakan

“bahwa salah satu fungsi Lembaga Pendidikan Islam adalah menjadikan

kemandirian sekolah dalam mengelola dan melaksanakan satuan

pendidikannya dalam kerangka menuju keunggulan serta meningkatkan

mutu akademik.”

Kedua, Buku yang ditulis oleh Dr. Muhaimin, M.A yang beijudul

Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, menyatakan ’’Dalam konteks

otonomi daerah, saat ini sedang dikembangkan Manajemen Berbasis

Sekolah/Madrasah, yakni, “pengkoordinasian dan penyerasian sumber

daya yang dilakukan secara mandiri oleh madrasah dengan melibatkan

semua kelompok kepentingan yang terkait dengan madrasah

(stakeholders) secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk

memenuhi kebutuhan mutu madrasah dalam kerangka kebijakan

Pendidikan Nasional.”

Ketiga, buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag

(19)

hingga Metode Kritik, menyatakan “Tantangan yang mendasar bagi

pendidikan islam saat ini adalah mencari system pendidikan alternative

sebagai sintesis dari berbagai system pendidikan islam yang pemah ada.

Dengan demikian, Identitas, Karakter dan Kemandirian Sistem Pendidikan

Islam tersebut menjadi jelas”.

Keempat, buku yang ditulis oleh Jasa Ungguh Mulia yang beijudul

Pendidikan Islam Integratif, Upaya Mengintegrasikan Kembali Dikotomi

Ilmu dan Pendidikan Islam, menyatakan “Perencanaan desentralisasi

manajemen Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai suatu system

pengelolaan manajemen dalam Pendidikan yang dilakukan oleh masing-

masing Lembaga Pendidikan, system manajemen berbasis desentralisasi

bersifat parsial dalam arti manajemen “otonom”

2. Kerangka Teori

1) Tinjauan Tentang Peran Lembaga Pendidikan Ma’arif

Pendidikan merupakan ranah yang strategis untuk membangun

bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Untuk mencapai hal itu,

salah satunya diperlukan pembentukan pandangan hidup masyarakat

yang dapat mengarahkannya menjadi bangsa yang bermartabat.

Lembaga pendidikan adalah salah satu media penting yang dapat

membentuk bagaimana corak pandangan hidup seseorang atau

masyarakat, apakah pandangan hidup mereka hanya untuk kepentingan

di dunia saja atau untuk keduanya. Selain itu, lembaga pendidikan

(20)

hidup dan memiliki semangat mengembangkan ilmu dan teknologi

guna membangun bangsanya.8

Lembaga Pendidikan Islam walaupun mempunyai tujuan

khusus akan tetapi pendidikan yang dilaksanakannya hams merupakan

bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional dal am

artian bahwa pendidikan pada Lembaga Pendidikan Islam harus dapat

memberikan kontribusi terhadap tujuan Pendidikan Nasional9. Karena

sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia khususnya dari awal

sampai akhir proses menamatkan anak didik telah diatur oleh pusat

sebagai pemegang kebijakan, maka perlu adanya restrukturisasi

ataupun reformasi dalam dunia pendidikan.

Tantangan yang dihadapi Oleh Lembaga Pendidikan Islam

pada era globalisasi ialah bagaimana mempersiapkan peserta didik,

pengajar, fasilitas dan kurikulum silabi untuk dapat mengantisipasi

beberapa hal, yaitu mengadaptasi dan mengelola pembahan,

menumbuhkan tradisi mengembangkan kemampuan diri, dan

mengembangkan kreatifitas Lembaga Pendidikan sebagai “ learning

organisation and creative center “.10

8 Dr. Hasbi Indra, Pendidikan Islam Melawan Globalisasi, Jakarta, Ridamulia, 2005. him. 189

9 Drs. Mansur, MA, Sejarah Sarekat Islam dan Pendidikan Bangsa, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004. him. 167-168

10 Ibid, him. 168

(21)

2) Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam.

Berkaitan dengan semakin meningkatnya tuntutan kualitas

pendidikan, maka pemaknaan pendidikan tidak cukup hanya

meletakkanya dalam pengertian sekolah, tetapi daripada itu lagi,

tuntutan kualitas tidak memungkinkan peserta didik melakukan

kegiatan pendidikan formal saja, tetapi mesti serentak dan bersamaan

dengan perlunya kebersamaan antara pendidikan formal, informal

maupun non formal. Karenanya memberdayakan semua komponen

pendidikan yang terlibat dalam proses penyelenggaraan pendidikan ini

serta mengatumya menjadi satu kesatuan adalah merupakan suatu

upaya untuk lebih memberdayakan pendidikan."

Implikasinya terhadap pendidikan Islam adalah menuntut adanya

kemandirian dalam penyelenggaraan satuan pendidikan islam , yang

berkaitan dengan kegiatan pembelajaran serta komponen operasional

sekolah. Adapun Komponen-komponen Madrasah yang harus dituntut

untuk mampu berdiri dalam keadaan mandiri dalam menguatkan

penyelenggaraan pendidikan sehingga Lembaga Pendidikan tersebut

dipandang mampu untuk menyelenggarakan dan mengelola pendidikan

diantaranya adalah:

1. Kemandirian Pengelolaan dan Pengorganisasian (Managemen)11 12

2. Kemandirian kurikulum13

11 Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional Di Indonesia, Jakarta, Kencana, 2004, him.211

12 Drs. Syafaruddin, M.pd, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Ciputat press, Jakarta, 2005. him. 242

(22)

3. Kemandirian keuangan dan pendanaan13 14

4. Kemandirian Sarana dan Prasarana15

5. Kemandirian hubungan Masyarakat16

Dalam kaitan ini, tentunya setiap penyelenggaraan satuan

pendidikan termasuk satuan pendidikan Islam dituntut untuk mampu

mengelola satuan pendidikan tersebut secara professional, sehingga

dapat dipertanggungjawabkan, dan dapat menjamin peningkatan mutu

pendidikan. Semua ini menuntut adanya penyiapan dan peningkatan

sumber daya manusia dalam mengelola hal tersebut. Untuk itu dalam

setiap pengelolaan satuan pendidikan islam harus menjalin keija sama

yang baik, dan melibatkan secara langsung dalam kemitraan antara

pemerintah, sekolah, masyarakat, dan pengusaha.

6. FOKUS PENELITIAN

Dalam penelitian ini, permasalahan yang penulis tekankan adalah

mengenai Peran Lembaga Ma’arif dalam Penguatan Kemandirian Pendidikan

Islam di Kota Salatiga melalui peran, fungsi serta usaha- usaha yang dilakukan

dalam menguatkan kemandirian pendidikan islam di kota Salatiga

13Departemen Agama Diijen Kelembagaan Agama Islam, Pedomcm Managemen Berbasis Kompetensi, Jakarta, 2005

14 Prof. Dr. Usman Abu Bakar, MA dan Drs. Surohim, MSI, Op.Cit, him. 106 15 Ibid, him. 106

16 Mujamil Qomar, Op. Cit. him. 183

(23)

7. METODE PENELITIAN

Untuk mempermudah penelitian dalam pengumpulan data dan

menganalisis data, maka penulis menggunakan metode dan pendekatan

sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Menurut jenisnya, penelitian ini adalah penelitian lapangan (field

research) yakni suatu penelitian yang bertujuan menangani studi yang

mendalaxn mengenai suatu unit sosial sedemikian rupa sehingga

menghasilkan gambaran yang teroganisir dengan baik mengenai unit sosial

tersebut17.

2. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah deskriptif

kualitatif. Yang dimaksud deskriptif disini adalah untuk membuat

deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai

fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Sedangkan

penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah mengamati orang dalam

lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami

bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitamya.18

Penelitian kualitaif bukanlah mencari “kebenaran” mutlak.

Penelitian kualitatif mengalami adanya diluar dirinya. Oleh sebab itu,

penelitian dilakukan dalam situasi yang wajar dan alamiah karena pada

(24)

dasamya istilah penelitian alamiah lebih menekankan “kealamiahan”

sumber data.19

3. Metode Penentuan Subyek

Menurut Lexy J Moloeng, subyek penelitian atau biasa yang

disebut dengan informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk

memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.20

Dalam penelitian ini ditentukan informan penelitian secara

purposive {purposive sampling) dengan cara jemput bola (snow ball) yaitu

dengan menelusuri terns data-data yang dibutuhkan untuk menjawab

pertanyaan penelitian.21

Adapun informan (sumber informasi) dalam penelitian ini, peneliti

bedakan menjadi:

a. Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif.

b. Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif Ranting Kelurahan Kota

Salatiga.

c. Warga Sekolah MI, MTs NU, SMK Diponegoro yang berada dibawah

naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif kota Salatiga.

Informan tersebut dimungkinkan masih akan terns bertambah

sesuai kebutuhan data penelitian.

19 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1997, hlm.4

20 Ibid, hlm.64

21 Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rake Sarosin, hlm.26-27

(25)

4. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data pada penelitian ini, ada beberapa metode

yang digunakan, yaitu:

a. Metode Observasi

Metode Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara

sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak pada suatu gejala atau

gejala-gejala pada obyek penelitian. Metode ini digunakan untuk

memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan penyelenggaraan

pendidikan islam oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif kota Salatiga.

b. Metode Wawancara

Metode Wawancara adalah proses memperoleh keterangan

untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka

antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau

respondent2

Sedang menurut Lexy J. Moleong, wawancara adalah

percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak

yaitu interviewer yang mengajukan pertanyaan dan interviewee yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu.23

Adapun teknik interview yang digunakan adalah wawancara bebas

terpimpin. Metode wawancara ini, penulis gunakan sebagai metode

primer dalam pengambilan data. Interview ini diajukan kepada pihak-

pihak yang dianggap tahu tentang situasi dan kondisi pelaksanaan

22 Moh. Nazir, Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1985. Hal. 234 23 Lexy J. Moleong, Op. Cit, Hal. 135

(26)

usaha-usaha yang dilakukan Lembaga Pendidikan Ma’arif dalam

penguatan kemandirian pendidikan islam di kota salatiga.

Dalam hal ini penulis mengambil informan sebagai pihak yang

bisa diwawancarai adalah:

Pertama, Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif kota Salatiga

yakni mengenai data tentang kelembagaan Lembaga Pendidikan

Ma’arif kota Salatiga.

Kedua, Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif Ranting

kelurahan Kota Salatiga, informan ini diambil dari Pengurus Ranting

Kelurahan Lembaga Pendidikan Ma’arif di Salatiga. Informan

dianggap sebagai orang yang lebih tahu tentang pelaksanaan usaha-

usaha yang dilakukan untuk penguatan kemandirian pendidikan

islam di kota salatiga. Di tambah pengelola lain yang dianggap perlu

diwawancarai guna perkelengkapan data serta mengevaluasi kevalidan

data.

Ketiga, Warga Sekolah MI, MTs NU, SMK Diponegoro yang

merupakan madrasah pendidikan islam yang berada dibawah naungan

Lembaga Pendidikan Ma’arif di kota Salatiga.

c. Metode Dokumentasi

Metode Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal

atau variabel-variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar,

majalah, prasasti, foto, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.

(27)

organisasi Lembaga Pendidikan Ma’arif, yang berkaitan dengan proses

berdirinya serta mengenai gambaran umum madrasah / sekolah yang

berada di bawah naungan lembaga Pendidikan Ma’arif.

5. Metode Analisis Data

Untuk memperoleh hasil penelitian yang lengkap, tepat dan benar,

maka diperlukan metode yang valid didalam menganalisis data.

Adapun analisis data yang digunakan adalah analisa data kualitatif,

dengan langkah-langkah:

a. Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data dari lapangan yang dilakukan melalui

observasi, wawancara dan dokumentasi. Kualitas data ditentukan oleh

kualitas alat pengambilan data atau alat pengukur. Kalau alat

pengambilan data cukup reliabel dan valid, maka datanya juga cukup

reliabel dan valid.24

b. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan

perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi “kasar”

yang muncul dari catatan tertulis di lapangan.25 Reduksi data di sini

bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisa tapi merupakan bagian

dari analisa.

24 Sumardi Suryabrata, Metode Penelitian, Jakarta, Raja Grasindo Persada, 1995, hlm.60

(28)

c. Penyajian Data

Penyajian data disini dibatasi sebagai sekumpulan informasi

tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan

dan penarikan tindakan.26

d. Penarikan Kesimpulan / Verifikasi

Penarikan kesimpulan dalam pandangan ini hanyalah sebagian

dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverivikasi

pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisa selama

menulis dan merupakan suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan

lapangan dan mungkin begitu seksama dan akan memakan tenaga

dengan peninjauan kembali itu.27

Dari keempat komponen analisa diatas, prosesnya saling

berhubungan dan berlangsung terus menerus selama penelitian

dilakukan.

Adapun teknik analisisnya meliputi:

a) Deduktif

Merupakan cara berpikir yang menggunakan prinsip apa

saja yang dipandang benar pada semua peristiwa dalam suatu

kelas atau jenis, berlaku juga sebagai hal yang benar pada

semua peristiwa yang termasuk dalam kelas atau jenis itu.28

26 Ibid, him. 17 27 Ibid, him. 19

(29)

b) Induktif

Merupakan teknik berpikir yang berangkat dari fakta-

fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkrit,

kemudian dari fakta atau peristiwa yang khusus / konkrit

tersebut di tarik generalisasi yang mempunyai sifat umum.29

Dalam proses generalisasi, hal-hal atau peristiwa khusus

dijadikan dasar generalisasi masih dianggap benar. Artinya,

jika suatu generalisasi dikenakan pada peristiwa-peristiwa

khusus dimana generalisasi itu diambil, maka harus ada

kecocokan hakekat.

c) Deskriptif

Yaitu rancangan organisasional yang dikembangkan dari

kategori-kategori yang ditemukan dan hubungan-hubungan

yang disarankan atau yang muncul dari data.30

Proses pendeskripsian atau menggambarkan kenyataan

yang ada, baru akan dilakukan jika data yang dibutuhkan telah

terkumpul dan dapat digunakan sebagai bahan cerita atau

paparan yang sesungguhnya dari data lapangan yang ada.

6. Teknik Validasi Data

Dalam upaya untuk mengusahakan agar penelitian ini dapat

dipercaya maka penulis menggunakan trianggulasi. Trianggulasi

merupakan proses untuk mengadakan pengecekan terhadap kebenaran data

29 Ibid, hlm.42

(30)

dengan cara membandlngkan data yang diperoleh dengan sumber lain,

pada berbagai fase penelitian di lapangan dan dengan metode yang

berlainan. Modus trianggulasi yaitu : menggunakan sumber ganda,

menggunakan metode ganda, menggunakan peneliti ganda dan

•3 i

menggunakan teori yang berbeda-beda.

8. SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk dapat memberikan gambaran awal dari skripsi ini perlu penulis

paparkan mengenai sistematika penulisan :

B A B I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penulisan

D. Manfaat Penulisan

E. Kajian Pustaka

F. Fokus Penulisan

G. Metode Penulisan

H. Sistematika Penulisan

BAB II KERANGKA TEORITIK

A. PROFIL LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF

1. Pengertian Lembaga Pendidikan Ma’arif

2. Sejarah Lembaga Pendidikan Ma’arif

(31)

3. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif

4. Fungsi Lembaga Pendidikan Ma’arif

5. Eksistensi Lembaga Pendidikan Ma’arif

B. PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM

1. Pengertian Kemandirian Pendidikan Islam

2. Indikator Kemandirian Pendidikan Islam

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian

Pendidikan Islam

4. Maksud dan Tujuan Kemandirian Pendidikan Islam

5. Usaha Yang Dilakukan Untuk Mencapai Kemandirian

Pendidikan Islam

C. PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM

PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN UMUM LEMBAGA PENDIDIKAN

MA’ARIF KOTA SALATIGA

1. Sejarah Berdirinya Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota

Salatiga

2. Perkembangan Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota

Salatiga

3. Profil Madrasah Pada Lembaga Pendidikan Ma’arif

(32)

BAB IV

4. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota

Salatiga

5. Program Kerja Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota

Salatiga

B. KEMANDIRIAN LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF

KOTA SALATIGA

1. Kemandirian Manajemen

2. Kemandirian Kurikulum

3. Kemandirian Keuangan

4. Kemandirian Sarana dan Prasarana

5. Kemandirian Hubungan Masyarakat

ANALISIS DATA

A. ANALISIS PERAN DAN FUNGSI LEMBAGA

PENDIDIKAN MA’ARIF DALAM PENGUATAN

KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM DI KOTA

SALATIGA

1. Keunggulan lembaga pendidikan ma’arif dalam

pendidikan islam

2. Kelemahan lembaga pendidikan ma’arif dalam

(33)

B UPAYA-UPAYA LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF

DALAM PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN

ISLAM DI KOTA SALATIGA

1. Penguatan Kelembagaan

2. Penguatan Sumber Daya Manusia

3. Penguatan Mutu Madrasah

BAB V PENUTUP

A. KESUMPULAN

(34)

BAB II

KERANGKA TEORITIK

A. PROFIL LEMBAGA PENDIDIKAN M A’ARIF

1. Pengertian Lembaga Pendidikan M a’arif

Lembaga Pendidikan Ma’arif merupakan Lembaga

penanggungj awab pelaksanaan kebijakan pendidikan Nahdlotul

Ulama’ dan berwenang menetapkan tata kerja yang berisi ketentuan-

ketentuan umum dan petunjuk operasional yang harus direalisasikan

bersama-sama dengan lembaga penyelenggara dan pengelola.1

Yang dimaksud lembaga penyelenggara disini adalah lembaga, lajnah

dan badan otonom di lingkungan NU, Yayasan, Perkumpulan atau

lembaga-lembaga lainnya yang membawahi unit-unit atau satuan

pendidikan. Sedangkan pengelola adalah pihak pelaksana yang

tergabung dalam manajemen unit-unit pendidikan (seperti TK/RA,

MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA, PT)

2. Sejarah Lembaga Pendidikan M a’arif

Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif

NU) merupakan salah satu aparat departementasi di lingkungan

organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Didirikannya lembaga ini di NU 1

(35)

bertujuan untuk mewujudkan cita-cita pendidikan NU. Bagi NU,

pendidikan menjadi pilar utama yang harus ditegakkan demi

mewujudkan masyarakat yang mandiri. Gagasan dan gerakan

pendidikan ini telah dimulai sejak perintisan pendirian NU di

Indonesia. Dimulai dari gerakan ekonomi kerakyatan melalui Nadlatut

Tujjar (1918), disusul dengan Tashwirul Afkar (1922) sebagai gerakan

keilmuan dan kebudayaan, hingga Nahdlatul Wathan (1924) yang

merupakan gerakan politik di bidang pendidikan, maka ditemukanlah

tiga pilar penting bagi Nadhlatul Ulama yang berdiri pada tanggal 31

Januari 1926 M/16 Rajab 1334 H, yaitu: (1) wawasan ekonomi

kerakyatan; (2) wawasan keilmuan, sosial, budaya; dan (3) wawasan

kebangsaan.2

Untuk merealisasikan pilar-pilar tersebut ke dalam kehidupan

bangsa Indonesia, NU secara aktif melibatkan diri dalam gerakan-

gerakan sosial-keagamaan untuk memberdayakan umat. Di sini

dirasakan pentingnya membuat lini organisasi yang efektif dan mampu

merepresentasikan cita-cita NU; dan lahirlah lembaga-lembaga dan

lajnah seperti Lembaga Dakwah, Lembaga Pendidikan Ma'arif,

Lembaga Sosial Mabarrot, Lembaga Pengembangan Pertanian, dan

lain sebagainya, yang berfungsi menjalankan program-program NU di

semua lini dan sendi kehidupan masyarakat. Gerakan pemberdayaan

(36)

umat di bidang pendidikan yang sejak semula menjadi perhatian para

ulama pendiri ( the founding fathers) NU kemudian dijalankan melalui

lembaga yang bemama Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama

(LP Ma'arif NU). Lembaga ini bersama-sama dengan jam'iyah NU

secara keseluruhan melakukan strategi-strategi yang dianggap mampu

meng- cover program-program pendidikan yang dicita-citakan NU.

3. Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Ma’arif

Visi

• Dengan mengambangkan sistem pendidikan dan terus berupaya

mewujudkan pendidikan yang mandiri dan membudayakan

(civilitize), LP Ma'arif NU akan menjadi pusat pengembangan

pendidikan bagi masyarakat, baik melalui sekolah, madrasah,

perguruan tinggi, maupun pendidikan masyarakat.

• Merepresentasikan perjuangan pendidikan NU yang meliputi

seluruh aspeknya, kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

• Menciptakan komunitas intitusional yang mampu menjadi agent of

educational reformation dalam upaya mencerdaskan kehidupan

bangsa dan pembangunan masyarakat beradab3.

(37)

Misi

• Menciptakan tradisi pendidikan melalui pemberdayaan manajemen

pendidikan yang demokratis, efektif dan efisien, baik melalui

pendidikan formal maupun non-formal

• Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, terutama

pada masyarakat akar rumput ( grass root ), sehingga teijalin

sinegri antar kelompok masyarakat dalam memajukan tingkat

pendidikan

• Memperhatikan dengan sungguh-sungguh kualitas tenaga

kependidikan, baik kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi

melalui penyetaraan dan pelatihan serta penempatan yang

proporsional, dengan dukungan moral dan material.

• Mengembangkan system informasi lembaga pendidikan sebagai

wahana penyelenggaraan komunikasi, informasi dan edukasi serta

penyebarluasan gagasan, pengalaman dan hasil-hasil kajian

maupun penelitian di bidang ilmu, sains dan teknologi lewat

berbagai media.

• Memperkuat jaringan kerja sama dengan instansi pemerintah,

lembaga/institusi masyarakat dan swasta untuk pemberdayaan

(38)

maupuh subyek-subyek yang terlibat, langsung maupun tidak

langsung, dalam proses-proses pendidikan.4

4. Fungsi Lembaga Pendidikan M a’arif

Lembaga Pendidikan Ma;arif sebagai lembaga aparat

departementasi yang bertanggung jawab untuk menaungi unit-unit atau

satuan pendidikan yang ada dibawahnya memiliki beberapa fungsi,

diantaranya:

a) Membantu masyarakat dalam usaha melaksanakan program

pembangunan di bidang pendidikan, kebudayaan dan agama.

b) Membantu masyarakat dalam upaya pemerataan dan pelayanan

pendidikan.

c) Memberikan bimbingan, pembinaan dan pelayanan dalam

pengelolaan satuan dan kegiatan pendidikan yang mengembangkan

upaya penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan ajaran

Ahlussurmah Waljama'ah

d) Sebagai wadah kegiatan dan wahana pengembangan ilmu dan

teknologi serta keterampilan yang bermanfaat bagi pembangunan

bangsa dan Negara.5

4 Ibid

(39)

5. Eksistensi Lembaga Pendidikan M a’arif Dalam Pendidikan Islam

Eksistensi Lembaga Pendidikan di Indonesia telah cukup tua,

seiring dengan keberadaan para penyebar agama islam6. Keberadaan

Lembaga Pendidikan Islam baik yang berbentuk pesantren, madrasah,

sekolah, maupun perguruan tinggi baik secara terpisah maupun secara

bersama-sama dalam satu kompleks masih jauh dari apa yang

diharapkan umatnya.7 8 Bahkan secara kualitatif, Lembaga-lembaga

pendidikan yang sekarang ini muncul serta dinilai “terkemuka”

(outstanding) masih jauh dari ideal. Karena, memang dalam bahasa

pengembangan pendidikan berlaku adagium “start from the beginning

o

ti the end, and end fo r the beginning. ”

Untuk memenuhi tuntutan yang semakin tinggi, seringkali para

pengelola Lembaga Pendidikan Islam tidak memiliki cukup

kemampuan, baik kemampuan yang menyangkut sumber daya manusia

maupun kemampuan finansialnya. Dalam kondisi demikian itu,

kualitas dan eksistensi Lembaga Pendidikan Islam sangat terancam

Lembaga Pendidikan Ma’arif menyadari bahwa pendidikan

merupakan sector kunci bagi perbaikan kualitas sumber daya manusia

bangsa kita, sekaligus tonggak penentu yang amat menentukan arah

6 Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Barn Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, 2007. him. 43

7 A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, LP3NI, Jakarta, 1998. him. 104 dalam Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, 2007

(40)

perubahan dan regenerasi dimasa-masa mendatang9. Untuk tujuan

tersebut, Lembaga Pendidikan Ma’arif secara terns menerus

melakukan program pendidikan dengan mencari titik lemah yang

dirasakan bersama selama ini, kemudian membuat langkah-langkah

yang diharapkan mampu memperbaiki kondisi menjadi lebih baik lagi.

Di bidang structural organisasional, Lembaga Pendidikan

Ma’arif NU telah sejak lama berperan cukup besar dalam Badan

Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) yang merupakan

perkumpulan organisasi Pendidikan swasta.10 * BMPS merupakan

organisasi pendidikan yang bersifat nasional, yang demikian sesuai

dengan model organisasi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. baik

ditingkat pusat maupun daerah LP Ma’arif NU mempunyai andil yang

cukup besar dalam program keija sama BMPS.

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU juga terus melakukan

perubahan baik dalam bidang tata kerja maupun kepengurusan dengan

maksud penyempumaan dan penyesuaian terhadap situasi yang

berkembang yang semata-mata bersifat rekonstruktif dalam rangka

membangun kesesuaian dengan tuntutan-tuntutan perkembangan dan

mencari upaya solutif terhadap masalah yang sedang dihadapi.11

9 PP LP Ma’arif NU, Dinamika Pendidikan Nahdlotul Ulama’, op.cit., hlm.15 10 Ibid, hlm.20

(41)

B. PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM

1. Pengertian Kemandirian Pendidikan Islam

Kemandirian merupakan unsur kebebasan dari belenggu

pihak lain, kemampuan untuk menemukan sendiri apa yang harus

dilakukan, menentukan dalam memilih kemungkinan yang teijadi

dan akan memecahkan sendiri masalah yang dihadapi tanpa harus

mengharapkan bantuan orang lain.12

Mengadopsi rumusan pengertian pendidikan yang

ditetapkan dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2007, dengan

mengintemalisasikan nilai-nilai islami didalamnya, pengertian

Kemandirian Pendidikan Islam adalah Usaha sadar dan terencana

untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang

Islami, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya sesuai dengan nilai-nilai Islam untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan Negara.13

Rumusan ini menekankan pada kemandirian Peserta Didik

untuk mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan nilai-nilai

Islam, melalui suasana belajar dan proses pembelajaran yang

harmonis, demokratis dan dialogis, agar memiliki keimanan,

12 M.Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996. him. 22

(42)

keilmuan dan keterampilan seingga dapat mencapai kebahagiaan

hidup didunia dan akhirat14

2. Indikator Kemandirian Pendidikan Islam

Madrasah mandiri merupakan cita-cita ideal setiap

Lembaga Pendidikan Islam, namun kemandirian hampir sulit

dimulai jika tidak didukung oleh keterampilan seluruh komponen

madrasah.

Ditetapkannya UU Sisdiknas no 20 pada pasal 46 ayat 1

membawa implikasi terhadap pendidikan Islam yang menuntut

adanya kemandirian dalam penyelenggaraan satuan pendidikan

Islam. Namun demikian tidak menjadi masalah asal pemerataan,

mutu dan relevansi pendidikan, serta manajemen pendidikan lebih

ditingkatkan, sehingga dapat mengantarkan anak didik untuk

mencapai tujuan yang ditetapkan.

Untuk melihat tingkat perilaku mandiri suatu Pendidikan

Islam dapat dilihat melalui indikator:

a. Mampu mengelola potensi madrasah dan lingkungannya.

b. Tidak selalu mengharap bantuan pemerintah dalam

meluluskan program

c. Mampu menggalang dukungan dari berbagai pihak terkait

d. Berani menanggung resiko tanpa menyalahkan pihak lain

14 Usman Abu Bakar dan Surohim, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam,

(43)

e. Mampu memanfaatkan peluang dan tantangan

f. Berfikir realistis terhadap kondisi madrasah

g. Mempunyai sumber dana bagi eksistensi madrasah di luar

bantuan pemerintah

h. Memiliki kesanggupan mengembangkan jaringan keija

sama dengan pihak luar.15

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Pendidikan

Islam

Lembaga pendidikan Islam tidak bisa dipandang dengan

sebelah mata, sebab pada dasamya tujuan pendidikan kita tidak

dibatasi oleh ruang-ruang yang disebut madrasah maupun sekolah.

Artinya, harus ada kesinambungan keija sama yang lebih baik

ditingkat pemerintah maupun masyarakat untuk memajukan

sekolah dan madrasah secara bersama-sama.16

Arus reformasi yang salah satu implikasinya adalah

diberlakukanya system otonomi daerah bagi madrasah mempunyai

persoalan sendiri yang tidak ditemukan dalam lingkungan sekolah

umum. Ini disebabkan beberapa faktor:

15 Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolan Umum, Standar Supervisi Pendidikan Pada Madrasah, Jakarta, 2005. him. 38

(44)

a. Departemen Agama RI yang menjadi payung bagi institusi

ini bukanlah aparat departementasi pemerintah yang masuk

dalam kategori banyak mendapat anggaran

b. Lembaga Pendidikan Islam bukanlah satu-satunya sektor

yang menjadi tanggung jawab Departemen Agama, oleh

karenanya anggaran Departemen Agama tidak bisa

dialokasikan sepenuhnya untuk urusan Pendidikan Islam

c. Belum teijalinnya kerja sama yang memuaskan selama ini

antara Depdiknas dan Depag yang masing-masing memiliki

model satuan institusi yang berbeda

d. Masih adanya anggapan yang bias Lembaga Pendidikan

Islam, yang kemudian akhimya menyebabkan beberapa

kalangan, termasuk yang terlibat dalam institusi

pemerintah, melihat Lembaga Pendidikan Islam sebagai

pelengkap saja.

e. Kualitas Lembaga Pendidikan Islam saat ini, sama dengan

sekolah umum, yang secara keseluruhan dianggap kurang

memuaskan disebabkan oleh adanya sentralisasi pendidikan

yang tentu saja menghambat kemandirian satuan

pendidikan itu sendiri.17

(45)

4. Maksud dan Tujuan Kemandirian Pendidikan Islam

Mayoritas Lembaga Pedidikan Islam berstatus swasta

dananya bersumber dari usaha swadaya masyarakat siswa yang

kondisi ekonominya tergolong dalam level kelas menengah

kebawah.18Minimnya keuangan menyebabkan posisi Lembaga

Pendidikan Islam selalu terbelakang dan sulit maju. Sebab untuk

memajukan madrasah, seperti juga memajukam Lembaga

Pendidikan lainnya, sangat membutuhkan dana yang memadai.

Semua penigkatan komponen lembaga pendidikan membutuhkan

biaya yang tidak sedikit, dan pembiayaan ini menentukan apakah

madrasah ini segera bias ditingkatkan ata dibiarkan dalam keadaan

yang memprihatinkan.19

Dalam waktu yang bersamaan dengan kondisi tersebut,

kebijakan pemerintah tidak pemah berpihak pada Lembaga

Pendidikan Islam swasta. Kepedulian dan keberpihakan

pemerintah hanya terarah pada lembaga pendidikan negeri

sehingga bebam Lembaga Pendidikan Islam khususnya Madrasah

semakin berat. Diskriminasi kebijakan pemerintah pada Lembaga

Pendidikan Islam telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun

hingga sekarang ini.20

l8Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Bant Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, 2007. him. 22

(46)

Dari uraian diatas, maka Pendidikan Islam diharapkan

mampu untuk dapat bersikap mandiri, dengan maksud dan tujuan:

a. Menampung konsensus umum tentang pemberdayaan

sekolah, meyakini bahwa untuk meningkatkan kualitas

pendidikan seharusnya keputusan dibuat oleh mereka yang

bertanggung jawab dalam membuat keputusan.

b. Meningkatkan kineija para staf, menawarkan partisipasi

langsung kepada kelompok terkait, dan meningkatkan

pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.21

c. Wujud sikap tanggap pemerintah terhadap tuntutan

masyarakat tentang peningkatan efisiensi, mutu dan

pemerataan pendidikan.

d. Perencanaan pendidikan lebih operasional, dan pembiayaan

serta fasilitas yang diperlukan dapat lebih mencukupi

kebutuhan pendidikan

e. Setiap lembaga pendidikan mampu untuk menutupi

kekurangannya sendiri, karena lembaga tersebut tahu dan

mengerti letak kelemahannya sehingga lembaga pendidikan

swasta mampu mengejar ketertinggalannya dari lembaga

pendidikan negeri lainnya.22

(47)

5. Usaha yang Dilakukan untuk Mencapai Kemandirian Pendidikan

Islam

Sejumlah pemerhati dan praktisi mencoba menawarkan

berbagai konsep untuk dapat mencapai suatu kemandirian dalam

pengelolaan pendidikan Islam, diantaranya :

Pertama, Husni Rakhim menegaskan bahwa Lembaga

Pendidikan Islam pertama-tama dituntut untuk melakukan perubahan-

perubahan strategis dalam pengelolaan Pendidikan Islam. Pimpinan

madrasah dituntut untuk memiliki fungsi, tanggung jawab, wawasan

dan keterampilan manajerial yang tangguh. Ia hendaknya dapat

memainkan peran sebagai lokomotif perubahan menuju terciptanya

Pendidikan Islam yang mandiri.

Kedua, Suprayogo melukiskan bahwa Madrasah meraih

prestasi unggul, berhasil justru karena fleksibilitas pengelolaanya.

Artinya, jika diperlukan, pengelola berani mengambil kebijakan atau

memutuskan hal-hal yang berbeda dengan petunjuk formal dari

kalangan atas. Untuk dapat menghidupkan kreativitas para pengelola

/ Lembaga Pendidikan Islam, perlu dikembangkan evaluasi yang

berorientasi pada produk yang ingin dicapai.23 24

23 Husni Rakhim, “Arah Baru Pendidikan Islam di Indoesia,” PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001. him 21, dalam Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, 2007. him. 86

24 Imam Suprayogo, “Reformasi Visi Pendidikan Islam”, dalam Mujamil Qomar,

(48)

Ketiga, menurut Usman Abu Bakar dan Surokhim bahwa

stategi pemberdayaan Lembaga Pendidikan Islam yang produktif dan

kondusif adalah dengan:

a. Pengembangan system organisasi kelembagaan pendidikan yang

efektif dan efisien.

b. Pemberdayaan seluruh komponen pendidikan

c. Peningkatan mutu dan sarana prasarana Lembaga Pendidikan Islam

dan menciptakan suasana ( atmosfir) pembelajaran yang kondusif,

harmonis, bermakna, dialogis, dan penuh dengan nuansa-nuansa

Islami.

d. Mengembangkan usaha bisnis di luar akademik, seperti usaha

pertokoan, membuat rumah kontrakan, menanamkan modal pada

pihak lain dengan system bagi hasil dan sebagainya.

e. Mengembangkan jaringan kemitraan dengan pihak lain.

f. Pemberdayaan dan penggalian potensi daerah.

C. PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN M A’ARIF DALAM

PENGUATAN KEMANDIRIAN PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan merupakan ran ah yang strategis untuk membangun

bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Untuk mencapai hal itu,

salah satunya diperlukan pembentukan pandangan hidup masyarakat

yang dapat mengarahkannya menjadi bangsa yang bermartabat.

(49)

membentuk bagaimana corak pandang hidup seseorang atau

masyarakat, membentuk manusia yang cerdas, bermoral, memiliki

semangat hidup dan memiliki semangat mengembangkan ilmu dan

teknologi guna membangun bangsanya.25

Dalam kaitan ini, tentunya setiap penyelenggaraan satuan

pendidikan termasuk Lembaga Pendidikan Islam dituntut untuk

mampu mengelola satuan pendidikan tersebut secara professional,

sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menjamin

peningkatan mutu pendidikan. Semua ini menuntut adanya penyiapan

dan peningkatan sumber daya manusia dalam mengelola hal tersebut.

Untuk itu dalam setiap pengelolaan satuan pendidikan Islam harus

menjalin keija sama yang baik, dan melibatkan secara langsung dalam

kemitraan antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan pengusaha,

atau dengan kata lain menjalin kemitraan seluruh komponen

masyarakat.26

Wacana pemikiran perumusan langkah-langkah strategis untuk

meningkatkan kualitas pendidikan perlu dirangsang dan dimunculkan

kepermukaan sehingga menjadi modal kognitif dan efektif terutama

bagi para penyelenggara pendidikan, baik tokoh maupun praktisi.

Keterlibatan masyarakat perlu dimatangkan dalam penyelenggaraan

25 Hasbi Indra, Pendidikan Islam melawan Globalisasi, RidaMulia, Jakarta, 2005.

(50)

pendidikan menuju terciptanya suasana pendidikan yang mandiri dan

97

berkualitas.

Dengan memegang prinsip independensi, kemandirian, dan

otonomi lembaga-lembaga pengelola pendidikan, NU pada dasamya

memberikan hak sepenuhnya pada semua lembaga, lajnah atau badan

otonom organisasi, atau pihak lain (non-struktural) dikalangan

nahdliyin27 28. Adapun posisi LP Ma’arif NU adalah sebagai koordinator

bagi pelaksana kegiatan-kegiatan pendidikan oleh pihak-pihak

tersebut. Disamping itu, LP Ma’arif NU mempunyai perhatian khusus

terhadap program-program penelitian pendidikan, kemanusiaan, dan

kebudayaan, namun kesemuanya mengarah pada cita-cita pendidikan

untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

LP Ma’arif NU ini akan terus berada dibawah koordinasi dan

tanggung jawab Nahdlotul Ulama’sehingga diharapkan mampu

membantu pelaksanaan program-program peningkatan mutu

pendidikan yang kini dirasakan amat mendesak untuk segera

dilaksanakan.

(51)

BAB III

LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN UMUM LEMBAGA PENDIDIKAN M A’ARIF

1. Sejarah Berdirinya Lembaga Pendidikan M a’arif Kota Salatiga

Sebagai Organisasi yang bergerak dalam bidang kemanusiaan

yang bersifat non profit, Nahdlatul Ulama’ secara aktif melibatkan diri

dalam gerakan sosial keagamaan untuk memberdayakan umat. Salah

satu usaha yang dilakukan adalah dengan melahirkan lembaga-

lembaga efektif yang menangani dalam segala bidang. Maka lahirlah

Lembaga Dakwah, Lembaga Pendidikan Ma’arif, Lembaga sosial

mubarrot, Lembaga bidang pertanian, dan lain sebagainya. Lembaga

Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama’merupakan salah satu aparat

departementasi di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama’ yang

didirikan karena adanya suatu tujuan untuk melaksanakan kebijakan

dalam bidang pendidikan. Untuk mewujudkan hal tersebut Lembaga

Pendidikan Ma’arif yang berada di bawah Organisasi Nahdlatul

Ulama’terus melakukan usaha untuk menyebarkan dan memperluas

wilayah sampai kepelosok daerah Indonesia. Lembaga Pendidikan

Ma’arif NU dalam perjalanannya secara aktif melibatkan diri dalam

proses pengembangan pendidikan di Indonesia. Secara institusional,

LP Ma’arif NU juga mendirikan satuan-satuan pendidikan mulai dari

(52)

tercatat tidak kurang dari 6000 lembaga pendidikan yang tersebar di

seluruh pelosok tanah air salah satunya di Kota Salatiga1.

Menurut sumber cerita yang peneliti temui yaitu Bapak

K.H.Ma’mun yang berdomisili di Domas Salatiga yang merupakan

penasehat/majelis syuro NU di Kota Salatiga, beliau merupakan kader

NU yang pada waktu masa perkembangan NU di Kota Salatiga beliau

aktif dalam kegiatan yang sempat menjabat sebagai pemuda anshor

dan penanggung jawab dalam bidang pendidikan. Menurutnya,

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di kota Salatiga pertama kali dibawa

oleh Bapak Kaspuri yang beralamatkan di Desa Cabean Kota Salatiga,

Beliau mendirikan LP Ma’arif yang berazaskan Nahdlatul

Ulama’pertama kali pada tahun 1955 sebelum teqadinya pertikaian G

30 SPKI.1 2 Kegiatan pembelajaran pertama kali dilakukan secara non

formal yang bertempat di Masjid Cabean dan Masjid Kalinyamat.

Guru yang mengajar pada waktu itu ada 3 yaitu Bapak Kiai H.

Shiddiq, Bapak Jam’an dan Bapak Kaspuri pembelajaran meliputi ilmu

A1 Qur’an, Fiqih dan hukum islam dan pengetahuan umum lainnya. .

Pada waktu itu Syuriah sedang dipegang oleh Bapak K.H. Imran.

Seiring berkembangnya waktu terlihat banyak Masyarakat yang

berminat dan antusias untuk belajar di LP Ma’arif, para santri tidak

hanya Anak usia sekolah tetapi juga Orang Dewasa sehingga membuat

tempat yang digunakan untuk belajar tidak mencukupi lagi. Kemudian

1 www.google.com. Dalam http LP M a’arif. Com, Tgl 20 Juni 2009

(53)

pada tahun 1960 K.H. Imran menyerahkan bidang Pendidikan untuk

di kembangkan dan disebarluaskan di kota Salatiga kepada para kader

NU yaitu Bapak Zarkashyi Rosyid, Bapak Kiai H. Zubeir dan Bapak

Mathori Abdul Jalil.

Setelah Kiai H. Imran menyerahkan tugas dan tanggung

jawab kepada 3 Kader Nahdlatul Ulama’, Lembaga Pendidikan

Ma’arif NU banyak memperlihatkan perkembangannya. Selain pusat

kegiatan yang tidak lagi hanya pada berada di dua tempat yaitu Masjid

Kalinyamat dan Cabean, pusat kegiatan juga berada di gedung NU

yaitu di Jl. Diponegoro dan Jl. Kartini. Kegiatan pembelajaran pun

sudah tidak lagi non formal tetapi sudah menjadi formal yaitu dengan

diadakannya pelajaran pengetahuan umum dan adanya kurikulum yang

sudah mulai tertata dengan rapi, pendanaan kegiatan waktu itu masih

berupa suka rela dari para sesepuh NU dan para Masyarakat yang

belajar di situ. Pada tahun 1965 Para pengurus LP Ma’arif Kota

Salatiga mempunyai inisiatif untuk mendaftarkan Lembaga ke

Depdiknas dan Departemen Agama untuk memperoleh pengakuan

yang sah dan perlindungan hukum yang disambut baik oleh Depdiknas

dan Depag karena pada waktu itu memang Negara sedang

berkonsentrasi untuk melakukan pembenahan dalam bidang

pendidikan. Maka pada tahun itu juga Lembaga Pendidikan Ma’arif

NU Kota Salatiga resmi menjadi Lembaga yang sah dan diakui oleh

(54)

2. Perkembangan Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Salatiga

Seperti halnya kehidupan Manusia, Lembaga Pendidikan

Ma’arif NU juga mengalami pasang surut dalam perkembangannya.

Lembaga pendidikan Ma’arif mempunyai “Madrasah” pertama terletak

di Jl. Kartini nomor 1 dan “Pesantren luhur” yang berlokasi di jalan

Diponegoro nomor 64 Salatiga yang kemudian menjadi IKIP NU dan

sekarang menjadi Yayasan A1 Azhar Salatiga yang tetap mendapat

perhatian dari Bapak Zarkashi Rosyid..

Dalam rentang waktu yang lama LP Ma’arif mengalami

kemunduran dikarenakan banyaknya pengurus yang sibuk dengan

urusan Politik sehingga Madrasah tidak terurus dan cenderung berjalan

sendiri-sendiri sehingga membuat LP Ma’arif menjadi Lembaga yang

"Al Wujudu ka ’adamiyyi ” J. Banyak Masyarakat yang kepercayaanya

mulai berkurang karena LP Ma’arif semakin redup dan kehilangan

arah sehingga membuat Masyarakat mulai melirik sekolah umum yang

di bawahi oleh pemerintah. Sampai adanya insiden khittoh di

Situbondo yang membuat perubaan besar-besaran LP Ma’arif mulai

berbenah diri. Adanya peristiwa G 30 SPKI membuat sebagian

Masyarakat berlindung di bawah payung agama, sehingga membuat

LP Ma’arif kewalahan dan menunnjukkan kekacauan di tubuh internal

Ma’arif. Pada tahun 1967 didirikan Madrasah sebanyak 11 Madrasah

yang tersebar di Kota Salatiga yaitu di daerah Blotongan, Cabean, 3

(55)

Dukuh, Canden, Kumpul rejo, Tingkir, Nobo Rejo, Kali Bening,

Pulutan, Kauman Kidul akan tetapi para pihak sekolah tidak tahu kalau

mereka itu berada dibawah naungan LP Ma’arif, sehingga sekolah

berjalan apa adanya karena Ma’arif juga tidak merasa memiliki. Pada

tahun itu juga pemerintah menginginkan adanya Guru yang mereka

angkat untuk mengajar di Madrasah tersebut yang diangkat menjadi

PNS dikelola oleh pemerintah, sehingga para tokoh Masyarakat

menjadi tidur dan lepas tangan dalam menangani Madrasah. Alhasil,

jarang adanya komunikasi antara pemerintah dan tokoh masyarakat,

hal ini terjadi sampai tahun 2000. Pada tahun 2000 LP Ma’arif Kota

Salatiga berkoordinasi dengan Pemerintah mengenai masalah

Madrasah dan teijadi keputusan bahwa secara hukum Madrasah tetap

di bawah payung LP Ma’arif akan tetapi masalah operasional dibantu

oleh pemerintah lewat Depag. Alhamdulillah, sampai saat ini LP

Ma’arif Kota Salatiga tetap eksis di dunia pendidikan dengan tidak

meninggalakan jati dirinya yang berazaskan Nahdlatul Ulama’. 3

3. Profil Madrasah Pada Lembaga Pendidikan M a’arif Kota Salatiga

Setelah peneliti melakukan penelitian, observasi Han

wawancara selama kurang lebih satu bulan, dapat peneliti paparkan

nama-nama dan identitas Madrasah LP Ma’arif di Kota Salatiga

(56)

1) SMK DIPONEGORO

SMK Diponegoro merupakan Sekolah Menengah

Kejuruan yang terletak di jalan Kartini No. 2. SMK Diponegoro

adalah salah satu sekolah yang berada dibawah naungan LP

Ma’arif sejak lama. SMK Diponegoro merupakan SMK swasta

yang mempunyai murid paling banyak di kota salatiga. Ada

beberapa SMK yang berazaskan islam namun masyarakat lebih

mempercayai SMK Diponegoro sebagai pilihan untuk menuntut

ilmu karena dilihat dari segi kualitas, dari segi kelembagaan, dan

dari segi fasilitas SMK Diponegoro dipandang paling bagus dan

diakui kredibilitasnya.

Sejak tahun 2005 sampai saat ini SMK Diponegoro

dikepalai oleh Bapak Drs. Joko Anis , M.Pd. yang merupakan

pimpinan cabang LP Ma’arif Kota Salatiga. Beliau di mata para

Guru dan murid adalah sosok orang yang berwibawa, mumpuni,

cerdas, sabar dan berpengetahuan luas serta maju ini dapat dilihat

ketika peneliti melakukan wawancara dengan beliau, beliau

selalu memaparkan keunggulan LP Ma’arif, bercerita tentang

sekolah yang ideal dan berbagi tentang segudang cita-cita yang

ingin diwujudkannya yaitu menjadikan SMK sebagai sentral

pendidikan swasta dan dengan begitu dapat mengangkat deraj at

LP Ma’arif yang selalu dipandang remeh oleh masyarakat..

(57)

menyeleksi anak didiknya untuk menuntut ilmu di sekolah

tersebut, Tapi menurutnya, sekolah unggulan dan mandiri adalah

bagaimana bisa mengubah Anak didik yang tadinya tidak bisa

menjadi bisa, out put yang tadinya bermasalah menjadi

berprestasi. Jadi dari situ dapat dilihat sejauh mana para pengajar

dan pihak sekolah bekeija secara maksimal dan sungguh-

sungguh dalam mentransfwer ilmu, membentuk pribadi muslim

yang taat pada agama dan bermoral.

SMK Diponegoro mempunyai 950 siswa, 45 Guru

Pendidik yang terdiri dari 15 PNS dan 20 GTT, 20 Karyawan,

mempunyai 5 jurusan kejuruan yaitu Akutansi, Perkantoran,

kecantikan, sekretaris dan tata boga, mempunyai 20 ruang kelas,

4 ruang guru dan karyawan, 1 mushola, 8 ruang praktek dan 2

ruamg komputer. Jika dilihat dari segi bangunan dan sarana yang

ada, SMK Diponegoro termasuk sekolah yang maju dan lengkap

dalam sarana. Kurikulum yand diajarkan diSMK disamping

kurikulum wajib, juga ada kurikulum kejuruan menurut program

yang dipilihnya serta kurikulum ibadah yang mencakup PAI dan

kurikulum khusus yang menjadi ciri khas yaitu ASWAJA.

SMK terus melakukan perbaikan baik dalam bidang

mutu pendidikan, kelembagaan maupun SDM Guru. Harapan

untuk LP Ma’arif kedepannya bisa lebih fokus dalam mengelola

Referensi

Dokumen terkait

Data-data yang diperoleh diatas menunjukkan bahwa, karakter siswa sudah terbentuk melalui kebiasaan-kebiasaan yang ada di daily report hanya saja tidak semua

Tidak seperti IEMOs yang mempunyai reputasi dan kredibiliti baik dalam urusan ini, pelaporan lunak DEMOs zombie berkaitan dapatan pemantauan mereka terhadap

Konsep pendidikan tasawuf amali sangat dibutuhkan oleh setiap individu maupun masyarakat karena jika ditelaah secara mendalam tasawuf amali memiliki aspek-aspek

Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa vulnus laseratum adalaah luka Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa vulnus laseratum adalaah luka robek yang

Digester biasanya berupa tangki (plat besi atau plastik) yang kedap udara. Di dalam digester ini bahan organik akan dicerna dan difermentasi oleh bakteri anaerob. Hasil

RINCIAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN. TAHUN

Dari sekian perundang-undangan yang digunakan sebagai acuan tekait illegal logging, tidak satupun yang bisa memberikan kepastian hukum terhadap pertanggungjawaban

Membantu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan serta Pengawas Teknis Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bulungan dalam melaksanakan tugas dan kewaji bannya