• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Elmalana BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Elmalana BAB II"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hasil Penelitian Terdahulu

1. Berdasarkan penelitian (Suarniti, 2017) Studi Fenomenologi : faktor-faktor yang menyebabkan wanita usia subur tidak menjalani deteksi

kanker serviks dengan tes inspeksi visual asam asetat (IVA) di Provinsi

Bali tahun 2017, didapatkan hasil bahwa inspeksi visual dengan asam

asetat (IVA) sebagai tes skrining baru, telah banyak dievaluasi keakuratannya. Informasi dan penerimaan masih terbatas, serta setiap pengalaman negatif terkait dengan tes tersebut dapat mengurangi

motivasi seseorang untuk menjalaninya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Bali ada beberapa pernyataan yang dikatakan oleh responden, diantaranya :

a. Alasan seorang WUS tidak menjalani deteksi kanker serviks dengan tes IVA karena aktivitas ibu rumah tangga yang sangat sibuk sehingga waktu dalam sehari masih dianggap kurang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Selain itu, wanita Bali juga sibuk dengan kegiatan keagamaan diantaranya menyiapkan sajen dan mebaten (sembahyang menggunakan sarana canang) yang harus dilakukan setiap hari.

b. Wanita merasa takut untuk melakukan tes karena menganggap pemeriksaannya lama dan sakit, merasa malu karena harus membuka celana dalam dan takut jika mengetahui hasil pemeriksaan positif.

c. Wanita di daerah pedesaan mempunyai ketergantungan yang cukup tinggi dengan suami, terutama dalam hal pemeliharaan kesehatan, pengambilan keputusan, mendapatkan sarana pendukung seperti finansial dan transportasi. Suami di dalam keluarga mempunyai peranan dalam pengambilan keputusan dan biaya.

(2)

promosi kesehatan dan sumber informasi terkait program. Promosi kesehatan terkait pengawasan program, frekuensi sosialisasi, penjatahan dan pembatasan peserta, sedangkan sumber informasi meliputi media informasi dan penyuluhan yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan. Dukungan dari pihak desa juga dirasakan belum optimal.

2. Berdasarkan penelitian (Kurniawati, 2015) dengan judul Pengaruh Pengetahuan, Motivasi dan Dukungan Suami terhadap Perilaku

Pemeriksaan IVA pada Wanita Usia Subur di Puskesmas Kedungrejo

tahun 2015 : penelitian ini merupakan penelitian observasional kuantitatif dengan pendekatan Cross sectional, dengan jumlah sampel yaitu wanita usia subur sebanyak 61 orang. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa mayoritas dukungan suami pada kategori baik yaitu sebanyak 35 orang (57,4%).

3. Berdasarkan penelitian sebelumnya yaitu Knowledge and Acceptability of Cervical Cancer Screening Among Women in Ngombe Community,

Lusaka tahun 2011, penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif

non eksperimental dan dengan menggunakaan desain penelitian deskriptif. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah

(3)

responden tidak melakukan skrining untuk kanker serviks adalah dikarenakan malas dengan persentase 29% dari total sampel.

Persamaan penelitian yang akan dilakukan yaitu pada variabel yang digunakan seperti faktor pengetahuan dan pendidikan, kemudian menggunakan alat instrumen yang sama yaitu kuesioner. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah metode yang digunakan, penelitian dilakukan menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional, kemudian perbedaan wilayah karena penelitian ini dilakukan di wilayah Purwokerto Timur sedangkan penelitian sebelumnya dilakukan di komunitas Ng’ombe Lusaka. Variabel yang digunakan selain, pengetahuan dan pendidikan, terdapat faktor tambahan seperti dukungan suami.

B. Landasan Teori 1. Kanker Serviks

a. Anatomi serviks

Serviks adalah leher rahim berbentuk silinder jaringan yang menghubungkan vagina dan uterus. Serviks terbuat dari

tulang rawan yang ditutupi oleh jaringan halus, lembap, dan tebalnya sekitar 1 inci. Ada dua bagian utama dari serviks, yaitu ektoserviks dan endoserviks (Rahayu, 2015).

(4)

Bagian serviks yang dapat dilihat dari luar selama pemeriksaan ginekologi dikenal sebagai ektoserviks. Ektoserviks adalah bagian serviks yang menonjol kearah vagina disebut portio vaginalis atau ektoserviks. Panjang rata-rata portio adalah 3 cm dan lebar 2,5 cm. portio dibagi menjadi bibir anterior dan bibir posterior. Pembuka di pusat ektoserviks, dikenal sebagai os eksternal, membuka untuk memisahkan bagian antara uterus dan vagina. Endoserviks atau kanal endoserviks adalah sebuah terowongan melalui serviks, dari os eksternal ke dalam uterus. Selama masa praremaja, endoserviks terletak di bagian serviks. Perbatasan tumpang tindih antara endoserviks dan ektoserviks disebut zona transformasi. Serviks menghasilkan lendir serviks yang konsistensi atau kekentalannya berubah selama siklus menstruasi untuk mencegah atau mempromosikan kehamilan (Rahayu, 2015).

b. Pengertian Kanker Serviks

Setiap sel dalam tubuh manusia mempunyai bentuk khas. Namun, pada dasarnya sel mempunyai tingkah laku sama, yaitu membentuk sel-sel baru dengan cara membelah, masa hidupnya

tertentu, dan kemudian mati atau rusak. Pembelahan sel hanya terjadi di bagian tubuh yang memerlukan, misalnya saat terjadi luka. Untuk menutup luka tersebut, terjadilah peningkatan pembelahan sel. Pembelahan sel ini diatur oleh faktor keturunan (genom) yang terdapat dalam inti sel tubuh. Genom mengatur keseimbangan faktor pemacu dan penghambat pembelahan sel. Genom dapat mengalami perubahan/mutasi sehingga terjadi kekeliruan dalam pengaturan pembelahan sel (Kartikawati, 2013).

(5)

tumbuh berjejal-jejal dan membentuk benjolan. Sel abnormal yang mengalami pembelahan terlalu cepat ini dinamakan tumor. Tumor dapat timbul di semua bagian tubuh, misalnya kulit, paru-paru, lambung, dan bagian tubuh lainnya (Kartikawati, 2013).

Tumor dibedakan menjadi dua macam, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Pada tumor jinak, sel-sel yang mengalami pembelahan terus-menerus terjadi di tempat asal sel dan dalam waktu yang relatif lebih lambat. Tumor jinak berselaput pembungkus sehingga relatif tidak berbahaya dan mudah dioperasi. Pada tumor ganas, sel-sel yang mengalami pembelahan terus-menerus dapat berpindah tempat ke bagian lain di dalam tubuh dan membentuk tumor baru (mengalami metastasis). Waktu pembelahan sel-sel pada tumor ganas lebih cepat dibandingkan pada tumor jinak. Tumor ganas sering disebut juga kanker (Kartikawati, 2013).

Kanker serviks adalah keganasan dari serviks yang ditandai dengan adanya perdarahan lewat jalan lahir di mana tanda dan diagnosis pasti bisa ditegakkan dengan menggunakan Pap smear (Prawiroharjo, 1994). Kanker serviks adalah suatu proses

keganasan yang terjadi pada serviks, di mana dalam keadaan ini terdapat sekelompok sel yang abnormal sehingga jaringan tubuh tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya. Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel abnormal pada serviks di mana sel-sel normal berubah menjadi sel kanker. Perubahan ini biasanya memakan waktu 10-15 tahun sampai kanker terjadi 80% dari wanita yang berisiko terinfeksi oleh HPV, hingga 50% dari mereka akan terinfeksi oleh HPV sepanjang masa hidupnya (Rahayu, 2015).

(6)

sel-sel di leher rahim, kanker serviks juga dapat berasal dari sel-sel-sel-sel mulut rahim ataupun keduanya (Arum, 2015).

c. Mekanisme Kanker Serviks

Menurut Imam Rasjidi (2010), kanker serviks pada awalnya berupa lesi prakanker, kemudian berkembang secara bertahap dan pada akhirnya berubah menjadi kanker. Lesi prakanker disebut juga displasia, sebagian besar kasus displasia sel serviks sembuh dengan sendirinya, sementara hanya sekitar 10% yang berubah menjadi displasia sedang dan berat. Dengan tidak adanya upaya pencegahan yang dilakukan pada tahap awal atau pada masa perkembangan, maka yang awalnya hanya prakanker dapat berubah menjadi kanker secara bertahap bahkan menjadi ganas, namun membutuhkan waktu 10-20 tahun untuk menjadi ganas. Penyakit ini tidak hanya menyerang permukaan leher rahim, tetapi juga akan berkembang pada jaringan lain yang berada di dekatnya. Karena sel-sel kanker mempunyai sifat yang dapat menyebar dengan melepaskan diri dari lokasi aslinya, sel-sel kanker dapat masuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh getah bening yang bercabang ke semua jaringan di dalam tubuh. Hal ini

menyebabkan terbentuknya tumor baru yang dapat merusak jaringan-jaringan tersebut. Penyebaran kanker ini disebut metastasis.

Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) dimana virus ini dapat menyerang bagian kulit dan membran mukosa manusia dan hewan. Namun sebanyak 99,7% Human Papilloma Virus menyerang leher rahim sehingga

(7)

meninggal karena kanker serviks, yang disebabkan oleh infeksi itu (Rasjidi, 2010).

d. Tanda dan Gejala Kanker Serviks

Infeksi HPV dan kanker serviks pada tahap awal berlangsung tanpa gejala. Bila kanker sudah mengalami progresivitas atau stadium lanjut, maka gejalanya dapat berupa : 1) Keputihan : makin lama makin berbau busuk dan tidak

sembuh-sembuh, terkadang tercampur darah.

2) Perdarahan kontak setelah sanggama merupakan gejala serviks 75-80%.

3) Perdarahan spontan : perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah dan semakin lama semakin sering terjadi. 4) Perdarahan pada wanita usia menopause.

5) Anemia

6) Gagal ginjal sebagai efek dari infiltrasi sel tumor ke ureter yang menyebabkan obstruksi total.

7) Perdarahan vagina yang tidak normal

a) Perdarahan di antara periode regular menstruasi.

b) Periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari

biasanya.

c) Perdarahan setelah hubungan seksual atau pemeriksaan panggul.

d) Perdarahan pada wanita pada usia menopause. 8) Nyeri

a) Rasa sakit saat berhubungan seksual, kesulitan atau nyeri dalam berkemih, nyeri di daerah sekitar panggul.

(8)

e. Stadium Perkembangan Kanker Serviks

Kanker serviks dimulai dengan terinfeksinya leher rahim dengan virus HPV, yaitu virus utama yang menyebabkan kanker serviks. Dalam perkembangannya yang memakan waktu hingga 20 tahun, virus yang awalnya hanya menginfeksi leher rahim akan berubah menjadi sel kanker yang mematikan. Tapi tidak semua infeksi HPV berkembang menjadi kanker serviks. Sebagian besar infeksi HPV (sekitar 50-70%) menghilang melalui respons imun alamiah setelah melalui masa beberapa bulan hingga dua tahun. Meskipun tidak semua tetapi banyak kasus yang menyatakan bahwa infeksi akibat HPV tipe onkogenik yang tidak menghilang akan terus berkembang menjadi kanker serviks, dan hal ini banyak sekali terjadi pada wanita-wanita di dunia (Arum, 2015).

Diperkirakan bahwa dari setiap satu juta wanita yang terinfeksi HPV tipe onkogenik, hampir 10% akan menjadi perubahan sel serviks prakanker (dysplasia serviks). Dari angka tersebut, sekitar 8% akan mengalami perubahan prakanker pada sel-sel yang terdapat di permukaan serviks, dan dari jumlah tersebut, kurang lebih 20% nya akan terus berkembang menjadi

kanker serviks apabila dibiarkan. Sehingga dengan melihat hal tersebut, maka ditemukan tiga pola utama pada prakanker, dimulai dengan infeksi pada sel serta perkembangan sel-sel abnormal yang dapat berlanjut menjadi intraepithelial neoplasia dan akhirnya menjadi kanker serviks (Arum, 2015).

(9)

tersebut. FIGO (Internasional Federation of Gynaecology and Obstetrics) adalah salah satu lembaga atau badan yang telah

mengeluarkan pembagian stadium kanker serviks, sehingga sistem inilah yang umumnya digunakan dalam pembagian kanker serviks. Pada sistem ini, angka romawi 0 sampai IV menggambarkan stadium kanker (Arum, 2015).

1) Stadium 0

Stadium 0 ini disebut juga dengan sebuah carcinoma in situ, karena pada stadium ini sel-sel kanker belum menyebar ke

jaringan lain. Kanker masih kecil dan hanya terbatas pada permukaan serviks. Selain itu, kanker hanya ditemukan di lapisan atas dari sel-sel pada jaringan yang melapisi serviks. Angka harapan hidup penderita kanker stadium ini dalam lima tahun adalah 100% (Arum, 2015).

2) Stadium I

Karsinoma yang hanya menyerang serviks (tanpa bisa mengenali ekstensi ke corpus). Meskipun pertumbuhan kanker hanya terbatas pada serviks, namun infeksinya sudah mulai menyerang serviks di bagian bawah lapisan atas dari sel-sel

serviks dan ini ditemukan hanya di leher rahim. Angka harapan hidup penderita kanker stadium ini dalam lima tahun adalah 85%. Ada dua bagian dari stadium I yaitu, stadium 1 A dan stadium 1 B.

a) Pertama, stadium IA : Karsinoma invasif yang hanya didiagnosis melalui pemeriksaan mikroskopis, kedalaman invasi < 5 mm dan ekstensi terluas > 7 mm.

Stadium IA1 : Invasi stroma sedalam < 3 mm dan seluas < 7 mm. Meskipun perkembangannya sudah mulai meluas, namun dokter tidak dapat melihat sel kanker ini tanpa bantuan mikroskop.

(10)

b) Kedua, stadium IB : Lesi yang Nampak secara klinis, terbatas pada serviks uteri atau kanker preklinis yang lebih besar daripada stadium IA.

Stadium IB1 : Lesi yang nampak < 4 cm. pada stadium ini, dokter sudah mulai dapat melihat kanker dengan mata telanjang karena ukuran sel kanker kian membesar.

Stadium IB2 : Lesi yang nampak > 4 cm. pada stadium

ini, dokter juga sudah bisa melihatnya dengan mata telanjang (Arum, 2015).

3) Stadium II

Pada stadium ini, karsinoma yang menginvasi dekat uterus, tapi tidak menginvasi dinding pelvis atau sepertiga bawah vagina. Lokasi kanker pada stadium ini meliputi serviks dan uterus, namun belum menyebar ke dinding pelvis atau bagian bawah vagina dan tidak mencapai dinding panggul. Kanker menyebar melewati leher rahim menyerang jaringan-jaringan di sekitarnya. Angka harapan hidup penderita kanker stadium ini dalam lima tahun adalah 50-60% (Arum, 2015).

Stadium II ini terbagi dalam dua bagian, yaitu II A dan II B. II A adalah kondisi di mana kanker meluas sampai ke atas vagina, tapi belum menyebar lebih dalam dari vagina. Kanker tidak menginvasi ke parametrium (jaringan penyambung), namun melibatkan 2/3 bagian atas vagina. Pada IIA1, lesi yang nampak < 4 cm sedangkan pada IIA2, lesi yang nampak > 4 cm. Sementara itu, stadium II B adalah kondisi di mana mulai

nampak invasi ke parametrium namun tidak melibatkan dinding samping panggul (Arum, 2015).

4) Stadium III

(11)

menyebar ke simpul-simpul getah bening yang berdekatan. Angka harapan hidup penderita kanker pada stadium ini dalam lima tahun adalah 30% (Arum, 2015).

Tahap perkembangan kanker pada stadium III ini terbagi dalam dua kelompok, yaitu IIIA dan IIIB. Kondisi sel kanker IIIA adalah saat di mana kanker telah melibatkan sepertiga bawah vagina, tanpa ekstensi ke dinding pelvis. Dalam stadium ini, kanker telah meluas sampai ke dinding samping panggul. Sedangkan pada stadium IIIB, sel kanker telah meluas sampai dinding samping vagina. Hal ini, akan menghambat proses berkemih, sehingga menyebabkan timbunan air seni di ginjal dan berakibat gangguan ginjal. Stadium ini telah mulai merusak ginjal (Arum, 2015).

5) Stadium IV

Ini adalah stadium akhir kanker dimana kondisi kanker sudah sangat parah. Karsinoma telah meluas ke pelvis sejati atau telah melibatkan mukosa kandung kemih atau rectum dan meluas melampaui panggul. Angka harapan hidup penderita kanker stadium ini dalam lima tahun sangatlah kecil, yaitu

sekitar 5% (Arum, 2015).

(12)

2. Pemeriksaan Serviks (skrining)

Menurut Imam Rasjidi (2010), skrining adalah sebuah proses untuk mengidentifikasi suatu penyakit atau kelainan yang tidak dikenal, melalui tes yang dilakukan secara cepat pada lingkup yang luas. Melalui skrining, orang-orang yang sehat dan sakit dapat dibedakan dengan jelas. Kegiatan skrining bukan hanya dibatasi pada diagnosis penyakit saja melainkan diikuti dengan tindak lanjut dan perawatan. Klasifikasi skrining sebagai berikut :

a. Skrining massal (mass screening)

Skrining massal ialah pemeriksaan seluruh penduduk pada golongan umur tertentu, dalam suatu wilayah tertentu, dan dalam waktu yang tertentu mencari kanker dini.

b. Skrining multipel (multiple atau multiphasic screening)

Skrining multipel ialah skrining dengan menggunakan berbagai metode tes untuk satu jenis kanker pada segolongan penduduk tertentu.

c. Skrining dengan target (targetted screening)

Adalah skrining pada kelompok yang terkena pajanan spesifik misalnya skrining kanker pada pengguna kontrasepsi hormonal.

d. Skrining kasus (case-finding atau opportunistic screening)

Ini adalah skrining di klinik untuk pasien yang berkonsultasi dengan tenaga medis.

Skrining kanker memerlukan banyak biaya dan tenaga. Oleh karena itu, perlu diperhitungkan efektivitasnya. Jenis kanker yang akan diskrining hendaknya dipertimbangkan apakah sudah ada cara pengobatan yang efektif, apakah terdapat perbedaan hasil pengobatan yang mencolok antara stadium dini dan lanjut, dan apakah insiden kanker cukup tinggi, sehingga banyak terdapat stadium dini. Metode skrining yang akan dipakai hendaknya bersifat sebagai berikut :

(13)

b. Sensitif, yaitu persentase negatif palsu kecil. Tes tersebut dapat menemukan kanker dalam stadium dini.

c. Dapat dipercaya. Tes haruslah memiliki hasil yang konsisten pada beberapa pengukuran dan ditunjukkan dengan presisi yang kecil. d. Murah. Alat-alat yang digunakan untuk skrining tidak mahal dan

tidak sukar melakukannya.

e. Merupakan masalah kesehatan masyarakat. Skrining sebaiknya dilakukan untuk penyakit atau kondisi kesehatan yang menimbulkan akibat serius dan prevalensi yang besar.

f. Faktor teknis lain seperti fasilitas diagnosis yang cukup, aman, dapat diterima banyak orang (Rasjidi, 2010).

Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang dapat disembuhkan bila terdeteksi pada tahap awal. Dengan demikian, deteksi dini kanker serviks sangat diperlukan. Ada beberapa tes yang dapat dilakukan untuk pada deteksi dini kanker serviks, yaitu sebagai berikut :

a. Pap Smear

Tes Papanicolou smear atau disebut tes Pap smear

merupakan pemeriksaan sitologi untuk sel di area serviks. Sampel

sel-sel diambil dari serviks wanita untuk memeriksa tanda-tanda perubahan pada sel. Tes Pap smear dapat digunakan mendeteksi displasia serviks atau kanker serviks (Rahayu, 2015).

(14)

b. IVA

Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) adalah pemeriksaan skrining alternatif Pap smear karena biaya murah, praktis, sangat mudah untuk dilakukan dengan peralatan sederhana dan murah, dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. Tes IVA merupakan salah satu deteksi dini kanker serviks dengan menggunakan asam asetat 3-5% pada inspekulo dan dilihat dengan pengamatan langsung (mata telanjang) (Rahayu, 2015).

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, sensitifitas dari pemeriksaan IVA untuk deteksi dini lesi prakanker serviks adalah 84%, spesifisitas 89%, nilai duga positif 87%, nilai duga negatif 86%. Tes IVA ini dilakukan dengan mengusap atau mengoles asam asetat 3-5% pada leher rahim pada epitel abnormal, lalu hasilnya dapat diamati dengan mata telanjang selama 20-30 detik. Setelah itu akan dapat diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih atau tidak. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Jika hasilnya tampak bercak putih, maka ada kemungkinan kelainan tahap prakanker

(15)

3. Penerimaan (Acceptability)

Penerimaan merupakan suatu keadaan menyambut sesuatu atau mengakui sesuatu (Geddes and Crosset, 2006). Menurut Kalonga, misinformasi dari wanita lain yang telah mengakses layanan sebelumnya tentang prosedur skrining dan peralatan yang digunakan, mungkin mempengaruhi pengetahuan dan penerimaan untuk skrining kanker serviks. Jika wanita tidak memiliki informasi yang memadai tentang kanker serviks dan pelayanan skrining, mungkin itu mempengaruhi pengambilan keputusan dan oleh karena itu mungkin tidak menerima skrining (Kalonga, 2011).

Tingkat pendidikan perempuan memiliki peran utama dalam hal pemahaman dan penerimaan skrining kanker serviks. Wanita yang telah mencapai pendidikan dasar berada diposisi yang lebih baik untuk memahami masalah yang berkaitan dengan skrining kanker serviks, sedangkan perempuan yang belum pernah menempuh pendidikan akan memiliki masalah dalam memahami isu-isu yang berkaitan dengan kanker serviks dan skrining karena materi informasi pendidikan dan komunikasi dan metode yang digunakan, dengan demikian mungkin tidak menerima skrining kanker serviks (Kalonga, 2011).

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan a. Faktor Predisposisi

1) Pendidikan

(16)

Pendidikan setingkat SMA merupakan pendidikan menengah, dimana tingkat pendidikan ini seseorang akan cukup memiliki kemampuan untuk menerima informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan kesehatan (Nurtini, 2017). Menurut Arikunto, pendidikan dikategorikan menjadi 2 yaitu : pendidikan rendah (SD-SMP) dan pendidikan tinggi (SMA-Perguruan Tinggi).

Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan seseorang tentang kesehatan mungkin penting sebelum terjadinya perilaku kesehatan, namun tindakan kesehatan yang diinginkan mungkin tidak terjadi kecuali seseorang memiliki motivasi untuk bertindak atas pengetahuan yang dimilikinya. Studi kualitatif di Malaysia, didapatkan pengetahuan tentang skrining kanker serviks, sikap dan keyakinan berkaitan dengan perilaku seorang wanita untuk tidak menjalani skrining kanker serviks. Studi ini menemukan bahwa wanita kurang menyadari indikasi dan manfaat skrining kanker serviks. Hal ini didukung oleh penelitian di India, dilaporkan bahwa faktor yang paling dominan menyebabkan seorang wanita tidak melakukan

skrining kanker serviks adalah faktor pengetahuan (51,4%), wanita menganggap tidak perlu skrining karena tidak merasakan gejala, tidak menyadari pentingnya skrining dan merasa tidak wajib untuk melakukannya.

(17)

2) Pengetahuan

Menurut Retnosari, WUS yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang menyebabkan praktik untuk melakukan deteksi dini kanker serviks pun kurang. Hasil penelitiannya menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan wanita tentang risiko kanker serviks terhadap motivasi untuk melakukan deteksi dini kanker serviks (Retnosari, 2010). Hubungan signifikan terjadi antara tingkat pengetahuan WUS dengan cakupan IVA, dimana semakin baik tingkat pengetahuan WUS mempunyai hubungan dengan tingginya cakupan IVA di suatu puskesmas. Penelitian kualitatif di Thailand menunjukkan bahwa WUS tidak termotivasi dalam menjalani tes IVA antara lain karena malu, tidak menunjukkan gejala, takut jika tahu menderita kanker serviks, dan pemeriksaanya sakit. Sedangkan pada WUS yang menjalani tes IVA mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai rasa malu, dan menjalani tes IVA adalah sesuatu yang normal, dan jika sudah dites maka akan merasa lega mengetahui hasilnya. Penelitian Pharta Basu di India Selatan,

mendapatkan hasil wanita yang tidak mengikuti skrining adalah sebagian wanita yang berpendidikan tinggi namun tidak mempunyai motivasi untuk melakukan skrining, karena merasa belum penting melakukannya (Nurtini, 2017).

b. Faktor Eksternal (Reinforcing)

(18)

menunjukkan masih rendahnya dukungan dari faktor keluarga dan sosial di sekitar responden yang mendorong WUS tidak menjalani tes IVA. Wanita yang mendapatkan dukungan keluarga dan sosial yang baik cenderung melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. Dukungan dari orang atau kelompok terdekat memberikan kontribusi yang kuat untuk memperkuat alasan bagi seseorang untuk berperilaku. Jika seseorang wanita tidak memiliki orang atau kelompok terdekat yang memiliki pemahaman yang baik mengenai kesehatan, maka secara tidak langsung akan berimbas pada perilaku wanita tersebut. Oleh karena itu informasi mengenai kanker serviks dan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks tidak hanya wanita yang menjadi fokus utama, namun pria juga merupakan sasaran yang sangat potensial. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa faktor penting dalam memberikan dorongan bagi ibu untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks adalah orang-orang terdekat yaitu suami dan keluarga (Suarniti, 2017).

1) Dukungan Suami

Peran suami dan keluarga sangat kuat dalam

(19)

C. Kerangka konsep

Gambar 2.2 Kerangka Konsep D. Hipotesis

1. H0 = Tidak terdapat hubungan antara pendidikan dengan penerimaan skrining kanker serviks

Ha = Terdapat hubungan antara pendidikan dengan penerimaan skrining kanker serviks

2. H0 = Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan penerimaan skrining kanker serviks

Ha = Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan penerimaan skrining kanker serviks

3. H0 = Tidak terdapat hubungan antara dukungan suami dengan penerimaan skrining kanker serviks

Ha = Terdapat hubungan antara dukungan suami dengan penerimaan skrining kanker serviks

Faktor predisposisi :

Pengetahuan dan Pendidikan

Faktor eksternal :

Dukungan suami

Penerimaan deteksi dini

kanker serviks dengan tes IVA Skrining kanker

Gambar

Gambar 2.1 Anatomi Leher Rahim ( Riksani, 2016)
Gambar 2.2 Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Insidensi tumor pada kelompok perlakuan ekstrak dosis 250 mg/kg BB mencapai 4/10 dalam waktu 16 minggu, artinya hanya 4 ekor tikus yang terkena tumor mamae (n=10).. Adapun

Spesimen dengan batang yang pendek ditujukan untuk mengetahui kuat tekan akibat keruntuhan tekuk lokal atau tekuk plastis, spesimen dengan batang panjang ditujukan

masing gaya kognitif (field dependent dan field independent), manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik antara model pembelajaran

Untuk menghindari unsur subjektif dalam melakukan penyeleksian penerima beasiswa, maka tujuan dari penelitian ini yaitu menghasilkan suatu aplikasi sistem pendukung keputusan yang

ini menunjukkan bahwa genus Acinetobacter mampu menghasilkan enzim amilase dan enzim katalase, serta memanfaatkan karbohidrat sukrosa dan sitrat sebagai

Tidak lama kemudian menyusul rombongan kolonis kedua, mereka juga disebut dalam Tambo Tinggi dan Tambo Adat Bayang nan Tujuh dan natulensi7 sidang Kerapatan Adat

Lighting plan merupakan gambar yang menunjukkan rencana peletakan lighting pada suatu area yang dirancang dilengkapi dengan jenis dan jumlah lighting yang digunakan