• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

23

HASIL DAN PEMBAHASAN Ransum Komplit

Ransum yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari rumput gajah, konsentrat, tepung daun kembang sepatu, dan ampas teh. Rumput gajah diperoleh dari Laboratorium lapang Agrostologi IPB, sedangkan konsentrat dibuat sendiri dengan mencampur beberapa bahan. Konsentrat yang dibuat mengandung protein kasar sebesar 15,43%, nilai ini sudah memenuhi kebutuhan sapi perah berdasarkan NRC 2001. Tillman et al. (1992) menyatakan bahwa rumput gajah mempunyai nilai protein kasar yang cukup tinggi. Maka penggunaan rumput gajah dalam penelitian ini sudah sesuai untuk sapi perah. Analisa proksimat bahan makanan yang digunakan dalam penyusunan ransum komplit disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Kandungan Nutrien Ransum Berdasarkan 100% Bahan Kering

Nutrien K H K:H= (%)

40:60 AT DKS

Abu 14,65 6,43 9,72 14,28 10,48

PK 15,.43 14,58 14,92 22,28 14,91

(2)

24

SK 6,49 25,.37 17,82 16,78 13,.43

Beta-N 54,86 50,98 52,53 44,90 58,45

TDN 1) 76,67 61,91 67,81 69,04 68,29

Keterangan: 1) K=Konsentrat, H= Hijauan (Rumput Gajah), AT= Ampas Teh, DKS= Daun Kembang Sepatu 2) Analisa proksimat Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Dramaga Bogor (2011). 3) Perhitungan TDN dengan rumus (Hartadi,1980)

Rumus TDN = 92,464 - (3,338 x SK) - (6,945 x LK) - (0,762 x Beta-N) + (1,115 x PK) + (0,031 x SK2) -

(0,133 x LK2) + (0,036 x SK x Beta-N) + (0,207 x LK x Beta-N) + (0,1 x LK x PK) - (0,022 x LK x PK)

Ampas teh diberikan dengan level 0; 1; 2; 3 mg/ml cairan rumen, sedangkan tepung daun kembang sepatu diberikan pada level 0; 0,15; 0,3 mg/ml cairan rumen. Ampas teh dan tepung daun kembang sepatu diberikan karena memiliki kandungan saponin dan tanin yang merupakan agen defaunasi pada ruminansia. Tanin dan saponin dalam dosis yang tepat tidak mengganggu kecernaan ternak. Kandungan tanin dan saponin pada ampas teh dan daun kembang sepatu dapat dilihat pada tebel 4. Hasil uji fitokimia menunjukan bahwa kandungan tanin pada daun kembang sepatu lebih besar daripada ampas teh. Hal ini terjadi diduga karena daun teh yang digunakan pada penelitian ini mengalami fermentasi berulang sehingga kandungan tanin pada ampas teh nya sudah sangat sedikit.

Tabel 4. Persentase Tanin dan Saponin pada Ampas Teh dan Daun Kembang Sepatu

Bahan (%)

Tanin Saponin

Ampas Teh 0,24 0,9

Daun Kembang Sepatu 0,48 7,68

Keterangan: Analisis di Laboratorium Balai Penelitian Ternak, Ciawi Bogor (2011)

Populasi Protozoa Total pada Level Tepung Daun Kembang sepatu dan Ampas Teh yang Berbeda

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa tidak ada interaksi antara level penambahan tepung ampas teh dan daun kembang sepatu terhadap populasi protozoa. Penambahan tepung ampas teh pada level 3 mg/ml cairan rumen cenderung menurunkan (P<0,1) populasi protozoa (Tabel 5). Tetapi penambahan tepung daun kembang sepatu tidak mempengaruhi (P>0,1) jumlah protozoa. Penurunan jumlah protozoa dengan penambahan ampas teh 3 mg/ml cairan rumen sebesar 1,73% yang diduga karena tanin mengikat protein pakan di dalam rumen yang menyebabkan protozoa kekurangan nutrisi untuk tumbuh. McSweeney et al. (2001) menyatakan

(3)

25 bahwa tanin merupakan komponen polifenol yang mampu berikatan dengan protein pakan, sehingga mampu menghambat transpor nutrien ke dalam mikroorganisme. Sekitar 50% protein pakan akan didegradasi menjadi ammonia dan asam amino oleh protozoa (Jouany, 1991).

Jumlah protozoa tidak dipengaruhi dengan penambahan tepung daun kembang sepatu, diduga karena dalam penelitian ini menggunakan tepung daun kembang sepatu dalam dosis yang masih rendah. Penggunaan ekstrak tumbuhan yang mengandung saponin pada ternak ruminansia lebih efektif menekan protozoa. Berdasarkan penelitian Fitri et al. (2010) kandungan saponin pada ekstrak daun kembang sepatu adalah 23,33% sedangkan berdasarkan analisis Laboratorium Balai Penelitian Ternak Ciawi Bogor (2011) kandungan saponin pada tepung daun kembang sepatu hanya sebesar 7,68%. Pada penelitian ini, diduga protozoa akan mampu beradaptasi terhadap keberadaan saponin yang rendah.

Wina et al. (2005) menyatakan bahwa bakteri rumen memiliki kemampuan untuk mendegradasi sebagian saponin, sehingga saponin tidak memiliki kapasitas untuk menekan populasi protozoa. Beberapa penelitian juga mengungkapkan bahwa setelah 10 hari pemberian ransum yang mengandung saponin maka populasi protozoa akan kembali normal akibat adanya proses adaptasi (Becker et al., 2005).

Tabel 5. Pengaruh Tepung Ampas Teh dan Daun Kembang Sepatu Terhadap Populasi Protozoa Secara in vitro (dalam log)

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama berbeda pada (P<0,1).

Protozoa merupakan salah satu mikroba rumen yang ikut berperan dalam fermentasi karbohidrat pakan dalam sistem rumen. Peranan protozoa saat ini masih

Level Tepung Ampas Teh

(mg/ml)

Level Tepung Daun Kembang Sepatu

(mg/ml) Protozoa pada Level Rataan Populasi Tepung Ampas Teh

yang Berbeda 0 0,15 0,3 0 4,30 ± 0,22 4,07 ± 0,15 3,77 ± 0,06 4,05 ± 0,14b 1 4,28 ± 0,13 4,26 ± 0,14 4,15 ± 0,07 4,23 ± 0,11b 2 4,16 ± 0,05 4,04 ± 0,21 4,01 ± 0,15 4,07 ± 0,13b 3 4,16 ± 0,05 3,99 ± 0,25 3,80 ± 0,10 3,98 ± 0,13a Rataan Populasi Protozoa pada Level Tepung DKS yang Berbeda 4,23 ± 0,11 4,09 ± 0,19 3,93 ± 0,09

(4)

26 dipertanyakan keberadaannya di dalam sistem pecerneaan. Sebagian ahli nutrisi ruminansia menganggap bahwa protozoa dan bakteri bersaing dalam menggunakan ransum. Protozoa bersifat memangsa bakteri sebagai sumber protein untuk kehidupannya sehingga jumlah bakteri sebagai pencerna pakan dalam rumen akan berkurang (Arora, 1995). Namun sebagian ahli berpendapat lain, yaitu protozoa penting keberadaannya karena dapat menstabilkan pH saat fermentasi berlangsung sehingga dapat berfungsi sebagai penyangga, karena mempunyai kemampuan memecah pati lebih lama dibandingkan dengan bakteri (Jouany dan Ushida, 1989). Jumlah protozoa di dalam rumen pada kondisi normal sekitar 104-106 sel/ml cairan rumen (Kamra, 2005). Kisaran ini sama dengan populasi protozoa dalam penelitian ini, yaitu 104.

Populasi Bakteri Total pada Level Tepung Daun Kembang sepatu dan Ampas Teh yang Berbeda

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa tidak ada interaksi antara level penambahan tepung ampas teh dan daun kembang sepatu terhadap populasi bakteri total. Pemberian tepung ampas teh pada level 3 dan 2 mg/ml cairan rumen tidak nyata meningkatkan (P>0,05) populasi bakteri total dibandingkan dengan kontrol. Pemberian tepung daun kembang sepatu pada level 0,3 mg/ml cairan rumen juga tidak nyata meningkatkan (P>0,05) pertumbuhan bakteri total (Tabel 6).

Tabel 6. Pengaruh Tepung Ampas Teh dan Daun Kembang Sepatu Terhadap Populasi Bakteri Total Secara in vitro (dalam log)

Level Ampas Teh (mg/ml)

Level Daun Kembang Sepatu (mg/ml) Rataan Populasi Bakteri Total pada Level Tepung Ampas Teh yang Berbeda 0 0,15 0,3 0 6,10 ± 0,10 5,57 ± 0,15 6,89 ± 0,47 6,19 ± 0,24b 1 6,33 ± 0,14 5,63 ± 0,20 6,00 ± 0,30 5,98 ± 0,21a 2 5,92 ± 0,20 6,23 ± 0,21 6,02 ± 0,46 6,06 ± 0,29b 3 6,20 ± 0,08 5,60 ± 0,10 6,36 ± 0,10 6,05 ± 0,09b Rataan Populasi Bakteri Total pada Level Tepung DKS 6,14 ± 0,13ab 5,76 ± 0,17a 6,32 ± 0,33b

(5)

27 Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama berbeda pada (P<0,05).

Superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda pada (P<0,05).

Tanin tidak mempengaruhi populasi bakteri total, diduga karena level pemberian tannin masih cukup rendah sehingga bakteri mampu beradaptasi. Menurut Gonzalez et al. (1990) ternak ruminansia dapat mentoleransi adanya senyawa alkaloid dalam taraf yang rendah. Pada penelitian ini saponin tidak menghambat pertumbuhan bakteri total, diduga karena bakteri mempunyai sel prokariotik sehingga akan membentuk ikatan dengan kolesterol. Menurut Wina et al. (2005) saponin mempunyai kemampuan untuk membentuk ikatan dengan kolesterol yang ada pada membran sel eukariotik tetapi tidak pada sel prokariotik, sehingga adanya saponin hanya akan mempengaruhi populasi protozoa tanpa menghambat pertumbuhan bakteri. Kamra (2005) juga menyatakan bahwa zat anti nutrisi seperti saponin dan tannin disintesis oleh tanaman untuk melindungi dari serangan mikroba, oleh karena itu zat anti nutrisi memiliki aktivitas anti mikroba.

Rumen merupakan tempat hidup berbagai macam tipe bakteri dimana bakteri tersebut berperan dalam proses mendegradasi berbagai komponen pakan. Interaksi antara bakteri dengan mikroba rumen lainnya menghasilkan efek sinergis dalam memproduksi hasil fermentasi seperti VFA dan protein mikroba di dalam rumen (karma, 2005). Mikroorganisme yang ada di dalam rumen dapat hidup dan melakukan aktivitasnya apabila kondisi lingkungannya mendukung.

Populasi Bakteri Proteolitik pada Level Tepung Daun Kembang sepatu dan Ampas Teh yang Berbeda

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa tidak ada interaksi antara level penambahan tepung ampas teh dan daun kembang sepatu terhadap populasi bakteri proteolitik. Pemberian ampas teh sampai level 3 mg/ml tidak nyata mempengaruhi (P>0,05) populasi bakteri proteolitik. Pemberian tepung daun kembang sepatu sampai level 0,3 mg/ml cairan rumen juga tidak mempengaruhi (P>0,05) populasi bakteri proteolitik (Tabel 7).

Tabel 7. Pengaruh Tepung Ampas Teh dan Daun Kembang Sepatu Terhadap Populasi Bakteri Proteolitik Secara in vitro (dalam log)

(6)

28 Keterangan : Tidak berpengaruh nyata ( P>0,05).

Kandungan tanin dalam ampas teh pada penelitian ini diduga masih tergolong rendah untuk dapat mengganggu aktivitas bakteri proteolitik. Ammar et al. (2008), tannin yang terkandung dalam pakan akan didegradasi oleh bakteri pencerna tanin dan oleh bakteri toleran terhadap tanin.

Level saponin yang diberikan pada penelitian ini juga tergolong rendah (7,68%). Adaptasi bakteri terhadap saponin yaitu dengan cara mengembangkan kemampuan bakteri untuk mendegradasi saponin dengan cepat (Wina et al., 2005). Penelitian sebelumnya penggunaan ekstrak jarak pagar yang mengandung saponin dan tanin sebesar 3%, tidak signifikan terhadap populasi bakteri proteolitik (Wulandari, 2010). Hal ini menunjukan bahwa level pemberian tanin dan saponin dalam penelitian masih tergolong sangat rendah yaitu 0,0037% dari saponin dan tanin dalam ampas teh dan tepung daun kembang sepatu.

Populasi Bakteri Selulolitik pada Level Tepung Daun Kembang sepatu dan Ampas Teh yang Berbeda

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa tidak ada interaksi antara level penambahan tepung ampas teh dan daun kembang sepatu terhadap populasi bakteri selulolitik. Pemberian tepung ampas teh pada level 2 dan 3 mg/ml cairan rumen nyata meningkatkan (P<0,05) populasi bakteri selulolitik. Pemberian tepung daun

Level Ampas Teh (mg/ml)

Level Daun Kembang Sepatu (mg/ml) Rataan Populasi Bakteri Proteolitik pada Level Ampas Teh yang Berbeda 0 0,15 0,3 0 5,50 ± 0,14 5,56 ± 0,53 6,30 ± 0,11 5,79 ± 0,26 1 5,66 ± 3,86 5,75 ± 0,12 6,25 ± 0,30 5,89 ± 1,43 2 4,27 ± 0,17 6,40 ± 0,44 6,74 ± 0,43 5,80 ± 0,35 3 6,20 ± 0,29 6,73 ± 0,18 6,15 ± 0,43 6,36 ± 0,30 Rataan Populasi Bakteri Proteolitik pada Level Tepung DKS yang Berbeda

(7)

29 kembang sepatu pada level 0,15 dan 0,3 mg/ml cairan rumen juga nyata meningkatkan (P<0,05) populasi bakteri selulolitik (Tabel 8).

Ampas teh dalam penelitian ini meningkatkan populasi bakteri selulolitik, hal ini disebabkan karena kandungan serat kasar ampas teh tinggi yaitu sebesar 16% BK.

Nurlaela (2006) menyatakan kandungan serat kasar yang tinggi akan mempengaruhi populasi bakteri pecerna serat kasar di dalam rumen. Saponin dalam penelitian ini meningkatkan populasi bakteri selulolitik, hal ini diduga saponin merupakan agen defaunasi bagi protozoa di dalam rumen sehingga populasi protozoa menurun. Wiseman dan Cole (1990) menyatakan penggunaannya sebagai agen defaunasi karena protozoa dianggap predator bakteri sehingga keberadaan protozoa dapat menurunkan populasi bakteri dan suplai protein mikroba ke organ pasca rumen. Berbeda dengan penelitian sebelumnya penambahan.Ekstark antinurtisi jarak pagar sebesar 3% yang mengandung saponin dan tanin 0,2% tidak mempengaruhi populasi bakteri selulolitik (Wulandari, 2010). Hal ini diduga karena dalam penelitian ini ampas teh menyumbangkan serat kasar juga sehingga populasi bakteri selulolitik sebagai bakteri pencerna serat kasar bertambah.

Tabel 8. Pengaruh Tepung Ampas Teh dan Daun Kembang Sepatu Terhadap Populasi Bakteri Selulolitik Secara in vitro (dalam log)

Level Ampas Teh (mg/ml)

Level Daun Kembang Sepatu (mg/ml) Rataan Populasi Bakteri Selulolitik pada Level Ampas Teh

(8)

30 Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama berbeda pada (P<0,05).

Superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda pada (P<0,05).

Populasi Bakteri Amilolitik pada Level Tepung Daun Kembang sepatu dan Ampas Teh yang Berbeda

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa tidak ada interaksi antara level penambahan tepung ampas teh dan daun kembang sepatu terhadap populasi bakteri amilolitik. Pemberian tepung ampas teh pada level 3 dan 1 mg/ml cairan rumen cenderung meningkatkan (P<0,1) populasi bakteri amilolitk rumen. Pemberian tepung daun kembang sepatu dengan level 0,15 dan 0,3 mg/ml cairan rumen cenderung meningkatkan (P<0,1) populasi bakteri amilolitik pada rumen (Tabel 9).

Populasi bakteri amilolitik cenderung meningkat dengan pemberian ampas teh dan tepung daun kembang sepatu dalam penelitian ini diduga disebabkan karena penurunan populasi protozoa dengan pemberian tepung ampas teh sehingga menyebabkan populasi amilolitik meningkat. Penurunan populasi protozoa mengakibatkan bertambahnya pati yang dapat difermentasi oleh bakteri amilolitik. Brock dan Madigan (1991) menyatakan bahwa protozoa lebih menyukai substrat yang mudah difermentasi seperti pati dan gula.

Tabel 9. Pengaruh Tepung Ampas Teh dan Daun Kembang Sepatu Terhadap Populasi Bakteri Amilolitik Secara in vitro (dalam log)

yang Berbeda 0 4,29 ± 0,27 5,75 ± 0,32 4,94 ± 0,42 5,00 ± 0,34a 1 5,29 ± 0,25 6,15 ± 0,60 5,86 ± 0,37 5,77 ± 0,41b 2 5,38 ± 0,25 5,85 ± 0,25 6,37 ± 0,34 5,87 ± 0,28c 3 6,16 ± 0,43 6,39 ± 0,12 6,42 ± 0,39 6,32 ± 0,31c Rataan Populasi Bakteri Selulolitik pada Level Daun Kembang Sepatu yang Berbeda

5,28 ± 0,30a 6,04 ± 0,32b 5,90 ± 0,38b Level Ampas Teh

(mg/ml)

Level Daun Kembang Sepatu (mg/ml) Rataan Populasi Bakteri Amilolitik pada Level Ampas Teh yang Berbeda 0 0,15 0,3 0 5,52 ± 0,08 5,30 ± 0,10 6,90 ± 0,30 5,91 ± 0,16a

(9)

31 Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama berbeda pada (P<0,1).

Superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda pada (P<0,1).

Produksi Gas Metan pada Level Tepung Daun Kembang sepatu dan Ampas Teh yang Berbeda

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa tidak ada interaksi antara level penambahan tepung ampas teh dan daun kembang sepatu terhadap produksi metan. Pemberian tepung ampas teh sampai dengan level 3 mg/ml cairan rumen tidak nyata mempengaruhi (P>0,1) produksi metan. Pemberian tepung daun kembang sepatu sampai level 0,3 juga tidak mempengaruhi (P>0,05) produksi metan (Tabel 10).

Kecenderungan penurunan produksi gas metan dengan penambahan tepung ampas teh pada ransum disebabkan karena tanin juga merupakan salah satu agen defaunasi bagi protozoa. Selain itu, tanin dari ampas teh akan mematikan metanogen, karena merupakan zat racun bagi metanogen. Menurut Jouany (1991) defaunasi akan menyebabkan penurunan produksi gas metan sebanyak 30 sampai 45%. Lebih lanjut dijelaskan oleh Finlay et al. (1994) bahwa proses metanogenesis terjadi sebanyak 37% dari hubungan endosimbiosis antara protozoa dan bakteri metanogen. Hess et al. (2003) menyatakan bahwa tanin dari legum merupakan racun bagi metanogen. Metanogen juga bersimbiosis dengan protozoa, sehingga perubahan metanogen mungkin disebabkan karena danya perubahan populasi protozoa. Dalam penelitian ini jumlah protozoa menurun akibat penambahan tanin sehingga gas metan juga menurun.

Tabel 10. Pengaruh Tepung Ampas Teh dan Daun Kembang Sepatu Terhadap Produksi Metan Secara in vitro

1 5,27 ± 0,25 5,53 ± 0,12 5,87 ± 0,38 5,56 ± 0,25ab 2 6,14 ± 0,22 6,32 ± 0,12 6,13 ± 0,15 6,09 ± 0,16b 3 6,48 ± 0,21 6,44 ± 0,09 6,03 ± 0,06 6,01 ± 0,12ab Rataan Populasi

Bakteri Amilolitik pada Level Daun Kembang Sepatu yang Berbeda

5,85 ± 0,19a 5,90 ± 0,11b 6,23 ± 0,22c Level Ampas Teh

(mg) Level Daun Kembang Sepatu (mg/ml)

Rataan Produksi Metan pada Level Ampas Teh

(10)

32 Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama berbeda pada (P<0,1).

Saponin sebagai agen defaunasi juga dalam penelitian ini tidak berpengaruh dalam produksi metan, hal ini mungkin disebabkan karena rendahnya kadar saponin yang terkadung dalam tepung daun kembang sepatu yang hanya 7,68%. Pada penelitian ini, diduga protozoa akan mampu beradaptasi terhadap keberadaan saponin. Wina et al. (2005) menyatakan bahwa bakteri rumen memiliki kemampuan untuk mendegradasi sebagian saponin, sehingga saponin tidak memiliki kapasitas untuk menekan populasi protozoa. Penelitian sebelumnya, penambahan 8 mg saponin dari ampas teh dapat menurunkan gas metan sampai 26% (Wei et al., 2005). Hal ini menunjukan bahwa pemberian saponin dengan level 0,3 mg masih terlalu rendah.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Tidak ada interaksi antara level pemberian tepung ampas teh dan tepung daun kembang sepatu. Penambahan tepung ampas teh level 2 mg dapat menurunkan populasi protozoa, meningkatkan jumlah bakteri amilolitik dan selulolitik, namun tidak memberikan pengaruh terhadap populasi bakteri proteolitik dan jumlah total

yang Berbeda 0 186,38 ± 17,24 294,05 ± 26,23 220,88 ± 9,03 233,77 ± 8,60a 1 170,93 ± 12,99 216,63 ± 32,84 239,42 ± 19,45 208,99 ± 10,13ab 2 212,71± 27,18 200,94 ± 1,52 180,99 ± 25,67 198,21 ± 14,40a 3 216,69 ± 75,22 234,37 ± 55,13 216,44 ± 3,08 222,50 ± 37,23b Rataan produksi

Metan pada Level Daun Kembang

Sepatu yang Berbeda

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sugiyono (2012, hlm 3) bahwa metode penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat

Adalah mahasiswa Poltekkes Kemenkes Kupang Prodi Analis Kesehatan yang akan melakukan penelitian tentang “Hubungan Pola Kebersihan Diri Dengan Terjadinya Gangguan

Fungsi produk yang dimiliki Fingers adalah: (1) login, (2) pengelolaan data operator, (3) pengubahan password user, (4) pengelolaan data dosen, (5) pengelolaan

Saya sangat berharap bahwa instrumen pengembangan sistem lembaga keuangan dan pasar modal yang ramah lingkungan serta instrumen asuransi lingkungan hidup dapat terus

Keluarga dapat memberikan dukungan emosi pada pasien DM berupa perkataan yang baik dan lembut atau rayuan kepada pasien untuk menaati diet yang harus dijalankan (Pratita,

Dalam praktek kerja kelompok harus kita bdakan dengan kerja tim karena kerja kelompok adalah kumpulan beberapa individu yang berkumpul berdasarkan

Karena animasi frame per frame harus memiliki gambar yang unik tiap framenya maka animasi frame per frame sangat ideal untuk membuat animasi yang kompleks yang terdiri

Temuan penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Chung dan Kim (2011) yang menyatakan bahwa kesadaran lingkungan berpengaruh pada sikap konsumen terhadap