• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ACTIVE LEARNING TIPE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ACTIVE LEARNING TIPE"

Copied!
194
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN MOTIVASI, PARTISIPASI, DAN PRESTASI

BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE

ACTIVE LEARNING

TIPE

POSTER SESSION

PADA MATA

PELAJARAN EKONOMI DI SMA STELA DUCE 2

YOGYAKARTA

(Sebuah Penelitian Tindakan Kelas)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Oleh :

PENTI HANDAYANI

NIM : 06 1324 007

PROGAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

PENINGKATAN MOTIVASI, PARTISIPASI, DAN PRESTASI

BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE

ACTIVE LEARNING

TIPE

POSTER SESSION

PADA MATA

PELAJARAN EKONOMI DI SMA STELA DUCE 2

YOGYAKARTA

(Sebuah Penelitian Tindakan Kelas)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Oleh :

PENTI HANDAYANI

NIM : 06 1324 007

PROGAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vi   

(8)

vii

   

PENINGKATAN MOTIVASI, PARTISIPASI, DAN PRESTASI BELAJAR

SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ACTIVE LEARNING TIPE

POSTER SESSION PADA MATA PELAJARAN EKONOMI

DI SMA STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA

(Sebuah Penelitian Tindakan Kelas)

PENTI HANDAYANI

06 1324 007

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

2010

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah ada peningkatan

motivasi, partisipasi dan prestasi belajar siswa dengan menerapkan metode

Active

Learning

Tipe

Poster Session

. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas

(Classroom Action Research),

yaitu penelitian tindakan yang dilakukan dengan

tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Penelitian ini dilaksanakan

di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta pada bulan Maret-April 2010. Subjek dalam

penelitian ini yaitu siswi kelas XI IPS 1 sedangkan objek penelitian adalah motivasi,

partisipasi, dan prestasi belajar siswa melalui penggunaan metode

Active Learning

Tipe

Poster Session

.

Masing-masing variabel dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan

instrumen yang berbeda. Motivasi belajar diukur dengan menggunakan kuesioner,

partisipasi diukur melalui observasi, sedangkan prestasi belajar siswa diukur dengan

menggunakan nilai ulangan harian. Target keberhasilan motivasi adalah 75% dari

jumlah keseluruhan siswi kelas XI IPS 1 (30 siswi) memiliki tingkat motivasi sangat

tinggi. Target keberhasilan tingkat partisipasi yaitu 75% siswa dari keseluruhan

siswikelas XI IPS 1 (30 siswi) berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Target

keberhasilan prestasi yaitu 75% siswa dari keseluruhan siswi kelas XI IPS 1 (30

siswi) mengalami ketuntasan belajar.

(9)

viii

 

ABSTRACT

THE INCREASING OF MOTIVATION, PARTICIPATION, AND

LEARNING ACHIVEMENT BY APPLYING ACTIVE LEARNING TYPE OF

POSTER SESSION METHOD ON ECONOMICS IN STELLA DUCE 2

SENIOR HIGH SCHOOL YOGYAKARTA

(A Class Action Research)

PENTI HANDAYANI

06 1324 007

Sanata Dharma University

Yogyakarta

2010

The purpose of this research is to analyze whether there is any progress of

students’ motivation, participation, learning achievement by applying Active

Learning Type of Poster Session Method. The type of this research is a classroom

action research , which its purpose is to improve the learning quality in the classroom.

This research was conduced in Stella Duce 2 Senior High School Yogyakarta from

March to April 2010. The subjects of this research were the students of eleventh

grade of one social sciences, whereas the objects of this research were motivation,

participation, and students’ learning achievement by applying Active Learning Type

of Poster Session Method.

Each variable in this research was measured by using different instruments.

The learning motivation was measured by using questionnaire; participation was

measured by observation, and students’ learning achievement was measured by using

daily test mark. The target of motive success was 75 % from total amount of 30

students who had very high motive level. The successful target of participated was

75% students from 30 students who actively participated in learning process. The

successful target of achievement was 75 % students out of 30 students who had

completeness of learning.

(10)

ix

   

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan

karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Penyelesaian skripsi ini dapat terwujud atas bantuan dari banyak pihak sehingga

dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan ucapan terima kasih

sebesar-besarnya kepada:

1.

Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Pd. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2.

Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dosen Pembimbing I, yang dengan

sabar dan penuh perhatian memberi dukungan, arahan dan telah meluangkan

waktu di tengah kesibukan beliau, sehingga memberikan motivasi yang tinggi

kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

3.

Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing II, terima kasih

atas segala bimbingan, nasehat dan telah bersedia meluangkan waktu dalam

menyelesaikan skripsi ini.

4.

Bapak Drs. P.A. Rubiyanto, terima kasih atas segala dukungan dan saran yang

diberikan kepada penulis.

5.

Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si. yang telah memberikan motivasi dan

pengalaman berharga yang menggugah hati untuk terus belajar.

6.

Bapak Yohanes Maria Vianey Mudayen, S.Pd., terima kasih atas pengalaman

berharga yang diberikan semasa perkuliahan.

(11)

x

   

8.

Sekretariat Prodi Pendidikan Ekonomi (terutama Mbak Titin) yang telah banyak

membantu dan memberikan informasi kepada penulis.

9.

Ibu Dra. Anna Harsanti selaku Kepala Sekolah SMA Stella Duce 2

Yogyakarta,yang telah memberi ijin dan kesempatan kepada penulis untuk

melakukan penelitian.

10.

Ibu Dra. R. Tuti Ratnaningsih selaku guru pengampu Ekonomi kelas XI IPS,

terima kasih atas bimbingan, dukungan, kesabaran, saran dan telah meluangkan

waktu bagi penulis di tengah kesibukan mengajar.

11.

Para siswi kelas XI IPS 1, terima kasih banyak atas partisipasi dan kerja sama

yang baik sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar.

12.

Simbah yang ada di surga terima kasih banyak atas doanya dari sana.

13.

Bapak Ag. Basiran dan Ibu Katharina Istijah terima kasih banyak atas segala

kasih sayang yang diberikan kepada penulis. Terima kasih atas kesabaran,

dukungan, doa yang tak kunjung henti yang telah diberikan kepada penulis, serta

material dan fasilitas yang mendukung selama ini.

14.

Bulik Th. Ngadinah, terima kasih banyak atas segala kasih sayang yang telah

diberikan kepada penulis. Terima kasih atas segala dukungan dan doanya, serta

fasilitas belajar dan bantuan lunaknya yang mendukung penulis selama ini.

15.

Keluarga Suren (Bude Syam dan Pak De Mar ) terima kasih banyak atas

dukungannya serta doanya yang diberikaan kepada penulis.

16.

Kakakku tersayang Martinus Bambang Purnomo (Beng-Beng) & Antonius Panji

(12)

xi

   

Christina Kusuma Wati (Boneng) terima kasih atas segala doa, perhatian, dan

dukunganya, walau kalian kandang-kadang kalian sangat menjengkelkan dan

menyebalkan tapi

I Love You All……

(ayo bersama-sama kita bahagiakan nyak &

babe).

17.

Fransiskus Ardhi Putranto (Arcil, Boncel, Bogel, Boneng, Pran, Bee, Bocil,

JoePran) yang nama panggilanya banyak sekali….., Terima kasih banyak atas

segala perhatian, kasih sayang, kesabaran, bantuan, dukungan, doa, yang selama

ini telah diberikan. Suka duka yang telah kita alami bersama….Maaf saya selalu

merepotkan, menyebalkan dan menjengkelkan. Ayo Buruan nyusul……….

18.

Bapak Ag. Gunandi dan Ibu Sukarti, terima kasih banyak atas support dan

doanya.

19.

Teman-teman PE 06 (Citra, Monik, Aan, Hana, Magda, Bank Bandi, Heri, Ditya,

Wawan, Kus, Jalu, Andi, Nove). Terima kasih banyak atas dukungan, bantuan,

kerjasama, saran, nasehat, humor, kecerian dan kebersamaan dalam keseharian,

dan kemesraan semoga kita tetap bersahabat untuk esok dan selamanya.

You are

The Best Guys….I Love You All…

20.

Priska dan Arcil terima kasih banyak atas bantuanya selama melakukan

penelitian di sekolah.

21.

Mbak Lelly, Mbk Nia, Mbak Neni, Mbak Lia, Mbak Ika, Mbak Nian, Mbak Dwi,

Terima kasih banyak atas bantuan dan dukunganya…….maaf selama ini saya

(13)

xii

   

22.

Teman-teman kost Umi dan Citra terima kasih atas segala bantuan, dukungan,

kebersamaan….semoga kita tetap bersahabat untuk esok dan selamanya.

23.

Teman-teman Bulletin PE, Citra, Hana, Monik, Agnes, Fani, Terima kasih atas

canda dan tawa dalam kebersamaanya……

24.

Teman-teman mitra PUSD Mas Yosep (Ayah) , Mbak Woro (Bunda), Mbak

Ivone, Mbak Putri (Sapu), Mbak Nathan, Mbak Lia, Mbak Dhita, Mbak Dyah

(budy), Mbak Nova, Mbak Nisa, Mas Feri, Donni, Tata, Ria (BulBul), Manti,

Ria, Fredi, Mbak Erli. Terima kasih atas dukunganya, kecerian dalam

kebersamaan…..ayo semangat dalam berkarya….

I Love You All

……….

25.

Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak

membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis mengucapkan terimaksih.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, segala

saran, kritik, dan masukan yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan penyusunan

skripsi pada masa-masa yang akan datang sangat penulis harapkan. Akhir kata,

semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

(14)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v

MOTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendekatan Pembelajaran Modern ... 7

(15)

xiv

C. Motivasi ... 20

D. Partisipasi ... 33

E. Prestasi ... 34

F. Kerangka Berfikir ... 42

A. Penelitian Terdahulu ... 43

BAB III METODE PENELITIAN B. Jenis Penelitian ... 45

C. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 45

D. Subjek Dan Obyek Penelitian ... 46

E. Variabel Penelitian ... 46

F. Teknik Pengumpulan Data ... 47

G. Teknik Analisis Data ... 48

H. Siklus Penelitian Tindakan Kelas... 53

BAB IV GAMBARAN UMUM A. Sejarah Berdirinya SMA Stella Duce 2 Yogyakarta ... 56

B. Visi, Misi, Semboyan dan Tujuan Sekolah ... 59

C. Sistem Pendidikan Satuan Pendidikan SMA Stella Duce 2 ... 63

D. Kurikulum Satuan Pendidikan SMA Stella Duce 2 ... 63

E. Organisasi Sekolah Satuan Pendidikan SMA Stella Duce 2 ... 77

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Siklus 1………. ... 82

1. Perencanaan ... 82

2. Tindakan ... 91

(16)

xv

4. Refleksi ... 103 B. Siklus 2……… ... 107 BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN

A.Kesimpulan………. ... 108 B.Saran………. ... 109 C.Keterbatasan dan Saran bagi peneliti selanjutnya ... 110

DAFTAR PUSTAKA

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

TABEL III.1 ... 48

TABEL III.2 ... 50

TABEL III.3 ... 50

TABEL III.4 ... 51

TABEL III.5 ... 53

TABEL IV.1 ... 59

TABEL IV.2 ... 64

TABEL IV.3 ... 66

TABEL IV.4 ... 68

TABEL IV.5 ... 70

TABEL IV.6 ... 72

TABEL V.1 ... 84

TABEL V.2 ... 85

TABEL V.3 ... 88

TABEL V.4 ... 94

TABEL V.5 ... 95

TABEL V.6 ... 96

TABEL V.7 ... 98

TABEL V.8 ... 101

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Kuesioner ... 114

LAMPIRAN 2 Lembar Observasi Partisipasi Siswa ... 119

LAMPIRAN 3 Rencana Pelaksaanaan Pembelajaran ... 123

LAMPIRAN 4 Materi Pelajaran ... 137

LAMPIRAN 5 Poster ... 142

LAMPIRAN 6 Hasil Perhitungan Motivasi Manual ... 144

LAMPIRAN 7 Hasil Partisipasi Siswa ... 147

LAMPIRAN 8 Hasil Ulangan Siswa ... 154

LAMPIRAN 9 Ulangan Harian Siswa ... 157

LAMPIRAN 10 Refleksi Siswi ... 164

LAMPIRAN 11 Surat Ijin Penelitian ... 167

LAMPIRAN 12 Surat Keterangan Penelitian ... 172

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi untuk

menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui

kegiatan pengajaran. Pendidikan juga merupakan suatu hal yang sangat

mendasar dan penting bagi perkembangan suatu bangsa dan merupakan salah

satu faktor penentu maju tidaknya suatu bangsa.

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar

mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Keberhasilan pencapaian

tujuan pendidikan terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang

dialami siswa. Siswa yang belajar akan mengalami perubahan baik dalam

pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap. Agar perubahan

tersebut dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan berbagai faktor. Adapun

faktor untuk menghasilkan perubahan yang diharapkan yaitu bagaimana cara

untuk mengefektifkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Karena

pemahaman materi pelajaran merupakan salah satu tujuan yang dicapai dari

kegiatan belajar mengajar.

Keberhasilan suatu pendidikan salah satunya ditentukan oleh bagaimana

proses belajar mengajar itu berlangsung. Selain itu proses interaksi belajar

pada prinsipnya tergantung pada guru dan siswa. Guru dituntut untuk

menciptakan suasana belajar mengajar yang efektif. Sedangkan siswa dituntut

(20)

Sehingga keberhasilan belajar dalam bidang kognitif, afektif dan

psikomotorik dapat tercapai.

Rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran pada pelajaran

ekonomi terjadi karena siswa kurang tertarik dengan pelajaran yang

diberikan oleh guru, yang menyebabkan rendahnya motivasi, partisipasi,

siswa dalam belajar ekonomi sehingga menyebabkan prestasi belajar siswa

menurun. Selain itu penyebab utama rendahnya motivasi, partisipasi, dan

prestasi belajar siswa karena kurangnya variasi model pembelajaran dan guru

kurang dapat memilih model pembelajaran yang tepat sehingga kurang

menarik perhatian siswa untuk belajar. Selama ini yang terjadi, pembelajaran

hanya berpusat pada guru, dan siswa tidak dilibatkan secara aktif.

Berdasarkan wawancara dengan guru SMA Stella Duce 2 dan beberapa

teman yang pernah praktek mengajar di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta,

kondisi pembelajaran di SMA Stella Duce 2, pada saat guru menerangkan

materi pelajaran dengan metode ceramah siswa kurang antusias dalam

mengikuti pelajaran sebagian besar siswa yang duduk di belakang kurang

memperhatikan, mereka asik berbicara sendiri, melamun (melakukan kegiatan

mereka sendiri). Keadaan ini menunjukan bahwa siswa kurang berpartisipasi

aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran kurang

efektif. Rendahnya partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dapat

menyebabkan kurangnya motivasi siswa dalam kegiatan belajar. Rendahnya

partisipasi siswa dan kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti

(21)

Sebagai pendidik guru harus mampu menerapkan model pembelajaran

yang bervariasi yang dapat meningkatkan motivasi, partisipasi siswa dalam

mengikuti pembelajaran dan diharapkan juga dapat meningkatkan prestasi

belajar siswa. Alternatif yang digunakan untuk menarik perhatiaan siswa

dalam mengikuti pembelajaran yaitu dengan menggunakan metode Active

Learning, Menurut Zaini (2008) metode Active Learning ini dimaksudkan

untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses

pembelajaran. Pembelajaran aktif ini mengajak peserta didik untuk belajar

secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang

mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka aktif menggunakan

otak baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan

persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu

persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan pembelajaran aktif ini

peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak

hanya mental akan tetapi melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta

didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil

belajar dapat dimaksimalkan.

Pembelajaran aktif yang digunakan adalah Active Learning Tipe Poster

Session, Menurrut Silberman (2009 : 192) pembelajaran aktif Tipe Poster

Session termasuk dalam pengajaran sesama yang memberi siswa kesempatan

untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan sekaligus menjadi narasumber

bagi satu sama lain, Beberapa pakar percaya bahwa suatu pelajaran akan

(22)

kepada peserta lain. Strategi Active Learning Tipe Poster Session, merupakan

presentasi alternatif dengan menggunakan poster, presentasi ini merupakan

cara yang bagus untuk memberi informasi kepada siswa secara tepat,

memahami apa yang mereka bayangkan, dan memerintahkan pertukaran

gagasan antar mereka. Teknik ini juga merupakan cara baru dan jelas yang

memungkinkan siswa mengungkapkan persepsi dan perasaan mereka tentang

topik lewat media poster.

Pembelajaran Poster Session cocok untuk karakteristik siswi XI IPS 1 di

SMA Stella Duce 2 Yogyakarta karena siswi-siswi sangat menyukai

gambar-gambar sehingga pembelajaran dengan menggunakan poster (divisualisasikan

dalam bentuk gambar) diharapkan dapat menarik minat siswa dalam belajar,

selain itu juga pembelajaran Poster Session diyakini cocok untuk kelas yang

kurang dalam memperhatikan guru saat mengajar. Pembelajaran

menggunakan poster ini dapat menarik perhatian siswa, karena pembelajaran

poster session dilakukan oleh siswa dalam kelompok yang mempresentasikan

poster yang mereka buat, ini mengajak siswa untuk lebih aktif, kreatif dalam

menyumbangkan ide, dengan begitu siswa dapat mudah memahami materi

pelajaran dengan cara mereka sendiri, Pembelajaran ini tidak berpusat pada

guru, guru hanya sebagai fasilitator dalam belajar, sehingga siswa dapat turut

(23)

Beranjak dari latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul: ” PENINGKATAN MOTIVASI, PARTISIPASI,

DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN

METODE ACTIVE LEARNING TIPE POSTER SESSION PADA

PELAJARAN EKONOMI DI SMA STELLA DUCE 2

YOGYAKARTA”.

B. Batasan Masalah

Metode Pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi, partisaipasi dan

prestasi pada pelajaran ekonomi cukup bervariasi. Namun tidak semua

model pembelajaran tersebut akan dibahas dalam penelitian ini. Dalam

penelitian ini peneliti hanya akan membahas tentang model pembelajaran

Active Learning Tipe Poster Session.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat diambil rumusan

masalah sebagai berikut :

1. Apakah penerapan metode Active Learning Tipe Poster Session

dapat meningkatkan motivasi belajar siswa?

2. Apakah penerapan metode Active Learning Tipe Poster Session

dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa?

3. Apakah penerapan metode Active Learning Tipe Poster Session

(24)

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh penerapan metode Active Learning

Tipe Poster Session terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.

2. Untuk mengetahui pengaruh penerapan Metode Active Learning

Tipe Poster Session terhadap peningkatan partisipasi belajar siswa.

3. Untuk mengetahui pengaruh penerapan metode Active Learning

Tipe Poster Session terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Untuk mengetahui secara mendalam mengenai penerapan metode

Active Learning Tipe Poster Session terhadap peningkatan

motivasi, partisipasi, dan prestasi belajar siswa.

2. Bagi Siswa

Sebagai gambaran bagi siswa SMA untuk meningkatkan motivasi,

partisipasi, prestasi siswa dalam belajar.

3. Bagi SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

Sebagai masukan bagi sekolah dalam meningkatkan motivasi,

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendekatan Pembelajaran Modern

Sejalan dengan harapan kurikulum dan trend dunia pendidikan di era

global, dimana menginginkan agar peserta didik lebih aktif, kreatif, inovatif,

dan mampu mengikuti pelajaran dengan antusiasme yang tinggi, maka guru

harus mengembangkan proses pembelajaran terbaik dan modern sehingga

dapat membekali peserta didik dengan sesuatu berharga dan benar-benar

bermanfaat dalam kehidupan.

Menurut Jacob (2009 : 4) beberapa prinsip pembelajaran modern yang

harus dimiliki guru sebagai pendidik :1) memahami konsep-konsep inti,

perangkat-perangkat penelitian, dan struktur disiplin ilmu pengetahuan yang

diajarkan, 2) memahami bagaimana siswa belajar dan berkembang, 3)

memahami bagaimana siswa memiliki pendekatan–pendekatan yang berbeda

dalam belajar, 4) memahami dan menggunakan beragam strategi

instruksional, 5) menggunakan pemahaman mengenai motivasi individu dan

kelompok, 6) menggunakan pengetahuan mengenai teknik verbal, teknik non

verbal, dan teknik media yang efektif, 7) merancanakan pengajaran

berdasarkan pada pengetahuan mengenai materi pelajaran, 8) memahami dan

menggunakan strategi-strategi penilaian formal dan informal, 9) Guru adalah

guru yang praktisi yang reflektif, 10) Guru mengembangkan hubunganya

dengan rekan kerja, orang tua, dan wakil orang tua.

(26)

Orientasi pendidikan lebih menekankan pada pemindahan informasi

yang dimiliki kepada peserta didik (bersifat kognitif), sehingga peserta didik

dapat lebih aktif dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang berkembang

dapat deskripsikan sebagai berikut: 1) Guru mendorong pertumbuhan dan

prestasi siswa. 2) Kontruktivisme dalam kelas, pembelajaran kontruktivisme

memfasilitasi dan mendorong peran aktif siswa. Pembelajaran yang

dimasudkan adalah pembelajaran yang menggunakan komunikaasi dua arah,

dan peran guru adalah sebagai fasilitator (Jacob 2009 :8-11).

B. Metode Pembelajaran Aktif (Active Learning)

1. Pengertian Pembelajaran Aktif (Active Learning)

Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk

mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik,

sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan

sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu

pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga

perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.

Menurut Hollingsworth (2008) pembelajaran aktif merupakan

pembelajaran yang terjadi ketika siswa belajar secara aktif, dan secara

terus menerus terlibat, baik secara mental ataupun secara fisik.

Pembelajaran aktif berguna untuk mengembangkan tujuan dari

pembelajaran dan untuk memperbaiki prilaku siswa dalam mengikuti

(27)

Menurut Zaini (2008) pembelajaran aktif adalah suatu

pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif.

Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti merek yang mendominasi

aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka aktif menggunakan otak baik

untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan

persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam

satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan pembelajaran

aktif ini peserta didik diajak untuk turut sertadalam semua proses

pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi melibatkan fisik. Dengan

cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih

menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.

Belajar aktif menuntut siswa untuk bersemangat, gesit,

menyenangkan, dan penuh gairah, bahkan siswa sering meninggalkan

tempat duduk untuk bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about and

thinking aloud). Selama proses belajar siswa dapat beraktivitas, bergerak

dan melakukan sesuatu dengan aktif, keaktifan siswa tidak hanya keaktifan

fisik tapi juga keaktifan mental.

Belajar aktif sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang

bermuara pada belajar mandiri, maka kegiatan belajar mengajar yang

dirancang harus mampu melibatkan siswa secara aktif. Siswa dan guru

dalam belajar aktif sama berperan untuk menciptakan suatu pengalaman

(28)

Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik

berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984)

dalam Silberman (2006) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas

hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang

tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986) dalam Silberman (2006)

menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat

mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit

terakhir.

Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering

terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi

kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di

ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya

dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut

cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius:

Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya lihat, saya ingat Apa yang saya lakukan, saya paham

Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa

yang dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia.

Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi

dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik

(29)

Mel Silberman (2006) memodifikasi dan memperluas pernyataan

Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (Active

Learning), yaitu

Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit

Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham

Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan

Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai

Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa

kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah

satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara

kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan

apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200

kata per menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100

kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena

siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak

manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara

sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu

pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang

masuk ke dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia

(30)

menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat

diingat dengan baik. Selain itu sisi sosial pembelajaran juga harus

diperhatikan. Jika siswa belajar bersama teman-temannya, mereka

memperoleh dukungan emosi dan intelektual yang membawa mereka

melampaui level pengetahuan dan ketrampilan mereka sebelumnya lebih

banyak daripada belajar sendiri.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktif

adalah suatu metode belajar yang mana siswa tidak hanya sekedar

mendengarkan informasi yang disampaikan oleh guru, akan tetapi siswa

juga melihat apa yang dijelaskan oleh guru dan terakhir siswa melakukan

atau mencobakan langsung apa yang telah dipelajari untuk memperoleh

hasil belajar.

2. Dimensi-dimensi Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif akan lebih tampak dan menunjukkan kadar

yang tinggi apabila pembelajaran berorientasi pada siswa. Menurut Mc

Keachie dalam bukunya Dimyati (1994 : 110) ada 7 dimensi proses

pembelajaran yang mengkibatkan terjadinya kadar pembelajaran aktif,

yaitu (1) Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan

pembelajaran, (2) Tekanan pada aspek afektif dalam belajar, (3) Partisipasi

siswa dalam kegiatan pembelajaran, terutama berbentuk interaksi

antarsiswa, (4) Penerimaan guru terhadap perbuatan dan kontribusi siswa

yang kurang relevan atau bahkan sama sekali salah, (5) Kekompakan kelas

sebagai kelompok, (6) Kebebasan diberikan kepada siswa untuk

(31)

Jumlah waktu yang digunakan untuk menanggulangi masalah siswa baik

yang berhubugan maupun yang tidak berhubungan dengan pembelajaran.

3. Karakteristik Pembelajaran Aktif

Raka Joni dalam Dimyati (1994 : 111) mengungkapkan bahwa

sekolah yang melakukan pembelajaran aktif dengan baik harus

mempunyai karakteristik, yaitu pembelajaran berpusat pada siswa, guru

membimbing dalam terjadinya pengalaman belajar, tujuan kegiatan tidak

hanya sekedar mengejar standar akademis, pengelolaan kegiatan

pembelajaran, dan penilaian.

Pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa berperan lebih aktif

dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri, siswa berperan serta

pada perencanaan, pelaksanaan dan penilaian proses belajar, pengalaman

siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan. Guru

membimbing dalam terjadinya pengalaman belajar. Guru bukan

satusatunya sumber informasi, guru merupakan salah satunya sumber

belajar, yang memberikan peluang bagi siswa agar dapat memperoleh

pengetahuan atau ketrampilan sendiri melalui usaha sendiri, dapat

mengembangkan motivasi dari dalam dirinya, dan dapat mengembangkan

pengalaman untuk membuat suatukarya.

Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar

akademis. Selain pencapaian standar akademis, kegiatan ditekankan untuk

mengembangkan siswa secara utuh dan seimbang. Pengelolaan kegiatan

(32)

kemajuan siswa untuk menguasai konsep-konsep dengan mantap.

Penilaian dilakukan untuk mengukur dan mengamati kegiatan dan

kemajuan siswa, serta mengukur ketrampilan dan hasil belajar siswa.

4. Tipe Pembelajaran aktif (Active Learning)

Menurut Silberman (2009:118-244) ada beberapa tipe dalam pembelajaran

Active Learning, pembelajaran ini dapat membantu siswa mendapatkan

pengetahuan, ketrampilan, dan sikap secara aktif.

a) Kegiatan Belajar Dalam Satu Kelas Penuh

Strategi ini dirancang untuk memajukan pengajaran satu kelas secara

penuh. Kegiatan belajar ini menjadikan pengajaran yang dibimbing

oleh guru lebih interaktif karena strategi ini menyajikan informasi dan

gagasan yang melibatkan siswa secara penuh.

b) Menstimulus Diskusi Kelas

Seringkali, seorang guru berupaya menstimulasi diskusi kelas namun

dihadapkan pada kebungkaman yang tidak menyenangkan karena

siswa sendiri tidak tahu siapa yang berani berbicara duluan. Memulai

sebuah diskusi tidak jauh berbeda dengan memulai pengajaran yang

berbasis ceramah atau penyajian materi secara lisan. Membangkitkan

minat siswa merupakan hal yang penting untuk menstimulasi diskusi.

c) Pengajuan Pertanyaan

Seringkali, setelah ditanya guru siswa justru diam, sebagian guru

menganggap diamnya siswa menunjukan bahwa siswa tidak berminat

(33)

sudah jelas. Sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa siswa belum

siap mengajukan pertanyaan. Strategi-strategi pengajuan pertanyaan

akan lebih membuat siswa untuk lebih tertantang untuk membuat

pertanyaan karena mereka memiliki kesempatan untuk memahami

materi yang diajarkan.

d) Belajar Bersama

Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan belajar aktif adalah

dengan pemberian tugas belajar yang dilakukan dalam kelompok kecil

siswa. Dukungan sesama siswa dan keragaman pendapat,pengetahuan

serta ketrampilan mereka akan membantu menjadikan belajar bersama

sebagai bagian berharga dari iklim belajar di kelas. Belajar bersama

tidaklah selalu efektif boleh jadi terdapat partisipasi yang tidak

seimbang, komunikasi yang buruk, dan kebingungan bukanya belajar

yang sesungguhnya. Dalam strategi belajar bersama seperti pencarian

informasi, kelompok belajar, pemilahan kartu, turnamen belajar, dan

kuis tim merupakan strategi untuk memaksimalkan manfaat dari

belajar bersama dan meminimalkan kesenjangan.

e) Pengajaran Sesama

Sebagian pakar percaya bahwa sebuah mata pelajaran baru

benar-benar dikuasai ketika si pembelajar mampu mengajarkan kepada

orang lain. Pengajaran sesama siswa memberi siswa kesempatan

untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan, sekaligus, menjadi

(34)

f) Belajar Secara Mandiri

Belajar bersama dan belajar dalam satu kelas penuh bisa ditingkatkan

dengan aktivitas belajar mandiri. Ketika siswa belajar dengan caranya

sendiri, mereka mengembangkan kemampuan untuk untuk

memfokuskan diri dan merenung. Bekerja dengan cara mereka sendiri

juga memberi siswa kesempatan untuk memikul tanggung jawab

pribadi atas apa yang mereka pelajari.

g) Belajar Yang Efektif

Aktivitas belajar yang efektif membantu siswa mengenali perasaan,

nilai-nilai, dan sikap mereka. Belajar yang efektif dirancang untuk

menimbulkan kesadaran akan perasaan, nilai-nilai, dan sikap yang

menyertai banyak topik kelas. Dalam hal ini mendesak siswa untuk

mengenali keyakinan mereka dan bertanya pada diri sendiri apakah

mereka memiliki komitmen terhadap cara- cara baru dalam

mengerjakan segala hal.

h) Pengembangan Ketrampilan

Salah atau tujuan terpenting dari pendidikan jaman sekarang adalah

pemerolehan ketrampilan untuk kebutuhan pekerjaan modern.

Terdapat ketrampilan tehnis seperti menulis dan komputasi. Ada pula

ketrampilan non tehnis misalnya mendengarkan dengan penuh

perhatian dan berbicara dengan jelas. Ketika siswa berupaya

(35)

kemampuan yang ada, mereka perlu mempraktikannya secara efektif

dan mendapatkan umpan balik yang berguna.

5. Metode Pengajaran Sesama Siswa

Menurut Silberman (2009:178-193) ada beberapa tipe metode dalam

pengajaran sesama antara laian:

a) Pertukaran Kelompok Dengan Kelompok

Dalam metode ini, tugas-tugas berbeda diberikan kepada kelompok

siswa yang berbeda. Setiap kelompok “mengajarkan” kepada siswa

lain apa yang ia pelajari.

b) Belajar Ala Permainan Jigsaw

Belajar ala jigsaw (menyusun potongan gambar) merupakan teknik

yang paling banyak dipraktikkan. Teknik ini serupa dengan pertukaran

dengan kelompok-kelompok, namun ada satu perbedaan penting: yakni

tiap siswa mengajarkan sesuatu. Ini merupakan alternatif menarik bila

ada materi belajar yang yang bisa di sementasikan atau dibagi-bagi dan

bila bagian-bagiannya harus diajarkan secara berurutan. Tiap siswa

mempelajari sesuatu yang, bila digabungkan dengan materi yang

dipelajari oleh siswa lain, membentuk kumpulan pengetahuan atau

ketrampilan yang baru.

c) Setiap Siswa Bisa Menjadi Guru Di Sini

Metode ini merupakan strategi yang mudah untuk mendapatkan

(36)

memberi kesempatan kepada siswa untuk bertindak sebagai “guru”

bagi siswa lain.

d) Pemberian Pelajaran Antar siswa

Ini merupakan strategi untuk mendukung pengajaran sesama siswa di

dalam kelas. Strategi ini menempatkan seluruh tanggung jawab

pelajaran kepada seluruh anggota kelas.

e) Pemberitaan

Ini merupakan cara menarik untuk melibatkan siswa dan memancing

minat mereka terhadap topik pelajaraan sebelum mereka mengikuti

pelajaran. Pendekatan pengajaran sesama siswa ini juga akan

menghasilkan banyak materi dan informasi yang bia diceritakan antar

siswa.

f) Poster Session

Metode presentasi alternatif ini merupakan cara yang bagus untuk

memberi informasi kepada siswa secara cepat, memahami apa yang

mereka bayangkan, dan memerintahkan pertukaran gagasan antar

mereka. Tehnik ini juga merupakan cara baru dan jelas yang

memungkinkan siswa mengungkapkan persepsi dan perasaan mereka

tentang topik yang didiskusikan.

6. Active Learning Tipe Poster Session

Menurut Siberman (2009:192) Poster Session merupakan Metode

Active Learning dengan menggunakan presentasi alternatif. Presentasi

(37)

secara tepat, memahami apa yang mereka bayangkan, dan memerintahkan

pertukaran gagasan antar mereka. Dengan mengunakan presentasi

alternatif ini memungkinkan siswa mengungkapkan persepsi dan perasaan

mereka tentang topik yang didiskusikan.

Menurut Siberman (2009:192-193) prosedur dalam pelaksanaan

Active Learning Tipe Poster Session adalah sebagai berikut :

a) Siswa diperintahkan untuk memilih sebuah topik yang berkaitan

dengan topik pelajaran atau sub bahasan yang akan didiskusikan.

b) Siswa diminta untuk memajang konsep mereka di depan kelas.

Tampilan poster harus dengan sendirinya menunjukan isinya; yakni,

begitu melihatnya orang dengan mudah memahami gagasnya tanpa

perlu penjelasan lebih lanjut, baik lisan maupun tertulis. Namun

demikian, siswa juga boleh menyiapkan satu halaman penjelasan yang

berisi uraian lebih rinci dan sekaligus materi rujukan lebih lanjut.

c) Selama berlangungnya pelajaran yang ditentukan, perintahkan siswa

untuk menempelkan sajian materi visual mereka dan berkeliling

mengitari ruangan untuk mengamati dan mendiskusikan poster

masing-masing.

d) Lima belas menit sebelum berakhirnya pelajaran, perintahkan seluruh

siswa untuk kembali ke posisi semula dan mendiskusikan apa yang

menurut mereka baeharga pada kegiatan tersebut.

Metode ini juga dapat divariasikan dengan membagi siswa dalam bentuk

(38)

yang mereka buat, dan siswa lain mendengarkan dan diberi kesempataan

untuk bertanya.

C. Motivasi

1. Pengertian Motivasi

Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang

pengertian motivasi. Menurut Uno (2007:3) motivasi berasal dari kata

motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang ada dalam diri

individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat.

Motif tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat

diinterprestasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan,

atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.

Menurut Hamalik (2001:158) motivasi adalah perubahan energi

dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan

dan reaksi untuk mencapai tujuan. Adanya tujuan yang jelas disadari

akan mempengaruhi kebutuhan dan akan mendorong timbulnya motivasi

dan dapat meningkatkan motivasi dalam diri.

Sedangkan Menurut Sardiman (2007:75) motivasi adalah

keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan

kegiatan belajar, yang menjamin dari kelangsungan kegiatan belajar

yang memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang

dikehendaki oleh subyek belajar dapat tercapai.

Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberi

(39)

motivasi yang tinggi mempunyai energi yang banyak untuk

melaksanakan kegiatan belajar. Bila motivasi disadari oleh siswa maka

suatu pekerjaan dalam hal ini tugas belajar akan dapat terselesaikan

dengan baik.

2. Motivasi Belajar

Dalam proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses

yang tejadi antara siswa dengan guru, antara yang belajar dengan yang

mengajarkan, atau antara pembelajar dengan yang memberi pelajaran.

Melalui proses pembelajaran akan berkembang secara sempurna atau

tercapai hasil yang optimal bila guru maupun siswa terlibat aktif dan

memiliki motivasi tinggi. Guru dan siswa sama-sama memiliki motivasi

dan kreatif dalam memecahkan masalah. Guru memiliki motivasi dan

kreatif dalam mengajar, siswa juga memiliki motivasi dan kreatif untuk

belajar terutama dalam hal memecahkan masalah

Dalam teori kebutuhan berprestasi, Mc Celland dalam Azzam

(2009) membedakan antara kebutuhan berprestasi, berafiliasi, dan

berkuasa untuk mengenali motivasi seseorang dalam kehidupan

sehari-hari.

a) Kebutuhan untuk berprestasi ( need for Achievment / nAch )

merupakan hasrat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan

lebih efisien dalam memecahkan masalah atau menguasai latihan

(40)

b) Kebutuhan untuk berafiliasi ( need for Affiliation / nAff )

merupakan hasrat untuk menciptakan dan mempertahankan

keramah-tamahan dan kehangatan hubungan antara yang satu

dengan yang lain.

c) Kebutuhan untuk berkuasa ( need for power / nPower ) merupakan

untuk menguasai orang lain, mempengaruhi prilaku orang lain, dan

bertanggung jawab terhadap orang lain.

Ketiga kebutuhan di atas kemunculannya dalam diri seseorang

sangat dipengaruhi oleh situasi yang bersifat spesifik dan tidak

bersamaan , disebabkan oleh kebutuhan setiap orang yang berbeda-beda

sesuai dengan latar belakang kemampuannya. Lebih lanjut dikatakan

oleh Mc Cellend dalam Azzam (2009) bahwa seseorang ( siswa )

mampu berprestasi jika mempunyai keinginan untuk melakukan suatu

prestasi yang lebih baik dari prestasi orang lain. Disamping itu siswa

yang motivasi berprestasinya tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai

berikut :

a) Suka mengambil resiko yang sedang / moderat ( moderate risks ) di

dalam tingkah lakunya, sehingga masih ada kemungkinan untuk

berprestasi yang lebih tinggi. Hal ini berlawanan dengan kenyataan,

dimana untuk meraih prestasi tinggi, resikonya juga tinggi, atau

berani mengambil resiko kegagalan untuk meraih hasil yang lebih

(41)

b) Memerlukan umpan balik ( feed back ) dengan segera tentang

tingkah lakunya,

c) Keberhasilan dan keunggulan merupakan suatu yang memuaskan,

d) Menyatu dengan tugas demi tercapainya tujuan,

e) Mengambil tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya terbuka

dan positif,

f) Suka berkompetisi memakai standar kemampuan pribadi, selalu

berusaha keras,

g) Berusaha melakukan sesuatu secara kreatif,

h) Peka terhadap masalah dan mengatasinya secara unik,

i) Pikiran masa depan lebih mendominasi,

j) Suka terlibat dalam pembicaraan penting terutama masalah yang

pelik.

Berdasarkan uraian di atas, khususnya teori kebutuhan untuk

berprestasi dari Mc Callend, yang dimaksud dengan motivasi belajar

siswa adalah kecenderungan siswa dalam melakukan kegiatan belajar

yang didorong oleh hasrat untuk mencapi prestasi atau hasi belajar

secara sebaik mungkin.

3. Fungsi Motivasi

Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi

para siswa. Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi

(42)

a) Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa

motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.

b) Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan

perbuatan ketercapaian tujuan yang diinginkan.

c) Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin

bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau

lambatnya suatu pekerjaan.

Di samping itu, motivasi juga berfungsi sebagai pendorong usaha

dalam pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena

adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan

menunjukkan hasil yang baik. Dengan adanya usaha yang tekun dan

terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan

dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa

akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.

Sedangkan menurut Uno (2007:27-28) motivasi pada dasarnya dapat

membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu,

termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa fungsi

dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran yaitu :

a) Motivasi dapat Menentukan Penguatan Belajar

Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila

seseorang anak yang dihadapkan pada suatu masalah yang

memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat

(43)

b) Motivasi dapat memperjelas tujuan belajar

Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitanya

dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik belajar sesuatu

jika yang dipelajari dapat diketahui dan nikmati manfaatnya bagi

anak. Sebagai contoh, anak akan termotivasi belajar ekonomi

karena tujuan belajar ekonomi dapat melahirkan kemampuan

dalam bidang penjualan (marketing).

c) Motivasi Menentukan Ketekunan Belajar

Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan

berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan

harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak

bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun

belajar. Sebaliknya, apabila seseorang kurang atau tidak

memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak tahan lama

belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan

bukan belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap

ketahanan dan ketekunan belajar.

4. Jenis-Jenis motivasi

a) Motivasi Intrinsik

Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif motif yang

menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar,

karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk

(44)

yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau

mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya.

Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukanya

maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin

mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu

sendiri.

b) Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi

karena adanya perangsang dari luar (Sardiman:90-91).Sebagai

contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ada

ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji

pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting bukan kerena belajar

ingin mengetahui sesuatu, tetapi karena ingin mendapatkan nilai

yang baik, atau agar mendapatkan hadiah. Jadi jika dilihat dari segi

tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bargayut

dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi

ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di

dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan

dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan

aktivitas belajar.

5. Cara Menggerakan Motivasi Belajar Siswa

Guru dapat menggunakan berbagai cara untuk menggerakan atau

(45)

(2001;166-168) ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk

menggerakan motivasi belajar siswa antara lain :

a) Memberi angka

Umumnya setiap siswa ingin mengetahui hasil pekerjaanya, yakni

berupa angka yang diberikan oleh guru. Murid yang mendapat angka

yang baik, akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar,

sebaliknya murid yang mendapatkan angka kurang, mungkin

menimbulkan frustasi atau dapat juga menjadi pendorong agar

belajar lebih baik.

b) Pujian

Pemberian pujian kepada murid atas hal-hal yang telah dilakukan

dengan berhasil besar manfaatnya sebagai pendorong belajar. Pujian

menimbulkan rasa puas dan senang.

c) Hadiah

Cara ini dapat dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu,

misalnya pemberian hadiah pada akhir tahun kepada siswa yang

mendapat atau menunjukkan hasil belajar yang baik.

d) Kerja kelompok

Dalam kerja kelompok dimana melakukan kerjasama dalam belajar,

setiap anggota kelompok, kadang-kadang perasaan untuk

mempertahankan nama baik kelompok menjadi pendorong yang kuat

(46)

e) Persaingan

Baik kerja kelompok atau persaingan memberikan motif-motif sosial

kepada murid. Hanya saja persaingan individual akan menimbulkan

pengaruh yang tidak baik, seperti : rusaknya hubungan persahabatan,

perkelahian, pertentangan, persaingan antar kelompok belajar.

f) Penilaian

Penilaian secara kontinu akan mendorong murid-murid belajar, oleh

karena setiap anak memiliki kecenderungan untuk memperoleh hasil

yang baik. Disamping itu, para siswa selalu mendapat tantangan dan

masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan, sehingga mendorong

seksama.

g) Belajar melalui media

Pembelajaran dengan menggunakan media dapat meningkatkan

motivasi siswa dalam belajar, karena dengan menggunakan media

dapat menarik /menangkap perhatian siswa dalam belajar di kelas

dan dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi yang

disampaikan, misalnya media poster, pembelajaran menggunakan

poster dapat meningkatkan motivasi baik secara individu maupun

kelompok. Karena pembelajaran dengan menggunakan poster dapat

dilakukan secara kelompok maupun individu di kelas, sehingga

lewat presentasi poster yang di buat, dapat memotivasi dan

mengajak siswa untuk lebih aktif, kreatif dalam menyumbangkan

(47)

dan siswa dapat dengan mudah memahami materi yang di sampaikan

lewat media poster.

6. Unsur-Unsur Dinamis Dalam belajar

Menurut Imron (1996:29-39) yang dimaksud dengan unsur-unsur

dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang dapat berubah dalam

proses belajar. Perubahan unsur-unsur tersebut berupa : dari tidak ada

menjadi ada atau sebaliknya, dari lemah menjadi kuat dan sebaliknya,

dan dari sedikit menjadi banyak dan sebaliknya. Unsur-unsur tersebut

dapat berupa :

a) Motivasi dan upaya memotivasi siswa dalam belajar

Beberapa upaya yang dapat ditempuh untuk memotivasi siswa agar

belajar antara lain 1) mengenalkan siswa pada kemampuan yang ada

pada dirinya sendiri. Dengan mengenal kemampuan dirinya, siswa

akan tahu kelebihan dan kekurangannya, dengan mengetahui

kelebihan dirinya, ia akan mengukuhkan dan memperkuat kelebihan

tersebut, dan dengan mengetahui kekurangan yang ada pada dirinya,

siswa akan berusaha menyempurnakannya melalui aktivitas belajar.

Dari sini siswa akan timbul motivasi untuk belajar. 2) mengenalkan

siswa dengan hal-hal yang baru. Sebab, hal-hal yang baru ini dapat ”

hasrat/rasa ingin tahu siswa”. Adanya rasa ingin tahu yang demikian

besar, menimbulkan gairah bagi siswa untuk beraktivitas belajar. 3)

Membuat variasi-variasi dalam kegiatan belajar mengajar, supaya

(48)

termasuk dalam aktivitas belajar hanya akan memperlema motivasi

saja.

b) Bahan belajar

Bahan belajar sangat penting bagi siswa yang melakukan aktivitas

belajar. Penyediaan bahan belajar ini sangat bergantung kepada

tujuan belajar, karakteristik siswa, siasat belajar yang harus

ditempuh oleh siswa dan faktor ketersediaanya–tidaknya bahan

belajar.

c) Alat bantu belajar

Alat bantu belajar termasuk salah satu unsur dinamis dalam belajar.

Kedudukanya juga penting, oleh karena dapat membantu terhadap

belajar siswa. Dengan alat bantu, bahan ajar yang abstrak bisa

dikongkritkan, dengan alat bantu bahan belajar yang tidak menarik

bisa menjadi menarik, dengan alat bantu, bahan-bahan belajar yang

meragukan dapat diyakinkan karena dapat dibuktikan secara

empirik.

Alat bantu yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran seperti

poster, OHP, video, tape recorder dan lain-lain.

7. Prinsip Motivasi Belajar

Menurut Safi’i (2009) Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku

yang mantab serta diakibatkan oleh pengalaman. Belajar adalah suatu

(49)

perilaku perubahan pengalaman, serta dianggap sebagai faktor-faktor

penyebab dasar dalam belajar.

Menurut Safi’i (2009) Prinsip-prinsip motivasi belajar adalah sebagai

berikut:

a) Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar.

b) Motivasi intrinsik lebih utama dari pada motivasi ekstrinsik dalam

belajar.

c) Motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman.

d) Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar.

e) Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar.

f) Motivasi melahirkan prestasi dalam belajar.

Menurut Surya (2004:65-67) ada beberapa prinsip-prinsip motivasi

antara lain :

a) Prinsip Kompetisi

Yang diimaksud dengan prinsip kompetisi adalah persaingan secara

sehat, baik intr maupun antar pribadi. Kompetisi inter pribadi atau

self competition adalah kompetisi dalam diri pribadi masing-masing

dari tindakan atau unjuk kerja dalam dimensi tempat dan waktu.

Kompetisi antar pribadi adalah persaingan antar individu yang satu

dengan yang lain. Dengan persaingan secara sehat, dapat

ditimbulkan motivasi untuk bertindak secara sehat dan akan timbul

motivasi untuk bertindak secara lebih baik. Salah satu bentuk

(50)

Kompetisi ini juga dapat dilakukan antar sekolah untuk mendorong

siswa malakukan berbagai upaya unjuk kerja yang baik.

b) Prinsip Pemacu

Dorongan untuk melakukan berbagai tindakan akan terjadi apabila

ada pemacu tertentu. Pemacu ini dapat berupa pembelajaran yang

digunakan guru dikelas, media yang digunakan. Pembelajaran yang

digunakan guru mempengaruhi motivasi siswa dalam mengikuti

pembelajaran, misalnya dalam pembelajaran mengaktifkan siswa

aktif untuk mengikuti kegiatan belajar, dengan begitu siswa akan

aktif dalam kegiatan belajar.

c) Prinsip ganjaran dan hukuman

Ganjaran yang diterima oleh seseorang dapat meningkatkan motivasi

untuk melakukan tindakan yang menimbulkan ganjaran itu. Setiap

unjuk kerja yang baik apabila diberikan ganjaran yang memadai,

cenderung akan meningkatkan motivasi. Misalnya pemberian hadiah

kepada siswa yang berprestasi. Demikian pula hukuman yang

diberikan dapat menimbulkan motivasi untuk tidak lagi melakukan

tindakan yang menyebabkan hukuman itu. Hal yang harus diingat

adalah agar ganjaran dan hukuman itu dapat diterapkan secara

proposional dan benar-benar dapat memberikan motivasi.

d) Kejelasan dan kedekatan tujuan

Makin jelas dan makin dekat suatu tujuan, maka akan makin

(51)

dengan prinsip ini, maka seyogyanya setiap siswa mamahami tujuan

belajarnya secara jelas. Hal itu dapat dilakukan dengan memberi

penjelasan suatu tujuan dari tindakan yang diharapkan. Cara lain

adalah dengan membuat tujuan-tujuan yang masih umum dan jauh

menjadi yang khusus dan lebih dekat.

D. Partisipasi

1. Pengertian Partisipasi

Menurut Mulyasa (2004:156) Partisipasi siswa dalam pembelajaran

sering juga diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Partisipasi siswa merupakan wujud tingkah laku siswa secara

nyata dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan totalitas dari suatu

keterlibatan mental dan emosional siswa sehingga mendorong mereka

untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab terhadap

pencapaian suatu tujuan yaitu tercapainya prestasi belajar yang

memuaskan.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi

Menurut Sudjana (1996) partisipasi siswa di dalam pembelajaran

merupakan salah satu bentuk keterlibatan mental dan emosional.

Partisipasi merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang ditentukan

oleh lima faktor, antara lain:

a) Pengetahuan/kognitif, barupa Pengetahuan tentang tema, fakta,

(52)

b) Kondisi situasional, seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial,

psikososial dan faktor-faktor sosial.

c) Kebiasaan sosial, seperti kebiasaan menetap dan lingkungan.

d) Kebutuhan, meliputi kebutuhan Approach (mendekatkan diri),

meliputi pandangan/perasaan, kesediaan bereaksi, interaksi sosial,

minat dan perhatian.

e) Kegiatan pembelajaran yang digunakan oleh guru.

f) Media yang digunakan dalam kegiatan belajar di kelas, misalnya tape

recorder, video, poster dan lain-lain. Ini dapat memperbesar perhatian

siswa dan keikutsertaan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di

kelas sehingga dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam mengikuti

pembelajaran di kelas

E. Prestasi

1. Pengertian Prestasi

Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan

siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya

seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya

untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar

mengajar berlangsung.

Adapaun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya

aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang

beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu

(53)

belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang

terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi

apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.

Menurut Ridwan (2009) prestasi belajar merupakan hal yang tidak

dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar

merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses

belajar. Prestasi tidak dapat dilepaskan dengan proses belajar. Sedangkan

Suryabrata (2001:232) prestasi merupakan kecakapan nyata yang dapat

diukur dan belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang baru

sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan

lingkungannya. Prestasi belajar dapat dikatakan sebagai hasil kecakapan

yang baru dari proses belajar seseorang yang mempunyai prestasi yang

baik dalam belajarnya, berarti ia mendapatkan hasil kecakapan yang baru

dari apa yang dipelajarinya.

Belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam

menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh

dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan

tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang

dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah

mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat

diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat

(54)

Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud dengan prestasi belajar

adalah hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan. Nilai merupakan

perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru mengenai kemajuan

atau prestasi belajar siswa selama masa tertentu (Suryabrata, 2001:296).

Untuk mengetahui prestasi belajar siswa bisa dilihat pada nilai-nilai yang

tertera dalam raport. Siswa yang nilai raportnya tinggi dikatakan

mempunyai prestasi belajar tinggi, sebaliknya siswa yang nilai raportnya

rendah dikatakan mempunyai prestasi belajar rendah. Berdasarkan

uraian di atas, dapat disimpulkan tentang prestasi belajar sebagai berikut

:

a) Prestasi belajar merupakan hasil proses belajar.

b) Prestasi belajar merupakan kemampuan nyata yang dapat diukur dan

dinilai meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

c) Prestasi belajar dapat diketahui melalui raport dalam bentuk nilai

atau angka raport.

d)

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi

Menurut Ridwan (2009) untuk mencapai prestasi belajar siswa maka

perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

antara lain;

a) Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu

(55)

1) Intelegensi

Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk

menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.

Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya

intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai

dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya

perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang

berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga

seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat

kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan

sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi

merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar

mengajar.

2) Bakat

Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang

sebagai kecakapan pembawaan. Tumbuhnya keahlian tertentu

pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya

sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya

prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses

belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan

penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik.

(56)

melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan

merusak keinginan anak tersebut.

3) Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan

dan mengenai beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya

terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik

minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat

menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang

siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan

dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat

belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor

yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang

mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan

terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang

diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.

4) Motivasi

Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal

tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa

untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam

belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat

ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar

sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk

(57)

Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha

dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan

perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya

dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan

mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi

kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan

kehendak sendiri dan belajar secara aktif.

b) Faktor Ekstern

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu :

1) Keadaan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat

tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Adanya rasa aman

dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang

dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan

terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman

merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang

menambah motivasi untuk belajar. Adanya rasa aman dalam

keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam

belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk

belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu

kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk

(58)

2) Media yang digunakan dalam pembelajaran

Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat

digunakan untuk menyalurkan sebuah pesan pengirim ke

penerima mempengaruhi terhadap daya nalar seseorang untuk

menuangkan ide /gagasan dalam sebuah tulisan. Misalnya poster,

poster dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran,

dengan poster siswa dapat menuangkan ide seputar materi

pelajaran sehingga dapat lebih mudah memahami materi

pelajaran dengan cara meraka sendiri dan dapat memberikan

informasi juga kepada orang lain sehingga orang lain juga mudah

untuk memahami materi pelajaran yang disampaikan, kerena

belajar dengan media gambar/poster dan mengajarkan ke orang

lain ( sesama siswa) akan mudah dipahami, sehingga dengan

begitu dapat meningkatkan prestasi siswa dalam belajar.

3) Keadaan sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang

sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa,

karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk

belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara

penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat

pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa

(59)

4) Lingkungan Masyarakat

Llingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit

pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses

pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat

besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab

dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul

dengan lingkungan dimana anak itu berada.

Lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam

pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan

dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena

itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan

temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal

tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan

turut belajar sebagaimana temannya.

3. Fungsi Dan Kegunaan Prestasi Belajar

Sepanjang rentang kehidupannya, manusia selalu mengejar suatu

prestasi atau hasil usaha menurut aktivitas yang dilakukan dan sesuai

dengan tingkat kemampuan masing-masing yang akan memberikan

kepuasan tertentu pada diri manusia khususnya yang berada di

lingkungan sekolah. Adapun fungsi dari prestasi belajar (Arifin, 1990:

3) yaitu:

a) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas

(60)

b) Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.

c) Prestasi belajar sebagai informasi dalam inovasi pendidikan.

d) Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu

institusi pendidikan.

e) Prest

Gambar

gambar sehingga pembelajaran dengan menggunakan poster (divisualisasikan
Tabel III.I
Tabel III.2
Tabel III.4
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan melalui penerapan model penerapan model active learning tipe team quis untuk meningkatkan

Pada tahap perencanaan, kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model active learning tipe card sort meliputi beberapa tahap, yaitu sebagai berikut. 1) Menganalisis

Hal ini menunjukan bahwa penerapan metode pembelajaran active learning tipe active dabate pada mata pelajaran ekonomi dalam penelitian ini sudah dapat meningkatkan hasil belajar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) hasil belajar siswa pada pembelajaran muatan lokal membatik sebelum menggunakan model Active Learning Tipe Small Group

PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE ACTIVE DEBATE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI, PARTISIPASI DAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS X-5 SMA KOLESE DE

Hal ini menunjukan bahwa penerapan metode pembelajaran active learning tipe active dabate pada mata pelajaran ekonomi dalam penelitian ini sudah dapat meningkatkan hasil belajar

Skenario dan implementasi pembelajaranpemahaman IPS pada siswa SD kelas IV diperoleh beberapa adanya temuan-temuan di lapangan diantaranya dengan penggunaan metode active learning

Peningkatan perilaku prososial siswa melalui penggunaan model pembelajaran active learning tipe really getting acquainted dalam pembelajaran IPS yang telah dilaksanakan