PENINGKATAN MOTIVASI, PARTISIPASI, DAN PRESTASI
BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE
ACTIVE LEARNING
TIPE
POSTER SESSION
PADA MATA
PELAJARAN EKONOMI DI SMA STELA DUCE 2
YOGYAKARTA
(Sebuah Penelitian Tindakan Kelas)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi
Oleh :
PENTI HANDAYANI
NIM : 06 1324 007
PROGAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
i
PENINGKATAN MOTIVASI, PARTISIPASI, DAN PRESTASI
BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE
ACTIVE LEARNING
TIPE
POSTER SESSION
PADA MATA
PELAJARAN EKONOMI DI SMA STELA DUCE 2
YOGYAKARTA
(Sebuah Penelitian Tindakan Kelas)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi
Oleh :
PENTI HANDAYANI
NIM : 06 1324 007
PROGAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
vi
vii
PENINGKATAN MOTIVASI, PARTISIPASI, DAN PRESTASI BELAJAR
SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ACTIVE LEARNING TIPE
POSTER SESSION PADA MATA PELAJARAN EKONOMI
DI SMA STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA
(Sebuah Penelitian Tindakan Kelas)
PENTI HANDAYANI
06 1324 007
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
2010
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah ada peningkatan
motivasi, partisipasi dan prestasi belajar siswa dengan menerapkan metode
Active
Learning
Tipe
Poster Session
. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas
(Classroom Action Research),
yaitu penelitian tindakan yang dilakukan dengan
tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Penelitian ini dilaksanakan
di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta pada bulan Maret-April 2010. Subjek dalam
penelitian ini yaitu siswi kelas XI IPS 1 sedangkan objek penelitian adalah motivasi,
partisipasi, dan prestasi belajar siswa melalui penggunaan metode
Active Learning
Tipe
Poster Session
.
Masing-masing variabel dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan
instrumen yang berbeda. Motivasi belajar diukur dengan menggunakan kuesioner,
partisipasi diukur melalui observasi, sedangkan prestasi belajar siswa diukur dengan
menggunakan nilai ulangan harian. Target keberhasilan motivasi adalah 75% dari
jumlah keseluruhan siswi kelas XI IPS 1 (30 siswi) memiliki tingkat motivasi sangat
tinggi. Target keberhasilan tingkat partisipasi yaitu 75% siswa dari keseluruhan
siswikelas XI IPS 1 (30 siswi) berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Target
keberhasilan prestasi yaitu 75% siswa dari keseluruhan siswi kelas XI IPS 1 (30
siswi) mengalami ketuntasan belajar.
viii
ABSTRACT
THE INCREASING OF MOTIVATION, PARTICIPATION, AND
LEARNING ACHIVEMENT BY APPLYING ACTIVE LEARNING TYPE OF
POSTER SESSION METHOD ON ECONOMICS IN STELLA DUCE 2
SENIOR HIGH SCHOOL YOGYAKARTA
(A Class Action Research)
PENTI HANDAYANI
06 1324 007
Sanata Dharma University
Yogyakarta
2010
The purpose of this research is to analyze whether there is any progress of
students’ motivation, participation, learning achievement by applying Active
Learning Type of Poster Session Method. The type of this research is a classroom
action research , which its purpose is to improve the learning quality in the classroom.
This research was conduced in Stella Duce 2 Senior High School Yogyakarta from
March to April 2010. The subjects of this research were the students of eleventh
grade of one social sciences, whereas the objects of this research were motivation,
participation, and students’ learning achievement by applying Active Learning Type
of Poster Session Method.
Each variable in this research was measured by using different instruments.
The learning motivation was measured by using questionnaire; participation was
measured by observation, and students’ learning achievement was measured by using
daily test mark. The target of motive success was 75 % from total amount of 30
students who had very high motive level. The successful target of participated was
75% students from 30 students who actively participated in learning process. The
successful target of achievement was 75 % students out of 30 students who had
completeness of learning.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Penyelesaian skripsi ini dapat terwujud atas bantuan dari banyak pihak sehingga
dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan ucapan terima kasih
sebesar-besarnya kepada:
1.
Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Pd. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
2.
Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dosen Pembimbing I, yang dengan
sabar dan penuh perhatian memberi dukungan, arahan dan telah meluangkan
waktu di tengah kesibukan beliau, sehingga memberikan motivasi yang tinggi
kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
3.
Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing II, terima kasih
atas segala bimbingan, nasehat dan telah bersedia meluangkan waktu dalam
menyelesaikan skripsi ini.
4.
Bapak Drs. P.A. Rubiyanto, terima kasih atas segala dukungan dan saran yang
diberikan kepada penulis.
5.
Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si. yang telah memberikan motivasi dan
pengalaman berharga yang menggugah hati untuk terus belajar.
6.
Bapak Yohanes Maria Vianey Mudayen, S.Pd., terima kasih atas pengalaman
berharga yang diberikan semasa perkuliahan.
x
8.
Sekretariat Prodi Pendidikan Ekonomi (terutama Mbak Titin) yang telah banyak
membantu dan memberikan informasi kepada penulis.
9.
Ibu Dra. Anna Harsanti selaku Kepala Sekolah SMA Stella Duce 2
Yogyakarta,yang telah memberi ijin dan kesempatan kepada penulis untuk
melakukan penelitian.
10.
Ibu Dra. R. Tuti Ratnaningsih selaku guru pengampu Ekonomi kelas XI IPS,
terima kasih atas bimbingan, dukungan, kesabaran, saran dan telah meluangkan
waktu bagi penulis di tengah kesibukan mengajar.
11.
Para siswi kelas XI IPS 1, terima kasih banyak atas partisipasi dan kerja sama
yang baik sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar.
12.
Simbah yang ada di surga terima kasih banyak atas doanya dari sana.
13.
Bapak Ag. Basiran dan Ibu Katharina Istijah terima kasih banyak atas segala
kasih sayang yang diberikan kepada penulis. Terima kasih atas kesabaran,
dukungan, doa yang tak kunjung henti yang telah diberikan kepada penulis, serta
material dan fasilitas yang mendukung selama ini.
14.
Bulik Th. Ngadinah, terima kasih banyak atas segala kasih sayang yang telah
diberikan kepada penulis. Terima kasih atas segala dukungan dan doanya, serta
fasilitas belajar dan bantuan lunaknya yang mendukung penulis selama ini.
15.
Keluarga Suren (Bude Syam dan Pak De Mar ) terima kasih banyak atas
dukungannya serta doanya yang diberikaan kepada penulis.
16.
Kakakku tersayang Martinus Bambang Purnomo (Beng-Beng) & Antonius Panji
xi
Christina Kusuma Wati (Boneng) terima kasih atas segala doa, perhatian, dan
dukunganya, walau kalian kandang-kadang kalian sangat menjengkelkan dan
menyebalkan tapi
I Love You All……
(ayo bersama-sama kita bahagiakan nyak &
babe).
17.
Fransiskus Ardhi Putranto (Arcil, Boncel, Bogel, Boneng, Pran, Bee, Bocil,
JoePran) yang nama panggilanya banyak sekali….., Terima kasih banyak atas
segala perhatian, kasih sayang, kesabaran, bantuan, dukungan, doa, yang selama
ini telah diberikan. Suka duka yang telah kita alami bersama….Maaf saya selalu
merepotkan, menyebalkan dan menjengkelkan. Ayo Buruan nyusul……….
18.
Bapak Ag. Gunandi dan Ibu Sukarti, terima kasih banyak atas support dan
doanya.
19.
Teman-teman PE 06 (Citra, Monik, Aan, Hana, Magda, Bank Bandi, Heri, Ditya,
Wawan, Kus, Jalu, Andi, Nove). Terima kasih banyak atas dukungan, bantuan,
kerjasama, saran, nasehat, humor, kecerian dan kebersamaan dalam keseharian,
dan kemesraan semoga kita tetap bersahabat untuk esok dan selamanya.
You are
The Best Guys….I Love You All…
20.
Priska dan Arcil terima kasih banyak atas bantuanya selama melakukan
penelitian di sekolah.
21.
Mbak Lelly, Mbk Nia, Mbak Neni, Mbak Lia, Mbak Ika, Mbak Nian, Mbak Dwi,
Terima kasih banyak atas bantuan dan dukunganya…….maaf selama ini saya
xii
22.
Teman-teman kost Umi dan Citra terima kasih atas segala bantuan, dukungan,
kebersamaan….semoga kita tetap bersahabat untuk esok dan selamanya.
23.
Teman-teman Bulletin PE, Citra, Hana, Monik, Agnes, Fani, Terima kasih atas
canda dan tawa dalam kebersamaanya……
24.
Teman-teman mitra PUSD Mas Yosep (Ayah) , Mbak Woro (Bunda), Mbak
Ivone, Mbak Putri (Sapu), Mbak Nathan, Mbak Lia, Mbak Dhita, Mbak Dyah
(budy), Mbak Nova, Mbak Nisa, Mas Feri, Donni, Tata, Ria (BulBul), Manti,
Ria, Fredi, Mbak Erli. Terima kasih atas dukunganya, kecerian dalam
kebersamaan…..ayo semangat dalam berkarya….
I Love You All
……….
25.
Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak
membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis mengucapkan terimaksih.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, segala
saran, kritik, dan masukan yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan penyusunan
skripsi pada masa-masa yang akan datang sangat penulis harapkan. Akhir kata,
semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v
MOTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Batasan Masalah ... 5
C. Rumusan Masalah ... 5
D. Tujuan Penelitian ... 6
E. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendekatan Pembelajaran Modern ... 7
xiv
C. Motivasi ... 20
D. Partisipasi ... 33
E. Prestasi ... 34
F. Kerangka Berfikir ... 42
A. Penelitian Terdahulu ... 43
BAB III METODE PENELITIAN B. Jenis Penelitian ... 45
C. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 45
D. Subjek Dan Obyek Penelitian ... 46
E. Variabel Penelitian ... 46
F. Teknik Pengumpulan Data ... 47
G. Teknik Analisis Data ... 48
H. Siklus Penelitian Tindakan Kelas... 53
BAB IV GAMBARAN UMUM A. Sejarah Berdirinya SMA Stella Duce 2 Yogyakarta ... 56
B. Visi, Misi, Semboyan dan Tujuan Sekolah ... 59
C. Sistem Pendidikan Satuan Pendidikan SMA Stella Duce 2 ... 63
D. Kurikulum Satuan Pendidikan SMA Stella Duce 2 ... 63
E. Organisasi Sekolah Satuan Pendidikan SMA Stella Duce 2 ... 77
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Siklus 1………. ... 82
1. Perencanaan ... 82
2. Tindakan ... 91
xv
4. Refleksi ... 103 B. Siklus 2……… ... 107 BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN
A.Kesimpulan………. ... 108 B.Saran………. ... 109 C.Keterbatasan dan Saran bagi peneliti selanjutnya ... 110
DAFTAR PUSTAKA
xvi
DAFTAR TABEL
TABEL III.1 ... 48
TABEL III.2 ... 50
TABEL III.3 ... 50
TABEL III.4 ... 51
TABEL III.5 ... 53
TABEL IV.1 ... 59
TABEL IV.2 ... 64
TABEL IV.3 ... 66
TABEL IV.4 ... 68
TABEL IV.5 ... 70
TABEL IV.6 ... 72
TABEL V.1 ... 84
TABEL V.2 ... 85
TABEL V.3 ... 88
TABEL V.4 ... 94
TABEL V.5 ... 95
TABEL V.6 ... 96
TABEL V.7 ... 98
TABEL V.8 ... 101
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Kuesioner ... 114
LAMPIRAN 2 Lembar Observasi Partisipasi Siswa ... 119
LAMPIRAN 3 Rencana Pelaksaanaan Pembelajaran ... 123
LAMPIRAN 4 Materi Pelajaran ... 137
LAMPIRAN 5 Poster ... 142
LAMPIRAN 6 Hasil Perhitungan Motivasi Manual ... 144
LAMPIRAN 7 Hasil Partisipasi Siswa ... 147
LAMPIRAN 8 Hasil Ulangan Siswa ... 154
LAMPIRAN 9 Ulangan Harian Siswa ... 157
LAMPIRAN 10 Refleksi Siswi ... 164
LAMPIRAN 11 Surat Ijin Penelitian ... 167
LAMPIRAN 12 Surat Keterangan Penelitian ... 172
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi untuk
menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui
kegiatan pengajaran. Pendidikan juga merupakan suatu hal yang sangat
mendasar dan penting bagi perkembangan suatu bangsa dan merupakan salah
satu faktor penentu maju tidaknya suatu bangsa.
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar
mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Keberhasilan pencapaian
tujuan pendidikan terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang
dialami siswa. Siswa yang belajar akan mengalami perubahan baik dalam
pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap. Agar perubahan
tersebut dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan berbagai faktor. Adapun
faktor untuk menghasilkan perubahan yang diharapkan yaitu bagaimana cara
untuk mengefektifkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Karena
pemahaman materi pelajaran merupakan salah satu tujuan yang dicapai dari
kegiatan belajar mengajar.
Keberhasilan suatu pendidikan salah satunya ditentukan oleh bagaimana
proses belajar mengajar itu berlangsung. Selain itu proses interaksi belajar
pada prinsipnya tergantung pada guru dan siswa. Guru dituntut untuk
menciptakan suasana belajar mengajar yang efektif. Sedangkan siswa dituntut
Sehingga keberhasilan belajar dalam bidang kognitif, afektif dan
psikomotorik dapat tercapai.
Rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran pada pelajaran
ekonomi terjadi karena siswa kurang tertarik dengan pelajaran yang
diberikan oleh guru, yang menyebabkan rendahnya motivasi, partisipasi,
siswa dalam belajar ekonomi sehingga menyebabkan prestasi belajar siswa
menurun. Selain itu penyebab utama rendahnya motivasi, partisipasi, dan
prestasi belajar siswa karena kurangnya variasi model pembelajaran dan guru
kurang dapat memilih model pembelajaran yang tepat sehingga kurang
menarik perhatian siswa untuk belajar. Selama ini yang terjadi, pembelajaran
hanya berpusat pada guru, dan siswa tidak dilibatkan secara aktif.
Berdasarkan wawancara dengan guru SMA Stella Duce 2 dan beberapa
teman yang pernah praktek mengajar di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta,
kondisi pembelajaran di SMA Stella Duce 2, pada saat guru menerangkan
materi pelajaran dengan metode ceramah siswa kurang antusias dalam
mengikuti pelajaran sebagian besar siswa yang duduk di belakang kurang
memperhatikan, mereka asik berbicara sendiri, melamun (melakukan kegiatan
mereka sendiri). Keadaan ini menunjukan bahwa siswa kurang berpartisipasi
aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran kurang
efektif. Rendahnya partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dapat
menyebabkan kurangnya motivasi siswa dalam kegiatan belajar. Rendahnya
partisipasi siswa dan kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti
Sebagai pendidik guru harus mampu menerapkan model pembelajaran
yang bervariasi yang dapat meningkatkan motivasi, partisipasi siswa dalam
mengikuti pembelajaran dan diharapkan juga dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa. Alternatif yang digunakan untuk menarik perhatiaan siswa
dalam mengikuti pembelajaran yaitu dengan menggunakan metode Active
Learning, Menurut Zaini (2008) metode Active Learning ini dimaksudkan
untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses
pembelajaran. Pembelajaran aktif ini mengajak peserta didik untuk belajar
secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang
mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka aktif menggunakan
otak baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan
persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu
persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan pembelajaran aktif ini
peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak
hanya mental akan tetapi melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta
didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil
belajar dapat dimaksimalkan.
Pembelajaran aktif yang digunakan adalah Active Learning Tipe Poster
Session, Menurrut Silberman (2009 : 192) pembelajaran aktif Tipe Poster
Session termasuk dalam pengajaran sesama yang memberi siswa kesempatan
untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan sekaligus menjadi narasumber
bagi satu sama lain, Beberapa pakar percaya bahwa suatu pelajaran akan
kepada peserta lain. Strategi Active Learning Tipe Poster Session, merupakan
presentasi alternatif dengan menggunakan poster, presentasi ini merupakan
cara yang bagus untuk memberi informasi kepada siswa secara tepat,
memahami apa yang mereka bayangkan, dan memerintahkan pertukaran
gagasan antar mereka. Teknik ini juga merupakan cara baru dan jelas yang
memungkinkan siswa mengungkapkan persepsi dan perasaan mereka tentang
topik lewat media poster.
Pembelajaran Poster Session cocok untuk karakteristik siswi XI IPS 1 di
SMA Stella Duce 2 Yogyakarta karena siswi-siswi sangat menyukai
gambar-gambar sehingga pembelajaran dengan menggunakan poster (divisualisasikan
dalam bentuk gambar) diharapkan dapat menarik minat siswa dalam belajar,
selain itu juga pembelajaran Poster Session diyakini cocok untuk kelas yang
kurang dalam memperhatikan guru saat mengajar. Pembelajaran
menggunakan poster ini dapat menarik perhatian siswa, karena pembelajaran
poster session dilakukan oleh siswa dalam kelompok yang mempresentasikan
poster yang mereka buat, ini mengajak siswa untuk lebih aktif, kreatif dalam
menyumbangkan ide, dengan begitu siswa dapat mudah memahami materi
pelajaran dengan cara mereka sendiri, Pembelajaran ini tidak berpusat pada
guru, guru hanya sebagai fasilitator dalam belajar, sehingga siswa dapat turut
Beranjak dari latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul: ” PENINGKATAN MOTIVASI, PARTISIPASI,
DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN
METODE ACTIVE LEARNING TIPE POSTER SESSION PADA
PELAJARAN EKONOMI DI SMA STELLA DUCE 2
YOGYAKARTA”.
B. Batasan Masalah
Metode Pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi, partisaipasi dan
prestasi pada pelajaran ekonomi cukup bervariasi. Namun tidak semua
model pembelajaran tersebut akan dibahas dalam penelitian ini. Dalam
penelitian ini peneliti hanya akan membahas tentang model pembelajaran
Active Learning Tipe Poster Session.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat diambil rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Apakah penerapan metode Active Learning Tipe Poster Session
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa?
2. Apakah penerapan metode Active Learning Tipe Poster Session
dapat meningkatkan partisipasi belajar siswa?
3. Apakah penerapan metode Active Learning Tipe Poster Session
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh penerapan metode Active Learning
Tipe Poster Session terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.
2. Untuk mengetahui pengaruh penerapan Metode Active Learning
Tipe Poster Session terhadap peningkatan partisipasi belajar siswa.
3. Untuk mengetahui pengaruh penerapan metode Active Learning
Tipe Poster Session terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Untuk mengetahui secara mendalam mengenai penerapan metode
Active Learning Tipe Poster Session terhadap peningkatan
motivasi, partisipasi, dan prestasi belajar siswa.
2. Bagi Siswa
Sebagai gambaran bagi siswa SMA untuk meningkatkan motivasi,
partisipasi, prestasi siswa dalam belajar.
3. Bagi SMA Stella Duce 2 Yogyakarta
Sebagai masukan bagi sekolah dalam meningkatkan motivasi,
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendekatan Pembelajaran Modern
Sejalan dengan harapan kurikulum dan trend dunia pendidikan di era
global, dimana menginginkan agar peserta didik lebih aktif, kreatif, inovatif,
dan mampu mengikuti pelajaran dengan antusiasme yang tinggi, maka guru
harus mengembangkan proses pembelajaran terbaik dan modern sehingga
dapat membekali peserta didik dengan sesuatu berharga dan benar-benar
bermanfaat dalam kehidupan.
Menurut Jacob (2009 : 4) beberapa prinsip pembelajaran modern yang
harus dimiliki guru sebagai pendidik :1) memahami konsep-konsep inti,
perangkat-perangkat penelitian, dan struktur disiplin ilmu pengetahuan yang
diajarkan, 2) memahami bagaimana siswa belajar dan berkembang, 3)
memahami bagaimana siswa memiliki pendekatan–pendekatan yang berbeda
dalam belajar, 4) memahami dan menggunakan beragam strategi
instruksional, 5) menggunakan pemahaman mengenai motivasi individu dan
kelompok, 6) menggunakan pengetahuan mengenai teknik verbal, teknik non
verbal, dan teknik media yang efektif, 7) merancanakan pengajaran
berdasarkan pada pengetahuan mengenai materi pelajaran, 8) memahami dan
menggunakan strategi-strategi penilaian formal dan informal, 9) Guru adalah
guru yang praktisi yang reflektif, 10) Guru mengembangkan hubunganya
dengan rekan kerja, orang tua, dan wakil orang tua.
Orientasi pendidikan lebih menekankan pada pemindahan informasi
yang dimiliki kepada peserta didik (bersifat kognitif), sehingga peserta didik
dapat lebih aktif dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang berkembang
dapat deskripsikan sebagai berikut: 1) Guru mendorong pertumbuhan dan
prestasi siswa. 2) Kontruktivisme dalam kelas, pembelajaran kontruktivisme
memfasilitasi dan mendorong peran aktif siswa. Pembelajaran yang
dimasudkan adalah pembelajaran yang menggunakan komunikaasi dua arah,
dan peran guru adalah sebagai fasilitator (Jacob 2009 :8-11).
B. Metode Pembelajaran Aktif (Active Learning)
1. Pengertian Pembelajaran Aktif (Active Learning)
Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk
mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik,
sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan
sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu
pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga
perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Menurut Hollingsworth (2008) pembelajaran aktif merupakan
pembelajaran yang terjadi ketika siswa belajar secara aktif, dan secara
terus menerus terlibat, baik secara mental ataupun secara fisik.
Pembelajaran aktif berguna untuk mengembangkan tujuan dari
pembelajaran dan untuk memperbaiki prilaku siswa dalam mengikuti
Menurut Zaini (2008) pembelajaran aktif adalah suatu
pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif.
Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti merek yang mendominasi
aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka aktif menggunakan otak baik
untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan
persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam
satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan pembelajaran
aktif ini peserta didik diajak untuk turut sertadalam semua proses
pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi melibatkan fisik. Dengan
cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih
menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.
Belajar aktif menuntut siswa untuk bersemangat, gesit,
menyenangkan, dan penuh gairah, bahkan siswa sering meninggalkan
tempat duduk untuk bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about and
thinking aloud). Selama proses belajar siswa dapat beraktivitas, bergerak
dan melakukan sesuatu dengan aktif, keaktifan siswa tidak hanya keaktifan
fisik tapi juga keaktifan mental.
Belajar aktif sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang
bermuara pada belajar mandiri, maka kegiatan belajar mengajar yang
dirancang harus mampu melibatkan siswa secara aktif. Siswa dan guru
dalam belajar aktif sama berperan untuk menciptakan suatu pengalaman
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik
berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984)
dalam Silberman (2006) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas
hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang
tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986) dalam Silberman (2006)
menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat
mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit
terakhir.
Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering
terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi
kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di
ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya
dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut
cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius:
Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya lihat, saya ingat Apa yang saya lakukan, saya paham
Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa
yang dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia.
Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi
dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik
Mel Silberman (2006) memodifikasi dan memperluas pernyataan
Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (Active
Learning), yaitu
Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai
Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa
kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah
satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara
kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan
apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200
kata per menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100
kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena
siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak
manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara
sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu
pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang
masuk ke dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia
menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat
diingat dengan baik. Selain itu sisi sosial pembelajaran juga harus
diperhatikan. Jika siswa belajar bersama teman-temannya, mereka
memperoleh dukungan emosi dan intelektual yang membawa mereka
melampaui level pengetahuan dan ketrampilan mereka sebelumnya lebih
banyak daripada belajar sendiri.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktif
adalah suatu metode belajar yang mana siswa tidak hanya sekedar
mendengarkan informasi yang disampaikan oleh guru, akan tetapi siswa
juga melihat apa yang dijelaskan oleh guru dan terakhir siswa melakukan
atau mencobakan langsung apa yang telah dipelajari untuk memperoleh
hasil belajar.
2. Dimensi-dimensi Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif akan lebih tampak dan menunjukkan kadar
yang tinggi apabila pembelajaran berorientasi pada siswa. Menurut Mc
Keachie dalam bukunya Dimyati (1994 : 110) ada 7 dimensi proses
pembelajaran yang mengkibatkan terjadinya kadar pembelajaran aktif,
yaitu (1) Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan
pembelajaran, (2) Tekanan pada aspek afektif dalam belajar, (3) Partisipasi
siswa dalam kegiatan pembelajaran, terutama berbentuk interaksi
antarsiswa, (4) Penerimaan guru terhadap perbuatan dan kontribusi siswa
yang kurang relevan atau bahkan sama sekali salah, (5) Kekompakan kelas
sebagai kelompok, (6) Kebebasan diberikan kepada siswa untuk
Jumlah waktu yang digunakan untuk menanggulangi masalah siswa baik
yang berhubugan maupun yang tidak berhubungan dengan pembelajaran.
3. Karakteristik Pembelajaran Aktif
Raka Joni dalam Dimyati (1994 : 111) mengungkapkan bahwa
sekolah yang melakukan pembelajaran aktif dengan baik harus
mempunyai karakteristik, yaitu pembelajaran berpusat pada siswa, guru
membimbing dalam terjadinya pengalaman belajar, tujuan kegiatan tidak
hanya sekedar mengejar standar akademis, pengelolaan kegiatan
pembelajaran, dan penilaian.
Pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa berperan lebih aktif
dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri, siswa berperan serta
pada perencanaan, pelaksanaan dan penilaian proses belajar, pengalaman
siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan. Guru
membimbing dalam terjadinya pengalaman belajar. Guru bukan
satusatunya sumber informasi, guru merupakan salah satunya sumber
belajar, yang memberikan peluang bagi siswa agar dapat memperoleh
pengetahuan atau ketrampilan sendiri melalui usaha sendiri, dapat
mengembangkan motivasi dari dalam dirinya, dan dapat mengembangkan
pengalaman untuk membuat suatukarya.
Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar
akademis. Selain pencapaian standar akademis, kegiatan ditekankan untuk
mengembangkan siswa secara utuh dan seimbang. Pengelolaan kegiatan
kemajuan siswa untuk menguasai konsep-konsep dengan mantap.
Penilaian dilakukan untuk mengukur dan mengamati kegiatan dan
kemajuan siswa, serta mengukur ketrampilan dan hasil belajar siswa.
4. Tipe Pembelajaran aktif (Active Learning)
Menurut Silberman (2009:118-244) ada beberapa tipe dalam pembelajaran
Active Learning, pembelajaran ini dapat membantu siswa mendapatkan
pengetahuan, ketrampilan, dan sikap secara aktif.
a) Kegiatan Belajar Dalam Satu Kelas Penuh
Strategi ini dirancang untuk memajukan pengajaran satu kelas secara
penuh. Kegiatan belajar ini menjadikan pengajaran yang dibimbing
oleh guru lebih interaktif karena strategi ini menyajikan informasi dan
gagasan yang melibatkan siswa secara penuh.
b) Menstimulus Diskusi Kelas
Seringkali, seorang guru berupaya menstimulasi diskusi kelas namun
dihadapkan pada kebungkaman yang tidak menyenangkan karena
siswa sendiri tidak tahu siapa yang berani berbicara duluan. Memulai
sebuah diskusi tidak jauh berbeda dengan memulai pengajaran yang
berbasis ceramah atau penyajian materi secara lisan. Membangkitkan
minat siswa merupakan hal yang penting untuk menstimulasi diskusi.
c) Pengajuan Pertanyaan
Seringkali, setelah ditanya guru siswa justru diam, sebagian guru
menganggap diamnya siswa menunjukan bahwa siswa tidak berminat
sudah jelas. Sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa siswa belum
siap mengajukan pertanyaan. Strategi-strategi pengajuan pertanyaan
akan lebih membuat siswa untuk lebih tertantang untuk membuat
pertanyaan karena mereka memiliki kesempatan untuk memahami
materi yang diajarkan.
d) Belajar Bersama
Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan belajar aktif adalah
dengan pemberian tugas belajar yang dilakukan dalam kelompok kecil
siswa. Dukungan sesama siswa dan keragaman pendapat,pengetahuan
serta ketrampilan mereka akan membantu menjadikan belajar bersama
sebagai bagian berharga dari iklim belajar di kelas. Belajar bersama
tidaklah selalu efektif boleh jadi terdapat partisipasi yang tidak
seimbang, komunikasi yang buruk, dan kebingungan bukanya belajar
yang sesungguhnya. Dalam strategi belajar bersama seperti pencarian
informasi, kelompok belajar, pemilahan kartu, turnamen belajar, dan
kuis tim merupakan strategi untuk memaksimalkan manfaat dari
belajar bersama dan meminimalkan kesenjangan.
e) Pengajaran Sesama
Sebagian pakar percaya bahwa sebuah mata pelajaran baru
benar-benar dikuasai ketika si pembelajar mampu mengajarkan kepada
orang lain. Pengajaran sesama siswa memberi siswa kesempatan
untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan, sekaligus, menjadi
f) Belajar Secara Mandiri
Belajar bersama dan belajar dalam satu kelas penuh bisa ditingkatkan
dengan aktivitas belajar mandiri. Ketika siswa belajar dengan caranya
sendiri, mereka mengembangkan kemampuan untuk untuk
memfokuskan diri dan merenung. Bekerja dengan cara mereka sendiri
juga memberi siswa kesempatan untuk memikul tanggung jawab
pribadi atas apa yang mereka pelajari.
g) Belajar Yang Efektif
Aktivitas belajar yang efektif membantu siswa mengenali perasaan,
nilai-nilai, dan sikap mereka. Belajar yang efektif dirancang untuk
menimbulkan kesadaran akan perasaan, nilai-nilai, dan sikap yang
menyertai banyak topik kelas. Dalam hal ini mendesak siswa untuk
mengenali keyakinan mereka dan bertanya pada diri sendiri apakah
mereka memiliki komitmen terhadap cara- cara baru dalam
mengerjakan segala hal.
h) Pengembangan Ketrampilan
Salah atau tujuan terpenting dari pendidikan jaman sekarang adalah
pemerolehan ketrampilan untuk kebutuhan pekerjaan modern.
Terdapat ketrampilan tehnis seperti menulis dan komputasi. Ada pula
ketrampilan non tehnis misalnya mendengarkan dengan penuh
perhatian dan berbicara dengan jelas. Ketika siswa berupaya
kemampuan yang ada, mereka perlu mempraktikannya secara efektif
dan mendapatkan umpan balik yang berguna.
5. Metode Pengajaran Sesama Siswa
Menurut Silberman (2009:178-193) ada beberapa tipe metode dalam
pengajaran sesama antara laian:
a) Pertukaran Kelompok Dengan Kelompok
Dalam metode ini, tugas-tugas berbeda diberikan kepada kelompok
siswa yang berbeda. Setiap kelompok “mengajarkan” kepada siswa
lain apa yang ia pelajari.
b) Belajar Ala Permainan Jigsaw
Belajar ala jigsaw (menyusun potongan gambar) merupakan teknik
yang paling banyak dipraktikkan. Teknik ini serupa dengan pertukaran
dengan kelompok-kelompok, namun ada satu perbedaan penting: yakni
tiap siswa mengajarkan sesuatu. Ini merupakan alternatif menarik bila
ada materi belajar yang yang bisa di sementasikan atau dibagi-bagi dan
bila bagian-bagiannya harus diajarkan secara berurutan. Tiap siswa
mempelajari sesuatu yang, bila digabungkan dengan materi yang
dipelajari oleh siswa lain, membentuk kumpulan pengetahuan atau
ketrampilan yang baru.
c) Setiap Siswa Bisa Menjadi Guru Di Sini
Metode ini merupakan strategi yang mudah untuk mendapatkan
memberi kesempatan kepada siswa untuk bertindak sebagai “guru”
bagi siswa lain.
d) Pemberian Pelajaran Antar siswa
Ini merupakan strategi untuk mendukung pengajaran sesama siswa di
dalam kelas. Strategi ini menempatkan seluruh tanggung jawab
pelajaran kepada seluruh anggota kelas.
e) Pemberitaan
Ini merupakan cara menarik untuk melibatkan siswa dan memancing
minat mereka terhadap topik pelajaraan sebelum mereka mengikuti
pelajaran. Pendekatan pengajaran sesama siswa ini juga akan
menghasilkan banyak materi dan informasi yang bia diceritakan antar
siswa.
f) Poster Session
Metode presentasi alternatif ini merupakan cara yang bagus untuk
memberi informasi kepada siswa secara cepat, memahami apa yang
mereka bayangkan, dan memerintahkan pertukaran gagasan antar
mereka. Tehnik ini juga merupakan cara baru dan jelas yang
memungkinkan siswa mengungkapkan persepsi dan perasaan mereka
tentang topik yang didiskusikan.
6. Active Learning Tipe Poster Session
Menurut Siberman (2009:192) Poster Session merupakan Metode
Active Learning dengan menggunakan presentasi alternatif. Presentasi
secara tepat, memahami apa yang mereka bayangkan, dan memerintahkan
pertukaran gagasan antar mereka. Dengan mengunakan presentasi
alternatif ini memungkinkan siswa mengungkapkan persepsi dan perasaan
mereka tentang topik yang didiskusikan.
Menurut Siberman (2009:192-193) prosedur dalam pelaksanaan
Active Learning Tipe Poster Session adalah sebagai berikut :
a) Siswa diperintahkan untuk memilih sebuah topik yang berkaitan
dengan topik pelajaran atau sub bahasan yang akan didiskusikan.
b) Siswa diminta untuk memajang konsep mereka di depan kelas.
Tampilan poster harus dengan sendirinya menunjukan isinya; yakni,
begitu melihatnya orang dengan mudah memahami gagasnya tanpa
perlu penjelasan lebih lanjut, baik lisan maupun tertulis. Namun
demikian, siswa juga boleh menyiapkan satu halaman penjelasan yang
berisi uraian lebih rinci dan sekaligus materi rujukan lebih lanjut.
c) Selama berlangungnya pelajaran yang ditentukan, perintahkan siswa
untuk menempelkan sajian materi visual mereka dan berkeliling
mengitari ruangan untuk mengamati dan mendiskusikan poster
masing-masing.
d) Lima belas menit sebelum berakhirnya pelajaran, perintahkan seluruh
siswa untuk kembali ke posisi semula dan mendiskusikan apa yang
menurut mereka baeharga pada kegiatan tersebut.
Metode ini juga dapat divariasikan dengan membagi siswa dalam bentuk
yang mereka buat, dan siswa lain mendengarkan dan diberi kesempataan
untuk bertanya.
C. Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang
pengertian motivasi. Menurut Uno (2007:3) motivasi berasal dari kata
motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang ada dalam diri
individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat.
Motif tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat
diinterprestasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan,
atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.
Menurut Hamalik (2001:158) motivasi adalah perubahan energi
dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan
dan reaksi untuk mencapai tujuan. Adanya tujuan yang jelas disadari
akan mempengaruhi kebutuhan dan akan mendorong timbulnya motivasi
dan dapat meningkatkan motivasi dalam diri.
Sedangkan Menurut Sardiman (2007:75) motivasi adalah
keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan
kegiatan belajar, yang menjamin dari kelangsungan kegiatan belajar
yang memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang
dikehendaki oleh subyek belajar dapat tercapai.
Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberi
motivasi yang tinggi mempunyai energi yang banyak untuk
melaksanakan kegiatan belajar. Bila motivasi disadari oleh siswa maka
suatu pekerjaan dalam hal ini tugas belajar akan dapat terselesaikan
dengan baik.
2. Motivasi Belajar
Dalam proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses
yang tejadi antara siswa dengan guru, antara yang belajar dengan yang
mengajarkan, atau antara pembelajar dengan yang memberi pelajaran.
Melalui proses pembelajaran akan berkembang secara sempurna atau
tercapai hasil yang optimal bila guru maupun siswa terlibat aktif dan
memiliki motivasi tinggi. Guru dan siswa sama-sama memiliki motivasi
dan kreatif dalam memecahkan masalah. Guru memiliki motivasi dan
kreatif dalam mengajar, siswa juga memiliki motivasi dan kreatif untuk
belajar terutama dalam hal memecahkan masalah
Dalam teori kebutuhan berprestasi, Mc Celland dalam Azzam
(2009) membedakan antara kebutuhan berprestasi, berafiliasi, dan
berkuasa untuk mengenali motivasi seseorang dalam kehidupan
sehari-hari.
a) Kebutuhan untuk berprestasi ( need for Achievment / nAch )
merupakan hasrat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan
lebih efisien dalam memecahkan masalah atau menguasai latihan
b) Kebutuhan untuk berafiliasi ( need for Affiliation / nAff )
merupakan hasrat untuk menciptakan dan mempertahankan
keramah-tamahan dan kehangatan hubungan antara yang satu
dengan yang lain.
c) Kebutuhan untuk berkuasa ( need for power / nPower ) merupakan
untuk menguasai orang lain, mempengaruhi prilaku orang lain, dan
bertanggung jawab terhadap orang lain.
Ketiga kebutuhan di atas kemunculannya dalam diri seseorang
sangat dipengaruhi oleh situasi yang bersifat spesifik dan tidak
bersamaan , disebabkan oleh kebutuhan setiap orang yang berbeda-beda
sesuai dengan latar belakang kemampuannya. Lebih lanjut dikatakan
oleh Mc Cellend dalam Azzam (2009) bahwa seseorang ( siswa )
mampu berprestasi jika mempunyai keinginan untuk melakukan suatu
prestasi yang lebih baik dari prestasi orang lain. Disamping itu siswa
yang motivasi berprestasinya tinggi mempunyai cirri-ciri sebagai
berikut :
a) Suka mengambil resiko yang sedang / moderat ( moderate risks ) di
dalam tingkah lakunya, sehingga masih ada kemungkinan untuk
berprestasi yang lebih tinggi. Hal ini berlawanan dengan kenyataan,
dimana untuk meraih prestasi tinggi, resikonya juga tinggi, atau
berani mengambil resiko kegagalan untuk meraih hasil yang lebih
b) Memerlukan umpan balik ( feed back ) dengan segera tentang
tingkah lakunya,
c) Keberhasilan dan keunggulan merupakan suatu yang memuaskan,
d) Menyatu dengan tugas demi tercapainya tujuan,
e) Mengambil tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya terbuka
dan positif,
f) Suka berkompetisi memakai standar kemampuan pribadi, selalu
berusaha keras,
g) Berusaha melakukan sesuatu secara kreatif,
h) Peka terhadap masalah dan mengatasinya secara unik,
i) Pikiran masa depan lebih mendominasi,
j) Suka terlibat dalam pembicaraan penting terutama masalah yang
pelik.
Berdasarkan uraian di atas, khususnya teori kebutuhan untuk
berprestasi dari Mc Callend, yang dimaksud dengan motivasi belajar
siswa adalah kecenderungan siswa dalam melakukan kegiatan belajar
yang didorong oleh hasrat untuk mencapi prestasi atau hasi belajar
secara sebaik mungkin.
3. Fungsi Motivasi
Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi
para siswa. Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi
a) Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa
motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.
b) Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan
perbuatan ketercapaian tujuan yang diinginkan.
c) Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin
bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau
lambatnya suatu pekerjaan.
Di samping itu, motivasi juga berfungsi sebagai pendorong usaha
dalam pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena
adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan
menunjukkan hasil yang baik. Dengan adanya usaha yang tekun dan
terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan
dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa
akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
Sedangkan menurut Uno (2007:27-28) motivasi pada dasarnya dapat
membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu,
termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa fungsi
dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran yaitu :
a) Motivasi dapat Menentukan Penguatan Belajar
Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila
seseorang anak yang dihadapkan pada suatu masalah yang
memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat
b) Motivasi dapat memperjelas tujuan belajar
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitanya
dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik belajar sesuatu
jika yang dipelajari dapat diketahui dan nikmati manfaatnya bagi
anak. Sebagai contoh, anak akan termotivasi belajar ekonomi
karena tujuan belajar ekonomi dapat melahirkan kemampuan
dalam bidang penjualan (marketing).
c) Motivasi Menentukan Ketekunan Belajar
Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan
berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan
harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak
bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun
belajar. Sebaliknya, apabila seseorang kurang atau tidak
memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak tahan lama
belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan
bukan belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap
ketahanan dan ketekunan belajar.
4. Jenis-Jenis motivasi
a) Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif motif yang
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar,
karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk
yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau
mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya.
Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukanya
maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin
mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu
sendiri.
b) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi
karena adanya perangsang dari luar (Sardiman:90-91).Sebagai
contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ada
ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji
pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting bukan kerena belajar
ingin mengetahui sesuatu, tetapi karena ingin mendapatkan nilai
yang baik, atau agar mendapatkan hadiah. Jadi jika dilihat dari segi
tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bargayut
dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi
ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di
dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan
dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan
aktivitas belajar.
5. Cara Menggerakan Motivasi Belajar Siswa
Guru dapat menggunakan berbagai cara untuk menggerakan atau
(2001;166-168) ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menggerakan motivasi belajar siswa antara lain :
a) Memberi angka
Umumnya setiap siswa ingin mengetahui hasil pekerjaanya, yakni
berupa angka yang diberikan oleh guru. Murid yang mendapat angka
yang baik, akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar,
sebaliknya murid yang mendapatkan angka kurang, mungkin
menimbulkan frustasi atau dapat juga menjadi pendorong agar
belajar lebih baik.
b) Pujian
Pemberian pujian kepada murid atas hal-hal yang telah dilakukan
dengan berhasil besar manfaatnya sebagai pendorong belajar. Pujian
menimbulkan rasa puas dan senang.
c) Hadiah
Cara ini dapat dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu,
misalnya pemberian hadiah pada akhir tahun kepada siswa yang
mendapat atau menunjukkan hasil belajar yang baik.
d) Kerja kelompok
Dalam kerja kelompok dimana melakukan kerjasama dalam belajar,
setiap anggota kelompok, kadang-kadang perasaan untuk
mempertahankan nama baik kelompok menjadi pendorong yang kuat
e) Persaingan
Baik kerja kelompok atau persaingan memberikan motif-motif sosial
kepada murid. Hanya saja persaingan individual akan menimbulkan
pengaruh yang tidak baik, seperti : rusaknya hubungan persahabatan,
perkelahian, pertentangan, persaingan antar kelompok belajar.
f) Penilaian
Penilaian secara kontinu akan mendorong murid-murid belajar, oleh
karena setiap anak memiliki kecenderungan untuk memperoleh hasil
yang baik. Disamping itu, para siswa selalu mendapat tantangan dan
masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan, sehingga mendorong
seksama.
g) Belajar melalui media
Pembelajaran dengan menggunakan media dapat meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar, karena dengan menggunakan media
dapat menarik /menangkap perhatian siswa dalam belajar di kelas
dan dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi yang
disampaikan, misalnya media poster, pembelajaran menggunakan
poster dapat meningkatkan motivasi baik secara individu maupun
kelompok. Karena pembelajaran dengan menggunakan poster dapat
dilakukan secara kelompok maupun individu di kelas, sehingga
lewat presentasi poster yang di buat, dapat memotivasi dan
mengajak siswa untuk lebih aktif, kreatif dalam menyumbangkan
dan siswa dapat dengan mudah memahami materi yang di sampaikan
lewat media poster.
6. Unsur-Unsur Dinamis Dalam belajar
Menurut Imron (1996:29-39) yang dimaksud dengan unsur-unsur
dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang dapat berubah dalam
proses belajar. Perubahan unsur-unsur tersebut berupa : dari tidak ada
menjadi ada atau sebaliknya, dari lemah menjadi kuat dan sebaliknya,
dan dari sedikit menjadi banyak dan sebaliknya. Unsur-unsur tersebut
dapat berupa :
a) Motivasi dan upaya memotivasi siswa dalam belajar
Beberapa upaya yang dapat ditempuh untuk memotivasi siswa agar
belajar antara lain 1) mengenalkan siswa pada kemampuan yang ada
pada dirinya sendiri. Dengan mengenal kemampuan dirinya, siswa
akan tahu kelebihan dan kekurangannya, dengan mengetahui
kelebihan dirinya, ia akan mengukuhkan dan memperkuat kelebihan
tersebut, dan dengan mengetahui kekurangan yang ada pada dirinya,
siswa akan berusaha menyempurnakannya melalui aktivitas belajar.
Dari sini siswa akan timbul motivasi untuk belajar. 2) mengenalkan
siswa dengan hal-hal yang baru. Sebab, hal-hal yang baru ini dapat ”
hasrat/rasa ingin tahu siswa”. Adanya rasa ingin tahu yang demikian
besar, menimbulkan gairah bagi siswa untuk beraktivitas belajar. 3)
Membuat variasi-variasi dalam kegiatan belajar mengajar, supaya
termasuk dalam aktivitas belajar hanya akan memperlema motivasi
saja.
b) Bahan belajar
Bahan belajar sangat penting bagi siswa yang melakukan aktivitas
belajar. Penyediaan bahan belajar ini sangat bergantung kepada
tujuan belajar, karakteristik siswa, siasat belajar yang harus
ditempuh oleh siswa dan faktor ketersediaanya–tidaknya bahan
belajar.
c) Alat bantu belajar
Alat bantu belajar termasuk salah satu unsur dinamis dalam belajar.
Kedudukanya juga penting, oleh karena dapat membantu terhadap
belajar siswa. Dengan alat bantu, bahan ajar yang abstrak bisa
dikongkritkan, dengan alat bantu bahan belajar yang tidak menarik
bisa menjadi menarik, dengan alat bantu, bahan-bahan belajar yang
meragukan dapat diyakinkan karena dapat dibuktikan secara
empirik.
Alat bantu yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran seperti
poster, OHP, video, tape recorder dan lain-lain.
7. Prinsip Motivasi Belajar
Menurut Safi’i (2009) Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku
yang mantab serta diakibatkan oleh pengalaman. Belajar adalah suatu
perilaku perubahan pengalaman, serta dianggap sebagai faktor-faktor
penyebab dasar dalam belajar.
Menurut Safi’i (2009) Prinsip-prinsip motivasi belajar adalah sebagai
berikut:
a) Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar.
b) Motivasi intrinsik lebih utama dari pada motivasi ekstrinsik dalam
belajar.
c) Motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman.
d) Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar.
e) Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar.
f) Motivasi melahirkan prestasi dalam belajar.
Menurut Surya (2004:65-67) ada beberapa prinsip-prinsip motivasi
antara lain :
a) Prinsip Kompetisi
Yang diimaksud dengan prinsip kompetisi adalah persaingan secara
sehat, baik intr maupun antar pribadi. Kompetisi inter pribadi atau
self competition adalah kompetisi dalam diri pribadi masing-masing
dari tindakan atau unjuk kerja dalam dimensi tempat dan waktu.
Kompetisi antar pribadi adalah persaingan antar individu yang satu
dengan yang lain. Dengan persaingan secara sehat, dapat
ditimbulkan motivasi untuk bertindak secara sehat dan akan timbul
motivasi untuk bertindak secara lebih baik. Salah satu bentuk
Kompetisi ini juga dapat dilakukan antar sekolah untuk mendorong
siswa malakukan berbagai upaya unjuk kerja yang baik.
b) Prinsip Pemacu
Dorongan untuk melakukan berbagai tindakan akan terjadi apabila
ada pemacu tertentu. Pemacu ini dapat berupa pembelajaran yang
digunakan guru dikelas, media yang digunakan. Pembelajaran yang
digunakan guru mempengaruhi motivasi siswa dalam mengikuti
pembelajaran, misalnya dalam pembelajaran mengaktifkan siswa
aktif untuk mengikuti kegiatan belajar, dengan begitu siswa akan
aktif dalam kegiatan belajar.
c) Prinsip ganjaran dan hukuman
Ganjaran yang diterima oleh seseorang dapat meningkatkan motivasi
untuk melakukan tindakan yang menimbulkan ganjaran itu. Setiap
unjuk kerja yang baik apabila diberikan ganjaran yang memadai,
cenderung akan meningkatkan motivasi. Misalnya pemberian hadiah
kepada siswa yang berprestasi. Demikian pula hukuman yang
diberikan dapat menimbulkan motivasi untuk tidak lagi melakukan
tindakan yang menyebabkan hukuman itu. Hal yang harus diingat
adalah agar ganjaran dan hukuman itu dapat diterapkan secara
proposional dan benar-benar dapat memberikan motivasi.
d) Kejelasan dan kedekatan tujuan
Makin jelas dan makin dekat suatu tujuan, maka akan makin
dengan prinsip ini, maka seyogyanya setiap siswa mamahami tujuan
belajarnya secara jelas. Hal itu dapat dilakukan dengan memberi
penjelasan suatu tujuan dari tindakan yang diharapkan. Cara lain
adalah dengan membuat tujuan-tujuan yang masih umum dan jauh
menjadi yang khusus dan lebih dekat.
D. Partisipasi
1. Pengertian Partisipasi
Menurut Mulyasa (2004:156) Partisipasi siswa dalam pembelajaran
sering juga diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Partisipasi siswa merupakan wujud tingkah laku siswa secara
nyata dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan totalitas dari suatu
keterlibatan mental dan emosional siswa sehingga mendorong mereka
untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab terhadap
pencapaian suatu tujuan yaitu tercapainya prestasi belajar yang
memuaskan.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi
Menurut Sudjana (1996) partisipasi siswa di dalam pembelajaran
merupakan salah satu bentuk keterlibatan mental dan emosional.
Partisipasi merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang ditentukan
oleh lima faktor, antara lain:
a) Pengetahuan/kognitif, barupa Pengetahuan tentang tema, fakta,
b) Kondisi situasional, seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial,
psikososial dan faktor-faktor sosial.
c) Kebiasaan sosial, seperti kebiasaan menetap dan lingkungan.
d) Kebutuhan, meliputi kebutuhan Approach (mendekatkan diri),
meliputi pandangan/perasaan, kesediaan bereaksi, interaksi sosial,
minat dan perhatian.
e) Kegiatan pembelajaran yang digunakan oleh guru.
f) Media yang digunakan dalam kegiatan belajar di kelas, misalnya tape
recorder, video, poster dan lain-lain. Ini dapat memperbesar perhatian
siswa dan keikutsertaan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di
kelas sehingga dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam mengikuti
pembelajaran di kelas
E. Prestasi
1. Pengertian Prestasi
Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan
siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya
seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya
untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar
mengajar berlangsung.
Adapaun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya
aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang
beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu
belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang
terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi
apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.
Menurut Ridwan (2009) prestasi belajar merupakan hal yang tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar
merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses
belajar. Prestasi tidak dapat dilepaskan dengan proses belajar. Sedangkan
Suryabrata (2001:232) prestasi merupakan kecakapan nyata yang dapat
diukur dan belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang baru
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Prestasi belajar dapat dikatakan sebagai hasil kecakapan
yang baru dari proses belajar seseorang yang mempunyai prestasi yang
baik dalam belajarnya, berarti ia mendapatkan hasil kecakapan yang baru
dari apa yang dipelajarinya.
Belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam
menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh
dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan
tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang
dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah
mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat
diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat
Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud dengan prestasi belajar
adalah hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan. Nilai merupakan
perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru mengenai kemajuan
atau prestasi belajar siswa selama masa tertentu (Suryabrata, 2001:296).
Untuk mengetahui prestasi belajar siswa bisa dilihat pada nilai-nilai yang
tertera dalam raport. Siswa yang nilai raportnya tinggi dikatakan
mempunyai prestasi belajar tinggi, sebaliknya siswa yang nilai raportnya
rendah dikatakan mempunyai prestasi belajar rendah. Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan tentang prestasi belajar sebagai berikut
:
a) Prestasi belajar merupakan hasil proses belajar.
b) Prestasi belajar merupakan kemampuan nyata yang dapat diukur dan
dinilai meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
c) Prestasi belajar dapat diketahui melalui raport dalam bentuk nilai
atau angka raport.
d)
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi
Menurut Ridwan (2009) untuk mencapai prestasi belajar siswa maka
perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
antara lain;
a) Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu
1) Intelegensi
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.
Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya
intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai
dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya
perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang
berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga
seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat
kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan
sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi
merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar
mengajar.
2) Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang
sebagai kecakapan pembawaan. Tumbuhnya keahlian tertentu
pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya
sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya
prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses
belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan
penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik.
melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan
merusak keinginan anak tersebut.
3) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan
dan mengenai beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya
terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik
minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat
menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang
siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan
dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat
belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang
mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan
terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang
diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
4) Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal
tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa
untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam
belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat
ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar
sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk
Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha
dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan
perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya
dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan
mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi
kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan
kehendak sendiri dan belajar secara aktif.
b) Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu :
1) Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat
tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Adanya rasa aman
dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang
dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan
terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman
merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang
menambah motivasi untuk belajar. Adanya rasa aman dalam
keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam
belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk
belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu
kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk
2) Media yang digunakan dalam pembelajaran
Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan sebuah pesan pengirim ke
penerima mempengaruhi terhadap daya nalar seseorang untuk
menuangkan ide /gagasan dalam sebuah tulisan. Misalnya poster,
poster dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran,
dengan poster siswa dapat menuangkan ide seputar materi
pelajaran sehingga dapat lebih mudah memahami materi
pelajaran dengan cara meraka sendiri dan dapat memberikan
informasi juga kepada orang lain sehingga orang lain juga mudah
untuk memahami materi pelajaran yang disampaikan, kerena
belajar dengan media gambar/poster dan mengajarkan ke orang
lain ( sesama siswa) akan mudah dipahami, sehingga dengan
begitu dapat meningkatkan prestasi siswa dalam belajar.
3) Keadaan sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang
sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa,
karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk
belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara
penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat
pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa
4) Lingkungan Masyarakat
Llingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses
pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat
besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab
dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul
dengan lingkungan dimana anak itu berada.
Lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam
pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan
dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena
itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan
temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal
tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan
turut belajar sebagaimana temannya.
3. Fungsi Dan Kegunaan Prestasi Belajar
Sepanjang rentang kehidupannya, manusia selalu mengejar suatu
prestasi atau hasil usaha menurut aktivitas yang dilakukan dan sesuai
dengan tingkat kemampuan masing-masing yang akan memberikan
kepuasan tertentu pada diri manusia khususnya yang berada di
lingkungan sekolah. Adapun fungsi dari prestasi belajar (Arifin, 1990:
3) yaitu:
a) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas
b) Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.
c) Prestasi belajar sebagai informasi dalam inovasi pendidikan.
d) Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu
institusi pendidikan.
e) Prest