• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Pengertian Hasil Belajar

Menurut Sudjana (2000 : 67) Pengertian hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia melaksanakan pengalaman belajarnya”. Pengertian tersebut dapat dikaji bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang, tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir dan perilaku kerja yang lebih baik.

Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran. “Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak mengajar atau belajar” (Dimyati dan Moedjiono, 1992 : 40). Hasil belajar dapat berupa pengetahuan (kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan belajar, atau hasil belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam waktu tertentu. Di dalam proses belajar siswa mengerjakan hal-hal yang akan dipelajari sesuai dengan tujuan dan maksud belajar. “Hasil belajar akan dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan sikap dan nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi.

Menurut Ausubel (1963:55) mengemukakan bahwa belajar dapat dikatakan menjadi bermakna jika informasi atau materi yang akan dipelajari disusun sesuai dengan stuktur kognitif yang dimiliki anak, kebermaknaan suatu pembelajaran dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu :

a) Struktur kognitif yang ada b) Stabilias

(2)

c) Kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.

Teori belajar behaviorisme atau koneksionisme yaitu suatu teori yang menafsirkan perilaku manusia sebagai hubungan antara perangsang (stimulus) dan jawaban (respons) atau hubungan R-S. Suatu tindakan atau perilaku peserta didik merupakan respon terhadap suatu perangsang yang diberikan. Sebagai perangsang dapat berupa bahasa lisan atau tulisan, gambar dan bermacam-macam alat peraga. Salah satu contoh perilaku aplikasi teori ini yaitu pengajaran berprograma yang dipelajari oleh B.F. Skinner. Konsep ini menekankan pada respon para siswa secara perorangan (individual learning). (Rochman Natawidjaja, 1979:3)

Sementara itu Dahar (1996 : 55) mengemukakan dua prasyarat terjadinya belajar bermakna yaitu :

a) Materi pelajaran yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial b) Anak yang akan belajar harus bertujuan belajar bermakna.

Menurut Piaget (1963 ) bahwa proses belajar pada manusia melibatkan proses pengenalan yang bersifat kognitif. Oleh karena itu faktor perkembangan kognitif individu menjadi pertimbangan utama berlangsungnya proses belajar (pendidikan). Karena aliran ini meyakini adanya tahab – tahab perkembangan kognitif individu yang sesuai dengan usianya.

Tahap perkembangan kognitif menurut J. Piaget (1963) adalah : a) Tahap Sensori Motor (usia 0-2 tahun)

Pada tahap ini ditandai oleh penggunaan sensor motorik (dalam pengamatan dan pengindraan) yang intensif terhadap dunia disekitarnya.

b) Tahap Pra Operasional (usia 2-7 tahun)

Pada tahap ini anak mulai memanipulasi simbul dari benda – benda disekitarnya. Anak sudah siap untuk belajar bahasa, membaca,d an menyanyi.

c) Tahap Operasional Konkret (usia 7-11 tahun)

Pada tahapan ini ditandai dengan tiga kemampuan dan kecakapan baru yaitu mengkonservasi pengetahuan tertentu dan kemampuan dalam proses berfikir mengoperasikan kaidah – kaidah logika meskipun masih terkait dengan hal – hal yang bersifat konkret.

(3)

Berdasarkan pendapat-pendapat mengenai batasan-batasan pengertian belajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar pada dasarnya pengalaman yang sama dan berulang-ulang dalam situasi tertentu serta berkaitan dengan perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubahan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan dan pemahaman.

2.1.2 Ciri-ciri Hasil Belajar

Menurut A.A. Gede Agung (1997:78), belajar ditandai dengan ciri-ciri yaitu : “(1) disengaja dan bertujuan, (2) tahan lama, (3) bukan karena kebetulan, dan (4) bukan karena kematangan dan pertumbuhan”. Dengan pengalaman yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran, maka akan terjadi perubahan, baik perubahan pada aspek kognitif, aspek afektif maupun aspek psikomotor. Perubahan ketiga aspek tersebut di atas merupakan ciri-ciri hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat A.A. Gede Agung ( 1997 : 78) yang mengatakan bahwa: Ciri-ciri hasil belajar mengandung tiga hal, yaitu: kognitif, afektif, psikomotor. Hasil belajar kognitif merupakan kemajuan intelektual yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar dengan ciri-ciri sebagai berikut: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Hasil belajar afektif adalah perubahan sikap atau kecendrungan yang dialami siswa sebagai hasil belajar sebagai berikut: adanya penerimaan atau perhatian adanya respon atau tanggapan dan penghargaan. Hasil belajar psikomotor merupakan perubahan tingkah laku atau keterampilan yang dialami siswa dengan ciri-ciri: keberanian menampilkan minat dan kebutuhannya, keberanian berpartisifasi di dalam kegiatan penampilan sebagai usaha/ kreatifitas dan kebebasan melakukan hal di atas tanpa tekanan guru atau orang lain. Berdasarkan cici-ciri hasil belajar di atas maka tugas guru selain mengajar juga mendidik dan melatih siswa agar menjadi siswa yang cerdas, bersikap baik dan memiliki keterampilan-keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

(4)

2.1.3 Pembelajaran Matematika

Matematika adalah ilmu tentang bilangan – bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaikan masalah mengenai bilangan ( Kamus Besar Bahasa indonesia, 2001 : 723 ). Keberhasilan siswa untuk belajar matematika, akan terwujud apabila dibantu atau dibimbig oleh guru. Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas jika dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain. Matematika berkenaan dengan ide – ide atau konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya bersifat deduktif. Ini berarti mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar masa lampau. Dengan demikian belajar matematika yang terputus – putus akan mengganggu terjadinya proses belajar atematika. Pembelajaran matematika adalah usaha sadar guru untuk membantu siswa atu anak didik, agar mereka dapat belajar matematika sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.

James dan James, ( 1976:34) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak terbagi kedalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri. Kline, (1973:21) bahwa matematika bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi karena adanya metematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam secara nyata. Jadi dapat disimpulkan melalui pembelajaran matematika diharapkan dapat menjadikan wawasan bagi siswa untuk menambah pengetahuan abstrak dan deduktif, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.4 Tinjauan tentang Konsep Penjumlahan Bilangan

Menurut Moore dalam Silvester Petrus Taneo, dkk (2009 : 3.118) bahwa

konsep adalah sesuatu yang tersimpan dalam pikiran-suatu pemikiran, suatu ide. Pendapat Mukhtar A. Karim dkk, (1996 : 99 - 102) bahwa Bilangan cacah didefinisikan

(5)

suatu himpunan. Sedangkan operasi penjumlahan bilangan cacah pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai hasil penjumlahan berulang bilangan-bilangan cacah.

Dalam konteks ini, pemahaman konsep penjumplahan bilangan cacah dapat disimpulkan sebagai proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan suatu gagasan tentang penjumlahan berulang bilangan-bilangan cacah dalam hal ini dikenal dengan penjumplahan.

Pada siswa SD khususnya kelas II SD, penanaman konsep penjumlahan bilangan cacah perlu dilakukan dengan memberikan pengalaman dengan benda-benda konkrit yang sebanyak-banyaknya kepada para siswa. Aktivitas-aktivitas yang menggunakan benda-benda konkrit sebagai sarana belajar, hendaknya mencirikan segala aktivitas pembelajaran untuk menanamkan suatu konsep kepada siswa.

2.1.5 Pengertian Media Realia

Media realia disebut juga sebagai benda nyata atau menurut Sudjana (2005:196) media realia adalah media benda-benda nyata atau makhluk hidup (real life materials). Menurut Rusman (2005: 2) media realia yaitu semua media nyata yang ada di lingkungan alam, baik digunakan dalam keadaan hidup maupun yang sudah diawetkan. Misalnya tumbuhan, batuan, binatang, insectarium, benda-benda, air, sawah, makanan dan sebagainya. Wibawa (1992:55) menyebutkan bahwa media realia adalah benda-benda nyata seperti apa adanya atau aslinya tanpa perubahan.

Begitu pula dengan Syaodih (2001:108) menyebutkan bahwa media realia merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang, binatang, tumbuhan, benda-benda, peristiwa dan sebagainya yang diamati oleh siswa. Pengertian tentang media realia juga diungkapkan oleh Pujita (2006: 15) : realia adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan belajar. Pemanfaatan media realia tidak harus selalu dihadirkan didalam ruang kelas, tetapi dapat digunakan sebagai suatu kegiatan observasi pada lingkungannya. Realia dapat digunakan dalam kegiatan belajar dalam bentuk sebagaimana adanya tidak perlu dimodifikasi, tidak ada pengubahan kecuali dipiindahkan dari kondisi lingkungan hidup aslinya. Pendapat lain yang mengemukakan tentang media realia adalah Udin S.W (Patty, 2007: 22)

Media realia adalah alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Media ini merupakan objek

(6)

nyata suatu benda. Seperti mata uang, tumbuhan, hewan, bebatuan, air, tanah, benda-benda dan lain sebagainya. Menggunakan benda-benda nyata dalam proses pembelajaran merupakan hal yang sangat dianjurkan, sebab siswa lebih memahami materi yang diajarkan. Penggunaan benda atau objek nyata ini bisa dilakukan melalui kegitan disekolah.

Menurut Pujita (2008: 15) : media realia dapat digunakan dalam kegiatan belajar dalam bentuk sebagaimana adanya tidak perlu dimodifikasi dan tidak ada pengubahan kecuali dipindahkan dari kondisi lingkungan hidup aslinya. Masih dalam Pujita (2008: 16), Brown, et. al mengungkapkan bahwa ciri media realia adalah benda asli yang masih berada dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yang sebenamya dan dapat dikenali sebagaimana wujud aslinya

Dari beberapa pengertian media realia diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa media realia itu adalah :

a. Media nyata atau objek nyata yang dapat dilihat, diraba, dipegang dan dimanipulasi.

b. Media realia adalah media yang tidak mengalami perubahan atau asli dan bukan berupa tiruan atau model dari benda nyata.

c. Media realia tersebut dapat berupa orang, mata uang, tumbuhan, hewan, bebatuan, air, tanah, benda-benda dan makanan.

Langkah – langkah Penggunaan Media Realia

Dalam sejarah ,media dan teknologi memiliki pengaruh terhadap pendidikan .ContohnyaKomputer dan internet telah mempengaruhi proses pembelajaran sampai saat ini .Aturan – aturan dari pendidik dan pembelajar telah berubah karena dipengaruhi media dan teknologi yang digunakan dalam kelas .Perubahan ini sangat esensial ,karena sebagai penuntun dalam proses pembelajaran ,pendidik(guru)berhak menguji media dan teknologi dalam kontek belajar dan itu berdampak pada hasil belajar siswa.Learning Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan,ketrampilan,atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu.menyangkut fasilitas fisik ,psikologis,metode pembelajaran ,media dan teknologi .Belajar adalah proses yang dilakukan spanjang waktu oleh individu manapun.Dengan demikian belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi ,pengaturan,dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut.

(7)

2.1.6 Jenis-jenis Media Realia

Sebelum kita melihat jenis-jenis media realia, ada baiknya kita melihat jenisjenis media secara umum terlebih dahulu. menurut Heinich (Pujita, 2006: 4) membagi media berdasarkan cara penyampaian dan penerimaannya menjadi 3 jenis yaitu : media audio, media visual dan media audio visual.

a. Media audio seperti : radio dan tape recorder. b. Media visual seperti :

1) M

edia grafis/ bahan cetakan/ suplementary materials (papan tulis, gambar, sketsa, kartun, poster, papan flanel/ flannel board dan papan buletin/ bulletin board)

2) Objek Fisik seperti : realia 3) Model

c. Media audio visual seperti : televisi dan film

Wibawa (1992 : 41) mengungkapkan jenis-jenis media berdasarkan kesamaan karakteristik dan kekhususannya yaitu :

a. Media audio seperti : radio, tape recorder dan pita audio

b. Media visual seperti : foto, ilustrasi, flashcard, gambar, bingkai film, transparansi, proyektor, diagram, poster, bagan, grafik, gambar kartun, peta dan globe.

c. Media audio visual seperti : televisi, film dan video

d. Media serbaneka seperti : papan tulis (chalkboard, papan flanel/ flannel board, papan buletin/ bulletin board, papan magnetik/ magnetic board dan papan listrik/ electric board), media tiga dimensi (model, realia, karya wisata dan kemah)

Kedua penjelasan tentang jenis-jenis media secara umum di atas, maka dapat di lihat bahwa media realia termasuk ke dalam jenis media visual dan media serbaneka. Mengacu kepada pendapat Rusman (2005: 2) media realia yaitu semua media nyata yang ada dilingkungan alam, baik digunakan dalam keadaan hidup maupun yang sudah diawetkan. Misalnya tumbuhan, batuan, binatang, insectarium, benda-benda, air, sawah, makanan dan sebagainya. Kemudian pendapat dari Syaodih (2001: 108) menyebutkan bahwa media realia merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang,

(8)

binatang, tumbuhan, benda-benda, peristiwa dan sebagainya yang diamati oleh siswa. Hal lain yang dikemukakan Hamalik (1989: 133) bahwa media realia yaitu benda atau objek yang dapat digunakan untuk membantu pengajaran seperti bunga, batu, koran, dan sebagainya yang mungkin dibawa oleh siswa atau dibawa oleh guru. Dari beberapa penjelasan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bawa jenis-jenis media realia yaitu :

a. Benda-benda hidup seperti : orang, binatang dan tumbuhan.

b. Benda-benda mati seperti : meja, kursi, piring, gelas, buku, majalah, koran, lemari, figura foto, karpet, uang kertas, uang koin, bebatuan dan makanan.

2.1.7 Keunggulan Media Realia

Penggunaan media membawa dampak positif bagi kegiatan belajar mengajar di kelas. Rusman (2005: 3) mengungkapkan secara umum media memiliki kegunaan yaitu :

Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis, mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indera, menimbulkan gairah belajar. Interaksi langsung antara murid dengan sumber belajar, memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetisnya, memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.

Sedangkan secara lebih khusus, keunggulan media realia diungkapkan oleh Pujita (2006 : 18), media realia mempunyai keunggulan yaitu :

a. Mudah didapat, pada umumnya media realia dapat ditemui karena merupakan benda nyata yang ada di sekitar lingkungan .

b. Memberikan informasi yang jelas dan akurat, mengingat benda realia merupakan benda yang nyata, maka penjelasan atau informasi yang berkaitan dengan benda tersebut menjadi jelas dan lebih akurat.

Hal sama yang tampak dikemukakan oleh Ibrahim dan Syaodih (2003:119) tentang beberapa keunggulan dalam penggunaan media realia yaitu :

a. Dapat memberikan kesempatan semaksimal mungkin pada anak untuk mempelajari sesuatu ataupun melaksanakan tugas-tugas dalam situasi nyata.

b. Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami sendiri situasi yang sesungguhnya.

c. Melatih keterampilan anak dengan menggunakan sebanyak mungkin alat indera. Terkait dengan pendapat di atas Wibawa (1992: 55) menyebutkan kegunaan media

(9)

realia dalam kegiatan belajar mengajar di kelas adalah : “Bahwa dengan memanfaatkan media realia dalam proses belajar siswa akan lebih aktif dapat mengamati, menangani (menghandle), memanipulasi, mendiskusikan dan akhirnya dapat menjadi alat untuk meningkatkan kemauan siswa untuk menggunakan sumbersumber belajar serupa”.

James W. Brown, dkk (1977:269) dalam buku Technology, Media and Methods mengatakan tentang manfaat penggunaan media realia :

There are many advantages in using real things in instruction, not the least of which is that students become familiar with object studied and become aware that these objects are part of their environment and relate to their problem and activities. As with other resources, however, these real thing have instructional value only as students theme selves become involved in using them learn.

Sesuai dengan pendapat James W. Brown, et.al di atas bahwa ada banyak keuntungan pada saat menggunakan barang riil di antaranya adalah siswa menjadi terbiasa dengan obyek yang dipelajari dan sadar terhadap obyek tersebut yang menjadi bagian dari lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain benda-benda riil dapat memberikan pengaruh yang baik bagi siswa ketika membangun pengalamannya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas tentang keunggulan media realia dapat ditarik kesimpulan yaitu :

a. Media realia dapat menumbuhkan interaksi langsung antara anak dengan benda-bendanya tersebut.

b. Media realia dapat membantu proses belajar anak menjadi lebih aktif pada saat mengamati, menangani (menghandle) dan memanipulasi.

c. Media realia dapat menanamkan konsep dasar yang bersifat abstrak menjadi benar, konkret, dan realistis.

d. Media realia lebih membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar. 2.1.8 Kelemahan Media Realia

Penggunaan media realia dalam proses pembelajaran merupakan cara yang cukup efektif apabila dilihat dari beberapa keunggulan media realia tersebut. Namun, menurut Pujita (2006: 20), media realia mempunyai beberapa kelemahan yaitu :

a. Ukuran. Kendala utama dalam menghadirkan media realia dalam ruang kelas adalah ukuran yang terlalu besar. Apabila kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam ruang kelas, media realia berukuran besar sulit untuk dibawa ke ruang kelas.

(10)

b. Benda nyata yang berharga mahal. Benda-benda nyata yang harganya mahal tentunya sulit untuk digunakan sebagai media realia. Hal ini karena biaya yang tidak mudah untuk dianggarkan, misalnya batu-batu berharga.

Selain Dhieni, Ibrahim dan Syaodih (2003:119) mengungkapkan beberapa kelemahan dalam penggunaan media realia yaitu :

a. Membawa anak-anak ke berbagai tempat di luar sekolah kadang-kadang mengandung resiko dalam bentuk kecelakaan dan sebagainya.

b. Biaya yang diperlukan untuk mengadakan berbagai objek nyata kadang- kadang tidak sedikit, apalagi ditambah dengan kemungkinan kerusakan dalam menggunakannya.

Tidak selalu dapat memberikan semua gambaran dari objek yang sebenarnya, seperti pembesaran, pemotongan dan gambar bagian demi bagian, sehingga pengajaran harus didukung pula dengan media lain.

Beberapa kelemahan media realia yang telah diungkapkan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media realia mempunyai kelemahan dari segi :

a. Ukuran benda tersebut, ada sebagian media realia yang bentuknya terlalu besar untuk anak atau sebaliknya terlalu kecil untuk anak. Sehingga membuat anak kurang memahami makna yang diberikan media tersebut.

b. Harga media realia yang mahal

c. Pemeliharaan media realia yang harus diperhatikan.

2.1.9 Kriteria Media Realia yang digunakan dalam pembelajaran

Beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Masing-masing media tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan, namun dalam kegiatan belajar mengajar di kelas guru dapat menggabungkan beberapa media dengan tujuan agar penggunaan media dapat saling melengkapi satu sama lain dan dapat menutupi kelemahan-kelemahan salah satu media. Oleh sebab itu, hendaknya perhatikan kriteria media yang akan digunakan di kelas.

Sudjana dan Rivai (2007: 4) menyatakan bahwa: “Penggunaan media sangat bergantung kepada tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kemudahan memperoleh media yang diperlukan serta kemampuan guru dalam menggunakannya dalam kegiatan belajar

(11)

mengajar dikelas”.

Sama halnya dengan Dick dan Carey dalam Wibawa (1992: 67) menyebutkan beberapa patokan yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media yaitu :

a. Ketersediaan sumber,

b. ketersediaan data, tenaga dan fasilitas,

c. Keluwesan, kepraktisan dan daya tahan (umur) media, d. Efektivitas media untuk waktu yang panjang”.

Secara umum, Wibawa (1992 : 67) menjelaskan faktor- faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media atau kriteria pemilihan media tersebut adalah : a. Tujuan, artinya ketika guru memilih media yang akan digunakan

berdasarkan tujuan yang telah dirancang sebelumnya. Jika tujuannya membuat anak memahami konsep bilangan, maka guru dapat mempergunakan papan flanel angka, menyediakan beberapa bentuk angka dan menggunakan benda-benda pada saat mempelajari konsep bilangan.

b. Karakteristik Siswa, penyediaan media juga berhubungan dengan jumlah anak, dimana lokasi belajarnya dan bagaimana gaya belajar anak di kelas.Dengan begitu, guru dapat menyediakan media sesuai dengan jumlah anak agar semua anak mendapat kesempatan yang sama untuk mempergunakan media secara optimal. c. Karakteristik Media, guru harus mengetahui karakteristik media yang hubungannya

dengan keunggulan dan kelemahan media tersebut. Misalnya guru tidak mempergunakan media foto untuk mengajarkan gerakan, alangkah lebih baik apabila guru menggunakan media video.

d. Alokasi Waktu, guru harus merencanakan berapa lama anak mempergunakan media tersebut dan juga guru harus memperhatikan bagaimana cara merapikan kembali media tersebut. Hal ini berhubungan dengan keefisienan media tersebut. e. Ketersediaan, sebelum guru mempergunakan televisi di kelas, guru harus

memperhatikan ketersediaan alat-alat pendukung televisi tersebut. Seperti ketersediaan stop kontak, aliran listrik dan sebagainya.

f. Efektivitas, berhungan dengan apakah penggunaan media tersebut efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

(12)

lama agar dapat digunakan diwaktu-waktu selanjutnya. Kemudian dalam penggunaanya tidak merepotkan guru dan anak sehingga mudah digunakan. h. Biaya, hal ini terkait dengan perawatan media yang digunakan. Apakah

pemeliharaannya mudah atau memakan biaya yang sangat mahal.

Berdasarkan beberapa penjelasan tentang kriteria pemilihan media secara umum, dapat dilihat bahwa kriteria penggunaan media secara umum dipertimbangkan pada saat memilih media realia. Wibawa (2002: 55) mengungkapkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh guru sebelum menggunakan media realia sebagai media pengajaran, yaitu (1) karena benda nyata itu banyak macamnya, mulai dari benda-benda hidup sampai benda-benda-benda-benda mati, maka perlu dipertanyakan benda-benda-benda-benda atau makhluk hidup apakah yang mungkin dapat dimanfaatkan di kelas secara efisien, (2) bagaimanakah caranya agar benda-benda itu sesuai dengan pola belajar mengajar di kelas, (3) darimana kita memperoleh benda-benda itu.

Langkah- langkah penggunaan Media Realia Penggunaan media pembelajaran agar lebih efektif, Heinich mengajukan mosel ASSURE. Model ini dicetuskan oleh Heinich et.al sejak tahun 1980-an dan terus dikembangkan oleh Smaldino et.al hingga sekarang model ini merupakan singkatan yang terdiri atas istilah (Sarripudin, 2008: 2). Model ASSURE merupakan akronim dari analyze learner, state objective, select methods, media and materials, require learner participant and evaluate and revise. Langkah-langkah penerapan model ASSURE adalah sebagai berikut :

a. Analyze learner (menganalisis peserta didik). Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mengetahui karakteristik atau siapa yang akan kita ajarkan agar metode dan bahan ajar yang kita gunakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Yang perlu dianalisa dari peserta didik adalah : karakteristik umum, kompetensi prasyarat baik pengetahuan, keterampilan, maupun tentang topik pembelajaran dan gaya belajarnya.

b. State objective (merumuskan tujuan pembelajaran). Langkah selanjutnya ialah menuliskan tujuan pembelajaran secara spesifik. Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu agar proses pembelajaran lebih terarah.Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari silabus, buku teks, dari kurikulum utama atau dikembangkan oleh guru.

(13)

c. Select methods, media and materials (memilih metode, media dan bahan ajar). Agar proses pembelajaran dapat lebih efektif maka guru harus bisa memilih metode, media dan bahan ajar yang tepat sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tujuan yang hendak dicapai. Disini kecermatan dalam memilih sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran tidak sia-sia dan mendaapat hasil yang maksimal. Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam memilih yaitu : memilih bahan pembelajaran yang sesuai, memodifikasi bahan pembelajaran yang ada, merancang bahan pembelajaran baru.

d. Utilize Media and Materials (memanfaatkan media dan bahan ajar). Guru dituntut untuk mampu memanfaatkan media dan bahan ajar seefektif dan semaksimal mungkin. Setelah memodifikasi atau mendesain bahan pembelajaran tahap selanjutnya ialah membuat perencanaan penggunaan bahan pembelajaran tersebut dalam mengimplementasikan metode yang digunakan.

e. Require learner participant (mengembangkan peran peserta didik). Guru sebagai pengajar dituntut untuk lebih terampil sebagai upaya untuk mengembangkan peran peserta didik agar lebih aktif dalam kegiatan KBM atau dalam penggunaan bahan pembelajaran dapat dilakukan dengan melibatkan pembelajaran.

f. Evaluate and revise (menilai dan memperbaiki). Setelah melakukan KBM maka hal yang perlu dilakukan adalah memberikan penilaian untuk mengukur tingkat pemahaman atas materi yang baru saja diberikan dan setelah itu menilai seluruh komponen yang ada dalam KBM tadi untuk mengetahui sejauh mana keefektivan dan dapat dijadika masukan bagi perbaikan penyelenggaraan KBM selanjutnya apabila telah mengetahui kriteria dalam penggunaan media, ada baiknya mempertimbangkan dengan matang sebelum penggunaan media di kelas. Beberapa penjelasan di atas dapat menjadi pertimbangan guru pada saat sebelum mempergunakan media dan dapat dijadikan acuan guru pada saat memilih media realia yang akan digunakan di kelas. Maka hendaknya pemanfaatan media realia sebagai media pengajaran dan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar akan semakin efektif.

(14)

2.2 Kajian Hasil Penelitian Yang Relevan

Adapun kajian empiris / temuan hasil penelitian yang relevan, peneliti menggunakan hasil penelitian dari :

 Sumarsi, Diah Sri (2008) Upaya Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Penggunaan Media Realia Pada Siswa Sekolah Dasar (PTK di MIM Gayam Pada Pokok Bahasan Bangun Datar Kelas II Semester I Tahun 2012 / 2013). Hasil Tercapainya 85% siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan RME dapat memperoleh nilai lebih besar sama dengan 6,5 (Ketentuan sekolah) serta guru berhasil melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan RME dengan minimal 85% skenario pembelajaran yang dibuat telah dilaksanakan.

2.3 Kerangka Pikir

Mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dikuasai siswa jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Siswa juga kurang menyenangi dan takut apabila mengikuti mata pelajaran tersebut. Adapun guru, selama ini dalam menyajikan pembelajaran matematika masih monoton dan mendominasi pembelajaran sehingga siswa menjadi pasif. Akibatnya, hasil belajar siswa rendah, khususnya dalam hal ini pemahaman konsep penjumlahan bilangan cacah masih rendah. Semua kondisi tersebut merupakan permasalahan yang terjadi selama ini.

Uraian pendapat para ahli dapat melandasi pemikiran penulis untuk dijadikan acuan dalam melaksanakan penelitian. Belajar yang diartikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dilakukan secara sadar oleh tiap individu. Dalam perjalanan proses belajar akan didapat sebuah hasil belajar itu sendiri dan akhirnya menjadi sebuah hasil yang menjadi tujuan akhir dari proses belajar. Dengan demikian, permasalahan yang terjadi selama ini dapat diatasi. siswa tidak lagi asing terhadap materi matematika khususnya dalam memahami konsep penjumlahan bilangan cacah. Siswa juga merasa dihargai di dalam pembelajaran yang berlangsung sehingga merasa betah dan menyukai pelajaran matematika. Guru juga dapat mengeksplorasi kemampuan siswa, sehingga siswa aktif dalam pembelajaran. Hasilnya, pemahaman

(15)

siswa terhadap konsep penjumplahan bilangan cacah dapat meningkat, sehingga hasil belajar siswa juga dapat meningkat.

Gambar. 2.1 Skema Kerangka Pikir

2.4 Hipotesis Tindakan

Melaui uraian masalah dan kajian teori maka hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga melalui media realia dalam pembelajaran, dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa Kelas I SD Negeri 4 Katekan kecamatan Brati Kabupaten Grobogan Semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013

Kondisi Awal pembelajaran yang Guru : dilakukan guru

pembelajaran

konvensial Hasil belajar siswa rendah

Siswa : mengalami

kesulitan menerima pelajaran

TINDAKAN menggunakan media Guru : realia dalam pembelajaran

Kondisi Akhir Diduga hasil belajar Matematika siswa kelas I meningkat SIKLUS 1 Menggunakan media realia

dalam pembelajaran

SIKLUS 2 Menggunakan media realia

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antara pelaksanaan program kesejahteraan yang terdiri dari program kesejahteraan ekonomi, program

Hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan jalur ganda rel kereta api yang dibangun diatas tanah lunak adalah kemungkinan terjadi kelongsoran dan penurunan tanah

Berdasarkan hasil penelitian bank syariah mempunyai rata – rata secara keseluruhan dari rasio yang digunakan menunjukkan bahwa rasio CAR, LDR, NPL, dan BOPO lebih besar

 Bagi pengusul yang tidak melakukan seminar hasil penelitian atau terlambat menyerahkan : (1) Laporan Kemajuan Penelitian atau (2) Laporan Akhir Penelitian (tanpa dijilid,

Meskipun tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dan kejadian demensia namun dari penelitian ini didapatkan bahwa aktifitas fisik, mental, spiritual, dan sosial

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Pengembangan media pembelajaran papan analisis

Spray drying merupakan suatu metode pengeringan yang banyak digunakan untuk menghasilkan partikel halus berupa serbuk atau kristal dengan cara mendispersikan larutan

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Perencanaan Unit Pengolahan Pangan yang berjudul