2.1 Profil Perikanan di Indonesia
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 menyebutkan bahwa perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Pengelolaan sumberdaya ikan diartikan sebagai semua upaya yang bertujuan agar ikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berlangsung terus menerus, sedangkan pemanfaatan sumberdaya ikan adalah kegiatan penangkapan ikan dan atau pembudidayaan ikan. Penangkapan ikan didefinisikan sebagai kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah dan/atau mengawetkannya.
Usaha perikanan merupakan semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap dan membudidayakan ikan untuk tujuan komersil. Usaha perikanan mencakup aspek produksi, pengolahan/pasca panen dan pemasaran, sehingga terdapat rangkaian kegiatan yang membentuk suatu sistem usaha perikanan.
Kegiatan usaha perikanan laut di Indonesia pada umumnya dilakukan di wilayah pantai karena wilayah pantai memiliki produktivitas hayati tertinggi yakni 85% kehidupan biota laut tropis bergantung pada ekosistem pesisir (Odum, 1976; Berwick,1983).
Secara historis perairan pantai Indonesia merupakan daerah penangkapan (fishing ground) bagi perikanan rakyat (artisanal fisheries). Perikanan rakyat ini sejak tahun 1975 menghasilkan hampir seluruh (90%) produksi perikanan laut Indonesia (Soegiarto, 1976). Produksi perikanan laut meningkat dari 970 ribu ton pada tahun 1975 menjadi 3,6 juta ton pada tahun 1997 dan menjadi 4,07 juta ton pada tahun 2002 (Ditjen Perikanan Tangkap, 2004). Kenaikan produksi tersebut disebabkan antara lain oleh modernisasi armada penangkapan dan adanya
penemuan baru potensi sumberdaya perikanan laut dan perluasan daerah penangkapan ikan. Meskipun demikian, daerah penangkapan perikanan rakyat yang merupakan ciri dominan perikanan Indonesia tetap terkonsentrasi di wilayah pesisir/pantai.
Armada perikanan rakyat tersebut mengandalkan teknologi kapal/perahu yang ukurannya kurang dari 30 GT (Tabel 2.1). Dengan demikian terlihat jelas bahwa perikanan rakyat tersebut mengandalkan sumberdaya ikan di perairan yang relatif sempit dan dieksploitasi oleh relatif banyak nelayan.
Tabel 2.1 Profil perikanan di Indonesia berdasarkan komposisi kapal ikan, 1992-2002 T a h u n (Satuan : Unit) Rincian 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Perahu Tanpa Motor 229.377 247.745 245.436 245.162 252.561 228.919 223.490 241.517 230.867 241.714 219.079 Perahu/Kapal Motor 129.529 141.753 150.699 159.481 166.846 173.185 189.212 214.413 218.691 226.807 241.219 Motor Tempel 77.779 82.217 87.749 94.024 96.955 95.022 102.125 124.043 121.022 120.054 130.185 Kapal Motor 51.750 59.536 62.950 65.457 69.891 78.163 87.087 90.370 97.669 106.753 111.034 < 5 Gt 37.913 43.396 45.331 48.855 51.327 55.814 58.448 57.768 65.897 70.925 74.292 5-10 Gt 7.936 9.791 9.604 9.562 10.312 13.440 15.898 18.850 19.460 22.641 20.208 10-20 Gt 3.156 2.812 3.376 2.789 3.074 3.587 5.575 6.792 5.599 6.005 5.866 20-30 Gt 984 1.558 1.688 1.519 1.500 1.941 3.204 3.439 2.974 3.008 3.382 30-50 Gt 1.049 1.170 1.869 1.682 1.626 1.818 2.166 1.516 1.543 781 2.685 50-100 Gt 208 351 567 687 1.535 1.110 1.112 1.038 1.129 1.602 2.430 100-200 Gt 184 213 340 253 354 393 519 756 741 1.295 1.612 >200 Gt 320 245 175 120 163 60 165 211 326 495 559 Jumlah 358.906 389.498 396.135 404.643 419.407 402.104 412.702 455.930 449.558 468.521 460.298 Sumber : Statistik perikanan tangkap Indonesia 2004
Keterangan :
Kapal Motor di atas 30 GT = 0,4 % (1992) menjadi 1,6 % (2002) dari seluruh armada perikanan
2.2 Kondisi Umum Nelayan Indonesia
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004, nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Kelompok ini pula yang mendominasi pemukiman di wilayah pesisir di seluruh Indonesia.
Dari sisi sumberdaya, wilayah pantai merupakan kawasan yang memiliki sumberdaya alam paling kaya dan merupakan bagian paling produktif diantara
seluruh perairan bahari bahkan menurut Mulyana (1999) wilayah pesisir atau pantai menghasilkan sebagian besar (80 %) produksi perikanan dunia. Walaupun demikian masyarakat nelayan di beberapa wilayah di Indonesia masih tergolong masyarakat miskin bahkan secara ekonomi dianggap kelompok dengan
opportunity cost yang rendah. Pendapat lain yang lebih menyedihkan adalah
seperti diungkapkan oleh Subade and Abdulllah (1993) yaitu bahwa nelayan tetap tinggal pada industri perikanan karena rendahnya opportunity cost mereka. Oleh karenanya hampir seluruh kegiatan di wilayah ini menarik dipelajari dan diteliti termasuk kegiatan perikanan yang sebagian besar dilakukan di wilayah ini.
Dalam berbagai hal yang berkaitan dengan badan legal seperti perbankan, nelayan tidak mudah memperoleh akses yang diharapkannya karena ada penilaian rendahnya opportunity cost dari para nelayan. Opportunity cost nelayan adalah kemungkinan atau alternatif kegiatan atau kegiatan ekonomi lain yang terbaik yang dapat diperoleh selain menangkap ikan. Dengan kata lain opportunity cost adalah kemungkinan lain yang bisa dikerjakan nelayan bila saja mereka tidak menangkap ikan. Bila opportunity cost rendah maka nelayan cenderung tetap melaksanakan kegiatannya meskipun kegiatan tersebut tidak lagi menguntungkan dan tidak efisien. Ada lagi yang mengatakan bahwa opportunity cost nelayan khususnya di negara berkembang, sangat kecil dan cenderung mendekati nihil. Bila demikian maka nelayan tidak punya pilihan sebagai mata pencahariannya. Dengan demikian nelayan tetap bekerja sebagai nelayan karena hanya itu yang bisa dikerjakan.
Panayotou (1982) mengatakan bahwa nelayan tetap mau tinggal dalam kemiskinan karena kehendaknya untuk menjalani kehidupan itu (preference for a
particular way of life). Pendapat Panayotou (1982) ini dijelaskan oleh Subade
dan Abdullah (1993) dengan menekankan bahwa nelayan lebih senang memiliki kepuasan hidup yang bisa diperolehnya dari menangkap ikan dan bukan berlaku sebagai pelaku yang semata-mata berorientasi pada peningkatan pendapatan. Karena way of life yang demikian maka apapun yang terjadi dengan keadaannya tidak dianggap sebagai masalah baginya. Way of life sangat sukar dirubah. Karena itu meskipun menurut pandangan orang lain hidup dalam kemiskinan, bagi
nelayan itu bukan kemiskinan dan bisa saja mereka merasa bahagia dengan kehidupannya.
Smith (1979) dan Anderson (1979) menyimpulkan bahwa kekakuan aset perikanan (fixity and rigidity of fishing assets) adalah alasan utama nelayan tetap terperangkap dalam kemiskinan dan sepertinya tidak ada upaya mereka untuk keluar dari kemiskinan. Kapal dan alat penangkap ikan sulit untuk dilikuidasi atau diubah bentuk dan fungsinya untuk digunakan bagi kepentingan lain. Akibatnya pada saat produktivitas rendah, nelayan tidak mampu untuk mengalih fungsikan atau melikuidasi aset tersebut. Oleh karena itu walaupun rendah produktivitasnya, nelayan tetap melakukan operasi penangkapan ikan yang mungkin tidak efisien secara ekonomis.
Perikanan tangkap skala kecil di Indonesia adalah kontributor terbesar terhadap produksi perikanan. Bahkan sekitar 85% tenaga yang bergerak di sektor penangkapan ikan masih merupakan nelayan tradisional dan sangat jauh tertinggal dari nelayan negara lain (Widiyanto et al., 2002). Lebih lanjut dikatakan bahwa salah satu titik strategis dari penyebab utama kemiskinan dan ketidakberdayaan nelayan adalah lemahnya kemampuan manajemen usaha. Hal ini juga terjadi karena rendahnya pendidikan dan penguasaan ketrampilan bidang perikanan. Oleh karena itu pemberdayaan sumberdaya perikanan laut sudah semestinya dilakukan melalui pendekatan dengan nelayan, antara lain dengan melakukan pemberdayaan kepada kelompok nelayan kecil agar mereka dapat mengorganisasikan kegiatan usahanya.
Walaupun nelayan skala kecil menjadi kontributor terbesar dalam produksi perikanan tangkap, namun nelayan masih selalu diidentikkan dengan kemiskinan Elfindri (2002). Kemiskinan yang merupakan indikator ketidakberdayaan masyarakat nelayan disebabkan oleh tiga hal utama yaitu kemiskinan struktural, kemiskinan super-struktural dan kemiskinan kultural (Nikijuluw, 2001).
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena pengaruh faktor atau variabel eksternal diluar individu nelayan yaitu struktur sosial ekonomi masyarakat, ketersediaan insentif atau disinsentif pembangunan, ketersediaan fasilitas pembangunan, ketersediaan teknologi dan ketersediaan sumberdaya pembangunan khususnya sumberdaya alam. Hubungan antara
variabel-variabel ini dengan kemiskinan umumnya bersifat terbalik. Artinya semakin tinggi intensitas, volume dan kualitas variabel-variabel ini maka kemiskinan semakin berkurang. Khusus untuk variabel struktur sosial ekonomi, hubungannya dengan kemiskinan lebih sulit ditentukan. Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang terjadi disekitar atau dilingkup nelayan menentukan kemiskinan dan kesejahteraan mereka.
Kemiskinan super-struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena variabel-variabel kebijakan makro yang tidak begitu kuat berpihak pada pembangunan nelayan. Variabel-variabel tersebut diantaranya kebijakan fiskal, kebijakan moneter, ketersediaan hukum dan perundang-undangan, kebijakan pemerintahan yang diimplementasikan dalam proyek dan program pembangunan. Kemiskinan super-struktural ini sangat sulit diatasi bila tidak ada keinginan dan kemauan secara tulus dari pemerintah untuk mengatasinya. Kesulitan tersebut juga disebabkan karena kompetisi antar sektor, antar daerah, antar institusi sehingga menimbulkan ketimpangan dan kesenjangan pembangunan. Kemiskinan super-struktural ini hanya bisa di atasi apabila pemerintah pusat dan daerah memiliki komitmen khusus bagi kepentingan masyarakat miskin, dengan kata lain perlu dilakukan affirmative actions.
Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang disebabkan karena variabel-variabel yang melekat, inheren dan menjadi gaya hidup tertentu. Akibatnya sulit untuk individu bersangkutan keluar dari kemiskinan itu karena tidak disadari atau tidak diketahui oleh individu yang bersangkutan. Variabel-variabel kemiskinan kultural adalah tingkat pendidikan, pengetahuan, adat, budaya, kepercayaan, kesetiaan pada pandangan-pandangan tertentu serta ketaatan pada panutan. Kemiskinan kultural ini sulit di atasi terutama karena pengaruh panutan (patron) baik yang bersifat formal, informal, maupun asli dan sangat menentukan keberhasilan upaya-upaya pengentasan kemiskinan kultural (Nikijuluw, 2001). Seperti yang dinyatakan Shari (1990) dan Mashuri (1993) bahwa faktor penyebab utama kemiskinan nelayan yang dapat dikategorikan kultural adalah masa kerja yang terbatas dan tidak pasti, nilai produksi dibagi bersama terutama nelayan buruh. Selain itu, keluarga nelayan juga memiliki mutu modal manusia yang relatif rendah (Saedan, 1999; Elfindri, 2001).
2.3 Karakteristik Perikanan Tangkap Skala Kecil
Seperti dikemukakan pada bab terdahulu bahwa klasifikasi perikanan skala kecil atau skala besar, perikanan pantai atau lepas pantai, artisanal atau komersial hingga saat ini masih menjadi perdebatan mengingat dimensinya yang cukup luas. Sering kali pengelompokkan berdasarkan atas ukuran kapal atau besarnya tenaga, tipe alat tangkap, jarak daerah penangkapan dari pantai (Smith, 1983).
Menurut Charles (2001) skala usaha perikanan dapat dilihat dari berbagai aspek diantaranya berdasarkan ukuran kapal yang dioperasikan, berdasarkan daerah penangkapan, yaitu jarak dari pantai ke lokasi penangkapan dan berdasarkan tujuan produksinya. Pengelompokan tersebut dilakukan melalui perbandingan perikanan skala kecil (small-scale fisheries) dengan perikanan skala besar (large-scale fisheries), walaupun diakuinya belum begitu jelas sehingga masih perlu dilihat dari berbagai aspek yang lebih spesifik. Lebih lanjut karakteristik perikanan skala kecil diungkapkan oleh Smith (1983), bahwa skala usaha perikanan dapat dilihat dengan cara membandingkan perikanan berdasarkan situasi technico-socio-economic nelayan dan membaginya ke dalam dua golongan besar yaitu nelayan industri dan tradisional.
Perikanan tradisional menurut Smith (1983) adalah diantaranya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Kegiatan dilakukan dengan unit penangkapan skala kecil, kadang-kadang menggunakan perahu bermesin atau tidak sama sekali.
2) Aktivitas penangkapan merupakan paruh waktu, dan pendapatan keluarga adakalanya ditambah dari pendapatan lain dari kegiatan di luar penangkapan. 3) Kapal dan alat tangkap biasanya dioperasikan sendiri.
4) Alat tangkap dibuat sendiri dan dioperasikan tanpa bantuan mesin.
5) Investasi rendah dengan modal pinjaman dari penampung hasil tangkapan. 6) Hasil tangkapan per unit usaha dan produktivitas pada level sedang sampai
sangat rendah.
7) Hasil tangkapan tidak dijual kepada pasar besar yang terorganisir dengan baik tapi diedarkan di tempat-tempat pendaratan atau dijual di laut.
8) Sebagian atau keseluruhan hasil tangkapan dikonsumsi sendiri bersama keluarganya.
9) Komunitas nelayan tradisional seringkali terisolasi baik secara geografis maupun sosial dengan standar hidup keluarga nelayan yang rendah sampai batas minimal.
Kesteven (1973) mengelompokan nelayan ke dalam tiga kelompok yaitu nelayan industri, artisanal dan subsiten, di mana nelayan industri dan artisanal berorientasi komersial sedangkan hasil tangkapan nelayan subsisten biasanya tidak untuk dijual di pasar tetapi lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan konsumsi sendiri beserta keluarganya atau untuk dijual secara barter. Lebih lanjut Smith (1983) yang dilengkapi oleh referensi Kesteven (1973),
membuat rincian perbandingan perikanan skala tradisional dan industri berdasarkan technico-socio-economic yang di dalamnya termasuk karakteristik
perikanan skala kecil (Tabel 2.2).
Tabel 2.2 Perbandingan situasi technico-socio-economic antara nelayan tradisional dengan nelayan industri
Komersial Subsisten Artisanal Keterangan Industrial Tradisional 1. Unit penangkapan
Tepat, dengan divisi pekerjaan dan prospek jelas.
Tepat, kecil, spesialisasi dengan pekerjaan yang tidak terbagi
Tenaga sendiri, atau keluarga, atau grup masyarakat 2. Kepemilikan Dikonsentrasikan
pada beberapa pengusaha, kadang bukan nelayan
Biasanya dimiliki oleh nelayan yang berpengalaman, atau nelayan nelayan gabungan Tersebar diantara partisipan partisipan 3. Komitmen
waktu Biasanya penuh waktu Seringkali merupakan pekerjaan sampingan Kebanyakan paruh waktu 4. Kapal Bertenaga, dengan
peralatan yang memadai
Kecil; dengan motor di dalam (atau motor tempel kecil diluar)
Tidak ada, atau berbentuk kano 5. Perlengkapan Buatan mesin, atau
pemasangan lainnya Sebagian atau seluruhnya menggunakan material material buatan mesin
Material material buatan tangan, dipasang oleh pemilik 6. Sifat Pekerjaan Dengan bantuan
mesin Bantuan mesin yang minim Dioperasikan dengan tangan 7. Investasi Tinggi, dengan
proporsi yang besar diluar nelayan
Rendah; penghasilan nelayan (sering kali diambil dari pembeli hasil tangkapan)
Sangat rendah sekali
8. Penangkapan (per unit penangkapan)
Besar Menengah atau rendah Rendah hingga sangat rendah
9. Produktivitas
Komersial Subsisten Artisanal Keterangan Industrial Tradisional nelayan) 10. Pengaturan hasil tangkapan
Dijual ke pasar yang
terorganisir Penjualan untuk lokal yang tak terorganisir, sebagian dikonsumsi sendiri
Umumnya di
konsumsi oleh nelayan itu sendiri, keluarganya, dan kerabatnya; atau di tukar 11. Pengolahan hasil tangkapan Diolah menjadi tepung ikan atau untuk bahan konsumsi bukan untuk manusia
Beberapa di keringkan, diasap, diasinkan; untuk kebutuhan manusia
Kecil atau tidak ada sama sekali; semuanya untuk di konsumsi 12. Keberadaan
ekonomi nelayan
Sering kali kaya Golongan kebawah Minimal
13. Kondisi sosial Terpadu Kadang terpisah Masyarakat yang terisolasi
Kategori (1), (4)-(10) dan (13) dari Kesteven (1973). Ungkapan didalam kurung adalah tambahan perubahan karakteristik menurut Kesteven.
2.4 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut
Pengelolaan sumberdaya perikanan laut menyangkut aspek biologi, lingkungan, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Sumberdaya perikanan tidak terbatas baik dalam kualitas maupun kemampuan untuk melakukan regenerasi. Untuk menjaga keberlanjutannya upaya mengeksploitasi harus dilakukan secara rasional, yakni tidak melampaui daya dukungnya. Hak pemanfaatan yang bersifat terbuka (open access) dapat menjurus ke arah timbulnya persaingan diantara nelayan.
Aspek biologi yang harus diperhatikan adalah terjaminnya proses rekruitmen (pertumbuhan) dari masing-masing jenis ikan, serta adanya proses interaksi biologi antar jenis yang dapat berupa pemangsaan atau persaingan. Faktor lingkungan yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan mutu lingkungan terutama untuk daerah pemijahan dan daerah pengasuhan (nursery ground).
Aspek ekonomi yang harus dipertimbangkan terutama adalah ketimpangan antara pendapatan total dan biaya total yang akan menentukan tinggi rendahnya keuntungan total dan usaha perikanan termasuk penangkapan ikan di laut.
Aspek sosial budaya dan politik yang selama ini terabaikan perlu mendapatkan perhatian serius dalam upaya mengelola sumberdaya perikanan laut, sehingga upaya pencapaian distribusi dan pemerataan pendapatan yang proporsional diantara berbagai kelompok pengguna sumberdaya perikanan seperti nelayan dengan bukan nelayan, nelayan skala besar dengan nelayan skala kecil dan nelayan buruh dengan nelayan pemilik dapat tercapai.
Djamal (1995) mengatakan bahwa pemanfaatan sumberdaya laut perlu dibatasi dengan pengendalian atas jumlah upaya penangkapan dan atau hasil tangkapan agar terhindar dari adanya upaya yang berlebihan, investasi modal yang berlebihan atau kelebihan tenaga kerja. Pemanfaatan sumberdaya tanpa pengendalian cenderung diikuti oleh penipisan sumber (stok), menurunnya hasil tangkapan per unit upaya (catch per unit of effort/CPUE), serta menipisnya keuntungan yang diperoleh. Efisiensi dari satu pengaturan pemanfaatan sumberdaya dapat dicapai dengan cara penetapan upaya penangkapan sampai pada tingkat yang sesuai dengan tingkat yang diperlukan untuk memperoleh hasil tangkapan yang optimal.
Kebijaksanaan pengelolaan seyogyanya bersifat lentur atau adaptif untuk mampu mengantisipasi segala perubahan yang terjadi pada sumberdaya yang diakibatkan oleh proses interaksi biologi maupun interaksi teknologi serta oleh ketidakstabilan ekosistem, sehingga kebijaksanaan baru dapat segera disusun dan dapat dilaksanakan. Kebijaksanaan pengelolaan harus mudah dipahami dan diterima oleh nelayan serta unsur terkait lainnya, agar dapat dicapai mufakat yang harus dirumuskan secara institusional oleh lembaga yang berwenang, sehingga penerapannya dapat berjalan baik dan efisien.
Ketersediaan stok ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pertumbuhan dan kematian ikan (Effendie, 1997). Pertumbuhan pada tingkat individu dapat dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu periode waktu tertentu sedangkan pertumbuhan populasi adalah pertambahan jumlah. Lebih lanjut dikatakan, pertumbuhan merupakan fungsi biologi yang kompleks yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan menjadi dua bagian besar yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam umumnya adalah faktor yang sukar dikontrol di antaranya adalah
keturunan, sex, parasit dan penyakit. Faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan adalah makanan dan suhu perairan. Faktor-faktor yang paling banyak mempengaruhi pertumbuhan adalah jumlah dan ukuran pakan yang tersedia, jumlah individu yang menggunakan pakan yang tersedia, iklim kualitas air terutama suhu dan oksigen terlarut, umur, ukuran ikan serta kematangan gonad.
Menurut Biusing (1987), struktur populasi ikan tropis berubah dari waktu ke waktu namun relatif stabil dibandingkan dengan populasi ikan di subtropis karena dipengaruhi oleh penambahan ikan baru (recruitment) di daerah tropis terjadi secara kontinyu. Kestabilan ini disebabkan oleh “multispawning behavior” ikan yang berlangsung sepanjang tahun.
Bahaya punahnya cadangan ikan dapat disebabkan antara lain oleh adanya penangkapan ikan yang melebihi kemampuan reproduksi ikan tersebut dan rusaknya lingkungan perairan di tempat ikan tersebut menetap (Clark, 1985 dan Effendie, 1997). Dengan demikian kriteria pemanfaatan sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) adalah bahwa laju ekstraksinya tidak boleh melebihi kemampuannya untuk memulihkan diri pada suatu periode tertentu (Clark, 1985).
Untuk menduga tingkat eksploitasi ikan di suatu perairan maka diperlukan informasi mengenai laju mortalitas (alami dan penangkapan) dan populasi ikan yang dieksploitasi tersebut (Biusing 1987). Mortalitas alamiah merupakan pengaruh dari relatif besarnya faktor-faktor lingkungan yang berinteraksi secara bebas (Aziz 1989). Mortalitas alami terdiri dari beberapa komponen yaitu predasi, penyakit dan penyebab fisiologis (Beverton and Holt 1957). Suatu pendekatan mortalitas alam dapat diukur dan pola pertumbuhan spesies yang bersangkutan. Pola pertumbuhan ikan yang cepat akan mempunyai laju mortalitas alami yang rendah. Meskipun pendugaan ini tidak selalu tepat, tetapi penting untuk studi awal penentuan jenis mortalitas yang dominan (Gulland 1983 dalam Aziz 1989).
Mortalitas akibat penangkapan ditentukan oleh upaya tangkap dan jumlah tangkapan per unit. Upaya tangkap dipengaruhi oleh musim penangkapan. Mortalitas penangkapan cenderung bervariasi karena ikan besar dan kecil
disebarkan dengan berbeda dan karena pemilihan ukuran tidak dapat ditentukan dengan alat penangkapan.
Sumberdaya perikanan laut merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat dipulihkan (renewable resources), di mana pengelolaannya didasarkan pada konsep hasil maksimum yang lestari (maximum sustainable yield). Tujuan konsep MSY adalah pengelolaan sumberdaya alam yang sederhana yakni mempertimbangkan fakta bahwa persediaan sumberdaya biologis seperti ikan tidak dimanfaatkan terlalu berat, karena akan menyebabkan hilangnya produktivitas.
Menurut Gulland (1983), ada beberapa faktor penyebab pertumbuhan surplus populasi ikan, yaitu:
1) Kegiatan menangkap ikan akan memperkecil cadangan, namun dengan kepadatan yang rendah dalam keseimbangan alamiah, berarti cadangan yang tertinggal akan memanfaatkan makanan lebih banyak.
2) Kegiatan menangkap akan menggeser umur rata-rata cadangan ikan menjadi lebih muda dan cepat besar.
3) Cadangan yang tidak banyak ditangkap, kapasitas hidup telur akan berbanding terbalik dengan jumlah ikan yang bertelur dan jumlah telur yang dihasilkan. Hal ini berarti kalau jumlah anggota yang bertelur berkurang maka jumlah anggota muda akan bertambah besar.
Christy dan Scott (1986) mengemukakan bahwa sifat dasar dari sumberdaya ikan adalah milik bersama (common property) di mana pemanfaatannya dapat digunakan pada waktu yang bersamaan oleh lebih dari individu atau satu satuan ekonomi. Salah satu alasan mengapa sumberdaya tersebut digolongkan sebagai milik bersama, karena biaya untuk mempertahankan hak penggunaannya secara khusus dirasakan lebih tinggi dari pendapatan tambahan yang mungkin diperoleh dari pemilikan sumberdaya.
Cruitchfild dan Pontecorvo (1978) yang diacu dalam Setyono (2000) menyatakan sumberdaya ikan merupakan sumberdaya yang mudah ditangkap sehingga tidak mungkin mengurangi upaya dengan pembatasan input, dalam arti bahwa pengawasan tidak mungkin mencegah orang dalam penggunaan sarana
untuk menangkap ikan. Untuk itu diperlukan pengelolaan dengan baik, agar dapat mempertahankan dan mengembangkan populasi yang ada.
Salah satu pendekatan dalam pemanfataan sumberdaya ikan berkelanjutan adalah pendekatan ekologi (Dahuri, et al., 2001). Menurut Anggoro (2000) pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan yang berwawasan ekologi secara umum ditandai dengan beberapa ciri sebagai berikut :
1) Kemantapan produktivitas pada skala temporal (berdasarkan waktu/musim) dan spasial (berdasarkan tempat/daerah penangkapan ikan)
2) Kemantapan daya dukung lingkungan (habitat) serta daya lenting sumberdaya terpulihkan (ikan) dalam rentang waktu tertentu.
3) Kemantapan daya tampung lingkungan (habitat) dalam merespons gangguan eksploitasi dan atau masukan bahan pencemar perairan
4) Keberlangsungan daur hidup dan daur ruaya alami serta tetap berperannya habitat vital sebagai daerah pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan anak ikan (nursery ground).
Lebih lanjut dikatakan oleh Anggoro (2000) bahwa secara ideal pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungan hidupnya harus mampu menjamin kesinambungan fungsi ekologi secara mantap guna mendukung keberlanjutan perikanan yang ekonomis dan produktif.
2.5 Pembangunan Perikanan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu strategi pembangunan yang memberikan ambang batas pada laju pemanfaatan ekosistem alamiah serta sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Ambang batas ini tidak bersifat mutlak tetapi merupakan batas yang luwes (flexible) yang tergantung pada kondisi teknologi dan sosial ekonomi tentang pemanfaatan sumberdaya alam serta daya dukung alam (carrying capacity) untuk menerima dampak kegiatan manusia. Pembangunan perikanan laut dapat berkelanjutan jika pola dan laju pembangunannya dapat dikelola sedemikian rupa, sehingga total permintaannya (demand) terhadap sumberdaya perikanan dan jasa-jasa lingkungannya tidak melampaui kemampuan suplai tersebut. Kualitas dan kuantitas permintaan tersebut ditentukan oleh jumlah penduduk dan standar atau kualitas kehidupannya.
Konsep pembangunan berkelanjutan sebenarnya telah menjadi agenda Internasional dalam pertemuan komisi dunia untuk pembangunan dan lingkungan (WCED = World Commission on Environmental and Development) tahun 1987 dan telah dikonfirmasi oleh negara-negara di dunia menjadi prioritas internasional dalam konvensi PBB untuk lingkungan dan pembangunan (UNCED = United
Nation Convention on Environment and Development, 1992). Kemudian dalam
agenda 21 konsep tersebut dibahas dalam Commission on Sustainable
Development (CSD) yang mengembangkan indikator pembangunan berkelanjutan
dalam skala yang beragam. Penekanan pada perikanan tangkap yang mempunyai masalah pemanfaatan sumberdaya yang tidak lestari menjadi prioritas utama (FAO, 2001).
Alder et al. (2002) mengatakan bahwa sampai sekarang masih terjadi diskusi yang hangat tentang istilah keberlanjutan (sustainability) dan bagaimana cara mengukurnya. Namun demikian secara umum terdapat satu kesepakatan bahwa keberlanjutan harus mencakup komponen ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan etika (Antune and Santos, 1999; Costanza et al, 1999, Garcia, Staples and Chesson, 2000 yang diacu dalam Alder et al., 2000).
Konsep pembangunan berkelanjutan oleh WCED (1987) dinyatakan sebagai pembangunan yang mencukupi kebutuhan generasi sekarang dengan tidak mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk mencukupi kebutuhannya. Penekanan pembangunan dalam kontek ini berkaitan dengan kualitas hidup bukan pertumbuhan ekonomi, walaupun kedua hal tersebut sangat berkaitan dalam sistem perekonomian modern. Costanza (1991) mengemukakan bahwa definisi keberlanjutan yang sangat berguna adalah tingkat konsumsi yang dapat dilanjutkan dalam waktu yang tidak terbatas menurunkan capital stock.
Konsep pembangunan berkelanjutan juga dapat dilihat dalam konsep FAO Council (1988) yang diacu dalam FAO (2001) sebagai pengelolaan dan perlindungan sumberdaya alam dan perubahan orientasi teknologi dan kelembagaan dalam beberapa cara yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan berusaha untuk melindungi tanah, air, tumbuhan serta sumberdaya genetis hewan, yang
tidak menurunkan kualitas lingkungan di mana secara teknis tepat, secara ekonomis berguna, dan secara sosial dapat diterima.
Kerangka pendekatan hukum (legal framework) prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya perikanan sebenarnya telah terdapat dalam UNCLOS (1982) dan FAO Code of Conduct for Responsible Fisheries, 1995 (FAO, 2001). Beberapa pertimbangan diperlukannya pembangunan perikanan berkelanjutan di antaranya meliputi :
(1) Pemanfaatan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan dan aktivitas
pengolahannya harus didasarkan pada ekosistem kelautan tertentu dan teridentifikasi dengan baik.
(2) Memelihara daya dukung sumberdaya terhadap aktivitas pemanfaatan
dalam jangka panjang.
(3) Menghidupi tenaga kerja dalam bidang perikanan dalam masyarakat yang
lebih luas.
(4) Memelihara tingkat kesehatan dan kesatuan ekosistem kelautan untuk
pemanfaatan yang lain, termasuk di dalamnya keanekaragaman hayati, ilmu pengetahuan, nilai intrinsik, strutur tropis dan kegunaan ekonomi lainnya seperti pariwisata dan rekreasi.
Tujuan dari pembangunan berkelanjutan akan sejalan dengan tujuan pembangunan perikanan seperti misalnya memelihara stok sumberdaya perikanan dan melindungi habitatnya. Namun demikian mengelola sumberdaya perikanan untuk pembangunan yang berkelanjutan bersifat multi dimensi dan aktivitas bertingkat (multilevel activities), yang harus mempertimbangkan lebih banyak aspek dibandingkan dengan daya tahan hidup ikan dan perikanan itu sendiri (FAO, 2001).
McGoodwin (1990) menyatakan bahwa dalam menganalisis sumberdaya perikanan, konsekuensi sosial dan ekonomi harus diperhitungkan sama halnya dengan konsekuensi teknis dan etika. Alder et al. (2000) menyatakan bahwa tantangan bagi pengelolaan perikanan adalah menilai keberlanjutan sumberdaya tersebut dengan pendekatan yang bersifat multi disiplin yang mampu mengintegrasikan bebrapa aspek yang beragam tersebut. FAO telah
mengembangkan beberapa contoh kriteria untuk masing-masing dimensi dalam
Sustainable Development Reference System (SDRS), seperti tertera dalam
Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Kriteria analisis dimensi pembangunan sumberdaya perikanan berkelanjutan
No Dimensi Kriteria
1. Ekonomi Volume produksi
Nilai produksi
Kontribusi perikanan dalam GDP
Nilai ekspor perikanan (dibandingkan dengan total nilai ekspor)
Investasi dalam armada perikanan dan fasilitas pengolahan
Pajak dan subsidi
Tenaga kerja (employment) Pendapatan
2. Sosial Angkatan kerja/partisipasi
Demografi Pendidikan Konsumsi protein Pendapatan Tradisi/budaya Hutang
Distribusi gender dalam pengambilan keputusan
3. Ekologis Komposisi hasil tangkapan
Kelimpahan relatif spesies Tingkat pemanfaatan
Dampak langsung alat tangkap terhadap non-spesies target
Dampak alat tangkap terhadap habitat Keaneka ragaman hayati
Perubahan daerah dan kualitas dari habitat penting atau kritis
Tekanan dari penangkapan (dibandingkan dengan daerah yang belum termanfaatkan)
4. Kepemerintah an
(Governance)
Kepatuhan terhadap sistem pemerintahan (complience
regime)
Hak kepemilikan (property right) Keterbukaan dan partisipasi Kemampuan untuk mengelola
Tata pemerintahan yang baik (good governance)
Sumber : FAO Technical Guidlines for Responsible Fisheries No. 8. Indicator for
2.6 Keberlanjutan Perikanan
Keberlanjutan (sustainability) merupakan kata kunci bagi pembangunan perikanan di seluruh dunia yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi sumberdaya dan masyarakat perikanan itu sendiri (Charles, 2001; Fauzi dan Anna, 2002).
Perikanan tangkap berkelanjutan merupakan bagian dari kegiatan pembangunan perikanan yang berkelanjutan. Sedangkan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) merupakan suatu proses perubahan, di mana eksploitasi sumberdaya, orientasi pengembangan teknologi dan perubahan institusi adalah suatu proses yang harmonis dan menjamin potensi masa kini dan masa mendatang untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia (Menteri KLH/Bapedal, 1997, yang dirujuk dalam Simbolon, 2003). Perman et al. (1996) dalam Fauzi (2004) mengelaborasi lebih lanjut konseptual keberlanjutan dengan mengajukan lima alternatif pengertian, yaitu: 1) suatu kondisi dikatakan berkelanjutan (sustainable) jika utilitas yang diperoleh masyarakat tidak berkurang sepanjang waktu dan konsumsi tidak menurun sepanjang waktu
(non-declining consumption); 2) keberlanjutan adalah kondisi di mana sumber daya
alam dikelola sedemikian rupa untuk memelihara kesempatan produksi di masa mendatang; 3) keberlanjutan adalah kondisi di mana sumber daya alam (natural
capital stock) tidak berkurang sepanjang waktu (non-declining); 4) keberlanjutan
adalah kondisi di mana sumber daya alam dikelola untuk mempertahankan produksi jasa sumber daya alam; 5) keberlanjutan adalah kondisi di mana kondisi minimum keseimbangan dan daya tahan (resilience) ekosistem terpenuhi.
Dari aspek ekonomi, menurut Munasinghe (1994) pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan manusia melalui pertumbuhan ekonomi dan efisiensi penggunaan kapital dalam keterbatasan dan kendala sumberdaya dan teknologi. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui upaya perencanaan pembangunan secara komprehensif dengan tetap berpijak pada tujuan-tujuan jangka panjang. Selain itu perlu ada pengurangan eksploitasi sumberdaya secara berlebihan dan menutupi dampak yang mungkin timbul dari eksploitasi sumberdaya dengan memberikan harga kepada sumberdaya dan biaya tambahan. Dengan demikian, sasaran ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan
adalah peningkatan ketersediaan dan kecukupan kebutuhan ekonomi, keberlanjutan aset dalam arti efisiensi pemanfaatan sumberdaya yang ramah lingkungan, berkeadilan bagi masyarakat pada masa kini dan yang akan datang.
Dari aspek ekologis didasarkan pada pertimbangan bahwa perubahan lingkungan akan terjadi di waktu yang akan datang dan dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Menurut Rees (1994) pandangan aspek ekologis ini didasarkan pada tiga prinsip utama yaitu :
1) Aktivitas ekonomi yang dilakukan manusia adalah tidak terbatas dan berhadapan dengan ekosistem yang terbatas. Kerusakan lingkungan dan polusi yang ditimbulkannya akan mempengaruhi sistim dukungan kehidupan (life
support system).
2) Aktivitas ekonomi yang lebih maju seiring dengan pertumbuhan populasi akan meningkatkan kebutuhan akan sumberdaya alam dan tingginya produksi limbah yang dapat merusak lingkungan karena melebihi daya dukung ekosistem.
3) Pembangunan yang dilaksanakan dalam jangka panjang akan berdampak pada kerusakan lingkungan yang irreversible.
Definisi operasional pembangunan berkelanjutan menurut Daly (1990) yang diacu dalam Fauzi (2004), antara lain untuk sumber daya alam yang terbarukan adalah laju pemanenan harus sama dengan laju regenerasi (produksi lestari); untuk masalah lingkungan adalah laju pembuangan (limbah) harus setara dengan kapasitas asimilasi lingkungan; untuk sumber energi yang tiak terbarukan, harus dieksploitasi secara quasi-sustainable, yakni mengurangi laju deplesi dengan cara menciptakan energi substitusi.
Menurut Harris (2000) yang diacu dalam Fauzi (2004), keberlanjutan secara sosial diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai kesetaraan, menyediakan layanan sosial termasuk kesehatan, pendidikan, gender, dan akuntabilitas politik.
2.7 Sistem Perikanan Laut
Dalam skala makro atau mikro, perikanan merupakan suatu sistem yang komprehensif menyangkut berbagai aspek. Charles (2001) mengemukakan sistem
perikanan terdiri dari tiga komponen, yaitu sistem alam (natural system), sistem manusia (human system) dan sistem pengelolaan perikanan (fishery management
system).
Sistem alam terdiri dari 3 subsistem, yaitu ikan (fish), ekosistem biota (ecosystem) dan lingkungan biofisik (biophysical environment). Sistem manusia terdiri dari 4 subsistem yaitu nelayan (fishers), bidang pasca panen dan konsumen (post harvest sector and consumers), rumah tangga dan komunitas masyarakat perikanan (fishing households and communities) dan lingkungan sosial ekonomi budaya (social economic/cultural environment). Sistem manajemen dikelompokkan menjadi 4 subsistem, yaitu perencanaan dan kebijakan perikanan (fishery policy and planning), manajemen perikanan (fishery management), pembangunan perikanan (fishery development) dan riset perikanan (fishery
research).
Ketiga komponen sistem perikanan tersebut saling berinteraksi membentuk sistem perikanan yang dinamik. Pendekatan sistem perikanan dengan hanya berlandaskan aspek biologi akan menemui kegagalan apabila tidak didukung oleh aspek ekonomi dan politik. Sebaliknya, kebijakan ekonomi dan politik di bidang perikanan akan menemui kegagalan apabila data base aspek-aspek biologi yang akurat tidak tersedia. Struktur, variasi komponen, interaksi di antara subsistem dan dinamika sistem perikanan ditunjukkan dalam Gambar 2.1 berikut.
Gambar 2.1 Sistem perikanan yang menggambarkan tiga subsistem utama (alam, manusia dan manajemen), komponen utama subsistem, interaksi antar subsistem dan komponennya dan pengaruh faktor luar terhadap sistem (Charles, 2001)
Lebih lanjut dijelaskan bahwa karakteristik sistem perikanan dapat dibedakan dengan berbagai macam cara yaitu:
1) Berdasarkan lingkup keruangan, berhubungan dengan ukuran, kondisi
geografis dan administratif misalnya perikanan pantai, perikanan dengan batas provinsi atau negara dan organisasi perikanan regional atau antar negara.
2) Berdasarkan skala usaha, dibedakan perikanan skala kecil dan skala besar,
tergantung teknologi, daerah penangkapan dan tujuan berproduksi. 3) Berdasarkan lokasi geografis, misalnya daerah tropis dan sub tropis.
4) Berdasarkan tipe ekosistem, misalnya daerah upwelling, estuaria, terumbu
karang.
5) Berdasarkan lingkungan fisik perairan misalnya dasar perairan berkarang,
teluk, danau.
6) Berdasarkan kondisi alam dan tingkah laku pengguna sumberdaya, misalnya
terorganisir atau tidak terorganisir, multi tujuan atau spesialisasi.
7) Berdasarkan lingkungan sosial ekonomi, misalnya desa atau kota, daerah
tertinggal atau maju, miskin atau sejahtera, tingkat keterlibatan masyarakat dan lain-lain.
Dinamika sistem perikanan laut mencakup aspek sumberdaya ikan, armada perikanan dan komunitas nelayan. Sumberdaya ikan dikendalikan melalui dinamika populasi di alam yaitu proses reproduksi dan kematian. Armada perikanan bervariasi dalam dinamika modal, misalnya investasi pembelian kapal dan alat tangkap baru (modal secara fisik) yang mengalami depresiasi sepanjang waktu. Penangkapan secara langsung akan mengurangi jumlah stok ikan, tetapi di sisi lain, hasil tangkapan dipasarkan, keuntungan akan kembali kepada nelayan yang dapat digunakan untuk menambah modal (capital dynamics) sebagai variasi keuntungan (tergantung kondisi produk dan pasar).
Lebih lanjut Charles (2001) menjelaskan bahwa sumberdaya ikan berinteraksi dengan ekosistem dan lingkungan biofisik, sedangkan nelayan berinteraksi di rumah tangga, masyarakat dan lingkup sosial ekonomi. Bidang pasca panen berada di antara panen dan pasar. Keuntungan multidimensional
didapatkan dari umpan balik perikanan kepada alam dan manusia sebagai komponen sistem (Gambar 2.2).
Gambar 2.2 Gambaran lengkap sistem perikanan yang ditunjukkan oleh dinamika sumberdaya ikan, modal dan nelayan (Charles, 2001)
2.8 Dinamika Sistem Perikanan
Pengetahuan tentang dinamika sistem perikanan dapat digunakan untuk menjawab permasalahan perubahan dan variasi komponen setiap waktu dalam sistem perikanan dan interaksi antar komponen di dalamnya setiap saat. Faktor waktu menjadi sangat penting karena menjadi faktor penentu dalam suatu dinamika sistem perikanan. Skala waktu menurut Charles (2001) dapat dibedakan
menjadi 5, yaitu : (1) harian hingga mingguan, (2) bulanan ke musim, (3) tahunan, (4) antar tahun, dan (5) puluhan tahun (dekade) atau lebih lama.
Operasi penangkapan ikan dapat dilakukan dalam waktu beberapa jam, harian atau mingguan (nelayan skala kecil) atau bulanan sampai tahunan (skala besar), tergantung kapasitas teknologi yang digunakan, jarak daerah penangkapan dan tujuan penangkapan. Semakin tinggi tingkat teknologi yang digunakan, semakin jauh daerah penangkapan dan tujuan penangkapan untuk industri komersial maka waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. Pengurangan jumlah stok ikan akan dipengaruhi oleh kecepatan dan besarnya frekuensi dan volume penangkapan. Secara lengkap dinamika sistem perikanan dan komponen-komponennya dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Dinamika sistem perikanan dan komponen-komponennya
No Dinamika subsistem Komponen subsistem Keterangan
1. Dinamika sistem alam - Dinamika single spesies
- Dinamika multi spesies - Dinamika ekosistem dan
lingkungan biofisik - daerah tropis dan sub tropis 2. Dinamika system manusia - Dinamika upaya - Dinamika tenaga keja - Dinamika modal - Dinamika teknologi
- Dinamika armada perikanan - Dinamika masyarakat dan
lingkungan sosial ekonomi
3. Dinamika system
manajemen. - Dinamika perencanaan dan kebijakan perikanan - Dinamika pengelolaan
perikanan
- Dinamika struktur institusional pengelolaan perikanan
- Dinamika riset ilmiah pengelolaan perikanan
- Dinamika aspek legal (hukum dan Perundangan) - tradisional atau orientasi ekspor - masyarakat lokal atau Negara Sumber : Charles (2001)
2.9 Sistem Perikanan Berkelanjutan
Keberlanjutan sistem perikanan menurut Charles (2001) ditentukan oleh keberlanjutan empat aspek berikut :
1) Keberlanjutan aspek ekologis (menghindari punahnya sumber daya ikan di masa datang).
2) Keberlanjutan aspek sosial ekonomis (keberlanjutan dan kelayakan ekonomi dan keuntungan sosial).
3) Keberlanjutan aspek kemasyarakatan (menilai masyarakat lebih dari sekedar kumpulan individu).
4) Keberlanjutan aspek institusional (kelayakan jangka panjang sistem pengelolaan sumberdaya).
Pendekatan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan sistem perikanan berkelanjutan dapat dilakukan dengan pendekatan dari aspek lingkungan biofisik, lingkungan manusia dan institusi politik dan ekonomi.
Lingkungan biofisik dapat ditentukan dengan 3 cara, yaitu : (1) menetapkan batas-batas ekologis dan menyesuaikan dalam hubungan dengan ekosistem; (2) mengenali kebutuhan untuk menggabungkan aktivitas manusia dengan siklus alam dan (3) aktivitas utama didasarkan pada sumberdaya yang dapat diperbaharui. Pendekatan aspek manusia dilakukan dengan 3 cara, yaitu : (1) pemenuhan kebutuhan dasar manusia; (2) menerapkan asas kesamaan dan keadilan sosial dan (3) peraturan yang pasti.
Lingkup institusi politik dan ekonomi (kelembagaan) dapat ditentukan dengan 6 cara, yaitu: (1) membangun perspektif jangka panjang lebih dominan; (2) menetapkan tujuan ganda (sosial/lingkungan/ekonomi); (3) mengantisipasi perkembangan di masa datang/adaptif (institusi dirancang untuk merespon dan memecahkan masalah); (4) responsif terhadap krisis pada level berbeda; (5) menetapkan orientasi dari sistem yang dibangun (interaksi antar komponen, pertukaran, umpan balik) dan (6) menetapkan prinsip-prinsip manajemen yang kondusif (terbuka/jujur/diinformasikan/pemberdayaan pengambilan keputusan).
Pendekatan ketiga aspek tersebut mempunyai kriteria dan indikator yang jelas untuk menilái keberlanjutan sistem perikanan. Menurut Charles (2001)
bahwa kriteria sistem perikanan yang berkelanjutan ditinjau dan aspek ekologi meliputi tingkat penangkapan, jumlah biomass, ukuran ikan, kualitas lingkungan, keragaman spesies, keragaman ekosistem, luas area rehabilitasi, luas area dilindungi dan pemahaman ekosistem (Tabel 2.5).
Tabel 2.5 Kriteria dan indikator keberlanjutan aspek ekologi sistem perikanan (Charles, 2001)
Kriteria
KeberIanjutan Indikator Keberlanjutan minimum jika :
Tingkat Penangkapan
(MSY-tangkapan) / MSY
Tangkapan melebihi MSY
Biomass Biomass (relatif ke
rata-rata) Total biomas atau reproduksi stok biomass di bawah ambang kritis
Trend biomas Persentase perubahan rata-rata tahunan selama beberapa tahun
Biomas turun secara cepat (atau kurangnya rekruitmen)
Ukuran ikan Rata-rata ukuran ikan
(relatif ke rata-rata)
Ukuran rata-rata yang tertangkap relatif lebih kecil dari ukuran optimal
Kualitas Iingkungan Kualitas (relatif ke rata-rata) + (% perubahan rata-rata)
Kualitas lingkungan rendah dan menurun
Keragaman (spesies
tangkapan) (Jumlah spesies/rata-rata tangkapan) + (diversitas/rata-rata)
Jumlah spesies tertangkap dan indeks diversitas relatif di bawah tingkat sebelumnya Keragaman
(ekosistem) (Jumlah spesies/rata-rata tangkapan) + (diversitas/rata-rata)
Jumlah spesies dan indeks diversitas rendah dan menurun
Area rehabilitasi Luas area rehabilitasi
(% total area)
Peningkatan luas area yang tercemar
Area dilindungi Luas area dilindungi (%
total area)
Pengurangan kawasan lindung karena ekploitasi Pemahaman
ekosistem
Tingkat pengetahuan relatif ke level lebih tinggi
Pemahaman sumberdaya dan ekosistem tidak jelas
Kriteria sistem perikanan yang berkelanjutan ditinjau dan aspek ekonomi masyarakat menurut Charles (2001) meliputi fleksibilitas masyarakat, kemandirian masyarakat, daya dukung manusia, daya dukung lingkungan, kesamaan distribusi, kapasitas armada lestari; investasi, suplai pangan dan ketahanan pangan jangka panjang (Tabel 2.6).
Tabel 2.6 Kriteria dan indikator keberlanjutan aspek sosial ekonomi/masyarakat sistem perikanan (Charles, 2001)
Kriteria
Keberlanjutan Indikator Keberlanjutan minimum jika
Fleksibilitas masyarakat
Indeks keragaman tenaga kerja
Kurangnya alternatif
pekerjaan yang dapat dilakukan nelayan Kemandirian masyarakat Proporsi kegiatan ekonomi berbasis lokal
Ketergantungan tinggi terhadap kekuatan ekonomi luar
Daya dukung manusia (mata pencaharian) Penggunaan atau potensial kelangsungan tenaga kerja (relatif ke populasi)
Keberlanjutan ekonomi atau lapangan kerja di bawah perkiraan penggunaan atau potensial populasi Daya dukung manusia (lingkungan) Kapasitas daya serap lingkungan/produksi limbah manusia
Limbah manusia melebihi kemampuan lingkungan untuk menerimanya
Kesamaan Rasio koefisien Gini
dan pendapatan atau distribnsi pangan
Penyebaran pendapatan dan suplai makanan di bawah ketentuan minimum Kapasitas
penangkapan ikan (fishing capacity)
Rasio kapasitas pada tingkat MSY terhadap kapasitas terpasang
Kapasitas terpasang melebihi hasil tangkapan lestari MSY
Investasi tepat Kapastas investasi
(saat stok < optimal)
Investasi di atas tingkat kapasitas stok maksimum atau
> 0 saat stok menurun
Suplai makanan Suplai pangan per
kapita (kebutuhan minimum nutrisi relatif)
Ketersediaan pangan per orang di bawah -kebutuhan minimum nutrisi Ketahanan pangan jangka panjang Kemungkinan kecukupan pangan 10 tahun ke depan
Stabilitas suplai pangan rendah atau suplai turun dengan cepat
Kriteria sistem perikanan yang berkelanjutan ditinjau dari aspek institusional menurut Charles (2001) meliputi efektivitas manajemen, penggunaan metode tradisional, penggabungan input lokal, kapasitas terpasang dan keberlangsungan institusi (Tabel 2.7).
Tabel 2.7 Kriteria dan indikator keberlanjutan aspek institusional sistem perikanan (Charles, 2001)
Kriteria
Keberlanjutan Indikator Keberlanjutan minimum jika
Keefektivan manajemen Tingkat keberhasilan pengelolaan negara dan kebijakan pengaturan
Organisasi pengelolaan (DKP) yang ada tidak mampu mengontrol tingkat eksploitasi dan mengatur pengguna sumberdaya Penggunaan metode pengelolaan tradisional (local wisdom)
Tingkat penggunaan Metode pengelolaan
lingkungan dan sumberdaya tradisional (local wisdom) tidak digunakan Pemanfaatan atau pemberdayaan institusi lokal Tingkat pemberdayaan Pengelolaan/kegiatan perencanaan tidak mempertimbangkan dan menerapkan faktor sosial kultural lokal (tradisi, pengambilan keputusan masyarakat, pengetahuan ekologi, dll Kapasitas
terpasang
Tingkat upaya kapasitas terpasang
Kapasitas terpasang dalam organisasi kurang relevan
Keberlangsungan
institusi Tingkat keuangan dan keberlangsungan organisasi
Organisasi pengelola kekurangan dukungan finasial jangka panjang atau politik pendukung struktur
2.10 Alternatif Evaluasi/ Penentuan Status Keberlanjutan Perikanan
Konsep keberlanjutan dalam perikanan ini sudah mulai dapat difahami, namun sampai saat ini kita masih menghadapi kesulitan dalam menganalisis/mengevaluasi keberlanjutan pembangunan perikanan itu sendiri terutama ketika dihadapkan pada permasalahan mengintegrasikan informasi/data dari keseluruhan komponen secara holistik dari berbagai aspek seperti aspek biologi, sosial, ekonomi, teknologi maupun etika (Fauzi dan Anna, 2002a). Oleh karena evaluasi keberlanjutan eksploitasi perikanan selama ini lebih difokuskan kepada penentuan status stok relatif dari spesies target dengan referensi biologi atau pada beberapa kasus adalah referensi ekologi seperti tingkat kematian ikan,
spawning biomass atau struktur umur (Smith, 1993 yang diacu dalam Fauzi dan
Anna, 2002). Dengan demikian analisis yang diaplikasikan dalam berbagai studi tersebut masih bersifat parsial. Durand et al. (1996) yang diacu dalam Taryono (2003) menyatakan bahwa secara klasik ahli biologi perikanan cenderung
menitikberatkan pada dinamika populasi dan eksploitasi. Hubungan antara analisis biologis dengan ilmu sosial hanya terjadi pada akhir proses produksi di mana ikan didaratkan di pelabuhan. Ahli ekonomi selanjutnya cenderung menghitung secara kuantitatif maupun kualitatif, melalui pengangkutan dan pemasaran. Hal ini menggambarkan bahwa pengkajian keberlanjutan perikanan belum menerapkan analisis terpadu yang komprehensif terhadap berbagai dimensi yang mempengaruhi kegiatan perikanan tersebut. Hal ini memberikan kesan seolah-olah tidak ada keterkaitan antara keberlanjutan sumberdaya dengan keberlanjutan sosial atau keberlanjutan ekonomi.
Salah satu alternatif pendekatan yang dapat digunakan dalam penelitian ini untuk mengevaluasi/menentukan status keberlanjutan perikanan tangkap adalah Rapfish. Pada metode ini, analisis terhadap semua dimensi dilakukan secara bersamaan atau simultan sehingga dihasilkan suatu vektor skala. Dengan Rapfish dapat diperoleh gambaran jelas dan komprehensif mengenai kondisi sumberdaya perikanan, khususnya perikanan di daerah penelitian sehingga akhirnya dapat dijadikan bahan untuk menentukan kebijakan yang tepat untuk mencapai pembangunan perikanan yang berkelanjutan.
Menurut Taryono (2003) berbagai hasil empiris analisis kelestarian sumberdaya dengan aplikasi Rapfish, diantaranya telah dilakukan oleh Pitcher and Preikshot (2000), serta Fauzi dan Anna (2002a).
Hasil analisis terhadap perikanan Atlantik Utara (sisi Barat dan sisi Timur) menurut Alder et al. (2000) yang diacu dalam Taryono (2003) didapatkan bahwa Perikanan Teluk Meine (Amerika Serikat) mempunyai indikator kelestarian sosial dan teknis yang lebih tinggi dibandingkan dengan perikanan Kanada, Inggris, maupun Jerman.
Hasil aplikasi pendekatan Rapfish pada perikanan laut di DKI Jakarta dan pertama kali di Indonesia yang dilakukan oleh Fauzi dan Anna (2002a) menunjukkan bahwa dari dua belas jenis alat tangkap yang dianalisis disimpulkan bahwa alat tangkap pasif seperti bubu dan pancing, berdasarkan indikator kelestarian ekologi berada diantara good dan bad, tetapi secara sosial dan ekonomi cenderung ke arah bad score. Sebaliknya pada perikanan aktif secara
teknologi dan ekologi mempunyai skor buruk (bad score), tetapi sebaliknya secara ekonomis dan sosial cenderung ke arah baik (good).
Fauzi dan Anna (2005) menyimpulkan bahwa dari sisi ekologi, alat tangkap yang beroperasi di luar teluk Jakarta cenderung memiliki skor keberlanjutan relatif lebih rendah, sebab alat tangkap aktif cenderung menimbulkan masalah ekologi, seperti by catch, non selective, dan catch before
maturity. Sebaliknya, alat tangkap yang beroperasi di dalam teluk Jakarta
cenderung pasif dan lebih bersifat selektif dan tradisional, sehingga tidak terlalu destruktif. Namun skor keberlanjutan ekonomi antara perikanan di luar teluk dan di dalam teluk menunjukkan bahwa perikanan di dalam teluk Jakarta cenderung memiliki skor sustainability rendah. Hasil analisis leverage untuk menguji sensitivitas atribut untuk setiap dimensi terhadap skor kelestarian perikanan pesisir Jakarta diperoleh bahwa marketable right, employment sector dan other
income mempunyai derajat kepekaan yang tinggi. Sementara pada dimensi sosial,
maka tingkat pendidikan, pengetahuan lingkungan serta fishing income mempunyai derajat yang penting dalam mempengaruhi tingkat kelestarian sumberdaya perikanan tersebut. Sementara secara teknis (teknologi) atribut
selective gear mendominasi atribut lainnya dalam mempengaruhi tingkat
kelestarian tersebut. Sedangkan pada dimensi etika, keterlibatan nelayan dalam penentuan kebijakan (just management) sangat nyata mempengaruhi nilai kelestarian tersebut.
Dengan memperhatikan berbagai teori dari berbagai referensi dan sejumlah penelitian terdahulu dikaitkan dengan kondisi perikanan tangkap skala kecil Indonesia saat ini, dapat disimpulkan bahwa keberlanjutan perikanan tangkap harus didukung oleh berbagai aspek/dimensi keberlanjutan yaitu, keberlanjutan ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan hukum serta kelembagaan. Oleh karena itu penelitian ini sangat perlu dilakukan.