• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka dalam sebuah penelitian penting untuk dideskripsikan. Selain berfungsi untuk menyusun landasan atau kerangka teori, kajian pustaka juga berfungsi untuk mengetahui kedudukan penelitian di samping penelitian lain yang relevan (Chaer, 2007: 26). Penelitian­penelitian tersebut dijadikan bahan perbandingan dan pertimbangan dalam penelitian ini. Terkait dengan upaya pemertahanan bahasa, ada beberapa hasil penelitian yang dipakai pijakan dalam penelitian ini, yaitu:

1) Sumarsono (1990), mengenai "Pemertahanan Bahasa Melayu Loloan di Bali". Pada penelitian tersebut banyak berbicara mengenai kebertahanan bahasa Melayu Loloan berdasarkan kelompok umur dan pada penelitian ini lebih memfokuskan pada pencarian faktor­faktor pendukung pemertahanan bahasa Melayu Loloan serta kebertahanan bahasa yang dilihat dari penjenjangan umur.

Masalah yang dikaji adalah faktor­faktor yang mendukung pemertahanan bahasa Melayu Loloan terhadap bahasa Bali, bahasa yang menjadi bahasa ibu guyup mayoritas Bali, dan bagaimana kondisipemertahanan itu terhadap bahasa Indonesia saat ini.

Dengan ancangan sosiologi, metode survei, dan teknik wawancara, dan kuesioner peneliti menjaring data utama berupa pengakuan pribadi (self-report). Menurut penelitian tersebut ada dua faktor yang mempengaruhi kebertahanan bahasa, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal disebabkan oleh

(2)

2

adanya sikap keislaman penutur Loloan yang tidak akomodatif terhadap guyup, budaya, dan bahasa Bali. Penutur Loloan memiliki loyalitas tinggi terhadap bahasanya, sehingga penggunaan bahasa Bali ditolak untuk kegiatan intrakelompok. Sedangkan pada faktor eksternal disebabkan oleh demografi wilayah penutur Loloan yang agak terpisah dengan penutur bahasa Bali dan karena adanya sikap toleransi penutur bahasa Bali untuk tetap menggunakan bahasa Bali bila berkomunikasi dengan penutur Loloan. Penelitian ini sangat berkontribusi dalam memahami hakikat kebertahanan suatu bahasa.

Persamaaan dalam penelitian ini adalah konteks penelitian dengan kajian yang sama­sama adanya upaya pemertahanan bahasa, sedangkan perbedaannya terletak pada unsur sosial pemertahanan bahasa dan media yang digunakan. Relevansi penelitian yang dilakukan oleh Sumarsono adalah memberikan gambaran dalam menentukan faktor­faktor yang mempengaruhi pemertahanan bahasa.

2) Budiarsa (2004) pada makalah berjudul "Eksistensi Penggunaan Bahasa Bali sebagai Bentuk Pemertahanan Bahasa Bali di Daerah Pariwisata" yang diterbitkan oleh Universitas Udayana, memaparkan bahwa penggunaan bahasa sangat terkait dengan nilai­nilai sosial budaya dari suatu masyarakat tutur tempat bahasa itu digunakan. Uraian tersebut mengetengahkan bahwa bentuk dan pemilihan bahasa ditentukan oleh konteks penuturan. Persamaan kajian di atas dengan penelitian ini adalah objek kajian yang sama­sama menggunakan bahasa Bali, sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini menggunakan media gending

(3)

3

3) Merti (2010) pada tesis yang berjudul "Pemertahanan Bahasa Bali dalam Masyarakat Multikultural di Kota Denpasar". Ada tiga hal yang diungkap dalam penelitian tersebut antara lain; (1) upaya­upaya pemertahanan bahasa Bali dalam masyarakat multikultural di kota Denpasar, (2) faktor­faktor penunjang dan penghambat upaya­upaya pemertahanan bahasa Bali dalam masyarakat multikultural di kota Denpasar, dan (3) mempertanyakan dampak dan makna pemertahanan bahasa Bali dalam masyarakat multikultural di kota Denpasar.

Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yaitu berupa kata­ kata dan ungkapan ungkapan serta ditunjang data kuantitatif yang berhubungan dengan banyaknya jenis upaya pemertahanan bahasa Bali. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penentuan informan ditentukan dengan purposive sampling (sampel bertujuan). Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, observasi, studi dokumen. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasi data, mengklasifikasi data, dan melakukan interpretasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik untuk membahas masalah pertama, teori perubahan sosial untuk membahas masalah kedua, dan teori motivasi untuk membahas masalah ketiga.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya­upaya pemertahanan bahasa Bali adalah penggunaan bahasa Bali dalam media tradisional, yaitu; (1) keluarga, (2) pasar tradisional, (3) kegiatan keagamaan, (4) kegiatan adat, (5) pementasan kesenian, sedangkan media modern melalui media cetak dan elektronik. Selanjutnya faktor penghambat dan faktor penunjang yang ditemukan dalam penelitian ini, yaitu; (1) keluarga, (2) pasar tradisional, (3) kegiatan

(4)

4

keagamaan, (4) kegiatan adat, (5) pementasan kesenian, sedangkan media modern melalui media cetak dan elektronik.

Selanjutnya dampak dan makna pemertahanan bahasa Bali dalam masyarakat multikultural di kota Denpasar mencakup beberapa hal, seperti sosiologis, edukatif, religius, sastra daerah, dan kepahlawanan. Penelitian ini sangat bermanfaat untuk penelitian yang penulis lakukan terutama untuk mengetahui upaya­upaya pemertahanan bahasa Bali yang akan penulis laksanakan. Persamaan kajian di atas dengan penelitian ini adalah sama­sama menggunakan bahasa Bali, sedangkan perbedaannya dengan kajian di atas konteks sosialnya adalah budaya global. Dari beberapa uraian di atas memiliki kesamaan objek penelitian dengan penelitian ini, namun yang membedakannya adalah penelitian ini mengambil lokasi penelitian di Sanggar Kukuruyuk.

Penelitian­penelitian mengenai pemertahanan bahasa memang memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Penelitian yang telah dikemukakan di atas memiliki manfaat dalam pengkajian "Pemertahanan Bahasa Bali Melalui

Gending Rare Pada Anak­Anak di Sanggar Kukuruyuk" yang penulis laksanakan.

Di sisi lain dapat disimpulkan pula, bahwa dari beberapa penelitian mengenai pemertahanan bahasa di atas belum ada yang mengkaji mengenai pemertahanan bahasa Bali melalui gending rare.

Adapun penelitian ini menitikberatkan pada penguasaan seberapa besar jumlah kosakata bahasa Bali yang terdapat pada gending rare, serta penelitian ini juga menitikberatkan pada faktor­faktor yang memengaruhi pemertahanan bahasa Bali secara sosiolinguistik.

(5)

5 2.2 Konsep

Konsep merupakan bagian yang penting dalam penelitian karena merupakan landasan berpikir yang dipegang sebagai dasar untuk memahami objek dan kajian. Sehubungan dengan itu, maka beberapa konsep dasar yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut.

2.2.1 Gending Rare

Gending rare berasal dari kata gending yang berarti lagu dan rare yang

berarti anak­anak. Dilihat berdasarkan pembagian tembang, gending rare termasuk salah satu bagian dari tembang. Tembang terdiri atas empat bagian di antaranya sekar rare, sekar macepat (sekar alit), sekar madia (kekidungan), dan

sekar agung (kakawin). Oleh karena itu, gending rare termasuk dalam kelompok tembang sehingga memiliki suatu irama.

Sebagai warisan budaya, gendinng rare (sekar rare) dalam sastra Bali Klasik dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya:

1) Dolanan yaitu nyanyian untuk anak­anak, seperti: Jenggot Uban, Putri

Ayu, dan Galang Bulan.

2) Jejangeran (peparikan) yaitu nyanyian yang digunakan oleh penari

janger berupa peparikan (pantun).

3) Gending Sangiang yaitu nyanyian yang dinyanyikan oleh penari tarian

Sangiang, seperti: Sangiang Jaran, Sangiang Dedari, Sangiang Penyalin, Dewa Ayu, Sekar Emas (Gautama, 2007: 51).

(6)

6

Sehubungan dengan penelitian ini jenis gending rare yang digunakan dalam penelitian adalah jenis dolanan, yaitu nyanyian untuk anak­anak. Ketegori anak­anak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah anak­anak yang berusia 9­ 11 tahun.

2.2.2 Pemertahanan Bahasa Bali

Dalam memaparkan konsep pemertahanan bahasa bali dijelaskan unsur­ unsur dalam konsep tersebut yaitu, pemertahanan, bahasa Bali, dan pemertahanan bahasa Bali.

Kata pemertahanan secara morfologis diuraikan mengacu kepada pendapat Chaer (2008: 9), yang mengatakan bahwa ada empat model atau teknik dalam menganalisis satuan­satuan morfologi di antaranya analisis berdasarkan unsur bawahan langsung artinya menguraikan satuan­satuan morfologi dengan memperhatikan makna dari bentuk bahasa yang diuraikan. Bertitik tolak dari uraian tersebut, bentuk pemertahanan unsur langsungnya pertahanan mendapat awalan pe- yang berarti "kemampuan melakukan upaya­upaya''. Bentuk

pertahanan unsur langsungnya tahan mendapat konfiks per-an yakni sesuatu yang

tetap digunakan. Pertemuan antara bentuk unsur langsung pertahanan dengan imbuhannya menjadi kata pepertahanan. Huruf p yang terdapat pada unsur langsung pertahanan mengalami proses morfofonemik yakni berubah bunyi menjadi m. Dengan demikian bentuk pepertahanan menjadi pemertahanan yang dikonsepkan sebagai kemampuan untuk melakukan upaya­upaya terhadap sesuatu dalam konteks ini bahasa Bali agar tetap digunakan.

(7)

7

Bahasa adalah sistem tanda untuk mengungkapkan, membentuk, dan menyimbolkan realitas budaya. Sebagai sistem kognisi, bahasa dengan sistem gramatikal, bunyi serta tata tulisnya itu, dipahami sebagai sumber daya dan kekayaan mental yang setelah dipelajari, ada dalam diri manusia dan masyarakat. Sistem bahasa yang abstrak itu merupakan pemilikan bersama dan ada dalam kesadaran kolektif masyarakat tutur. Pemilikan itu digunakan secara nyata dalam bentuk tuturan dan tulisan dalam wujudnya sangat bervarisi, baik variasi bentuk maupun nuansa makna dalam konteks penuturan (Saussure, 1996: 16).

Pemertahanan bahasa Bali dalam tulisan ini dikonsepkan sebagai upaya­ upaya yang dilakukan masyarakat agar bahasa Bali tetap digunakan. Berkaitan dengan hal itu, loyalitas masyarakat pendukungnya merupakan salah satu faktor penting dalam pemertahanan bahasa Bali. Loyalitas itu berakar pada asal­usul seseorang. Implementasinya terlihat pada tingkah laku seperti tidak malu menggunakan bahasa Bali dalam pergaulan; ikut memperjuangkan bahasa Bali secara resmi; ikut mengoreksi kesalahan bentuk bahasa Bali yang dipakai orang lain.

2.3 Landasan Teori

Dalam sebuah penelitian landasan teori sebagai salah satu langkah untuk mendapatkan hasil yang maksimal mutlak diperlukan. Sebagai bentuk kegiatan yang ilmiah, teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah penelitian.

Kegunaan teori dalam suatu penelitian khususnya dalam tahap analisis data adalah sebagai pembimbing yang menuntun serta memberi arah bagi peneliti dalam memahami fenomena yang sedang dikaji (Sudaryanto, 1986: 26). Sutau

(8)

8

teori dalam penelitian pada umumnya digunakan untuk memberi arah dan tuntunan dalam menganalisis data. Teori yang dipergunakan haruslah sesuai (relevan) dengan objek analisis dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini digunakan teori yang relevan, yaitu teori linguistik struktural dan teori sosiolinguistik. Digunakannya teori sosiolingusitik, karena bahasa lebih menarik untuk diteliti jika dihubungkan dengan faktor­faktor sosial atau non­linguistik. Teori sosiolinguistik mengaitkan kehadiran bahasa dengan masyarakat pendukungnya.

Kata sosiolinguistik merupakan gabungan dari kata sosiologi dan

linguistik. Sosiologi adalah kajian yang obyektif dan ilmiah mengenai manusia

dalam masyarakat dan mengenai lembaga­lembaga serta proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah ilmu bahasa atau bidang yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Linguistik pertama kali dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, seorang sarjana dari Swiss. Pandangan­pandangannya dikumpulkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay dalam buku yang berjudul Course de Linguistique Generale yang diterbitkan pada tahun 1916 (Chaer, 1990: 14). Pandangan­pandangan Ferdinand de Saussure yang dimuat dalam buku Course de Linguistique Generale mengenai dikotomi­ dikotomi sebagai berikut: (1) telaah sinkronik dan diakronik, (2) perbedaan

langue dan parole, (3) perbedaan signifiant dan signifie, (4) hubungan sintagmatik

dan paradigmatik. Linguistik de Saussure lebih menekankan kepada struktur atau biasa disebut dengan linguistik struktural.

(9)

9

Fishman (dalam Chaer 2003: 5) mengatakan kajian sosiolinguistik lebih bersifat kualitatif. Jadi sosiolinguistik berhubungan dengan perincian­perincian penggunaan bahasa yang sebenarnya, seperti deskripsi pola­pola pemakaian bahasa atau dialek tertentu yang dilakukan penutur, topik, latar pembicaraan. Sosiolinguistik memandang bahasa pertama­tama sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi serta bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu. Sedangkan yang dimaksud pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi konkrit.

Bahasa sebagai parole (penerapan langue) dipandang sebagai perangkat tingkah laku yang telah ditransmisikan secara budaya atau dipakai oleh sekelompok individu. Tampaknya pandangan tersebut memiliki suatu paham bahwa bahasa sebagai tingkah laku budaya manusia. Dengan demikian manusia tidak mungkin ada tanpa hadirnya bahasa begitu pula manusia dalam berinteraksi sosial maupun komunikasi selalu menggunakan bahasa.

Berdasarkan batasan­batasan tentang sosiolinguistik di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik itu meliputi tiga hal, yakni bahasa, masyarakat, dan hubungan antara bahasa dan masyarakat. Sosiolinguistik membahas atau mengkaji bahasa sehubungan dengan penutur, bahasa sebagai anggota masyarakat. Bagaimana bahasa itu digunakan untuk berkomunikasi antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya untuk saling bertukar pendapat dan berinteraksi dengan individu satu dengan lainnya. Namun, secara khusus teori yang di gunakan dalam penelitian ini adalah pergeseran dan pemertahanan bahasa.

(10)

10

Sosiolinguistik, sesuai dengan namanya, mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat, mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah, yaitu bahasa oleh linguistik dan masyarakat oleh sosiologi. Setiap kelompok masih mempertahankan bahasa masing­masing. Pemertahanan itu terlihat wujudnya pada kenyataan bahwa suatu bahasa masih dipakai dan dipilih dalam situasi­ situasi tertentu. Salah satu cara untuk menguji pilihan bahasa (language choice) itu diperlukan teori ranah (domain) yang diutarakan oleh Fishman (Sumarsono, 1993: 13­14).

Menurut Fishman (dalam Sumarsono, 1993: 14), di dalam penggunaan bahasa ada konteks­konteks sosial yang melembaga (institutional contexts), yang disebut ranah, yang lebih cocok menggunakan ragam atau bahasa tertentu dari pada ragam atau bahasa yang lain. Ranah itu merupakan konstelasi antara lokasi,

topik, dan partisipan. Ranah dalam penelitian ini adalah Sanggar Kukuruyuk yang

merupakan sebuah tempat bermain anak­anak. Ini sesuai dengan pendapat Schmidt­Rohr (1932) (dalam Sumarsono, 1993: 14) yang menyebutkan sembilan ranah, yaitu (1) keluarga, (2) tempat bermain, (3) sekolah, (4) gereja, (5) sastra, (6) pers, (7) militer, (8) pengadilan, dan (9) administrasi pemerintahan.

Pergeseran bahasa dan pemertahanan bahasa sebenarnya seperti dua sisi mata uang; bahasa menggeser bahasa lain atau bahasa yang tak tergeser oleh bahasa; bahasa tergeser adalah bahasa yang tidak mampu mempertahankan diri. Pergeseran bahasa berarti, suatu guyup (komunitas) meninggalkan suatu bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa lain. Bila pergeseran sudah terjadi, para warga guyup itu secara kolektif memilih bahasa baru. Dalam pemertahanan bahasa,

(11)

11

guyup itu secara kolektif menentukan untuk melanjutkan memakai bahasa yang sudah biasa dipakai. Ketika guyup tutur mulai memilih bahasa baru di dalam ranah yang semula diperuntukkan bagi bahasa lama, itulah mungkin merupakan tanda bahwa pergeseran sedang berlangsung. Jika para warga itu monolingual (ekabahasawan) dan secara kolektif tidak menghendaki bahasa lain, mereka jelas mempertahankan pola penggunaan bahasa mereka. Namun, pemertahanan bahasa itu sering merupakan ciri guyup dwibahasa atau ekabahasa (Sumarsono, 2007: 231­232).

Referensi

Dokumen terkait

Semoga buku ini memberi manfaat yang besar bagi para mahasiswa, sejarawan dan pemerhati yang sedang mendalami sejarah bangsa Cina, terutama periode Klasik.. Konsep

Tujuan dari penambahan susu kapur adalah untuk meningkatkan pH sehingga gula pereduksi yang dihasilkan rendah, gula reduksi yang rendah akan meningkatkan kadar gula sukrosa

Cara-cara seleksi tersebut ada yang sesuai dan ada yang tidak sesuai dengan pendapat Daryanto dan Mohammad Farid 4 yang menyatakan cara-cara seleksi yang

Pemulihan Kerugian Penurunan Nilai atas Aset Non Keuangan untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2012 adalah sebesar Rp 87 juta, menurun signifikan sebesar Rp 6.399

Terimakasih juga kepada seluruh staff BATAN atas ilmu yang sangat bermanfaat, nasehat yang membangun, atas motivasi dan arahan yang telah diberikan selama

We therefore defined Group 2 as having a lesion in the anterior lobe (lobules I–V) plus lobule VI; and Group 3 with lesion involving the remainder of the posterior lobe (lobules VII

Objective: To analyze the diagnostic accuracy of VAS compared to PNIF in measurement of nasal obstruction in patients with persistent allergic rhinitis. Method: This

Batu bata konvensional dengan bahan baku tanah lempung yang benar- benar merata saat pembakaran dengan suhu tinggi memiliki tekstur yang lebih rapat dan